Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Anda masih sadar? Bisa dengar saya?
Pria berusia 30-an tanpa identitas ditemukan tertabrak truk
dan sedang dalam kondisi tidak sadar.
Korban kehilangan banyak darah.
Pengemudi truk selamat.
Oh iya, aku ditabrak truk.
Dua anak SMA di TKP masih hilang dan sedang dalam proses pencarian.
Kami membutuhkan bantuan. Ganti.
Apa tiga remaja itu selamat?
Pasien ini berat. Hati-hati!
Tentu saja.
Karena aku mengurung diri dan makananku diantar ke kamar selama 20 tahun.
(Zenith, berjuanglah! Sedikit lagi!)
Hm?
Anda tahu ini di mana?
Berisik, ah. Enggak perlu keras-keras.
(Nyonya, tarik napas yang dalam! Sedikit lagi!)
Hah? Apa itu?
- Tekanan darah menurun! - Siapkan transfusi darah!
Bisa dengar saya? Siapa nama Anda?
Bisa bicara?
Oh, aku mati, ya?
Ya sudahlah. Toh hidupku buntu sejak lama.
Tapi seenggaknya aku ingin melepas status perjaka.
(Nyonya, dia telah lahir! Anak Anda laki-laki!)
(Kamu berhasil, Zenith! Dia laki-laki!)
Ah, silau banget.
Ternyata aku masih hidup.
Hei, siapa dia?
Serius? Dia bisa mengangkatku yang seratus kilo lebih?
Eh, mau apa kau? Hentikan, jijik!
Apa-apaan, sih, dia?
Kenapa pipi Nona jadi merah begitu?
Wah! Teteknya gede!
(Halo. Salam kenal.)
Kalian bicara bahasa apa?
Terus ini di mana? Bukan rumah sakit?
Ini orang sedang apa, sih? Aku sedang luka parah, lo.
Tapi nona ini cantik sekali. Mungkin orang Eropa.
Kalau enggak waspada, nanti aku remas tetekmu, lo.
Sepertinya aku terlahir kembali.
Enggak kusangka khayalan itu sungguh ada.
Paul dan Zenith. Mungkin usianya masih 20-an awal.
Dari mataku yang berumur 34 tahun, mereka masih bocah.
Aku iri dengan mereka yang bikin anak di usia segini.
Namun, mantap sekali bisa menyusu perempuan cantik secara gratis.
Mungkin karena dia ibuku, jadi aku enggak terangsang.
Rudy!
Kamu di mana?
Rudeus?
Sepertinya namaku adalah Rudeus.
Setelah setengah tahun, aku bisa memahami bahasa mereka.
Mungkin daya ingatku tajam karena masih muda.
Dia Lilia, pembantu kami.
Dia punya aset luar biasa.
Hayo, Rudy!
Kamu tidak boleh berkeliling sendirian.
Ini bukan untuk dipakai di kepala.
Ada apa, Lilia?
Nyonya Zenith, mungkin saya agak lancang.
Tuan Rudeus terlihat seperti kerasukan.
Tidak, bukan apa-apa.
Tolong jangan bilang yang tidak-tidak.
Dia masih anak-anak. Wajar belum tahu celana dalam.
Bukan begitu.
Pemandangan yang indah. Aku pernah melihat foto seperti ini.
Mungkin benar ini di Eropa, ya?
Tapi rasanya terlalu pelosok.
Belum ada listrik dan gas? Zaman apa ini?
Kalau terlahir kembali, ingin, dong, pegang komputer lagi.
Lo, kok?
Dia sedang apa?
Ah, celaka!
Rudy!
- Rudy! - Tuan Muda!
Kamu baik-baik saja?
Kalau kepala terbentur, lebih baik jangan banyak digerakkan, Nyonya.
Terjatuh pun tidak menangis.
Cup cup.
Untuk jaga-jaga, mama beri mantra agar rasa sakitnya terbang jauh, ya.
Hei, lelucon macam apa ini? "Buang rasa sakit" versi negara ini?
Ayah dan ibuku alay, ya?
Suami pendekar, istri pendeta, 'gitu?
Healing.
Bagaimana? Sakitnya sudah hilang, 'kan?
Mama dahulu seorang petualang, lo.
Ada apa?
Aku dengar suara keras.
Sayang, Rudy jatuh dari meja dan kepalanya terbentur.
Tenang, dong. Anak kecil pasti pernah jatuh sekali dua kali.
Jangan-jangan tempat ini...
Tapi aku khawatir kalau dia terluka parah, lalu aku tidak bisa menyembuhkannya.
Buktinya sudah jelas.
Tempat ini bukan Bumi, tapi dunia lain.
Dunia pedang dan sihir.
Tangan dan kakiku sudah lebih stabil.
Ilmu sihir, ya?
Sihir.
Monyet pun akan kegirangan setelah mendengar kata itu.
Aku ingin cepat-cepat mencobanya sendiri.
Namun, yang bisa aku lakukan masih terbatas.
Buku, ya?
Buku di rumah ini cuma ada lima.
Mungkin di dunia ini harga buku mahal atau keluarga Paul enggak gemar membaca.
Sangat mengherankan bagiku yang punya ribuan buku.
Ya, semuanya novel ringan, sih.
Tidak bisa kubaca. Aku harus belajar baca dulu.
Satu tahun berlalu.
Meski hanya lima buku, tapi terkadang Paul membacakannya untukku
sehingga aku bisa membaca hurufnya.
Apa ayahku itu yakin bahwa aku bisa memahami isi buku ini?
Tapi buku ini sungguh menarik.
"Buku Panduan Ilmu Sihir."
Aku pernah membaca hal yang sama di duniaku sebelumnya.
Misalnya, sihir dapat diaktivasi dengan mantra dan lingkaran sihir,
tapi mantra lebih lazim digunakan sekarang, dan lain-lain.
Sepertinya ada latar belakangnya sendiri.
Apalagi, aku tertarik dengan sumber daya sihir seseorang
yang sudah ditentukan sejak terlahir.
Aku jadi ragu.
Sepertinya DNA-ku sendiri enggak menjamin.
Dicoba dulu saja, deh.
Naungan tirta agung akan selalu datang bagi mereka yang membutuhkan.
Berikanlah arus segar di tempat ini.
Water Ball.
Bukankah seharusnya bisa terbang?
Sekali lagi.
Sama seperti berlatih kombinasi jurus gim tarung.
Fokus dan bayangkan terus menerus, lalu lepaskan.
Aku belum merapal mantranya, 'kan?
Bagaimana bisa?
Lo? Daya sihirku cuma segini?
Aduh, Rudy.
Pipis dulu kalau mengantuk, lalu tidur di ranjang, ya.
Sempak!
Masa aku dikira mengompol di usia tua.
Sempak badak!
Lo?
Setelah mencoba beberapa kali, aku paham.
Buku itu membohongiku.
Semakin sering menggunakan sihir, daya sihir akan semakin bertambah.
Sihir pun dapat dipakai tanpa merapal mantra.
Inikah maksud jangan mencerna mentah-mentah apa yang tertulis?
Tapi kalau bisa dilakukan dengan mudah, kenapa mantra harus dirapal?
Mungkin saja mantra adalah cara mengaktifkan sihir secara otomatis.
Enggak perlu susah-susah membayangkan,
semua bisa terlaksana hanya dengan baca mantra.
Kalau benar, keuntungannya banyak.
Pertama, mudah untuk diajarkan.
Berhubung hanya dengan mengucap,
semua diajarkan secara turun temurun dan merapal mantra menjadi wajib hukumnya.
Kedua, mudah digunakan.
Karena sihir serangan dipakai saat pertempuran,
jauh lebih cepat membaca mantra daripada fokus sambil memejamkan mata.
Rudy, waktunya tidur.
Ah, Sayang! Aku tidak kuat lagi!
Malam masih panjang!
Ah, Sayang~!
Masih misteri kenapa jumlah daya sihirku bertambah.
Mungkin karena selalu aku latih.
Mungkin ada batas daya sihir yang bisa ditambah dari berlatih.
Enggak, mungkin aku terlalu cepat untuk menyimpulkan.
Benar, mungkin dengan bertambahnya usia, daya sihir pun ikut bertambah.
Atau daya sihir bisa bertambah pesat saat digunakan dalam masa balita.
Atau mungkin ini bakat khususku?
Ah, senang sekali rasanya!
Aduh, tenang sedikit.
Kalau teoriku benar, yang harus aku lakukan hanya satu.
Terus berlatih sampai batas masa pertumbuhan.
Sip!
Tapi bagaimana caranya agar sihir ini terbang?
Apa?
Mantap, aku bisa!
Akhirnya aku paham prinsip merapal mantra.
Sihir ini dimulai dari penciptaan, pengaturan ukuran,
pengaturan kecepatan tembak, dan aktivasi sihir.
Aku rasa enggak salah lagi.
Sihirku enggak bisa terbang karena aku enggak mengatur kecepatan tembaknya.
Aku mau coba sihir tingkat menengah berhubung daya sihirku semakin bertambah.
Eng...
Wahai arwah tirta nan elok, tuan putri air yang membasuh bumi.
Dengan kuasa yang terlelap di dalam diri, basuhlah segalanya.
Splash Flow.
Ada apa?
Eh, hei!
Apa-apaan ini?
Rudy?
Rudy, kamu tidak apa-apa?
Iya.
Apa ada monster?
Harusnya tidak ada di sini.
Lo?
Rudy, apa kamu membaca tulisan di buku ini?
Eh, seram! Kenapa tatapannya begitu?
Jangan-jangan ada larangan untuk anak kecil belajar sihir,
lalu diserahkan ke jaksa pengadilan?
Enggak! Aku enggak mau dibakar hidup-hidup!
Aku minta maaf.
Sayang, kamu dengar, 'kan? Anak kita memang genius!
Eh, tapi ini sihir tingkat menengah, lo.
Ayo sewa guru sihir untuknya!
Tapi aku belum mengajarinya memba-
Di masa depan dia pasti bisa menjadi penyihir kondang!
Tunggu, bukankah sudah berjanji kalau punya anak laki-laki harus menjadi pendekar pedang?
Tapi dia bisa menggunakan sihir tingkat menengah di usia dini!
Janji adalah janji.
Apanya yang janji? Kamu sendiri sering ingkar janji.
Persoalan sekarang bukanlah aku!
Bagaimana jika belajar ilmu sihir pagi hari dan belajar ilmu pedang sore hari?
Sayang, tidak baik bertengkar di depan anak kita.
Kamu benar.
Akhirnya, kami menyewa guru les.
Paul mungkin cuma mengayunkan pedang dan seolah menganggur,
tapi dia kesatria yang dipercayai untuk menjaga desa ini.
Berkat status sosialnya, menyewa guru les adalah hal mudah.
Namun, di sini termasuk wilayah pelosok.
Entah apa ada orang yang mau datang.
Awalnya aku cemas, tapi ternyata langsung dapat.
Dari keterangan orang tuaku,
mungkin yang datang adalah petualang pensiun.
Pria paruh baya yang mengabdikan diri belajar sihir.
Pria berkumis panjang yang menandakan seorang penyihir pada umumnya.
Nama saya Roxy Migurdia, mohon kerja samanya.
Alamak!
Yang datang boro-boro berkumis, palingan juga belum tumbuh jembut.
Seumuran SMP, ya?
Loli. Mata pemalu. Ansos. Tiga kriteria sempurna!
Langsung ingin aku lamar.
Ah, kamu guru les sihirnya?
Kamu ini lumayan-
Mungil, ya!
Tolong bercermin dulu, Nak.
Apa itu kata sensitif baginya?
Padahal maksudku bukan dadanya.
Jadi, siapa murid yang akan saya ajari?
Ah, murid itu adalah anak ini!
Terkadang memang ada, ya.
Orang tua bodoh yang mengira anaknya punya bakat karena tumbuh lebih cepat.
Jangan keras-keras, dong, Jeng Roxy!
Ada masalah?
Tidak ada.
Tetapi saya tidak yakin anak Anda bisa memahami teori ilmu sihir.
Tidak apa-apa, kok. Rudy kami sangat mahir.
Baiklah, saya akan mencoba sebisa saya.
Eh? Kita belajar di luar?
Tentu saja.
Ilmu sihir dibagi menjadi tiga jenis.
Sihir serangan, sihir pemulih, dan sihir pemanggil.
Masing-masing punya tujuh tingkatan: dasar, menengah, atas,
sakral, raja, adiraja, dan dewa.
Totalnya ada tujuh tingkat.
Untuk menggunakan sihir, dibutuhkan daya sihir.
Entah daya sihir dari dalam tubuh-
Eh, ada apa?
Bukan apa-apa.
Ya sudah, aku beri contoh merapal mantra.
Coba tiru nanti.
Apa perlu merapal mantra?
Bukankah sudah jelas?
Ternyata memang harus dirapal.
Naungan tirta agung akan selalu datang bagi mereka yang membutuhkan.
Berikanlah arus segar di tempat ini.
Water Ball.
Bagaimana?
Bu Guru, nanti bisa dimarahi Ibunda karena pohon itu dirawat rutin olehnya.
Eh! Astaga.
Pangan berlimpah merupakan kuasa Yang Maha Agung.
Berikanlah kekuatan untuk bangkit bagi mereka yang kehilangan kekuatan.
Healing!
Wah, keren!
Anda bisa menggunakan sihir pemulih juga, ya?
Iya, hanya sampai tingkat menengah.
Hebat, sangat hebat!
Bukan apa-apa, siapa pun bisa asal giat berlatih.
Sepertinya dia mudah dipuji.
Baiklah, sekarang giliranmu.
Baik!
Sihir tanpa merapal tidak tertulis di buku panduan.
Kalau aku asal menggunakannya, mungkin nanti bisa pemali.
Roxy juga bilang merapal mantra adalah hal wajib.
Sementara aku ikut merapal dulu.
Mungkin ini penting.
Naungan tirta agung akan selalu datang bagi mereka yang membutuhkan.
- Kamu sedang apa? - Ah, bukan apa-apa.
Bagaimana?
Kamu menyingkat mantranya?
Iya.
Apa biasanya kamu persingkat?
Biasanya... tanpa mantra.
Tanpa mantra?
Oh, biasanya tanpa mantra, ya.
Aku paham.
Mungkin dia punya potensi.
Roxy, jangan pakai pohonku menjadi target latihan!
Ampun, deh!
Aku langsung gagal.
Mungkin besok aku dipecat.
Maaf, Bu Guru. Ini salahku.
Gawat.
Aku tidak pernah berinteraksi selama 20 tahun.
Aku tidak tahu harus bilang apa.
Jangan kabur, berpikir! Bukankah aku pengalaman?
Pikirkan apa yang akan dikatakan tokoh utama gim porno.
Bu Guru tidak gagal, tapi mengumpulkan pengalaman.
Benar juga.
Terima kasih.
Aduh!
- Omong-omong, Roxy. - Iya?
Ayo masuk ke dalam.
Perkenalkan dirimu kepada kami.
Hei!
Ayo masuk!
Terima kasih atas tawarannya, tapi saya tidak membawa oleh-oleh.
Kamu bicara apa?
Ayo cepat masuk.
Rudy juga.
Baik!
Mari kita mulai pesta penyambutan Roxy!
Bagaikan sebuah mimpi.
Aku mati tertabrak truk-
Bukan, aku tidak mempermasalahkan itu.
Mungkin di dunia ini aku bisa melakukannya.
Hidup dan bekerja keras seperti orang lain.
Meski tersandung, bangkit dan terus melangkah.
Mungkin aku bisa.
Pengangguran sampah sepertiku pun bisa mengulang kehidupan
dan hidup dengan lebih serius
Jikalau engkau bimbang, pergilah melampaui gunungโช
Wahai nurani yang tidak pernah puasโช
Angin yang meluap akan membuatmu legaโช
Di tempat yang siapa pun tidak bisa memijak imajiโช
Jikalau engkau membawa kasih dan sayang tunggalโช
Raihlah asmara nan asihโช
(Episode Selanjutnya: Guru)
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.