All language subtitles for Pangku.2025.1080p.NF.WEB-DL.AAC5.1.H.264-DDM

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional) Download
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese) Download
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish Download
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese Download
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[deru kendaraan]

[deru sepeda motor]

[derak ban di jalan berkerikil]

[debus mesin]

[gemeletap langkah]

[dencing alat beradu]

[deru kendaraan]

[klakson kendaraan]

[derak pelan]

[dencing alat beradu]

[pria] Kilometer berapa, ya?

Kilometer 60, Bang.

[berdengus]

[pria] Naik dari mana Mbak ini tadi?

Kilometer 26.

[pria] Terus…

mau turun di mana dia?

[sopir truk] Ndak tahu.

Dia bilang mau cari kerja.

[pria] Aduh.

Malam-malam begini, cari kerja di mana?

Yang kayak gini ini suka bawa sial.

[sopir truk] Maksudnya, Bang?

[pria] Ya, ini buktinya, kamu lihat.

Suruh turun sini aja.

Masih bagus truk ini enggak guling.

Hei, kamu.

Kakak mau cari kerja?

Kakak ke arah sana.

Ya?

Terus aja, jalan sana.

Daerah ramai itu.

Pasti banyak pekerjaan.

Maaf, ya, Kak.

[berdengus]

[deru starter kendaraan]

[musik dangdut diputar]

[musik dangdut makin keras]

[reporter] Gelombang demonstrasi berlanjut

di tengah-tengah sidang istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat.

Para demonstran, yang terdiri dari mahasiswa…

[Tika] Permisi, Bu.

…dan masyarakat, terus menuntut pembersihan pemerintahan

dari tokoh-tokoh Orde Baru

serta penghapusan dwifungsi ABRI.

Dalam pernyataannya, Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie

meminta masyarakat untuk mendukung pemerintahan

di tengah krisis ekonomi yang masih berlangsung…

- Mau minum apa? - …yang menyebabkan tidak stabilnya…

…nilai tukar rupiah,

lonjakan harta kebutuhan pokok, serta…

- Hei. - …meningkatnya…

…angka pengangguran akibat…

- Mau minum apa? - Teh aja, Bu.

Presiden juga menyatakan kekhawatirannya bahwa situasi yang terus bergejolak

dapat memperlambat proses pemulihan ekonomi,

yang pada akhirnya semakin memperburuk kondisi rakyat kecil.

Peningkatan pengiriman tenaga kerja Indonesia perlu dibagi

dengan ketersediaan pekerja yang terampil dan terdidik

demi terbukanya lebih banyak kesempatan kerja

dan adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat,

serta pulihnya stabilitas ekonomi nasional.

Beberapa tragedi yang terjadi belakangan,

di antaranya adalah kuatnya gelombang demonstrasi mahasiswa dan rakyat biasa

yang menolak pejabat serta politisi era Orde Baru yang masih berkuasa,

serta menuntut pengadilan atas mereka,

menuntut pembatasan masa jabatan presiden,

dan juga perihal dwifungsi ABRI.

[pelanggan pria] Cewek enggak ada yang mampir apa, Bu?

Udah pada pindah, udah lama.

Lagian 'kan, juga enggak bisa karaokean.

Kok buru-buru?

Bosan, Bu.

Pengin mangku sambil pijat-pijat enak.

Sini, aku pijat-pijat.

Enak juga. Mau?

Kemarin ramai.

[seruan dari iklan di TV]

Sekarang 'kan, orangnya senangnya nyanyi-nyanyi, karaoke, pijat-pijat.

Pada stres kali.

Hei!

Janan!

Enggak jadi pangku-pangkuan?

[pelanggan pria] Besok-besok aja!

[musik ceria bermain di TV]

[denging panjang]

[Maya] Mau aku tutup warungnya.

Hei.

Mau ke mana?

Tinggal di mana?

Saya mau cari kerja, Bu.

Apa aja.

[Maya] Apa aja?

Berapa bulan itu?

Delapan, jalan sembilan.

Mau ikut aku?

[Tika bergumam setuju]

[Maya] Ayo.

[wanita 1] Di mana?

- [wanita 2] Ini, Tante. - Ya.

- Yuk, Tante! - Tin.

Hei.

Masih jualan aja jam segini.

Lagian, anak-anak kalo enggak ditagihin, nunggak.

Bareng, Teh?

[mengemu]

Temennya siapa, Bu?

[musik dangdut diputar]

- Siapa nama kamu? - Tika.

Sartika.

[Tini] Panggil aja "Tante Tini".

Kok kayaknya enggak bedakan, sih?

Sayang, lah.

Eh.

Tapi saya punya jamu-jamu bekal kandungan. Ada.

Bawa, sih. Nanti dibawain. Mau? Mau, ya?

- Ayo, ah. Ayo. - Bayarnya boleh nyicil. Harian boleh.

Kamu jualan jam lima. Ini juga belum sampai rumah, Tin.

Belum selesai ngomong. Dipotong aja, Bu Maya.

Itu rencananya kapan berojolnya? Kabarin, ya, Bu.

- Bu. [berdecak] - [Maya] Ya.

[jangkrik mengerik]

Ayo masuk.

Pak.

Pak. Bangun, Pak.

Pindah ke sana, Pak.

Kamu sini aja.

Enggak usah khawatir.

Udah tua, udah enggak bisa apa-apa.

Kamu tidur aja.

[Tika] Bu.

Makasih, ya, Bu.

[musik lembut mengalun]

[Maya] Dulu kerja apa?

[Tika] Saya dulu cuci, setrika,

sama, ya, apa ajalah, Bu, yang bisa dikerjain.

[Maya] Orang tua di mana?

[Tika] Ada di kampung.

Tapi sisa Ibu. Kalo Bapak, udah enggak ada.

[Maya] Kamu pergi dari rumah?

Apa diusir?

Kalau mau kerja di warung,

cuma bikin kopi, duduk-duduk,

gampang, 'kan?

Dan enggak banyak juga yang datang.

Siapa tau, kalau ada kamu, tambah ramai.

Tapi kalo kerja di warung, mesti ngelendot sambil dipangku-pangku gitu, Bu?

Enggak ada yang paksa.

Lagian, orang hamil kayak gini, orang juga mikir kali.

[mengesah]

Emang kalo enggak di sini, kamu tau mau ke mana?

Katanya mau kerja apa aja.

Mau jadi TKW?

Dengar-dengar banyak yang disiksa.

Kalo Bapak, kerjanya apa, Bu?

[anak-anak berbicara samar]

Dulu buruh pabrik plastik.

Sekarang kadang kerja di sawah.

Berarti bisa, ya, Bu, kerja di pabrik?

Pabrik udah banyak yang tutup.

Lagi krismon gini susah cari kerja.

[musik lembut mengalun]

[deru kapal]

- [Tini] Ayo. He-eh, gitu. Ayo, kuat. - [Maya] Napas dalam. Ayo.

- [Tika mengejan] - [Maya] Dorong. Dorong keluar. Terus.

- Jangan ditahan. Dorong kuat. Ayo, bisa. - [Tini] Ayo. Semangat. Ayo, keluar!

- [Maya] Ayo. - [Tini] Enggak ada lap bersih, Bu?

[bayi menangis]

[Maya] Wah.

[Tini] Alhamdulillah, ya Allah.

Aduh.

[tikus mendecit]

Coba kasih ini.

[berdeham]

Ini. Ya.

[mengemu gemas]

Lagi?

Enak?

Sut.

Udah.

Ah?

[tertawa]

Enak?

Enak, ya?

Enak, ya? Ya?

[mengesah]

[berdengus]

[bayi menangis]

[bayi menangis]

- Makasih. - Ya.

Ya.

[bayi menangis]

[bayi menangis]

Sut…

[bayi berceloteh]

[bayi menangis]

[Tika] Bu.

[deru kendaraan]

[musik sendu mengalun]

[bayi berceloteh]

[ayam berkokok]

[bayi berceloteh]

[berceloteh lembut]

[mengesah]

[musik gitar pelan mengalun]

[reporter] Sebagai upaya pemulihan ekonomi Indonesia

pascakrisis moneter,

Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie

membentuk BKPTKI

yang berhak menjawab langsung kepada presiden

berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 20 Tahun 1999.

BKPTKI bertugas membantu presiden dalam meningkatkan program

dan penempatan pekerja Indonesia

dengan memperhatikan kualitas dan keamanan ketepatan tenaga kerja,

serta penyediaan pemasaran dan perlindungannya di luar negeri.

Peningkatan pengiriman tenaga kerja Indonesia telah menjadi bagian…

Hati-hati, panas.

[mengemu]

[menyesap]

Manis, enggak?

Wah… [berdecak]

Duduk di sini, sih. Jadi manis nih kopinya.

Bisa aja.

Entar beliin aku rokok, dong.

Mau rokok apa?

Yang di situ, tuh.

Ya?

Beliin, enggak?

Boleh.

[Bayu] Bu…

- Ibu… - Ibu lagi bikin kopi. Ya?

Bayu sama Mbok aja, ya?

[Maya] Ya? He-em?

Mau sama Mbok? Udah.

Enak, 'kan?

[percakapan samar]

[pria 1 berbahasa Jawa] Delapan. Empat delapan, empat sama…

[pria 2 berbahasa Indonesia] Cuma jual empat…

[pria 3] Tujuh belas rupiah.

[pria 3 berbicara samar]

[gerantang]

Izin, Kang.

Izin berapa lama?

Seminggu, Kang.

Acara apaan?

Antar istri, mau ke Saudi.

Kok orang-orang yang istrinya mau jadi TKW izinnya sampai seminggu?

'Kan, mampir kampung dulu, Kang,

[percakapan samar]

Makasih, Kang.

Berapa titik nanti?

Paling tiga, Mas.

Habis itu, mampir bisa, lah.

- Kamu kopi aja? - He-em.

Bu.

Kopi dua, kacang satu.

Makasih, Bu.

Yuk, Bu.

[wanita berbicara samar]

[duk pelan]

Saya kasih tau berapa kali kalo ngitung yang benar?

Ha?

- Tau, enggak, ini masalahnya duit? - Maaf.

Lu salah angkut, mau nanggung duitnya?

Goblok.

[merejan]

Kenapa lagi lo tadi?

Yah, biasa, lah, Mas. Salah masukin barang.

Ditandain aja nomornya.

Biar gampang.

Yah, maunya cari kerjaan lain, Mas.

Mau, Mas. kalo ada. Kali aja tau.

Ditahan-tahanin aja, lah. Udah untung, lho, kamu ada yang nampung.

Kenapa enggak lanjut sekolah aja?

Sekolah, ya, duit lagi.

Orang tua juga enggak ada.

Mau, Mas, bayarin?

[mengekeh]

- Udah, Mas. - Udah?

- Yuk. - Ya.

Mau gantiin, Mas?

Mata udah lima watt gitu mau nyetir.

Ayo, kita ngopi aja dulu di depan.

Nah, itu, tuh. Baru bikin merem melek.

Nyobain makannya, Mas, kalo pas mampir. Jangan cuma ngopi aja. Percuma.

[deru kendaraan]

[tik lampu mobil dimatikan]

Di sini parkir kayak orang goblok.

Mas, enggak ke karaokean aja?

Kopi dua, Mbak.

[reporter] Kenaikan harga bahan bakar minyak dan tarif dasar listrik

tidak hanya berpengaruh kepada kebutuhan kerja terkait,

tapi juga kepada lonjakan harga bahan pokok.

Di pasar tradisional, harga beras, gula, minyak goreng, dan tepung terigu

naik sekitar sepuluh sampai 30 persen.

Sementara itu, harga cabai, bawang merah, dan telur

juga naik akibat meningkatnya biaya distribusi.

[musik dangdut bermain]

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan

setiap kenaikan harga BBM

bisa meningkatkan harga kebutuhan pokok

sampai 100 persen dalam empat tahun.

Pemerintah hanya bisa berupaya memitigasi dampak ekonomi

lewat program kompensasi bagi masyarakat kurang mampu,

seperti bantuan langsung tunai dan operasi pasar murah

untuk mengontrol harga bahan pokok.

Eh.

Makasih.

Ayo.

[berdeham]

Eh.

Capek, ya, Mas?

Biasa, Mbak. Habis kerja.

Dari mana emang?

[mengerang]

Keliling-keliling. Muter-muter sampai ujung-ujung sana.

Muatannya?

Ikan.

Tapi enggak bau ikan.

Kurang dekat kali. [mengekeh]

Iya, 'kan?

[mengemu] Rokok, dong.

Rokok?

Mana tadi, ya?

Bukan, bukan yang itu.

- Yang mana? - Itu.

Ya udah, ambil di situ.

[Bayu] Ibu…

[terkesiap]

Kok bangun, sih?

- Tidur dulu lagi, ya. - Mau tidur sama Ibu.

Ibu masih ada tamu, tuh. Ada Om, kasihan nungguin. Ya?

Sama Mbok dulu aja, ya? Enggak apa-apa, ya?

Mau tidur sama Ibu.

Kasihan itu Om…

Bu. Bu, maaf, Bu.

Hmm?

Mau nidurin Bayu.

[Maya berembus] Sana.

[mengesah]

Udah! Sikat aja, Mas.

Ikhlas saya. [mengekeh]

- [pelanggan pria] Terima kasih, ya, Bu. - [Maya] Iya, sama-sama, Pak.

[musik dangdut bermain]

Mau tambah?

Enggak, Bu.

[musik lembut mengalun]

Sep, itu sisa coba turunin.

[Asep] Ya.

Bu, ada nampan?

[Maya] Enggak mau nambah lagi?

[Hadi] Udah, Bu.

Ini, Bu.

Enggak ada duit.

Gratis.

- Beneran? - Iya.

Makasih.

Bayu, udah mainnya. Ayo makan.

[Bayu bergumam]

[denting alat makan]

Pak. Ayo makan, Pak.

Heran.

Masih aja ngumpulin plastik.

Plastik udah pada numpuk, tuh.

Udah, Bu. Ibu makan dulu juga, yuk, Bu.

[berembus]

[ayam berkokok]

Eh…

Uang persenan kamu tadi malam.

Dari siapa, Bu?

Yang kasih ikan.

Buat Ibu aja, lah.

Benar?

Katanya buat Bayu.

Eh…

Kalo buat Bayu…

Ha?

Ditabung, ya, Sayang.

Udah ganteng, baik hati, belom kawin lagi.

Tau dari mana?

Enggak pakai cincin kawin.

Yah, Bu, hari gini mana ada orang laki keluar rumah pakai cincin kawin?

[mengekeh] Iya juga.

Semalam, aku juga minta dibeliin rokok, Bu.

Dibayar juga sama dia?

Ya ampun, Ibu…

Lupa, bukan ngumpetin, ya. Tuh.

- Ayo, makan. - Pak.

Ayo makan, Pak.

[ayam berkokok]

Tambahin lagi. Bapak makannya banyak.

Enak, Pak, ikannya, Pak.

Bu, ikan apa ini?

Ikan apa ini, Bu?

[denting alat makan]

Tumben tadi malam pada enggak ke sini.

Aku di karaoke, Bu.

Ramai?

Biasa, lah, Bu.

Padahal, ada yang mau pijat, tuh.

Anakku semalam sakit, Bu.

Rewel, enggak mau ditinggal.

Mau dibawa, kasihan.

[deru sepeda motor]

Telat ngumpetnya.

Enggak ada. Enggak ada yang ngumpet, Bu. Mau ngambil minum.

[menyergah]

Udah.

Pada jajan-jajan mi ayam. Seru banget, sih.

Minum apa, Tin?

Biasa, Bu.

[Tini] Kalo kayak gini, senang lihatnya Tante Tini, nih.

Berarti banyak duitnya, nih. Ya?

Itung-itungan dulu aja kalo gitu, lah.

Lagian, ngapain, sih? Pakai pada panik-panik.

Bayar besok juga bisa. Ya, Bu, ya?

[berdengus]

Terus, akhirnya rencananya gimana ini?

Entar dulu, anak lagi sakit. Repot.

Sabar, ya.

Tuh Tante Tini, katanya mau tanya.

Mau nanya apa, sih, Kasep? Ha?

- Makasih, Bu. - Ya.

Udah gede banget, sih, ini.

Mau tanya apa?

Tante Tini.

Jual lem, enggak?

Astagfirullah!

Kecil-kecil udah ngelem?

[Bayu] Bukan. Buat layangan.

Oh…

Bantu ngeluarin kamu aja bisa, apalagi lem.

Gampang.

Makasih, ya, Bu.

Lah? Pada selonjoran. Ini gimana ceritanya?

Bu…

Ibu kok cari uangnya sampai malam terus?

Kalo Ibu enggak cari uang, nanti bayar sekolahnya gimana?

Kalo mau beli jajan?

Beli layangan?

Tapi 'kan, bisa bikin sendiri, Bu.

Bayu enggak suka lihat Ibu dipangku-pangku.

[musik sendu mengalun]

[wanita berbicara samar di TV]

[wanita berbicara samar di TV]

[pria berbicara samar di TV]

Ayo.

- [Maya] Udah tidur? - Udah, Bu.

[wanita berbicara samar]

- [Hadi] Makasih, Bu. - [wanita] Ya, sama-sama.

[berembus]

Kenapa lagi dia, sampai biru-biru begitu?

Digebukin lagi paling, Mas.

Korek.

Boleh bagi rokok, Mas?

Makasih.

[percakapan samar]

Kenapa lagi lu?

Biasa, Mas.

Duluan, Mas.

[deru kendaraan]

Tumben.

Kelihatannya ada yang kecantol, nih.

Nyantol apa, sih, Bu?

[debak keras]

[Hadi] Bu.

[Maya] Hei.

Mau minum apa?

Kopi tiga.

Gitu. Datangnya dari terang. Kebagian, 'kan?

[Asep bergumam]

Sini…

Makasih.

Makasih.

Nih.

Wah, mantap ini.

Ngopi enak.

Ngopi, ngerokok. Enak, 'kan?

Hei…

[mengemu]

Ini.

[Tika] Bayu!

[tepuk tangan]

Mandi!

Ayo mandi.

[musik lembut mengalun]

- Bu, itu dia bawa ikan lagi? - Hmm?

Enggak tau.

Nanti Ibu tanya, ya.

- Masa enggak tau, sih? - Ha?

Masa enggak tau?

Kamu tanya sendiri, lah.

- Mau? - Enggak mau.

- Dingin. - Iya.

[Maya] Yang bayar siapa?

[Hadi] Sopir bakal bayar kalo ada yang markirin, Bu.

Diurusin sama Tika, ya. Ibu rebahan sebentar.

Datang malah cari kerja buat orang.

Iya, nanti malah pada malas mampir, Mas.

Justru pada malas mampir kalo enggak ada yang markirin.

Ya, aku terserah Ibu aja, lah.

Tadi anakku nanya, katanya omnya bawa ikan lagi, enggak?

Lahap dia kemarin.

Terus, ayo! Terus… Ya, stop!

[musik dangdut diputar]

Makasih, Pak.

- Hei! - Eh, Sep.

Ambilin ikan sisaan.

Jangan diam-diaman. Ngapain, kek.

Sut! Berisik.

Mau sekalian dimasakin, enggak?

[musik gitar lembut mengalun]

[bergumam]

Belakangnya, Tik.

Iya, Bu.

[Maya] Coba lihat.

Gantengnya cucu Mbok.

[musik riang mengalun]

Kalo udah besar, mau jadi apa?

Mau jadi kerja.

Orang kok mau jadi kerja?

Emang mau kerja jadi apa?

[Bayu] Enggak tau, Bu.

Kerja apa aja.

Biar Ibu enggak kerja sampai malam terus.

[Tika] Ya udah. Kalo gitu, berarti harus sekolah yang rajin,

belajar yang pintar.

Jadi, bisa kerja apa aja.

[anak laki-laki 1 berseru]

[dentang bel sekolah]

Bu, ruang guru di mana?

- Itu, di sana. - Makasih, Bu.

[anak laki-laki 2 berseru, tertawa]

- Pagi, Pak Hasan. - Selamat pagi.

Pagi.

- Selamat pagi, Bu. - Pagi, Pak.

Ada yang bisa saya bantu?

Mau sekolah.

Oh…

Emang mau jadi apa cita-citanya? Ha?

Begini, Bu.

Untuk proses pendaftaran, ada kelengkapan formulir yang harus diisi.

Kita isi datanya dulu, ya?

Namanya?

Saya Tika.

- Sartika Pusp… - Nama anaknya, Bu?

Bayu.

Kesuma. Bayu Kesuma, Pak.

Tanggal lahir?

Tanggal 12 Desember,

tahun 1998.

Nama orang tua?

Saya. Sartika Puspita.

Bapaknya, Bu?

Nama bapaknya, Bu, siapa?

[mengesah]

Begini, Bu.

Nama bapak itu penting.

Karena…

yang hanya boleh dicantumkan di ijazah itu nama bapak.

Begitu, Bu.

[musik pelan mengalun]

Kok cepat?

[menahan tangis] Enggak bisa daftar, Bu.

Kenapa?

Dimintain ini-itu. Dimintain surat ini, lah. Surat itu, lah.

Dimintain akta.

Sampai ditanya bapaknya siapa.

Aku mau jawab apa, Bu?

Bu…

[mengesah] Makasih.

Udahlah.

Makan, yuk.

Bagi.

[berdeham]

[mengesah]

Kamu tau bapakku, enggak?

Aku juga enggak pernah ketemu sama bapakku.

Kukira bapakmu Hadi.

Hadi siapa?

Itu, yang suka kasih ikan.

Oh…

Dia bapakku?

Tanya aja sendiri.

Cari kresek, gih. Yang gede.

[berdengus pelan]

Mau dibuatin, enggak?

Cari kresek mah gampang.

Cari bapak yang susah!

Sut!

[berbisik] Tik!

Pinjem bentar.

[Tika] Ayo, Nak. Nak, bangun.

[merejan]

Bangun dulu, yuk.

Ayo. [merejan]

[mendesut lembut]

[menghela napas]

[mengerang]

[berdeham]

Waktu aku datang…

Bayu nanya apa aku bapaknya.

Bayu nanya gitu?

Kalo malam, kalian tidur di mana?

Di rumah.

Oh…

Punya rumah?

Rumah Ibu.

Ngontrak?

Numpang.

[musik dangdut bermain]

Kalian biasanya pulang jam berapa?

Sebentar lagi, paling.

Kopinya tambah, ya?

[mengesah]

Sini aja.

- Enggak apa-apa? - Enggak apa-apa.

- [mengerang] - Iya.

Berapa?

Udah?

Lima belas ribu.

Tapi kalau mau beli rokok juga, jadi 22.000.

Mbak…

Lebihnya buat Bayu.

[mendesut lembut]

[Bayu mengerang]

[Tika] Ayo.

Minggu ini mau jalan-jalan?

["Rayuan Perempuan Gila" oleh Nadin Amizah mengalun]

Sep.

♪ Menurutmu, berapa lama lagi ♪

♪ Kau 'kan mencintaiku? ♪

♪ Menurutmu, apa yang ♪

♪ Bisa terjadi dalam sewindu? ♪

♪ Bukan apa, hanya bersiap ♪

♪ Tak ada yang tahu, aku takut ♪

♪ Tak pernah ada yang lama menungguku ♪

♪ Sejak dulu ♪

♪ Yang terjadi sebelumnya ♪

♪ Semua orang takut padaku ♪

♪ Wo-oh-oh ♪

♪ Panggil aku ♪

♪ Perempuan gila ♪

♪ Hantu berkepala ♪

♪ Keji membunuh kasihnya ♪

♪ Penuh ganggu ♪

♪ Di dalam jiwanya ♪

Ibu, Bapak, Kak Gilang. Sekarang, Bapak,

Bayu…

Sama Ibu.

Senang kamu, ya?

Mas.

Minggu depan jalan-jalan lagi, ya.

♪ Demi Tuhan ♪

♪ Aku berusaha ♪

♪ Memang ♪

Tuh.

♪ Mencintai ♪

♪ Diri ini ♪

♪ Namun ♪

♪ Aku berjanji ♪

[Tika] Makasih, ya, Mas.

♪ Seperti semestinya ♪

♪ Memang tidak mudah ♪

♪ Mencintai diri ini ♪

♪ Namun ♪

♪ Aku berjanji ♪

♪ Akan mereda ♪

♪ Seperti semestinya ♪

[Bayu] Mbok.

Ngantuk.

Yuk.

- Ibu kok belom pulang? - Sebentar lagi, ya?

Udah, bobo.

[musik dangdut bermain]

[menghela napas]

[musik dangdut bermain]

[ketuk berulang]

[ketuk berulang]

[wanita] Woi!

Ayo!

[keduanya tertawa kecil]

[mengesah]

Main… Molor, ya, orang-orang.

Hei!

Udah kelewatan waktunya. Tambah.

[musik dangdut bermain]

Beneran nih masih mau di sana? Enggak mau di sini aja?

[musik dangdut berlanjut]

Eh, Tik! Sini!

Ah, lapar!

[percakapan samar]

[para pengunjung bersorak]

[pria berbicara samar]

[wanita tertawa]

- Goyang, Mas. Lagi. - Asyik.

- Makasih, Mas. - Bagus. Ayo.

♪ Nuansanya… ♪

Kebanyakan micin.

Pantas enak.

Abis capek, kena micin, segar lagi.

Apa, sih, Mas?

Ikan itu kalo udah enggak segar,

dikasih micin, jadi segar lagi.

Ya, tapi masa aku disamain sama ikan?

Enakan buatan papaku.

Kamu bisa bikin?

Dikit-dikit bisa.

Kenapa enggak jualan mi kayak Bapak?

Uang dari mana?

Buat hari-hari aja ngepas.

Belum nanti buat sekolah Bayu.

Ha?

Emang belom daftar?

Kemarin udah daftar sebenarnya.

Uangnya juga udah ada, cuman, ya, gitu.

Dimintain ini, lah. Itu, lah.

Segala ditanya bapaknya siapa.

Ribet.

Mau sekolah aja susah.

Aku bantuin jualan mi, ya?

Bisa.

Kamu punya istri?

Aku mau punya anak.

Kamu mau punya suami?

[ayam berkokok]

[terisak]

[menangis] Makasih, ya, Bu.

Terima kasih, Bu.

[terisak]

Terima kasih, Pak.

Terima kasih banyak.

[terisak]

[berdesit]

[musik sendu mengalun]

[musik bahagia mengalun]

[Hadi] Aduh, lepas sandalnya.

Eh. [mengesah]

Truknya lebih bagus dari punya Bapak, ya?

Coba, deh. Mana? Ada di situ.

Sini?

Mas Asep…

Berapa lama kira-kira?

Seminggu kurang.

Oke, tuh. Soalnya batasnya minggu depan.

[Hadi] Begini. Nah.

Kalo tadi kita mancing di tempat itu,

bakal dapat langsung.

Di mana? Masa, sih?

Di luar.

Di luar mana?

Di luar sana.

Di sini juga kadang-kadang cepat,

tapi kadang-kadang lama.

[Bayu] Yang lama mah di sini, cepatnya di sana.

Itu ikan masih lama matangnya?

- Bu. - Sebentar lagi. Bentar.

Sebentar, ya.

Iya.

Ayo.

Nih.

[ayam berkokok]

- Makasih, ya. - Sama-sama.

Pak, di sini?

[mengemu]

Bukan.

- Di mana? - Nih.

Taruh tandanya di sini.

- Ini. Dipasin. - Di sini?

- Enggak ada. - Ikan.

Ikan? Ikan apa?

- Ikan lele. - [tertawa] Benar.

Mau melaut, tuh.

- Lagi mau mancing. - Oh, iya.

Mau pergi mancing.

Di sini tuh mancing enak banget, langsung dapat.

[musik menjadi sendu]

[mengesah]

[guru] Selamat pagi, Anak-Anak!

[semua murid] Pagi!

Apa kabar?

Baik.

Pintar. Sekarang, kita akan belajar bab dua, halaman sepuluh.

- [guru] Tentang anak ba… Baik. - [semua murid] Baik.

[desir angin]

[gemeresik benang]

Terus, Mas. Terus.

Stop!

- Apa, Bu? - Biasa.

- [Tika tertawa] - Enak?

- Mau lagi? Kurang, ya? - Ini enak.

- Enak, 'kan? Ibu suka. - Iya, sih.

Siapa yang coba?

Siapa?

- Yang pasti enak. - [Tika mengemu]

Yang nangkep siapa?

[mengesah]

Mas…

[musik pelan mengalun]

[debak pelan pintu ditutup]

[menghela napas]

Nah, sekarang kita peragakan bagaimana kita bertemu ibu guru di pagi hari.

- [dentang bel sekolah] - [gerantang]

[anak laki-laki 1] Satu!

Ayo!

- [anak laki-laki 2] Ini berapa? - [Bayu] Seribu.

[desir angin]

Bu.

[Maya] Kayaknya kamu hamil lagi, nih.

Coba, deh, periksa.

[mengesah]

Kalo masuk angin aja,

dikit begini udah merah.

[mengesah]

Sehat-sehat.

- [mengesah] - [berdesit]

[berdesit]

[mengesah]

Pengantin baru yang senang.

Ngapain, sih, bikin layangan lagi?

Bapakmu 'kan, bisa beli yang banyak.

Bapak udah lama enggak pulang.

Kulihat Ibu sering nangis.

Sibuk kali di tempat anjing.

Anjing siapa?

Anjing gondrong.

[berdengus] Emangnya ada anjing yang gondrong?

Layangan yang kemarin aku bikin ke mana?

Dibeli teman di sekolah.

Katanya bagus. Enggak gampang sobek.

Dibeli berapa?

Ha?

Bagi dua, ya?

Tadi malam si Yuna bilang udah lama enggak ketemu si Asep.

Terakhir kali ketemu Asep, katanya dia udah enggak kerja lagi sama suami kamu.

[mengesah]

Makanya, kalo lagi suntuk di rumah, sering-sering ke sini.

Orang laki, kalo lagi kerja biarin aja, yang penting duit masuk.

Daripada ada laki, tapi enggak ngasih duit?

Yuk.

[berdesit]

Semenjak enggak ada kamu, warung sepi.

Anak-anak setan itu paling sekali-sekali datang,

kalo butuh kamar.

Maaf, ya, Bu.

Enggak usah minta maaf.

Tuh gerobak mi bagaimana? Udah jadi?

Udah, enggak usah banyak mikir.

Jalanin aja, Tik.

Awas.

[berseru]

[Bayu] Sana.

[Gilang] Tarik, ya.

[Bayu] Mundur…

Mundur! Stop!

Stop!

[Gilang] Oke. Tarik!

- Satu… - [Bayu] Satu, dua, tiga!

Bu.

Bangun, Bu.

Makan.

Bu?

- Bu. - Hmm?

Makan.

- Hmm? - Makan dulu.

Makanan dari mana itu?

Itu… Bapak pulang, ya?

Layangannya banyak yang beli.

Ibu masih sakit?

Ibu enggak usah kerja dulu.

Ini masih ada uang.

[tertawa pelan]

Enggak, Ibu enggak sakit, kok.

Tapi simpan aja uangnya.

Entar juga Ibu bisa kerja.

Mau jualan mi ayam, 'kan, kita?

- Iya. - [bergumam]

Bu.

Masa tadi kata Kak Gilang, Bapak ada di tempat anjing,

terus anjingnya gondrong.

Masa anjingnya gondrong?

[deru sepeda motor]

Di sebelah mananya?

Nanti Mbak Tika lurus aja, masuk ke pintu, naik tangga.

Nanti orangnya gede, botak.

Katanya gondrong?

Nanti Mbak lihat sendiri aja.

[dentang berulang dari kejauhan]

[pria berbicara samar]

[percakapan tanpa suara]

[musik sedih mengalun]

[deru sepeda motor]

Yuk. Ke rumah Ibu.

[terisak] Rumah Ibu…

Enggak usah dipikirin, Tik.

Kamu bisa pulang kapan pun kamu mau.

Ini 'kan, rumah kamu juga.

Udah.

[ketuk berulang]

Bu.

[Bayu] Ada temannya, Bu.

[wanita] Sartika?

Saya Anissa. Saya…

Ya, saya tau siapa Mbak.

Silakan masuk.

Bajingan itu menghabiskan uang yang saya kirim dari Arab Saudi.

Capek, lho, saya kerja bertahun-tahun.

Tapi cuman ini hasilnya?

Saya pikir kalian punya rumah yang lebih bagus dari ini.

[derak pintu dibuka]

[terengah-engah]

Bayu.

Bayu.

Pakai itu.

Kita mau ke mana, Bu?

Udah, pakai.

Pakai.

[terisak] Pakai sendiri. Masa enggak bisa, sih?

- Kita mau ke mana, Bu? - Udah, pakai.

Masukin.

[debak-debuk barang dimasukkan]

[kelentang]

[Tika] Udah.

Bapak! Bapak, Bu!

- Bapak! - Bayu!

- Sartika. - Bapak!

Bawa sampah itu. Saya enggak mau lihat di situ.

[Bayu] Bapak.

Kenapa Bapak…

Bapak, kangen.

- [Hadi] Maafin Bapak. - [Bayu merajuk]

[Hadi] Bapak…

[Bayu] Bapak…

[Bayu merajuk]

Bayu jagain Ibu, ya?

[Bayu berbicara samar]

[Hadi] Maafin Bapak.

[terisak pelan]

[Bayu] Bapak…

Pak?

Bayu, ikut Ibu. [mengerang]

[terisak] Udah, ikut Ibu!

[menangis]

Bapak…

[terisak]

[musik sendu mengalun]

[Sita berdecak]

Laki tuh emang, ya. "Itu"-nya doang yang bisa dipegang.

Omongannya, sih, enggak.

[Tika menangis]

Makanya, aku enggak percaya cinta-cintaan, Tik.

Kamar aja, udah. Selesai.

[Yuna] Tapi itu 'kan, kamu, Sit.

Tika itu udah enggak punya apa-apa.

Jadi, kalau cinta dateng, ya, masa kita enggak mau?

[musik lembut mengalun]

[Bayu] Bu.

Gerobaknya di sana?

Pak…

[Maya] Ayo bobo.

Eh, copot dulu sandalnya.

Sekar, ayo.

Bu, Sekar berangkat, ya.

[decur air]

Bu, pamit, ya!

["Ibu" oleh Iwan Fals mengalun]

[Bayu Kecil] Bu.

Hari ini, Ibu enggak usah jualan dulu, ya, Bu.

Bayu mungkin belum bisa kasih Ibu apa-apa,

tapi aku mau bilang terima kasih,

Ibu sudah memilih melahirkan Bayu dan Sekar,

dan bekerja buat kami.

[percakapan tanpa suara]

Mbok dan Kakek pasti bangga lihat Ibu dari atas sana.

Ini ada sedikit uang tabungan Bayu buat Ibu.

Ibu beli apa yang Ibu mau.

Jangan lupa, nanti Bayu pulang, kita makan enak.

Bayu dan Sekar bangga punya Ibu.

Selamat ulang tahun, Ibu.

♪ Ribuan kilo ♪

♪ Jalan yang kau tempuh ♪

♪ Lewati rintang ♪

♪ Untuk aku, anakmu ♪

♪ Ibuku sayang ♪

♪ Masih terus berjalan ♪

♪ Walau tapak kaki ♪

♪ Penuh darah, penuh nanah ♪

♪ Seperti udara ♪

♪ Kasih yang engkau berikan ♪

♪ Tak mampu ku membalas ♪

♪ Ibu ♪

♪ Ibu ♪

♪ Ingin kudekap ♪

♪ Dan menangis di pangkuanmu ♪

♪ Sampai aku tertidur ♪

♪ Bagai masa kecil dulu ♪

♪ Lalu doa-doa ♪

♪ Baluri sekujur tubuhku ♪

♪ Dengan apa membalas ♪

♪ Ibu ♪

♪ Ibu ♪

♪ Ribuan kilo ♪

♪ Jalan yang kau tempuh ♪

♪ Lewati rintang ♪

♪ Untuk aku, anakmu ♪

♪ Ibuku sayang ♪

♪ Masih terus berjalan ♪

♪ Walau tapak kaki ♪

♪ Penuh darah, penuh nanah ♪

♪ Seperti udara ♪

♪ Kasih yang engkau berikan ♪

♪ Tak mampu ku membalas ♪

♪ Ibu ♪

♪ Ibu ♪

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.