Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
IRINGAN PEMAKAMAN HE JINGYUAN, JENDERAL DAYIN YANG SETIA DAN JUJUR
PERSEMBAHAN PERINGATAN
PAPAN ARWAH HE JINGYUAN, GUBERNUR JIZHOU
Jenderal He, selamat jalan.
Jenderal He, selamat jalan.
Jenderal He,
selamat jalan.
WEI QILIN, KRIMINAL DAYIN
Wei Qilin.
Kau pengkhianat yang lebih hina dari binatang!
Pengkhianat Wei dulu kabur karena takut dihukum, pantas kudanya jatuh dari tebing
dan sekeluarganya mati semua.
Memang pantas!
Jenderal Besar He juga gugur di medan perang kemarin!
- Hajar Pengkhianat Wei itu! - Hajar! Hajar Pengkhianat Wei!
- Hajar Pengkhianat Wei! - Hajar Pengkhianat Wei!
Bakar dia! Biar dia turun ke alam baka untuk meminta maaf kepada kedua jenderal!
Apa yang kau lakukan?
Kau adalah
jenderal wanita yang membunuh Pangeran Changxin, 'kan?
- Benar. - Benar, itu dia.
- Benar, dia adalah Nona Fan. - Ya, itu dia.
Nona Fan, apa yang kau lakukan?
Kami akan membakar Pengkhianat Wei ini!
Dia bukan pengkhianat.
Nona Fan!
Kami menghormatimu sebagai seorang wanita
yang tidak takut mati dan berhasil membunuh Pangeran Changxin.
Tapi kenapa kau membela Wei Qilin
si pengkhianat besar ini?
- Aku... - Apa maksudmu?
Kenapa kau membela Wei Qilin?
Bukan. Dia bukan pengkhianat.
Hari ini adalah hari peringatan wafatnya Jenderal Xie dan Jenderal He.
Tindakanmu ini
berarti memusuhi seluruh Pasukan Jizhou dan seluruh Pasukan Yanzhou!
Maafkan aku, para jenderal.
- Tapi dia benar-benar bukan seperti itu. - Jangan omong kosong di sini!
Cukup!
- Tuan Bangsawan. - Tuan Bangsawan.
Ayo, pergi.
Aku belum memberi penghormatan kepada Jenderal Xie.
Aku sungguh ingin memberi penghormatan.
Jika membela Pengkhianat Wei,
kau tidak pantas memberi penghormatan kepada Jenderal Besar Xie!
Pasukan Keluarga Xie tidak akan setuju!
- Benar! - Kami tidak setuju!
- Keluar! - Keluar!
Berbaris!
Tuan Bangsawan, apa yang kau lakukan?
- Tuan Bangsawan, dia tadi... - Semua pasukan, dengarkan perintah!
Berlutut!
Kedua Jenderal,
selamat jalan.
DIADAPTASI DARI NOVEL ZHU YU KARYA TUAN ZI LAI XI DARI JJWXC.NET
BALAI PEMERINTAHAN
Changyu,
sudah merasa lebih baik?
Rakyat jelata, Fan Changyu,
memberi hormat kepada Tuan Bangsawan.
Tadi
kau memanggilku apa?
Tuan Bangsawan.
Setelah berpikir lama,
hanya itu yang kau pahami?
Satu kata "Tuan Bangsawan"
sungguh terasa sangat asing.
Jika Tuan Bangsawan merasa itu terlalu asing,
kita berasal dari guru yang sama.
Tuan Bangsawan bisa saja memanggilku adik seperguruan.
Tuan Bangsawan, ini kediaman pribadi, juga kamar pribadiku.
Tuan Bangsawan, mohon jaga sikap.
Mungkin aku tahu
apa yang sedang kau khawatirkan.
Tapi kau juga harus tahu,
di dunia ini tidak ada apa pun yang bisa membuat hubungan kita menjadi asing.
Bagaimana jika masalah ini begitu besar
hingga membuatmu
tidak lagi bisa menjadi panglima Pasukan Yanzhou?
Apakah aku pantas menjadi panglima suatu pasukan
sepenuhnya bergantung pada kemampuanku sendiri.
Tidak ada hubungannya dengan apa pun atau dengan siapa pun.
Termasuk dirimu.
Maksud Tuan Bangsawan adalah
segala sesuatu di dunia ini
seperti urusan di dalam militer,
semua diputuskan olehmu sendiri?
Sudah larut malam.
Aku harus memulihkan luka.
Tuan Bangsawan, silakan kembali.
GERBANG JINGHE
Perdana Menteri Wei!
Perdana Menteri Wei.
Guru Besar.
Lihatlah.
Kalau orang sudah tua,
murid-murid mulai punya pemikiran sendiri
dan tidak bisa dikendalikan lagi.
Usulan ini menyangkut kekuasaan militer Jizhou.
Semua dipertimbangkan berdasarkan jasa perang, tanpa kepentingan pribadi.
Semoga Perdana Menteri Wei tidak tersinggung.
Jika Guru Besar merasa diri sudah tua,
mengapa tidak mencontoh Guru Besar Tao
yang mengundurkan diri saat di puncak?
Sampai hari ini, baik di istana maupun di seluruh negeri,
bahkan Kaisar pun
masih mengenang beliau dengan baik.
Lebih baik begitu daripada sudah 70 tahun masih belum pensiun.
Bersandar pada usia tua untuk menekan orang lain.
Tidak bisa mengendalikan keadaan.
Masih saja bersikap angkuh.
Pertempuran Lucheng membuat Jenderal He gugur.
Dalam surat wasiatnya,
beliau sangat merekomendasikan Li Huai'an sebagai Administrator Militer.
Sekarang kendali militer Jizhou telah berpindah tangan.
Sepertinya Wei Yan juga tidak akan bisa sombong lebih lama lagi.
Selama Bangsawan Wu'an masih menempatkan pasukan di Lucheng,
kekuasaan militer itu tidak akan jatuh ke tangan orang lain.
Itulah
modal kepercayaan diri Wei Yan.
AULA SASTRA
Ibu.
Aku tidak akan bermain permainan pengkhianat besar lagi.
Kalian hanya anak-anak.
Apa yang kalian mengerti?
Orang-orang di dunia ini, ada berapa orang
yang benar-benar bisa membedakan kawan dan lawan,
benar dan salah.
Makanlah.
Ayo, kita makan.
Ayah, Ibu.
Apa sebenarnya yang terjadi?
Masuk.
Fan.
Kakak.
Fan.
- Para jenderal, ada apa? - Sudah sekian hari berlalu.
- Jenderal Fan sudah boleh minum, 'kan? - Benar.
Kami sudah menunggu begitu lama.
Dari dulu ingin datang merayakan. Betul?
Jenderal Fan apaan?
Kalian terlalu memujiku.
Di mata kami, Jenderal Fan adalah jenderal besar.
Kau adalah pahlawan besar yang membunuh Pangeran Changxin.
Merebut kembali Chongzhou tinggal menunggu waktu.
Setelah ini, sepertinya tidak akan ada perang lagi.
- Benar! - Betul sekali!
- Cepat minum! - Ayo, Kakak!
- Fan, biar aku yang menuangkan. - Tuangkan.
Ini, Fan.
Kalau begitu, aku berterima kasih kepada kalian semua.
Minum!
- Minum! - Minum!
Kakak.
- Minum sedikit. - Kakak.
Tuan Li mencarimu.
Suruh dia masuk saja.
Sepertinya kurang leluasa.
Kakak, sebaiknya kau keluar saja menemuinya.
AULA SASTRA
Tuan Li, ada apa ini?
Aku merasa sangat bersalah.
Hari ini aku datang khusus untuk meminta hukuman dari Nona Fan.
Kesalahanku yang pertama.
Saat pemberontak menyerang kota,
Nona Fan memukulku sampai pingsan karena khawatir aku bertindak gegabah.
Aku tidak memahami maksudmu,
bahkan memarahimu saat kau sedang sakit parah.
Itu tidak berperikemanusiaan.
Kesalahanku yang kedua.
Perselisihan kita membuat orang lain salah paham terhadapmu.
Itu merusak nama baikmu.
Itu tidak sopan.
Karena itu, aku mohon Nona Fan
menghukumku dengan cambukan ranting ini.
Kalau tidak, aku tidak punya muka lagi untuk menemuimu,
apalagi untuk menemui Jenderal He.
Tuan Li tidak perlu memikirkannya lagi.
Jenderal He sangat baik kepadaku.
Aku bisa memahami keadaanmu saat itu.
- Bangunlah. - Aku merasa sangat bersalah.
Tidak kusangka setelah bertahun-tahun berlatih di barat laut,
kedewasaanku masih kalah darimu.
Tuan Li hanya terlalu khawatir.
Tidak perlu menyalahkan diri sendiri.
Aku juga salah karena memukulmu sampai pingsan.
Anggap saja kesalahan kita saling impas.
Kita impas.
Bangunlah.
Angkat pasukan, naik kuda, pergi berperang.
Aku ambil kartu ini!
Yang mengintip jadi anjing!
PINGGIRAN TIMUR KABUPATEN QINGPING
Aku pasti menarik kartu tertinggi!
Lihat kartu kembarku!
Lihat ini, empat pasang tanghulu!
- Lihat! Bukankah aku yang menang? - Aku menang!
- Aku menang! - Aku yang menang!
- Siapa yang menang di ronde ini? - Paman, lihat!
Siapa yang menang?
Dua Tian menekan Hun Chun, Kaisar mengalahkan sepuluh ribu keping.
Ronde ini Bao yang menang.
Ayo.
- Main lagi. - Main satu ronde lagi.
- Baik. Sudah cukup. - Aku akan meledakkan kalian semua!
Aku mau kartu Permaisuri.
Ayo.
Jangan lari.
Orang kita sendiri.
PONDOK JERAMI
Bao'er.
Ning.
Kakak Peri!
Ibu, akhirnya kau kembali.
Aku sangat merindukanmu.
Ibu juga sangat merindukanmu.
Pengurus Yu,
kau sudah kembali.
Changyu yang menyuruh Jenderal Xie Qi mengantarku pulang.
Dia bilang orang-orang Lin'an tidak boleh kurang satu pun.
Aku
juga orang Lin'an.
Changyu memang hebat.
Sebelumnya dia sudah mengantarkan aku, Changning, dan Bao'er kembali.
- Sekarang bertambah satu orang lagi. - Yang penting sudah kembali.
- Akhirnya rumah ini kembali utuh. - Benar.
BALAI PEMERINTAHAN PREFEKTUR JIZHOU
SEPULUH HARI KEMUDIAN
Kenapa kau masih di sini?
- Apa? - Ayo, pergi.
Cepat katakan!
Kasim, pihak Bangsawan Wu'an mengatakan sedang sibuk urusan militer.
Dia tidak bisa datang. Kita disuruh tidak perlu menunggu.
Kasim, kalau tidak segera membacakan dekret,
takutnya waktunya terlewat.
Sudahlah, tidak perlu menunggu.
Kalau begitu,
bacakan dua dekret pertama dulu.
AULA SASTRA
Kenapa kau menarikku ke sini? Aku sedang merebus daging.
Cepat.
- Kenapa baru datang? - Ramai sekali.
Sudah datang.
Berapa lama pembacaan dekret ini?
Di pertunjukan wayang bayangan yang pernah kulihat,
cuma sebentar.
Entah kenapa yang ini lama sekali.
Benar. Bahkan aku tidak pernah berlutut selama ini di depan altar arwah kakekku.
Sampai lututku mati rasa.
Diam!
Daging rebusanku.
AULA SENJATA
Dekret Kaisar tiba!
Semua prajurit, terimalah dekret!
Titah Kaisar berbunyi,
Pemberontak Chongzhou
telah mengacaukan negeri Dayin
dan menindas rakyat.
Gubernur Jizhou, He Jingyuan, telah menegakkan negara
dan menumpas pemberontak.
Gugur di medan perang dan wafat sebagai pahlawan.
Dengan belas kasih Kaisar
dan mengenang jasanya,
dianugerahi gelar anumerta Jenderal Besar Kuangzheng.
Pemakamannya akan dilaksanakan dengan upacara kenegaraan
untuk menunjukkan kesetiaannya dan menenangkan arwahnya.
Pengumuman ini disebarkan ke seluruh negeri.
Kapten Zhenwei Pasukan Jizhou, Li Huai'an,
tetap tenang di saat genting
dan berjasa mempertahankan kota.
Diangkat menjadi Administrator Militer Jizhou.
Li Huai'an beserta bawahannya
dianugerahi 200 liang emas dan 800 liang perak.
Terima kasih atas anugerah Kaisar!
Prajurit Jizhou, Fan Changyu.
Fan Changyu.
Ke mana Fan pergi?
Fan Changyu?
- Aku tidak tahu. - Fan Changyu!
Prajurit Jizhou,
Fan Changyu,
menebas Pangeran Changxin
dan berjasa besar di medan perang.
Diangkat sebagai Kapten Kavaleri
pangkat lima.
Fan Changyu beserta bawahannya dianugerahi
- seratus liang emas dan 500 liang perak. - Pangkat lima!
Mengingat pasukan Jizhou tidak boleh sehari pun tanpa pemimpin,
Administrator Militer Li Huai'an ditetapkan sebagai pemimpin utama
dan Kapten Kavaleri Fan Changyu sebagai wakilnya,
bersama-sama memegang kekuasaan militer Jizhou
demi menenangkan hati para prajurit.
Demikian dekret ini dibacakan
untuk diketahui oleh semuanya.
Administrator Militer Li, silakan menerima dekret.
Terima kasih atas anugerah Kaisar.
Selamat, Administrator Militer Li.
Kasim sudah datang dari jauh, pasti lelah di perjalanan.
Jika tidak keberatan, silakan beristirahat sebentar.
- Mari. - Mari.
- Selamat! - Selamat!
Kakak jadi pejabat!
- Hebat! - Fan jadi pejabat!
Fan jadi pejabat!
- Kapten Kavaleri! - Lima ratus liang!
Sejak aku masuk istana,
belum pernah kulihat serdadu kasar yang tidak tahu aturan seperti ini.
Orang-orang itu
bagaimana bisa mengalahkan Pangeran Changxin?
- Kapten Fan ada di sana. - Ayo.
Ayo.
Kapten Fan.
Kapten Fan.
Kapten Fan.
Dulu kami tidak tahu identitasmu, banyak menyinggungmu.
- Maafkan kami. - Maafkan kami.
Kalian memanggilku apa?
- Kapten Fan. - Fan!
Di mana dia?
Selamat, Fan!
- Selamat! - Selamat, Kakak!
- Kau jadi pejabat. - Pejabat? Status apa?
Kapten Kavaleri. Pejabat yang dianugerahkan Kaisar.
- Pangkat lima. - Pangkat lima.
Katanya sejak berdirinya negeri, belum ada perempuan yang menjabat setinggi ini.
Ada lagi!
Mulai sekarang, kalau Kepala Daerah bertemu denganmu,
dia harus bersujud tiga kali baru boleh bicara denganmu.
Kau benar-benar hebat sekarang!
Benarkah?
Kakak benar-benar jadi jenderal wanita. Mulai sekarang, kami mengikutimu.
- Kita bakal makan enak setiap hari. - Makan enak!
Mau apa saja pasti ada.
Tapi ingat, semua ini karena kita ikut menikmati keberuntungan Fan.
Fan, mulai sekarang aku tidak akan memakai nama Jin Yuanbao lagi.
Namaku Jin Changsheng. [*artinya selalu menang]
Mereka bertiga juga ganti nama.
- Man Shi, - Benar.
Man Jun, Man Dan.
Bagus sekali. Hari ini aku traktir semuanya makan daging rebus!
- Ayo, bantu sedikit! - Ayo!
Kalian duduk saja. Duduk di sana.
Baik.
Kakak, aku bantu ambil mangkuk.
- Kakak, duduk. - Biar aku yang menuang araknya.
Ini.
- Antarkan ke sana. - Baik.
- Ini. - Terima kasih!
- Mari. - Mari.
Tidak perlu banyak, dua mangkuk besar saja.
Antarkan.
Mari.
Mari, para jenderal.
- Makan dan minum yang baik! - Wah, banyak sekali!
- Makan dan minum yang baik! - Minum!
Aku isi lagi.
Administrator Militer Li sangat kecewa, 'kan?
Awalnya kau pikir setelah Jenderal He gugur,
kekuasaan militer itu
akan jatuh ke Keluarga Li.
Tidak disangka separuhnya malah direbut orang lain.
Hal sekecil ini tidak akan membuatku kecewa.
Justru aku penasaran padamu, Tuan Bangsawan.
Kekuasaan militer Jizhou begitu penting.
Kenapa kau menyerahkannya kepada seorang wanita muda
yang tidak punya pengalaman dan latar belakang?
Bukankah kau sendiri yang melaporkan jasanya ke istana?
Inilah hasilnya.
Aku melaporkan jasanya ke istana demi melindunginya.
Jadi, aku pasti akan melindunginya.
Istriku tidak membutuhkan perlindungan dari orang luar sepertimu.
Istri?
Seingatku, saat itu Fan Changyu menikah dengan Yan Zheng.
Bukan denganmu, Xie Zheng.
Lagi pula, kalian juga sudah menulis surat cerai.
Kini Fan Changyu tidak punya hubungan pernikahan denganmu.
Tuan Bangsawan, mengapa harus menipu diri sendiri?
Jangan lupa,
kau sudah bertunangan dengan Tuan Putri Pertama.
Bermain dua kaki
bukanlah perbuatan seorang pria terhormat.
Xie Qi sudah mengantar Yu Qianqian dengan selamat.
Hanya saja, Guru Besar Tao bersikeras tinggal di sini.
Bagaimanapun, dia tidak mau kembali ke ibu kota untuk menjabat.
Jika dia tidak kembali,
Kaisar mungkin akan tidak senang.
Tidak perlu takut.
Kaisar selalu seperti rumput di dinding,
mencari sandaran ke mana saja.
Selain itu,
istana menyerahkan kekuasaan militer kepada Fan Changyu
kemungkinan besar karena pertarungan antara Wei Yan dan Guru Besar Li.
Kedua orang itu
saling menahan satu sama lain.
Akhirnya mereka memilih melepaskan semuanya.
Bagi mereka, Fan Changyu bukan merupakan ancaman.
Lebih baik daripada kekuasaan militer jatuh ke tanganku.
Li Huai'an terlalu merasa pintar.
Akhirnya malah dimanfaatkan oleh kedua pihak.
Dua rubah tua itu
menghitung langkah mereka dengan sangat keras.
Bahkan di Jizhou, kita bisa mendengarnya dengan jelas.
Kalau begitu,
Nona Fan seperti anak kecil yang memeluk emas
dan berjalan di tengah pasar.
Masalah besar pasti akan datang.
Selama ada aku,
dia tidak akan mendapat masalah.
Sekarang bagaimana?
Dari separuh kekuasaan militer, Nona Fan tidak mendapat keuntungan sedikit pun.
Bisa jadi malah dia yang akan dijadikan kambing hitam.
Pihak Guru Besar juga pasti tidak senang.
Kakek jelas ingin memanfaatkan Nona Fan
untuk merusak rencana faksi Wei.
Tapi tidak masalah. Kita bisa memanfaatkan rencana mereka.
Aku, Li Huai'an,
juga bisa menjadi sandaran bagi Nona Fan.
Astaga.
Kapten Kavaleri?
Dianugerahi seratus liang emas dan lima ratus liang perak?
Wahai leluhur.
Ini cukup untuk dipakai Changyu dan Changning seumur hidup.
Itu belum seberapa.
Kapten Fan sekarang bisa memimpin setengah kekuasaan militer Jizhou.
Adik,
setelah kau kembali nanti,
tolong sampaikan kepada Changyu.
Walaupun sekarang dia sudah menjadi kapten,
ada pepatah, suami setia di masa sulit tidak boleh ditinggalkan.
Apa maksudmu suami masa sulit? Yang benar istri masa sulit.
Jangan menyela.
Saat Changyu berada di masa paling sulit,
Yan Zheng yang menemani dan menopangnya.
Kemudian bahkan dipaksa ikut wajib militer demi dia.
Perasaan seperti itu tidak bisa dibandingkan oleh orang lain.
Jangan sampai dia
jadi seperti wanita tidak tahu balas budi. Kacang lepas kulit.
Kacang lupa kulit.
Suamiku, kenapa mulutmu seperti ember
yang bocor sana sini? Selalu saja menyela.
Kalau kau salah bicara, masa tidak boleh dikoreksi?
Paman, Bibi,
tenang saja.
Changyu bukan orang seperti itu.
Aku pasti akan menyampaikan kepada Kapten Fan
dan Tuan...
Saudaraku.
Yan Zheng juga harus kembali dengan selamat.
Keluarga memang harus berkumpul lengkap.
Benar. Warga Lin'an juga menunggu dia.
Perkataan kalian akan aku sampaikan.
LAUTAN ILMU TIDAK TERBATAS
Tidak kusangka Tuan Putri Pertama bersusah payah ke barat laut
demi Kepala Akademi Luyuan.
Kesepakatan kita juga terjadi demi dia.
Kau tetap tinggal di Jizhou dan tidak kembali ke ibu kota.
Jangan-jangan karena sedang mengincar istri orang?
Pernikahan Nona Fan dan Bangsawan Wu'an hanyalah pernikahan palsu.
Hubunganku dengan Kapten Fan hanyalah sesama prajurit.
Sangat bersih.
Aku dan Kepala Akademi pernah bertempur bersama.
Hubungan kami hanyalah persahabatan sesama rekan yang lurus.
Kapten Fan sudah datang.
Kalau memang bersih, lalu apa yang membuatmu begitu gugup?
Ternyata kau benar-benar peduli kepada rekan seperjuangan.
Tuan Putri Pertama jangan mengejekku.
- Tuan Gongsun. - Lelucon yang sama tidak akan lucu lagi.
Tidak kusangka Tuan Putri dan Administrator Militer Li ada di sini.
Aku yang lancang.
Wenkan.
Obatnya sudah diganti.
Akhir-akhir ini perbanyaklah istirahat.
Aku masih ada urusan. Aku pergi dulu.
Jangan bergerak. Hitung sampai lima.
Lima, empat, tiga, dua, satu.
Tuan Putri, aku...
Tuan Putri tidak ingin melihatmu.
Tuan Putri.
Tuan Putri, tunggu!
Tuan Putri!
- Dengarkan aku, Tuan Putri! - Jauhi Tuan Putri!
Tuan Putri. Begini, Tuan Putri.
- Tutup pintu. - Dengarkan penjelasanku!
Tuan Putri!
Kau mau pergi atau tidak?
Aku tidak mau pergi.
Kalau tidak mau pergi, kakimu bisa patah terjepit.
- Kau tidak apa-apa? Biar kulihat. - Tidak perlu.
Tidak apa-apa.
Tidak apa-apa.
Kau membohongiku lagi.
Aku hanya ingin bicara beberapa kata.
Tuan Putri, katakan padaku. Apakah kau punya perasaan pada Li Huai'an?
Perasaan apanya!
Aku tidak punya perasaan padanya,
begitu juga denganmu.
Kau datang mencariku hanya untuk mengatakan ini?
Tidak ada hal lain yang ingin kau katakan?
Sebenarnya, aku...
Kepala Akademi Gongsun,
kalau memang tidak punya perasaan padaku,
jangan datang mencariku lagi.
LAUTAN ILMU TIDAK TERBATAS
Mulutku ini.
Kenapa pada saat penting justru tidak bisa bicara?
Kakak, semangat!
Fan, kenapa hari ini kau terus melamun?
Sekali lagi?
Ayo.
Maafkan aku, Tuan Li.
Kapten Fan.
Hari ini aku datang karena ada sesuatu yang ingin kudiskusikan.
Menantu masuk itu menyebalkan.
Li Menkan ini terlebih lagi.
Tuan Li, silakan kembali saja.
Hari ini suasana hatiku tidak baik.
Kau baru saja menjadi kapten. Perlu segera memahami kondisi wilayah militer.
Aku harap peta yang sudah kutandai ini bisa membantumu.
Jika ada yang tidak jelas,
aku bersedia menjelaskan.
Seseorang benar-benar suka memanfaatkan kesempatan saat orang lain lengah.
Tampaknya Kakak Menantu Masuk dalam bahaya.
Kalau begitu,
terima kasih, Tuan Li.
Kalau tidak mau mendengar, kalian boleh pergi.
Tidak. Kami tidak bisa pergi.
Kalau kami pergi,
siapa yang menjaga nama baik Kapten?
- Bagus! - Makan sudah siap!
Kalimat ini bagus sekali.
Hari sudah larut. Bagaimana kalau kita akhiri sampai di sini saja?
Akhir-akhir ini terlalu banyak urusan yang menjeratku.
Beberapa hari ke depan, mungkin aku tidak bisa menemanimu.
Tapi aku sudah mengundang guru terbaik di Jizhou
untuk menjadi penasihatmu.
Aku yakin kau akan makin pantas menjadi kapten.
Terima kasih banyak, Tuan Li.
Dalam strategi menghadapi musuh, ada taktik memanfaatkan kesempatan.
Jika ada celah kecil, harus dimanfaatkan.
Jika ada keuntungan kecil, harus diambil.
Yang ini aku tahu.
Artinya kalau melihat domba milik musuh,
aku langsung menariknya pulang, lalu dimasak jadi sup domba.
Ya, kurang lebih begitu.
Yang ini juga aku tahu.
Meminjam pisau untuk membunuh orang.
Artinya kalau di medan perang pedangku terlepas,
aku langsung meminjam senjata orang lain, lalu menghajar musuh habis-habisan.
Maksudnya, kau tidak perlu mengerahkan kekuatanmu sendiri.
Kau bisa memancing orang lain agar membantu menghancurkan musuh.
Dengan begitu, kau tidak perlu menghabiskan tenagamu sendiri.
Mengerti.
Kalau menonton api dari seberang sungai aku benar-benar tahu.
Di kota kami,
orang-orang kaya bisa menonton kembang api dari tempat yang sangat dekat.
Tapi anak-anak dari keluarga miskin seperti kami hanya bisa menonton
dari kejauhan
yang sangat jauh.
Ini... ini bukan soal kembang api.
Lewati saja.
Guru, apa arti menunjuk kayu memaki hantu?
Maksudmu menunjuk pohon murbei untuk memaki pohon akasia.
Itu ungkapan yang lebih halus.
- Apa maksud halus itu? - Changyu.
Guru.
Bagaimana kemajuan hari ini?
Kapten Fan sangat cerdas.
Sekali dijelaskan bisa memahami yang lain.
Dia berbakat.
Guru yang mengajar dengan baik.
Tidak.
Hari ini sampai di sini saja.
- Permisi. - Aku sudah menguasai Seni Perang Sun Zi.
Besok bolehkah mengajariku strategi milik kakek Sun Zi?
Aku pamit.
Guru!
Cepat cari guru lain lagi.
Baik.
Guru Liu, terima kasih sudah datang.
Murid-muridku semuanya jenderal unggul.
Administrator Militer Li boleh tenang. Tidak perlu khawatir.
Silakan.
Mari, Guru.
AULA SASTRA
Guru, kau...
Dia bahkan belum mengenal semua huruf.
Lebih baik cari orang lain saja.
- Guru! - Aku benar-benar tidak mampu.
Permisi.
LAUTAN ILMU TIDAK TERBATAS
- Tuan, jadi... - Cari lagi.
Silakan tenang, Administrator Militer Li. Aku mengajar tanpa membeda-bedakan.
Guru.
- Guru. - Sekalipun mati kelaparan,
- aku tetap tidak bisa mengajarnya! - Guru!
Tidak ada orang yang tidak bisa diajar.
Aku hanya orang bodoh yang pengetahuannya dangkal.
- Tolong kasihanilah aku! - Bangunlah.
- Ampuni aku! - Guru, bangunlah.
AULA SENJATA
DICARI GURU MILITER SABAR DAN TANGGUH BAYARAN TIGA LIANG PER DUA JAM
Yang hendak diajar ini jangan-jangan adalah Kapten Fan?
Benar.
Guru.
Tuan.
Nama Kapten Fan sudah terkenal di seluruh kota.
BALAI PEMERINTAHAN JIZHOU
Bahkan bayaran sudah dinaikkan menjadi tiga liang per dua jam.
Sudahlah.
Aku akan mengajarinya sendiri.
Apa?
TIGA HARI KEMUDIAN
Kenapa bisa jadi seperti ini?
Ulah Kapten Fan.
Kalian berdua masih terluka, tapi sudah beradu bela diri?
Semua luka dalam.
Hari sudah larut.
Bantu aku berdiri. Aku masih harus mengajarinya.
Istirahat saja dulu.
Jangan ajari Kapten Fan lagi.
Belajar strategi perang juga harus bertahap, bukan?
Belajar strategi perang?
Ini pertama kalinya aku melihat
ada yang mengajar sampai setengah mati begini.
Tuan Li.
Changyu.
Tuan Li, jangan bangun! Tuan Li.
Tuan Li, maaf sekali.
Bagaimana kalau aku belajar sendiri saja perlahan?
Kau tahu, ayah angkatku begitu hebat.
Awalnya dia bahkan ingin menerimaku sebagai murid.
Apa jangan-jangan dia sudah tua dan matanya sudah rabun?
Nona Fan pasti memiliki kebijaksanaan besar.
Guru Besar Tao pasti melihat hal itu.
Tidak bisa dibandingkan denganku.
Aku juga merasa begitu.
Bagaimana kalau
aku meminta ayah angkatku mengajariku?
Lebih baik tidak merepotkan beliau lagi.
Kenapa tidak bisa masuk ke kepala?
Sepertinya aku memang tidak berbakat belajar.
Di sela-sela paragraf, aku menuliskan catatan berwarna merah.
Kalau ada waktu, bacalah perlahan.
Hujan dan angin membuat langit gelap, ayam berkokok tiada henti.
Begitu melihat sang kekasih, bagaimana mungkin hati tidak bersuka?
Maksud bait ini adalah,
di tengah gelap dan hujan deras,
kokok ayam terdengar cemas,
justru di saat segala kekacauan itu,
tatapan mata beralih pelan,
dan dalam sekejap aku melihatnya.
Seperti menyingkirkan kabut,
lalu seberkas cahaya menyinari diriku,
hangatnya menyebar,
hati pun dipenuhi sukacita.
Kenapa kalau Yan Zheng yang mengajariku, aku langsung bisa mengingatnya?
Entah apa yang sedang dia lakukan sekarang.
Terjemahan subtitle oleh Chyntia Winata
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.