Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Pak…
Pak Ustaz.
Tolong…
Pak, Pak Ustaz…
- Pak! - Astagfirullahaladzim!
Pak, tolong, Pak Ustaz…
Kenapa, Bu?
Tolong anak saya, Pak Ustaz. Kerasukan di rumah…
- Sekarang lagi dijaga suami saya. - Iya, iya…
- Ayo, Pak Ustaz, tolong anak saya! - Iya, iya.
Sabar, sabar!
Lewat sini, Pak.
- Ayo, Pak Ustaz! - Iye, iye.
Sabar, Bu.
Allahu laa ilaaha illaa
- huwal hayyul qoyyuum, - Nggak apa-apa, Nak.
laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum.
Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli
man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih,
- Pak, gimana, Pak? - ya’lamu maa baina aidiihim
- wamaa kholfahum - Tunggu di luar saja, Bu.
Tutup pintunya, Bu.
wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii
illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus
samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu
hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim.
Bantu, Pak. Pegang yang kuat, Dik!
Pegang, Pak.
Pergi, Setan!
Pergi!
Pergi!
Alhamdulillah.
Pergi kau, Setan!
Pergi!
Pergi!
Alhamdulillah.
Alhamdulillah.
Alhamdulillah.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin.
Pak…
Sudah.
Kamu istirahat aja, Nak.
Dik, Tolong ambil minuman buat Pak Ustaz.
Iya, Pak.
- Terima kasih, Pak Ustaz. - Iya, sama-sama, Pak.
Ibu!
Bangsat! Keluar lo!
Keluar, pengecut!
Hei! Jangan lari!
Astagfirullahaladzim…
Cuaca kayak gini enaknya santai di rumah
sambil minum susu coklat hangat.
Tapi yang namanya pekerjaan, kadang kita nggak bisa milih.
Wartawan nggak boleh masuk ke TKP, Pak.
AKP Aryo yang minta saya datang ke sini.
Pak Daru sudah datang, tolong sampaikan ke Komandan.
Ikuti lorong ini aja, Pak Aryo di dalam flat.
Iya seharusnya kami ada misa bersama.
Kami sudah coba menelpon tadi tidak diangkat.
Nggak jadi pulang cepet nih.
Gimana, komandan mau ngobrol dulu.
Aryo nggak akan menyuruh gue keluar hujan-hujan gini,
kalau nggak penting-penting amat.
Gue nggak akan nyuruh lo keluar hujan-hujan gini,
kalo nggak penting-penting amat.
Ya, 'kan?
Jadi apa yang penting?
Gue akan kasih lo berita eksklusif buat kasus ini…
Tapi?
tapi naiknya nggak sekarang.
Ini korban ke empat yang jantungnya diambil.
Korban pertama muncul dua bulan lalu,
yang kedua jaraknya sebulan…
Dua korban terakhir jaraknya cuma seminggu.
Orang gereja?
Itu kenapa komandan gue nggak mau kasus ini naik sekarang.
Terlalu sensitif.
Karena semua korbannya pemuka agama.
- Semuanya? - Sejauh ini kita ada pandita, biksu,
pendeta, dan pastor ini.
Kurang Ustaz.
Selain mereka pemuka agama,
usia dan latar belakang mereka semua beda-beda.
Buat media yang lain,
gue bisa bikin konferensi pers untuk meliput kasus ini.
Tapi buat koran lo, Suara Orang Merdeka…
- Warga. Suara Warga Merdeka. - Ya, itulah.
Yang nerbitin berita sesuka kalian,
gue punya penawaran ini.
Kalau nggak ngomong kebenaran, buat apa jadi wartawan, Yo.
Lo ngomong sana sama tabloid gosip.
Lo jangan anggap remeh tabloid gosip.
Nanti kalau ada buktinya, 'kan, jadi fakta.
Penggelapan dana pajak,
polisi nembak polisi. Ya, 'kan?
Kalau ada buktinya jadi fakta, 'kan?
Sama-sama Wartawan ya, jadi lo belain?
Sama-sama berburu fakta.
Tim forensik lo udah periksa semua?
Gue suruh mereka bubar dulu, karena gue butuh ngomong sama lo.
- Kenapa lo? - Nggak. Nggak apa-apa.
Kaget?
Lo nggak mau bawa dia ke kantor?
- Saksi, nih. - Anjing!
Emang iya.
Kalo gue liat dari polanya, pembunuhnya akan berburu Ustaz.
Lo nggak mau buat pengumuman?
Nggak,
Komandan gue maunya kita pantau dulu aja.
Kemasukan Setan kali ya,
bisa ngambil jantung kayak gini.
Yo, yang ngelakuin ini tuh manusia,
bukan setan.
Ada berapa kasus yang lo pecahin, pembunuhnya Setan?
Kalo lo nangkepin Setan namanya Ghostbuster bukan polisi.
Taik.
Orang-orang ini sebenernya nggak peduli dengan apa yang terjadi,
yang mereka pikirin cuma konten.
Atau buat wartawan, gimana caranya jual koran lebih banyak.
Sama seperti gue beberapa tahun lalu,
yang gue kejar cuma berita yang bisa jual koran gue lebih banyak.
Setiap hari gue nunggu, berita mana yang lebih sadis dari sebelumnya,
yang bisa buat orang haus buat ngikutin.
Ada apa, Mang Daru?
Nggak ada apa-apa, Mas.
Berulang kali gue berharap,
kalau gue ngelakuin hal yang beda malam itu.
Kalau aja gue bilang ke polisi itu atau ke Aryo
kalau gue liat pembunuhnya malam itu,
semua anak-anak itu pasti masih hidup.
Gue selalu berharap ada seseorang atau kekuatan di atas sana
yang menjaga kita semua.
Tapi sepertinya semua itu cuma omong kosong.
Pada akhirnya yang jahat selalu manusia.
Pakunjara.
Eyang Guru.
Walau waktunya sempit,
kamu jangan menjadi ceroboh, Anakku.
Tapi kita perlu jantung-jantung itu sebelum Purnama Merah sempurna.
Eyang tahu, Anakku.
Tapi setiap kamu memakai kekuatanmu,
umurmu juga pasti berkurang.
kamu melakukan semua ini untuk Eyang
atau untuk menyelamatkan dirimu sendiri, yang sudah digerogoti umur dan penyakit.
Tentu saja supaya Eyang Guru bisa kembali ke alam ini.
Tidak perlu berbohong, Anakku.
Tanpa topengmu,
Eyang tahu kalau kita sama-sama membutuhkan.
Ananda tidak akan gagal kali ini.
Setan yang kamu hidupkan di hutan bambu,
mereka sudah mati.
Kirata yang membunuhnya ada di rumah sakit jiwa.
Kamu harus turun tangan sendiri.
Baik, Eyang Guru.
Ingat Pakunjara,
ilmu yang Eyang berikan selalu ada bayarannya.
Baik, Eyang.
Pulang, Nak. Ibumu pasti khawatir.
- Halo, Bang? - Daru.
kau besok ke Rumah Sakit Jiwa Pikiran Sehat, ya.
Kau wawancarai Ningrum,
dia tersangka kasus pembunuhan satu keluarga.
Aku sudah dapet surat ijin dari Polisi.
Bentar dulu, Bang.
Abang nggak mau tau kenapa saya dipanggil ke TKP malam-malam?
Kau pikir aku dapat surat izin ini dari mana?
Komandannya Aryo langsung telepon aku,
kita barter dengan kasus pembunuh berantai ini.
Bentar, Bang.
Tapi kenapa ke Rumah Sakit Jiwa, Bang?
Ya, karena dia sakit jiwa, dia ditahan di sana.
Sudahlah, kau tak usah banyak tanya.
Kau besok jam delapan datang, kau ketemu sama Dokter Markum.
Jangan belaga gila kau terus kau tak datang.
Ya? Kupecat kau.
Yang gila siapa?
Orang gila kok diwawancara.
Nanti ditanya apa, jawabannya pasti ngawur.
Pak! Pak, tolong, Pak!
Ada orang lain di kamar saya, Pak!
Pak!
Mana? Mana orangnya?
Dari kemaren gue bolak balik ke sini cuma gara-gara lo halu!
Di situ, Pak. Di samping pintu, Pak.
ada pasien lain, perempuan, mukanya luka-luka, Pak.
Hei, Parjo.
Lo minum ini aja, ya.
Lo nggak usah pura-pura gila gitu kalau lo cuma mau teler.
Nggak ngaruh, Pak.
Tolong usir dia, Pak. Perempuan itu, Pak!
Gimana caranya gue ngusir, kalo nggak ada orangnya!
Tidur, tidur!
Tiap malem ribut liat perempuan.
Aneh lo, Parjo!
Pak, tolong saya, Pak. Temenin saya, Pak.
Hei!
Itu di dalem udah ada yang nemenin, 'kan?
Kenalan sana biar akrab!
Mundur!
Pak! Pak Simon!
Pak! Tolong, Pak!
Pak Simon!
Hei, tidur di kasur!
- Aman, Mon? - Aman, Bang.
Cuma si Parjo aja, teriak-teriak ngeliat Setan.
Perempuan,
pake seragam pasien.
Bang?
Mungkin nggak perempuan itu…
Alin,
pasien yang bunuh diri karena kita pake?
Kejadian yang udah lewat nggak usah dibahas lagi.
Lo nggak mau kan semua orang di luar sana tau kita udah ngapain aja sama pasien?
Bodat.
Saya… Cuci ini dulu, Bang.
Rohmat.
Rohmat!
Rohmat.
Kamu tidak akan bisa sembuh tanpa senjatamu,
Sastrika-mu
Garis keturunan Kirata akan selesai di sini.
Atas perintahku, datanglah ke hadapanku.
Sesuatu yang haus darah
dan dendam di dada.
Aku Pakunjara, yang memanggilmu.
Dari semua Arwah yang bersarang di sini,
kamu yang menyimpan dendam paling besar.
Aku bisa memberimu kekuatan untuk balas dendam,
dengan bayaran sebuah tugas.
Ada seorang Kirata di sini…
Pemburu.
Kamu lakukan apa yang harus kamu lakukan,
lalu aku mau dia mati.
Aku berikan kamu raga
untuk dendammu dan melaksanakan perintah dariku.
Kekuatan itu sudah milikmu,
pergi!
Rohmat.
Iya, gue tau lo senior,
tapi kan nggak gitu juga.
Salah mulu gue,
giliran Gotod aja.
Apa-apa salah, apa-apa salah.
Sama aja, 'kan, gue sama Gotod?
Apa bedanya gue sama Gotod?
Gotod?
Ngantukan mulu, lo.
Nggak bisa tidur gue tadi malam.
Pagi ini gue kebangun sebelum alarm bunyi.
Gue nggak tau apa yang bakal gue temuin di dalam,
tapi yang pasti, pikiran gue masih di kasus kemarin.
Surat tugas…
Maaf, maaf.
Aduh, aduh.
Menarik, ya, manusia bisa berbuat ini.
- Boleh saya minta mapnya? - Iya, iya.
Terima kasih.
Ini Mas Daru dari koran Suara Warga Merdeka?
Iya, betul.
- Saya Dokter Markum. - Dokter.
- Ini, Dok. - Oke.
Siap wawancara hari ini?
- Siap, Dok. - Ayo.
Mas Daru pernah datang ke rumah sakit jiwa sebelumnya?
- Dirawat untungnya belum pernah. - Belum pernah, ya.
Tapi saya pernah mewawancara tersangka dirumah sakit.
Iya.
Tapi rumah sakit jiwa ini lain dengan biasanya.
- Iya? - Ya…
Ini dulunya kantor pemerintah,
tapi kemudian dialih fungsikan karena departemennya bubar.
Jadilah rumah sakit jiwa.
Tapi saya nggak yakin kalau
orang-orang dulu yang kerja di sini, mentalnya benar juga.
Pak.
- Perempuan itu jadi jahat, Pak. - Iya, nanti, ya. Nanti kita bicara, ya.
- Kenapa perempuan itu jadi jahat, Pak? - Nanti, ya.
- Pak! - Tapi omong-omong,
- selama saya bekerja di sini, - Pak!
saya belum pernah lihat ada wartawan datang kemari,
apalagi untuk interview pasien.
Lain kali mungkin Mas bisa ajak teman ke sini untuk wawancara saya.
Siapa tau sebelum pensiun saya bisa masuk TV.
Tapi saya wartawan cetak, Dok.
Kenapa Ningrum ditahan di sini, Dok?
Pengadilan masih mau lihat perkembangannya,
mereka belum yakin kalau Ningrum mengidap gangguan jiwa.
Dok, Dok.
- Ini yang dokter minta kemarin. - Iya, iya.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Sebentar, Dok.
Dokter sendiri yakin?
Ya, menurut hasil pengamatan kami jelas,
Ningrum mengidap skizofrenia dan delusional.
Dia merasa bertugas membunuh setan yang berwujud manusia.
'Kan, ketauan gilanya.
Melihat setan.
- Ini hasil pengamatan kami. - Ya.
Salinannya tentu saja, ini hanya untuk Mas Daru.
- Oke. - Sebentar, ya.
Saran saya, jangan terlalu lama bertatapan sama dia.
Kalau ada apa-apa, saya ada di kantor.
- Silahkan. Ya. - Terima kasih, Dok.
Mas.
Itu, kok diborgol segala, Mas?
Pencegahan aja, Pak. Nggak perlu khawatir.
Aman, ya.
Halo, Mbak.
Nama saya Darusman, saya dari koran Suara Warga Merdeka.
Di sini saya akan menanyakan beberapa pertanyaan
yang berkaitan tentang kasusnys Mbak.
Bisa tolong memperkenalkan diri.
Ini untuk catatan saja.
Apa Mbak Ningrum kenal
keluarga korban?
Mbak Ningrum punya pekerjaan tetap?
Pekerjaan saya adalah menjaga manusia dari Setan yang masuk ke dunia.
Kenapa Mbak Ningrum memutuskan untuk melakukan pekerjaan itu?
Menjaga manusia dari Setan?
Saya sudah jawab semuanya di kantor Polisi.
Iya, tapi 'kan, saya tidak dapat salinan wawancara Mbak dengan pihak kepolisian.
Tolonglah dijawab saja, Mbak.
Saya membunuh mereka untuk menebus dosa yang tidak saya buat.
Dosa siapa?
Kalau saya ceritakan semuanya,
anda tidak akan percaya.
Sama seperti semua orang di sini.
Ya, maka dari itu, buat saya percaya.
Ceritakan kepada saya,
Siapa yang menyuruh Mbak Ningrum melakukan pekerjaan ini?
Dan kenapa Mbak Ningrum melakukan pekerjaan ini?
Saya melakukan ini semua
agar kutukan itu tidak mengambil nyawa saya.
Tadi sebelumnya gue udah bilang, 'kan, kalau dia gila?
Sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu saya tanyakan.
Nanti saya minta salinan transkrip
wawancara Mbak Ningrum dengan pihak kepolisian saja.
Makasih.
Orang-orang yang kehilangan jantung itu,
sudah berapa yang dibunuh?
Kamu tahu apa soal pembunuhan ini?
- Sudah berapa orang yang dibunuh? - Sebentar.
Kamu tahu dari mana…
Saya bertanya sekali lagi, sudah berapa yang dibunuh?
Empat.
Dia butuh tiga jantung lagi.
Untuk apa?
Untuk menghidupkan lagi gurunya.
Pak Simon!
Pak! Pak Simon mati!
- Tolong! - Bantu saya! Saya tahu dia sudah di sini!
Saya tidak bisa melawan dia tanpa senjata saya!
Senjata apa?
Saya mohon tolong saya. Waktu saya tidak banyak,
sebelum dia mengambil jantung yang lain.
Ningrum, duduk.
Tolong, Pak! Tolong! Pak Simon mati di toilet! Pak, tolong!
- Pak, tolong! - Darusman, tolong bantu saya!
Dia sudah datang! Dia sudah di sini!
- Iya, iya, lepas dulu. - Janji bantu saya?
Iya, janji!
Pak! Kita selesaikan saja interviewnya!
Darusman, kamu sudah janji.
- Benar itu Simon? - Iya, Pak! Cepat, Pak!
Ayo cepat, di sini, Pak!
Ayo, Pak! Cepat!
Pakunjara.
Eyang Guru.
Ada seseorang yang akan membantu mencari Sastrika Ningrum.
- Coba kamu ikuti dia, Anakku. - Siapa?
Seorang pencari berita.
Jangan sampai dia menemukan Sastrikanya.
Dia masih bisa membunuhku lagi.
Baik, Eyang Guru.
Papi?
Papi.
Halo, Yo?
Yo, gue mau minta tolong, dong.
gue minta transkrip wawancara Ningrum sama pihak kepolisian, boleh?
Bisa, bisa…
Omong-omong, lo bener masalah pembunuh kemaren.
Ada korban lagi.
Kali ini korbannya dari aliran kepercayaan.
Ini gue lagi di jalan ke TKP. Ketemu di sana?
Iya, ketemu di sana. Tapi… Gue minta ini, dong,
alamat tempat Ningrum ditangkep.
Dusun Seroja, apa?
Kok lo jadi beneran liput kasus Ningrum?
Ya, habis yang di depan mata belum boleh dinaikin.
Sewot aja, lo! Ya udah, nanti gue kirim transkripnya.
Makasih, makasih.
Di sini itu nggak boleh lempar-lempar orang kayak gitu.
Hei, hei.
Lo tuh kalo udah dibersihin, lo tuh cakep.
Jangan berontak-berontak gitu,
nanti kalau abang pengen gimana?
Nanti malam kalau Abang nggak capek,
kita “main”, ya, Cantik.
- Ini kopinya, Mas. - Makasih.
Mpok, satu ya.
Lo kagak sholat juga?
Yang jadi Imamnya Ustaz Hari,
Bisa sesat gue.
Habis nemuin mayat di hutan bambu.
Minum kopinya beda kayaknya,
kopi ganja.
Bapak-Bapak, ane tungguin, kirain pada mau jamaah?
Kagak Pak Ustaz, di rumah aja,
tanggung ngopinya.
Iya dah. Lanjutin dah.
- Pak Ustaz. - Iya, saya.
Saya Darusman tapi biasa dipanggil Daru.
Terima kasih, ya, Pak. Udah mau bertemu dengan saya.
Ente mau denger cerita soal tempo hari itu?
- Iya. - 'Kan ane udah cerita semua ke Polisi.
Iya, Pak. Ini saya ada salinan wawancara Bapak dengan pihak kepolisian.
Tapi ada hal lain yang ingin saya tanyakan.
Di sini, Pak Ustaz bilang tidak mengenal korban sama sekali? Betul?
Iya, benar.
Tapi sebelumnya,
Pak Ustaz bilang didatangi oleh korban dan diminta tolong
untuk menolong anak korban yang kondisinya sedang kesurupan, betul?
Iya, itu juga benar.
Tapi sebelumnya Pak Ustaz juga bilang
kalau Pak Ustaz sudah tinggal di dusun ini selama 15 tahun,
dan sering lewat jalan itu.
Agak janggal, ya, Pak?
Begini aja, Bang Daru
Ane mau cerita tapi nggak di sini.
- Bu. - Iya.
- Makasih, ya. Itu, ya. - Iya.
Pak Ustaz!
Sini, Bang Daru.
Mat, mending kamu berenti, deh, main-main sama pasien.
Simon matinya nggak wajar.
Apa hubungannya?
Halah, Kamu, Simon, dan Gotod suka cari mangsa, 'kan, malem-malem.
Itu di Bangsal Dua,
kok bisa-bisanya ada pasien yang hamil?
Hamil sama siapa?
Sejak Pasien Alin itu bunuh diri,
suka ada kejadian aneh di sini.
Berisik.
Beneran.
Makanya, saya bilang ini sebagai temen.
Kerja yang bener ajalah.
Bilangin juga si Gotod.
Dulu, ane bukan orang baek, Bang.
Ane sempet kecanduan putau sampe hampir mati.
Waktu itu, Allah masih kasih kesempatan ane hidup,
tapi pacar ane Yuni, kagak.
Katanya, detak jantung ane udah ilang, Bang.
- Mati suri? - Iya.
Tapi kagak tau gimana tuh, Bang. Ane jadi sering mimpiin itu akhirat.
- Mimpi apa? - Orang pada disiksa, Bang.
Makanya abis itu ane belajar agama.
Tobat.
Apa ini maksudnya gue harus ngaku dosa?
Ini hutan bambu yang emang terkenal angker buat warga di sini.
Dulu, pas krismon,
ada bapak-bapak stres yang matiin Bini ama anak-anaknya di sini.
Terusnya dia ngegorok lehernya sendiri.
Makanya, jarang ada yang berani lewat sini malam-malam, Bang.
Bang Daru, sini.
Ini tempat, warga menemukan mayat, Ibu,
anak perempuan sama anak laki-laki
yang udah kepenggal.
Tempatnya sama kayak waktu bapak-bapak itu bunuh diri.
Bedanya yang sekarang, Mayat si Bapak, lebih masuk ke dalam hutan.
Iya.
Ane ngerasa, kejadian malem tempo hari itu kayak mimpi.
Ane nggak tau, yang ane liat itu nyata apa kagak.
Astagfirullahaladzim.
Setelah itu? Warga datang?
Iya.
Warga juga kagak ada yang kenal ama keluarga ini.
Tapi ini rumahnya dibongkar atau gimana? Kok, nggak ada bekasnya begini, ya?
Waktu ane balik ama warga, rumah itu udah kagak ada.
Apa mungkin emang kagak pernah ada.
Cuma mayat-mayat aja sisanya.
Jawaban rumah sakit jiwa lagi.
Makanya ane males bahas ini di warung.
Warga udah pada bilang kalo ane make lagi gara-gara cerita ini.
Bang Daru tau kagak rasanya?
Jadi Imam tapi pada kagak percaya.
Jujur, saya cuma bisa bayangin, Pak.
Ane tau kalo ente kagak percaya,
makanya ane sebenernya males cerita soal ini ke orang lain.
Pak, Pak, maaf. Saya minta maaf saya sudah menyinggung Bapak.
Saya tau posisi Pak Ustaz itu sulit,
tapi tolonglah Pak. Saya nggak bisa bikin berita kalau nggak ada fakta, Pak.
Teori ane,
kemari.
Teori ane, kayaknya mereka punya urusan belum selesai.
Masalahnya apa, urusan apa, ane kagak tau.
Satu lagi, Pak Ustaz.
Pak Ustaz tadi ada bilang soal pedangnya Ningrum.
Itu sekarang di mana, ya?
Soalnya di salinan BAP sama sekali nggak ada.
Ini. Bentar.
Soal itu, ane nggak tahu apa-apa, Bang.
Maaf, ya.
Ya udah.
Sebentar.
Iya, Yo?
Kalau lo ada info apa-apa tentang ini, mending sekarang-sekarang bilangnya.
Yo, gue nggak bisa kasih bukti apa-apa dulu,
tapi gue punya firasat
yang kuat kalau pembunuhan ini ada hubungannya sama kasusnya Ningrum.
Ya udah, lo temuin gue di Rumah Sakit Harapan Sentosa.
Gue lagi jalan ke sana sekarang.
Oke, oke.
Gue ke rumah sakit Harapan Sentosa abis ini, ya.
Pak, saya pamit dulu, ya.
Terima kasih atas waktunya.
Kagak ada uang rokok, Bang?
Ini ada.
Ambil saja semua.
- Makasih, Bang. - Makasih.
Lumayan buat beli rokok.
Ingatan akan rasa bersalah akan membuatmu hilang arah.
Salah ngambil belokan di mana tadi, ya?
Mbak.
Astagfirullahaladzim.
Mbak?
Mbak?
Astagfirullahaladzim.
Yun.
Yuni.
Kalau lo mau gue minta maaf,
iya, gue salah.
gue minta maaf.
Kagak ada hari kelewat, gue kagak keinget ama lo.
Yuni.
Abang minta maaf, Yun.
Maafmu tidak ada artinya!
Perasaan tadi jalan lurus-lurus aja.
Sini kali, ya.
Permisi, Dik?
Tau jalan balik ke dusun?
Ningrum bukan urusanmu!
- Aman? - Semua sudah tidur.
Masuk dari mana lo?
Tolong! Tolong!
Hei.
Cek, cek. Ayo!
Minggir lo! Minggir!
Jangan sampe lo gue sikat, ya!
Saya menyelamatkan kalian dari setan-setan itu,
bukan berarti kalian bisa menyakiti sesama.
- Dasar tidak tahu diuntung! - Bacot!
Sar, bawa dia.
Iya, Bang.
Lepaskan saya!
Kalian sedang dalam bahaya, kalian tidak tahu itu! Lepaskan saya!
- Diam! - Lepas!
Saya harus ngomong pribadi sama Ningrum.
Bapak boleh tunggu di luar saja.
Terserah.
Makasih.
Setan-setan yang kamu bunuh… Bentuknya kayak apa?
Mereka sama seperti aku dan kamu,
tapi selalu ada bekas luka penyebab kematian mereka.
Ada yang…
Ada yang mukanya rata?
Pakunjara yang membuat itu.
Pakunjara?
Jadi itu namanya Pakunjara?
Bukan,
Pakunjara yang memanggil sesuatu dari pikiran kamu yang ingin kamu lupakan.
Maka dari itu dia muncul tanpa wajah.
Gue semakin nggak ngerti.
Dengan adanya kamu di sini.
Siapa pun yang kamu temui,
yang pasti orang itu sudah mati.
Oke, oke. Kita mulai dari awal lagi, ya.
Bisa tolong kamu ceritakan siapa kamu sebenarnya?
Dan apa yang kamu lakukan selama ini?
Saya adalah bagian dari kelompok yang menebus dosa seseorang.
Kisah saya berawal karena ada seorang laki-laki
yang memakai pusaka keluarganya untuk balas dendam.
Penjaga pusaka itu mengutuknya menjadi senjata,
senjata untuk memerangi kekuatan gelap.
Setelah lama berperang, kami berhasil membunuh guru mereka.
Tapi salah satu muridnya,
Pakunjara,
pewaris ilmu pemanggil Ksatria Iblis
tau ritual untuk membangkitkan gurunya.
Itu kenapa saya ada di sini,
untuk menghentikannya.
Apakah kutukan itu bisa hilang?
Saya sendiri tidak tahu,
karena belum ada yang melakukannya.
Iya, Yo?
Di mana lo?
Gue lagi di Pikiran Sehat.
Kenapa?
Gue kira lo ke sini.
Apa?
Ustaz yang jadi saksi pembunuhan Ningrum, mati!
Jantungnya hilang.
- Oke, gue ke sana sekarang. - Oke.
Saya harus pergi dulu.
Darusman.
Tidak semua yang bisa kamu lihat itu nyata.
Pakunjara membutuhkan orang-orang yang pernah melihat akhirat.
Walaupun mereka tidak ingat,
tapi ingatan tidak selalu ada di kepala.
Dan dia membutuhkan itu untuk mengembalikan gurunya.
Pak! Pak!
Pak Gotod!
Jangan, Pak! Perempuan itu ada di dalam kamar!
Ada perempuan di dalam kamar?
Ya, itu alasan gue ke sini.
Gue ada urusan yang belum selesai.
Jangan bodoh kayak Pak Simon.
- Pak! Dia mau bunuh Bapak! - Lo tutup kuping dah.
Nanti lo pengen lagi.
Ini lagi. Tidur!
Saya sudah peringatkan, Pak!
- Apa-apaan, sih, lo teriak-teriak? - Bang! Ada setan, Bang.
- Kagak ada setan di sini! - Bang, ada! Ada!
Ada!
Itu, Bang!
- Itu setannya, Bang. - Lari, Tod!
- Ayo, buruan! - Iya, Bang.
- Ayo buka, Bang. - Masuk.
Masuk kedalem!
- Kita harus keluar, Bang. - Masuk ke dalem ruangan!
Lo mau selamet, 'kan?
Iya mau, Bang.
- Kita harus keluar dari sini, Bang. - Diem!
Gotod.
Gotod?
Jangan…
Jangan bunuh saya.
Jangan…
Mati kalian!
Sama, 'kan?
Makin sering lagi.
Komandan gue pasti gagap nih, diteror sama Walikota masalah kasus ini.
Kenapa lo? Tumben nggak komen.
Nggak, nggak apa-apa.
Lo udah nemu belum apa penghubung kematian mereka semua?
Ya, belum, sih
Tapi kenapa lo bisa bilang ini semua ada hubungannya sama kasus Ningrum?
Firasat aja.
Gue, sih, belum bisa kasih bukti apa-apa,
tapi yang jelas Ningrum tahu siapa pembunuhnya,
Pakunjara namanya.
Pakunjara?
Aneh banget namanya,
nggak lazim.
Tapi yang pasti nanti gue bisa minta anak buah gue periksa.
Iya, iya.
- Yo. - Ya.
Ini semasa mereka semua masih hidup ada kejadian aneh nggak?
Yang itu,
selain jadi pastor,
dulu dia pernah kecelakaan.
Yang ini, pernah dirawat lama karena penyakit jantung.
Ya, intinya semua orang ini pernah hampir mati.
Lo tadi ketemu Ustaz Hari ngomongin apa?
Lo lihat ada orang yang bisa lo curigain?
Ru?
Lo kenapa, sih? Ninggalin gue sendirian di dalem.
Gue…
Gue pernah nyebabin orang mati, Yo.
Apa?
Lo nggak pernah cerita.
Lo masih inget, kasus pembunuh pita?
Yang korbannya itu anak usia 12 sampai 14 tahun,
dan pembunuhnya selalu ambil salah satu pita korban sebagai trofi.
Iya, gue inget kasus itu.
Di TKP korban kedua.
Gue liat pembunuhnya.
Dari mana gue tahu?
Karena gue liat pita yang sama yang ada di korban,
menjulur dari kantongnya dia.
Tapi gue diem aja.
Kenapa?
Gue nggak tau kenapa gue diem aja.
Mungkin gue mau dia ngebunuh lagi.
Mungkin gue mau berita ini semakin besar.
Bener aja, 'kan?
Habis kejadian itu, lima orang anak perempuan jatoh sebagai korbannya dia.
Sebelum akhirnya dia ditangkep.
Sampai sekarang gue selalu mikir,
kalau aja malem itu,
gue cerita ke rekan lo.
Mungkin kelima anak itu masih hidup sampai sekarang.
Lo jangan buat ini jadi beban buat lo.
Gue sudah coba untuk nggak melihat ini sebagai beban.
Tapi setiap kali gue liat berita
yang korbannya anak kecil,
dada gue langsung sesek, Yo.
Apa yang pembunuh itu lakuin ke korban,
itu nggak ada hubungannya sama lo, Ru.
Mungkin.
Mungkin itu juga kenapa bini gue ninggalin gue.
Saat rumah tangga kita mulai berantakan,
gue diem aja.
Cuma berharap akan ada seseorang atau kekuatan
yang membawa dia balik.
Tuhan maksud lo?
Ya, kalo lo sendiri nggak ada usaha, Dia juga males bantu kali, Ru.
Halo?
Oke.
Jenazah Pak Ustaz dateng, gue ke sana dulu.
Siap, Ndan.
Sama? Nggak aja jejaknya?
Senjata yang dipake?
Nggak ada apa-apa, Ndan. Sama kayak korban sebelumnya.
Masih diinvestigasi…
Jiwa sudah hilang,
tapi raga kosong akan menyerang musuhku.
Jenazahnya saya taruh di belakang, ya, Pak.
- Pak Ustaz? - Iya.
Terima kasih, Mas.
Kayaknya gue harus bilang ke Komandan untuk naikin beritanya.
Biar masyarakat waspada.
Ini udah nggak bisa kita diemin.
Yo.
Ini berarti mereka semua ini pernah hampir mati, ya?
'Kan tadi gue udah bilang.
Bentar, sini, Yo.
Ini, Si Pastor, dalam perjalanan ke rumah sakit,
jantungnya pernah berhenti beberapa menit.
Dia juga nih,
mati suri malah.
Pak Ustaz juga.
Pakunjara membutuhkan orang-orang yang pernah melihat akhirat.
Walaupun mereka tidak ingat,
tapi ingatan tidak selalu ada di kepala.
Itu kenapa pembunuhnya ngambil jantung.
Dia perlu orang-orang yang punya ingatan tentang akhirat.
Gue pernah baca artikel
dan di situ dibilang kalo ingatan itu disimpan di dua tempat, otak sama jantung.
Makanya banyak orang nggak bisa sembuh dari trauma, kenapa?
Karena yang dibenerin di sini doang nih, tapi yang di sini nggak dibenerin.
Gue kira lo nggak percaya sama masalah kayak ginian.
Gue emang nggak percaya
tapi bukan berarti gue nggak baca apa-apaan, Yo.
PLN, pas banget lagi waktunya!
Bentar, bentar.
Itu…
Itu tadi posisinya gitu?
Nggak lucu!
Yaelah!
Ini nggak lucu, Ru. Masa gelap-gelapan gini di kamar mayat?
Wah.
Ru.
Anjing! Nggak lucu banget!
Anjing, ini nggak lucu banget di kamar mayat gini gelap-gelapan!
Yo.
Mayatnya hilang, Yo!
Lari, Yo!
Minggir!
Ini mulai ngaco nih, Yo! Ngaco nih, Yo!
Yo, ayo!
Pergi, Ru! Gue tahan mereka.
Tutup pintunya.
Jangan biarin mereka keluar, Ru!
Kita ungsiin dulu semua orang.
Ada pembunuh berkeliaran di sini.
Hei, tunggu di sini.
Mbak, ayo kita pindah.
Ayo gabung ke sana.
Hei, kamu kenapa? Ayo, ke sana.
Cari jalan lain.
Dia mencari saya.
Ayo semuanya keluar dari sini. Ikuti saya!
Ayo, ayo keluar!
Tunggu!
Jangan ganggu perempuan itu!
Ayo, ayo pergi. Semua keluar!
Kita akan bertemu lagi saat guruku kembali.
Pergi! Tutup tempat ini!
Berhenti, Pak!
Pak, tempat ini harus kita tutup.
Jangan sampai ada yang keluar dari sini. Bahaya.
Pak, tolong bukakan!
Iya, nanti saya ke sini lagi.
- Pak, hati-hati! Bisa mati, Pak! - Iya, iya nanti saya ke sini lagi.
Ningrum! Ningrum!
Ningrum!
Yang menyerang ke alam baka,
bisa kembali lewat jasad ini.
Ningrum!
Ningrum!
Darusman, Kamu selamatkan pasien lainnya.
Aku harus mencari Pakunjara.
Kamu terlambat.
Ritualnya sudah berjalan.
Selalu ada cara untuk menghentikannya.
Saya bingung dengan kelompok kalian,
tidak ada jaminan kalau kalian mengalahkan kami
kutukan kalian bisa hilang.
Bukan berarti kami akan membiarkan kamu menghidupkan gurumu lagi.
Tapi semua Kirata pendahulumu belum pernah ada yang berhasil mengalahkan kami.
Apa yang membuatmu yakin bisa berhasil kali ini?
Jawaban itu akan muncul pada waktunya.
Kamu bukan tandinganku sekarang.
Selalu ada cara untuk mendapatkan kekuatan, Kirata.
Kamu dan kelompokmu diberikan kekuatan lewat senjata itu,
tapi aku bisa meminjam dari yang lain.
Aku pinjam kekuatanmu walau sekejap
untuk mengalahkan musuh-musuhku.
Tolong!
Mayatmu akan jadi persembahan untuk guruku.
Kamu boleh coba.
Ayo, Pak! Cepet, Pak!
- Tolong buka, Om. - Iya, iya.
Bentar, ya.
Ayo, ayo.
Saya mau keluar.
Bantuin, Mbak.
Iya, Mas.
Akan ada yang mati malam ini!
Sekarang bukan waktu yang tepat untuk ngomong kayak begitu, Mas.
Tunggu.
Kamu akan mati malam ini.
- Apa? - Nggak.
Kita semua akan mati kalau kamu tidak menyelamatkan gadis itu.
Mas, ini bukan tempat yang aman.
Tidak ada tempat yang aman di dunia ini,
kalau sampai mahluk itu kembali.
Pak Parjo.
Pak, Pak!
Ayo, Pak Parjo!
Tolong dia, Pak.
Kalau nggak kamu akan mati! Kita semua akan mati!
- Iya, iya. - Ayo, Pak Parjo!
Tolong dia, Pak.
- Dia butuh kamu, Pak! - Ayo.
Dia butuh kamu.
Ayo, Mas.
Kita selesaikan semuanya di sini.
Kamu kalah, Kirata.
Kelompokku akan berkuasa setelah ini.
Ningrum…
Tunggu.
Biarkan aku menyelesaikan ini.
Jangan!
Eyang Guru!
Kembali ke alam mu!
Ningrum,
Maaf selama ini aku tidak percaya.
Bukan sesuatu hal yang mudah dipercaya,
kecuali kamu mengalaminya sendiri.
Ke mana Pakunjara?
Ke mana pun dia sekarang,
yang pasti dia masih ada di alam ini.
Darusman.
Bangun, Darusman!
Darusman!
Darusman.
Hei, Bodat!
Kau aku suruh cari berita malah tidur di sini.
Bang Ginting.
Pak, hati-hati. Pelan-pelan saja, Pak.
Masih sakit, ya, Pak?
Tadi lukanya kita jahit, Pak.
Beruntung ada yang bisa menghentikan pendarahannya,
jadi Bapak bisa selamat.
Baik. Saya tinggal dulu, Pak.
Nggak usah sok kuat.
Istirahat aja dulu di sini.
Kuat, Bang.
Hei, hei.
Bang, soal berita kasus Ningrum…
Hei, sudahlah, kau istirahat saja, sampai kau baik.
Nanti beritanya kutunggu minggu depan, ya.
Justru itu, Bang.
Saya nggak yakin beritanya bisa naik, Bang.
Siapa yang mau percaya, Bang?
Yang ada koran kita kehilangan kredibilitasnya, Bang.
Sudahlah, tak usah kau pikir itu.
Biar aku aja yang mikir, ya?
Kau baik-baik di sini, ya?
Istirahat kau.
Kejadian malam ini kalaupun gue tulis, nggak akan ada orang yang percaya.
Mereka nggak akan percaya
kalau ada kekuatan jahat di luar alam kita yang sedang mengancam.
Gue cuma berharap, apa yang Ningrum anggap sebagai kutukan,
adalah jawaban untuk sesuatu yang kita nggak mampu lawan.
AMBULANS
Lebih cepat, Pak! Orang ini kehilangan banyak darah.
Kenapa, Bu?
Darah.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.