Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Japanese
Javanese
Kannada
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Sialan.
Datang-datang bilang sial. Kamu tidak pernah berubah, ya.
Padahal aku sudah lupa.
Kamu dingin sekali, padahal setahun tidak berjumpa.
Berkat aku, kamu mendapatkan Mata Iblis, lo.
Kalau kau menjelaskan dengan lebih baik, aku enggak akan dijebloskan ke penjara.
Aku juga enggak akan bertengkar dengan Paul.
Aku tidak pernah bosan melihat petualanganmu.
Apa iya kamu mau menyalahkan semuanya padaku?
Ah, sial!
Kalau ada di ruangan ini, aku merasa kembali ke masa lalu.
Aku menyesal. Harusnya aku sudah introspeksi.
Berengsek!
Iya aku berterima kasih! Aku bisa sampai di sini berkat nasihatmu!
Jadi, berikan lagi nasihatmu!
Wah, tumben kamu jujur dan meminta padaku.
Tapi nasihat yang ingin aku minta adalah lokasi keluargaku.
Bukankah keluargamu ada di dunia lain?
Jangan mengelak.
Yang aku maksud adalah Zenith, Lilia, dan Aisha.
Kalau bisa, aku juga ingin tahu lokasi Sylphy, Ghyslaine, Philip, dan Sauros.
Ah, kasih tahu tidak, ya?
Maaf, aku terbawa suasana.
Baik, tapi berjanjilah satu hal padaku.
Janji apa?
Jika pada nasihat selanjutnya kamu bisa bertemu kembali dengan keluargamu,
kamu harus percaya padaku.
Memercayaimu dan menjadi wayangmu?
Tidak, aku tidak bilang sejauh itu, lo.
Tiap kali bertemu, kita selalu adu mulut. Apa tidak capek?
Enggak adu mulut pun bikin aku capek.
Dipaksa kembali ke wujud yang ingin kulupakan,
wujud yang membuatku jadi melankolis.
Kalau nasihatmu bagus, aku akan memikirkannya.
Kamu percaya, 'kan?
Semua tergantung apa yang terjadi.
Oke, deh. Aku terima saja.
Aku akan memberikan nasihatku.
Wahai Rudeus, dengar baik-baik.
Namanya adalah Aisha Greyrat.
Kamu akan mengalami kejadian seperti ini.
Eh? Apa?
Tapi kamu tidak boleh menyebutkan namamu.
Gunakan nama samaran dan tanya situasi kondisinya saja.
Lalu,
tulis surat untuk kenalanmu yang ada di Istana Shirone.
Tunggu dulu. Kenapa kenalan?
Dengan begitu, kamu dapat menyelamatkan Lilia dan Aisha dari Istana Shirone.
Eh? Lilia juga? Kok 'gitu?
Kalau dia di sana, kok enggak ditemukan?
Ada apa? Kamu baik-baik saja?
Aku baik-baik saja.
Hanya saja, mabuk laut sebelumnya masih tertinggal.
Dia membuatku mendapatkan Mata Iblis untuk menunjukkan gambaran itu?
Aku tidak paham. Apa maksudnya coba?
Akhirnya sampai juga di Benua Pusat.
Meski baru pertama kali coba, nasi ternyata enak, ya.
Coba makan, deh, Rudeus. Enak banget, lo!
Iya, terima kasih.
Inikah Ibu Kota Kerajaan Shirone?
Menulis surat pada kenalan yang dikatakan oleh Dewa Manusia.
Kemungkinan besar maksudnya adalah Roxy.
Dengan begitu, aku bisa menyelamatkan Lilia dan Aisha.
Jika benar Lilia dan Aisha ada di sini,
harusnya Roxy sudah lama menemukan mereka.
Di sini ada gurumu, 'kan?
Ada apa, Rudeus?
Aku mendapatkan informasi dari sumber tertentu.
Keluargaku sedang disandera di suatu tempat di negeri ini.
Apa iya?
Oh, ibumu?
Bukan, tapi mantan pembantu dan adikku, Lilia dan Aisha.
Adikmu?
Bukankah dia ada di Milishion? Yang kurang ajar itu.
Aku punya satu adik lagi.
Jadi sebisa mungkin,
aku ingin kalian membantuku mengumpulkan informasi.
Apa boleh buat. Aku akan membantu karena ini menyangkut keluargamu.
Ya.
Terima kasih.
Aku bersyukur mereka enggak tanya sumber informasi yang aku dapatkan.
Selama enggak tahu apa yang dipikirkan si Putih itu,
aku merasa enggak boleh gegabah membahas tentangnya.
Tolong sampaikan surat ini ke istana.
Satu tugas selesai.
Ini surat dadakan. Apa Roxy akan terkejut?
Selanjutnya...
Kalau aku percaya nasihat Dewa Manusia,
aku cukup mencari lokasi yang ditunjukkan dalam mimpiku di tengah kota yang luas ini.
Aduh, rasanya tulangku mau patah.
Tapi kenapa Aisha ditangkap oleh prajurit penjaga?
Dari kata Dewa Manusia, mereka seperti ditahan supaya enggak melarikan diri.
Siapa? Ruijerd?
Bukan.
Aku tahu betul kemampuan menguntit Ruijerd.
Bukan Eris juga.
Eris enggak akan menguntit dan langsung ada di sampingku.
Berarti orang lain.
Apa ada penduduk negeri ini yang dendam padaku?
Mana mungkin! Aku baru saja sampai.
Eh, kok bisa?
Jangan! Kembalikan!
Tolong diam.
Ayolah.
- Kembalikan suratku! - Sudah, tenang dulu.
- Aku mohon. - Iya.
Maaf, ya. Ini pekerjaan kami.
Jangan!
To-Tolong jangan salah sangka.
Bagaimana tidak salah sangka kalau...
Dengan, Nak. Kami sebenarnya prajurit istana.
Kami hanya menjemputnya karena dia tersesat.
Me-Mereka mengambil paksa suratku!
Apa perlu sampai merebut surat anak yang tersesat?
Orang dewasa punya kepentingan sendiri, Nak.
To-Tolong saya!
Sihir tanpa merapal?
Jangan-jangan...!
Jangan melawan dan serahkan anak itu. Kami tidak akan menyakitimu.
Pegangan erat-erat.
Nama saya Aisha Greyrat.
Terima kasih sudah menyelamatkan saya di saat genting.
Wah, kalau enggak salah dia sekarang berusia enam tahun, ya.
Dia dididik dengan sopan santun.
Maaf, apakah saya boleh bertanya siapa nama Anda?
Eh? Boleh.
Namaku Satria Bayang Bulan!
Wah, keren sekali.
Terima kasih pertolongan Anda,
tetapi apakah kiranya saya boleh meminta satu bantuan lagi?
Boleh.
Saya ingin mengirim surat yang berisi pesan bahwa Bunda ditawan di istana kepada Ayah.
Oh, begitu isi suratnya, ya.
Dari pemilihan katanya, dia benar-benar dibesarkan dengan baik.
Apa ibumu tidak menjelaskan bahwa mengirim surat butuh uang?
Bunda bilang, jika memohon kepada tukang pos dengan mata berbinar,
mereka akan mau melakukannya.
Aduh, aduh, Mbak Lilia usil sekali.
Tetapi tiap kali mencoba menghubungi Ayah,
orang-orang istana melarangku.
Apa tidak ada orang lain yang bisa kamu andalkan selain ayahmu?
Tidak ada.
Contohnya kakak berambut biru kenalan ibumu?
Atau mungkin kakak laki-lakimu yang mungkin entah di mana?
Saya punya kakak, tetapi dia tidak bisa diandalkan.
Kok 'gitu?
Barusan kakakmu menyelamatkanmu dengan gagah berani, 'kan?
Apa boleh aku tanya alasannya?
Alasan? Boleh saja.
Ada kotak kecil yang dijaga dengan baik oleh Bunda.
Saya bertanya pada Bunda kenapa saya tidak boleh menyentuh atau melihat isinya.
Bunda bilang ada benda berharga Kakak yang disimpan di dalamnya.
Ketika Bunda tidak ada, saya diam-diam membukanya.
Coba tebak apa isi dari kotak tersebut.
A-Apa coba? Tidak tahu.
Isinya cawat!
Ternyata Kakak menyembah cawat perempuan saat masih berusia 4 atau 5 tahun!
Dilihat dari ukurannya, lumayan mungil.
Menurut perhitunganku, cawat itu milik perempuan berusia 14 tahun.
Perhitungan? Lo, eh? Apa dia enggak terlalu cerdas?
Eh? Dia masih enam tahun, 'kan?
Ta-Tapi ada kemungkinan cuma salah paham, 'kan?
Tidak, saya mendengar cerita di balik layar dari Bunda.
Kakakku mengintip perempuan itu mandi,
juga mengintip kegiatan bercinta Ayah dan istrinya.
Dia bertindak seenak jidatnya.
Bunda selalu berusaha menutupinya, tetapi tidak salah lagi.
Tidak salah lagi bahwa Kakak adalah
mata keranjang!
Enggak kusangka.
Sial, maksudnya begini, toh.
Sekarang aku paham Dewa Manusia menyuruh jangan memperkenalkan diri.
Oh iya, Kak Satria. Siapa nama asli Anda?
Rahasia, tapi umumnya aku dipanggil Majikan Dead End.
Eh, Kak Majikan, ya? Pasti ada alasannya.
Keren banget!
Baiklah, aku akan membantumu menyelamatkan ibumu.
Eh? Kenapa tiba-tiba?
Tidak apa. Aku sudah paham situasinya.
Serahkan saja padaku.
Aku tunjukkan kemampuan sang Majikan!
Begitulah alasan kalian harus memanggilku "Majikan" di depannya mulai sekarang.
Kenapa harus repot-repot?
Sepertinya dia punya pengetahuan yang keliru tentang kakaknya.
Dengan menunjukkan diriku yang keren, aku harap tidak akan keliru lagi.
Oh, menurutku kamu sudah cukup keren, kok.
Eris...
Kenapa kamu cengengesan kalau aku puji?
Dari ceritamu, akan lebih baik kalau kita menyerang langsung.
Sudah lama aku tidak menyerang istana.
Eh, tunggu dulu!
Apa lagi?
Begini. Lebih baik kita menunggu guruku menghubungi dulu, oke?
Orang-orang ini mudah naik pitam, ya.
Selamat pagi!
Iya!
Apakah Anda bernama Tuan Rudeus?
Benar.
Nama saya Ginger York, salah satu pengawal Pangeran Ketujuh Shirone.
Senang bertemu dengan Anda.
Apakah Tuan Rudeus bersedia mengikuti saya menuju istana kerajaan?
Ada urusan apa, ya?
Mohon maaf. Nona Roxy memanggil Anda.
Mohon tunggu sebentar.
Sepertinya bukan tentang Aisha.
Ada apa?
Aku mau pergi sebentar.
Kamu rapi sekali.
Karena aku akan bertemu guruku setelah sekian lama.
Kamu akan memperkenalkanku, 'kan?
Tentu saja. Aku perkenalkan setelah masalah selesai.
Yakin pergi sendirian?
Aku yakin. Kalau terjadi sesuatu, aku akan langsung kabur.
Tolong jaga Aisha.
Baiklah! Hati-hati di jalan, Rudeus!
Apa, sih?
Ini istana tempat Roxy berada?
Saya dengar dari Nona Roxy,
Tuan Rudeus adalah anak genius
Nona Roxy sering membanggakan Anda.
Beliau bilang bahwa beliau tidak pantas mengajar sihir kepada Anda.
Menurut saya itu berlebihan.
Lewat sini.
Oh, ya?
Terima kasih telah mengantar.
Eh?
Kalian prajurit kemarin, 'kan?
Mohon maaf, boleh serahkan barang bawaan dan tongkat Anda?
Ba-Baik.
Ya sudahlah. Pokoknya ketemu Roxy dulu.
Aku ingin bercerita banyak karena sudah tujuh tahun tidak bertemu.
Tuan Rudeus, maaf.
Ya?
Tidak, bukan apa-apa.
Saya Ginger!
Saya membawa Tuan Rudeus.
Masuk!
Suara cowok?
Jangan-jangan...
Bocah ini yang bernama Rudeus, ya?
Rupanya dia
si tong karatan yang sudah mengotori Roxy.
Li-Lilia?
Apa maksudnya? Roxy di mana?
Jatuhkan!
Aduh, sialan.
Percuma saja!
Itu adalah lingkaran sihir penghalang kelas raja untuk menangkap Roxy.
Bocah payah sepertimu tidak akan mampu berbuat apa-apa.
Anda siapa?
Namaku Pax Shirone, Pangeran Ketujuh Kerajaan Shirone.
Anda menjebakku, ya?
Baiklah. Saya meminta maaf atas kejadian kemarin.
Tolong panggil Roxy dahulu. Saya adalah murid Ro-
Roxy tidak ada di sini!
Roxy tidak ada di sini.
Kamu adalah umpan untuk memancing Roxy keluar.
Tidak kusangka kekasih Roxy datang ke negeri ini.
Eh? Maksudnya saya?
Eh? Memangnya bukan?
Syukurlah.
Sepertinya aku enggak tertikung oleh tong karatan berotak kotor ini.
Tentu saja bukan. Saya bukan kekasihnya.
Tidak salah lagi saya hanyalah murid beliau!
Oh, ya sudah.
Mungkin Lilia agak lemah sebagai umpan, tapi kamu akan jadi umpan yang bagus.
Aku akan menjadikan Roxy sebagai budak seksku selamanya!
Aku akan membuatnya melahirkan lima anak untukku!
Maaf, boleh tanya satu hal?
Apa?
Benar juga! Aku akan menggaulinya pertama kali di depan matamu.
Lalu setelah memenggal kepalamu,
lanjut ke ronde dua dengan Roxy setelah melihat muka putus asanya!
Sebelum tiba di sini, saya tidak mendengar satu kabar pun tentang Lilia,
jadi bagaimana caranya Roxy tahu kalau saya ditawan oleh Anda?
Waduh.
Roxy yang cerdas pasti akan mendengar kabar ini.
Kalau tidak membocorkan informasi atau membuatku meminta tolong,
tidak ada seorang pun yang akan datang.
Bukankah kamu terang-terangan datang di hadapanku?
Eh? Kalau itu...
Oh, aku tidak peduli kamu bisa menggunakan sihir tanpa rapal,
tapi tidak akan ada yang bisa mengalahkan kekuasaanku!
Aku tidak sabar melakukannya!
Apa Roxy akan segera datang?
Mana mungkin datang.
Tapi kenapa sampai sekarang Aisha belum ditemukan?
Ada laporan masuk bahwa suratnya sudah dirobek.
Biarkan saja.
Tidak boleh! Cari dia!
Kamu tidak mau keluargamu terancam, 'kan?
Saya akan memerintahkan regu pencari berangkat.
Sial! Kalian sungguh tidak berguna!
Sesuai dengan penerawangan Dewa Manusia, aku bertemu Aisha.
Aku sudah menggunakan nama samaran dan mengirim surat untuk Roxy.
Aku melakukan semua nasihatnya.
Hei, jangan-jangan dia menipuku?
(Episode 19: Memilih Rute)
Aku melihat langit di bilik jendela dan bertanya-tanya♪
Apakah langit ini adalah langit yang sama?♪
Ibarat warna senja yang seakan membaca isi nurani♪
Di tempat kita meninggalkan hari-hari nan polos♪
Angin berembus menyambut kedatangan kita♪
Janganlah berubah♪
Wahai kota dan penduduknya, tetaplah sama seperti dalam mimpiku♪
Aku berdoa semua akan tetap sama♪
Seperti sediakala ketika kita melihat bintang pertama♪
(Episode Selanjutnya: Hari Kelahiran Adik Pelayan Perempuan)
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.