Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Tolong Yudhis, Bu.
Tolong.
Tolong!
Tolong!
Tolong…
Anak-Anak, mohon diperhatikan.
Sunah Rasul ataupun Nabi menganjurkan kita
supaya kita tidak berkeliaran
ataupun kita bersenda gurau di awal malam.
Yaitu waktu magrib.
Kenapa?
Karena waktu magrib itu banyak setan berkeliaran.
Makanya teman-teman kalau mau salat,
silakan datang ke masjid lebih awal.
- Begitu ya? - Ya.
Jangan dibiasakan kasih dia makanan.
Nanti dia ke sini terus.
Lo, kau tidak ikut nonton?
Nanti dicari Dewo lo.
Cie…
Apa?
Tidak usah bahas dia. Aku tidak suka.
Untuk apa nonton bola? Tidak guna.
Mendingan mengerjakan hal yang jauh lebih penting.
Masa depan!
Sini, Pak!
Go! Ayo, Go!
Go, ayo!
Go, cepat!!
- Ayo, Go! - Tunggu sebentar.
- Tidak sabar. - Ayo, Go.
Ayo, Go!
Jangan berak terus!
Wah! Tukang berak!
- Ya ampun! - Ada ibunya.
Mari, Bu.
Ya.
Go?
"Berak".
- Aku sudah dijemput. Pamit, ya. - Ya.
- Hati-hati ya, Nak. - Ya.
- Semoga menang. - Amin!
- Hei! - Hei.
Ini dia.
Sudah siap duduk di bangku cadangan, Go?
Hei, sori ya. Perasaanku mengatakan, aku akan mencetak hatrik!
Alah, banyak gaya kau!
- Mari, Bu. - Ya. Hati-hati ya, Nak!
- Ya, Bu. - Pak.
Mari, Bu.
Ya ampun.
Botolnya Yogo, 'kan?
Wulan?
Tidak perlu lah, Bu.
Dia juga tidak bakal main kok.
Aku masih mengerjakan beasiswaku.
Hei, ayolah.
Itu bisa nanti.
Kasihan lo sepupumu itu. Dia sudah tidak punya siapa-siapa.
Ibu mau sampai kapan pakai alasan ini terus?
Intinya, kau harus dukung dia.
Yogo pasti senang kalau botol ini kau bawa ke sana.
Nanti Ibu beri ongkos.
Ya sudah, besok pagi uang jajanmu Ibu tambahkan.
Oper.
- Oper langsung! - Ayo!
Oke, bagus!
- Oper! - Bisa, Wo!
Oper!
- Tengah! - Dekat!
- Oper, Wo! - Ayo, Wo!
- Bagus! - Ayo, maju!
Aduh.
Cepat. Posisi!
Disuruh Ibu antar minumanmu.
Menyusahkan saja. Bikin repot!
Terima kasih ya, Lan.
Lo? Kau cuma antar ini? Terus pulang?
Tentu saja tidak!
Sayang ongkosnya. Nanti pulangnya dengan kalian saja.
- Wo! - Ayo, Wo!
Kartu merah!
Wasit, kartu merah!
Sit, kartu merah!
Pelanggaran!
Yogo.
Cepat, gantikan Dewo.
Yang benar, Pak?
- Ya, cepat! - Ya, Pak.
- Pak! - Sudah, yang lain nanti.
- Sudah. Yang lain nanti dulu. - Aku saja, Pak.
- Hatrik. - Asu.
Anas.
Nanti kau di depan saja.
Oke, main!
Ayo, Go!
Oper!
Itu kosong!
Tembak!
Aman, Wo?
Tumben, Lan, nonton?
Ya.
Disuruh Ibu antar minuman Yogo.
Aman ini, aman.
- Go! Ini, kosong! - Oper!
- Oper sini, Go! Jangan main sendirian! - Oper!
- Oper, Go! - Kasih!
- Ayo, cepat! - Maju, Go!
- Terus, Go, maju! - Oper, Go!
- Oper! - Oper, Go!
Oper!
- Ayo, Go! - Kasih!
- Oper, Go! Oper! - Go, oper!
Asu!
Persekebon!
Terus! Cepat!
- Terus! - Ambil!
Hei!
Persekebon!
Persekebon!
Persekebon!
Persekebon!
Bajingan!
Sudah kubilang, 'kan?
Gara-gara kau sok kayak Messi, jadi berantakan, 'kan?
Kau tadi dijaga ketat, 'kan?
- Hasilnya akan sama saja nanti! - Berisik!
- Semua tim cadangan sama saja! - Bajingan!
Tidak ada gunanya!
- Goblok semua! - Bilang apa kau?
- Jaga mulutmu! - Matamu, Nas!
Bajingan!
Tim cadangan bajingan!
Asu!
Hei!
Sudah, berhenti! Semuanya berhenti, hei!
Sudah.
- Tenang, Lan. Tidak usah khawatir. - Apa-apaan kalian?
Kau aman bersamaku.
Aman, kepalamu.
Hei, ayo. Semuanya salat dulu. Kumpul di musala. Ayo.
Ndro, bagaimana? Mau ikut salat tidak?
Tidak usah, Pak, langsung berangkat saja.
Ndro, kita mending magriban dulu.
Tidak usah, berangkat sekarang saja.
Daripada aku berkelahi lagi sama Anas di musala.
- Masa di musala berkelahi, Ndro? - Hei, Go.
Jangan lupa kalau semua masalah ini dari kau.
Sudahlah, kalau mau magriban, dijamak saja di Masjid Giritirto.
Ini tunggu apa?
Ayo cepat! Aku harus meneruskan beasiswaku!
Ayo, Pak.
Hei!
Jangan berangkat dulu!
Salat dulu!
Nanti salatnya kita gabung di rumah saja ya, Pak!
Hati-hati, ini magrib!
Kejar target, Mas?
Ya, harus kejar target, bagaimanapun caranya.
Ya, karena keadaannya begini.
Ya, makanya cari uang tambahan.
Hei, Adi, magrib.
Istirahat dulu saja.
Tidak pantas lo.
Lihat, 'kan? Adi itu memang seperti orang bodoh.
Mbak Wulan, tadi kok kayak ada
ribut-ribut di lapangan?
Ada masalah apa?
Karena Yogo sok jago.
Lo? Kok malah sok jago?
Memangnya kenapa, Mbak?
Yah, dia mau sok jadi pahlawan, tapi malah bikin kalah.
Mas Yogo niatnya baik.
Tapi namanya juga permainan, Mbak.
- Kadang menang, kadang kalah. - Ya, tapi memang goblok saja si Yogo.
Lihat mukanya Anas tadi, busuk!
Coba tidak dipisah Pak Drajat, sudah kupukul si Anas!
Busuk banget mulutnya. Sial!
Besok, pas latihan, akan kupatahkan kakinya,
biar cacat sekalian!
Hei, tendang kepalanya sekalian!
Aku sumpahi Anas cacat seumur hidup!
Cacat.
Sudah datang dengan susah payah, malah menyusahkan, bikin kalah.
Biar mati saja sekalian si Yogo.
Mbak, astagfirullah.
Jangan begitu, Mbak. Istigfar. Astagfirullah.
Pak!
Menabrak!
Ada yang ketabrak.
- Ketabrak. - Ya Allah.
- Inalillahi. - Astagfirullahaladzim.
Dia meninggal.
Cari daun pisang!
Tenang, Pak.
Pak, tenang.
- Ayo cepat! - Bagaimana ini?
Pak, tenang.
Selamat malam.
Polisi?
Ya, Pak.
Aku mau melaporkan kecelakaan, Pak.
Di daerah Giritirto.
Ayo, main.
Ayo, main.
Wulan?
Wulan?
Wulan?
Kenapa, Go?
Wulan.
Wulan?
Ayo, main.
Ayo, main.
Wulan?
Wulan?
- Wulan? - Wulan!
- Wulan! - Wulan, di mana kau?
- Wulan? - Lan, di mana kau?
Wulan! Lan, kau di mana?
- Lan? - Lan!
Ini tidak lucu!
- Lan? - Lan!
Sebentar.
Begini saja.
Lebih baik kita berpencar biar Wulan cepat ketemu.
Kalian ke sana,
Gembus ke sana,
Yogo ke sana, aku ke sini.
- Ya? - Ya.
Lan?
- Lan! - Wulan!
- Wulan! - Wulan?
Lan?
- Lan! - Wulan!
Lan?
Wulan?
Wulan?
Kenapa pakai pergi segala?
Masa bodoh!
Wulan?
Wulan!
Wulan, kau di mana, Lan?
Wulan!
Wulan?
Wulan?
- Wulan! - Yogo!
Wulan? Wulan!
- Lan, sadar! Pak, tolong! - Ya.
Wulan!
- Kau kenapa, Lan? - Lan, sadar.
- Wulan! - Wulan.
Wulan.
Ayo mulai pencarian.
Jadi, nanti kita langsung menyebar saja, oke?
Hati-hati, Pak. Silakan.
Ya, posisinya diubah saja.
- Mukhlis! - Mbus!
Mbus!
- Mbus! - Di mana kalian semua?
Mbus!
Jangan aneh-aneh.
- Mbus? - Ndro?
Di mana kalian?
Ibu tenang saja.
Aku lihat, Wulan memang lagi syok.
Jadi, untuk malam ini diajak istirahat, tidur dulu.
Kalau memang sudah bangun dan baikan, tolong ditanyakan.
Tapi jangan dipaksa ya, Bu, kalau memang belum bisa.
Sementara begitu dulu, aku mohon pamit, terima kasih kerja samanya.
Aku pamit dulu, Bu.
- Terima kasih ya, Pak. - Ya, sama-sama.
Terima kasih.
Ada-ada saja, Mbak.
Istigfar, Nak.
Bu, kami pamit dulu ya.
- Terima kasih ya, Bu. - Ya.
- Yang sabar ya, Bu. - Ya.
- Sabar ya. - Terima kasih, Mbak.
Ya Allah, Nak.
Sebetulnya ada apa, Lan?
Seharusnya kau cerita sama Ibu.
Ya sudah.
Tidak apa-apa kalau kau belum mau cerita sama Ibu.
Tapi kalau kau perlu apa-apa,
kau langsung bilang ya sama Ibu?
Sekarang kau istirahat.
Ibu ambilkan baju bersih dulu.
Kau bersih-bersih terus istirahat, ya?
- Permisi, Pak. - Ya, Mas?
Ada kecelakaan ya?
Ya, Mas.
Tadi. Magrib tadi, Mas.
Bapak itu keluarga korban?
Yang mana?
Itu, Pak.
Oh, bukan, Mas.
Itu bapak dari salah satu anak yang hilang, Mas.
Anak yang hilang?
- Hilang. - Ya, Mas.
Jadi, korban itu ketabrak mobil bak ini, Mas.
Nah, mobil bak ini baru mengangkut
anak-anak yang habis main bola ke Kampung Giritirto.
Dari delapan anak yang diangkut, dua sudah pulang, Mas.
Nah, yang enam ini masih hilang, Mas, posisinya.
Lenyap. Belum ditemukan.
Benar.
Mereka pergi saat magrib.
- Ya sudah, Pak, terima kasih. - Sama-sama, Mas.
Sudah hampir 20 tahun
anak kami tidak pulang, Mas.
Kejadiannya waktu magrib.
Yudhis bermain di pinggir danau
dan tidak pulang sampai sekarang.
Aku sudah pasrah.
Tapi Ibu…
masih berharap suatu saat nanti
Yudhis akan pulang.
Yu?
Adi, kau di mana?
Aku sudah dekat, Yu.
Sebentar lagi, aku akan menemukan dia.
Terus kalau kau sudah ketemu, kau mau apa, Di?
Ini sudah bertahun-tahun lo, Di.
Sudah bertahun-tahun kau mencari makhluk itu.
Ini sudah di luar kuasa kita, Di.
Apa kau tidak lelah?
Kau tidak ingin hidup tenang, Di?
Aku khawatir, Di, kalau nanti kau…
Justru aku tidak akan pernah tenang sebelum aku ketemu sama dia.
Sebelum aku menghentikan dia.
Sudah, kau tidak usah khawatir.
Doakan aku saja.
Gol!
- Tolong! - Yogo!
Yogo!
Ada apa, Yogo?
Ada apa ini?
Ini Bude.
Yogo, ini Bude.
- Sadar, Go. Kenapa? - Bude.
Go?
Ada apa, Go?
Yogo?
Hei, ada apa?
Kau mengigau.
Sudah, sekarang tidur lagi.
Ampun, Lan.
Ampun.
Kau kenapa, Yogo?
Ya Allah, Yogo!
Kau kenapa malah mengompol?
Itu!
Bocah.
- Mbus! - Mbus!
Di mana mereka?
Jok, jengkel aku!
Aku yakin mereka tidak mungkin hilang begitu saja.
Maksudnya bagaimana, Mas?
Mending kita cari mereka di rental PS atau terminal.
Malah pasti ketemu.
Aku curiga mereka itu mau jadi bajingan.
- Benar itu, Mas. - Nah!
- Jangan-jangan mereka jadi anak punk. - Nah!
- Menumpang truk ayam. - Setuju.
- Jangan sembarangan. - Apa-apaan kau?
Lagi pula, tidak semua orang masa lalunya seperti kau, Mir.
Benar, Mas.
Tidak semua orang masa lalunya seperti kau, Mas.
Berandal.
Ya, Mas, benar.
Lagi pula…
dulu, pas zamannya bapakku menjabat
di dusun sebelah, Jatijajar,
beliau pernah menangani kasus seperti ini.
- Masa, Mas? - Masa?
Benar.
Ini kalau aku lihat-lihat,
ada hubungannya dengan hal mistis.
- Apa benar? - Asal saja.
Benar ini.
Kalau aku ingat ceritanya, baru membayangkan saja sudah merinding.
Berdiri semua bulu kuduknya.
Kalau bukan karena kemampuan bapakku saat itu,
beliau memang memiliki kelebihan
sehingga masalah-masalah seperti ini bisa teratasi.
Masa?
Mas, kalau boleh tahu,
dulu bapaknya menjabat sebagai apa?
Nah, itu.
Bapakku?
Lurah.
Masa Lurah, Man?
Habis berapa buat modal?
Saudaraku menyalonkan diri menjadi lurah, malah jadi gila, Mas.
Jalan kaki di tengah jalan sambil teriak,
"Bajingan!
Bajingan!"
Sekarang jawab yang jujur!
Kalian punya rencana apa?
Nas, sudahlah.
Selesaikan dengan baik-baik.
Wo, tidak usah ikut campur.
Kau bela Yogo karena kau suka sama Wulan, 'kan?
Kemarin kita sudah kalah.
Kalau memang Endro dan yang lainnya tidak niat untuk ikut tanding,
jangan bikin kacau situasi!
Kalian memang sengaja kayak begini biar tim kita didiskualifikasi, 'kan?
Jawab jujur! Di mana Endro sekarang?
Hei, jawab!
Mereka ada kok.
Nanti,
magrib,
mereka bakal jemput kalian kok.
Tenang saja.
Kalau bapakmu lurah,
minimal kau jadi camat,
anggota DPRD,
menteri.
Ini hansip?
Aduh.
Bapak dan anak minatnya beda-beda.
Oh, aku tahu.
Bapakmu pasti dulu…
dukun, 'kan?
- Benar tidak? - Benar, Mas.
Berarti selama ini, selain lurah, bapakmu adalah dukun, ya?
- Sakti sekali bapakmu. - Multitalenta.
Ya, kalau mau dibilang sakti, ya…
bisa juga.
Karena beliau ini
selain menjabat di desa,
juga memiliki kemampuan spiritual yang lebih dibanding orang-orang.
Jadi, kalau ada hal-hal yang berbau mistis, ya…
Asu!
Kenapa, Jok?
Kucing?
Asu atau kucing?
Ini bangkai!
- Man? - Mas.
Bagaimana ini?
Man?
- Mas. - Man?
Katanya kalau hal-hal mistis, kau ahlinya, Man!
Ya Allah…
Setannya mukbang, Pak!
Anak-Anak,
sebelum kita mulai pelajaran hari ini,
alangkah baiknya kita berdoa lebih dahulu.
Kita mohon keselamatan untuk Mukhlis,
Endro, Adit,
Bimo, Gema, dan Tio.
Semoga mereka semua segera ditemukan dalam keadaan baik-baik saja
dan bisa belajar bersama kita lagi.
Berdoa mulai.
Aku yakin Dewo pasti membela Yogo.
Ya sudah, kalau Dewo mau ikut-ikutan, mending kita evaluasi.
Tidak bisa pakai perasaan kayak begitu.
Kau masuk kelas duluan, aku cuci muka dulu.
- Ya sudah. - Ya.
Wulan?
Lan?
Ini kamar mandi cowok.
Kenapa kau masuk sini?
- Lan? - Ayo main.
Ayo main.
Ayo main.
Ayo main.
Ayo main.
Ayo main.
Nas!
Nas, ini aku, Dewo!
Go, kita perlu bicara.
Kasihan banget Lek Pur. Masih ditahan di kantor polisi.
Ya, padahal Lek Pur tidak sengaja menabrak orang itu.
Omong-omong kalian tahu tidak,
di Desa Giritirto itu lagi geger lo.
Geger kenapa?
Itu, di sepanjang desa,
katanya banyak kucing sama hewan ternak mati dibunuh.
Ya, tadi pagi aja katanya di area hutan tempat anak-anak hilang itu
ditemukan bangkai kucing banyak banget.
Aduh, ngeri ini.
Giritirto?
Ini serius?
Memangnya aku terlihat bohong?
Anas tidak mungkin menemuimu kalau tidak ada kejadian itu, Go.
Sebenarnya aku juga mengalami hal yang sama.
Apa? Maksudnya?
Semalam itu, aku tidak tahu persis yang kulihat itu benar atau tidak.
Ya, tapi memang,
sejak Wulan hilang itu, dia jadi beda banget.
Seperti bukan Wulan.
Aku dulu pernah diceritakan oleh kakekku.
Sekitar 20 tahun yang lalu,
di daerah Jatijajar,
pernah ada yang hilang pas waktu magrib.
- Yang benar? - Benar, Go.
Terus katanya, ada yang sempat ditemukan.
Habis membunuh ternak.
Setelah itu, bunuh diri.
Gantung diri.
Jangan-jangan…
Sudahlah, aku tidak percaya dengan hal begitu.
Di sana bangkainya! Ada orang nekat sepertinya!
Ayo kita lihat. Ayo.
Benar-benar tidak tahu aturan.
Sudah kelewatan kalau begini caranya.
Anak-anak itu kelewatan, kurang ajar.
Endro dan kawan-kawannya mabuk atau bagaimana ini, Jok?
Sunat saja belum, masa berani melakukan ini?
Nyatanya ini.
Kau buta?
Tadi di hutan juga banyak bangkai.
Sudahlah, mereka tidak perlu dicari lagi.
Biarkan saja mereka minggat sekalian.
Maksudnya ini mau dibuat apa, Mas?
Tongseng!
- Kurang ajar anak-anak itu. - Mana aku sukanya gulai lagi.
Ini…
sama persis kayak di Jatijajar zaman dulu.
Maksudnya apa, Bu?
Memang di Jatijajar itu ada apa?
Tanya saja sama Pak Hansip, dia lebih tahu.
Bapaknya dulu pernah menjabat di sana.
Hei.
Ada apa?
Tidak apa-apa.
Sana ganti baju.
Hari ini Wulan tidak enak badan, makanya langsung tidur.
Yogo.
Lan?
Yogo sudah bangun belum?
Sudah, Bu.
Go,
tolong antarkan makanan pesanan ibu-ibu PKK Kebondalem, ya.
Nanti Bude pesankan ojek.
Ini.
Berarti teman-temannya yang lain juga belum ketemu, Bu?
- Belum, Pak. - Aduh…
Kita juga tidak tahu mereka ke mana.
Yogo,
Kau nanti pulangnya pas…
magrib, 'kan, ya?
- Sini, Pak. - Yogo berangkat dulu, Bude.
Hati-hati ya, Le.
Nanti kalau bisa, kau langsung pulang, ya?
Karena ini situasinya lagi aneh.
- Pak, titip Yogo, ya. - Ya.
Hati-hati.
Ada apa ini? Bu?
Ayo, cepat.
- Bu? Ada apa? - Bu…
- Ayo, Pak, bisa tidak? - Sudah, kau masuk dulu.
Ayo, Bu.
Ayo.
Ayo, Enduk, sudah magrib.
Ayo. Cepat, Le.
- Ayo, cepat. - Ayo, Bu.
Ayo masuk.
Ayo masuk.
Wah, tidak, Nas.
Aku tidak percaya.
Pasti kau cuma halusinasi saja.
Ton, Yogo juga bilang sama aku
kalau Wulan di rumah juga bersikap aneh.
Oh, kau sekarang membela Yogo?
Bukan begitu, Ton.
Kau tahu sendiri, 'kan, tadi pagi Wulan bilang sendiri sama kita
kalau Endro akan jemput kita pas magrib.
Itu maksudnya apa coba?
Sudahlah, Nas. Aku mau salat dulu.
Nanti kalau Endro mau datang, ya, datang saja.
Aku tidak takut.
Ton, ayo berangkat sekarang?
Ton?
Anton?
Bu, Anton di mana ya?
Kok tidak diangkat?
Angkatlah.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Astaghfirullahaladzim.
Halo?
Kenapa, Nas?
Nas?
Nas?
Nas?
Nas?
Nas?
Ya Allah, Endro!
- Endro? - Endro!
Endro di sana, Nas?
Nas?
Endro di mana, Nas?
Endro di sana, Nas? Nas?
- Endro! - Nas?
Nas?
Tolong!
Tolong!
Dit, Lis, Bimo…
Ampun!
Tolong!
Ampun!
Ndro, ampun!
Tolong!
Wo! Dewo!
Pak, berhenti dulu.
- Tidak usah. - Berhenti dulu, Pak.
- Sebentar saja lo. - Yogo.
Gawat, Go. Si Anas.
- Kenapa Anas? - Tadi aku ditelepon Anas.
Terus dia teriak-teriak dan bilang kalau ada Endro di rumahnya.
Endro?
Pak.
Habis itu, dia teriak kesakitan.
Terus teleponnya diputus.
- Pak, bisa tolong antar kami… - Tidak. Kita pulang.
Nanti malah aku yang dimarahi budemu.
Sudah, sekarang kita pulang, tidak usah ke mana-mana.
- Ayo. - Ayo.
Le!
Yogo, hei!
Nanti aku dimarahi budemu!
- Yogo! - Sini.
Wah!
Wo, kau sudah telepon bapaknya Anas?
- Aku tak punya nomornya. - Kalau ibunya?
Yah, apalagi ibunya, Go.
Itu mungkin Anas cuma bercanda saja.
Masa situasi kayak begini dia malah bercanda?
Ya sudah, lewat sini saja.
Bisa lebih cepat ke rumahnya Anas.
Gembus?
Adit?
Mukhlis?
Ndro?
Mau apa kalian?
Mana Anas?
Ndro!
Lari, Wo!
Ayo, Wo!
Minggir saja!
Ayo!
Wo!
Ada apa ini? Hei, ada apa ini?
- Yogo! - Ayo, Wo!
Ayo, Wo!
Tolong!
Tolong!
Wo, ayo.
Ayo!
Ada apa ini? Tolong!
Dit! Sadar!
Awas, Wo!
Pak, tolong!
- Ada apa ini? - Pak, tolong!
Go, kakiku!
Naik!
Cepat naik! Sekarang juga naik!
Cepat naik!
Om, ayo jalan!
Ndro.
Ampun, Ndro.
Jangan.
Ampun.
Ampun, Ndro.
Tolong.
Lan… Tolong, Lan.
Ampun, Lan.
Lan?
Lan.
Ampun, Lan.
Lan.
Tolong!
Sebelum kejadian itu, apa yang kalian bicarakan di mobil?
Tidak ada, Om.
Palingan bercanda saja.
Menyumpahi timnya Dewo ini.
Soalnya kita sempat mau berantem.
Kenapa, Om?
Ada yang salah?
Sosok yang bertanggung jawab atas semua kejadian ini…
adalah entitas jahat bernama Ummu Sibyan.
- Enti, apa? - Apa itu, Om?
Jin pemangsa jiwa anak-anak.
Dan dia bisa berpindah ke tubuh manusia.
Om tahu ini semua dari mana?
Karena aku pernah mengalami.
Dua puluh tahun yang lalu,
sahabatku pernah menjadi korbannya.
Dia menyumpahi guru kami,
- tepat saat Magrib. - Benar itu, Di.
Kalau perlu, ya, guru sialan itu tidak hanya minggat.
Biar mati sekalian.
Bang.
Dan semenjak kejadian itu…
Teror mengerikan terus berdatangan di kampung kami.
Guru kami tewas dengan cara yang tidak wajar.
Lalu Saman mulai kesurupan.
Dia bahkan membunuh masnya sendiri.
Bunuh hewan ternak.
Dan sampai mengakhiri nyawanya sendiri.
Dan aku…
Aku nyaris jadi sarang barunya.
Untung saja aku selamat.
Berkat bantuan sahabatku dan sedikit keberuntungan.
Om dulu tinggalnya di mana?
Jatijajar.
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Halo, Bude?
Bude, Yogo bisa jelaskan.
Tadi itu ada kejadian seram banget, Yogo mau dibunuh, lalu ini ada…
Apa, Go?
Ya, Mas.
Go?
Kenapa?
Semua teman kami mati, Om.
Dibunuh.
Pak, tolong temukan Yogo.
- Ya, Bu. - Tolong, Pak.
Mohon Ibu tenang. Kami akan melakukan yang terbaik.
Aku takut terjadi apa-apa, Pak.
Aku ingat kau.
Aromamu.
Napasmu.
Adi.
Kau memang bocah istimewa.
Jadi…
Buat apa kau ke sini,
Anak Tampan?
Kalau niatmu ingin menyelamatkan mereka,
sudah terlambat.
Atau kau ingin menyerahkan dirimu?
Bunuh.
Aku akan membunuhmu.
Jangan kau pikir aku tidak tahu apa-apa tentangmu.
Aku…
bukan Adi yang dulu.
Kau pikir dari mana aku tahu kau ada di sini?
Bersiap.
Aku bersumpah akan membunuhmu.
Mari kita lihat.
Karena jika kau tidak berhasil membunuhku,
akan kubunuh mereka semua
dan kumakan jiwanya
di tempat ini.
Kalian pulanglah.
Ini.
Bawa ke rumah Wulan.
Pasang di pintu depan, pintu belakang, dan pintu kamar Wulan.
Pastikan dia tidak akan keluar
dan tidak akan bisa ke mana-mana.
Setelah itu, aku akan datang.
Aku akan berusaha keluarkan dia dari tubuh Wulan.
Go, yang lain sudah pada pulang dari pemakaman.
Kita harus pergi sekarang.
Kamar Wulan.
- Ya sudah, ayo! - Ayo.
Ayo.
Sini, Go.
Yogo? Dewo?
Astagfirullahaladzim.
Astagfirullahaladzim.
Kau bagaimana, Go?
Tidak apa-apa, Bude.
Yogo selamat.
Dewo?
Tidak apa-apa, Bu, alhamdulillah.
Alhamdulillah.
- Itu, 'kan? - Ya, Mas.
Bukan, mobilnya beda itu.
- Itu, Mas. - Bukan.
Kok malah diam saja? Ayo!
- Harus kita apakan, Mas? - Pukul kepalanya.
Jangan sembrono!
Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia,
Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya.
- Milik-Nya yang di langit dan di bumi. - Siapa kau?
…dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu-Nya
melainkan apa yang Dia kehendaki.
Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.
Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya,
dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.
Hei!
- Hei! - Kursi-Nya meliputi langit dan bumi…
- Siapa kau? - Tangkap!
- Kau siapa? - Kalian salah paham!
Kalian salah paham! Itu Ummu!
Itu Ummu!
Salah paham, mulutmu itu salah paham!
- Dukun biadab! - Pak, jangan!
Pak, jangan, dia itu mau…
Pak, tangkap dia!
Dia sudah menghasut semua anak!
Dan dia mau menculikku, Pak!
Ayo!
Dan mereka… Mereka sudah dalam kendalinya, Pak.
- Hei, ayo. - Ayo tangkap.
Ayo, ikut!
Wulan!
Akan kubunuh kau dan semua orang.
Jok, ini dulu!
Kurang ajar! Lepaskan dia!
Ini kampungku!
Lari!
Urus yang ini dulu saja!
Jangan dilepaskan!
Pak!
Pak!
Tersangka pembunuhnya sudah tertangkap.
Sekarang orangnya di rumah Bu Surti.
- Ayo ke sana. - Yang benar?
- Sudah, ayo cepat. - Ayo.
Nak…
Kau di rumah saja. Jangan ke mana-mana.
Di rumah!
Di rumah saja ya, Nak, jangan ke mana-mana.
- Ayo, Bu. - Penasaran sama orangnya.
Ya, gila orang itu, Pak.
Satu tim sepak bola dibunuh semua, Pak.
- Memang gila itu orang! - Ayo ke sana, Pak.
Ayo!
Bagaimana ini, Go? Aku takut. Takut.
Aku juga takut, Wo.
Sebaiknya kita menyerahkan diri saja.
Kalau kita menyerahkan diri,
kita pasti akan sama seperti Endro dan yang lain.
Bapak dan Ibu, mohon tenang.
Saat ini,
kami sedang menunggu pihak kepolisian datang kemari.
Untuk mengurus permasalahan di kampung ini.
Tolong tenang.
Sudah!
Mending sekarang kau mengaku saja.
Kau merasuki mereka pakai ilmu apa?
Kalau kau tidak mengaku,
kupukul mulutmu pakai bata, paham?
Sakit lo itu.
Kau lihat sendiri.
Bagaimana emosi dua temanku ini.
Di luar sana,
masih ada 20 orang yang siap menghakimi.
Katakanlah satu orang memukul dua kali.
Aku empat kali lo, Man.
Dua puluh kali dua ditambah ini berapa?
Berapa? Empat puluh empat, goblok!
Paham tidak kau?
Malah plonga-plongo.
Narkoba ya kau?
Kalau bukan karena ada aku,
emosi warga ini sudah tidak terbendung.
Hancur kau ini, meninggal.
Hancur mukamu. Mengerti tidak?
Jadi mayat kau.
Sekarang aku mau tanya.
Kau ini siapa?
Orang mana?
Jawab!
Kau ini asalnya dari mana?
Jatijajar.
Jatijajar?
Kau ini apanya Pak Amin Hansip?
Lo, kau kenal bapakku?
Bapakmu dulu yang menolongku, Mas.
Aku korban.
Aku Adi, Mas.
Mas, aku dulu korban.
Ingat, 'kan? Di Jatijajar pernah ada kejadian besar.
Aku cuma mau bantu Yogo, Mas.
Yogo dan teman-temannya dalam bahaya. Mereka bakal jadi korban kayak aku dulu.
Mas?
Setannya ada di dalam tubuh Wulan, Mas!
Jangan percaya, Man!
Ini tipu daya. Tipu daya, 'kan, kau?
- Mas… - Ummu!
Mas?
Ayo main
Ayo main
Semuanya
Ayo main di luar
Ayo main
Ayo main
Semuanya
Ayo main di luar
Ayo main
Ayo main
Semuanya
Ayo main di luar
Nak, mau ke mana kau?
Nak, sudah magrib. Hei, mau ke mana?
Ayo main
Ayo main
Semuanya
Ayo main di luar
Ayo main
Ayo main
Semuanya
Ayo main di luar
Ayo main
Ayo main
Semuanya
Ayo main di luar
- Wulan. - Ayo main
- Bangsat. Mas! - Ayo main
Mas, ini suaranya Wulan!
Percaya sama aku, Mas!
Mas, tolong. Tolong lepaskan aku, Mas!
Dia mau bohongi anak-anak. Mau memanggil semua anak di kampung ini!
Kalau Mas tidak percaya sama aku, Mas tidak lepaskan aku,
semua anak di kampung ini bakal mati, Mas!
Mas! Mas, lepaskan!
Tolong, Mas!
Man, ayo dijawab. Bagaimana ini?
Ayo direspons.
Itu Ummu, Mas!
Ummu.
- Lo? Man… - Mas?
Jok…
- Tolong! - Ayo main
Tolong!
Tolong! Hei! Tolong!
- Tolong, anakku hilang! - Tolong!
Tolong, Pak, anakku hilang!
Tolong, Pak, anakku hilang!
Anakku diculik!
Tolong, Pak, anakku kesurupan!
- Bu, tolong anakku kesurupan! - Wulan?
Selamatkan anakku, Bu!
Gawat, Mas, gawat!
Para warga sudah pergi.
Banyak anak-anak hilang.
Mampus.
Bagaimana ini, Man?
Anu, mending kita tunggu saja dulu polisi.
Kita tidak bisa menunggu polisi!
Ini bahaya. Kita harus segera.
Mereka semua dalam bahaya!
Mati aku! Man!
Tolong, nanti aku mengompol.
Aduh…
Jok.
Man.
Bajingan. Apa itu, Man?
Tutup pintunya!
Tutup!
Aku tidak mau mati!
Aku belum menikah, Mas!
Jok!
Mas, kita harus segera!
Kita harus selamatkan mereka. Kalau tidak, mereka semua bisa mati.
Kita harus bagi tugas! Mas!
Mas, atau mereka semua akan mati!
Ini susah!
Kita semua akan menyesal Mas. Lepas, Mas!
Cepat!
- Apa ini? - Tolong, Man!
Sialan kau, Man!
Mengapa malah diam saja? Cepat bantu, Man!
Jok!
- Astagfirullah. - Mas!
Kita harus bagi tugas, Mas.
Sekarang!
Sialan! Bisa diam tidak kau? Kau ini kenapa?
Nak, sadar, jangan seperti ini!
Ya Allah!
Istigfar, Bim!
Ya Allah!
Cukup! Jangan begitu!
Nanti kulaporkan kepada ibumu, Bim!
Bajingan. Setan laknat!
Asu! Berengsek!
Bajingan! Mati kau!
Sadar, Nak, sadar!
Sadar, Nak!
Sadar!
Sial.
Akan kubunuh mereka semua.
Dan kumakan jiwanya
di tempat ini.
- Kuburan. - Sialan!
Sudah!
- Sudah! Ya Allah! Sudah! - Kuburan.
Ayo main
Ayo main
Semuanya
Ayo main di luar
Ayo main
Ayo main
Semuanya
Ayo main di luar
Jangan membacok orang! Kau itu belum menikah!
Jangan bunuh aku!
Semuanya, tenang!
Cukup, ya!
Aku tidak mau!
Bim, cukup! Kupukul kepalamu lo!
Aku tidak mau lo!
Bim, istigfar!
Ya Allah.
Tolong!
Mati kau!
Man!
Man?
- Jok! - Amir!
Tahan dulu!
Tolong aku! Aku tidak berani!
Man, tahan ya. Aku yakin kau berani, Man.
Bajingan!
Kau berani, Man, tahan!
Kalau aku lepas pintu ini, kalian semua mati.
Tak akan aku pinjamkan uang lagi!
Hei, itu temanku!
Hei! Ayo, Jok. Berdiri, Jok!
Kita pukuli saja, Jok. Hantam saja Jok!
Jok, yakin!
Ini kita pukuli saja, Jok. Hantam saja, Jok!
Kok aku?
- Maaf, Mas, salah. Maksudku ini lo, Mas! - Salahku apa?
Ayo main
Ayo main
Semuanya
Ayo main di luar
Ayo main
Ayo main
Stop!
Berhenti! Stop!
Tolong hentikan.
Tolong berhenti.
Stop…
Tolong.
Cukup.
Adi.
Sesuai dengan janjiku,
akan kubunuh mereka semua.
Aku mungkin tidak bisa menghentikanmu.
Tapi kau bisa mengambil ragaku.
Lepaskan Wulan.
Dia tidak bersalah.
Ambil ragaku.
Perlakukan sesukamu.
Jadi, kau akan menyerahkan jiwamu?
Kau tidak tahu seberapa hancurnya aku selama ini karenamu.
Aku menderita.
Sekarang aku sudah tidak peduli.
Terserah.
Ambillah jiwaku.
Lakukan apa pun yang kau mau.
Tarik!
Aduh, asu.
Kenapa aku yang kau pukul, Jok?
Mas Amir, bangun! Mas!
Awas!
Ampun!
Sudah cukup! Cukup!
Jok, tolong!
Sadar, Ndro.
Aku Pak Aman, hansip, Ndro.
Hansip Giritirto, Ndro.
Sadarlah, Ndro.
Allahu…
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.
Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Marilah salat.
Marilah salat.
Marilah menuju kejayaan.
Marilah menuju kejayaan.
Allahu Akbar.
Tiada Tuhan selain Allah.
Ini…
Ini harus diakhiri.
Ayu,
kalau kau membaca ini,
berarti aku sudah tidak ada lagi di dunia.
Namun, dengan tidak adanya aku,
makhluk terkutuk itu juga tidak akan lagi mengganggu siapa pun.
Kini aku sudah bebas dari rasa takut yang menghantuiku selama ini.
Aku berharap…
kau mengerti bahwa ini satu-satunya jalan bagiku.
Terima kasih, Ayu,
sudah menjadi teman yang baik.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.