All language subtitles for S.and.X.S01E04.JAPANESE.NF.WEB.H264-9Minus5in.id

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Aku…

tak bisa berhubungan seksual.

Apa?

Jadi, aku ingin kau tahu bahwa malam itu masalahnya adalah aku.

Aku menyukaimu, Nn. Ichinose.

Maukah kau

menjadi pacarku?

Begini…

Kukira kau tak menyukaiku.

Jadi, syukurlah aku salah.

Ya.

Tapi…

Begini…

Saat kau bilang tak bisa melakukannya…

Kenapa?

Itu…

Begini…

Jika kau tak memberitahuku,

aku tak tahu harus merespons bagaimana.

Kau benar.

Hanya saja…

Kau Ichinose, penyiar TV, 'kan?

Ya.

Boleh kita bersalaman?

Aku penggemarmu.

- Terima kasih. - Permisi.

Bolehkah aku…

memahami ini dulu?

Maaf.

Maaf.

TETAP WASPADA!

HENTIKAN VOYEURISME

Kalau "Top Sepuluh Papan Foto dengan Lubang Wajah di Jepang"?

Bagus kalau kau bisa keliling Jepang untuk itu, Miku.

Ramen saja. "Yang Terbaru dari Ramen Lokal".

Baik.

Tapi kita baru meliput "Tempat Ramen Baru Populer" minggu lalu.

Bir saja. "Yang Terbaru dari Craft Beer Lokal".

- Bir? - Itu saja.

- Baiklah. - Bir.

Permisi.

Bagaimana jika kita meliput tentang voyeurisme?

Apa?

Aku hanya memikirkan ramen atau bir.

Ya, tapi…

Kukira poster di stasiun yang memperingatkan korban

sudah jarang terlihat.

Tapi aku melihatnya lagi hari ini.

Bahkan di kereta atau eskalator, wanita kerap cemas,

"Apa ada yang baru saja memotretku?"

Jadi…

Kau bilang "wanita", tapi bukankah itu karena pekerjaanmu?

Apa pendapat kalian, Nona-Nona? Begitukah?

- Sulit dipastikan. - Tidak…

Ya…

Kurasa itu ide bagus.

Kita pernah meliputnya

saat UU anti-voyeurisme foto disahkan.

Kita bisa melihat apa yang berubah sejak UU itu diberlakukan,

dan apakah itu benar-benar memiliki efek jera.

Baiklah.

Mitarai, bisa mulai wawancara dan proposalnya sekarang?

Baik.

Terima kasih.

Untuk saat ini.

Jadi, kita lanjutkan ide bir juga.

Baik.

Terima kasih

sudah mendukungku tadi.

Aku cuma merasa topik itu layak diliput.

Aku juga

minta maaf karena mendadak membatalkan pertemuan kita.

Tak apa.

Kau makan siang bersamaku sekarang.

Bebas tambah. Silakan ambil sendiri.

- Ini. - Terima kasih.

Aku ingin bicara serius denganmu.

Begini…

Saat aku menjadi mentormu,

aku banyak mendengar tentang apa yang ingin kau lakukan.

Tapi sekarang…

Ichinose,

kau ingin berhenti?

Apa?

Dari acara itu.

Atau menjadi penyiar.

Jadi, kau menyadarinya?

Makanya aku khawatir.

Ya.

Tapi setelah rapat hari ini, kau akan baik-baik saja.

Kau sudah kembali seperti dulu.

Ya.

Aku sudah berkembang, menguatkan tekad, dan akan terus maju.

Syukurlah.

Maaf menunggu. Pesanan babi xiangla?

Pesananku.

Silakan.

Selamat makan.

Tapi aku senang

kau sangat peduli padaku.

Tentu saja.

Bagaimanapun, kau adalah orang yang…

Kau penting bagiku.

Hari ini, sampai pasirnya habis,

ucapkan kata apa pun yang kau pikirkan, tanpa peduli urutan atau maknanya.

- "Kata"? - Ya.

Dengan mengungkapkan potongan ingatanmu dalam kata-kata,

kau bisa mengurai trauma

dan akhirnya menggambarkan apa yang terjadi dengan kata-katamu.

Setelah bisa melakukannya, kau mungkin bisa tetap tenang

meski biasanya tubuhmu langsung bereaksi.

Bau.

Malam.

Suara.

Ranjang.

Berhenti.

Tawa.

Ujung jari.

Bir kaleng.

Rokok.

Mandi.

Festival.

Lampion.

Suara ayahku.

Rumah asing.

Jendela melengkung.

Kulit.

Kaca.

Palu.

Seseorang berkata, "Berhenti."

Pisau bedah.

Darah.

KANTOR HUKUM HARMONIA

Aku Kanie, pengacaranya.

- Ditangkap karena memotret rok diam-diam? - Ya.

Korban setuju untuk berdamai, dan tuntutan dibatalkan.

Sebagai bagian dari kesepakatan,

dia harus menjalani perawatan di klinik khusus

untuk mencegah pelanggaran kedua.

Aku menyesal.

Aku takkan mengulanginya.

Kau menggunakan ponselmu?

Ya.

Aku pakai ini.

Istriku menghancurkan kameranya

agar aku tak mengulanginya.

Demi putra mereka yang tak tahu apa-apa,

dia memutuskan tak bercerai.

Aku ingin sembuh demi istri dan anakku.

Dokter,

tolong bantu aku!

Apa?

Aku sama sekali tak mengerti!

- Apa? - Apa?

Kenapa dia melakukannya? Itu tak masuk akal.

Dia punya istri dan anak pula.

Pantas saja dia sangat ingin berhenti.

Kukira orang yang memotret dari bawah rok

lebih seperti cowok mesum yang tak bisa dapat pacar.

Sekitar separuh pelakunya lulusan kuliah,

sekitar separuhnya pekerja kantoran,

dan sekitar 40% sudah menikah.

Kau tahu artinya?

Mereka seperti orang biasa.

Benar. Mereka pria Jepang pada umumnya.

Sekitar 40% tak menggunakan hasilnya untuk diri sendiri.

Untuk diri sendiri?

Maksudku, masturbasi.

Bahkan ada yang tak pernah melihatnya. Langsung dihapus.

Aku sungguh tak mengerti.

Sama dengan penggerayangan.

Sekitar separuhnya bahkan tak ereksi saat melakukannya.

Dengan kata lain, mereka melakukan itu

bukan demi kepuasan seksual mereka.

Apa?

Lalu apa gunanya melakukan itu?

Aku sama sekali tak mengerti!

Tunggu, kau meniruku?

Apa rencanamu pada hari liburmu besok, Saikawa?

Besok?

Tak ada.

Tidak! Kau mau aku memakai rok dan difoto dari bawah?

Bukan.

Itu penyalahgunaan wewenang.

Tentu saja.

- Lalu apa? - Tentu saja.

Apa-apaan ini?

Aku meminta Nona Natsume untuk memotret keseharianmu.

Astaga. Kenapa kalian melakukan itu?

- Maaf. - Maaf.

Apa?

Astaga. Aku tak tahu!

Bagaimana rasanya melakukan itu?

Rasanya sangat menegangkan.

Aku terus khawatir apa aku bisa dapat foto bagus

dan apa aku akan ketahuan.

Saat aku berhasil melakukannya, aku lega sekali.

Orang-orang kecanduan pada siklus ketegangan dan kelegaan,

bukan hasrat seksual.

Oh, begitu.

Kurasa aku mengerti sekarang.

Rasanya seperti main petak umpet waktu kecil,

melihat yang jaga mondar-mandir mencari, sementara kita sembunyi.

Sensasi itu.

Itu dorongan untuk merasa berkuasa.

Rasa superioritas saat mengawasi orang lain dari jauh.

Jadi, saat aku mendapat foto ini…

Wow!

Hei! Hentikan!

Aku cukup baik tak mencetaknya.

Serius. Hapus sekarang.

Maaf.

Ini terasa mengerikan.

Jika seseorang mengambil fotoku, aku takkan mau keluar.

Begitulah voyeurisme membuat kita merasa tak aman

tiap hari.

Sejujurnya,

aku terlalu meremehkannya.

Jika ini terjadi kepada pacarku,

aku takkan memaafkan mereka.

Tempo hari, Pak Ikeuchi bilang

dia ingin menjalani perawatan demi keluarganya.

Dan kau setuju dengannya.

Namun, alasan kita memberikan perawatan

juga untuk mencegah bertambahnya korban.

Tiap mencoba naik kereta,

aku merasa tak bisa bernapas.

Jadi, aku pindah ke sekolah yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Aku khawatir fotoku diunggah ke internet,

dan aku menjadi takut melihat media sosial atau internet.

Aku bahkan mulai benci melihat ponselku.

Apa itu memengaruhi keseharianmu?

Aku tak bisa

keluar rumah lagi…

Setelah mewawancarai mereka, aku merasa ini layak ditayangkan.

Dia bilang kesaksian korban terlalu suram.

Produser Kujo memang seperti itu.

Tapi

jika korban tampak murung, itu salah pelaku.

Tentu saja mereka tak bisa ceria.

Jadi intinya,

maaf.

Kami harus menunda peranmu sebagai komentator.

Tak apa-apa.

Beri tahu aku jika liputannya disetujui.

Itu pasti disetujui. Bagaimanapun caranya.

Kenapa kau sangat bersemangat?

Sebenarnya,

aku juga korban,

tapi bukan hanya itu alasannya.

Kirim! Ayo!

Kau gila!

- Kirim. - Bodoh!

Dapat!

Wah.

Maaf.

Maafkan aku.

Oh.

Dulu…

Dia tak pernah menanyakan apa pun.

Dia hanya diam di sampingku.

Kenapa aku tak bisa…

menunggu sampai dia siap

untuk membicarakannya?

Kau ingat kali pertamamu memotret orang diam-diam?

Ya.

Itu di tahun pertama kuliahku.

Aku kebetulan melihat bawah rok seseorang di tangga stasiun.

Itu membuatku terpesona.

Rasanya semua stres karena belajar menghilang.

Aku ingin melihatnya lagi.

Sayang sekali jika tak ada kesempatan lagi.

Jadi, dengan ponsel lipatku…

Setelah itu,

aku mulai melakukannya tiap stres karena belajar.

Kali pertamamu ketahuan adalah saat tahun terakhirmu?

Ya.

Saat itu, di eskalator.

Petugas stasiun menangkapku.

Karena aku sedang mencari pekerjaan saat itu,

pengacaraku bernegosiasi, meminta mereka tak merusak masa depanku.

Aku bayar uang damai, lalu kasusnya dihentikan.

Setelah itu, aku berhenti sebentar.

Tapi karena stres kerja

dan ponsel pintar memudahkan mengambil foto jelas…

Sudah berapa kali kau melakukannya sejauh ini?

Aku tak pernah menghitungnya.

Mungkin dua atau tiga kali seminggu.

Meski sempat berhenti, sudah sekitar 15 tahun.

Dua ribu seratus enam puluh.

Setelah melakukannya selama bertahun-tahun,

ini kali kedua kau ditangkap.

Ya.

Kali ini, kukira dia ingin difoto.

Dia mendekat dan berdiri tepat di depanku.

Sepertinya dia sadar aku memotretnya,

tapi dia tak keberatan.

Kukira dia tipe yang suka difoto.

Dalam kasusmu,

sepertinya stasiun adalah pemicunya.

Bisakah kau menyesuaikan rutinitasmu untuk menghindari stasiun dulu?

Mungkin menyetir ke kantor.

Ya. Aku bisa melakukannya.

Baiklah. Mari lakukan itu.

Ini pekerjaan rumahmu sampai sesi berikutnya.

Aku ingin kau mencatat perasaanmu tiap hari.

Jika harimu berjalan tenang, tempelkan stiker biru.

Jika kau tak bisa menjalankan rutinitas atau merasa kesal,

tempel stiker kuning.

Jika kau merasa ingin melakukannya lagi, tempel stiker merah.

Jujurlah saat mencatatnya.

Baik.

Dia kira wanita itu ingin difoto.

Itu pola pikir yang keliru.

Ya.

Sama dengan penggerayangan.

Mereka mengira korban menginginkannya karena terdiam ketakutan dan tak melawan.

Bagaimana dia bisa berpikir begitu?

Dia tahu dia harus berhenti, tapi tak bisa.

Orang tak tahan dengan konflik batin itu, jadi mencari pembenaran.

Di lubuk hatinya, mungkin dia masih meyakini

bahwa wanita harus menuruti hasrat seksual pria.

Dia memandang wanita sebagai objek.

Dia bilang dia hanya memotret dari bawah rok mereka.

Dia memilih target dari belakang dan tak pernah memotret wajah.

Dia seperti tak lagi melihat mereka sebagai manusia.

Bagaimana ini?

Pertama, kita harus memperbaiki cara berpikirnya.

Jika tidak, perawatan tak bisa dimulai.

ICHINOSE YUMI

Hei. Bukankah sebaiknya kau angkat?

Tak apa. Klien kita berikutnya…

Omong-omong, ini enak.

Benar, 'kan?

Kenapa kau tahu banyak soal makanan manis?

Mengira pria tua tak paham makanan manis juga pola pikir yang keliru.

Itu prasangka, bukan?

Benar.

Kita jadi mengerti hal-hal itu jika sering bergaul dengan mahasiswa.

Tempat mana yang paling enak…

Aku mau menelepon balik.

Maaf soal hari itu.

Aku tak seharusnya memaksamu bicara

soal sesuatu yang tak membuatmu nyaman.

Kau ingat?

Saat SMP,

aku diam-diam difoto.

Waktu itu,

kau tak menanyakan apa pun.

Kau hanya diam di sampingku.

Kau bilang, "Bicaralah jika kau siap.

Terjadi sesuatu atau tidak,

aku akan mendengarkan kapan pun kau ingin bicara."

Kata-kata itu menyelamatkanku.

Jadi, aku juga akan menunggu.

Aku akan menunggu sampai kau siap membicarakannya.

Terima kasih.

Sebenarnya,

aku sedang merawat klien yang kecanduan voyeurisme.

Aku juga…

memikirkan apa yang terjadi saat itu.

Aku tak ingin orang lain mengalami

apa yang kau alami.

Tapi…

dia tak sadar ada korban.

Dia merasa tak menyakiti siapa pun.

Aku bingung harus bagaimana.

Shimotori.

Bagaimana jika

dia mendengar langsung cerita para korban?

LAPORAN INVESTIGASI PERILAKU STAF

31 Juli, Stasiun Arakawa.

Kau ditangkap karena memotret dari bawah rok?

Apa?

Ada orang dari perusahaan yang kebetulan menyaksikannya.

Itu ramai dibicarakan di kantor.

Ya.

Kau dirumahkan sementara kami menentukan sanksinya.

Terima kasih sudah meneleponku.

Aku

tak peduli lagi.

Entah kenapa aku harus terus menjalani perawatan.

Saat aku berhenti melakukannya,

aku merasa kehilangan alasan untuk hidup.

Begitulah kecanduan.

Tapi

kau bisa mencari bantuan sendiri.

Makanya aku berterima kasih karena kau meneleponku.

Kau akan baik-baik saja.

Aku tahu sebenarnya kau ingin berhenti.

Resepmu sudah siap.

Ini mungkin sangat sulit bagimu.

Apa kau siap?

Ya.

Tolong bantu aku.

Jika kau ingin berhenti, katakan saja kapan pun.

Baik.

Terima kasih telah setuju untuk diwawancarai hari ini.

Sama-sama.

Mari kita mulai.

Begitu rupanya.

Keluargaku sudah tahu apa yang terjadi di kantor.

Kali ini, aku bertekad untuk berhenti.

Itu sebabnya aku…

Kau menjalani perawatan?

Ya. Benar.

Terima kasih.

Terakhir, maukah kau menonton rekaman yang kami sebutkan sebelumnya?

Ya.

Silakan.

Baiklah.

Mereka mendengar tentang wawancara ini

dan ingin berbagi pengalaman mereka.

Kami merekam mereka untuk hari ini.

Sekadar memastikan, bolehkah kami menampilkan wajahmu?

Ya.

Terima kasih.

Bolehkah kami menampilkan wajahmu?

Ya.

Terima kasih.

Jawab saja yang nyaman kau ceritakan.

Bisa ceritakan apa yang terjadi?

Seseorang diam-diam memotret dari bawah rokku di kereta.

Bahkan sekarang,

aku terlalu takut naik kereta.

Tempat ramai,

atau bahkan hanya melihat kereta,

membuatku ingat saat itu.

Dan aku terdiam.

Tahun lalu,

aku pergi ke pemandian air panas bersama keluargaku.

Aku bertatapan dengan seorang pria

yang merekamku.

Aku tak percaya di usia setua ini,

aku masih harus mengalami ini hanya karena aku wanita.

Aku juga merasa kasihan pada putriku.

Seseorang diam-diam merekamku di ruang ganti dan toilet tempat kerjaku.

Video itu diunggah ke media sosial.

Tiap kali ada pria mendekat, aku takut dia akan merekamku lagi

atau dia sudah melihat video itu.

Aku bahkan tak bisa keluar rumah.

Dan sekarang…

Aku menjalani pengobatan

di rumah sakit.

Apa ada yang ingin kau katakan kepada para pelaku voyeurisme

yang sedang menonton ini?

Aku ingin bertanya, "Kenapa aku?"

Apa aku melakukan kesalahan?

Apa aku salah

hanya karena aku wanita?

Sebenarnya, dulu…

Dulu,

aku juga korban voyeurisme.

Itu gila!

Di SMP…

- Kirim. - Bodoh!

…beberapa siswa di kelasku

memotretku dan menyebarkannya.

Itu saja sudah membuatku terguncang, tapi…

Remaja lelaki itu bodoh.

Tapi sebentar lagi ujian masuk.

Bisa maafkan saja?

Ayolah.

Lihat sisi baiknya, Ichinose!

Berarti kau lebih cantik daripada gadis lain.

Kata-kata wali kelasku sangat menyakitkan.

Bukankah rokmu lebih pendek dari aturan berpakaian?

Kau seperti meminta dipotret.

Hari itu…

Bapak nasihati mereka.

…harga diri dan suaraku

dirampas bersamaan.

Sama seperti wanita di video ini.

Semua korban

memiliki wajah dan suara.

Mereka manusia yang memiliki kehendak dan identitas.

Tolong jangan pernah

lupakan itu.

Maafkan aku.

Maafkan aku.

Menurutmu, dia bisa berhenti?

Tak ada obat tuntas untuk kecanduan.

Apa?

Kita hanya bisa menghadapi dampak perbuatan kita

dan terus berusaha agar tak mengulanginya seumur hidup kita.

Begitu rupanya.

Jadi, kita tak pernah bisa bilang sudah berhenti.

Kita hanya terus menjalani hari tanpa mengulanginya.

Itu sebabnya kami di sini untuk membantu mereka melakukannya.

Aku sadar sesuatu hari ini.

Suaraku dirampas dariku dua kali.

Kali pertama saat SMP.

Kali kedua saat aku menjadi penyiar

dan dituntut berperan sebagai penyiar cuaca.

Tapi aku senang bisa bicara hari ini

dengan suara dan kata-kataku sendiri.

Aku jadi ingat lagi,

inilah sosok penyiar yang selama ini kuimpikan.

Ya.

Baiklah.

Aku akan memastikan liputan ini disetujui!

Soal hari itu…

Maaf.

Aku tahu aku bilang akan menunggu sampai kau siap membicarakannya.

Boleh aku tanya satu hal?

Tentu.

Saat kau bilang tak bisa melakukannya…

maksudmu "belum bisa"?

Ya.

Benar.

Begitu rupanya.

Syukurlah.

Aku

tetap menyukaimu.

Jadi,

jawabanku ya.

Terima kasih.

Kalau begitu…

Sepertinya mereka bergembira.

Sial. Jangan lihat ke sini!

Terjemahan subtitle oleh Sarah

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.