All language subtitles for 1974.La.Posesion.De.Altair.Indonesian-WWW.MY-SUBS.CO

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Awalnya kudengar teriakan, lalu ada ledakan besar.

Apa pendapatmu?

Kukira kabel listriknya korsleting,

lalu rumahnya terbakar beserta para penghuninya.

Aku berlari kemari untuk melihat apa yang terjadi,

tapi kondisi rumahnya baik-baik saja.

Dokter Canseco.

Dokter?

Apa benar ada empat orang hilang?

Apa mereka pasienmu?

Apa isi kotak ini?

Kau pikir sedang bicara dengan siapa?

- Apa kau bekerja di sini? - Ya.

Apa yang kau lihat?

Aku sedang tidur dan ada suara yang membuatku terbangun.

Suara apa?

Suaranya mirip kereta, tapi tidak ada kereta di sini.

Lalu kudengar teriakan, aku bangun dan lihat api di dekat rumah.

Bisakah kau ceritakan padaku tentang para penghuninya?

Mereka baru pindah, pengantin baru, orang yang baik.

Kurasa ada yang menguntit mereka. Mereka tampak ketakutan.

Mereka selalu membawa kamera

seakan-akan sedang menyelidiki sesuatu.

1974 Kepemilikan Altair

Selamat pagi.

- Selamat pagi? - Selamat pagi.

Apa kau mau sereal?

Ya, aku mau.

Lalu sendoknya?

Selamat ulang tahun, Nyonya.

- Kau jahat sekali. - Kemarilah.

Terima kasih.

Bagaimana?

Apa kau suka?

- Kenapa kau menyisir rambut? - Lihat sana.

Ada apa?

Ada apa?

Apanya yang lucu?

- Aku punya nama untuknya. - Coba sebutkan.

Carlo.

Parahnya, aku suka nama itu.

Tentu saja kau akan suka.

Itu sudah tak bisa ditawar. Dia sudah mengenal namanya.

Baiklah. Carlo.

Mau lihat apa yang diberikan murid-muridku kepadaku?

- Bisa pegangkan ini? - Bisa.

Bagaimana menurutmu?

Cantik.

Ini cantik.

Aku harus tunjukkan surat yang mereka tulis untukku.

Coba kulihat.

Filmnya habis...

Baik, mari kita dengar.

- Siap? - Siap.

Mereka masih usia delapan tahun, mengerti?

Selain itu, aku ingin kau lihat nama penulisnya.

Baiklah.

"Bu Altair,

matahari untuk bulanku, matahari cintaku.

Kau jantung yang berdegup. Kau malaikat bagiku.

Aku bisa berjuang seperti dirimu

dan aku tahu kau akan berjuang demi diriku.

Selamat ulang tahun dari Carlo."

- Manuel! - Apa?

Aku sedang menguji audio.

Altair?

Apa kau merekamnya?

Cantiknya.

Apa yang terjadi?

Pukul berapa kau sampai?

Teman-teman Manuel adalah teman-temanku juga.

Pukul 21.00, tapi kau bisa datang lebih awal.

Ayolah, sebentar saja.

Tere, ini hari Jumat.

Hanya satu hari saja. Kau akan baik-baik saja.

Aku akan menunggu.

Tidak. Sampai ketemu nanti.

Sampai jumpa.

Bilang padanya untuk berhenti merekamku, Carlo.

Seandainya kau bisa lihat apa yang kulihat.

Matikan kameramu, Manuel.

- Manuel, aku serius. - Baiklah.

Aku sedang menguji audionya,

tapi akan kumatikan dengan satu syarat.

Pakai seragam pramugarimu.

Ayolah.

Apa yang kau sembunyikan?

Apa?

Demi Tuhan.

Halo?

Halo?

Halo!

Siapa?

Coba kudengarkan.

Halo?

Bisa bantu aku bersihkan teras?

Apa pun keinginan yang sedang ulang tahun.

Apa yang kau butuhkan?

Sapu daun-daun yang jatuh, bersihkan garasi,

nyalakan semua lampu, dan keluarkan sampah.

Buat rumah kelihatan rapi.

Siap.

Baiklah, persis saat latihan! 3, 2, 1!

Pelan-pelan. Ya, pelan-pelan.

Ganja. Keren!

Tidak boleh!

Mauricio Garces dan kekasihnya.

Pasangan nomor satu.

Pasangan nomor dua.

Wanita yang berulang tahun dan Manuel.

Bagus sekali.

Halo. Aku Callahan.

Apa kau tahu bunyi steik saat dimasak?

Lucu, kan?

Callahan, berhenti merekam dan kemarilah!

Tapi, filmnya harus...

Harus ada seseorang yang merekam, Manuel.

Dia tak mau ikut. Dia terlalu pemalu.

Callahan, kemari. Kita sedang bicarakan Bergman.

Tidak mau.

Jadi, apa Tere akan datang?

Apa saudarimu akan datang?

- Apa? - Seharusnya datang.

- Dia datang dengan Bergman. - Apa dia tahu aku ikut?

Kenapa kalian tertawa?

Coba kutelepon dia.

Astaga, kawanku.

Kapten dan awak pesawat ingin mengucapkan

selamat datang di penerbangan ini.

Perkiraan waktu sampai ke tujuan adalah sekitar satu jam.

Teruskan.

Demi keselamatan,

penggunaan kamera dilarang selama penerbangan.

Tidak.

Tidak.

Dan kamera harus dimatikan

hingga kita sampai di tujuan.

Kita akan mengalami guncangan. Anda telah diperingatkan.

Oleh karena itu, kami mohon,

jangan mengganggu kapten

atau diriku.

Aku tak sedang bermimpi.

Aku sudah bilang itu nyata.

Dia berdiri di depan tempat tidur.

Apa dia bicara kepadamu?

Ya.

Apa katanya?

Katanya dia malaikat.

Kau akan tertawa saat melihatnya.

Benar, kan? Kau belum lihat tapi sudah tertawa.

Aku tak sedang tertawa, Manuel.

Aku tahu saat aku bermimpi dan saat tak bermimpi.

Aku akan pulih sebentar lagi. Jangan khawatir.

Tapi bagaimana dengan tadi malam?

Kau ingat saat kita bermain trampolin Rusia?

- Apa kau lupa? - Ya.

Bagaimana dengan Tukang Jagal China?

Sudah lebih baik?

Apa yang jatuh?

- Apa kau temukan sesuatu? - Tidak?

Tidak. Hanya ini.

Kau rajin sekali.

Bagaimana menurutmu?

Aku suka.

Aku tak sabar ingin lihat.

Carlo.

Hentikan.

- Carlo! - Carlo!

Mau makan malam apa?

Buah pepaya.

Kita tak punya pepaya.

Kau tak suka pepaya, Dasar Pembohong.

Belilah. Akan kusiapkan jika kau mau.

- Aku lihat satu dari bawah sini. - Dasar mesum!

Hentikan!

Omong-omong, apa kau masih bermimpi aneh?

Tidak lagi.

Bagaimana proyekmu?

Berjalan dengan baik.

Kapan akan selesai?

Sekitar empat bulan lagi.

Kenapa begitu?

Aku sudah pernah bilang proyek ini akan lebih lama.

Bukan. Maksudku boneka itu, boneka Pinokio.

Itu sudah lama ada di atas meja.

- Apa itu milikmu? - Bukan.

Kalau begitu, entahlah.

Apa maksudmu? Bukan aku yang menaruhnya di meja.

Bukan aku juga.

Jadi?

- Jadi apa? - Jadi dari mana asalnya, Manuel?

Aku tak tahu.

Tunggu. Hati-hati.

Condongkan ke depan. Pegang erat-erat.

Di atas hidung.

Tekan di situ.

Aku bawakan sesuatu.

Panggilkan Carlo.

- Aku bilang, panggilkan Carlo. - Untuk apa?

Panggil saja dulu.

Carlo!

Lihat wajahnya yang lucu!

- Kenapa wajahnya kau lukis? - Bukan. Bukan aku.

Carlo?

Mau ke mana?

Kuharap bukan seperti dugaanku.

- Carlo! Sialan! - Ada apa?

- Kemari kau! - Manuel!

Jangan rusak hasil kerjaku. Kau mengerti?

- Jangan rusak hasil kerjaku! - Manuel.

Dia merusak hasil kerjaku, Altair!

Sudah kubilang jangan biarkan dia mendekati ruang keluarga.

Kau tidur di luar.

Berhenti merengek, Berengsek.

Al?

Altair?

Ada apa?

Apa kau dengar?

- Apa? - Kemarilah.

Apa itu?

Aku tak tahu.

Altair.

Altair!

Apa yang kau lakukan?

Tidurlah.

Kau mimpi buruk lagi?

Kau melihat malaikat lagi?

Altair.

Selamat pagi.

Apa yang kau lihat?

Semuanya baik-baik saja?

Altair?

Ya, Manuel. Semuanya baik-baik saja.

Kau bisa terlambat.

Aku akan keluar sebentar lagi.

Kenapa kau mengunci pintunya?

Carlo?

Carlo?

Carlo?

Apa ini?

Apa yang kau lakukan?

Altair.

Aku tak suka jika kau tak menjawab. Apa yang kau lakukan?

Maukah kau bantu aku mengecat ini?

Baiklah.

Untuk apa kita mengecatnya?

- Bantu saja aku. - Ini tugas sekolah?

Apakah ada kotak lainnya?

Apa?

- Apa ada kotak lain? - Tidak.

Jadi kau yang memesannya?

Altair!

Apa yang kau lakukan?

Aku sedang bicara padamu!

Itu bukan tugas sekolah.

Aku juga tidak memesannya.

Aku hanya melakukan apa yang mereka suruh.

Siapa "mereka?"

Para malaikat, Manuel.

Malaikat?

Para malaikat itu menyuruhmu mengecat batu bata jadi hitam?

Aku tahu kau akan bilang apa dan aku tak peduli.

Tapi benar, mereka di sini semalam.

Mereka bilang akulah terpilih untuk bantu mereka.

Aku hanya perlu membuat pintu dari batu bata hitam di kamarku

dan satu lagi di basemen.

Kau jemput aku di sekolah dan bilang

bahwa ada kotak berisi batu bata dan cat hitam di rumah.

Ada apa denganmu?

Beri tahu aku!

Ada apa?

- Kau tak paham, ya? - Apa?

Kau tidak paham sama sekali.

Halo?

Halo!

Aku tak bisa tidur.

Aku tak bisa temukan Carlo.

Carlo?

Carlo!

Carlo!

Semangat, Manuel.

Apa yang kau pikirkan?

Carlo?

Carlo?

Apa ini?

Apa yang kau lakukan di sini?

Al?

Altair?

Altair?

Altair!

Apa yang kau lakukan? Altair?

Altair, aku bicara padamu!

Altair!

Altair?

Altair?

Alta...

Callahan.

- Aku siap. - Terima kasih sudah datang.

- Di mana Altair? - Di sekolah.

Jadi, dia bermimpi soal malaikat?

Lalu beberapa saat setelahnya burung-burung jatuh dari langit?

Anjingmu juga hilang.

Kau masih belum menemukannya?

Aku harus melihat semua yang kau rekam.

- Benar-benar semuanya. - Ya.

Baiklah.

Lalu, ada banyak kiriman batu bata?

Batu bata yang tidak dipesan olehmu

juga oleh Altair.

Benar.

Mudah saja, Manuel.

Ada penguntit yang menguntitmu.

Ini salah satunya.

Ini yang satunya.

Apa ini, Manuel?

Di mana sisa rol filmnya?

Di sini,

dan juga di sini.

Nanti akan ada lagi.

Haruskah aku sisakan untuk model tanah liatmu?

Tidak.

- Bagaimana dengan Carlo? - Belum ada kabar.

Ingat, kau merekam bagian-bagian yang menarik saja,

bukan semuanya.

Baiklah.

Selamat malam.

Halo?

Siapa yang telepon selarut ini,

tapi tak mengucapkan apa pun.

Halo?

Apa itu?

Ini Rubik ajaibku.

Itu tak menjawab pertanyaanku.

Pelancong sejati pasti tahu.

Pernah ke Budapest?

Belum.

Maka aku tak bisa memberitahumu.

Baiklah. Aku akan keluar sebentar.

Baiklah. Kau mau ke mana?

Ke rumah Tere.

- Hai. - Halo.

Hai, Tere!

Bagaimana kabar saudariku?

- Bagaimana dengan Altair? - Dia di sekolah.

Baiklah. Aku akan mulai.

Aku temukan hal di diri Altair yang tak kuketahui sebelumnya.

Wanita ceria yang kunikahi itu sekarang berubah

jadi wanita yang serius, apatis, dan dingin.

Dia tak mau aku bicara padanya, mendekatinya, bahkan menyentuhnya.

Kau saudarinya. Kau lebih tahu dia daripada aku.

Adakah yang perlu aku tahu? Apakah dia selalu seperti ini?

Apa pun?

Manuel, aku menghormatimu

dan aku sayang saudariku, tapi masalahmu adalah masalahmu.

Urus saja sendiri.

Baiklah.

Baik, aku mengerti sekarang.

Terima kasih.

- Ayo pergi dari sini. - Bagaimana malaikat-malaikatnya?

Altair bilang dia bicara...

Ayo kita pergi.

- Mau ke mana? - Aku baik-baik saja di sini.

Ayo ke bioskop.

Kau bisa...

pilih film apa pun yang kau suka.

Aku tak apa-apa di sini.

- Kau yakin? - Kubilang tak apa-apa!

Inikah yang kau dengar di ruanganmu?

Sekarang pukul 04.00.

Aku mendengar suara itu lagi.

Aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi.

Aku hampir menyelesaikan Rubik ajaibku.

Aku berpikir untuk melepas stikernya

agar bisa menyelesaikannya sekarang.

Film...

Film kameraku habis

dan seisi rumah ini bersikap aneh.

Kecuali aku.

Sofa tempatku tidur

sangat nyaman.

Tapi itu tidak membantu

karena aku tidak mengantuk.

Ke mana...

Altair?

Altair?

Altair.

Manuel sialan!

Persetan dengan Manuel karena membawaku ke sini

untuk membantu dalam penyelidikannya!

Aku ambil kamera kalian karena kalian menjengkelkan.

Bagus.

Kau akan pulang.

Kau akan mengisap ganja.

Kau akan pergi ke bioskop besok, menonton film baru Hitchcock

dan semua akan baik-baik saja.

Semua akan baik-baik saja, jangan panik.

Jalanan ini rusak parah.

Ada apa dengan wanita gila itu?

Jangan ada yang menertawakanku! Aku teman yang ingin membantu!

Persetan dengan ini!

Apa-apaan...

Tidak mungkin.

Tidak.

Tidak.

Aku tidak mungkin kembali.

Tidak. Aku menolak. Tidak!

Manuel.

Manuel!

Aku ingin menunjukkan sesuatu.

- Pukul berapa ini? - Siapa yang peduli? Kemarilah.

Lihat yang aku temukan.

Apa ini?

Apa maksudmu? Itu Carlo.

Itu bukan Carlo. Carlo berusia dua bulan dan anjing itu tidak.

Carlo?

Lihat?

Dan aku harus memberitahumu hal lain.

Lihat ini, Carlo.

- Carlo? - Apa yang kau lakukan?

Tidak ada, kami hanya bermain.

Carlo.

Apa yang terjadi kepadamu, Carlo?

Kurasa mungkin dia menderita gigantisme.

Apa?

Kau tak menonton film The Giant Constantin?

Gigantisme.

Halo?

Halo?

- Halo? - Apa itu si penguntit?

Halo!

Dengarkan aku, Bajingan.

Aku tak tahu siapa kau, tapi aku akan mencari tahu.

- Halo? - Manuel, ini Tere.

- Kita bisa bicara? - Ya.

- Kau bisa ke sini sekarang? - Ya, tentu.

- Ini penting, Manuel. - Kami akan segera ke sana.

- Sampai nanti. - Terima kasih, Tere.

Itu radionya?

Tolong pegang ini.

Boleh aku rekam?

Manuel,

boneka itu.

Siapa dia?

Dia saudara laki-laki kami.

Apa?

Apa kaitannya ini dengan semua yang aku ceritakan kepadamu?

Dan kenapa aku tak tahu istriku punya saudara laki-laki?

Orang tuaku memberi tahu kami.

Altair meminta adik laki-laki sejak baru pertama bisa bicara.

Setelah lahir,

kami mengetahui ternyata dia laki-laki.

Pablo.

Altair selalu bermain dengannya.

Dia sering mengganti popoknya dan membantu ibuku

memandikan dan menyuapinya.

Hingga...

ulang tahun Altair yang ke-6.

Hari itu,

dia menikmati pestanya, membuka hadiah-hadiah, lalu tidur.

Dia mendadak bangun,

berteriak, dan berkata Pablo dibawa pergi.

Orang tuaku bilang kepadanya

bahwa Pablo tidur di buaian.

Kami pergi ke kamarnya, melihat buaian itu,

ternyata kosong.

Kami mencarinya

terus-menerus,

tidak berhenti.

Entah kenapa

orang tuaku memutuskan

Altair sebaiknya dibawa ke ahli psikoanalisis.

Ayahku bilang kepadaku

bahwa demi kebaikan saudariku, dia memintaku

untuk jangan pernah

bicara soal Pablo lagi.

Apa mereka tahu siapa yang menculiknya?

Dia bermimpi soal apa?

Tere...

Altair bermimpi soal apa?

Apa?

Apa itu?

Entahlah, tapi biar aku pinggirkan.

Apa itu?

Manuel?

Altair?

Altair?

Altair?

Manuel!

Manuel!

Altair?

Kau tak pernah bekerja, jangan lakukan ini kepadaku!

- Aku harus bekerja hari ini. - Kau tak kerja tak jadi masalah.

- Aku akan dipecat. - Kalau begitu bekerjalah untukku!

- Tidak. - Callahan!

Dengar, Manuel! Ini gawat.

Kau minta aku membantumu, tapi kau malah menghalangiku.

Jadi aku pergi.

- Sudah kubilang, dia kerasukan. - Dia tidak kerasukan.

Kau belum menonton film itu, Bajingan.

Kau harus tahu. Dia kerasukan.

Aku tahu soal ini. Jika tak panggil pengusir setan, aku pergi.

Callahan, itu omong kosong!

Kau tak akan mengerti sebelum menonton film itu!

Tidak. Aku tak mau menonton film apa pun.

Kita tak akan mengundang pendeta ke sini.

Dan kau tak boleh ke mana-mana. Kau tetap di sini bersamaku.

Tinggallah.

Kumohon.

Dr. Canseco, terima kasih sudah datang.

Senang bertemu denganmu.

- Di mana dia? - Selamat malam.

Di dapur, aku belum memindahkannya sejak...

Altair.

Kau ingat aku?

Altair.

Kau mengenali suaraku?

Kau mengenali suaraku, Altair?

Tere, mendekatlah ke saudarimu.

Letakkan tangan kirinya di meja.

Lakukan hal yang sama pada tangan kanannya.

Posisikan tangan kirinya dengan telapak tangan menghadap ke atas.

- Hari ini cukup sampai sini. - Apa maksudmu?

Bagaimana aku...

Apa dia akan terus seperti itu semalaman?

Sebutkan lima gejala gangguan katalepsi.

Aku akan mengatakan ini dengan halus.

Jangan pernah meragukan metodeku lagi, Anak Muda.

Kami harus menunggu sepanjang pekan sampai kau kembali?

Tidak. Aku akan kembali besok.

Aku akan lakukan tugasku, kalian lakukan tugas kalian.

Tugas kalian adalah menjaganya.

Mengerti?

Ya, kami mengerti.

Apa itu?

Apa itu?

Altair?

Altair?

Altair?

Altair?

Altair?

Altair?

Altair?

Altair?

- Tidak! - Tidak...

- Lepaskan aku! - Altair!

Altair! Tidak!

Tidak!

Aku tak ingin mereka datang lagi.

Aku tak ingin memimpikan mereka lagi.

Mereka membawaku ke tempat yang mengerikan.

Tidak ada cahaya.

Aku melihat sebuah ranjang di tengah ruangan.

Mereka bilang Tuhan ingin punya seorang anak denganku.

Bahwa aku tak perlu takut.

Salah satu dari mereka

menghampiri dan menghadapkan wajahnya tepat di depan wajahku.

Yang lain terus menatap diriku.

Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.

Aku tak bisa berteriak.

Dia meletakkan tangannya di dahiku

dan jari-jarinya di wajahku.

Dia menutup mataku

dan melucuti pakaianku.

Lalu dia...

Halo?

Manuel.

Ada apa?

Dari sekolah Altair.

Manuel.

Bisa kau beri tahu wanita itu bahwa Altair tak bisa kerja?

Beri tahu Altair sakit atau apa saja.

Baik.

Tere, jangan singgung tentang hal ini. Tolong.

Ya, tentu saja.

Halo?

- Manuel. - Selamat pagi. Aku Tere.

Kakak Altair.

Ya, maafkan aku. Kami tak bisa...

- Altair sedang sakit, tapi... - Altair?

Dia demam tinggi.

- Altair. - Dia tak bisa ke sekolah.

- Altair! - Ya. Maafkan aku.

Ini sangat bertentangan dengan etika kerjaku.

Yang akan kuberikan kepadamu

adalah untukmu dan hanya untukmu.

Jika kau tak patuh, akan ada akibat sangat buruk bagi kita semua.

Kau mengerti?

Ya.

Apa itu?

Kurasa kau tak mengerti.

- Kuulangi. Sudah jelas? - Ya, sudah.

Aku tahu orang-orang yang tugasnya menghapus materi seperti ini.

Baik. Bisa beri tahu aku apa itu?

Tidak.

Tapi aku bisa beri tahu dua hal.

Situasi istrimu benar-benar di luar kendaliku.

Dan juga...

segera matikan kameranya lalu serahkan filmnya kepadaku.

Kau tak akan membukanya?

Ada satu lagi di sisiku.

Bagaimana dia bisa masuk kamarmu?

Wajahnya berada tepat di depan wajahku.

Dia seorang malaikat.

Malaikat?

Apa yang malaikat itu katakan kepadamu?

Ada banyak di sekitarku.

Mereka menatapku.

Kau mengundang mereka?

Kau yang mengundang mereka, Altair?

Mereka ingin mengambil Pablo.

Mereka ingin mengambil saudaramu?

- Ya. - Ke mana?

Mereka ingin membawa dia ke mana, Altair?

Ke surga.

Kenapa mereka mau membawa dia?

Mereka berjanji akan kembali.

Mereka memberitahumu apa yang akan terjadi?

Apa mereka akan mengembalikan Pablo, Altair?

Mereka tak membiarkanku...

mengingat.

Minta izin kepada mereka.

Kenapa mereka mengambil saudaramu, Altair?

Mereka ingin bermain dengannya.

Mereka ingin bermain dengannya? Bermain apa?

Tidak.

Mereka ingin bermain apa?

Mereka ingin bermain denganku.

Mereka juga ingin bermain dengan dia,

dia, dan dia.

Mereka ingin bermain bersama kami berempat.

Empat siapa saja?

Altair, mereka ingin main dengan siapa saja?

Dia muntah-muntah.

Kita akan pergi, paham?

Aku akan menggendongmu.

Kau harus membantuku.

- Jangan jawab teleponnya! - Kenapa? Ada apa?

Kita akan pergi. Bukakan pintunya.

Callahan, ambilkan kunci mobilnya.

- Kita mau ke mana? - Kita pergi.

Buka pintunya! Buka!

Ayo. Di depan kamera.

Callahan?

Callahan, nyalakan lampunya!

Baiklah, baiklah.

Apa itu tadi?

Altair?

Apa itu?

Apa itu?

Batu batanya!

Apa? Tidak!

Manuel!

Manuel!

Tidak! Lepaskan dia!

Lepaskan aku!

- Altair! Lepaskan aku! - Lepaskan aku!

Lepaskan aku! Tidak!

- Tidak! - Tidak!

Apa-apaan...

Altair?

Altair?

Apa yang kulakukan?

Apa yang kulakukan?

Apa yang kulakukan?

Altair.

Altair!

Ayo! Kita keluar dari sini!

Dengarkan aku, Altair!

Altair?

Altair?

Altair?

Tidak!

Tidak!

Altair, apa yang kau lakukan?

Apa yang kau lakukan?

Biarkan saja.

Manuel?

Tere?

Astaga. Tidak.

Manuel?

Manuel!

Di mana kau?

Di mana kau?

Di mana kau?

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.