Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
Saudariku mengalami kesulitan.
Katanya tak tahan lagi hidup seperti itu.
Dia mulai mengatakan ingin mati.
Namun, dia tak sungguh ingin mati.
Kurasa dia selalu menahannya di rumah sakit
karena sebenarnya ingin hidup.
Namun, dia akhirnya malah sekarat.
Aku menemaninya,
menyaksikan dia perlahan wafat.
Menjelang kematiannya, dia membuka mulut.
Dia putus asa berusaha menarik napas terakhirnya.
Seperti ini. Dia meninggal dengan mulut terbuka seperti ini.
Karena itu
aku bertekad untuk tak mati dengan mulut terbuka.
Aku menolak kehidupan dengan menerima kematian saat aku mati.
Itu keputusanku.
BERJALAN DI MALAM HARI
Kenapa kau ceritakan kisah suram?
Apa?
Soal kematian.
Karena...
aku sudah mati.
Kau sudah lupa?
Kini aku ingat.
Kau mati...
Kau sudah...
Kau...
Hei.
Kenapa menangis? Kau membuatku sedih.
Kau bahkan tak menangis di pemakamanku.
Aku sempat berpikir putus denganmu karena kau tak menangis.
Namun, aku tak tahu cara putus hubungan setelah mati.
Aku enggan menangis.
Entah kenapa aku kini menangis.
Kau yang mati dan meninggalkanku.
Kenapa aku harus menangis?
Kenapa kau jadi kesal?
Ini malam yang indah.
Ayolah.
Kau tak ingat jalan ini?
Kita biasa lewat sini.
Kau ingat sekarang?
Aku ingat. Kau merayuku di sini.
- Sungguh? - Ya, sungguh.
Cuma tunjukkan rasa sayang. Jangan dianggap merayu.
Kau wangi sekali malam itu.
Sekarang juga.
Luar biasa aku bisa mencium sesuatu dalam mimpi.
Benar.
Kau sadar sedang bermimpi sekarang?
Berarti kau tidak nyata?
Aku nyata.
Aku tidak hidup, jadi mungkin tak nyata.
Aku merasa sedih
karena bisa merasakan mulai menghilang
serasa aku mulai menjauh.
Entah di mana aku sekarang,
tapi aku ingin menemuimu
sebelum benar-benar menghilang.
Jadi, kugunakan mimpimu seperti ini.
Jadi, begini rasanya bertemu dengan orang mati dalam mimpi?
Entahlah.
Aku belum lama mati, jadi, tak tahu banyak.
Omong-omong, konon jika terjaga dari mimpi,
kau nyaris tak akan ingat apa pun.
Lalu, apa tujuan semua ini jika aku tak bisa ingat?
Kau pun sudah mati.
Mengingat tidak penting.
Yang penting...
kita bisa bersama lagi seperti ini.
Aku mulai merasa sedih lagi.
Jangan menangis. Kau akan terjaga dari mimpi.
Baiklah.
Kau sangat patuh. Anak baik.
Karena itu aku sangat menyukaimu.
Aku suka tempat ini.
Menurutmu, tempatnya masih ada?
Aku tak yakin.
Kau ingat yang kita makan?
Tentu saja.
Mereka menjual segelas anggur seharga 3.900 won.
Kau ingat hal semacam itu?
Tentu, aku ingat semuanya.
Aku ingat lukisan aneh yang digantung di dinding batu,
dan pria mabuk yang tertidur di sebelah kita.
Ada meja di seberang kita,
dan musik indah dimainkan dari dalam restoran.
Menurutku musiknya aneh.
Benar, lagu ini.
Aku pun ingat anggur tak enak itu.
Namun, aku menyukainya.
Rasanya tak enak.
Sangat tak enak.
Kau tak penasaran kenapa aku mati?
Apa gunanya?
Katamu aku tak akan ingat apa pun saat terjaga.
Kalau begitu...
Kenapa kau mati?
Aku kesepian.
Kesepian yang kurasa tak berujung.
Aku tak melihat ujungnya.
Apa aku membuatmu merasa kesepian?
Tidak.
Kau selalu ada untukku.
Ada orang yang mengenalku dan ada yang tidak.
Kau termasuk yang mengenalku,
dan ada orang-orang selain dirimu.
Orang-orang selain dirimu yang membuatku kesepian.
Ada banyak orang
yang mengenalku selain dirimu,
tapi cara mereka memperlakukanku membuatku kesepian.
Kau selalu ada untukku,
tapi aku menderita
hingga mati.
Apa yang kau lakukan?
Aku ingin mengingatnya saat terjaga.
Aku tak berhenti menyalahkan diriku.
Aku mungkin menghabiskan seluruh hidupku
mencari tahu perbuatanku yang menewaskanmu.
Maafkan aku.
Aku ingin...
membuatmu ingat bahwa ini bukan salahmu.
Kau melihat caraku mati?
Tidak.
Aku hanya mendengarnya.
Aku tidak langsung mati,
padahal jatuh dari tempat tinggi.
Aku sadar untuk sesaat.
Orang-orang berkumpul di sekitarku,
dan aku menutup mulut sekuat tenaga.
Aku tak bisa bernapas dari hidung karena darah,
tapi tetap saja menutup mulutku.
Namun, aku tak ingat caraku mati.
Apa kau tahu aku mati
dengan mulut terbuka atau tertutup?
Tidak.
Aku penasaran.
Kau masih penasaran walau sudah mati?
Kurasa begitu.
Entah di mana saudariku
dan ke mana aku pergi.
Bahkan saat mati pun,
aku terus merasakan sensasi menghilang.
Sensasi menghilang...
Hanya tersisa itu.
Tak ada...
yang bisa kuketahui.
Saat itu musim panas.
Malam itu. Saat itu malam musim panas.
Aku mendengar suara serangga.
Mimpi dan kematian
tak mengarah ke mana pun.
Tak akan berakhir di mana pun...
dan akhirnya akan dilupakan.
Kita di sini,
tapi tak ada yang akan ingat kita.
Semua sirna, hanya tersisa malam.
Selamat tinggal.
Terjemahan subtitle oleh Eries Septiani
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.