All language subtitles for Kucumbu.Tubuh.Indahku.2019.WEB-DL.FMZM

af Afrikaans Download
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified) Download
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Ini rumah saya.

Rumah saya adalah tubuh saya.

Saya bisa melihat kehidupan dari lubang.

Mata saya bisa melihat apa saja.

Telinga saya bisa dengar suara radio...

suara gamelan...

(menirukan tabuhan gamelan)

(memanggil ayam)

Suara ayam..

Ayam jengger, jago.

di belakang rumah.

Tapi saya juga terkadang rindu dengan suara merdu bapak dan ibu.

saat memanggil saya.

Saya membayangkan, dipanggil oleh bapak ibu.

No, Juno!

Cepat pulang!

No! Juno! Pulang dulu!

Keluyuran aja! Sini pulang!

Pak, jangkrik pak.

Dua ya nak. Makasih.

Jangkrik! Masih kecil suka mengintip!

Sini!

Tolong buatkan kopi.

Duduk.

Siapa namamu?

Juno.

Itu panggilan, bukan nama. Nama lengkapmu?

Wahyu Juno.

Wahyu Juno?

Itu wahyunya Arjuna.

Perawakan yang tenang seperti air dan kuat seperti gunung.

Kamu seharusnya punya sifat seperti arti namamu. Bagus itu.

Bisa menari lengger?

Orang kampung kok tidak bisa menari lengger.

Kamu tahu artinya lengger?

Nduk, sini nduk.

Jok! Ambilkan ayam itu.

Lengger itu dari kata Leng.

Artinya lubang.

Tahu tidak?

Lihatlah.

Lubang kehidupan.

Ngger, itu dari kata jengger,

perlambang lelaki yang mengasai dunia, seperti Arjuno.

Badanmu itu badan penari, tahu tidak?

Sudah sana bantu kakakmu dan belajar nari juga ya.

Kalau ada apa-apa, bapak sudah titip pesan ke Mbah Atmo.

Bapak belum tahu kapan pulang.

Saya Arjuna satria di Pandawa.

Punyku...punyamu...punyaku...punyamu..

Ikuti.

Ikuti gerakannya.

Supaya bagus dibiasakan.

Kemudian dimantapkan.

Sampai semua gerakan sempurna.

Bapak mau memandikan ayam jago dulu. Besok ada adu ayam.

Kamu terus latihan ya. Badanmu bagus.

Nak, sapukan halaman dulu

Kamu mau lihat lubangku kan?

Tapi kamu tidak berani sama gurumu.

2 tahun saya ngatur pentas-pentas kalian,

tapi tidak ada yang berani menyentuh saya.

Cuma ingin saja.

Keinginan kok hanya disembunyikan dalam sarung.

Kamu takut kan? Bilang saja kalau memang mau.

Joko...

Modal orang membangun rumah tangga,

...bukan harta bukan rupa.

Hanya hati bekalnya.

Rebahanlah di balai-balai.

Gagal sekali, berhasil juga sekali.

Di balai-balai.

Jika mudah maka terasa sangat mudah.

Jika susah...

Ayo rebahan.

saya mau memijit kamu.

Siapa tahu kamu capek.

Kan baru saja melakukan hubungan intim.

Pria yang menaklukkan wanita.

Jika susah maka terasa sangat susah.

Mana jenggermu?

Jenggermu yang tidak tahu aturan.

Tidak bisa dibeli,

…dengan uang.

Itu lubangku!

Bukan lubangmu!

Punyaku! Bukan punyamu!

Juno. Kamu ngapain disitu?

Bulik kemarin kan sudah titip pesan ke Mbah atmo,

supaya kamu siap-siap.

Ayo kamu ikut bulik,

supaya tidak dapat masalah.

Sebentar lagi polisi datang.

Tapi kamu tidak usah takut.

Yang namanya hidup itu cuma numpang mengintip kehidupan.

Pisah, pindah, mati itu biasa.

Jadi anak jangan penakut.

Ayo ikut bulik, pasarnya keburu tutup.

Saya berhasrat,

selalu ingin tahu apa saja.

Hasrat itu yang menggerakkan badan saya.

Tidak ada batasan hasrat dalam badan saya.

Mata saya...

badan saya...

mengintip...

dari lubang kecil,

Hingga lubang besar.

Juno…

Ya bulIk?

Ayam yang mau bertelur dipisahkan.

Soalnya tidak mau bulik jual.

Ya.

Bulik, ayam yang kemarin beli dari Desa Jetis seminggu lagi bertelur.

Wah pintar kamu nak. bulik kalah sama kamu.

Itu pak Jambul dan bu Karsih minta ayamnya dicek juga.

Simbah Karso di belakang rumah bilang, kalau jarimu itu jari tuyul.

Enak tidak?

Enak bulik.

Ini ayamnya tolong diperiksa.

Saya tidak akan memberitahu bulik kamu.

Belum mau bertelur.

Belum mau bertelur? Wah...

Ini punya saya juga tolong dicek.

Juno...

Capek saya sama kamu.

Dikasih tahu berkali-kali tidak pernah didengar.

Tugas bulik itu menyekolahkan kamu, biar pintar.

Itu adalah pesan bapak kamu.

Bukannya malah di kandang ayam terus. Tergila-gila sama pantat ayam ya kamu?

Mana jarimu?

Bawa sini.

Kamu ingat ini?

Minggu lalu kamu sudah saya hukum,

kok diulangi lagi.

Biar kapok kamu!

Dijaga itu tanganmu!

Biar tidak jadi masalah terus.

Bau...bau...bau!

Juno maju!

Sekarang bilang sama teman-temanmu,

saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Ayo bilang.

Kenapa diam saja?

Gara-gara ini,

bikin ribut di kelas!

Ini sudah ketiga kalinya, sekali lagi saya keluarkan dari sekolah!

Tulis pakai mulut!

Sebelum dia selesai menulis, tidak ada yang boleh keluar!

Mendak (gerakan tari) kiri, mendak kanan. Ayo pinggulnya, pantatnya. Mendak lagi.

Paham ya? / Paham.

Itu tadi gerakan yang belum benar ya. Sekarang sudah paham kan? / Sudah.

Paham betul? / Betul bu.

Bagus.

Besok ibu beri tahu siapa saja yang ikut lomba di kabupaten mewakili sekolah.

Sekarang kita sudahi dulu latihan ini. Kalian boleh pulang dan istirahat.

Silakan pulang, hati-hati ya.

Juno, kamu jangan pulang dulu.

Kamu belum latihan karena datang terlambat.

Ayo latihan dulu.

Materi yang sebelumnya gimana?

Juga latihan yang tadi.

Kamu latihan sendiri dulu.

Ayo.

Yang gerakannya belum benar kemarin.

Ayo ibu mau lihat.

Liukkan dari dalam...

Putar...buka...tutup.

Bagus.

Jarinya yang kiri.

Turun, turun, turun. Naik, naik, naik...

Ayo lagi, ayo diulangi lagi yang tadi.

Tidak apa-apa Juno...

Sudah, tidak apa-apa.

Tidak usah diingat. Besok sembuh.

Sekarang tonton ibu lagi ya.

Lihat ini.

Lihat ibu.

Nasibmu itu ada di lembutnya tubuhmu.

Itu jalan hidupmu.

Kamu belum pernah menyentuh ibumu ya?

Sentuhlah.

Seret dia! Seret! Ayo bawa ke kantor polisi!

Juno!

Waktu saya kecil, saya sudah ditinggal bapak saya.

Jadi apa-apa saya lakukan sendiri.

Saya ke sawah cari daun Centhongan.

Lalu saya masak sendiri.

Memetik daun bayam lalu saya masak sendiri.

Masak air untuk mandi juga sendiri.

Saya menyimpan semua pengalaman itu...

...di tubuh saya.

Kalau dipikir-pikir, semua pengalaman itu bisa jadi pelajaran.

Untuk saya.

Sepeti memetik daun centhongan,

memetik daun bayam,

dicincang.

Semua itu sudah menjadi satu di tubuh saya.

Saya belajar dari alam.

Jadi masa kecil saya indah sekali.

Tangannya tolong ke atas.

Sekarang balik badan.

Sudah.

Sudah?

Tidak pakai diukur?

Jangan keliru lho Pakdhe.

Siapa yang berani keliru sama petinju? Nanti saya dihajar.

Saya tidak pernah hajar orang di luar ring tinju kok.

Untuk pengantin wanita,

silakan pilih modelnya.

Ini model lain untuk pengantin wanita.

Ini untuk pengantin pria.

Atau yang ini.

Kalau pakai bordir nambah berapa Pakdhe?

20 persen.

Boleh dicoba dulu?

Ya silakan.

Kamu harus percaya diri.

Kamu sudah fasih mengukur badan tanpa meteran.

Lihat catatannya.

Percaya dengan mata, sambung dengan hati.

Cuma satu yang masih salah, satu angka.

Bahu.

Bentar ya dik.

Calon istriku orang Jawa.

Sebenarnya saya juga orang Jawa,

tapi tidak pernah pakai baju Jawa.

Tidak tahu caranya.

Nanti kamu contohkan ya.

Dan jangan lupa bilang ke Pakdhemu,

bayarnya seperti biasanya ya, setelah pertandingan.

Itu jahitanmu kubayar dulu.

Bosku bolak-balik kesini dua kali tahu tidak?

Kasihan dia.

Vitamin dan uang sekolah adikmu belum kamu bayar juga.

Kamu harus menang. Paham?

Bajingan!

Kamu harus tahu saya sudah bertaruh banyak!

Kalau sampai kamu kalah, saya kembalikan tempat ini jadi kandang ayam.

Tidak sayang dengan bajumu?

Saya orang desa, mas. Biasa tidak pakai baju.

Nanti kalau badan mas masih basah, baju pengantinnya rusak.

Tolong berdiri.

Saya juga tidak tahu caranya memasangkan jarik untuk perempuan.

Kamu bisa kasih contoh?

Tolong mas.

Pasang dimana?

Di sini.

Maaf.

Sekarang coba kamu tutup mata saya.

Saya mau melatih insting dari baumu.

Kamu tahu luka saya kemarin.

Saya dulu petani.

Tapi sekarang lahan tani sudah habis.

Tidak ada lagi tempat untuk tubuhku.

Uang tidak cukup.

Adik saya banyak.

Semua butuh biaya.

Saya harus cari kerja lagi.

Teman saya mengajak jadi target latihan tinju.

Mau tahu kenapa?

Karna badan saya kuat.

Saya cuma jadi samsak.

Saya tidak mau jadi samsak lagi!

Saya tidak mau jadi samsak lagi!

Tidak ada yang bisa paksa saya jadi samsak!

Sekarang lumayan, saya jadi petinju.

Tapi dari kecil saya tetap tidak pernah merasakan pelukan.

Saya anak tertua.

Dari kecil selalu diberitahu “tanggung jawabmu besar”.

Kerja, kerja, kerja.

Tidak pernah sekalipun saya merasakan pelukan.

Menangkan ya, supaya istrimu senang.

Nanti uangnya ditabung, untuk biaya menikah.

Saya titip ini ya.

Habis ronde ini, kamu siap-siap.

Kita ke rumah calon istri saya, lamaran.

Kamu jadi wakil keluarga saya ya.

Jangan lupa, barang-barang saya dibereskan.

Juno?

Juno!

Lepaskan!

Kurang ajar!

Saya mau main billyard malah harus makan anjing seperti ini!

Kamu dibayar berapa sampai mau sengaja kalah?

Gara-gara kamu mengalah, bosku rugi besar.

Bajingan!

Begini saja...

Badanmu itu sudah tidak berguna, tidak ada manfaatnya.

Tapi organmu masih bagus.

Ginjalmu masih bagus.

Dijual saja.

Kamu sudah seperti anakku.

Tubuhku sudah hampir selesai.

Kamu akan dibawa tubuhmu kemana saja.

Setiap tubuh punya trauma.

Keluarga besar kita penuh trauma badan.

Bapakmu selalu pergi ke sungai.

Karena trauma waktu kecil, melihat keluarga besar kita dibantai di sungai itu.

Karena bapakmu ditanggap mendalang di partai itu

Dituduh jadi anggota Partai Komunis, tahun 1965.

Keluarga kita yang tersisa jadi terasing.

Memilih untuk bekerja, diam dan menyendiri.

Bapakmu sekarang lari kerja ke pulau lain yang jauh, tidak mau ada di dekat sungai itu.

Semua trauma itu adalah bagian dari hidup.

Tapi kamu harus mencintai tubuhmu. Itu yang membawa hidupmu.

Pakdhe?

Pakdhe?

Pakdhe?

Pakdhe?

Stop!

Saya numpang sampai desa sana.

Ayo cepat! Jangan sampai ada yang tertinggal.

Pada mau pentas di mana mas?

Pentas? Ini pindahan, bukan mau pentas.

Kita ibarat sedang ada di pucuk bumi.

Tahu tidak, jaman dulu kalau pentas biasanya di balai kota.

Kalo kita sekarang ini, ya paling banter pentas di pinggiran desa.

Malah sekarang juga di tengah hutan.

Tunggu saja, sebentar lagi kita bakal ditendang ke luar planet.

Makanya kita ini harus pindah desa. Seperti ke desanya mas Pul ini.

Kamu mau ke mana kok bawa mesin jahit?

- Cari kosan baru. - Bisa menjahit?

Ikut saya aja, jahit bajunya penari lengger, pasti laris.

Tapi jangan lupa bayar iurannya

Uang aja sih!

Badan saya adalah alam.

Kata ibu saya, saya itu seperti senja.

Senja, ya sandekala.

Yang hidupnya di antara sore dan malam.

Malam menjelang pagi.

Mistis..

…tapi indah.

Melebur.

Badan saya itu alam.

Tapi saya salah.

Saya tidak bisa mengurusnya.

Sehingga menyebabkan bencana.

Bencana..

…di dalam tubuh saya.

Badan saya jadi medan perang,

seperti padang Kursetra.

Yang karakter saling berbeda.

Satu, satu, dan lainnya!

Di tubuhku ada perang!

Di dalam tubuhku.

Sembilan.

Iblis tidak akan menyentuh, setan tidak akan memakan.

tidak suka!

Yang tidak makan itu rakyat. Makanya dikasih makan, jangan cuma setan saja yang dikasih makan.

Kok malah protes ke saya sih?

Biarin.

Ngomong aja kamu! Setan tidak suka.

Ayo.

Sepuluh.

Bambu agung untuk orang agung.

Ayo.

Lanjut?

Lanjut lah.

Gimana sih kamu?

Tapi ini sapi mas.

Iya, tahu.

saya takut dengan sapi. Alergi.

Supaya tahu alergi atau tidak, harus dijalani dulu.

Kemarin saya alergi kena kotoran sapi.

Sudah jalani saja. Jangan banyak bicara.

Ini perintah dari pak dukuh dan pak bupati,

untuk cari pasangan, orang yang rumahnya diukur 20 kali bambu kuning,

dari tugu desa ke gunung.

Itu syarat buat menang pilkada bulan depan.

Sudah kamu jangan banyak tanya, lakukan saja.

Ini rumah orang.

Tidak apa.

ini perintah pak bupati dan pak dukuh.

Oh iya, ini jaman bebas.

Sembilan belas.

Utara, Selatan, Timur, Barat, rukun semua.

Masa ini sih pasangannya?

Ini kan jaman bebas.

Saya harap bapak mengikuti semua strategi saya.

Karena ibu sudah meminta saya untuk membantu bapak.

Bawa anak itu masuk.

Kamu sudah tahu kan, lagu yang diminta pak dukun?

Kamu sudah biasa kan dik?

Kalau tidak bersedia,

kamu boleh pergi dari sini.

Tapi semua teman-teman lenggermu juga harus pergi dari desa ini. Paham?

Sulasih dan Sulanjana.

Semerbak kemenyan putih pemanggil para dewa.

Ada sang dewa yang berganti sukma.

Bidadari...bidadari...turunlah sang bidadari.

Oalah Jun, Jun.

Kamu itu membawa sial.

Besok kita diusir dari sini.

Besok pagi kamu pergi ke bupati.

Teman-temanmu semua membawa rejeki.

Tubuhmu juga bisa dijual.

Ini bajunya Warok, cepat selesaikan. Akan segera diambil.

Tanganmu kenapa Jun? Coba liat.

Sudah dibawa ke dokter?

Hati-hati kena santet kamu.

Jun...

...nanti kamu jangan cemberut ya di depan pak bupati.

Nanti tidak diberi rejeki, tidak dapat saweran.

Jangan lupa banyak senyum, ya?

Siapa yang punya peniti?

Cepat dipasang.

Kenapa kamu?

Biar saya yang masak pak.

Koreknya di mana pak?

Enak.

Warok sialan!

Dia mengganggu Juno.

Malahan dia sekarang tidak mau mengoordinasi Reog-Reog dukuh kita.

Kalau mereka macam-macam,

bilang saja mereka PKI baru.

Ini jaman reformasi. Jaman bebas.

Saya sudah tidak mau kehilangan lagi!

Tubuh spirit saya hanya satu.

Hidupmu tidak ada gunanya.

Menari untuk kampanye.

Saya ini sudah lama ikut kamu.

Tidak! Tidak! Tidak ada tubuh lain.

Kamu seharusnya punya Gemblak.

Saya bisa melihat semangatmu ketika kamu bersama Juno.

O..o..o..apa ini?

Merasa laki-laki kamu?

Ngawur!

Kamu tidak boleh menyakiti tubuh halusmu.

Dasar anak tidak paham kenapa diberi nama Arjuna!

Lihat ini! Lihat!

Setiap tokoh sakti dalam wayang, selalu halus sepertimu.

Itu sebabnya ibumu memberimu nama Arjuna.

Juno!

Saya ingin mendapatkan kesaktian.

Buatkan saya sarung Arjuna, untuk ikat kepala dan bawahan.

Paham?

Sekarang saya bisa kembali semangat karena kamu.

Karena kamu adalah pasanganku!

Semua akan kacau balau...

...kalau foto ini tersebar.

Penduduk sebelah sungai itu, suaranya 60 persen.

Tapi mereka menuntut Juno dan teman-temannya diusir dari desa ini.

Mereka bilang grup Lengger juno hanya akan merusak moral anak-anak muda.

Itu isunya.

Saya cuma mengikuti perintahmu...

...atas saran mbah Pesisiran.

Kamu sudah kelewat batas!

Menggandeng tangan Juno di depan publik.

Lihat foto itu.

Kamu sudah tergila-gila pada Juno mas.

Ini bukan soal perkawinan dan pribadi kita.

Ini soal masa depan keluarga besar kita untuk terus di atas,

Menang pemilu.

Semua sudah kuserahkan ke kamu.

Tapi Warok itu sudah menghinaku.

Akan kupecahkan dengan caraku.

Akan kupecahkan dia di warau.

Kamu sudah cemburu ngawur mas.

Hati-hati.

Lawanmu bisa memanfaatkan emosimu.

Ini Gemblakku!

Siapa berani menyakitinya, akan berhadapan dengan saya!

Saya siap mati!

Darah! Darah! Di mana-mana darah!

Darah di mana-mana!

Tidak akan ada darah lagi...

Tidak ada darah. Tidak akan ada darah lagi.

Kamu sudah mengerti?

Besok bilang ke pak lurah sebelah desa, kita sudah usir mereka.

Masalah terus.

Bodoh!

Heh kamu!

Kalian semua harus tahu.

Jangan sampai meninggalkan jejak.

Kalau sampai meninggalkan jejak,

Jejakmu akan saya hapus.

Siap bos.

Kamu menyuruh anak buah untuk tidak meninggalkan jejak.

Tapi kamu buat jejak sendiri.

Sudah paham kan? Jangan sampai terlihat.

Ayo berangkat!

Kita akan menang.

Jangan sok moralis.

Ini politik.

Itu laporanku. Baca!

Caramu menang ini merusak hidup.

Kamu akan sepi seumur hidupmu.

Tubuhmu sepi.

Apapun kemenganganmu, kamu akan kalah.

Hidupmu sepi.

Setiap saya berjalan di atas panggung,

saya seperti mengintip hidup saya sendiri.

Saya seperti melihat ibu...

…berjalan membawa tas belanja.

Belanja macam-macam keperluan untuk dimasak.

Seperti saya waktu kecil,

menyusuri hutan mencari lubang.

Lubang itu satu-satu saya tengok setiap hari. Sambil menunggu kehidupan yang akan muncul.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.