Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Kalian harusnya bayar gaji kami hari ini juga!
SEBELUMNYA
Bukannya malah menyuruh kita kerja terus!
…jadi apa sekarang kita? Enggak jadi apa-apa, Mbak.
Sudah terkonfirmasi, Pak.
Dua korban mati itu dari mess kita.
Semua yang berpotensi menjadi barang bukti…
…harus hilang.
Cerewet kamu, heh!
Kamu enggak tidur, ya, semalam, Dik?
Ini kita sudah mau sampai belum, sih?
Sebentar lagi kok, Sayang.
Maaf, ya?
Jika tahu seperti ini, lebih baik naik bus saja!
Lebih cepat, enggak buang-buang waktu.
Kenapa masih dibahas, sih?
Kemarin aku sudah bilang, bukan?
Aku sama Ella bisa kok, berangkat sendiri.
Ya, lucu saja, Sayang.
Kamu bilang mau berangkat sendiri…
…tapi setiap hari menanyakan "Sayang, kapan kamu ada waktu luang?",
"Kapan kamu libur?"
Seolah-olah aku enggak berusaha mencari waktu untuk ini.
Ya, itu karena kamu bilang "Iya" tapi enggak tahu kapan!
Aduh, Ma. Sudahlah!
Ella sudah bilang, bukan? Kita bisa naik bus ke rumah Eyang.
Enggak usah minta diantarkan Om Reza.
Waktu Papa masih ada sih, ya, Ella enggak pernah lihat Mama…
…diperlakukan seperti ini.
Awas!
Apa itu?
Aduh!
Tunggu sini, ya!
Sayang, hati-hati, Sayang.
Pak?
Bapak enggak apa-apa, Pak?
Pak?
Eh.
Eh! Bapak, eh!
Om Reza!
Ma!
Kamu tunggu sini, Sayang!
Apa yang mau Mama lakukan?
- Apa yang mau Mama lakukan? - Kunci pintunya, ya!
- Apa yang mau Mama lakukan? - Kamu tunggu sini!
Mama, apa sih?
- Ayo cepat! - Enggak usah, Ma!
Aduh…
Cepat, hei!
Tolong!
Hei!
Tolong!
Hei!
Mama!
Mama!
Selamatkan Mama, Om!
Ella, La, buka pintunya!
Selamatkan Mama dulu!
Bangsat, buka pintunya!
Enggak!
Buka!
Selamatkan Mama!
Ma!
Om! Om!
Om!
Om Reza!
Om!
Ella!
Ella, tolong Mama!
Ma!
Ella…
Ella…
Iya.
Tahan, Ma. Tahan.
Kuat, Ma, tahan.
Tahan, ya, Ma.
Tahan, ya, Ma…
Tahan…
Tahan, Ma.
Tahan, ya, Ma.
Ma?
Ma?
Ma? Mama?
Mama kenapa?
Ma!
Ma!
Ma?
Mama kenapa?
Ma!
Ma! Ma!
Mama kenapa?
Mama kenapa…
Mama kenapa…
Mama kenapa…
Ma…
Tidak… tidak…
Lembur lagi, Mbak?
Senyam-senyum, kenapa sih?
Selamat ulang tahun, Di…
Widih!
Peluk dulu…
- Aduh, terima kasih, ya… - Baumu, Di!
Tambah usia tambah rajin mandi begitu loh, keramas, sabunan.
Jangan keramas lah, nanti…
…kutunya hilang bagaimana?
Jorok.
Tas merah, tas merah, tas merah…
Suka enggak?
Sangat suka!
Terima kasih, ya, Mbak…
Mbak.
Ini kok Mbak Aca belum datang, ya?
Itu dia, May.
Dari pagi aku meneleponnya, ponselnya enggak aktif.
Terus, rencana kita hari ini bagaimana, ya?
Aca mana, May?
Belum datang, Mas.
Loh?
Kok belum datang? Kabur dia?
Kok kabur? Terus rencananya bagaimana?
Ya, kalau dia tanggung jawab sama rencananya, dia harusnya sudah ada di sini sekarang.
Iya, iya, iya, ini aku telepon, Mas.
Sudah, sudah, sudah, ada Aca, enggak ada Aca, kita tetap melakukan tindakan.
Gaji yang baru kalian terima kemarin, memang baru sebagian…
…karena banyak target yang belum tercapai.
Kalian itu harusnya bisa introspeksi diri lah.
Jangan cuma bisanya menuntut, menuntut.
Kita itu harus bekerja sama.
Nah.
Biar gaji total kalian itu turun sepenuhnya…
…kita harus tambah jam lembur!
Enggak bermutu!
Hei, Rustam!
Tunggu dulu, Rustam!
Kalau gaji kita enggak turun penuh, kita enggak mau kerja!
Oke, baik!
Oke, silakan! Silakan!
Jadi kalau Bapak-ibu sekalian mau berhenti kerja…
…lalu menjadi gelandangan di luar sana, ya, silakan.
Silakan!
Kami bisa merekrut karyawan baru, kok.
Sekarang pilihannya ada dua.
Kalian bubar lalu kembali kerja atau tetap di sini, tapi…
…besok pagi enggak perlu kembali ke pabrik ini.
Kami sudah mencabut status Bapak-ibu sekalian sebagai karyawan.
Sekarang silakan pilih!
Seenaknya sendiri kamu, Tam!
Hei, Teman-teman…
Hei, hei, mau ke mana kalian?
Kita harus semangat hei!
Hei!
Bajingan kamu, Rustam! Anjing!
Tahan dulu, Mas. Bahaya, Mas.
Enggak bisa ini, anjing…
Lihat itu, lihat, lihat. Kita diawasi.
Jangan gegabah.
Ayo, Mas.
Kita tetap demo tapi percaya sama aku.
Kita tunggu Mbak Aca.
Dia punya rencana yang bagus.
Anjing kamu, Rustam.
Tunggu, Rustam!
Sudah, Mas.
Anjing!
Di.
Bangun, Di.
Di, bangun, Di.
Di, Di.
Bangun, Di.
Di.
Di.
Bangun!
Bangun!
Bangun!
- Hei, ayo! - Aduh… aduh…
Iya, Pak!
Hei! Ayo cepat!
Hei!
Jalan, jalan, jalan!
Ayo jalan!
Ayo cepat jalan!
Cepat, cepat hei!
Ayo, ayo, ayo.
Ayo!
Ayo, cepat! Cepat!
Ayo keluar, hei!
Hari ini!
Kalau ada yang coba-coba kabur lagi…
…aku tembak di tempat!
Aku mutilasi!
Ampun, ampun…!
Pak, sudah, Pak!
- Setan! - Jangan, jangan, Pak!
Berani, ya, kamu?
Hei!
Ayo!
Geser!
Cepat-cepat!
Buka!
Cepat, cepat, cepat!
- Hei! - Cepat, cepat, cepat, cepat!
Tutup.
Geser!
Ayo cepat!
Cepat hei!
Kamu malah lama…
Hei, cepat, hei!
Cepat!
Ayo maju!
Ayo, ayo!
Cepat!
Ayo!
Cepat, cepat, cepat!
Ayo cepat!
Cepat!
Naikkan, cepat, cepat!
Bergantian, bergantian, berikan jarak.
- Lama kamu, ya. - Cepat, hei!
Ayo angkat, cepat!
- Lagi! - Ayo cepat!
Ayo, ayo, cepat, cepat.
Dengar, enggak!
Cepat ayo!
Apa yang kamu lakukan?
Maaf, Pak!
Cepat!
Ayo, cepat, cepat!
Ayo!
Itu yang di sana itu, ayo!
Ayo!
- Cepat, cepat! - Ayo!
Ayo! Kenapa diam saja itu!
Ya, ayo cepat, cepat, cepat!
Itu yang di sana itu, apa yang kamu kenapa bengong saja?
- Jalan, jalan! - Cepat ayo!
Hati-hati!
Eh, eh, eh!
Dari mana, Pak?
Biasa, mengantar ransum.
Itu isinya apa, Pak?
Ada apa, Mas!
Lari, Bu!
- Lari! - Ada apa, Mas?
Lari, Bu!
Lari, Bu!
Mas!
Mas, Mas!
Mas!
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Risang Priambodo…
Keperluannya mau apa tadi?
Untuk membuat materi konten…
…wawancara saya dengan Bapak Zaenal.
Pak Zaenal?
Bapak Zaenal.
Ya sudah, kalau begitu saya coba…
- …konfirmasi dulu… - Eh, eh, Mas, Mas.
Eh, Pak.
Jadi seperti ini, ini sebenarnya sifatnya…
…rahasia.
Kalau mau wawancara beliau kita harus riset dulu.
Nah, saya ini mau membuat kejutan untuk beliau.
Ya, kejutan!
Jadi seperti ini, tadi siapa namanya, Mas…?
Lukman.
Lukman.
Bapak proklamator kita…
…ada satu, dua, tiga…
Pasti akan bisa membuat…
…Mas Lukman lebih merdeka, ya…
Ya, sini, Mas.
Nah, pasien di sini itu diklasifikasikan menjadi dua ormas,
gelang biru itu untuk pasien yang membutuhkan tindakan medis,
seperti orang gangguan jiwa sampai…
…pecandu narkoba, Mas.
Nah, sedangkan untuk gelang warna kuning ini,
untuk teman-teman yang membutuhkan pendamping keterampilan.
Ya, teman-teman tunawismalah, antara lain seperti itu.
Kalau gelang warna merah?
Merah?
Mana ada gelang warna merah, di sini itu cuma ada dua warna,
biru dan kuning.
Oh…
Eh, tunggu.
Mas dengar dari siapa kalau di sini ada gelang warna merah?
Enggak, iseng saja, bukannya ada warna merah, kuning…
…biru…
…rasta.
Salah, Mas.
Merah, kuning, hijau.
Iya, sama saja, Pak Lukman.
Oh…
Bercanda kok aku.
Eh, hei, hei! Hei, hei, hei!
Hei, hei! Tempat terlarang! Terlarang! Terlarang!
Enggak boleh!
Ayo, kembali, kembali, kembali.
- Enggak boleh di sini. - Iya, iya, iya, iya.
- Enggak boleh di sini. - Iya, nanti…
Sebentar saja, ini saya mau keluar juga, sebentar.
Ya, enggak bisa!
Enggak bisa!
Enggak boleh di sini, enggak boleh!
Ayo!
Ayo!
- Enggak boleh masuk sembarangan… - Iya, ini…
…kalau tanpa izin dari saya.
Ayo cepat! Sekarang!
Ayo! Ayo!
Aduh!
Mau buang air besar, mau buang air besar!
Mau buang air besar!
Toiletnya di mana, toilet?
Oh, toilet?
Iya!
Toilet!
Kalau toilet di sana.
Di sana?
- Iya, iya! - Iya.
- Eh, eh, eh! - Mas Lukman, tinggal saja, Mas!
Mas, tinggal saja!
Saya sudah selesai, Mas Lukman!
Kok tinggal?
Halo, Mas Risang?
Mas Lukman?
Sudah, ini, saya lagi kebelet sekali, Mas!
Nanti saya langsung ke depan, Mas! Tenang saja!
Tapi benar, ya, saya tunggu di depan, ya!
Oke!
Jangan masuk ruangan yang tadi!
Iya!
Keras kepala.
Bagaimana tadi malam bolanya?
Bagaimana tadi malam bolanya?
MU kalah!
Ya ampun…
Eh, omong-omong, aku lapar ini!
Aku juga sama, ya.
Ayo ke kantin.
Ayo.
Mau ke mana?
Ke kantin, Pak. Mau ikut?
- Ayo. - Ayo, ayo, ayo.
Mas Lukman…
- Ini! - Ayo, dimakan!
- Cepat, cepat! - Ayo, cepat!
Cepat!
Cepat!
Cepat!
Cepat!
Maaf…
Apa?
Hei, hei.
Sudah, sudah, sudah.
Sudah, sudah.
Makan sama aku.
Sudah, sudah.
Duduk, duduk!
Hei, makannya cepat!
Kamu dengarkan aku.
Sini makan sama aku saja. Sudah lapar.
Sudah.
Kamu itu lagi diincar.
Jangan buat ulah.
Daripada mati sia-sia.
Ya?
Sudah, diam saja.
Hei.
Tapi jangan banyak-banyak.
Ya?
Oke, iya, Pak.
Ayo, ayo.
Pekerjaannya kacau.
Ayo!
Hei!
Minggir, minggir, minggir!
Be.
Kemarin kamu kubur si Budi itu di sebelah mana?
Aku taruh di bawah pohon.
Di gundukan paling depan.
Kenapa memangnya?
Gerbangnya terbuka.
Mayatnya juga enggak ada.
Terus siapa yang mengambilnya?
Ya, siapa yang mau mengambil mayat, Bodoh!
Kurang pekerjaan ya, kamu?
Mas Budi hidup lagi.
Anjing, kamu diam saja, bangsat!
Hei, Anjing.
Apa yang baru saja kamu katakan?
Semalam saya lihat dia keluar dari tanah.
Mas Budi hidup lagi, Mas.
Lukanya mengerikan, ya?
Mas.
Kamu kemarin habis digigit sama Budi, bukan?
Bajingan anak ini!
Bentuk lukanya sama, lho.
Be.
Lihat.
Angkat celanamu.
Abe!
Aku bilang angkat celanamu sekarang!
Kamu percaya anak ini?
Kemarin aku pastikan Budi sudah mati!
Buka, Be!
Buka!
Sekarang kamu angkat.
Angkat!
Buka.
Buka!
Persis!
Bajingan kamu!
Kamu yang bajingan!
Hei, hei, hei!
Sudah lepaskan!
Lepaskan!
Tenang!
- Mati kamu! - Sini kamu!
Aku bantai sini!
Sudah, sudah.
- Sudah… - Lepaskan!
Ada apa ini?
Jangan lah.
Jangan dipisah!
Lepaskan!
Untuk hiburan!
Mau apa kamu?
Sini kamu!
Sini!
Bajingan!
Ayo, Be!
Be!
Be! Ayo!
Tonjok mukanya!
Biar mati!
Ayo, lawan aku!
Ini, kamu rasakan ini!
Bodoh sekali.
Kamu sama anak bayi saja kok kalah.
Bodoh!
Sedang apa kalian?
- Hei, ayo kerja! - Kembali kerja!
Kerja! Kerja!
Itu, itu, itu, itu!
- Sudah bawa ke sana. - Iya.
- Ayo. - Tai!
ARSIP KEUANGAN PABRIK
Sudah berapa lama kamu mengurus pabrik?
Tiga tahun, Pa.
Bagaimana?
Kamu senang menjalaninya atau enggak?
Ya, memang sekarang…
Senang… atau enggak?
Senang, Pa…
Begitulah.
Kalau kamu senang menjalaninya…
…masalah apa pun yang terjadi…
…pasti kamu bisa atasi.
Anggap saja pabrik itu medan perang.
Kalah perang…
Mati.
Seperti misalnya…
…kejadian demo buruh pabrik hari ini.
Itu hal yang kecil, bukan?
Harusnya bisa kamu atasi, bukan?
Iya, Pa.
Kamu itu sebentar lagi menggantikan Papa, bukan.
Kalau urusan pabrik saja kamu enggak bisa atasi…
…bagaimana urusan kota ini?
Dan.
Hei, sini.
Ini.
Kamu itu pakai baju berantakan seperti ini sih?
Hei.
Kamu jangan lembek seperti ini lah.
Calon pemimpin itu harus banyak belajar.
Tapi, ya, tenang saja.
Nanti pelan-pelan kamu bisa belajar dari Papa, oke?
Terima kasih, ya, Pa.
Dandy sekarang mau ke pabrik dulu buat mengurus semuanya.
Dandy janji, Pa.
Enggak akan mengecewakan Papa.
Mantap.
Selamat bekerja.
Iya, Pa.
Ya?
Ada apa?
Izin lapor, Pak.
Di pusat rehab…
…ada wartawan yang berusaha menyusup ke area terbatas, Pak.
Oh, ya?
Siapa namanya?
Risang, Pak.
Enggak aktif, May.
Aca benar-benar enggak bisa dihubungi!
Ayo kita ke rumahnya saja sekarang, Mbak.
Mbak Maya!
Mbak!
Tolong, Mbak.
Pak Dandy datang kunjungan…
…nah si Ipung.
Si Ipung malah mau buat rusuh!
Mbak, ayo, Mbak.
Ayo, ayo, Pak!
Jangan mempermainkan kami, Pak.
Bapak ingkar janji!
Mana sisa gaji kita, Pak?!
Bayar sekarang!
Tenang dulu.
Kalian tenang dulu, ya.
Saya mau rapatkan ini bersama…
Alah!
Alasan terus!
Kita malah disuruh kerja lembur, Pak!
Omong kosong!
Bajingan!
Anjing!
Bajingan kamu!
Bajingan!
Berhenti!
Sudah, sudah, sudah!
Sudah! Sudah!
Pak Tata!
Pak Tata!
Anjing!
Saya itu tadi benar-benar ke toilet kok, Mas.
Benar-benar buang air besar saya.
Sumpah!
Sumpah!
Bercanda, Mas.
Ah!
Mas… Seno, ya?
Ajudannya Pak Zaenal?
Ah, iya. Ingat saya.
Sudah riset saya.
Mas Seno ini…
…petarung tunggal.
Risang Priambodo…
Jurusan Ilmu Komunikasi.
Lahir 16 Januari 1993 di Jakarta.
Orang tua meninggal di kerusuhan 98.
Bekerja di 12 media selama 4 tahun.
Dan semuanya dipecat…
…dengan tidak hormat.
Jangan lupa…
Pernah mendapatkan penghargaan karena menangkap…
…bupati yang korupsi.
Ya.
Tapi setelah itu, berkali-kali dilaporkan untuk kasus pemerasan oleh subyek…
…yang seharusnya Mas Risang liputkan.
Wah!
Enggak benar itu, tuduhan!
Saya keberatan.
Mas Risang.
Mas Risang disuruh sama kantor Mas…
…untuk membuat berita yang kami minta.
Hal-hal baik…
…soal Pak Zaenal…
…dan Mas Dandy.
Jadi jangan semaunya.
Mas Seno…
Tapi saya juga ingat kalau…
…saya pernah bilang…
…asalkan semuanya pas, hasilnya pas.
Sebanyak ini sudah pas?
Jangan terburu-buru, Mas Seno.
Ambil.
Ini 'kan yang kamu incar?
Terus pulang ke Jakarta.
Dan buatkan berita yang kami minta.
Tapi saya masih punya…
…satu sesi wawancara eksklusif dengan Pak Zaenal, Mas Seno.
Jadi biarkan saya selesaikan pekerjaan saya dulu, ya.
Ya?
Baik.
Saya ke sana.
Ya.
Tunggu informasi berikutnya dari saya.
Tapi ingat…
…jangan pernah kembali ke sini lagi.
Tidak akan.
Yang kuat, ya, Bu.
Nanti dari kami akan bantu proses pemakamannya, Bu.
Pak Dandy.
Bagaimana tanggapan Bapak tentang korban yang di sini, Pak?
Pak, tolong dijawab, Pak, Pak.
Bagaimana dengan korban yang ada di sini, Pak?
Apakah pabrik ini akan terus berjalan seperti ini, Pak?
Ya…
…keselamatan pekerja adalah bagian dari prioritas kami.
Dan saya sangat prihatin peristiwa ini bisa terjadi.
Oleh karena itu…
…saya akan memberikan kompensasi atas peristiwa yang terjadi.
Dan saya akan menyelesaikan perkara ini secara kekeluargaan.
Kekeluargaan?
Terlambat!
Kalau saja kalian membayar kami tepat waktu…
…enggak akan ada yang mati hari ini!
May, May!
May, May, May, May!
Tenang, May.
Tenang, tenang.
Hei, hei, tenang, May.
Tenang.
May, Maya.
May!
Tenang, May. Banyak wartawan di sini, May.
Kamu bisa viral.
Maya, tenang.
Kendalikan dirimu.
Peristiwa ini terjadi karena ada provokator di dalam pabrik.
Sehingga menyulut kerusuhan…
- …dan pada akhirnya… - May! Maya!
May!
May, Maya!
May, Maya.
Mas, bagaimana, Mas?
May, May, May, May.
Maya!
May, sudah.
May, sudah, May.
Hei!
Hei, hei, hei.
Mas Seno…
Matikan kameranya.
- Rekam saja, rekam! - Matikan, hei!
Matikan, cepat!
Matikan kameranya!
Tenang, tenang!
Calon-calon viral, kamu.
Ada wartawan lagi.
Sepertinya sih akan panjang, ya.
Siap-siap cari pengacara sana.
Pengacara, pengacara…
Uang dari mana untuk pengacara?
Ya, makanya, May.
Aku baru di sini sebentar saja tahu kalau Zaenal dan…
…keluarganya menguasai seluruh Rimbalaya.
Kamu malah melawan anaknya.
Kamu pikir bisa mengalahkan raksasa cuma dengan menonjok saja?
Hah?
Tahu apa sama situasinya?
Tahu apa?
Untuk apa kamu di sini?
Kalau enggak tahu apa-apa, enggak usah ikut campur!
Aku menemukan sesuatu yang menarik.
Gelang merah.
Masih enggak tertarik kamu?
Mayat yang kita lihat di sungai…
…itu pakai gelang merah.
Husein, teman adikmu…
…itu pakai gelang merah.
Dan aku lihat gelang yang sama persis di pusat rehab hari ini.
Dan mereka semua disiksa, May.
Dan enggak boleh ada yang tahu.
Adi…
Dikompres dulu saja tanganmu, May.
Kalian ini mengurus pabrik saja enggak bisa.
Bodoh!
Bodoh!
Bodoh!
Bodoh!
Hei! Jalang!
Ini semua karena kamu mulai berisik.
Aku sampai dibilang enggak becus mengurus pabrik oleh Bapakku!
Bodoh!
Kamu mau katakan apa?
Katakan.
Katakan!
Katakan!
Begitu keluar, aku akan bilang ke semua orang!
Aku bisa menjatuhkanmu…
…bapakmu!
- Semua yang ikut sama kalian…! - Bajingan!
Mati!
Telepon Seno.
Telepon Seno!
Iya.
Terima kasih, ya. Sudah mengantarkanku.
Oke.
Sama-sama.
Sama yang…
…tadi kita bicarakan.
Boleh enggak aku minta tolong buat dicari tahu lagi?
Siapa tahu Adi…
Ohh…
Ya…
Aku memang mau cari tahu lebih dalam, sih.
Karena sudah mulai tercium juga bau amisnya dan…
…semakin tercium bau busuknya, semakin…
…bagus juga untukku.
Ya,
sama nanti kita sekalian bisa sambil mencari Adi…
…semakin bagus, bukan.
Terima kasih, Mas.
Ya.
Oh, sama ini, May.
Aku mau minta tolong satu hal sama kamu.
Tolong sekali jangan…
…gegabah.
Ya?
Ya… soalnya kalau kamu gegabah…
…takutnya aku jadi…
…sulit mengumpulkan bahan buat beritaku begitu.
Aku kira khawatir.
Iyalah!
Iyalah aku khawatir, May.
Khawatirlah pasti, enggak mungkinlah enggak khawatir, aku…
…takut kamu kenapa-kenapa juga.
Nanti enggak ada yang menemaniku…
…berbincang lagi.
Makanya jangan…
…gegabah.
Iya.
Ya sudah, aku…
Aku… pulang, ya.
Ya.
Hati-hati, Mas.
Ya.
Ke jalan besarnya, Mas lurus saja pertigaan terus ke kanan.
Oh, oke.
- Lurus, pertigaan… - Pertigaan ke kanan.
Nanti kalau aku kesasar, aku kembali lagi, ya.
Bercanda, Maya.
Hati-hati, Mas.
Duluan, May.
Saudara Maya.
Silakan ikut kami ke kantor.
Hei!
Masuk kamu, jalan!
Hei!
- Masuk! - Saya salah apa?!
Hei!
Kenapa saya ditangkap, hei?
Saya salah apa?
Kamu itu kena kasus pemukulan, dan juga sebagai dalang keributan di pabrik…
…yang menghilangkan nyawa orang, paham kamu?
Bukan saya!
Petinggi pabrik yang membelokkan fakta, hei!
Pak!
Saya salah apa?
Surat tangkapnya mana?
Pak!
Pekerjaan di belakang bagaimana? Sudah selesai?
Belum, Pak.
Masih lama sepertinya.
Oke, dilanjut.
Sini, ya?
Ayo, ayo, ayo, ayo.
Cepat, cepat, cepat.
Cepat, cepat, cepat.
Hei, hei, hei.
Cepat, cepat, cepat.
Hei, cepat!
Hei, ayo bergegas.
Masuk.
Masuk.
Jangan lamban, cepat!
Ayo, cepat!
Masuk, masuk!
Ayo cepat cepat cepat cepat.
Masuk, masuk, masuk, masuk.
Cepat!
Naikkan semua.
Cepat, cepat, cepat.
Kalau enggak mau, disetrum, setrum!
Setrum!
Setrum.
Setrum.
Ayo cepat.
Tutup, tutup, tutup.
Yang lama-lama ditambah.
Cepat!
Naik!
Hei, bangsat!
Saudara Maya, keluar.
Ada yang mau bertemu.
Masuk, Mbak.
Halo, Mbak Maya.
Silakan masuk.
Bagaimana?
Sudah makan?
Istirahatnya bisa?
Ibu wakil bupati, bukan?
Ada perlu apa sama saya?
Saya senang sekali ada yang mengenali saya.
Saya jarang sekali tersorot kamera.
Dan jarang sekali diwawancara.
Terus?
Hei.
Jagoan kecil akhirnya bangun juga.
Untung kamu itu enggak mati tadi.
Hei.
Abe.
Be!
Sudahlah, Be.
Abe.
Be!
Sudah!
Be?
Abe?
Be?
Be?!
Be!
Tolong!
Tolong! Tolong!
Tolong! Tolong, Pak!
Pak, tolong!
Tolong!
Tolong!
Itu yang di sana, tolong!
Pak!
Pak!
Tolong! Tolong!
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Tolong! Tolong! Hei!
Pak!
Tolong, Pak!
Tolong!
Pak!
Tolong!
Tolong, pak!
Tolong!
Tolong!
- Tolong, tolong! - Hei, hei, hei!
Pak!
Kemarilah!
Tolong! Tolong!
Keluar! Keluar! Keluar!
Tolong! Tolong!
Tolong! Tolong!
Tolong!
Tolong! Tolong! Tolong!
Hei, pada mau ke mana? Mau ke mana? Berhenti!
Berhenti kamu, semua berhenti!
Berhenti!
Be?
Be.
Be.
Kamu kenapa, Be?
Be?
Be, kenapa, Be?
Be?
Be!
Be!
Tati…
Be!
Be!
Ngangkang, Tat…
Enak sekali…
Enak sekali…
Tati!
Tati!
Tati!
Be!
Be!
Bajingan!
Sial!
Tolong!
Pak, tolong, Pak!
Be!
Abe!
Abe!
Be!
Tolong!
- Tolong! - Pak, tolong!
Tolong!
Tolong!
Pak!
Pak!
Lari, Pak!
Lari, lari, Pak!
Lari!
Jo… Jo, bangun, Jo!
Tolong!
Tolong! Tolong!
Hei!
Enggak, Pak, saya enggak lari!
Enggak, Pak!
Mundur!
Enggak, Pak!
Masuk, kalian masuk, hei!
Kalau kamu maju, aku tembak!
Pistolku mana!
Pistolku mana?
Bagaimana ini, Mas!
Zaenal menguasai seluruh sendi kehidupan di Rimbalaya.
SELANJUTNYA
Kita hanya hewan ternak.
Yang sewaktu-waktu bisa dia potong.
Aku enggak mau diam lagi!
Karena kita sudah lama diinjak-injak!
Kita semua di sini enggak akan tinggal diam, May!
Kita satu barisan, May, kita akan lawan, May!
Kalau kita bersatu…
…tidak ada yang tidak mungkin, Mbak Maya.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.