Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
THE ATYPICAL FAMILY
- Ya, kami menuju ke pintu masuk! - Perhatian kepada para pengunjung.
Kami telah memastikan
bahwa alarm barusan berbunyi karena ada kerusakan alat.
Kami mohon maaf atas hal ini.
Apa kekuatanku kembali?
Aku
memegang tangannya?
Aku bisa menyentuh seseorang di masa lalu?
Apa aku bisa menggapai Se-yeon juga?
Kenapa tidak bisa?
Padahal tadi bisa.
Coba lagi.
Atur napas.
Tenangkan hati.
Sekarang, fokus.
Sinar matahari.
Angin.
Pantai.
Berhasil. Aku kembali ke masa lalu.
Do Da-hae?
Apa artinya momen itu menjadi momen yang membahagiakan bagiku?
Ayo kembali ke momen lain,
di mana tidak ada Do Da-hae.
I-na.
Pikirkan I-na.
Bagus!
I-na. Diam sebentar.
Tanganmu.
Selamat, ya.
Apa aku tersenyum saat melihat Do Da-hae?
Aku sungguh begitu?
Aku sungguh tersenyum?
Apa yang terjadi?
Aku yakin ada yang salah.
Kenapa
aku hanya bisa kembali ke momen bersamanya?
Do Da-hae.
Siapa kau sebenarnya?
- Nona Do Da-hae? - Ya.
Dia sedang bekerja sekarang.
Ada masalah apa?
Ada yang mau kupastikan.
Pak Bok.
Ayo kita bicara.
Sekarang? Tapi, aku sedang bekerja...
- Siapa kau sebenarnya? - Apa?
Kenapa cuma kau yang berwarna?
- Apa? - Yang lain abu-abu,
tapi hanya kau yang berwarna jelas.
Dan kau ada setiap aku membuka mata.
Kenapa kau?
Kenapa aku hanya bisa menyentuhmu dan kembali kepadamu?
Ini
ajakan kencan?
Ajakan kencan macam apa ini?
Tunggu.
Kaulah yang harus mengakui sesuatu.
Kau benar-benar mencurigakan.
Jujur saja kepadaku.
Soal apa?
Kau punya kekuatan seperti kami juga?
Kekuatan hipnotis?
Kau menanam apa di kepalaku?
Ini juga cara yang kau pakai untuk memanipulasi ibuku?
Kau keterlaluan, Pak Bok.
Cepat katakan!
Apa yang kau lakukan kepadaku?
Aku tidak melakukan...
Biar Ibu jelaskan
apa yang sedang terjadi sekarang.
Nona Do tidak memanipulasi otakmu.
Itu adalah cinta.
Cinta apanya?
Pindah saja dahulu ke rumah kami.
Dan mulai sekarang, berhenti bekerja di tempat spa ini.
Bu Bok.
Ayo awasi dari dekat
- sebagai tutor I-na. - Apa?
Biar dia membantu I-na mengerjakan tugas sekolahnya
dan memberinya makan.
Setiap hari I-na tidak pernah sarapan
dan selalu makan mi gelas saat larut malam.
Sebenarnya Gwi-ju pria yang baik.
Namun, mungkin tidak terlihat begitu karena punya luka di hatinya.
Aku yakin kau bisa mengenalnya lebih baik jika tinggal bersama.
Kenapa Ibu begitu terobsesi dengan Do Da-hae?
Dia bisa bantu mengembalikan apa yang sudah hilang dari kita.
Ibu yakin kau pun merasakan perubahan.
Apa masih belum ada?
Tidak ada.
Sedikit pun?
Tidak ada sama sekali.
Tapi sepertinya Pak Bok bingung dengan situasi ini.
Ikuti saja kataku.
Keadaannya tidak memungkinkan untuk membuat keputusan yang baik.
Hari Minggu jam 13:00.
Temui dia di air mancur luar mal, tempat kalian bertemu.
Kenapa aku harus bertemu dia?
Apa kau tak penasaran
kenapa Do Da-hae memakai cincin keluarga kita di mimpiku?
Aku yakin kekuatanku kembali karena Do Da-hae.
Apa aku harus mengawasinya dari dekat?
Sepertinya tidak perlu.
Tidak ada gunanya meski kekuatanku kembali.
Momen yang ingin kudatangi kembali
bukan momen membahagiakan.
Momen yang ingin kudatangi kembali...
Masa lalu yang ingin kuubah...
Sungguh?
Ya.
Ya, baiklah.
Baiklah. Sampai jumpa.
Teman-teman.
Aku akan jadi ayah.
- Apa? - Sungguh?
- Syukurlah! - Selamat, ya!
Aku ikut bahagia.
Selamat, ya!
Kami ikut senang!
Cepat pergi ke rumah sakit.
Astaga.
Hei, Anak Baru.
- Aku akan gantikan kau. Cepat pergi. - Kau keren, Pak!
Hentikan.
Namun,
bukankah sifmu baru selesai dan kau mau pulang untuk istirahat?
Kau tidak akan bisa istirahat meski di rumah kalau sudah punya anak.
- Cepat pergi. - Rasakan bagaimana menjadi orang tua.
Aku akan traktir makan kapan-kapan.
Tidak usah.
- Alkohol saja. - Alkohol?
- Aku mencintaimu! - Hubungi aku.
- Traktir daging sapi! - Sampai jumpa!
- Selamat! - Hubungi kami!
Dasar.
Ayo kita bersiap untuk bersiaga.
- Baik, Pak! - Baik!
Kau punya momen bahagia baru
untuk didatangi lagi dan lagi.
Tentu saja.
Aku akan kembali waktu dia membanting pintu ketika remaja,
atau waktu dia meninggalkanku
untuk bermain dengan pacarnya.
Artinya kau akan kembali tiap saat.
- Lihat ayah? - I-na.
Lihat, dia tersenyum.
- Sungguh? - Ya, lihat.
Lihat dia.
Tim Penyelamat! Cepat ke atas!
Tim Pemadam Kebakaran, cepat masuk dan cari sumber apinya!
Banyak korban di SMA Putri Seonjae.
Banyak yang harus diselamatkan! Cepat!
Minta tambahan bantuan!
Banyak korban di SMA Putri Seonjae.
Kami butuh bantuan!
Sekali lagi. Kami butuh bantuan!
Di hari aku menjadi orang tua,
puluhan orang tua kehilangan anaknya.
Dan...
Hormat!
Jalan!
Jangan tinggalkan kami, Sayang!
Bagaimana dengan kami?
Jangan tinggalkan kami.
Kau berjanji akan selalu ada untuk putra kita.
Jangan pergi!
Kau punya momen bahagia baru
untuk didatangi lagi dan lagi.
Tentu saja.
Aku akan kembali waktu dia membanting pintu ketika remaja,
atau waktu dia meninggalkanku untuk bermain dengan pacarnya.
Lihat ayah?
Artinya kau akan kembali tiap saat.
Aku akan terus kembali
meski waktu telah lama berlalu.
Ayah tidak akan melupakan
momen kau datang kepada ayah, I-na.
Itu adalah momen terindah dalam hidup ayah.
Kenapa pintu ini berwarna?
I-na, ayah datang.
Aku bisa menyentuhnya.
Aku bisa memegangnya.
I-na, ayah di sini.
Lihat ayah.
- I-na. - Lihat, dia senyum.
- Sungguh? - Lihat saja.
- Dia tersenyum. - I-na.
Kau senang karena bersama ayah?
Bawa tandunya!
Banyak korban di SMA Putri Seonjae.
Kami butuh bantuan.
Sekali lagi. Kami butuh bantuan.
Senior Jeong?
- Kami sudah siap. - Pak!
- Lantai lima sudah beres. - Satu, dua, tiga.
Mereka terlalu banyak menghirup asap.
Pak, ada seseorang di gudang lantai lima.
Jangan.
Gudang lantai lima?
Tolong.
Jangan masuk.
Hyeong-jin!
Cepat!
- Bisa jalan? - Bawa peralatanmu! Cepat!
Cek situasinya!
Penglihatan kami buram!
Ambil alat hidroliknya!
- Di sini! - Cepat!
Gedungnya bisa roboh lagi!
Sepertinya kita tidak bisa masuk!
Periksa yang terluka!
Tanya keadaan yang ada di dalam!
Tahan ini.
Masih ada anak-anak di dalam!
Kau tidak apa-apa?
Momen itu berbeda.
Aku bisa membuka pintu.
Katamu hanya itu yang bisa kau lakukan?
Mungkin aku hanya belum coba semua.
Pasti ada pintu yang bisa kubuka selain pintu itu.
Pada saat putri kita lahir,
mungkin saja setidaknya ada yang bisa kulakukan.
Cepat keluar!
Cepat keluar!
Cepat keluar!
Bawa peralatanmu! Cepat!
Pasti ada yang bisa kulakukan.
Dan pasti ada yang bisa kusentuh.
Namun, pada akhirnya,
tidak ada yang bisa kulakukan.
Laporan kebakaran masuk.
Laporan kebakaran masuk dari Pasar Dongnam.
Semua unit harap bersiap dan bertindak secepatnya.
Laporan kebakaran masuk.
Laporan kebakaran masuk dari Pasar Dongnam.
Semua unit harap bersiap dan bertindak secepatnya.
Laporan kebakaran masuk.
Laporan kebakaran masuk dari Pasar Dongnam.
Semua unit harap bersiap dan bertindak secepatnya.
Di mana Anak Baru?
Baru saja di sini.
Ke mana lagi bedebah itu pergi?
Kita harus berangkat.
- Ayo. - Baik.
Kau punya momen bahagia baru
untuk didatangi lagi dan lagi.
Tentu saja.
Aku akan kembali waktu dia membanting pintu ketika remaja,
atau waktu dia meninggalkanku untuk bermain dengan pacarnya.
Aku kembali lagi.
Kau mau begini terus?
Kau membahayakan nyawa rekan kerjamu
jika menghilang seenaknya seperti itu!
Maaf, Pak.
Gwi-ju.
Aku tahu kematian Jeong menyiksamu. Tapi sudah saatnya merelakannya.
Namun, momen itu
tidak mau melepaskanku.
Apa?
Aku pun enggan memikirkannya,
tapi aku selalu kembali ke momen itu lagi dan lagi.
Ada anak-anak dalam bahaya,
dan Pak Jeong yang berlari ke dalam api.
Aku harus hidup dengan melalui kejadian itu berulang kali.
Namun, aku tidak bisa melakukan apa pun.
Tidak ada satu pun yang bisa kulakukan.
Aku pun tidak tahu kenapa selalu terbawa lagi.
Entah apa yang momen itu harapkan dariku!
Itu semua membuatku gila.
Istirahatlah sementara dan temui terapis.
Kalau tidak,
carilah pekerjaan lain.
Aku tidak bisa menyelamatkan siapa pun lagi,
baik di masa lalu maupun masa depan.
Ayah.
Ayah pergi ke mana?
Mungkin dia pergi menemui I-na.
Apa ada I-na lain selain aku?
Apa katanya Ayah lebih suka I-na yang lain?
Bukan begitu.
Ayah punya kekuatan istimewa.
Dia ingin memakainya
untuk menolong orang lain.
Seperti pahlawan super?
Ayah pergi menyelamatkan seseorang?
Ya.
Kemarilah, Nak.
Walaupun sudah bertahun-tahun,
aku masih terjebak di momen ini.
Kita tidak bisa masuk!
Periksa yang terluka!
Tanya keadaan yang ada di dalam!
Kita mau pergi ke mana, Bu?
Ke kebun binatang.
Ayo kita bergandengan tangan bertiga sambil makan permen gulali.
Kita harus bertiga.
Jangan menghilang lagi.
Itu tidak bisa kukontrol.
- Kau tahu itu. - Itu karena kau tidak bisa merelakan
orang yang gagal kau selamatkan.
Jika hari ini kau hilang,
aku akan pergi bersama I-na.
Apa?
Kau punya momen bahagia baru
untuk didatangi lagi dan lagi.
Tentu saja.
Momen terbaik dan terburuk dalam hidupku terjadi bersamaan.
Sangat aneh.
Kau pasti akan terus kembali.
Ya, berkali-kali.
Aku akan terus kembali
meski waktu berlalu...
Pasti ada alasan kenapa momen itu berbeda.
Mungkin aku tidak terbawa lagi
jika sudah tahu alasannya.
Sudah tujuh tahun berlalu.
Kau tidak bisa melakukan apa pun,
baik waktu itu maupun sekarang.
Kau yakin punya satu momen bahagia selain yang itu
untuk kembali?
Jika hari ini kau menghilang,
lebih baik tidak usah kembali.
Kembali pun aku tidak ada di sini.
Se-yeon.
Se-yeon!
- Ayah. - I-na.
Ayah ada di sini.
Ibu...
Se-yeon.
Sial. Apa yang terjadi?
Bicaralah, Se-yeon.
Lanjutkan saja terus seperti ini.
Jika dia tidak ingat pernah memegang tanganmu,
artinya dia tidak normal.
Dan Bu Bok dengan mimpinya pun tidak masuk akal.
Baguslah, kalau begitu.
"Keluarga Bok menunjukkan tanda menderita penyakit mental
yang bisa mempengaruhi penilaian dan kemampuan administratif mereka
yang mana berisiko kepada keuangan dengan signifikan."
"Oleh karena itu,
Do Da-hae, selaku istri Bok Gwi-ju dan menantu Bok Man-huem,
akan mengelola aset mereka
sebagai wali resmi mereka."
Gedung seharga 50 miliar won saja masih kurang.
Ayo kita habisi semuanya.
Tidak akan mudah untuk bisa ditunjuk sebagai wali resminya.
Kau harus dapatkan banyak bukti.
Do Da-hae?
Tunggu.
Kenapa kau di sini?
Aku memberanikan diri
karena kau
mengizinkanku memasuki hatimu.
Apa?
Halo.
- Selamat datang. - Apa kabar, Pak?
Ya, kabarku baik.
Selamat datang, Nona Do.
Astaga, kau bawa bunga juga. Terima kasih.
Maaf, Bu.
Namun, bunga ini dari Gwi-ju untukku.
Dariku?
Dari dia?
Dia memang romantis sepertiku.
- Benarkah? - Tidak.
Pasti benar. Akhirnya kau kembali ke dirimu yang dahulu.
Kubilang tidak!
Aku tidak pernah memberinya bunga
atau menyuruhnya tinggal di sini.
Ada apa denganmu?
Kau mabuk?
Mandilah dahulu agar kau sadar.
Ayo bicara denganku.
Dia tetap masuk ke rumah ini.
Padahal sudah kusuruh kabur.
Ada apa denganmu?
Apa-apaan kau?
Kenapa kau berbohong?
Bohong?
Aku memberikanmu bunga ini? Kapan?
Di mana?
Di air mancur.
Kau tidak ingat?
Jangan konyol.
Aku bahkan tidak mendekatimu hari itu!
Apa?
Seingatku, kita sangat dekat hari itu.
Kau bahkan memelukku.
Aku memelukmu?
Aku?
Astaga.
Yang benar saja.
Kau bahkan memelukku dengan amat erat waktu itu.
Kau mau mengelak lagi
seperti mengelak telah memegang tanganku?
Jadi, maksudmu semua perkataanmu jujur
seperti sebelumnya?
Ada apa denganmu?
Kenapa kau tidak mengakui apa yang sudah kau lakukan?
Kenapa kau ingin sekali membuatku terlihat seperti penipu?
Apa...
Tidak mungkin.
Itu aku dari masa depan?
Kupikir Gwi-ju sudah yakin denganku.
Dia hanya malu.
Jangan dipikirkan.
- Ayo makan. - Silakan.
Terima kasih.
Sama-sama.
Aku memasaknya dengan buru-buru.
Semoga rasanya cocok di lidahmu.
Enak sekali.
I-na.
Beri salam kepadanya.
Dia akan tinggal dengan kita sekarang.
Berhenti bermain ponsel terus.
Kacamatamu sudah sangat tebal.
Mau penglihatanmu menjadi lebih buruk lagi?
Kau tidak dengar?
Dia tidak dengar.
Kau tahu I-na agak lambat, 'kan?
Dan dia tidak punya kemampuan istimewa.
Semua orang di keluarga Bok
istimewa dengan cara berbeda.
Dia masih 13 tahun.
Dia hanya butuh orang dewasa untuk mengembangkan potensinya.
Sepertinya aku punya kekuatan super.
Aku tidak terlihat.
Tidak ada yang mengajakku bicara di sekolah.
Kau mendengar semuanya?
Aku berangkat dahulu.
I-na, sarapan dahulu!
I-na!
Menjadi tidak terlihat tidak seburuk itu.
Hei, itu Jun-woo.
Dia tampan seperti biasanya.
Ya, 'kan?
Ya. Dia memang tampan.
Aku bisa melihat apa pun yang mau kulihat
tanpa ketahuan oleh orang lain.
- Tidak ada yang sadar aku di sini... - I-na.
Kenapa kau selalu memperhatikan diam-diam?
Aku tahu kau melihat kami latihan waktu itu.
Itu kau, 'kan?
Apa kau mau ikut klub menari?
Sebenarnya kami butuh anggota untuk melakukan pertunjukan.
Ayo ikut kami.
Hei, aku bicara kepadamu.
Tatap aku.
Rupanya penglihatanmu buruk, ya?
Kacamatamu tebal.
- Boleh kucoba? - Hentikan!
Jangan sentuh kacamataku.
- Aku mau lewat. - Permisi.
Jangan menghalangi. Permisi.
Tolong cek riasannya.
Biar kuperbaiki riasanmu.
Cepat.
Jalan. Bersiap.
Jalan. Bersiap.
Jalan. Bersiap.
Jalan.
Kau baik-baik saja?
Kerja bagus.
- Nanti kutelepon. - Kau keren.
- Kerja bagus, Dong-hee. - Kau keren.
- Sampai jumpa. - Kerja bagus.
- Sampai jumpa. - Kerja bagus.
Terima kasih.
Nona Bok.
Halo, Pak.
Selamat untuk debutmu.
Kau seakan-akan melayang di panggung, bukan hanya berjalan ala model.
Terima kasih.
Kerja bagus.
Aku Bok Dong-hee!
Apa...
Tidak.
Jangan!
Jangan!
Jangan begini.
- Siapa? - Aku makelar properti.
- Aku mau lihat rumah ini. - Apa?
- Silakan masuk. - Tunggu.
Tunggu sebentar.
Rumah ini mau dijual secepatnya. Kau tidak tahu?
Apa? Aku tidak tahu soal itu.
Coba hubungi pemilik rumahnya.
Ini ruang tamu dan dapurnya di sebelah sana.
Ibu!
Apa uang Ibu sudah habis?
Apa maksudmu?
Maaf, tapi aku mau bicara dengan ibuku soal masalah keluarga.
Nona Do juga keluarga kita sekarang.
Aku permisi dahulu.
Tunggu.
Ibu membiarkan dia pindah ke sini begitu saja?
Mereka tinggal bersama?
Dia ke sini untuk mengurus I-na.
Sama saja, Bu!
Keluarga ini sudah hancur.
Lalu, kenapa Ibu menjual apartemenku tanpa bicara apa pun?
Terlebih, harus buru-buru.
Lantas, kau mau membiarkan gedung pusat kebugarannya dilelang?
Apa maksudnya?
Apa keuangan kita sudah separah itu?
Jangan cemas.
Ibu sudah mulai bermimpi lagi.
Ibu bisa langsung tidur begitu disentuh oleh Da-hae.
Tunggu.
Lihat ini.
Ibu mengantuk sekali sekarang.
Uang pun akan mulai bermunculan lagi.
Ibu, bagaimana dengan aset properti kita?
Apa yang terjadi dengan itu semua?
Saham kita juga rugi semua?
Tunggu.
Ibu investasi di kripto?
Pergilah. Ibu mau tidur.
Aku harus pergi ke mana?
Aku nyaris kehilangan rumahku!
Sial!
Ibu?
Ibu tidur?
Apa aku dari masa depan kembali
untuk Do Da-hae?
Aku sudah dapat rekaman suara yang isinya
Bu Bok menyebabkan kerugian finansial bagi keluarga.
Masalahnya,
kerugiannya lebih besar daripada dugaan kita.
Kita harus awasi keluarga supernatural ini.
Jadi, wanita itu bisa mengubahku?
Entahlah. Aku masih tidak memercayainya.
Persetan dengan kekuatan super.
Ayo bergerak cepat.
Makan malam sudah siap.
Makan malam sudah siap.
- Makan dahulu sebelum pergi. - Aku sedang diet.
Apa Anda mau pergi keluar?
Ya.
Aku sedang punya waktu luang.
- Maaf, ya. - Hati-hati di jalan.
Kau sudah pulang?
Ayo makan malam dahulu.
Susah sekali menyuruh I-na makan.
Apa yang I-na suka?
Kau mau mengambil hatinya dengan makanan?
Dia tidak tertarik dengan makanan
dan juga orang lain.
Jadi, pikirmu dia akan suka
makan dengan orang lain?
Duduk bersama di meja makan,
dan berbagi makanan dengan keluarga
sambil bertanya tentang bagaimana hari mereka?
Keluarga kami tidak begitu.
Rupanya kau tidak tahu
makanan apa yang I-na suka.
Astaga.
Kembalikan itu.
Ternyata matamu indah sekali.
Kenapa ditutupi?
Apa matamu bisa mengeluarkan laser?
Itu kekuatan supermu?
Cepat kembalikan.
Kau bukannya tidak terlihat.
Sebaliknya, malah kau yang menganggap orang lain tidak ada.
Tunggu sebentar.
Ikutlah denganku 30 detik saja.
Nanti kukembalikan ini.
Jangan bergerak.
Ayolah. Aku tahu ini tidak sakit.
Ini sudah lebih dari 30 detik.
Baiklah.
Sudah selesai.
Selesai. Lihat dirimu.
Lihat itu. Mana mungkin kau tidak terlihat?
Kau bisa sangat mencolok.
Jangan tutupi matamu lagi.
Mata adalah jendela
untuk melihat hatimu.
Itu alasannya aku menutup mataku.
Aku tidak suka itu.
Ya, wajar saja.
Mengetahui yang orang lain pikirkan memang mengerikan.
Namun, itu akan jadi jauh lebih mengerikan jika terus dihindari.
Setelah diperhatikan, itu bukan apa-apa.
Malah kadang kau bisa menemukan hal yang baik
di dalam mata seseorang.
Sudah kuduga.
Kau memang kuncinya.
Kunci untuk membuka gedung seharga 50 miliar?
Apa
katamu barusan?
Dia cenayang atau apa?
Hei, tunggu sebentar.
I-na, kau memakai riasan?
Tidak.
Bohong. Kau terlihat berbeda.
Baiklah, aku sudah tahu.
Kau merapikan alismu.
Siapa yang merapikannya? Kau sendiri?
Rapi sekali.
Kau terlihat cantik. Biar aku lihat.
Maaf.
Memang lebih baik menjadi tidak terlihat.
Bahaya jika aku mencolok di mata orang lain.
Aku tidak punya kacamata untuk bersembunyi.
Benar.
Kau terlihat berbeda.
Jangan menatapku seperti itu.
Dia cantik.
Namamu Bok I-na, 'kan?
Apa?
Ya.
Kudengar kau ikut klub kami.
Apa?
Ya.
Aku paham kenapa kau sensitif soal kacamatamu.
Kau terlihat kebingungan
tanpa kacamatamu.
Hei, I-na.
Jadi, kau sungguh ikut klub kami?
Keputusan yang bagus.
Apa berat badanku turun karena stres?
Hanya turun sedikit.
Benar.
Turunnya sedikit sekali.
Sepertinya kau amat tertarik dengan berat badanku.
Itulah profesiku.
Bagaimana jika kau berlatih denganku?
Kuberi diskon karena kau keluarga Pak Bok.
Dasar.
Halo, Sayang.
Ayo kita makan makanan lezat malam ini.
- Aku bebas makan hari... - Ada operasi.
Operasi?
Begitu.
Baiklah. Sayang sekali.
Sampai jumpa.
Hei, ini aku.
Ingat soal wanita yang katamu punya banyak koneksi waktu itu?
Bisa bertemu malam ini?
Aku sudah pesan tempat di restoran Prancis di Hotel Emporium.
Tentu saja aku yang traktir.
Apa makanannya enak, Bu?
- Ya. - Makanannya enak, Dong-hee.
Benarkah?
Aku jadi merasa tidak enak.
Sepertinya kami harus mengunjungi klinikmu dengan teman-teman golf kami.
Ide yang bagus.
Harus, ya.
Dokter Jo akan membuat kalian tersenyum tanpa harus mencemaskan keriput.
Apa dia bisa begitu?
- Percayalah. - Baiklah.
Sekarang pun kau sudah cantik.
Ada yang menempel di wajahku.
- Bisa antar mereka dahulu? - Baik.
Bu, aku mau ke toilet dahulu.
Kalian silakan lebih dahulu saja.
Sampai jumpa di klinik.
- Sampai jumpa. - Ya, sampai jumpa.
Ayo kita masuk.
Aku mau berpikir dahulu sebentar.
Kau yang mengajakku.
Kenapa perlu berpikir lagi?
Aku suka wanita yang tidak banyak berpikir.
Apa?
Sebentar.
Apa-apaan dia?
- Kenapa dia pergi begitu saja? - Apa?
Aku sudah mengemas barangmu.
Bawa itu pergi.
Kau akan tinggal di rumah orang tuamu?
Hanya sementara.
Aku butuh dana tunai.
Mumpung sudah begini,
bagaimana jika kita berpisah sementara?
Apa?
Sejujurnya,
aku rindu saat kau ringan.
Ini bukan soal berat badanmu.
Ini tentang hati
dan jiwamu.
Kau tahu aku penggemarmu waktu kau masih model.
Ingat waktu itu?
Tidak ada yang bisa menahanmu di dunia ini.
Bagaimana menjelaskannya, ya?
Aku tahu.
Kau seakan-akan memiliki sayap.
Mungkin saja aku yang membuatmu begini.
Itu menyiksaku.
Rupanya itu caramu untuk bilang bahwa kau ingin putus
karena aku sudah tidak menarik lagi bagimu.
Berputar-putar sekali.
Hei, jangan bilang begitu.
Aku hanya merasa sedih
melihat kau kehilangan dirimu karena berusaha untuk menyokongku.
Aku memberimu kesempatan untuk memperhatikan dirimu.
Ini semua demi kau.
Ayo kita berpisah sementara seperti katamu.
Pergilah dari sini.
Jika mau menyelamatkan sesuatu dari keluargaku,
aku harus segera bergegas.
Makan malam sudah siap.
Ayo kita makan malam, Semuanya.
Untuk apa kau memegang itu?
Kompor bukan perapian.
Kau membuatnya sendiri?
Apa kau takut api?
Aku punya pengalaman buruk
dengan api.
Lalu, kenapa kau malah memasak?
Toh tidak ada yang makan.
Namun, bukankah keluarga
biasanya makan bersama setidaknya sekali dalam sehari?
Tapi mungkin aku salah.
Aku sudah lama tidak punya keluarga.
Mau kumasakkan sup yang baru?
Tidak usah terlalu berusaha keras.
Seperti kataku,
keluarga kami tidak terbiasa duduk berkumpul untuk makan bersama.
Aku yang minta dibuatkan sup.
Maaf, ya.
Supnya gagal hari ini.
Tidak apa-apa. Aku juga suka ini.
Selamat makan.
Selamat makan, I-na.
Aku memberinya bunga?
Maksudku,
aku akan memberikanya bunga?
Bunganya merekah saat aku mendapatkannya.
Jadi, cepat sekali layu.
Mungkin itu alasannya
kenapa orang beli yang belum merekah.
Tapi itu seperti mengorbankan masa kini untuk masa depan.
Aku senang karena kau seakan memberiku
masa kini sebagai hadiah.
Bu Bok berpikir bahwa hanya aku yang menyelamatkanmu.
- Namun, kau juga menyelamatkanku. - Aku?
Kau menerimaku
sebagai keluargamu.
Aku...
Sebenarnya...
Itu gunanya keluarga.
Saling menjaga.
Aku hanya bisa kembali ke momen
bersama Do Da-hae.
Hanya dia
yang bisa melihatku.
Hanya dia yang bisa kusentuh.
Namun,
aku...
Selamat malam. Kau mau beli bunga?
Aku
masih belum siap.
Bunga itu hanya ada sampai hari ini.
Sebentar lagi sudah bukan musimnya.
Aku akan beri diskon.
Jadi, sekarang atau tidak sama sekali?
Harganya 10,000 won saja.
Astaga. Lebih baik aku tak ke sini lagi.
Kukira ini perumahan orang kaya.
Kenapa bayar 10,000 saja sulit?
Jadi, mau beli atau tidak?
Ke mana dia pergi?
Apa?
Ke mana dia?
Apa dia mencurinya?
Mungkin saja Do Da-hae satu-satunya orang
yang bisa menyelamatkan
aku dan I-na.
Namun, hanya ada satu cara bagiku untuk menyelamatkannya.
Aku harus menjauhkannya dariku
sejauh mungkin.
Kau datang.
Tidak akan kuberikan.
Dan aku
tidak akan memeluknya.
Dengar.
Aku tidak bisa menyelamatkan...
Kepalaku sakit sekali.
Anda sakit kepala?
- Mau minum segelas teh? - Ya, boleh.
Ke mana suamiku?
Dia pergi ke luar.
Aku juga mau teh.
Halo.
Aku tinggal di sini mulai hari ini.
Entah kau suka atau tidak.
Tentu saja aku suka. Selamat datang kembali.
Aku akan buatkan teh. Tunggu, ya.
Aku minum yang ini saja.
Itu untuk ibumu!
Apa kau memasukkan sesuatu ke dalamnya?
Apa?
Aku penasaran bagaimana kau bisa membuat ibuku tertidur.
Rupanya pakai obat tidur?
Ibuku pasti marah besar jika dia tahu.
Aku
hanya mau memberimu teh baru yang hangat.
Rupanya begitu.
Sebentar, kuambil alasnya.
Ini.
Jangan tidur.
Jangan sampai tertidur.
Apa ada yang mahal di sini?
Barang berharga yang mahal.
Di mana, ya?
Nona Bok Dong-hee, kau telah mengambil aset keluarga
tanpa sepengetahuan ibu dan adikmu yang sakit mental.
Jadi, maaf, tapi kau harus dianulir sebagai wali resmi mereka.
Tidak ada apa pun.
Di sini tidak ada.
Di sini juga tidak ada.
Siapa itu?
Siapa di sana?
Dia hantu.
Rumah ini angker.
Kau tidak apa-apa?
Begini...
Ada apa?
Tunggu.
Biar aku...
Permisi sebentar.
THE ATYPICAL FAMILY
Satu di antara dua hal terjadi jika orang lain mengetahui kekuatan kita.
Antara mereka akan kabur atau memanfaatkan kita.
Aku akan perlihatkan secara perlahan
aku orang seperti apa.
Perlihatkan sampai detail, ya.
Apa karena ini Jun-woo menyukaimu?
Kau yang pertama bagiku.
Tahu perkataan apa yang paling kubenci?
Sebuah mimpi yang mengerikan.
Harus ada cinta dahulu
untuk mencapai masa depan
seperti yang kau bicarakan.
Terjemahan subtitle oleh Deaz Putri
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.