Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
UNTUK ORANG TUA KAMI TERCINTA SRI HIROO & SMT. VINITA BHARWANI
SUBTITLE BY NETFLIX (Ripped By *Coffee_Prison)
Buya.
Buya Hamka.
Astaghfirullah.
Istri Buya datang menjenguk.
Ummi.
Ummi, Ayah datang.
Masya Allah.
Ummi…
Datang juga Ummi akhirnya.
Maaf Ummi lama, Engku.
Ummi sehat?
Alhamdulillah.
Alhamdulilah.
- Ayah. - Zaki.
Ayah.
Ayah.
Ambil kertas di belakang pinggang ayah.
Rus.
- Sehat, Ayah? - Alhamdulillah.
Ini Engku. Saya masakkan gulai kepala kakap.
- Masya Allah. - Untuk Engku.
Begitulah air mata.
Tiadalah ia memilih tempat untuk jatuh.
Tidak pula ia memilih waktu untuk turun.
Sudah cukup garamnya?
Nanti keasinan kalau ditambah air mata Engku.
Air mata terasa asin.
Sebab air mata adalah garam kehidupan.
Tanpa air mata…
hidup hambar adanya.
Dimakan, Engku Haji.
Garamnya itu berasal dari keringat Ummi ketika memasak.
Ayah.
Astaghfirullah.
Ayo kita makan.
Bismillah.
- Terima kasih, Ummi. - Sama-sama, Engku.
Engku Haji ini jika sudah mengetik…
seperti kemasukan jin rupanya.
Tidak tersenyum,
kening pun berkerut delapan.
Belum selesai juga laporan kongresnya, Engku?
Bertemu dengan para ulama itu…
membuatku gelisah, Ummi.
Kenapa begitu, Engku?
Orang-orang itu…
banyak yang tak sadar perubahan zaman.
Ada orang…
yang menolak menambah ilmu.
Ada juga yang mencoba menghambat kemajuan…
dengan menganggap itu kafir.
Sedikit-sedikit, haram dibilangnya.
Sedikit-sedikit kafir dibilangnya.
Bagaimana mungkin kita bisa menyampaikan akidah tauhid
kalau kita sendiri bodoh?
Puas dengan pikiran sendiri.
Bukankah…
tidak berguna jika kita menuntut orang lain untuk berubah, Engku?
Lalu…
apa yang harus kulakukan, Ummi?
Jadikanlah diri Engku contoh bagi mereka.
Sebagaimana aku mencontoh perilaku Engku.
Berjuang setiap harinya
menegakkan jiwa tauhid yang sebenarnya.
Astaghfirullah.
Tokoh Hayati yang ada dalam romanku yang sedang kutulis…
berwajahkan seperti kau, Ummi.
Senantiasa cantik…
di kala tersentuh remang cahaya lampu.
Kalau sudah selesai naskahnya,
aku ingin Ummi yang pertama membacanya.
Apakah cukup romantis…
kisah cinta tokoh-tokohnya?
Tidak perlu, Engku.
Mana tahu Ummi soal romantis-romantisan seperti itu.
Engkulah ahlinya.
Kini giliran Engku yang sembahyang.
Khusyuk sekali Ummi berdoa tadi.
Aku berdoa…
supaya kita diberi rezeki…
untuk membeli sajadah.
Supaya kita…
bisa salat berjamaah bersama-sama.
Ummi yang jauh lebih romantis dari aku.
Setelah kongres Muhammadiyah lalu…
Muhammadiyah Makassar mengalami perkembangan yang sangat besar.
Kini kita ada empat cabang dan 39 grup.
Dalam dunia pendidikan…
kita juga mengalami kemajuan yang sangat luar biasa.
Kini…
sudah berdiri 103 Volkschool,
47 Standardschool,
69 Hollands Inlandse School,
dan 25 Schakelschool.
Dengan demikian,
perlu lagi kita tingkatkan kesadaran
bahwa pentingnya menuntut ilmu secara berkesinambungan dalam masyarakat kita.
Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap muslim dan muslimah.
Mulai dari ayunan sampai liang lahat.
Assalamu'alaikum.
Wa'alaikumsalam.
Assalamu'alaikum.
Wa'alaikumsalam.
- Assalamu'alaikum. - Wa'alaikumsalam.
Permisi, Pak Ustaz.
Ada yang bisa saya bantu, Tuan?
Pak Ustaz,
kenalkan ini anak perempuanku,
Ola namanya.
Begini Pak Ustaz,
kalau bersedia ini…
anak perempuanku ini,
saya mau titip…
ke Pak Ustaz.
Dititipkan bagaimana maksudnya?
Anak perempuanku ini…
sudah siap…
jadi istri kedua Pak Ustaz.
Sebentar dulu.
Di mana saya letakkan tas saya tadi?
Astaghfirullahaladzim.
Mungkin masih di ruangan saya.
Tak apa, permisi dulu.
Mau ke mana Ustaz? Kenapa buru-buru?
Keluar, Pak Baharudin.
Tolong simpankan tas saya. Ada di bawah kolong meja rapat.
Nanti akan saya ambil.
- Ya. Baik, Pak Ustaz. - Terima kasih.
- Alhamdulilah. - Pak Ustaz!
Onde-mande.
Astaghfirullah.
Ini tasnya Pak Ustaz.
Masya Allah.
Ada di mana ini, Ola?
Tadi di bawah meja.
Sampai lupa saya, terima kasih.
Burukkah rupa saya, Pak Ustaz?
Buruk?
Tidak.
Tidak sama sekali.
Sama sekali tidak.
Lalu kenapa tidak mau sama saya, Pak Ustaz?
Saya kira dalam surat An-nisa,
dibolehkan laki-laki menikah lebih dari satu?
Sampai tiga, atau empat.
Tapi, ada ayat selanjutnya, Ola.
"Jika kamu takut tidak dapat berlaku adil,
maka kawinilah seorang saja."
Sadarilah, Ola…
tidak mudah seorang manusia…
berlaku adil terhadap banyak perempuan.
Saya yakin,
Pak Ustaz bisa berlaku adil.
Astaghfirullah.
Hanya Allah yang maha adil, Ola.
Saya hanya manusia biasa.
Tidak ada satu pun yang dapat menjamin saya dapat berlaku adil selamanya.
Nak Ola juga harus tahu…
jika seorang suami…
berlaku tidak adil terhadap istrinya,
akan menimbulkan bekas yang tidak baik pada anak-anaknya…
terhadap ayahnya.
Saya mengerti sekali, Ola.
Ini semua…
keinginan orang tua Ola, bukan?
Ola tidak usah khawatir.
Nanti saya bicara pada orang tua Ola,
termasuk pada lelaki lain soal hal ini.
- Terima kasih, Pak Ustaz. - Sama-sama.
Kalau begitu,
saya permisi dulu.
- Assalamu'alaikum. - Wa'alaikumsalam.
Ini, Engku.
Orang lama bermain lidi.
Lidi dibagi jadi delapan.
Kopi datang penyejuk hati.
Pahit di sini, manis di sana.
Terima kasih, Ummi.
Bismilah.
Ummi.
Naskah roman aku hampir selesai.
Sudah ditetapkan judulnya?
Di Bawah Lindungan Ka'bah.
Masya Allah.
Lihatlah, Ummi.
Apa…
Engku tidak berpikir untuk balik ke Medan?
Aku masih diperlukan di sini, Ummi.
Kenapa Engku tidak pernah cerita?
Kalau Engku mendapatkan tawaran
menjadi pemimpin di majalah Pedoman Masyarakat?
Majalah Pedoman Masyarakat itu…
masih seumur jagung, Ummi.
Belum sanggup menyediakan tempat untuk keluarga kita.
Seperti di sini.
Organisasi Muhammadiyah di sini sudah bisa mandiri.
Untuk apa pula Engku Haji berlama-lama di sini?
Ayah.
Hisyam tidak bisa tidur.
Kenapa, Hisyam?
Mimpi, Hisyam, Nak?
Tidak apa-apa, Nak.
Ada Ummi dan Ayah di sini.
Tidur ya, Nak?
Nanti tidur sama Ayah ya, Nak?
Bismilah.
Aku tidak bisa.
Tidak bisa berpisah dari Ummi dan anak-anak.
Iya, aku mengerti.
Tapi majalah Pedoman Masyarakat…
bisa menjadi ladang ibadah Engku yang baru.
Engku bisa menyebarkan akidah tauhid yang bertuah.
Bagi umat serta pemuka agama lainnya.
Tapi, bagaimana dengan kalian?
Allah akan menunjukkan jalannya pada Engku.
Engku tidak perlu khawatir.
Selama Engku Haji di Medan,
aku dengan anak-anak tinggal di Padang Panjang.
- Terima kasih. - Permisi.
Ini ada tanda terima kasih dari kami semua.
Karena kedatangan Pak Ustaz telah bantu memajukan Muhammadiyah di Makassar.
Mohon diterima, Pak Ustaz.
Masya Allah.
Luar biasa sekali ini.
Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.
- Saya pamit. - Hati-hati, Pak Ustaz.
- Assalamu'alaikum warahmatullah. - Wa'alaikumsalam warahmatullah.
Mari, Ibu.
Pak Ustaz!
Ya, Ibu?
- Saya bawa sesuatu, Pak Ustaz. - Apa ini?
Ini ada bekal untuk di kapal.
Alhamdulilah. Semoga Allah membalas dengan kebaikan.
Ini istri saya, Bu, Raham.
- Assalamu'alaikum. - Wa'alaikumsalam.
Mau bilang terima kasih.
Berkat bimbingan Pak Ustaz,
bapaknya Ola mau mengerti.
Ola diizinkan untuk melanjutkan sekolahnya di Muhammadiyah.
Alhamdulilah.
- Saya mau jadi guru, Pak Ustaz. - Bagus itu!
Subhanallah.
Kalau begitu,
kami pamit dulu.
- Assalamu'alaikum. - Wa'alaikumsalam.
Permisi. Assalamu'alaikum.
Sudah cantik, guru pula.
Punya istri guru itu banyak manfaatnya.
Bisa mendidik anak-anak dengan tepat, Pak Ustaz.
Benar sekali, Ummi.
Makanya,
untuk aku, cukuplah Ummi seorang.
Ummi itu ibu yang baik.
Sekaligus guru yang tepat buat anak-anak.
Bismilah.
Ayah, Hisyam takut naik kapal, Ayah.
Tidak perlu Hisyam takut.
Ada Ummi dan Ayah yang menjaga kalian.
Koran ini harus bisa menjadi corong kebenaran bagi rakyat.
Melalui Pedoman Masyarakat ini…
kita suarakan pemikiran modern.
Yang berlandaskan budaya…
keislaman yang kuat.
Tidak ada Melayu tanpa Islam.
Melayu tanpa Islam, hilang "Me" -nya.
Menjadi layu dia.
Minangkabau tanpa Islam,
Hilang "Minang" -nya,
tinggallah kabau.
Jadi kerbau dia.
Jika kita bekerja dengan semangat tauhid,
insya Allah,
Pedoman Masyarakat ini akan menjadi acuan
dan pedoman hidup yang sesungguhnya dalam masyarakat.
Untuk berperilaku benar secara Islam dalam hidup.
Jika hidup sekadar hidup,
babi di hutan juga hidup.
Jika bekerja sekadar bekerja…
kera juga bekerja.
PADANG PANJANG SUMATRA BARAT
"Untuk Ummi tercinta,
darimulah kisah-kisah indah ini mengalir."
"Terimalah hadiah ini…
sebagai janji Ayah kepada Ummi."
"Salam rindu untuk anak-anak."
"Semoga Ummi dan anak-anak…
selalu dalam lindungan Allah subhanahu wa ta'ala."
- Ummi. - Ya, Nak?
Ayah di mana, Ummi?
Ayah sedang bekerja, Nak.
Hisyam istirahat, ya.
Besok kita pergi ke Pak Mantri.
Insya Allah, Hisyam cepat sembuh.
Sabar, ya, Nak.
Laa ilaaha illallah…
Laa ilaaha illallah…
Muhammadur Rasulullah.
Muhammadur Rasulullah.
La ilaaha illallah…
Hisyam.
Hisyam!
Hisyam!
Hisyam!
Inna lillaahi wa inna ilaihi raajiuun.
Hisyam!
"Isi majalah Anda jadi perbincangan hangat para tokoh Islam di pulau Jawa."
Alhamdulillahi rabbil alamin.
Terima kasih.
Ada yang lain?
Buya, ada telegram dari istri Buya.
Terima kasih.
Innalillahi wainailaihi rojiun.
Kenapa, Buya?
Kami sudah menyiapkan delman untuk Buya pulang…
Tidak perlu.
- Saya tidak pulang. - Kenapa, Buya?
Hari ini jadwalnya cetak.
Saya harus mengawasi sampai pagi.
Tapi, Buya…
Saya pulang sekarang pun…
jenazah anak saya pasti sudah dimakamkan.
Kalian selesaikan saja…
tulisan-tulisan yang harus diselesaikan hari ini.
Karena saya harus memeriksa lagi tata letak kolom-kolomnya.
Allahu Akbar.
Berhenti di sini.
Terima kasih.
Assalamu'alaikum.
Wa'alaikumsalam.
Ummi.
Maaf.
Aku tidak bisa pulang.
Hisyam mengerti…
apa yang diperjuangkan ayahnya di Medan.
Semua…
sudah kehendak Allah.
Allah sangat cinta dengan anak kita.
Cinta dengan Hisyam.
Ummi! Ayah!
Zaki…
Kemarilah, Nak.
Ketakutan mulai melanda pihak Belanda.
Kita mendengar Sutan Sjahrir dan Mohammad Hatta
dipindahkan dari kamp tahanan politik Boven Digul, Papua
ke Banda Neira.
Kemudian, Soekarno pun dipindahkan dari Flores ke Bengkulu.
Ambil semua peralatan dan berkas-berkas
yang dapat menghasut mayarakat!
Sekali lagi kau bikin berita menghasut,
kami akan tutup kantor ini.
Cukup, kami tutup tempat ini selamanya!
Kita ucapkan selamat…
atas perpindahan para pemimpin pergerakan bangsa.
Tokoh Nasionalis…
yang tak akan pernah menyerah
menyuarakan kemerdekaan tanah air Indonesia.
Selamat, Buya.
Koran kita sudah laku terjual…
hingga lima ribu eksemplar sampai hari ini.
Nomor satu terbesar di Hindia Belanda, Buya.
Alhamdulilah.
Salah satu pekerjaan terkejam dalam hidup…
ialah membiarkan pemikiran yang cemerlang…
menjadi budak bagi tubuh yang malas.
Yang mendahulukan istirahat sebelum lelah.
Selamat pula untuk kalian.
Kalian telah bekerja keras.
Terima kasih, Buya.
Sudah.
Ingat, jangan terlena.
Perjuangan kita belum selesai.
Saudara sekalian, pengurus Muhammadiyah Sumatera Timur
yang dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala.
Bertambah luas akal,
bertambah luaslah hidup.
Bertambah datanglah bahagia.
Mengapa?
Sebab, orang yang berakal,
dia akan cenderung mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Sehingga mereka bisa melihat keindahan
dan kerumitan ciptaan Allah subhanahu wa ta'ala.
Sehingga dia tunduk atas segala kehendak Allah SWT.
Iman…
akan menjadikan orang yang berakal…
menjauhkan diri dari segala bentuk kejahatan.
Seperti munafik, dendam, zalim
khianat, dusta, rakus dan sebagainya.
Untuk hal iman dan amal,
orang-orang yang berakal…
cenderung hidupnya akan lebih cemerlang.
Dalam Islam…
kebodohan…
adalah perbudakan yang lebih kejam…
dari segala macam perbudakan!
Jangan lupa rencana pertemuan kita berikutnya.
Assalamu'alaikum.
Wa'alaikumsalam.
Malik.
Kang Karta?
Masya Allah.
- Malik. - Masya Allah, Kang Karta.
Saya harus panggil kamu Buya Hamka.
Ayo masuk, masuklah… Masuk.
Di sini sajalah biar lebih sejuk.
Ayo.
- Sehat? - Alhamdulillah.
Alhamdulilah, bertemu juga dengan Buya.
- Sudah menikah? - Alhamdulilah, sudah.
Buya sendiri anaknya berapa?
Empat Allah titipkan anak untuk saya.
Alhamdulilah.
Masya Allah.
Lebih dari 10 tahun kita tidak bertemu, Kang.
Ya.
Waktu terasa bagaikan petir.
Padahal rasanya baru kemarin kita berada di kapal,
terombang-ambing, bersenang-senang.
Ya.
Sekarang saya menyaksikan
Buya menjadi pemimpin besar Muhammadiyah di Sumatra Timur.
Dan sekarang saya dengar
Kang Karta pun aktif sebagai pengurus di Muhammadiyah Jawa Barat?
Tidak enak saya jadinya.
Memakai jas pula sekarang? Subhanallah.
Tidak takut dikira kafir?
Tidak, buat apa takut?
Saya terpengaruh dengan tulisan Buya di Pedoman Masyarakat.
Tak usah mengharamkan apa yang seharusnya tidak haram, betul tidak?
Insya Allah.
Yang penting saya istiqomah, Buya. Doakan.
Itu Haji Sukarta.
Buya,
selain saya datang ke kongres,
saya ingin menyampaikan sesuatu, tentang Kulsum.
- Kulsum? - Ya, masih ingat?
Gadis cantik berselendang merah…
yang berada di atas kapal yang berlayar menuju senja.
Dia sudah tiada.
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
Tidak tahan dengan perlakuan suaminya
yang selalu menikah dengan perempuan lain.
Dia bunuh diri.
Malang benar nasibnya.
Seandainya saja, waktu itu dia…
Tidak ada yang seandainya, Kang Karta.
Allah SWT telah memilihkan jalan terbaik buat kita semua.
Tidak ada seandainya.
Ya.
Astaghfirullah.
Bismillah.
"Hidupku hanya buat seorang, Hayati!"
"Aku pun, Zain!"
"Beberapa menit kemudian,
dibuka matanya kembali.
Diisyaratkannya pula supaya Zainudin mendekatinya.
Setelah dekat…
dibisikkannya…
'Bacakan…
dua kalimat suci…
di telingaku.'"
Ya Allah.
"Tiga kali Zainudin membacakan kalimat syahadat itu.
Diturutkannya yang mula-mula itu dengan lidahnya
yang kedua dengan isyarat matanya,
dan yang ketiga…"
Hayati…
Dia sudah tidak ada lagi.
Hayati!
Ummi.
Terima kasih.
Terima kasih, ya Allah.
Subhanallah.
Semuanya.
Bacalah buku-buku karangan si Malik ini,
biar tambah pengetahuan kalian
tentang Islam dan budaya Minang.
- Terima kasih, Paman. - Tentang apa ini?
Ini Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, bagus sekali.
- Coba lihat. - Ini!
Terima kasih, Ummi.
Sama-sama, Engku.
Roman apa lagi yang ditulis, Kiai Genit?
Seandainya…
ada yang berkata,
Ketua Muhammadiyah Sumatera Timur menulis…
kisah cinta yang membuat ibu-ibu menangis.
Serta membuat para gadis…
sibuk melamun
sambil berharap Zainuddin datang dalam hidup mereka.
Apa yang Ummi jawab ke orang-orang
yang mengejek saya seperti itu?
Untuk apa dijawab?
Orang-orang yang menghina itu
pasti tak membaca sampai habis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
Mereka hanya bisa menghakimi
tanpa mempelajari secara benar.
Kalau ternyata orang itu telah membaca…
tapi masih juga mengira aku itu…
Kiai yang tidak benar.
Kiai genit, Kiai cabul.
Bagaimana itu?
Saya akan berkata…
bahwa bahasa dakwah…
tidak selalu harus disampaikan melalui ceramah atau pidato…
di surau atau masjid.
Melalui roman yang indah memikat hati,
dakwah pasti akan jauh lebih mengena.
Masya Allah.
Bismillah.
Jadi,
kini roman apa yang Engku tulis?
Untuk yang ini…
bukan roman, Ummi.
Tapi, tafsir agama.
Perkara tasawuf.
Masya Allah.
Banyak dari kaum sufi…
yang salah paham.
Orang itu mengartikan tasawuf…
sebagai usaha untuk menjauhkan diri dari dunia.
Orang-orang itu melarang kehidupan dunia dan memiliki harta.
Sedangkan Allah…
tidak melarangnya.
Jika dikerjakan…
dengan halal.
Jadi,
semangat Islam yang sejati…
adalah semangat berkorban.
Semangat berjuang juga bekerja.
Bertambah banyak musuh Engku nanti.
Biasa, Ummi.
Suatu saat nanti orang-orang itu akan sadar juga.
Bahwa mereka memusuhi orang yang salah.
Betul.
Doakan saja, Ummi.
Agar aku menyelesaikan kitab tasawuf ini.
Insya Allah
Insya Allah
Engku Haji.
Aku rasa…
Engku Haji harus menemui Haji Rasul.
Tidak ada salahnya menimba ilmu kembali ke beliau yang paham betul.
Apa yang Engku sampaikan ke pembaca.
Ya.
Assalamu'alaikum, Ayah.
Wa'alaikumsalam.
Bujang jauh.
Belajar apa kau di sana?
Secepat ini kembali pulang.
Sudah cukup, Ayah.
Saya berniat…
mengajar di sini.
- Mau mengajar di sini? - Ya, Ayah.
Sudah punya ijazah?
Belum punya.
- Assalamu'alaikum, Ayah. - Wa'alaikumsalam.
Malik?
Apa kabar, Ayah? Sehat?
Duduk, Malik.
Apa kabar?
Alhamdulillah, baik sekali.
Raham dan anak-anak kirim salam untuk Ayah.
Wa'alaikumsalam.
Untuk apa kau datang ke sini?
Ayah baik-baik saja.
Kalau sakit, baru Ayah kasih tahu kau.
Tidak perlu buang-buang waktu habis di jalan.
Meninggalkan segala sesuatu yang lebih perlu.
Maksud saya ke sini…
tidak kalah pentingnya, Ayah.
Apa?
Ada hal yang perlu saya pelajari dari Ayah.
Belajar apa?
Tidak perlu lagi belajar, ilmu kau sudah cukup kurasa.
Bukankah Ayah yang selalu mengatakan…
Kalau suatu saat kita merasa cukup…
Itulah alamat akan berhenti.
Jadi, begini, Ayah…
Saya…
ingin belajar ilmu Fiqih dan Mantiq…
secara lebih dalam ke Ayah.
Kau sungguh-sungguh, Malik?
Kalau begitu…
di dalam lemari ada kitab Fiqih Islam Al-Ghazali.
Al-mushtashfa Fi'ilm Al-Ushul.
Kita ambil bersama.
Alhamdulillah. Baik, Ayah.
Untuk Ibu.
Masya Allah.
Tapi, tidak seberapa itu.
Alhamdulillah. Terima kasih, Nak.
Sudah kau temui ayahmu?
Apakah sehat dia?
Alhamdulillah sehat.
Tapi…
lebih cepat lelah sekarang.
Tidak seperti dulu.
Sehebat apa pun manusia…
akhirnya menyerah juga pada usia, Malik.
Semakin tua, semakin renta.
Segalanya.
Raham dan anak-anak…
kirim salam untuk Ummi.
Wa'alaikumsalam.
Salam kembali.
- Bagus sekali. - Alhamdulilah.
Dingin, Ayah.
Jendela terbuka di waktu Subuh,
itu artinya terbuka juga pintu rezeki hari ini.
Ayo, bangun semua.
Cuci muka kalian.
Kita salat Subuh sama-sama.
Azizah. Ayo, Zaki, Rusdi.
Ayo.
Bismillah.
Kenapa kamu, Rus?
Rusdi sakit, Ayah.
Kamu sakit?
Iya, Ayah. Panas badan Rusdi.
Panas badan Rusdi ini?
Sama panasnya dengan hidung kucing.
Biar cepat hilang panasnya.
Bangun, Nak.
Ambil wudu sekarang.
Air wudu bisa langsung meghilangkan panas badan Rusdi.
- Ayo, bangun. - Ayo. Bismillah.
Itu baru anak Ayah.
Haduh.
Sudah lusuh kain sarungnya Ummi?
Ya, memang lusuh kainnya,
tapi maknanya lebih dari emas.
Zaki? Nak?
Sami' Allah huliman hamidah.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
- Tidak pergi ke kantor, Engku? - Ya, Ummi.
Sudah pukul berapa sekarang?
Sebentar,
terlintas ide di kepalaku untuk bahan tulisanku berikutnya Ummi.
Kalau aku pergi, nanti dia menghilang.
Tapi, bukannya Engku Haji sudah bilang,
pagi ini akan bertemu kapten Belanda.
Untuk mempertanggung jawabkan tulisan Engku tentang Soekarno.
Terkadang mereka itu sebenarnya kurang kerjaan saja Ummi.
Nanti ujung-ujungnya,
minta porsi berita lebih besar.
Tentang pembangunan jalan, jembatan.
Ya sudah.
Aku pergi dulu.
Hati-hati, Engku.
Masya Allah.
Hati-hati, Engku.
- Assalamu'alaikum. - Wa'alaikumsalam.
Ummi.
Ya, Engku?
Ada apa, Engku?
Ada surat dari Haji Abdul Karim.
Konsul Muhammadiyah di Bengkulu.
Dia mengundangku untuk datang
bertemu Soekarno di tempat pengasingannya, Ummi.
Ya, sering kali saya membaca hasil pemikiran Tuan…
dari majalah-majalah yang dikirim Tuan Tjeng Hin kepada saya.
- Tuan Tjeng Hin? - Ya.
Itulah nama asli saya
sebelum jadi mualaf.
Dan kemudian menjadi Haji Abdul Karim.
Masya Allah.
Kalau begitu, kita perlu berbincang sekali-sekali.
Ingin sekali saya menulis kisah seorang mualaf…
seperti Tuan.
Seorang penulis hebat, aktif di Muhammadiyah,
Tokoh pergerakan pula.
Tapi…
Tetap harus ada bumbu kisah cinta tentunya.
Asal jangan pula kau buat mati tokohnya.
Tetapi bagaimana, Bung,
memang melodrama seperti itu yang disukai oleh pembaca.
Tuan Hamka ini bukan hanya ahli dalam menulis artikel
dia juga ahli dalam menulis roman, Bung!
Sayang sekali.
Saya belum sempat membaca buku-buku roman karya Tuan.
Karena di sini…
sangat sulit sekali untuk mendapatkan buku-buku.
Kalau begitu…
nanti akan saya kirimkan.
- Insya Allah. - Terima kasih.
Suatu kebanggaan,
karya saya dibaca oleh tokoh pergerakan terkenal…
seperti Bung Karno.
Terima kasih.
Harus saya akui.
Orang-orang Minang…
memang hebat-hebat.
Dan suatu hari nanti…
saya membutuhkan bantuan tuan…
untuk memperjuangkan bangsa ini.
Politikus dan sastrawan…
sejatinya senantiasa berdampingan.
Memang politikus yang membuat struktur negara.
Tapi penulislah
yang mengisinya dengan keindahan.
Dengan perasaan.
Dan juga dengan gagasan.
Betul sekali, Tuan Hamka.
Dan saya harapkan
suatu hari nanti…
Tuan Hamka menjadi seorang pujangga besar.
Sebagaimana India
memiliki Rabindranath Tagore.
Terima kasih, Bung.
Sejak awal mendapatkan undangan ke sini,
saya sudah menetapkan diri saya…
bahwa saya akan bersama Bung berjuang.
Terima kasih, Tuan Hamka.
Mulai hari ini…
Tuan bukan hanya rekan seperjuangan.
Tapi saudara bagi saya.
Ayah tuan…
Haji Abdul Karim Amrullah,
sudah lama telah menjadi guru saya.
Dan sudah seperti ayah bagi saya.
Terima kasih.
- Mari. Silakan. - Ayo.
Tuan.
Mana Tuan Hamka?
Sedang mencoba jas barunya.
- Semoga pas di badannya. - Pasti pas.
- Bagaimana? - Pas.
Saudaraku, kau gagah sekali.
Terima kasih.
Mari. Tuan sebaiknya duduk di kursi saja.
Biar saya dan Tuan Hamka berdiri di belakang Anda.
Siap?
Pak?
Satu. Dua. Tiga!
Pada tanggal 8 Maret, telah terjadi upacara serah terima kekuasaan
antara tentara Jepang dan Belanda di Kalijati.
Tentara Jepang menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia,
Indonesia Shorai Dokuristu.
Bertukar beruk dengan monyet.
Jepang…
ataupun Belanda…
sama saja!
Keduanya cuma akan mengeruk keuntungan dari negeri kita!
Tentara Jepang sudah tiba dari Belawan.
Pasukan Belanda sudah ditarik semua dari tanah Sumatra!
Astaghfirullahaladzim.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Tidak ada perjuangan yang sia-sia.
Terima kasih atas pengabdian kalian semua.
Allah SWT menyertai setiap perjuangan kita.
Merdeka.
Bapak Hamka.
Ini ada surat perintah dari Gubernur Nakashima.
"Bersama melakukan Sei-keirei." Sei-kirei?
Sei-keirei.
Sembahyang menghadap ke timur laut.
Ke istana Diraja Jepang.
Astaghfirullahaladzim.
Itu syirik, Engku!
Engku Haji tidak melakukannya, 'kan?
Engku Haji tidak pergi, 'kan?
Tapi kalau Engku tidak pergi…
apa Engku akan di tangkap?
Aku tidak takut di tangkap Jepang.
Untuk menegakkan Islam.
Yang aku khawatirkan…
nanti seluruh anggota Muhammadiyah di Sumatra…
dianggap sebagai pemberontak, Ummi.
Apa yang akan Engku lakukan?
Aku akan tetap datang.
Bapak Hamka, perkenalkan.
Nama saya Nakashima.
Tadi di lapangan…
banyak orang melihat Bapak Hamka tidak membungkukkan badan.
Tidak akan pernah…
saya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama saya.
Bapak Hamka,
itu tadi namanya Sei-keirei.
Itu bukan sembahyang.
Tapi, satu bentuk penghormatan kepada Tenno-heika. Kaisar kami.
Apa pun itu Tuan Nakashima, yang pasti…
saya hanya memberikan penghormatan kepada orang yang patut saya hormati.
Bapak Hamka, hati-hati.
Saya berharap…
Bapak Hamka tidak bermaksud
membangkang kepada Dai Nippon. Karena…
Bagaimana saya bisa menghormati kalian
yang telah menginjak-injak bangsa kami?
Yang telah menindas rakyat kami?
Kalian bubarkan sekolah-sekolah agama kami.
Buku-buku dan surat kabar kami kalian bakar!
Bahkan kalian tidak segan…
untuk membunuh para ulama kami.
Itu semua hanya untuk mencegah terjadinya kekacauan.
Justru kalian yang membuat kekacauan di sini!
Kalian benar-benar telah membuat rakyat kami marah.
Mana perdamaian yang kalian janjikan?
Yang selalu kalian dengung-dengungkan? Mana!
Kalian justru memelihara perang agar terus berkobar di negeri ini.
Jadi…
Bapak Hamka maunya apa?
Jika kalian benar saudara tua kami…
buktikan!
Tapi ingat.
Ini tanah air kami.
Kami yang paling berhak menentukan masa depan kami.
Jangan pernah sekalipun kalian mencampuri urusan agama kami.
Sembahyang kami, mengaji kami, dan seluruh ibadah kami!
Kalian bebaskan para guru kami.
Para ulama kami, para pejuang kami!
Biar kami sebar moral yang baik.
Dengan cara kami sendiri.
Bapak Hamka,
saya kagum sekali dengan Anda.
Semangat Bapak Hamka sangat hebat.
Sama seperti semangat Dai Nippon.
Untuk itu,
saya akan kabulkan keinginan Bapak Hamka.
Tapi,
Bapak Hamka harus mengimbau…
seluruh ulama di sini…
untuk taat dan setia…
kepada peraturan Dai Nippon.
Bismillahirrohmaanirrohiim.
Mulai hari ini,
Bapak Hamka adalah teman Dai Nippon.
Dan kalau perlu,
Bapak Hamka bisa menjadi penasehat saya.
Tentunya dalam bidang agama.
Bagaimana?
Bapak Hamka bersama-sama Tengku Jafizhan dan Syekh Abdullah Afifudin
menghadiri konferensi ulama di Singapura yang diadakan Nippon.
Di sana, mereka mengikrarkan diri pada Nippon, dan menyampaikan terima kasih
Dai Nippon telah melepaskan kaum muslimin di Asia Timur Raya dari penjajah.
- Assalamu'alaikum. - Wa'alaikumsalam.
Ya, Nak, Ummi di belakang!
Ke sini, Nak!
- Ummi. - Makan!
Masya Allah.
Astaghfirullahaladzim.
Kenapa kalian? Kenapa kalian, Nak?
Kami berkelahi, Ummi.
Mereka yang mulai dulu.
Mereka mencemooh Ayah. Mereka bilang Ayah pengkhianat.
Penjilat Jepang.
Astaghfirullahaladzim.
Tidak. Itu tidak benar.
Ayah kalian tidak pernah melakukan hal seperti itu.
Tapi, mereka melihat Ayah dekat dengan Jepang.
Ayah melakukan ini semua…
karena Ayah cinta dengan bangsa ini.
Cinta dengan Islam, cinta dengan kalian semua.
Berarti kami tak salah berkelahi tadi, Ummi.
Kami membela Ayah, Ummi.
Zaki, Rusdi,
tidak pernah ada kata yang benar untuk berkelahi.
Itu artinya,
kesabaran dan ketabahan kalian sudah kalah oleh kemarahan dan kebencian.
Kalian sudah menyakiti orang lain,
tidak ada satu pun alasan yang benar untuk melakukan hal ini.
Kami minta maaf, Ummi.
Ya, Ummi.
Sekarang kalian mandi ya,
nanti sekalian makan.
Ya, Ummi.
Pasca bom atom Hiroshima dan Nagasaki
pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945,
Kaisar Hirohito mengumumkan
bahwa Jepang menyatakan menyerah tanpa syarat kepada sekutu.
Alhamdulillah!
Tuan Nakashima.
Apa benar berita yang saya dengar?
- Ya. Perang sudah selesai. - Allahu Akbar.
Saya bukan lagi seorang gubernur.
Tapi, hanya seorang Nakashima…
yang sebentar lagi…
akan kembali ke Jepang.
Bapak Hamka,
ini kunci mobil saya.
Mobil saya untuk Bapak Hamka. Ambil saja.
Ambil.
Itu sebagai ucapan terima kasih dari saya.
Selama ini Bapak Hamka sudah banyak membantu saya.
Apa yang selama ini saya lakukan
adalah untuk membela Islam…
dan melindungi rakyat kami dari tekanan Nippon.
Mohon maaf, Tuan Nakashima.
Saya tidak bisa menerima.
Selamat jalan, Tuan Nakashima.
Tidak lagi kami percaya Tuan Hamka
untuk terus memimpin Perserikatan Muhammadiyah di Sumatera Timur ini.
Sadarkah Saudara, jasa Pak Ketua Hamka selama ini?
Karena beliaulah, Muhammadiyah bisa melaksanakan semua kegiatan.
Pak Ketua Hamka menjual kehormatan gadis-gadis kepada Jepang!
Itu kenapa, bergoni-goni karung beras dikirim ke rumahnya!
- Itu fitnah! itu tidak benar. - Itu betul!
Itu fitnah dan tidak benar!
Pak Ketua Hamka tidak pernah melakukan perbuatan sehina itu!
Itu bukan fitnah. Itu benar.
Pak Ketua kita ini telah mendapat berbagai hadiah.
Bahkan diperlakukan seperti raja di Singapura.
Dijamu dan dilayani oleh perempuan-perempuan cantik.
Tuan Hamka harus menyerahkan jabatannya
sebagai Konsul Muhammadiyah di Sumatera Timur ini.
Kalau tidak, maka seluruh pimpinan Majelis Muhammadiyah
akan menyerahkan jabatannya serentak!
- Setuju! - Tidak bisa!
Jangan berikan keputusan secara sepihak!
Itu fitnah!
Cukup.
Astaghfirullahaladzim. Allahu Akbar.
Terima kasih, Saudara-saudaraku.
Astaghfirullahaladzim.
Saya hargai betul semua pendapat kalian tadi.
Saya berada di sini malam ini…
bukan untuk membela diri saya.
Sebagian yang kalian sampaikan itu fitnah.
Tapi, sebagian ada benarnya.
Saya akui kesalahan saya.
Karena terbuai oleh janji-janji Nippon.
Kalau kalian menginginkan saya untuk mundur dari jabatan ini,
saya hargai.
Dan saya minta maaf.
Pengurus Muhammadiyah Yogyakarta memutuskan
bahwa saudara Haji Abdul Karim Amrullah diberhentikan
dari jabatan sebagai Ketua Muhammadiyah Sumatra Timur
Dan aktivitas Ketua Muhammadiyah Sumatra Timur
akan digantikan dengan Muhammad Yunan Nasution.
Tapi, bukankah Engku masih tetap sebagai konsul di dalam organisasi?
Itu hanya basa-basi.
Hanya untuk meringankan beban orang-orang itu.
Karena mengesampingkan saya dari organisasi.
Coba lihat, Ummi.
Kini tidak ada lagi undangan rapat untuk aku.
Tawaran jadi Imam di masjid saja…
sudah tidak ada lagi.
Orang-orang itu hanya…
sibuk mencemoohku dari belakang.
Aku disalahkan atas kejadian ini.
Tidak ada sedikit pun rasa hormat yang tersisa.
Sudah lupa segalanya.
Hanya karena salah sangka dan curiga.
Aku gagal menjadi contoh.
Aku tidak bisa…
Aku tidak bisa menyebarkan akidah tauhid…
seperti yang aku cita-citakan dulu.
Sudahlah.
Lupakan.
Tidak ada gunanya Engku Haji meratapi nasib berlama-lama seperti ini.
Jangan pernah Engku Haji terpengaruh
sampai merendahkan diri seperti ini.
Engku Haji tidak perlu
mendengarkan kata orang-orang yang sedang marah.
Mereka itu bukan teman.
Mereka itu tidak tahu Engku Haji.
Mereka itu tidak tahu apa yang Engku Haji alami.
Aku yang tahu.
Sebelum kita semakin lemah
dan tak mampu lagi berpikir jernih.
Lebih baik…
kita pulang saja ke Padang Panjang.
Bawa anak-anak.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Makan sirih
Ujung-ujungan
Kurang kapur
Tambahi ludah
Tanah Deli untung-untungan
Hidup syukur
Mati pun sudah
Maafkan aku, Ummi.
Tidak ada cita-cita yang dikorbankan, Engku.
Kita hanya perlu mundur selangkah,
sebelum kita berlari jauh ke depan nantinya.
Insya Allah, aku yakin Engku Haji pasti bisa.
Insya Allah.
- Assalamu'alaikum. - Wa'alaikumsalam.
- Aku… - Tidak perlu khawatir, Hamka.
Aku masih percaya kepadamu.
Orang-orang di sini juga masih percaya kepadamu.
Mereka pasti akan bersenang hati
untuk mengundang memberi dakwah di masjid-masjid mereka.
Alhamdulillah.
Apa kabarmu?
Terima kasih, Amir.
Indonesia merdeka!
Indonesia telah merdeka!
Indonesia telah merdeka! Merdeka!
Alhamdulillah. Allahu Akbar.
Proklamasi.
Kami, bangsa Indonesia.
Dengan ini menyatakan…
kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain…
diselenggarakan dengan cara seksama…
Allahu Akbar. Merdeka!
…dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Jakarta, 17 Agustus 1945.
Atas nama Bangsa Indonesia.
Soekarno - Hatta.
Tolong disampaikan kepada Buya, ini pesanan dari masyarakat.
Baiklah.
Wa'alaikumsalam warahmatullah.
Alhamdulillah.
Malik. Ini aku bawa titipan.
Apa ini?
Ambillah.
Astagfirullah.
Tidak perlu, Mir!
Tidak bisa menerima ini.
Orang-orang itu ikhlas.
Amir.
Diberi kepercayaan untuk menyampaikan dakwah saja…
sudah menjadi rezeki besar dari Allah.
Dakwah saya, bukanlah jual-beli.
Tolong sampaikan terima kasih saya kepada mereka.
Tapi, mohon maaf.
Aku tak bisa menerima ini.
Pikirkan juga keluargamu.
Istri dan anak-anakmu.
Mereka punya kebutuhan.
Astaghfirullah.
Begini saja, Mir.
Aku tukar buku-buku karanganku ini dengan uang itu.
Bagaimana?
Alhamdulillah.
Ini uangnya, Uni.
Alhamdulillah.
- Terima kasih, ya. - Ya, sama-sama. Mari, Uni.
- Assalamu'alaikum. - Wa'alaikumsalam.
Masya Allah.
Assalamu'alaikum.
Wa'alaikumsalam.
Kenapa tidur di sini, Ummi?
Maafkan aku, Ummi.
Aku terlambat pulang.
Bagaimana Ummi dan anak-anak hari ini?
Sudah cukup makan?
Alhamdulillah, cukup.
Alhamdulillah.
Banyak terjual buku-bukuku hari ini.
Alhamdulillah.
Sebaiknya Engku Haji membawa buku-buku roman karya Engku.
Insya Allah laku.
Ummi…
Siapa juga laki-laki di masjid yang mau baca buku-buku roman seperti itu?
Tawarkanlah ketika Engku Haji ditawarkan ceramah ke ibu-ibu pengajian.
Hanya sedikit orang-orang yang bisa membaca, Ummi.
Selebihnya buta huruf.
Kalau keliling benar ke pelosok Sumatera.
Tidak akan bertemu wanita seperti Ummi.
Tidurlah Ummi sekarang.
Sudah lelah sekali wajah Ummi.
Itu…
Aku akan selalu menemani Engku untuk tahajud.
Sajadah kita, sudah ada dua sekarang.
Masya Allah.
Ayo bangun, Anak-anak.
Kita bangun bangsa berwarna.
Siapa yang subuhnya berjamaah di masjid,
Allah datangkan berkah dari segala arah.
Astaghfirullah.
Ummi?
Ke mana anak-anak?
Anak-anak sudah pergi ke masjid dari tadi.
Dia sudah menunggu imamnya.
Astaghfirullah.
Aku sudah telat rupanya.
Ayo, Ummi, kita pergi.
Sami' Allah huliman hamidah.
Allahu akbar.
Allahu akbar.
Assalamu'alaikum. Hamka!
Wa'alaikumsalam.
Cepatlah!
Astaghfirullah! Ada apa, Mir?
Itu di radio sudah ramai diberitakan.
Belanda dan tentara sekutu sudah tiba kembali.
Sekarang mereka di Medan.
Sebentar lagi akan tiba ke tanah Minang.
Merah putih sudah tegak berdiri di negeri ini.
Bendera itu tidak boleh turun kembali untuk selamanya.
Belanda dan para sekutunya telah datang kembali untuk merebut Sumatra!
Kita tidak boleh tinggal diam!
Kita satukan kembali perjuangan kita!
Jangan sampai bangsa ini menjadi bangsa ayam
yang mudah diperjualbelikan oleh bangsa lain!
Ingat, Saudara-saudara,
nasib kita,
kitalah yang menentukan!
Setuju!
Kita sambut para penjajah…
dengan perlawanan yang hebat!
Kita buktikan kembali pada dunia,
siapa orang Minang yang sebenarnya!
Sekali merdeka, selamanya merdeka!
- Allahu Akbar! - Allahu Akbar!
- Allahu Akbar! - Allahu Akbar!
- Merdeka! - Merdeka!
Pura-pura memancing semuanya!
Berlindung, Semua!
Sekarang saatnya kita bersatu untuk mempertahankan kemerdekaan!
Jangan sampai orang-orang Belanda itu menginjak harga diri bangsa kita!
Allahu Akbar!
Merdeka!
Anda berkomplot untuk menggulingkan presiden!
Pengkhianat-pengkhianat negara akan kami ganyang!
Jika pun hidup kita berkecukupan,
tapi batin Engku tetap miskin.
Tampak jelas di mata saya.
Jadi Hamka saja.
Di tanah Allah tercinta ini, kita lahir sebagai saudara!
Untuk apa kita saling berperang?
Kakek!
Ulama sudah sejak dulu terjual.
Dan pembelinya adalah Allah SWT.
Dan bayarannya…
ialah surga.
Begitu usiamu mencapai sepuluh tahun,
kau akan menuntut ilmu ke negeri Mekah.
Kuberikan kau nama…
Abdul Malik Karim Amrullah.
Ayah dan Ummi akan bercerai.
Aku tidak mau Ummi pergi.
Siapa yang menjaga aku dari amarah Ayah?
Harus diberi pelajaran anak ini!
Tak akan pernah kamu jadi ulama seperti ayahmu!
Kerjanya sibuk bermain.
Bolos mengaji, berlatih pantun dan bermain silat setiap waktu.
Aku akan pergi ke Jawa.
Jika nanti ingin menjadi pemimpin besar,
maka menulislah seperti wartawan.
Dan berbicaralah seperti seorang orator.
Sudah saatnya kau melakukan sesuatu yang nyata dalam hidup ini.
Amalkan ilmu yang sudah kau dapatkan selama ini.
Untuk sesamamu.
Terima kasih.
Saya mau mengajar di sini.
Sudah punya ijazah?
Belum ada.
Aku malu.
Ilmuku masih rendah.
Pemahaman Islam-ku masih dangkal.
Tapi sudah berani mengajar kalian.
Aku akan pergi ke Mekah.
Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Aku akan naik haji juga.
Iman tanpa ilmu
bagaikan lentera di tangan bayi.
Sedangkan ilmu tanpa iman
bagaikan lentera di tangan pencuri.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.