Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Generasi demi generasi telah berlalu.
Seorang gadis telah berevolusi.
Dari memasak di rumah,
hingga akhirnya sangat dihormati dan dipuja.
Namun, disaat seorang biadab, menyamar sebagai pria, mengejarnya....
dia akhirnya mati.
Olehnya itu, mari selamatkan anak perempuan dengan melindungi ibu kita.
Ingat,
keselamatan mereka adalah tanggung jawab kita.
AKU BERHUTANG KEPADA KAKEK-KU,
TN. SAYYAPURAJU KRISHNAM RAJU. KARTHIK DANDU
MENANGKAN HADIAH DAN BONUS MENARIK LAINNYA.
Dapatkan Bonus 50% Auto Jadi Sultan LXWHITELABEL.COM
MAINKAN SEKARANG JUGA
Jangan ampuni suami istri itu. Mereka sudah mengajarkan ilmu hitam ke anak-anak.
Kepung rumahnya!
- Hei! - Hei!
Dobrak pintunya!
Hei!
Orang ini sudah mengajarkan ilmu hitam pada anak-anak kita.
Jangan ampuni dia.
Bunuh mereka!
Bunuh dia! Dia tak pantas hidup.
Hei! Seret dia!
Kau sudah bunuh anak-anak kami!
Mama!
Mama!
Kami akan membakarmu!
Tolong jangan bunuh dia.
Mama!
Dia masih rapalkan mantra. Dia belum puas.
Teganya kau bunuh anak-anak kami? Kau harus mati!
Mereka pantas mati. Siram!
Kenapa ragu, Pendeta?
Jika kita tak membakarnya sampai mati, desa ini tidak akan bebas dari kutukan.
Mama!
Membusuklah di neraka!
Akhirnya kita bebas dari kutukan!
Mama!
Mama!
Mama!
Di hari Pushkara berikutnya, desa ini akan berubah menjadi kuburan!
DITERJEMAHKAN | YOYONG MASAMBA
Dia masih anaknya.
Bagusnya orang desa juga membunuhnya.
- Ya. - Hei, hentikan.
Dia memang anak mereka.
Tapi kita tidak tahu apa mentalnya juga sama!
Janganlah berbuat dosa dengan membunuh seorang anak. / Apapun itu, Pak,
jangan sampai keturunan mereka tinggal di desa ini.
- Ya! - Itu saja.
Baiklah kalau begitu.
Papa!
Papa!
Papa!
Satu-satunya hiburan utama kita sudah tidak ada lagi.
Saat kau bilang ke orang desa, kurasa itu jauh dari kota.
Aku tidak tahu kalau itu jauh dari dunia, Bibi!
Kau merasakan jaraknya, tapi aku merasakan dekat dengan desaku.
Begitulah yang kau rasakan saat tertidur...
dan terbangun di akhir perjalanan.
Tak bisakah kau kirimi mereka surat...
jika mereka bertanya tentang tanah sekolah itu?
Kenapa kita harus berangkat mengenakan tas seperti anak sekolah?
Bisanya kau ngomong kayak gitu?
Aku lahir dan besar di sini.
Sudah 15 tahun sejak aku kemari.
Anak gadis dari adikku cuma itu yang kumiliki, Parvathi.
Kita harus bersamanya, menghadiri pekan raya, dan pulang.
- Oke? - Baik.
Kita sudah tiba di Rudravanam.
Hei!
Ini perjalanan menyenangkan sejauh ini. Apa ini pertanda buruk?
- Hentikan, Mama! - Hei, Surya!
Apa yang aneh dengan burung gagak di hutan?
Mama, masuklah.
Ayolah, Ma. Masuk!
Hei, nyalakan mobilnya.
RUDRAVANAM 1 KM
Tahun Prajothpatti, bulan Shravana,
hari Sabtu mendatang yaitu Ekadashi, jam 9:42 pagi.
kendinya harus dipasang.
Festivalnya hari Senin.
Mulailah kerja sebelum ada masalah.
- Baik, Pak! - Baik.
- Semuanya paham? - Ya, Pak!
Selama festival,
jangan sampai orang-orang luar tidak merasa nyaman.
Persiapkan gudang,
- makanan, dan air. - Baik, Pak!
Bagaimana kalau kita siapkan minuman dan ayam?
Mereka bisa minum dan menari.
Dan itu bisa menarik nantinya.
Tn. Abbairaju! Ada apa ya kemari?
Orang-orang pada berlagak sombong.
Mereka yang duduk di kursi, bukan yang berdiri di sebelahnya.
Makanya,
aku nikahkan putriku pada keluarga...
yang mana ayah mertuanya seorang anggota dewan.
Kau akan tahu apa aku layak.
Jangan anggap serius kata-katanya. Panggil Siddaiah dan siapkan bangiesnya.
Sudah seminggu Sidda menghilang. Cuma Dewa yang tahu di mana dia!
Oke. Jika dia datang, dia akan menyiapkannya,
atau biarkan putranya yang menyiapkan bangi-nya.
Maksudmu apa?
Hei, kau?
Oke, Pak.
Anasuyamma mengajak keluarganya ke festival.
Sayang! Bibiku datang!
Ya, bentar!
Kita bawa labu dari rumah, kan? Bawa itu.
Aku lupa!
Mereka sudah datang. Rumah juga belum dibersihkan.
- Bibi! - Parvathi!
- Apa kabar? - Baik, Bibi.
Perjalanannya menyenangkan?
Ya. Menyenangkan. Dan berjalan lancar.
Hei, kau masih takut? Rewel sekali.
Bilang aku rewel lagi, aku akan pergi.
- Terserah! - Kakak!
Kau masih terbiasa ya menggaruk telingamu?
- Tunggu. - Kenapa dia?
Karena kebiasaannya, telinganya sakit.
Dia sering menuangkan minyak ke telinganya.
Sudah selesai ngeluh-nya?
Berikan labunya. Kau selau saja mengeluh.
Parvathi, dimana anak cowomu?
Di rumah, Bibi. Aku akan ajak kemari saat kau mandi.
Hei!
Burung gagak ini tidak tidur sama sekali?!
Hei, kau tak bisa tidur?
Mana bisa aku bisa kerasan selama 15 hari di tempat yang baru jam 7 sudah tengah malam?
Lihatlah desa ini. Sangat sepi!
Aku akan pergi minum. Sialan, aku akan mabuk!
Maling!
Hei, mulut kotor! Hei, Gavarayya!
Maling! Tangkap dia!
- Maling? Di mana? - Disini. Cepat.
Ayam dan kambing, hilang!
Kita harus tangkap pencuri itu. Ayo!
Ayo!
Tangkap dia!
- Kemana perginya? - Suri, cari sebelah situ.
- Ramana, ikut aku. - Ayo, cepat!
- Ayo ikut! - Ayo.
Periksa sebelah situ.
- Kau lihat seseorang di situ? - Tidak ada.
Hei! Ayo.
- Kubilang, pergi... - Aku lihat pencuri itu ke sini.
- Kau siapa? - Cepat cari!
- Periksa di sana juga. - Aku saja!
Hei!
Jika kutangkap pencuri itu, tak bakal kuampuni dia!
Hei bro! Kau ke sana.
- Cuticura! - Cari disana.
Jadi pencuri ini makai bedak?
Aku saja!
- Lepaskan ayam itu dan pergi. - Dia pasti ada di sekitaran sini.
Jika kulepaskan,
- bisa mati dalam sabung ayam besok. - Kau lihat seseorang?
- Dengar tidak? - Suri, kalau kau?
Jika kita tertangkap, kau akan dalam masalah besar...
karena memegang tanganku dan mencuri ayam ini juga.
Beraninya kau mengancamku saat kau bersalah?
Saat kami mau membangun sekolah, kaulah yang pertama aku hubungi.
Aku senang saat kau setuju tanpa ragu-ragu.
Tidak ada yang bisa membuatku senang...
jika desa memanfaatkan tanahku.
Semuanya berkat berkah Dewi Modamamaba.
Makanlah. Sudah terlambat.
Berhenti! Jangan makan!
Nyonya bawakan kari.
- Suruh dia cepat-cepat. - Ya.
Nyonya! Cepat.
Siapa anak gadis ini?
Dia putriku.
Mungkin kau sudah lupa. Kau pernah melihatnya saat dia masih kecil.
Cuticura...
Kau sering membicarakan tentang dia tadi malam,
dan aku mencium ada bau bedak sekarang. Hentikan.
Anasuyamma, ini putriku Nandini.
Cuti... cura.
Dia mau kari lagi. Berikan.
Itukah yang dipahami lelaki tua itu?
Cukup.
Nanti malam ada cemilan. Datang ya.
Butuh 2 jam untuk makan.
Dan butuh dua hari untuk mencernanya!
- Sangat sulit, Pak. - Ayo, Nak!
Kau masih muda untuk mencerna sebanyak itu.
Kau pencuri ayam itu, kan?
Dengarkan!
Jaga perilakumu.
Baik tadi malam maupun sekarang.
Tapi karinya enak.
Apalagi ayam kampung. Enak!
Itu bukan ayam kampung.
Tapi ayam tadi malam.
Karena kalah saat sabung ayam.
Aku potong dan memasaknya.
Bodoh amat apa itu ayam atau manusia...
jika mereka mengibas-ngibaskan ekornya!
Lihat saja.
Nandini! Dokter datang.
Kenapa kau menatapku?
Aku mau agar kau sembuh. tapi kau tidak mau pergi dari desa ini.
Kau perlu di suntik tapi kau tidak mau keluar rumah.
Kayak Ratu, kau mau...
- Kenapa dengan Nandini, Kakak? - semuanya disajikan untukmu.
Sejak kecil, dia selalu mengalami kejang-kejang.
Dia harus di suntik tiap minggu.
Kalau tidak, akan lebih parah.
Kenapa matamu merah?
Aku takut disuntik dan tak bisa tidur semalaman.
Benarkah? Harishchandra!
Putrimu bilang dia tak bisa tidur di malam hari.
Carikan anak kota yang baik dan nikahkan dia.
Kau tak usah cari dokter dan aku tidak akan memarahinya.
Kecuali jika kau menikahkannya, dia tidak akan menyadarinya.
Bersihkan ini.
Kau bawa buku lagu?
Ya.
Buku lagu baru!
Sampai kapan kita selalu ketemuan diam-diam?
Mau bagaimana lagi?
Ayahku ngotot mau menikahkanku dengan sepupuku.
Aku tak tahu harus berbuat apa.
Sepupu? Sepupu apa?
- Jangan berteriak. - Sepupu siapa?
Siapa dia?
Jangan berteriak.
Pelan-pelan. Jangan ribut.
Siapa sepupumu?
Kau sedang apa di sini?
Jika mereka sudah bicara, orang ini mau bicara denganmu.
Mereka? Maksudmu apa?
- Tidak ada siapa-siapa disini! - Astaga!
Cukup dengan sandiwaranya.
Kau yang jaga dan mengijinkan mereka bertemu.
Artinya kau percaya pada cinta.
Dengarkan.
Mereka saling suka. Jadi aku cuma bantu.
Apa masalahnya?
Cintaku dan aku sudah siap.
Kapan kau akan datang?
Tadi kau bilang kau dan cintamu sudah siap.
Tiga bukanlah angka yang bagus.
- Astaga! - Astaga!
Aku sudah tak tahan dengan kecerdasan ini.
Hei, keluar.
- 2 sejoli! Keluar! - Ayo!
- Tidak! Brengsek. - Kau ketahuan. Lebih baik keluar.
Ayo. Keluar.
Dia gadis yang kita lihat kemarin.
Ternyata kau!
Ya, ini aku. Sudha.
Dan kau?
Kumar.
- Surya. - Halo.
- Ada kabar tentang Siddha? - Belum.
Astaga! Dia sudah datang.
Cepat sembunyi. Sembunyi!
Siapa orang baru ini?
Sudha! Siapa orang asing bersamamu itu?
Ayolah! Dia pasti kerabat Pak Suri. Kau dan rasa penasaranmu!
Kau dan bacotmu.
Sudah kubilang jangan temui aku di desa. Selalu saja tak mendengarkan!
Sekarang lihatlah. Kita ketahuan sama orang yang salah.
Sekarang aku tak bisa menemuimu lagi di sini.
Kenapa bisa? Akan kuberitahu mereka kalau dia temanku.
Kapan pun kau mau bertemu, aku akan ajak Kumar.
Dan kau ajak Nandini. Itu saja.
Pendapat yang bagus, bro.
Nandini! Boleh juga.
Diamlah dan ikut aku.
Hati-hati di jalan.
- Sampai jumpa. - Ya.
Hei, Sudha.
Bisa kita pergi sekarang?
Hei!
Kau pergilah.
Tolong jahitkan ini buat festival.
Oke, selesaikan sehari sebelum festival.
Kau ada contoh busana buat ukurannya?
Ya.
Nandini, tolong bicaralah dengannya. Aku takut.
Dengar! Sudha tidak suka padamu.
Mereka akan carikan pasangan lain untuknya.
Lebih baik kalian berdua tidak bertemu lagi.
Pergilah. Ayo.
Jangan kau.
Biar Sudha yang bilang. Baru aku akan pergi.
Dengarkan.
Mau aku yang bilang atau Sudha, sama saja.
Sudha,
tatap mataku dan katakan.
Kau menyukaiku atau tidak?
Aku sangat menyukaimu.
Aku akan bersama denganmu.
Aku tidak akan menikah dengan laki-laki pilihan ayahku.
Hei, bodoh!
Jika kau sangat mencintainya, apa yang kau takutkan?
Jika keluargamu tidak setuju, pergilah ke daerah lain dan tinggal bersama.
Tapi kok bisa-bisanya kau menyerah akan cintamu?
Sudha!
Aku mau bicara.
Nandini,
aku mau ngomong dengannya dan kembali.
Nikmatilah.
Semoga dilimpahkan kesehatan, umur panjang, dan rejeki.
- Bukannya telingamu sudah tak sakitan lagi?! - Tidak!
- Kenapa Bibi atang bersama orang itu? - Aku tak tahu!
Ada apa, Bibi?
Aku kemari mau memberi putriku sari buat festival.
Bibi, sarinya bagus.
Tapi surat itu?
Jika aku datang tiap tahun, sari adalah hadiah cukup bagus juga.
Tapi sudah lama sejak aku kemari terakhir kalinya.
Dan entah kapan aku akan kembali lagi.
Kenapa kita harus meninggalkan rumah kosong?
Dan kenapa kau mau tinggal di rumah kecil ini?
Rumah itu milikmu mulai sekarang.
Apa maksudmu?
Bagaimana rumahku?
- Kakak! - Aku tak bisa menerima ini.
Aku tahu dia akan menolak. Ambillah.
Nandini, berikan padanya.
Suruh dia terima, Shivaiah.
Tunggu.
Hei, tidak.
Kenapa nangis?
Aku pergi dulu.
Bentar, Bibi.
Nandini! Tunggu.
Jangan jalan kaki. Surya akan mengantarmu.
Tidak apa, Kakak. Jangan merepotkannya?
Aku akan jalan kaki.
Kubilang, tunggu.
Mereka sangat sayang sama anak perempuan jadi mereka berikan rumah.
Kenapa mereka tak mengantarmu di rumah? Tunggu.
- Surya! - Ya, kakak!
Antar Nandini di rumah.
Surya!
Katakan padanya perasaanmu.
- Agar semua masalahmu terselesaikan. - Lihat saja!
Sebelum kemari...
aku penasaran bagaimana bisa aku akan menghabiskan dua minggu di desa.
Tapi sejak aku bertemu denganmu,
serasa tak mau meninggalkan desa ini, Nandini.
Tapi...
ada sesuatu yang mau kubilang sebelum aku pergi.
Aku tahu.
Kau akan marah saat aku mengatakannya.
Tapi aku rela hidup bersama kemarahan itu selamanya.
Ada apa, Nandini?
Hentikan mobilnya, Surya.
Nandini!
Aku sibuk sekali. Aku harus pergi.
Tunggu!
Ada apa, Nandini? Belum pernah kulihat dirimu begini.
Ibumu...
mengingatkanku pada ibuku, Surya.
Tapi ibuku hanya tinggal kenangan.
Kenangan yang cuma menyisakan air mata.
Lupakan saja!
Katanya disaat dua orang jatuh cinta bersatu...
yang meninggal akan menemukan jalan kembali.
Menikahlah denganku, Nandini.
Aku akan bawa ibumu kembali untukmu.
Dengarkan.
Aku sibuk. Aku harus pergi.
Kau tidak bisa selalu hindari.
Kau juga harus mendengarkan orang lain.
Tolong dengarkan! Nandini!
Mski aku meninggalkan desa ini, sampai saat-saat terakhir....
aku akan menunggu jawabanmu.
Apapun jawabanmu, aku akan menerimanya.
Tak bisakah kau jawab?
Dewi!
Pertanda buruk apa ini?
Hei, ini Siddha.
Kenapa dengan Siddha?
Hei! Itu Siddaiah.
Apa yang terjadi padanya?
Kenapa sikapnya aneh?
Ayahmu ada di dalam kuil.
- Ada apa? - Ayahmu ada di dalam kuil.
Ayah!
Tidak! Penistaan apa lagi โโini?
Dewi Modamamaba!
Ayah!
Tunggu, tunggu!
- Ayah! - Jangan masuk!
Ayah!
Jangan masuk.
Ayah!
Ayah!
Bagaimana ini bisa terjadi?
- Ayah! - Dewa tahu dari mana dia berasal!
Tapi dia langsung masuk ke tempat suci dan mati karena muntah darah.
Ayah!
Mati di tempat suci...
itu pertanda bahaya.
Ayah!
Sepanjang sejarah candi...
ini baru pertama kali terjadi kejadian mengerikan seperti ini.
Temukan fatwa untuk menemukan jalan keluarnya.
- Dewi Modamamaba! - Dewi Modamamaba!
Fatwa apa ini?
- Kebiasaan di desa... - Nak!
Pada saat penahbisan dewa,
ayat dan aturan, dan beberapa fatwa dituliskan.
Entah itu desa atau pura,
setiap kali ada masalah, kami selalu mencari solusi di situ.
Malapetaka!
Malapetaka besar!
Dewa tahu apa yang akan terjadi!
Dewi Durga, yang duluan meninggalkan...
festival menuju ke rumah orang tuanya,
harus terhenti di kuil itu sendiri.
Ada kematian di kuil.
Ibu Dewi dinodai.
- Ibu Dewi dinodai. - Dia dinodai.
Kita semua anak-anaknya.
Jadi ini berlaku untuk kita juga.
Agar tidak menjadi korban kemarahannya...
dan untuk mengindari malapetaka atas kematian ini...
cuma ada satu solusi.
Menutup delapan penjuru.
- Menutup delapan penjuru! - Delapan penjuru.
Karena Dewi Modamamaba adalah wujud dari delapan Dewi,
dari matahari terbenam hari ini,
selama 8 malam dan 8 hari,
kita akan menjaga kuil serta desa ini dengan melakukan lockdown.
Kita bisa mati jika desa ini di lockdown.
Selama 8 hari, bepergian dilarang.
Berhala, gambar, jimat, dan...
semua yang berhubungan dengan Dewa harus ada di kuil sebelum melakukan penjagaan.
Kuil harus di tutup.
Selama 8 hari nanti ketika Dewa tidak bersama kita...
demi menghindari pengaruh kekuatan jahat,
satu-satunya cara kita untuk melindungi diri...
adalah melalui penutupan delapan penjuru.
Hei, ayo.
Kenapa dia pergi?
Pendeta, kita baru mempraktikkan ini.
Bagaimana kalau kita lakukan kesalahan?
Jika itu memang terjadi,
Rudravanam tidak akan lagi mendapat berkah dari Dewi.
Pendeta!
Fatwa dan ajaran harus menemukan solusinya.
Untuk apa menutup jalan?
Surya...
Bagi siapa saja yang buka orang desa sini, jangan bantah.
Orang luar yang datang untuk festival,
tolong tinggalkan desa sebelum matahari terbenam.
Ibu!
Sudah 12 tahun kau tidak menghirup udara ini.
Jadi, kau kau bebas kemana saja.
Jam 6:08 malam nanti,
kita akan tutup kuil dan desa dari 8 penjuru.
Pakde, tolong segera buatlah rencana.
Pakde!
Abbairaju akan pergi dari desa.
Kita lihat saja apa dia akan meninggalkan ritual dan desa ini.
Sayang...
Jangan turun.
Kenapa kau menghalagi?
Jangan melewati perbatasan.
- Ya, kau tidak boleh. - Kau tak boleh.
Beraninya kalian berkata begitu padaku?
Aku tidak peduli dengan tradisi dan normamu.
Kau harus peduli!
Kau lahir dan besar di sini, kenapa tradisi itu tidak berlaku untukmu?
Aturan ini berlaku untuk semua orang.
Tanpa pengecualian.
Aku mau ke pernikahan putriku.
Tradisi dan praktikmu bisa membatalkan pernikahannya.
Nyawa putriku dipertaruhkan.
Kau bisa adakan pernikahannya di hari lain.
Tapi jika kau menentang fatwa,
Dewi akan murka ke semua orang.
- Jalan! - Pergi!
- Jalan! - Pergi!
Mama!
Hei! Kalian semua, berhenti!
Ini demi keselamatan desa kita, Abbairaju.
Pergilah.
Aku pergi sekarang. Kelak akan tiba waktunya...
disaat kau bisa menembus segel delapan penjuru,
tapi tidak dengan Abbairaju.
Camkan kata-kataku.
Ini pesan untuk masyarakat desa Rudravanam.
Pak Desa membagikan perbekalan karena akan dilakukan lockdown 8 hari lamanya.
Bagi siapa saja yang butuh silahkan datang mengambilnya.
- Sesuai dengan perintah Pendeta, - Beri mereka lagi.
semua orang pendatang harus segera meninggalkan desa!
Penodaan terhadap Dewi dan kita.
Ini juga berlaku untuk pakaian yang diberikan.
Buang semuanya ke dalam api.
Kau sudah lama tak kemari, tapi kau disuruh pergi begitu cepat.
Aku merasa tidak enak, Bibi.
Hei!
Kau masih yakin Nandini akan datang?
Begitu aku meninggalkan desa ini, sampai saat-saat terakhir....
aku akan menunggu jawabanmu.
Surya! Lebih baik kau pergi.
Ritual sudah dimulai di pinggiran desa.
Baik, Kak. Kami berangkat.
Kalian berdua bisa datang kapan pun kau ada luang.
Parvathi! Jaga dirimu.
Nandini sayang!
Nandini!
Sayang!
Nandini!
Hei! Berikan kunci.
Takkan terjadi apa-apa.
Jangan buru-buru. Aku akan mengumpulkannya dari orang-orang.
Sudah kubilang akan kukumpulkan!
Sayangku!
Pembuluh darahnya kaku.
Mana suntikan baru dari kota?
Di mana suntiknya? Carilah!
- Suntik! Parvathi, cari di kamarnya. - Baik, Pak!
Hei, Kittaiha! Cari di sana!
Sayang! Nandini! Takkan terjadi apa-apa padamu.
- Botolnya pecah. - Sayang! Nandini!
Brengsek!
Semua suntiknya rusak.
Jika dia tidak disuntik setengah jam lagi...
- dia dalam bahaya. - Nandini, sayang!
Sayang!
Tolong, jangan bilang begitu.
Masa bodoh lockdown ini. Akan kulakukan apa saja untuk menyelamatkan putriku!
Bantu aku.
Minggir!
Aku harus hentikan lockdown-nya.
Aku harus hentikan lockdown itu.
- Halo! - Sastri!
Tn. Koti. Katakan.
Obat kejang-kejang yang kuberikan sama orang tua dari desamu, ingat?
Bawa kemari.
Tidak ada pintu masuk atau keluar ke desa.
- Tuhan ada apa ini? - Benar sekali.
Hei! Sesuatu terjadi di sana.
- Berhenti, tolong berhenti. - Tolong berhenti.
Ada kecelakaan. Dia mengalami pendarahan.
Dia harus segera dilarikan ke rumah sakit.
Bawa dia, cepat!
Pak. Hati-hati.
- Pak, tolong bantu. - Apa yang terjadi?
Bukan aku yang dibantu, Pak.
Tapi putri Pakde Rudravanam.
Dia berjuang demi nyawanya.
RMP sudah meneleponku.
Obatnya harus sampai ke desa secepatnya.
- Jangan sampai dia tak di obati, saudara. - Nandini!
Tak usah pikir, pergilah.
Taburi perbatasan dengan biji wijen.
Jangan berhenti.
Nandini!
Tolong selamatkan aku, Dewi.
Hei, kudengar keributan. Ayo periksa.
Ayo.
Siapa disana?
Siapa?
Siapa?
- Hei, ke sana periksa. - Ya.
Dewi Modamamaba, mohon ampuni aku.
Sudah dapat tiket?
Berikan, Kumar!
Kapan keretanya tiba?
Hei, jangan panik! Kau sudah di sini.
Orang tuamu tidak akan keluar selama 8 hari.
Kenapa masih takut?
Kumar!
Aku meninggalkan semua orang karena kau.
Kau akan menjagaku, kan?
Hei!
Aku akan selalu menjagamu. Oke?
Kau tahu aku takut sekali saat melewati kuil?
Kenapa kau takut pada Dewa di desamu?
Kau juga takut di sini?
Sarapanmu sudah siap. Makanlah.
Bagaimana keadaan Nandini, Kakak?
- Dia baik-baik saja. - Sini berikan!
Dia keras kepala sekali.
Dia lebih suka jatuh sakit di desa daripada meninggalkan pengobatannya.
Saat kau melamarnya, dia takut meninggalkan...
desa dan pindah ke kota.
Kok bisanya kau berhenti bekerja dan tinggal di desa karena dia?
Nandini pastinya mengerti.
Kakak! Katakan jika Nandini tertarik padaku.
Ibu dan aku akan datang dan tinggal di sini.
Jika itu terjadi, aku akan makan sekali sehari seumur hidupku.
Kakak! Jangan ngaco!
Saat orang-orangmu di sekelilingmu, siapa yang butuh makanan untuk bertahan hidup?
Nandini!
Dokter memintamu tetap di ranjang. Kenapa kau kemari?
Aku...
Kenapa kau kembali, Surya?
Agar aku bisa hidup?
Jika bukan hari ini,
aku akan mati besok, Surya.
Meski begitu aku akan bersamamu, Nandini.
Dengarkan!
Tidak seperti dirimu, aku tidak tahu rasanya hidup dengan cinta.
Aku hanya hidup dalam kenangan seperti ini.
Apa ini?
Ini kenangan Ibuku.
Itu sudah bersamaku selama ini.
Jika itu bersamamu,
itu sama dengan aku bersamamu.
Aku tidak tahu bagaimana mencintaimu.
Seberapa besar cintaku, Nandini?
Tidak akan hilang meski kau menolaknya.
Tapi cintamu...
kau sekarat jadi aku kembali.
Menunggangi kuda bersayap di antara awan, dia terbang turun!
Lihat! Ini, gambar ini.
Lihatlah ini.
Jangan main-main dengan itu.
Siapa disana?
Kau tahu apa yang terjadi kelak? Seekor kuda besar terbang...
Aku sedang ceritakan...
Siapa?
Pegang ini.
Kenapa kau tidak jawab?
Siapa?
Siapa?
Suri! Itu kau?
Suri! Ada apa? Kenapa kau menangis?
Kenapa diam saja?
Suri! Suri!
Suri!
Ada apa? Apa yang terjadi?
- Parvati! Parvathi! - Suri?
Parvathi! Apa yang terjadi?
Shivaiah! Bawa pergi Parvathi.
Kurasa dia syok setelah melihat kematiannya.
Parvathi!
Ayo, pulang!
Pemabuk sialan!
Dia meminjam uang dari warga desa dan sekarang dia berakhir seperti ini.
Beberapa hari lalu,
aku menanyainya tentang uangku.
Dia bilang, "Aku tidak punya sepersen pun. Aku tak punya pilihan lain selain mati."
Tapi tak kusangka dia akan mati.
Suri si tukang susu bunuh diri.
Nandini!
Dimana Nandini...
Dia di kamarnya.
Tn. Harischandra Prasad?
Dia keluar!
Baik!
Kau sedang apa di sini?
Makin besar lirikanya, makin dalam cintanya.
Kau tahu itu?
Lepaskan!
Minggir. Aku harus pergi.
Aku harus menemui Kakakmu.
Tidak akan kulepas.
Begitukah?
Ayah...
Ada apa?
Kapan dia datang? Katanya dia tidak di rumah!
Oh tidak! Parvathi!
Ya Tuhan!
Jika memang terjadi, aku akan makan sekali sehari seumur hidupku.
Saat orang-orangmu di sekelilingmu, siapa yang butuh makanan untuk bertahan hidup?
Jujurlah padanya.
Kau akan raih yang kau inginkan saat itu.
Aku sangat yakin Parvathi tidak bunuh diri.
Dia sering bilang sakit telinganya sangat mengganggunya.
Warga desa sudah paranoid.
Kenapa ada yang bisa mati cuma karena alasan sepele?
Bahkan tanaman kemangi pun sudah layu.
Menurutmu ada penyebab di balik semua ini?
Tidak ada penyembahan di mana pun.
Jadi, wajar jika kemangi layu.
Sesuai ucapanmu, cuma ada dua penyebab.
Entah dia bunuh diri karena sudah tak mampu menahan rasa sakit.
Atau...
ada yang melanggar aturan penutupan 8 penjuru.
- Apa ada yang melanggar aturannya? - Tidak ada, Pak!
Lupakan aturannya.
Kematian semalam dan mayat pagi ini.
Tempat kremasi harus berada di luar desa.
Di mana kita mengkremasi mereka? Putuskan itu dulu.
Kok bisanya kau tidak peka sama sekali, Abbairaju?
Jangan tanya ke aku, Karanam.
Tanyakan ke para tetua yang menandai perbatasan.
Tidak boleh ada pemakaman di desa,
apa kita harus melakukan kremasi di rumahmu, Pendeta?
Abbairaju!
Tn. Harischandra Prasad!
Tidak apa jika ada kata-kata yang kelewatan.
Tapi jangan ada yang boleh melewati perbatasan.
Itu aturan kita.
- Brahmaiah! - Pak!
Periksa 351 KK, apa ada di rumah atau tidak.
Baik, Pak. Ayo!
Aku belum dapatkan jawabannya.
Rumah kosong di ujung desa utara...
bisa digunakan untuk kremasi.
- Apa ayahmu di rumah? - Ya!
Aku mau periksa!
- Dimana anakmu? - Dia mengangkat mayat Parvathi.
Baik!
Hei, kemarilah.
Ada apa?
- Ada yang pernah datang ke rumah kita? - Tidak ada.
Bodayya!
Sattaya! Apa semuanya di rumah?
Semuanya dirumah.
Ya, semuanya di rumah.
Ayo.
Dimana Sudha? Aku belum melihatnya selama dua hari ini.
Sudha!
- Dia lagi mandi. - Baik!
- Hei, kau sudah cari di jalan itu? - Ya.
Apa yang terjadi?
Dia sudah mempermalukan kita dengan melarikan diri.
Meninggalkan desa dan membahayakan nyawa kita.
Jika masih ada lagi, silakan maju.
Parvathi sangat menyayangimu.
Sapa dia.
Cepat.
Kak...
Pak...
Semuanya ada, Pak.
Coba lihat ke sana!
Apa yang terjadi?
Jauhkan itu.
Dapatkan Bonus 50% Auto Jadi Sultan LXWHITELABEL.COM
MAINKAN SEKARANG JUGA
Swami!
Jangan meniup kerang dekat mayat.
Ini bukan kuburan. Tapi desa.
Mengkremasi di dalam desa?!
Ini berarti...
desa sudah menjadi kuburan!
Kekuatan jahat sudah mengambil alih desa.
Penutup 8 penjuru dilanggar.
Di desa ini ada yang melakukan ilmu sihir.
Jika kita tidak bertindak sekarang,
kematian ini akan jadi pandemi...
dan menghabisi seluruh warga desa.
Jika kalian mau bekerja sama, aku bisa temukan solusi untuk masalah ini.
Swami!
Selangkah lagi, kau sudah melanggar aturan.
Jika fatwa itu begitu hebat...
terus kenapa bisa ada 4 yang mati setelah menyegel delapan penjuru?
Kau salah.
Cuma 2 orang yang meninggal.
Itulah kebodohanmu.
Ada yang tak beres dalam kematian ini.
Saat kau menyadarinya,
keyakinanmu akan berubah.
Shiva! Ini tanggung jawabmu sekarang.
Sampai mereka membuka kuilnya, jangan dekati perbatasan desa.
Tidak masalah jika usaha kita tutup selama beberapa hari. Ayo!
Surya, ayo pergi.
Parvathi tidak bunuh diri.
Telinga kirinya yang sering sakit.
Mana mungkin cuma karena dia tusuk telinga kanannya dan mati?
Menurutmu yang dikatakan Aghora itu benar?
Aku akan cari penyebab kematian Parvathi.
Aku harus cari tahu penyebabnya.
Beneran Surya bunuh diri karena utang?
Tidak mungkin, Pak.
Bu, saat kematiannya atau sehari sebelumnya...
apa dia bersikap aneh atau ketakutan?
Tidak, nak.
- Kanthamma! - Ada apa, sayang?
Kau tahu tukang susu Suri meninggal, kan?
Apa dia kemari hari itu?
Aku menunggunya sampai jam 4 pagi.
Dia tidak datang-datang.
Jika Suri tidak datang setelah meninggalkan rumahnya,
pasti ada yang tak beres di jalan.
Naiklah.
Suri biasa berjalan ke kuil dari rumahnya.
Bau apa itu?
Itu bau busuk dari mayat yang membusuk.
Surya! Jangan kesitu! Itu rawa!
Tarik!
Ini sepeda siapa?
Sepeda Suri si pengantar susu.
Tidak ada apa-apa di sini, Pak.
Sudha!
Kau mengoceh soal kehormatanmu dan sekarang putrimu mati!
Kau bilang kalau mereka akan membunuh kita jika dia melewati perbatasan.
Astaga! Dia memilih mati di desa.
Sekarang hiduplah sesukamu.
Desa ini sudah hancur berantakan, Surya.
Sudha sudah melewati perbatasan.
Tiket ini kutemukam di tasnya.
Dia pasti pergi ke stasiun dan kembali.
Kenapa Sudha kembali?
Cuma Kumar yang tahu jawabannya.
Tapi bagaimana kita menemui dia sekarang?
- Nandini! - Nak!
Nandini sakit.
Dia depresi sejak kematian Ibu Parvathi.
Aku mau bicara dengan Nandini sebentar.
Tidak, Surya.
Dia masih berduka atas Parvathi.
Jika kau mau tanyakan tentang Kumar, beritahu juga dia tentang kematian Sudha.
- Halo, stasiun kereta api Lova. - Ya! Ada yang bisa kubantu?
Ada pasangan muda ke stasiun di hari Senin tengah malam dan mau ke Kirandol?
Kenapa lama sekali?
Kami mengirim jenazahnya ke kamar mayat Rajahmundry.
Mayat? Apa maksudmu?
Bocah malang itu pasti mengantuk saat ditabrak kereta.
Aku tidak tahu bagaimana keadaan gadis yang bersamanya.
Ngomong-ngomong, kau siapa?
Halo!
- Apa yang terjadi, Surya? - Halo...
Kumar meninggal dalam kecelakaan kereta api.
Dia meninggal?
Kau yakin itu dia?
Halo?
Mayat ini sudah remuk.
Halo?
Hei, itu mayat Kumar. Apa yang terjadi disana?
Bagaimana keadaan Sudha? Halo!
Bagaiman bisa ada 4 yang mati meski 8 penjuru sudah di tutup?
Ada yang melakukan ilmu sihir di desa ini.
Pasti ada yang tak beres dalam kematian ini.
Saat kau menyadarinya, keyakinanmu akan berubah.
Hei, Surya!
Pendeta!
Hentikan adat, tradisimu dan tolong dengarkan.
Aghora mengatakan sebenarnya.
Apa karena kematian itu kau menganggapnya begitu?
Pertapa itu masih salah.
Cuma ada tiga yang mati.
Kematian yang ke-4 yang menyebabkan tiga lainnya, terjadi saat Sudha pergi.
Apa mereka melewati penutup 8 penjuru itu?
Dewi Modamamaba!
Ada yang tidak beres.
Saat dilakukan penutupan 8 penjuru,
Sudha melewati perbatasan demi cintanya.
Saat anak itu tewas dalam kecelakaan kereta api, Sudha bersamanya.
Setelah melihat kematiannya,
Sudha kembali ke desa, dia diserang lebah.
Suri si pengantar susu yang sedang mau ke kandang sapi,
berusaha menyelamatkan Sudha.
Tapi Sudha sudah mati.
Setelah melihat kematian Sudha,
Suri bunuh diri keesokan harinya di depan Kakakku Parvathi.
Kemudian Parvathi bunuh diri.
Siapa pun yang duluan melihat kematian, akan mati selanjutnya.
Kalau begitu...
siapa yang duluan melihat kematian Parvathi?
Aku harus menemui Kakakmu.
Nandini!
Ny. Nandini! Kenapa kau lewat situ?
Ny. Nandini!
Nandini! Hei, kau!
Kenapa dia diam saja?
Nandini!
Pak!
Nandini mau ke rumah orang tuanya, Pak.
Dia tidak tanggapi teriakanku. Aku takut.
Ny. Nandini!
Hei!
Nandini!
Nandini!
Nandini!
- Nyonya! - Hati-hati.
- Hei, ambilkan kursi. - Ambilkan kursi!
Cepat!
Hei! Bawakan bantal.
Nandini.
Nandini.
Nandini!
Nandini! Hei, pegang kakinya.
Nandini!
Hei, pegang kakinya.
Nandini!
Kunci!
- Sayang! - Nandini!
- Nandini! - Nandini...
Nandini...
Apa yang terjadi di sini?
Orang-orang mati tanpa sebab!
Ini juga pernah terjadi 12 tahun lalu.
Dulu anak-anak.
Sekarang orang dewasa.
Mundur!
Bahkan udara yang melewati mayat Nandini berbahaya.
Apa yang terjadi, Seshagiri?
- Apa yang terjadi? - Ny. Nandini melompat ke sumur, Pak.
Sayang! Nandini!
Kenapa kau melompat ke sumur?
Kenapa kau begitu putus asa?
Sayang! Nandini! Bangun!
Sayang! Apa yang terjadi?
Dihari Pushkara berikutnya, desa akan berubah menjadi kuburan!
Saat Sudha melanggar penutupan 8 penjuru...
para penjaga tak bisa berbuat apa-apa.
Akibatnya, rumah di utara itu...
roh jahat itu bangkit kembali.
- Roh jahat? - Roh jahat di rumah itu?
Mata yang menyaksikan kematian sedang mencari kematian.
Siapapun yang mati pasti ada hubungannya dengan rumah itu.
Semua mayat dibakar di rumah itu.
Jadi, Parvathi...
Bahkan Nandini mau bunuh diri di rumah itu.
Ini pasti kutukan wanita itu.
Pendeta! Putriku selamat dari bahaya, kan?
Semoga saja ini akhir dari kutukan.
Itu tidak berhenti sama Nandini saja.
Seluruh desa akan berubah menjadi tempat kremasi.
Kau sudah menakuti kami.
Ada solusi, tidak? Beritahukan.
Cuma fatwa yang bisa beritahukan....
jika itu solusi atau penebusan dosa.
Aku akan mengambilnya.
Jangan khawatir, Surya.
Nandini sudah berangsur-angsur pulih.
Apa kutukannya? Apa yang terjadi di rumah itu?
12 tahun lalu...
desa ini terjadi pandemi.
Tiap hari pasti ada seorang anak yang mati.
Bahkan pengobatanku tak berhasil melawan pandemi itu.
Keluarga Venkatachalapathi tinggal di desa itu beberapa tahun sebelumnya.
Tapi mereka tetap menyendiri dan penduduk desa mewaspadai mereka.
Penduduk desa mencurigai mereka.
Kematian di desa terus berlanjut.
Seolah kematian sedang menunggu dipintu rumah yang memiliki anak.
Begitu hal itu di luar kendali,
yang ada di benak kami hanyalah Dewa.
Racun tak terlihat telah mempengaruhi desa.
Untuk membakarnya, api harus dinyalakan.
Sesuai fatwa,
kita harus adakan Mrityunjaya Homam.
Senang rasanya Pendeta kuil akan melakukan ritual keesokan harinya,
warga desa tidur nyenyak malam itu.
Malam yang sama...
saat Siddaiah kembali dari kebun,
dia melihat Venkatachalapthi bersama mayat seorang gadis.
Ketika kecurigaannya makin bertambah, dia memeriksanya,
dan jelas sihir dibalik semua ini.
Kabar itu menyebar seperti api.
Warga desa yang sangat terpukul akibat kematian anak mereka yang tak terhitung jumlahnya,
makin menggila saat mereka melihat ritual sihir pada mayat.
Mereka mengikat pasangan itu ke pohon dan membakarnya hidup-hidup.
Beberapa hari setelah kejadian itu...
Pendeta!
Setelah tahu ada penghuni setan di rumah itu,
Pendeta mengadakan ritual damai.
Rumah itu dikunci selamamya.
Setelah itu, tidak ada yang berani masuk ke rumah itu.
Surya!
Kau yakin kita harus masuk?
Kita harus cari solusinya di tempat masalah itu pertama kali terjadi.
Astaga!
Cetakan buku... Obor yang masih basah.
Ada yang kesini baru-baru ini.
Cuma ada satu cara jika mau selamat.
Gambar apa ini?
Surya! Jangan.
Pasangan inilah yang menggunakan Ilmu Hitam.
Venkatachalapathy dan istrinya.
- Siapkan peti kayu 6 kaki. - Peti kayu?
Hei, urus petinya. Pergi.
Energi adalah sumber terjadinya ini.
Jiwa juga semacam energi.
Atharvana Veda bilang kalau energi ini bisa diperintah...
lewat mata yang bisa menahan kehidupan selama 6 jam setelah seseorang meninggal,
percobaan ini adalah upayaku untuk menghidupkan kembali orang mati.
Menggunakan bentuk tantra dan mata manusia.
Pasti akan mati bagi siapa saja yang melihat kematian.
Eksperimen dalam buku ini dan kematian di desa pasti ada hubungannya.
Oh iya, apa yang terjadi pada putra Venkatachalapathy?
Orang yang kerasukan arwah jahat harus dimasukkan ke dalam peti...
dan peti itu harus ditempatkan di lingkaran wijen sebelah utara desa.
Setelah terjadinya gerhana, roh jahat melemah.
Saat itu, bagi siapa saja yang mau hidup...
harus mempersembahkan darah mereka.
Sebelum gerhana berakhir,
jika kau bisa mengkremasi mayat ke dalam peti...
kekuatan jahat akan hilang selamanya.
Maksudmu apa?
Kau mau mengorbankan putriku?
Kau sering memberkati orang. Teganya kau bilang begitu?
Hei! Kau saja yang berpikiran begitu.
Itu bukan sesuatu aneh buat kami membakar orang demi melindungi diri kita.
Begitulah cara kami agar bisa selamat.
Itulah yang dialami putrimu sekarang.
Abbairaju!
Aku membatalkan pernikahan putrimu demi tradisi.
Tapi ini soal nyawa putriku.
Tolong jangan menghalangiku, Abbairaju.
- Apa maksudmu? - Pak!
Hei!
Ada yang berani mau mati?
- Tidak, Pak. - Tidak, Pak.
Hei! Sombong sekali kau, perintah Pakde pun kau tantang dan mempercayai orang ini?
Berani-beraninya kau berkata begitu?
Hei! Sombong sekali kau, mau melawan Abbairaju?
- Berani-beraninya kau berkata begitu? Kau... - Hei, hentikan!
- Hei, berhenti! - Hei, hei!
- Hei, hei! - Hentikan!
Hei, Abbairaju! Ini putriku. Tolong berhentikan mereka!
Hei, Abbairaju! Kumohon!
Hei, siapa saja hentikan dia!
Hei! Hentikan!
Siapapun yang takut mati...
siapapun saja...
jika ada yang menyentuh Nandini, aku akan membunuhmu.
Akan kuberi Nandini obat penenang.
Dia tidak akan terbangun selama 8 jam.
Sebelum itu... aku...
Aku akan cari jalan keluar untuk masalah ini.
Saat kita sudah temukan solusinya,
jika kau bilang, "Aku memberinya obat penenang. Aku menggunakan mantera..."
Kenapa kami harus mempercayaimu? Dan harus mendengarkanmu?
Kau harus percaya!
Dialah yang harus kau dengarkan, Abbairaju.
Karena dialah yang bisa menjelaskan apa yang terjadi di sini.
Dialah yang bisa mencegah kematian ini.
Tidak ada pilihan lagi selain mempercayainya!
Percayalah.
Termasuk Nandini, akan kuselamatkan seluruh warga desa ini.
Pendeta!
Aku harus melewati batas desa.
- Melewati perbatasan?! - Bagaimana jika sesuatu terjadi?
Dengar, nak.
Seorang gadis kabur dari desa dan mereka menyalahkan semua masalah ini padanya.
Kau mau melewati perbatasan sekarang!
Bahaya akibat melanggar penutupan 8 penjuru ini sudah selesai.
Sekarang, Surya akan menghadapi kekuatan jahat itu.
Itu sangat bahaya baginya.
Untuk menyelamatkan Nandini, jika aku harus melawan roh jahat itu, akan kuhadapi.
Dan aku pasti akan kembali membawa solusi.
Surya!
Aku mempercayakanmu hanya sampai gerhana bulan dimulai.
Waktumu cuma 8 jam.
Kau akan mencari putra Venakatachalapathy?
Jika firasatmu benar dan dia di balik semua ini,
sangat berbahaya untuk menghadapinya.
Aku pergi karena aku bisa mengatasi bahaya ini.
Sampai aku kembali,
Nandini adalah tanggung jawabmu.
Kita tinggal di desa yang mana kuil ditutup demi adat.
Mereka tidak mempedulikan nyawa seorang gadis.
Nandini tak sadarkan diri 10 menit lamanya.
Hei! Ayo! Hentikan dia!
Hei, Janardhana! Apa masalahnya?
Berhenti di situ!
Dilarang melewati perbatasan ini!
Memangnya kau siapa melarang kami melewati perbatasan kami?
Aghora bilang ke kami kalau desamu dilanda pandemi.
Jika kau melewati perbatasan ini, pandemi itu akan menyebar ke desa kami.
Jika tak mau terjadi korban lagi,
jangan keluar sampai kuil dibuka kembali.
Mereka sudah mengepung desa di empat sisi, Pak.
Hei, kita harus hentikan dia!
Ayo!
Cepat! Tangkap dia bagaimanapun caranya.
Hei!
Berhenti!
Hei!
Ayo!
Hei!
Hei, hei!
Hei!
Hei!
Sathya mati.
Ada orang?
Kau siapa, nak? Kenapa kau datang jam segini?
Aku butuh informasi anak yatim di sini.
Tujuh tahun lalu ini panti asuhan. Sekarang bukan lagi.
Tidak ada lagi yang tinggal di sini selain aku dan keluarga bosku.
Dimana bosmu?
Dia dari Rudravanam?!
Bhairava...Bhairava...
Kenapa mati lampu?
Hei, ambil pelita.
Kalian berdua pulanglah.
Kenapa? Bagaimana denganmu?
Aku akan pulang jika dia sudah bangun.
Duluanlah.
Jaga dirimu.
Ini.
Angkat tangannya.
12 tahun lalu,
Pakde Rudravanam membawa seorang bocah dan memasukkan di panti asuhan ini.
Dia tidak seperti anak-anak lainnya.
Dia tak suka bergaul.
Dan tak pernah mengucapkan sepatah kata pun selain mantra.
Dia selalu menggambar sesuatu.
Dan duduk sendirian di bawah pohon dan bermain dengan buruk gagak.
Dia tidak tinggal di pertapaan malam hari.
Kami tidak tahu kemana dia perginya.
Ada hutan di belakang pertapaan.
- Dia di sana kayak kesurupan. - Bhairava?
Kau sedang apa di sini?
Setiap kali kami menanyainya, dia cuma diam dan pergi.
Saat itu, kami tak tahu kenapa anak-anak lain takut padanya.
- Katapel dia! - Ya.
Dia masih berusia 15 tahun saat itu.
Saat bulan purnama,
salah satu pelayan pertapaan melihatnya berjalan setengah telanjang ke hutan.
Kesalahan terbesar kami adalah menunggunya.
- Hei, kau melihatnya? - Tidak, Pak!
Cari kesana.
Hei! Berhenti!
Kau sedang apa di tengah malam begini?
Kau mau kemana? Kau...
Pak, Pak!
Hei! Dia kabur. Tangkap dia!
Cuma Dewa yang tahu mantra apa yang dia rapalkan.
Bosku terbaring di ranjang karena lumpuh sejak hari itu.
Sudah 7 tahun sejak kejadian ini terjadi.
Dia tak kembali-kembali.
Apa ada petunjuk soal keberadaan Bhairava?
Minggir.
Minggir!
Kasihan Nandini! Dia akan dimasukkan ke dalam peti.
Ke arah mana pelayan itu melihat Bhairava ke hutan?
Ke arah barat.
Jam berapa dia pergi dan kembali saat bulan purnama?
Jam 10 saat semuanya pada tertidur,
dan kembali jam 4 subuh.
Jika dia sudah selesaikan pekerjaannya barulah kembali dengan berjalan kaki selama 6 jam,
artinya mungkin kita akan menemukannya jika kita cari ke arah itu.
Siapa Bhairava?
Dewa Shiva.
Bhairava!
Tatapan itu lebih kuat dari abu suci!
Kita tidak bisa memahami cara kerja musuh!
Belum cukup menghentikannya! Kita harus membunuhnya!
Siapa di antara kalian yang bernama Bhairava?
Digambara!
Dia bukan musuh.
Dia pelarian.
Dia meminta bantuan kita.
Jika kau bisa kemari melewati Rudravanam,
aku yakin kau tahu yang terjadi di sana.
Siapa pun yang duluan melihat ada yang mati, akan bunuh diri.
Ini penyebab dari ajaran sihir sialan itu!
Ilmu yang digunakan ratusan tahun lalu untuk pemusnahan etnis.
Jika dia memakai ilmu itu dari Atharvana Veda,
dia keluar untuk membasmi orang-orang desa.
Untuk melakukan percobaan dalam buku itu...
harus di tempat di mana tidak banyak angin.
Tempat di mana rapalan mantra tak bisa didengar.
Dan tidak ada cahaya!
Di mana kita bisa menemukan tempat semacam itu?
Ilmu sihir ini sangat bejat.
Kesalahan sekecil apapun bisa berakibat fatal.
Makanya tiap menit yang direncanakan...
akan dibuat dalam bentuk gambar atau ramuan.
Swami!
Di sinilah ilmu sihir biadab itu dimulai.
Ini simbol yang sama di buku ayah Bhairava, Venkatachapalathi.
Bhairava pasti ada di sekitaran sini.
Bhairava!
Ada yang ditutupi!
Kitab fatwa yang diikuti desa sangat mirip dengan ini.
Dewi Modamamaba!
Ini buku asli dari fatwa itu!
Mata Nandini terbuka.
Sayang! Nandini!
- Sayang! Nandini! - Nandini!
- Sayang! Takkan terjadi apa-apa padamu. - Nandini!
Kau akan baik-baik saja!
Nandini sayang...
Dia belum sepenuhnya sadar.
Jadi, Bhairava menggunakan fatwa itu untuk membalas desa tersebut.
Dia membuat fatwa palsu agar warga desa mempercayainya.
Dia membuat blokade delapan sisi dan menutup desa.
Sudah banyak yang mati.
Kita harus lanjutkan meski dengan segala cara.
Hei! Kau mau kami mati?
Hei!
Aku akan lawan kalian!
Selangkah lagi maju, aku akan membunuhmu.
Maju jika kau berani!
Ayo!
Pak! Tidak ada cara lain.
Jika desa ini mau selamat, penderitaan ini harus diakhiri.
Berhenti!
Dia berjanji untuk menyelamatkan desa bersama Nandini.
Aku tidak percaya saat itu.
Pendeta sudah peringatkan dia kalau dia bisa mati...
jika dia menghadapi kekuatan jahat itu.
Tapi, dia nekat keluar dari desa.
Kami akan membunuh agar kami bisa hidup.
Tapi dia siap mati untuk membantunya hidup.
Bukan berarti aku mempercayainya sekarang.
Tapi aku percaya pada cintanya.
Dia pasti akan kembali untuk cintanya.
Sementara itu...
Tenang dan duduklah.
Jika kita tidak tahu keberadaan Bhairava,
kita tak bisa menghentikan pembantaian yang terjadi selanjutnya.
KARTU IDENTITAS V. BHAIRAVA KUMAR
Kumar, Pak.
Kau menyukaiku, tidak?
Swami, Bhairava yang kita cari dan Kumar,
korban pertama percobaan ini...
adalah orang yang sama.
Ini bukan kematian.
Ini pengorbanan diri.
Pengorbanan diri?
Apa maksudnya?
Bunuh diri secara sukarela dan memindahkan roh...
ke makhluk terpilih dan menyelesaikan tugas tersebut lewat mereka.
Tapi untuk melewati penutupan 8 penjuru yang dibuat oleh kuasa Dewa...
bagaimana bisa roh Bhairava mendatangi desa?
Bagaimana bisa?
Dia pura-pura jatuh cinta pada Sudha dan menyuruhnya melewati penutupan itu.
Setelah bunuh diri di depan Sudha di stasiun kereta api,
di merasuki tubuhnya.
Dia melewati penutup 8 penjuru dan memasuki desa.
Sejak saat itu, ilmu sihir biadab itu dilakukan.
Roh Bhairava kemudian mendatangi desa,
menemukan saksi yang duluan melihat kematian,
merasuki tubuh mereka lewat mata mereka...
lalu memaksanya bunuh diri.
Membunuh seluruh warga desa adalah langkah terakhir dari ilmu sihir biadab itu.
Saat terjadi gerhana, kekuatan jahat itu melemah untuk sementara.
Saat itu, orang-orang yang mau selamat harus mempersembahkan darahnya.
Jadi, membakar Nandini hidup-hidup bukanlah solusi untuk melindungi desa.
Itu cuma bagian dari percobaan untuk membunuh seluruh warga desa.
Dari mana Bhairava dapatkan buku ini?
Artinya seseorang di desa bekerja sama dengan Bhairava.
Bukan bekerjasama, Surya.
Tapi, memerintahkannya.
Bhairava menjadi roh setelah pengorbanan dirinya.
Roh memiliki energinya sendiri.
Siapa pun yang mengendalikan energi ini ada di desa itu.
Dialah yang sebenarnya yang melakukan ilmu sihir biadab itu di desa.
Bawakan fatwa itu kemari.
Itu tertulis dalam fatwa.
Tidak ada waktu lagi, Surya.
Pelaksanaan pengorbanan diri akan berakhir dengan cara yang sama.
Kita harus temukan orang yang mempekerjakannya dan membunuhnya sebelum dia bunuh diri.
Bayangan sudah ada.
Gerhana akan berakhir.
Meski Surya kembali sekarang, tidak akan ada gunanya.
Fatwa harus dipatuhi.
- Lanjutkan. - Berdiri!
Hei, hei!
- Tunggu. - Ayo.
- Ayo. - Tolong, tunggu.
- Putriku sering membantumu. - Minggir!
Kau sudah lupa?
- Bawa dia pergi. - Tunggu.
Tolong, tunggu!
- Angkat. - Tunggu.
Pak!
- Bawa dia pergi. - Minggir!
- Bawa dia pergi. - Pak!
Pak, Nandini...
Nandini!
Nandini!
Tidak ada ayah yang mau putrinya mati.
Ayo!
Saat Aghora dengan kekuatan gaib mengelilingimu,
kau tidak akan berdaya sehingga kau tak bisa merapalkan mantra.
Bagaimana tubuhmu, tanpa inisiasi apa pun,
menerima energi tantra?
Jika itu tekad kuatmu...
maka kaulah satu-satunya penyelamat!
Buat lingkaran dengan wijen dan letakkan petinya di dalam lingkaran itu.
Semuanya, tolong persembahkan darah kalian.
Swami!
Swami, semoga kau baik-baik saja!
Gerhana sudah dimulai.
Kuil pasti sudah dibuka.
Hei! Seharusnya dia tidak datang ke desa ini lagi.
Bunuh dia!
Hei!
Hei!
Masalah apa ini di jam begini?
Mereka cuma mau menghentikanku. Bukan kau.
Kau harus selamatkan Nandini dan desa ini.
Hei!
Tolong pergilah, Swami!
Hei!
Kepung dia!
Hei!
Aku tak ada niat membunuh,
aku cuma mau membantu agar semua orang selamat.
Hei!
Dengarkan!
Di desaku terjadi santet.
Aku datang untuk menghentikannya!
Begitulah caramu agar kami terus menderita.
Kau sudah menewaskan orang-orang.
Kematian harus dibalas dengan kematian!
Hei!
Hei!
Hei!
Aku kemari bukan mau mati.
Aku datang untuk menyelamatkan desa itu.
Hei!
Apa kau tidak mengerti?
Hei!
Bukan Nandini saja kau bakar, tapi seluruh desa ini!
Kau kira fatwa itu sempurna.
Tapi kau tidak tahu fatwa itu sudah diganti.
Ini! Ini fatwa yang asli.
Semua yang di sini sudah mengorbankan darah mereka...
dan sekarang dipengaruhi oleh kekuatan jahat itu.
Tunggu, Surya!
Itu hampir saja membakarnya.
Selangkah lagi ke lingkaran api itu, dan kau akan jadi abu.
Ini tantra yang di luar kemampuanku.
Aku tidak bisa menang.
Tapi aku bisa menghentikan roh Bhairava untuk sementara waktu.
Temukan dia sekarang juga, Surya!
Matamulah yang melihat masalah desa ini.
Matamulah yang mencari dan menemukan akar penyebabnya.
Kejar!
Kau Virupaksha yang bisa menyelamatkan Rudravanam!
Jika semuanya berada dalam cengkeraman maut, siapa yang memerintahkan pembunuhan ini?
Harischandra Prasad!
Harischandra Prasad!
Harischandra Prasad!
Harischandra Prasad!
Harischandra Prasad!
Harischandra Prasad!
ANAK-ANAK MATI KARENA KOLERA
Nandini sayang!
Nak! Tolong selamatkan...
Tolong selamatkan putriku.
Siapa anak ke-4 dari keluarga Venkatachalapathi?
Sebenarnya... itu...
Jawab!
Kenapa kau sembuyikan bukti kalau masih ada anak ke4-nya?
Setelah tahu roh itu menghuni rumah tersebut...
Ritual dilakukan untuk perdamaian.
Kami dengar ada suara aneh dari dalam.
Untuk mengetahuinya, kami masuk.
Apa mereka juga memiliki anak perempuan?
Hei, Kittayya! Bawa dia lewat belakang jangan sampai ada yang tahu.
Aku takut mereka akan menyakitinya jika mereka tahu tempat asalnya.
Jadi, aku membesarkannya seperti putriku sendiri.
Tapi hari ini, mereka mengorbankan dia untuk menyelamatkan desa ini.
Tolong selamatkan Nandini, Nak.
Bukan Nandini yang harus diselamatkan.
Tapi desalah yang harus diselamatkan dari Nandini!
Kematian di desa ini karena akibat bocah yang kau masukkan ke panti asuhan...
Putra Venkatachalapathy, Bhairava!
Orang yang mengganti fatwa kuil untuk menghancurkan desa ini...
tidak lain adalah...
Putri Venakatachalapathy, yang sudah kau besarkan sebagai anakmu, Nandini!
Hei! Nandini!
Hei! Nandini!
Nandini!
Kau sudah berbuat salah, Nandini.
Kau sudah berbuat salah.
12 tahun lalu, desalah yang membuat kesalahan.
Apa yang dilakukan warag desa untuk menyelamatkan hidup mereka tidaklah salah!
Ayahmu, Venkatachalapathy, yang salah.
Jangan bicarakan ayahku jika kau tidak tahu apa-apa tentang dia.
Apa maksudmu, Surya?
Ayah...
Meski ibuku lumpuh, dia menjadi seorang ayah.
Setelah dokter mendiagnosisnya dia tidak akan sembuh,
ayahku berusaha mencari obat herbal.
Hei! Apa ini? Ada apa?
Tenang, Shanti.
Ayahku tidak percaya pada obat yang tak bisa menyembuhkan Ibuku.
Dia percaya pada Veda yang bisa membuatnya berjalan.
Lewat Atharvana Veda,
dia belajar bagaimana mengendalikan kekuatannya dan menguasainya.
Dia menguasai semua ilmu sihir...
dan menciptakan keajaiban.
Apa ini?
Ini kalung tantra.
Didalamnya ada kekuatan gaib,
bisa menarik kekuatan jahat.
Ini jimat yang akan menyelamatkanmu dari bahaya kekuatan jahat tersebut.
Kemarin kau bilang kau akan memberiku mayat hari ini.
Dokter itu jenius.
Pasien hampir meninggal tapi selamat.
- Dengarkan. - Ya.
Hei, taruh mayat yatim piatu ini di kamar mayat.
Pergilah. Sulit menemukan mayat.
Ada eksperimen dalam ilmu tantra...
Atharvana Veda yang bisa menguasai kekuatan.
Jika ada yang meninggal, masih ada organ yang hidup selama beberapa jam.
Jika kita bisa mengirimkan roh ke dalam tubuh...
mayat yang tidak bernyawa itu akan hidup kembali.
Mata adalah organ yang sangat penting.
Itu organ yang paling penitng.
Menggunakan mata sebagai media,
jika kekuatan hidupmu bisa dipindahkan ke mayat yang baru saja mati,
mayat itu bisa hidup kembali, sama sepertimu.
Mencurigai dia memanfaatkan mayat itu untuk ilmu hitam,
mereka menyeret keduanya, mengikatnya ke pohon, dan membakarnya hidup-hidup.
Saat aku terbangun,
kedua orang tuaku sudah menjadi abu di bawah pohon.
8 hari...
aku tinggal di rumah itu, sakit, lapar, dan menangis.
Kakak yang aku tunggu, tidak kembali-kembali.
Bawa dia lewat belakang jangan sampai ada yang tahu.
Harischandra Prasad merawatku.
Aku dibesarkan di antara orang gila yang membunuh orang tuaku.
Aku tidak pernah menyesal sedikit pun.
Saat aku sadari tidak ada penyesalan sama sekali,
aku ke rumahku untuk mengumpulkan barang-barang kenangan.
Kita akan bunuh mereka.
Ayo bunuh seluruh warga desa.
Kupelajari ilmu tantra yang diciptakan ayahku...
dan menggunakannya untuk menghabisi warga desa.
MENANGKAL ILMU JAHAT: 1. PERTAMA KENALI TUAN RUMAH
Kami memulai rencana kami dengan mengubah kitab fatwa yang diyakini desa.
Rumahku, yang dipuja seperti kuil...
untuk membantu ibuku bertahan hidup...
diubah menjadi kuburan oleh warga desa ini.
Makanya aku mengubah desa ini menjadi kuburan!
Percobaan ayahmu bukan digunakan membunuh tapi untuk menyelamatkan nyawa.
Jika kau sendiri tidak memahaminya, mana bisa penduduk desa memahaminya?
Saat itu, mereka melakukan kesalahan karena ketidaktahuan.
Sekarang kau sengaja melakukan kesalahan yang lebih besar.
Kenapa Parvathi dan Sudha harus mati? Mereka sama sekali tak ada hubungannya dengan ini?
Mereka sama sekali tak mengenal orang tuamu.
Kenapa mereka harus dibunuh?
Mereka harus mati!
Kenapa mereka semua ada di sini sekarang?
Untuk membunuhku agar mereka bisa hidup.
Kau tidak lihat?
Mereka tidak berubah sama sekali.
Saat itu, mereka semua berkumpul dan membunuh dua orang.
Sekarang kami berdua akan membunuh seluruh warga desa ini!
Tapi sekarang aku berdiri di antara penduduk desa dan kalian berdua.
Bunuh aku duluan!
Kau tidak ada hubungannya dengan desa ini atau balas dendamku.
Pergi dari sini.
Pergilah!
Kau tidak bisa membunuhku.
Karena kau mencintaiku.
Kau bertanggung jawab atas cintamu.
Kaulah yang jatuh cinta. Bukan aku.
Bohong. Kau jatuh cinta padaku.
Tidak.
Hei, kau yang jatuh cinta padaku!
Tidak!
Jika ini bersamamu,
itu sama dengan aku bersamamu.
Bagaimana tubuhmu, tanpa inisiasi apa pun, bisa menerima energi tantra?
Inilah bukti cinta yang tidak kau tanggapi.
Ayahmu berusaha menjaga ibumu tetap hidup dengan menggunakan ini.
Kau melindungiku juga dengan cinta.
Meski ada cinta di hatiku,
lebih baik aku mati untuk balas dendam daripada bertahan demi cintamu.
Jika kau bakar diriku, desa ini akan terbakar!
Hei! Hentikan, Nandini!
Kau tidak mencintaiku. Oh begitu?
Nandini!
Surya!
Surya!
Surya, kenapa kau berbuat begini?
Kau tahu yang sudah kau perbuat?
Desa ini memberiku waktu 8 jam karena aku mau menyelamatkan Nandini-ku.
Mati...
Aku tidak mau mereka mati.
Maafkan mereka, Nandini.
Bukan kematianmu yang akan menyelamatkan desa.
Balas dendamku harus mati dulu.
Bisakah kau melampaui cinta ini...
dan menghancurkan kebencian dalam diriku?
Kau...
Kau...
Kau harus hidup, Surya.
Maafkan aku, Nandini.
Maafkan aku.
Aku sudah berbuat salah.
Maukah kau mendengarkanku?
Ya.
Nandini!
Nandini!
Nandini!
Nandini!
Ini bukan kesalahan satu orang!
Semua warga desa ini bodoh.
Jika kau mau menghindari kesalahan lain,
rubahlah rumah ini, yang menjadi kuburan, menjadi sekolah.
Ajarkan ilmu itu kepada generasi mendatang.
MENANGKAN HADIAH DAN BONUS MENARIK LAINNYA.
Dapatkan Bonus 50% Auto Jadi Sultan LXWHITELABEL.COM
MAINKAN SEKARANG JUGA
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.