Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Jatiwalu.
Mahesa.
Rampas apa pun yang kalian mau...
tapi jangan sentuh yang menjadi bagianku.
Serang!
Suci, sembunyi!
Bajingan!
Ranaweleng. Lama tak jumpa.
Rana!
Suci.
Akhirnya kita bertemu lagi.
Rana!
Rana! Rana! Rana! Rana!
Ibu.
Lari!
Bapak!
Kaligundil.
Ambil anak itu.
Lari! Lari, Wiro!
Wiro!
Ke sini kau!
Jangan!
Lepas!
Wiro!
Perempuan sial!
Mampus kau dengan seluruh keluargamu!
Bakar anak itu!
Tak seorang pun ingat sejak kapan Silat muncul di dunia ini.
Ada yang percaya, ia lahir dari Wahyu para Dewa.
Ada yang percaya ia lahir dari ilham manusia.
Ada yang percaya, ia berasal dari Suwarnadwipa.
Ada yang percaya, ia berasal dari Yavadwipa.
Eyang. Eyang.
Apa?
Berat ini!
Begitu saja berat. Jalan!
Bagi sebagian orang, Silat adalah duka.
Namun bagi sebagian lain, ia adalah darma.
Yang benar, Wiro!
Manusia tak kunjung henti beradu tentang siapa paling benar
dan lebih layak menguasainya.
Satu hal yang pasti, mereka yang mempelajarinya
lambat laun akan sampai pada sebuah pilihan.
Jalan manakah yang akan mereka ambil?
Terang...
atau Gelap?
Kopinya.
Terima kasih, Eyang.
Toh, mereka yang menyebut dirinya, Terang atau Gelap...
Tetap bisa takluk pada nama, untung dan kuasa.
Resi.
Maaf, tapi kalau ramai-ramai depan barang dagangan.
Aku susah berjualan, Resi.
Bisa pindah ya.
Lagi, Pak. Belum selesai ceritanya!
Kalau mau lanjut selesai, di rumah saja. Jangan di sini. Ini mau jualan.
- Pelit! - Pelit!
Memang yang bayar sewa ini, mbahmu?
Pelit.
Pulang.
Hati-hati di perjalanan.
Hei!
Awas ketiak!
Ini tajam, Eyang.
Ayo, Wiro. Tunjukkan seluruh kekuatanmu.
Guru, pukulan Mataharimu hampir membuatku mati!
Mainan baru, Eyang?
Keren sekali.
Ampun, Eyang Guru.
Aku memilihmu sebagai muridku.
Tapi apakah dia juga memilihmu?
Tangkap!
Rasakan. Mau kabur ke mana lagi sekarang?
Kok keras sih?
Apakah dia mati?
Wiro?
Wiro!
Ro...
Wiro?
Eyang, mencari ini?
Eyang khawatir denganku?
Tujuh belas tahun
berlalu.
Eyang?
Membuat si tua
menuju abu.
Tujuh belas tahun menuntun
si bayi
menjadi sakti.
Kemari, Wiro.
Wiro...
Budek!
Sini.
Aku tidak budek.
Ini apa-apaan sih, Eyang?
Aku sudah besar.
Bisa ganti baju sendiri.
Eyang sudah tua masih juga genit.
Baru tumbuh bulu beberapa helai saja, sudah berlagak.
Eyang kalau mau memberi baju baru, bilang dulu.
Kenapa harus putih semua?
Seperti mayat.
Itu agar kau selalu ingat, bahwa hatimu harus tetap bersih.
Mencucinya susah.
Jadi, jika memang bajuku kotor, apakah hatiku juga kotor?
Aneh.
Ini maksudnya apa?
Nih!
Ini apa maksud, Eyang?
Tidak bisa hilang.
Itu sebagai tanda.
Agar kau selalu ingat
bahwa ilmu yang kita pelajari adalah Dua-Satu-Dua.
Apa maksudnya?
Dari mana kau berasal?
Dari Gunung Gede, Eyang.
Aku tanya dari mana kau berasal.
Bukan di mana kau tinggal.
Lebih baik aku tidur lagi.
Cepat jawab dulu.
- Dari bapak dan ibuku. - Dari mana mereka berasal?
- Dari kakek dan nenekku. - Dari mana berasal?
- Dari kakek dan nenek buyutku. - Dari mana mereka berasal?
- Dari kakek dan nenek moyangku. - Dari mana mereka?
- Dari kakek buyut nenek moyangku. - Dari mana mereka?
Kau tertawa mengerti atau tidak?
Tidak.
Goblok!
Aku bisa bego sungguhan jika terus dipukul.
Di alam semesta ini, Wiro...
selalu terdapat dua unsur yang berlainan,
tapi berpasangan.
Tapi semua bersumber pada yang Satu.
Tuhan Yang Maha Esa.
Dua-Satu-Dua.
Kapak Naga Geni ini telah memilihmu sebagai pewarisnya.
Pergunakan Kapak dan Batu Hitam ini...
Mana batunya?
Sabar, ketinggalan.
Lupa, ya?
Pikun.
Lihat ini.
Ambil ini, Wiro.
Ini hanya dapat kau pergunakan
dalam pertarungan hidup dan mati.
Jika tidak, selalu sarungkan dalam tubuhmu.
Terima kasih, Eyang.
Mulai saat ini...
kau akan dikenal sebagai,
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212.
Wiro Sableng.
Wiro Sableng.
Itu artinya kau telah siap melakukan kewajibanmu.
Kewajiban apa lagi, Eyang?
Dengar dan ingat baik-baik, Wiro.
Empat puluh tahun lalu...
aku pernah mengangkat seorang anak laki-laki sepertimu.
Yatim piatu.
Keluarganya habis dibantai oleh perampok.
Saat itu, aku sudah berpikir untuk mengasingkan diri...
Awas!
...karena lelah dengan segala pertumpahan darah.
Anak ini menjadi tumpuan harapanku
sebagai penerus Kapak 212.
Namun, harapan yang terlalu tinggi, membuahkan hasil yang tak sesuai.
Sampai pada suatu malam...
Apa yang kau lakukan, Suranyali?
Aku hanya ingin mengambil yang seharusnya menjadi hakku!
Kelabang Hijau!
Murid durhaka, kau, Sura.
Ampun, Guru!
Jangan kau memanggilku Guru lagi.
Kau telah menodai ajaran 212.
Kejahatannya semakin menjadi-jadi.
Dan kini dia dikenal dengan nama Mahesa Birawa.
Terakhir kudengar dia terlihat di Jatiwalu.
Kau cari dia.
Seluruh ilmuku telah kupasrahkan kepadamu, Wiro.
Kini saatnya kau memasuki dunia luar.
Membawa garis-garis hidupmu sendiri.
Tujuh belas tahun yang lalu...
saat tanganmu menggenggam erat tanganku...
ada rasa hangat yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
Eyang.
Kau telah mengubah hidupku, Wiro...
yang sebelumnya getir...
dan sepi.
Aku pun berutang budi padamu, Eyang.
Kau satu-satunya keluarga yang aku miliki.
Akan kubawa Mahesa Birawa ke sini.
Selama langit masih biru...
...selama hutan masih hijau...
selama air sungai masih mengalir ke laut...
kita pasti akan bertemu lagi...
Wiro Sableng.
Kanjeng Gusti.
Hamba mendengar ada pergerakan mencurigakan di Desa Kalijaga.
Pergerakan?
Bagaimana dengan keadaan Putri Rara Murni dan pangeran?
Sudah sampai di mana mereka?
Pangeran beserta rombongan, kini hampir sampai di desa Jatiwalu.
Tiga hari perjalanan dari Kalijaga, Kanjeng Gusti.
Maaf, Kanjeng Gusti.
Dari awal, hamba sudah sangat tidak setuju
dengan usul adik kita, Rara Murni,
dengan membawa serta pangeran ikut dalam perjalanan ini.
Karena situasi sedang tidak menentu.
Maksud Rara Murni baik.
Dia ingin pangeran belajar...
dan melihat langsung keadaan negeri kita.
Maaf, Kanjeng Gusti.
Demi keamanan mereka.
Izinkan hamba mengirim Panglima Kalasrenggi menjemput mereka.
Laksanakan!
Kapak... sakti!
Kapak... sakti!
Kapak... sakti!
Woi!
Anak muda!
Kapak Naga Geni.
Apa hubunganmu dengan Sinto Gendeng?
Siapa tanya siapa?
Aku Dewa Tuak,
dan ini muridku, Anggini.
Jadi, kau kenal guruku?
Kau muridnya?
Kau muridnya Si Sinto?
Siapa namamu, Anak Muda?
Aku Wiro Sableng.
Muridnya sableng, gurunya gendeng.
Eh...
Hei, Sableng, kawinlah dengan muridku!
Kalian bakal jadi pasangan pendekar yang edan!
- Guru... - Sudah...
Kau manut saja sama gurumu!
Permisi.
Dia bukan seleraku.
Hei...
Siapa juga yang minat denganmu?
Kau tuli?
Gurumu yang bicara.
Itu tuak yang bicara.
Sama saja.
Kalian sudah mulai akrab rupanya.
Akrab bagaimana?
Sudahlah. Aku banyak urusan.
Aku permisi, Dewa Tuak.
- Syahrini. - Anggini!
Ya, siapalah namamu.
Tunggu dulu, kau mau ke mana?
Aku ada urusan dengan Mahesa Birawa.
Mahesa Birawa?
Yang akan kau hadapi itu, bukan lawan sembarangan.
Yakin, kau mampu menghadapinya sendirian?
Bawalah muridku untuk membantumu. Ayo.
Aku bisa urus diriku sendiri.
Permisi, Dewa Tuak.
Cepat, kau susul dia!
Dia tidak mau dibantu.
Karma apa, aku punya murid bodoh sepertimu?
Kau mau menjadi pendekar, 'kan?
Cepat kau bantu dia menghadapi Mahesa Birawa dan kaki tangannya!
Cepat-cepat!
Begitu?
Dengan begitu aku lulus menjadi pendekar?
- Ya, ya, ya. - Bisa menentukan jalanku sendiri?
Ya, kau akan lulus asal tidak mati.
Cepat keburu jauh dia. Ayo!
Baik, Guru!
Hei! Anggini!
Jangan lupa ambil hatinya dan kawini dia!
Jangan sampai kau jadi bujang lapuk.
Seperti aku.
Mau makan apa?
Apa pun, yang penting enak...
dan murah.
Ya? Kok ubi?
Katanya murah? Itu yang paling murah.
Sudah sana.
Kecil...
Kabur.
Tapir...
Bawakan makanan yang paling enak.
Baik.
Kaligundil.
Empat Berewok.
Sebentar lagi rombongan akan segera sampai.
Mereka menyamar.
Berapa pengawal mereka?
Katanya, kurang lebih lima orang.
Kurang atau lebih?
- Kalau lebih? - Enam.
- Kalau kurang? - Empat.
Jangan bercanda!
Ingat!
Mahesa Birawa sendiri yang akan menggorok leher kalian jika gagal.
Saudara-saudaraku seperjuangan.
Saat ini, kerajaan sedang dalam keadaan lemah,
dan sebentar lagi, akan jatuh ke jurang kehancuran.
Tatanan lama harus dibongkar.
Kita yang akan membawa pembaruan ini!
Kita rebut kerajaan!
Pasti dan harus berhasil!
Berhasil?
Coba jelaskan dulu apa rencanamu?
Aku tidak mau mati konyol.
Kau meragukanku?
Hah?
Pertanyaannya adalah...
apakah semua orang-orang di sini, bisa dipercaya?
Seorang prajurit terbiasa dengan sumpah setia.
Beda dengan kalian...
Seorang pengkhianat berbicara tentang kesetiaan?
Jaga mulutmu!
Diam!
Saatnya adu ilmu belum dimulai!
Sudah kuputuskan, siasat penyerangan diserahkan kepada Panglima Kalasrenggi.
Kalian yang tidak setuju, berhadapan denganku!
Kenapa, Paman? Ada masalah?
Ada yang tidak beres.
Tangkap pangeran!
Minggir!
Biasa saja melihatnya.
Hei.
- Botak! - Mati kau!
Jangkrik!
Paman!
Wah, siapa kau sebenarnya, bocah Kunyuk?
Aku Wiro Sableng.
- Kejar! - Cepat kejar!
Kejar!
Di mana?
Kok hilang?
Apanya?
Lihat sedikit dong.
Di mana senjatamu tadi?
Pada mau ke mana sih? Kok tak mengajak.
Jangan ikut campur kau.
Aku tak ada urusan dengan kecoak berewok seperti kalian.
Aku cuma ingin tahu di mana Mahesa Birawa berada.
Tahu tidak?
Wah!
Robek.
Ini baru.
Botak!
Botak!
Lari ke mana bajingan botak tadi?
Tidak tahu, tapi kalau berewok, agak gembul ke arah sana.
Mengejar perempuan tadi.
Kenapa kau mengejar gadis cantik?
Aku lepas ini.
Ampun.
Permisi.
- Jatuh ini. - Kalau kau mau perempuan itu.
Permisi.
Lepaskan aku.
- Permisi! - Terbang.
Maaf, Sobat, mengganggu. Aku pikir kau bukan dari bangsa manusia.
Sobat? Bikin kaget saja. Siapa kau?
Namaku Wiro. Aku ada urusan dengan itu.
- Hah? - Itu.
Itu...
Berewok?
Kau suka dengan yang berewok?
Aduh... Ini...
Aku Santiko atau lebih dikenal Santiko Tapak Sakti.
- Pernah dengar? - Tidak.
- Apa? Tak pernah? - Tidak.
Udik betul. Ke mana saja kau selama ini? Tinggal di atas gunung?
Kok tahu?
- Betul? - Ya.
Aduh. Kasihan.
Pantas orang gunung! Kurang Pergaulan!
Kalau begitu kita sama dong.
Kau juga kurang pergaulan!
Lihat. Perut buncit.
Pakai baju terbalik.
Nangkring di atas pohon.
Mirip orang utan.
Orang utan!
Kalau kau mau sama berewok, ambil saja, naik ke atas.
Kau saja yang turun ke bawah?
- Kau yang naik. - Kau yang turun.
- Naik. - Turun.
- Naik. Naik. - Turun. Turun.
Menantang! Sini naik kalau berani. Dasar orang gunung.
Menantang dia?
Ayo kita berkelahi.
Jangan pegang-pegang!
- Aku bisa bangun sendiri. - Sombong.
Terbalik.
Jangan bercanda! Bahaya!
Aduh... Jangan.
Amit-amit.
Hei, jatuh.
Jangan bercanda.
Bercanda saja.
Kau main jambak? Jambak?
Biar.
Untuk apa ikut campur?
Ini siapa? Pacarnya, ya?
Banyak omong kau, Mahesa Birawa!
Mahesa Birawa?
Tolong! Tolong!
Tolong.
Gondrong, berhenti menarik celanaku!
Lepas dulu!
Hei, celana dalamku.
Bi... Bibi...
Rezeki tidak ke mana-mana!
Bibi!
Bibi!
Kau tahu, kepalamu senilai tiga kantong emas!
Tiga kantong emas!
Aku mencium aroma kegagalan.
Tapi dari seratus pasukan pengawal kerajaan,
- tapi... - Apa?
Tapi kau gagal membawa pangeran dan tuan putri?
Awas saja, Pengkhianat.
Cukup!
Apa yang terjadi?
Mahesa...
Pangeran dan tuan putri sebenarnya sudah kami kuasai...
...lalu tiba-tiba muncul pendekar kunyuk...
dengan kapak naganya!
Apa dia menyebut namanya?
Dia menyebut namanya...
Wiro Sableng.
Apa kau kenal?
Sableng...
Gendeng...
Aduh. Akhirnya cita-citaku seumur hidup.
Hei... hei...
Sembarangan! Jangan pegang-pegang.
Tidak. Aku temanmu.
Aku teman.
Siapa kalian?
Siapa kalian?
- Tenang. - Di mana Pangeran?
- Pangeran! - Aku bisa jadi pangeran?
Pangeran!
Pangeran?
Kau siapa?
Aku Rara Murni. Adik Raja Kamandaka.
Salam hormat, Tuan Putri. Aku Anggini.
Aku Santiko.
Sang Bujang Gila Tapak Sakti.
Aku teman bukan ancaman.
Di mana ini?
Gondrong?
Gondrong!
Wangi sekali?
Apa itu?
Bidadari...
Sudah lama kami menunggumu?
Masa?
Ada tertulis.
Ketika gelap menelan terang...
dan langit malam menjadi merah darah...
akan lahir dia yang menertawakan dunia.
Masa?
Siapa dia?
Kau, Wiro.
Saat ini dunia sedang kacau!
Golongan hitam semakin merajalela.
Tapi kita kenalan dulu dong!
Nama kau sebenarnya siapa?
Kok cantik sekali?
Namaku tidak penting.
Mereka yang lebih penting!
Akan terjadi pertumpahan darah besar di negeri ini.
Dan kau harus menghentikan mereka!
Dari sekian banyak pendekar hebat di negeri ini...
Kenapa mendadak aku yang repot?
Asal kau tahu...
pemimpin golongan hitam adalah Mahesa Birawa.
Mahesa Birawa?
Ingat, kau harus cepat. Waktumu tak banyak!
Bagai bidadari yang berhembus seperti angin timur.
Wiro Sableng!
Aduh...
Untuk apa mengikutiku terus?
Hilang, 'kan? Lihat. Hilang.
Wiro, putra mahkota kerajaan telah diculik.
Kita harus segera menyelamatkan dia.
"Kita"? Sejak kapan menjadi kita?
Kalian saja. Tak perlu aku.
Pendekar Wiro.
Aku mohon bantuanmu.
Nyawa keponakanku sekarang sedang terancam.
Aku harus menyelamatkan dia.
Aduh...
Berat menolak jika yang minta manis seperti ini?
Mana basah lagi.
Maksudnya?
Baik, aku bantu.
Aku ada akal.
Secepatnya, kita segera keluar dari sini!
Semua juga tahu, kita harus keluar dari jurang ini!
Ayo, Tuan Putri. Kita panjat tebing ini.
Aku akan membantumu.
Cantik, tunggu.
Aku lebih dulu.
Apa sih?
Dari mana saja kau?
Tubuhmu wangi sekali. Seperti kuburan baru.
Banyak omong kau, Bujang Gila Tapak Gajah!
Tapak Sakti! Bujang Gila Tapak Sakti! Paham?
Bau celeng, minggir.
Tunggu. Gondrong.
Kau kok cepat sekali!
- Rara. - Gondrong, tunggu aku!
Hei, Iblis Pencabut Sukma!
Kau cari mereka.
- Pendekar Wiro. - Ya.
Terima kasih sudah membantu kami.
Kerajaan berutang budi kepada kalian.
Aduh. Terima kasih segala. Tidak perlu.
Siapa pun pasti rela menolong perempuan berhati mulia dan cantik sepertimu.
Rara...
Ya.
Kalau aku boleh tahu...
Kalian kenapa menyamar?
Malah bahaya loh.
Sebenarnya, aku hanya ingin keponakanku
melihat negeri yang akan dia pimpin nanti.
Sebenar-benarnya. Tanpa riasan.
Kalau kami datang berbondong bondong dengan kereta kencana,
para pemimpin daerah selalu menutupi semua permasalahan jika kami datang.
Kami menyamar karena ingin melihat apa yang dirasakan oleh rakyat.
Hmmm...
Susah juga.
Apa?
Hah?
Kenapa?
Apa?
Tadi bicara apa?
Bicara apa?
Tadi?
Tidak apa-apa.
Aku ingin nantinya keponakanku menjadi Raja
yang mampu membela kepentingan rakyatnya.
Tapi aku malah mencelakakan dia.
Tampaknya nasib mempertemukan kita, Wiro.
Orang yang selama ini kucari...
juga dalang dari semua ini.
Jangan-jangan...
kita berjodoh.
Hei! Aku tahu di mana pangeran berada.
Ya. Di sana.
Gondrong, kau mau ke mana? Tolong aku dulu.
Tak peduli.
- Aku terjepit. - Tak peduli!
- Tunggu. - Terserah.
Mahesa, telah kutemukan.
Kala Hijau!
Mana mungkin aku tetap berdiam diri?
Di surat ini sudah jelas tertulis
mereka meminta tebusan, dan aku sendiri yang membawanya!
Hamba mengerti perasaan kanjeng Gusti.
Kalau Kanjeng Gusti tidak memenuhi permintaan para penculik...
nyawa pangeran dan Rara Murni terancam bahaya.
Hamba mengusulkan, Kanjeng Gusti menyamar saat keluar istana.
Kau pikir aku takut dengan mereka, sehingga harus menyamar?
Maafkan. Hamba tidak bermaksud bicara lancang.
Tapi tujuan Kanjeng Gusti yang disamarkan.
Katakanlah, Kanjeng Gusti hendak berburu menjangan.
Dengan begitu rakyat tidak curiga.
Hati-hati, ini berbahaya.
Aku lebih dulu.
Sudah.
Kenapa?
Belum pernah makan ular?
Tidak.
Beda.
Kentut siapa itu?
Celeng!
Keluar kalian!
- Keluar! - Cukup.
Keluar!
Minggir!
Kalian lagi!
- Bibi! - Belum mati kalian!
Serahkan pangeran segera!
Gerombolanku masih banyak.
Kalian yang akan mampus.
Memangnya kau dari gerombolan mana, Berewok?
Sombong betul.
Dari Gerombong Jarang Cukur mungkin?
Bulunya banyak sekali.
Bangsat kalian!
- Aroma kentutmu sangat beracun. - Dia mati.
Mati.
Ibu!
Ibu!
Aku tidak nakal, Ibu.
Aku janji.
Aku janji, Ibu.
Pangeran. Hei, Pangeran!
- Ibu. - Wiro.
Bidadari, kau datang kembali, Sayang.
Manis...
Anggini, ada apa ini?
Ayam goreng.
Besar sekali.
Ayam besar sekali. Kalkun?
Partai Lembah Tengkorak!
Ilmu sihir murahan ini hanya berlaku untuk pria.
Banyak kulit.
Wiro.
Guru Sinto.
Sadar, Wiro.
Kau terkena nyanyian lagu pencabut raga.
Ada empat, Wiro.
Lima.
- Lima. - Ya.
Cantik sepertinya.
Genit.
Genit memanggil genit?
Berewok mana?
Berewok?
Oh, pingsan.
Kabari si Ular agar segera bersiap.
Baik.
Jangan sampai rencana kita gagal.
Bibi.
Hei!
Hei!
Pemberontakan sudah dimulai.
Mirip.
Mirip?
Rara pernah bilang, kalau penyamaran kalian dirahasiakan.
Itu artinya...
Jangan-jangan...
Ada yang bertujuan menggulingkan kerajaan.
Tapi...
Untuk apa menculik dia?
- D ia hanya pangeran, bukan raja. - Lumayan bodoh.
Apakah bapakmu sayang padamu?
- Santiko! - Sayang. Dia pasti mencariku.
Mencarimu?
Ya. Kenapa?
Ular.
Ular?
Ya.
Ibarat ular.
Kalau kita tangkap kepalanya, ekornya akan menyerang.
Tapi kalau tangkap ekornya...
Kepalanya akan menyerang!
Raja.
Ibu...
Bawa kami ke markas Mahesa Birawa!
Tidak!
Hei...
Ya... Ya...
Paduka.
Cepat.
Ini jalan apa?
Selamat datang Raja Kamandaka!
Mimpi apa aku semalam.
Tempat tinggalku yang hina ini dikunjungi seorang raja.
Tidak usah banyak bicara.
Aku sudah membawa lima peti emas sesuai permintaanmu.
Sekarang lepaskan anak dan adikku.
Cepat!
Tatanan lama akan berakhir hari ini.
Kamilah pembaharu negeri ini...
yang akan mengembalikan kejayaannya!
Kau pengkhianat!
Lindungi Paduka.
Serang!
Merapat!
Selamat jalan Raja hina.
Mahesa Birawa.
Aku Wiro Sableng.
Guruku Sinto Gendeng mengutusku untuk membawamu kembali ke Gunung Gede.
Ayo beres-beres.
Aku tak punya banyak waktu.
Mati kau, Mahesa Birawa!
Mahesa Birawa urusanku.
Dia juga ujianku.
Lindungi Rara sekarang!
Semangat sekali rupanya dia!
Memang kau dijanjikan apa oleh nenek peyot itu?
Tujuh belas tahun yang lalu...
Eyang Sinto menyelamatkanku di desa Jatiwalu.
Hari ini, kau ikut aku ke Gunung Gede.
Atau kau mati di sini.
Tujuh belas tahun lalu...
Jatiwalu.
Ternyata kau anak haram Suci dan Ranaweleng.
Bapakmu itu manusia sampah.
Dia hanya bisa menangis saat aku gerayang ibumu.
Cengeng? Rindu orang tuamu?
Aku kirim kau ke neraka!
Mana kapak 212-mu yang sakti itu?
Mana?
Rara!
Ayah!
Ayah!
Mundur!
Kamandaka!
Ayo cepat!
Kerajaan telah diambil alih.
Ayo.
Wiro!
Istirahat dulu, Wiro.
Racun sudah kukeluarkan,
Tapi kau belum sembuh benar.
Aku telah gagal.
Maksudmu?
Guruku bilang...
jika aku bisa mengalahkan Mahesa Birawa...
maka aku lulus jadi pendekar.
Karena itu, aku mengincarnya.
Kau tidak salah.
Kita para pendekar...
terkadang selalu merasa berbeda.
Padahal kita ini manusia biasa.
Kita tak mampu menentukan garis hidup.
Pemberontak!
Lari! Pemberontak!
Anak setan!
Eyang.
Eyang guru.
Wiro.
Kenapa Eyang tak pernah memberitahuku...
bahwa Mahesa Birawa pembunuh orang tuaku.
Dendam tidak pernah ada habisnya, Wiro.
Sekali kau terjebak dalam nafsu balas dendam...
ia akan menyeret dan menelanmu hidup-hidup,
dan hidupmu akan dikuasai oleh kegelapan.
Seperti Mahesa Birawa.
Apa yang harus kulakukan, Eyang?
Aku telah gagal menjadi muridmu.
Eyang?
Ada hal yang jauh lebih besar dari hasrat balas dendammu.
Sesuatu yang jauh melampaui langit, bumi...
bahkan seluruh isinya.
Semua ilmu yang kuajarkan padamu hanyalah jalan...
jalan untuk mencapai yang manunggal.
Jadilah satu, Wiro.
Ayo, bangun!
Cepat. Raja Kamandaka memanggil kita!
Ada gubuk delik sandi di utara hutan kerajaan.
Kita bisa menyusun rencana dari sana.
Baik, Paduka.
Ini rumahnya.
Werku Alit!
- Siapa Werku Alit? - Tidak tahu.
Segala kesakitan dan duka yang menimpa kita...
Tak kusangka adikku sendiri yang mendalangi ini.
- Oh, adiknya. - Adiknya jahat.
Kita harus segera kembali menguasai istana.
Tapi penyerangan ini, harus dilakukan dengan diam-diam.
Kita punya peluang melalui dinding timur.
Dinding tinggi dengan penjagaan yang tidak terlalu ketat.
Tapi siapa yang mampu melewati dinding setinggi 30 tombak?
Yang Mulia, aku bersedia.
Werku Alit pasti merayakan pesta kemenangan.
Aku butuh penyamar untuk menyusup.
Pusatkan seluruh penyerangan pada satu titik.
Singgasanaku!
Berhenti! Isi apa?
- Malam. - Malam.
Kenapa yang di belakang menunduk?
Malu...
Maklum, baru kena beri-beri.
Kita harus ke permaisuri.
Dengar, tidak?
Iih...
Hei! Celeng busuk!
Serang!
Kabur!
Guru!
Hati-hati!
Kau yang hati-hati.
Kau ke sana, biar Guru di sini.
Permaisuri, Raja Kamandaka mengutusku untuk menyelamatkanmu.
Ayo.
Yang Mulia.
Ibu!
Anakku!
- Kau tidak apa-apa? - Aku tidak apa-apa.
Bawa mereka ke tempat aman.
Kau gunakan pedangku ini untuk melindungi ibumu dan rakyatmu.
Baik, Ayah.
Pendekar Wiro.
Kita cari Werku Alit.
Mau cari siapa?
Apa itu?
Diapakan itu?
Kau mau bertarung atau tidak?
Lama.
Dia urusanku!
Kau selesaikan urusanmu dengan Mahesa Birawa.
Belum mampus juga kau, Anak Haram.
Kenapa? Mulai khawatir?
Werku Alit.
Belum saatnya kau melawanku.
Kaligundil, urus kroco ini.
Ampuni aku, Kak.
Ampuni aku, Kak.
Ampuni aku, Kak.
Rara Murni mati karena kau.
Dharma.
Jadilah satu.
Wiro, sekarang!
Pendekar.
Yuhuu...
Aku mungkin akan merindukan kalian.
Aku juga.
Aku ke sana.
Aku ke sana.
Aku ke sana.
Terima kasih, Sahabat-sahabatku.
Sampai jumpa.
Dah!
Kali ini kita gagal.
Jangan gegabah, Anom!
Kau harus menguasai Kitab Wasiat Iblis itu.
Baik, Guru.
โช Dan keputusasaan Menyakiti diriku sendiri โช
โช Aku memacu seluruh waktu Memburu jantungmu โช
โช Dan semua yang kujalani dan harapkan Ternyata membuat kecewa โช
โช Pil pahit kegelapan Akan mematikan rasa jiwa raga โช
โช Luka, luka, luka, luka โช
โช Aku lupa luka, luka, luka, luka โช
โช Luka, luka, luka, luka โช
โช Aku lupa luka, luka, luka, luka โช
โช Menangis meratapi kebodohan Memahami dan tinggalkan mimpi โช
โช Aku melantunkan lagu pedih Menutup hatiku โช
โช Dan semua yang kuberikan dan serahkan Dan pinjamkan takkan kuminta โช
โช Sebening kehampaan doa Menghambarkan luka-ka-ka-ka โช
โช Luka, luka, luka, luka โช
โช Aku lupa luka, luka, luka, luka โช
โช Luka, luka, luka, luka โช
โช Aku lupa luka, luka, luka, luka โช
โช Luka, luka, luka, luka โช
โช Aku lupa luka, luka, luka, luka โช
โช Luka, luka, luka, luka โช
โช Aku lupa luka, luka, luka, luka โช
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.