All language subtitles for Inadina.Ask.E01.Webrip

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

(In Spite Of Love)

Defne! Aku harus buang air kecil!

Doruk! Kau gila? Itu bukan urusan Bibi.

- Di mana ibumu, Nak? - Sedang tidur.

Tidur? Tak bisa kau bangunkan?

Kau malah membangunkan Defne! Pergi! Apa yang kau pikirkan?

"Aku harus buang air kecil, Ibu sedang tidur.

Aku akan keluar dari jendela, masuk ke lantai atas...

...seperti pencuri lalu membangunkan Defne."

Bibi bisa gila. Kau menyusahkan sekali.

Jendelanya akan Bibi tutupi papan. Tidak, akan Bibi tembok.

Bibi Ezgi benar, kau cerewet Bibi Defne.

Apa kau bilang?

- Baiklah. - Apa apa denganmu?

Aku baru selesai kerja malam, biarkan aku tidur.

Ezgi, kau bilang pada Doruk aku cerewet?

Siapa yang mengatakannya? Aku?

Pintunya!

Ezgi, jawab aku. Kau bilang aku cerewet?

Kau bergunjing dengan seorang anak tentang aku?

Siapa pun kau, waktunya tepat sekali.

Doruk kabur. Dia ada di sini?

Di mana lagi? Tentu di sini.

- Bagaimana kabarmu, Kakak? - Baik, Adikku.

Kau tidur mengenakan baju medis?

Aku langsung tidur setelah pulang kerja malam.

Leyla. Bawa putramu.

Dia melompat ke kasurku saat aku tidur.

Aku terpental hingga nyaris membentur plafon.

Nak, Ibu sudah bilang, jangan melompati bibimu.

Jangan buat wajah lucu.

Jangan mainkan bibirmu, Bibi akan menggigitmu.

Bibi akan menggigit dan meremasmu.

Rasakan ini!

Tidak!

Lihat waktunya!

Defne, kukira kau pasang alarm?

Sayang, kau mau terlambat untuk hari pertama kerja?

Kerja! Ini hari pertamaku, 'kan?

Kalian membuatku lupa! Ini hari pertamaku, dan.....

...kalian malah mengoceh, membuatku teralihkan!

Aku tak percaya ini! Bagus!

Kita yang mengoceh?

- Masuklah. - Astaga.

- Apa itu, Kakak? - Gaun, Sayang.

Sepertinya dia tak punya gaun yang tepat.

Aku tak ingin dia memalukan pada hari pertamanya.

Aku dengar.

Kita harus membahas tentang penampilanmu.

Deniz, aku mencari kesalahan pada kodenya semalaman.

- Kau menemukannya? - Tidak.

Bagaimana ini? Waktunya tinggal sedikit untuk...

- ...presentasi di kementerian. - Entahlah, Deniz.

Programmer yang baru mulai bekerja hari ini.

Mungkin dia bisa menemukan kesalahannya?

Aku belum berhasil selama 2 minggu. Seorang lulusan baru bisa?

Tentu, Deniz.

Dia memang lulusan baru, tetapi dia bukan pemula.

Dia relawan proyek komunitas global saat sekolah.

Dia menguasai bidang ini.

Ya.

Aku terlihat seperti gadis kantoran.

Defne, Aras Techs bukan terletak di pedesaan, Sayang.

- Ya, ini gedung perkantoran. - Lalu?

Aku sulit bernapas. Aku bisa meledak.

Bagaimana ini bisa muat padamu?

Sayang, aku lebih kurus darimu sebelum hamil.

Tidak bisa.

Aku akan membukanya, ini terlalu ketat.

Ini ketat sekali. Buka ritsletingnya.

Jangan. Memang tak mudah untuk tampil cantik.

Bukankah kau bilang para sekretaris di Aras Techs...

...terlihat seperti model majalah?

Kau bilang kau seperti pecundang saat wawancara.

- Benar, 'kan? - Aku bilang begitu?

Ya, memang tak mudah. Kata siapa aku tak bisa bernapas?

Meski tak bisa pun tidak apa. Kau lucu, Leylos.

Aku bilang begitu?

- Ya. - Berikan itu.

Aku pasti bisa.

Terima kasih.

Selamat pagi, semua!

Ada apa?

- Yesim, apa itu? - Apa?

Itu.

- Gaun. - Kau kira ini di mana?

- Jangan mulai lagi. - Yesim!

Deniz, bisa kau sadarkan kakakku?

Para kekasihnya mengenakan rok yang lebih pendek.

Makanya mereka hanya bersamaku untuk satu malam, Yesim.

Yalin Aras! Kau brengsek!

Aku cantik. Ezgi, bukankah aku terlihat luar biasa?

Aku akan merayu diriku sendiri.

Kuakui, gaunmu bagus, Leylos. Tetapi, apa tak terlalu pendek?

Ini gaun paling panjang yang aku miliki, Sayang.

Aku suka gaun 'panjang'mu ini. kau ipar terseksi!

Bibi, jangan sebut Ibu seksi. Ayahku akan marah.

Ayahmu tak bisa apa-apa, Doruk, Ibu sudah menceraikannya..

Kakak!

Kau bisa terlambat. Pergilah, aku perlu tidur.

Aku pergi.

Tunggu aku, Aras Techs. Defne Barutcu datang.

Mari.

Paman Cinar datang!

Apa kabarmu, Nak?

Apa-apaan ini?

Kakak, aku sudah terlambat, Kita bicara lagi nanti.

Masuk.

Masuk ke kamarmu dan ganti dengan pakaian yang pantas.

Leyla, aku tak mengatakannya kepadamu karena kau seorang ibu.

Tetapi, jika kau mendandani Defne seperti itu lagi, kita ada masalah.

Lalu kenapa jika kita bermasalah?

Aku menceraikan kakakmu, kau kira aku takut kepadamu?

Kakak, kau membahasnya di depan anak ini. Bagus sekali.

- Dia sudah tahu. - Astaga.

Kenapa kau diam saja? Pergi ke kamarmu!

Kakak, pakaian yang kumiliki tak cocok untuk pekerjaan ini.

Kau tahu seperti apa Aras Techs? Semua wanita di sana sangat modis.

Sekretarisnya bahkan mempermalukanku saat wawancara.

- Sebagai insinyur baru, aku... - Defne!

- Apa? - Diam.

- Dengar... - Defne, diam, kubilang.

Kau enggan berkecimpung dalam bisnis keluarga kita.

Kami mengizinkanmu bekerja untuk orang lain.

Namun, bukan begini Defne Barutcu! Masuk, kenakan pakaian lain!

- Kakak, dengar... - Defne!

Ganti pakaianmu atau karirmu berakhir.

Dasar orang Laz!

Memang kau orang apa? Norwegia?

Idris, kami mempercayakanmu dengan gadis-gadis ini.

Kenapa kau tak mengawasi para penyihir ini?

Cinar! Jangan panggil dia Idris. Namanya Doruk!

Terserahlah.

Pria tangguh. Ayo, pukul!

Pukul yang keras! Seperti baja!

Ayolah.

- Kau masih mengenakan gaun itu?? - Maaf, Kakak.

Aku lupa menyimpan gaun panjang di laci...

...untuk berjaga-jaga terhadap Kakakku.

Maaf.

Yesim, kau beruntung kami harus mengerjakan kode ini.

- Nanti kita akan bicara. - "Nanti kita akan bicara."

Ada berita baru?

Tidak. Ini tidak berhasil.

Haruskah kita menunda presentasinya?

Perlu kutelepon Kementerian Kesehatan?

Jangan. Aku berjanji pada konselor akan menyelesaikannya minggu ini.

Biar programmer baru memeriksanya, mungkin kita akan tahu.

Kami membahasnya saat wawancara.

Mereka menemui masalah yang sama pada proyek sebelumnya.

Sudah lewat dari pukul 09:00, Deniz.

Programmer baru itu lebih baik tak usah datang...

...jika tak bisa tepat waktu pada hari pertama.

Dia pasti datang.

Mungkin belum bisa memperhitungkan kemacetan.

Brengsek! Udik! Manusia gua!

Bodoh! Bukan kakak, tetapi musuh!

Aku terlambat dan pakaian ini akan membuatku ditertawakan...

...oleh sekretaris yang berlagak elit itu.

- Mereka akan tertawa di belakangku. - Defne!

Cari tempat untuk menggantinya! Ambil, sebelum Cinar melihatnya.

Bagus! Kau kakak ipar terbaik!

Kau yang terbaik, Leyla, aku sayang padamu!

Kau bagai air di padang pasir...

- Sudah, pergilah! - Baik, sampai jumpa.

Cukup. Otakku bisa meledak.

Apa yang harus kita lakukan? Deniz?

Menurutmu programmer yang baru bisa menangani ini?

Aku sudah lihat kode buatannya. Bagus. Aku mengharapkannya.

Mengharapkan apa? Sudah pukul 10:00. Lalu kenapa jika kodenya bagus?

Meski pun dia datang, pecat saja dia.

Aku sudah terlambat.

Haruskah aku keluar dari mobil? Gila!

Buka jendela! Atau kubuka paksa!

Kenapa kau melihatku seperti itu? Lihat lampunya, hijau!

Hijau artinya jalan, merah berhenti, 'kan?

Sekarang apa warnanya? Hijau! Jadi, pergilah!

Apa? Tunggu!

Astaga. Aku tak butuh ini.

Tetapi, kau tak bisa menemukan kesalahannya.

Jika kau memecat programmer itu, apa yang harus kita lakukan?

Kita tak butuh seorang pemula.

Departemen IT sedang mengerjakannya, kita juga. Kita akan menangani ini.

Kau belum berhasil.

Gadis itu sangat bersemangat saat wawancara.

Kau mempekerjakan seorang gadis untuk departemen IT, Deniz?

Gadis seperti yang biasa kita kenal?

Apa yang kau lakukan? Siapa kau? Brengsek!

Kau kira sedang berurusan dengan siapa?

Kuhajar kau, minggir!

"Kau mempekerjakan seorang gadis untuk departemen IT, Deniz?"

"Gadis seperti yang biasa kita kenal?"

Lalu kenapa? Itu menyinggung perasaanmu, Tuan Yalin?

Untung dia terlambat. Bila kita memecatnya karena tak kompeten...

...dia akan bilang kita diskriminatif.

Dia sangat kompeten.

Dia lulus secara terhormat dari Fakultas Komputer Bogazici.

Kode terbuka yang dia kerjakan...

...hasil kerjanya cukup mengagumkan.

Sesuai dengan bidang kita. Menafsirkan data kotor.

Dia manis. Cerdas dan cantik.

Aku tak menyangka.

Cantik. Kau dengar itu? Itu kata kuncinya.

Sekarang kami tahu kenapa kau mempekerjakannya. Dia cantik.

Apa hubungannya?

Kau terus membicarakan dia sepanjang pagi tadi.

Itu hubungannya.

Dia tak akan diterima bila reputasinya buruk.

Ini tentang kode. Dia membuatnya dengan baik.

Aku akan ke bank. Aku kembali satu jam lagi.

Hei, Sayang. Kau cantik sekali.

Tidak.

Halo, Sefer. Bahan bakar mobilku bocor.

Tidak, cukup banyak. Apa?

Tutup tangki minyak? Baik. Akan kuperbaiki.

Sial!

Butuh bantuan?

Jangan mendekat!

Kupecahkan kepalamu! Sudah kuperingatkan!

Untuk apa linggis itu? Kau gila?

Kalau aku gila, artinya kau luar biasa gila!

Kau mengintip para gadis dari kolong mobil! Psikopat!

Pembunuh cabul!

Ya, aku gila. Aku memang pembunuh cabul.

Aku di kolong mobil menunggu para gadis datang...

...untuk berganti pakaian. Begitu maksudmu?

Lahan parkir firma ini sering jadi tempat para gadis berganti pakaian.

Aku memang pembunuh cabul yang bodoh!

Ini pertama kalinya ada yang lebih cerewet dariku...

...saat sedang marah.

Biasanya aku tak banyak bicara, namun kau membuatku sangat marah.

Kau bukan orang mesum? Kau bekerja di sini?

Ya. Apa keperluanmu di sini? Aku bisa...

- Jangan coba-coba! - Aku hanya ingin membantu.

Aku tak akan gelap mata hanya karena bajumu tak tertutup.

Kau penakut sekali.

Penakut? Untuk apa takut padamu?

Tanganmu penuh oli, itu saja.

Maaf. Baiklah.

Awas! Olinya bisa menodai pakaianku.

Gaunmu berharga sekali rupanya.

Harganya lebih mahal ketimbang harga dirimu.

Sungguh? Menurutmu, berapa hargaku?

Sepertinya tersangkut.

Kakakku menyerang wartawan tadi malam?

Benar.

Memalukan. Kalian memang brengsek.

Kenapa aku? Kakakmu yang menyerang mereka.

- Apa yang terjadi setelahnya? - Tidak ada.

Aku pergi dengan seorang gadis, Yalin pulang.

Dia terjaga semalaman untuk menemukan kesalahan pada kodenya.

Seharian bersama gadis atau bekerja.

Kalian menempuh jalan yang salah.

- Mungkin kalian harus menikah? - Aku tidak berminat.

Urus saja Yalin. Dia lebih tua.

Yang tua lebih dulu, begitu?

Akan kucarikan seorang gadis yang tepat untuk kakakku.

Tak akan semudah itu.

- Belum bisa? - Tersangkut.

Kau tidak berpura-pura, 'kan?

Jangan buat aku marah.

Apa aku berbohong agar bisa menyentuh punggungmu?

- Tidak sobek, 'kan? - Tidak, jangan khawatir.

Kenapa kau berganti pakaian di sini?

Terpaksa. Permisi, aku sudah terlambat.

Terlambat untuk apa?

Bertemu atasanmu. Deniz Aras sedang menungguku.

Apa keperluanmu dengan Deniz Aras?

Bukan urusanmu.

Kau akan mengenakan gaun mini untuk menemui Deniz Aras?

Ini caramu untuk membuatnya terkesan?

Ya.

Mustahil merebut hatinya dengan gaun panjang, jadi aku mencobanya.

Kukatakan pada diriku, "Kenakan gaun mini, Defne.

Deniz Aras akan melamarmu begitu dia melihatmu.

Jika tidak, setidaknya ada orang mesum yang akan menghinamu."

Maju kalau tak terima! Dasar penindas brengsek!

- Defne! - Apa?

Bernapaslah.

Bagaimana kau tahu namaku?

Kau menyebutkannya. "Kenakan gaun mini, Defne."

- Kau orang Laz? - Bagaimana kau bisa tahu?

Orang yang membawa linggis pasti sopir bus atau orang Laz.

Lucu! Permisi, aku harus membuat bos baruku terkesan.

Kau akan bertelanjang kaki, gadis Laz?

Di mana sekretarisnya?

Halo. Bisa kubantu?

Halo. Aku Defne Barutcu. Aku kerja di IT mulai hari ini.

Tuan Deniz memintaku ke kantornya begitu aku tiba.

Kau tahu di mana sekretarisnya?

Kau insinyur baru itu!

Aku Yesim Aras, Asisten Direktur Manajer penjualan.

Sungguh? Senang bertemu denganmu, Nona Yesim.

- Yesim. - Senang bertemu denganmu, Yesim.

Senang bertemu denganmu, Defne. Namun...

...wawancaramu sepertinya akan berjalan buruk.

Aku senang mereka mempekerjakan seorang wanita untuk IT, tetapi...

- Tetapi, apa? - Kau sangat terlambat.

Bos sangat marah dan menyuruh Deniz untuk...

Jadi aku dipecat?

- Ya, Konselor? - Kenapa memanggilku Konselor?

Seharusnya Paman Yasar. Bagaimana kabar kakekmu?

Kondisi Kakek baik, Paman Yasar. Bagaimana kabar Paman?

Baik, syukurlah. Sibuk. Bagaimana program kita?

Kau akan melakukan presentasi minggu ini, 'kan?

Tentu, kami sedang mengerjakannya.

Kami menantikannya. Sampai jumpa, sampaikan salam untuk kakekmu.

Baik. Sampai jumpa.

Aku tak percaya ini.

Semua karena kakakku yang brengsek.

Ini karena dia memaksaku berganti pakaian karena...

...gaunnya terlalu pendek. Seharusnya aku tak dipecat.

- Aku tak percaya ini. - Tunggu.

Kakakmu mengatur panjang rokmu?

Ya. Aneh, 'kan, pada zaman modern ini?

Aku sudah hendak berangkat, lalu dia menghentikanku.

Dia tak mengizinkanku keluar dengan gaun pendek.

Kau percaya? Dia bilang ini terlalu pendek.

Ini memang agak pendek, tetapi tak terlalu pendek.

Semua orang mengenakannya, bukan hanya aku, kau juga.

Tak masalah. Begitu aku mengenakannya, masalah besar.

Kakakku yang kuno berdiri di depan lemari...

...mencari selama 1 jam, lalu mengambil celana terjelek.

Aku membelinya untuk peringatan kematian kakekku.

Bisakah kau memercayainya?

Apa yang terjadi? Aku harus mengenakannya.

Tetapi, kubawa gaunnya dan aku ganti pakaian di lahan parkir.

Lalu, aku bertemu orang itu. Pria itu...

Maaf, aku lupa diri. Beginilah aku.

Saat aku marah atau sedih, aku selalu mengoceh.

Silakan tertawa atau bilang aku gila. Aku sudah dipecat.

Astaga.

Bukan itu yang kutertawakan. Kau bilang "Kakakku yang brengsek."

Aku juga punya kakak seperti kakakmu.

Sepanjang pagi dia memarahiku soal gaun ini.

Sungguh? Tuan Deniz?

Kelihatannya dia tidak begitu. Namun, pria seperti itu...

...bisa terlihat baik di luar, namun ternyata brengsek.

Deniz?

Aku terlalu terus terang. Aku tak tahu apa yang kuucapkan.

Maaf.

Ucapanmu tidak salah.

Sulit mencari orang sejujur dirimu.

- Kau baik sekali. - Terima kasih.

Deniz cukup baik. Dia bukan pria brengsek.

Bukan berarti dia patut dicontoh. Tetapi, Deniz bukan kakakku.

Kami sepupu. Aku adik Yalin.

- Yalin Aras? - Ya.

- Sang bos besar? - Ya.

Jadi, bos besarku adalah pria brengsek.

Untung kami belum bertemu. Siapa yang mau punya bos brengsek?

Ayo. Kita ke ruangan Deniz sama-sama.

Jika kita ceritakan semuanya dan Deniz berpihak pada kita...

...kami bisa membujuk Yalin agar tak memecatmu.

Jika tak berhasil, aku akan mengoceh hingga mereka pusing.

Akhirnya, mereka akan menyerah.

- Kau yakin? - Jangan khawatir.

Aku tahu cara menangani mereka.

Kalau tidak, aku tak akan bertahan selama ini.

Kau harus bekerja di sini. Sungguh.

Ayo.

Ayo.

Kuharap kau benar. Aku sangat gugup saat ini.

Wow!

- Deniz! - Kau boleh pergi, Burcu.

Yesim tak apa-apa, tetapi kau bilang "Wow!" kepadaku?

Baguslah aku akan memecatmu.

Kau terlambat, Defne. Ini hari pertamamu.

Kulihat kau sangat bersemangat saat wawancara.

Kalau tak memiliki alasan kuat...

...kami tak terima kau terlambat pada hari pertama.

- Ada alasan kuat. - Apa?

Seorang kakak yang brengsek seperti kakakku.

- Apa? - Akan kuceritakan, namun...

...sementara ini, biarkan Defne menyelidiki...

...kenapa programnya tak berfungsi selama dua minggu ini.

Jika dia menemukan kesalahan pada kodenya...

...kau harus memberikan kesempatan kepadanya.

Juga, kau akan membujuk Yalin.

Defne?

Apa yang kau lakukan pada Yesim? Sejak kapan kalian bersekutu?

Kau menerimanya, Tuan Deniz?

Jika aku menemukan kesalahan pada kodenya, aku tidak dipecat.

Temukan dulu, baru kita bicarakan.

Ayo. Kita cari tempat untukmu bekerja.

Ayo. Sampai jumpa.

Apa hubungannya dengan Deniz?

Sahin?

- Tuan Deniz sedang menerima tamu? - Aku tak tahu, Tuan Yalin.

Aku bisa memeriksanya.

Tidak perlu.

Dia menggoda Deniz.

Itu sebabnya dia berganti pakaian di lahan parkir.

Keluar.

Ada apa? Kau seperti ingin menghajarku.

Sudah berulang kali kuingatkan, jangan lakukan itu di kantor.

Kami tak melakukan apa-apa. Hanya berbicara.

Berbicara.

Kenapa kau datang? Ingin memergokiku?

- Tidak. Hanya ingin datang. - Ingin datang?

Baiklah. Aku bertemu seorang gadis di lahan parkir tadi.

Dia bilang ingin bertemu denganmu. Mobilnya masih ada.

Aku bertanya-tanya apa yang kalian lakukan selama 3 jam ini.

Sungguh? Seperti apa gadis itu, Sepupu?

Mengenakan gaun mini, berambut ikal.

Dia cantik?

Jangan mulai lagi, Deniz. Ceritakan saja.

Jika kalian ada hubungan, aku akan mengucapkan selamat lalu pergi.

Itu sebabnya kau menerobos masuk. Kau kira aku sedang bersamanya.

Aku pergi. Maaf sudah bertanya.

Yang kau maksud adalah Defne. Programmer baru.

Mustahil. Itu dia? Gadis yang kau pekerjakan?

Kau menyuruhku memecatnya tadi pagi.

Tak kusangka. Dia tak terlihat seperti seorang programmer.

- Dia terlihat seperti apa? - Mana aku tahu?

Di mana dia? Kenapa kau tidak memecatnya?

Sepupu, dia sangat cantik. Aku tak bisa memecatnya.

Deniz!

Jangan marah. Aku hanya bergurau.

Aku jarang melihatmu seperti ini.

Aku sedang tak ingin bergurau.

- Aku membuat perjanjian dengannya. - Perjanjian apa?

Bila dia menemukan kesalahan kodenya, akan kubujuk kau agar tak memecatnya.

Tak mungkin dia bisa.

Cari alasan lain untuk tidak memecatnya.

Apa yang kau lakukan, gadis Laz?

- Apa yang kau lakukan di sini? - Apa yang kau lakukan?

Kelihatannya aku sedang apa?

Sepertinya kau menggunakan kode untuk membuat Deniz Aras terkesan.

Gaunnya tidak berhasil, rupanya.

Pergilah, biarkan aku mengurus kode ini.

Bukankah ini kode yang membuat seluruh departemen It bingung...

...selama dua minggu ini?

- Bagaimana kau bisa tahu? - Aku kerja di sini. Aku sudah dengar.

Kau dari departemen apa? Keamanan?

- Bagaimana kau bisa tahu? - Tubuhmu seperti kerbau.

Apa itu pujian?

Carilah orang untuk kau hajar.

Biar kuberikan saran.

Jika tak berhasil dengan Deniz Aras, jangan khawatir.

Ada bos lain.

- Maksudmu Yalin Aras? - Ya.

Tidak, terima kasih. Kudengar dia brengsek.

Dia pasti cocok denganmu.

- Sungguh? - Sungguh.

Siapa bilang dia brengsek?

Aku kerja di sini. Aku sudah dengar.

Jangan ulangi ucapanku. Dari mana kau dengar itu?

- Bukan urusanmu. - Aku tetap akan tahu.

Bisa tinggalkan aku? Kau mengganggu konsentrasiku.

Aku mengganggumu, gadis Laz?

- Ada apa, Sepupu? - Tidak ada apa-apa.

Kau terlihat senang. Sudah menemukan kesalahan kodenya?

- Tidak. Aku menemukan hal lain. - Apa?

Ternyata gadis cerdas juga bisa menarik.

Gadis cerdas? Menarik?

Mustahil.

Kami kembali dengan tur malam di Istanbul yang penuh aksi.

Para genius bidang teknologi mengamuk saat didekati wartawan.

Mereka sedang bersama model terkenal, Ayca dan Didem.

Lihat! Itu bos Defne.

Yalin Aras menyerang rekan-rekan jurnalis.

Deniz Aras yang dikenal memiliki hubungan baik dengan media...

...kali ini dia berpihak pada sepupunya yang agresif.

Seperti anda tahu, program kesehatan yang dikembangkan Aras Techs...

...akan segera dirilis.

Program hasil kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan ini...

...dikabarkan akan menjadi evolusioner.

Fakta bahwa kedua sepupu ini keluar bersama para model...

...alih-alih bekerja mengundang pertanyaan.

Mendapat kontrak dari pemerintah...

...lalu bermain dengan para model. Pekerjaan yang menyenangkan.

Sementara mereka bersenang-senang, kami kerja malam...

...di UGD dan hanya bisa tidur selama 2 jam.

Para pria genit ini melakukan hal revolusioner dalam dunia kesehatan.

Kau mudah terprovokasi oleh media.

Mereka pria lajang. Tentu mereka akan berkencan.

Bila Defne menggaet salah satu dan mengenalkan yang lainnya kepadamu...

...yang mana yang akan jadi pasangan kalian?

Ezgi, beri tahu aku, kau pilih yang mana?

Aku lebih memilih Rifki.

Kita tak akan mengencani pria genit seperti mereka, 'kan Rifki?

Jika Cinar mendengarnya, dia akan mematahkan kaki Defne.

Kami mengutuk perilaku agresifnya...

...dan berkata "Tenanglah, Teman!"

Kemarilah, Teman. Tok, tok.

- Bagaimana kabarmu? - Paman Cinar! Baik.

- Bagaimana kabarmu? - Baik.

Bagaimana kalau kita ke tempat Bibi Defne?

Kita makan malam untuk merayakan hari pertamanya.

Hore!

- Kita taruh dulu tasmu. - Baiklah.

Berubahlah menjadi kapal.

Bentangkan layar. Buka.

Sulit bernapas dengan gaun ini!

Jangan himpit aku, sayang sekali bila aku harus merobekmu.

Kau harus jelaskan kepada Leyla bahwa kau terlalu ketat...

...hingga aku terpaksa merobekmu. Kau dengar?

- Kau bertengkar dengan gaun? - Tidak. Aku...

Sepertinya kami kurang bisa akur.

Bagaimana hari pertamamu?

Selain permasalahan gaun ini?

Sepertinya ini akan jadi hari terakhirku, karena...

...aku belum bisa menemukan kesalahan pada kodenya.

Kau istirahat saja dulu selama 10 menit.

Karena kau juga tak pergi makan siang.

Pikiran kita berhenti bekerja bila kita lapar.

Baiklah. Kau baik sekali.

Aku baru mulai memindai, ini butuh waktu 5 menit.

Kita minum kopi sembari menunggu.

Ya.

Terima kasih, Yesim. Ini lezat sekali.

Aku belum sarapan karena sudah terlambat.

Ya.

Seandainya kakakmu memikirkan soal sarapanmu...

...alih-alih gaunmu.

Seandainya. Dia ingin membuat hidup Leylas, Ezgis...

- ...dan aku sengsara. - Siapa mereka?

Leyla adalah mantan istri kakak tertuaku, Ezgi adiknya.

Aku dan Ezgi tinggal di lantai atas. Leyla dan putranya di lantai 2.

Mereka mengizinkan Leyla menceraikan kakakku Toprak...

...asalkan dia tetap tinggal dekat dengan kami.

Lihat, 'kan? Keluargaku penuh pria pemaksa.

Itu kakak brengsek yang kau ceritakan?

Bukan, itu Cinar. Dia anak kedua dan masih lajang.

Dia tinggal di lantai 1.

Dia menjaga agar lalat jantan tidak terbang masuk...

...atau ada yang mengintip, atau agar aku tak keluar rumah...

- ...dengan gaun mini. - Cukup. Aku jadi tertekan.

Apa-apaan itu? Kuno sekali.

Sepertinya, kakakmu tidak seburuk kakakku.

Dia bisa seperti itu. Tetapi, itu tak akan berhasil kepadaku.

Aku memiliki gelar doktor dalam hal menguasai Yalin.

Jika kau butuh bantuan, beri tahu aku.

Aku sudah biasa berurusan dengan 3 saudara laki-laki.

- Tiga? - Ya.

Kita harus berbagi tips.

Ya.

Astaga.

- Yesim! - Apa?

- Aku menemukannya! - Menemukan apa?

Aku benar-benar menemukannya!

- Apa? - Kesalahan pada kodenya!

- Aku tak percaya! - Aku tahu. Aku mengerti.

Aku tahu. Bawalah. Kita akan menunjukkannya.

- Baiklah. - Cepat!

- Kita harus mengumumkannya! - Ayo, lari!

- Deniz ada di ruangannya? - Ya, bersama Tuan Yalin.

Kau belum pernah bertemu kakakku, 'kan?

Biar dia tahu bahwa orang yang dipecatnya menyelamatkan firmanya.

Ayo.

Kalian sedang senggang? Kami membawa berita.

Defne, sebelum mengumumkannya, kenalkan, ini bosmu.

Kakakku, Yalin Aras.

Senang bertemu denganmu, Nona Defne.

Aku pun begitu.

Defne, ayo, beritanya!

Ada apa?

Sebenarnya, aku punya dua berita.

Pertama, aku menemukan kesalahannya.

- Apa? Bagaimana bisa? - Aku membuat program.

Kami sudah membuat program pengurai, namun tak berhasil.

Karena masalahnya bukan pada kodenya, melainkan datanya.

Datanya hadir dalam berbagai format.

- Itu menyebabkan masalah. - Itu tak terpikir olehku.

Kerja bagus!

- Kau memprogramnya dengan Python? - Ya.

Defne, kau hebat! Omong-omong, kau bilang ada dua berita.

Ya. Berita yang kedua adalah...

...aku mengundurkan diri.

Apa?

Kenapa? Apa yang terjadi?

Yesim, tunggu. Kakak tahu penyebabnya.

Defne!

Defne!

Dasar bodoh! Brengsek!

Aku berjuang seharian, kau malah mempermainkanku.

Manusia rendah!

Cari insinyur lain untuk memainkan permainanmu.

Brengsek.

Kau kira aku gadis yang mudah ditipu?

Apa aku akan jatuh cinta pada manusia gua sepertimu?

Brengsek! Mesum! Psikopat!

- Ya, Kakak? - Dengar.

Aku dan Idris ada di pintu depan.

Ayo, kita makan malam.

Baik. Pekerjaanku sudah selesai, aku segera ke sana.

Gaunnya! Sial! Aku lupa soal gaun ini.

Astaga, ini lagi.

Maniak! Mau apa kau di lahan parkir?

Kau tahu bahwa lahan parkir adalah tempat umum?

Kau tahu bahwa kau tak bisa bersikap seenaknya?

Aku minta maaf soal itu.

Jangan balikkan badan! Aku belum berpakaian.

Maaf.

Idris. Tunggu di mobil.

- Siapa kau? - Siapa kau, brengsek?

Kau menggoda adikku? Kemarilah!

Pukul dia, Paman. Begini! Sundul dia!

Sudah, cukup! Kalian berdua gila!

Kubunuh kau!

Defne! Masuk ke mobil! Kancingkan kemejamu!

Tidak! Apa Kakak sudah gila? Tunggu. Dengarkan aku.

Dia bilang dengarkan dulu.

Kau masih berani bicara?

Pukul dia, Paman! Jangan bicara, pukul saja!

Doruk! Pergilah!

Masuk.

Cukup!

Hentikan, atau, aku akan melompat! Lalu, kalian akan merasa bersalah!

Aku akan melompat! Apa kalian bodoh?

Kakakku yang bodoh, apa Kakak tak mengenalku?

Jangan katakan apa pun! Cukup!

Apa aku serasi dengan si brengsek ini?

Bagaimana bisa Kakak salah paham seperti ini?

Salah paham bagaimana?

Kemejaku sedang terbuka, kebetulan dia berdiri di situ.

Apa Kakak tak mengenalku?

Ini semua salah Kakak!

Jika Kakak mengizinkanku memakai gaun itu, aku tak perlu...

- ...berganti pakaian didepannya. - Defne!

- Apa? - Tarik napas.

Kau berganti pakaian di depan pria ini?

Semuanya? Telanjang?

Cukup! Dasar maniak!

Kau, mantan bos.

Kalau kau terus tersenyum, aku akan menendangmu.

Kakak yang udik apa yang Kakak tuduhkan kepadaku?

Kami pergi. Kalian boleh saling hajar hingga mati.

Itu justru bagus!

Makhluk yang baru saja pergi itu...

...kau tinggal bersamanya, Sobat? Semoga kau bisa bersabar.

Kau ingin bekerja dengan makhluk itu? Kau bodoh!

Pergi! Aku tak ingin melihatmu lagi.

Akan kubunuh kau!

Kau bisa apa? Jangan lari, akan kutunjukkan kepadamu!

Hari yang buruk. Gadis itu maniak, kakaknya lebih parah.

- Di mana Defne? - Apa Kakak pengawalnya?

Tunggu. Wajah Kakak kenapa?

Terjatuh dari kuda. Minggir.

Kuharap kudanya adalah Defne.

Ayo, cepat.

Ayo, Doruk. Keluar.

Bibi!

Lari.

Lari!

Defne!

Masuklah. Ezgi, kau ada di rumah?

Kau sudah pulang?

Belum. Masih di perjalanan. Jalannya macet. Astaga.

Dengar. Bel pintunya akan berbunyi sebentar lagi.

Bilang saja aku sedang menangis di kamar. Mengerti?

Siapa yang datang? Apa yang sudah kau lakukan?

Kenapa selalu aku? Itu Cinar.

Aku tak ingin bicara dengannya. Lakukan apa yang kuminta. Ayo.

- Di mana Defne, Ezgi? - Tunggu sebentar.

Kenapa terburu-buru? Ada apa ini?

Defne!

Defne!

Defne, buka pintunya!

Aku tak ingin bicara dengan Kakak. Kakak menghancurkan hatiku.

Siapa? Kakak?

Yang Kakak hancurkan hanya kepala si brengsek itu.

Apa yang terjadi?

Kakak tahu bagaimana perasaanku? Di hadapan pria itu?

Kakak kira aku sengaja?

Dengarlah, Sayangku.

Kakak bukan mau hancurkan hatimu. Kau salah paham.

Pergilah, Kakak. Aku sedang sedih. Aku tak mau bicara. Aku ingin tidur.

Sayang? Baiklah. Jangan bersedih.

Tidurlah. Kita bicara besok pagi.

- Sesuatu yang buruk terjadi? - Aku juga tidak tahu.

Sekali lagi, aku disalahkan padahal aku benar.

Bagaimana cara dia melakukan itu?

Ibu, Paman Cinar memukuli pria yang melihat Bibi telanjang.

Apa? Defne!

Bisa kalian bayangkan posisiku di mata pria itu?

..dan kakakku selalu memergokiku.

Dia menyuruhku menarik napas. Bodoh.

Beri tahu aku. Apa aku tak boleh marah?

Tetapi, kakakku melakukan hal yang ingin kulakukan.

Dia meninju pria itu begitu keras, kalian harus melihatnya.

Ini, Tuan Sureyya.

Di mana Yalin?

Aku melihat Yesim dan Deniz, tetapi, aku tak melihatnya.

- Di mana dia? - Yalin?

Yalin...

Dia ada di ruangannya. Bekerja.

Kenapa dia tidak naik?

Dia banyak pekerjaan. Sangat banyak.

Baiklah.

Sudah kubilang, jangan membuatku berbohong padanya.

Satu tatapan darinya, jantungku berhenti karena ketakutan.

Jangan berkhayal, Meftune. Kakek tak akan menyadarinya.

- Kau sendiri yang panik. - Baiklah.

Beri tahu aku. Kenapa matanya lebam?

- Soal wanita. - sungguh?

Sungguh.

Beri tahu rinciannya. Seperti apa keluarganya?

- Dia cantik? - Pergilah.

Masuk.

Kuberi tahu, aku masuk untuk memarahi Kakak.

- Boleh aku masuk? - Masuklah.

Kakak yakin?

Apa kau akan keluar bila Kakak melarangmu masuk?

Ada apa?

Kau ingin menyogok Kakak?

- Jangan sela perkataanku. - Jangan sela dia.

Mana bisa? Kakak hidup dikelilingi gadis-gadis yang selalu bicara.

Kalau begitu, langsung pada intinya.

Besok Kakak harus memanggil gadis itu kembali.

- Benar. Panggil dia. - Karena ini kesalahan Kakak...

...kakak harus meyakinkan Defne untuk kembali bekerja.

- Tidak sudi. - Kakak!

Kakak tahu apa kerugian kita akibat permainan Kakak?

Kita kehilangan gadis maniak dan kakaknya yang psikopat.

Gadis itu maniak? Kakaknya psikopat?

Biarlah. Keluarga kami juga tak terlalu membanggakan.

Kakak terluka?

Yesim, jangan membuat Kakak menyesal sudah mengatakannya.

Baiklah. Dengar.

Kakak mengerjakannya berhari-hari tanpa hasil, 'kan?

Dia datang dan menanganinya. Padahal, dia sudah dipecat.

Apa yang Kakak lakukan? Kakak mempermainkan dia.

Bukan begitu, Adikku.

Kakak mengejarnya untuk minta maaf. Apa yang dia lakukan?

Tersenyum lebar seraya kakaknya menyerang Kakak.

Kakak layak mendapatkannya. Minta maaf kepada Defne.

Kali ini, lakukan dengan benar dan bawa dia kembali.

Baiklah. Ada lagi?

- Aku tidak tahan. - Meftune, apa yang kau lakukan?

- Aku tak keberatan. Bawa gadis itu. - Bawa ke mana?

Ke mana lagi? Ke sini. Perkenalkan dia pada kakekmu.

Aku ingin bertemu dengannya.

Untuk apa kau ingin bertemu insinyur firmaku?

Insinyur? Aku kira...

Kau kira apa?

Baiklah.

Terkadang, harapanku terlalu tinggi.

Kalian selalu melakukan ini! Mengecewakan Meftune!

Siapa Meftune? Dia tak perlu melihat pernikahan siapa pun.

- Kalian semakin tua. - Meftune! Ada apa?

Ada apa? Akan aku beri tahu.

Mereka semakin menua.

Aku tak mengerti.

Aku bekerja, tetapi aku yang membuatkan sarapan.

Tidakkah ada yang salah dengan itu?

Aku merasa seperti dihujani batu, tetapi tubuhku mati rasa.

Karena kau tak ingin merasakannya.

Aku bangun dari ranjangku yang nyaman...

...agar kau tak sarapan sendirian, tetapi kau terus mengomel.

Aku tertekan, Ezgi. Aku pengangguran...

...yang mengundurkan diri ketika terancam dipecat.

Kalau kau tak ada kegiatan, buat dirimu berguna...

...tolong singkirkan piring-piring itu.

Jangan tekan aku, atau aku akan melompat.

Lompat saja, Defne! Sungguh, lompatlah.

- Pembohong. - Aku mendengarnya.

Burcu? Kirimkan alamat Defne Barutcu.

Defne! Rapikan mejanya. Jangan sampai kejunya rusak.

Sudah kubilang aku tertekan, kau malah mengurusi keju.

- Bagus sekali. - Baiklah.

Aku berangkat. Ada giliran kerja malam.

Akan ada masalah bila piring keju itu masih ada...

...saat aku pulang besok pagi.

Ezgi, silakan pergi. Pergilah.

- Ha? - Kenapa kau bilang "Ha"?

Ada yang kau lakukan? Kau tidur di mana?

Seandainya aku bisa mengingat nama gadis itu.

Suatu saat, akan ada yang datang dan memaksamu mengingat namanya.

Aku ingin mengabarimu, aku akan datang terlambat.

Baiklah. Omong-omong...

...tak ada gadis yang bisa membuatku ingat namanya.

- Cinar. Apa kabar? - Baik. Kau?

Kenapa tanganmu?

Tidak apa. Ini karena aku memukuli pria kantoran itu.

- Baiklah. - Bagaimana keadaan Defne?

Bagaimana lagi? Dia menderita Defne-ssion.

- Apa itu Defne-ssion? - Depresi ala Defne.

Penyakit yang muncul kapan pun dia mau.

Terserahlah. Aku akan mandi, lalu datang menemuinya.

- Baiklah. Aku harus pergi. - Jaga dirimu.

Sabar sedikit. Jika Kakak mengomel...

...aku tak akan tahan lagi. Akan kuberi tahu Nenek.

Aku akan bilang "Cucu Nenek membawa gadis ke rumah tiap malam."

Mengerti?

Kenapa kau ada di sini?

Bisa ceritakan tentang aku kepada nenekmu?

Masuklah.

Kenapa kau datang pagi-pagi begini?

Haruskah aku datang lagi nanti?

Kau bisa mengurungku di rumah nanti malam.

Aku tak sudi! Kau lancang sekali!

Kau yang menarikku masuk.

Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu lalu pergi.

Jika kau tidak masuk, Cinar akan menghancurkan wajahmu. Itu maumu?

Aku menyelamatkan nyawamu, bodoh.

Jangan singgung soal itu. Dia benar-benar psikopat.

Kenapa kau heran? Kau sama seperti dia.

Sungguh? Aku tak menyerang orang tanpa alasan.

Kau benar. Aku harus adil. Kau ini orang mesum.

Kau ke sini untuk menguji kesabaranku?

Aku ke sini untuk minta maaf dengan sopan...

...dan memberi tahumu kau diterima kembali. Kau malah begini.

Kau menerimaku kembali. Ini berkah bagiku.

Aku sangat bersyukur, Tuan Yalin. Bisa apa aku tanpamu?

Ya? Kontrak yang mana?

Tak ada di kantor. Mereka tak bisa mengirimkannya kepadamu.

Aku membawanya pulang tadi malam untuk mengerjakannya.

Tunggu. Akan kuperiksa. Baiklah.

- Kau pernah bersikap normal? - Ya. Saat kau tak ada.

Apa kau selalu menyebalkan seperti ini?

Tidak, baru-baru ini saja. Berkat orang mesum di lahan parkir.

Berhentilah menyebutku mesum. Atau...

Atau apa? Apa yang akan kau lakukan?

Kau benar-benar menantangku, Gadis.

Jangan panggil aku Gadis. Kalau aku menantangmu...

Jangan teruskan kalimat itu, Defne.

Jangan tunjuk aku, Yalin.

Memang kenapa, Defne?

Tinggalkan aku! Kau menyebalkan sekali!

Apa mereka mengutusmu untuk menghukumku?

Semoga kau jatuh dan kepalamu terbentur.

Kekasihmu pasti amat penyabar.

- Defne! - Apa?

Bernapas.

Apa pun yang kukatakan percuma. Kau selalu menyanggahnya!

Kau seperti batang kayu. Tidak, itu tidak adil.

Batang kayu masih bisa menghangatkan seseorang.

Aku bisa menghangatkanmu.

Kau memang mesum!

Aku tak bisa berada satu ruangan denganmu.

Aku pergi.

Untuk apa aku pergi? Ini rumahku. Kau yang harus pergi.

Tinggalkan rumahku sekarang. Pergi!

Apa aku menyuruhmu pergi? Tenanglah sebentar...

...dan jangan bicara hingga aku selesai bicara.

Jangan katakan apa pun. Aku tak ingin dengar suaramu.

Tinggalkan rumahku, atau akan kupanggil kakkaku.

cukup! Aku seperti meminta penyihir turun dari sapu.

Aku penyihir?

Keluar dari rumahku! Kakak!

Kenapa aku harus ke sini. Ini gara-gara kau, Yesim!

Kau datang bukan atas kemauanmu sendiri? Brengsek.

Kakak!

Ada apa? Defne!

Kakak! Lihat ini.

- Kau tidak apa-apa? - Aku baik-baik saja.

Apa yang kau lakukan kepada adikku?

Ada apa?

Bayi ini kuat juga.

Aku mencoba untuk tak melukaimu. Sekarang, aku sudah muak.

- Coba lukai aku! - Berhenti! Lepaskan!

- Lepaskan pamanku! - Doruk! Lepaskan!

- Apa kalian gila? Lepaskan! - Lepaskan! Kuhajar kau!

Biarkan saja!

Sekarang kita bisa memperoleh data yang benar?

- Ya, Tuan Deniz. - Kami mengujinya. Tak ada masalah.

Bagus. Semoga kita bisa melakukan presentasinya.

Bisakah kami bertemu programmer yang menemukan kesalahannya?

Aku melihat program yang dia buat. Dia genius.

Ya, dia akan segera datang.

Persoalan Defne sudah usai. Cari orang lain untuk posisi itu.

Aku hanya pergi sehari. Apa yang terjadi?

Berpikirlah, Deniz! Pasti ada yang bisa kita lakukan.

Kenapa kau begitu bersikeras? Aku tak mengerti.

Kenapa kau tak mengerti, Deniz? Kita kehilangan insinyur hebat.

Dia menyelamatkan proyek ini!

Jika dia tak menemukan kesalahan pada datanya, habislah kita.

Tetapi, kita bisa apa? Kita tak bisa memaksanya bekerja.

Memaksa atau tidak, dia harus bekerja di sini.

Dia sosok yang tak tergantikan untuk firma ini. Aku suka Defne.

Aku juga suka dia. Tetapi, kau sudah dengar Yalin.

Dia bilang "Persoalan Defne sudah usai."

Dia bisa mengatakan apa pun. Tak semuanya harus dituruti.

Pak, Nona Damla datang untuk wawancara.

Suruh dia masuk.

Halo, Tuan Deniz. Aku Damla Basar.

Aku tak mengerti. Dia datang untuk minta maaf...

...tetapi, kau memarahi dan memukulinya.

Dia pantas mendapatkannya.

Menurutku, kali ini kau yang harus minta maaf.

- Aku tak sudi! - Keluarga Barutcu yang keras kepala.

Kau benar.

Kau yakin tak ingin kembali ke Aras Techs? Pikirkanlah.

Dia datang ke rumahmu.

Dia datang dan menerima ganjarannya.

Defne bahkan tak akan melewati firma itu lagi.

Tentu tidak. Aku tak akan lewat lingkungan itu lagi.

Aku tak ingin bertemu dengannya. Sampai kapan pun.

Ini sudah berakhir.

Aku lebih baik mati ketimbang kembali ke sana.

Aku sudah bilang tak akan melewati lingkungan itu?

Jadi, kau mahasiswi terbaik kedua dari Bogazici?

Ya. Seharusnya aku bisa menjadi yang terbaik...

...tetapi aku dicurangi.

Sungguh? Curang bagaimana?

Gadis dengan nilai tertinggi berhubungan erat...

...dengan para profesor.

Dia menipu mereka dan mendapatkan nilai tertinggi.

Bukankah itu Defne Barutcu?

Ya. Kau kenal dia? Apa dia melamar juga?

Defne sainganku? Jika benar, dia sangat tak kusarankan.

Tidak. Dia bukan sainganmu. Bisa kita berganti topik?

Kalian punya waktu? Maaf, kukira hanya ada kalian.

Kau Yalin Aras, 'kan? Senang bertemu denganmu.

Sebuah kehormatan bagiku bila bisa bekerja sama denganmu.

Kuharap begitu.

Nona Damla. Setelah wawancara, kami akan melihat proyekmu...

...kau akan bertemu Tuan Yalin untuk wawancara terakhir.

Kami akan meneleponmu.

Aku sangat menantikan telepon kalian.

Sampai jumpa.

Kalian tahu? Aku akan membunuhnya!

Kau bilang akan menelepon setelah melihat proyeknya...

...tetapi, kau tahu aku sudah melihat semuanya.

Dia pelamar terbaik kedua setelah Defne.

Dia selalu berada di urutan kedua.

Bukan tanpa alasan dia bicara buruk tentang Defne.

Bisakah kita lupakan soal Defne?

Tak apa, jika dia pelamar terbaik kedua, pekerjakan dia.

Masih banyak CV yang belum kita lihat.

Menurutku kita harus menunggu.

Lakukan sesukamu. Ayo, kita periksa modulnya.

Defne bukan sainganku.

Karena Defne sudah tersingkir, aku pasti diterima, Ibu.

Jika Defne mendengar ini, dia bisa gila!

Ibu harus lihat Yalin Aras.

Deniz Aras cukup lumayan. Tetapi, Yalin istimewa.

Kapan Ibu datang ke Istanbul? Hari Minggu?

Baiklah, aku akan memesan tempat di Maddison.

Baik, Ibu sayang. Ciuman utuk Ibu.

- Defne? - Yesim!

Kau sudah tenang?

Belum. Lagipula, apa bedanya?

Maukah kau masuk kerja, sehari saja?

Yesim, jangan.

Kami belum menemukan orang untuk mengisi posisi itu.

Kami akan menunggu hingga hari Senin.

Maukah kau mempertimbangkannya? Demi aku, bukan kakakku.

Yesim, kenapa kau belum mengerti juga?

Aku tak bisa berada dekat pria udik itu.

Baiklah, tenang. Bagaimana kalau begini?

Kau kembali bekerja atau tidak, kita tetap teman, 'kan?

Tentu. Pekerjaan dan persahabatan hal yang berbeda.

Baiklah. Kalau begitu, kita akan makan malam. Bagaimana?

- Hanya kita berdua. Bagaimana? - Baik, ayo kita lakukan.

Tetapi, aku ingatkan, kau tak bisa merayuku.

Hanya makan malam dua sahabat. Mengerti?

Baiklah. Tidak masalah.

Kalau begitu, Sayangku, hari Minggu malam...

...pukul 07:00 di restoran Maddison?

Kau keras kepala. Baiklah, hari Minggu. Sampai jumpa.

Sampai jumpa.

Kita lihat saja, Sayang.

Pertama, kau akan bertemu Damla, lalu kita akan sering bertemu.

Defne, aku tak seharusnya menyinggung masalah ini...

...tetapi, kau mudah menyerah! Kau tak berjuang sama sekali!

Apa yang aku perjuangkan, Yesim? Berjuang demi apa?

Kakakmu membuatku gila.

Di rumahku ada satu kakak, aku tak mampu menangani satu lagi di firma.

Kalau kau memaksa, kupertemukan kau dengan kakakku. Agar kau tahu.

Baiklah. Kau sungguh keras kepala.

Sebenarnya, kau dan kakakku sangat mirip.

Astaga, jangan samakan aku dengan pria udik itu.

Dia memang kakakmu, tetapi, dia benar-benar udik.

Dia bahkan tak bisa minta maaf dengan benar. Menyebalkan!

Lihat, itu gadis yang...

...kakakku dan Deniz pertimbangkan untuk posisimu.

Nona Damla!

Halo. Kemarilah.

Nona Yesim.

- Defne. - Damla.

Kalian berteman?

Ya. Kami sesekali bertemu.

Sungguh? Kau pasti sangat pandai menilai...

...karena kau tak mempekerjakannya meski mengenalnya.

Kau tidak mempekerjakan orang yang bisa merugikan Aras techs...

...meski dia temanmu. Selamat.

Sebenarnya, mereka menerimaku. Tetapi, aku menolak.

Karena aku mengundurkan diri, mereka menghubungimu.

Damla, aku baru sadar, kau selalu berada di urutan kedua.

Selalu urutan kedua. Apa yang akan kau lakukan?

- Apa itu menyakitkan? - Menyakitkan?

Defne, kau baik sekali. Kau tahu apa kata mereka?

"Kepuasan menjatuhkan sang juara adalah milik juara kedua."

Seandainya kau juga bekerja di firma kami.

Agar aku bisa mengakhiri kesombonganmu.

Tetapi, pasti sulit bagimu, buktinya kau berhenti.

Sebenarnya, bos besar masih menginginkanku.

Yesim baru saja merayuku untuk kembali. Siapa yang tahu?

Mungkin aku harus kembali agar Yalin dan Yesim senang.

Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku kembali?

Tetapi, mereka tak akan mempekerjakanmu jika aku kembali.

Aku tak bisa memutuskan. Haruskah aku kembali?

Kau akan kembali?

Nona Yesim, kau sudah mencoba Defne dan tidak berhasil.

Biarkan aku membuktikan diriku. Aku sangat menginginkan pekerjaan ini.

Defne tak tahu apa yang dia inginkan. Tetapi, aku tahu.

Nona Damla, kami sedang makan malam. Bisa kita bicarakan nanti?

Baiklah.

Apa yang terjadi, Damla? Bukankah itu Defne?

Benar. Dia menghancurkan segalanya. Dia wanita brengsek.

Defne?

Kau benar-benar akan kembali?

Tentu tidak. Aku hanya muak mendengar bualannya.

Aku ingin menghancurkannya.

Lalu bagaimana? Dia mendapatkan pekerjaannya atau tidak?

Selain itu, dia juga akan mendapatkan kakakku.

Apa yang dia dapatkan? Kakak siapa?

Damla. Dia merayu kakakku.

Kau seharusnya lihat cara dia merayu kakakku saat wawancara.

Aku membayangkan mereka berdua bersama. Coba kau bayangkan.

Akan kuhajar dia. Dia tak boleh memasang ritsletingnya.

Ritsleting apa?

Ritsleting apa? Tidak ada. Lupakan saja.

Aku akan ke kantor besok, dan aku akan bekerja.

Meski kakakmu memecatku, aku tak akan pergi. Aku bersumpah!

- Idris? - Ya, Paman Cinar.

Jangan melompat. Kenapa kau tak buang air di toilet?

Pergilah. Ibumu akan khawatir.

Apa Paman akan mengunci jendela seperti Bibi Defne?

Paman tak akan menguncinya. Tetapi, Paman tak mengerti.

Kenapa kau tak buang air kecil di rumahmu?

- Bibi Defne! - Di mana?

Kau mau ke mana? Di mana rokmu?

Begini, Kakak...

Kakak tahu aku tak pernah berbohong.

Aku akan kembali ke Aras Techs!

Apa? Kembali ke mana?

Dia akan membuat Paman menjadi seorang pembunuh. Pergilah ke ibumu.

Kita akan kehilangan bibimu, cepat!

Sudah kubilang, jangan sana. Kata-kataku tak ada artinya.

Bagaimana kau akan ke sana? Aku tak akan mengizinkannya.

Apa kalian semua harus keluar hari ini?

Di mana kau, Defne?

Aku bicara kepadamu! Pedal gasmu tak berfungsi?

Pergi! Apa yang kau lihat? Pergi!

- Minggir! Aku akan masuk. - Minggir!

Minggir. Cinar!

Diam!

Aku menginginkan pekerjaan ini. Titik.

Baiklah, Defne. Kalau kau menginginkannya, itu milikmu.

Damla Basar tak boleh menginjakkan kakinya ke sini. Titik.

Untuk apa? Sudah ada kau.

Aku tak mau berurusan dengan Yalin, aku melapor hanya kepadamu, titik.

Aku mengepalai departemen teknologi. Yalin adalah manajer umum.

Kau akan bekerja bersamaku.

Baiklah. Bagus.

Kau akan mulai bekerja hari ini?

Bisa aku mulai besok? Berdasarkan pengalamanku...

...aku yakin kakakku akan datang dan membuat keributan.

Karena aku sudah dapat pekerjaan, aku harus menenangkannya.

- Tanda seru. - Kau boleh pergi.

Terima kasih.

- Defne! - Ya?

Tasmu.

Maaf. Terima kasih banyak.

Sampai jumpa. Terima kasih.

- Cinar! - Defne.

- Cinar, Sayangku. - Defne, arti hidupku.

Satu-satunya pria dalam hidupku.

Hentikan akting lugumu.

Apa yang kau lakukan di firma orang mesum itu?

- Kakak, dengarkan... - Defne, diam. Jelaskan, cepat.

Defne, apa yang kau lakukan?

Kenapa kau berkedip seperti lampu truk?

Kakak bilang "Diam", lalu Kakak memintaku menjelaskan.

Aku berusaha menjelaskan tanpa berbicara. Kakak menyulitkanku.

Berhenti bicara. Kau membuat kepala Kakak sakit.

Ayo pergi ke tempat sepi. Kakak akan menanyakannya di sana.

- Hai. - Hai, Nona Yesim. Bisa kubantu?

Sekitar 10 menit lalu ada seorang pria muda di sini.

Dia berdiri di sini. Pirang, mengenakan jaket putih...

- ...juga, sepertinya... - Aku tahu. Itu si kekasih.

Kekasih? Siapa yang dia kasihi?

Nona Defne. Ada getaran yang nyata di antara mereka.

Benar, 'kan, Sengul?

Bayangkan bila kau dicintai oleh pria seperti itu.

Nona Defne sangat beruntung.

Caranya menggandeng tangannya dan menariknya.

- Terima kasih. - Sama-sama.

Defne mulai bekerja.

Adikku yang cantik. Apa yang kau lakukan?

Kenapa wajahmu seperti itu?

Tidak ada apa-apa.

Yesim, kau baik-baik saja?

Aku baik-baik saja. Sungguh.

Kakak tahu? Defne mulai bekerja. Denis memberi tahuku.

Sungguh? Apa yang membuatnya berubah pikiran?

Aku tidak tahu.

Di mana dia?

Kekasihnya datang.

Mereka pergi bersama, sepertinya.

Ini presentasi yang baru.

Kita harus mengerjakannya sebelum rapat.

Defne mulai bekerja?

- Ya. - Kau sudah bertanya kepadaku?

Untuk apa? Kita sudah pernah mempekerjakannya.

Aku ingin Damla Basar!

Jangan bodoh. Damla atau Defne? Pilihannya sudah jelas.

- Kau terpaku pada Defne! - Terpaku? Maniak!

Dia hebat dan aku tak ingin kehilangan dia.

Apa masalahmu, saudaraku?

Kau saja yang bekerja dengannya. Aku ingin Damla Basar, sekarang!

Dia mulai bekerja 1 jam lagi. Buatkan kontrak untuk dia.

Aku butuh udara segar.

Ada apa? Kenapa dia mempekerjakan Damla?

Dia cemburu.

Aku akan mengejar kakakku dan berbicara dengannya.

Defne, Sayangku. Dengarkan.

Kau bilang Kakak marah tanpa menunggu penjelasanmu. Apa ini?

Tak ada apa pun antara aku dan Yalin.

Apa yang bisa terjadi? Itu tidak mungkin.

Apa yang bisa terjadi?

Bukankah dia membuatmu gila? Lalu, pekerjaan apa ini?

Kemarin, aku dan Yesim, adik Yalin...

...sedang makan malam, lalu Damla datang.

- Teman kuliahku. Ingat? - Kakak ingat.

Mereka akan mempekerjakan dia. Aku tak bisa membiarkan itu.

Kenapa aku harus menghancurkan masa depanku demi dia?

Kau tak akan menghancurkan masa depanmu. Haruskah Kakak...

Kakak! Lagi pula, aku akan bekerja dengan Deniz.

Aku tak akan bekerja dengan Yalin. Tetapi, Kakak melakukannya lagi.

Kakak menghancurkan perasaanku lagi.

Kemarilah.

Kakak.

Kakak, ayo duduk di sini dan bicara.

Kau duluan. Kakak ingin mencari udara segar dulu.

Baiklah.

Gadis gila, kau tahu aku tak bisa melihatmu sedih.

Suatu hari nanti, seseorang akan datang...

Ayolah.

Ayo pergi!

Kau bilang "Ayo duduk di sini." Jangan plin-plan, Yesim.

Kakak sedang marah, rasanya ingin berkelahi.

Justru itu! Ayo, kita pergi saja.

Itu kekasihnya?

Kau satu-satunya.

Kita akan menemukan penyelesaiannya.

Kakak ingin ke toilet. Kakak akan segera kembali.

Kakak akan selalu bersamamu.

Baiklah.

Yesim!

Kita ketahuan.

- Hai! - Halo, Defne!

- Semoga sukses dengan pekerjaanmu. - Terima kasih, Sayang.

Tetapi, aku sudah bilang, aku tak mau bekerja dengan orang udik.

- Maksudmu aku? - Aku tak tahu. Menurutmu begitu?

Bagaimana kalau kalian duduk?

Baiklah. Kami akan duduk.

Yesim, duduklah, Adikku.

Kita duduk. Tetapi, kau tak sedang menunggu seseorang, 'kan?

Jika aku bilang ya, kau akan pergi?

Tidak. Kami akan menemuinya.

- Kau yakin? - Kenapa? Kau menyembunyikan sesuatu?

Tidak. Aku hanya memikirkan kesehatanmu.

Apa-apaan ini?

- Sial. kekasihmu akan mati. - Kakak, jangan mulai lagi.

Kakak? Kakak yang udik itu?

Aku ingin bertemu dengannya.

Apa dia....

- Apa dia kakakmu? - Ya. Kenapa kau terkejut?

Pria yang bersamamu satu menit lalu?

Satu menit lalu? Aku bersama kakakku sejak pagi.

Berhenti memandangi adikku.

- Ini adikmu? - Bukan, kami mengadopsi dia.

- Aku sudah... - Jangan naikkan nada bicaramu.

Aku tak akan ragu untuk menghancurkan wajahmu.

Hancurkan saja! Ayo!

- Aku hajar kau! - Hentikan!

Cukup! Kalian berdua sama-sama udik.

- Penindas kantor dan orang Laz. - Silakan berkelahi.

Mereka sudah pernah melakukannya. Mereka tak tahu cara berbicara.

Kalian tahu, manusia saling berbicara...

- ...sedangkan binatang bertarung! - Defne, ayo pergi.

Kita tak ada hubungan dengan para binatang ini.

Permisi.

Ada apa lagi?

Jika aku tahu, semoga mereka...

- Defne! Yesim! - Jangan sebut nama adikku!

- Kau yang tak boleh memanggil adikku. - Kau yang melakukannya.

Sayang, aku akan masukkan binatang ini ke kandang...

...dan mulai bekerja besok.

Izinkan aku meminta maaf kepada adikmu.

Defne?

Defne. Aku tak ingin ada masalah di antara kita...

...saat kau ke kantor besok.

Permainanku hari itu memang bodoh.

Maafkanlah aku dan kita mulai dari awal kembali.

Bagaimana?

Katakan, kita tak ada masalah. Ayolah.

Baiklah. Kita tak ada masalah.

- Kita sungguh tak ada masalah? - Ya, tak ada masalah.

Jangan panggil kakakmu lagi bila kau marah.

Baiklah, tidak akan. Aku bisa menghajarmu sendiri.

Tuan Yalin, aku baru saja menandatangani kontrakku.

Tuan Deniz memberi tahu aku, kau ingin bekerja denganku.

Terima kasih. Terima kasih banyak.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.