All language subtitles for Strong.Girl.Bong-Soon.S01E03.720p.NF.WEB-DL.x264.500MB-Pahe.in

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
tt Tatar
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

STRONG GIRL BONG-SOON

STRONG GIRL BONG-SOON

EPISODE 3

Apa hakmu? Karena kau polisi?

- Surat perintah? - Dia temanku.

Tak akan kubiarkan dia menginap bersama orang asing.

Begitu, ya? Kau juga menginap saja.

Dia tidak bisa.

Guk-doo, kau tak perlu ke sini. Ayo.

- Menginap saja. - Sudahlah.

Bong-soon, ayo.

Sekretaris Do.

Pisahkan urusan pribadi dan pekerjaan.

Kau yang seharusnya begitu.

Pasal 4 UU Ketenagakerjaan Bab 50, jam kerja maksimal 40 jam sepekan.

Tak boleh lebih dari delapan jam sehari.

Lalu, kenapa karyawan bekerja di rumahmu dan bukan di kantor?

Beri aku alasan yang jelas.

Alasan?

Tidak ada.

Pasal 110 UU Ketenagakerjaan, penjara dua tahun, denda 10 juta.

Tangkap saja.

Guk-doo.

Aku tidak memberitahumu karena ini rahasia,

tapi aku ada urusan hari ini.

Urusan apa?

Itu... rahasia.

Itu malah membuatku penasaran. Apa?

- Katanya rahasia. - Do Bong-soon.

Dari dahulu kau suka menunda. Nampaknya kau belum berubah.

Saat pekan ujian, kau tidur seharian di sekolah.

Lalu ke perpustakaan dan belajar semalaman.

Bagaimana aku mematuhi UU Ketenagakerjaan kalau karyawanku malas?

Sudah telepon ibumu?

Aku baru mau meneleponnya.

Aku akan bicara pada ibunya.

Jika dia tak izinkan,

aku akan membawanya pulang.

Kalau begitu, kenapa tanya aku?

- Halo? - Halo, Bu Hwang. Ini Guk-doo.

Halo, Guk-doo. Ada apa?

Aku di rumah bosnya Bong-soon.

Katanya dia harus menginap dan bekerja lembur di rumah bosnya.

Dia butuh izin dan pendapat Anda.

Maksudmu, dia menginap di rumah bosnya...

Mereka akan bersama semalaman?

- Benar. - Begitukah?

Dia pasti semangat karena akhirnya dapat kerja.

Dia pekerja keras. Cukup membahasnya.

Kenapa kau di sana?

Jangan kerja terlalu keras, pulanglah.

Kau tak sibuk?

Kau mengerjakan banyak kasus.

Tak usah urusi kehidupan pribadinya.

- Sambungkan ke Bong-soon. - Baik.

Hai, Bu.

Kerja yang benar, ya?

Apa maksud Ibu?

Mestinya Ibu tak bilang ini ke putri Ibu,

tapi apa pun yang kau lakukan di sana, dan apa pun niatmu,

Ibu anggap itu takdir.

Nikmatilah selagi bisa.

Ibu!

Suruh Guk-doo pulang.

Untuk apa dia ke sana?

Seharusnya dia tak ke sana.

Baiklah, Bu. Jangan khawatir.

Aku bekerja.

Baiklah.

Baiklah, jangan khawatir. Selamat malam.

Itu Bong-soon?

Dia akan menginap di sana.

Kenapa Ibu senang?

Ibu hanya tak bisa menahan. Bong-ki, mau mi lagi?

Tidak.

Kenapa menginap di sana? Suruh pulang.

Sayang, kau tak paham arti profesional.

Dia lama menganggur.

Dia bersemangat akhirnya dapat kerja.

Menyuruh dia pulang karena dia wanita

cuma akan menghambatnya.

Apa tugas pengawal di malam hari?

Ibu sadar bahwa dalam hidup, sejarah ditulis di malam hari.

- Ini enak. - Enak.

Tuangkan lagi.

Berhenti makan, nanti gendut.

Sedikit saja.

Sebenarnya apa pekerjaan Bong-soon?

Ini alasanku benci polisi.

Bertanya seperti menyelidiki.

Konyol.

Pasti memang begitu. Mari berkenalan saja.

- Kita bertemu di kantor polisi. - Aku tahu.

Kita bukan orang asing.

Jangan tegang. Kau polisi, 'kan?

Silakan cari tahu soal aku. Kau begitu saat aku jadi saksi.

Belakangan, banyak insiden di yurisdiksiku.

Bong-soon dengar suara pelaku, dan pelaku lihat Bong-soon.

Selain itu, sersan yang berjaga diserang.

Aku sudah tahu.

Makanya aku tak bisa izinkan dia menginap karena kau juga di TKP.

Guk-doo.

Insiden ini tak terkait dengan penyerangan sersan.

Korban serangan itu dendam dengan Pak Ahn.

Kau polisi? Paham penyelidikan?

Tidak, tapi..

Insiden itu tak terkait. Aku yakin.

Itu alasan lain dia tak boleh di sini.

Ayo ke kantor polisi bersama.

- Kenapa? - Wawancara saksi.

Kau bisa sopan tidak?

Kenapa kau seperti itu?

Aku hanya sopan ke orang yang sopan padaku.

Polisi itu keluar RS besok. Aku akan datang dan bantu.

Kalau begitu, datang besok.

Tentu.

- Ayo tidur, Bong-soon. - Apa?

Sesuai UU Ketenagakerjaan. Kita harus patuhi.

Walau polisi ini asal masuk,

dan bertindak semaunya,

kita harus taat hukum.

Aku mau tidur.

Ya. Kamar mandi di sana.

Kau boleh mandi.

Kau juga boleh menginap.

Kenapa dia mau pengawal wanita bukan pria?

Bosku suka pria.

Kami tak mau ada skandal.

Kenapa dia?

- Bong-soon. - Ya?

Aku bingung denganmu.

Aku sekretarisnya.

Selain itu, dia punya alasan sendiri.

Kenapa sekretaris menginap dengan bosnya?

Tenang, Guk-doo. Aku tidak bodoh.

Ayo.

Baiklah, aku pergi.

- Ulurkan tanganmu. - Tanganku?

Simpan ini.

Ini penyeranta darurat.

Lihat tombol ini?

Jika kau tekan, unit patroli terdekat akan datang.

- Paham? - Ya.

Datang ke kantor polisi besok dengan orang itu.

Baik.

Jika dia berbuat aneh, tekan itu.

- Ya? - Ya.

Semua pria itu anjing!

Anjing?

Jangan menghina.

Aku pergi.

Temanku sudah pergi.

Dia ke mana?

Kenapa tak menjawab?

Apa ini?

Ini apa?

Kau di mana?

Aku sedang malas bermain petak umpat.

Astaga.

Kau pergi?

Apa ini?

Kenapa ada lukisan di sini?

Terbuka.

Apa ini?

Ruang rahasia?

Turun.

Ini otomatis.

Apa ini?

Tempat apa ini?

Penjara bawah tanah.

Inilah tempat lahir semua tokoh permainanku.

Selamat datang di taman bermainmu.

Lihat yang bisa kau lakukan dengan uangmu.

Apa? Kau mengejekku?

Apa? Tidak.

Ternyata mentalnya lemah juga.

Nama Jung Joon-tae.

Apartemen Chowon Unit 103, 164. Seongsu-dong 1-ga, Seongdong-gu.

Ini alamat pemilik motor.

- Ayo. - Hei, untuk malam ini...

mari saling menjaga dan tetap di sini. Itu kesepakatan kita.

- Ayo ke sana besok pagi. - Baiklah.

Temanmu sangat mencemaskanmu.

Dia bukan akan memacarimu.

Itu kalung dari pecundang itu... Maksudku, polisi itu?

Bukan.

Dari ayahku untuk kelulusanku.

Bisakah kau menghormati privasiku?

Baiklah.

- Ayo tidur. - Apa?

Kita cuma tidur satu kamar.

Jangan senang dulu.

Tetap saja, kenapa harus satu kamar?

- Aku bukan gadis seperti itu. - Lucu.

Sudah kubilang aku takut.

Kemari.

Kau punya kamar yang layak dan ruang keluarga.

Kau bahkan punya kamar tamu. Kenapa tidur di sini?

Kau pernah terima telepon ancaman pagi hari?

Orang biasa sepertimu

tak akan mengerti betapa rumitnya hidupku.

Kau tidur di sofa. Biar aku di kantong tidur.

- Kenapa? - Ya, aku akan tidur.

Aku bingung.

Ini sangat tidak nyaman.

Hei, itu sofa mahal.

Selamat malam.

Selamat malam.

Saat kecil, aku baca di buku anak

kalau setelah mati, orang akan jadi bintang.

Aku percaya.

Tapi di buku yang kubaca,

orang mati jadi hantu dan bisa kembali menghantuimu.

Bagaimana bisa jadi bintang?

Cuma itu cara melihat Ibu tiap malam.

Ibumu sudah meninggal?

Saat umurku enam tahun,

sebelum meninggal, Ibu bawa aku ke rumah Ayah.

Kedua kakakku selalu kurung aku di lemari.

Ayahku akan pukuli mereka karenanya.

Lalu kenapa kau membuat jalan ke bawah lemarimu?

Aku mungkin dikurung di lemari oleh mereka,

tapi lama-lama, aku merasa itu nyaman.

Tak ada yang mengganggu. Aku bisa tidur nyenyak.

Menyenangkan juga.

Penjahat dan polisi tak bisa temukanku di sini.

Sepertinya kau lebih benci polisi daripada penjahat.

Ayahku dahulu preman.

Dia dapat uang dengan kekerasan

dan dipakai untuk dekati polisi.

Dia bahkan dekat dengan jaksa.

Dia banyak lakukan kegiatan ilegal,

tapi tak pernah dipenjara.

Seumur hidup, aku tak pernah bertemu polisi baik.

Kuyakin ada polisi yang baik.

Kenapa kau suka polisi?

Aku harus tahu.

Apa yang kau suka dari polisi itu?

- Guk-doo. - Ya.

Guk-doo itu...

Lupakan saja.

Kapan kau mulai suka dia?

Aku bertemu Guk-doo saat kelas enam.

Anak-anak, waktu istirahat sudah selesai.

Dia murid pindahan dari Gangnam.

Ayo, perkenalkan diri.

Halo, namaku In Guk-doo, senang bertemu kalian.

Dia murid unggulan di sekolahnya dahulu.

Hebat.

Duduklah di sebelah Bong-soon.

Duduklah di sana.

Ada liur di pipimu.

Liur.

Astaga.

Aku ingin lihat.

Ayolah.

Dia keren sekali.

Guk-doo.

Tampan sekali.

Cuma dia yang membuat kekuatanku tak berguna.

In Guk-doo.

Bedebah itu.

Tak ada yang memaksamu.

Kau yang suka, kenapa salahkan dia?

Hei, bangun.

Ayo bermain.

Apa?

Bunuh mereka!

- Apa ini? - Ya!

Bagus!

Halo, Pecundang.

Hei!

Dengar.

Permainan bagus.

Aku tidur, ya. Sofanya milikku.

Tak ada alasan lagi. Selamat malam.

Sekali lagi, ya?

Tidak mau.

Hei, kau...

Kau tidur?

Yang benar saja.

Apa yang kau lakukan? Kenapa tidur di sebelahku?

Beraninya kau!

Jangan besar kepala.

Aku naik karena di bawah dingin.

- Tak tahu aku takut? - Takut apa?

Kau jatuh menimpaku.

Buatlah sarapan.

Harus enak karena aku cuma makan sekali sehari.

Astaga.

- Kenapa diam? - Ya, sebentar.

Memangnya aku pembantu?

Tak perlu terenyuh begitu.

Ibuku bertingkah seperti ratu,

jadi aku belajar memasak sejak kecil.

Makanya aku cukup pandai.

Terenyuh apa?

Ini semua karbohidrat.

Perkedel, ubi goreng...

Nasinya bahkan tak dicampur biji-bijian.

Putih sekali. Mataku bisa buta.

Tapi akan tetap aku makan untuk menghargaimu.

Aku makan demi kamu.

Kalau begitu, makan saja.

Galak sekali.

Kalau menikah, kau pasti buat istrimu stres.

Tapi kau tak perlu mencemaskan itu.

Tiba-tiba aku memikirkan temanmu,

khususnya bokongnya.

Bokongnya bagus. Padat dan bagus.

Kau mesum sekali.

Aku suka pria berbokong seksi.

Harusnya kau tak bilang itu.

Kau mau apa setelah tangkap dia?

Kupaksa dia bicara siapa dalangnya.

Aku akan lakukan itu?

Kau cuma akan minta bayaran ekstra.

- Tentu. - Makanya aku saja.

Tugasku menangkapnya, 'kan?

Setelah tertangkap dan tahu dia bekerja untuk siapa,

kau akan laporkan dia?

Tidak.

Akan kubereskan dengan caraku.

Seperti berandal di dunia tanpa hukum.

Terserah aku.

Kau tak mau lapor ke polisi?

Aku tak perlu lapori mereka kehidupan pribadiku.

Tapi saat membuat pernyataan, kau akan dipaksa.

Aku tinggal bahas sersan yang diserang itu.

Tapi jika tak bilang, polisi akan mengira pelakunya

sama dengan pelaku pembunuhan di Dobong-dong.

Lalu polisi akan salah tangkap.

- Aku mengawasi polisi itu. - Apa?

Aku cuma mau lihat cara temanmu menyelidiki.

Ya ampun.

Guk-doo.

Kurasa dia tidak terbiasa dengan pisau.

Dia sangat ceroboh.

Kuyakin dia tak berniat membunuhku.

Dia cuma bawa pisau kecil.

Dia kaget setelah menusukku dan kabur.

Kau lihat wajahnya, 'kan?

Ya, sangat jelas.

Lihat ini.

Ini bukan dia.

Dia jauh lebih tua.

Wajahnya tertutupi. Apa yang membuatmu berpikir begitu?

Dia terlihat kasar.

Halo.

Aku tinggal di sebelah.

Kau pakai mesin cuci kemarin, ya?

Berisik sekali sampai tak bisa tidur.

Tidak. Aku tak cuci baju.

Kalau begitu, kau tahu dari mana suara berisik itu?

Apa yang kau lakukan?

Aku cuma mau lihat kau punya mesin cuci atau tidak.

- Kau gila? - Sebentar saja.

Permisi. Sebentar saja.

Siapa kau?

Dia memaksa masuk.

Apa ini?

Apa...

Siapa kau?

Kau benar tetanggaku?

Bukan.

Halo, aku Do Bong-soon dari Dobong-dong, Dobong-gu.

Nomor pelat motormu 4458, 'kan?

- Ya. - Kau Jung Joon-tae, 'kan?

- Kau siapa? - Ya.

- Bisa ikut aku sebentar? - Apa?

Aku ingin bicara soal motormu.

Beraninya kau masuk ke rumahku dan asal bicara.

Asal bicara?

- Tak lama. - Apa yang kau lakukan?

Tak lihat aku tinggal sendiri?

- Sebagai wanita, kau berani. - Apa katamu?

Astaga.

Pak!

Pak!

Dia bernapas. Syukurlah.

Bagaimana ini?

Pak...

Pukulanku tidak keras. Dia kenapa?

Tolong pahami aku.

Seharusnya aku dibayar lebih.

Seharusnya kau tahu bukan itu mauku.

Kenapa kau kemari? Nyalakan mobil.

Apa?

Kita kembali ke rubanah?

Ya.

Ya, itu lucu.

Pergi. Aku bisa.

Mereka hebat.

Hei, kau.

Besok lusa, kau harus datang ke pertemuan.

- Di mana? - Kau harus datang.

Aku beli teri terlalu banyak. Ambillah.

Astaga.

Kau tidak bunuh dia, 'kan?

- Tidak, dia bernapas. - Dia tidak...

- Kurasa tidak. - Ya.

Kenapa wajahnya lebam?

Kau pukul dia?

Apa? Tidak.

Kau pukul dia. Lihat wajahnya.

Bukan aku. Dia yang melakukannya.

Maksudmu dia memukul dirinya sendiri?

Untuk apa? Pasti ada alasannya.

Aku tak bilang dia memukul diri sendiri.

Dia sadar!

Dia harus sadar untuk jawab kita.

Jangan pukul lagi.

Sudah kubilang, bukan aku.

Siapa kalian?

Kenapa melakukan ini padaku?

Apa salahku?

Pak, ulurkan tanganmu.

- Apa yang kau lakukan? - Ini.

Jangan diam saja.

Lihat sekitar dan cari kursi atau apa.

Aku melakukan semuanya.

- Sepupu pertamaku polisi. - Benarkah? Begitu.

Teman pamannya mantanku bekerja di Kantor Jaksa Umum.

- Lalu... - Pak.

- Bisa pegang ini? - Baiklah.

Coba lipat kakimu.

Tunggu. Ini takkan lama.

Hei, sakit.

- Ada apa? - Dia...

Bu...

Bukan aku.

Dia sendiri yang lakukan itu.

Ada apa dengannya?

Kau luar biasa.

- Apa ini bagus? - Kau pikir itu pujian?

- Pak. - Tapi...

Dia seperti...

- Sadarlah. - Astaga. Kuat sekali.

Pak Ahn, kurasa hari ini sudah cukup.

Aku yakin telah memenuhi tambahan jam kerjaku hari ini.

- Aku pergi. Dah. - Kau mau membodohi siapa? Hei!

Kembali.

Siapa yang menyuruhmu?

Motorku dicuri.

Aku sudah lapor, tapi tak ada balasan dari polisi.

Polisi tak berguna.

- Motormu dicuri? - Ya.

Demi membelinya,

aku rela bekerja malam di restoran selama enam bulan.

Pak, ini salah. Biar kubuka ikatannya.

Aku cuma ingin membukanya.

Maaf.

Aku sungguh minta maaf.

Astaga.

Bagaimana ini? Kita salah tangkap orang.

Aku tak boleh salah gunakan kekuatanku.

Kau tahu apa akibatnya nanti?

Aku bisa kena masalah.

- Astaga. - Maafkan aku.

Kau boleh pulang.

Maaf, pulanglah.

Baiklah.

Astaga.

Bagaimana kau bereskan ini?

Lihat pria malang itu. Dia bahkan tak pakai sepatu.

Baik, akan kubereskan. Tunggu.

- Apa hubungan Anda... - Dia tunangan Kim Ji-won.

Korban itu.

Dia tak melakukannya.

Aku sudah cari informasi dan dia punya motif,

Malam sebelum kejadian, mereka bertengkar.

Korban ingin batalkan pertunangan.

- Suaranya direkam, 'kan? - Ya.

Bukan dia pelakunya.

Ukuran kakinya sama dengan jejak kaki di TKP.

Jangan lihat kakinya. Lihat matanya.

Dia mencemaskan tunangannya.

Itu alasan Unit Dua menyimpulkan dia bukan pelaku

yang membunuh Jung Hyung-sook dan menculiknya.

Aku yakin dia pelakunya.

TKP mungkin sama,

tapi jejak kaki dari TKP berbeda.

Dia mempermainkan polisi.

Menyamar jadi dokter,

masuk ke kamar korban dan menculiknya.

Dia mampu berbuat apa pun!

Dia bukan pelakunya. Motifnya tidak cukup.

Lagi pula, Kim Ji-won

masih hidup.

Letnan In.

Baik.

Jadi, maksudmu kasus penculikan di Dobong-dong

dan serangan terhadap Sersan Choi

tidak terkait?

Benar.

Lalu kenapa Sersan Choi diserang?

Bagaimanapun, kepolisian yang berwenang dalam penyelidikan ini.

Bukankah tugas kalian melindungi keselamatan dan keamanan warga?

Tapi warga berhak mengatur urusannya sendiri.

Biar aku urus urusanku, tak usah ikut campur.

- Dengar. - Aku dengar.

Mulai sekarang,

aku yang akan jaga keselamatan Bong-soon.

- Terserah. - Guk-doo.

Sebagai sekretarisnya, biar kujelaskan.

Mungkin bisa kau perhatikan kalau Pak Ahn agak gila.

Maksudku, agak tak biasa.

Itu sebabnya dia banyak musuh.

Sekretaris Do.

Ucapanmu seolah aku punya masalah kepribadian.

Jadi harusnya bagaimana?

Baik. Pelaku pasti mengira Sersan Choi pengawalnya.

Itu alasan dia diserang.

Tak diduga tiba-tiba diserang.

Cari pengawal yang cakap.

Sudah. Dia...

- Kenapa? - Guk-doo.

Aku akan baik saja. Jangan terlalu cemas.

Bukan kau yang kucemaskan, tapi saksi kasus ini.

Aku akan bertugas menjaga Bong-soon.

Jika dia ada dalam bahaya saat jam kerja

atau ke suatu tempat dengan pengamanan lemah.

kau harus suruh orang mendampinginya.

Kuminta kerja sama dan dukungan dari perusahaanmu.

Pastikan sehelai rambutnya pun tak terluka.

Aku yang lindungi dia?

- Justru aku yang... - Guk-doo.

Sudah dapat bukti terkait pelaku?

Belum.

Ya, Pak. Mengerti. Letnan In.

Hari ini Dr. Jo libur.

- Kita ke RS. - Baik.

Panggilkan ambulans.

Panggilkan ambulans.

- Ada apa? - Sakit.

Nampaknya jari kakiku patah. Rasanya kebas.

Apa?

Aku minta maaf. Sakit sekali?

Tentu saja, tapi aku lebih malu.

- Mau kuantar ke rumah sakit? - Tidak. Aku...

Di mana ada kau, pasti ada yang celaka.

Pergi sana.

Aku juga sadar.

Tapi aku benar tidak membencimu.

Mobilnya di sana.

Tidak sulit mencari tahu jadwalku.

Dari nomorku, bisa diketahui aku ada janji atau tidak.

Jadwal operasi dan janji temuku ada di komputer.

Menyamar jadi aku takkan sulit.

Ini rekaman CCTV dari ruang operasi dan ruang jaga malamnya.

Baik.

Terima kasih bantuannya.

Ini. Ayo.

Detektive Kim.

Aku mau temui temanku sebentar.

Teman?

Baik.

Di bagian ini retak.

Astaga.

Retak?

Pakai gips sementara dan jangan terlalu lelah.

Juga harus dikompres dengan es.

Bong-soon.

- Bong-ki, ini CEO perusahaan kami. - Apa kabar?

Kau bisa lihat, aku sama sekali tak baik.

- Kakak injak kaki dia? - Sedikit. Aku tak bohong.

Kenapa kau injak?

- Aku harus dirawat. - Apa?

Yang patah cuma jari kakimu.

Bagimu tak masalah karena bukan jarimu.

Aku seperti mau mati.

Aku tak boleh pincang. Citraku bisa rusak.

Mau kuantar ke kamar VIP?

Di sana membosankan.

Tulang ekor Pak Gong sudah sembuh?

Hei.

Lama tak bertemu.

Maaf, Hee-ji.

Sebelah sini.

Setelah kasus ini selesai, kita bisa berkencan kapan saja.

Baik.

Temanku dokter tetap di rumah sakit ini.

Aku sudah buat jadwal dengan dokter tulang. Ayo ke sana.

Cuma jari patah. Kenapa butuh kursi roda?

Jangan sepelekan pentingnya.

Kalau begitu pakai juga baju pasien.

Aku tak suka orang berpakaian berwarna sama.

Lihat mereka.

Kamar Pak Gong ke sini.

- Pak Gong. Aku datang. - Pak.

Ada apa ke sini?

Kursi roda?

Jari kakiku patah. Menyebalkan.

- Kenapa bisa terjadi? - Diinjak Bong-soon.

Kunyah.

Coba kunyah.

Ayo kunyah. Tutup mulutmu.

Astaga.

Kau harus makan agar sembuh.

Kenapa mengunyah saja sulit?

Coba kunyah.

- Buka. - Yang lebar.

- Bagus. Ayo makan. - Coba kunyah.

- Bos! - Berhenti.

- Kami menemukannya. - Siapa?

- Do Bong-soon. - Do Bong-soon?

Mereka menemukan Do Bong-soon.

Kau sedang apa? Hubungi polisi.

- Astaga. - Hei.

Kalian sedang apa?

- Kau tidak apa? - Bos.

- Hei. - Bos.

Kapan kau berhenti menelungkup begini?

Terlihat buruk, 'kan?

Besok aku sudah bisa menyamping.

Apa masih sakit?

Lebih sakit saat batuk.

Parah sekali.

Tubuh manusia memang luar biasa.

Pak Ahn.

Orang-orang yang dihajar Bong-soon dua kamar di sebelah.

Menariknya,

dokter tetap di sini adik kembarnya Bong-soon.

Bong-soon seolah jadi orang terpenting sedunia, bukan?

Sang kakak melukai, adiknya memulihkan.

Kombinasi luar biasa.

Belakangan ini Kakak kenapa?

Tahu berapa orang dirawat di sini karena Kakak?

Lebih berhati-hatilah. Ada apa dengan kakak?

Jangan ikut-ikutan.

Kakak sudah berhati-hati.

Belakangan ini susah mengendalikan kekuatan.

Astaga.

Aku pergi dulu.

Ada kekasihnya Guk-doo.

Tunggu. Kekasihnya Guk-doo?

- Sakit. - Maaf.

Di mana?

- Hei, Guk-doo. - Hei.

- Halo. - Halo.

Sebelum bertemu dokternya harus tunggu 30 menit.

Jika sibuk, tinggal saja. Aku urus.

Aku tunggu saja.

Hei.

Sedang apa di sini?

Pak Ahn...

Jari kakinya sakit, jadi kami ke sini.

Kenalkan temanku, Do Bong-soon.

Dia kembarannya.

Halo, aku Jo Hee-ji.

Aku banyak dengar tentangmu.

Begitu, ya? Halo.

Mari kuantar ke kamar.

Sebaiknya dirontgen dulu sebelum bertemu dokter.

Baik.

Mari.

Kemarilah.

Gejalanya apa?

Sebentar lagi ada pertunjukan.

Aku berlatih keras, jari dan pergelangan tangan jadi sakit.

Sakitnya sampai ke siku,

dan sekarang tak kuat memegang apa pun.

Kau bermain cello, 'kan?

Ya.

Nampaknya otot pergelanganmu meregang.

Otot-ototnya letih, ada peregangan di otot pergelangan tangan.

Agar pasti, harus dirontgen dan tes darah.

Tangan sebelah mana?

- Kiri. - Sebentar.

Sebelah sini?

Atau yang ini?

Ya, itu.

Baiklah.

Sudah kubilang lakukan apa yang kusuruh.

Kenapa tidak bisa menolak?

Untuk apa sekretaris seharian bersama atasannya?

Kau pengasuhnya?

Bukan, tapi sekretaris aslinya tidak ada...

Kenapa bisa begitu?

Waktu itu aku sudah cerita. Dia yang cedera tulang ekor...

Kenapa dengan semua karyawannya?

Bong-soon, kau terlalu mudah percaya pada pria.

Pria baik itu hidung belang, yang jahat pasti penipu.

Kau tak tahu itu?

Pak Ahn itu mencurigakan.

Kenapa kau begini padaku?

Apa?

Kau punya kekasih!

Kenapa kau baik padaku?

Apa maksudmu?

Ayo rontgen dulu.

Baik.

Hei.

Sedang apa di situ?

Aku cari kau ke mana-mana.

Aku harus begitu?

Anda sudah kembali?

Wajahmu kenapa?

Seperti habis lihat kekasih pria yang kau suka.

Aku bisa melihatnya.

Mudah terlihat.

Lari.

Itu...

Itu...

- Hei. - Itu...

Diamlah.

Astaga.

Diam.

Apa aku salah?

Kenapa tidak jawab?

- Kenapa? - Itu...

Kau mengabaikanku?

Bukan itu.

- Hei. - Ya?

Ke mana dia?

Jangan bergerak.

Dia pemain selo, jari-jemarinya sakit.

Tolong rawat dia.

Kita mulai. Tolong jangan bergerak.

Chun-shim, Ibu tak memberimu makan lagi?

Ya ampun.

Ini.

Ibu, mau ke mana?

Ibu kenapa pergi terus? Beri tahu aku.

Kau tidur?

- Kau tidur? - Ya, aku tidur.

- Benar? - Ya.

Ya, tidurku pulas.

Kau bilang kau tidur?

Ibu, dia tak suka wanita.

Aku sudah bilang.

Sebelum ada Chun-shim,

Ibu tak suka anjing.

Ibu paling suka makan daging anjing.

Orang bisa berubah.

Manusia tak bisa dibandingkan dengan anjing.

Ibu tidak masuk akal.

Kau memang tak mengerti.

Ibu, meski kita bukan orang kaya, setidaknya kita harus jaga harga diri.

Bagaimana caranya jaga harga diri jika miskin?

Dasar bodoh.

Di kulkas ada daging.

Masaklah untuk makan malam Bong-ki.

Buat sup lobak dengan biji perilla.

Aku harus mandi, ganti pakaian, lalu pergi lagi.

Terserah. Ibu saja.

Astaga.

Seharusnya dia usaha lebih keras. Kekuatannya sia-sia saja.

Menyebalkan.

BOS KEJAM

Ya.

Kenapa menghilang begitu saja?

Bagaimana jika ada yang menyerangku saat kau tak ada?

Aku pulang ganti pakaian.

Sikapmu menyebalkan.

Kau tak mengerti apa itu kode etik.

Aku hanya ingin mandi.

Kita harus bersih, 'kan?

Atasanmu sedang kesakitan,

kau malah memikirkan kebersihan?

Benar.

Maaf karena aku berusaha hidup bersih.

Lari ke sini setelah mandi.

Tak usah keringkan rambut. Paham?

Aku...

Dia itu kenapa?

Sambil tunggu aku harus apa?

Bos, Anda datang.

Pak.

- Halo. - Halo, Bos.

Begini...

Kejadiannya...

Jaws.

Semuanya lengkap?

Kau cedera parah.

Dia bilang empat giginya tanggal.

Yang kudengar, palakunya wanita, benar?

Sejujurnya,

benar, Pak.

Kami tak punya alasan.

Kami tak sanggup memberi tahu Anda

karena kami merasa telah rusak nama baik kita.

Memang sulit dipercaya, tapi itu benar.

Kudengar wanita itu di luar industri kita.

Benarkah?

Kami sudah periksa, Pak.

Namanya Do Bong-soon. Orang tuanya pemilik toko roti.

Dia sekretaris di Ainsoft.

Ainsoft?

Kebetulan sekali.

Coba rekrut dia jika dia cocok.

Jika tak bisa, singkirkan dia dari dunia ini.

BIAR AKU YANG URUS, PAK.

PERCAYALAH PADA KAMI SEKALI LAGI.

Berhenti bernapas di telingaku.

Diam.

Bisa-bisanya kau biarkan seorang gadis menghajarmu?

Kabarnya sudah tersebar ke seluruh negeri.

Aku benar-benar malu!

Kalian membuatku malu!

Diam kau!

- Aku sudah diam, Pak. - Maksudku dia.

Kau tidak apa-apa?

"Lidahku tergigit."

Bawa gadis itu padaku.

Jika aku tak lihat langsung kekuatannya, anggap riwayat kalian berakhir.

- Ya, Pak. - Ya, Pak.

Kekuatanku makin sulit dikendalikan.

Jika dipikir, aku begini sejak waktu itu.

Kau mengeringkan rambut, ya?

Cepat ke sini.

Kita harus pergi.

Aku khawatir bisa membunuhnya.

Ya sudah.

Dia bukan orang sembarangan.

- Seperti apa dia? - Kelihatannya tua.

- Mahasiswi? - Bukan, orang biasa.

- Bodoh. Kau mau mati? - Tenanglah.

Cepat. Aku mau pergi.

- Astaga. Dia kasar sekali. - Aku bosan.

Permisi.

Halo.

Ingat aku?

Hei.

Ini ulahmu?

- Sepertinya begitu. - Begitu, ya?

Ayo perbaiki.

Kalau tidak, kau akan seperti sepatu ini.

Ini sudah tak bisa diperbaiki lagi.

- Aku tak bisa. - Kau gila, ya?

Sini tasmu.

Periksa.

Perbaiki atau bayar.

Kau cari mati, ya?

Kau itu semiskin apa? Tak ada uang?

- Menghasilkan uang itu keahlian. - Maaf.

Belakangan ini gaya hidupku tak bagus.

Setidaknya ada 30.000 won, 'kan?

Cuma 3.000 won. Untuk apa menyimpan banyak kuitansi?

Baiklah.

Kau minta dihajar?

Hei.

Minta dihajar sampai mati?

Hei, aku tak suka kepalaku dipukul.

Aku juga tak suka dompetku diubrak-abrik.

Kau melakukan hal-hal yang tak kusuka.

Sebaiknya jangan.

Aku takut.

Kau membuatku takut.

Lalu kau mau apa?

- Mau apa? - Berengsek. Beraninya kau.

Hei.

Aku sudah peringatkan, bukan?

- Maafkan aku. - Udaranya jadi tercemar,

kalian mau mengendus baunya seperti dia?

Kumohon maafkan aku.

Kau harus hidup yang baik.

Kau belajar apa di sekolah? Hal-hal yang buruk?

- Aku akan jadi baik. - Astaga.

- Hei, ayo naik itu. - Ya?

Kubilang, naik itu.

- Ayo. - Cepat.

Pegangan yang kuat. Ini akan sangat berbahaya.

Hari ini kalian akan bersenang-senang.

Baik. Kita mulai.

Seru, 'kan?

Bagaimana? Mau lagi?

- Tidak. - Tidak.

Cepat berkumpul.

Bocah-bocah nakal. Lihat kalian.

Baik.

Mulai sekarang, kalian punya waktu satu jam.

Kumpulkan paling sedikit 1 kg sampah di daerah ini.

Hanya sampah.

Setelah itu kuizinkan pulang.

Kalau tidak, kita main lagi. Pilih yang mana.

- Mengumpulkan sampah. - Mengumpulkan sampah.

Terdengar bagus, 'kan?

Hidup yang baik. Rajinlah belajar.

Hei.

Ambil 3.000 won ini dan beli makan untuk kalian.

- Aku pergi. - Terima kasih banyak.

Nikmati harimu.

- Nikmati harimu. - Nikmati.

Lalu ada Pak Kim yang tadi kuceritakan, Pak.

- Ganti ke pekan depan. - Tapi...

Bagus.

Kau mulai malas.

Ikut aku.

Kau tak mau membopongku?

- Sampai besok, Pak. - Ya.

Jangan sampai kena flu. Sedang musimnya.

- Coba ganti posisimu. - Dia di kamar itu.

Itu dia.

- Bisa jalan lebih pelan? - Sudah.

Tidak masuk akal.

Tidak mungkin.

Apa-apaan...

Kau mengompol.

Dia mengompol.

Mari, Pak.

Bayaran awalmu kupertimbangkan lagi. Jangan protes.

Memangnya aktivitasku kenapa?

Kurasa aku tak layak kau omeli atau diperlakukan tak adil.

Aku tak tahan.

- Dan... - "Sikap".

- Apa? - Ulangi. Sikap.

Tidak mau.

Yang penting kau mengerti, 'kan?

- Kau paham maksudku. - Kau harus belajar lagi.

Kau itu sebodoh apa...

Ayo jalan. Astaga, sangat tidak nyaman.

Mengganggu sekali.

Begini lebih baik. Lebih nyaman.

Jangan bicara. Aku mau tidur.

Kita mau ke mana?

Diam dan jalan saja.

Kita jalan.

Tolong yang itu.

Maaf. Sudah lama?

Tidak, aku baru tiba.

- Tadi pengobatannya lancar? - Ya.

- Temanmu baik sekali. - Benarkah?

Ini.

Apa ini?

Bingkisan Hari Putih.

Saat itu kau harus tugas malam, ya?

Ya.

Cobalah.

Lembut dan manis.

Menurutmu kita kapan bisa semanis ini?

Hari ini kita akan temui tiga tersangka.

Perhatikan dan cari siapa tersangka utamanya.

Selamat datang.

Kami sudah menunggu.

Ini sekretaris pribadiku.

Senang bertemu. Aku Do Bong-soon.

Halo.

Kami akan rapat keluarga. Tunggu di luar, ya?

Dia asistenku, tidak apa-apa.

Dia sudah tahu keluarga kita kacau.

Kelihatannya lezat.

Jangan teralih oleh makanan, perhatikan tersangkanya.

Ayah panggil kalian semua untuk rapat informal ini

karena Ayah akan umumkan pewaris perusahaan kita.

Alasan kini tak ada pengacara

karena masalah ini bukan soal hak waris atau warisan.

Ayah adakan rapat ini untuk umumkan secara resmi

pewaris Grup Osung di hadapan semua anggota keluarga.

Ayah sudah harus pensiun.

- Apa maksud Anda, Ketua Ahn? - Ayah.

Sebagai pendiri Osung Construction

dan memperluas ke Osung Food membuatku kaya raya.

Dan sekarang,

kita ada di persimpangan penting.

Apa kita akan menjadi perusahaan biasa?

Atau berkembang menjadi konglomerat global?

Urutan prioritas bukan hal penting.

Penerus haruslah layak.

Haruslah yang paling kompetitif.

Yaitu kau, Min-hyuk.

Ayah pilih orang yang tepat.

Min-hyuk pasti mampu berbuat yang terbaik.

Kenapa Ayah buat keputusan sendiri?

Ini perusahaannya, tentu saja buat keputusan sendiri.

Aku paham.

Karena aku punya perusahaan,

aku akan coba gabungkan Ainsoft dan Grup Osung.

Hei. Apa hakmu? Kau siapa berniat begitu?

ANALISIS TEMPUR, SERAKAH, SERANGAN 70, PERTAHANAN 35

Industri game adalah pasar yang sudah diakui.

Jika Grup Osung merger dengan Ainsoft,

citra perusahaan akan langsung berubah.

ANALISIS TEMPUR, PENUH SENYUM SERANGAN 15, PERTAHANAN 30

Itu cuma perusahaan game.

Dia buat anak-anak kecanduan untuk hasilkan uang.

Mengapa menurut Ayah dia bisa memimpin?

ANALISIS TEMPUR, SINIS SERANGAN 80, PERTAHANAN 60

Ya.

Perusahaan game itu

ANALISIS TEMPUR, TAK TERLIBAT SERANGAN 0, PERTAHANAN 0

menghasilkan laba 180 juta won.

Ayah kagum dengan itu.

Dasar sombong. Apa kau pernah seperti itu?

- Ketua Ahn, sudahlah. - Berandal. Kemari kau!

ANALISIS TEMPUR, BAHAYA SENJATA SERANGAN 100, PERTAHANAN 100

Kumohon, tenang.

Duduklah.

Entah kenapa, menurutku pelakunya adalah ayahmu.

Aku yakin.

Untuk apa ayah ganggu aku?

Kenapa juga aku berpikir kau bisa membantu?

Dia cocok sekali jadi penjahat.

Sudahlah, kita ke Dobong-dong.

Apa? Bagaimana denganmu?

Aku bisa mengemudi.

Aku bisa meski cedera jari kaki.

Astaga, tapi sebelumnya kau bawel soal itu.

Aku bisa mendengarmu.

Baiklah.

Mau pasang musik?

- Tidak. - Kau membosankan.

- Apa kau bilang? - Tidak ada.

- Kau mengejekku? - Tidak.

Kita ke Dobong-dong.

- Bersulang. - Ayo.

Hari ini kau cukup banyak minum.

Aku sopir yang Anda minta.

Ya, ini.

Aku turun di sini.

Tapi ini bukan rumahmu.

Aku sedang stres.

Gara-gara kau, Berengsek.

Jadi aku mau mampir ke apotik membeli obat pening.

Hati-hati di jalan.

Sekretaris Do.

Besok pagi datang ke rumahku.

Kau tidak ke rumah sakit?

Kenapa harus kalau cuma jari patah?

Itu yang kumaksud seharian ini, Berengsek.

Silakan.

- Aku pergi. - Dah.

- Hei. - Ibu membuatku kaget.

Dia mengantarmu lagi?

Ibu penjaga lingkungan ini, ya?

Di mana-mana ada.

Waktunya pasti sangat luang sampai mengantarmu setiap hari.

Ya, dia orang paling malas yang pernah kukenal.

Kau memang putri Ibu,

tapi kau tahu kau juga banyak kekurangan, bukan?

Itu sebabnya kau harus berusaha.

Berusaha apa?

Mulailah berpakaian yang seksi.

Lihat Ibu.

Meski usia bertambah, kita harus tetap seksi.

Kalau kau terus begini,

kau sulit mendapat pasangan, paham?

Aku bisa urus sendiri. Pulanglah.

Menyebalkan.

Tunggu Ibu.

Perlu apa?

Aku sakit kepala.

Aku yakin karena stres.

Tolong beri aku obat.

Baik.

Anda memerlukan ini.

- Hei. - Astaga, Ibu.

- Hentikan. - Jangan bergerak.

Hentikan.

- Astaga. Hentikan. - Ini bagus untuk...

- Selamat datang. - Maaf.

Ini baik untukmu.

- Tolong lima perban. - Hentikan.

Kenapa? Beli ini.

Sana.

- Jangan! - Bercanda.

Cuma pura-pura.

Nikmati malam Anda.

Aku beli ini juga.

Lingkungan ini menyebalkan.

- Hati-hati melangkah, Bu. - Sudah sampai.

- Hari yang melelahkan. - Apa?

Bersulang.

- Bersulang. - Bersulang.

Bong-soon, bagaimana pekerjaanmu?

- Menyenangkan? - Biasa saja.

- Atasanmu menyebalkan? - Jelas. Dia ahlinya.

Apa dia menatapmu dengan aneh atau bagaimana?

Bersihkan telingamu?

Sudah berapa kali kubilang? Dia suka pria.

Membuatku kecewa saja.

Kau yakin dia suka pria?

Yakin.

Sepertinya dia suka Guk-doo.

- Apa? Guk-doo? - Ya ampun.

Tapi atasanmu tampan sekali.

Tak perlu diragukan. Ibu belum pernah lihat pria setampan itu.

Dia lebih baik gay.

Kalau tidak, pacarnya pasti banyak.

Guk-doo merusak kesempatanmu dengan cara yang aneh.

Sudah, Bu. Ibu jadi seperti picik.

Tapi jangan langsung menyerah.

Dia punya apa yang kau tak punya?

Pak Ahn benar-benar unik.

Dia dirawat dan pergi sesuka dia.

- Pergi? - Ya.

Kak Bong-soon menginjak kakinya.

Kenapa kau lakukan itu? Seharusnya kau mencucinya.

- Halo? - Ini Hee-ji.

Hai.

Aku ingin berterima kasih untuk hari ini.

Aku ingin traktir makan. Kapan kau senggang?

Tak usah.

Aku malu kalau kau tolak.

Kalau begitu, makan siang saja karena besok aku tugas malam.

Ya sudah, aku telepon kalau sudah dekat rumah sakit.

Baiklah.

- Dari siapa? - Kekasihnya Guk-doo.

Kenapa dia menelponmu?

Dia cuma mau makan siang.

Tak mungkin cuma makan siang.

Dia sudah punya kekasih. Mau apa dia?

Dia bahkan tak cantik.

- Dia sangat cantik. - Kau bercanda?

- Dia senyum ke siapa saja. - Kau juga harus begitu.

Memangnya itu dilarang? Atau didenda?

Matamu harus senyum pada atasanmu

- dan bukan malah menginjaknya. - Cukup.

Hei. Kau akan menemuinya?

Entah kenapa dia mau bertemu. Aku tak bisa menolak.

Dia bisa datang dengan Guk-doo.

Jangan makan siang dengannya.

Ibu. Ibu menyuruhku menginap di rumah atasanku.

Kenapa dia tak boleh makan bersama wanita?

Kau bukan dia. Masa depannya bagus dan kau tidak.

Ibu harus berinvestasi seperti itu agar dapat manfaatnya.

Astaga.

Masa depan siapa yang bagus dan siapa yang tidak?

Terserah.

Birnya habis. Sana beli lagi.

- Baik. - Mau aku saja?

Tidak apa-apa. Aku saja.

Kumohon, biarkan aku turun.

Kumohon.

Biarkan aku turun. Kumohon buka pintunya.

Firasatku mengatakan aku mungkin akan menggunakan penuh kekuatanku.

STRONG GIRL BONG-SOON

Kau cahaya dan harapan di dunia yang gelap ini.

Terima kami!

Aku suka gadis lemah. Buatku ingin lindungi dia.

Bong-soon, kita cuma teman.

Aku juga bisa marah. Hatiku pun bisa sakit.

Kau memang unik.

Lihatlah.

Lihat!

Kalau dia marah,

- entah akan berbuat apa. - Astaga, sakit.

Aku akan robek bokongmu dari tubuhmu.

Dia sangat manis.

Dia terlihat senang. Kurasa dia periang.

Ikuti dia. Pelan-pelan.

- Belakangan ini aku diperas. - Pak.

Itu orang yang sama.

Kalau kutangkap, akan kubunuh.

- Dia harus cepat ditangkap. - Suaranya sama?

Maaf.

Ada laporan orang hilang. Firasatku tidak enak.

STRONG GIRL BONG-SOON

Terjemahan subtitle oleh Denita

- Drafeir -

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.