All language subtitles for Rao.Bahadu

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Alih bahasa: @Nell.aja https://subsource.net/u/1446774 https://sociabuzz.com/nell_aja/support

Kebenaran sudah mati.

Kebenaran sudah mati.

Kebenaran sudah mati

dan mengubah rumah ini

menjadi kuburan.

Kebenaran sudah mati.

Selamat pagi, Ap...

Appa.

Appa?

Appa?

Appa?

Appa?

Pak Lavana!

Halo?

Dokter sedang pemeriksaan pagi.

Belum bisa bicara sekarang.

Buka mulutnya sebentar, ya.

Ibu?

- Gimana perasaannya sekarang? - Lebih baik, Dok.

Bagus. Perkembangannya bagus sekali.

Tidak usah khawatir apa-apa.

Tunggu dan lihat saja.

2 hari lagi sudah bisa pulang.

Dia percaya banget sama bohong itu, Dok.

Sekarang dia pikir bisa hidup sampai 100 tahun.

Bohong itu kayak lagu merdu.

Enak didengar.

Bohong manis lebih baik daripada kebenaran yang menyiksa, Nak.

Tugas dokter itu memberi kelegaan.

31 00:07:34,251-> 00:07:35,916 Bukan menambah rasa sakit.

Umurnya cuma tersisa 4 hari.

Telepon anaknya 1 jam lagi

dan suruh bawa pulang.

Ayo periksa bangsal ini.

Dokter!

Dokter, ada telepon untuk Dokter.

Jangan ganggu pasien lagi.

Kau tidak tahu?

Catat identitasnya.

Bilang aku telepon balik nanti.

Sudah aku bilang, Dok. Tapi katanya darurat.

Siapa yang buru-buru banget?

Ini Pak Lavanappa Raju, Dok.

Lavana?

Kau mulai periksa bangsal ini, aku nyusul.

Anak Muda!

Jangan bilang yang sebenarnya. Nanti mereka takut.

- Halo? - Paman?

- Ini Lavana. - Ya, Lavana?

Paman harus segera ke rumah kami.

Ayah mau bicara soal pribadi dengan Paman.

Sepagi ini?

Ayahmu baik-baik saja, Lavana?

Pingsan lagi tadi pagi.

Masih hidup itu sudah mukjizat, Dok.

Jangan bicara begitu, Dokter.

Kebenaran seringkali pahit, Dok.

Setahun lalu sudah kubilang umurnya tidak sampai 4 bulan.

Kalau dia mempertanyakan pengalaman 35 tahun ku,

ya sudah, aku cuma bisa diam.

Aku belum pernah lihat orang sekuat ini...

dengan kanker hati stadium akhir.

Dan masih minum-minum pula.

Aku minta dia ke rumah sakit cuma buat lihat manusia super ini.

Tidak ada yang bisa kulakukan.

Gini aja.

Kata Dokter...

Coba kirim dia ke rehab di Amerika

buat berhenti minum.

Entahlah. Dia sudah kayak orang ajaib.

Itu malah bikin komplikasi makin parah.

Dengar, Dr. Achari.

Dia pecandu alkohol dengan gangguan psikologis yang belum terdiagnosis.

Dia punya fobia,

delusi, dan halusinasi.

Dia pakai alkohol

buat matiin gejala-gejala itu.

Kalau dipaksa berhenti sekarang,

bukannya gejala putus obat malah makin parah?

Terus gimana menurutmu?

Kita harus diagnosis gangguan mentalku dulu.

Apa gangguannya faktor genetik...

atau disebabkan

oleh trauma?

Ini yang harus kita cari tahu.

Lalu dia perlu obat-obatan

dan terapi.

Buat melakukan semua ini,

Paman harus bawa dia ke aku dulu, Dok.

KEDIAMAN BHUVANA

Jadi, Achchamma, kabarmu?

Ya beginilah, Dok.

Maksudnya begini?

Kau tidak sehat?

Kondisi Bapak bikin aku khawatir, Dok.

Ya jelas aku tidak baik-baik saja.

Salam, Dok.

Itu siapa? Belum pernah kulihat di sini.

Itu menantuku, Dok.

Semua pembantu keluar,

satu per satu.

Jadi, aku bawa dia buat bantu-bantu.

Kembali ke topik,

ada apa dengan Ayahmu?

Kau tahu sendiri, Dok.

Ceritanya sama tiap malam.

Kenangan tentang putra bungsunya

terus menggerogotinya.

Bukan cuma itu.

Dia terus teriak "Kusuma! Kusuma!"

keras-keras dalam tidurnya.

Apa dia akhir-akhir ini keluar?

Lanjutkan.

Kayaknya dia lebih kangen

dari biasanya hari ini.

Dia nangis terus sampai pingsan.

Apa kau yakin semua ini,

atau cuma perasaanmu saja?

Aduh, Dok. Kau tidak pernah percaya padaku.

Masak aku bikin-bikin cerita begitu?

Hanya kau yang tahu itu!

- Dia di kamar? - Iya. Ayo!

Memangnya mau ke mana lagi?

Dia nanya "apa dia di kamar?"

Dari kecil kayak gini, tidak pernah percaya padaku.

Ketidakadilan telah menang.

Keluarga Kurawa dikhianati.

Masa Pandawa yang naik takhta?

Tidak bisa.

Tidak boleh.

Keturunan orang tidak jelas sudah memerintah kerajaan.

Dia tidak beruntung punya anak.

Dia mati kalau coba-coba.

Ada kesalahan.

Ada kesalahan.

Kau, Nona!

Apa Pandawa lahir dari dia?

Atau kau yang bilang, Nona!

Apa mereka anak kandungnya?

Kenapa tidak jawab?

Apa Pandawa benar-benar lahir dari dia?!

Kenapa tidak percaya kalau aku bilang?

Pandawa bukan anak kandungnya.

- Bukan anaknya. - Ramudu!

- Bukan anaknya. - Ramudu!

- Bukan anaknya. - Ramudu, jangan mukul diri sendiri!

Ramudu!

Apa Pandawa lahir dari dia?

Bukan.

Lalu kenapa mereka tidak jawab?

Siapa?

Mereka sudah tidak ada di sini.

Mereka pergi karena tidak punya jawaban buatku.

Siapa kali ini?

Mereka Kunti dan Madri.

- Dan... - Kunti?

Bagaimana kau masuk...

padahal temboknya berputar?

Bukan tembok yang berputar.

Aku masuk sama mereka.

Aku tidak sadar kau di sini.

Tidak apa.

Kau tampak sibuk sama mereka.

Sama siapa?

Sama Kunti dan Madri.

Oh ya?

Apa mereka di sini?

Di mana mereka?

- Di mana mereka? - Mereka takut sama kau dan kabur.

Bilang kalau mereka datang lagi.

Aku mau tanya sesuatu.

Baik.

Nanti aku bilang. Duduk tenang dulu.

Duduk.

Ada apa dengan tanaman dan labu-labu ini?

Bukannya sudah kusuruh cabut?

Jangan sentuh!

Biarkan saja.

Aku berharap anak keduaku mirip labu juga.

Setidaknya biarkan mereka tumbuh.

Kenapa kau panggil aku?

Aku?

Aku tidak panggil kau.

Bukan?

Tapi Lavana bilang

kau mau bicara pribadi denganku.

Anak itu? Selalu begini.

Dia nuduh aku melakukan hal yang tidak kulakukan.

- Dia benci aku entah kenapa. - Ya, terserah.

Aku ke sini mau bicara sama kau.

Lalu kenapa diam? Cepat katakan!

Aku mau kau ikut periksa

ke dokter denganku.

Kau kan dokternya?

Kenapa ke orang lain?

- Aku cuma dokter umum. - Iya, aku tahu.

Kau mau bawa aku ke dokter kanker,

atau dokter jiwa, ya?

Bukan dokter jiwa, tapi psikiater.

Iya, Psikiater.

Psikiater besar!

Aku tidak mau.

Dia tidak tahu apa-apa.

Apa aku gila pergi ke sana?

Aku kelihatan waras, kan?

Tidak mau!

Ya sudah. Jangan datang!

Jangan datang.

Setidaknya periksa ke dokter kanker?

Aku tidak mau.

Dia tidak tahu apa-apa. Buang-buang duit.

Setahun lalu, dia bilang aku mati dalam 4 bulan.

Aku tidak mati, kan?

Aku tidak mau!

Dia tidak tahu apa-apa.

- Dia tidak tahu apa-apa. - Iya, dia tidak tahu apa-apa.

- Jangan mendekat. - Dia tidak tahu apa-apa.

Makanya dia bingung kau masih hidup!

Dia kangen kehadiran suci kau.

Kau tidak akan mati, kan?

Tapi kau yang bakal bikin kami mati.

Satu hari satu langkah.

Maaf, Achari.

Aku tidak seharusnya memanggilmu

dan menyakitimu begini.

Jadi, kau yang minta aku datang?

Iya, apa Lavana tidak bilang?

Dia selalu begini.

Aku terlalu memanjakannya karena dia anak satu-satunya,

- malah jadi tidak guna. - Jangan bahas itu.

Lupakan.

Kenapa kau panggil sebelum kau lupa?

Duduk. Aku cerita.

Aku duduk. Cerita.

Kalian semua penasaran kenapa aku masih hidup, kan?

Iya.

Aku tahu kenapa.

Apa yang kau tahu?

Aku kerasukan

setan, Achari.

- Kau ngomong tidak masuk akal lagi. - Tidak, ini masuk akal.

Aku jelasin. Duduk dulu.

Katakan.

Ingat "Isi Titik-Titik"

waktu sekolah?

Aku ingat.

Garis bawah adalah setan mematikan.

Isi titik-titiknya.

Keraguan adalah setan mematikan.

Itu setan yang merasukiku.

Keraguan itu obat.

Aku tidak akan mati sampai efeknya hilang.

Apa yang kau ragukan?

Dia mendengarkan.

Kau bocah nakal!

Aku tahu itu kau!

Berani-beraninya kau memata- matai aku di rumahku sendiri!

Kau di mana?

Tunggu, nanti aku suruh Achari urus kau.

Itu siapa?

Itu Kusuma, bung.

- Kusuma? - Iya.

Meski raga ini sudah menyerah,

keraguanlah yang memerangkap jiwaku dalam kendi.

Tolong wujudkan permintaan terakhirku

dan bebaskan aku dari kutukan kendi ini.

Apa kau baca ini?

Mereka lakukan tes darah buat identifikasi orang tua kandung.

Kau kan dokter?

Ambil darahku dan cari tahu apa Kusuma anak kandungku.

Ini.

Ambil darahku.

Ramudu!

Ramudu, berhenti!

Darahmu saja tidak cukup.

Kita perlu darahnya juga.

Mana bisa kau dapat darah anak yang sudah mati? Ramudu!

Kau jadi apa, bung?

Lihat, kau berdarah!

Kenapa keraguan ini muncul?

Jadi, tesnya tidak mungkin?

Kusuma meninggal 8 tahun lalu.

Mana bisa dapat darahnya sekarang?

Kau janji mau wujudkan permintaan terakhirku.

- Iya, tapi - Tidak ada cara lain?

Aku tidak yakin.

Begini, tes DNA itu ilmu baru.

Dunia baru menemukannya.

Tidak ada cara tes tanpa darahnya?

Itu yang aku bilang. Aku tidak tahu.

Tapi sebagai dokter yang mempelajari tubuh manusia,

mereka butuh sampel dari tubuh kalau bukan darah.

Tapi aku tidak bisa jamin.

Jadi, hentikan omong kosong ini dan ikut periksa ke dokter.

Psikiater bisa bantu hilangkan pikiran-pikiran itu.

Kau boleh pergi sekarang.

Apa kabar?

Dia antara hidup dan mati.

Kalau kau berhenti keras kepala dan bicara padanya,

mungkin itu baik untuknya.

Ada apa, Paman?

Apa ayahku bikin Paman takut?

Paman kayak melamun.

Makan, makan.

Ada apa lagi, Lavana?

Aku sedang urus visa Amerika.

Aku pergi kalau sudah disetujui.

Aku ingat kau bilang.

Dengan semua harta yang akan kau warisi...

kenapa mau kerja di bawah orang di Amerika?

Apa gunanya semua warisan ini?

Dia tidak mau bicara denganku.

Aku tidak ngerti omongannya.

Daripada tahan ulahnya setiap hari,

mending aku pergi.

Bagaimana kalau ada apa-apa sama dia setelah kau pergi?

Mereka kasih dia waktu setahun,

jadi aku tunggu.

Orang berdosa tidak gampang mati, Paman.

Dia bikin ibuku sengsara.

Kayaknya dia tidak akan mati dalam waktu dekat.

Aku kenal kau sejak kecil, Lavana.

Apa kau akan benci semua orang selamanya?

Dulu waktu kecil...

orang-orang ejek aku karena lahir prematur.

Bayi prematur punya kekurangan, kan?

Katanya pembenci.

Cinta tidak selalu harus dipertontonkan kayak cintamu.

Ada cinta dalam kepedulianku padanya.

Aku cukup mencintainya

untuk menahan siksaannya saat memberinya obat.

Tapi akhir-akhir ini...

saat aku melihatnya berjuang bertahan hidup,

cintaku malah membuatku

ingin mengakhiri penderitaannya.

Aku kabur sebelum aku melakukannya.

Katanya pembenci.

Sebagai orang yang sesekali berkunjung,

masa Paman tahu penderitaan yang kami alami?

Dia mengurung diri

di kamarnya kayak orang gila.

Kalau aku terus memikirkannya,

aku bakal jadi sama gilanya.

Makanya aku pergi.

Apa dia bilang aku gila?

Siapa yang gila?

Dia pikir aku gila?

Katanya aku mengurung diri di kamar.

Dunia terasa begitu luas waktu kita muda.

Makin tua makin kecil.

Kita pikir itu karena kita semakin besar secara fisik.

Tapi sebenarnya kita berhenti tumbuh secara mental.

Aku mengurung diri di kamar?

Apa dia tahu?

Dahulu kala,

duniaku juga luas.

Kalau hidupku dibuat film,

bakal ada 2 bagian.

Setidaknya 2 bagian!

Aku dulu burung bebas di luar sana.

Kenapa kau kurung aku di sini?

Mogombo Senang!

Ini babak pertama ceritaku.

Di sini, aku pengelana tanpa lelah,

seperti manusia purba.

Selama 5 tahun,

aku burung tanpa tujuan tanpa ikatan apa pun.

Tapi kesalahan pertamaku...

seperti diskusi dengan orang ini.

Bagaimana kau tahu aku di sini?

Butuh 2 bulan, bung.

London ke Singapura, lalu ke Maroko,

Swiss, dan Perancis.

Pencarianku membawaku ke Brahmanda Nagaram,

dan di sinilah aku!

Perjalanan yang panjang!

Lebih baik kau pergi ke Kasi dan pulang.

Kenapa kau ke sini?

Kau bertemu teman setelah lama.

Begini caramu bicara padanya?

Maafkan aku, teman!

Boleh tahu tujuan sebenarnya kedatanganmu?

Ayahmu memerintahkan untuk bertemu

denganmu di istana, segera.

Aku bukan ternak yang bisa digiring pulang.

Aku tidak mau pulang.

Kenapa kau membenci kami?

Aku suka kalian.

Tradisi kalian yang tidak berarti, yang aku benci.

Iya, seperti perbuatanmu,

yang lebih berarti.

Aku sempat lihat sekilas tadi malam.

Apa salahnya?

Seorang pria dan wanita menari dengan gembira...

Kau tidak berubah sama sekali, Ramappa.

Semua menantikan kepulanganmu.

Kenapa tidak mampir sekali?

Trik kecilmu buat memulangkanku,

juga tidak berubah.

Sudah kubilang dunia adalah rumahku waktu aku pergi.

Aku tidak akan kembali.

Jadi, tolong hemat waktumu yang berharga...

dan segera kembali ke benteng.

Boleh aku tanya sesuatu?

Apa?

Apa kau ingat wajah ayahmu?

Ramudu? Ramudu?

Ramudu!

Appa?

Masuk.

Kenapa kamarnya kotor sekali?

Memang begini kamarnya.

Appa agak gila.

Dia suka berantakin barang.

Dia tidak mau kita bersihkan kalau dia keluar.

Ayo bersihkan sebelum itu, mari.

Labu!

- Boleh aku ambil ini? - Dia bakal bunuh kau.

Jangan sentuh apa pun, kesini.

Ibu mertua?

Bagaimana dia jadi gila?

Telinganya kayak kelelawar.

Dia bisa dengar pikiranmu juga.

Nanti aku cerita. Ayo kerja.

Appa?!

Appa!

Appa!

Kunci yang kau minta ada di meja ini.

Appa punya anak lagi.

Namanya Kusumappa Raju.

Dia segalanya buat Appa.

Anak itu membawa keberuntungan.

Tapi Kusuma sering bertingkah gila.

Apa dia tidak tinggal di sini lagi?

Tunggu sampai selesai.

Entah apa yang terjadi hari itu,

dia tenggelam di kolam estate kita

dan meninggal karena kecelakaan.

Iya.

Kehilangan putra kesayangannya,

Appa jadi gila.

Ibu Renuka berhenti keluar kamar.

- Kau lihat aku taruh kunci di meja itu? - Iya.

Itu kunci kamar Kusuma.

Aku heran kenapa dia minta

setelah bertahun-tahun.

Nona.

Entah kenapa,

Appa minta kunci kamar Kusuma.

Aku kasih,

takut dia bikin ulah.

Aku kasih tahu biar aman.

Dia tidak mau dengar!

Siapa itu?!

Siapa itu?

Kusuma.

Kau tahu aku di kamarmu, kan?

Memata-matai aku

di rumahku sendiri?

KEDIAMAN BHUVANA

Jangayya?

Siapa wanita itu?

Aku tidak tahu, Appa. Belum pernah lihat.

Permisi?

Boleh tahu siapa Nona?

Aku perawat baru Pak Siddappa.

Dr. Achari yang mengirimku.

Dr. Achari tidak mau kasih kabar buruk langsung.

Jadi dia suruh aku diam sampai kau sampai rumah.

Pak Siddappa terbaring koma.

Dr. Achari berbisik di telinganya...

bahwa kau sudah menikah dan akan segera berkunjung dengan istrimu.

Tapi kau datang sendiri.

Halo?

Jalannya masih jauh, naik.

Kau.

Aku jalan sendiri.

Kau yang menghentikanku untuk bertanya, aku jawab karena sopan.

Bukankah seharusnya kau kenalkan diri

sebelum menyuruhku naik?

Aku putra Pak Siddappa.

Senang bertemu denganmu.

Aku juga senang. Namamu?

Aku--

Kenapa berhenti?

Baik.

Maaf, aku paham.

Namaku Ramappa.

Dan Nona?

Nah, itu baru sopan. Aku Renuka.

Renuka.

Sekarang formalitas sudah selesai,

mau naik mobil sekarang?

Sekarang, aku tidak keberatan.

Ayah!

Ada apa, Ramappa?

Selamat ulang tahun, Ayah.

Terima kasih, Ramappa.

Ini kado ultahmu.

- Ini apa? - Puisi buat Ayah.

Ayo. Bacakan.

Ayah.

Aku tidak takut gelap,

selama senyum Ayah masih di sisiku.

Mereka puji kebijaksanaanku yang tidak tertandingi,

tapi tidak pernah melihat Ayah di belakangku.

Dunia yang kulihat dari pundak Ayah,

tidak pernah kupelajari

cara melihatnya dari lain sisi.

Karena kau tidak menyusuiku,

haruskah aku tidak memanggilmu Ibu?

Bukankah dukaku hidup dalam bahasa,

yang terlalu miskin untuk pahami perasaanku?

Jadilah bintang penuntun kapalku,

dan tuntun anak kecilmu ini,

menyeberang lautan dengan selamat.

Ramappa!

Jangan bergerak, nanti kau terluka.

Aku bakal punya kumis tebal kayak Ayah?

Kau bakal punya kumis yang lebih keren.

Ayah!

Kapan terakhir kali kau lihat ayahmu?

- Sudah 5 tahun. - Bisa kutebak.

Bangun, Yang Mulia.

Matahari sudah terbit.

Selamat pagi, Appa.

Achchamma!

Selamat pagi!

Kenapa aku tidak lihat kau kemarin?

Mendiang iparku punya anak, Appa.

Dua hari lalu,

dia memenggal kepalaku.

Iya, Appa.

Dalam kemarahan,

suamiku keluar rumah buat bunuh dia.

Keponakannya.

Tapi malah keponakannya yang membakar suamiku hidup-hidup.

Apa?!

Tidak ada yang menghentikannya?

Kau ngapain?

Tidak ada yang menghentikan.

Malah mereka bersorak.

Tapi, kalau kupikir-pikir,

aku tidak ada di mimpi itu.

- Mimpi? - Iya, Appa.

Aku ketakutan sama mimpi itu.

Jadi, meski tahu kau akan datang,

aku pergi minta bantuan

sama pertapa di Thurakapalle.

Cukup ceritamu!

Kau mulai ngaco pagi-pagi begini.

Ini bukan cerita,

aku cerita apa adanya.

Iya, ambilkan susu jahe.

Kau tidak pernah percaya omonganku.

Nanti aku cerita

sama Appa kalau kau pergi.

Ada yang mau Appa pesan?

Kopi hitam.

Kopi hitam?

Baik, Appa.

Perempuan gila.

Kalau ceritanya dibuat film,

bisa dapat jutaan.

Oke, lihat aku.

Bagus.

Buka mulutmu dan tunjukkan lidahmu.

- Kenapa? - Lakukan, nanti aku bilang.

Aku dokter, kan?

Tidak perlu tanya kabarmu.

Aku bisa lihat sendiri.

Kau sehat.

Masih suka sembunyiin fakta di usia segini?

Ini tentang ayahmu?

Nanti aku bilang. Tapi bangun dulu.

Kau bilang aku sudah menikah?

Nanti aku cerita, cuci muka dulu.

Kita bicara sambil ngopi.

Perawat baru yang datang urus Pak Siddappa.

Namanya Renuka.

Apa kita tanya dia?

Iya, bisa.

Achchamma?

Kau tahu?

Semua orang bilang...

rumah ini beda tanpa Achchamma.

Waktu lihat rumah ini bersinar,

aku tahu kau kembali.

Kau perempuan cerdas!

Terima kasih.

Karena kau yang pegang rumah,

mereka tidak repot kasih aku kamar.

Bisa aturkan kamar buatku, Nona?

Aku atur.

Tapi kau tahu bikin kopi hitam?

- Kopi hitam? - Iya, kopi hitam.

- Black coffee? - Iya, black coffee!

- Tentu tahu. - Kalau gitu ikut aku.

Kopi ini pakai susu sapi.

Ini pakai susu kerbau.

Ini pakai susu kambing.

Dan ini pakai susu keledai.

Pakai susu apa pun,

kopinya tetap tidak mau hitam.

Kenapa ketawa gitu?

Tidak apa. Nanti aku kasih tahu.

Tapi kau harus kasih aku kamar bagus.

Aku perlakukan kau kayak ratu. Tolong bantu aku.

Sopan dikit.

Jangan panggil aku bodoh.

Aku perlakukan kau kayak ratu, Nona.

Tolong bantu aku.

Baik. Kau punya seduhannya?

Warna apa susu berubah

kalau ditambah seduhan?

Kayaknya jadi kekuningan.

Gimana kalau pakai air bukan susu?

Warnanya tidak berubah.

Tetap hitam.

Apa cuma susu yang bisa kasih warna?

Hitam kan warna juga?

Pakai air panas, jadi panas.

Pakai gula, jadi manis.

Mudah. Kopi hitam siap.

Waktu kau meninggalkan harta,

keluarga kayak Buddha Gautama,

ketiadaan penerus garis keturunan Bhuvana...

sangat mempengaruhinya.

Sudah 6 bulan.

Ini namanya stroke hemoragik.

Kami coba banyak obat.

Tidak ada yang mempan.

Sebagai jalan terakhir,

kami bilang kau sudah menikah.

Mungkin bakal berhasil kalau itu benar.

Apa?

Apa kau mau buat aku bersalah atas kondisinya?

Kok kasar? Kenapa aku lakukan itu?

Duduk.

Kalau ada kesempatan,

aku mau buat kau paham satu hal, Ramudu.

Apa itu?

Ayahmu tidak menunjukkan tanda-tanda membaik.

Ada banyak orang di sekitarmu,

menunggu dia mati,

supaya mereka bisa curi estate ini.

Selama dia masih hidup,

ayahku menunggu buat serahkan semuanya padamu.

Sekarang tanggung jawab itu ada di pundakku.

Selama dia masih hidup?

Apa yang terjadi sama ayahmu?

Sudah 8 bulan.

Bagaimana?

Hampir sama keadaannya.

Istriku dan aku punya 3 anak, semua perempuan.

"Aku butuh cucu laki-laki, coba lagi," kata ayahku.

Istriku tidak bisa, jadi dia steril.

Rasa sakit karena tidak punya penerus membunuhnya.

Di tahun 60-an, orang terobsesi sama kasta,

keturunan, agama, dan warna kulit.

Bukan cuma tahun 60-an.

Ini bakal terus terjadi sampai 2020.

Dan bukan cuma di negara ini.

Keadaannya sama di seluruh dunia.

Kita cuma beda dari penampilan.

Di dalam, semua manusia sama.

Dunia bakal sembuh kalau orang paham ini.

Itu mustahil.

Karena semua manusia punya kelemahan mental.

Kita melihat apa yang terlihat

dan percaya itu kebenaran.

Seperti kita percaya matahari terbit di timur

dan terbenam di barat...

Sebenarnya,

sejak manusia mulai berjalan dengan dua kaki,

dan bermigrasi ke berbagai tempat,

umat manusia menjadi satu campuran.

Tapi kita memecah diri jadi hitam atau putih,

tinggi, pendek, gemuk, kurus,

Muslim atau Kristen.

Kau Ksatriya, aku Brahmana. Itu yang orang lihat.

- Kasta juga penting, katamu? - Tentu.

Makanya aku pakai benang suci

dan kau pakai sorban.

Kau bilang persis yang ingin kudengar.

Kau tahu harus pukul di mana, ya?

Setiap penyakit butuh obatnya sendiri, kan?

Aku dokter. Kebiasaan lama susah hilang.

Mereka klaim demokrasi 20 tahun lalu.

Menurutmu gimana?

Ingat, cuma yang ingin kudengar.

Demokrasi apa?

Selama kita mengagungkan kisah raja-raja pada anak-anak,

negara ini tidak akan jadi demokrasi.

Jangan libatkan aku.

Aku beda.

Tidak ada yang beda.

Cuma kau belum terkondisi secara sosial.

Itu saja.

Kalau itu terjadi,

kau akhirnya bisa jadi salah satu dari kita.

- Selamat pagi, Dok. - Selamat pagi.

Ini Renuka.

Seorang Anglo Indian.

Dia lahir dan besar di panti asuhan.

Dia perawat di rumah sakitku.

Kami sudah berkenalan, Dok.

Ini.

Ini buatmu.

Ini buatmu.

Kenapa kau yang melayani kami?

Di mana Achchamma?

Achchamma sibuk sekali.

Dia bilang dokter ada di sini.

Jadi aku pikir bawain ini dan temui dia.

- Terima kasih. - Betah di sini, Renuka?

Betah banget, Dok.

Rumah ini dan pepohonan di sekitarnya.

Rasanya ingin menetap di sini.

Sudah kuduga kau bakal suka.

- Kau catat vital Pak Siddappa? - Iya, Dok.

Semua normal.

Tapi tekanan darahnya

cukup tinggi.

Untuk orang koma,

jarang tekanan darah setinggi ini.

Oke.

Aku periksa.

Tunjukkan telapak tanganmu.

- Buat apa? - Nanti aku bilang. Tunjukkan sekali.

Telapak kananmu.

Lihat garis hidup itu?

Pendek karena kebanyakan hisap cerutu.

Aku tidak punya kebiasaan itu.

Lihat punyaku.

Sampai ke jari telunjuk.

Renuka!

- Ini apa? - Tunggu.

Dia benar.

Achari, tunjukkan tanganmu.

Kenapa kau ikut-ikutan?

Tunjukkan.

Dia benar.

Garisnya juga panjang.

Tapi lihat garisku.

Pendek, tapi tebal.

Artinya...

Aku bakal hidup berkali-kali dalam satu nyawa.

Lihat punyamu.

Awalnya tebal tapi akhirnya tipis.

Artinya, hidup kalian--

Biar kulihat punyamu.

Iya, Dok. Kau panggil aku?

Iya.

Apa maksud semua itu?

Tahu diri.

Salah kalau jadi diri sendiri, Dok?

Tidak perlu jadi diri sendiri sama semua orang.

Kau sebaiknya tahu diri.

Aku kirim kau ke sini karena kau terlalu main-main di rumah sakit.

Coba jaga batas.

Ayo.

Tidak bisa bilang dengan sopan?

Aku akan jadi diri sendiri.

Kalau mereka tidak suka, itu masalah mereka.

LAGU TANAHKU

Lagu apa ini, Ayah?

Ayah terus putar.

Ibumu hidup

dalam lagu ini, Ramappa.

Makanya Ayah terus putar.

Ini lagu yang Ayah dedikasikan untuk Vasudhaku.

- Halo. - Hai.

Aku mau ke kota, mau ikut?

Maaf, hari ini aku tidak enak badan.

Ada apa?

- Kau baik-baik saja? - Iya.

Agak pribadi.

- Hati-hati. - Terima kasih.

Nak!

Nak!

Itu kuda liar, tidak bisa dikendalikan.

Nanti aku carikan yang lain.

Liar gimana?

Pasti ada saatnya dijinakkan.

Nak!

Hati-hati!

Sudah kubilang.

Lihat, kau terluka.

Apa kita tidak pernah terluka

waktu belajar naik sepeda?

Sama saja.

Nanti aku urus kau.

Itu yang kubilang.

Aku benar-benar lupa waktu, aku harus kasih dia saline.

Ada kolam di estate kalian?

Kolam itu sangat berharga buat orang tuaku.

Ibuku meninggal waktu melahirkanku...

Sejak itu...

Ayah selalu datang ke sini buat mengenangnya.

Ayahmu sangat mencintai

ibumu dan dirimu.

Kau tahu darimana?

Pak Ramappa!

Ada apa?

Tidak.

Ayo ke kolam?

Kolam? Kenapa?

Aku suka air.

Aku ingin tahu rasanya berdiri di tengahnya.

Kalau gitu, kau pergi saja. Aku di sini.

Kenapa kau tidak ikut?

Maksudku...

Aku takut air.

Kau benar-benar takut air?

Kenapa ketawa?

Karena aku takut air?

Kenapa?

Apa laki-laki tidak boleh punya ketakutan?

Bukan itu maksudku.

- Siapa namamu? - Ramappa.

Nama lengkapmu.

Bhuvanam Ramappa Rao Bahadur.

Kau tahu arti Rao Bahadur, kan?

Rao Bahadur itu gelar dari Inggris buat kakekku.

Kita semua pakai nama itu sejak saat itu.

Manusia itu aneh, ya?

Orang memberi nama anak tanpa tahu

akan jadi apa mereka nanti.

Rao artinya pangeran.

Dan Bahadur artinya berani.

Rao Bahadur berarti pangeran pemberani.

Lihat dirimu, takut masuk ke air.

Baik, kau di sini saja, aku pergi.

Pak Ramappa!

Dunia terlihat begitu indah dari sini.

Ada kebahagiaan dalam air yang bergemericik ini.

Angin ini membuatku

merasa seolah jiwaku terbang keluar dari raga

dan bicara padaku.

Sekarang aku paham kenapa tempat ini

begitu berarti bagi orang tuamu.

- Halo. - Aku mau tunjukkan rahasia, mari.

Masuk.

- Kau lihat tangan itu? - Iya.

Ikut aku.

Cek lagi 30 menit lagi.

Oke.

Sekarang lihat!

Iya.

- Apa?! - Lihat? Menarik, kan?

Taruh kembali, biar aku lihat lagi.

- Ayo, kita kembali. - Tidak.

- Aku mau lihat terjadi. - Tidak bisa begitu.

Aku sudah coba berkali-kali.

Kita harus keluar ruangan.

Tunggu, jangan tarik.

Kembali!

Tepat sekali!

Itu rahasia keluarga Bhuvana.

Bagaimana mungkin?

Nanti aku bilang. Ayo.

Lihat lukisan leluhurmu.

Mereka semua letakkan tangan kanan di dada.

Aku sudah baca sejarah banyak raja.

Mereka semua lakukan itu sebagai tanda kebanggaan.

Di sana, lihat.

Semua letakkan tangan

di dada.

Makanya, dalam keadaan koma,

dia tidak kehilangan kebiasaan ini.

Katanya kalau kebanggaan sudah mendarah daging,

bakal bertahan sampai mati.

Jangan salah paham.

Itu cuma pepatah.

Kau sudah keliling dunia.

Tapi kau tidak sadar

apa yang ada dalam keluargamu.

Appa?

Appa?

Appa!

Achchamma?

Kau ngapain di sini?

Apa Renuka tidak di sini?

Apa ini, Appa?

Kau terus memanggil namanya selama sebulan.

Kenapa dia masih di sini?

Dia pergi

begitu Ayahmu meninggal.

Iya.

Dia pergi, ya?

Katakan.

- Aku mau bicara sama kau. - Tentang apa?

Bukan di sini, tapi empat mata.

Di mana kita bicara?

Aku bakal rindu kolam ini.

Jadi, apa yang mau kau katakan?

Aku tidak pernah berpikir bakal kembali ke rumah ini.

Tapi ternyata iya.

Mungkin hanya untuk bertemu kau.

Aku tidak pernah punya keinginan menikah.

Tapi sejak bertemu kau...

dan menghabiskan waktu bersamamu...

...aku berubah pikiran.

Aku suka kau.

Kalau kau juga suka,

aku mau menikah denganmu.

Kalau aku memberi harapan palsu,

aku benar-benar minta maaf.

Aku tidak pernah punya perasaan itu padamu.

Selain itu...

aku sudah punya orang lain.

Jadi...

aku tolak.

Air.

Air.

Air.

Air! Air!

Air! Air!

Air! Air!

Air!

- Air! - Ada apa?

Air! Air!

Aku mau pergi!

Aku mau sampai ke tepi!

Aku mau sampai ke tepi!

- Pak Ramappa! - Tepi!

Kita hampir sampai. Tenang.

Aku mau sampai ke tepi!

Aku mau sampai ke tepi!

Aku mau sampai ke tepi!

Appa?

Appa!

- Kenapa Appa sering melamun akhir-akhir ini? - Ada apa?

Semua sudah siap buat perjalananmu besok.

Pak Achari akan kirim taksi jam 9.

Taksi?

Mana mobil kita?

Tidak ada sopir.

Mereka semua ke mana?

Ayahmu sudah meninggal.

Sekarang kau juga pergi.

Tidak ada pekerjaan di sini.

Jadi mereka cari majikan baru.

Ramappa!

Ada apa penting sekali di sini?

Kau meninggal

sebelum menikahkannya.

Aku tidak mati-matian pengen ke sini.

Aku sengsara 5 tahun sebelum sampai di sini.

Cukup!

Dia bicara seolah cuma dia yang sengsara

dan kita semua naik ke surga.

Membesarkan anak tidak cukup!

Kau harus mengkondisikannya dengan norma kita.

Dan kau?

Jangan libatkan aku.

Apa kau dengar?

Dia pergi besok!

Siapa yang lanjutkan keturunanku?

Nah. Dia bangun.

Tanya sendiri.

- Kalian semua siapa? - Ini kami, Ramappa.

Leluhurmu.

Yang ada di lukisan di seluruh rumah ini...

Kau tidak kenal kami?

- Kenapa kalian di sini? - Tidak apa, cicitku.

Katanya panen menipis

kalau populasi bertambah.

Tapi di klanku,

justru benih lemah

yang membuat populasi menurun.

Jadi?

Kami dengar kau pergi

waktu ayahmu minta kau menikah dan punya anak.

- Dunia adalah rumahku. - Diam!

Persetan dengan dunia!

Pasukan penerus!

Iya kakek!

Otaknya benar-benar kacau.

Cuci otaknya dan kondisikan

dengan norma masyarakat.

Bawa dia!

Kakek, ini terlihat sangat segar.

Kayak manusia gua.

Mulai!

Appa pasti di sini. Cepat.

Apa aku kelihatan, Achchamma?

Appa kelihatan kayak raja.

Kayak Raja?

Akulah rajanya!

Bisa nyetir mobil besar?

Permisi! Siapa kau, Pak?

Buka mulutmu.

Ramudu?

Ada apa dengan kostum ini?

Ini bukan kostum, tapi identitas kerajaan.

Kebangsawanan ada dalam darahku.

Kau tidak akan ngerti.

- Renuka di mana? - Renuka?

Kenapa?

Panggil dia, aku ada urusan sama dia.

Renuka sudah tidak di sini.

DR. NARAYANACHARI

Aku pecat dia.

Kau pecat? Kenapa?

Karena dia menolak ikut instruksi.

Itu sebabnya.

Tapi kenapa kau cari dia sekarang?

- Aku mau nikah sama dia. - Apa?

Apa aku dengar benar?

Masa kau nikah sama dia?

Kenapa? Apa salahnya?

Apa martabatnya setara denganmu?

Sebagai anak juru tulis yang kawin kaya...

dan bangun rumah sakit pakai uang mahar,

bicara soal martabat dari mulutmu terasa sangat lebay.

Martabat itu urusan laki-laki. Jangan libatkan perempuan.

Mereka cukup fokus jadi feminin.

Ramudu?

Benar ini kau?

Ada apa denganmu?

Kepala pecah, otak dicuci, dipoles, dan dijahit pakai benang emas.

Banyak yang terjadi.

Pokoknya, aku tidak punya waktu buat ngobrol sama kau.

Aku harus produksi penerus.

Aku mau kau cari dia dan bujuk dia mau nikah denganku.

Kalau tidak...

Orang-orang bakal pusing mencari tahu siapa anak siapa.

Aku...

...akhir-akhir ini aku sangat delusional.

Aku tidak anggap serius omongan Achari.

Aku harus segera periksa ke dokter itu.

Kenapa panggil aku pagi-pagi lagi?

Banyak yang terjadi, Dok.

Lavana di mana?

Pak Lavana sedang demam.

Demam?

Ada apa?

Kegilaan Appa makin parah, Dok.

- Dia bikin onar seminggu penuh. - Ada apa?

Apa yang bisa kukatakan, Dok?

Maksudmu?

- Kau bilang dia bikin onar. - Iya, dengar dulu.

Sehari setelah kunjungan terakhirmu,

aku kasih dia kunci kamar Kusuma, sesuai permintaannya.

Kunci kamar Kusuma? Kenapa?

Waktu itu, aku tidak tahu.

Tapi setelah beberapa saat,

dia mengunci Bu Renuka di kamar itu,

dan berteriak-teriak keliling rumah.

Apa maksudmu?

Dia keluar?

Untuk pertama kalinya...

dalam 8 tahun.

Aku yang melindunginya dari Appa.

Ini onar yang kau maksud?

Itu belum seberapa.

Ini yang paling parah.

Dia minta dukun di makam Kusuma.

- Ini cerita lain atau... - Ini bukan cerita, Dok.

Ini kenyataan. Aku cerita apa yang kulihat.

Kembali kerja. Pergi.

Dia tidak percaya padaku.

Dia tidak pernah percaya padaku.

Biarkan dia masuk.

Appa bakal bikin dia ketakutan,

dan dia bakal percaya padaku.

Tidak, tidak, tidak. Apa yang kau katakan tidak benar, Gandhi.

Kenapa cuma orang miskin?

Mereka bukan satu-satunya penyebab overpopulasi.

Kau pikir kita orang kaya lebih baik?

Kita menabur benih di mana-mana, kan?

Apa sih yang orang miskin tahu?

Dia cuma prajurit yang menunggu mati.

Raja-rajalah yang mencuri kerajaan dan memperkosa ratu-ratu.

Dan tetap saja,

kalian menyiksa dan mensterilkan orang miskin untuk menekan populasi.

Apa itu mengubah sesuatu, Pak?

Populasi tetap bertambah sampai anak tidak tahu siapa ayahnya.

Lagipula, Pak...

apa kesalahan bisa diperbaiki dengan membunuh pelakunya?

Kita harus temukan akar masalahnya.

Dan apa itu, katakan?

Astaga!

Bagaimana kau jadi pemimpin tanpa kesadaran dasar?

Kurangnya kesadaran adalah akar masalahnya.

Kau harus menyebarkan kesadaran kalau bisa.

Kau tidak bisa asal mensterilkan orang.

Kenapa kau buat aku menjelaskan ini semua?

Achari?

Kapan kau datang?

Sudah lama.

Kau sedang rapat penting.

Persetan dengan kesopananmu.

Ayo, kuperkenalkan.

Pak.

Dia temanku, Dr. Achari.

Sapa orang hebat ini.

- Apa dia Tuan? - Iya. Tuan kita sendiri.

Namaste, Pak.

Tidak pernah terpikir akan bertemu orang yang membawa kita kemerdekaan.

Kemerdekaan?

Kemerdekaan apa?

Maksudku, dia yang bawa kita merdeka, kan?

Bukan dia yang bawa kita merdeka.

Dia orang yang mengambil kebebasan orang miskin.

Jadi, dia San--

Orang yang kau bilang bawa kemerdekaan. Tapi bukan kebebasan berbicara.

Jangan keras-keras. Nanti ada yang dengar.

Iya, benar! Dia itu. Kau tidak kenal?

Aku akan kenal kalau bisa lihat dia.

Kau tidak bisa lihat dia?

Sudah 10 tahun dia mati di dunia kita.

Dia mati?

Bagaimana?

Begini.

Ada yang bilang dia terbang pakai sandal Kolhapuri.

Ada yang bilang hal lain.

Tapi dunia percaya itu kecelakaan pesawat.

Kenapa tidak tanya sendiri?

Tanya siapa?

Tuan Isi-titik-titik Gandhi.

Bagaimana aku tanya dia?

Kau bilang dia sudah mati.

Dan ini masalah pribadiku.

Tidak bisa sembarangan tanya. Ambil ini.

Buat apa?

"Keberanian Cair", sesuai sebutanmu.

- Iya, tapi kenapa sekarang? - Minum saja.

Minum, minum, minum!

Kenapa aku butuh keberanian sekarang?

Begini...

Untuk tahu kebenaran, tentu saja!

Kau bilang kita bisa tes...

kalau ada sesuatu dari tubuhnya, kan?

Ada beberapa barang di sana. Ambil.

Ramudu!

Apa yang kau lakukan, Man?

Aku tahu aku tidak mengundangmu ke upacara minggu lalu.

Maaf, bung.

Jangan tersinggung.

Ayah?

Ayah?

Ayah!

Kau siapa?

Ini aku, Ayah. Kusuma.

Kusuma?

- Bukannya kau mati? - Aku mati di duniaku, Ayah.

Tapi kau tidak membiarkan aku pergi dari duniamu.

Pergi, Nak. Pergi, pergi.

Jangan mendekat!

- Jangan sentuh aku! - Ayah, tunggu!

Ayah, tunggu!

Tunggu, Ayah!

Ayah, berhenti!

Ayah, berhenti!

- Jangan sentuh aku! - Baik.

Aku tidak sentuh. Jangan takut, Ayah.

Kau pikir aku takut?

Kenapa kau di sini?

Aku di sini buat bantu Ayah.

Kau tidak sebesar kelingkingku.

Masa bisa bantu aku?

Memang aku tidak sebesar jarimu.

Tapi kuku kelingkingku sama berharganya dengan emas buatmu.

Aku tidak tahan lihat penderitaanmu.

- Jadi aku di sini buat bantu. - Benarkah?

Kau butuh sesuatu dari tubuhku, kan?

Iya, aku cari di seluruh kamar tapi tidak ketemu.

Aku tahu persis bagaimana mendapatkan apa yang kau butuh.

Oh ya?

Nak! Nak!

Tolong kasih tahu aku.

Aku akan terlahir kembali sebagai anakmu.

Tidak, tidak. Tuhan tahu siapa ayahmu.

Katakan, aku akan buatkan makam dari marmer Makrana.

Setuju. Ayo.

Sudah kubilang, jangan sentuh aku!

Kupikir kau mau bantuanku.

Kau benar akan buatkan makam marmer?

- Kalau aku sudah berjanji-- - Iya, iya. Ayo.

Kenapa kau bawa aku ke sini?

Nanti aku bilang.

Tapi jawab pertanyaanku dulu.

Itu siapa?

Itu kakek buyutku.

Pendiri dinastiku.

Terus, orang ini hubungannya apa denganku?

Maksudmu "orang ini"?

Yang Mulia, tidak ada hubungan apa pun denganmu.

Dia kakek buyutku.

Terus, itu siapa?

Itu kakekku.

Bagaimana orang ini, maksudku, Yang Mulia, hubungannya denganku?

Apa hubungan Yang Mulia denganku?

Tidak ada! Dia kakekku.

Jadi, dia juga tidak ada hubungan denganku?

Terus, itu siapa?

Itu ayahku.

- Bagaimana-- - Dia bukan siapa-siapa buatmu. Berhenti tanya.

Baik, aku tidak tanya. Tenang.

Sekarang, dia siapa?

Itu ibuku.

Dia meninggal waktu melahirkanku.

Tenang, Ayah. Tenang.

Aku tahu rasanya kehilangan orang tercinta.

Jangan nangis. Tenang.

Dan orang ini siapa?

Di atas sini!

Itu pertanyaan yang menghantuiku.

Kau tawarkan bantuan, kan?

Kenapa kau interogasi aku begini?

Apa buru-buru? Mari dekat. Aku kasih tahu sesuatu.

- Apa itu? - Kau benar.

Tidak ada dari mereka yang ada hubungan denganku.

Ini yang ingin kau ketahui, kan?

Sekarang berdamailah denganku dan mari.

Kita berdua bisa gantung di dinding.

Tentu! Kau pejabat besar.

Presiden sudah menyetujui pernyataanmu.

Dan aku harus percaya seperti anak kecil?

Berhenti omong kosong, katakan di mana barang-barangmu.

- Satu pertanyaan terakhir - Tidak! Tidak ada pertanyaan lagi.

- Katakan atau aku cari sendiri. - Ayah, tunggu, tunggu.

Kalau kau jawab pertanyaan ini,

jalan ke barang-barangku jadi lurus.

Satu pertanyaan terakhir.

Apa yang semua orang di dinding ini punya yang tidak aku punya?

- Darah kerajaan kita. - Omong kosong.

Kau tidak akan pernah berubah.

Baik, selama aku di sini,

misteri ini akan terus mengganggumu.

Aku pergi. Kau pikirkan jawabannya.

Kalau kau dapat jawabannya, kau akan temukan yang kau cari.

Tunggu!

Kusuma! Katakan jawabannya dan pergi.

Kau dari dinasti besar.

Kalau orang rendahan seperti aku memberi jawabannya,

bukankah itu memalukan bagi dinastimu?

Benar juga.

Aku akan cari jawabannya.

- Kau pergi. - Baik. Dadah, Ayah.

Aku tampar kau kalau panggil aku itu lagi.

Pak Lavana!

Ayahmu menangis.

Ayah?

Ayah?

Lavana, kau di sini!

Ada apa, Ayah?

Kenapa menangis?

Jangan nangis, Ayah.

Lavana!

Tadi malam, Kusuma muncul di mimpiku.

Achchamma, mau ke mana?

Aku heran kenapa dia nangis.

Cuma soal Kusuma.

Aku kembali kerja.

Kau yang urus dia.

Achchamma!

Jangan nangis, Ayah.

- Jangan nangis, Ayah. - Lavana...

Baik, bagaimana kabar Kusuma?

Dia juga menangis.

Kenapa? Apa yang mengganggunya?

Sorban kerajaan.

Sorban?

- Maksudmu? - Lavana.

Apa yang kita lakukan saat seseorang di dinasti kita mati?

Saat seseorang mati?

Kalau menikah, kita kremasi.

Kalau belum, kita kubur.

Bukan itu! Bukankah kita hiasi jenazah dengan sorban,

dan kirim dalam prosesi kerajaan?

Iya, terus?

Makanya adikmu bersedih.

Dia bilang, "Seluruh kota bergosip karena aku tidak punya prosesi."

"Kau kirim aku pergi tanpa sorban kerajaan."

Anak malangku menangis semalaman.

Kita harus pasangkan sorban padanya. Atur semuanya.

Apa maksudmu, Ayah?

Dia mati 8 tahun lalu.

Bagaimana kita bisa menghormatinya sekarang?

Meskipun dia mati, dia masih di halaman belakang kita.

Suruh pekerja gali makamnya.

Berhenti. Kegilaanmu sudah kelewatan.

Dengar apa yang kau katakan?

Dia adikmu, Lavana.

Bukankah tugasmu memenuhi permintaan terakhirnya?

Aku akan lakukan apa pun yang dia mau kalau dia masih hidup.

Tapi aku tidak bisa manjakan delusimu dan lakukan apa katamu.

- Berhenti bermimpi omong kosong. - La...

- Minum dan tidur. - Lavana! Tunggu.

Sudah kuduga.

Kau selalu iri padanya.

Makanya kau selalu memusuhinya.

Anak malangku.

Dia pasti menderita.

Dia mati saat kekejamanmu sudah tidak tertahankan baginya.

Dan sekarang, kau menolak memenuhi permintaan terakhirnya.

Kaulah penyebabnya.

Kaulah penyebab anakku mati.

Kau pikir aku tidak bisa tanpamu?

Buka pintu.

Jadi, kalau kau menolak?

Aku akan gali makam anakku

dan penuhi permintaan terakhirnya dengan sorban indah.

Buka pintu!

Buka pintu!

Buka pintunya, Lavana!

Buka pintu!

Pekerjaan selesai.

Pekerjaan selesai.

Tanyakan "Siapa di sana?"

Bukankah 5 indra akan menjawabmu?

Di saat namaku disebut,

bukankah ombak akan sujud?

Cahaya kita

adalah warisan leluhur.

Waktu tidak akan mengubah

asal-usul kita.

Kisah kita abadi.

Tidak ada kesalahan atau musibah...

...yang bisa kau hindari.

Aku akan ungkap rahasiamu.

Aku akan tarik talimu.

Aku akan kacaukan semak-semak.

4 penjuru akan sujud.

Bumi akan subur di setiap langkahmu.

Jika kau angkat alis,

alam semesta yang bergetar akan terlihat.

Kau adalah aku, aku adalah kau.

Benar, Ayah tersayang?

Dirimu ada dalam langkah dan bicaraku.

Mataku dan hidungku,

semuanya mirip dirimu, Ayah tersayang.

Jika kau lihat aku dengan cinta,

kau bisa lihat dirimu dalam diriku.

Lihat aku dengan saksama,

setiap inci mirip dirimu, Ayah tersayang.

Bisa kau bedakan susu dan air?

Kenapa hubungkan angsa dengan gagak?

Apa hubunganmu dengan pohon ini?

Menjadi tunas di bawah naungannya tidak cukup.

Gulma di taman.

Ada yang salah dengan matematikamu.

Aku akan urai semua simpul di kepalamu.

Aku akan ungkap dari tanaman mana biji ini berasal.

Aku akan peras getah dari akarnya.

Aku akan bawa bukti kebenaran.

Kau tidak bisa kabur.

Aku akan ungkap rahasiamu.

Aku akan tarik talimu.

Aku akan kacaukan semak-semak.

4 penjuru akan sujud.

Bumi akan subur di setiap langkahmu.

Jika kau angkat alis,

alam semesta yang bergetar akan terlihat.

Apa kegilaan ini, Dok?

Ini karmaku.

Anakku!

Astaga!

Lihat jadi apa kau.

Dulu dia bersinar seperti buah beri hitam.

Lihat sekarang, putih pucat.

Tolong berikan itu.

Anakku.

Anakku.

Kau bocah nakal!

Kau merangkak ke kamarku dari bawah sini, kan?

Tunggu! Kau akan bayar ini!

Anakku!

Bapak panggil aku?

Kau mencoba mencuri labu-labu ini, kan?

Tapi, Pak...

Aku kembalikan waktu ibu mertuaku memarahiku.

Kau mau sekarang?

Bawa dia pergi!

Bukan satu atau dua, aku bawa 3 barang.

Ini cukup, kan?

Kau tunggu apa?

Ambil dan mulai tesnya.

Ramudu!

Apa ini?

Aku bilang itu hanya candaan. Tapi kau kelewatan. Ini tidak adil.

Tidak adil?

Ketidakadilan dan ketidaksopanan tidak ada dalam darahku.

Kau pikir dia memberikannya begitu saja? Mari, aku tunjukkan.

Di sana, lihat!

Lihat!

Makam istri Shah Jahan,

Taj Mahal, dibangun dengan marmer Makrana yang sama.

Lihat!

Bahkan ayah kandungnya tidak akan berbuat ini untuknya.

Kau tidak percaya padaku?

Banyak monumen besar dibuat dari marmer Makrana.

Moti Masjid di Pakistan.

Victoria Memorial yang kita kunjungi di Brahmanda Nagaram.

Itu juga marmer Makrana.

Dan baru-baru ini, di Dubai--

Diam, orang gila!

Kau pindah dari satu obsesi ke obsesi lain!

Kenapa kau begini, bung?

Ramudu.

Achari.

Apa kanker hati bisa sebabkan nyeri rahang?

Apa hubungan hati dan rahang?

- Tidak ada hubungannya. - Benar, kan?

Aku tiba-tiba sakit rahang.

Aku khawatir itu karena kanker hatiku.

Pokoknya ambil itu dan tes.

Dengar apa yang kau katakan?

Kau pikir ini sihir?

Kau berikan beberapa tulang dan tahu apakah dia anakmu?

Karena kau minta, aku cari tahu prosesnya.

Tes DNA bukan mainan.

Polisi dan pengacara harus terlibat.

Kecuali ada kejahatan,

pengadilan tidak akan izinkan polisi lakukan tes seperti ini.

Jadi, dengarkan aku dan lepaskan ini.

Sekarang aku paham

kenapa kau tampar aku karena gali makam.

Aku curiga pada banyak orang.

Tapi aku tidak pernah menyangka kau,

sahabat kecilku, akan menusuk dari belakang.

Ramudu!

Apa maksudmu?

Aku bisa mengerti.

Menggali makam anaknya tanpa izin

pasti membuat ayah mana pun marah.

Kemarahanmu wajar.

Ini tidak adil, bung.

Jangan bilang begitu.

Ini salahku. Semua ini salahku.

Mempercayaimu adalah kesalahan terbesarku.

Tapi...

tapi, tapi...

Bagaimana...

Pukul aku! Ayo pukul!

Kau takut aku akan tahu kebenaran kalau kita tes.

Itu sebabnya kau menolak, kan?

Tidak cukup.

Tidak cukup.

Aku tahu!

Kalau kita tes,

keraguan seputar kelahirannya akan terjawab.

Dan akan terbukti bahwa darahmu mengalir di nadinya.

Masih tidak cukup.

Aku tahu kau masih di sini.

Kenapa kau kabur?

Makanya mereka bilang

kebenaran itu pahit.

Kalau aku benar-benar delusional,

tunjukkan kebenarannya.

Kalau yang kuyakin itu salah,

tunjukkan kebenarannya.

Tunjukkan!

Ramudu!

Jauh dari ayahku!

- Jangan sentuh dia. - Aku harus periksa dia.

Aku tahu apa yang terjadi.

Aku tahu semuanya.

Ayah?

Ayah?

Ayah?

Organnya satu per satu mulai gagal.

Jantungnya hampir berhenti.

Mungkin 2 hari lagi.

Bawa dia pulang

dan biarkan dia tidur dengan pakaian kerajaannya.

Panggil semua kerabatmu.

Biarkan dia mati seperti raja di istananya sendiri.

Kenapa di medan perang ini?

Ada apa?

Belum ada apa-apa.

Aku yang urus dia. Kau bisa pergi.

KEDIAMAN BHUVANA

Cari siapa, Pak?

Bhuvanam Ramappa Rao Bahadur.

Apa dia di sini?

Aku panggil anaknya.

Apa ini?

Ini?

Ayah Tuan Ramappa membunuh buaya besar dengan satu tembakan.

Ini kepalanya, kami simpan sebagai kenang-kenangan.

Jadi, orang-orang di sini punya kebiasaan membunuh?

Apa Tuan Ramappa juga suka membunuh?

Awalnya, tidak sama sekali.

Semua dimulai setelah ayahnya meninggal.

Aku punya keraguan.

Kalau buaya ini yang membunuh majikanmu,

apa kau akan pajang kepalanya di sini?

Sebagai kenang-kenangan?

Tunggu di sini, Tuan.

Aku panggil anaknya.

- Ini? - Anaknya.

Aku putra Tuan Ramappa.

- Putra sulung? - Iya.

Senang bertemu.

Kau punya adik, kan?

Dulu.

Kemari, Nona.

- Siapa namamu? - Achchamma, Pak.

Achchamma, turun saja.

Ada pria di jipku.

Bawa dia ke sini.

Apa dia sendiri, Pak?

- Aku tidak bisa kenali dia, kan? - Pertanyaan bagus.

Dia pria berkulit sangat gelap berusia 40-an.

- Cari yang begitu. Kau temukan. - Oke.

Ada apa, Lavana?

Dia mau bicara dengan ayahku.

- Tapi kau ikut campur. - Bicara dengan ayahmu?

Ada apa, Tuan?

Maaf. Boleh tahu siapa Tuan?

Aku Dr. Narayanachari.

Teman dekat dan pendukung Ramappa.

Oke, silakan duduk.

Jadi...

Aku perlu menginterogasi Pak Ramappa sekali.

- Interogasi? - Interogasi?

Tentang apa, Inspektur?

Aku beritahu.

Putra kedua Pak Ramappa...

Kusumappa?

Iya, Kusumappa.

Mengaku dia bukan anak Pak Ramappa,

seorang pria bilang istrinya menjual bayi 2 bulan tanpa sepengetahuannya...

kepada Pak Ramappa seharga 100 rupee.

Dan beberapa waktu lalu, Pak Ramappa membunuh anak itu.

Itu kata-kata persis pria itu.

Apa?

Iya.

Tapi ayahku...

Begini, Inspektur.

Orang ini kayaknya putus asa mau memeras uang.

Kusuma adalah anak Ramappa.

Tidak ada yang terjadi.

- Dan aku saksinya. - Iya, Inspektur.

Ayahku tidak membunuh Kusuma.

Dia jatuh ke kolam dan mati di depan mataku.

Iya.

Jadi, setengah dari kasusmu adalah bohong.

Apa? Setengahnya bohong?

Kusuma bukan anak ayahku.

Aku sudah ragu sejak kecil.

Apa maksudmu, Lavana?

- Kau gila? - Tidak.

Ayahku gila karena Kusuma.

- Dan sekarang dia sekarat. - Diam, Lavana.

Jangan bicara buruk tentang yang mati tanpa tahu kebenarannya.

Dokter.

Biarkan dia bicara.

Aku yang akan putuskan mana benar dan tidak.

Silakan bicara, Lavana.

Kenapa kau curiga di usia semuda itu

bahwa adikmu bukan anak ayahmu?

Kalau kau lihat bagaimana perilaku ayahku berubah setelah dia lahir,

siapa pun...

akan merasakan hal yang sama.

Cucu, kenapa kau jadi segelap ini?

Aku takut bibirku ikut hitam kalau aku cium kau.

Apa aku salah bicara?

Ibu?

Apa dia akan jadi lebih cerah kalau digosok?

Sekali gosok tidak cukup, Nak. Kita gosok setiap hari.

Semua akan baik-baik saja

"Tenang, si kecil"

Mari usap kegelapan dari kulitmu

Bukankah kau kesayangan ayah, sayangku?

Ayahmu terluka, kau lihat?

Ini babak kedua ceritaku.

Ramudu.

Ramudu!

Lanjutkan.

Terima kasih.

- Ada apa? - Lihat ini.

Pemerintah sudah memberi izin untuk pabrik biskuitmu.

Ternyata Kusuma membawa keberuntungan.

Sayang...

Dia sudah berumur 6 tahun.

Apa kita kirim dia sekolah?

Kenapa dia harus keluar dari istana?

Kau kan berpendidikan?

Kau yang ajar di rumah.

Lavana, makan siang.

Nanti, Ibu. Aku makan nanti.

Aku tampar kau kalau bantah! Sekarang ke sini!

Omzet 20 crore dalam 6 tahun.

Ini buah kerja keras kita.

Pada kesempatan ini...

mari rebrand perusahaan kita.

Mari pasang foto anak sehat di kemasan biskuit kita.

Bagaimana menurutmu?

Kerja keras hanya bisa membawamu sejauh itu.

Keberuntungan juga berperan besar.

Sejak Kusuma lahir,

keberuntungan tidak pernah jauh darimu, Ramudu.

Jadi, foto Kusuma akan sempurna.

Tunjukkan kekuatanmu, Lavanappa.

Sempurna.

Sekarang, tekuk kedua tanganmu, Lavanappa.

Fantastis!

Fantastis!

Pergi ganti baju, lalu kita foto lagi.

Dengar.

Bisa foto dia juga?

Sebentar, Ayah. Aku kembali.

- Kusuma, ada apa? - Kakak...

Apa yang kau lakukan, Kusuma?

Kakak, biarkan aku pakai ini sekali.

Siap.

Berdiri tegak.

Berdiri tegak.

Sudah kubilang berdiri tegak!

Ayah?

Lavana.

- Apa kabar? - Baik, Ayah.

Apa yang kau bawakan dari London?

- Apa olahraga nasional Inggris? - Kriket.

Jadi kau bawakan peralatan kriket.

Peralatan kriket!

- Terima kasih, Ayah! - Bawakan aku Piala Dunia.

Ayah?

- Apa? - Ada bawaan untukku?

Kau masih kecil.

Apa yang bisa kubawakan dari London?

Ambil mainan lama Lavana yang sudah tidak dipakai.

Ayo.

Ini suapan terakhir. Buka mulut.

Cukup untukku, Ibu. Beri dia.

Apa kau sakit?

Aku tidak berteriak untuk menjaga gengsi.

Bayangkan betapa sakitnya aku.

Kakak?

Kenapa Ayah memukul Ibu seperti itu?

Kau benar-benar ingin tahu?

Kau bukan anak Ayah, kan?

Makanya dia memukulnya.

Lepaskan aku!

Lepaskan aku!

Apa...

Lepaskan aku!

Tinggalkan aku!

Lepaskan aku!

Kusuma, lepaskan aku!

Kusuma!

Lepas!

Lepas!

- Kenapa kau gigit dia? - Dia bilang aku bukan anakmu.

Iya, dia benar.

Dari siapa kau lahir?

Selamat ulang tahun, pangeranku!

Berapa umurku sekarang, Ibu?

11.

Berapa tahun lagi?

Ibu, aku lapar.

10 menit, pangeranku. Kesari akan siap.

Pak, kau akan sakit perut kalau tidak buang bijinya.

Aku lapar.

Pak, tunggu, aku buang bijinya.

Nona, dia tidak dengarkanku.

Dia tidak dengar siapa pun kalau lapar.

Kusuma, berikan bolanya.

Kakak? Boleh aku main juga?

Kriket bukan untuk anak kecil.

Pergi main dengan mainan lamaku.

Lavanappa, turunkan dia!

Di dalam lubang,

seekor bayi gagak dibuang.

Tanpa kasih sayang,

sang ayah semakin menjauh.

Apa salah

bayi gagak itu?

Kenapa kebencian

sebesar ini dari ayahnya?

Beberapa kecurigaan

berubah menjadi setan yang mengamuk.

Apakah itu parasit?

Apakah itu membuat kita menjauh?

Apakah sang ayah tidak mendengar

tangisan anaknya?

Apakah sarang ini ditinggal karena tidak ada yang meliriknya?

Ayah! Ayah!

Kusuma! Ayo, Ayah!

- Ada apa? - Ayo, Ayah.

Minggir!

Pindah!

Anaknya tenggelam!

Anaknya tenggelam!

Tolong!

Anaknya tenggelam!

Tolong, ada yang tolong!

Cepat! Ayo!

Cepat!

Apa salah

bayi gagak itu?

Kenapa kebencian

sebesar ini dari ayahnya?

Pangeranku!

Pangeranku!

Beberapa kecurigaan

- Pangeranku? - Beberapa kecurigaan

- Pangeranku! - berubah menjadi setan yang mengamuk

Apakah itu parasit?

- Pangeranku! - Apakah itu membuat kita menjauh?

Apakah sang ayah tidak mendengar tangisan anaknya?

Apakah sarang ini ditinggal karena tidak ada yang meliriknya?

Panggil Tuan untuk menuang tanah.

Aku tidak ada hubungan dengan ini.

Ini sepenuhnya salahnya.

- Salahnya. - Ramudu...

Salahnya.

Ada apa?

Mereka memanggilmu untuk menuang tanah.

Ayo.

Aku...

tidak ada hubungan dengan ini.

Ini sepenuhnya salahmu.

Bukan aku.

Aku tidak...

Ini bukan salahku.

Ini salahnya.

Suruh mereka tanam di sana.

Tidak tahan dengan siksaan ayahku,

Ibuku memendam kesedihannya atas kematian Kusuma.

Tersiksa oleh apakah keraguannya benar,

ayahku semakin tergilas kegilaan.

Selama bertahun-tahun, aku sudah terbiasa dengan semua ini.

Tunggu!

Tapi menurut aduan yang kuterima,

Pak Ramappa membeli anak itu dari istri pria itu seharga 100 rupee.

Tapi kau bilang dia curiga Kusuma bukan anaknya...

dan menyiksa ibumu.

Kedua cerita tidak cocok.

Aku juga tidak mengerti.

Kalau bayinya dibeli,

kenapa ayahku menyiksa ibuku?

Anggap saja aduan yang kau terima itu karangan.

Maka keraguan ayahku tetap ada.

Dengar, Inspektur.

Keraguan ini membuat ayahku gila dan terbaring di tempat tidur.

Kalau dia mati,

aku perlu tahu siapa yang bertanggung jawab.

Apa Kusuma lahir dari orang ini atau dari ayahku?

Atau orang lain--

Ayahmu menyiksa kita selama ini. Dan sekarang, kau?

Inspektur, Ramappa sedang sekarat.

Aku tidak yakin dia dalam kondisi bisa bicara denganmu.

Dan satu hal lagi,

Kusuma tidak dibeli dari siapa pun.

Dia lahir di rumah sakitku, di depan mata Ramappa.

Dia anak kandungnya.

Orang akan bilang seratus hal, Inspektur.

Kau tidak perlu anggap serius.

- Berani kau? - Terus bicara, nanti kuhancurkan kau.

- Apa yang akan kau lakukan? - Jauh!

Tuan?

Ayo.

Apa dia itu, Tuan?

Iya, itu dia. Ayo, duduk.

Dia Michael. Orang yang mengajukan kasus.

Ceritakan apa yang terjadi, Michael.

Inspektur, tunggu sebentar.

- Achchamma? - Iya?

- Kembali kerja. - Tidak apa, Pak. Pekerjaanku selesai.

Kalau begitu pergi urus Ramudu. Pergilah.

- Appa istirahat dengan baik. - Pergi!

Pak Lavana!

Achchamma, ada apa?

Di mana Ayah?

Ap... Appa...

Lavana!

Achari!

Achchamma!

Di mana kalian selama 3 hari ini?

Halo! Senang bertemu!

Bhuvanam Ramappa Rao Bahadur.

- Dan kau? - Aku Inspektur Jagannadhan.

- Jagannadhan? - Iya.

Bagus.

Dan dia siapa?

Kenapa kau menangis, Pak Ramappa?

Duka ayah malang itu membuatku menangis.

Jadi, kau setuju bahwa Michael adalah ayah Kusuma?

Bagaimana kalau aku bilang iya? Bagaimana kalau tidak?

Pertanyaan bagus.

Kalau kau setuju Michael adalah ayah Kusuma,

karena dia mengajukan kasus bahwa kau membunuh anaknya,

kami akan bawa ke pengadilan.

Kalau terbukti kau membunuh Kusuma,

kau akan dipenjara seumur hidup atau hukuman mati.

- Dan kalau aku tidak setuju? - Kalau tidak?

Penyelidikanku akan lanjut.

Kami akan minta pengadilan mengizinkan ekshumasi,

mengambil jenazah anak itu, tes DNA,

sehingga menentukan ayah kandung.

Kau akan bebas kalau terbukti kau ayahnya.

Tapi kalau terbukti sebaliknya,

semua akan rumit.

Dan, tidak peduli siapa ayahnya,

kalau kami temukan kau membunuh anak itu,

kau akan dipenjara.

Kalau begitu, aku tidak setuju.

Maksudmu?

Maksudku Kusuma adalah anak kandungku.

Penerusku. Darahku.

Kenapa aku setuju bahwa orang lain adalah ayahnya?

Aku akan kooperatif dalam penyelidikan apa pun.

Tunggu sebentar.

Jadi, Pak Ramappa...

Apa kau sekarang setuju bahwa Kusuma bukan anakmu?

Tunjukkan telapak tanganmu.

Kau butuh sampel, kan?

Gigi Kusuma.

Kalau itu tidak cukup,

lihat ini.

Kelingking Kusuma.

Kalau itu juga tidak cukup,

aku punya lagi.

Tulang rusuk Kusuma.

Kenapa kau punya ini?

Kami adakan upacara untuk Kusuma minggu lalu.

Aku ambil ini sebagai kenang-kenangan.

Kau tidak percaya? Ini asli.

Ini, cium baunya.

Begitu.

Maaf, aku vegetarian.

Waktu kau tiba-tiba menyodorkan jari ke hidungku,

aku mual.

Karena kita tidak punya bukti bahwa ini sampel Kusumappa,

kami akan ikuti protokol dan datang dengan tim forensik,

gali makam, dan ambil sampel.

Kenapa harus digali, Inspektur?

Aku sudah siapkan jalan. Mari kutunjukkan.

Minggir!

Lihat! Ada pohon itu, tepat di bawahnya ada makam.

Lihat pintu di sampingnya, di tanah.

Pintu itu akan membawamu langsung ke Kusuma.

Aku pikir akan ada kebutuhan untuk--

Maksudku,

aku merancangnya untuk mengunjunginya

setiap kali aku merindukannya.

Begini, Pak Lavana,

karena ayahmu tidak stabil secara mental,

sulit untuk mengatakan apakah dia berbohong atau tidak.

Jadi, kasus ini tampaknya semakin besar.

Apa yang ayahku katakan padamu?

Kau benar-benar ingin tahu?

Dia mengaku bahwa Kusuma adalah anak kandungnya...

dan mengatakan mereka memiliki darah yang sama.

Ngomong-ngomong, Dr. Achari,

waktu aku tanya temanmu kenapa dia sering pingsan,

Dia bilang, "Memang begitu aku."

Kadang, aku masuk ke kondisi meditasi. Seperti Yesus."

Pastikan tidak ada yang seperti ini terjadi sampai kasus selesai.

Tidak akan terjadi, Inspektur.

Dia tidak akan tidur atau biarkan orang lain tidur sampai kasus ini selesai.

Maaf, Paman.

Aku marah dan menghinamu tanpa alasan.

Tidak apa, Lavana.

Kalau kasus membuktikan bahwa Kusuma lahir dari ayahku,

itu baik.

Baik juga kalau terbukti dia lahir dari pria itu.

Tapi kalau tidak ada dari mereka yang ternyata ayahnya...

Ayo cek ayahku.

Apa makam belum digali?

Bukan di sana. Di sini.

Lihat pintu ini?

Ini langsung menuju jenazah anak itu.

Aneh! Belum pernah lihat yang seperti ini.

- Benar, Senior? - Iya, Junior.

Aku juga belum.

Ini belum apa-apa. Ada hal jauh lebih aneh di dalam rumah.

Ini cuma sejumput garam.

Apa kau dapat semua sampel yang dibutuhkan?

Tapi kayaknya mereka terlalu banyak menyiram pohon ini.

- Tesnya mungkin agak rumit. - Jangan. Tolong jangan bilang begitu.

- Semua akan kacau. - Jangan khawatir, Inspektur.

Kami bilang rumit, bukan tidak mungkin.

Karena mereka tidak pakai air asin, masih aman.

Benar, Senior?

Aku mau bilang itu. Tapi dia panik sebelum aku sempat, Junior.

Jadi, kapan hasilnya keluar?

- 2 minggu? - 2 minggu.

- Itu saja. 2 minggu. - Itu saja. 2 minggu.

Kami serahkan hasilnya di pengadilan.

Bagus. Ayo.

2 minggu lagi.

Appa?

Bangun, aku bawa makanan.

Appa?

Appa?

Pak Lavana!

Pak Lavana!

Appa!

Dia stuck seperti ini.

Aku bilang yang sebenarnya.

Lihat sendiri, ayo.

Halo, Pak Chidambaram.

Dengar, Dr. Achari.

Waktu kau bilang dia bangun dan mulai minum lagi,

aku berpikir untuk berhenti praktik.

Tapi lanjut karena tekanan dari keluarga.

Aku rasa aku tidak punya cukup pengetahuan medis untuk mendiagnosisnya.

Jadi, lebih baik pergi ke dokter senior.

Kta masih harus mendiagnosis gangguan mentalnya.

Ini gejala langka dari beberapa gangguan psikologis.

Korbannya diam tidak bergerak berjam-jam.

Tapi 5 hari? Aneh.

Lebih baik kita beri dia makanan cair

sampai dia kembali normal.

Hanya 2 minggu lagi.

Hanya 2 minggu lagi.

2 minggu.

2 minggu.

Hakim sudah datang.

Cek apakah Michael ada di dalam.

- Oke. - Iya.

Tuan Ramappa!

Kau tampak bersinar!

Aku baru keluar dari tidur meditatifku.

Itu sebabnya aku bersinar.

Tolong bagi rahasianya. Kami juga mau ikut.

Tidak bisa diajarkan.

Lalu?

Itu kekuatan super yang kau dapat saat hidupmu hancur berantakan.

Lucu sekali.

Tidak.

- Aku serius. - Ramudu!

Aku sangat khawatir tentangmu.

Apa pekerjaannya sudah selesai?

Semua siap.

Ayo.

Mari cari kebenaran.

Ramudu!

Kau tidak bisa masuk pengadilan pakai sorban.

Pasti ada yang mencurigakan

kalau aku diminta ke sini dalam gelap.

Hasilnya mungkin atau mungkin tidak membuktikan Kusuma sebagai anak Ramappa.

Tapi pasti tidak akan bilang Michael adalah ayahnya.

Kok kau yakin?

Karena aku yang mengirim Michael padamu.

- Apa? - Iya.

Tes ini satu-satunya cara untuk membersihkan namaku.

Dan untuk itu, aku butuh kasus polisi.

- Jadi, aku kirim Michael- - Kau kirim Michael untuk mengajukan kasus palsu.

Aku paham.

Percayalah, aku paham.

Ini untuk kau agar membebaskan Michael.

Setelah mempertimbangkan bukti dan argumen kedua belah pihak,

pengadilan menemukan tidak ada konspirasi di balik kematian Kusumappa Raju

dan menyatakannya sebagai bunuh diri.

Pengadilan sekarang akan mengumumkan hasil tes DNA.

Pertama, probabilitas paternitas...

dalam laporan DNA Pak Michael Sahayam adalah 0%.

Selanjutnya, probabilitas paternitas...

dalam laporan DNA Pak Bhuvanam Ramappa Rao Bahadur

adalah 99.9%.

Maka, pengadilan menyatakan Tuan Rao Bahadur sebagai ayah biologis dari...

anak yang telah meninggal Kusumappa Raju, sesuai hasil DNA.

Pengacara!

Iya, Tuan Ramappa?

Aku ragu dengan hakim ini.

Aku tidak percaya sampai aku lihat laporannya sendiri.

Baik.

Pak Ramappa, hakim minta dokumennya kembali.

Tolong wujudkan permintaan terakhirku

dan bebaskan aku dari kutukan kendi ini.

Nona, Appa sudah tiada.

Nona!

Keluarga dan teman-teman,

boleh maju satu per satu,

sebutkan namanya 3 kali

di telinganya,

dan katakan apa pun yang diinginkan

untuk terakhir kalinya.

Sayang.

Maafkan aku.

Aku menyimpan rahasia darimu.

La...

Lavana...

bukan anakmu.

Ramudu.

Mungkin aku menyimpan banyak rahasia darimu.

Tapi aku benar-benar ingin mengatakan ini padamu sejak lama.

Aku tidak bisa.

Maafkan aku.

Kau...

kau bukan anak Ayahmu.

Aku ada kabar baik untukmu.

Bagus. Siapa ayahnya?

Renuka!

Jangan bilang tidak, Renuka.

Dia nekad banget mau nikah sama kau.

Kematian ayahnya mengganggu mentalnya.

Pernikahan ini mungkin bisa bantu dia pulih.

Ada kebenaran yang harus kau tahu.

Lupakan.

Kita semua punya kebenaran masing-masing.

Kebenaran seseorang bukan urusan orang lain.

Aku tidak akan tanya apa pun. Kau juga jangan cerita.

Tapi kebenarannya--

Nah, mulai lagi!

Kau tidak perlu ungkap kebenaran apa pun.

Oke, aku pikir-pikir dan kabari.

Pikirkan baik-baik.

Dia pasti bukan pria yang kau kenal dulu.

Aku kehilangan istri dan anakku saat melahirkan.

Sekarang mereka menyiksaku dengan pertanyaan

tentang siapa yang akan melanjutkan garis keturunan.

Kenapa tidak menikah lagi?

Tidak ada tempat di hatiku untuk siapa pun selain Vasudha.

Jadi, apa rencanamu?

Aku berpikir untuk mengadopsi anak.

Sayangnya, dia meninggal saat melahirkan.

Aku akan mengumumkan bahwa hanya anaknya yang selamat...

dan memperkenalkannya ke dunia sebagai penerusku.

- Berapa biayanya? - 100 rupee.

Ini, jangan tanya dari mana aku dapat dia.

Dia hadiahku untuk Dinasti Bhuvana.

KEDIAMAN BHUVANA

Aku bilang, minggir!

Pergi dari jalanku!

Apa ini barang hari ini?

Mari buang.

Cendana!

Itu kematian mahal.

Orang besar mati dengan mata terbuka.

Apa ini kesombongan karena kau kayu cendana?

Lagi?!

Kesombongan tidak berasal dari kayu ini.

Tapi dari kayu ini.

Aku akan perbaiki.

Hati-hati, dia bangsawan.

Bangsawan?

Kembali sebentar lagi

untuk mengambil abu dan emas.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.