All language subtitles for God.Of.Gamblers.II.1991.CHINESE.ALL.Bluraqweqweqweqy

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional) Download
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Hadirin...

...selamat datang di acara penggalangan dana...

...yang diselenggarakan Komunitas Tiongkok San Francisco...

...untuk anak-anak yang kelaparan di dunia...

...yang bernama Las Vegas Beramal, sekarang akan dimulai.

Kami telah mengundang Dewa Judi Tn. Ko Jin sebagai tamu kehormatan kami.

Walau Tn. Ko telah berhenti dari dunia perjudian...

...dia masih mengirim murid utamanya, Tn. Michael Chan...

...sebagai tamu kehormatan kami.

Tn. Michael Chan, silakan.

Semuanya, walau mentorku sudah berhenti dari dunia judi...

...tapi dia menyebutkan...

...dalam semua acara amal...

...kita perlu berusaha dan menyumbangkan uang kita.

Omong kosong.

Apa itu Dewa Judi, kau sombong sekali soal itu.

Dasar penipu.

CN, jangan buat keributan.

Dia imigran baru dari Hong Kong, julukannya CN Tai.

Dia berengsek, tapi biarkan saja.

Aku belum pernah melihat pria seberengsek itu.

Kau akan lihat hari ini.

Tunjukkan bakatmu, jika memang punya.

Tentu, jika ada yang memberikan donasi.

Ingat ucapanmu.

Hal pertama yang kita lakukan di dunia ini adalah mencari uang.

Satu orang bertanggung jawab atas satu meja.

Jika kau punya nyali, bertaruh maksimum 100.000 dolar dalam satu permainan.

Jika kau bisa memenangkan satu juta dari mejaku...

...aku akan memberimu 10 juta tambahan.

Mentormu akan kehilangan gelar Dewa Judi jika kau kalah...

...kita akan memanggilnya Dewa Sampah.

Empat dek.

Ingin menarik kartu?

Aturan kasino. Aku ingin bagi kartunya.

Di sini.

100.000 dolar.

Tidak masalah!

Tambah dua kartu.

Tambah lagi.

Tambah lagi.

Semua kartu AS-nya sudah keluar.

Tambah lagi.

Kenapa ada set sebanyak ini dalam satu dek?

Lupakan saja. Lagi pula itu akan menjadi satu.

Hanya 17 poin dalam satu set.

Sisanya adalah 3.3.4.4. Kau akan kalah.

Buktikan.

Akan kuhabisi kau dengan kartu gambar.

Tambah!

Lewat!

Tanganmu gemetaran.

Kita bermain Black Jack, bukan bersaing untuk kartu terbesar.

Kau kalah. 100.000 dolar masing-masing untuk 16 set kartu di sini.

Kau kalah 1,6 juta dolar, dan kau akan menyumbangkan 10 juta lagi.

Seorang mentor hebat telah melahirkan murid hebat.

Mentornya adalah Dewa Judi. Michael ini...

...telah berkeliling ke seluruh dunia untuk acara amal.

Dia bisa disebut Kesatria Judi.

Paman, mi sudah matang.

Apa Paman mau tunggu kuahnya sampai kering?

Masak mi saja lama sekali.

Paman sedang siapkan.

Kau seperti orang kelaparan saja.

Bisa selesai tahun depan.

- Rambut model apa ini? - Model baru.

Hasil lotre Mark Six sudah keluar, biar kulihat.

18...

Selisihnya tiga angka saja.

Nak, jangan makan saja.

Cobalah bantu Pamanmu ini dengan kekuatanmu...

...ubahlah keenam angka ini.

Aku sudah sering bilang.

Kemampuan khususku hanya bisa digunakan untuk tujuan amal.

Kita tak bisa memakainya sembarangan. Jika aku sembarangan...

Pertama, bisa sial. Kedua, masuk neraka. Ketiga, bisa celaka.

Waktu itu, setelah kita gunakan kekuatanku untuk berjudi saja...

...kita dipukuli. Berarti, itu sial.

Kita baru bebas kutukan setelah kita sumbangkan uang hasil kemenangan itu.

Kita bisa celaka kalau kita berani cari masalah lagi.

Paman tidak pergi. Bagaimana bisa celaka?

Jadi, Paman tidak percaya?

Ini sisa sumbangan kita terakhir kali, Kakak Wong Jing.

Ada apa?

Kita sudah lama sudah tinggal bersama, aku mau membantumu.

Malam ini kau tidak usah kerja.

- Kau mau membantuku? - Ya.

Ini uang untukmu. Tapi kau harus menemani pamanku.

Kau sudah kaya?

Tidak, hanya menggoda.

- Ayo, jangan buang waktu... - Ya, cepatlah.

Selalu melempar pakaian dalam pria ke sini. Apa tidak ada wanita di sana?

Hei, Sing.

Kita ini paman dan keponakan. Mari kita lakukan bersama.

Kau mau ke mana?

Mujur...

Sudah kubilang celaka. Paman tidak percaya?

Masih tidak? Apa...

- Celakalah kita. - Sungguh? Aduh!

Cara pakainya aneh sekali.

Semua orang punya titik kelemahan.

Kelemahan Paman tepat di kepala. Kau mau bilang apa?

Tidak ada. Paman jadi terlihat keren.

Paman mau ini?

Paman ada ide.

Ini cara makan mi terbaru?

Tidak.

Paman sudah memikirkan caranya. Kau mau ikut?

Kita paman dan keponakan, sama-sama berbakat...

...kenapa kita harus selalu makan mi instan?

Kalau kita tidak bisa menggunakan uang hasil kekuatanmu...

...setidaknya, kau bisa mempelajari cara bermain judi.

Dengan begitu, kau bisa mendapatkan uang dan wanita.

Setelah pemain hebat habis di tahun 1997, Paman akan menjadi orang terkaya di sini.

Bagus, aku akan menjadi Donald Dump!

Yang benar Donald Trump!

Benarkah?

Dari siapa aku bisa belajar ini?

Dewa Judi.

Benar.

Jika kau menjadi murid Dewa Judi...

...kau akan memenangkan seluruh dunia.

Dan kau bisa memberi Paman kehidupan yang lebih baik.

Aku tak bilang aku akan menjaga Paman.

- Astaga. - Apa kau tak belajar di sekolah?

Apa kau tak tahu kau harus perlakukan pamanmu sebagai orang tua?

Aku hanya tahu kalau Mao Zedong lebih dekat daripada orang tua kita.

Asalkan kau menjadi murid Dewa Judi...

...itu akan bagus.

Apa yang harus kulakukan? Tulis surat untuknya.

Katakan aku mengaguminya, terima aku sebagai muridnya?

Paman memang kuno.

Tentu, Paman akan merekam video.

Apa?

Video itu merekam gambar yang bisa kau lihat di layar.

Itu tak berguna. Kita tak tahu di mana Dewa Judi.

Benar.

Kau bisa melihat menembus dinding.

Gunakan kekuatan ini dan lihat di mana Dewa Judi berada.

Tapi dia tak ada di dekat sini. Dia mungkin bisa jauh sekali dari sini.

Jadi, percuma saja.

Hei, siapa kau?

Aku Sing.

Kau sedang apa?

Mengistirahatkan saraf mataku.

Kau membuat Paman takut!

- Mulai sekarang. - Mulai.

Apa yang kau lihat?

- Aku bisa melihat Dewa Judi. - Di mana dia?

- Dia sedang berjudi. - Di mana tempatnya?

Kenapa?

Tidak apa-apa.

- Apa yang kau lihat? - Aku mengamati Dewa Judi.

Apa yang dia lakukan?

Dia mengenakan kaus kaki mewah.

- Ada apa? - Seseorang ditembak.

Ada peluru. Lalu aku tak bisa melihat apa pun.

Jangan khawatir. Gunakan Mata Menembus itu lagi.

Aku bukan peri. Aku hanya bisa melihat sesekali.

Bagaimana ini?

Paman dengar murid Dewa Judi akan datang ke Hong Kong.

Mari kita merekam video...

...dan meminta dia untuk membawanya ke mentornya.

- Apa itu bisa? - Mari kita rekam dulu.

Mulai!

Yang Mulia Dewa Judi, aku Sing.

Aku pergi ke Makau di usia 3, dan memasuki Kasino usia 4 tahun.

Menjadi penjudi tingkat satu pada usia 5, dan seorang master pada usia 6 tahun.

Tapi seluruh keluargaku meninggal pada usia 7 tahun.

Masih belum mencapai apa pun sekarang saat aku 27 tahun.

Jadi, aku ingin menjadi muridmu dan belajar seni judi.

Tunggu itu. Apa maksudmu membuka ritsleting celanamu?

Aku ingin menakuti Dewa Judi.

Kau bahkan tak bisa membuat Paman takut, rapikan.

Baik.

Mulai.

Kau tak bisa hanya bergumam seperti itu.

- Aku sudah berusaha yang terbaik. - Itu sebabnya kau gagal.

- Beri aku kesempatan lagi. - Tidak!

Biar Paman tunjukkan.

Tukar posisi.

Kemari dan ambil perekamnya.

Mendekat perlahan.

- Cobalah yang terbaik untuk belajar. - Baik, mulai!

Yang Mulia Dewa Penjudi, aku Sing busuk.

Paman hamil?

Diam! Jangan bercanda.

Aku Sing busuk, 27 tahun tanpa prestasi.

Tapi aku baik hati.

Aku mohon kau menerimaku sebagai muridmu. Biarkan aku mempelajari keahliannya...

...dan menggunakannya untuk membantu yang lemah...

...melayani masyarakat kita dan mengabdikan hidupku untuk negara.

Untuk kebebasan, cinta kebebasan, kebebasan adalah yang terbaik.

Berhenti!

Bagus sekali!

- Bagus, ya? - Bagus.

- Bagus? - Bagus.

Kita bisa kirim rekaman ini.

Apa maksudmu mengirimnya? Siapa yang mencari mentor?

Ikuti apa yang Paman lakukan.

Percuma.

Mungkin ada ribuan video serupa yang dikirimkan untuknya.

- Semua orang melakukan hal yang sama. - Benarkah?

Jika kita ingin menjadi unik, kita harus mengambil risiko.

Risiko?

Kemarin pembantu Filipina-ku lewat pasar.

Salah satu penjaja menyebut Dewa Judi, itu adalah kau.

Aku terkejut.

Itu hanya lelucon.

Ada seseorang yang berani menyebut dirinya sebagai Dewa Judi...

...kau menganggapku sebagai palsu.

Aku Orang Suci Judi...

...kau memakai lensa kontak saat kau bertaruh pada kartu.

Tapi mataku bisa melihat menembus kartu.

Ini disebut kekuatan khusus.

Ini As, aku hanya perlu menggosoknya dengan ringan.

Itu akan menjadi As yang bengkok...

...karena aku belum memakai kekuatanku.

Ketika aku pakai kekuatanku, itu bisa kuubah jadi set mahyong.

Aku tak bercanda? Kau bodoh sekali.

Kau lihat apa?

Tentu saja kau harus membayarku satu juta dahulu.

Apa? Kau tak membayar biaya belajar?

Hubungi aku di nomor telepon Hong Kong. 3345678.

Nomor telepon Hong Kong, 3345678.

Aku tak peduli jika kau tak menelepon. Tapi kau yang rugi.

Jangan panggil aku setelah pukul 21.00, aku sudah tidur.

Orang gila!

Lama tidak bertemu dan kau telah pelajari semua keahlian dari Dewa Judi...

...dan mendapatkan gelar Kesatria Judi.

Terima kasih.

Kami akan kembali ke Hong Kong. Untuk menghindari masalah yang tak perlu...

...jadwalnya diatur oleh Tn. Sheung Shan.

Bagus. Tidak ada yang tahu aku adalah Kesatria Judi.

Aku akan menelepon konferensi pers dua hari lagi.

Memperkenalkanmu dan rencana kita untuk kasino amal.

Xiao Zhengdao, apakah tempat ini nyaman untuk ditinggali?

Kenapa kau begitu pintar membeli rumah ini?

Rumah ini pernah dihuni oleh orang India.

Dia selalu membuat anjingnya menggigitku.

Saat itu aku miskin dan tinggal di rumah kecil di sana.

Setiap malam aku menatap rumah besar ini...

...dan berkata kepada pacarku.

Aku akan usir mereka dan membuat mereka tinggal di sana suatu hari...

...dan aku akan tinggal di sini sendirian.

Dan mimpi itu menjadi kenyataan.

Asalkan kau mencoba yang terbaik untuk menghasilkan uang.

Segalanya mungkin.

Ada orang Kuwait pernah tinggal di sini.

Dia bangkrut setelah lrak menyerbu Kuwait...

...jadi aku membeli rumahnya.

Halo?

Baik. Kau datang ke sini.

Siapa itu?

Loong Kau.

Loong Kau siapa?

Dia Loong Kau, menurutmu siapa dia?

Yang kau katakan itu sangat filosofis.

Entahlah.

Apa ada kelab bagus di Jepang? Bawa aku untuk minum.

Mentormu memintaku untuk tak membawamu ke kelab malam...

...atau memperkenalkan gadis kepadamu...

...atau kau akan merusak gelar Dewa Judi.

Aku hanya mengujimu. Kau adalah teman sejati mentorku.

Dan kau belum merusak ketenarannya sama sekali.

Permisi.

Bicaralah dengan bawahanku jika kau butuh sesuatu.

- Baiklah. Ya. - Sampai nanti.

Sampai nanti.

Hei, Raven, kumohon?

- Kakak? - Ya.

Bagaimana rumahku?

Aku menyewakan lantai dasar, aku tinggal di lantai satu.

Bisakah kau panggil pacarku?

Aku di rumah orang India di atas bukit. Cepat!

- Pacarmu telah menikah, Kakak. - Pacarku sudah menikah?

Aku bertemu seorang gadis yang hebat...

...dia mengagumimu. Aku akan hubungi sekarang.

Hebat, tapi... Halo?

Keluar! Kau tak boleh masuk.

Minggir! Siapa kalian?

Kau pasti seniorku Kesatria Judi.

Aku adikmu, Orang Suci Judi.

Ada apa?

Mentor dan kau pasti telah melihat vi buatanku...

Video!

Video! Seorang pria berbakat seperti aku butuh instruksi darimu.

Apa lagi yang bisa kukatakan selain "Selamat"?

Selamat.

- Hei! - Ini...

Kapan mentormu akan kembali?

Kau jahat. Kau tak bisa mengalihkan pandangan dariku.

Kau membuat pikiranku kosong.

Meskipun pakaianku terlihat rapi hari ini.

- Bukan. - Astaga.

- Hei... - Ini.

Apa ini?

Jangan pernah biarkan pihak lain membaca pikiranmu.

Apa yang ada dalam pikiranku?

Paman tak tahu. Tanyakan pisang jika kau ingin tahu.

Aku mengerti.

Meskipun di sini cukup luas, tapi dekorasinya cukup bagus.

Tapi tak semua orang bisa memiliki kartu As!

Empat As.

Hadirin...

Lima As!

Bagus! Hebat! Tapi kau sudah terlalu banyak bermain, permisi.

Tunggu. Kita setara dalam permainan ini.

Kita harus bertaruh.

Jika aku menang, kau harus bawa aku menemui mentormu.

- Jika aku kalah... - Jangan pernah menggangguku lagi.

Bagaimana?

Ambil satu kartu dan lihat kartu siapa yang terbesar.

Baik.

Kau tamunya, kau dulu.

Silakan.

Aku akan membuatmu mengambil yang terkecil.

Lihat kartunya.

Kau tak beruntung hari ini.

Sungguh?

Walaupun kau beruntung hari ini, kau tak bisa menang.

Itu sulit...

Aku punya kartumu.

Kau bisa mengubah kartu dengan cara itu. Hebat!

Kau bisa membuat kartu dengan cara itu. Kau memiliki kekuatan yang luar biasa.

Tapi itu bukan keahlian sebenarnya.

Terima kasih. Mentor bisa memiliki murid seperti kau dan aku.

Dia akan sangat bahagia.

- Senang melihat kalian berdua. - Mentorku tak di Hong Kong. Permisi.

- Hei! - Ada apa?

Mereka yang bermain sulap itu ingin bertemu dengan mentor.

Mereka tak ingin pergi.

Kami harus menemui mentormu, Dewa Judi.

Ya. Bahkan jika kau mengalahkan kami dengan serius, kami tak akan pergi.

Mudah.

Berengsek!

Cukup hajar mereka saja.

Kau menarik.

Berani datang lagi?

Aku...

Jangan bicara. Ikut denganku.

Jangan berisik, pergi ke lantai satu dengan tenang.

Ada tempat tidur besar di tengah ruangan.

Kau bisa mandi jika mau.

Aku akan memberimu minuman enak.

Hei!

Kau wanita yang sangat kuat.

Cukup kuat untuk menangani maniak seks sepertimu.

Kau salah paham.

Ada apa ini?

- Kakak. - Tidak. Kakak?

Adikku Loong Kau, Inspektur Senior Hong Kong. Unit Politik.

Dia pengawal Ratu ketika beliau datang ke sini.

Aku sudah menduga ini. Rahang kalian tegas.

Dia murid Dewa Judi, Chan...

Aku Michael, kedengarannya bagus?

Loong Kau, kau punya nama Barat?

Kowloon!

Kow... Kowloon?

Itu hanya salah paham.

Aku tidak seperti dugaanmu.

Aku pria yang murah hati dan elegan.

Kakak.

Gadis cantiknya datang, Frantasca.

Dia berjanji tak akan pulang malam ini.

Orang macam apa kau ini?

Hei, masih kembali?

Kau tak takut mereka akan menggunakan granat kali ini?

Jangan pernah gunakan senjata.

Kita datang ke sini untuk mendorongnya agar berbicara dengan kita.

- Berbicara? Apa maksudmu negosiasi? - Bukan...

Kita akan kacaukan tempatnya dalam beberapa menit...

...lalu dia akan keluar dan bicara dengan kita.

Baiklah!

- Lelucon itu lucu sekali. - Benar, Kak.

Pernah mendengar lelucon itu?

- Tidak. - Biar kuceritakan.

Aku tidak suka lelucon.

Menarik.

Biar kutuangkan kau minum.

Maaf...

Maafkan aku.

Maaf...

Gelasnya licin.

Biar kutuangkan lagi.

Mungkin mejanya miring.

Awas. Kedua orang itu pasti datang ke sini dengan tujuan.

Mereka tak akan mudah menyerah.

Siapa yang dia bicarakan?

- Kita. - Aku tahu.

Mereka takut mati.

Kurasa mereka tak akan datang lagi...

Jangan...

Tak perlu membicarakannya lagi. Mari kita makan.

Kau tak bisa melihatku...

Kau tak bisa melihatku.

Kurasa mereka sudah pergi.

Mereka tahu kita ada di sini. Mungkin mereka mendengarnya.

Tentu saja. Dia murid Dewa Judi.

Dia bahkan bisa mendengar dadu. Tentu saja dia bisa dengar.

Kenapa kalian berdua bisa saling menatap...

...tapi dia seolah tak melihatmu?

Itu karena aku memakai kemampuan terkuatku.

Apa itu?

Itu akan memengaruhi otak mereka...

...dan membuat mereka tak melihat apa pun.

Ini sangat kuat setelah aku bisa menggunakan kemampuanku.

Aku bisa membuat mereka memiliki ilusi yang berbeda.

Sungguh? Tunjukkan pada Paman.

Kau menyebalkan...

Berengsek!

Kakak, kau sudah mengikuti si mentor selama setahun.

Aku yakin kau bisa mengeluarkan kartu tiga. Benar?

Tolong ajari aku dan aku akan mencari nafkah dengan keahlian ini.

Tiga!

Gagal lagi.

Aku sudah pelajari 90 persen keahlian judi setelah mengikuti mentor selama setahun.

Tapi yang paling sulit adalah untuk membuat mengeluarkan kartu tiga.

Hanya berhasil dua dari 10 kali.

Mentorku bilang aku kurang berkonsentrasi, jadi aku terkadang gagal.

- Apa itu sulit? - Ya.

Keahlian berjudi lainnya akan membuatmu menang banyak.

Pinjami aku uang.

Bagaimana aku bisa? Aku lebih miskin darimu.

Mentor berkata...

...95 persen dari uang yang kumenangkan harus disumbangkan untuk tujuan amal.

Hanya lima persen yang akan masuk ke kantong kami.

Itu berarti kau hanya bisa mengambil 50 sen dari 10 dolar?

Benar. Itu sebabnya aku miskin.

Hati-hati.

Kenapa kau tak turunkan sebelumnya?

- Hai - Apa ini?

Aku minta maaf atas apa yang terjadi pagi ini.

Maukah kau makan malam bersamaku besok malam?

Aku akan pergi bersama istri Gubernur ke Asia Tenggara besok.

Kau harus memanfaatkan malam ini.

Aku sudah punya tunangan. Simpan itu. Terima kasih.

Jangan malu.

Dia hanya tak punya selera.

Baik. Kau akan merasakan ilusi.

Kau tidak marah, kan?

Tidak.

Kembalilah ke sini.

Baiklah.

- Cepat! - Baiklah.

Ini untukmu.

Yang paling aku sukai adalah bunga-bunga bermekaran.

Aku senang kau suka itu.

Jadi, kita harus memanfaatkan malam ini sebaik-baiknya.

Jangan. Aku akan mandi dulu.

Aku mandi, dan akan kembali sebentar lagi.

- Aku akan menunggumu. - Mungkin kau bisa menungguku di ranjang.

Baiklah!

Kau sedang apa?

Kau sedang apa?

Apa kau salah masuk kamar?

Kau di ranjang yang salah.

Karena kau suka tempat tidur orang lain, kau boleh ambil seluruh kamar ini.

Dunia sedang berubah.

Kau harus berpikir kalau pembunuh bisa memasuki kamar mana saja...

...dan mengambil rumah sebagai miliknya.

Aku yakin sedang masuk kamar Loong Kau.

Apa aku melihat hantu? Kau...

Kau tidak bisa melihatku...

Apa yang bisa kau lakukan padaku?

Abra kadabra.

Kau tak bisa melihatku... Apa?

Kalian harus pergi.

Aku akan panggil polisi jika aku melihatmu lagi.

Kami ke sini untuk mencari sang mentor.

- Kenapa kau perlakukan kami seperti ini? - Apa kami kurang jelas bicara?

Aku harus terus bicara.

Bunuh aku... Bahkan jika, kau menusuk mataku...

...memotong leherku, melubangi hatiku...

- ...meninjuku... - Jangan!

Jangan pukul yang itu.

Jika kau tak berjanji padaku...

Aku akan berlutut di sini sampai dia mati.

- Tolong terima dia! - Kalian tak tahu malu?

Abaikan saja, mari kita masuk.

Tolong, Kakak, tolong bantu kami!

Atau aku akan berada dalam situasi yang buruk.

Jangan berisik.

Tolong kami.

Aku mohon.

- Dia masuk. - Aku tahu!

Kita akan terus di sini?

Ya, dia pasti takut akan kemampuanku.

Jadi, kita harus sabar.

Selama ada niat, pasti ada jalan.

Ayah angkat.

Saddam, bagaimana keputusan pengadilannya?

Belum ada keputusan.

Maaf, pak Chan, kami sudah memohon tiga kali pada Ratu.

Tapi tetap ditolak.

Aku memang sudah menduganya.

Ko Jin yang membuatku ditahan lima tahun atas kasus pembunuhan.

Aku tidak akan memaafkannya.

Ko Jin si Dewa Judi memang keras kepala.

Saat ini, dia sedang berlibur di Amerika Selatan.

Tapi muridnya, si Xiao Zhengdao sudah kembali...

...dan sekarang julukannya Ksatria Judi.

Kita harus mendekatinya terlebih dulu.

Kalau Ayah mau...

Aku bisa buat si Dewa Judi bukan hanya menanggung malu...

...aku bisa gunakan namanya...

...untuk mencurangi semua penjudi di Asia.

Ayah angkat...

Sudah boleh istirahat? Paman lelah.

Kita tak harus begini seharian, kan?

Harus. Dia sedang mengawasi kita.

Dia mau menguji kesabaran kita.

Baiklah, kau lanjutkan sendiri, Paman mau beli minuman...

...Paman bawakan bakpao daging untukmu.

- Selanjutnya jangan ikut saja. - Jangan.

Awas!

Kaca anti peluru?

Cepat lari, aku akan menjagamu!

Sekarang belum Tahun Baru, kenapa sudah nyalakan petasan?

Kedengarannya seperti suara senapan.

Mungkin mainan.

Bukan! Pintunya saja sampai bolong.

Itu hanya pintu.

Paman belum bolong.

Paman paham maksudku?

Apa? Badan Paman bolong.

- Itu palsu. Sakit tidak? - Sakit.

Berarti mereka sedang menguji Paman.

Kenapa bukan kau yang diuji?

- Benar juga. Kabur... - Ayo...

Ada pistol?

- Ada. - Benarkah?

Kenapa kau malah bercanda?

Kabur!

Tutup pintunya!

- Tangkap! - Baiklah! Tidak!

- Kabur! - Ya!

Jangan. Tangkap dia.

Mungkin kita bisa memanfaatkannya.

Baiklah.

Ayo turun, aku akan mengajak kalian ke rumah lamaku.

Kita sudah tiba.

- Bagaimana tangan Paman? - Sakit.

Berapa banyak yang mengejarmu, apa kau memang punya banyak musuh?

- Banyak. - Sungguh?

Entahlah.

Sebaiknya kita istirahat di dalam.

Apa yang kau lakukan?

Sepertinya kau teringat kenangan lama.

Bagaimana kau bisa tahu?

Saat kusentuh kepalamu, aku bisa baca pikiranmu.

Jika kusentuh mulutmu, aku bisa tahu kau makan apa.

Jika kusentuh tanganmu, aku bisa tahu kau pegang apa.

Kalau aku taruh...

Berengsek!

Dasar orang bodoh.

Hei.

Hei.

- Raven... - Apa?

Kenapa kau ke rumahku lagi?

Aku sudah bangkrut, dan sekarang aku yang tinggal di sini.

Kau tanya kenapa aku ke sini?

Ini bekas rumahku!

Kakak!

Kakak, ada apa?

Ada yang mencoba membunuhku.

- Ini telponku, jangan pakai! - Kenapa tidak boleh?

Lantai ini sudah kusewakan.

Ke atas, pakai telponku saja.

Jangan sentuh Paman.

Aku hanya mau menyentuhmu.

Sudah ada kabar dari kak Loong?

Terima kasih. Terima kasih banyak.

- Dia sudah ditemukan? - Belum.

Kak Loong tidak ada di mana pun.

Pak Sheung San juga sudah tewas.

Hanya dia yang tahu bahwa aku murid Dewa Judi.

Mati?

Kenapa mereka ingin membunuhmu dan Loong Ng?

Aku juga tidak tahu.

Aku bisa menemukan kak Loong. Tapi aku ragu kau akan percaya.

Ilmu mata tukang intip.

Salah, yang benar Ilmu Mata Tembus Pandang.

Aku melihat sebuah bar dan mobil yang mendekat.

Kak Loong ada di mobil itu!

Ada dua pria yang memasukkannya ke karung, lalu membawanya.

Untungnya mereka tidak macam-macam pada Kak Loong.

- Siapa yang memukulku? - Aku. Apa nama bar nya?

Dream Lo...

Ini tempatnya.

- Ayo masuk. - Ayo.

- Tunggu. - Apa?

Kau sadar bahwa kau tampan?

- Memang. - Bukan itu maksudku...

...maksudku, mungkin saja kau mudah dikenali.

- Kau terlalu mudah dikenali. - Benar...

Biar kami berdua yang masuk. Jika ada masalah, kami akan teriak.

- Baiklah. Ya. - Kau tunggu di sini!

- Kalian mau pesan apa? Apa saja ada. - Jual apa saja di sini?

Maka, kami pesan arak Tiongkok. Arak yang bagus untuk kesehatan...

...ditambah telur setengah matang, jangan lupa pakai sedikit lada.

Baiklah.

Buatkan satu untuk semua yang ada di sini. Aku yang traktir!

- Aku mau jus jeruk saja. - Baiklah.

Aduh!

Kau baik-baik saja?

Dewi Impian?

Kau dari mana saja?

Apa kau tidak tahu, aku sudah lama mencarimu.

Aku bukan Dewi Impian. Kau salah orang.

Jangan bohong. Lalu kau siapa?

Aku Lo, aku pemilik Bar ini.

Kau yakin kau bukan Dewi Impian?

Hei, kau yakin bukan Dewi Impian?

Sepertinya cara kalian sudah kuno...

...dan cara seperti ini hanya digunakan anak kecil.

Aku tidak menyangka, orang tua seperti kalian...

...masih menggunakan cara seperti ini.

Itu tidak benar...

- Orang tua? - Paman memang sudah tua.

Silakan duduk.

Maaf Nona, aku boleh liat ketiakmu?

Sejak dulu aku suka pria yang dewasa di atas 40 tahun...

...berkumis dan perutnya buncit.

Mereka yang mengenakan kaus mewah...

...dan arloji tokoh kartun itu hanya untuk anak kecil.

Benar.

- Apa yang kau inginkan? Biar aku traktir. - Aku ingin...

Aku ingin...

Tolong bawakan dua gelas tequila ke sini.

Tolong.

- Cepat. - Baiklah.

Pak, ada lagi yang bisa kubantu?

Dua saja.

Baiklah.

Dasar orang tua mesum.

Sudah...

Meng Lo bilang, dia sedang tidak enak badan.

Paman mau mengantarnya pulang. Kau tunggu di sini saja.

Apa yang Paman lakukan?

Paman mau membawa kabur wanita impianku?

Dia sudah bilang, dia bukan Dewi Impian. Dia Meng Lo.

Mulai sekarang, jangan bahas tentang Dewi Impianku lagi.

Baiklah, silakan mimpi bertemu wanita itu lagi. Paman mau bercinta.

Umur Paman sudah 40 tahun.

Kau harus memberi Paman kesempatan untuk mewujudkan impian Paman!

Minggir!

Ayo pergi. Hati-hati.

Hei!

Silakan.

Sampai nanti.

Bagaimana aku menjaga perasaan ini?

Bahkan tidak ada cinta yang mau mendekatiku

Terlalu banyak penderitaan yang kulalui

Aku harus bagaimana...

Sial...

Kau memanggilku?

Ya, selamat pagi.

Kau sedang apa? Kau tidak tidur?

Masih pagi, dan kau sudah berisik.

- Ada apa? - Aku tidak mau bilang...

...aku juga tidak mengerti.

Jadi, percuma aku memberitahumu.

Semalam, Pamanku membawa kabur pacarku.

Dia membawa kabur pacarku.

Dia memang penjahat kelamin, tidak bermoral. Iblis.

Kau bicara apa?

Berarti kau juga berbohong padaku, kau bilang mau mencari kak Loong.

Ternyata kau malah berkelahi dengannya memperebutkan wanita.

Mulai sekarang, jangan menemuiku lagi!

Biar kujelaskan dulu.

Hei!

Biar kujelaskan dulu.

Ini penting bagiku, karena dia cinta pertamaku.

Bahkan, aku belum pernah ciuman seumur hidupku.

Tidak usah membahas hal itu lagi.

Kurasa kau bisa mati jika diam sebentar.

Salah, aku tidak akan mati.

Jika kau bisa diam, aku akan menuruti permintaanmu.

Kalau begitu, kita taruhan.

Kalau aku bisa diam selama 30 menit, kau akan mengajakku menemui Mentor.

Setuju.

- Baiklah. - Hei...

Ternyata dua anak tangga itu rusak, pantas saja dia melewatinya.

Dia tidak bisa menjebakku.

Kalau kau butuh bantuan, katakan saja.

Apa? Kau butuh bantuan?

Jika diam, aku tidak bisa tahu.

Hidupku terlalu singkat

Aku berharap bisa mencintainya seorang

Permisi.

Mencintai dirimu saja Hei, Sing. Sing.

Di mana bocah itu? Sing.

Hei, kau sedang apa?

Sing.

Xiao Zhengdao, kau lihat Sing?

Awasi dia.

Kau baik-baik saja?

Kasar sekali!

Paman tidak kasar padamu, kenapa kau bicara seperti itu?

Paman dari mana saja semalam?

Di rumahnya Meng Lo.

- Apa yang Paman lakukan di rumahnya? - Makan pie telur.

Itu saja, kan?

Ada lagi.

Apa?

Minum teh.

- Itu saja, kan? - Ya!

Kau sudah gila.

Dia sudah bilang, bukan Dewi Impianmu.

- Jangan bahas Dewi Impianku! - Kenapa tidak boleh?

Kita bersaudara.

Awalnya Paman ke sini ingin bicara denganmu.

Aku harap kau mau memberi setengah kekuatanmu.

Setengah? Makan pie telur membuat Paman gila?

Ingat, tiga hal yang tidak boleh dilakukan dengan kekuatanku.

Pertama, tidak boleh mengambil keuntungan dari kekuatanku.

Kedua, tidak boleh memperkosa wanita.

- Kalau pria? Paman tidak mau. - Itu tak masalah.

Ketiga, jangan berbicara kasar sebelum menggunakan kekuatanku.

Kalau Paman melanggar, Paman tidak akan bisa menggunakannya.

Karena kekuatan ini berasal dariku...

...jika Paman sampai melanggar peraturan itu, kekuatanku akan hilang.

Jangan khawatir.

Setelah Paman menunjukkan kekuatan itu, Paman akan kembalikan padamu.

- Paman pergi. Ada apa lagi? - Tunggu.

Karena Paman baru saja mendapatkan kekuatanku...

...Paman harus diuji.

Karena tidak semua orang memiliki kekuatan seperti ini.

Ingat, walau Paman sudah punya kekuatan ini...

...Paman tidak boleh pamer.

- Tidak akan. - Suara Paman sombong.

Tidak akan, sudahlah, cepat!

Baik, bersiap...

- Bagaimana? - Kenapa tidak berhasil?

- Berhasil. Lihat, batu batanya pecah. - Tapi kepala Paman berdarah.

Jika batu batanya tidak kuat, kepala Paman bisa ikut pecah.

Kau bilang mau menguji kekuatannya.

Aku mau menguji kekuatan batu batanya...

...karena itu aku minta bantuan Paman.

Pokoknya aku bukan mau menguji kekuatan Paman.

Begitu.

Temuilah wanita itu.

Untungnya kepala Paman tidak terluka.

Kenapa aku mau melukaimu?

Hai.

Kak Tat, silakan masuk.

Baiklah.

Kenapa mereka makan pie telur buatanmu juga?

Mereka pelanggan tetap di barku.

Mereka gila. Mereka selalu mengejarku.

Tapi karena mereka kaya, aku tidak bisa kasar pada mereka.

- Akan kuusir mereka. - Jangan, bisnisku bisa berantakan.

Benar.

Kemarin kau bilang kau punya kekuatan, kan?

- Ya. - Mungkin kau bisa berjudi bersama mereka...

...dan kalahkan mereka.

Tapi jangan membuat mereka malu.

Paman tidak boleh menggunakan uang kemenangannya.

Tenang saja.

- Baiklah. - Sing, kemarilah.

- Ada apa? - Lihat.

Murid Dewa Judi membangun sebuah kapal untuk amal...

...dan rencananya besok, dia akan mengadakan jumpa pers.

Ada yang mengaku sebagai kau.

Tapi apa tujuannya?

Mungkin dia mau menggunakan namaku dan Mentor untuk menipu penjudi kaya.

Dengan pura-pura amal.

Dia akan menipu mereka semua.

Kenapa bisa setega itu?

Kita katakan saja yang sebenarnya saat jumpa pers nanti.

Kita tidak mungkin bisa menaiki kapal itu dengan pakaian seperti ini.

Tidak ada yang percaya pada kita.

Kita butuh uang kalau kita mau ikut bermain di sana.

- Kita harus mencari uang. - Dari mana?

Temanku punya satu tempat judi, tapi aku butuh bantuanmu.

Kau tunggu di sini.

Jika kau dengar teriakanku, segera hubungi Polisi!

Baik, Kak. Maksudku Kak Michael.

Kak Kau!

Xiao Zhengdao, ke mana saja kau?

Aku sedang mengembangkan bisnis di Tiongkok.

Berengsek. Kau sudah buta?

Dia adik sepupuku. Dia pengusaha dan sangat kaya.

Ayo kita kerjai dia sama-sama.

Waktu itu kakak sepupumu, sekarang adik sepupumu.

Waktu itu, kakak sepupumu yang bodoh itu hampir mengalahkanku.

Lihat saja tampilannya, dia ini lebih bodoh dari kakak sepupuku.

- Siapa namamu? - Ibuku marganya Wong.

- Aku tanya namamu. - Kakak sepupuku namanya Michael

- Sejak tadi aku tanya namamu! - Michael Jackson.

- Adik sepupumu ini bicaranya melantur. - Benar!

Benar!

Kau mau main apa?

Aku lihat dulu.

Kenapa mejanya di selimuti? Takut masuk angin?

Memangnya kenapa?

Kau mau main tidak?

Kartu.

Mereka tampak seram.

Kau yakin kau punya kekuatan?

Tenang saja.

Taruhannya 500.000 dolar, aku yang akan bagikan kartunya.

Dua pasang.

Straight flush.

Empat kartu.

- Terima kasih. - Dia curang?

Terima kasih. Nanti kita main lagi. Terima kasih...

Kakak memang pintar. Apa boleh aku minta uangnya?

Ya, ambil saja.

Kak Tat, kau kenapa?

Ada apa?

Kau pasti kalah!

Aku tidak akan biarkan ada orang yang berkata seperti itu padaku.

Sudah puas menggosoknya?

Percuma saja kau gosok!

- Cukup. - Tunggu.

Biar kulihat dulu.

- Kau berkeringat. - Tolong keringkan.

Kakak teriak, artinya panggil polisi.

Ada apa?

Tidak!

Kekuatanku mendadak hilang.

Kau murid Dewa Judi, coba ubah kartu itu jadi angka 3.

Aku sering gagal.

Tapi aku punya cara lebih berguna.

Kalian lihat ini!

Coba kulihat.

Aku tetap ikut.

Ikut? Jumlah kartuku lebih besar.

Kau benar juga.

Aku menyerah.

Kalau kau mau menyerah juga, bagaimana kalau kita bagi dua hasilnya?

Bagi dua? Baiklah...

Apa? Kau mau bagi dua hasilnya begitu saja?

Tunjukkan kartumu.

Bagi dua begitu saja? Di Tiongkok tidak ada aturan seperti itu.

Dasar gila, ini bukan Tiongkok. Ini Hong Kong!

Di Hong Kong ada aturan seperti ini, benar?

- Ya. - Ini bagianmu.

Ini bagianku!

- Ayo, bagi rata. - Terima kasih. Ayo kocok lagi kartunya.

- Lanjut lagi. - Aku ada urusan penting.

- Aku ikut. - Apa ini?

Kalian tidak boleh pergi begitu saja. Ayo main lagi!

Satu putaran lagi, ya?

Janji, ini yang terakhir?

Hari ini, untung besar.

Bagaimana?

- Terserah kau. - Pintar.

Aku tidak mau membuang waktu. Semuanya.

Aku ikut.

Ya, aku juga ikut.

Aku juga ikut.

Bagus.

Pas sekali.

Bagus!

Kalian berani sekali.

Kita bagikan semuanya.

Dasar gila, kenapa kau terus menggosok kartunya?

Sabar sebentar.

Biar kuperlihatkan sedikit.

Aturannya aneh, jika mereka menyerah, hasilnya bisa dibagi dua.

Benar, kan?

Memang benar, aturan di sini bisa seperti itu.

Aku menyerah saja, tapi hasilnya bagi dua.

- Benar. - Menyerah?

Aku tidak mau menyerah!

Kebetulan terus?

Aku mungkin rugi beberapa juta saja. Tidak masalah!

Buka kartumu!

- Paman! Kau lihat, kan? - Apa?

Paman tampan. Sebaiknya Paman pikirkan yang lain.

Aku tidak peduli. Kenapa?

Paman sudah gila?

Benar! Julukanku memang si Gila Biao.

Buka kartunya.

Polisi!

Jangan ada yang bergerak, semuanya diam di tempat!

Ada apa, Pak?

Kami menduga kalian mengadakan judi ilegal.

Judi? Kami hanya main mahyong.

Main mahyong seramai ini?

Hei, kau kenapa?

Aku demam, Pak.

Pak, tidak ada kartunya.

- Uangnya? - Tidak ada.

Lain kali, main mahyongnya jangan berisik!

Ayo pergi!

Bagus...

Aku punya tiga kartu Jack...

...aku yakin bisa mengalahkanmu!

Aku yakin kartumu hanya pair AS.

Lihat itu apa?

As!

Tiga As.

Kau kenapa?

Sepertinya kekuatanku menghilang.

Kenapa?

Ini pasti ulah Pamanku, aku terkena dampaknya.

Berengsek. Jumpa persnya besok.

Maka besok aku tidak bisa membantumu.

Tenang, aku bisa mengatasinya. Ayo.

Kenapa kau mendadak begini?

Ini pasti karena kekuatanku...

Itu karena dia sudah kehilangan kekuatannya.

Mau apa kalian?

Aku sudah menyewa ahli sihir dari Tiongkok untuk mengatasi Malaikat Judi.

Dia bilang, jika kau menggunakan uang hasil kemenanganmu...

...maka kekuatanmu akan hilang.

Sebenarnya, aku memang sudah menyiapkan jebakan untuk kalian berdua.

Berengsek kau.

Hussein, jangan membunuh di sini!

Karena aku menyukaimu, aku tidak akan membunuhnya di sini.

Keluarkan dia dari sini.

Aku sudah melakukan semua perintahmu.

Buatkan surat perjanjiannya.

Utangmu, jika digabungkan dengan bunganya lebih dari dua juta.

Kau pikir wajah cantikmu itu layak dihargai dua juta?

Sebaiknya kau tepati janjimu.

Anggap saja, sekarang aku hanya ingin menagih bunganya.

Siapkan air hangat, aku ingin mandi.

Berengsek!

Jangan sombong.

Aku tidak pernah ditolak sebelumnya.

Tidak tahu malu!

Aku tidak suka wanita pembangkang.

Sial!

Anggap saja ini ganjaran yang sesuai untukmu.

Kembalikan dua juta itu dalam waktu dua minggu.

Kecuali, kau berhasil menipu si Dewa Judi, dan melayaniku selama tiga hari.

Sebaiknya kau pikirkan lagi.

Aku berterima kasih pada seluruh wartawan yang sudah datang ke sini.

Kapal ini kunamai sesuai nama Mentorku.

Tujuannya adalah untuk membantu orang-orang yang kesusahan.

Tapi agar tidak bertentangan dengan hukum di Hong Kong...

...kita akan mengarahkan kapal ini ke laut lepas.

Dengan ketulusan hati kami, kami telah mengundang ratusan tamu...

...untuk menikmati perjalanan selama satu hari sebelum kembali ke Hong Kong.

Semua keuntungan yang kami dapatkan di perjalanan ini, akan kami sumbangkan.

Sekarang, aku akan menunjukkan patung sang Dewa Judi.

Dia bukan Kesatria Judi.

Akulah Kesatria Judi yang sebenarnya.

Pak, kau sepertinya sengaja ingin mencari masalah.

Kau mengaku sebagai murid si Dewa Judi.

Kau tahu kini dia ada di mana? Kau bisa menghubunginya?

Mentorku saat ini sedang keliling dunia, dan kami tidak bisa menghubunginya.

Kau bohong. Saat ini, Dewa Judi sedang berada di Brazil.

Kalau kau mau, aku bisa langsung menghubunginya di sini.

Dengan begini kalian akan tahu, siapa Kesatria Judi sebenarnya.

Silakan. Aku tidak takut, karena aku yang asli.

Silakan telpon di depan patung ini.

Hati-hati dengan tipuannya.

Bagaimana kalau kita berjudi untuk membuktikan siapa yang asli?

Pasti yang menang diantara kita, dialah Kesatria Judi yang asli.

Kau berani?

Silakan.

Kau mau minum apa?

Jangan buang waktu, langsung mulai.

Baiklah.

- Nyalakan sistem pemantaunya. - Baik.

( Mulai Menganalisa )

( Persentase Kartu Ini )

Berdasarkan komputer ini, persentasenya 33 persen kartu 5 atau 34 persen kartu 7.

15 persen kartu Raja, 18 persen kartu Jack.

Datanya tidak cukup untuk melihat kartu mereka yang sebenarnya.

100.000.

Baiklah, aku ikut.

Kalahkan dia.

( Persentase Kartu Ini )

Berdasarkan hitungan komputer, 65 persen kartu 7, 35 persen kartu Jack.

Antara kartu 7 atau Jack.

Kartumu acak.

Kalau kau yakin begitu...

...mari kita buktikan.

Kau yakin?

Kau takut?

Saat ini kita bertaruh sungguhan, dan kartumu hanya acak.

Aku bisa mengalahkanmu, hanya dengan dua pair.

Tapi kebaikanku kau sia-siakan, aku ikut!

Rasakan ini dua pair!

Kenapa kau tidak segera membuka kartumu?

Kau mau menipuku?

Sepertinya dia sudah tahu kartu yang kau dapatkan.

- Aku tahu. - Akulah murid Dewa Judi yang sebenarnya.

Dan kau hanya penipu.

- Kau yang penipu! - Sing!

Tidak mungkin dia bisa mengetahui kartuku.

Pasti ada CCTV di sekitar sini.

Apa teleponnya sudah siap?

Aku tahu, kau pasti tidak mau menyerah. Tidak mungkin kau bisa meneleponnya.

- Halo? - Halo.

Halo?

Halo, apa ini Xiao Zhendao?

Halo?

- Halo? - Ada yang jawab?

Tidak ada?

Benarkah? Aku juga bisa mengaku, kemarin aku menelpon Gorbercher...

...tapi tidak ada yang jawab.

Sekarang kami sudah membuktikan.

Kau! Kau sudah kalah dan tidak bisa meneleponnya.

Kalian berdua hanyalah penipu yang tidak tahu malu.

Cepat pergi.

Tapi, besok kapal ini akan segera berlayar...

...kalau kalian mau, kalian boleh ke sini lagi untuk berpartisipasi.

Karena kebetulan, aku orang baik.

Ayo pergi.

Hujannya terlalu deras. Masuklah.

Tidak.

Biarkan hujan ini membasahiku.

Agar aku sadar, kenapa kita bisa terjebak dalam tipuannya.

Jangan menyalahkan dirimu sendiri.

Kau hanya tertipu oleh alat elektronik.

Apa yang akan kau lakukan?

Aku sudah tidak punya uang, dan tidak bisa mencari Mentor.

Besok, mereka pasti akan mengambil semua keuntungan itu dan kabur.

Aku hanya bisa menyaksikannya mempermalukan nama murid Dewa Judi.

Besok kita ke sana lagi. Selama ada perjudian, kita pasti menang.

Apa kau belum cukup malu?

Kau masih ingin melawan mereka?

Sekarang semua orang sudah mengira dialah Kesatria Judi sebenarnya.

Dan dialah murid Dewa Judi yang sebenarnya.

Mereka sudah menganggapku penipu, apa kau sadar?

Kesatria Judi itu hanya julukan.

Aku juga bisa mengaku sebagai Kesatria Judi. Lalu, apa masalahnya?

Aku tetap saja miskin.

Apa kau tidak bisa berjudi kalau kau bukan Kesatria Judi?

Aku masih bisa.

Tapi kasino itu sudah dilengkapi berbagai macam alat.

Dulu kau punya kekuatan.

Mungkin dulu kau bisa menolongku, tapi kini tidak bisa.

Mereka memang pintar, tapi kita punya rencana lain.

Aku ragu komputer itu bisa mengalahkan otak kita.

Ya, kita pasti bisa mengalahkan komputer.

Mungkin kita punya rencana lain.

Tapi saat ini kita tidak punya uang lagi. Apa kau punya uang?

Punya.

- Berapa totalnya? - 1,25 dolar.

Sekarang aku sudah tidak mungkin bisa menemui Mentor.

Dan aku tidak tahu, apa yang akan mereka lakukan pada pamanku.

Aku juga tidak tahu.

Kak Loong juga ada ditangan mereka.

Aku tidak bisa pergi ke Brazil untuk menemui Mentor.

Apa yang harus kulakukan sekarang?

Coba kau katakan.

Kalian berdua ini pria atau bukan?

Apa maksudmu?

Kami orang Kuwait, yang kehilangan tempat tinggal...

...kami tidak pernah takut.

Lihatlah kalian sekarang.

Besok aku mau kembali ke Kuwait untuk melawan Presiden Hussein.

Aku yakin, kalian tidak mungkin berani.

Orang Tiongkok penakut!

Dia benar.

Kita tetap harus berusaha.

Ya, justru karena kita sudah tidak punya uang.

Apa lagi yang kita takutkan?

Baiklah, mari kita lawan dia!

Tidak peduli seberapa keras usaha kita!

Ayo!

Maaf.

Kau rupanya.

Hei...

Di mana Xiao Zhengdao?

Tadi dia membuatku pingsan kemudian dia kabur.

Mungkin surat itu untukmu.

Sing, aku sudah memikirkannya.

Aku akan menggunakan julukan lamaku sebagai Xiao Zhengdao Chan...

...dan bertanding dengan Hussein lagi.

Sebaiknya kau jangan datang, karena kekuatanmu sudah hilang.

Mereka orang yang berbahaya.

Aku senang bisa mengenalmu.

Nanti jika aku bisa kembali dengan selamat, ayo kita minum bersama.

Apa yang Xiao Zhengdao katakan?

Dia pergi ke kapal itu sendirian.

Kenapa kau bisa ke sini?

Pihak Interpol mengabariku di Singapura.

Mereka bilang ada penipu yang datang ke sini.

Mereka ingin menghabisi Kesatria Judi.

Saat aku tiba, kakakku dan Xiao Zhengdao sudah hilang.

Aku sudah mencari kalian selama dua hari.

Di mana kakakku?

Kakakmu dan Pamanku dipaksa ikut di kapal itu.

Maka, ayo kita ke sana.

Kau sudah menang hampir 200 juta dalam waktu dua jam.

Hampir 200 juta sejak awal permainan.

Sepertinya hari ini kita bisa mendapatkan 400 juta.

Tuan, jika tidak berpakaian rapi tidak boleh masuk ke acara ini.

Bagaimana agar aku dianggap rapi?

Setidaknya harus mengenakan dasi.

Ada.

Selamat datang Tn. Xiao Zhengdao Chan.

Kemarin kau sudah kalah banyak, tapi sekarang kau datang lagi.

Aku hanya ingin main-main.

Aku memang mengadakan permainan kartu untuk amal.

Tapi minimal taruhannya tiga juta dolar.

Berarti sekitar 200 juta dolar Hongkong.

Kalau kau punya uang sebanyak itu, kau boleh ikut bermain.

Aku tidak punya.

Maka, maaf aku tidak bisa membantumu.

Kau bisa membantuku.

Pinjamkan aku 10 dolar.

10 dolar saja?

Kau berharap bisa menang sampai 20 juta dolar?

Kau mau pinjamkan tidak?

Ya. Senang bisa membantu sesama.

Ini, aku pinjamkan 20 dolar.

Maaf, pinggangku sakit, aku tidak bisa berlutut.

Terima kasih.

Apa kita perlu memanggil Tai Kun ke sini?

Tidak.

Biarkan dia memainkan satu permainan.

Terima kasih.

Besar.

Pasang taruhannya!

Buka.

Kau bisa menang dari 1 kesempatan berbanding 150!

Aku hanya beruntung. Ini punyaku.

Warna hijau tidak cocok untukku. Ini untukmu.

Permainan lain saja.

Tidak ada yang mau pasang di bandar? Maka, aku ikut dia saja.

Bagus, aku main 1.400 dolar untuk imbang saja.

Biar kulihat.

( Persentase Kartu Ini )

Analisa Komputer: 55 persen kartu 2.

38 persen kartu Ratu, 7 persen kartu 9.

- Buka kartunya. - Coba lihat.

Kartu pemainnya bagus.

Total 9, tidak masalah. Aku juga.

Bank dapat 9 angka, berarti imbang.

Beruntung, aku mau coba main lagi.

Pasang untuk hasil imbang lagi.

Luar biasa.

( Persentase Kartu Ini )

Analisa komputer: 78 persen kartu As.

20 persen kartu 4, 2 persen kartu 10.

Kemungkinan 9, 2 atau 8.

Beri dia kartu 6 agar menang dari bandar.

Baiklah. Beri dia kartu 6.

Total 6 angka untuk pemain!

Maaf.

Dua angka 8. Jadi, totalku juga 6.

Sial.

Kebiasaanku saat mengintip kartu, aku suka menyelipkan tusuk gigi.

Aku suka menaruh tusuk gigi seperti ini.

Dan kelihatannya jadi seperti ini.

Kalian pasti berpikir ini kartu As.

Cukup, aku sudah dapat 100.000 dolar lebih.

Chip 100 dolar itu untukmu saja.

Berengsek.

Menurutmu Xiao Zhengdao di mana?

Aku yakin dia ada di Kasino.

Biar aku yang mencarinya.

Saat ini, kita tidak bisa membantunya apa pun.

Apa yang terpenting, kita harus mencari kakakmu dan pamanku.

Kita berpencar saja.

Penjaganya hanya berjaga di sini, berarti Kak Loong dan paman ada di sini.

Hei.

Sing?

Meng Lo?

Kau Meng Lo atau Dewi Impian?

Aku Meng Lo.

Karena Hussein tahu kau begitu menyukai Dewi Impian...

...dia menyuruhku menyamar agar aku bisa menjebakmu dan pamanmu.

Dan membuatmu kehilangan kekuatanmu.

Jadi, benar kau.

Maaf, Hussein yang menyuruhku.

Mereka menahan pamanku dan menyiksanya.

Apa dia memotong urat nadi pamanku, mencabut kukunya...

...menaburkan garam di lukanya dan memukuli wajahnya?

Tidak.

Benarkah?

Dia sudah membuatku kehilangan kekuatanku, tapi tidak memukulinya?

Apa yang kalian lakukan?

Pamanmu orang baik. Itu salah Hussein.

Dia anak angkat dari Penjahat Judi, Chan Kan-Sing.

Dia sengaja mencari masalah dengan kalian untuk membalas dendam.

Kenapa kau membantu mereka?

Aku berutang padanya.

Seharusnya kau memberitahuku.

Utangku lebih dari dua juta dolar.

Maka, kau seharusnya beri tahu Xiao Zhengdao.

Setelah ini, dia mau...

Apa?

Apa?

Aku tidak bisa bilang.

Apa? Aku akan meminta mereka memotong urat nadinya...

...setelah itu, aku akan menuang madu di lukanya.

Setelah itu, memasukkan semut agar mereka menyerangnya!

Jangan. Dia sudah menyewa ahli sihir dari Tiongkok, Tai Kun...

...untuk menghadapimu.

Sial, kekuatanku sudah hilang.

Jika tidak, aku tidak akan takut padanya.

Apa kekuatanmu bisa kembali?

Waktu itu pernah kembali.

Saat aku bertemu Dewi Impian.

- Kau hanya perlu bertemu dengannya? - Tidak.

- Lalu bagaimana? - Lalu...

Bagaimana?

Kau harus...

Bagaimana?

Aku malu mengatakannya.

Seperti ini?

Bagaimana?

Sepertinya kekuatanku mulai kembali.

Mereka menyuruhku mengenakan dasi.

Aku pesan beberapa bungkus rokok.

Deburan ombak mengalir ke tepian

Membawa serta kebahagiaan malam ini

Sing!

- Kau kenapa? - Tolong!

Ada apa?

Dasar mesum! Orang gila! Lihat saja bekas lipstik di pipinya!

- Minggir! - Siapa dia?

Ada apa?

Dia punya kekuatan.

Si mata satu itu?

Jangan dilihat!

Dia menggunakan kekuatannya untuk menghipnotisku.

Sepertinya dia lebih kuat dariku.

Tapi jangan khawatir, kekuatanku sudah kembali.

Bagaimana?

Dengan kekuatan cinta.

Bersihkan.

Jangan, aku masih mau mencium wangi lipstiknya sebentar.

1, 2, 3, 6 angka, kecil.

Kau tahu, aku tahu, si mata satu itu tahu.

Tapi percuma, di bawah meja ini ada tombol curangnya.

Jika tombol itu ditekan, dadu ini bisa berputar lagi.

Kupertaruhkan semuanya ke angka kecil.

Hei!

Karena dadunya hancur berantakan, berarti tidak ada nilainya.

Maka, artinya angka kecil.

Aku menang.

Hei, kau kenapa? Kita menang.

- Jangan pedulikan aku. Tidak. - Kau kenapa?

Coba kulihat, ayo.

Hidungku sakit!

- Sakit sekali? - Ya!

Jangan manja, sudahlah. Anak pintar.

Karena dadu itu rusak, berarti permainan tadi dianggap batal.

Ambil uang kalian, permainannya diulang.

Permainan kartu utamanya akan dimulai lima menit lagi.

Kau tidak mungkin bisa mengubah 3 juta dolarmu menjadi 25 juta dolar.

- Hei. - Ada apa?

Kita tidak boleh membiarkan si mata satu itu mengganggu kita.

Begini saja...

Baiklah.

Meja ini lumayan juga, aku akan ikut main satu juta dolar.

Satu juta dolarnya untuk permainan nanti saja.

Kenapa buru-buru? Kau tidak bisa diam?

Permisi. Air panas!

- Kau mau lari lagi? - Ya.

Waktunya hampir habis, aku ingin pertaruhkan semuanya.

Rokok tidak diterima di sini.

- Rokok bayarannya rokok. - Tetap tidak bisa.

Tidak bisa? Maaf.

13 juta dolar, bandar lagi.

Pemain totalnya 17 angka.

Aku tidak boleh mempermalukan Mentor.

18 angka untuk bandar. Bandar menang.

Hei, kau terlihat jelek saat bertingkah seperti wanita.

Tn. Hussein.

Maaf, aku menang 25 juta dolar.

Berarti aku boleh ikut di permainan Raja Kartu.

Orang yang punya uang diatas 3 juta, boleh ikut main.

Lihat di atas sana.

Dasar payah.

Benar.

- Ayo... - Apa ini? Tidak boleh masuk.

Kenapa?

Kalian takut aku membongkar rahasianya?

- Kalian tidak boleh masuk! - Dia temanku.

- Memangnya kau siapa? - Aku temannya bosmu.

- Kau kenal bosku? - Temanku adalah bosmu.

- Mengerti? - Temannya, temanku...

Paham?

Jangan membongkar rahasianya dulu.

Kita harus mengalahkan Hussein.

- Di mana Loong Kau? - Dia sedang menyelamatkan Kak Loong.

Bagus.

Kau mau lihat?

Baiklah.

Kau yang putuskan.

Tiga juta dolar.

Kau mau menggertak di awal permainan?

Kurasa kartumu tidak terlalu bagus.

Aku tidak akan membiarkanmu menggertakku. Aku ikut.

Aku juga ikut.

Naikkan dua juta dolar lagi.

Kutambahkan lima juta dolar lagi.

Aku beruntung, jika kuikuti gertakanmu, aku merugi.

Tambahkan kartunya.

Kemungkinan besar kau hanya punya angka 9.

Maaf, kartuku flush.

Jadi, kau sengaja menjebakku untuk mengikuti permainan ini?

Kau tidak pernah menyangka, aku bisa mengalahkanmu, kan?

Mengandalkan pair saja belum cukup untuk mengalahkan kartuku.

Tapi aku diam saja, daripada dianggap hanya menggertak.

Pasti menang!

Sudah menang?

Aku mau sepatu baru!

Pasti menang! Aduh!

Dua pemain saja tidak seru.

- Tai Kun. - Ya?

- Ambil uang, dan bergabunglah. - Baik.

Sepertinya aku juga harus memanggil temanku.

Hei, kami mencarimu.

- Aku jadi pemandu sorak saja. - Tidak!

Si mata satu itu pasti akan menyusahkan kita.

Karena kekuatanmu sudah kembali, kau hadapi si mata satu itu.

- Kita pasti menang! - Kau benar!

Ada ide?

- Ini! - Baiklah!

Aku beruntung.

300 dolar untuk permulaannya.

Tiga juta dolar.

Ikut.

- Ikut. - Kau berani juga.

Bagaimana?

Tidak masalah.

Kau buka taruhannya.

Tujuh juta dolar, aku yakin kau kalah.

Aku ikut.

- Ikut. - Ikut.

Sepertinya mereka tidak punya uang lagi.

Aku punya 20 juta dolar. Aku yakin kau juga punya.

Kita buat permainan samping saja.

Baiklah. 20 juta.

Buka kartunya jika kau sudah siap.

Tiga kartu 5. Kau berharap bisa menang dariku?

Kau tidak perlu menyatakan perasaanmu di meja ini...

Bagaimana dengan permainannya?

Dasar...

Aku ingin tahu, bagaimana caranya kau mengalahkanku?

Apa aku bisa mengalahkan flush dengan flush?

Kau mau mengalahkan full house-ku dengan flush biasa?

Dasar otak udang!

Bagaimana kalau seri flush?

Seri flush!

Bukan aku yang otak udang, tapi kau yang bodoh.

Pantas saja matamu aneh.

Bagaimana mungkin? Aku sudah mengubah kartumu.

Diam. Aku sudah tahu, kau akan mengubah kartuku.

Karena itu, aku mengganti kartuku dengan kartunya Sing.

Jadi, kartu yang kau ubah itu sebenarnya kartu "K" milik Sing.

Dasar dua orang berengsek.

Kau bicara kasar, berarti kini kekuatanmu sudah hilang.

Sekarang dia yang kehilangan kekuatan.

Diam!

- Tai Kun, kau mau ke mana? - Kekuatanku hilang, aku mau pergi.

Hadirin, mohon tinggalkan kami sebentar.

Ada sedikit masalah yang harus kami selesaikan.

Tunggu aku.

Dia jadi gila.

Dasar wajah kadal tidak tahu malu.

Ini artinya dia mengajari generasi muda untuk berbuat curang.

Untung usiaku sudah 20-an.

Hussein, kau lebih jahat dari ayah angkatmu.

Memang, tapi aku lebih pintar darinya.

Dia melakukan pembunuhan sebelum sampai di laut lepas.

- Sudah di laut lepas? - Kita sudah tiba di laut lepas.

Sekarang, aku sudah bebas untuk membunuh. Bunuh dia!

Ular!

Itu hanya ilusi, ambil senjata kalian.

Tunggu!

Hei, aku akan melindungimu, segera selamatkan Xiao Zhengdao!

Sial. Tinggal satu peluru.

Sebelah sini.

Ke toilet pria!

- Jangan lari! - Hei, jangan ditarik.

Kau tidak lelah?

Lelah, tapi bagaimana lagi?

Dasar gila.

Jangan kira aku tidak bisa bertindak.

Kita impas.

Jangan bergerak!

Kau mau apa?

Kau bisa dipenjara jika membunuhku!

Kau yang mengajarkanku...

Pemerintah Hong Kong tidak berhak untuk menangkapku...

...saat kapal ini berada di laut lepas.

Kau orang baik.

- Tolong ampuni aku! - Kau takut?

Beri tahu mereka, siapa Kesatria Judi yang sebenarnya!

Hadirin...

...akulah yang mengaku sebagai Kesatria Judi.

Aku tidak tahu malu. Aku penipu.

Dialah Kesatria Judi yang asli, murid sang Dewa Judi.

Aku sengaja ingin menipu kalian.

Dia tidak bersalah, aku yang bersalah.

Bagaimana dengan utang Meng Lo?

Dia tidak perlu menggantinya.

Kau menganggapku tidak bisa mengganti uangmu?

- Kau bisa menggantinya jika kau mau. - Aku akan ganti. Ambil ini.

Apa? Hanya 1,25 dolar?

Kau tidak akan membunuhku, kan?

Enam peluru di senapan ini sudah digunakan.

Jika aku mau, aku tidak bisa melakukannya.

- Xiao Zhengdao, kau baik-baik saja? - Kak Loong, kau baik-baik saja?

- Aku baik. - Loong Kau, hubungi polisi...

...begitu kapal ini berlabuh. Hussein harus ditangkap.

Awas!

- Dia penipu, hajar dia! - Baik.

Sudah lama tidak bertemu.

Jangan salah paham.

Polisi masih khawatir pada pengikut Hussein yang belum tertangkap...

...jadi, mereka memintaku melindunginya.

Kenapa kau harus berkata seperti itu, kau malu kencan denganku?

Hei, tunggu!

Ada urusan yang ingin kubicarakan denganmu.

- Benarkah? - Benar.

- Hei! - Ada apa?

Uang yang kau menangkan dari hasil kekuatanmu tidak boleh digunakan, kan?

- Ya. - Dan uang yang kumenangkan...

...harus disumbangkan untuk orang yang membutuhkan.

Bagaimana jika kau manfaatkan uang dari hasil kerja sama kita...

...dengan membiarkanku menang?

Aku mengerti.

Kubiarkan kau menang, kau yang jadi kaya, aku yang tetap miskin.

Setelah itu, kau menggunakan uang itu untuk membantuku.

Benar. Dengan begitu uangnya akan tetap untuk kita.

Uangku, uangmu juga...

...kita bisa kaya bersama.

- Kalian yakin? - Diam!

Astaga!

Mentor.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.