All language subtitles for Wolfs.2024.720p.ATVP.WEBRip.x264-GalaxyRG

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional) Download
co Corsican
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Sial.

Sial. Ya ampun.

Sial. Gawat. Tidak.

Astaga.

Hei.

Ya ampun.

AYAH

Tidak.

JULIA IBU BISA BERI TAHU AYAH TAK APA

MEMANGGIL

Maaf,

Anda menghubungi nomor yang tak terhubung atau tidak berfungsi lagi.

Harap periksa nomornya dan coba lagi.

Halo.

Bagaimana kau mendapat nomor ini?

Katanya aku harus meneleponmu jika perlu bantuan serius.

Aku bertanya lagi, bagaimana kau mendapat nomor ini?

Katanya kau akan tanya itu,

pria yang memberinya kepadaku, dan katanya jangan beri tahu.

Itu tak masuk akal, bukan?

Bagaimana aku tahu kau bisa kupercaya

jika tak mau beri tahu pemberi nomor ini?

Katanya hanya ada satu pria di kota ini yang bisa melakukan keahlianmu.

Katanya, "Pria itu pakar. Pria itu profesional."

Katanya kita tak pernah bisa meramalkan masa depan

dan bahwa mungkin kelak, aku perlu pria itu.

Dan pria itu adalah kau.

Di mana kau?

Apa yang terjadi?

Baik. Kau yakin?

Baiklah.

Kau harus melakukan hal sulit, tetapi kau bisa, ya?

Kau harus menyalakan lampu jangan-ganggu untuk kamarmu

lalu jangan melakukan apa-apa hingga aku datang. Paham?

Bagus. Jangan keluar kamar. Jangan menelepon.

Jangan sentuh apa pun. Jangan membuka pintu.

Jangan menuang minuman untuk menenangkan dirimu.

Paham? Ulangi itu.

Baik. Bagus. Tindakanmu bagus. Ya, aku akan datang secepatnya.

Bagaimana kau tahu itu aku? Inilah caranya agar kau tahu.

Semua akan baik-baik saja. Aku akan segera datang.

Masuklah.

- Kau bicara kepada orang? - Tidak.

- Menelepon? - Tidak.

Mengirim SMS? Komunikasi apa pun?

Tidak. Aku duduk saja sesuai ucapanmu.

Bagus. Kini kau boleh minum.

Ya. Apa saja?

Sebaiknya kadar tinggi.

Baik. Kau mau sesuatu?

Tidak usah.

- Ada yang tahu kau di sini? - Kurasa tidak.

- Kau rasa tidak? - Tidak. Tak ada yang tahu aku di sini.

Kamarnya bagaimana?

Ada yang mengenalimu saat kau melapor masuk?

Tidak. Kugunakan alias. Selalu begitu.

Kapan pun aku memesan kamar hotel. Tidak saat aku...

Aku paham. Bagus.

Aku memesan kamar setelah bertemu...

Kuminta dia menunggu di lift agar tak ada yang...

Biasanya aku tak melakukan ini.

Ini bukan sifatku.

Begini. Lihat jam berapa sekarang.

Apa ada yang cemas karena tak mendengar kabarmu?

- Astaga. Aku tak... - Pikirlah.

Tidak. Biasanya aku pergi dan bertindak sesukaku.

Bagus. Aku paham.

- Kau bisa melenyapkan semua ini? - Itu sebabnya kau menghubungiku.

Dia lompat di ranjang.

Dia jatuh dan menghantam kaca.

Karierku akan tamat.

- Semua yang kubangun susah payah. - Baik.

Kami akan melakukan sesuatu yang sungguh penting.

Baik. Tak ada waktu untuk itu. Waktu kita tak banyak.

Bukan salahku. Aku tak berbuat apa-apa...

Itu tak penting. Tak penting, ya?

Tidak. Dengarkan aku.

Kau harus tahu ini. Aku tak melakukan apa-apa. Kami...

Jika tak di sini, kau di mana saat ini?

Apa maksudmu?

Jika ini malam normal,

dan kau bukan di griya tawang $10.000

dengan pelacur mati yang bertelungkup di kubangan darah dan kaca pecah,

kau ada di mana?

Dia bukan pelacur.

Di rumah. Aku akan bekerja di rumah, menonton TV dengan putriku...

Baik. Bagus. Aku ingin kau di sana sekarang.

- Baik. - Baik.

Kau di rumah. Kau duduk di sofa. Siapa nama putrimu?

Putriku ada dua.

Julia. Dialah yang akan...

Baik. Kau menonton TV dengan Julia.

Baik.

Akan kupastikan tak ada yang akan terlacak kembali kepadamu.

Seperti tak pernah terjadi. Bagaimanapun. Apa pun itu.

Terima kasih.

Itulah tugasku.

Saat aku diberi nomormu, kukira itu lelucon.

Aku tak tahu orang sepertimu sungguh ada.

Memang tidak. Tak ada yang bisa melakukan keahlianku.

Suara apa itu?

- Katakan, "Halo." - Apa?

- Katakan, "Halo." - Halo.

Lebih keras.

Halo?

Tak perlu layanan. Terima kasih.

Bisa kubantu?

Kurasa tidak.

Siapa kau?

Aku akan mengurus masalahmu. Siapa dia?

Aku meneleponnya.

Siapa yang meneleponmu?

Bajingan.

PANGGILAN MASUK

Ada apa?

Ya.

Baiklah.

Benar. Aku tahu. Aneh. Baik.

Apa?

Halo? Siapa ini?

Baiklah.

Baik. Ya.

Aku paham sekali, dan aku tak ragu

kita bisa mencapai kesepakatan yang sama-sama memuaskan.

Kurasa posisimu tak layak untuk menegosiasikan apa pun.

Ya.

Betul. Pendapatmu betul.

- Katakanlah, apa saranmu? - ...kamera ilegal di sana?

Ada kamera tersembunyi. Itu pengawasan ilegal.

Itu pelanggaran kelas D di wilayah New York.

Kau boleh pergi, Pak. Layananmu tak dibutuhkan lagi.

Ayolah.

Apa strateginya di sini?

Aku tak tahu maksudmu, Pak.

Apa?

Kau sudah memeriksa apakah dia...

Baik, kupasang pengeras suara.

Halo? Apa mereka di sana?

Bisa dengar aku?

- Ya, mereka di sini. - Bagus.

Jelas di sini ada masalah, dan waktunya singkat.

Jadi, aku terus terang saja.

Namaku Pamela Dowd-Herdry.

Ini hotelku. Sangat baru.

Sangat mahal, dan kepentinganku sangat jelas

untuk meminimalkan jenis kontroversi apa pun yang terkait.

Aku sangat paham stigma yang bisa melekat pada gedung,

dan aku tak tertarik menjadi pemilik hotel tempat jaksa distrik,

yang sangat kukagumi, dan sangat kupercayai hasil kerjanya,

- ditemukan dengan pelacur tewas. - Dia bukan...

Maka, kupekerjakan orang yang kukenal

dari teman terpercaya untuk urus masalah ini.

Dia pakar. Dia yang terbaik.

Singkatnya, tak ada lagi orang yang bisa melakukan keahliannya.

Terima kasih, Pam.

Tentu, kepentingan tamuku juga berisiko

dan dia merasa perlu memastikan kepentingannya terlindungi,

itu sebabnya dia bersikeras menggunakan orangnya sendiri

untuk memastikan agar masalah ini lenyap.

Saat kita mencapai jalan buntu

tentang siapa yang lebih cocok merampungkan tugas ini,

kami memutuskan, satu-satunya tindakan adalah kalian bekerja sama

untuk membersihkan masalah yang sangat berantakan ini.

Halo?

Tidak.

Pam, aku ingin bicara.

- Tolong, tunggu. - Tidak.

Tunggu sebentar.

Kau bercanda. Ini lelucon.

- Kau tak boleh pergi. - Bukan begini cara kerjaku.

- Entah apa dia bisa kupercaya. Aku tak... - ...kenal dia.

Tentu, mungkin. Atau mungkin dia orang gila.

Kau tak mengenalku. Bagaimana bisa percaya?

Memang, tetapi aku percaya orang yang memberiku nomormu...

Hati-hati.

Ucapannya bernilai, dan katanya kau bisa dipercaya.

Pam, aku tak paham kenapa ini terkait denganku.

Kau meminta etika kehormatanku? Bukan begitu cara kerjanya.

Bukan begini cara kerjaku.

Katanya jika kau menerima tugas, kau berjanji.

Janji adalah ukuran sifat pria.

Tidak seperti ini.

Kau juga terekam.

Lupakan aku.

Jika tak menyelesaikan tugas, dia punya rekaman dirimu.

Pam...

Aku tahu kau bisa melihatku.

Baiklah.

Perasaanku pun sama.

Baik. Sekarang bagaimana?

- Aku perlu tahu... - Pertama, aku perlu...

Aku perlu tahu semua tindakanmu malam ini.

Sejak kapan?

Sejak situasi beralih dari malam normal hingga begini. Duduk.

Baiklah.

Kuhadiri acara tak jauh dari sini.

Setelah itu usai, aku ingin minum. Aku suka bar di sini.

Aku baru masuk

dan menuju toilet saat anak ini mulai bicara kepadaku.

Dia lucu, dan dia menawan, tampaknya tak cocok di sana.

Aku berkata, "Kau mau memesan kamar?"

Itu separuh lelucon, separuh bukan.

Katanya, "Tentu."

- Kalian tak pernah bertemu? - Tidak.

- Tak ada yang melihat kalian? - Tidak.

Lalu kalian naik.

Entah kenapa kau harus tahu semua ini.

Aku harus tahu perlu apa untuk melenyapkannya.

- Kita. - Apa?

Kita perlu tahu.

- Jadi, kau naik. - Kami minum dan bercinta...

Maaf. Kapan kau memesan kamar?

- Sebelum aku naik. - Sebelum dia naik.

Sebelum kau bertemu anak itu atau setelahnya?

Setelah kami bertemu. Sebelum aku naik.

Baik, terima kasih. Aku tak tahu. Lanjutkan.

Jadi, kalian minum dan bercinta.

- Apa ada pembicaraan soal uang? - Dia bukan pelacur.

Tidak. Hei! Aku sudah... Astaga.

Ini sudah cukup memalukan bagiku.

Aku tak paham kenapa aku harus menjawab dua kali.

Kau tak harus menjawab semua dua kali.

Mungkin kau harus begitu.

Astaga, apa kau...

Astaga, apa aku tahu yang sudah kalian bicarakan?

Tidak. Aku mengejar ketinggalanku.

Jadi, kau membawa bukan-pelacur usia sekitar 20 tahun ini ke kamarmu.

Kalian mulai minum, bercinta, dan...

Dia pergi ke kamar mandi, keluar,

dia mulai melompat di ranjang,

dan jatuh mundur ke gerobak bar, dan tewas.

Apa ada orang yang cemas tak mendengar kabarmu malam ini?

Harus mandi.

Ambil barangmu, dan kau akan pergi.

Aku berlumuran darah.

Kau akan pulang dan menemui keluargamu,

seolah-olah tak terjadi apa-apa.

Apa?

Apa kebetulan kau...

Kau akan menghubungiku untuk mengatur...

Tenang saja. Saat itu akan tiba, tetapi tak sekarang.

Apa yang akan terjadi padanya?

Pada siapa?

Benar.

Baiklah.

Hei, Sayang, kau sudah makan?

Aku akan pulang. Aku bisa membeli makanan.

Sedang apa kau?

Aku akan memberimu manfaat keraguan,

membiarkanmu membersihkan tanpa diawasi.

Tanpa diawasi? Wah, itu kehormatan.

Kurasa kau sangat salah paham

mengenai situasi ini.

- Benarkah? - Ya.

Aku ingin rampungkan tugas dan pulang.

Di sanalah kau sangat salah paham.

Jelaskanlah.

Tugasmu adalah memastikan

bahwa kekacauan di belakangmu tak bisa terlacak kembali ke klienmu,

untuk itu, kau harus memastikan kekacauan itu lenyap sepenuhnya.

Seolah-olah tak pernah terjadi. Sulit.

- Untukmu, mungkin. - Itu tak berkaitan.

Sebab tugasku adalah memastikan kau melakukan tugasmu

agar kekacauan itu tak bisa terlacak lagi ke hotel ini.

Kurang sulit.

Jadi, kau akan duduk saja di sana dan menyeruput sodamu?

Aku akan...

mengawasi.

Persetan denganmu.

Jangan sentuh apa pun.

Swetermu akan kena darah.

Sweterku tak akan terkena darah.

Terima kasih.

Buang mayatnya. Rampungkan tugas. Awasi.

Sial.

Kataku jangan sentuh apa pun.

Sial.

Akan jadi malam yang melelahkan.

Tunggu, aku tak paham.

Kenapa kau tak bisa membuang narkobanya juga?

- Polisi temukan anak mati di taman... - Tak ada alasan anak...

- ...overdosis... - ...seperti itu berkeliaran...

- ...ada pertanyaan. - ...dengan produk...

berarti mungkin curian.

Jadi, siapa pun pemiliknya akan mencarinya. Menurut pengalamanku,

kau tak ingin orang seperti ini datang ke hotelmu!

Aku tak paham ucapan kalian.

Aku menyadari, siapa pun pemiliknya akan penasaran tentang keadaan narkoba.

Aku tak mau siapa pun itu muncul di sini,

dan jelas aku tak mau bertanggung jawab

membuang produk mereka ke sungai atau menyerahkannya ke polisi.

Jadi, ini tindakan kalian.

Cari tahu siapa pemilik narkoba itu,

dan kembalikan kepada mereka.

- Tidak. - Pam, ini tak...

Ini tak semudah itu.

- Bisa saja ada pelacak di sana. - Pelacak.

Bukankah mereka sudah datang ke sini jika ada...

Bagaimana kita mencari tahu pemiliknya?

Mayat dahulu, lalu narkoba.

- Jika aku jadi kau... - Kau bukan aku.

Aku tak mau ini berlangsung semalaman.

Tak akan.

Baik, jadi...

Kini kau mau terlibat? Persetan.

Kau mau membantu?

Hubungi saja bosmu dan minta dia kosongkan tempat parkir.

Kita bisa turunkan mayat dengan terpal.

Kau bercanda.

Kau harus hapus kamera pengawasan. Tak ada yang akan lihat.

Aku paham.

- Apa? - Tak ada.

Untunglah bagimu, aku datang, kalau tidak, kau ketahuan.

- Aku paham. - Kuhemat waktu.

Tak apa. Kau tak harus menjelaskan.

Kau tak bisa. Aku akan membantumu.

- Aku bisa. - Sungguh?

- Ya, sungguh. - Lakukanlah.

Mungkin aku tak mau kau melihat caraku.

Terserah kau.

Jangan hubungi bosmu. Jangan menelepon.

Masa bodoh. Aku tak perlu bantuanmu.

Baik, akan kulakukan.

Itu teknik yang bagus.

Tampak seperti mayat di kereta koper.

Aku belum selesai.

Ini saranku.

Kau tak perlu membantu. Aku tak perlu kau membantu...

tetapi jika kau membantu, akan lebih cepat.

Aku menikmati pertunjukannya.

Terima kasih.

Senang membantu.

- Bajingan. - Bodoh.

Tunggu.

Apa?

Tempat parkir ada di sistem keamanan lain.

Kau bajingan.

Aku ingin tahu cara pria tua melakukannya,

tetapi rahasiamu aman denganku.

Yang merah.

Apa?

Itu akan memberimu tambahan lima menit.

Aku tak perlu tambahan lima menit.

Ada kunci jarak jauh.

Aku punya kunci jarak jauh.

Jangan ikut campur.

Kerucut jalan di gerbang?

Rahasia keahlian lagi?

Ayo hapus rekaman dan pergi.

- Tidak. - Tidak?

Walau aku ingin melihat

caramu mengatasi situasi berikutnya tanpaku,

ini harus kulakukan sendiri.

- Maaf? - Aku akan hapus rekamannya.

- Aku cuma tak mau kau melihat. - Ini jalan dua arah.

Aku diperintahkan untuk memastikan kau tak melihat ini.

Oleh siapa? Bosmu?

Dia tak mau kau di sana.

Ada kamera tersembunyi di hotel mewah baru.

Kalian menjalankan tipuan apa?

- Kau tak boleh ke sana. - Kenapa?

Kau merahasiakan apa? Siapa kau?

Siapa aku? Persetan itu. Siapa kau?

- Pemecah masalah? Pembersih tua? - Ya.

Kau tak boleh masuk ke sana.

Itu bualan besar dari polisi hotel.

Bualan besar dari klub audiovisual.

Aku terekam, tak mau pergi hingga dihapus.

Tak ada yang peduli kau terekam.

Mungkin ini jebakan?

- Sudahlah. - Bagaimana?

Jebakan bagaimana?

Mungkin bosmu sengaja mengutus anak itu.

- Lanjutkan. - Ya.

Dia utus anak itu sebab tahu dia punya narkoba.

Atau dia beri anak itu narkoba dan menjebak mereka.

Mereka bersenang-senang,

minum-minum, tertawa, semua itu.

Namun, dia ingin anak itu overdosis, dan merekamnya.

- Ya? - Ya.

Lalu bersepakat dengan bosku

untuk membersihkan semua ibarat tak pernah terjadi.

Namun, dia simpan rekamannya.

Untuk apa?

- Untuk pengaruh, Bodoh. - Pengaruh untuk apa, Tolol?

- Kau yang katakan. - Itu tak masuk akal.

- Kau terlalu sering tonton film. - Bodoh.

Aku...

- Sial. - Berengsek.

- Sial. - Berengsek.

Kalian baik-baik saja?

- Semua lancar. - Ya.

Tak masuk akal, dia tak bernapas.

Kau tak periksa nadinya?

Sudah kuperiksa nadinya. Dia tak punya nadi.

Namun...

Kau tak periksa nadinya, kau tak bertanya.

- Itu tindakan pertama. - Nadinya tak ada.

- Namun... - Namun, kau tak bertanya.

- Kau tak katakan, "Apa dia mati?" - Kukira tak perlu.

Kau kira nadinya tak kuperiksa?

Tidak. Kurasa kau gelisah. Kurasa kau lupa.

Kau memang kelas rendahan.

Jika ada situasi,

melihat dua orang berdiri, satu di lantai.

Jangan bertanya, "Apa ada nadinya?"

Jangan bertanya, "Apa dia mati?" Kau periksa sendiri.

- Terima kasih, Sensei. - Ya.

Mungkin karena narkobanya. Entahlah.

Itu cuma bualan malas. Caranya tak seperti itu.

Dia tak mati.

Tampaknya tidak.

- Akuilah kau tak memeriksa. - Diam. Aku coba berpikir.

Itu narkoba ajaib

- yang membuat detak jantung lambat... - Bisa tutup mulut?

Tak penting.

Kini, situasinya berbeda.

Tunggu, ini bagus.

Pikirkanlah. Dia pasti tahu.

Kita harus pergi. Harus bergegas.

Bukan jaminan.

Aku tahu, tetapi kita harus pergi sebelum otaknya menjadi saus apel.

Mungkin sudah jadi saus apel.

Aku tak mau pergi dari pintu ke pintu

seperti Saksi Yehuwa

berusaha mengembalikan empat bungkus entah-apa-yang-membuatnya-begitu.

- Itu rencanamu? - Kucoba menyampaikan sesuatu.

Itu layak dicoba.

Aku setuju.

Baik. Aku kenal seseorang.

Sama sekali tidak.

- Apa? Orangku bagus. - Persetan. Pencabut peluru.

- Cuma akan merusak situasi. - Kita gunakan orangku.

Hanya bisa dengan orangku. Eksklusif.

Mobilku, orangku. Persetan denganmu.

Persetan...

Dan?

Tak diangkat. Kita pergi ke mana?

Pecinan.

Belok kanan dari pintu keluar, lalu itu...

Aku tahu arah ke Pecinan.

- Geng Albania. - Apa?

Geng Albania dahulu punya ini.

Ya, aku tahu.

Pengiriman besar heroin murni

menuju Eropa mendadak menghilang.

Aku tahu.

Bungkusan itu dari pengiriman mereka?

- Kau saja yang kembalikan. - Tidak.

Aku tak tertarik untuk dibunuh.

Geng Albania akan membunuh

dan telah bunuh siapa pun yang dicurigai mencuri pengiriman itu.

Jadi, siapa pun pelakunya, mengirim anak ini sebagai umpan

untuk merayu klienku agar mendapat kuasa politik,

mengganyang geng Albania agar tak ada saingan yang menjual narkoba.

Jadi, mereka mengirim anak itu dengan ransel.

Mereka ingin dia pakai narkoba, agar overdosis,

dan...

Tidak, tak masuk akal.

Lanjutkan. Akhirnya kau akan tahu.

PANGGILAN MASUK

Belok kiri di Division.

Kau harus dapat izin dahulu.

Baiklah.

- Tak bisa masuk begitu saja dengan pria... - Baik.

Tidak malam ini.

Bukan soal itu.

Pasti bukan.

Ayolah. Ini serius. Aku perlu bantuan.

Bantuan seperti apa?

Nah...

Jadi, ya.

Tunggu, aku turun.

Bagaimana nasib anak itu setelah dia bicara?

Jika dia bicara, tugasku selesai.

Jadi, pria satu lagi membunuhnya?

- Kau menjaminnya? - Dia lumayan.

Aku tak akan menjaminnya. Tak bisa sejauh itu.

Dia...

Dia seperti salah satu orang itu. Paham?

Tidak, aku tak paham. Orang mana?

Orang yang mengira dirinya genius.

- Tahu segalanya. - Ya, aku tahu tipe itu.

Aku tak mau tolong anak ini agar bisa kaubunuh...

Dia pernah sukses, ketika dia jadi orang yang dituju,

pria populer, tetapi itu sudah lama berlalu,

dan belum ada yang beri tahu dia.

Mungkin tinggal di apartemen satu kamar,

menonton film hitam putih tua hingga tertidur sebab dia kesepian.

Halo, June.

Halo.

Kau tak angkat telepon.

Aku tahu.

Apa ada anak di bagasimu?

- Sejak kapan... - Tak seperti perkiraanmu.

Katamu kepadanya ini eksklusif.

Apa ada lagi?

Apa ada anak overdosis di bagasimu? Sebab jika ada, maka ini...

- Dia sebelumku? - Ya.

- Ya? - Ya?

- Tidak. Ya? - Ya.

Apa kita bisa mengurus anak overdosis dahulu, Dasar Orang Gila?

Kalian berdua harus hati-hati.

Ada orang di luar sana. Jika melihat kalian bersama...

Katamu hubungan kita eksklusif.

Apa? Katamu begitu!

Sial.

Ayo, bawa dia masuk.

- Hati-hati punggungmu. - Ya.

Baik. Pada hitungan ketiga. Siap?

Tunggu. Satu, dua, tiga, ya? Bukan satu, dua, tiga, mulai?

- Tentu tidak. - Bagus.

Satu, dua, tiga.

Kau tahu dia pakai apa?

- Tidak. - Aku tak yakin.

Pasti campuran narkoba buruk

atau sesuatu yang sangat murni.

Seolah-olah dia tak punya detak jantung.

Banyak paramedis akan menyatakan dia mati.

Sungguh?

- Dia perlu bicara. - Biar kuperjelas.

Katamu seperti dia memakai narkoba ajaib?

- Berapa banyak... - Membuat detak jantung begitu lambat...

Ada berapa badut yang datang ke sini?

Ini bukan saat yang tepat.

- Kenapa kau tak angkat teleponku? - Kalian keluar. Sekarang.

Keluar.

Kau sudah tahu?

Aku curiga.

Ya.

Tak pernah lihat siapa pun, tak dengar apa pun, jadi aku tak bertanya.

Agar kau merasa lebih baik, dia yang terbaik.

Tentu.

Orang pertamaku, aku datang untuk mengeluarkan peluru dari pinggang,

dan dia ingin membiusku.

Kataku, "Tidak mau."

Ternyata,

dia mengeluarkan ginjal orang tanpa bertanya.

Orang bangun dan berpikir,

"Hei, bekas luka itu besar untuk mengeluarkan peluru."

Dia menyelamatkanku.

Yang benar saja.

Ya. Pecahan peluru, tiga senti dari tulang belakangku.

Dua pekan di rubanah untuk pulih.

Bulan Oktober?

Mungkin. Bagaimana kau tahu?

Aku ada di sini.

Yang benar saja.

Aku penasaran kenapa aku tak boleh mendekati gudang.

- Dia yang terbaik. - Memang.

Kurasa aku tahu hubungan kami tak eksklusif.

- Kebetulan sekali, ya? - Benar?

Kita berdua tidur dengan dokter Pecinan yang sama.

Apa kau... kalian tidak...

Tangkap dia!

Belok kanan di...

- Ambil... - Aku tahu.

Halo.

Kembali ke sini!

Jangan lari!

Sial.

Berengsek!

Masuk ke mobil.

Bajingan.

Hei, Keparat! Sedang apa kau?

Ayo.

Siapa kalian?

Tidak!

- Ayolah. Kami cuma perlu... - Tidak!

Hei! Bodoh!

Tangkap.

Minum dua pil yang besar dua jam sekali

dan satu yang kecil tiap enam jam. Dan banyak minum air.

Juga, aku tak tidur dengannya. Dia cuma main-main denganmu.

Ya, aku cuma main-main denganmu.

Tidak.

- Ayolah. Kau punya rumah. - Mungkin punya.

Tentu punya.

Hentikan!

- Tahu kau terdengar seperti apa? - Apa?

Kau seperti orang yang punya rumah.

Kau punya rumah. Ayo pergi ke rumahmu.

- Kita tak pergi ke rumahku. - Kenapa tidak?

Itulah inti punya rumah.

Tepat.

Baiklah.

- Apa-apaan? - Pakai baju.

Ayo.

Ayo.

Agar semua yang datang ke Kristus boleh masuk ke kerajaan-Nya.

Perlu kamar.

- Sarang Cinta, Malam Arab, atau Safari? - Maaf?

Sarang Cinta, Malam Arab, atau Safari?

Sarang Cinta, Malam Arab minimal tiga jam.

Safari bisa kusewakan per jam.

Ke dalam keluarga Tuhan dan dikuduskan.

Dia bukan pelacur.

Duduk.

Jadi, bagaimana kau mau melakukannya?

Sebab aku tak pernah melakukan ini...

Kurasa aku bisa mulai, lalu...

- Lalu aku bergabung bila terasa tepat. - Ya. Kecuali kau mau mulai lalu...

Tidak. Kau saja. Kau bisa. Aku akan ikuti tindakanmu.

Baiklah.

- Dari mana... - Jadi...

Dari mana narkobanya?

Aku tak tahu maksudmu.

Baiklah.

- Dari mana kau dapat narkoba? - Aku tak tahu.

Aku tak tahu apa-apa tentang narkoba.

- Dari mana kau dapat narkoba? - Aku tak...

Bicaralah, Keparat.

Tunjukkan dia sisanya.

Ayo.

Sekarang.

Itu bukan milikku.

Kita bisa bicara di lorong sebentar?

Kenapa kau bertindak begitu?

Kau tanyakan hal sama tiga kali. Kukira...

Dia tak tahu kita bawa narkoba. Dia panik. Kita punya pengaruh.

Dia tak panik. Dia tak mau bicara.

- Kau tak tahu itu. - Berapa kali kau akan bertanya?

Sepuluh kali? Dua puluh kali... Hei!

Ada keahlian untuk ini yang mungkin tak kausadari.

Keahlian mengocehkan hal yang sama?

- Baik. Mari lihat teknikmu. - Aku tak mau tunjukkan teknikku.

- Kau tak punya teknik. - Tidak.

Tidak? Jadi, kenapa?

Kau akan mencurinya.

- Akan kucuri? Kau pikir begitu? - Itu dia, mengulangi lagi.

Kau tak punya teknik.

Punya, agak lebih aktif

daripada mengocehkan hal yang sama.

Kutunjukkan trik gerobak koper.

- Kau tak tunjukkan. Aku melihatnya. - Ya, kau suka. Kau akan gunakan.

- Mungkin. - Ayolah. Akuilah. Itu keren.

- Baiklah. Itu keren. - Ya, itu keren.

Jadi, apa tindakan berikutnya?

Apa kita bisa langsung lakukan?

Apa maksudmu?

Aku tak mau ada di sini.

Kau rindu rumahmu?

Aku merasa tertular sifilis berdiri di sini. Langsung saja.

- Sungguh? - Kenapa tidak?

- Ayo lakukan langsung. - Bagus.

Dari mana kau dapat narkoba?

- ...narkoba, Bajingan? - Lagrange!

Namanya Lagrange!

Lagrange?

- Kenapa dia? - Itu narkobanya, atau tadinya miliknya.

- Bohong. Bagaimana? - Apa maksudmu? Bagaimana apa?

Bagaimana orang sepertimu terlibat dengan

- pengedar terpenting? - Ya.

Aku bukan pelacur. Bukan begitu yang terjadi.

Dari mana narkobanya?

Persetan! Aku sedang menjelaskan. Biar kujelaskan, ya?

Boleh minta segelas air?

- Dia memang menyuruhnya minum. - Ya, aku tahu.

Baiklah. Masa bodoh.

Terima kasih.

Ya.

Terima kasih.

Astaga.

Ya ampun.

Baiklah.

Jadi, aku bangun...

Ya ampun. Apa perlu mulai bercerita dari sana?

- Biarkan dia bicara. - Ya.

Kuceritakan semua agar jelas.

Apa perlu tambah perincian

kau terbangun jika saja tak jelas?

- Ya. Begitulah kumulai hariku. - Semua orang begitu!

Maksudnya pikirkan sebentar tentang apa

hal terpenting dari kisah ini dan abaikan yang lain.

- Aku... - Hei!

Pikirkanlah.

Baik.

Jadi, aku bangun tidur

aku turun dari ranjang dan...

kamarku berantakan dan aku tak pengar,

tetapi aku masih merasa... Sial!

Sial! Maaf. Baik. Ya.

- Aku pergi dari rumah dan... - Tidak.

Biarkan dia ceritakan semua. Dia tak bisa.

- Tidak, aku bisa. - Kau tak bisa.

- Ya, aku bisa. - Cepatlah, ya?

- Baik. Ya. - Apa yang terjadi?

Ya. Jadi, aku...

Aku bukan mau mencari uang, atau menjadi pengedar narkoba.

Aku berkuliah di Pace. Aku berusaha belajar bisnis.

Beberapa mata kuliah bisnis karena

orang akan coba menipu kita dengan soal hukum kecuali

kita tahu cara kerjanya. Jadi, aku kuliah,

dan ada pria yang tampak jujur.

Dia dari dunia kelam tetapi juga pintar.

Dia sungguh genius dan hari ini ibunya wafat.

Dia mendapat telepon di kelas dan ibunya ada di rumah sakit,

dan dia wafat karena tak diberi

obat yang benar atau sesuatu.

Mereka buat kesalahan.

Jadi, kataku, "Aku akan membantumu."

Dia memercayaiku. Kami bergaul bersama.

Sudah kukatakan dia jujur, tak main-main.

Jadi, katanya...

katanya, "Aku harus antar ini untuk bosku, kini tak bisa."

Kataku, "Baiklah, akan kulakukan."

Biasanya aku tak melakukan ini.

Jadi, dia memberiku narkobanya dan kataku, "Apa kau serius?"

Namun, ibunya baru wafat, jadi kataku, "Baik. Akan kulakukan."

Jadi, aku membuang waktu sebelum mendapat alamat antaran.

Kuakui, aku merasa keren,

tetapi juga takut,

dan hatiku berdebar sangat keras.

Jadi, aku pergi ke bar ini, bar hotel,

dan aku merasa percaya diri karena

aku melakukan hal penting, dan orang memperhatikan.

Para gadis memperhatikan,

mendadak aku jadi orang menarik.

Aku bahkan tak mandi pagi ini.

Tadi aku mencoba mengatakannya.

Ada tiga gadis yang mulai bicara kepadaku, gadis cantik.

Aku menjadi orang menarik.

Mereka membelikan minuman karena aku tak punya uang.

Lalu, aku keluar dari kamar mandi,

dan wanita lebih tua ini, cantik,

langsung berkata, "Kau mau naik ke kamarku?"

Kataku, "Ya. Tentu." Ini hidupku. Kenapa tak dinikmati?

Ibu Diego baru wafat,

jadi, aku memikirkan hidupku,

dan aku berpikir bahwa itu bisa lenyap kapan saja.

Jadi, kami berpesta dan aku...

Aku cuma ingin tahu bagaimana rasanya.

Ibarat ada keajaiban yang dibungkus plastik,

itu memancar, dan aku cuma ingin mencobanya.

Hanya sedikit sekali karena...

Hari ini hari pertama aku merasa keren.

Kalian tak akan paham.

Kalian pria terkeren yang kulihat.

Namun, aku sangat hati-hati.

Kalian tak akan tahu aku mencobanya, tetapi kucoba.

Kucoba, dan tak membuatku merasa keren.

Hanya...

Apa itu saja?

Kurasa begitu, ya.

- Baiklah. - Di mana alamat pengantarannya?

- Entahlah. - Mana teleponmu?

Kusembunyikan.

Di hotel?

- Tidak, sebelum aku pergi. - Kenapa?

Jika ada masalah. Dompet juga kusembunyikan, jika saja aku ditangkap.

Bagaimana kau mendapat alamat antaran jika tak punya teleponmu?

Penyeranta.

- Penyeranta? - Di mana penyerantamu?

Aku tak punya penyeranta. Memang ini era 1990-an?

Siapa punya penyeranta?

- Tak ada. - Tak ada yang punya?

- Tidak. - Di mana itu?

Diego tinggalkan di tempat kerjanya.

- Di mana? - Namanya Club Ice.

Dahulu namanya sesuatu... Palazzo. Entahlah.

Kadang dia jadi pramutama bar.

Diego ini, kenapa dia memercayaimu?

Kurasa karena kami berteman.

Menurut kalian belum terlambat?

Lebih awal, terlambat. Kau terima tugasnya, kau berjanji.

Kau akan rampungkan.

Benar.

Kalian lihat itu?

TANGGUH MEMBASMI KEJAHATAN PILIH LAGI MARGARET KRETZER

Sudah berapa lama kalian bekerja sama?

- Sudah lama. - Aku tak menghitung lagi.

Sungguh?

Ya, itu terlihat.

- Sungguh? - Ya.

Ya, gaya pakaian kalian sama,

cara bicara yang sama.

Kalian seperti orang yang sama.

Semua akan baik-baik saja setelah kuantar, bukan?

Ada ujian penting pekan depan.

Aku ingin lulus.

Kau tak perlu mencemaskan itu.

Aku akan cepat.

- Kau lucu. - Apa? Tidak, aku tak akan kabur.

- Kalau begitu... - Serius. Aku bisa masuk.

Kuambil penyeranta. Akan lancar.

Ya? Aku berjanji. Apa?

Apa itu...

Geng Kroasia.

Kenapa kalian saling memandang?

Kau lakukan hal itu di Gowanus, bukan?

Tidak. Kenapa kau katakan begitu?

Entah kenapa dia tak menghubungiku. Saat kudengar

- itu kacau balau... - Itu tak kacau balau.

Jadi, Gowanus itu ulahmu?

Apa yang terjadi?

Entah bagaimana mayatnya.

Kau tahu ledakan itu di gudang bukti di Bronx?

Yang benar saja. Itu kau?

Ya.

Itu bulan Oktober.

- Kau sedang pulih di rumah June. - Ya.

Sial. Dia memperingatkanku malam ini.

Katanya ada orang di luar sana yang, jika melihat kita...

Kita harus ambil penyeranta. Bisa kita ambil?

- Sebab tak bisa. - Kenapa tidak?

Karena narkoba? Takut digeledah?

Salah satu di sini menjaga narkoba.

- Aku tak mau dia jagai narkoba. - Aku juga.

Kau tak percayai mitramu?

Di mana itu?

- Apa? - Penyerantanya.

Ada di...

Tidak. Aku tak mau beri tahu.

Jangan main-main, Nak.

- Di mana penyerantanya? - Katakan ada apa.

- Di mana? - Kenapa tak beri tahu?

- Tak bisa. - Kenapa tak bisa?

- Sebab tak bisa. - Kenapa?

- Sebab kami... - Kami bukan mitra.

Apa?

Profesi kami menuntut kerahasiaan.

Semacam monastisisme.

Itulah yang kupelajari.

Sama.

Bila menyewa seseorang untuk melakukan keahlian kami,

kau ingin seseorang yang bekerja sendirian.

Tanpa koneksi. Tanpa kesetiaan yang bertentangan.

Kau hanya bisa dipercaya bila tak percaya orang.

Di gedung itu ada orang yang sangat menakutkan,

orang kejam yang ternyata pernah mempekerjakan kami pada masa lalu.

- Jika dia melihat kami bersama... - Jika dia curiga

aku tahu yang dia tahu...

Dan aku tahu yang dia tahu.

Maka dia, tanpa ragu, akan langsung membuat kami terbunuh.

Atau dia membunuh kami.

Jadi, kalian mitra rahasia?

- Kami bukan mitra rahasia. - Kami bukan mitra. Ya ampun.

Baik. Ini yang akan terjadi.

Kita bawa narkobanya.

Dan kita masuk.

Tak ada yang pergi sendiri.

Kau ambil penyeranta itu.

Aku akan berdoa agar Dimitri tak melihat kita bersama.

Rencana paling bodoh dan berbahaya.

Kalian sungguh bukan mitra?

Tangganya sangat dingin.

Apa?

Tangganya sangat dingin.

Diam.

Aku teman Diego, dan dia meninggalkan sesuatu untukku.

- Apa? - Penyeranta.

Diego tinggalkan penyeranta untukku. Penyeranta hijau.

- Baiklah. - Baik. Terima kasih.

Tidak. Penyeranta. Ada di sana.

Kau bisa...

Kenapa kau ada di balik bar?

- Tak lakukan apa-apa. - Kenapa di balik bar?

Aku bicara dengan pria itu. Tidak.

Baiklah.

Hei!

Hei!

Hei!

Hei!

Hei!

Hei!

Hei!

Hei!

Hei!

Hei!

Hei!

Hei!

Hei!

Hei!

Hei!

Hei!

Tidak! Teman-Teman, tenang!

Ada apa, Dimitri?

- Siapa bajingan ini? - Siapa kau?

Teman-Teman, tak apa.

Semuanya, tenang. Berikan itu.

Senjata cuma untuk pesta pernikahan.

Maaf, Sayang. Aku minta maaf...

...akan kuperbaiki.

Tenanglah.

Mereka teman.

Ya.

Kemarilah, Kalian.

Kemarilah.

Mulai musiknya.

Hei.

Kalian datang ke pernikahan putriku tanpa diundang dan keluarkan senjata?

Aku ingin memberi hormat.

Tunggu, Dimitri, kau kenal bajingan ini?

Percaya atau tidak, kalian menawarkan layanan serupa.

Dengan segala hormat, Dimitri, aku sangat meragukan itu.

Jika aku melihatmu lagi, Penggertak...

Hei!

Ayo pergi!

Baiklah.

Biarkan dia. Tetap di sini. Minumlah.

- Aku harus bekerja. - Baiklah.

Profesional.

Penyendiri.

Maaf gangguannya.

Selamat atas pernikahan putrimu.

Sayang.

Hei, Sayang.

Kemarilah. Hei.

Kawan...

Hei!

Lihat?

Sudah kukatakan aku tak akan kabur.

Belum ada alamatnya.

Masih ada waktu.

Aku pun ingin rampungkan tugas.

Ayo.

Bisa tutup mulutmu saat mengunyah?

Baiklah.

Bagaimana kalian mulai melakukan hal ini?

Pekerjaan kalian.

Memang apa pekerjaan kami?

Memperbaiki hal-hal.

Jika ada masalah, atau jika seseorang

membuat kesalahan, kalian memperbaiki, bukan?

Kira-kira begitu.

Terima kasih.

Sayang kalian tak bisa bekerja sama.

Pasti pekerjaan kalian membuat kesepian.

Aku mau pipis.

Lagrange punya mata-mata dengan Dimitri, atau Diego bekerja untuk kedua pihak.

- Kau masih mengira ini persekongkolan? - Kisah Ibu Diego yang mati itu bohong.

Mereka menjebak anak itu. Kenapa? Bagaimana Lagrange dapat pengiriman itu?

Apa pentingnya?

- Kau tak penasaran? - Tak mengubah tugas.

Kau tak penasaran?

Akan jadi informasi berharga.

Kita harus cari tahu cara menanganinya. Kita tak bisa tahu segalanya.

Baik. Maka, salah satu dari kita akan mengantar.

Mungkin kita bisa tahu situasinya.

Jika dapat alamatnya.

Jika dapat alamatnya, salah satu dari kita mengantar.

Tidak.

Dia yang harus mengantar.

Apa? Tidak.

Dia bisa kabur, mengaku. Terlalu banyak risiko dengannya.

Dia harus melakukannya.

Aku tak paham.

Kadang tugas bisa beres sendiri.

Jadi, anak itu datang dan ditembak?

Sebab kau tak mau melakukannya?

Aku tak mau melakukan apa pun yang tak harus. Terutama itu.

Atau kau takut.

Jika anak ini tak pulang, dia akan dicari.

Dengan begini, dia ditemukan.

Tidak. Aku paham.

Kau bisa biarkan dia hidup.

Katakan saja kau salah.

Anak itu mengantar, dan dia tetap hidup.

Lalu...

Kau tahu kenapa ada banyak penembak dalam regu tembak?

Aku tahu.

Jadi...

- Bukan permintaan. Tak perlu bantuan. - Ya...

Aku menawarkan.

Agar kau bisa katakan aku tak ahli lagi?

Kepada siapa?

Maksudku aku paham...

Aku tahu apa rasanya melakukan itu.

Mungkin dengan begini akan...

agak kurang...

ya.

Kau tahu tempatnya?

Apa ada pesan?

Syukurlah.

Astaga. Kukira kita akan mati.

Astaga. Terima kasih.

Terima kasih.

Sekarang bagaimana?

Kau masuk.

Kalian tak ikut?

Kau terima tugas itu. Kini harus rampungkan.

Benar.

Kalian akan menungguku?

Baiklah.

Aku akan kembali.

Itu bisa beres sendiri.

Masa bodoh.

- Apa itu... - Geng Albania.

Sial!

Sial!

Cepat!

Kalian bukan penyendiri! Kalian teman!

Tiga, dua...

Semua sudah mati?

Astaga. Ya ampun. Apa-apaan?

Apa yang terjadi?

Aku masuk ke gudang, dan berpikir,

"Ini sangat menakutkan."

Kupikir bisa kulakukan, sebab kalian

membuatku percaya diri, aku bisa.

Astaga. Hentikan. Tak penting.

Sial. Sekarang bagaimana?

Rampungkan tugasnya.

Apa?

Kau ke sini untuk mengantar narkoba. Lakukanlah.

Bagaimana aku... Kutaruh di mana saja?

Kau mau menceritakan kisah apa?

Pasti orang ini memimpin mereka...

jadi mungkin dia punya ini.

Aku tahu. Ya.

Katakanlah pria ini, mungkin dia...

mencoba kabur. Dia tak mau di sini.

Tampak lebih realistis.

Ayo. Jangan ada di sini saat matahari terbit.

Bisa antar aku pulang?

Naik metro saja.

Tolong.

Kita semua naik metro.

Ada darah di swetermu.

Berengsek.

Aku tak peduli.

Kita beri tahu apa kepada ayahku?

Tak ada kejadian janggal malam ini,

dan jika kalian mengatakan hal lain,

kami akan lempar koin untuk undi siapa yang membunuhmu

dan siapa yang membunuh ayahmu.

Aku senang bertemu kalian.

Kita tak pernah bertemu.

Benar.

Hei, Ayah. Mereka ingin mengatakan sesuatu.

Jadi, Frank sedang membuat film Manchurian Candidate.

Dia terkenal melakukan pengambilan tunggal.

Sutradara berkata, "Itu sempurna. Ayo buat satu lagi."

Frank berkata, "Begini,

jika sempurna, kenapa tak dicetak dua kali saja?"

Kalian suka kopi hitam?

Hitam boleh.

Ya.

Hei. Mundur. Ayolah.

Little. Ayolah.

Jadi, soal apa ini?

Mau sarapan?

Aku tahu tempat enak.

Brighton Beach, di seberang...

Betul. Aku suka tempat itu.

Penampilan itu sangat menakutkan,

Kau suka manuver dengan tang itu?

Bahkan mungkin akan kucuri.

Kau suka blini?

Aku suka blini.

Ya.

Silakan. Terima kasih.

- Pelacak. - Di dalam narkoba.

Seharusnya segera ketahuan.

Jadi, apa Lagrange mencuri narkoba itu, atau...

Aku...

Kau tak peduli pencuri barangnya?

Itu tak penting selama anak itu tutup mulut.

Kau sadar salah satu dari kita, kemungkinan besar, akhirnya...

Ya. Mungkin. Lihat saja nanti...

Jika dia bisa terbunuh.

Ya.

Keparat mujur.

Malam ini mengesankan.

Ya.

Ya.

Baiklah.

Apa katanya kepadamu agar kau bekerja denganku?

Apa katanya? Dia punya semua pengaruh.

Katanya aku tak punya pilihan.

Baiklah.

"Terima tugasnya, kau berjanji, janji itu ukuran sifat pria."

Siapa yang meneleponmu?

Apa?

Di mobil saat ke rumah June.

- Siapa meneleponmu? - Dan kau?

Itu orangmu.

Orangku?

Orang yang beri nomormu kepada Pam. Orangmu.

- Pasti dia meneleponnya. - Lalu, kenapa meneleponku?

Siapa menelepon...

Katamu jaksa distrik punya nomormu...

Tidak.

Ya.

Orang kita sama?

Orang kita berdua sama.

Kenapa dia peduli? Cuma pembersihan.

- Dia tak peduli. Kecuali... - Dia tahu soal narkoba.

Anak itu mati, tak bisa mengantar, dia hubungi kita.

- Satu-satu, tetapi tak dijawab. - Dia kirim orang lain.

- Pecinan. - Lihat anak itu hidup.

- Sulit luput. Rencana lancar. - Kecuali,

- kita ke tempat Dimitri... - Yang akan bunuh kita, kecuali...

Dimitri tak tertipu. Dia diperingatkan.

Pengawal tak diberi tahu.

Geng Albania tak bertindak sebab...

- Pelacak tak menyala. - Hingga penyeranta.

- Semua jebakan. - Sepertinya Lagrange

coba pindahkan narkoba curian.

Geng Albania berperang dengan Lagrange,

- tak ada saingan. - Kota ditutup.

- Orang ditangkap. - Aku tahu jaksa tangguh.

- ...pencuri asli untuk bersihkan. - ...untuk cuci uang narkoba.

Hal hebat akan tiba.

Pantas saja ada kamera di kamar.

Dia mau tahu siapa yang tahu.

Anak itu ubah penyergapan jadi baku tembak.

Seharusnya kita disalahkan. Dia tak mengira kita utus anak itu.

Kita akan dibunuh.

- Dia tak akan biarkan kita hidup. - Tidak.

Mereka tak mau ambil risiko, bukan?

Tidak.

Aku tak tahu namamu.

Begini, jika kita berhasil hidup...

Baiklah.

Siap?

Ya.

- Ya. - Ya.

- Ya. - Ya!

Kau kupegangi.

Sial.

Terjemahan subtitle oleh Mimi Larasati Bonnetto

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.