All language subtitles for To.the.Moon.2025.S01E08.KOREAN.WEB-DL.VIU.id

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American) Download
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Kita melihat perubahan musim yang cepat.

Panas terik terus berlanjut sejak awal bulan Juni.

Bagaimana perjalananmu pagi ini?

Suhu akan terus naik sepanjang sore.

Kita bahkan bisa melihat panas pemecah rekor untuk awal musim.

Panas ini diperkirakan bertahan, jadi, tolong jaga diri kalian.

Da Hae.

Ini berkas untuk promosi Ppeppe Stick.

Pak Ko butuh anggaran untuk produk baru dikirim.

Benar.

Sepertinya suasana hatimu sedang baik.

Aku tidak bisa mengeluh.

Tapi ada hal lain yang sepanas gelombang panas ini.

Mata uang kripto.

Meski kembalinya kripto tidak pasti,

banyak yang memakai peralatan berperforma tinggi

dan jumlah investor swasta yang menambang meningkat.

News Breathe melihat orang-orang, berharap bisa menjadi kaya.

Pertambangan ini bukan lelucon.

Ada tagihan listrik, pemeliharaan,

dan ada banyak hal yang harus kamu tangani.

Tapi aku yakin akan mendapatkan jackpot.

Hidup adalah tentang satu skor besar, bukan?

Apa yang terjadi?

Kenapa tiba-tiba aku merinding?

"Episode 8: Ibu dan Anak"

- Ulang tahunnya? - Ya. Ulang tahun ibuku yang ke-60.

Aku memesan pesta makan malam kejutan di restoran lengkap.

Akhir pekan depan, aku akan mengajaknya ke Jeju.

Ibumu akan menyukainya.

Aku juga senang. Akhirnya aku merasa seperti putri yang baik.

Tapi bukankah itu agak liar?

- Apa? - Maksudku, ini mata uang kripto,

tapi uang di bankku asli.

Jika terus begini, kurasa aku bisa melunasi pinjaman mahasiswaku.

Aku juga. Aku bisa melunasi semua kartu kreditku,

- dan mungkin membeli rumah sendiri. - Ya.

Itu artinya aku tidak perlu bertahan

diperlakukan seperti penumpang.

Bagus.

Pindahlah. Kumohon, pindah saja.

Tapi Eun Sang, siapa yang terus kamu kirimi pesan?

Dia seperti ini belakangan ini. Sejak kita bertemu kakak ipar kita.

Kamu mau mati?

Siapa yang kamu panggil "kakak iparmu"?

Maksudku mantan. Mantan kakak ipar.

Astaga. Aku memang sial.

Dari semua orang yang bisa ditemui, kenapa harus dia?

Hei. Kamu ingin aku mengatakannya lagi?

Kamu hanya monster mata duitan.

Kamu sudah selesai?

Apa? Siapa itu?

Pengembalian Dana Selesai. Pria yang Eun Sang suruh berkemas.

Mantan suaminya.

- Apa? - Kembalikan.

Kamu akan menjual barang-barang Ji Sang?

- Lepaskan. - Berikan kepadaku.

- Astaga. - Kubilang, berikan kepadaku!

- Tunggu, berhenti! - Hei, Pak!

- Pak! - Sial.

Siapa yang kamu sebut monster?

Kenapa kamu bilang dia monster?

Benar. Dia bukan monster biasa.

- Teman-teman, tidak apa-apa. - Dia zombi gila uang!

- Anjing mata duitan! - Binatang!

- Iblis! - Teman-teman.

Pastikan kalian membidik target yang tepat.

Sekadar informasi,

dia bukan orang rendahan seperti yang kamu pikirkan. Mengerti?

Dan itu!

Dia mendapatkannya sebagai hadiah!

Tidak mungkin. Siapa yang mau beri hadiah seperti itu kepadanya?

Benarkah?

Apa pun itu, apa urusannya denganmu?

Jika kalian sudah bercerai, relakan. Berhentilah bersikap menyedihkan.

Ayo pergi, Eun Sang! Ayo!

- Ayo. - Tapi...

Dengarkan aku.

Jika aku melihatmu lagi...

- Kami juga. - Kami juga.

Jika kami melihatmu lagi,

kamu akan mati. Mengerti?

- Mengerti? - Mengerti?

Sulit dipercaya...

Apa itu tadi?

Seharusnya aku memukulinya setengah mati saat bertemu hari itu.

Aku terlalu baik kepadanya, dan kini dia terus beromong kosong ini.

Apa yang kamu keluhkan sekarang?

"Aku tahu sudah terlambat mengatakan ini,"

"tapi aku selalu benci kamu mengecap bibirmu saat makan."

Hei!

"Aku tahu sudah terlambat bilang, tapi dengkuranmu sama buruknya."

- Hei. - Tunggu.

Ini lucu sekali.

"Aku tahu sudah terlambat mengatakan ini,"

"tapi kamu buang air besar sampai kursinya hangat"

"dengan kipas angin mati..."

Astaga, kalian sungguh bertengkar karena hal ini?

Hei, sudah kubilang jangan melihat.

Abaikan saja dia. Itu tidak sepadan.

Mengabaikannya berarti dia menang. Dasar kurang ajar.

Padahal dia dua tahun lebih muda dariku.

- Suami yang lebih muda. - Dia bukan suamiku!

Da Hae, bukankah kamu bilang ibumu juga lebih tua dari ayahmu?

Kapan ulang tahun ayahmu?

Kenapa kamu membahasnya? Itu membawa kesialan.

- Ayolah, dia tetap ayahmu. - Ayah atau bukan,

dia orang asing bagiku.

Dan ibuku merasakan hal yang sama.

Aku tidak akan pernah menemuinya lagi seumur hidupku.

Astaga.

Siapa 5-7-5-9?

Halo?

Apa?

Kantor polisi?

Kenapa kamu meneleponku?

Jung Yong Jik?

Ayahku?

Itu ayahmu, bukan?

Kami membawanya setelah menemukannya pingsan karena mabuk.

Apa?

Dia memegang benda itu erat-erat,

menggumamkan sesuatu tentang "jackpot".

Dia tidak masuk akal.

Teken di sini sebagai walinya, dan kamu bisa membawanya.

Aku tidak kenal orang ini.

Apa?

Da Hae?

Da Hae? Apa itu kamu?

Tapi sepertinya dia mengenalmu.

Dengar, sudah kubilang aku tidak mengenalnya.

Lahir 23 Desember 1987.

Jung Da Hae dari klan Changwon Jung.

Lahir di Park Daun OB-GYN pukul 00.05.

Putri ayah...

Putri ayah.

- Apa ini? Lepaskan aku! - Putri ayah.

- Lepaskan! - Nona Jung Da Hae.

Tolong tanda tangan di sini dan bawa dia bersamamu.

Kamu baik-baik saja?

Astaga, gadis kecil ayah sudah tumbuh besar.

Hei, kamu tidak penasaran bagaimana kabar ayahmu?

Ayolah, setidaknya lihat ayah saat bicara denganmu.

Baiklah. Ini dia.

Langsung ke intinya saja.

Ayahmu menemukan ide bisnis yang merupakan kesempatan terakhir ayah

untuk sukses.

Itu kripto.

Itu operasi penambangan kripto.

Kamu mungkin tidak mengerti, tapi ini sungguhan.

Ayah tahu betapa berbahayanya penambangan kripto?

- Apa? - Apa yang akan Ayah lakukan

jika Ayah mendirikan toko, lalu pemerintah melarangnya?

Bagaimana jika Ayah diretas?

Apa rencana cadangan Ayah? Ayah tidak punya, bukan?

Soal itu...

Tunggu.

Bagaimana kamu bisa tahu banyak soal ini?

Jangan bilang kamu juga suka kripto?

Apa itu masalah?

Lihat itu. Itu pasti benar.

Apa urusan Ayah, aku suka kripto atau tidak?

Hei, pemula sepertimu tidak bisa langsung terjun.

Kamu harus melakukannya di bawah pengawasan ahli, seperti ayah.

Jadi, berapa keuntungan yang kamu hasilkan?

Berapa modal awalmu?

Masih tidak tahu malu seperti biasanya.

Jika Ayah mencoba menjadi ayah yang peduli,

bukankah sudah terlambat untuk itu?

Da Hae.

Jangan memperpanjang masalah ini. Sebaiknya kita berpisah saja.

Kudoakan yang terbaik untuk bisnis Ayah.

Kuharap kita tidak pernah bertemu lagi. Selamat tinggal.

Ayolah, Da Hae.

Hei, tunggu! Da Hae!

- Ibu. - Ya?

- Ibu. - Ada apa?

Apa ada seseorang

yang ingin Ibu temui?

Apa?

Seseorang yang Ibu rindukan yang sudah lama tidak Ibu temui,

atau Ibu ingin tahu kabar mereka.

Aku bertanya apa ada orang yang Ibu rindukan.

Apa maksudmu?

Maksudku adalah...

Bagaimana dengan Bibi Young Nam?

Ibu tidak merindukannya? Kita sudah lama tidak melihatnya.

Tentu saja, ibu merindukan Young Nam.

Bukan hanya dia. Ibu juga merindukan Tae Seop,

lalu ada Ok Hee dan cucunya...

Siapa namanya tadi?

Matanya gelap dan bibirnya merah terang.

Astaga, Ibu. Mata semua orang gelap dan bibir mereka merah.

- So Young? - Benar, So Young.

Ibu paling merindukan anak itu, So Young.

Ibu, bagaimana dengan makanan?

Hal yang Ibu sukai itu. Apa namanya tadi?

Hal apa?

Ayolah. Ibu tahu itu.

Itu agak bau, tampak agak menjijikkan,

dan bersembunyi, jadi, sulit ditangkap.

Maksudmu ayahmu?

Bayi gurita.

Ibu suka bayi gurita mentah.

Ibu kira itu hal lain.

Ayahmu muncul?

Yang kamu bilang "Demam Jackpot"?

- Dia masih belum melupakannya? - Dia menambang kripto sekarang...

Kamu tidak akan memberi tahu ibumu?

Tentu saja tidak.

- Tapi tetap saja... - Tidak ada tapi.

Keberadaannya di sini rahasia, ya?

Akhirnya kuhabiskan uang untuknya, dan aku tidak mau merusak suasana.

Lupakan itu. Sekarang untuk hal yang sangat penting.

Lagu apa yang harus kita pilih?

"Di jalanan neon yang terbakar"

"Di bawah lampu jalan yang sepi"

"Kamu dan aku, kita pernah bertemu"

"Ibu, terima kasih. Aku sayang Ibu"

"Aku ingin tahu apa yang kamu lakukan sekarang"

"Saat aku tersesat dalam pikiran"

"Aku mendapati diriku terus merindukanmu, Jung Im"

"Matamu yang berapi-api"

"Bibir yang haus itu"

"Bahkan bintang-bintang telah tidur"

"Dan seperti ini, selamanya"

"Aku akan mencintaimu, Jung Im"

"Satu kata yang membahagiakan itu"

"Ini belum terlambat"

"Jika kamu kembali ke sisiku"

"Aku akan mencintaimu selamanya"

Hei, ambilkan kue Ibu.

Baik.

Baiklah, Ibu, selamat ulang tahun!

Kamu wanita yang beruntung, Jung Im.

Masalah yang diberikan suamimu adalah masa lalu.

Da Hae putri yang baik.

Kamu sangat beruntung di masa kejayaanmu.

Yang benar saja.

Tapi tetap saja,

di hari seperti ini, aku merasa seperti diingatkan.

Pengingat bahwa putriku baik-baik saja.

Bahwa dunia tidak terlalu kejam.

Itu membuatku sangat bahagia.

Dengan perasaanku sekarang,

aku bahkan akan memaafkannya jika dia kembali.

- Lihat dirimu, orang suci biasa. - Sayang.

Apa itu tadi? Dia benar-benar muncul?

Kalian tidak dengar itu?

- Astaga, mengagetkan saja! - Hei, apa yang terjadi?

Astaga.

Sayang?

Apa yang terjadi?

Apa hanya aku yang mendengar sesuatu?

Sayang, Jung Im. Ini aku.

Astaga!

Apa-apaan ini?

"Bagi ibu yang secantik bunga, Tahun Terbaikmu Dimulai Sekarang!"

Jung Im.

Aku

kembali.

Kamu!

Sedang apa kamu di sini?

Sial.

Kamu menakutkan. Hei, jangan mendekat.

Bicara saja dari sana!

Astaga!

Apa yang terjadi?

Omong kosong apa ini di hari ulang tahunnya?

Ini bencana.

Kamu pasti bercanda.

Sayang sekali.

Lalu? Ada apa?

Bisnis apa yang kamu lakukan?

Sudah kubilang, ini pertambangan.

Di mana tepatnya kamu menambang?

Bisa dibilang di laut.

- Lautan informasi? - Apa yang kamu tambang dari laut?

Sesuatu yang bisa berkontribusi pada kemajuan umat manusia...

Kamu menggali abalone atau tiram?

Ini kripto.

Hei, untuk apa itu? Kamu tahu apa itu kripto?

Itu bukan pekerjaan sungguhan? Kamu tidak melakukan pekerjaan jujur?

Tidak juga.

Tapi jika kamu mengincar satu skor besar...

Ayolah, Ibu. Ayo. Kenapa menyia-nyiakan napas Ibu untuknya?

Kamu tidak malu menghadapi Da Hae?

Putri kita,

yang kamu telantarkan tanpa ragu.

Setelah melihat betapa baiknya hidupnya,

bagaimana kamu bisa berani menunjukkan wajahmu di sini?

Hei, ayolah, jangan seperti itu.

Jika itu menyedihkan dan tidak punya masa depan,

kenapa dia melakukannya juga?

Ibu, ayo pergi saja.

Apa maksudmu?

Da Hae yang pintar di sini.

Dia tahu kamu tidak bisa kaya hanya dengan bekerja keras.

Hei, kamu, berapa banyak yang kamu investasikan?

Begini... Ibu...

Ibu...

- Hanya saja... - Berhenti.

Tunggu sebentar. Berhenti. Ibu.

Ibu.

Ibu mau ke mana?

- Hei, Da Hae. - Apa?

- Kamu harus mengejarnya. - Jangan cemaskan kami. Pergilah.

Baiklah. Maaf soal ini.

Pergilah.

Ibu.

Bagaimana dengan kepiting di perjalanan? Ibu suka kepiting.

Ibu tidak mau kepiting yang dibeli dengan uang kripto.

Ayolah, Ibu.

Tapi tetap saja, uang kripto yang kuhasilkan

memungkinkanku mengirim Ibu ke perjalanan ini,

dan akhirnya kita bisa berhenti menyewa.

Jika dipikir-pikir, itu tidak sia-sia.

Kamu sama seperti dia.

Apa?

Ibu miskin dan tidak punya apa-apa,

jadi, ibu bekerja keras, berharap kamu belajar dari contoh ibu.

Ibu menggertakkan gigi dan bertahan agar kamu tidak malu dengan ibu.

Jadi, kenapa kamu seperti ayah yang tidak pernah ada untukmu?

- Kenapa? Kenapa? - Ibu...

Ibu, bukan begitu!

Aku tidak seperti Ayah, berharap mendapatkan jackpot.

Aku hanya...

Aku ingin keadaan sedikit lebih baik daripada sekarang.

Sedikit saja...

Aku ingin lebih nyaman. Itu saja.

Ibu tidak tahan melihatmu. Keluar.

Di sini seperti pemakaman.

Aku hanya mendengar ratapan.

Jika bukan karena ayahku, semuanya berjalan lancar.

Bagaimana bisa dia muncul saat itu dan menjatuhkan bom seperti itu?

Sungguh, dia sama sekali tidak membantu. Tidak ada.

Kamu pasti mengkhawatirkan Da Hae.

- Benar, bukan? - Ya.

Kamu masih mengiriminya pesan?

Tanpa mencuci tanganmu?

Jika aku terlambat membalas, dia pikir dia menang.

Dasar psikopat.

Orang gila ini.

"Sejujurnya, masakanmu menyiksa"

Siapa pun akan mengira kamu menggoda.

Bukan cinta monyet, ini pertarungan sengit.

Kami seperti saat tinggal bersama.

Jika kami bertatapan, pertengkaran dimulai.

Kami bertengkar saat tidur dan saat makan.

Kenapa kalian sering bertengkar?

Pasangan bertengkar karena uang. Apa lagi yang bisa diributkan?

Lalu apa yang kalian ributkan sekarang?

Kalian sudah tidak menikah lagi, dan kalian berdua menghasilkan uang.

Pertanyaan bagus. Mungkin karena

kami tidak punya anak?

Haruskah aku menangis sekarang? Apa aku harus menangis di sini?

Enyahlah. Ini bagian saat kamu pergi.

- Hei, dingin! Hentikan! - Enyahlah!

Pria ini.

Ji Song.

Ini tagihan kartu kredit perusahaan.

Terima kasih.

Sepertinya suasana hatimu sedang baik.

Semua orang sangat sibuk dan stres.

Pacarku akan datang ke Korea beberapa hari lagi.

Orang tuanya datang untuk urusan bisnis, dan dia ikut.

Kami sudah lama tidak bertemu,

jadi, aku sangat bersemangat.

Ji Song, kamu dalam hubungan jarak jauh, bukan?

- Ya. - Tapi jika orang tuanya datang,

bukankah itu berarti tentang pernikahan?

Apa ini? Jangan bilang untuk bertemu orang tuanya!

- Tidak, tentu saja tidak. - Apa?

Tapi sekali lagi,

aku punya penampilan "disetujui orang tua".

"Senang bertemu denganmu."

"Terima kasih sudah datang jauh-jauh."

"Aku sudah memesan tempat. Mau pergi sekarang?" "Ayah. Ibu."

Apa?

Bisa katakan semua itu dalam bahasa Mandarin?

Jika kamu akan menikah, bukankah seharusnya kamu bisa mengatakan itu?

Bertemu orang tua yang tidak bisa diajak berkomunikasi...

Ji Song,

kamu sering mengatakan sesuatu tanpa memikirkannya baik-baik.

Tapi itu manis.

Asisten Manajer Oh, kamu punya berkas yang kuminta?

Apa?

Astaga.

- Astaga. - Kenapa ini diremas?

Maaf...

Ini.

Itu bukan napasku, tapi kakimu.

Tunggu, apa? Apa ini?

"Aku tahu sudah terlambat mengatakan ini,"

"tapi nyanyianmu di kamar mandi seperti babi yang disembelih."

Hei, apa hanya aku?

Apa hanya aku? Kamu juga melakukannya!

Kamu Uhm Jung Hwa, Baek Z Young.

Siapa yang mengadakan kontes menyanyi nasional? Kini apa lagi?

"Benar juga. Aku tahu sudah terlambat mengatakan ini,"

"tapi setiap malam..."

Kenapa melibatkan kehidupan seks kita? Kamu!

Kamu sungguh akan ke sana? Kamu ingin menghancurkan egoku hari ini?

Tamat riwayatmu.

Kamu mau membahas kamar tidur?

Ibu.

Tunggu sebentar.

Astaga, seseorang terus mengirimiku pesan aneh.

Ini.

Pastikan Ibu mengunyahnya dengan baik.

- Enak? - Ya, lezat.

- Tapi... - Ya?

Kenapa Ji Sang dan ibunya tidak ada di sini?

Ibu merindukan mereka.

Apa?

Tiga.

- Eun Sang, kamu mendapat pesan. - Empat.

Abaikan saja.

Lima.

Tapi itu terus berdatangan.

Siapa itu? Tidak mungkin si berengsek itu, bukan?

- Berikan kepadaku. - Selesaikan saja dan keluarlah.

Astaga, apa tulisannya?

Jika aku tidak membalas, dia akan mulai mengumpat.

- Balas saja untukku. - Astaga.

Sepuluh.

"Kang Eun Sang."

- Apa? - Hanya itu tulisannya.

Dengan elipsis di akhir. "Kang Eun Sang..."

Apa-apaan ini?

Kenapa tiba-tiba berdamai?

Aku dapat satu lagi.

"Beruntungnya kamu karena kotoranmu tebal."

Dia benar-benar ingin bertengkar denganmu.

Astaga, ada apa dengannya?

Tidak, kenapa dia tiba-tiba merendah?

Bagaimana itu permintaan maaf?

Tertulis, "Beruntungnya kamu karena kotoranmu tebal."

"Hidup dengan makanan enak, kotoran sehat."

Apa berkah yang lebih besar?

Aku mengenalnya.

Dia bukan tipe orang yang mengatakan hal baik tanpa alasan.

Aku sama sekali tidak mengerti.

Aku tidak akan pernah memahami pasangan menikah.

Kami tidak menikah!

Astaga, aku harus mulai dari mana?

Ada apa?

Hentikan sikap norak itu. Apa maumu?

Ada apa?

Apa? Pergi ke mana denganmu?

Apa kamu sudah gila?

Aku punya permintaan.

Ibuku sangat menyukaimu.

Tidak bisakah kamu melakukan ini untukku?

- Berdiri. - Baiklah.

Jung Im.

Ada apa?

Memegang gunting seperti itu berbahaya.

Letakkan.

Kemarilah. Duduk.

Ada apa denganmu?

Kurasa kita harus memotongnya.

- Leherku? - Tangan-tangan sialan itu.

Mereka hanya perlu dipotong. Kemarilah.

Hei, tunggu.

Sayang, aku tidak melakukan ini hanya untuk diriku sendiri.

Jika ini berhasil,

aku bisa menebus semua penderitaan yang kamu alami

dalam satu kesempatan.

Kamu tidak tahu apa yang dilakukan Da Hae?

Itu masalahnya!

Dia darah dagingmu, tentu saja.

Sekarang Da Hae juga terlibat dalam omong kosong ini!

Ayolah, jujurlah.

Kamu selalu bilang Da Hae mirip denganku,

tapi dari sudut pandangku, dia sangat mirip denganmu.

Berdarah dingin dan kejam. Temperamennya mengerikan.

Setelah aku pergi, selama tiga tahun berturut-turut,

dia meninggalkan pesan suara sebelum aku bisa mengganti nomorku.

Dan aku ayahnya.

Hujan atau cerah, dia tidak pernah melewatkan satu hari pun.

Dia sangat rajin memakiku.

Jika membunuh orang dengan kata-kata adalah kejahatan,

setidaknya dia akan dihukum mati.

Kamu harus menyadari itu.

- Aku harus memberinya pelajaran. - Benar, bukan?

Seharusnya aku mengajarinya memakai kata-kata vulgar kepadamu.

Ada apa dengan putrimu? "Hukuman mati?"

Beraninya kamu berkata begitu. Tentang putrimu sendiri?

Tunggu, hei, Jung Im. Tidak, maksudku, tunggu, Jung Im.

Dengar, mari bicarakan ini nanti.

"Obat"

Apa ini? Hadiah lain?

Ayahku membawanya dari perjalanannya.

Dia ingin semua orang mencobanya.

Astaga, kami tidak bisa terus menerima ini.

Tolong sampaikan terima kasih kami.

Baiklah.

Sungguh, berkat kamu, Da Hee, aku bisa makan beragam hidangan penutup.

Ini bukan apa-apa.

Apa ayahmu selalu membawa pulang hadiah seperti ini?

Ya. Dia sangat perhatian.

Di luar negeri, dia mengunjungi toko hidangan penutup

dan membeli banyak barang yang menurutnya disukai ibuku dan aku.

Astaga, ayahmu manis sekali.

Ini, Nona Gembil, kamu juga makan.

Tidak, terima kasih. Aku akan makan nanti.

Kenapa ribut-ribut saat aku memberimu satu?

Ini dari ayah Da Hee. Dari Belgia.

Kita tidak boleh makan ini sendiri.

Bagaimana dengan Dokter Ham...

- Benar. Aku akan mengambilnya. - Sudah.

Aku sudah memberikannya kepada sekretarisnya.

Dia luar biasa, bukan?

- Selalu selangkah di depan. - Da Hee, boleh aku minta satu?

Benar! Da Hae!

Seseorang dari keluargamu ada di lobi untuk menemuimu.

- Apa? Keluargaku? - Ya.

Ibuku?

Tidak, dia bilang dia ayahmu. Kamu harus bergegas turun.

Ya, aku mengerti. Tapi putriku bekerja di sini.

Ya, Pak, aku mengerti. Tunggu sebentar.

Kamu mengerti? Kenapa membuatku menunggu? Biarkan aku mencarinya.

Tolong bicara dengan putrimu saat dia turun.

Kamu mengerti, jadi, apa masalahnya? Aku bisa masuk saja.

- Apa yang Ayah lakukan? - Da Hae.

Pria ini tidak mau mendengarkan alasan.

- Keluarlah! - Apa?

Aku tidak bisa mengatakan ini tadi karena kamu sedang rapat.

Ya? Ada apa?

Tim pemasaran mengirimkan cokelat.

Aku meninggalkannya di mejamu.

Pemasaran...

Omong-omong, apa itu dari Jung Da Hae?

- Maksudmu Da Hee. - Bukan, Da Hae.

- Hee... - Hae...

- Hee... - Hae...

Kamu hanya mendengar apa yang ingin kamu dengar, bukan?

Jadi, maksudmu aku harus berterima kasih kepadanya?

Aku sudah berterima kasih kepadanya untukmu.

Aku harus berterima kasih kepadanya sendiri. Itu sopan santun.

Turunkan aku di sini dan pergilah. Aku akan berterima kasih, lalu naik.

Mungkin sebaiknya aku berhenti saja.

Apa ini?

Sedang apa Ayah di sini?

Apa yang harus ayah lakukan? Kamu tidak menjawab teleponmu.

Jika aku tidak menjawab, bukankah itu berarti aku menghindari Ayah?

- Kenapa membuat keributan di sini? - Ayolah, jangan seperti itu.

Kamu punya uang?

Apa?

Kamu juga suka kripto, jadi, kamu pasti mendapatkannya, bukan?

Kamu tahu betapa hebatnya bisnis pertambangan ini.

Begitu punya modal, itu akan meledak sebelum kamu menyadarinya.

Jangan berjuang sendirian.

Percayalah kepada ayahmu, dan akan ayah gandakan untukmu.

Ayah menawarkan ini kepadamu, Nak.

Apa Ayah serius

meminta uang kepadaku sekarang?

Ayah tidak meminta sedekah.

Ini kesempatan investasi.

Baiklah.

Dengar...

Aku tidak pernah menduga ayahku akan membelikanku cokelat.

Tapi

meski begitu

bukan berarti

Ayah harus menjadi ayah yang selalu membuat hidupku pahit.

Apa maksudmu?

Ayah tahu kenapa aku memulai dengan kripto?

Itu karena

- kamu ingin menghasilkan uang. - Benar.

Sebagian karena itu,

tapi alasan sebenarnya adalah aku melakukannya untuk bertahan hidup.

Orang lain memulai hidup dengan orang tua yang baik, tapi aku tidak.

Karena hidupku terus mendorongku lebih dekat ke jurang.

Aku masuk ke kripto hanya untuk tetap hidup.

Tapi saat Ayah membahasnya,

alasan hidupku seperti ini adalah salah Ayah.

Jika Ayah tidak menghabiskan seluruh hidup Ayah membuat kekacauan

dan menyeret hidupku ke selokan bersama Ayah,

Ayah pikir aku akan terlibat dalam hal seperti kripto?

Ayah pikir Ibu dan aku akan menjalani hidup menyedihkan ini?

Jadi,

jika Ayah punya hati nurani,

tolong pergi saja.

Enyahlah dari hidup kami dan jangan ikut campur!

Pak, kamu baik-baik saja? Pak?

Hei, tetaplah bersamaku.

Da Hae!

Jung Da Hae, apa yang kamu lakukan?

Da Hae!

"Unit Gawat Darurat"

Kanker?

Ya. Enam bulan lalu,

dia didiagnosis kanker paru-paru sel bukan kecil stadium dua.

Tunggu sebentar. Jadi, maksudmu

itu kanker?

Kita harus segera menjadwalkan operasinya.

Setelah operasi,

dia butuh kemoterapi dan perawatan radiasi terpisah,

dan kita harus segera melanjutkan ini.

Kamu baik-baik saja? Kamu pasti terkejut.

Apa kata dokter?

Selalu ada masalah.

Apa?

Kesulitan datang silih berganti.

Jika dipikir-pikir, aku tidak tahu apa-apa,

aku hanya berpura-pura berani.

Ingat ucapanku sebelumnya?

Semua pembicaraan tentang mengatasi kesulitan

dan menahan apa pun.

Menyedihkan sekali.

Apa pun yang harus kamu atasi,

dan apa pun yang harus kamu tahan...

Kita berjanji akan melakukannya bersama.

Tapi apa itu perlu?

Apa maksudmu?

Kukira aku membuka pintu, tapi ada satu lagi yang tertutup rapat.

Aku mengetuk yang kupikir pintu, tapi ternyata dinding.

Hidupku penuh dengan jalan buntu.

Dengan kehidupan seperti ini,

entah apa aku harus menyeret orang lain ke dalamnya.

Ibu... Kamu

sangat cantik.

Makanan apa yang kamu suka?

Awas! Hati-hati.

Terima kasih.

Astaga, apa yang kamu lihat saat berjalan?

Aku melatih bahasa Mandarin-ku.

Tentang

masalah pernikahan ini...

Kamu benar-benar serius,

bukan?

Kamu sungguh butuh jawaban untuk itu?

Kamu tidak suka dihukum, bukan?

Tidak, bukan begitu.

Aku hanya penasaran, itu saja.

Kamu sungguh ingin menikah, atau...

Begini...

Bukannya aku ingin menikah.

Benar, bukan?

Jadi, kamu tidak benar-benar ingin menikah

atau semacamnya, bukan?

Benar. Aku hanya ingin punya rencana untuk hidupku sekali saja.

Apa?

Sampai sekarang, motoku adalah, "Hidup untuk hari ini."

"Tidak ada hari esok."

Pada dasarnya begitulah aku hidup.

Tapi kemudian kripto...

Omong-omong, sudah cukup lama,

aku berpikir ingin hidup untuk hari esok yang lebih baik.

Bahwa aku harus menabung

jadi, aku akan memilikinya saat sangat membutuhkannya.

Aku sudah memikirkan itu.

Jadi, kurasa pernikahan adalah sesuatu

yang harus mulai kupertimbangkan serius. Bukankah sudah waktunya?

Jadi, aku berusaha lebih bertanggung jawab.

Dalam rencana itu,

pacarmu saat ini harus menjadi

bagian dari itu?

Menikah dengan pria tampan, jadi kaya, dan hidup bahagia selamanya.

Itu rencanaku.

Pria tampan...

Ayolah, kamu tidak bisa hidup hanya dengan ketampanan.

Siapa bilang aku tidak bisa?

Tapi...

Pertama, kita harus menyelamatkannya.

Aku akan mencairkan tabunganku.

- Jika kamu patungan sedikit. - Apa?

Ibu.

Apa Ibu serius?

Ibu tahu ibu tidak berhak menanyakan ini.

Tapi kita tidak bisa membiarkannya seperti ini.

Kenapa tidak bisa?

Ibu pikir aku

mendapatkan semua uang ini hanya untuk diberikan ke pria itu?

Tidak.

Aku tidak akan memberinya sepeser pun.

Da Hae...

Ibu...

Astaga, ayo pergi saja.

- Jika mengabaikannya dan pergi... - Setelah ayahmu pergi,

kamu meneleponnya setiap hari selama tiga tahun, bukan?

Ayah di mana? Mereka memasang pemberitahuan sitaan di rumah kita.

Kemarilah dan perbaiki ini sekarang.

Aku akan mengutuk Ayah seumur hidupku.

Tim bisbol yang Ayah dukung tidak akan pernah memenangkan kejuaraan,

dan merek soju favorit Ayah akan dihentikan.

Jangan mencoba memulai bisnis! Ayah pasti akan gagal!

Jangan bermimpi merangkak kembali ke sini tanpa apa pun, Ayah dengar?

Ayah...

Ayah...

Ayah...

Aku mengutuknya.

Kamu mungkin bilang melakukannya karena dendam,

tapi bisakah seseorang melakukan itu selama tiga tahun,

didorong oleh kebencian?

Jangan berusaha mempermanisnya.

Itu karena aku membencinya. Itu saja.

Kamu tipe orang

yang setiap kali naik ke kelas baru,

kamu sangat benci berada di kelas yang berbeda dari teman-temanmu

sampai kamu menangis selama tiga hari dan menolak makan.

Manusia salju yang kamu buat di musim dingin,

kamu simpan di lemari pembeku sampai musim semi berikutnya.

Setiap kali kamu dapat camilan enak saat makan siang sekolah,

- kamu simpan untuk ayah dan ibu. - Apa maksud Ibu?

Anak yang sentimental dan penuh hati sepertimu...

Bagaimana bisa kamu memutuskan hubungan keluargamu?

Bagaimana bisa kamu menyingkirkan ayahmu dari hidupmu?

Lupakan saja.

Berhenti bicara.

Jika Ibu tidak pergi,

aku yang akan pergi.

- Da Hae. - Lepaskan!

Da Hae.

Ibu.

Apa yang Ibu lakukan?

- Ada apa dengan Ibu? - Da Hae, maafkan ibu.

Maaf kami tidak bisa berbuat lebih untukmu.

Berdiri. Apa yang Ibu lakukan?

Berdiri.

Di dunia yang kejam ini,

maaf kamu terjebak dengan orang tua seperti kami.

Jika kamu membiarkan ayahmu mati seperti ini,

itu akan membebanimu seumur hidupmu.

Da Hae.

Jangan terluka lagi

dan jangan menderita.

Sekali ini saja,

maukah kamu memaafkan ayahmu?

Itu akan melukaimu seumur hidup,

jadi, bagaimana bisa ibu memintamu mengabaikannya?

Kenapa dia harus berlutut?

Apa yang dia pikirkan? Mengatakan orang tuanya tidak beri apa pun.

Apa maksudnya?

Terutama saat dia memberiku ginjalnya...

- Memberimu apa? - Ginjal?

Kapan? Tunggu, kenapa?

Itu tepat setelah ujian masuk kuliahku.

Sebenarnya aku mengerjakan ujian dengan sangat baik.

Aku punya sekolah pilihan pertama, tapi biaya les privatnya mahal.

Tetap saja, kupikir kami akan mencari cara.

Ibu.

Uang kuliah.

Daun perilla ini agak asin, bukan?

Ibu terburu-buru pagi ini

ibu pasti menambahkan terlalu banyak garam.

Ini tidak asin.

- Tapi... - Kamu mau makan daging perut?

Ibu harus mampir ke tukang daging nanti.

Ibu pikir aku lahir hanya untuk makan?

Makanan yang memberi kita kekuatan.

Kamu tidak bisa berbuat banyak dengan perut kosong.

Seseorang juga tidak bisa melakukan apa pun tanpa uang.

Tapi tetap saja,

kita punya cukup uang untuk biaya semester pertama, bukan?

Aku bisa memikirkan sisanya setelah mendaftar.

Setidaknya kita punya sebanyak itu, bukan?

Masalahnya adalah...

Kamu sungguh harus kuliah tahun ini?

Ibu tidak mau aku kuliah?

Tidak, ibu hanya bertanya.

Itu pertanyaan berat.

Maksud Ibu, Ibu tidak mau aku kuliah.

Hanya saja...

Kamu tahu betapa sulitnya keadaan tahun ini.

Ayahmu...

Selalu saja tentang Ayah. Kenapa aku harus merelakan banyak hal demi dia?

Kenapa Ibu mau punya anak dengan pria seperti itu?

Bagaimana kamu bisa mengatakan hal seperti itu?

Kamu...

"Pinjaman Seonkwang"

"Pinjaman hari yang sama, berapa pun, Tersedia panggilan ke rumah"

"Buka 365 hari dalam setahun"

Baiklah, nama di atas.

Dan tulis alamatmu di bawah.

Benar, nomor kontakmu.

Baik, kita baik-baik saja.

Kamu ingin meminjam uang?

Ya.

- Untuk biaya kuliahku... - Ada jaminan?

- Ketekunanku? - Apa?

Lupakan saja.

Maafkan aku.

Kurasa aku datang ke tempat yang salah.

Hei.

Kamu sungguh serajin itu?

Ya, sungguh.

Tanpa etos kerjaku, aku bukan apa-apa.

Orang mati tidak bisa bekerja paruh waktu.

- Apa? - Mau pekerjaan paruh waktu?

Hei, ini mudah.

Bersih-bersih dan buat kopi saja.

Saat kami keluar, jawab saja teleponnya.

Mudah, bukan?

Jadi, kamu tertarik?

Lihat berandal ini. Tidak menjawab?

Kami akan keluar sebentar.

Jika meminjam uang, kamu harus mengembalikannya.

Kenapa kita harus selalu mencari mereka? Sial.

Tapi bagaimana jika ada yang menelepon?

Kamu menghafal naskahnya, bukan?

Bebas bunga 30 hari,

tarif bulanan dua persen atau kurang. Benar, bukan?

Tapi ini mendadak sekali.

Da Hae.

- Kamu pasti bisa. - Kami mengandalkanmu.

Ayo!

Tunggu!

Aku harus bagaimana?

Ini Pinjaman Seonkwang. Kami menawarkan 30 hari tanpa bunga.

Pinjaman Seonkwang. Tiga puluh hari tanpa bunga.

Satu, dua, tiga.

Ya, ini Pinjaman Seonkwang.

Halo...

- Halo? - Aku ingin tahu

apa aku bisa meminjam uang?

- Halo? - Halo...

Ya.

Di Pinjaman Seonkwang,

kami menawarkan periode bebas bunga 30 hari.

Begini...

Aku kekurangan uang kuliah putriku.

Putriku sangat pandai dalam ujian masuk kuliahnya,

tapi dengan situasi keuangan kami, tidak mungkin...

Rasanya canggung mengatakan ini,

tapi aku sudah mengemudikan bus kota selama lima tahun

dengan catatan keselamatan sempurna.

Aku selalu punya pekerjaan, bahkan sebelum itu.

Omong-omong,

kamu tinggal di sekitar sini?

Aku sopir bus 17.

Aku bahkan menerima pujian atas pelayanan baikku.

Jika kamu meminjamiku uang, aku bersumpah akan mengembalikannya.

Tentu saja,

tapi kudengar hal-hal ini juga memiliki

proses penyaringan atau semacamnya.

Aku hanya mengatakan ini untuk berjaga-jaga,

lever dan ginjalku

sangat sehat.

Ibu akan pulang agak larut mulai besok.

Mengenai

uang kuliahnya...

Jika kamu memberi ibu lebih banyak waktu, ibu akan...

Aku salah sebaris.

- Apa? - Di bagian matematika.

Aku salah satu baris di lembar jawaban.

Jadi, sepertinya pilihan pertamaku tidak bisa dipertimbangkan.

Jadi, aku akan pergi ke pilihan keduaku.

Lagi pula, aku bisa dapat beasiswa jika masuk ke sana.

Kamu yakin? Kamu sudah memeriksa ulang?

Ya.

Maafkan ibu.

Aku yang mengacaukan tesnya. Kenapa Ibu meminta maaf?

Ibu memasak dagingnya terlalu matang.

Benar.

Ini agak keras.

Aku

menerima sesuatu yang lebih berharga daripada ginjal.

Ibuku selalu memberiku lebih dari cukup.

Tapi kenapa dia selalu bersikap seperti bersalah di depanku?

Begitulah semua ibu.

Bagi para ibu,

melihat wajah anaknya saja membuatnya merasa bersalah.

Dia berpikir, "Jika anakku belajar benci seseorang untuk kali pertama,"

"mungkin itu aku."

"Saat mereka diliputi keputusasaan dalam hidup,"

"itu juga salahku."

"Lalu suatu hari,"

"saat dunia menyakiti mereka dan mereka butuh tempat bersandar,"

"mungkin aku tidak ada untuk mereka."

"Apa yang akan kulakukan saat tidak bisa berada di sana?"

Untuk dosa yang mereka lakukan dan yang tidak mereka lakukan,

mereka hanya menyesali semuanya.

Kurasa seumur hidup mereka,

para ibu ditakdirkan hidup dengan rasa bersalah itu.

Itu sangat...

Itu terlalu menyedihkan.

Dan itu beban yang sangat sepi bagi seorang ibu.

Melihatmu menangis membuatku...

Kalian berdua tidak punya harapan.

Ini sebabnya

orang tua selalu ditakdirkan untuk merasa bersalah.

Kumohon, bantu aku sekali ini saja.

Ibu sangat merindukanmu. Kenapa lama sekali?

Aku hanya sangat sibuk berusaha bertahan hidup.

Maafkan aku, Ibu.

Ibu tahu. Kamu tidak bisa menahannya jika sibuk.

Kamu masih menjaga ibu Ji Sang dengan baik?

- Ibu... - Kamu membawakan makanan dan buah

dan menyuapinya sendiri, bukan?

Aku masih melakukannya.

Benar, bukan?

Apa?

Astaga.

Ini.

Sayang. Buka.

- Lihat? - Senang melihatnya.

Tapi

kenapa kalian duduk berjauhan?

Dahulu kalian sangat dekat.

Astaga, Ibu.

Benar, bukan?

Sayang, mendekatlah. Geser. Ada apa?

- Astaga. - Tidak, aku hanya khawatir

kamu akan merasa tidak nyaman.

Sudah puas?

Bagus.

Astaga. Di mana Ji Sang?

Kamu seharusnya memberitahunya neneknya merindukannya.

Ibu, soal itu...

Ibu, Ji Sang pergi berkemah dengan prasekolahnya.

Dia sangat bersemangat untuk pergi,

bilang akan makan dengan baik dan menonton sirkus.

Ibu mau melihat fotonya?

Dia sangat berharga. Astaga.

Dia selalu pilih-pilih makanan, jadi, ibu terus khawatir.

Apa dia makan dengan baik sekarang?

Tentu saja.

Dia bahkan makan wortel dan bayam.

Anak pintar.

Tapi ibu merasa pernah melihat foto ini sebelumnya.

Kenapa Ji Sang selalu bermain di tempat yang sangat dingin?

Dia berada di tempat yang menunggu musim semi.

Dan di tempat Ji Sang berada,

musim semi akan segera datang.

Ibu yakin begitu.

Ya, itu bagus.

Gunakan ini untuk membelikan Ji Sang makanan enak.

Jangan berikan kepada ayahnya. Ini hanya untukmu dan Ji Sang, ya?

Baiklah.

Ibuku sudah banyak berubah, bukan?

Aku menyukainya.

Cara ibumu bersikeras

memanggilku "Ibu Ji Sang",

dan bagaimana dia mengingat Ji Sang sejelas kita.

Berpura-pura mengirim putri kita ke perkemahan

juga tidak terasa terlalu buruk.

Jadi, apa yang membuatmu berubah pikiran?

Aku sungguh mengira kamu tidak akan datang.

Aku tahu sudah terlambat mengatakan ini, tapi...

Kamu memulai sesuatu lagi?

Kamu tahu betapa terkejutnya aku setelah membaca ini?

Astaga, kamu sulit dipercaya.

"Aku tahu sudah terlambat mengatakan ini, tapi..."

Aku sadar aku tidak sendirian.

Apa?

Takdir seorang ibu adalah hidup dengan rasa bersalah kepada anaknya.

Tapi karena kamu ada di sisiku,

kurasa aku tidak pernah kesepian dan takut sendirian.

Orang tua itu rekan dalam kejahatan, berbagi rasa bersalah ke anak.

Jadi, aku tahu sudah terlambat mengatakan ini,

tapi aku bersyukur.

Karena menjadi rekan kejahatanku.

Aku juga.

Aku juga bersyukur.

"Rumah Sakit Universitas Myeonglim"

"Ibu, Menelepon"

"Ibu"

Kenapa dia tidak menjawab?

Astaga, ke mana dia pergi?

"Ibu"

"Pinjaman Seonkwang, Pinjaman Hari yang Sama! Berapa pun jumlahnya"

Astaga!

Kamu... Apa yang kamu...

Astaga.

Aku tidak tahu Ibu di sini.

Kukira Ibu pergi untuk menjual ginjal atau semacamnya!

Kamu tahu...

Hidup ibu selalu seperti bus ini.

Selalu di rute yang ditetapkan, jadwal yang ditetapkan.

Tapi beberapa hari,

ibu tiba-tiba ingin berbelok keluar jalur

dari jalan yang sudah ditentukan.

Ibu penasaran ada apa lagi di luar sana.

Tapi karena ibu seorang ibu,

kupikir hal seperti itu adalah kemewahan yang tidak bisa ibu punya.

Ibu tidak menyesal membuat pilihan itu,

tapi pada suatu titik,

ibu melihatmu mulai menyusut.

Ibu merasa kamu menjadi seperti ibu.

Meskipun ibu benci melihatnya,

sebagian diri ibu berpikir itu cara yang tepat untuk hidup.

Dengan begitu, kamu tidak akan terlalu terluka.

Ibu menyimpulkan dan menganggap hidupmu seperti hidup ibu sendiri.

Tapi hidupmu adalah milikmu sendiri.

Kamu hanya penumpang yang turun saat tiba di perhentian.

Ibu terus melupakan itu.

Ibu.

Jadi,

entah kamu masuk ke kripto atau apa pun,

pergilah sejauh yang kamu mau, sepuasnya.

Tadi, ibu tidak berpikir jernih, dan ibu bersikap buruk.

Ibu akan mencari uang, jadi, jangan khawatir.

Selalu berlagak tangguh.

Apa itu tadi?

Aku tahu itu langkah klasik seorang ibu untuk berlagak tangguh.

Kebetulan Ibu punya putri yang lebih tangguh,

jadi, hentikan sikap itu sekarang.

Ibu tidak akan pergi ke perjalanan itu.

Apa?

Uang perjalanan Ibu untuk operasi Ayah,

jadi, Ibu tidak akan pergi.

Tapi

Ibu akan pergi ke Asia Tenggara untuk ulang tahun Ibu yang ke-70.

Da Hae...

Cukup dengan suara dramatis itu. Menyetir saja.

Aku mengalami rasa ngeri yang mematikan satu hari. Itu banyak.

Lebih dari cukup.

Maafkan ibu.

Dan terima kasih.

Aku juga.

Astaga.

Sudah terlalu larut untuk berada di sini, bukan?

Itu...

Benar.

Mungkin aku harus membuat janji

dan kembali lain kali, bukan?

Maaf sudah mengganggu.

Kalau begitu, aku akan pergi.

Kamu sungguh akan melakukan ini kepadaku?

Aku akan menyerah jika kamu mencoba sekali lagi,

dan kamu bahkan tidak bisa melakukannya sekali itu saja?

Jadi, kamu akan berhenti marah?

Astaga, lihat senyum itu.

Seolah-olah tersenyum akan berhasil padaku. Kumohon.

Benar, bukan?

Kamu bercanda?

Tentu saja berfungsi.

Astaga.

"Park Daun OB-GYN"

Lewat sini. Kita sampai!

- Astaga. - Kita sampai!

Jung Im, kita sudah sampai. Bernapaslah!

Ibu!

- Tahan dia! Ayo! - Sakit sekali.

Tunggu, Dokter! Tolong...

- Tunggu di sini sebentar, ya? - Sakit.

Tetaplah di sini.

- Sayang... - Aku tahu...

- Tolong isi ini dahulu. - Kumohon, bawa dia dahulu.

Pak, ini formulir persetujuannya. Kami butuh namanya...

- Baiklah. - Tolong isi.

Hei, Nak.

Tunggu, tidak.

Kamu punya nama, bukan?

Da Hae.

Kita akan segera bertemu.

Ada banyak hal menyenangkan di dunia,

dan banyak makanan lezat untuk dimakan.

Akan ibu pastikan kamu bisa mengalami semuanya.

Tidak apa-apa jika kamu bukan murid yang hebat

Tapi akan bagus jika kamu hebat.

Jadi, jangan mengkhawatirkan hal-hal seperti biaya kuliah

dan fokus saja belajar...

Sebenarnya, tidak.

Sehatlah saja.

Selama kamu sehat,

ibu akan mewujudkan semuanya untukmu.

Ibu akan memberimu segalanya, ya?

Sejak itu, untuk waktu yang lama, aku hanya memikirkan satu hal.

Apa yang harus kukatakan?

Aku akan masuk sekarang.

- Kepadamu, yang membuat janji - Enak?

dan memberikan hatimu sepenuhnya,

- Da Hae, - aku bisa membalas memberikan apa?

Bagaimana aku bisa menunjukkan betapa aku mencintaimu?

Lalu, aku tahu.

- Ini dia. - Cilukba, Da Hae ibu yang manis.

Ini satu-satunya cara.

Mulai sekarang, selama sisa hidupku,

ini caraku menyatakan cintaku kepadamu.

Ibu!

Da Hae.

Astaga!

Kamu bilang "Ibu"?

Ibu!

Ibu!

Ibu!

"To the Moon"

Aku harus menjemput pacarku.

Kenapa selalu aku yang khawatir?

Kenapa selalu aku yang akan dia temui lain kali?

Beginikah akhir cinta Asisten Manajer Oh?

Percayalah kepadaku.

Produk presentasinya salah.

Yang kita butuhkan adalah mentalitas tentara.

Kenapa hubungan kita harus dirahasiakan?

Apa itu?

Bukan apa-apa.

Kejutan kecil membuat kencan menyenangkan.

Itu Jung Da Hee.

Da Hee!

Apa yang kamu lakukan?

Apa yang kamu lakukan pada kukisnya?

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.