All language subtitles for Cinta.Tak.Pernah.Tepat.Waktu.2025.720p.VDO.WEB-DL.AAC2.0

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Kata bapakku, musuh terbesar manusia adalah waktu.

Dia mudah membuat kita terlena.

Juga bikin kita sangat menggebu -gebu.

Bucing, bucing, bucing.

Aku, aku ini adalah petoro -tolo

manusia dewata.

anak dari dewa -dewa penguasa jagad raya.

Bapak bilang, waktu itu seperti monster yang siap menelan

kapanpun. Makanya, di jagad pewayangan, waktu digambarkan dengan wajah yang

seram sekali.

Batara kala namanya, alias dewa waktu.

Maka dari itu, Aku berpesan kepada kalian wahai manusia. Berpesan kepadamu.

tidak menyanyiakan waktu. Dan membuang -buang waktu dengan percuma.

Karena Allah akan menelanmu. Sampai kamu tak berdaya.

Dan saat ini seolah -olah. Sang waktu perlahan.

sedang menelanku.

Aku seorang penulis yang biasa hidup dalam tuntutan waktu.

Diatalan artikel, cerita pendek, terjemahan, editing tulisan.

Tapi aku paling tidak bisa kalau cintaku pun tertuntut juga oleh waktu.

Kapan mau ketemu Bapak, Mas?

Dari Mbak Nadia.

Mas Didit, ikut tolong bikinin mie godok buat Mas Daku. Terus masaknya lamain,

soalnya Mas Daku sukanya nyemek.

Kasih telur, sayur, cabainya loro, terus kecapnya agak banyakin.

Nah, Mas nanti bikininnya jam 3 pagi aja. Kalau udah, anterin langsung ke

kamarnya. Atau aja jendelanya.

Cun, ya, Mas?

Sambil -sambil, Mbak Nadia.

Oh, gue pakai keris, ya?

Terus dibayar, Mbak Nadja.

Tinggal makan, bayi.

Beruntung loh, Mas Daku.

Punya pacar kalau Mbak Nadja.

Gendang dinikahi, bayi, Mas. Ngomonganmu ini loh, kayak budi -budi.

Selamat makan ya, Mas Daku.

Tak beliin sarapan di meja.

Iya aku tahu. Kalau aku mendapatkan cinta yang sempurna. Dari seorang

Kesetiaannya.

Perhatiannya. Bahkan pengabdiannya pada cinta.

Begitu nyata.

Enak gak?

Enak banget. Thank you so much. Terbaik emang.

Kami -kami.

Emang beruntung loh, Daku ini dapat pacar kayak kamu. Tak doain dah, cepat

dinikahin. Amin.

Aku kapan?

Enggak, Cik, gitu loh maksudnya.

Kemarin Daku dulu sama Nadia yang nikah, ngapain Cik kita nikah -nikah? Kenapa

harus Daku sama Nadia dulu? Kenapa gak kita duluan?

Tapi bukan berarti semua itu harus terikat

pada sebuah pernikahan.

Bukankah cinta itu sendiri adalah sebuah ikatan yang suci?

Apa mas?

Aku kerja dulu.

Ya?

Itu sarapanmu udah aku siapin.

Aku ingin menikmati cinta yang bebas, yang bisa aku rasakan tanpa ikatan

maupun tuntutan apapun bentuknya.

Kangen, Bu.

Niki lho, Bu. Daku lagi nulis buku baru.

Nulis buku nikahnya kapan?

Ibu, Ki. Kok iya nikah? Terusin dibahas.

Mending ibu tak ngelegah berdaku prik pun.

Kayaknya ada yang baru dapat honor nih.

Saudara kita ini, bro. Ini, Nek. Sering -sering. Derak -derak. Jangan jadi ibu

sendiri -sendiri.

Dak, kamu itu kan pemenang saya yang baru dikasih.

Masa nulis buku pesanan terus, loh? Gak masuk, bro.

Gak malu apa?

Bro, selagi penerbit senang, pembaca senang, apalagi itu, ya.

Penulisnya juga senang. Gak masalah, kan?

Lagipula, angka penjualannya bagus.

Bisa mentraktir kita bir Nah itu udah Gak apa -apa mas Nih ya

Sumpah mah kalau aku juga dapet pollingan Ya dari novelaris nih Buat

dari cerita -cerita viral di sosmed Ambil aku Gak apa -apa Yang penting kan

angkanya masuk Terus Kapan novelmu mau ditulis?

Terus Nah dia bisa novelis

Nanti pas waktunya tepat.

Dia suka jawab gitu juga gak? Kalo ditanya kapan ngawinin kamu?

Emang rusak?

Woy, telah malas.

Ngomongannya mas Agus gak usah dipikirin.

Dia emang kalau ngomong suka ngawur, Wak.

Enggak. Terima kasih.

Ya, Bu Zed.

Gak apa -apa, ya. Aku langsung anuai.

Ini dikit lagi, Sengkai. Buku pesenanku.

Aku mau cepet -cepet selesaiin.

Biar aku bisa nulis novel yang bukan pesenan.

Ya?

Gak apa -apa, kan?

Hati -hati, ya.

Semangat nulisnya.

Terima kasih.

Kapan pacarmu itu mau ketemu papa?

Nath, mainin dulu.

Sebenarnya, apa yang kamu harapkan, Nath?

Dia mau ketemu Papa aja gak berani kok.

Nanti kita ngobrol ya, Pak.

Kamu punya tingkat waktu, Nath.

Papa nanyain lagi.

Katanya, Mas, kapan mau main rumah?

Aku tau pasti abis ini, Mas, mau bilang.

Sekarang waktunya gak tepat, Mas.

Aku lagi ada deadline buku, loh, Kak.

Kamu kan selalu ada deadline, Mas.

Jarennya, Mas, tersenuh kalau aku.

Lima tahun, loh, Mas.

Lima tahun awak dewe bareng. Mas, belas ratau gelam namun itu apa? Eh,

aku mau.

Aku mau.

Nanti.

Nantinya kapan?

Di sini aku merasa cinta telah dikuasai sang waktu.

Kesuciannya menjelma menjadi tuntutan.

Layaknya deadline sebuah karya pesanan.

Percayakanlah, Ibu.

Percayakanlah, Ibu, ya.

Tapi cinta, tetaplah cinta.

Berkita waktu, setelah menguasainya.

Nggak usah.

Nggak jadi.

Eh, rokok. Kok manja kamu kantong -kantongin? Kenapa kamu nggak mau?

Nggak diarah pasti ini.

Kenapa dia?

Mau sampai ngajak ketemu.

Ya ketemu lah, Su.

Buat ditodong tuh, suruh nikahnya anaknya.

Su, kamu lupa caran sama dia udah kayak jabatan masa presiden?

Wajarlah disuruh nikah. Kalau enggak disuruh nikah, baru aneh. Ya, Rika minta

nikah. Beh, beda.

Kalau aku sama dia tuh ya, selama masalah emosional dan biologis

aja, Su.

Eh, takut boleh, Su.

Tapi jangan aja kamu jadi brengsek.

Kamu ya, sama Nadia tuh udah lima tahun.

Nadia tuh orangnya baik.

Suka bantuin kamu beresin kamar kamu.

Bapak sama ibu juga sudah cocok sama dia.

Oh, josue -sue.

Baiklah.

Aku harus rela menekan ibu.

Demi agar tidak merupai cinta.

Dan sewaktu tidak mencapakanku begitu saja.

Terima kasih.

Aku paham sekarang kenapa sang waktu berwajah menyeramkan.

Sebab dia bisa melumat apa saja.

Termasuk cinta.

Dan siapapun yang menjadi korban keganasan sewaktu.

Akan merasakan detak jantungnya berhenti sesaat.

Lalu melemparkannya ke sebuah kotak kehidupan.

Yang tak akan pernah bergerak ke belakang.

Ibu kan udah bilang.

Aja sui -sui.

Bener kan hitikung?

Ki nambah porah.

Gak nyangka, Bu.

Bakal kayak gini.

Ibu juga kalau jadi Nadia ya malas sama laki -laki orang jenaz kayak kamu.

Ini namanya Anjani, anaknya Bu Dewi yang dulu

itu guru SMP -nya Daku.

Mak, sekarang ini dia tuh menurutkan ibunya itu lho, Pak. Jadi guru SD nih.

Oh, cocok. Ini cocok. Bisa ngajari dagu.

Kita lihat yang lain.

Punto, Bu.

Sampun.

Innalillahi.

Baru bangun jam segini.

Wah, Kak Nenek, Kak.

Kalau punya istri tuh pasti bangunnya subuh. Karena harus nih, Mami, subuhan.

Bapakku sayang, ibuku yang cantik.

Daku tuh kesini pulang, itu pengen nenangin diri.

Pengen selesaikan buku, bukan buat nyari jodoh.

Bel. Lagi pula, Daku itu bisa kok. Cari jodoh sendiri pun gak perlu repot

-repot. Masa? Iya.

Kayaknya gampang aja nyari. Dimana nyarinya? Ya pokoknya bisa.

Su, aku bingung loh, Su. Itu Nadia tiap hari datang dia ke kontraan.

Apa enggak tahu lagi aku cara ngadepin dia?

Su, sepahit apapun nih, Su, pasti punya lah dia penjelasan kenapa dia nikah

duluan. Saya usah dibahas, Pak.

Ya udah, ya udah.

Saya usah dibahas.

Oke?

Tapi baliklah ke Jogja, Su.

Ayo pulanglah. Kita senang -senang lagi aja, yuk.

Nah, aku belum mau lonceng poster sama ada crowdfunding.

Lusa?

Ayo lah, ini kan film pertama gue. Masa lu gak dateng?

Nah, ya.

Kumpul kita lagi bareng -bareng, kan? Aku pengenlah orang -orang yang kusayang

ada di hari itu. Masa kamu gak ada?

Iya. Iya, iya.

Benar, nih.

Iya. Janji, naik.

Iya.

Gitu, naik, tuh.

Terima kasih, terima kasih.

Spesial terima kasih untuk Mas Eko Nugroho atas kontribusi lukisannya

film poster saya.

Selamat, Mas Manu, untuk film barunya. Terima kasih, terima kasih.

Bentar, bentar, Mas Arbus. Mohon maaf nih, aku nih yang traktir.

Salam kebetulan.

Filmmu salon dok ofis. Amin.

Makasih Bang. Ya udah lanjut -lanjut dulu. Aku pinjam dulu ya. Bentar ya.

Bentar, bentar. Lo pinjam dulu bentar. Udah ikut dulu bentar. Makasih ya udah

datang.

Permisi.

Tantu Wijang nih sahabatku Daku Ramalah.

Mas Eko, kenalin sahabatku Daku Ramalah.

Tantu Wijang ini investor di filmnya Manudaka.

Jangan dibetar -betarkan.

Kecil. Lagi coba -coba di film.

Dan Manu, keputusan kamu memakai lukisannya Mas Eko buat poster film,

sekali. Waduh.

Terima kasih loh, Tante.

Makasih juga Mas Eko, ini udah support loh.

Mohon maaf ganggu.

Mas Eko, Manu, Rika, kita ingin standpoint.

Oh, oke.

Anya, ini Daku, sahabatku. Daku, ini Anya. Halo.

Baca juga Tante?

Salah satu...

Kumpulan cerita pendek terbaik yang pernah saya baca.

Terima kasih.

Apalagi artikel kamu soal acok.

Ya, membuat saya jatuh sayang. Penulisan kamu, persekutu kamu, bagus sekali.

Makasih, Bu. Eh, Nenek, Nenek, Nenek.

Wijang. Oh iya, Tata Wijang. Terima kasih.

Aduh, sakit.

Enggak usah besok -besok party -party.

Mabuk -mabuk enggak jelas?

Enggak, aku semalam enggak mabuk juga.

Enggak mabuk naik -naik meja?

Masa, ngaco ya kamu?

Masa, ngaco ya? Aku yang repot jagain kamu. Ya namanya kamu juga pacar aku.

Lebih ke sekuriti bukan pacar. I didn't say that.

Didn't say that.

Dari Nadia tuh beli.

Aduh sayang. Rakit berat.

Masuk aja ke rati.

Samperin nae Nadia beli.

Kakak gini nih ujungnya.

Su, jaluk nomornya aja.

Eh,

aku butuh nomor yang gak kepewean.

Eh, ngaduh.

Ngai -ngai, ganti jadi jelemo.

Jangan aja mulai yang baru kalau yang lama aja belum kelar. Yalah makan

ninggalin aku.

Wih, Sof.

Anya tuh mandiri.

Tegas.

Enggak aja kayak kamu.

Mandi jarang.

Masa depan mau aja suram. Kalo itu gak tau.

Aku sama Anya tuh udah kemistri.

Biji keleng kemistri.

Jadwalnya sudah dikonfirmasi ya. Pak Mahfud bisa datang.

Terima kasih.

Gini kamu caranya gombalin cewek online.

Oke. Enggak juga.

Cuma sama kamu.

Yang gombalinnya offline dong, jangan online.

Jadi?

Oke.

Kafe, jam 8, santra aku besok. Gimana?

8 pagi.

Ya jam 8 pagi dong, jam 8 malam kan dinner.

Oke.

Oke?

Oke, baik -baik saja.

Tapi nanti jadwalnya harus dikeluarkan. Jadi setiap tempat duduk tuh harus...

Wah, dua orang jaya pake.

Mungkin jam 8 pagi buat siang.

Ya, aku... Maafin, aku mau tadi tiduran soalnya.

Kalau lo gak bisa ngelamatin waktu gue, mungkin ada yang lebih respect your

time. Make it make it time.

Ya, aku mau deket sama kamu.

Tolong kasih aku kesempatan buat kebuktin ke kamu.

Aku bakal ngelakuin apa aja kok.

Astaga, kamu kasih aku spot kedua.

Apa aja?

Iya.

Oke, kita bakal cerita tentang bawang putih, bawang merah ya.

Iya, bawang merah, betul. Nah, Alkisa di kampung dadapan Yogyakarta

hidup sebuah keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak gadis

mereka yang bernama Bawang Putih.

Nah, meskipun sang ayah ini hanya pedagang kecil, Jadi aku dari dulu tuh

cita -cita jadi guru.

Bareng temen SMA Puput.

Nah ini keluarga kecil -kecil kita ini.

Dan proposisi untuk mengajarkan dan menceritakan istilah masyarakat

Dan semenjak Puput cabut ke US.

And to be honest, storytelling aku tuh gak sebagus Puput ya.

Jadi aku berterima kasih banyak pada kamu.

Udah bikin mereka happy.

Thank you.

Yang minta, Pak.

Aku senang, Pak.

Ngantinya puput.

Sementara. Sementara.

Coba lihat, Pak.

Alarm kamu.

Nih.

Buset.

Alarm begini banyak, kamu gak bangun sama sekali.

Ijam hidupku kebalikannya orang normal.

Jadi malam, orang -orang pada tidur.

Nah, aku malah ngelilis.

Pagi ya, pas orang -orang pada bangun, aku tidur.

Asing banget badan kamu.

Lu kayak gini kok bertontong.

Apa -apa?

Emang tulisan kamu sepenting itu?

Sampai harus ngorbanin waktu tidur.

Ngapain kamu disini? Salah daku mana?

Su!

Bangun nih!

Ada yang nyalain tuh, Su!

Gimana? Gimana?

Gimana? Gimana?

Tidak, sudah tanyain terus.

Katanya kapan kita mau soan ke rumahnya untuk temui ajeng.

Kan ibu jadi tidak enak hati.

Kulopun onten, pilihan sendiri, bu.

Hanya namanya.

Tenangan. Saya setuju.

Eh, maju kuyon, lho. Saya setuju.

Mas Agus.

Atau dibuang ke mana -mana kok.

Orang.

Sunil. Ya.

So, in particular cinematic universes, there are different ways that director,

cinematographer, and color.

So, in this one in particular, the most dominant one is the bed. Right?

So, I'm really like... Itu udah istirahatnya gue cemuk.

I'm taking my final gaze.

You see.

Gonna look back this time I will.

Wonder the world could get my dear.

Light go down. Earth come fall.

Let's have a story.

Selesai. Oke, oke.

Siap, Mas. Terima kasih.

Ya.

Biar makin semangat. Jidik kali aku bacanya, no.

Udah kamu ngapain, sayang, gak, Su?

Tungguin aja aku liat dia bucin gini, no.

Aku tau.

Pernah lo aku liat dia bucin selama temenan aku sama dia.

Jangan sampai main -main, Su.

Iya, iya.

Terima kasih, Takwini.

Iya, sebentar dulu lah.

Gak je gitu masalahnya. Jangan deh kamu main -main. Ini temenku, Su. Kalau cuma

loga -loga loje, jangan deh samanya.

Iya, oke.

Sebentar, sebentar. Enggak, aku tahu kamu ini.

Masalahnya aku lagi ada projek loh sama dia.

Enggak, stop dulu. Aku lagi ada deadline dulu ini. Bentar dulu. Enggak, ini

lebih penting, Su. Jangan deh bahwa masalah masalah ini sahabatku, Su. Aku

ada projek. Masa kamu tegangan cuy? Masalah kelangkangan nih. Aku tahu

kamu ini, Su.

Eh Jack Terius, pokoknya jangan sampai kamu main -main, aku baru pulang

rekening. Iya, belum juga jalan syuting ini pokoknya. Oke, oke.

Janji kamu?

Janji. Udah janji? Oh, jelma -jelma boba.

Eh

alamakannya.

Monggo. Ini dia.

Damu kebiasaannya.

Gali yang rapat.

Kalau digali rapat ini.

Nah, buat mas ya, pas banget ini. Amin.

Coba lihat jempolnya.

Wah, sayang. Gede lemah. Kalau jadi orang gede itu, jangan lemah gitu.

Mau, mau, mau. Terima kasih. Ayo.

Ini menu saya, kerajaan saya yang terbaru.

Enggala seto namanya.

Gimana?

Eh!

Ayo. Gak mungkin.

Paham ya, mas?

5 tahun dari sekarang kira -kira kamu dimana?

5 tahun dari sekarang...

Kalau kamu gimana?

Aku yang nanya, kamu nanya balik. Gimana sih?

Oke.

5 tahun dari sekarang...

Punya anak dua sepatang cewek cowok.

Lanjut S2 di UGM.

Kisah makin besar. Akhirnya aku udah bisa let it go.

Dan bisa ya konten saya ke keluarga.

Aku pikir kamu gak kepikiran buat... Ya keluarga.

Apa? Perang cewek ambisius yang gak kepikiran punya anak.

Gitu.

Ini.

Kata orang -orang sih, keluarga sekolah pertama kita.

Aku mau bangun keluarga yang bagus untuk anak -anakku.

Aku mandi dulu ya.

Harpleng takutnya. Mati bicara.

Aku

mau

kamu jadi bapak anak -anakku.

Semua hamil.

Terakhir aku cek singgah ya.

Kenapa?

Emang ada larangan cewek ngelamar ke cowoknya dulu?

Sambil baik, seksnya enak, nyambung.

Menurut aku, kita bisa bangun keluarga yang senang.

Tingganya juga gak usah sekarang, sayang. Itu membuat aku senang.

Aku...

Bentar, Nya.

Aku belum bisa sayangmu. Udah.

Aku udah.

Aku udah.

Nya. Kita obrol di dalam. Perin aku dulu.

Ngapain?

Ngapain apa?

Aku ngajak serius kamu gak mau.

Menyanyi gue doang.

Gitu.

Takut, Nya. What?

Aku takut.

Takut bikin kamu kecewa.

Takut gagal aku.

Gak bisa aku jadi suami, gak bisa.

Aku takut gak bisa jadi laki -laki yang baik buat kamu.

Tukang saku untuk bikin kamu berani, Daku.

Besok meeting, jam 8.

I'll be fucking late.

Kenapa di saat aku menemukan cinta yang pas, selalu tak disertai waktu yang

tepat.

Bersama Nadia, cintaku terlewat waktu.

Dengan hanya, cintaku tak seiring waktu.

Mungkin untuk sementara, sebaiknya aku hidup dalam sangkar ibu dan bapak.

Sampai sang waktu, kembali memberikan cintanya.

Terima kasih

telah

menonton

Nasikmu beri.

Perjalanan.

Daliku hidup ini.

Pak Ibu kemana?

Aku ke sini.

Ibu lagi cek darah.

Gula darah.

Oke. Kenapa tidak ditemenin?

Ibu itu.

Pengen sendiri. Aku pengen Dewi.

Aku mau merasakan kesendirian.

Yahweh. Aku juga bisa kok. Seneng -seneng sendiri.

Amrah.

Aku mau nanya.

Kepulanganmu kali ini.

Bawa masalah apa?

Masalah apa?

Dadah. Oh.

Putus sama ini.

Tanya. Bapak tahu.

Ya tahu lah, tahu lah.

Kenapa ya, Pak?

Perempuan yang dekat sama aku pada minta nikah semua.

Aku juga enggak tahu.

Kenapa sih? Kamu enggak nikahi aja perempuan -perempuan yang senang sama

itu. Ibu lama banget, Pak.

Aku sudah bilang ibu itu lagi cek darah sama bu dokter.

Ibu ganti dokter.

Baiklah.

Ibu. Aduh, ini apa lagi? Please, saya minta untuk ibu.

Repot -repot sekali, Bu Dokter.

Semoga suka ya.

Ibu ingat, jangan banyak mandi.

Iya, Bu Dokter.

Pak, Bu Dokter tuh ya, ngambung banget tuh sama Bu Retno.

Oh iya?

Padahal kan Bapak tahu sendiri, Bu Retno tuh kan orangnya kagunya seperti apa.

Begitu dikenalin tuh bisa langsung lengket seperti HP sama casingnya gitu.

Bu Dokter. Itu ketemunya di mana?

Pasar babakan.

Tadi udah ngajak ketemu. Gak perlulah pasar babakan. Yang penting ini enak

banget. Yang bikin tuh bu dokter sendiri lho pak. Ini nasi lemak.

Makanannya Malaysia ini.

Enak banget.

Kok yang tadi diomongin tuh bu dokter.

Emang orang kayak gimana sih?

Jangan tanya -tanya ya. Bu dokternya ibu.

Pak.

Besok bu dokter itu mau ajak.

Ipu ke pantai. Bapak ikut ya.

Iya kan kita udah lama pak. Gak pernah liat bomba.

Ora ora.

Ora.

Ambil sendiri.

Ini enaknya.

Jokowi ya, akhirnya mbak Fono.

Lo kan mau dibawa elek saji ke puskesi, mas. Ya, tapi pas perjalanan pulang, lho

kok malah tinggal di sini.

Jangan minta, ya.

Jangan minta, ya. Jokowi ya, itu malah kira. Sekarang nggak tahu kondisinya

gimana. Jangan minta, ya. Tenang, ya.

Kenapa tuh, elek?

Kayu, elek Fono, eh. Kau anda ini nge -yaya tenang, no.

Sengit aku.

Ragem juga ini rumah sakit.

Permisi, permisi, permisi, permisi.

Ayo, Pak, Pak, cepat, Pak, cepat.

Itu.

Cepat, loh.

Cepatkan, Pak.

Bangun, Pak.

Yang udah tampan.

Mas, bangun, Mas.

Daku.

Kamu antar mobilnya Bu Dokter ke rumah sakit Bakti Hutada. Tapi kamu turunin

dulu di rumah.

Loh mobilnya dimana?

Itu di parkiran sana.

Terus nanti ini. Pas.

Sama kunci mobilnya.

Dicitip aja.

Rasa ketemu.

Bu dokter itu pasti sibuk.

Jangan diganggu.

Permisi aku mau nupang tanya.

Ruangannya dokter tak lagi boleh?

Dokter Sarah yang dari Malaysia?

Iya. Bapaknya lurus, nanti belok kanan.

Lurus, belok kanan? Iya, betul.

Sama -sama.

Dokter Sarah? Gimana ya?

Begini ya. Baik, baik.

Iya gak apa -apa, kontak dia aja. Iya, baik dong.

Dokter, dokter Sarah.

Anak ibu Suti? Iya, betul.

Ini titipannya ada tas sama kunci mobil.

Terima kasih.

Dokter dari?

Malaysia. Malaysia?

Iya.

Mbak Pono dimananya?

Tadi dia ada disini, sekarang dia sedang dimandikan.

Maksudnya?

Bapak udah meninggal?

Tapi dia lebih tenang, kan?

Iya.

Keluarganya gimana?

Dia tak ada keluarga.

Tak ada istri.

Tak ada anak.

Dia cuma punya adik, tapi adiknya kerja jauh.

Jadi tak ada siapa -siapa dapat bantu dia.

Ayo makan.

Aku tahu kuliner enak di Rembang.

Ya.

Monggo, Bu Dokter.

Monggo, Mas Daku.

Iya, Bu.

Padahal muncul menopo, Bu Dokter.

Biar tak, Bu.

Teh hangat, gulanya sedikit. Iya.

Mas Daku.

Hah, sama.

Sekedap. Sungguh.

Mas Taya.

Mas Toyo, kali.

Wah, keren banget.

Ibu selalu ajak tanya ke sini?

Wah lah, kenapa gak bilang tadi?

Awal tak tanya pun.

Di Malaysia tuh orang -orang sakit ya?

Sampai kamu protek begini.

Saya dan lima lagi dokter.

dari International Women and Children Health Council sedang buat research di

sini.

Insya Allah, akan dibangunkan rumah sakit internasional di Rembang dan dua

nusul di Sumatera dan Lombok.

Ibu banyak cerita pasal awak.

Cerita apa?

Iya, saya disuruh.

Hati -hati.

iya katanya awak

buaya

Sini kamu.

Kamu tuh ya.

Jangan macem -macem. Jangan main -main sama ibu dokternya ibu. Ini

serius, Le.

Ibu dokternya ibu itu.

Orang baik.

Aku orang jahat gitu.

Iya, aku ngerti. Aku gak deketin ibu dokternya ibu juga.

Jangan susun, oke?

Buku itu belum selesai. Kamu tuh... Aku tuh pulang emang pengen beresin buku,

Ibu. Ya, udah.

Ah, ya Allah.

Daku.

Ini serius, Lek.

Iya, Ibu. Sayangku. Jantung hatiku.

Iya.

Iya, maaf. Ini agak terlambat.

Saya kirim. Saya kirim beratnya sekarang juga.

Iya.

Nah, sama satu lagi itu yang...

Untuk yang adaptasi, aku belum bisa ambil, Mas.

Mungkin, ya, mungkin next time, Mas.

Mau istirahat dulu.

Assalamualaikum, Pak.

Waalaikumsalam.

Gimana mandunya? Udah coba?

Alhamdulillah.

Sudah ditunggu ibu itu di dapur.

Saya masuk dalam dulu, ya.

Silah, silah.

Assalamualaikum, Bu.

Waalaikumsalam Bu Dokter.

Eh itu madu yang dari kamu itu Bapak cocok banget loh.

Biasanya Bapak tuh gak suka yang manis -manis. Pagi.

Alhamdulillah kalau gitu.

Pagi.

Bu Dokter.

Kalau anak ibu mulai ngegombal, ngerayu. Cukup didengerin ya.

Pak.

Ibu deket sama Tara dari kapan?

Kok lengket banget?

He he.

Ada yang mulai curiga dan cemburu nih.

Karena ibunya merhatiin orang lain.

Orang cuma nanya.

Loh gini loh ya. Gini nih gini.

Sejak dokter Sarah itu datang kemari, aku gak tahu ya, dia gembira sekali.

Seperti menemukan warga baru.

Wah, aku ya sama ibu senanglah mendadak dapat anak perempuan.

Ya kenapa khawatir banget aku deket sama dia?

Khawatir banget dia aku deket sama Sarah.

Ya jelas ibu kenal kamu kok.

Ibumu gak mau cara dilukai perasaannya sama kamu.

Emang gak aku sering menyakiti perasaan perempuan, Pak?

Gini loh ya, kalau ibumu itu udah curiga, itu

pasti dia ya, udah bisa melihat gelagat

burukmu itu.

Hei!

Apa yang bikin Bapak?

Nah, mutusin buat nikahin ibu.

Ini loh, Gina.

Sebenarnya bapak tuh ingin melanjutkan hidup.

Karena hidup itu bukan cuma lahir, sakit, mati, dikubur.

Ini ada.

Ada kehidupan setelah mati. Lah itu.

Maksudnya gimana tuh, Pak? Bapak tuh, apa?

Gak ngerti aku.

Ini, ini.

Itu seperti ini.

Seperti mampir minum.

Singkat. Makanya.

Bapak tuh gak muruk.

Iya kan?

Jadi.

Bapak.

Supaya punya anak.

Kenapa? Saya ingin kehidupan Bapak. Yang.

Jujur terakhir kematian itu, selamat.

Itu nyambungnya di mana?

Hah? Nyambungnya di mana?

Aduh.

Kok ini aduh, pasang gak ngerti sih. Jadi begini, ya.

Kalau aku menikah, aku punya anak.

Nanti kalau aku meninggal di akhirat nanti, siapa yang mendoakan Bapak?

Ayo. Siapa?

Anak Bapak kan?

Kamu anak kebuka?

Iya. Anak kebuka.

Iya.

Gitu dong.

Bapak Undang meninggal.

Dia tak ada keluarga.

Dia tak ada istri.

Tak ada anak.

Jadi tak ada siapa -siapa dapat bantu dia.

Daku?

Daku, tolong!

Tolong angkat dia, Pak.

Angkat, angkat, angkat.

Bu, jangan risau.

Ini, Alhamdulillah, Hasil.

Ronsennya ada aku.

Aman, bagus.

Oh, aman, aman.

Hasil, udah nyelamatin aku.

Baik, nak kan berehat. Di rumah dulu, jangan keluar.

Kalau ke pantai boleh.

Ya, boleh. Tapi jangan besok. Berehat dulu.

Terima kasih

ya. Kamu udah

bikin ibu sabar.

Saya yang merasa senang, sebab dapat merasakan punya orang tua lagi.

Mami dan Daddy meninggal sejak saya usia 10 tahun, par accident.

Dan sejak itu, Nenek yang menjaga saya.

Ketika bertemu sama ibu bapak itu kan, buat saya happy sekali.

Rasanya seperti bersama orang tua saya.

Takdir membawa saya dapatkan tugas kesini.

Dan takdir juga yang menemukan saya sama ibu, bapak, awak.

Takdir.

Oh, hujung minggu ini kan berdiri -diri.

Oh ya?

Iya. Kebetulan saya tak ada shift, tak ada kerja, jadi boleh balik KL sekejap.

Oke, boleh kembali.

Rehat je.

Cukup! Cukup!

Cukup!

Jujurnya, ini pertama kali saya naik motor.

Serius? Iya, pertama.

Ya, maaf aku jadi bikin kamu gak nyaman.

It's okay. I like it.

Tapi takut sedikit.

Dari mata dulu?

Ya.

Dari baju. Ya.

Oh, ya.

Saya udah baca novel awak.

Novel yang mana?

Kulihat cinta di matanya.

Aduh. Kenapa yang itu?

Kenapa? Iya, itu dobel pesanan.

Pesanan? Iya, aku nulisnya sesuai permintaan penerbit.

Oh.

Jadi cerita itu bukan cerita Wak?

Iya.

Saya tengok dekat online shop ada empat tajuk empat -empat itu. Pesanan?

Iya.

Kenapa tak tulis cerita sendiri?

Ya, karena... Takut gak laku.

Seperti cerpengku sebelumnya.

Sumur tanpa dasar.

Yang dapat perhagaan itu kan?

Saya coba cari buku itu, tapi... Tapi sudah dicabut jawaban erbit karena gak

laku.

Saya harap satu hari nanti awak bisa menulis cerita yang awak mau.

Yang jujur.

Tak perlu pikir pasal laku atau tak.

Biarkan kejujuran itu menemui jalannya sendiri.

Saya masuk dulu.

Ya.

Terima kasih, datang saya pulang.

Ya.

Tar.

Ini aku beneran gak boleh.

Nantri kamu kial.

Kenapa? Masih takut ya?

Karena ibu bilang aku buaya.

Tak lah, tak macam itu.

Terus?

Cuma saya rasa macam... Semua ini berlaku terlalu cepat.

Saya senang. Saya bersyukur.

Dengan apa yang dah jadi.

Tapi biarkan semua ini mengalir sesuai dengan alunya.

Sesuai takdirnya.

Macam sekarang, kita ditakdirkan untuk ada di sini, bercakap, senyum -senyum.

Kita boleh takdirkan.

Tak perlu risau pasal masa depan.

Baik, buruk, rezeki, jodoh.

Semua itu Allah dah tentukan.

Meskipun lakinya buaya.

Terima kasih.

Nek, esok insya Allah Sarah akan sampai pukul 11 pagi di KL.

Sarah balik seorang saja?

Seorang saja dengan siapa lagi?

Tak ada orang yang suka Sarah di sana.

Nek kesitu pula.

Kamu Sarah jangan sibuk sangat.

Nanti lama -lama kamu lupa nak kahwin.

Ya, Nek. Nenek tenang juga.

Insya Allah, bila tiba masanya nanti, Allah akan berikan jodoh yang terbaik

untuk Sarah.

Hidup itu seperti mampir minum.

Makanya, Bapak itu tidak muruk.

Kenapa? Saya ingin kehidupan Bapak yang diceterah kematian itu

selamat.

Oh ni, Sarah ada siapkan hadiah untuk Nenek. Cantik tau.

Nenek tak nak hadiah kamu.

Nenek nak kamu bawa balik calon suami kamu, bawa balik ke rumah kita ni.

Ya Allah, Nenek ni ada -ada je.

Oke. Kalau aku menikah, aku punya anak.

Nanti kalau aku meninggal di akhirat nanti, siapa yang mendoakan Bapak? Ayo,

siapa?

Daku mau bicara sebentar.

Nanti suatu sama Daku.

Suatu sama Daku.

Apa?

Daku mau melamar Sarah.

Daku serius, Bu.

Jangan mahir kamu.

Serius, Daku serius.

Pas aku liat ibu sama bapak pas sama Sarah, dia aku yakin, Bu.

Dia aku yakin.

Dia aku juga seneng sama Sarah, Bu.

Dia beda.

Dia beda, Bu.

Dia aku udah gak mau takut -takut lagi.

Udah gak mau main -main lagi, Bu.

Dia aku serius.

Temanan. Demi Allah, Bu.

Sebenarnya, sejak awal, Ibu juga maunya tamu sama Sarah.

Ibu bersikap seolah -olah menolak kamu dekat dengan Sarah.

Kan Ibu takut.

Sekut sekali kalau kamu nyakitin perasaannya dia.

Dan aku janji, ibu gak akan nyakitin Sarah, ibu.

Ibu percaya dan aku gak akan nyakitin Sarah.

Dan aku janji, ibu.

Janji, ibu.

Kamu janji sama diri, kamu jangan sama ibu.

Iya.

Ibu restu ya.

Iya.

Aku setia Allah sama Tuhan.

Dago.

Buka, buka.

Buka.

Ikut aku aja, ikut aku.

Salah satu pesawat komersial terbaik di dunia hilang secara misteri dari radar.

Pemirsa Breaking News Indotv hari ini.

Pesawat mentari R727 tujuan Semarang Kuala Lumpur dinyatakan hilang kontak di

sekitar Laut Jawa dekat dengan Selat Kalimantan pada pukul 7 .45 waktu

bagian Barat.

Hingga kini proses pencarian masih terus dilakukan. Kita doakan semoga pesawat

mental R727 segera ditemukan.

Terima kasih.

Sar, ini aku beneran gak boleh nantikan kamu kial.

Kenapa? Masih takut ya?

Karena ibu bilang aku buaya.

Tak lah, tak macam itu.

Terus?

Cuma saya rasa macam... Semua ini berlaku terlalu cepat.

Saya senang. Saya bersyukur.

Dengan apa yang dah jadi.

Tapi biarkan semua ini mengalir sesuai dengan alurnya.

Tak perlu risau pasal masa depan.

Baik, buruk, rezeki, jodoh.

Semua itu Allah dah tentukan.

Senang bisa ketemu kamu lagi.

Tapi saya sedih lihat kondisimu.

Maaf, lebih cinta untuk Wijang repot.

Mei, Mei.

Nggak ada yang repot.

Kalau Wijang nggak ada di Rembang?

Habis beli lukisan.

Sambil ketemu pengraji di sini buat nambah koleksi kebonkasih.

Kebun kasih.

Tempat saya?

Kayaknya kamu cocok healing di sana.

Selamat datang di Kebun Kasih.

Banyak yang datang ke sini untuk healing.

Seperti kamu?

Ini Daria.

Daria, bagaimana Martin?

Ya, dia sedikit lebih baik.

Tapi dia kehilangan keluarga.

Tapi hari ini kita berbicara dengan adiknya.

Oh, itu bagus untuk dia.

At least some progress.

Thank you.

Martin, banyak sekali kehilangan saudaranya di Perang Ukraina.

Banyak yang meninggal. Berat -berat ya.

Frendi, tolong diantar Daku ke kamarnya.

Silahkan istirahat dulu ya, Daku.

Ini mas kamarnya. Mari, silahkan.

Ini untuk baju gantinya.

Nanti kalau mas butuh apa -apa, telepon aja mas.

Pencet angka nur.

Saya permisi dulu ya mas ya.

Terima kasih mas.

Daku? Di mana kamarnya?

Nanti ada acara.

Kamu datang ya?

Sekarang santai -santai aja dulu.

Aku, aku ini adalah Petoropolo, manusia

dewa tak, anak dari dewa -dewa, penguasa jagad raya.

Kenapa dia wajahnya serem banget, Pak?

Kucing -kucing, karena Petoropolo adalah penguasa waktu,

tidak ada yang bisa melawanku.

Kalau waktu sudah berbitah.

Maka dari itu. Aku berpesan kepada kalian wahai manusia. Berpesan kepadamu.

Agar tidak menyianyiakan waktu. Dan membuang -buang waktu dengan percuma.

Karena Allah akan menelanmu. Sampai kamu tak berdaya.

Aku mau melamar Sarah.

Daku, tenang. Pergi!

Pergi! Daku, tenang dulu.

Tenang dulu.

Ada apa?

Daku!

Daku, jangan begitu!

Daku, Daku, Daku.

Siapa? Sang Garjo, suami saya.

Daku, tenang.

Sabar ya, sabar.

Ya, lepaskan.

Dilepas, dilepas.

Marah, sedih, takut, kecewa.

Dilepaskan semua.

Dilepaskan ya, Naya.

Supaya kamu lega.

Supaya hatimu sareh.

Sabar ya.

Irama napasmu.

Tidaknya wiji dengan waktu.

Atur napasmu, Daku.

Coba duduk yang dekat. Duduk yang baik.

Duduk, duduk.

Menyatulah dengan napasmu.

Tarik napak, aku menerima.

Hembuskan, aku melepaskan.

Dengar ya.

Saat kita dilahirkan, kita seirama dengan waktu.

Seiring waktu berjalan, langkah berubah,

irama juga berubah.

Terpengaruh oleh keinginan.

Terpengaruh oleh nafsu.

Terpengaruh oleh pikiran, pikiran memantikan ego,

ego mengaburkan nurani.

Kita

sering

tidak menyadari bahwa langkah kita dan waktu

tidak lagi seirama.

Dan kita sering tidak sadari ada yang tersakiti.

Tarik nafas.

Aku menerima.

Embuskan.

Aku melepaskan.

Ya, ya, ya.

Ya, lepas, lepas. Ya, lepaskan.

Saya, Bu.

Bu.

Maafin Daku, ya.

Maafin Daku.

Selalu bikin Ibu sama Bapak kepikiran.

Daku sering, Bu, bikin Ibu.

Cemas.

Maaf juga.

Aku sering kekanak -kanakan.

Aku belum dewasa.

Makasih, Ibu.

Ibu juga minta maaf.

Maafin Ibu.

Aku sayang Ibu sama Bapak.

Barangkali, hanya dengan kata maaf pada orang -orang yang pernah cedera akibat

kebodohanku mempermainkan waktu, aku bisa memperoleh hampunan.

Kok dimatiin?

Kenapa?

Atau aku harus pergi dulu, biar kamu nyaman. Nggak usah. Benar.

Benar. Yaudah, cobain.

Gimana? Enak kan?

Bentar, aku ambil lagi menu spesial buat kamu.

Sebentar ya.

Maafkan semua kesalahan aku ya.

Maaf kalau aku gak bisa mencintai kamu sebaik kamu mencintai aku.

Dan...

Selalu dikelilingi dengan hal -hal baik.

Kalau mau main kerjaan, main sekarang.

Semoga gak usah.

Aku, aku mau minta maaf.

Cepat banget ngasih minta maaf ya.

Makasih ya kamu dulu dan...

Ya, udah gak usah banyak -banyak.

Gue mahakim kok.

Iya, gue.

Ya, udah sih.

Bye.

Morgan. Are you serious?

Anya.

Will you marry me?

Yes. Yes, come here.

She said yes.

Untuk mereka yang pernah terluka akan mendapatkan penggantinya.

Ayo, duduk dulu. Ayo, duduk.

Satu, kamu gak merepotin.

Dua, saya itu ingin sekali kamu menghasilkan

sebuah tulisan di sini.

Apapun itu.

Ya?

Justru itu.

Aku pengen balik, emang pengen nulis. Hah?

Semua yang disini Pasti akan menghasilkan kebuah karya daku Iya bu

Tolong siapin semua keperluan daku ya Oh yang kemarin itu bu Siap

Ini semuanya sudah saya siapkan

Makasih banyak ya Sama -sama mas Saya permisi dulu ya mas

Aku banyak belajar dari tanah ini. Coba kamu lihat.

Tanah ini enggak neko -neko.

Kita cukup merawatnya dengan baik, mengolahnya dengan baik, maka dia akan

memberikan hasil yang lebih baik.

Tidak perlu diatur berlebihan, tidak perlu dipaksakan.

Karena setiap saat ada waktunya, setiap waktu ada saatnya.

Saya harap satu hari nanti awak bisa menulis cerita yang awak mau.

Yang jujur.

Tak perlu pikir pasal lagu atau tak.

Biarkan kejujuran itu menemui jalannya sendiri.

Selaraskan irama mudaku, nikmati waktumu

detik ini, saat ini, di sini.

Katanya hampir 90 persen pasangan suami istri tidak menikah

sama cinta sejati mereka.

Ya, cinta dan waktu kan belum tentu selalu selaras ya.

Makanya saya butuh empat kali nikah dulu sebelum ketemu kamu ya, Tang.

Empat kali?

Iya. Dan itu pun tidak ada yang menjamin kalau aku ini cinta sejatinya wijak.

Siapa yang menjamin?

Ya kan?

Boleh jadi.

Dia masih akan menikah untuk yang ke -5, ke -6, ke -7, ke -8, atau bahkan 208.

Kamu kuat, 208.

Saya jodoh untuk Kak Cita atas musibah yang menimpa Pak.

Sudah takdirnya begitu, Pak.

Tapi pikir -pikir lucu ya.

Aku sama Nadia lima tahun bareng.

Tapi pisah karena aku selalu nolak ketemu bapaknya.

Terus aku lanjut samaannya.

Banyak sekali memori indah.

Tapi kaget banget.

Waktu dia ngajak juga.

Takut ya?

Menikah itu benar -benar takut ya.

Kalau aku bertemu satu perempuan, dimana kami gak pacaran.

Bahkan hanya sekedar kenal.

Tapi itu ketakutanku semua hilang.

Justru aku bisa membayangkan bangun keluarga bersama dia.

Ya.

Tapi cinta tidak pernah tepat waktu.

Lucu dia. Lucu.

Memang begitu menurutmu.

Menurut yang maha pencipta memang kamu tahu.

Boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal itu buruk bagimu.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu sangat

baik bagimu.

Dago, Allah maha mengetahui dan kita ini tidak tahu apa -apa.

Percayalah.

Semuanya akan hadir tepat pada waktunya.

Menurutnya. Bukan menurutnya.

Ternyata cinta dan waktu punya kesamaan.

Sama -sama tidak bisa diduga akhirnya.

Yang sudah kita perkirakan bahkan diputuskan.

Bisa hancur berantakan.

Tapi bukan berarti kita hanya pasrah menanti keajaiban.

Kita bisa meraihnya.

Entah kapan.

Gimana, Tang?

Menyentuh sekali.

Tulisan kamu memikat dan mengikat.

Sangat terasa ditulis dari hati.

Bagus.

Nanti rojiknya di sini ya.

Oke. Oke.

Saya menulis karena saya senang sekali menulis.

Seiring berjalannya waktu, kesenangan itu justru berubah menjadi tekanan.

Tekanan menjadi penulisnya seperti apa?

Menjadi penulis pesanan penerbit?

Atau justru pesanan yang memang datangnya dari suara hati sendiri?

Pertarungan itulah yang membuat saya takut sekali untuk menulis

Sesuatu yang memang saya suka.

Yang memang saya mau.

Tapi.

Sekarang saya gak mau takut lagi.

Dan saya harap.

Kalian semua yang ada disini.

Juga demikian.

Maturnu sangat.

Buat bapak.

Dan juga ibu.

Yang selalu mengerti daku.

Produk you, bro!

Eh, terkenal temenku sekarang, lho.

Ketap sekali.

Daku nih sekalian, ya.

Aku yang bikin kamu terkenal.

Selamat ya.

Akhirnya terbit juga.

Habar gimana?

Baik.

Kamu gimana?

Baik, alhamdulillah.

Ibu sama bapak sehat kan?

Sehat.

Aku tuh sebetulnya berhutang penjelasan sama kamu.

Kamu udah ada hutang apa -apa sama aku?

Jujur aja.

Tempat ada banyak anda di kepala aku.

Eh, nak?

Andai mas mau ketemu sama papa, mungkin papa gak akan jodohin aku sama Reza.

Andai aku lebih berani.

Mungkin aku bisa nolak keinginan papa dan lebih milih mas.

Andai ini, andai itu.

Kayak, eh kalau aku terusin gak ada hidupnya.

Tapi lucunya, semua anda itu hilang saat aku sadar satu hal.

Kalau mencintai kamu bisa melukai orang tuaku,

kelak aku pun bisa melukai kamu, Mas.

Dan aku gak mau kita saling nyakitin.

Terima kasih, Nen.

Karya baik biasanya lahir dari hati yang tercabik -cabik.

Mirip kisahku tuh. Hatiku tercabik -cabik karena si dia.

Nah bilangin ya.

Yang terpenting tuh konsistensi pikiran sesuai hatimu. Saat

nulis. Jadi gak ada yang salah. Mau itu pesenan atau tidak. Gak ada masalah.

Jangan sampai menggelincirkan logika pembaca.

Betul. Masuk langsung.

Tapi emang bener sih? Belakangan emang lebih sering mengikuti suara hati.

Tapi kamu jangan keterusan mengikuti suara hatimu. Kenapa? Nanti kamu kembali

kering.

Kalau ngomong suara hati nih, udah ada belum suara cewek yang bergetar di hati

lu sekarang?

Sekarang lagi asik sendiri.

Mas, pengarang.

Mana aja bisa dia sendiri?

Eh, yang suka sendiri begini, biasanya tau -tau bikin positif. Anak perawan.

Eh,

yang bikin positif itu bukan suara api. Suara mano.

Misi, kopi jahe?

Kopi jahe.

Duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh,

duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh,

duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh,

duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh,

duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh,

duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh,

duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh,

duh

Katanya hampir 90 % pasangan suami istri gak menikah

sama cinta sejati mereka.

Parah ini.

Asu, namanya putih banget.

Cocok buat penulis gombal kayak kamu.

Kok hari? Siapa ini? Suaminya.

Berarti belum cocok untuk kamu.

Percayalah, semuanya akan hadir tepat pada waktunya.

Menurutnya, bukan menurutmu.

Ya, waktu memang sepertinya belum mengizinkan aku

bertemu dengan cintaku.

Aku pun juga tidak memaksa.

Seperti kata Kang Karjo, bahwa sumber segala masalah hidup itu ketika nafas

kita tidak seiring dengan waktu.

Aku tidak mau diperbudak pada keinginanku.

Kamu hati -hati ya.

Terima kasih banyak ya. Ya.

Kamu ngomongnya kayak mau pergi selamanya aja.

Mari.

Hati -hati ya.

Ya bahkan jika kelak. Sang waktu memberikan cintanya kepada aku.

Meski tak sempurna cinta Nadia.

Atau tak secantikannya.

Atau bahkan tak seagung Sarah.

Ya aku akan menjalannya.

Jalan perlahan.

Seperlahan tanaman yang tumbuh.

di ladang kebun kasih milik Kang Karjo dan Tante Wijang.

Sorry,

Daku.

Daku Ramal.

Aku tahu kamu siapa.

Loh, kamu baca novel itu? Iya, aku baca. Tapi gak sengaja beli waktu itu.

Waktu itu aku diajakin temenku ke kebun kasih.

Karena aku belum peraksanakan.

Cuma dia bilang katanya tempatnya keren lah, apalah, apalah.

Yaudah, aku main sana.

Terus... Ternyata kamu lagi bikin acara juga di situ.

Iya, gitu.

Sempet dengerin sih, dan kayaknya... Bagus, jadi aku beli.

Yaudah deh, mumpung kamu di sini. Aku sekalian minta.

Pemdatangan kamu boleh?

Sekarang banget.

Ya mau kapan lagi kan kita nggak tahu bisa ketemu lagi apa nggak.

Bener nggak?

Kamu ke Jakarta juga?

Iya.

Sendirian?

Iya.

Lo suami?

Aku masih single.

Ya waktu di kafe itu?

Kamu?

Thank you.

Mungkin ceritanya bisa beda.

Kenapa, Dit?

Ya, ya aku suka sama pemikiranmu.

Jadi kayak pengen kenal dulu gitu loh, buat tahu isi kepala kamu kayak gimana.

Dengan catatan kamu samperin aku ya.

Tapi karena enggak, yaudah.

Sorry.

Bapak bilang.

Sekali kita mempermainkan waktu, maka dia akan melumat kita.

Selumat -lumatnya.

Hingga kita ingin sekali memutar waktu ke belakang dan memulainya lagi dari

awal. Dan itu yang aku rasakan sekarang.

Terima kasih.

Sampaikanlah cinta, tebarku

berbeda padamu Namun waktu tak

pernah tepat saat aku siap

cintamu

Cintamu telah berhenti.

aku bisa

memutar kembali

waktu yang telah berjalan

untuk kembali bersama

di dirimu selama

Kedalam kisah cinta yang tak mungkin

terjadi.

Dan aku tak punya hati.

Untuk menyakiti dirimu.

Dan aku tak

punya hati untuk mencintai.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.