Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Guarani
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
~ Diterjemahkan oleh yudit_n ~
~ reezlany@gmail.com ~
~ Jakarta, 16 Oktober 2018 ~
Link movie : https://www.shaanig.se/naa-peru-surya-na-illu-india-2018-free-online-shaanig/
Jai Hind, Pak.
Pak...
Ada keperluan apa seorang polisi ke kamp tentara?
Namaku Imasuangi.
Inspektur polisi sektor Balarum.
Semalam di Pub sekitar sektor saya telah terjadi sebuah keributan.
Seorang prajurit terlibat di dalam keributan itu.
Teruskan.
Tepat tengah malam, saya mendapat telepon dari Pub.
Katanya darurat.
- Kenapa? - Aku tak tahu, pak.
Awalnya semua baik-baik saja, tiba-tiba terjadi keributan.
Dan tidak berlangsung lama.
Maksudmu?
Aku pernah melihat 10 orang mengeroyok 1 orang.
Tapi semalam malah 1 orang yang memukul 10 orang.
Aku baru pernah melihat ini seumur hidupku.
Siapa dia?
Mana orangnya?
- Petugas, cepat cari dia. - Pak, pak...
Mau cari kemana, pak?
Dia tidak ke mana-mana.
Dia di dalam, sedang minum bir.
Hei, kau ini siapa?
Jawab...
Siapa kau?
Kenapa kau pukul mereka?
Hai kau... Kenapa kau pukul mereka?
Karena aku emosi.
Apa?
Karena aku sedang emosi.
Kalau sedang emosi, kau memukul orang?
Dia itu anak menteri.
Anak menteri?
Jangankan anak menteri, Menterinya pun kupukul.
Beritahu aku kenapa kau emosi?
Maaf, aku tidak sengaja.
Maaf?
Beraninya kau menyentuhku.
- Minta maaf ke dia! - Maaf?
Aku ini cantik, semua ingin menyentuhku...
...liat saja diriku, jangan suruh aku minta maaf.
Memangnya apa yang istimewa darimu?
Lepaskan aku.
Minta maaf. Cepat!
Cepat!
Maaf.
Pergi sana!
Hei! Kau pikir siapa dirimu?
Kau mempermalukan dia?
Lebih baik kau tinggalkan dia.
Karena dia ingin semua pria di pub ini memandangnya.
Sayang...
Kau ini siapa?
Namamu siapa?
Aku tak pernah liat dia disini. Jawab! siapa kau?
Dari aksennya, sepertinya dia bukan orang india utara.
Orang selatan? kurang ajar benar kau?
Dasar India Selatan, pergi sana!
India Selatan.
India Utara.
Timur ataupun barat.
Bukankah semuanya itu bagian dari India?
India itu cuma satu.
Asal tau saja.
Namaku Surya.
Rumahku India.
"Naa Peru Surya, Naa Illu India" (Namaku Surya & Rumahku adalah India) ~ A.K.A. Surya The Brave Soldier ~
Cuman karena itu, kau pukul mereka?
Yah begitulah.
Aku tipe yang cepat merespon.
Tidak baik banyak basa-basi, langsung saja berantem.
Dengar, pak.
Jika lapar, aku akan makan. jika ngantuk, aku akan tidur.
Jika aku sedang emosi, aku akan berkelahi.
Aku menahan diri dari tadi.
Ada papan pemberitahuan di sana.
Tapi karena kau juga merokok, kurasa papan pemberitahuan itu tidak berguna lagi.
Hei kau, beri aku asbak.
Menarik juga kau.
Tetapi ini masalah dengan menteri.
Ini sudah tak menarik lagi.
Baiklah, ayo.
Bayarlah 10 ribu rupee, tulis surat permohonan maaf dan tanda tangan.
Permohonan maaf...?
Mau disuap?
Kenapa, kau tidak mau membayar?
Dia tidak tahu sedang bicara dengan siapa?
Hei, kau tahu sedang berada dimana sekarang? Kau tahu tidak?
Kantor polisi.
Ikuti saja kata-kataku, buat pernyataan, bayar 10 ribu dan kau boleh pergi.
Aku tak mau membayar.
Aku tak mau meminta maaf.
Mau kutunjukkan kehebatan polisi?
Angkat tangan!
Beretta M9...
Panjang 5 inci, jarak tembak 50 mil. Berat total dengan peluru 170 gram.
Pak, di awal dia sudah memberitahuku...
Dia tidak akan memukul orang tanpa sebab.
Tapi aku tidak mendengarnya.
Sekarang, aku tidak datang ke sini untuk cari masalah.
Aku hanya datang untuk mengambil pistolku.
Jadi sekarang, polisi berseragam sedang kehilangan pistolnya.
Pak!
Mana prajurit Surya?
5 menit yang lalu, saya melihatnya di blok B, pak.
Beritahu dia untuk menemuiku segera.
Tunggu, tunggu!
Blok B, bukankah itu sel khusus teroris?
Apa yang surya lakukan disana?
Biryani ini enak banget.
Besok bawa lagi...
... beri sedikit udang.
Tidak mungkin.
Itu biryani terakhirmu.
Bila kau selesai makan, aku akan menembakmu.
Mau menakut-nakuti aku?
Aku sudah memberi informasi rahasia...
... dan telah mengkhianati negaraku.
Kau sudah mengkhianati negaramu.
Sebenarnya jika kau benar-benar mencintai negaramu.
Kau akan berusaha untuk memajukan negaramu.
Bukan berpikir untuk menghancurkan negara orang.
Aku ingin tahu, kau mem-bom India...
... tapi kenapa kau tak bom negaramu sendiri.
Apa kau gila?
Kenapa kau bom sekolah dan membunuh anak-anak yang tak berdosa?
Kau sangat kejam, dan aku terpaksa harus membunuhmu.
Jika aku melihatmu ditempat kejadian...
... pasti aku akan membunuhmu duluan sebelum terjadi ledakan.
Nasibmu cukup baik tapi kau harus tahu...
... kau akan mati seperti orang bodoh, dan harus mati dibunuh...
... oleh seorang prajurit.
Siapa yang memberi perintah untuk menembak tahanan?
Beritahu saya siapa yang memberi perintah untuk menembak?
Tidak ada, pak.
Jadi kenapa kau tembak?
Kerana saya sangat marah.
Apa?
Karena penjahat yang coba menghancurkan negara saya telah dilayani dengan baik.
Itu yang buat saya marah.
Kamu tahu kami sengaja berikan layanan yang baik padanya?
Kamu tahu tidak penjahat itu punya informasi rahasia.
Pak, apa informasinya ada?
Seperti biasa kita menahan seorang kriminal untuk waktu tertentu.
Kita menulis surat pemberitahuan kepada Pakistan mengenai warganya yang ditahan.
Dan dengan mudah mereka menjawab, mereka tidak mengenalinya.
Jadi karena itu kau membunuhnya?
Korps ini punya aturan!
Tidak bisa seenaknya.
Ada 600 anggota prajurit di kamp ini.
Begitu banyak penghargaan, medali kehormatan.
Namun hanya ada satu kebobrokan...
Kamu!
Saya memperhatikan kamu selama 7 tahun ini.
Setiap hari ada saja pengaduan terhadapmu.
Buku laporan penuh dengan pelanggaranmu.
Sebagai seorang prajurit, kamu tidak bisa mengontrol diri.
Selalu membuat keributan padahal kamu bukanlah siapa-siapa.
Sebagai manusia normal kita harus mempertanggung jawabkan kesalahan kita.
Kami tidak ada waktu untuk mendengar penjelasanmu...
Kamu tidak layak berada di sini.
Sejak hari pertama saya disini, saya sudah memberitahu anda.
Saya tidak pantas di sini. Kirim saya ke perbatasan.
Tapi tidak ada yang mendengarkan permintaan saya.
Kalian dengar itu?
Perbatasan?
Jika kamu bersedia melindungi negara, Aku akan mengirimmu.
Tapi jika aku mengirimmu, kamulah orang yang akan memulai perang.
Tidak heran kalau kamulah orang yang memulai perang dunia ketiga.
Kalau keinginanmu ke perbatasan.
Lupakan saja. Karena itu takkan pernah terjadi.
Karena kamu telah melampaui batasan itu, Surya.
Kamu telah membunuh tersangka yang sedang ditahan tanpa mengikuti arahan.
Kamu tidak bisa diatur, Surya.
Tidak bisa diatur berarti...
Keluar dari Korps.
Pak.
Kamu bukan lagi seorang prajurit.
Kamu dipecat.
Pak, pak, tunggu sebentar...
Kamu tidak layak lagi berada di korps ini.
Saya bisa jelaskan, pak.
Diam!!
Kamu tahu kemampuanmu, Surya?
Kamu bisa jadi prajurit yang hebat.
Sekarang keluar.
Kami memukulmu atas perintah Kolonel.
Janganlah diambil hati.
Kami hanya ikuti perintah.
Kenapa kalian begitu jujur?
Pergilah.
Mak...
Mak...!
Dasar tidak punya malu!
- Paman - Kau masih belum berubah?
Kolonel menyuruhmu keluar, dan kau berani tendang pintu.
Dia itu Kolonel!
Semua ini salahku.
10 tahun lalu aku bertemu kau di pinggir jalan...
Aku anggap kau seperti anak sendiri dan menjadikanmu prajurit.
Itulah kesalahan terbesarku.
Bangun-bangun. Ayo.
Kenapa duduk lagi, ayo pergi.
Ke mana?
Kau tanya kemana?
Kau belum tahu?
Kau sudah dibuang dari Korps ini.
Sekarang kau seperti aku, hanya prajurit biasa.
Ayo pergi.
Dibuang?
Bagaimana mungkin mereka memperlakukanku seperti itu?
Kalau mereka buang aku, aku akan tetap disini.
- Tidak mau ikut? - Tidak, tidak mau.
- Jangan seperti anak kecil. - Aku tidak mau pergi.
Kalau kau terus-terusan begini, beberapa hari lagi kau bisa mati.
Biarkan saja aku mati, paman.
Tetapi bukan di sini.
Aku akan mati di perbatasan.
Perbatasan, perbatasan, perbatasan. Apa yang kau inginkan disana?
Apa yang kuinginkan disana?
Aku tidak tahu perasaanmu terhadap negara ini, paman.
Tapi bagiku, India adalah rumahku.
Dengan menjaga perbatasan...
milyaran penduduk negeri ini akan merasa tenang.
Mereka bisa tidur dengan nyenyak.
Bukankah itu bagus, paman?
Itulah alasanku, kenapa aku harus ke perbatasan.
Kemarin, ayah Hanumanta maeninggal.
Setelah berperang di perbatasan.
Semua orang sedih, dan aku pun ikut menangis.
Semua orang tangisi kematiannya.
Aku sempat berpikir, kenapa bukan aku saja yang mati.
Itu sangat indah, paman.
Itulah impianku.
Bukankah semua prajurit menginginkan itu?
Yang jadi masalah...
Keinginanmu begitu besar untuk itu, namun kau juga sangat lemah.
- Begitukah? - Ya.
Aku akan berubah.
Aku akan berubah.
Itu juga yang dulu kau bilang.
- Masa? - Ya.
Ini yang terakhir kalinya.
Aku bersumpah atas nama paman.
Sumpah atas nama paman.
Sumpah atas nama paman.
Jauhkan tanganmu dari kepalaku.
Mungkin bukan yang terakhir untukmu, tapi ini yang terakhir untukku.
Aku bersumpah atas dirimu!
Kolonel, kuakui surya punya kelemahan.
Tapi dia juga punya kelebihan sebagai seorang prajurit.
Dia pandai menyelesaikan masalah.
Dia bisa menjadi pemimpin.
Aku tidak yakin.
Pak, dia adalah penembak terbaik dan handal.
Aku tahu.
Tapi aku masih tidak yakin.
Pak, bahkan...
... dia sangat mencintai negara ini.
Dan dia siap mati untuk tanah air.
- Prajurit. - Ya, pak.
Apakah kau siap mati untuk mempertahankan tanah air?
- Pak, saya siap menerima perintah! - Terima kasih.
Kita sudahi dulu pertemuan ini, aku harus pergi.
Selamat tinggal.
Ya pak.
Senang berbincang denganmu.
Pak.
Kita selalu beri kesempatan pada Pakistan untuk berubah.
Surya itu orang kita.
Kesempatan terakhir, pak.
Kesempatan terakhir.
- Baiklah. - Terima kasih pak.
Tapi dengan satu syarat.
Kolonel ingin aku melapor?
Lupakanlah.
99% kau tak punya peluang.
1% kan ada?
Rayuanku tidak berhasil kali ini.
Kolonel meminta sebuah tandatangan.
Baiklah kalau begitu. Tandatangan siapa?
Kau tidak bisa mendapatkannya. Lupakanlah.
Paman, cepat katakan.
Siapa? Ketua Menteri (Chief Minister)?
Perdana Menteri (Prime Minister)?
Kalau Perdana Menteri kurasa bisa, karena sebelumnya PM Modi...
... senang dengan tugasku saat beliau kesini.
Kalau dia, aku yakin bisa.
Aku bisa langsung ketemu beliau.
CM, PM, ... Bukan mereka berdua.
Dia orang biasa.
Profesor Psikologi nomor satu di India.
Salah satu diantara tiga orang terbaik di negara ini.
Ahli Psikologi.
Dekan di UPFL (University of Psychology & Foreign Languages).
Universitas Psikologi dan Bahasa Asing.
Tokoh-tokoh yang mendapat rekomendasinya...
... menjabat sebagai orang penting di negara ini.
Dengan melihat wajah saja, dia dengan mudah dapat membaca pikiran seseorang.
Namanya...
Profesor Rama Krishnam Raju.
Dia adalah ayahmu, yang kau tinggalkan 10 tahun lalu.
Syaratnya mudah.
Laporan perkembanganmu perlu ditandatangani olehnya.
Sederhananya, kau butuh tandatangan ayahmu...
Untuk kembali ke Korpsmu...
Dan bisa ditempatkan di perbatasan.
Satu tandatangan saja.
Dan impianmu akan jadi kenyataan.
Mungkin lebih mudah mendapatkan tandatangan PM Modi...
Tapi sulit mendapatkan tandatangan ayahmu.
Katanya profesor adalah ayahnya. Benar begitu?
Ayah selalu ingat untuk menandatangani buku laporanmu.
Tapi tidak pernah terpikirkan untuk menandatanganinya di kantor polisi.
Kau sudah mempermalukan ayah.
Perkelahian dan keributan pada usia remaja itu tidak baik.
Banyak orang menemui ayah untuk masalah mereka.
Dan sekarang ayah yang punya masalah.
Ayah tidak mendidikmu untuk jadi seperti ini.
Aku tidak butuh dididik lagi ayah, aku sudah dewasa.
Sebenarnya ayah ingin aku seperti apa? Diinjak-injak orang?
Semua juga akan bertindak seperti itu, kalau berada di posisiku.
Dengar, siapapun boleh bertindak seperti itu.
Tapi anak Rama Krishnam tak boleh seperti itu.
Oh, jadi karena aku anak ayah?
Ya.
Oke. Aku faham. Anggap saja ayah tidak punya anak.
Anggap saja ayah tidak pernah punya anak.
Aku akan pergi. Aku akan pergi dari sini.
Aku tidak ingin melihat wajah ayah lagi.
Aku ingin ketemu Profesor Rama Krishnam.
- Kau prajurit Surya? - Ya.
Mayor Kishore.
Kenapa?
Tidak lucu.
Silahkan.
Terima kasih.
Silahkan Duduk.
Halo.
Halo.
Mau kupanggil apa?
Surya.
Bagaimana dengan anda?
Semua orang memanggilku Pak.
- Pak. - Pak.
Bagus.
Jadi, kembali ke urusan kita.
Ceritakan tentangmu.
Maksudku, siapa dirimu.
Saya seorang prajurit.
Yang kutanyakan jati dirimu, bukan pekerjaanmu.
Sekali lagi kutanya, siapa dirimu.
Sekarang beritahu aku. Kamu siapa?
Saya seorang prajurit.
Untuk kebanyakan orang, pertanyaan kamu siapa, siapa dirimu itu beda.
Tapi bagiku sama saja.
Surya adalah seorang prajurit.
Menurutmu Surya adalah prajurit.
Tapi yang orang-orang tahu Surya adalah sosok yang egois dan emosian.
Jadi begitulah yang orang-orang tahu tentang surya.
Sekarang beritahu aku. Kamu siapa?
Pak.
Pak, saya hanya memerlukan tandatangan anda.
Kalau bapak ingin jawaban dari saya, sebelumnya saya harus paham tentang pertanyaannya.
Pertanyaan kamu siapa, siapa kamu, Tanyalah pertanyaan yang lebih mudah.
Saya akan coba jawab sebisaku.
Baiklah, tuan Surya. waktu kita habis.
- Pak? - Kita ketemu lagi besok.
Tepat jam 11 siang.
Kalau bisa tanyalah sekarang dan tandatangani...
Dengar.
Ini waktu untuk keluargaku. Saya tidak berkompromi untuk itu.
11.00 siang.
Tes apa-apaan itu.
Dia pikir aku ini anak dari tempat pelacuran.
Tinggal tanya saja yang penting-penting, dan langsung tandatangan.
Kan aku bisa langsung balik malam ini.
Maksudmu, ketemu dia pagi hari, dapat tandatangannya...
... di siang hari dan malam kau pergi?
Kupikir begitu.
Aku sudah menunggu selama setahun.
Dan aku masih menunggu.
Maksudnya kau bukan asistennya?
PO (Passport Officer). Petugas Paspor.
Dulu orang butuh tandatanganku.
Tapi sekarang aku yang butuh tandatangan dia.
Susahnya minta ampun.
Kuperhatikan dia setiap hari.
Lihatlah.
Aku merasa tidak enak badan, Kishore.
Dimana orang jualan biryani?
Kalau kau mau, di kedai Blue Mirror sebelah sana.
Bagaimana kalau kita ke pub dulu...
... Sambil berpikir di mana kita bisa dapat biryani yang enak.
Mau kabur?
Apa liat-liat?
Minggir!
Syukurlah.
Semoga dia baik-baik saja.
Hei, kau tahu dia siapa? Dia anaknya Challa.
Challa, siapa dia?
Hidangkan untuk aku juga.
Hidangkan.
Apa maksud kedatanganmu? Tentang tanah itu?
Tanah itu milikmu. Itu bisnismu, PC.
Tak ada masalah dengan itu.
Tapi kata-kata yang kau bilang ke anakku.
Memangnya Challa siapa?
Dia merasa besar karena orang takut padanya.
Kami tidak takut dengannya.
Pergi.
Kau sudah merendahkanku, PC.
Keberanianku adalah karena diriku. Begitu juga anak buahku.
Karena itu aku berani kesini sendirian.
Ayahku selalu berkata jangan terlalu mengikuti ego.
Karena nyawa akan melayang.
Makanannya sangat enak.
Setelah makan kalau aku tak tidur sebentar...
... aku belum bisa pulang.
Suamiku, tenanglah. Kumohon.
Oke, ini untuk merekam.
Baiklah, bagaimana hubunganmu dengan keluarga?
Kami sudah berpisah selama 10 tahun, pak.
Kenapa?
Hubunganku dengan ayah tidak begitu baik.
Karena itu saya pergi dari rumah.
Ada sahabat?
Sahabat... ?
Surya, dia teman kita.
Teman atau bukan terserahku.
Hei, berhenti minum. Taruh gelasnya. Bangun. Pergi!
Keluar!
Cih! Salah gelas pula.
Pacar?
Pak?
Siapa Joty?
Dia hanya...
Apa itu?
Untuk senang-senang...
Sebenarnya, dia hanya pelarian.
Sapna?
Dia cuman kenalan sewaktu di Kamp.
Kalau Varsha?
Dia gadis yang...
... kucintai sepenuh hati, pak.
Sebenarnya ini adalah hubungan asmara yang sangat indah, pak.
Saya ingin mendengar cerita tentangnya.
Saya rasa kurang pantas kalau diceritakan.
Kau tak perlu merasa malu menceritakan kisah romantismu.
Hubungan cinta pasti ada saja ributnya.
Betul pak.
Kisah cintaku...,
Bermula dengan keributan.
Hei kau, ku ulurkan tangan untuk membantumu.
Satu tangan untuk menolong orang lain.
Dan tangan satunya lagi untuk menegakkan bendera negara.
Bukannya untuk mengganggu perempuan.
Minta maaf!
Maaf.
Ini untukmu.
Paman ini Surya.
Halo.
Temanmu?
Pacarku, paman.
Dan aku ingin menikahinya.
Kalau begitu, suguhi dia hidangan.
Aku tak sanggup berpisah dengannya walau sebentar.
Kalau tak sanggup berpisah dengannya, masuklah dan buatkan kopi dulu.
Pergilah.
Nanti dilanjut lagi peluknya setelah bawa kopi kesini.
Tidak apa-apa, pergilah.
Kemari, duduklah.
Keponakanku baru sebulan berlibur disini.
Dan kau sudah memacarinya.
Kami baru pacaran 10 hari, paman.
Gitar baru?
Benar, paman.
Paman cepat tahu.
Kesampingkan dulu pengetahuanku yang cepat. Dan pelankan kecepatanmu.
Jangan melewati batas/perbatasan.
Perbatasan.
Paman tahu tidak.
Aku dari dulu memimpikkan untuk menginjakkan kakiku di perbatasan.
Anak muda...
Dengar dulu, paman.
Aku sangat ingin ke perbatasan. Sebenarnya yang kupikirkan sehari-hari hanyalah perbatasan.
Tujuanku adalah untuk sampai ke perbatasan.
Tujuan seperti apa itu?
Hah! Memangnya yang paman maksud apa?
Bukan apa-apa.
Kau tahu seperti apa di perbatasan?
Aku tak tahu.
Semangat yang menggelora.
- Pernah ke perbatasan? - Tidak pernah.
Sebenarnya, susah kalau ingin ke perbatasan dengan umur segini.
Kalau pergi untuk jalan-jalan pun, bakal sulit juga.
Sangat berbahaya, jangan pernah mencoba.
Ya tuhan.
Kopinya sudah belum? Cepat bawa sini.
Kau sudah gila? Kenapa kau pecahkan barang-barang?
karena aku tak bisa pecahkan kepalanya.
Kenapa juga kau ingin memukulnya?
6 bulan lalu dia memukul kepalaku di pasar.
Pergi sana!
- Dia memukulmu? - Ya.
Tapi kok Surya tidak ingat ayah?
Orang yang memukul biasanya tidak ingat.
Aku yang dipukul jelas masih ingat.
Dan aku akan membuat dia mengingatku seumur hidupnya.
Kisah cintaku diawali dengan keributan.
Namun sangat romantis, pak.
Setiap hari dengan lagu, pagi lagu, petang lagu, malam lagu...
Tengah malam pun dengan lagu.
Maaf kupotong.
Aku tak tertarik tentang lagunya.
Pak.
Terus kenapa kalian putus?
Kami putus karena ada orang bodoh diantara kami.
Kenapa dia ada disini?
Apa hubungan dia dengan prajurit-prajurit itu?
Dia prajurit, anda tak tahu?
Nak, nak, nak...
Setelah ini tidak akan lagi ada lagu dalam hidupmu.
Kenapa paman?
Tidak seperti yang kau tahu, dia seorang prajurit.
- Surya bukan pemain musik. - Apa?
Aku adalah seorang prajurit, militer adalah hidupku.
Bermain musik hanya hobi.
Aku akan kembali bertugas seminggu lagi.
Kenapa?
Varsha.
Varsha.
Saya boleh meroko?
Tidak boleh.
Saya tak tahu kenapa Varsha pergi begitu saja.
Dia tak menjawab teleponku.
Dia tak membalas pesan.
Rasa-rasanya mau gila saja.
Setelah beberapa hari, di suatu pagi saya membuka pintu. Dan Varsha muncul.
- Surya... - Diam!
Varsha, jangan bicara apa-apa.
Surya, aku minta maaf. Tolong dengar, tolonglah.
Jangan sentuh aku. Jangan sentuh aku.
Tolonglah dengar.
Kau orang yang sangat baik, Surya.
Aku tak sanggup lama-lama bertengkar denganmu.
Karena aku mencintaimu, tidak masalah apapun pekerjaanmu.
Kupikir ini kehidupan yang selama ini kuimpikan.
Tapi tiba-tiba kau bilang musik hanyalah hobi, aku tak tahu kau seorang prajurit.
Aku merasa sangat sedih.
Karena itulah aku berdiam diri.
Tega kamu.
Aku tak bisa hidup tanpamu, Surya.
Aku membutuhkanmu. Apapun itu, aku siap.
- Aku merindukanmu. - Aku sangat merindukanmu.
Aku sangat merindukanmu Varsha.
- Jangan tinggalkan aku lagi. - Tidak, itu takkan terjadi lagi.
4 hari ini aku tidak keluar rumah.
Rasanya seperti mau gila.
Ayo kita jalan-jalan keluar.
Aku siap-siap dulu.
Aku akan memainkan sebuah lagu untukmu.
- Surya. - Ya.
Kau tidak ingin bicara dengan Ayahku?
Tentang apa?
Tentang kita.
Oke, aku mandi dan siap-siap dulu.
Sebenarnya Surya...
Kita harus membicarakannya sekarang.
- Sekarang? - Ya.
Kita akan merasa tenang kalau sudah dibicarakan secara jelas.
Dibicarakan dengan jelas?
Jelas tentang?
Surya, tolong pahami.
Bagaimanapun...
Kau seorang prajurit.
Aku butuh waktu yang lama untuk terima itu.
Entah ayahku akan setuju atau tidak.
Hey, berhenti, berhenti...
Apa kalian semua pikir prajurit itu seperti seorang kriminal?
- Jangan marah dulu. - Diam!
Sebagai seorang prajurit haruskah kami jelaskan semua ke kalian?
Jangan marah, Surya, kumohon.
Marah? Aku tidak marah.
Kutanya baik-baik. Lihat aku.
Katakanlah aku temui ayahmu, kujelaskan tentang diriku, bagaimana kalau ayahmu tak setuju?
Dibicarakan saja dulu.
Lepaskan tanganmu. Lepaskan!
Aku akan bicara dengannya, kalau dia setuju, syukur. Kalau tidak, bagaimana?
- Kalau tidak, bagaimana? - Kenapa kau berpikir begitu?
Jangan basa-basi. Jawab pertanyaanku.
Surya, sakit.
- Jawab! - Tolong, lepaskan tanganmu.
Jawab dulu pertanyaanku.
Varsha, kalau iya tidak apa-apa, kalau tidak gimana?
- kalau tidak bagaimana? - Lepaskan aku!
Lupakan aku.
Lupakan kau?
Kau butuh izin ayahmu agar kita bisa nikah?
Setiap hari tidur sama-sama, di tempat tidurku...
- Surya, hentikan. - Apa itu butuh izin?
Jangan bicara yang bukan-bukan, jaga kata-katamu.
Aku benar-benar marah. Aku tidak berpura-pura.
Apa yang terjadi?
Siapa suruh kau masuk? Keluar!
Dia pamanku.
Aku tak peduli. Ini masalah pribadi kita.
Kau tak mengerti?
Dasar tidak punya sopan santun.
Surya, kau pukul pamanku?
Aku pernah memukul pelawak ini 6 bulan yang lalu.
Tidak sulit buatku untuk memukulnya lagi.
Jadi, kau ingat kejadian itu?
Bagaimana mungkin aku bisa lupa wajahmu.
Aku datang ingin kenalkan diri, tapi kau malah nanya, "gitar baru?".
Pertanyaan bodoh.
Aku sudah anggap pamanku seperti ayah sendiri, dan kau memukulnya.
Aku tak akan memaafkanmu.
Sebelum kau bersujud di kaki paman dan minta maaf.
Aku hanya akan memaafkanmu kalau paman menerimanya.
Dia ini seorang pelawak, dan dia punya seorang kakak laki-laki.
Jadi pikirkan saja sudah pasti kakaknya juga seorang pelawak.
Kalau seperti itu, aku tak sudi bersujud di kaki mereka.
Apa-apaan itu.
Hei...
Kita putus.
Itulah sebab kami pisah.
Biasanya keributan bermula karena wanita.
Tapi pada akhirnya, pria juga yang disalahkan.
Bijak banget.
Surya, cukup untuk hari ini.
Kita sambung lagi esok.
- Jam 11.00? - 10.30.
Jaketmu cantik.
Mantan pacarku lebih cantik.
Aku sangat merindukannya.
Lihat gadis yang disana, mirip banget dengan mantanku.
Kalau sedang merindukannya, semua gadispun bakal mirip seperti dia.
Memangnya dia mirip mantanmu?
Begitulah, Mayor.
Menurutku dia sangat mirip.
- Hei Kishore! - Ya.
Hey Kishore, kemari!
Surya.
Kishore, ini.
Surya.
Hei prajurit!
Hai.
Hei... dia temanku.
Ini sandwich buatmu.
Sandwich ini...
Tak pakai keju. Tenang.
Aku tak menyangka.
Kenapa?
Kau bakal ngobrol denganku saat melihatku di sini. Bawakan aku makanan.
Kau benar-benar baik.
Sudahlah.
Sebenarnya, aku yang duluan melihatmu.
Benarkah? Masa sih?
2 menit sebelum kau melihatku.
Kenapa dia terburu-buru?
Kenapa tak panggil aku?
Sebenarnya, aku ingin memanggilmu...
... tapi aku malu.
Dulu, kita pernah ribut besar.
Jadi bagaimana mungkin aku muncul di hadapanmu.
Takutnya...
... mereka akan menganggapku tak punya malu.
Jangan ungkit kisah lama.
Maksudku, itu sebuah pertengkaran, mana mungkin aku bicara lagi denganmu?
- Varsha? - Jangan bicara.
Menurutmu aku tak punya harga diri?
Varsha, aku tidak bermaksud begitu.
Kau pikir aku perempuan murahan?
Setelah melihatmu, aku coba mengontrol diri.
Tapi aku membuang rasa malu dan datang menyapamu.
Karena apa? Karena aku ingin. Karena aku peduli.
Apa?
Karena aku orang yang berkarakter, tidak sepertimu.
Hari itu kau yang bilang putus.
Kali ini biar aku yang bilang.
Aku tak butuh.
Kita putus.
Kan kita udah putus, kok putus lagi?
Varsha, lihat, aku masih pakai jaket yang kau beri.
Varsha, aku tak sanggup kehilangan kau lagi.
Varsha tunggu.
Varsha
Varsha
Manusia pada umumnya memiliki...
... keluarga, pekerjaan, sahabat, dan cinta.
Tapi dalam kasusmu ini, kau tidak memilikinya.
Menurutku...
... kau punya masalah serius, dan kau tahu apa masalahamu?
Mungkin.
- Kau tahu itu tidak baik untukmu 'kan? - Tidak.
Kuakui aku sedikit egois, tapi menurutku itu tidak salah.
Ego...
Egomu sudah berada pada tingkatan yang paling tinggi, Surya.
Jika ada sesorang yang berada pada tingkatan itu...
... artinya orang itu sudah terbiasa dengan kondisi tersebut.
Selalu merasa benar, seakan-akan tahu segalanya...
... egois, tempramen...
... dan orang sepertimu akan selalu sendiri.
Pergilah, ayah tak akan menghalangimu.
Kau tak akan mencapai apa-apa jika kamu terus seperti ini.
Justru malah...
... kau akan terus sendiri selamanya.
Maaf?
- Kenapa tertawa? - Tidak pak.
Dengar, Surya.
Kalau kau tak suka dengan kata-kataku, kau boleh pergi.
Kalau tak paham, tanyalah.
Tapi jangan tertawa.
Baiklah pak, lanjutkan.
Tidak.
katakan, kenapa kamu tertawa?
Saat anda berkata seperti itu, saya teringat...
... sesuatu dan saya tertawa karena kata-katanya yang sama.
Memangnya apa yang kau ingat?
Anda terus bertanya macam-macam dan pada akhirnya anda akan...
... menyentuh hal pribadi dan keluarga saya.
Hal pribadi apa?
Anda pernah menanyakan bagaimana hubunganku dengan keluarga, iya 'kan?
Saat anda menanyakan itu, apa anda tahu yang saya rasakan?
Kenapa? Anda lupa hubungan anda denganku?
Ini menyangkut profesi saya.
Kumohon, pak.
Saya ingin tahu apa kaitan tandatangan anda dengan kisah cinta dan keluarga saya.
Semuanya kan sudah ada di catatan ini, tapi kenapa masih anda tanya?
Begitu prosedurnya, Surya.
Bukan sekedar prosedur, pak.
Ini tentang kepuasan pribadi.
Anda senang bila saya menceritakan tentang kegagalan saya.
Itu yang anda inginkan.
Makanya...
anda selalu menolak orang lain kedalam kehidupan anda.
Tapi saya satu-satunya yang menolak anda pak, ya benar, cuma saya.
Dan anda tidak menyukai itu.
Saya tak tahu kenapa atasan saya mengirim saya kesini untuk dapat tandatangan anda.
Anda menjadikan ini masalah pribadi untuk membalas saya.
Kamu jangan berpikir yang bukan- bukan dan bersikap ego di hadapanku.
Ego!
Anda bilang apa tadi? Saya berada di peringkat pertama ego?
Tapi anda tidak merasa, kalau ego anda berada di batas paling akhir?
Setelah bertahun-tahun kita tidak ketemu.
Ayah orang lain akan bertanya pada anaknya...
... "apa kabarmu?", bukan, "kamu siapa?", Pak.
Semua orang menganggap Prof. Rama Krishnam seorang...
... ahli Psikologi yang hebat, berbakat, tapi tidak menurutku.
Saya hanya melihat seorang ayah yang biasa.
Anda bukanlah siapa-siapa, hanyalah seorang ayah yang biasa.
Siapa kamu?
Sekarang aku berbicara sebagai seorang ayah.
Kamu itu siapanya aku?
Surya, kamu tahu tidak?
Saat kamu keluar dari hidupku, pada saat yang sama...
... kenangan tentangmu pun keluar dari benakku, kau tahu kenapa?
Sebab, aku tak pernah membutuhkanmu.
Pernikahan hanya memerlukan komitmen.
Dan aku tak perlu anak.
Tapi itu terjadi.
Kau terlahir dengan sifat yang beda denganku, wujudmu saja yang mirip.
Kalau kamu anak Rama Krishnam, tentu sikapmu akan sama sepertiku.
Sekarang kamu paham 'kan?
Kamu adalah anak yang tidak dibutuhkan.
Kamu paham maksudku 'kan?
Kamu terlahir ke dunia ini...
... tidak ada gunanya.
Siapa suruh lahirkan aku?
Siapa suruh lahirkan aku?
Aku yang meminta dilahirkan?
Apa pernah aku minta untuk dilahirkan?
Saat anda tersudut, anda selalu mencari pembenaran.
Baca berbagai buku, tapi anda tak baca buku tentang pencegahan kehamilan?
Psikologi tak berguna.
Surya, kamu tak boleh merokok di sini.
Tentu saja aku bisa.
Aku akan merokok di sini.
Beraninya kau benahi hidup orang lain, benahi dulu hidupmu.
Psikologi sampah!
Apa anda bilang? Apa anda bilang tadi?
Aku tak ada dalam benakmu? Anda penipu!
Akulah kehidupanmu!
Anda merasa malu menganggap saya ini anak anda dan...
... anda takut nama anda tercemar dan sulit untuk mengakuinya.
Sayalah ketakutan dalam diri anda.
Anda malu mengakui saya di hadapan mahasiswa anda kalau saya ini ana anda.
Saya membuatmu malu.
Saya adalah kegagalan terbesar dalam hidup anda.
Ibu mengandungku selama 9 bulan, tapi anda "mengandungku"...
... selama 27 tahun di dalam hati anda hingga nafas terakhir.
Anda hanya akan memikirkanku.
Kamu benar.
Aku memang memikirkanmu.
Dan tiba waktunya untukku membuang semua itu.
Saya ingin semua mahasiswa berkumpul di auditorium sekarang.
Ini penting.
Selamat sore semuanya.
Surya...
Untuk kalian tahu...
Surya datang ke sini untuk mendapatkan tandatangan saya sebagai seorang prajurit.
Apa yang kalian semua tidak tahu adalah...
Surya...
... adalah anak saya.
Dia anak saya tapi saya malu untuk mengakuinya.
Kamu puas?
Inilah yang kamu inginkan. Aku sudah beritahu mereka.
Sekarang, apakah kamu sudah menjadi lebih baik?
Sayangnya, aku lebih baik darimu.
Kau mencoba mengoreksiku, ...
... namun aku telah megoreksi diriku sendiri.
Setiap hari, setelah bangun dari tidur, kau...
... sadar kalau telah gagal dalam banyak hal.
Dan pernahkah kamu berpikir untuk meperbaikinya?
Takut?
Kau datang ke sini untuk dapat tandatanganku.
Bukan untuk mengguruiku.
Berani sekali kamu. Keluar dari sini!
Pergi dari hadapanku.
Kenapa? Mau ke mana emang?
Sulit untuk memahami anda.
Menekan loceng, mengumpulkan semua mahasiswa, buat pengumuman kalau saya ini anak anda.
Anda tidak menghargai saya, begitupun sebaliknya.
Saya kemari bukan agar anda bisa membuat...
... pengumuman kalau saya ini putera anda.
Saya datang hanya untuk dapat tandatangan anda, pak.
Pak. Saya tidak tahu kenapa bisa sial begini.
Kalau anda tandatangan, saya bisa bertugas ke perbatasan.
Saya tak punya pilihan, pak.
Pak, kalau melupakan ayah saya sebagai syarat untuk ke perbatasan...
Saya sanggup melakukannya.
Tolong tandatangani saja sekarang.
Dan saya akan pergi dari sini.
Kenapa saya harus tandatangan?
Apa lagi yang anda ingin saya lakukan? Apa lagi?
Ngobrol, sudah beberapa kali.
Semuanya dibahas, kisah hidup, keluarga, kisah cinta.
Anda ingin membuat video dokumenter tentangku?
Pernahkah anda menasehatiku, memberi arahan kepadaku?
Saya tak tahu kepada siapa saya bisa meminta nasehat.
21 hari.
Apa?
21 hari.
Ada satu konsep psikologi.
Seseorang kalau dilatih selama 21 hari, mereka bisa melupakan...
... tabiat buruk dan membangun sifat yang baik dalam diri mereka.
Cobalah. Mulai besok coba kurangi egomu.
Coba kontrol egomu selama 21 hari.
Buktikan pada orang-orang Surya bukanlah...
... seorang yang egois, tapi Surya adalah seorang prajurit.
Cintamu pada negara. Impianmu ke perbatasan.
Buktikan kalau kelemahanmu bisa menjadi sumber kekuatan.
Bukan hanya 1 tandatangan, saya akan berikan 100 tandangan.
Ini baru betul. Anda sudah menerangkannya dengan jelas.
Kalau dari awal seperti ini, mungkin...
... separuh dari tugasku ini sudah selesai.
Saya terima tantangan ini.
Siapkan pena, saya akan menemui...
... anda di depan semua yang hadir disini pada hari ke-22.
Saya akan pergi dari sini saat anda mengaku kalah,
... saya akan menang dan saya akan dapat tandatangan itu.
Hei, diam dulu.
Jangan ribut...
Hei! Ini jalan punya bapakmu?
Jalan! Aku mau lewat.
Kau tidak lihat semua orang diam, kenapa kau buat kebisingan di sini?
Kau tahu siapa di sana? Anaknya Challa.
Challa sialan...!
Kau tahu siapa yang kau pukul?
Anak Challa.
Kenapa kau terus memanggil-manggil nama Challa?
Kau tak berani lakukan ini sendiri?
Untuk lakukan hal begini saja kau butuh ayahmu?
Pindahkan mobilnya!
Apa ini, Surya?
Kau baru saja terima tantangan selama 21 hari.
Baru 20 menit saja kau tak bisa sabar.
Tantangannya baru dimulai besok.
Artinya, tak boleh ada yang cari masalah denganku sebelum besok pagi.
Jadi kau akan memukul siapapun yang berbuat salah?
Kau tahu siapa yang barusan kau pukul?
Kau datang ke sini untuk dapat tandatangan ayahmu.
Tapi kota ini, milik ayahnya.
Mulai besok, kau akan menjadi lawannya.
Mungkin memang harus begitu, Kishore.
Bukan dengan ayahnya atau ayahku.
Tapi denganku diriku sendiri.
Musuhku adalah diriku sendiri.
Melawan diriku sendiri.
Mau ngomong apa?
Kenapa kau terus memanggil-manggil nama Challa?
Untuk lakukan hal begini saja kau butuh ayahmu?
Tak ada apa-apa ayah.
Aku bisa selesaikan sendiri.
Surya sudah memulai tantangan hari pertama.
Varsha.
Untuk apa semua ini?
Belanja aja. Gelang. Patung Buddha.
Baguslah. Itu bagus untukmu.
Akhirnya hari pertama berakhir.
Bagaimana rasanya, prajurit?
Rasanya seperti pistol tanpa peluru.
Hanya bisa dibersihkan tapi tak bisa dipakai menembak.
Makan makanan yang tidak pedas.
Pergi ke kelas ketawa.
Pakai benda ini, aku tak mengerti.
Inilah masalahmu sebenarnya.
Seandainya kau berada di sisi sebelah sana, atau pun di sisi sebelah sini.
Kau tahu tidak ada jalur tengah?
Adanya jalur kanan atau jalur kiri, mana ada lajur tengah?
Ada, nama jalur itulah yang kita sebut dengan, "manajemen".
Seringkali, orang-orang mengambil jalur itu. Mantap banget.
Manajemen?
Hei! Tutup tokonya!
Mereka berulah lagi.
- Siapa? - Anak buah Challa, ayo pulang.
Ayo, cepat!
Mereka bisanya hanya menyusahkan orang saja.
Nak...
Iya, Buk...
Sebulan lagi, Debarry akan melahirkan.
Tapi dia sudah mulai merasakan sakit.
Dia tak boleh melahirkan sekarang, resikonya sangat tinggi.
Ayahnya juga tidak ada di sini.
Dokter menyuruh kami segera menyuntiknya.
Tolong belikan obatnya ya?
Diluar sedang rusuh. Yang banyak minuman, bukan obat.
- Akan kubawakan obatnya. - Hati-hati.
Tolong cepat ya...
Hati-hatilah, di luar sana banyak anak buah Challa berkeliaran.
Bahaya, prajurit!
- Bagaimana kerusuhan di tempat lain? - Semuanya berjalan lancar.
Orang-orang kita sudah ada yang menghubungi?
Hei.
Kemari.
Siapa kau? Aku tidak pernah melihatmu di sekitar sini.
Aku orang baru.
Sekarang sedang rusuh, kau tahu kan tidak boleh keluar?
Makanya itu aku mau pulang.
Pergi.
Hei.
Apa itu?
Apa yang kau pegang?
Buka tanganmu!
Apa ini?
Ini darurat, seorang perempuan hamil memerlukannya.
Sekarang sedang rusuh, siapa yang jual obat kepadamu?
Tak ada orang yang jual, aku ambil sendiri.
Kalau semua orang boleh ambil sendiri, kenapa kami harus buat rusuh?
Mau mati atau tidak, aku tidak peduli.
Kuhitung sampai 10.
Aku tak mau lagi lihat wajahmu.
Satu!
Dua!
Tiga!
Tai banget ni orang! Empat!
Nak, dapat Obatnya?
Dia tidak dapat, anak buah Challa menghalanginya dan pecahkan obatnya.
Sudah kubilang, tidak ada yang bakal selamat dari...
Terima kasih.
Dari mana kau dapat obat itu?
Kupikir lebih baik ambil lebih untuk cadangan.
Apa...? Benarkah? Kelihatannya kau sudah mulai bisa berpikir.
Inilah yang dinamakan manajemen.
Manajemen gimana?
Satu botol untuk alihkan perhatian, dan satu botol lagi untuk suntikan.
Tidak sia-sia, tidak gaduh.
Aku jamin, kau akan mendapatkan tandatangan.
Oke, dia membawakan obatnya tepat waktu.
Bagaimana dia bisa dapet obatnya, bukankah saat itu sedang rusuh?
Aku memberitahunya, untuk bawakan obat, tapi kamu malah berkata begitu?
Kelakuanmu seperti profesor di rumah ini, Raj.
Aku menyukai anak itu.
Ajak dia makan di sini.
Tak perlu.
Dia hanya sedikit membantu, tak perlu sampai diajak ke rumah.
Aku sudah sangat memahami sifat abangmu ini, Janaki.
Makanya itu aku sudah siapkan di rantang.
Tolong berikan padanya, Raj.
Halloooo...
Kau tahu kan aku ini siapa?
Kenapa aku harus membawa makanan untuk orang yang belum lama ku kenal?
Kalau begitu, ajak dia datang ke rumah.
Satya, kamu sudah gila?
Kau mau jemput dia atau bawakan dia makanan ini?
Dari tadi dia gak ngapa-ngapain...
... cuman memperhatikan rantang makanan itu.
Kalau lapar, tinggal makan. Gak ada juga yang larang?
Menurutku tidak begitu, Kishore.
Kelihatannya tidak begitu.
Dari ibu buatku?
Bekal makanan, karena telah menolong membelikan obat 'kan?
Ya.
Untukmu.
Kamu tahu tidak?
Aku adalah orang yang mampu berikan makanan pada musuh.
Begitupun aku.
Aku adalah orang yang sanggup makan di rumah musuh.
Tidak sopan.
Setelah makan, cuci rantangnya dan kembalikan ke rumah.
Selamat, prajurit!
Kalau hari ini dia membawamu makanan, besok pasti dia akan tandatangan.
Saya hanya bantu bawa, pak.
Kupikir aku telah selesaikan masalah Surya, tapi sebenarnya...
... itu belumlah apa-apa.
Semoga saja.
Hei, kau?
Kebetulan sekali.
Mobil kami bermasalah, antar kami.
Hei, kau. Turun.
- Oke. Hati-hati. - Kishore.
- Kishore. - Hati-hatilah.
Turun!
Bos challa, mobilnya sudah siap.
Hei, bersiaplah.
Kau tahu apa yang paling sulit di dunia ini, Mustapha?
Saat kau harus mengikuti keinginan orang lain.
Tidak pak...
Yang sulit adalah saat tidak bisa memenuhi keinginan orang lain.
Anak perempuanmu belum menikah.
Anak laki-laki yang bercita-cita jadi dokter.
Keluarga bergantung padamu, tapi begini kondisimu.
Uang yang buat hidup orang senang, bukan harga diri.
Jadi gunakanlah tanah ini...
... dengan sebaik-baiknya, Mustapha.
Mungkin ini hanya sekadar tanah bagi anda.
Tapi ibarat masjid bagiku.
Ini adalah penghargaan yang diberikan oleh negara untuk prajurit sepertiku.
Apa yang telah aku korbankan...
... dan apa yang ku kumpulkan..
... aku akan mengingatnya saat ku injakkan kakiku di tanah ini.
Tolong jangan memintaku menjualnya.
Mustapha, kau sepertinya belum mengenalku.
Kalau aku mau, aku bisa lakukan apa saja.
Dulu juga begitu.
Sekarang datang berempat, sebelum ini dengan 400 orang.
Tadi anda bilang mau rampas tanah ini,
Dulu anak buah anda merampas kakiku.
Dan aku kehilangan kaki.
Tapi mereka tak bisa merampas tanah ini, walaupun segenggam.
Aku terbiasa dengan perang, pak.
Kau menentang Challa?
Kau bisa berdiri?
Sebelumnya, aku pernah mempertaruhkan nyawa demi negara ini.
Jika rumahku dalam masalah....
... aku percaya pada negara dan sanggup mengorbankan nyawa.
Yang kutahu kau tinggal jauh dari kota...
Tapi rupanya kau juga jauh dari masyarakat.
Pergilah kemanapun kau mau, kuberi kau waktu 4 hari.
Jika perbuatanku ini salah, aku akan melepasmu.
Kudengar kau bekas supir Subash Chandra Bose.
Kendaraan anakmu ini kurang lancar, tolong ajari dia.
Bapa dan anak sama saja.
Anak muda, apa yang kakek dan ayahmu katakan...
... mengenai India, semuanya tidak benar.
India bergantung pada orang sepertiku.
Jangan dengar ucapan mereka, kau akan mati nanti.
Kau sudah meracuni pikirannya juga?
Hei, bersiaplah!
Kishore, Kishore! Dimana kau?
Kenapa Surya?
Challa naik mobilku dan menyuruhku seperti anjing untuk mengantarnya berkeliling.
Sekarang apa yang mau kau lakukan?
Kishore, dia duduk sebelahku, yang dia lakukan...
... Penipuan, pemerasan, pemaksaan, semuanya.
Sudahlah, kan dia minta tolong?
- Dia menyuruhmu menggertak orang? - Tidak!
Terus kenapa kau marah?
Bagaimana tidak marah? Dia lakukan semuanya tepat di sampingku!
Itu urusan dia. Kita selesaikan saja urusan kita di sini. Ayo minum.
- Minum? - Ya.
Kishore, kau tidak mengerti tekanan dalam otakku sekarang.
Tekanan apa?
Kau kira kau saja yang tertekan? Orang lain tidak?
Semua orang di negara ini juga merasa tertekan.
Makanya itu ada minuman.
- Minum... minum! - Tidak.
Setelah minum, lega 'kan sekarang?
Biar besok pagi kau bangun dengan segar dan pikirkan saja tentang urusanmu.
Kau ini memang keras kepala. Kau kira kau siapa?
Prajurit, kau ini cuma orang biasa.
- Kau tak mengerti Kishore. - Kau mau ke perbatasan atau tidak?
Orang seperti Challa ada dimana-mana.
- Tapi Challa naik mobilku. - Dia yang naik, bukan kau yang minta.
Minum, minum...
- Selamat pagi, prajurit. - Selamat pagi, Mayor.
Bagaimana perasaanmu?
Semalam aku hanya sedikit emosi.
Perkembangan yang bagus.
Mobil Challa rusak, dia minta tolong, aku beri tumpangan. Itu saja.
Selamat, bro!
Sekarang aku mulai paham Kishore...
Hidup ini tidak usah muluk-muluk.
- Kan kita tidak spesial? - Benar.
Karena itu...
... aku ingin temui ayah Varsha sekarang.
- Kalau sesuatu terjadi... - Masih ada 2 botol lagi di kulkas.
- Perkembangan yang bagus, Mayor. - Terima kasih.
Kalau ada masalah lagi, setidaknya aku sudah punya...
... cara untuk menyelesaikannya.
Pemuda india yang menakjubkan.
Hei, obat. Bosku menyukai mobilmu.
Jadi kuambil. Kau pakailah motor itu.
Kau selalu mengadu disini...
... aku juga banyak kerjaan. Apa aku hanya akan mengurus masalahmu?
Aku menasehatimu sebagai sesama muslim.
Aku tidak kesini sebagai muslim, tapi sebagai warga negara.
Kau memang keras kepala.
Challa bukan orang sembarangan, lebih baik kau jual saja tanahmu.
Anda sebagai polisi pun tidak mau membantu mantan prajurit sepertiku.
Kenapa kau bawa-bawa prajurit segala. Memangnya aku yang suruh...
... kau masuk militer? Kau jadi prajurit karena keinginanmu.
Kau bicara seperti kau saja yang pergi...
... berperang dan masyarakat hidup karenamu.
Kalau boleh bilang, polisi berperang setiap hari, kami memulainya setiap pagi.
Pergilah dan bawa medalimu ini.
Dulunya dia seorang perwira militer, sekarang dia pengkhianat negara.
Seorang pensiunan tentara, Mustapha, bunuh diri...
... setelah mengetahui pengkhianatannya terbongkar.
- Oh kau. - Hei Obat...
- Apa kabar? - Sehat.
Dia teman Challa, dia akan tinggal di sini selama 2 hari.
Tolong layani dia dengan baik.
Anggap saja rumah sendiri.
- Ada minuman? - Ya, ada bir.
Aku tak suka bir, Brandy?
Brandy tidak ada...
Beli sana!
Oke. 5 menit.
- Kau beli biryani? - Kau tidak bilang tadi.
Harus kuberitahu juga? Beli lagi sana!
2 menit.
Aku tidak bisa tidur kalau tidak ditemani, jadi dia akan menemaniku.
Tunggulah di luar.
Tunggu apa lagi, tutup pintunya.
Anwar...
Anwar, apa yang kamu lakukan?
Ayah sudah tak ada lagi. Ibu mau lakukan apa dengan semua medali ini?
Buang saja!
Anwar, itu bukan medali biasa. Itu tanda jasa ayahmu.
Kakek... Cukup! Diam!
Kakek merusak ayah.
Dan ayah merusakku!
Lihat apa yang terjadi? Dia sudah mati!
Ayahku dulu perwira, kini dianggap sebagai pengkhianat!
Buk, Ayah bilang ibu tak perlu risau karena negara ini akan membantu kita.
Tapi jenazah ayah tidak diberi penghormatan sedikitpun.
Suatu hari nanti, kebenarannya akan terungkap.
Kita sudah tidak punya tanah. Challa sudah merampasnya.
Kamu tidak akan mengerti, kamu sedang emosi.
Kakek yang tidak paham bagaimana keadaan kita?
Negara ini tidak pernah mempedulikan kita.
Beraninya kau bilang begitu.
Kukatakan sekali lagi, ini bukan tanah airku!
Lupakan kebanggan kakek itu.
Dan kuberitahu kalian jalan keluarnya, aku akan pergi dari sini!
Ibunya mengirim bekal makanan karena Surya sudah membantunya.
Sekarang aku akan membawa Surya kembali ke Ibunya.
Apa kau bilang?
Puteramu akan datang.
Apa? Dia akan datang ke sini?
Kau tahu dia dimana?
Seperti apa wajahnya?
Dia anakmu, kau pikirlah seperti apa wajahnya.
Ibu?
Ibu.
Bukan setahun atau dua...
Tapi 20 tahun..
Aku tidak akan bertanya kenapa kau kabur dari rumah.
Aku tidak akan tanya itu.
Tapi kenapa kau tidak memberi kabar?
Itu masalahmu dengan ayahmu, apa kaitannya denganku?
Selama ini kau berada di depanku, tapi kau tidak berkata apa-apa.
Bagaimana kau dan ayahmu bisa bertahan seperti itu?
Kalian laki-laki memang egois.
Ibu, kumohon.
Jangan sentuh aku.
Kau tak pernah sekalipun menelponku...
... memberitahu kabarmu. - Ibu, kumohon.
Kau sudah tidak ingat Ibumu lagi?
Ibu, kumohon. Bukan begitu, Ibu.
Pergi! Pergi! Pergi!
Jangan kembali lagi. Jangan kembali. Jangan kembali...
Saat tantangan ini dimulai...
... kupikir Surya hanya akan bertahan sehari saja.
Tapi sekarang, tinggal sehari lagi.
Impiannya akan tercapai.
- Apakah anda saudara Surya? - Ya.
Atasan kami ingin bertemu anda.
Anak beliau, Mustapha, meninggal minggu lalu di pusat perbelanjaan MRW.
Saat penyelidikan, kami dapati rakaman CCTV tidak aktif
Tapi kami melihat anda di rekaman kamera lain.
Apa anda tidak melihat sesuatu terjadi disana?
- Tidak. - Anak muda...
Mereka telah membunuh anakku, tapi mereka bilang dia bunuh diri.
Cuma kau saksi di tempat kejadian.
Tolong ingat lagi...
Siapa saja yang ada saat itu, Challa atau anaknya mungkin?
- Tidak, tidak ada... - Coba ingat-ingat lagi.
Kek, dia memang tidak lihat.
Dia tidak seperti orang lain, dia akan mengatakan sebenarnya.
Saya sangat mengenalnya.
- Ramesh. - Pak!
Kau juga.
Kalian ingat tidak, aku pernah cerita tentang seseorang yang menginspirasiku.
Ya, pak. Prajurit Surya.
Dialah orangnya.
Dia menginspirasiku dengan karakternya.
Anda masih ingat. 2 tahun lalu saat pelatihan di...
... Delhi, kita sekelompok.
Disana semua menceritakan tentang impian masing-masing...
... tapi hanya anda yang bercerita tentang makna impian.
Impian!
Semua orang punya impian.
Suatu hari mungkin akan tercapai, tetapi...
Apakah kalian masih orang yang sama seperti dulu ketika impian itu tercapai?
Apakah impian itu cukup memuaskan hati?
Saat impianmu tercapai, dan kau menoleh ke belakang...
... kau hanya akan melihat perjalanan hidupmu, juga karaktermu.
Jika kau melupakan karaktermu, maka kau seperti orang mati.
Mati sebelum ajal tiba.
Walaupun banyak tekanan saat bertugas,
... aku tak pernah mengubah karakterku, pak.
Tanpa kompromi.
Pak, satu foto...?
Ya, tentu.
Pak, tolong senyum.
Kau lagi?
Sempit bener dunia ini.
Prajurit...!
Aku baru tahu tentangmu.
Aku sangat marah denganmu.
Kali ini kau beruntung.
Sangat penting untukmu ke perbatasan.
Yang terpenting bagiku, menyelesaikan pekerjaanku dengan lancar.
Baiklah, lupakan saja.
Dan lupakan apa yang kau lihat.
Jika kau sanggup melihat kematian di perbatasan...
... Apa kau tak sanggup melihat kematian di parkiran?
Kau akan melupakan kejadian ini, 'kan?
Kau akan melupakan kejadian ini, 'kan?
Kau akan melupakan kejadian ini, 'kan?
Tunjukkan kalau kelemahanmu bisa menjadi sumber kekuatanmu. Buktikan itu!
Kau akan melupakan kejadian ini, 'kan?
Jawab, bodoh!
Kau akan melupakan kejadian ini, 'kan?
Aku akan melupakannya.
Hadirin sekalian, Alexander telah menaklukkan dunia.
Mahatma Gandhi menang tanpa menggunakan kekerasan.
Begitu juga Surya, menang melawan dirinya sendiri.
Kamu benar, Surya.
Saya kalah.
Tidak ada lagi yang bisa menghalangimu ke perbatasan.
Saya akan menandatanganinya sekarang.
Tidak Pak.
Jangan tandatangan.
Aku tidak menang.
Dalam proses untuk menang, aku sudah merusak karakterku sendiri.
Dulu orang bilang aku tak layak, pak.
Dan aku tidak mengakui itu.
Tapi sekarang aku mengaku kalau aku memang tidak layak.
Tanpa karakter...
Diriku sudah tak berguna lagi sebagai seorang prajurit.
Pernah suatu ketika...
... aku melihat kejahatan tepat di depan mataku.
Tapi sekarang...
... aku takut melihat diriku.
Anda selalu berkata, aku akan sendirian.
Namun aku tak pernah merasa begitu.
Jiwaku adalah sahabat baikku.
Jiwaku adalah temanku.
Sekarang aku punya segalanya, keluarga, cinta...
... dan pekerjaan tetap...
... tetapi...
Dimanakah Jiwaku?
Sekarang, aku benar-benar merasa sendirian.
Setelah sekian lama, teman baikku pun...
... sudah hilang.
Jiwaku...
Dia sudah tidak ada dalam diriku lagi.
Aku akui telah kehilangan jati diriku.
Aku tak peduli kehilangan orang lain.
Apa impianku, pak?
Aku ingin ke perbatasan untuk selamatkan nyawa orang lain.
Bukan untuk melangkahi mayat yang terbujur.
Tapi aku tak bisa melakukannya di sini.
Walau ada orang yang meregang nyawa tepat di depan mataku.
Aku tak bisa berbuat apa-apa.
Ini pertama kalinya, aku marah dengan diriku sendiri.
Dan diri ini membara, pak.
Di luar sana, ada orang sanggup mempertahankan...
... karakternya karena kata-kataku.
Kenapa aku bisa seperti ini? Dan aku tidak memikirkan itu!
Aku tidak menginginkan pekerjaan ini.
Tidak. Aku tidak mau kerja lagi, kalau aku harus merubah karakterku!
Aku tak tahu yang mana betul atau salah. Tapi inilah diriku.
Diriku yang sebenarnya!
Sekarang aku tidak memikirkan impianku lagi, tapi aku...
... memikirkan bagaimana mengembalikan karakterku.
Aku akan mencarinya kembali, pak.
Walaupun aku mati, aku akan mati dengan karakterku.
Hei Prajurit.
Kenapa kau kesini?
Kakimu mau dipotong juga?
Hei! Hei! Prajurit!
Apa? Kenapa?
Kau mau aku lupa?
Tak melihat pembunuhan di parkiran...
Tak melihat pembunuhan di parkiran...
Kek, kemarin kakek bertanya padaku 'kan?
Saat itu aku berbohong.
Mereka yang membunuhnya.
Mereka yang membunuhnya di depan mataku, kek.
Aku lihat sendiri.
Aku minta maaf, kek. Maafkan aku.
Aku sudah keliru karena tak membunuhmu saat itu.
Bunuhlah aku sekarang. Bunuhlah.
Bunuhlah!
Dia bersedia mati untuk negara di usia 70 tahun.
Tak salah kalau dia mati sekarang.
Bunuhlah. Bunuhlah!
Kau bisa memegang pisau sekarang karena kemerdekaan...
... yang telah diperjuangkan oleh orang seperti beliau.
Berani sekali kau ingin membunuhnya?
Hei, kau sudah gila?
Semua terkontrol.
Mulai sekarang rumah ini dan penghuninya, dibawah perlindungan prajurit Surya.
Siapa yang kau bicarakan?
Pemuda yang mengemudi mobil tempo hari?
Betul apa yang kau lihat?
Benar dia?
Buk, aku juga mau makan.
Hidangkan.
Hidangkan.
Dia bilang yang bukan-bukan, dan aku tidak percaya.
Aku percaya.
Kau tahu apa yang akan terjadi kalau kau memukul anak buahku?
Bukan hanya memukul...
... tapi aku bunuh.
Kau tak cerita yang sebenarnya?
Bunuh?
Kenapa?
Karena aku marah.
Kenapa emosi?
Emosi itu tidak baik.
Semua orang di dunia akan emosi.
Di India ada 1,1 milyar penduduk.
Semua orang pernah merasa emosi.
Benar.
Tetapi kalau emosinya 1,1 milyar orang hanya dirasakan oleh 1 orang. Gimana dong?
Asinnya pas, buk.
Aku biasa makan masakan yang asin dan pedas.
Makanannya enak, buk.
Sudah lama aku tidak tidur nyenyak.
Aku mau tidur sebentar.
Jangan, Challa. Jangan ikuti emosi.
Anakmu ada pada dia, Challa.
Berundinglah dengannya, bukannya ribut.
Bangun! Bangun!
Sudah tidurnya.
Kau ini kenapa?
Maumu apa?
Semua ini karena tanah Mustapha?
Hanya karena 5 hektar tanah.
Aku akan menghentikannya. Begitupun kau.
Aku akan jaga keluarganya. Tapi tolonglah hentikan semua ini.
Selain dari nyawa Mustapha, apa lagi maumu?
Kau dengar kata-kataku?
Aku sudah bicara. Kenapa dia diam saja?
Sebenarnya apa maumu?
India.
Aku mau India. Berikan!
Kau tidak paham 'kan?
India yang kumaksud terdiri dari 2 hal...
Anwar...
Kau ingat, kau tidak saja membunuh Mustapha.
Tetapi kau lupa, pembunuhan terbesar yang sudah kau lakukan.
Kau merampas tanah mereka, dan kau bunuh "India" dalam diri Anwar.
Ini bukan tanah airku.
Dia ingin jadi dokter untuk melayani negara ini...
... tapi dia sudah melupakan impiannya itu.
Mana Anwar sekarang?
Apa yang dia lakukan sekarang?
Bagaimana keadaan dia sekarang. Keputusan apa yang dia buat.
Bagaimana keadaan dia sekarang. Apa kalian tahu?
Setiap penjahat yang memilih jalan yang salah...
... dan melakukan kejahatan terhadap negara...,
... ingin manghancurkan negara, aku sebagai prajurit terpaksa harus membunuh mereka.
Kejam sekali!
Orang sepertimu telah menghancurkan negara, dan apa sebutan yang pantas untukmu?
Pakistan. Pengkhianat.
Siapa yang kau sebut Pakistan?
Siapa yang kau sebut Pakistan?
Aku orang India!
Apa buktinya? Mana buktinya?
Buktinya, bukti?
Lihat ini. Lihat! KTP, Kartu Pemilu, ATM, Paspor saja ada...
... dan aku lahir di India. Saat ini saja aku berdiri di tanah India.
India bukan apa yang disimpan di dalam dompet.
Tapi di dalam hati.
Kalau kau tinggal di India, belum tentu kau orang India.
Apakah India ada di dalam hatimu?
Kau punya waktu 24 jam.
Temukan Anwar.
Kau mau cari dimana? Terserah, aku tidak peduli.
Untuk pertama kali, kau gunakan kekuasaanmu untuk melayani negara.
Dan ingat.
Kalau sesuatu terjadi pada Anwar.
Anakmu akan terima akibatnya.
Bukan pengkhianat, tapi pelayan negara.
Mustapha tidak bunuh diri, tetapi dia dibunuh.
Terganggu dengan kematian ayahnya, Anwar lari dari rumah.
Menjadi tanggung jawab kita semua, untuk mencari Anwar.
Aku tak peduli apa yang kalian pakai, facebook, whatsapp. Sebarkan berita ini.
Aku ingin tahu keberadaan Anwar.
Prajurit adalah orang-orang yang melindungi orang lain...
... dan orang-orang juga harus melindungi anak-anak merka.
Dalam sebuah laporan resmi, ratusan orang menjadi korban pada insiden bom di Delhi.
Siapa pihak yang bertanggungjawab dalam insiden tersebut?
Apa yang dia lakukan sekarang?
Bagaimana keadaan dia sekarang. Keputusan apa yang dia buat.
Bagaimana keadaan dia sekarang. Apa kalian tahu?
Aku sudah mencari ke seantero negeri, tapi belum ada berita tentang Anwar.
Bukankah Anwar keluarga kita juga?
Seluruh negeri menunggumu, pulanglah.
Kau bilang, ini pertama kali kau bunuh orang?
Baru pertama kali membunuh. Tapi aku sudah pernah menyaksikannya.
Siapa yang harus kubunuh?
Kau ini...
Anwar 'kan?
Anwar.
Keadilan akan ditegakkan atas kejahatan yang menimpa keluargamu.
Pelakunya akan dihukum.
Bagaimana menurutmu?
Kenapa tak dijawab Anwar?
Halo Anwar. Kau tidak senang?
Tidak.
Dia tidak senang.
Keadilan telah ditegakkan.
Bantuan saat kejadian, disebut keadilan.
Tapi setelah kejadian, disebut simpati.
Sama seperti yang kita lakukan sekarang. Kesadaran yang hilang.
Kalian ingat kemenangan Kapil Dev...
... di pertandingan kriket 30 tahun yang lalu.
Tapi kalian tak ingat Mustapha yang berjuang untuk kalian.
Orang seperti dialah yang harus kita simpan di dalam hati...
... bukan di ingatan.
Untuk itu, kita bukan hanya kehilangan Mustapha.
Tapi keyakinan Anwar terhadap negeri ini.
Kau benar, Anwar. Aku setuju denganmu.
Aku dulu marah seperti yang kau rasakan sekarang, Anwar.
Aku pergi dari rumah pada umur 14 tahun.
Mungkin aku bisa jadi seperti Abdul Kalam...
... ataupun Osama bin Laden...
... atau mungkin sepertiku sekarang.
Anwar, dalam hidup kalau kau ingin mencapai sesuatu...
... kau harus membuat pilihan.
Bukannya menyerah pada keadaan.
Karena keadaan senantiasa berubah.
Tapi karakter tidak akan pernah berubah.
Semalam bagaimana keadaanmu, Anwar?
Saat kematian ayahmu, tak ada siapapun yang datang.
Hari ini.
Ribuan orang datang karenamu.
Ini memang telat. Ini memang salah.
Meski telat, tapi mereka datang juga, Anwar.
Koreksi aku kalau salah.
Allah berfirman, Yang ada hanyalah Cahaya bukan Kegelapan.
Sekarang, jika kau merasa ini bukan tanah airmu...
Itu pilihanmu.
Robek ini.
Surya lulus, Profesor?
Dia gagal.
Dia tidak bisa merubah karakternya dan dia kehilangan impiannya.
Dia lakukan segalanya untuk mewujudkan impiannya ke perbatasan.
Dia melakukannya.
Dia bangkitkan gairah cinta tanah air pada setiap orang.
Dulu aku malu mengakuinya sebagai puteraku.
Tapi sekarang, dengan bangga aku akan bilang, dia puteraku.
Buku terbaik yang pernah kubaca dalam hidupku adalah SURYA.
Tuan.
Sekarang dia dimana, Profesor?
Halo.
Halo.
Ada lowongan kerja di tempatku.
lowongan kerja?
Pak, tapi pak...
Terima kasih.
Terima kasih Ayah.
Terima kasih.
Aku sangat merindukan ayah...
Ayah juga sangat merindukanmu puteraku...
Hei, kau selalu cerita tentang perbatasan.
Bagaimana keadaan di perbatasan?
Perbatasan.
Menginjakkan kaki di perbatasan...
Adalah hal yang sangat menyenangkan.
Matamu akan berkaca-kaca saat melihatnya.
Saat hati kecilmu menggelorakan nama negerimu.
Ketika kau tiba di puncak dan kau menoleh ke belakang.
Dan saat itu kau hanya akan melihat bekas langkah kakimu.
Selain itu...
Akan terdengar alunan musik yang belum pernah kau dengar sebelumnya.
Musik ketenangan 1,1 milyar orang karena mereka tahu, kau sedang menjaga mereka.
Diterjemahkan oleh yudit_n ~ reezlany@gmail.com ~
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.