Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
DIDUKUNG OLEH KOREA CREATIVE CONTENT AGENCY
Astaga. Ada apa ini?
EPISODE 4
Apa dia gila?
Suara apa ini?
Apa terjadi sesuatu?
Tuan Putri Hwa Ri menghukum Shim Hak Do.
Dia memukul sinmungo untuk meminta keadilan bagi Yang Mulia Hyo Jin.
Kenapa kamu sembarangan memukul sinmungo?
Sinmungo dibuat agar para rakyat bisa menuntut keadilan.
Beraninya kamu memukul sinmungo untuk melampiaskan amarahmu?
Bagi Ayah, aku dan Bibi adalah rakyat.
Mengapa sinmungo yang kupukul untuk meminta keadilan...
...dianggap sebagai pelampiasan amarah?
Sinmungo ada di dalam Jembatan Geomcheon.
Rakyat jelata tak bisa menyeberangi jembatan itu.
Aku memukul sinmungo untuk mengusut ketidakadilan yang dialami Bibi.
Pria itu...
...menelantarkan Bibi dan membuatnya tewas.
Itu hanya rumor tak berdasar. Ayah bisa apa?
Maksud Ayah, apa yang harus Ayah lakukan?
Apalagi, dia putra dari keluarga yang berjasa.
Ayah harus menghukumnya.
Cabik-cabik dia sampai mati.
Tegakkan keadilan untuk Bibi.
Ayah adalah raja.
Ayah adalah kakaknya Bibi.
Itulah mengapa Ayah melakukan ini!
Karena Ayah adalah raja dan kakaknya.
Kemalangan Hyo Jin...
...sudah tersebar di seluruh penjuru ibu kota.
Siapa yang akan menjaga martabat dan kehormatannya?
Apa kita harus menodai...
...kehormatan kerajaan dan Putri Selir hanya untuk membunuh suaminya?
Kamu sungguh ingin mengotori nama bibimu?
Apakah martabat kerajaan...
...lebih penting dari nyawa Bibi?
Apakah menjaga nama baik Bibi yang sudah meninggal...
...bisa dijadikan alasan untuk memaafkan kelakuan bejat suaminya?
Hentikan!
Itu bisa terjadi padaku...
...atau Putri Hwa Jin.
Jika aku mengalami itu,
apa Ayah akan tetap...
...menyuruhku menjaga kehormatan seorang putri?
Waktu berlalu begitu cepat.
Saat aku masuk ke istana,
kita berdua...
...baru berusia 12 tahun.
Kita masih kecil.
Aku harap usiaku sudah 60 tahun saat membuka mata.
Dengan begitu, masa ini...
...bisa terlewati tanpa kusadari.
Apa perlu kuberi tahu kedatangan Tuan?
Tidak.
Berikan saja barang ini padanya.
Tuan Putri.
Pemilik Rumah Gisaeng Cheongwoon mengirimkan sesuatu untukmu.
Aku akan masuk, Tuan Putri.
SIAPA SANGKA DIA AKAN MELAKUKAN ITU?
Wahai, Ratu.
Apa aku salah?
Hubungan Hyo Jin dan suaminya tidak baik...
Aku sudah tahu itu.
Siapa sangka dia akan melakukan itu?
Pikirkan keluargamu.
Jangan sedih dan menyakiti dirimu.
Makan yang teratur dan jangan sampai sakit.
Aku senang mendengarmu baik-baik saja setelah menerima surat darimu.
Kamu sudah melihat kain sutra yang kukirimkan?
Aku harap itu bisa menghibur hatimu.
Kemarilah.
Astaga!
Ya ampun.
Kamu mengalami banyak hal buruk dalam rumah tanggamu.
Aku menulis ini karena sakit hati.
Aku harap kamu bisa menjaga bagianmu...
...meski harus melakukan kejahatan.
Aku menyuruhnya menjaga bagiannya meski harus melakukan kejahatan.
Seharusnya waktu itu aku tidak menyuruhnya menjaga,
melainkan memberitahunya bahwa dia punya tempat untuk pulang.
Aku malah menyuruhnya bertahan.
Anak yang bijaksana itu...
...kehilangan tempat untuk kabur karena perkataanku itu.
Malang sekali nasibnya.
Sang suami terus bersetubuh dengan budak wanita...
...meski Putri Chun Young hampir mati.
Tuan Putri merasa tidak adil dan tak bisa menutup mata.
Apa dia tidak takut pada karma?
Dia seperti binatang yang hanya mengejar kesenangan.
Dasar jahat.
Langit tidak akan mengabaikan ini.
Kaisar Giok mengirimkan penyelamat...
...dan memberi kesempatan untuk hidup lagi kepada sang putri.
- Ya ampun. - Syukurlah.
"Kamu akan dihukum."
"Bahkan mayatku belum busuk,"
"teganya kamu memeluk wanita lain di tempat tidurku?"
Jika melakukan tujuh dosa besar adalah perbuatan jahat,
aku bersedia menjadi istri yang jahat.
Dari mana asal kehormatan dan kekayaan yang kalian nikmati?
Apa sebenarnya tujuh dosa mematikan itu?
Kamu dilahirkan dan dibesarkan oleh seorang wanita,
tapi kamu tega menyakitiku.
Mengapa wanita yang sakit harus diusir?
Mengapa mencela dan cemburu pada suami yang meninggalkan istri...
...demi wanita simpanannya disebut dosa?
Sebenarnya dosa itu dibuat untuk siapa?
Benar sekali.
- Aku setuju dengan itu. - Diam!
"Kamu tidak akan bisa tenang meski sudah mati."
"Tubuhmu akan dimangsa binatang buas."
Benar. Sudah seharusnya begitu.
Setelah membalaskan dendamnya,
sang putri mengakhiri kebenciannya di dunia ini.
Akhirnya dia tiba di surga...
...dan hidup bahagia bersama penyelamatnya...
...selama-lamanya.
- Syukurlah. - Aku ikut senang.
Siapa yang menulis ini?
Ceritanya sangat memuaskan.
Yang Mulia.
Aku menemuimu karena pertandingannya selesai lebih cepat.
Bagaimana kabarmu?
Bukankah kamu sangat dekat dengan Bibi saat dia masih hidup?
Kebetulan aku hendak...
...memberi penghormatan pada Yang Mulia Putri Selir.
Begitu rupanya.
Pergilah.
Aku akan datang lagi lain waktu.
Ya, Yang Mulia.
Bersiaplah untuk pergi.
Sudah lama aku tidak menghirup udara luar.
Aksesoris adalah hadiah ulang tahun terbaik untuk Nona Min Ji.
Tentu saja.
- Mana yang bagus? - Bagaimana kalau ini?
Ini cocok untukmu.
Apa? Yang benar?
Nona Min Ji pasti menyukainya.
Ayo beli lalu pergi ke pesta ulang tahunnya.
Yang Mulia... Maksudku, Tuan.
Rumah pamanmu ada di sana.
Apa istriku akan senang jika kuberi ini?
Tentu saja.
Semua wanita menyukai hadiah.
Sudah lama aku tak melihatnya tersenyum.
Permisi.
Apa aku boleh meminta bantuanmu?
Aku ingin memberi hadiah untuk kakakku dan suaminya.
Aku sudah memilih hadiah untuk kakakku,
tapi aku tak tahu harus memberi apa untuk kakak iparku.
Bisakah kamu coba memakainya?
- Aku... - Kamu ini!
- Kamu tidak tahu dia siapa? - Apa?
Apa aku tidak sopan?
Tidak.
Apa ini cukup?
Dibanding yang itu...
Kurasa ini lebih bagus.
Jangan berani... Singkirkan tanganmu!
Kamu cocok menggunakan apa pun.
Bagaimana jika dipakai kakak iparku?
Hei, lari!
- Kamu juga lari! - Astaga.
Dasar anak nakal. Berhenti di situ!
Tidak mau. Memangnya apa salahku?
Kemarilah.
Aku akan memberitahu apa salahmu.
Tidak mau!
Tunggu!
- Astaga. - Dia kenapa?
Aduh.
Maafkan aku.
Bagaimana ini?
Aku tidak bisa pulang dengan keadaan seperti ini.
Maafkan aku.
Pakai bajuku dulu untuk sementara.
- Tapi... - Cepat lepaskan pakaianku.
Apa?
Baiklah.
Astaga.
Apa kamu bodoh?
Kenapa kamu tak bisa melepas pakaianmu sendiri?
Kurang ajar.
Oh, ya.
Aku minta maaf.
Tampaknya...
...keributan ini terjadi karena aku dan muridku yang nakal.
Pakaian yang robek bisa dijahit langsung di sini. Biayanya hanya dua nyang.
- Apa? - Biar aku yang bicara pada penjahitnya.
Ayo ikut aku.
- Apa Nyonya Park ada di dalam? - Ya.
Sulit dipercaya.
Aku diperlakukan seperti orang bodoh...
...yang tak bisa membuka pakaian sendiri.
Itu yang ingin kukatakan.
Yang Mulia.
Bagaimana nasibmu jika aku tidak ada?
Sial.
Man Bok.
Apa kalian mengikutiku?
Ya Tuhan.
Kamu mengikuti seorang wanita hanya karena diejek?
Aku tak percaya ada pria yang picik sepertimu.
Sebenarnya ada apa hari ini?
Aku yang aneh atau dia yang aneh?
Kurasa kita hanya kurang beruntung hari ini.
Ayo kita bergegas ke rumah pamanmu sebelum terjadi masalah lagi.
Astaga. Tuan! Tuan!
Cepat ke sini!
Itu dia! Dia orangnya!
Aku hanya basa-basi...
...karena seorang pria dewasa tak bisa melepas pakaiannya sendiri.
Tapi dia mengikutiku sampai ke sini.
Dia punya mata dan mulut. Dia bisa saja berbicara.
Jika bangsawan sepertimu bertingkah seenaknya,
apa wanita lemah sepertiku hanya boleh diam dan tutup mulut?
Tuan adalah adik ipar Raja.
Tolong beri pelajaran pada bangsawan yang angkuh itu.
Sepertinya kamu yang harus diberi pelajaran.
Apa?
- Apa maksud... - Lama tak bertemu, Paman.
"Paman"?
Bagaimana kabarmu, Yang Mulia?
"Yang Mulia"?
Apa kamu Putra Mahkota?
Ya.
Putra Mahkota yang tak bisa melepas pakaiannya sendiri.
Itulah aku.
Mohon maaf.
Aku tidak mengenali Yang Mulia.
Aku pantas mati.
Apa aku akan mati?
Putra Mahkota tidak akan membunuh orang sembarangan.
Kamu boleh pergi.
Bukan begitu.
Aku hanya ingin meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
Putra Mahkota pasti tidak pernah memakai pakaiannya sendiri.
Aku minta maaf karena salah paham, padahal tak tahu apa-apa.
Oh...
Ini.
Aku sungguh minta maaf.
Dia diusir oleh mertua dan orang tuanya.
Bagaimana bisa?
Wanita juga manusia.
Mereka tak bisa hidup dengan mata, telinga, dan mulut...
...yang ditutup.
Aku menjadikannya penerjemah karena dia pandai berbahasa asing.
Kenapa tiba-tiba ke sini tanpa mengabariku dulu?
Aku sedang frustrasi.
Mungkin aku bisa menemukan jawaban setelah bertemu Paman.
Apa ada masalah?
Tidak ada.
Tidak ada apa-apa,
tapi entah kenapa aku merasa sangat frustrasi.
Aku memakai pakaian yang sudah disiapkan,
memakan makanan yang diberikan,
dan terus menyiapkan diri untuk menjadi...
...raja yang bijaksana.
Tapi belakangan ini,
rasanya seperti memakai pakaian yang tidak cocok untukku.
Selain karena aku putra sulung,
apa aku layak menduduki takhta raja?
Seperti kata wanita itu,
aku hanya pria yang tak bisa memakai pakaianku sendiri.
- Minumlah. - Biar kutuangkan.
Omong-omong,
kudengar ada keributan di istana.
Kamu tidak apa-apa?
Hyo Jin punya umur yang pendek. Aku bisa apa?
Aku menjadi duda karena dia.
Jadi, aku harus menikmati sisa hidupku.
- Mari minum. - Minumlah.
Ayo.
Tuan, gadis-gadis sudah datang.
Suruh mereka masuk.
- Masuklah. - Kemari.
- Cepat masuk! - Duduklah di sini!
- Kemarilah! - Ayo duduk.
Ya ampun, dia cantik sekali.
- Lihat dia. - Astaga.
Siapa gadis itu?
Aku belum pernah melihatnya.
Kemarilah.
Aku ingin minum alkohol yang dituangkan gadis muda.
Tugasnya memetik gayageum, bukan menuangkan alkohol.
Dia murid yang masih perawan.
Apa?
Dia masih perawan?
Hei.
Berapa harga malam pertama gadis itu?
Aku akan membayar dengan harga tinggi.
Ada prosedur untuk malam pertama setiap gadis di Rumah Gisaeng Cheongwoon.
Aku akan bertanya pada pemilik rumah gisaeng.
Baiklah.
- Angkat gelas kalian. - Ayo.
- Ayo minum. - Biar kutuangkan, Tuan.
Aduh, pahit.
Ini pahit.
- Apa ini? - Tidak ada.
Sekarang giliranmu minum!
- Kamu juga harus minum. - Semakin diperhatikan, semakin cantik.
Tuan.
Kudengar...
...Tuan ingin membeli malam pertama Myeong Wol.
Ya.
Benar.
Berapa harganya?
Di Rumah Gisaeng Cheongwoon, kami tidak menjual malam pertama dengan uang.
Sang gadis akan memilih pria tersebut.
Memangnya sepenting itu malam pertama seorang gadis?
Jika kamu begitu tertarik padanya, bagaimana jika kamu bertaruh dengannya?
Apa?
Dia akan mempertaruhkan kehormatannya yang sangat berharga bagi seorang wanita.
Jadi, kamu juga harus mempertaruhkan sesuatu yang sangat berharga bagimu.
Bagaimana dengan rumahmu?
Baiklah.
Dengan syarat, aku yang akan menentukan jenis taruhannya.
Astaga.
- Aku tidak sabar. - Aku juga tidak sabar.
Permainan ssangnyuk.
Pemenangnya adalah orang yang mengumpulkan bidak ini terlebih dahulu.
Sudah siap?
Mari mulai.
Baiklah.
Kita mulai.
Wah, angka enam ganda!
Mari kulihat. Pindahkan ke mana, ya?
Astaga.
Astaga.
Astaga. Bagaimana ini?
Astaga. Sepertinya takdir hari ini ada di tanganku.
Enam ganda lagi!
Wah, hebat sekali.
Sepertinya malam pertama anak itu akan menjadi milikmu.
Benar sekali.
Bukankah dia masih seorang anak kecil yang sedang belajar seni?
Bagaimana bisa dia dimasukkan ke tempat itu?
Dia adalah anak yang biasanya diam dan menurut.
Selama ini tidak pernah ada kejadian seperti itu.
Aku berpikir pendek.
Tidak.
Jika dia adalah seseorang yang memiliki akal,
bagaimana mungkin Putri Hwa Ri berpikir...
...untuk menggantikan Putri Selir membunyikan tabuh?
Bahkan jika harus mempertaruhkan Rumah Gisaeng Cheongwoon,
aku akan menggenggam tali ikat lehernya.
Apa yang akan kamu lakukan?
Tidak perlu khawatir.
Aku tidak pernah kalah dalam taruhan.
Maafkan aku. Ampuni aku.
Ya ampun.
Bisa tunggu sebentar?
Jika bertaruh dengan penampilan seperti ini,
pasti kamu tidak akan senang.
Bagaimana kalau dia mandi sebentar?
Mengapa diam saja?
Bersihkan dan rapikan kembali dirimu agar terlihat sopan di depannya.
Pada akhirnya, kita akan menghabiskan malam yang panjang bersama.
Bukan masalah besar untuk pergi sebentar.
Pergilah.
Terima kasih.
- Kita minum alkohol saja. - Silakan ke sini, Tuan.
Astaga, bosan sekali.
Lama sekali.
Dia tidak kabur, bukan?
Tidak mungkin.
Seorang gadis memang membutuhkan waktu yang lama untuk berdandan.
Kalau kamu bosan,
bagaimana kalau aku menggantikan Myeong Wol untuk bertanding denganmu?
Untuk apa aku bertaruh denganmu?
Aku akan mempertaruhkan Rumah Gisaeng Cheongwoon di ronde ini.
Jika kamu menang,
kamu bisa mendapatkan Myeong Wol dan Rumah Gisaeng Cheongwoon.
Min Hong?
Tuan Putri, ada urusan apa di waktu larut seperti ini?
Aku mengira kamu akan ada di sini.
Kalau aku lewat, kamu selalu menggambar sampai larut malam.
Aku baru bisa menggambar setelah pekerjaanku selesai.
Apa...
...kamu bisa membantuku mewarnai?
Apa?
Ketika banyak pikiran, lebih baik melakukan aktivitas fisik.
Ide yang bagus.
PERNIKAHAN SANG PUTRI
PERNIKAHAN SANG PUTRI
Bibi.
Terserah apa yang orang-orang katakan.
Yang Mulia Putri Selir yang aku lihat pada hari itu sangatlah cantik.
Dia bersinar, penuh harapan untuk masa depan.
Dia merasa bersemangat, padahal tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Tidak ada yang berani mengkritiknya untuk itu.
Dengan sepenuh hati, dia berusaha untuk menjadi bahagia.
Dibanding siapa pun, kamu tentu sangat tahu itu.
Ah, benar.
Omong-omong...
...aku calon suamimu juga.
Kamu juga ikut serta dalam pemilihan calon suami?
Iya.
Meskipun keluargaku sudah runtuh,
aku tetap berasal dari keluarga bangsawan yang ternama.
Benarkah?
Aku selalu berkata jujur.
Itulah sebabnya aku juga mengirim kertas ramalan nasibku.
Jika menjadi suami, kamu tidak bisa memiliki selir.
Tidak bisa meniti karier.
Kata orang, sama saja seperti menjadi lukisan dinding.
Apa salahnya jadi lukisan dinding?
Itu adalah lukisan dinding yang akan mengurangi kekhawatiran hidupku.
Sepertinya kamu sangat kekurangan.
Benar.
Baiklah.
Jika aku terus mencari dan tidak menemukan suami,
aku akan menjadikanmu sebagai lukisan dinding.
Kamu sudah tidak bisa mundur dari pertaruhan ini.
Kamu akan baik-baik saja?
Aku tidak akan menjilat ludah sendiri.
Baiklah.
Mari kita mulai.
Ini namanya cicak melawan buaya.
Benar juga.
Kita mulai.
Bagus.
Eh?
- Enam ganda. - Enam ganda!
Kamu beruntung.
Sebentar.
Ada apa?
Kita harus ganti dadunya.
Dadu kita berdua.
Hei, bawakan dadu yang baru.
Baik, Tuan.
Benarkah?
Bagaimana taruhannya?
Ini adalah barang dari tempat ini, jadi mungkin kamu tidak percaya.
Sebaiknya kamu pilih sendiri dadu yang akan digunakan.
Baiklah. Mari kita mulai lagi.
Baiklah.
- Enam ganda! - Enam ganda!
Tidak mungkin.
Ada yang aneh.
Sial!
Apa kamu memanipulasi papan permainannya?
Bukankah kamu yang memanipulasi?
Dunia luar memiliki hukum dunia luar.
Dunia permainan ini...
...memiliki hukum dunia ini pula.
Jika ternyata terungkap...
...bahwa kamu menggunakan tipu muslihat dengan dadu ini...
...saat itulah...
...kamu harus siap kehilangan tanganmu.
Ssangnyuk.
Pemenangnya adalah orang yang mengumpulkan bidak ini terlebih dahulu.
Aku memenangkan taruhan.
Sekarang hartamu adalah milikku.
Tidak keberatan, bukan?
Makanya.
Keserakahan itu juga harus ada batasnya.
Tuan.
Dia memang menukar dadunya.
Namun, mengapa setiap kali melempar, selalu keluar angka enam?
Bukankah dadu yang digunakan itu juga yang biasa dipakai oleh para gadis?
Aku sudah berhadapan dengan orang-orang seperti itu selama bertahun-tahun.
Ini bukan sesuatu yang berhasil dalam sehari dua hari.
Bukankah tempat ini adalah rumah keluarga bibiku?
Untuk apa ke sini?
Ada pemandangan menarik yang ingin aku tunjukkan kepadamu.
Lepaskan aku!
Lepas!
Lepas!
Mulai sekarang, rumah itu adalah milikku.
Apa?
Aku ahli dalam menghancurkan dengan uang.
Dia tanpa rasa takut merusak kehidupan wanita...
...hanya dengan mengandalkan statusnya.
Semua yang dimilikinya telah dirampas, hanya meninggalkan status kosong itu.
Menurutmu, bukankah itu pemandangan yang sangat bagus?
Benar sekali.
Bagaimana ini?
Dia akan bertahan hidup dengan cara yang memalukan.
Sekarang dia akan menyadari...
...apa itu kenistaan.
Oh iya.
Aku telah menerima barang-barang peninggalan Bibi yang kamu kirimkan.
Terima kasih.
Berkatmu, aku sudah merasa lebih tenang.
Aku sempat ragu apakah aku terlalu ikut campur.
Aku senang kamu sudah merasa tenang sekarang.
Namun, bagaimana bisa kamu mendapatkan barang berharga itu?
Aku berhasil mendapatkannya, entah bagaimana.
Mengapa kita datang ke sini?
Kamu sudah jauh-jauh datang dari istana.
Ada satu pemandangan indah di tempat ini yang ingin kutunjukkan padamu.
Ini benar-benar akan terbang?
- Benarkah? - Tidak.
Baiklah. Kita berangkat.
Apakah kamu merasa sedikit lebih baik sekarang?
Iya.
Dari atas langit, dunia tempat orang hidup ini terasa kecil dan sepele, bukan?
Pada saat itulah, dia tahu mengapa pria itu membawa dirinya ke tempat ini.
Kamu berada tepat di hadapanku.
Aku bisa melakukan segalanya untukmu.
Kemudian, cerita tentang hubungan cinta Chun Hwa,
termasuk cerita Chun Young, berakhir seperti ini.
MALAM INI...
Malam ini, aku akan mengukir kenikmatan dalam tubuh dan pikiranku.
Oh, Langit. Kami akan menghabiskan waktu bersama seperti ini.
Sang Putri yang telah menyelesaikan balas dendamnya,
akhirnya bangun di Mureungdowon setelah melepas dendam di dunia ini.
Dia menjalin hubungan cinta yang sangat lama dengan bangsawan itu.
DIA MENJALIN HUBUNGAN...
Terima kasih.
Berkatmu, hari ini sangat menyenangkan.
Jika kamu menjadikanku sebagai suami, setiap hari akan seperti ini.
Apakah kamu menyukaiku?
Apakah kamu juga menyukaiku?
Aku tidak tahu.
Kita bisa menjadi pasangan yang baik meski tidak saling mencintai.
Meski pria dan wanita bertemu dan saling jatuh cinta...
...kamu sudah tahu bahwa itu pun ada akhirnya, bukan?
Jika kita tidak saling mencintai, maka tidak akan ada perubahan.
Kamu tetap menjadi dirimu, aku tetap menjadi diriku.
Tidak masalah jika kita hanya memiliki rasa saling menghormati, bukan?
Aku tidak akan memiliki selir atau berselingkuh seperti Shim Hak Do.
Jika kamu masih tidak percaya, aku akan memberikan kontrak pernikahan.
Jika aku mengabaikan kewajibanku sebagai suami,
aku akan menyerahkan seluruh hartaku kepadamu.
Sebagai gantinya, aku hanya meminta agar kamu menghormati duniaku.
Jika kamu bisa melakukan itu,
aku tidak akan keberatan jika kamu memiliki pasangan lain.
Bagaimana?
Itu tidak akan merugikan siapa-siapa, 'kan?
Astaga.
Memangnya itu lelucon?
Mengapa kamu selalu bercanda,
bahkan mempermainkan perasaan seperti itu?
Bukan pernikahan seperti itu yang aku mau!
Tuan Putri!
Tuan Putri!
Apakah kamu nyaman?
Terima kasih atas perhatianmu,
aku melewatinya dengan baik.
Syukurlah.
Aku tidak percaya Pangeran Hwa Seong,
tapi aku percaya padamu.
Tolong bimbing dia dengan baik.
Jangan khawatir, Ayah.
Aku melakukan apa pun yang diminta istriku.
Di rumah kami, istri adalah raja.
Hwa Seong...
Santai saja. Tidak apa-apa.
Aku lega karena kalian saling sayang.
Apa kamu,
sudah merasa lebih baik?
Memang kenapa?
Tentang Bibi.
Tidak sepertiku,
bukankah kamu dekat dengan Bibi?
Berkat seseorang,
perasaanku sudah lebih baik.
Berkat siapa?
Siapa dia?
Apa terjadi sesuatu?
Sebenarnya,
aku...
...sudah menghabiskan...
...malam pertamaku dengan Choi Hwan.
- Apa? - Astaga!
Dasar gila!
Bagaimana bisa melakukan itu?
Kita bicara lagi nanti.
Astaga, jantungku. Kaget sekali.
Terima kasih, Istriku. Kamu pasti gugup bertemu mereka.
Cepat pulang dan istirahat.
Kenapa pulang? Padahal sudah lama tidak ke sini.
Memangnya ada sesuatu di rumah?
Bagi kalian istana itu rumah,
tapi bagi istriku, ini rumah mertua.
Kalian tidak akan mengerti karena kalian belum menikah.
Menjadi ipar memang seperti ini.
Hwa Seong...
Apa tidak nyaman dengan kami?
- Ya. - Apa?
Sekarang kita sebagai ipar?
Tidak.
Itu hanya asumsi dia saja.
Santai saja seperti biasanya.
Lihat itu. Kamu saja yang berlebihan.
Benar, 'kan?
Sulit untuk bisa kumpul seperti ini.
Mari kita cari tempat untuk para wanita mengobrol.
Benar.
Kita juga punya banyak hal untuk dibicarakan.
Ayo pergi.
Bagaimana rasanya menikah?
Apa itu baik?
Entahlah.
Ada hal baik,
ada juga hal buruk.
Hal baik seperti apa?
Aku jadi tidak terlalu cemas.
Rasanya seperti menjadi lebih tenang.
Aku merasa stabil.
Rasanya seperti memiliki seseorang yang kuat di sisiku.
Lalu hal buruknya?
Agak...
...mengganggu.
Bagaimanapun,
aku senang kamu melewatinya dengan baik.
Benar.
Itu sebabnya semua orang menyuruhmu menikah.
Yang Mulia, Yang Mulia Pangeran sudah tiba.
Apa? Secepat ini?
Ini baru mulai kenapa sudah datang?
Tolong minta dia untuk tunggu sebentar.
Baik.
Jadi,
bagaimana dengan klub kaligrafi dan melukis kita sekarang?
Apa boleh dilanjutkan?
Akan bagus jika yang bisa berkumpul terus berkumpul.
Nanti akan aku siapkan tempat.
Yang Mulia.
Pangeran bertanya kapan Anda akan pulang?
Obrolan kami belum selesai.
Mohon tunggu sebentar lagi.
Baik.
Ji Won!
Sedang apa?
Kapan pulang, Istriku?
Sepertinya dia lapar.
Tolong beri dia camilan.
Memang kamu sangat mengerti dia.
Jika ada sesuatu yang dimakan, dia pasti diam.
Biasanya tidak begitu.
Entah kenapa hari ini...
Mungkin dia takut kamu merasa asing di istana.
Aku senang melihatnya.
Permisi, Yang Mulia.
Baiklah, aku selesai. Aku akan pulang!
Bilang padanya aku akan pulang.
Baik.
Maafkan aku, Yang Mulia.
Karena Pangeran sudah rewel sekali,
aku harus pulang sekarang.
Baiklah, silakan pulang.
Dia bisa mati karena lemas.
Kenapa baru keluar? Aku sudah menunggu dari tadi.
Kenapa tidak sabaran sekali?
Padahal kamu bisa tunggu sebentar, tapi merengek terus.
Tahukah kamu betapa malunya aku?
Kenapa lagi?
Apa Hwa Ri dan Hwa Jin menghasutmu?
Karena inilah aku memintamu cepat pulang.
Sudahlah. Ayo cepat pulang.
Istriku!
Cobalah ini.
Tadi pelayan memberiku ini untuk dimakan.
Tapi aku teringat istriku, jadi kusimpan.
Camilan kesukaanmu, 'kan?
Pintar sekali.
Lain kali,
makan saja apa yang diberi.
Kamu bisa memintanya lagi.
Kamu pasti lapar karena menunggu.
Baiklah.
Lain kali aku akan seperti itu.
Apa itu enak?
Ya. Enak sekali.
Kamu benar-benar tidak memakannya?
Aku tidak makan satu pun.
Apa ini?
Kukira aku akan melihat pertikaian rumah tangga...
Astaga.
Itu tidak penting.
Ikut aku!
Selesaikan ceritamu yang tadi!
Astaga, tunggu.
Pelan-pelan saja.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Bagaimana bisa malam pertama dengannya?
Itu,
terjadi begitu saja.
Kamu berencana menikah dengannya?
Aku tidak tahu.
Kamu benar-benar dalam masalah.
Jika sudah begitu, tentu saja harus menikah dengannya!
Bagaimana jika menikah dengan orang lain dan kesucianmu dipertanyakan?
Apa itu penting?
Tentu saja.
Kenapa acuh sekali pada hal yang sudah jelas?
Omong-omong...
...apakah menyenangkan?
Apa?
Kamu pasti paham maksudku.
Saat kamu mencobanya,
apa itu benar-benar menyenangkan?
Hei!
Sudahlah.
Perlahan selesaikan masalahmu yang tak terjawab,
lalu coba pikirkan masalahku.
Bukankah istri Menteri Lee sedang mencari jodoh untuk Lee Jang Won?
Apa yang ingin kamu lakukan?
Tidak tahu.
Apa tidak ada solusi yang bagus?
Bagaimana dengan kain ini?
Ini sutra yang digunakan saat pernikahan Pangeran Hwa Seong dan istrinya.
Seperti ini.
Jika ditambah sedikit kain seperti ini,
lipatan roknya akan terlihat penuh.
Entahlah.
Apa tidak ada yang lain?
Aku ingin yang istimewa,
tapi tidak terlalu mencolok.
Baiklah.
Kalau begitu...
Astaga.
Lee Jang Won?
Tuan Putri.
Kamu baik-baik saja?
Apa aku orang yang selalu punya masalah?
Jika ada yang dengar, pasti mengira aku pembuat onar.
Bukan begitu maksudku.
Kita bertemu di waktu yang tepat.
Aku punya sesuatu yang harus dilakukan bersama.
Apa kamu ada waktu?
Ya.
Aku tidak masalah.
Baiklah, ayo pergi.
Ini adalah hal yang sangat penting bagi wanita.
Kutata rambut di sisi ini.
Tidak terlalu berlebihan.
Lalu pakai aksesoris.
Sudah pilih gaun pengantinmu?
Belum.
Sudah kuduga.
Aku membawa calon pengantin pria terbaik di ibu kota.
Ya?
Pernikahan tidak bisa dilakukan wanita seorang.
Ada baiknya jika pria juga bantu menilai.
Bagian mana yang paling kamu suka?
Tolong beri tahu.
Ya, baiklah.
Aku tidak terlalu mengerti pakaian wanita,
tapi aku akan berusaha.
Berhenti tersenyum. Apa sesenang itu?
Siapa yang senyum?
Aku sudah siapkan panggungnya.
Jadi, perhatikan baik-baik reaksi Jang Won.
Lihat apakah dia punya perasaan padamu atau tidak.
Baiklah.
Bagaimana?
Itu bagus.
Benarkah?
Bukankah bordiran di bahu ini membuatnya terlihat lebar?
Iya, 'kan?
Bukankah ini,
terlihat terlalu kaku?
Menurutku itu terlihat cantik.
Kamu yakin?
Ini pernikahan sekali seumur hidup.
Apa menurutmu bordiran di bahu ini yang terbaik?
Entah.
Aku tidak mengerti pakaian wanita.
Sepertinya bukan ini. Coba yang lain.
Baik.
Kamu datang untuk lihat gaun penganti?
Ya?
Ah, iya.
Baik.
Biar aku beri sedikit saran.
Seorang pria,
tidak boleh jujur tentang kesannya terhadap pakaian wanita.
Lalu mengapa memintaku melihat dan menilainya?
Tidak peduli penilaian pria,
mereka tahu cara memilih pakaian bagus.
Jadi, para pria,
hanya perlu mengatakan ini cantik,
dan itu juga cantik,
apa pun yang terjadi.
Jika pura-pura tahu,
dan mengatakan yang sejujurnya,
pasti akan dicap,
sebagai pria yang tidak peka dan tidak tahu apa-apa.
Bagaimana?
Ya. Itu cantik.
Maksudku dibanding dengan yang sebelumnya.
Yang sebelumnya cantik, yang ini juga cantik.
Bukankah roknya terlalu heboh?
Bukankah gaun penganti memang seperti itu?
Jika terlalu heboh dan mencolok, perhatian para tamu undangan,
hanya terfokus pada gaun pengantin.
Bunga pernikahan adalah pengantin wanita.
Dia harus menonjol.
- Bukan yang ini? - Ya.
Lihat itu.
Sudah kubilang, mereka sudah punya pilihan.
Kesadaranku jadi terbuka.
- Bagaimana? - Bagaimana?
Wah, cantik.
Benar? Ini pilihan tepat, 'kan?
Sudah kubilang pakai yang ini.
Mungkin terlihat sedikit membosankan,
bagaimana jika ditambahkan ekor di bagian belakang?
Tunggu.
Ya ampun, benar. Ini dia.
Bagian depan elegan dan bagian belakang menawan.
Ya ampun.
- Bukankah itu jenius? - Bukankah itu jenius?
Ya ampun, bisa saja.
Benar-benar sempurna.
Apa yang beda?
Cantik, bukan?
Terima kasih atas waktumu.
Berkat dirimu,
aku dapat memilih gaun pengantin dengan mudah.
Tak apa.
Aku juga senang.
Apakah kamu juga akan menikah?
Istri seperti apa yang kamu inginkan?
Entah.
Aku berharap dia adalah...
...orang yang bisa menghargai diri sendiri dan orang lain.
Bagaimana dengan penampilan?
Sejujurnya, bukankah pria memandang fisik?
Dia hanya harus cantik di mataku.
Sepertinya,
aku harus mengganti baju sekarang.
Omong-omong, Tuan Putri.
Aku merasa tidak enak,
setelah pertemuan terakhir kita.
Mari kita bicarakan itu nanti.
Namun,
apa Tuan Putri juga pernah mencoba gaun pengantin?
Hanya melihatnya,
dan mencoba langsung adalah hal yang berbeda.
Penikahan masih jauh, kenapa aku harus mencobanya?
Masih jauh?
Masih sangat jauh.
- Sebentar. - Apa?
Apa itu?
Berhenti.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.