Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Tutup Teater Grand Guignol!
Tutup teater memalukan itu!
Paula Maxa.
Paula yang hebat dan tak bisa mati.
Kau datang melihatnya?
- Siapa? - Paula Maxa.
Wanita yang paling sering dibunuh di dunia ini.
Jadilah takut.
Kalian takkan menyesalinya.
Paula Maxa yang hebat.
Terima kasih.
Eugène de Lancry.
Senang jumpa denganmu.
Kau sama sepertiku dan mereka
datang kemari untuk melihatnya.
Semua telah disatukan kembali.
Aku tak punya bekas luka
tapi aku sudah dibunuh lebih dari 10.000 kali di panggung.
Dipukuli, dijadikan martir
dimutilasi
disemprotkan gas beracun, didorong ke penggilingan pabrik
diremukkan, direbus hidup-hidup
dikeringkan darahnya
dibakar dengan asam
ditusuk, dikuliti
digantung, dikubur hidup-hidup
direbus bersama sup
dikeluarkan isi perutnya, ditarik oleh kuda
ditembak, dicincang, dirajam
dicabik, sesak napas
diracuni, dibakar hidup-hidup, dimakan singa
disalibkan, dikupas kulit kepalanya
dicekik
digorok, ditenggelamkan, dihancurkan
ditikam, ditembak
dan diperkosa.
Setiap bagian tubuhku pernah dipotong, diketam
dikuliti, dan dihancurkan
tapi seperti yang kau lihat, walau mengalami semua itu
aku berdiri di hadapan kalian sekarang.
Aku Paula Maxa.
Diterjemahkan oleh mifae :)
Buka pintunya!
- Darah! - Paula Maxa!
Hadirin.
Terima kasih sudah datang
ke Teater Grand Guignol.
Silakan masuk dan duduk.
Pulanglah!
Aku mengenalmu. Kau putranya Comte de Reinach.
Jangan masuk, anak muda, atau kulaporkan orang tuamu.
Bukan apa-apa. Jangan cemas. Dia pasti sinting.
Akan kulaporkan orang tuamu! Memalukan!
Sampah masyarakat memenuhi teater itu!
[Pembunuhan di RS Jiwa]
Kau akan menyaksikan pertunjukan yang hebat.
Sama seperti para pemainnya, kami semua kadang kerasukan.
Alfred Binet?
Wah.
Kau kenal Alfred Binet.
Aku wartawan, jadi, aku tahu.
Wartawan?
Kau ikut demo menutup teater ini
karena percaya rumor pembunuhan
dan ritual kurban itu?
Aku tak dibayar untuk berpendapat.
Kau tampak berbeda, anak muda.
Boleh aku masuk duluan?
Nikmati pertunjukannya!
Malam ini, Hadirin...
Kepala Teater Grand Guignol
mempersembahkan "Pembunuhan di RS Jiwa"
karya Pangeran Teror kami
André de Lorde, dan si bijak
yang tak kalah kejam
Dr. Alfred Binet!
Kalian dengar suara malam yang ada di sekitar kita?
Malam ini, kalian akan merasakan horor sungguhan.
Tulang kalian akan gemetar
dan jantung yang lemah akan berhenti
tapi jangan khawatir.
Dokter kami siap membangkitkan kalian kembali jika dibutuhkan.
Meskipun belakangan ini
dia yang pertama pingsan.
Tapi...!
Apa ini?
Dia sudah pingsan?
Pertunjukan belum dimulai.
Aku pasti salah lihat!
Kalian semua sangat berani.
Pujian untuk Iblis. Inilah mereka.
Terakhir, jangan ragu memakai ember.
Itulah kegunaannya.
Maxa!
Di mana aku?
Apa yang terjadi padaku?
Kenapa aku terjebak di tempat suram ini?
Suara apa itu?
Siapa yang mengeluh?
Awas, Maxa! Di belakangmu!
Masih menangis?
Sebaiknya kau cepat belajar.
Tak ada yang bisa menolongmu di sini.
Di mana aku?
Di RS Jiwa, Sayang.
Keluarkan aku.
Aku tidak gila.
Sombong sekali kau.
Semua yang ada di sini gila!
Siapa kau?
Kau tak mengenaliku?
Aku wanita bermata satu.
Apa wajahku membuatmu jijik?
Kau wanita muda yang sangat cantik.
Mungkin yang tercantik yang kami miliki di sini.
Kau pasti akan jadi kesayangan dokter.
Dokter?
Dokter apa?
Sabar.
Kalian akan segera bertemu.
Akan kujelaskan ini salah dan dia akan menolongku.
Dokter menolong orang.
Aku tak takut pada apa pun.
Tentu saja, Sayang.
Di sini, dokter membuat wanita sepertimu sangat bahagia.
Dia akan membuatmu mempercayai itu.
Cukup bicaranya!
Kita harus menyiapkan dia.
Tidak! Jangan ganggu aku.
Ini bukan tempatku. Aku mau bertemu suamiku.
Suamimu yang mengantarmu kemari.
Dia pasti mau menyingkirkanmu.
Percayalah. Kau bukan yang pertama.
Jangan melawan. Kau tak bisa berbuat apa-apa.
Jika kau terus melawan, kami akan pakai cara keras.
Pasti ada kesalahan.
Tak ada yang datang kemari karena kesalahan.
Percayalah.
Anak-anakku sendiri mengantarku kemari.
Berengsek!
Kau terlalu cantik.
Kami akan coba perbaiki wajah cantik ini.
Lihat kami sekarang kalau bisa.
Jean.
Bagaimana menurutmu?
Darah lagi!
Kecantikanmu sudah berkurang.
Berterima kasihlah pada kami.
Kubilang berterima kasihlah.
Berterima kasihlah pada kami!
Terima kasih.
Dia terlalu jelek sekarang.
Dokter akan kecewa.
Selamat malam, Sayang!
Maaf, Dokter.
Dia tak mau menurut.
Apa yang kalian lakukan? Kalian iri!
Tolong aku, Dokter!
Kalian benar-benar merusaknya.
Sudahlah. Ayo selesaikan.
Aku tak butuh kepalanya tanpa mata.
Kita butuh orang itu.
Benar!
Jangan! Kumohon!
Kumohon, Dokter!
Jangan!
Apa yang terjadi? Aku tak bisa melihat apa-apa.
Jangan berhenti.
Dia akan mati sebentar lagi.
Lebih kencang!
- Mesin penyusut! - Tidak!
Kau sangat suka teater.
Mungkin kepalanya masih berguna, Dokter.
Maksudku, secara terpisah.
Licik!
Ini kesalahan besar.
Hebat!
Darah ini menjijikan.
André, katanya kau akan tambah lebih banyak gula pada darahnya.
Harga gula sekarang mahal, Puteri.
Kita harus akali baunya.
Rasanya menjijikan.
Menjijikan! Coba saja.
Ini darah terbaik dalam sejarah teater.
Ganti baju kalian. Kalian kembali 5 menit lagi.
Di mana Paul?
Lagu malam ini bagus.
- Kau melihat Paul? - Aku di sini.
Dari mana kau?
Bekerja.
Kau tidur.
Tekanannya kurang.
Sudah kubilang
semburannya harus lebih jauh.
Aku mau darah melumuri wajah mereka.
Panggung harus dibersihkan.
Bagaimana denganku?
Tunggu.
Ganti kostum
dan bersiaplah.
Naik panggung 5 menit lagi. Tirai dibuka 5 menit lagi.
Sudah.
Terima kasih, Paul.
Terima kasih untuk beludru di kolong meja. Nyaman sekali.
Sana!
- Ini. - Terima kasih.
Kenapa kau lupa dialogmu?
Kau sudah melakukannya ratusan kali.
Kau yang bermasalah.
Tanpa aku, Paul, dan yang lain
kau dan teatermu bukan apa-apa.
Teater ini penuh setiap malam berkat pertunjukanku.
Mereka menjadikanmu ratu!
Kalau begitu hormati aku!
Jadi...
kalian mau darahnya lebih kental
dan menyembur jauh?
Selagi kalian menunggu
kami akan memutar lagu ringan
dengan sketsa indah dari teman kami, Georges Courteline
"Lawn Bowling"!
Tn. De Lorde?
- Tn. De Lorde? - Diam. Ini acara langsung.
Jean Charpentier dari Le Petit Journal.
Le Petit Journal?
Kau tak mirip kritikus.
Mereka cenderung jelek dan berpakaian jelek juga.
- Wartawan berita. - Aku mengerti.
Apa yang harus kutulis tentang kaum fanatik
yang mau menutup teater ini?
Mereka bodoh.
Siapa namamu, Cantik?
Namaku Félicie.
Kau?
- Astaga! - Tidak!
Itu trik lama. Mereka sedikit tenang karena komedi ringan
lalu kami mengejutkan mereka.
Namanya hujan Skotlandia.
Di Saint-Casimir dekat Amboise, kami punya seorang tetangga.
Lihatlah mereka tertawa. Mereka akan ketakutan 10 menit lagi.
Banyak orang berkata teater akan bangkrut
karena ada bioskop.
Kau pernah pergi ke bioskop?
Pernah. Kenapa?
Kau ada dalam ruangan tadi.
Kau mencium bau darah?
Kami menyajikan hal-hal yang tak ada di bioskop.
Orang hidup dalam mimpi buruk di sini. Itu keinginan mereka.
Mereka ingin merasakan horor di kehidupan nyata.
Mereka tak mau bermimpi.
Teater masih akan berjalan seribu tahun dari sekarang.
Aku meragukannya, tapi kuharap benar demi kebaikanmu.
Ingatlah bahwa pintu belakang panggung
terlarang bagi siapa pun selain kru
tapi jalan keluar terbuka lebar.
Lewat sini. Biar kuantarkan.
Kau tak hanya cantik, ya?
Kau juga pintar.
Paula!
Paula, naik ke panggung.
Buka!
Biarkan kami masuk!
Tuan.
Kau tahu tentang skandal
yang terjadi di tempat kotor ini?
Selamat malam, Sylviane.
- Selamat malam. - Siapa yang kau maksud?
Orang gila yang mengadakan upacara setan di pemakaman
bersama pelacur saat malam.
Pelacur terkenal.
Namanya Sylviane
dan yang sama sekali tak membantu
adalah menyebut tentang Pemakaman Montmartre
ke mana kami kadang mengajak para tamu VIP.
Kurasa isi pikiranmu lebih mengerikan
daripada yang terjadi di teater kami.
Teaterku obat, bukan penyakit.
Anak muda, bantu kami.
Tanda tangani petisi menutup pusat pesta pora dan kegilaan ini.
Bantu selamatkan keluarga
kota, lingkungan, dan negara kita
Prancis.
Aku yakin ada ribuan cara untuk selamatkan Prancis
tapi kurasa menutup teater bukan salah satunya.
Silakan tertawa.
Aku melihat kaum kelas atas
meninggalkan teatermu dengan berlumuran darah.
Kadang tragedi mengerikan terjadi
dan hanya kau yang akan menangis nanti.
Kalian semua akan ditahan. Kalian tahu itu!
Menurutku mereka bodoh.
Masa kebebasan dari kebejatan moral sudah usai.
Prancis sedang krisis. Tak ada lagi tawa.
Apa pun yang kau pikirkan, kami akan tetap melawan.
Penonton haus darah yang berkeliaran di malam hari
untuk melakukan kejahatan sungguhan.
Itu bisa terjadi, kan?
Kalau itu benar, maka akan ada pembantaian
setiap kali Macbeth ditampilkan di Comédie Française.
Kau tak mencemaskan Paula Maxa?
Ada orang yang berdiri di luar teater
hanya untuk dengar jeritannya.
Itu satu alasan lagi.
Wawancara sudah selesai.
Selamat malam, Tn. Wartawan.
Suruh dewan redaksi ke teater itu.
Terima kasih. Selamat tinggal.
Kau mencariku, Nak?
Aku mencari pintu keluar.
Kau mencari Maxa?
Dia sudah mati. Kau tidak lihat?
Di ujung lorong, Sayang.
Tolong berikan ini padanya.
Pengagum lainnya.
Itu takkan terjadi padaku.
Daging segar!
Malam ini bukan penampilan terbaikku.
Aku hampir benar-benar mencungkil mata Maxa.
Kau mengenai tanganku.
Selamat malam.
Ini untukmu.
Terima kasih.
Bukan dariku. Seorang aktris
memberikannya padaku mewakili pengagummu.
Buang ke tempat sampah.
Kau tak suka bunga lilac?
Aku tak suka hadiah yang tidak diminta.
Kau mau apa?
Aku Jean Charpentier dari Le Petit Journal.
Kau tak mirip wartawan.
Akan kuanggap itu pujian.
Aku menulis artikel tentang...
"Teror di Grand Guignol."
Jeritan
kematian
dan pembunuh yang berkeliaran di jalanan Paris?
Orang tak bersalah yang terusik dengan pertujukan Grand Guignol.
- Artikel semacam itu? - Benar.
- Boleh aku duduk? - Tidak.
Sial!
Terima kasih.
Selamat datang di Grand Guignol di mana semuanya palsu.
Aku akan duduk di sini.
Jangan. Itu tempat tidurku.
Kalau begitu, aku berdiri saja.
Semua penonton itu...
Apa yang mereka cari?
Hal yang mengesankan.
Alfred Binet berkata ketakutan dirasakan pikiran
seperti sakit dirasakan tubuh.
Beberapa orang suka menderita dan lainnya suka ditakut-takuti.
Kau?
Aku suka keduanya.
Kenapa kau melakukan ini?
Kenapa seorang aktris berakting? Pertanyaan yang aneh.
Kau suka disiksa setiap malam?
Biasanya aku lebih suka ganti baju seorang diri.
Permisi.
Kau dan para pembacamu akan merasa kecewa.
Kenapa?
Tak ada monster di sini.
Ke posisi Pria Bugil! Paula Maxa.
Ke posisi.
Ada masalah?
Kau berbeda dari bayanganku.
Korban yang terlalu bahagia?
Aku menekuni drama seperti orang berbisnis.
Kalau kau mau melanjutkan obrolan
aku yakin wartawan hebat sepertimu
tahu cara menemuiku setelah pertunjukan.
[Marie Thérèse dan Jean] [1913]
[Aku suka melihatmu mati berulang kali.] [Aku akan membunuhmu sebentar lagi.]
[Bar Bangkai Tikus]
Mau berenang, Jean?
Ayo berenang!
Aku akan hubungi Komisaris besok.
Terima kasih.
Berikan padaku.
Yang itu. Bukan.
Bos mencarimu.
Kau harus pergi ke dokter.
Jean? Ke kantor bos.
Baik.
[Kepala Editor]
Tn. Dupuis.
Jean, Anakku.
Bagaimana artikelnya?
Sedang kukerjakan.
Ada yang bisa kubantu?
Apa misalnya?
Misalnya, menendangmu?
Kau benar.
Kurasa ada yang berbeda di Teater Grand Guignol.
Tempat itu hebat, dipenuhi orang aneh
bahkan membingungkan.
Jean, aku tak membayarmu untuk menjadi penulis tenar.
Aku mengirimmu ke sana karena aku yakin teater itu
tempat berkumpulnya para pembunuh.
Pembaca kita menunggu itu
dan kau harus memahaminya.
Itulah yang kumaksud. Aku tertarik pada manusianya.
Tak ada yang peduli soal itu.
Apa sebenarnya teater itu?
Maniak memerankan maniak pembunuh maniak di depan maniak!
Jean, temukan koneksinya
dan tulis artikelnya.
Pakai imajinasimu!
"Teater Horor di Jantung Horor!"
Itu judul halaman depan.
Di mana aku?
Apa yang terjadi padaku?
Kenapa aku terjebak di tempat suram ini?
Suara apa itu?
Siapa yang mengeluh?
Paula Maxa tergeletak di panggung
pintu terbuka
dan wanita keji muncul.
Dia jelek!
Wajahnya
terbakar parah
sejak dipegangi di atas tungku kayu.
Paula: "Di mana aku?"
Wanita keji:
"Kau ada di RS Jiwa, Sayang."
Itu si wartawan!
Maaf, tapi kau bukan tipenya.
Aku tak yakin dia tipeku. Selamat malam.
Jangan memandangku begitu.
- Halo. - Halo.
- Mau berdansa? - Tidak.
Namaku Julie.
- Ingat padaku? - Ya.
- Si wanita gila. - Ingatanku sangat kuat.
Mau mentraktirku minum selagi kuceritakan hidupku?
Tidak, terima kasih.
Ini untukmu.
Aku tak pesan apa-apa.
Ini dari wanita di sana.
Nama koktailnya Racun.
Mau berdansa?
Mungkin nanti.
Hati-hati, Nak.
Dia menolak semua pria.
Semuanya.
Termasuk André.
Terutama André.
Pria gantung diri karenanya.
Aku kasihan pada mereka.
- Selamat malam. - Selamat malam.
- Terima kasih minumannya. - Halo.
Ternyata kau mudah ditemui.
Undangannya berlaku kemarin.
Kau akan menonton pertunjukan malam ini?
Tidak.
Paula Maxa kurang menarik?
Diam!
- Untuk menjawab pertanyaanmu... - Pertanyaan apa?
Mati di panggung membuatku merasa hidup.
Aku tak mengerti.
Aku suka teater. Kau?
Suka. Walau kuakui aku lebih suka pertunjukan
di Grands Boulevards.
Sungguh?
Bisa bayangkan aku memakai gaun malam
memerankan wanita kaya raya yang dikhianati oleh suaminya?
Atau jatuh cinta pada aktor muda berjas bagus?
Tidak, terima kasih.
Siapa yang mau dibunuh setiap malam?
Membuat orang takut, tertawa, dan menangis sama menariknya.
Baiklah.
Tapi lingkungan berubah jadi Grand Guignol terbuka.
Pembunuh akan merasa bangga jika bisa membunuh Paula Maxa.
Benar, kan?
Jadi...
menurutmu aku harus berhenti?
Entahlah.
Kau bisa beralih ke bioskop.
Besok akan ada film berwarna yang menampilkan darah.
Kita bisa pergi bersama-sama.
Untuk artikelmu?
Tentu.
Mungkin.
[Lilly Si Harimau Betina]
Dunia menjadi gila, Andre.
Harusnya kau senang.
Mempermainkan kesehatan mental Paula.
Itu keterlaluan.
Aku ingin yang maksimal.
Musik, efek suara, cahaya, naskah.
Semua harus membuatnya seperti orang kerasukan.
Apa kau tak lihat yang kita lakukan di sini
bertentangan dengan etika profesiku?
Profesi yang mana?
Psikolog atau penulis?
Jangan meremehkan segalanya.
Aku tak mengerti kenapa kau mau ambil risiko sebesar itu.
Risiko apa?
Aku mau capai batas maksimal dari pertunjukan langsung.
Orang menginginkan darah
mani, dan keringat. Aku memberikannya di sini.
Kau hanya tak mau dia pergi.
Terus?
Hanya kau yang tahu cara kerja pikirannya.
Aku butuh bantuanmu untuk mengendalikannya.
Kau ambil risiko besar dengan mengulangi traumanya.
Itu bisa membunuhnya.
Biarkan saja!
[Rumah Jagal Le Bourdonnec]
Marie-Thérèse?
Marie-Thérèse?
Ingat saat kita berjalan menyusuri sungai?
Ibu memintamu menyanyi
dan katanya suaramu merdu.
Kenapa kau meninggalkanku, Paula?
Kenapa?
Aku tidak meninggalkanmu, Aimee.
Kau melihat apa?
Siapa itu?
Paula?
Paul?
Kenapa ada banyak darah?
Orang datang untuk melihat darah.
Mereka suka melihat warnanya dan mencium baunya.
Mereka suka melihat darah menetes dari kulitmu.
Kau membuatku gila!
Kau tak butuh bantuan siapa pun untuk jadi gila!
Itu menjadikanmu yang terbaik.
Latihan dimulai 10 menit lagi!
Marie-Thérèse!
Marie-Thérèse!
Tidak!
Sakit!
Aku kecewa.
Kukira kau lebih kuat.
Apa kau harus mendorong sekuat itu?
Aku yang menyuruhnya. Ini harus tampak nyata.
- Berikan padaku. - Jangan biarkan alat berserakan.
Bangunlah.
Itulah yang kucari.
Mengerti?
Pegang dia, pukul, dan buat berdarah.
- Aku mengerti. - Perhatikan iramanya.
Penonton harus fokus padanya.
Aku mengerti.
Jangan khawatir.
Kita harus berlatih lagi, tapi hasilnya pasti bagus.
Kau melihatnya?
Kau melihat Aimée?
Ya.
Kau beruntung bisa melihat orang yang kau sayangi.
Aku melihatmu.
Aku membutuhkanmu, Paul.
Aku ingin...
mengubah sesuatu setelah pertunjukan ini.
Aku sudah membunuhmu ribuan kali.
Kau bisa mempercayaiku.
- Kau melihat Paula? - Ada urusan apa dengannya?
Kau mau baca artikel Corsican di Pigalle?
Dia libur malam ini, tapi dia akan datang ke pertunjukan.
Terima kasih.
Kau bisa coba ketuk pintunya.
Teater ini milikku.
Aku harus bisa percaya padamu dan Paul
tapi sepertinya kau tidak fokus.
Jangan khawatir. Aku pasti bisa.
- Ini kehidupanku. - Benar...
dan aku akan membuatmu sukses.
Kita semakin sukses
sejak adegan pembunuhan itu menjadi judul berita utama.
Itu tak membuatmu khawatir?
Wartawan itu bilang begitu. Dia mau apa?
Bukan apa-apa.
Dia hanya suka bioskop.
Astaga. Seleranya jelek sekali!
Berikan keinginannya dan dia akan publikasikan kita.
Kita membutuhkannya.
Sylviane si wanita gila itu punya kenalan.
Kita juga membutuhkannya.
Lalu kita akan kembali normal.
Berapa yang kudapatkan?
Kuanggap jawabannya "ya".
Masuklah.
Gaun barumu tiba tadi pagi.
Taruhlah di sana.
Boleh kusimpan pitanya?
Boleh.
Terima kasih.
[Itulah akhirnya. Aku akan membunuhmu terakhir kalinya!]
Apa kabar, Doumé?
Pesan apa pun yang kau suka.
Tolong berikan 2 gelas cognac.
André mau menghajarku.
Cemburu?
Lebih dari yang kau tahu.
Padaku?
Jangan sombong.
Terima kasih.
Ada apa?
Aku tak suka pencemburu.
Baiklah.
Kita pergi ke bioskop malam ini.
Baiklah.
Aku benar-benar butuh tidur.
Kau sudah dapat keinginanmu.
Saatnya pergi.
Jeritannya unik.
Salah satu yang terindah dalam sejarah teater.
Dia berutang pada kita.
Bisnis tetap bisnis.
Aku memberimu mayat
dan kau berikan aku uang.
Aku tak suka itu.
Apa maksudmu?
Aku menginginkannya.
Aku menginginkan Paula.
Kita bicarakan nanti.
Cepat. Filmnya hampir dimulai.
Tunggu sebentar.
Ini bukan Grand Guignol.
Kau lihat itu? Itu Paula Maxa.
Kau mengenalku, kan?
Hatimu hitam. Pergi dari sini!
Aku datang mengambil hakku.
Tuhan akan melindungiku.
Kau mau apa?
Aku ingin milikku.
Aku ingin hidup lagi.
Aku ingin jantungmu.
Kumohon!
Kau akan mati
dan aku akan hidup!
Hollywood itu impian, kan?
Kau tak perlu melakukan aksi yang sama setiap hari.
Kau akan punya banyak asisten, penata rias, penata rambut.
Kau akan punya supir
dan rumah pantai. Bangun melihat Samudera Pasifik.
Entah apa kau wartawan yang hebat
tapi kau pandai bicara.
Aku bicara jujur.
- Aku selalu bermimpi... - Kenapa kau mempersulit keadaan?
Kau tak bisa coba meniduriku saja seperti yang lainnya?
"Meniduri Paula Maxa." Itu bagus untuk resumemu.
Kau akan beri tahu semua orang
kau berhasil membuat Ratu Teror menjerit kegirangan.
Rekan kerjamu akan merasa iri
dan itu bagus untukmu.
Mereka akan memuji Jean. Jagoan terbaik di Paris.
Setelah apa yang kualami
bukan itu yang kuinginkan.
Ini sempurna.
Darahmu semakin bagus saja.
Semua berkat percobaan.
Borgol untuk apa?
Bukan apa-apa.
Tidak penting.
Ada apa?
Aku bangga atas pekerjaanmu di teater ini.
Penutupnya harus sukses.
Hanya kau yang bisa melakukannya.
Ini mudah.
Seperti memotong babi.
Ini akan jadi mahakaryaku.
Paula akan meninggalkan kita. Aku bisa merasakannya.
Percayalah. Dia akan coba peruntungan di tempat lain.
- Menurutmu begitu? - Kau polos sekali.
Dia tak peduli pada kita.
Dia tak bisa pergi.
Aku akan taruh ini di ruang pendingin.
Aku sudah suruh dia menyimpannya.
Aku berselingkuh dengan wanita bersuami.
Makhluk agresif.
Suaminya berbahaya.
Dia membuat kami terkejut.
- Di tempat tidur? - Di bak mandi.
Di bak mandi?
- Dia menembakmu di bak mandi? - Bukan.
Di hutan keesokan paginya.
Kalian berkelahi?
Dia menembak duluan.
Kita sama-sama gila.
Aku bisa membunuhnya, tapi tidak kulakukan.
Kurasa dia semakin membenciku sekarang.
Istrinya?
Kau mencintainya?
Ya.
Kau, Marie-Thérèse?
Apa kisah yang kau sembunyikan?
Kau akan menyukainya.
Kakakku kabur dari rumah orang tuaku.
Kabur dari mana?
Rumah orang tuaku.
Dia mau tampil di teater dan mungkin dalam film.
Ayahku membenci itu.
Kami bertemu diam-diam.
Teman orang tuaku mulai mendekatiku saat itu.
Namanya Jean, sama denganmu.
Dia pincang.
Terkena polio waktu kecil.
Suatu hari, dia mengajakku dan Aimee
naik mobil barunya ke pantai.
Dia menggila di atas bukit.
Dia mau memerkosaku.
Aku melawan
jadi, dia memukulku sampai pingsan.
Dia beralih pada Aimée.
Dia juga memerkosanya
dan meninggalkannya di sana
dalam kesakitan.
Lehernya digorok
seperti binatang.
Aku tak bisa menyelamatkannya.
Apa yang bisa kau lakukan?
Menjerit.
Dia bunuh diri sebelum polisi menahannya.
Tapi kadang aku...
dengar bunyi logam di sepatunya.
Mengerikan sekali.
Aku juga takut.
Aku suka mencium bibir yang gemetar ketakutan.
[Aku Melihatmu]
[Rumah Jagal Le Bourdonnec]
Tolong aku!
Cari semua informasi
tentang Marie-Thérèse Beau dan kakaknya, Aimée Beau
yang seharusnya sudah mati.
Ada apa?
Turuti saja ucapanku. Penting.
Aliran darahnya tidak tepat waktu.
Sedang kuusahakan, Paula.
- Ini penting. - Aku tahu.
Paul, kau yang terbaik
tapi semuanya gagal kalau kau tak bisa melakukannya.
Aku tahu, Paula.
Aku tahu.
Violette, kau tahu peraturannya.
Aku tak menerima gadis yang bekerja demi rokok.
Ayolah, Doumé. Hujan turun dan aku ada kencan.
Aku akan mengurusmu lain kali.
Kalau mau bekerja pada kami, kau harus memberitahuku.
Aku diminta menunggu di sini.
Waktumu 10 menit untuk membawanya ke tempatmu atau tempatnya.
Apa kau teman kencanku?
Kalau namamu Violette
berarti kau teman kencanku.
Itu aku.
Kau bisa mentraktirku minum selagi kita menunggu.
Kau tukang daging.
Apa?
Aku selalu bisa mengenali tangan.
Aku pernah lihat beberapa!
Kau salah. Aku dokter.
Masa?
Mengejutkan sekali. Aku tak pernah salah.
Kenapa tanganmu?
Tidak apa-apa.
Aku suka tanganmu.
Tangan pria sejati.
Aku suka matamu.
Mengingatkanku pada seseorang.
Kau suka permen?
Kau aneh.
Kulihat kau suka orang aneh.
Violette!
Aku akan turun.
Pertemuan singkat menciptakan teman lama.
Itu tidak baik.
Aku dapat informasi tentang Marie-Thérèse Beau.
Lahir di Paris.
Kurasa kau tahu nama panggungnya, Paula Maxa.
20 tahun yang lalu
kakaknya, Aimee, digorok pria bernama Jean De Lancry.
Pisaumu sempurna.
Aku mau membawanya ke panggung.
Ini sangat mirip milik Paula.
Permen?
Rasa bunga violet.
Dia milikmu sekarang.
Aku tak mau tahu apa yang akan kau lakukan padanya.
Alexandre, aku memeriksa rekening teater bersama bos.
Bisakah kita membahasnya?
Bisa.
Aku ada kencan.
Kau sama sepertiku dan mereka
datang untuk melihatnya.
Selamat malam.
Paula Maxa, wanita yang paling sering dibunuh di dunia.
Eugène de Lancry.
Senang jumpa denganmu.
[Cerita Horor Nyata]
Akhirnya! Artikelku.
Bukan hanya itu. Ini akan tampil di halaman depan.
"Ratu Teror di Jantung Teror."
"Paula Maxa, Wanita yang Paling Sering Dibunuh di Dunia." Hebat!
Aku tahu pembunuh Montmartre, tapi kau harus bayar.
Aku minta 2 tiket ke Los Angeles dan gaji selama 3 bulan.
2 tiket?
Dia sangat menginginkanmu
pengganggu kecil.
Kukira kau payah.
Dia setuju kau menuliskan ceritanya?
Tidak, tapi kami harus pergi dari sini.
Ambil tiket dan uangnya di bagian akunting.
- Terima kasih. - Jean.
Paula Maxa ada di mana-mana.
Lihat halaman depan hari ini.
Judul utamanya bagus, kan?
[Malam Ini Paula Maxa Akan Tampil Demi Nyawanya]
Teater Grand Guignol, Gang Chaptal.
Aku punya daftar pers.
Semuanya ada di sini.
Coba kulihat.
Sekali saja, aku akan berikan mereka berita.
Wartawan, penonton, uang!
Wartawan itu mau ke mana?
Aku mencari Paula. Dia dalam bahaya di sini.
Kalian semua bertanggung jawab.
Kau pikir bisa merebutnya dari kami? Bermimpi saja.
Paula milik kru teater ini dan aku.
Tenang!
Lepaskan aku!
Ayo.
Jalan.
Pergi.
Jangan pernah kembali.
Mungkin André akan memintaku untuk membunuhmu nanti.
Paula ingin pergi. Kau tak bisa mencegahnya.
Apa maksudmu?
Kau tak tahu apa-apa tentangnya.
Aku tahu semuanya, Bodoh.
Pergi sebelum kubunuh kau dengan kedua tanganku.
Harusnya kau membunuhku selagi punya kesempatan.
Aku takkan meleset.
Julie?
Aku segera ke sana.
Kau lihat wartawan itu? Jean?
Tidak.
Dia dapat berita untuk artikelnya. Kau takkan melihatnya lagi.
Pria memang begitu, Paula.
Hentikan prostitusi!
Ini hari terakhir Grand Guignol!
Pengunjung teater aneh
dan mengerikan!
Selamat datang
di Comédie Française of Montmartre!
Kalian siap menyaksikan pertunjukan teror terhebat
yang pernah ada di dunia?
Masuklah, Tuan dan Nyonya!
Masuklah!
Paul?
Masuklah. Semuanya siap.
Aku harus atur beberapa hal.
Kau bawa produk yang kuberikan?
Aku demam panggung.
Terima kasih, Paul.
Maxa!
Pisau ini bagus.
Ya, sangat bagus.
Teaternya penuh.
Seperti setiap malam!
Tapi tempelkan telinga kalian
ke dinding teater
kalau mau dengar jeritannya!
Maxa!
Tirai!
Kau tidak berenang?
Sedang tidak mau.
Mau anggur?
Boleh.
Kau ingat, Marie-Thérèse? Waktu kita masih kecil
semua orang mendengarkan nyanyian kita saat Natal.
Aku ingat.
Ibu bilang suaraku merdu.
Kau belum menemukan semua bakatmu, Aimée.
Kau tak lelah mengemudi, Jean?
Tidak.
Kau butuh sesuatu?
Di luar cerah.
Membawa kami ke pantai naik mobil barumu adalah ide bagus.
Aku sering mengatakannya, kan?
Aku selalu menepati janji.
Kakakku merancang mobil ini
khusus untukku.
Dia baik sekali.
Nona muda.
Ayo jalan-jalan di pantai.
Boleh.
Aku akan menikmati sinar matahari.
Di mana Jean?
Awas! Di belakangmu!
Jean?
Jean, ada apa denganmu?
Kenapa memandangku begitu?
Hentikan, Jean!
Rambut yang indah.
Baunya seperti terbakar matahari.
Tolong!
Jean!
Lari, Marie-Thérèse!
Lari! Cari bantuan!
Itu dia!
Lari, Maxa!
Tolong aku! Tidak!
Tolong aku!
Awas!
Jean, jangan!
Jean, jangan!
Dia akan membunuhmu!
Tolong.
Kenapa, Jean?
Kenapa?
Tolong!
Marie-Thérèse, tolong aku!
Bukan itu.
Sesuai janji, Marie-Thérèse.
Bagus!
Tirai!
Luar biasa. Kukira itu asli.
Menakjubkan.
Sudah kubilang dia hebat.
Benar-benar mirip darah asli.
Itu darah asli!
Itu darah asli!
Apa yang terjadi?
Tolong panggilkan paramedis.
Panggl ambulans!
Apa yang terjadi?
Itu pisau asli.
Bukankah itu yang kau inginkan?
Jangan memandangku. Aku bukan dokter.
Biarkan aku lewat.
Bantu aku membawanya ke lab.
Apa polisi sudah dipanggil?
Dia mati.
Ini kesalahanmu, Paul! Ini tanggung jawabmu.
Tenang. Ini bukan saat yang tepat.
Alfred.
Panggilkan paramedis.
Aku sudah periksa pisaunya. Aku tak mengerti.
Kau dokter. Paraf akta kematiannya.
Mungkin polisi akan minta autopsi.
Itu kecelakaan mengerikan.
Sudah kubilang akan berakhir buruk.
Ternyata benar.
Itu sebuah mahakarya.
Lewat sini.
Cepat, Anak-anak.
Di sana.
Bilang apa pada pers?
Bahwa dia mati dengan luar biasa.
Aku pelakunya, Petugas.
Ayo jalan.
PEMBERITAHUAN GRAND GUIGNOL DITUTUP SEMENTARA
TEATER GRAND GUIGNOL
BELUM PERNAH DITAMPILKAN DI GRAND GUIGNOL SEBELUMNYA
Semuanya telah disatukan kembali.
Aku tak punya bekas luka
tapi aku sudah dibunuh lebih dari 10.000 kali di atas panggung.
Tapi seperti yang kau lihat
walau mengalami semua itu, aku berdiri di hadapanmu.
Namaku Paula Maxa.
Aku wanita yang paling sering dibunuh di dunia.
Nama asliku Marie-Thérèse Beau
dan aku belum mati.
Paula, kau ikut?
Cepat. Pesawat akan berangkat dan semua mencariku.
Kau ikut, Jean?
Apa kau teman kencanku?
Namaku Violette.
[Di sini terbaring Marie-Thérèse Beau alias Paula Maxa.]
[Dia takkan mati lagi.]
Kau aneh.
Kulihat kau suka orang aneh.
Aktris Grand Guignol, Paula Maxa, dengan nama asli Marie-Thérèse Beau
tewas tanggal 23 September 1970. Kariernya berakhir di Grand Guignol.
Tanpa keluarga atau teman, dia dimakamkan di makam umum.
Paul Ratineau salah satu seniman efek khusus terbaik di Paris
dan kariernya berakhir di Grand Guignol.
Darah palsunya masih digunakan di teater.
Aku merindukanmu, Paula.
Aku merindukanmu.
Hidupku tak berarti setelah kematianmu.
Paula.
Paula, apa itu kau?
Bukan, Tuan. Kau pasti salah
tapi kita bisa berkenalan.
Tidak.
Sayang sekali. Padahal aku mau.
Diterjemahkan oleh mifae :)
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.