Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
[musik piano]
[kertakan kayu terbakar]
[halaman dibalik]
Alia. Ajak Abel masuk.
Sudah mau Maghrib, mau gelap.
Ya, Bu.
[menutup buku]
- Sore, Pak Asep. - Sore, Nona.
- Sekalian pamit. Bapak sudah selesai. - Ya, Pak.
Abel?
Abel?
Abel.
Kakak panggil dari tadi.
[mendiamkan]
Ada orang di balik pohon.
Tidak ada.
Tadi ada!
Katanya,
kita tidak boleh tinggal di sini lagi karena ini rumahnya.
Memang mukanya seperti apa?
Ayo masuk.
Tadi ada, Kak.
Abel lihat, koq.
Kakak tidak percaya pada Abel?
Abel.
Kau sudah sering seperti ini.
Kau bilang ada orang, tapi ternyata tidak ada siapa-siapa.
Kau cuma berkhayal.
Ayo kita masuk. Ibu sudah menunggu kita.
[langkah kaki]
[membuka pintu]
[duduk]
Jangan!
Kepalamu posisinya tidak enak. Nanti tidurmu tidak nyaman, Sayang.
[geleng kepala]
Kenapa, Sayang?
Nanti, kalau tidak mendengarkan musik, aku mendengar suara-suara.
Suara siapa?
- Orang. - Siapa?
[geleng kepala]
Kau hanya mimpi, Sayang. Ya sudah. Sekarang tidur yang nyenyak, ya.
[cium kening]
- Selamat malam, Sayang. - Selamat malam, Ibu.
[menekan sakelar]
[jam berdetak]
[petir menggelegar]
[suara baling kipas]
[petir menggelegar]
[pintu membuka]
[pintu berderit]
[petir menggelegar]
[teriak]
[tutup keras]
Abel!
- Abel! Ayah! Ibu! - Abel!
- Ada sesuatu di dalam! - Aduh!
[pintu terdobrak]
[teriakan Abel]
Tenang, Abel. Ini Ibu, Sayang.
[tangisan Abel]
[lemari dibuka]
[Ayah] Alia!
[Ayah] Apa yang kau lihat? Orang? Maling?
[Ayah] Alia!
[musik rap]
[kopi diseduh]
[taruh cangkir]
[Inggris] Permisi.
- Maaf, saya tak pesan. - Dari dia.
Baiklah.
Terima kasih.
[cangkir diangkat]
Serius sekali kerjanya.
Mau aku bantu?
Tidak usah. Terima kasih. Sebentar lagi selesai.
- Sudah lama sampai? - Dua puluh menit.
- Dua puluh menit? - Ya. Sambil memandangimu.
Cantik sekali. Tidak bosan-bosan melihatnya.
Apaan sih, Davin!
Sebentar.
Halo, Om.
Kabar Alia baik. Ada apa?
[musik sedih]
[deru mesin pesawat]
[Herman] Maaf, Alia. Situasinya harus begini.
Kita tak bisa tunggu sampai kau pulang.
Orang tuamu harus segera dimakamkan.
Maaf. Kau tidak bisa melihat orang tuamu untuk yang terakhir kalinya.
Waktu itu mobil orang tuamu
berusaha menghindar dari sebuah truk
yang tiba-tiba saja mengerem mendadak.
Dan truk itu mengangkut besi baja
yang besinya itu menerobos masuk ke dalam mobil orang tuamu.
[mobil mengerem]
[besi menembus kaca dan daging]
Orang tuamu langsung dilarikan ke rumah sakit.
Tetapi di tengah perjalanan.
Mereka tidak sanggup bertahan.
Alia.
Kau harus kuat.
Kau yang tabah.
Ya, Om.
Ini sudah takdir. Memang sudah jalannya seperti ini.
Om hanya pesan padamu.
Abel.
Tolong jaga dia.
Kau adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki sekarang.
Ada yang ingin Om sampaikan sebelum Om kembali ke Yogya.
[Herman] Soal rumah ini.
Ini adalah rumah dinas ayahmu.
Setelah ayahmu tiada,
rumah ini tidak bisa ditempati lagi.
Perusahaan tempat ayahmu bekerja
hanya memberikan waktu maksimal tiga bulan
agar kau pindah ke rumah lain.
Mungkin,
kau dan Abel bisa pindah ke rumah warisan ayah dan ibumu.
Rumah masa kecil kalian dahulu.
Yang di Jalan Teratai. Sudah hampir setahun tak ada yang sewa.
[mengetuk pintu]
Abel.
Bel? Ini Kak Alia.
[mengetuk pintu]
Abel.
[pintu dibuka dan berderit]
Bel. Hei.
Aku pulang.
Kenalkan, ini Davin, pacar aku.
Dia ikut menemani dari Bangkok.
Hai, Bel.
Semuanya akan baik-baik saja, ya?
Kau tidak sendirian. Kakak ada di sini bersamamu.
Aku akan terima tawaran kerja Jakarta.
Dan aku akan tinggal di sini menemanimu.
Kita akan sama-sama lagi seperti dahulu, ya?
Aku akan urus semua secepatnya. Termasuk pindahan rumah kita.
Pindah?
Ya.
Ini rumah dinas Ayah. Kita tidak bisa tinggal di sini.
Kita mau pindah ke mana, Kak?
Ke rumah kita yang dulu. Yang di Jalan Teratai.
[Alia] Ya. Minggu depan aku kerja.
Terima kasih, Pak.
[tekan ponsel]
Bagaimana, semuanya lancar?
Terima kasih mau menemaniku.
Pekerjaanmu bagaimana di sana?
Fotografer itu tidak kerja di kantor. Ke mana-mana.
Dan besok bisa ke Bandung ke Ayah.
[Davin] Di sana, aku gelisah.
Tak tega membiarkan kalian berdua di sini.
[spion mobil berderit]
Mengantuk, Bel?
Kak, memangnya kita tidak bisa pindah ke tempat lain saja?
Kantor tak bisa sewa rumah untuk Kakak?
Tidak ada salahnya, kan kita tinggal di rumah sendiri?
Rumah Ayah Ibu baiknya kita rawat.
Tetapi aku tidak suka di situ.
Kenapa?
Ada yang lain di situ, selain kita.
Tidak ada, Bel. Yang dulu itu maling.
Jendelamu tak tertutup, tak dikunci.
Ayah juga sudah bilang begitu.
Sudah sampai lapor ke Pak RT dan RW. Ingat, kan?
Kita tidak hanya sekali pindah rumah.
Setiap Ayah pindah dinas ke Semarang, Medan, Balikpapan,
kita selalu ikut.
Kau selalu begitu, tidak hanya di rumah itu saja.
Hentikanlah.
- Itu rumahnya? - Ya.
[daun dipotong]
- Pak Asep. - Nona Alia.
- Apa kabar, Pak? - Baik.
Nona Alia, Nona Abel.
Bapak mengucapkan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya. Sabar ya.
Nona Abel, sabar ya.
Terima kasih, Pak. Terima kasih juga mau beres-beres rumah.
Belum beres semua, di belakang masih tinggi rumputnya.
Rumah juga ada yang bocor! Beberapa gentingnya bergeser.
Silakan lihat.
- Ya sudah. Aku lihat dulu, ya. - Silakan.
Hati-hati melangkah.
[musik piano]
Aku mau lihat kamarku di atas.
- Kamarmu di situ, kalau mau lihat. - Baik.
[pintu dibuka dan berderit]
[pintu dibuka]
[sakelar ditekan]
Vin!
Kamarmu di sebelah. Ini kamar ayah-ibuku.
Maaf.
Banyak yang harus dibenahi di sini.
Kalau mau cepat, tidak bisa kalau hanya kita bertiga.
Benar.
Besok aku minta tolong Pak Asep bawa orang.
Ayo.
[listrik]
Biar aku saja.
Sudah biasa dari dulu.
[kursi ke lantai]
- Yakin bisa? - Bisa.
Lihat, kan?
[sepatu terpeleset]
Lihat, kan?
- Ayo kutunjukkan kamarku. - Ayo.
Ini kamarnya.
[pintu dibuka]
[toples berguling]
[teriak]
Abel!
Bel, makan yuk.
[ketukan pintu]
Bel?
Aku buatkan nasi goreng petai, kesukaanmu.
[ketukan pintu]
Bel, ayolah.
[menghela napas]
Ya sudah, kau istirahat saja.
Tetapi besok kau ke sekolah, ya. Aku yang antar.
Tidak mau.
[Alia] Bel, kau sudah terlalu sering bolos.
Tidak boleh begitu. Besok harus masuk, ya.
Tidak.
Abel, kau itu kenapa? Jangan buat aku bingung.
Ada yang suka mengikutiku di sekolah, Kak.
[mendengus]
Bel.
Kalau kau terlalu sering tak masuk, nanti kau tak bisa ikuti pelajaran.
Nilaimu nanti berantakan semua.
Bel.
[kenop pintu bergerak]
[pintu dibuka dan berderit]
[petir menggelegar]
[mengangkat piring]
[mencentong makanan]
[sesuatu berderit]
Kak?
[sesuatu berderit]
[menggeram]
[Abel teriak]
Al? Ada apa?
[sesuatu jatuh]
Abel? Kau sedang apa?
Berdoa, agar dia pergi.
Dia siapa?
Kak, ada sesuatu di rumah ini.
Mirip orang, tapi bukan.
- Tidak ada, Bel. - Ada, Kak!
Jangan seperti ini terus.
Kak, tolong percaya padaku.
[menghela napas]
Besok pagi kita ke psikiater, ya.
Kita cari psikiater yang lain.
Bukan yang biasa Ibu bawa kau.
Agar kau tidak ketakutan terus seperti ini.
Tidak berpikir ada orang, tidak bilang ada yang seram-seram.
Tak halusinasi lagi.
Tapi aku tak pernah halusinasi, Kak.
Ibu tidak pernah membawaku ke psikiater.
Ibu bawa aku ke Bu Windu.
Bu Windu?
Kak.
Aku bisa melihat mereka,
yang tidak bisa dilihat orang kebanyakan.
Aku bisa melihat mereka, Kak, yang sudah mati.
Mata batinku sudah terbuka sejak aku kecil.
[gonggongan anjing]
Abel? Tak biasanya ke sini tidak telepon dahulu.
Ya, maaf, Bu.
Bu, ini Alia, kakakku.
Kak, ini Bu Windu.
Alia. Apa kabarmu?
Baik.
Pacarnya, Kak Davin.
Bu Windu bisa jelaskan Mata Batin ke Kakak?
Mata batin disebut juga mata ketiga, atau indra keenam.
Sebuah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk bisa melihat dunia lain, dunia gaib.
Tapi tak semua orang percaya akan adanya mata batin.
Namun pada kenyataannya,
mata batin dan dunia lain itu ada.
Sebenarnya setiap orang sudah memiliki mata batin ketika mereka lahir.
Namun yang membedakan adalah apakah mata batin mereka sudah terbuka,
atau tertutup.
Kita tidak tahu kapan waktunya mata batin kita terbuka.
Itu kuasa Ilahi.
Abel sejak usia lima tahun mata batinnya sudah terbuka.
Keturunan dari nenek kalian.
Bagi yang mata batinnya sudah terbuka,
itu bukanlah kelebihan yang menyenangkan.
Karena dunia lain itu gelap.
Ada rasa sakit, kesedihan,
rasa beban dan amarah.
Energi buruk yang selalu bisa memengaruhi rasa dan pikiran kita.
Perlu bimbingan dan juga proses adaptasi yang cukup lama
untuk kita bisa tetap jalani hidup secara normal.
Selama ini Abel diantar ke sini oleh almarhumah ibumu.
Kami selalu membahas seputar dunia lain.
Abel sudah bisa menerima dirinya,
walau dia masih merasa takut.
Memang sulit tak takut mereka.
Karena mereka
bisa memancarkan rasa takut dan ngeri yang tak biasa kepada kita.
Bu Windu maaf, tapi ini sama sekali tidak masuk akal sehatku.
Kak.
[menghela napas]
Bu.
Ibu bilang kalau mata batin itu dimiliki oleh semua orang.
Ya.
- Berarti aku juga punya mata batin? - Ya.
Tapi mata batinku tertutup dan tidak terbuka secara alamiah seperti Abel.
Apa bisa dibuka paksa?
Bisa.
Aku mau mata batinku dibuka.
[hela napas]
Aku tak mau Abel terus berpikir aku tak percaya padanya.
Aku selalu mau percaya pada Abel.
Asal ada bukti.
Bel.
Aku mau semuanya cepat beres.
Kita ke sini membahas semua hal aneh ini harus ada hasilnya.
Kalau kau benar, aku percaya padamu.
Tapi kalau setelah mata batinku dibuka aku tak lihat yang kau lihat,
kita ke psikiater.
Bisa kita mulai?
Alia.
Membuka mata batin harus siap luar-dalam.
Fisik, mental dan iman.
Dan kau harus bisa terima apa pun yang akan kau alami.
Apa yang sudah dibuka tidak akan bisa ditutup lagi.
Kau akan melihat segalanya selamanya.
Kau juga akan merasakan kehadiran mereka,
mencium aroma mereka,
dan dengar suara mereka.
Tangkupkan kedua tanganmu di dada.
[menaruh sajen]
Pejamkan matamu.
[bicara bahasa Jawa]
[makhluk meraung]
[petir menggelegar]
Buka matamu.
Tidak ada yang beda.
Kita pulang.
Bu, permisi.
Kak!
Kak, percayalah padaku.
Bu Windu sudah menjelaskan semuanya.
- Aku sungguh bisa lihat... - Masuk kamar, istirahat.
Besok sekolah.
Sorenya kita ke psikiater.
[menghela napas]
Sori kau harus melihat semua ini.
[Inggris] Tak apa, Al.
Aku merasa tak enak padamu.
Tak apa-apa, Sayang. Aku ada di sini untukmu.
Kau nanti terlambat ke Bandung.
Ya. Aku berangkat, ya.
- Terima kasih sudah menemaniku. - Sama-sama.
- Salam untuk ayahmu, ya. - Ya, pasti.
Kenapa?
Aku cinta padamu.
Aku juga.
INSTALASI GAWAT DARURAT
SELAMAT DATANG SILAKAN BELI MINUMAN DINGIN
[tombol ditekan]
[botol jatuh]
[tutup botol dibuka]
[bunyi telepon]
[bunyi telepon]
[bunyi ambulans]
[alia mendesah]
Kenapa, Kak?
Entahlah.
Tiba-tiba memar dan kepala pusing. Baru mau diperiksakan.
Adik kenapa?
Dipukuli Ayah.
[musik seram]
Kakak punya ayah?
Ayahku sudah wafat.
Ayah Kakak selalu kasar kepada Kakak?
[musik]
Tolong beri tahu ibuku,
aku tetap sayang Ayah.
Itu Ibu.
[bunyi telepon]
[bunyi telepon]
Nona Alia?
Nona cuma kekurangan vitamin dan kelelahan.
Ini resepnya.
Ini cuma vitamin.
- Terima kasih, ya, Dok. - Sama-sama.
[bunyi telepon]
[bunyi telepon]
[bunyi telepon]
[terisak]
Permisi, Bu.
Ibunya Tasha?
- Nona ini siapa? - Aku Alia, Bu.
Aku bertemu anak Ibu tadi, dan dia minta tolong.
Dia memintaku menyampaikan kepada Ibu
bahwa dia tetap sayang kepada ayahnya.
Nona.
Nona mau mempermainkanku?
Maaf kalau tidak berkenan, tapi aku merasa ini harus disampaikan.
Anakku baru meninggal tadi pagi.
[terisak]
Jangan mempermainkan aku.
Aku sedang berduka.
[menangis]
[terisak]
Suster, tadi ada anak yang duduk di kursi roda itu. Ke mana dia?
Yang tadi duduk di situ, mengobrol denganku saat aku menunggu dipanggil.
Tadi Nona menunggu sendirian, tak ada orang.
[terengah-engah]
[musik seram]
[terengah-engah]
[terisak]
[terengah-engah]
Abel, ada di rumah?
Aku ada di supermarket.
Cepatlah pulang. Aku mau bicara denganmu.
- Kenapa, Kak? - Pokoknya, cepatlah pulang.
Kak?
[mengembuskan napas]
Bagaimana kau tahu
[bernapas berat]
yang kau lihat itu
orang sungguhan atau bukan?
[bernapas berat]
Kakak lihat apa?
[menarik napas]
Tadi ada anak mengobrol denganku.
Tapi suster bilang tak melihatnya.
Ibunya bilang dia sudah meninggal.
Tapi dia mengobrol denganku, Bel.
Dia seperti orang biasa.
Kakak belum lihat yang lain?
Kadang mereka tampak normal sampai kita tak bisa membedakan.
Tapi kebanyakan dari mereka...
Seram.
Cepatlah pulang.
[bunyi toilet disiram]
[musik seram]
[suara tawa hantu]
[terengah-engah]
Mau ke mana, Nak?
[musik seram]
[terengah-engah]
[musik seram]
Suster, mau menebus resep ini.
- Baik. Sebentar, ya. - Tolong cepat, ya.
[terengah-engah]
[menarik dan mengembuskan napas]
[terengah-engah]
[menarik napas]
[bunyi darah]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[bunyi darah]
[bunyi darah]
[musik seram]
[meraung]
[berteriak]
[bunyi lift]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[bunyi lift]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[bunyi lift macet]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[bunyi alarm lift]
[bunyi lift berderak]
[terengah-engah]
[mengembuskan napas]
[bunyi lift berderak]
[musik mengagetkan]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[musik seram]
[terengah-engah]
[bunyi tombol ditekan]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[berteriak]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[mobil berdecit]
[mobil berdecit]
[mobil berdecit]
[mobil berdecit]
[mobil berdecit]
[musik seram]
[bunyi benturan]
[mobil berdecit]
[terengah-engah]
[pintu dibuka]
[pintu ditutup]
[bunyi sepatu]
[terkesiap]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[musik seram]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[menjerit]
Tolong.
[terengah-engah]
[musik menyeramkan]
[terengah-engah]
[musik menyeramkan]
[terengah-engah]
Tolong.
[musik menyeramkan]
[menjerit]
[terengah-engah]
Tolong.
Tolong.
[menjerit]
Nona, ada apa?
[terengah-engah]
- Kenapa dia? - Ada apa?
Nona!
- Nona! - Kenapa dia?
[ban berdecit]
[pintu dibuka]
[pintu ditutup]
Abel?
[terengah-engah]
Abel!
[terengah-engah]
[pintu dibuka]
[terengah-engah]
Kak?
[terisak]
[terisak]
[terengah-engah]
Kak, mereka memang ada di mana-mana.
Tak cuma di tempat sepi. Di tempat ramai juga ada.
Pertama kali aku melihat mereka di sekolah.
Jumlah mereka memang lebih banyak dari kita.
Karena mereka hidup jauh lebih lama dari kita.
Usia mereka juga ada yang ratusan tahun.
Kadang kalau mereka ada di sekitar kita,
badan kita suka terasa tak enak, berat.
Kepala tegang.
Pusing. Tapi kadang juga tidak.
Kadang mereka berbau wangi, kadang juga berbau busuk.
Kenapa mereka datang?
Kata Bu Windu, karena mereka masih ada urusan di dunia ini yang belum selesai.
Ada yang baik, ada juga yang jahat.
Kebanyakan dari mereka datang ke kita untuk minta tolong.
Minta tolong?
Minta tolong untuk menyelesaikan masalah mereka yang belum tuntas.
Karena mereka tahu siapa yang bisa melihat dan membantu mereka.
Kak, Bu Windu juga bilang
kita harus coba redam rasa takut kita kalau mereka datang.
Kita harus tanyakan apa yang mereka inginkan.
Kalau kita tahu apa yang mereka inginkan dan bisa kita bantu,
pasti mereka akan pergi dengan tenang ke alam mereka yang semestinya.
Mereka takkan mengganggu kita lagi.
Pernah coba?
[bernapas berat]
Aku terlalu takut.
[musik]
[pintu diketuk]
[pintu dibuka]
Mau tidur denganku?
[bunyi kipas]
Kak.
Kakak rindu pada Ibu dan Ayah?
[petir]
Rindu sekali, Bel.
Tapi kita harus ikhlas.
Harus kuat.
Hidup harus tetap berjalan.
Ibu dan Ayah selalu mengajari kita untuk jadi anak yang mandiri.
[guntur]
Terima kasih Kakak tak meninggalkan aku.
Kakak mengorbankan banyak hal di Bangkok.
Tak apa-apa.
Tinggal Abel satu-satunya keluargaku di dunia ini.
Berarti Abel yang paling penting dalam hidupku.
Kakak sudah lama kenal Kak Davin?
[petir]
[bergumam]
Kenal sekitar 8 bulan yang lalu di pameran fotografi.
Tapi baru pacaran sekitar 2 bulan setelah itu.
[petir]
Kak Davin baik, ya?
Baik sekali.
Kakak kenal dengan keluarganya?
Belum.
Keluarganya tinggal di Bandung.
Hubungan Davin dan keluarganya kurang baik.
Jadi, PR hubunganku dengan dia masih banyak.
[bunyi peranti dengar]
Kakak mau pakai?
Kalau mendengarkan musik, bisa bantu kita lebih tenang.
Tak bakal dengar suara-suara aneh yang suka muncul, Kak.
Kau saja yang pakai.
[petir]
[musik]
[mengembuskan napas]
[petir]
[bunyi dekorasi]
[petir]
[petir]
[musik seram]
[petir]
[petir]
[pintu digedor]
[bunyi gaduh]
[pintu dibuka]
[petir]
[pintu dibuka]
[petir]
[pintu dibuka]
Davin?
[petir]
[petir]
[petir]
[petir]
[musik seram]
[pintu dibuka]
Davin?
[musik seram]
[pintu ditutup]
[mengembuskan napas]
[langkah kaki]
[musik seram]
[derak api]
[musik seram]
[petir]
[derak api]
[petir]
[bunyi mencincang]
[petir]
[bunyi mencincang]
[petir]
[bunyi mencincang]
[bunyi mencincang]
[bunyi mencincang]
[bunyi mencincang]
[terkesiap]
[petir]
[musik seram]
[menjerit]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
Naik kereta api
Tut, tut, tut
Siapa hendak turun?
[menjerit]
[meraung]
Nak, sudah mainnya.
Panggil Ayah.
Ayo, kita makan.
[musik seram]
[musik seram]
[petir]
[musik seram]
Ayo, Yah, kita makan.
[petir]
[petir]
[terisak]
[petir]
[petir]
[petir]
[petir]
[terengah-engah]
[petir]
[petir]
Kenapa kalian mendatangiku?
Apa yang kalian mau?
Kalian mau minta tolong?
Apa?
Apa yang bisa aku bantu?
[terisak]
Rumah.
[menjerit]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[toilet disiram]
[keran air dibuka]
[musik menegangkan]
[menjerit]
[meraung]
[menangis]
[menjerit]
[berteriak]
[menjerit]
[menjerit]
[petir]
[musik]
[petir]
[pintu dibuka]
Kak?
[petir]
[petir]
[pintu dibuka]
[petir]
[musik seram]
[petir]
[gemerisik]
[musik seram]
[berteriak]
Naik kereta api
Tut, tut, tut
Siapa hendak turun?
[musik seram]
[pintu ditutup]
[pintu diketuk]
Buka, Kak.
[pintu diketuk]
Buka pintunya.
Pergi!
[petir]
Buka!
[terisak]
[petir]
[terisak]
[terisak]
[berteriak]
Kak!
[menangis]
[petir]
Apa yang kau lihat kemarin itu baru awal.
Berhadapan dengan dunia lain
artinya memasuki dunia mereka sedalam-dalamnya.
Lebih dari sekadar melihat.
Tapi juga mengalami pengalaman-pengalaman gaib.
Menyelami dunia mereka.
Tapi mereka melakukan ini.
Ada seorang ibu,
ayah,
dan anak laki-laki yang mendatangiku.
Ada bau busuk.
Kepala dan badanku juga terasa berat.
Kedatangan mereka lebih dari satu kali
menunjukkan mereka punya maksud tertentu.
Bau busuk adalah aroma arwah yang tercemari keburukan.
Energi negatif mereka membuat tubuh kita tak nyaman.
Memar itu adalah bukti dari mereka
bahwa mereka berusaha untuk menyentuhmu.
Kau sudah tanyakan apa keinginan mereka?
Mereka bilang...
...rumah.
Rumah memiliki dua arti, tubuh kalian
dan rumah yang kalian tempati.
Mereka ingin merasuki kalian
dan menggunakan tubuh kalian untuk menyelesaikan urusan di dunia ini.
Setelah itu, mereka akan membawa kalian ke alam mereka
sebagai bentuk balas dendam karena kalian tinggal di rumah mereka.
Alam mereka bukanlah alam kebaikan seperti surga.
Tapi alam yang jelek seperti neraka.
Untuk selamanya, gentayangan di sana bersama mereka.
[langkah kaki]
[pintu dibuka]
[langkah kaki]
[alat dibuka]
Ini adalah alat pendeteksi keberadaan mereka.
Jika berputar searah jarum jam, menunjukkan energi positif.
Berputar sebaliknya, energi negatif.
Putarannya semakin kecil,
energinya kecil.
[musik]
Putaran semakin besar,
energinya besar.
[musik seram]
[lampu menyala]
[alat ditutup]
Aku tak bisa mengeksplorasi lebih jauh lagi.
Yang menempati rumah inilah yang bisa berkomunikasi dengan mereka.
Kalian.
Karena energi kalian sudah saling mengenal satu sama lain dengan mereka.
Tapi kalian jangan takut.
Energi arwah jahat hanya akan bertambah lebih besar dan kuat jika kalian takut.
Yang takut akan mudah untuk dirasuki.
Abel! Abel.
Apa yang dialami Alia dan Abel itu benar-benar nyata?
Aku tak bisa lihat apa-apa.
Kalau yang mata batinnya belum terbuka
memang tidak bisa lihat apa-apa.
Apa mereka juga bisa lihat kita, manusia?
Ya.
Apa mereka juga bisa melihat satu sama lain?
Ada yang bisa, ada yang tidak.
Yang tidak, biasanya tidak sadar bahwa mereka sudah meninggal.
Mereka selalu merasa mereka masih manusia.
[langkah kaki]
[pintu dibuka]
Abel.
Hei.
Kita harus coba, Bel.
Kak, energi mereka negatif. Untuk apa?
Ingat yang Bu Windu bilang, Bel.
Iman kita harus kuat.
Kita tak boleh kalah dengan ketakutan yang mereka berikan.
Mereka makin kuat kalau kita lemah, Bel.
Kita harus lawan.
Sekarang kau sudah tak sendirian lagi.
Kita sama-sama punya mata batin yang terbuka.
Kakak percaya padamu.
[mendesah]
[mengembuskan napas]
[petir]
[bunyi alat ditaruh]
[mengembuskan napas]
Telapak tangan di atas meja dan saling menggenggam.
Pejamkan mata dan fokus.
[mengembuskan napas]
Niatkan dalam hati untuk bisa berkomunikasi dengan mereka.
Satukan pikiran kalian untuk bisa mengerti apa maksud mereka.
Tapi ingat, tetap jaga batasan.
Supaya kalian tak terpengaruh energi negatif mereka.
Dengar suara mereka satu persatu agar kalian mengerti apa maksud mereka.
[petir]
[musik seram]
Jangan buka mata kalian!
Biarkan kalian mendengar satu persatu suara mereka dan mengerti maksud mereka.
[suara seram]
[suara seram]
[musik seram]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
Davin?
Mereka tidak mau berkomunikasi dengannya.
[terengah-engah]
[petir]
[petir]
[langkah kaki]
[musik seram]
[jendela pecah]
[kaca jatuh]
[mendesah]
[langkah kaki]
[bunyi keras]
[petir]
[petir]
[petir]
[pintu lemari dibuka]
[brankas dibuka]
[perhiasan dimasukkan]
[lampu dinyalakan]
Hei, siapa kau?
Cepat, telepon polisi!
[berteriak]
[berteriak]
[berteriak]
[menjerit]
[tubuh dibacok]
[mengerang]
[berteriak]
[berteriak]
[menangis]
Ayah!
[meratap]
Ayah!
[berteriak]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[musik]
Mereka satu keluarga.
Ibu, ayah, dan anak.
Keluarga Sumarno.
Mereka dirampok
dan dikurung hingga kehabisan oksigen.
[petir]
Ini yang terjadi sebelum orang tua kalian membeli rumah ini.
Mereka lebih dulu tinggal di sini.
Mereka tidak suka kalian berada di dalam rumah mereka.
Mereka ingin kalian keluar dari rumah ini.
Mereka akan terus mengganggu kalian,
atau...
mereka akan merasuki kalian
untuk membalas dendam kepada si pembunuh.
Mereka sudah menguasai rumah ini.
Jika kalian terlalu lama berada di dalam rumah ini, akan sangat berbahaya.
[terengah-engah]
Bu, ini rumah peninggalan orang tua kami.
Ini rumah kami satu-satunya.
Aku juga tak punya cukup uang untuk pindah dari rumah ini, Bu.
Apa tak ada cara lain?
Kita bisa usir mereka, memaksa mereka untuk pergi ke alam mereka.
Tapi kita harus melakukan ritual untuk membuka portal ke dunia mereka.
[mengembuskan napas]
Davin.
Kau tak bisa ada di sini sampai ini semua selesai.
Akan sangat terlalu berbahaya untukmu.
[petir]
[alat diletakkan]
[korek menyala]
[petir]
[petir]
[musik seram]
Kita pegangan tangan.
[mengembuskan napas]
Kita akan coba buka portal.
Pejamkan mata dan fokus.
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
Portalnya belum terbuka.
Kita coba sekali lagi. Fokus.
Pejamkan mata.
[mengembuskan napas]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[menjerit] [meja hancur]
[langkah kaki]
Kak? Kak!
Bu.
[terengah-engah]
Aku tak melihat mereka ada di sini.
Ke mana mereka?
[musik seram]
[petir]
[petir
[terengah-engah]
[petir]
[petir]
[menggeram]
[menggeram]
[petir]
[pintu dibuka]
[pintu dibuka]
[musik seram]
[menangis]
[menangis]
[petir]
[menangis]
[petir]
[menangis]
[petir]
[menangis]
[menangis]
[musik seram]
[menjerit]
[meraung]
[menjerit]
Kak!
Alia!
Kak.
[musik seram]
[menggeram]
Alia!
Alia, lepas!
[meraung]
[meraung]
Abel! Abel, bangun!
[meraung]
Abel, ambil tali!
[meraung]
[meraung]
[meraung]
[berteriak]
[meraung]
[meraung]
Alia sudah dirasuki.
Manusia. [tertawa]
[terengah-engah]
Bu Windu.
Mereka bisa merasuki pikiran kosong. Jangan biarkan pikiranmu kosong.
Alia terlalu fokus padamu sehingga dia dirasuki.
[menggeram]
Kemari.
Kemari, kalian.
Kemari!
Mau keluarkan kami dari tubuh ini?
Mau usir kami?
Tempat kalian bukan di dunia kami!
Coba saja. Coba saja!
[tertawa]
[menjerit]
[meraung]
Pegang tangan. Pegang tangan!
[menggeram]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[petir]
[petir]
Tetap pegangan tangan!
[petir]
[meraung]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[terengah-engah]
[petir]
[langkah kaki]
[petir]
[pintu dibuka]
[musik]
[menarik napas]
[petir]
Kenal orang itu?
Mang Asep.
Dia tukang kebunku.
[petir]
[langkah kaki]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[terengah-engah] [meraung]
[menjerit]
[petir]
[meraung]
Abel, pegang Alia!
Jangan lepas!
[menjerit]
Tahan Alia!
[menjerit]
[meraung kesakitan]
[terengah-engah]
[meraung]
[petir]
Alia! Abel, cepat!
- Alia! - Kak!
Alia mau mencari Mang Asep dan membunuhnya.
Kita harus cegah dia!
[mendesis]
[mendesis]
[bunyi leher]
[bunyi leher]
[menggeram]
[mendobrak pintu]
[petir]
[mendobrak pintu]
Alia!
Alia!
- Kak! - Alia!
- Kak! - Abel, lewat pintu belakang!
[petir]
[langkah kaki]
[tertawa]
Yah, aku mau pergi ke warung.
- Ya, jangan terlalu lama. - Baik.
- Cepatlah pulang. - Ya.
[tertawa]
[lampu korslet]
[lampu korslet]
[lampu pecah]
[petir]
[petir]
[petir]
[petir]
[petir]
[sekering ditutup]
[pintu digedor]
[petir]
[pintu digedor]
[petir]
[pintu dibuka]
Nona Alia? Ada apa malam-malam kemari?
Maaf, lampunya sedang rusak.
[petir]
Nona Alia?
[menggeram]
[mengerang]
[mengerang]
[mengerang]
[mengerang]
[terengah-engah]
[meraung]
[menggeram]
[menggeram]
[menggeram]
[menggeram]
Nona Alia!
Nona Alia siapa?
Ingat kami?
Keluarga Sumarno!
Ingat yang kau lakukan kepada kami?
Bagaimana kerjamu? Tamanku rusak!
Bunga-bunga istriku mati!
Pakai pupuk apa?
Maaf, Pak, pakai pupuk yang Bapak belikan.
Pasti cara pakainya salah!
Bisa kerja atau tidak?
Bu,
tenang saja.
Besok Ayah menerima gaji.
Bisa untuk menambah biaya operasi Ibu.
[terisak]
Tapi setelah anak kita lahir,
juga butuh biaya banyak, Yah.
[menangis]
Jantung anak kita tak normal.
[terisak]
Pasti ada jalannya.
- Minta gaji? - Ya, Pak. Sudah tanggalnya.
Pak, aku mohon.
Aku sudah berusaha kerja sebaik mungkin, Pak.
Kalau ada kesalahan dalam bekerja, mohon maaf.
Aku akan perbaiki. Tapi sekarang...
Aku mohon, Pak. Istri saya mau melahirkan. Tolong.
- Kerjamu saja tak becus! - Tolong, Pak.
Mau minta gaji? Jangan harap!
- Tolong, Pak. Pak! - Awas!
[terengah-engah]
Hei, siapa kau?
- Cepat, telepon polisi! - Ayah!
[menjerit]
[mendesis]
[menggeram]
[menggeram]
[mengerang]
[mengerang]
[mengerang]
[tertawa]
Mang Asep.
[tertawa]
- Sakit, ya? - Maafkan aku!
Ampun. Maafkan aku, aku tak bermaksud sampai ada yang mati!
Maafkan aku!
Jangan! Maafkan aku!
Jangan! Maafkan aku!
Maafkan aku! Jangan!
Jangan!
[mengerang]
[mengerang]
[musik]
[musik seram]
[mengerang]
Alia!
[terengah-engah]
[mengerang]
[pintu ditutup]
- Kak! - Alia!
Jangan, Kak!
Jangan!
[mengerang]
[mengerang]
[menangis]
Kak!
Kak!
Awas!
[mendobrak pintu]
[mengerang]
[mengerang]
[mengerang]
[mendobrak pintu]
[mengerang]
[mengerang]
[mengerang]
[terengah-engah]
[mengerang]
Abel!
[berteriak]
Alia!
[petir]
Alia!
[batuk]
Abel.
Abel? Abel!
Abel.
Abel?
Abel? Abel, bangun! Abel.
Ketika mereka tak bisa membawamu bersama mereka, mereka bawa Abel.
Abel lebih takut darimu.
Lebih mudah dibawa ke alam tempat roh jahat berkeliaran.
Mereka tak mau kalah begitu saja.
Mereka selalu mau menang dari manusia.
Abel!
[terisak]
Roh Abel sekarang gentayangan bersama roh-roh jahat.
- Selamanya. - Abel!
[menangis]
[musik]
Dia masih bertahan.
Keinginannya kuat untuk bersama dengan kita.
Kapan dia akan sadar, Bu?
Semakin lama, keadaannya akan semakin menurun.
Pasti ada caranya agar Abel bisa kembali.
Dia bisa kembali kalau ada yang menjemputnya.
Maksudnya, menjemput ke alam lain?
Astral projection. Merogo sukmo.
Bu Windu, bisa jemput Abel?
Aku harus menjaga portal.
Biar mereka tak balik dari alam jahat ke dunia kita lagi.
Kalau begitu, aku yang akan jemput Abel.
Siapa pun yang menjemput ke sana tidak akan bisa pulang lagi.
Kecuali dia ditemani oleh entitas yang sama dengan mereka.
Yang bukan manusia.
Alia, kau belum menyadarinya juga?
[musik]
[anak-anak berteriak]
[langkah kaki]
[pintu dibuka]
Abel, kenapa?
Bu, dari tadi katanya dia takut.
Lihat yang seram di pojokan itu, Bu. Di situ, Bu.
[merengek]
Tak ada.
Tak ada apa-apa. Lihat apa, Sayang?
Jangan takut, Sayang. Ibu di sini. Tak apa-apa.
Tenang, Sayang. Ibu di sini. Tak apa-apa.
Tenang, Sayang.
Alia?
Kenapa? Lihat apa?
[merengek]
Tidak, Bu.
Alia cuma salah lihat.
Sudah, Abel. Sudah, ya, Sayang.
Bagaimana dengan kakaknya?
Dia tak sepeka Abel.
Dia tak menyadari kemampuannya.
Anak pemberani memang lebih sulit.
- Tapi dia harus diberi tahu. - Jangan!
Aku tak mau dia tahu.
Aku takut dia akan jadi ketakutan, melebihi Abel.
Aku tak tega.
Bu. Mata batinnya sudah terbuka.
- Untuk apa lagi? - Mempertajam sensitivitasnya.
[musik seram]
Mata batin yang tertutup itu seperti jendela yang tertutup oleh tirai.
Sejak kecil, tiraimu sudah terbuka separuh secara alami.
Aku hanya membuka separuhnya saja.
[mengembuskan napas]
Sebelum aku lebarkan tirainya,
kau sudah pernah bertemu beberapa dengan mereka.
Bahkan ada yang berteman baik denganmu.
Teman baik yang bisa mendampingimu
menjemput Abel.
Kau bersedia menemani Alia?
[bernapas berat]
[bernapas berat]
[musik menegangkan]
[musik menegangkan]
Pulanglah, Davin. Temui Ayah.
Sudah 4 tahun.
Mau sampai kapan mau protes terus soal pernikahan ayahmu?
Vin, ayahmu tak pernah melupakan almarhumah ibumu.
Tapi ayahmu juga butuh teman hidup.
PAS NAIK
[langkah kaki]
[langkah kaki]
[langkah kaki]
[klakson mobil]
[mobil berdecit]
[langkah kaki]
Yang tak bisa melihat artinya mereka belum menyadari bahwa dirinya sudah meninggal.
Mereka masih merasa diri mereka manusia.
Maaf!
Mereka yang belum menyadari dirinya sudah berbeda dengan manusia
masih bisa menyentuh orang seperti biasa.
Berbeda dengan yang sudah menyadari dirinya sudah meninggal.
- Permisi. - Maaf, aku tak memesan ini.
Ada yang memesankan untukmu.
Baik.
Terima kasih.
[tertawa]
Tak usah. Terima kasih. Sebentar lagi selesai.
Sudah berapa lama tiba?
Sudah 20 menit?
[tertawa]
Hentikan, Davin.
[musik seram]
Ada hal yang mengganjal di dunia ini, yang membuatmu tak bisa pergi.
Tapi sekarang sudah selesai, kan?
Kau sudah menemui ayahmu.
Dia juga sudah merelakanmu.
Ketika kau bicara dengan seorang yang sedang tidur,
dia bisa mendengarmu di mimpinya.
Sekarang kau hanya perlu mengucapkan selamat tinggal pada seseorang.
Waktu kita tak banyak.
[menangis]
[menangis]
[menangis]
Mau melakukan sesuatu untukku, kan?
[terisak]
Ikhlaskan aku pergi.
Ingat Abel. Abel harus kembali.
Bu Windu.
Kalau Alia yang pergi ke sana sendiri, terlalu berbahaya.
Biar aku saja sendiri yang pergi.
Yang sudah mati tak bisa menjemput dan memulangkan Abel ke dunia ini.
Hanya yang masih hidup yang bisa.
Kau hanya perlu mendampingi supaya kalian menjadi satu energi.
Mereka tak akan mengenali Alia
karena terdistraksi oleh energimu.
Tapi ingat,
setelah kau bawa Abel dan Alia menuju arah jalan pulang,
di persimpangan, kau harus menuju lorong cahaya.
Tempatmu bukan di alam jahat, tapi alam baik.
[terisak]
[musik seram]
Kalian harus saling berpegangan tangan supaya satu energi. Jangan sampai lepas.
Atau mereka akan mengenali Alia, menangkapnya,
dan Alia akan terdampar di sana.
Berpegangan tangan.
Pejamkan mata.
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
[merapal mantra]
Hei, kau tak apa-apa?
[terengah-engah]
Itu jalan keluar kalian.
Itu pintu keluarmu.
Ke alam yang baik.
Kita harus kuat.
Kita tandai jalan keluarnya.
[langkah kaki]
Sekarang, ke mana kita pergi?
Bu Windu bilang...
Arwah mereka yang tidak tenang menuju ke alam yang gelap.
[musik seram]
[menggeram]
[menggeram]
[lonceng berbunyi]
[langkah kaki]
[langkah kaki]
[langkah kaki]
[meraung]
[tertawa]
[menjerit]
[menggeram]
[mendesis]
[tertawa]
[merintih]
[terengah-engah]
[mengerang]
[menjerit]
[berteriak]
[menggeram]
[memekik]
[menggeram]
[berteriak]
[berteriak]
[musik seram]
Naik kereta api
Tut, tut, tut
Siapa hendak turun?
Ke Bandung, Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo, Kawanku, lekas naik
Keretaku tak berhenti lama
[musik seram]
[menggeram]
[menggeram]
[menangis]
[menangis]
- Abel! - Abel.
Abel.
Awas.
[pintu dibobol]
Kak!
Abel, kau tak apa-apa?
Siapa yang membawamu ke sini? Keluarga Sumarno?
Siapa?
Dia tak mau aku. Dia mau Kakak ke sini.
Siapa?
[terengah-engah]
[merintih]
[menggeram]
[menjerit]
[terengah-engah]
Pegang tanganku! Alia, pegang tangan Abel!
[menjerit]
[menangis]
Jangan lepas tanganku agar mereka tak tahu kalian siapa.
[mengerang]
[mengerang]
[mengerang]
[mengerang]
[menggeram]
[mengerang]
[mengerang]
[mengerang]
[merintih]
Itu tandanya. Ayo!
[menggeram]
[mengendus]
[mengendus]
Lari!
[terengah-engah]
Abel, kau lebih dulu.
[terengah-engah]
Ayo.
Apa kita masih bisa bertemu lagi?
Hidupmu masih panjang, Al.
Akan makin luas. Kau akan bertemu orang-orang baru.
Juga cinta yang baru.
Aku tak akan pernah melupakanmu.
Aku juga, selamanya.
[terisak]
[menangis]
Aku mencintaimu.
[menangis]
[terisak]
Pergilah.
[berteriak]
Kak.
Aku tahu ini sulit.
Tapi jika kita mencintai seseorang,
kita harus merelakan mereka pergi.
Bukan untuk kebaikan kita.
Tapi untuk kebaikan mereka.
Walaupun itu akan sangat menyakitimu.
[musik]
[kipas berputar]
[pintu dibuka]
[air mengalir]
Aku bertemu dua dari mereka dalam sebulan ini di kantor.
Laki-laki dan perempuan.
Mereka tak melakukan apa pun.
Hanya memperhatikanku.
Terus-menerus.
Tapi aku masih belum bisa mengerti apa mau mereka.
Bagaimana dengan yang di sekolahmu?
Mengikuti ke rumah, Bu.
Aku sudah menyuruhnya tak masuk rumah.
Tapi tadi pagi, dia masuk ke rumah dan menyalakan pancuran.
Beberapa hari ini, dia tinggal di pohon seberang rumah.
Suka mengganggu memang karakter mereka.
Tapi kalian harus tetap hati-hati.
Siapa tahu mereka punya maksud terselubung.
Tapi dia tak berbau busuk.
Apa wujudnya?
Ada lubang di belakang tubuhnya.
Sudah tanya siapa namanya?
Namanya Mirah.
Coba tanya padanya.
Mungkin dia perlu bantuan.
Kenapa Tuhan memberi kita kemampuan seperti ini?
Itu rahasia-Nya.
Tapi apa pun yang Tuhan berikan kepada kita,
baik atau buruk, sudah seharusnya kita terima dengan ikhlas.
Bahkan harus kita syukuri.
Karena dengan begitu,
kita menjalani hidup ini dengan lapang dada dan tanpa beban.
Kita, yang mata batinnya terbuka, ada untuk mereka.
[sabuk pengaman dibuka]
Kenapa, Kak?
Kenapa selama ini tak pernah bilang padaku?
Soal Davin.
Jika dulu aku bilang, apa Kakak akan percaya?
[musik seram]
Siapa?
[pintu ditutup]
Mirah?
Kau mengikuti Abel ke rumah?
Kau mau apa?
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.