All language subtitles for The.Thin.Red.Line.1998.720p.BluRay.x264-Pahe.inThe.Thin.Red.Line.1998.720p.BluRay.x264-Pahe.in

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

--- Penerjemah: Rizal Adam --- http://rizaladam.wordpress.com

Email: rizaladam@yahoo.com

Mengapa perang ini berada di tengah-tengah alam?

Mengapa alam tidak bersaing dengan sendirinya?

Daratan berhadapan dengan lautan?

Apakah ada satu kekuatan pembalasan di alam?

Bukan hanya satu, tapi ada dua kekuatan?

Aku ingat ibuku saat beliau sekarat.

Beliau terlihat sangat renta dan lemah.

Kutanya apakah beliau merasa takut.

Beliau hanya menggelengkan kepala.

Aku takut menyentuh kematian yang kulihat dalam diri beliau.

Tak bisa kutemukan sesuatu yang indah atau menyemangatinya kembali ke Tuhan.

Kudengar orang bicara tentang keabadian, tapi aku tak melihatnya.

Aku penasaran bagaimana diriku bila mati nanti.

Seperti apa rasanya mengetahui bahwa nafas sekarang ini...

...adalah nafas terakhir yang akan kau hirup.

Aku hanya berharap bisa menemui kematian yang sama seperti beliau.

Dengan ketenangan yang sama.

Sebab di sanalah keabadian yang tak kulihat itu bersembunyi.

Bocah-bocah di sini tak pernah berkelahi.

Kadang-kadang saja.

Kadang saat kau melihat mereka bermain...

...mereka selalu berkelahi!

- Dia takut padaku? - Sedikit.

- Kau takut padaku? - Ya.

- Kenapa? - Sebab kau kelihatan...

Kau kelihatan seperti tentara!

- Aku seperti tentara? - Ya.

Tapi itu tidak jadi soal.

Itu tidak jadi soal.

- Anaknya mengantuk. - Ya.

Kalau dia ingin berenang, dia tidur dulu.

Baiklah, ayo. Berputarlah.

Jalan. Cepat!

Ayo, cepat.

Ayo jalan!

Witt, ada kapal patroli!

Itu kapal Amerika.

Sedang apa kapal itu sendirian di sini?

Kau sama sekali tak berubah, ya, Witt?

Kau tak belajar apa pun.

Seseorang tinggal menyerahkannya padamu, kau akan bahayakan diri demi mereka.

Sudah berapa kali kau mangkir?

Sudah berapa lama di militer? Enam tahun?

Bukankah sudah saatnya kau bertindak pintar dan berhenti jadi prajurit brengsek?

Jika kau memang mau menginginkannya.

Kita semua tak sepintar itu.

Memang, dan itu amat disayangkan.

Lihat dirimu.

Nyatanya, kau tak bisa lakukan tugas dengan baik di kompiku.

Kau tak akan pernah jadi prajurit sejati, tidak di dunia Tuhan.

Ini Kompi C, aku Sersan Pertama-nya. Aku yang memimpin pasukan ini.

Kapten Staros, dia perwira tingginya, tapi akulah pimpinan pasukan.

Tak ada yang akan macam-macam.

Kau hanyalah tambahan mulut lagi yang harus kuberi makan.

Normalnya, kau akan dibawa ke mahkamah militer.

Tapi kutawarkan satu kesepakatan untukmu.

Harus kuanggap dirimu beruntung.

Aku akan menugaskanmu ke pasukan disipliner.

Kau akan jadi pembawa tandu. Mengurus prajurit yang terluka.

Aku bisa lakukan apa saja yang kau tugaskan.

Aku dua kali lebih hebat darimu.

Di dunia ini...

...seorang pria sendirian bukanlah apa-apa.

Dan tak ada dunia lain kecuali dunia ini.

Kau salah, Top.

Aku melihat dunia lain.

Terkadang kupikir itu hanya imajinasiku saja.

Kalau begitu...

...kau telah melihat banyak hal yang tak akan pernah kulihat.

Kita hidup di dunia yang akan meledak dengan sendirinya...

...secepat setiap orang bisa mengaturnya.

Dalam situasi demikian, pria hanya bisa tutup mata dan tiada yang menyentuhnya.

Menjaga dirinya sendiri.

Mungkin aku sahabat dekat yang pernah kau miliki.

Kau bahkan tak menyadarinya.

Dia sangat membencimu.

Aku tak pernah merasa dia membenciku sebab aku tak membencinya.

Aku cinta Kompi Charlie.

Mereka teman-temanku.

Mereka menyebutnya "The Rock".

Tak ada yang inginkan pulau ini. Jepang dirikan lapangan udara di sana.

Pertempuran dibatasi sampai di kawasan ini.

Seperti yang kalian lihat, ini jalan mereka menuju Australia...

...dan ini cara mereka menguasai jalur laut menuju Amerika.

Jika akan hentikan Jepang menuju ke Pasifik Selatan, kita harus lakukan di sini.

Marinir sudah melakukan tugas mereka. Kini giliran kita.

Akulah yang bekerja susah payah.

Dasar para jenderal penjilat.

Kurendahkan martabatku...

...demi mereka dan keluargaku.

Demi negaraku.

- Aku salut padamu, Kolonel. Sungguh. - Terima kasih, Pak.

Kebanyakan pria seumuranmu sudah pensiun dari sekarang.

Tak masalah.

Kita butuh perwira tinggi dengan kematangan dan watak sepertimu.

Kami memiliki banyak sersan dan letnan kolonel yang bagus.

Namun saat seseorang dapatkan lambang elang itu, dia tak sabar dapatkan lambang bintang.

Dia menjadi politikus, ya?

Berusaha untuk terus maju.

Susah sekali untuk tetap berada di atas.

- Ucapanmu benar, Pak. - Dengan Laksamana sedang mengawasi.

- Selalu ada yang mengawasi. - Ya.

Seperti seekor elang.

Selalu ada yang siap terlibat jika kau tak mau.

- Kau punya anak, Kolonel? - Ya, Pak.

Bagus. Kita tak mau anak cucu kita...

...bertempur di perang ini 30 tahun dari sekarang, bukan?

- Tentu saja tak mau, Pak. - Maka kalahkan mereka tanpa ampun.

Singkirkan mereka dari bukit itu dan lindungi lapangan udaranya.

Baik, Pak.

Kau heran mengapa Jepang bangun lapangan udara di sana?

Kurasa kita tak tahu situasi keseluruhan jika ternyata memang ada.

- Bagaimana menurutmu? - Tak pernah kutanyakan itu pada diriku.

Kau pria yang bersahaja.

Tak ada yang menginginkan pulau itu selain kau.

Seberapa besar kau menginginkannya?

Sebanyak yang aku inginkan, Pak.

Semua yang mereka korbankan demi aku...

...menyembur keluar bagaikan air di tanah.

Semua yang mungkin telah kuberikan demi cinta.

Sudah sangat terlambat.

Mati...

...selambat pohon.

Kau merasakannya?

Ya, Pak.

Terima kasih, Pak.

Semakin dekat menuju Caesar, semakin besar rasa takut itu.

Tak bisa kukendalikan betapa takutnya diriku ini, Sersan.

Tak bisa kukendalikan.

Ayah tiriku mengambil balok dan memukuliku saat kecil dulu...

...dan aku takut dan biasanya lari dan bersembunyi.

Aku tidur di kandang ayam setiap malamnya.

Dan tak pernah kumenyangka kalau ini tak lebih buruk dari itu.

Tapi aku masih hidup saat ini. Menghitung waktu.

Kita akan segera mendarat dan akan ada serangan udara.

Mungkin kita akan tewas sebelum mencapai pantai.

Tempat ini seperti pekuburan besar yang mengapung.

- Siapa namamu, Nak? - Aku mau punya mobil bila keluar.

- Siapa namamu? - Edward B. Train.

Train?

Satu-satunya yang permanen hanyalah kematian dan Tuhan. Itu saja.

Hanya itu yang harusnya kalian cemaskan.

Perang ini takkan jadi akhir bagiku atau kalian.

- Kita akan lakukan serangan udara? - Bagaimana aku bisa tahu?

Yang kutahu, mereka tak lakukan serangan udara terakhir kalinya.

Di sisi lain, dulu mereka nyaris ledakkan diri.

Kau ingin aku mengatakan apa?

Kau sangat membantu, Tills. Jangan bilang apa pun.

Kuberitahu kau sesuatu.

Kita berada di lautan ini seperti bebek di dalam kapal.

Aku sudah tahu itu.

Pikirkan itu, Tills.

Pikirkan itu.

- Kau tak lihat kegembiraannya? - Aku tak tertarik.

- Ya, kurasa ini cukup ramai. - Masih tetap tak tertarik.

Aku sedang dalam perjalanan mendapatkan pistol itu.

Benarkah? Bersenang-senanglah.

Ya, bersenang-senanglah.

Berharaplah mendapatkannya begitu kita mendarat di pantai dan serang Jepang.

Buka pintu ini!

Buka pintunya!

Kalian semua belajar main permainan kartu ini...

Baiklah. Di sini aku akan tidur.

Baiklah, Nona-nona. Apakah ini tugas menjahit atau bermain kartu?

Baiklah, aku mengerti. Robert punya 2 jack.

Aku tak pernah tawar-menawar seperti ini saat daftar masuk militer sebelum perang.

Bagaimana aku bisa tahu akan ada perang? Jawab aku.

Yang kuketahui, Kompi Charlie selalu dapat tugas sulit. Selalu.

Dan aku bisa beritahu juga ini salah siapa.

Ini salah kapten kita.

Pertama, dia buat kita berada di kapal ini yang mana kita tak tahu apa-apa.

Lalu dia membuat kita berada di urutan ke-4 di daftar turun dari kapal ini.

Halo, Kapten.

Kubaca di arsipmu kalau kau dulu perwira tinggi sebelum perang.

Bagaimana kau bisa menjadi prajurit biasa?

Karena istriku.

Dulunya aku perwira tinggi yang mengurus bagian mesin.

Kami tak pernah berpisah sebelumnya...

...meskipun selama semalam saja.

Aku menjalaninya selama empat tahun lalu kemudian berhenti.

Aku mengundurkan diri begitu saja.

Mereka mengirimku kembali ke AS.

Kata mereka, aku takkan dapatkan jabatan perwira tinggi lagi.

Itu mereka katakan saat aku kena wajib militer dan ditugaskan di infanteri.

Dasar brengsek.

Tidak, aku tak salahkan mereka.

Di mana dia sekarang?

Dia di rumah.

Kenapa aku harus takut mati?

Aku milikmu.

Cepat! Cepat!

Cepat! Cepat!

Cepat! Cepat!

Bergerak!

Jika aku pergi lebih dulu, aku akan menunggumu di sana.

Di seberang perairan gelap.

Kenakan helm-mu.

Bersamalah denganku sekarang.

- Kau rasakan tekanannya, Kapten? - Ya, Pak.

Aku suka padamu, Kapten.

Dan ketahuilah, kita bersama-sama dalam perang ini. Mengerti?

Teruslah maju sampai mencapai pantai. Aku akan menyusulmu di sana.

- Baik, Pak. - Mereka semua milikmu, Kapten.

Beri jalan!

Minggir!

Para pemimpin pasukan! Kedua tim!

Lewat sini, Nak. Lewat di sini.

Bersiaplah mendarat ke pantai!

Bapa kami yang ada di surga...

...ampuni dosa kami seperti kami memaafkan orang yang menyalimi kami.

Karena Kau adalah kerajaan, kekuatan, dan kemuliaan kami.

Pasukan kalian beruntung.

Kendaraan pengangkut pastilah yang diincar.

Kalian harus keluar dari sini tepat waktu.

Tarik nafas, tuan-tuan. Kalian harus hidup!

- Kau dari Kompi Charlie? - Ya.

Kita masuk sejauh satu mil. Tak ada apa-apa di sana.

Hanya beberapa drum oli. Tak ada apa pun di sana selama...

- Seminggu. - Seminggu, Pak.

Tak ada korban. Jepang pasti pergi dengan cepat.

Dua mortir menyerang pantai, namun para prajurit selamat.

Hal terhebat yang pernah kulihat.

Mereka menangkap ikan yang hidup di pohon.

Kalau mereka tak tahu kalau pantai ini ditinggalkan, apa lagi yang mereka tak tahu?

Siapa diri-Mu yang bisa hidup dalam berbagai bentuk?

Maut-Mu yang menangkap semuanya.

Kau juga adalah sumber dari semua yang akan dilahirkan.

KemuliaanMu.

Pengampunan.

Kedamaian.

Kebenaran.

Kau memberiku ketenangan jiwa...

...pemahaman...

...keberanian.

Hati yang terpuaskan.

Panggil medis kemari!

Mungkin semua prajurit memiliki satu keberanian yang merupakan bagian dirinya.

Semuanya menghadapi orang yang sama.

Diri mereka sendiri.

Semua orang mencari keselamatan sendiri-sendiri.

Ibarat batubara...

...yang diambil dari api.

Kita akan terus menaiki bukit di sana itu.

- Kami tak bisa, Kolonel. - Mustahil menyerangnya diam-diam.

Di kiri ada satu tebing yang di bawahnya ada sungai.

Tentara Jepang kuasai hutan itu. Harus direbut secara frontal.

Bagaimana dengan air, Pak? Tak ada air di atas sini.

Orang-orangku kehabisan air.

Satu-satunya yang kau cemaskan soal prajurit adalah saat dia berhenti mengeluh.

Kita akan menyerang bersamaan. Peleton 3 menjadi cadangan.

Kita harus lintasi tiga lembah itu. Kalian lihat?

Begitu kita melewatinya, kita harus menyerang bukit itu.

Kata Kolonel, mustahil menyerangnya diam-diam...

...jadi kita harus merebutnya dengan serangan frontal.

- Whyte? - Ya?

- Lihat lembah di kaki bukit itu? - Ya.

Bila sampai di ujung padang itu, hancurkan semua titik penting di situ.

Aku yakin tentara Jepang punya sesuatu yang penting untuk dilindungi.

Apa Kau di sini?

Jangan biarkan aku mengkhianati-Mu.

Jangan biarkan aku mengkhianati pasukanku.

Aku menaruh kepercayaan pada-Mu.

Dewi Aurora muncul saat pagi.

Kau orang Yunani, 'kan, Kapten?

Pernah baca Homer?

Kami baca Homer di Point.

Dalam bahasa Yunani.

Dukungan artileri jenis apa yang kita miliki, Pak? Ganti.

- Dua peledak tipe 105. - Daya hancurnya tak begitu kuat. Ganti.

Ya, tapi akan membuat anak-anak senang. Tampaknya Jepang akan kesulitan.

Baik, anak-anak.

Ini saatnya.

Kita akan turun dalam sepuluh kelompok.

Tak ada gunanya terburu-buru. Buat saja sasarannya berhenti, jadi...

...larilah terus.

Kita tak punya pilihan. Kita dipilih, jadi harus pergi.

Aku akan memilih kelompokku sendiri.

Aku ingin Charlie Dale bersamaku. Dale?

Kau aturlah mereka di atas sana.

Bergerak lima menit lagi.

Ayo.

Sico?

- Kenapa denganmu? - Perutku sakit.

Sico, berdiri sekarang atau kutendang kau sampai benar-benar merasa kesakitan.

Aku tak bisa. Akan kulakukan jika bisa.

Aku sakit.

Kau tidak sakit. Berdirilah!

- Ada apa, Sico? - Aku tak tahu, Sersan.

Perutku. Rasanya sakit, kurasa perutku kram.

Aku bahkan tak bisa duduk tegak. Aku sakit.

- Ayo, berdirilah! - Biarkan dia.

Aku butuh relawan membawa BAR! Lepaskan peralatanmu.

Aku akan membawamu ke petugas medis.

Terima kasih, Sersan.

Jangan berdebat denganku.

Semoga beruntung, Keck.

Tutup lubang yang ada di kananmu!

Cepat!

Mungkin mereka sudah pergi.

Tiarap!

Tiarap!

Tenanglah.

Petugas tandu!

Ayo!

Petugas tandu, lewat sini!

- Ambil orang itu. - 8 atau 9 orang sudah terluka...

- Jangan berdebat denganku! Ambil dia! - Bukan dia yang harus kita pikirkan...

Brengsek kalian semuanya! Apa aku yang memimpin di sini atau bukan?

- Apa aku ini kapten atau prajurit biasa? - Yang lain terluka parah. Itu maksudku.

- Aku memberimu perintah, Prajurit! - Ya, Pak!

Halo, Sersan Satu.

Siapa yang sedang kita kejar di sini?

Kami rasa Jacques.

Ol' Jockey.

Sial. Itu sayang sekali.

Pak?

Pak, bolehkah aku kembali setelah kami mengembalikan Jockey ke batalyon?

- Baik, tapi harus dapatkan izin. - Tentu. Dan senapanku.

Nicky! Kau masih hidup!

Terus bergerak!

Bagus sekali, Staros, bagus sekali.

Hal terhebat yang sudah lama baru aku lihat!

Kau pahami dan jalankan tugas dengan baik! Namamu akan disinggung di rapat batalyon.

Whyte muda memimpin dengan baik.

Baik, Pak. Ganti.

Tapi menugaskan Peleton 3 juga adalah tindakan pintar.

Mereka mungkin sudah mencapai punggung bukit.

Kurasa mereka tak terluka sangat parah. Blane juga memimpin dengan baik.

Berapa lokasi senjata musuh yang mereka temukan?

Apa mereka melumpuhkannya?

Kita harus kosongkan punggung bukit itu saat siang nanti! Ganti.

Halo! Staros, kau di sana?

Aku di sini, Pak. Ganti.

Kataku tadi, berapa lokasi yang mereka temukan? Sudah dilumpuhkan? Ganti.

Anak-anak.

Entahlah, Pak.

Apa maksudmu tak tahu? Bagaimana bisa kau tak tahu? Ganti.

Aku berada tepat di belakang bukit pertama, Pak.

Kau ingin aku berdiri dan melambai? Ganti.

Tidak, aku bisa melihat lokasimu. Aku ingin kau lakukan sesuatu.

Aku mau kau berdiri di sana dan periksa bagaimana situasinya.

Aku mau Bukit 210 berada di tanganku malam ini.

Pimpinan utama sudah bangun pagi-pagi sekali karena ini!

Bangunlah di sana, Staros. Selesai!

Maju!

Hei, Keck!

Ya!

- Kita harus pergi dari sini. - Aku tahu.

Blane sudah mati.

Kau yang memimpin.

Kami tahu kau di sana, Yank!

Pasukan Jepang kalah!

Tidak! Roosevelt yang kalah!

Aku mengenainya!

Aku membunuh satu orang.

Hei, Queen!

Queen, kau di sana?

Hal terburuk yang bisa dilakukan. Sangat buruk.

Queen! Lihat tentara Jepang meninggalkan bukit di kiri itu?

Kubunuh satu orang. Tak ada yang bisa mencegahku.

Aku tak lihat apa-apa.

Kalau begitu, bangunlah dan periksa keadaan sekitar!

Aku serius!

Kuhitung ada 7 tentara Jepang meninggalkan bukit di sebelah kiri itu!

Aku menembak salah satu dari mereka.

Lalu?

Kurasa mereka mungkin akan pergi.

Mungkin seseorang harus memberitahu Kapten.

Kau mau melakukannya?

Kau tetaplah di tempatmu! Aku memberimu perintah!

Tiarap!

Tetap tiarap.

Ayo!

Ayo!

Apa yang kita lakukan sekarang?

Kita menunggu di sini. Mungkin mereka akan mengirimkan bantuan pada kita.

Untuk apa?

Untuk hancurkan kedudukan musuh yang ada di sekitar sini!

- Kau sungguh ingin terlibat ini? - Tentu saja tidak untuk serangannya.

Jika kita dikirimi bantuan, mungkin kita bisa periksa keadaan sekitar...

...dan menemukan lokasi senjata mesin itu.

- Itu lebih baik daripada kembali. - Ada yang datang!

Mereka datang!

Mau apa mereka?

Jika mereka ingin habisi kita, kenapa tak datang dalam jumlah besar?

Mungkin mereka bertindak sesuai kemauan sendiri.

Mungkin mereka ingin masuk surga.

Mereka datang.

Keck!

Ya, Tuhan!

Ya, Tuhan!

Aku meledakkan bokongku!

- Tak apa-apa. - Aku meledakkan bokongku!

Berbaringlah!

Betapa bodohnya aku!

- Tenanglah. - Aku mencabut granat lewat pin!

Tulis surat pada istriku. Beritahu dia...

Aku mau dia tahu kalau aku mati secara terhormat.

Tak ada yang akan tulis surat padanya. Kau akan selamat.

- Jangan membohongiku! - Berbaringlah.

Apa ada lumpur di wajahku?

Hapus lumpurnya. Singkirkan.

Tidak!

Aku akan menulis surat padanya. Janji.

Bawa tempat minumku. Masih ada air di dalamnya.

Ini untuk yang terbaik.

Aku sudah mengacau di bawah sana.

Aku sudah tak tahan lagi.

Di mana aku?

Di mana aku?

Kau akan baik-baik saja.

Walaupun kau mati, kau tak membiarkan temanmu terluka.

Jika kau tak membuang diri di tanggul ini, kami semua pasti sudah tewas.

Aku kedinginan.

Aku kedinginan.

Aku sangat kedinginan.

Kau akan menulis surat pada istrinya?

Tentu saja tidak.

Aku tak kenal dengan istrinya.

Itu tugas komandan pasukan. Kau sudah sinting? Aku tak mahir menulis.

Kau sudah bilang padanya bahwa kau bersedia.

Akan kukatakan apa saja pada mereka bila mereka menyukainya.

Seseorang harus melakukannya.

Kalau begitu, kau yang tulis surat padanya.

Ada apa, Jim?

Tak ada yang bisa dilakukan padanya. Dia akan mati sebelum dioperasi.

- Maka aku tak memintamu ke sana. - Mungkin aku bisa memberinya morfin.

- Kau mau membuatnya diam? - Tak lama, tapi bisa kuberikan dua.

Mungkin aku bisa memberikan tiga atau empat dosis padanya.

Tak bisakah kau memberikan padanya sekaligus?

Seperti inilah diri kalian.

Semuanya di sana untuk kita. Itu kita.

Aku kehilangan 12 orang.

12 prajurit.

Situasi menggila di atas sana.

Kuperintahkan yang harus dilakukan, kutunjukkan arah dan beri dorongan.

- Tolong aku! - Aku kenal dirimu, Sersan.

Ini gila. Entah siapa yang memimpin di sini, tapi jangan biarkan dia pergi!

Aku pergi dari sini.

Aku mau pergi dari sini. Baiklah, ayo bergerak!

Aku akan pergi. Aku akan pergi sekarang.

Jangan sentuh. Jangan memandangiku. Baiklah, aku pergi dari sini.

Baiklah.

Seseorang tolong aku!

Tolong aku!

Kau harus tenang. Aku datang untuk membantumu, Tella.

- Baik. Tenanglah. - Persetan denganmu!

Aku akan mati! Aku akan mati, Sersan!

Baik. Tapi matilah tanpa suara ribut!

- Bagaimana kau akan mengeluarkanku? - Aku akan membawamu kembali.

- Ayo. - Tidak!

Turunkan aku! Turunkan!

Tinggalkan aku sendiri.

Kumohon, tinggalkan aku sendiri.

Beri aku lagi.

Beri aku lagi.

Ini, Tella.

Selamat tinggal.

Selamat tinggal, Nak.

Selamat tinggal, Sersan. Selamat tinggal.

Untungnya, Jim, nasib kompi ini tak tergantung pada satu orang.

Sersan, aku melihat semuanya lewat teropong.

Akan kusinggung namamu besok di rapat dan merekomendasikan Silver Star.

- Itu tindakan paling berani... - Kapten...

...sekali lagi kau bicara padaku, akan kutinju mulutmu.

Kau singgung namaku dalam rapatmu, aku akan undurkan diri dengan cepat...

...dan meninggalkanmu memimpin pasukan ini sendiri.

Paham?

Penghargaan! Semuanya tentang penghargaan.

Kenapa denganmu, Staros? Mereka itu harus dibantu dengan segera!

Sedang apa mereka? Aku bisa melihatnya lewat teropongku.

Mereka sedang tidur-tiduran di balik tebing itu!

Mereka harusnya bangun dan bergerak, menyingkirkan senjata mesin itu! Ganti!

Kurasa Anda tak mengerti apa yang sedang terjadi, Pak.

Ada banyak korban yang tewas.

Ada yang terkena tembakan di perutnya. Cukup parah.

Baik. Bagaimana dengan pasukan bantuannya? Ganti.

Ada dua pasukan untuk...

Aku bisa tugaskan Peleton Satu, Pak. Ganti.

Apa maksudmu, dua pasukan?

Brengsek kau, Staros! Saat kubilang bala bantuan...

...aku serius! Perintahkan semua prajuritmu di sana dan lakukan sekarang!

Peleton Satu-mu juga. Kulihat mereka berbaring tak melakukan apa-apa.

Suruh seseorang perintahkan mereka menyerang...

...dan arahkan mereka melalui sisi punggung bukit.

Lalu perintahkan Peleton 2 menuju bukit itu!

Arahkan mereka ke tengah. Langsung menuju bukit itu!

Serang mereka sekarang juga!

Astaga, Staros! Apa aku harus beri kau pelajaran mengenai taktik infanteri...

...sementara anak buahmu sedang diberondong tembakan?

Kolonel, kurasa kau tak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi di sini.

Kompiku sendiri tak bisa menerima resiko itu, Pak.

Jepang menggali terlalu dalam. Persenjataan mereka sangat banyak.

Kolonel, ada sebuah bunker di luar sana.

Kami tak bisa melihatnya, dan itu membuat kami tercerai-berai, Pak.

Aku meminta izin untuk adakan patroli pengintaian...

...di bagian kanan Bukit 210. Aku yakin seluruh posisi...

...bisa dikepung dengan manuver dalam jumlah besar.

- Tidak! - Mungkin bisa selamatkan banyak nyawa!

Tak akan ada pengepungan.

Dengar, Staros. Kau tak akan membawa anak buahmu...

...mengitari hutan untuk menghindari pertempuran!

Kau dengar, Staros? Aku ingin kau menyerang...

...sekarang juga dengan pasukan yang kau miliki!

Serang, Staros! Ini perintah langsung!

Pak, harus kuberitahu bahwa aku menolak mematuhi perintahmu.

Ini bukan salahmu, Jim. Dia yang memerintahkanmu.

Aku meminta izin lagi adakan patroli pengintaian...

...di sebelah kanan bukit dalam jumlah besar.

Waktunya jam 1 lewat 21 menit, 25 detik.

Aku punya dua saksi di sini. Kuminta kau lakukan hal yang sama. Ganti.

Staros, jangan bermain pengacara-pengacaraan ini denganku!

Aku tahu kau pengacara! Tapi ini bukan pengadilan.

Ini perang. Ini pertempuran!

Aku menginginkan serangan frontal. Kuulangi perintahku. Ganti.

Kolonel, aku menolak memerintah anak buahku lakukan serangan frontal.

Itu bunuh diri, Pak.

Dua tahun aku bersama mereka. Takkan kuperintahkan mereka menuju kematian.

Ini keputusan yang sangat penting, Staros.

Tapi kalau kau merasa mampu, mungkin kau punya alasan, jadi aku akan ke sana.

Pergilah memeriksa keadaan.

Aku tak akan mencabut perintahku padamu, Nak...

...tapi jika kutemukan ada keadaan yang meringankan setibanya di sana...

...aku akan mempertimbangkannya.

Sementara itu, aku ingin kau tetap bertahan sampai aku tiba di sana.

Dan jika memungkinkan, suruh anak buahmu bangkit dan bergerak! Selesai.

Satu tempat sebagus tempat yang lain.

Tak ada tempat bersembunyi.

Tenang saja, Nak. Tenanglah.

Di mana Fife?

Fife? Dia ada di sini, Nak. Fife.

Pegang tanganku, Fife.

Pegang tanganku.

Sudah kupegang.

Aku sekarat, Fife.

Oh, Kapten...

Terdiam dalam makam.

Tak mampu mengangkat tutupnya.

Memainkan peran yang tak pernah kupikirkan.

Pakai seragam itu, Prajurit. Ini bukan berjemur di pantai!

Pakai seragam itu sekarang.

Apa yang sedang kau bidik, Nak? Mari hancurkan mereka.

Bergerak!

Sedang apa kau berbaring di situ di mana tak bisa melihat apa pun?

Mengamati, Pak. Tadi kutugaskan Peleton 1 ke punggung bukit itu.

- Berapa yang tertembak kali ini? - Tak ada, Pak.

Tak ada? Tak satu pun?

Bukan seperti situasi yang kau gambarkan padaku lewat radio.

Memang tidak. Situasinya baru saja berubah lima menit terakhir ini, Pak.

Kapten, dengarkan aku.

Kita akan ke sana dan membawa semua orang.

Apa kau punya keluhan atau protes lagi?

- Tak ada, Pak. Tidak sekarang. - Baik! Akan kita lakukan dengan caraku!

Dengan caraku! Kau paham itu, Kapten?

Bawa semua pasukan ke atas tebing itu! Bukitnya bisa kita kuasai saat malam hari!

Kurasa bukit itu agak sulit untuk direbut, Pak.

Perlihatkan padaku caramu melihat segalanya.

Perlihatkan padaku caramu melihat segalanya.

Kita hanyalah tanah.

Kita akan terbunuh jika tetap di sini.

Bell, bawalah enam prajurit...

...dan cari tahu ada apa di atas sini.

Dan kami akan melindungimu sebaik-baiknya di bawah sana.

Baiklah.

Kalian tetaplah di sini.

Aku akan pergi sendiri.

Datanglah.

Datanglah di tempat aku berada.

Ada sebuah...

Ada sebuah bunker di atas sana.

Ada lima senjata mesin.

Ada lima senjata mesin.

Titik pertahanan di sekitar bebatuan di atas sana itu...

...merupakan kunci menuju punggung bukit ini.

Perkataan Bell benar.

Dari lokasi itu, mereka bisa melindungi seluruh daerah...

...di depan posisi ini sejauh 914 meter. Mereka biarkan bukit ini tak dijaga.

Itu merupakan sebuah Kesalahan yang fatal.

Kita harus ambil keuntungan dari itu sebelum mereka tahu kesalahan kita.

Baiklah, aku tahu kalau kalian semua sangat lelah...

...dan kita kesulitan mendapatkan air di tempat ini.

Untuk itu, aku minta maaf pada kalian semua.

Tapi jika bisa hancurkan bunker ini besok, kita bisa menguasai bukit ini.

Jadi aku akan meminta para relawan.

Kembalilah ke atas sana dan hancurkan.

Pak?

Aku akan senang kembali ke atas...

- ...dan kembali memandu pasukan. - Benar.

- Aku akan ikut, Pak. - Kau.

Baiklah.

- Akan kupimpin regunya, Kolonel. - Baiklah, John. Tadi sudah kuharapkan.

- Kau yang akan memimpin. - Aku akan ikut, Pak.

Kau.

Baiklah, itu sudah cukup. Tujuh sudah cukup. Berkumpullah.

Entahlah kalau kau menyadari pentingnya operasi ini, Staros.

Begitu posisi kita aman, pesawat pengebom bisa beraksi.

Itu artinya kekuatan udara sejauh seribu mil di setiap penjuru.

Guadalcanal mungkin menjadi saat yang menentukan dalam perang ini.

- Butuh pengorbanan. Itu mengganggumu? - Tidak, Pak.

Aku sudah jelaskan pentingnya tujuan perang ini padamu.

Berapa banyak menurutmu yang sepadan? Berapa banyak nyawa yang hilang?

Entahlah, Pak.

Apa kau siap korbankan nyawa anak buahmu dalam perang ini?

Berapa banyak? Satu? Dua?

Dua puluh?

Akan ada banyak yang tewas dalam pasukanmu, Kapten.

Dan jika kau tak punya keberanian untuk itu, sekarang waktunya memberitahuku.

Tidak, Pak. Semua yang Anda katakan itu benar.

Baiklah.

Itu saja, Kapten.

Satu hal lagi, Staros.

Tak perlu bagimu mengatakan bahwa apa yang kukatakan itu benar.

Sama sekali tak penting.

Kita akan sepakat kalau itu benar.

Bubar.

Aku merasa ikut prihatin untukmu, Nak.

- Benarkah? - Ya, sedikit.

Pasukan ini akan membunuhmu.

Jika kau pintar, kau akan menjaga dirimu baik-baik.

Tak ada yang bisa kau lakukan bagi orang lain.

Tadi kau memasuki rumah yang terbakar di mana tak ada yang bisa diselamatkan.

Perbedaan apa yang bisa kau buat? Satu orang dalam kekacauan ini.

Jika kau mati, jadinya akan sia-sia.

Tak ada tempat lain di luar sana yang aman-aman saja.

Hanya ada tempat ini.

Bebatuan ini.

Terus maju! Ayo cepat.

Siapa yang memutuskan siapa yang akan hidup?

Siapa yang memutuskan siapa yang akan mati?

Ini tak ada gunanya!

Lihat aku! Berdiri tegak di sini dan tak ada satu peluru pun.

Tak ada satu tembakan pun!

Kenapa?

Bagaimana bisa mereka semua harus mati?

Aku bisa berdiri tegak di sini dan tak ada apa-apa yang menimpaku!

Kita.

Kita bersama.

Satu kesatuan.

Mengalir bersama seperti air...

...sampai aku tak bisa menceritakannya.

Aku mereguk dirimu.

Sekarang.

Sekarang.

Kau cahayaku.

Pemanduku.

John, aku akan di belakangmu. Jika kau mau menerobos, kami akan ikuti.

Kami akan menyerang saat kau berikan tanda berupa siulan.

Baiklah, ayo, anak-anak. Mari kalahkan mereka.

Baik.

Tetaplah merunduk di tebing ini...

...dan aku akan menentukan koordinatnya dari atas.

Begitu pesawat 81 memborbardir bebatuan itu...

...kita akan merangkak di sepanjang bebatuan besar itu untuk perlindungan...

...dan dekati mereka dari arah kanan.

Mengerti?

Baiklah.

Azimuth 1470 dari Easy Roger 7.

100 ke kiri, tambahkan 200.

Uncle Baker 1, tugas menembak.

Azimuth 1470 dari Easy Roger 7.

Kiri 100, tambah 200.

Senapan mesin. Akan disesuaikan. Ganti.

Diterima. 1470 dari Easy Roger 7.

Kiri 25, titik 50!

Kiri 25, Uncle Baker 1.

Kiri 25, titik 50.

Bersiaplah menembak sesuai koordinat. Ganti.

Diterima, Uncle Baker 1.

Ayo!

Baik, kita akan terus menaiki bukit di sebelah kanan itu.

Tak ada yang menembak atau lemparkan granat sampai aku memberi tanda.

Baiklah, mari kita lakukan.

Apa dia baik-baik saja?

Apa yang akan kita lakukan? Kita tak bisa membawanya.

- Kita tak bisa tinggalkan dia di sini. - Dia anggotamu. Tetaplah bersamanya.

Kita bisa meninggalkannya dan menjemputnya saat kembali...

...kalau dia masih hidup.

- Dia tewas? - Belum.

Dale, tetaplah bersamanya! Lindungi kami! Ayo!

Di belakangmu!

Kami ditembaki!

Mundur!

Ayo!

Awas.

--- Penerjemah: Rizal Adam --- http://rizaladam.wordpress.com

Sudah aman!

Ayo. Keluar.

Ayo.

Kalian pikir diri kalian ini prajurit?

Dasar sampah!

Dasar brengsek!

Kau tak apa-apa?

Aku menembak seseorang.

Bau sekali di sini.

- Bau orang-orang mati ini. - Sumbat hidungmu dengan rokok.

Lihat mereka bergerak!

Kita buat mereka lari!

Bagus, John. Bila mereka melihatmu membuat serangan itu dan menang...

...kau mengembalikan harapan mereka.

Jangan lakukan itu, Prajurit.

Urus yang lain. G-2 akan inginkan mereka. Akan ada yang datang sebentar lagi.

Kita cukup membuang waktu di tempat ini. Ayo pergi.

Pak, aku punya beberapa rekomendasi untuk bintang jasa.

Kita akan dapatkan semua itu untuk mereka, tapi itu nanti saja.

Sementara itu, aku sendiri akan merekomendasikanmu sesuatu, John.

Mungkin sesuatu yang besar.

- Terima kasih, tapi aku tak merasa... - Ya, kau lakukan tugasmu, John.

Mendapatkan itu untukmu akan menjadi masalah!

Tapi itu akan jadi hal besar bagi batalyon dan resimen jika kau mendapatkannya.

Sebaiknya kita bergerak.

Jalur perlu diperluas, bergabung dengan pasukan lain dan terus ke atas.

Kau bersedia memimpin Kompi Baker?

Tentu.

Pak, bukannya aku bermaksud mengeluh, tapi masalah air itu.

Jika kita tak dapatkan air...

Jangan cemaskan masalah air.

John, aku tak mau apa pun merusak serangan ini, kini ada kesempatan.

Akan ada air beberapa jam lagi.

Aku sudah mengaturnya.

Kita tak bisa berhenti begitu saja dan menunggunya.

Tidak, Pak.

Itu benar.

Dan jika ada yang pingsan, mereka akan mati.

Baiklah.

Mereka bisa...

- Mereka bisa mati karena itu. - Juga karena tembakan musuh!

Mereka semua orang-orang yang tangguh.

Ayo bergerak! Kalian sudah cukup melihat-lihat pemandangannya!

Apakah kita akan menaiki bukit ini atau tidak?

John, aku yakin bahwa posisi pasukan Jepang bisa dihancurkan.

Kita hanya terus bergerak dan kita akan menguasai bukit ini.

Kita harus kuasai bukit ini saat matahari terbenam.

Lihat semangat dalam diri mereka? Kau lihat adanya semangat baru?

Aku mau mengambil keuntungan dari itu sebelum sesuatu melemahkan mereka.

Melihat pasukan ini dibubarkan karena kalah...

...bahkan melihat pasukan ini dibantu oleh pasukan cadangan...

...jika kita tertahan sebelum mencapai puncak...

...itu adalah hal yang tak bisa kutanggung!

Aku sudah menunggu ini sejak lama.

Aku telah bersusah payah berusaha untuk mendapatkan kesempatan ini!

Dan aku tak bermaksud untuk menyerah sekarang.

Kau tak tahu seperti apa rasanya diabaikan.

Kau masih muda. Baru saja lulus dari Akademi.

Kau sudah dapatkan perangmu! Ini sudah 15 tahun, ini perang pertamaku!

John, kelak kau akan mengerti.

Kau kuanggap seperti putraku sendiri, John.

Kau tahu apa pekerjaan putraku?

Dia penjual umpan untuk memancing.

Kau selesaikan tugas dengan baik, John.

Akan kupastikan kau dapatkan semua yang memang layak kau dapatkan.

Terima kasih, Pak.

Aku menginginkan tiga prajurit kurir!

Carikan aku tiga prajurit kurir!

Kalian pergilah ke belakang mencari air...

...dan kembalilah kemari dengan membawa itu secepatnya!

Kita menyerang sejam lagi! Lemparkan semua yang kita miliki ke arah mereka.

Kita akan terus! Tak ada yang akan hentikan kita.

Kita akan menang saat malam tiba!

Kau sudah melihat banyak orang yang tewas?

Cukup banyak.

Mereka tak ada bedanya dengan anjing mati...

...begitu kau sudah terbiasa dengan ide itu.

Mereka itu daging, Nak.

Apakah kau adil? Baik hati?

Apakah kau meyakini ini?

Apa kau dicintai oleh semua orang?

Ketahuilah bahwa aku juga dicintai.

Kau bayangkan penderitaanmu akan berkurang sebab kau cinta kebaikan?

Kebenaran?

Berlututlah! Berlutut!

Tiarap. Tetaplah di situ.

Berlututlah! Berlutut!

Sekarang!

Kejahatan besar ini.

Dari manakah asalnya?

Bagaimana kejahatan itu memasuki dunia ini?

Dari tanaman apa benih itu berasal?

Siapa yang lakukan ini?

Siapa yang sedang membunuhi kami?

Merampok hidup dan cahaya kami.

Mencemooh kami dengan pemandangan yang mungkin sudah kami ketahui.

Apakah kehancuran kami menguntungkan Bumi ini?

Apakah ia yang membantu rumput tumbuh atau matahari bersinar?

Apa kegelapan ini juga ada di dalam dirimu?

Apakah kau telah melewati malam ini?

Aku akan mengunyah hatimu.

Kau sekarat.

Lihat burung-burung di atas sana?

Kau tahu mereka akan memakan dagingmu mentah-mentah?

Di mana pun asalmu, kau tak akan kembali ke sana.

Kau ini siapa bagiku?

Bukan apa-apa.

Duduklah.

Staros, aku membebaskanmu dari kepemimpinanku.

Letnan Band akan menggantikan posisimu.

Sudah kuberitahu padanya.

Ini hal yang sulit dilakukan.

Keputusan yang sulit dibuat.

Kurasa kau tak cukup tangguh.

Kau terlalu lembek. Terlalu lunak. Tak cukup tangguh.

Lagipula, aku yang buat keputusan. Aku sudah memutuskannya.

Aku tak suka melihat anak buahku tewas, Pak.

Apa ada yang pernah mati dalam pelukanmu, Pak?

Pernahkah?

Tak kulihat alasan untuk jadikan ini sebagai skandal.

Aku tak mau ini ada di dalam catatan batalyon.

Tak ada alasan bagimu memasukannya dalam catatanmu.

Ini tak ada hubungannya dengan kepengecutan atau ketidakefisienan.

Lihatlah hutan ini.

Lihat tumbuhan merambat itu, caranya membelit pohon, menelan semuanya.

Alam itu kejam, Staros.

Akan kuizinkan kau ajukan permohonan penugasan ulang ke Korps Pengacara AD...

...karena alasan kesehatan.

Kau seorang pengacara.

- Pernah kena malaria? - Tidak.

Itu tak penting. Aku bisa mengurusnya.

Lagipula, kau mungkin akan mendapatkannya.

Aku juga akan merekomendasikan dirimu mendapatkan medali Silver Star.

Aku akan merekomendasikannya dengan sedemikian rupa sehingga takkan ditolak.

Mungkin juga bisa mendapatkan medali Purple Heart.

Alasannya?

Karena luka gores di wajah dan luka sayatan di tanganmu itu.

Dengarkan aku, Staros.

Kurasa sebaiknya kau kembali bersama kelompok yang terluka dan tahanan.

Tak ada gunanya bagimu untuk tetap berada di sini.

Semakin rapat kita rahasiakan ini, semakin baik buat kita semua.

Ini dari Kolonel Tall.

"Kemenangan memberi kami alasan kuat untuk merasa bangga. "

"Ini akan membuktikan adanya tonggak sejarah di pertempuran Guadalcanal. "

"Besok, komandan divisi akan tiba untuk pemeriksaan pasukan. "

"Setelah pemeriksaan, batalyon dari pasukan cadangan akan gantikan kita."

"Pasukan ini akan mendapatkan libur bertugas selama seminggu."

Itu saja.

Jam bagaikan bulan.

Hari bagaikan tahun.

Memasuki abad keemasan.

Berdiri di tepi pantai Dunia Baru.

Aku pasti akan singgah dan mengunjungi kalian...

Tapi...

Aku merasa seperti sendirian saja.

Benarkah?

Kami ingin berterimakasih pada Anda, Pak.

Karena memerintahkan melakukan aksi pengepungan itu.

Karena mengawasi kami.

Menjaga kami tetap bersama.

Kami semua prihatin melihat Anda pergi.

Kami merasa Anda mendapatkan perlakuan buruk.

Aku tak yakin kau benar.

Bagian sulitnya adalah...

...tak mengetahui kalau kalian lakukan tugas dengan baik.

Itu bagian sulitnya.

Tapi itu tak penting. Aku tak peduli.

Aku senang bisa pergi.

Aku senang.

Masih ada waktu. Kita bisa ajukan keluhan.

Untuk apa?

Apa gunanya?

Lagi pula, aku mau pergi.

Biarkan saja.

Apa artinya itu, Pak?

Artinya "Kalian seperti anak-anakku".

Kalian adalah anak-anakku.

Anak-anakku yang tersayang.

Kalian berada di dalam hatiku.

Aku akan membawa kalian kemana pun aku pergi.

Tak ada apa pun yang bisa membuat kalian melupakannya.

Setiap kali kalian memulainya dari awal.

Perang tidak membuat orang menjadi mulia.

Perang membuat orang menjadi tak berhati.

Meracuni jiwa.

Istriku tercinta...

...kau temukan ada yang berbeda dariku karena darah, kotoran dan kebisingan ini.

Aku ingin tetap seperti diriku yang dulu untukmu.

Aku ingin kembali padamu seperti dulu.

Bagaimana kita bisa sampai ke pantai-pantai lainnya?

Menuju bukit-bukit biru itu.

Cinta.

Dari mana asalnya cinta itu?

Siapa yang menyalakannya dalam hati kita?

Tak ada perang yang bisa memadamkannya...

...atau menaklukkannya.

Dulu aku seorang tahanan.

Kau membebaskanku.

Tak peduli seberapa banyak pelatihan yang kau dapatkan...

...seberapa hati-hatinya dirimu...

Hanya masalah keberuntungan saja kau terbunuh atau tidak.

Tak peduli siapa dirimu atau pun seberapa tangguhnya dirimu...

...kalau kau ada di tempat yang salah di waktu yang salah, kau akan mengerti.

Kulihat anak itu sekarat...

...tapi aku tak merasakan apa-apa.

Aku tak peduli apa pun lagi.

Terdengar seperti kebahagiaan.

Aku belum memiliki perasaan itu.

Mati rasa itu.

Tidak seperti kalian semua.

Mungkin karena aku tahu apa yang diharapkan.

Mungkin karena hatiku sudah membeku.

Aku tak menyentuh wanita lain sejak ditugaskan.

Atau berbicara padanya.

Aku tak mau merasakan...

Aku tak ingin merasakan keinginan itu.

Baiklah. Abrahams!

Abrahams. Ini dia.

Stack! Di mana Stack?

Bawa dia keluar.

Bell?

Bell!

Satu lagi untuk Bell.

Jack tersayang...

..aku bertemu seorang kapten AU. Aku jatuh cinta padanya.

Aku ingin bercerai agar bisa menikah dengannya.

Aku tahu kau pasti menjawab tidak, tapi aku akan tetap memintamu...

...melupakan kenangan yang telah kita lalui bersama.

Maafkan aku.

Aku hanya amat kesepian, Jack.

Kelak kita akan bertemu lagi.

Orang-orang yang dekat seperti kita selalu bertemu lagi.

Aku tak berhak bicara seperti ini padamu.

Aku tak bisa menghentikan diriku.

Satu kebiasaan yang begitu kuat.

Kau temanku yang menemaniku melalui masa-masa yang indah.

Bantu aku meninggalkan dirimu!

Siapa namamu?

Kami dulu adalah keluarga.

Bagaimana hubungan ini bisa berakhir dan hancur?

Jadi kini kami saling memusuhi.

Masing-masing berdiri dalam cahaya lain.

Bagaimana bisa kehilangan kebaikan yang sudah diberikan pada kami?

Membiarkannya pergi begitu saja?

Menyia-nyiakannya?

Apa yang membuat kami bisa bersatu?

Menyentuh kemuliaan itu?

Aku sudah lama membunuhmu jika kau seorang tentara Jepang, Witt.

Mereka meninggalkanmu di sini?

Ya.

Aku membuat mereka lamban.

Jangan dipikirkan, sungguh.

Medis mengobatiku dengan cukup baik.

Aku punya cukup banyak amunisi.

Seseorang akan menjemputku pada akhirnya.

- Mereka menembakmu dengan telak. - Kena tepat di lutut.

Ya.

Aku akan pergi dari perang ini selamanya, Witt.

- Apa yang kau lakukan di sini? - Asal kau tahu saja...

...aku akan kembali ke kompi.

Ya.

Sampaikan salamku pada mereka.

Kau bisa ikut denganku jika mau.

Aku akan membantumu.

Tidak, aku tak apa-apa.

Di sini sangat damai.

Aku hanya akan memperlambat mereka. Seseorang akan menjemputku.

Akan kuingatkan mereka.

Baiklah.

Hei, Witt.

Dengan siapa kau membuat masalah hari ini?

Apa maksudmu?

Bukankah itu yang suka kau lakukan?

Berbelok ke kiri saat mereka memerintahkan belok ke kanan?

Kenapa kau suka cari masalah, Witt?

Kau peduli padaku, ya, Sersan?

Aku selalu merasa sepertinya kau peduli.

Mengapa kau selalu merasa dirimu ini tangguh?

Kelak aku bisa datang dan bicara padamu...

...seolah esok hari kita tak pernah bertemu.

Rumahnya kini sepi.

Kau pernah merasa kesepian?

Hanya di sekitar orang-orang.

Hanya di sekitar orang-orang.

Kau masih mempercayai cahaya yang indah itu, ya?

Bagaimana kau lakukan itu?

Kau seorang tukang sulap bagiku.

Aku masih bisa melihat semangat dalam dirimu.

Seorang pria memandangi seekor burung yang sekarat dan berpikir bahwa...

...yang ada hanyalah rasa sakit yang tak terkata.

Tapi kematian punya kata terakhir.

Kematian menertawainya.

Pria satunya lagi yang melihat burung yang sama...

...merasakan kemuliaan.

Merasa sesuatu sedang tersenyum melalui dirinya.

Kita harus pergi dari sini sekarang juga.

- Jelaskan situasinya ke markas? - Jangan.

Mereka tahu keberadaan kita? Sebab kita akan jadi sasaran tembak di sini.

Kurasa itu keputusanku, Sersan.

Kita perlu tugaskan seseorang ke sana dan cari tahu seberapa dekat mereka.

Ini mudah.

Weld, laporkan pada markas tentang hal itu.

Tembakannya semakin mendekat, Pak.

Hubungannya terputus!

Kita perlu tugaskan seseorang untuk cari tahu di mana hubungannya terputus.

Dan kita perlu tahu seberapa dekat mereka.

Ayo.

Baiklah.

Hei, kau.

Kau ikut.

Kau ikut, Fife.

Coombs. Kau juga ikut.

Ayo!

Aku akan ikut. Kurasa semua ini adalah gagasan yang buruk.

Jika mereka kemari dalam jumlah besar, kita akan kalah, Letnan.

Kau tak perlu pergi. Yang lainnya akan ajukan diri.

Aku mau pergi, Pak. Jika hal buruk terjadi, aku ingin berada di sana.

Baiklah. Kau tetaplah berada di pinggir sungai.

Hutan itu terlalu lebat. Dan sangat berhati-hatilah.

Pasti.

Semoga berhasil, Witt.

Kau baik-baik saja, Fife?

Satu batalyon bantuan.

Kita harus kembali.

Beritahu letnan.

Ayo.

Aku tertembak!

Salah satu dari kita tetap di sini dan tahan mereka.

Kita akan baik-baik saja.

Temanku ini tak punya waktu selama itu...

...jadi kau pergilah.

Kau pergilah lebih dulu.

Witt!

Mereka datang.

Aku harus pergi. Aku tak mau kau ketakutan.

Sembunyi saja di sini sampai dengar suara tembakan, lalu teruslah ke hilir.

Tidak.

- Di mana Coombs? - Mundur. Mereka datang.

Mundur.

Di mana Witt? Fife, di mana Witt?

Fife, di mana Witt?

Fife, di mana Witt?

Amerika.

Di mana semangatmu sekarang?

Aku tahu kalian yang membuat minuman ini dan meminumnya.

Tak masalah bagiku.

Semuanya adalah kebohongan.

Siapa saja di pasukanku bisa mabuk semaunya setiap malam.

Semua yang kau dengar dan lihat.

Selama dia masih sehat untuk bangun pagi dan kerjakan tugas yang diberikan.

Kalau dia tak bisa lakukan itu, dia akan dapat masalah dariku.

- Banyak sekali yang terlupakan. - Kuanggap diriku pria berkeluarga...

...dan hanya itu yang kita miliki di sini, suka atau tidak.

Kita adalah satu keluarga.

Aku adalah ayahnya.

Tebaklah apa yang membuat Sersan Welsh ini menjadi sang Ibu.

Mereka terus saja berdatangan, satu demi satu.

Itu yang membuat kalian menjadi anak-anak di dalam keluarga ini.

Satu keluarga hanya punya satu pemimpin, dan itu adalah Ayah.

Ayah pemimpinnya, ibu yang mengelola. Seperti itulah cara kerja di pasukan ini.

- Jika ingin menemuiku soal apa saja... - Kau dalam sebuah kotak.

- ...apa pun itu... - Kotak yang bergerak.

...aku akan selalu ada.

Perang ini tak akan usai menjelang Natal berikutnya.

Perang ini akan lama sebelum kita pulang...

Mereka ingin kau mati.

Atau berada dalam kebohongan mereka.

Hanya satu hal yang seseorang bisa lakukan.

Menemukan sesuatu yang merupakan miliknya.

Membuat sebuah pulau untuk dirinya sendiri.

Jika aku tak pernah bertemu denganmu di dunia ini...

...biarkan aku merasakan kekurangan itu.

Sekilas tatapan darimu, hidupku akan menjadi milikmu.

Sesuatu agar aku bisa kembali. Semacam pondasi.

Entah apa rencana kalian, tapi...

...aku sudah menentukannya. Aku telah melalui kesulitan dan rintangan.

Umurku mungkin masih muda, tapi pengalaman hidupku banyak.

Aku siap menjalani kehidupan dengan baik.

Ayahku selalu bilang, hidup akan memburuk lebih dulu sebelum membaik.

Sebab hidup seharusnya tidak sulit saat kau masih muda.

Kurasa setelah ini, yang terburuk akan hilang.

Waktu untuk semua hal jadi membaik. Itu yang kuinginkan.

Itulah yang akan terjadi.

Kini aku semakin menua.

Sama sekali tidak dewasa, namun semakin menua.

Di manakah saat-saat kita dulu bersama?

Siapa dirimu yang pernah hidup bersama denganku?

Dengan siapa aku berjalan?

Saudara.

Teman.

Kegelapan dan cahaya.

Pertengkaran dan cinta.

Apakah mereka bekerja bersama-sama?

Sosok-sosok dari wajah yang sama?

Oh, jiwaku...

...biarkan aku berada dalam dirimu sekarang.

Mengawasi melalui mataku.

Mengawasi semua yang kau buat.

Semua masa-masa yang menyenangkan itu.

Sumbawa, 20 Agustus 2011

Email: rizaladam@yahoo.com

--- Penerjemah: Rizal Adam --- http://rizaladam.wordpress.com

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.