Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Begini caranya buat bola.
Ikat yang kuat.
- Bolanya sudah jadi. Ayo main. - Ayo!
- Yuk. - Abdi!
Sebelum magrib, harus sudah pulang, ya?
Iya, Pak!
- Yuk! - Yuk!
Ini!
Gol!
Gol!
Sudah sore. Balik, yuk.
Nanti dulu, kamu saja yang pulang.
- Yuk, pulang. - Yuk.
- Yuk, pulang. - Dicari Bapak.
Ayo pulang.
Yah!
Alah! Kamu tendang ke mana, Tris?
Sepertinya di sini.
Sudahlah. Besok saja. Sudah gelap.
Ah, sudahlah.
Abdi, Sutrisno.
Sini.
Suara siapa itu?
Ha?
Sini.
Hei, bolaku!
Tris! Duh…
Ah, waduh.
Tris!
Sutris, kamu di mana?
Ha?
Pak! Tolong, Pak. Sutrisno, Pak!
Pak!
- Abdi, di mana? - Di sana, Pak.
- Ayo. - Ayo, yuk!
Ini darah siapa?
Pak! Di sungai, Pak!
- Di sungai! Ayo! - Ayo!
Di sungai! Ayo, cepat!
- Ayo! - Awas, Pak!
Trisno! Anakku!
Trisno, anakku!
Aku tidak mau tahu.
Bocah ini harus diadili.
Dia yang dorong anakku ke jurang.
Jangan asal menuduh!
Pak, anak perempuan itu
yang memukul kepala Sutrisno pakai batu.
Anak perempuan siapa?
Semua anak-anak sudah ada di rumah.
Bukan saya, Pak! Sumpah!
Percaya, Pak.
Dasar pembunuh!
Tunggu!
Saya percaya padamu.
Pak Sabdo?
Ternyata anak itu masih ada.
Siapa maksudmu?
Sumala.
Sumala?
Sumala, Pak.
Si anak iblis.
Semua dimulai 29 tahun yang lalu.
Meneer Hansen menyampaikan salamnya.
Dia senang putrinya yang menjadi istrimu, Soelastri,
dirawat dan hidup mewah.
Tolong sampaikan salamku kembali padanya.
Ya. Soelastri adalah berlian berhargaku.
Aku tidak akan pernah melepaskannya.
Kamu tahu paman dan bibimu
sudah menyerahkan sebagian besar tanahnya
untuk kemajuan wilayah kita.
Pihak pabrik sudah menyiapkan semuanya.
Tinggal tanahmu yang mereka butuhkan.
Paklik,
sudah sering kita membahas soal ini.
Tapi kamu belum membuat keputusan.
Kalau kamu mau menyerahkannya sekarang,
kita masih bisa membuat perjanjian, dan kamu…
Masih bisa mendapatkan keuntungan sebagian dari pabrik.
Saya sudah katakan berulang kali, Paklik.
Saya tidak akan pernah melepaskan tanah milik saya kepada siapa pun.
Tanah keluarga Hastungkara!
Ini.
Dokumen yang kamu butuhkan.
Izin pabrik itu sudah kuurus.
Bacalah baik-baik.
Wah.
Paklik dan Meneer.
Mengapa tidak mengabari dulu kalau mau mampir?
Bisa kami persiapkan tempat istirahatnya.
Silakan, Kang.
Aku hanya mampir sebentar.
Suamimu sudah tahu tujuanku.
Baiklah kalau begitu, Paklik.
Silakan diminum.
Silakan, Meneer.
Silakan selesaikan apa yang Paklik ingin sampaikan.
Bila saja istriku seperti Soelastri.
Dalam 11 tahun pernikahan,
setidaknya aku sudah mempunyai delapan anak.
Untuk menjaga tanah waris.
Jadi, antara sekarang, atau nanti tanpa waris.
Aku bisa menguasai seluruh tanah Hastungkara.
Waktu selalu menjadi musuh kita, Djiman.
Paklikmu bersikeras lagi, Kangmas?
Jangan kamu pakai lagi kebaya itu.
Buang kalau perlu.
Saya tidak suka.
Tapi ini hadiah darimu, Kangmas.
Dari mana kamu pagi tadi?
Matahari sudah tinggi.
Pasar pun sudah terlalu ramai.
Tadi saya beli jamu penguat rahim.
Beberapa bulan lagi, saya akan…
Cari cara lain.
Tolong beri saya waktu lagi.
Bagaimana kalau saya yang bicara dengan paklikmu?
- Kangmas. - Apa? Ada apa?
Kamu pikir saya tidak bisa
menghadapi pamanku yang rakus itu? Ha?
- Bukan begitu, Kangmas. - Semua perkebunan ini…
Warisan kekayaan orang tuaku.
Hasil kerja kerasku.
Tidak akan pernah kuberikan pada pamanku yang rakus itu.
Mengerti, kamu?
- Kangmas. - Tidak apa-apa!
Saya masih bisa berdiri tegak sendiri.
Kamu…
Urus saja rahimmu.
Memiliki anak
juga amanah almarhum orang tuaku.
Jika sampai tahun depan
kamu belum bisa memberikan saya keturunan…
Saya harus
menikah lagi.
- Ayo, cepat. - Mau ke mana?
Lah, kamu lupa? Istri aku tidak bisa hamil.
- Tidak bisa hamil? - Iya.
Lah terus?
Aku mau antar istriku ke Mbok Tukinah di desa seberang.
Mbok Tukinah siapa?
Ibu tua yang katanya bisa kasih keturunan.
Memang sudah ada hasilnya?
Kata istriku, sudah.
- Sudah? - Sudah.
- Benar? - Iya.
Ini Pak Yanto, yang bisa bantu menyeberang ke sana.
Den Ayu.
Pak Yanto?
Bisa antarkan ke desa seberang, Pak?
Mbok?
Ada yang mau ketemu.
Apa kamu sudah tahu
kalau minta tolong ke saya itu beda
dengan kamu minta tolong ke dukun-dukun lain?
Ilmu saya beda.
Ilmu hitam.
Dan kamu harus menjalankan ritual.
Dan ini bukan main-main.
Dengan ritual ini,
kamu akan terikat dengan tuanku.
Tuan?
Tuan siapa?
Tuanku…
Iblis.
Kalau kamu mau…
Kamu nanti akan bisa punya dua anak sekaligus.
Dua?
Tapi kalau tidak mau, ya, tidak apa-apa.
Mau.
Oh.
Tapi ada syaratnya.
Apa syaratnya?
Kamu akan mengandung anak kembar.
Yang satu cantik dan baik hati dari bangsa manusia.
Dan yang satunya lagi,
buruk rupa dan nakal, dari bangsa iblis.
Kalau mereka lahir,
kamu dan suamimu harus merawat mereka dengan baik-baik
sampai usia mereka sepuluh tahun.
Setelah itu,
si anak yang buruk rupa dan nakal itu akan pergi.
Diambil oleh si pemiliknya.
Ya?
Si iblis itu sendiri.
Tapi…
Kalau kalian tidak merawat mereka dengan baik-baik,
maka hal buruk akan menimpa kamu sekeluarga.
Setiap tahun akan semakin buruk.
Siang dan malam tidak akan sama lagi.
Wahai iblis.
Di sini ada manusia
yang menginginkan bantuanmu.
Satukan
dia denganmu.
Kabulkan keinginannya.
Ikatlah dia dengan dirimu.
Perempuan ini akan menyembah iblis.
Dua bulan lagi,
kamu pasti hamil.
Betul, sudah hamil.
Dua. Anak kembar, Ndoro.
Terima kasih, Diajeng.
Mbah Tukinah sakti, ya?
Diajeng baru sekali dipijat,
langsung isi.
Nanti,
mau dikasih nama siapa?
Laki-laki atau perempuan?
Perempuan.
Kumala.
Satu lagi?
Sumala.
Sumala.
Sukir?
Ya, Den?
Sampaikan ke seluruh penduduk desa.
Ndoro Ayu sudah hamil
calon penerusku.
Bapak Ibu,
demikianlah proses siramannya.
Ya, Ndoro. Tarik.
Lagi, Ndoro. Tarik napas.
Aduh…
Den Bagus.
Jangan masuk dulu, ya?
Biar Simbok dan Mbok Darni yang urus Den Ayu.
Maafkan.
Lagi, Ndoro. Tarik.
Lagi, Ndoro.
Ya, Ndoro.
Tarik.
Ayo, Ndoro. Lagi, Ndoro. Sedikit lagi, Ndoro.
Sedikit lagi. Terus.
Ayo, Ndoro. Sekali lagi, Ndoro.
- Ayo, terus! Lagi! - Iya. Terus.
Napas.
Terus!
Sekali lagi, Ndoro.
Tarik napas lagi, Ndoro.
Lagi. Sedikit lagi, Ndoro.
Lagi, Ndoro. Terus, Ndoro.
Ya. Sedikit lagi.
Ndoro, tarik napas.
Sedikit lagi. Ya.
Ayo. Iya.
Ayo, Ndoro.
- Mbok Sum. - Ya?
Gunting, Mbok Sum.
Nduk?
Nduk?
Mbok Sum.
Ada apa?
Tidak apa-apa, Den Ayu.
- Mbok Sum. Tolong, Mbok Sum. - Ya.
Ayo, Ndoro.
Ayo, Ndoro.
Ayo.
Lagi, Ndoro. Terus, Ndoro. Terus.
Ayo, Nduk, nangis.
Tarik, Ndoro. Ayo, terus. Ayo terus, Ndoro.
Sedikit lagi.
Terus.
Ayo, Ndoro. Terus.
Bangun, ya, Nduk.
- Bangun. - Sudah lahir, ya?
Sudah, Den Bagus.
Apa ini, Mbok?
Anu…
Anu…
Apa itu?
Mohon maaf, Ndoro.
Bayinya cacat.
Cacat?
Iya, Ndoro.
Ih, Ndoro!
Kangmas?
Untuk apa kerisnya, Kangmas?
Kangmas.
Jangan…
Jangan.
Kang Mas.
Den Bagus.
Sudah menangis.
Sukir!
- Sukir! - Iya, Den.
Sampaikan ke seluruh desa.
Anakku sudah lahir.
Calon penerusku.
Ya, Den.
Ayo, belajar lagi jalannya.
Seperti ini. Luruskan kakinya.
Lurus kakinya. Jalan ke sana. Lurus.
Ayo, Kumala.
Sudah tiga tahun,
tapi belum bisa bicara,
belum bisa jalan?
Sementara anak-anak yang lain sudah, lho.
Ternyata hidupnya Soedjiman tidak sesempurna itu.
Maaf, Den Bagus.
Cerutu yang mau diberikan ke para tamu yang mana?
Oh, ya, Mbok.
Cacat?
Aku dengar waktu kecil,
Soedjiman itu kakinya cacat, jalannya pincang.
Sempat jadi aib warga.
Baru setelah dewasa, sembuh dipijat Mbok Darmi.
Ya, dipijat saja Kumala oleh Mbok Darmi.
Sudah, tapi katanya tidak bisa.
Kumala.
Sudah dua jam mainnya. Ayo masuk, Nduk.
Ayo.
Kumala.
Nduk.
Sudah, Nduk.
Kumala.
Jangan, bahaya!
Sudah.
Sudah!
Sudah. Jangan! Jangan, Kumala!
Mbak Kumala, cukup.
Sudah!
Jangan, Kumala!
- Tali. - Ya, Den.
- Sukir, jangan! - Diam.
Tidak!
Kangmas. Sudah, Kangmas.
Jangan!
Anak ini gila.
Gendeng!
Jangan!
- Den Bagus… - Diam!
- Tunggu di situ! - Jangan, Den.
Diam.
Kumala!
Kumala?
Tidak ada, Den Ayu.
Sudah dicari di kebun?
Sudah, Den.
Pekerja sudah mencari. Memang tidak ada.
Dapat, tidak?
- Bagus! - Ini.
Siapa itu?
Anaknya Pak Soedjiman.
Kumala.
Bapakku kerja di kebunnya.
Katanya, anaknya sinting.
Pegang.
Kumala?
Sini.
Ini.
Sini.
- Gus! - Kena!
Den Bagus.
Saya mohon, jangan.
- Sukir. - Ya, Den.
Ambil cambuk.
Ya, Den.
Kamu ini sudah diberi tahu.
Jangan keluar rumah.
Malah nekat main jauh sampai ke pasar.
Membuat malu!
Ini, Den.
Ampun, Den Bagus.
Jangan.
- Ampun, Den. Jangan. - Sini.
Ibu?
Kangmas.
Ibu.
Ibu!
Ya Allah, Gusti.
- Sakit, Mbok. - Maafkan Simbok, Cah Ayu.
Sudah. Sudah, Cah Ayu.
Simbok tutup, ya.
Biar tidak sedih lagi,
Cah Ayu mau main piano?
Iya? Ayo.
Sini, Simbok tuntun ke sana.
Hati-hati, ya.
- Nak. - Hmm?
Kumala.
Besok, Kumala ulang tahun yang kedelapan.
Simbok buat kado.
Kado?
Iya.
- Terima kasih, Mbok. - Iya.
Denok suka?
Sayangnya Simbok.
Simbok sayang Denok.
Kumala.
Kumala.
Di sini.
Kamu siapa?
Aku Sumala.
Kembaranmu.
Bapak Ibu tidak pernah cerita
kalau kamu punya kembaran?
Mereka jahat!
Mereka bunuh aku…
Karena aku jelek!
Jangan takut.
Aku tidak akan jahat pada kamu.
Aku sayang kamu, Kumala.
Saudara kembar tidak mungkin saling menyakiti.
Tapi melindungi.
Kumala.
Kumala ingin teman, 'kan?
Lah, aku?
Aku ini temanmu.
Sahabatmu.
Mulai sekarang,
siang malam akan beda.
Heh! Buat berisik saja!
Sudah malam ini!
Den Bagus…
Urus anakmu.
Iya, Kangmas.
- Mbok Sum. - Iya, Den Ayu.
Mbak Kumala?
Yang sabar, ya?
Apa lagi?
Ada apa, Kangmas?
Den Bagus…
Tidak. Aku tidak apa-apa.
Kamu ini kenapa?
Ha?
Tidak!
Kalau kamu masih berani denganku,
kamu akan kuhukum seperti ini setiap hari!
Bu.
Bu…
Kamu kok berani dengan ayahmu?
- Bu. - Sudah.
- Diam saja. - Lastri!
Bu…
Simbok buat gudeg kesukaan Mbak Kumala.
- Minta teh. - Baik, tunggu sebentar.
Kamu tidak sopan!
Sukir!
- Tali! - Iya, Den!
Hei. Sini, turun.
Lepaskan!
Jangan, Kumala! Sudah!
Berani kamu…
- Bocah gila! - Kumala!
Mbak Kumala!
Kumala?
Mbak Kumala? Kamu di mana?
Mbak Kumala?
- Mbok Sum. - Iya.
Mbak Kumala, lagi ngapain?
Duh, Gusti.
Nduk.
Semalam itu kok…
Kumala seperti itu kenapa?
Kok bandel sekali?
Yang bandel bukan Kumala,
tapi…
Sumala.
Sumala?
Sumala siapa?
Barusan nyebut nama siapa?
Sumala, Den Ayu.
Den Ayu, ada apa?
- Sukir, Den Ayu mau ke mana? - Ha?
Tak tahu. Katanya mau ke pasar.
Tapi tidak mau diantar.
Sudah, ya.
Nak, bantu Simbok, ya?
Bentar, ya, Bu. Aku lapar sekali.
Kesempatan.
Simbok mau menyusul Den Ayu.
Ada yang mau dibeli di pasar.
Kamu temani Kumala, ya?
Iya.
Ya sudah, selesaikan dulu makannya.
Pak?
Tolong antarkan ke Mbah Tukinah.
Mbok Tukinah sudah meninggal bulan lalu.
Sudah meninggal?
Sudah meninggal…
Den Ayu.
Mbok Sum.
Mohon maaf.
- Aku salah. - Iya.
Ada masalah apa, Den Ayu?
Aku sudah buat
perjanjian dengan iblis.
Ya Tuhan.
Ya Tuhan.
Tidak mau! Tidak!
Tidak! Pak Sukir, lepas! Lepas!
Tidak mau, lepas!
Tidak!
Lepas!
- Cancang. - Tidak!
Yang kencang!
Tidak! Lepaskan!
Diam.
Sut.
- Jangan! - Sut.
Diam.
Nanti saya gorok lehermu.
Sut.
Den Bagus.
Saya mohon.
Jangan kurung Mbak Kumala setiap malam di gudang.
Lalu kamu senang lihat aku mati?
Ha?
Anak ini sudah berani tusuk aku.
Berani nyerang orang lain.
Setiap malam tingkahnya makin mirip binatang.
Makin lama, makin beringas.
Tapi kasihan, Den Bagus.
Alah.
Tidak usah atur-atur.
Nduk?
Nduk?
Mbok?
Mbok?
Tidak boleh sedih, ya?
Simbok tidak peduli siapa pun Kumala.
Simbok tetap sayang Kumala.
Ya, Nduk?
- Kumala. - Ha?
Kumala?
Main, yuk.
Sini!
Ini bola!
Ayo, bermain di sana.
Di sana.
Tahu.
- Eh! - Kumala.
Kumala.
Tendang, Kumala. Tendang.
Cacat!
Cacat!
Cacat!
- Jangan begitu! - Kenapa?
Kasihan.
Tuh, dia nangis, ah.
Hus.
Jangan begitu. Pakai ini saja.
Yah, cemong!
Ya Gusti, Nduk!
Hei!
Hei!
Kenapa kalian nakal?
Tidak boleh!
Sana pergi! Hei!
Nduk!
Yang sabar.
Yang sabar.
Apa itu?
Sama seperti biasanya.
Setiap malam, anak itu memang cuma buat ribut.
Tapi ini lebih keras dari biasanya, Kangmas.
Salahmu, dari siang disuruh ambil air, tidak diambil-ambil.
Iya, Bu! Aku ambilkan!
Supri.
Sini, ayo main.
Alah! Siapa, sih?
Malam-malam begini ngajak main.
Rasain basah. Makanya jangan ganggu aku.
Ha?
Sut! Karyo!
Apa lagi?
Ibuku aneh-aneh saja.
Aku mengantuk, malah disuruh-suruh.
Ya.
Tapi kasihan pamanmu.
Tidak ada yang urus antarkan makanan.
Tambah sakit.
- Sukro! - Sukro?
Karyo.
Sukro!
Tole!
- Tole, Supri! - Tole!
Supri!
- Bagaimana ini? - Di mana?
Mau dicari ke mana lagi?
Anak ini sudah hilang tiga hari.
Bagaimana, ya, anak ini?
Pergi kok tidak kasih tahu?
- Sukro! - Sukro!
- Sukro! - Karyo!
- Karyo! - Sukro!
- Karyo! - Sukro!
Izin menyampaikan, Pak Kades.
Semua warga sudah mencari anak-anak.
Sampai ke dusun sebelah.
Baiklah.
Kalau begitu, pencariannya diperluas lagi. Ya?
Saya akan koordinasikan dengan kepala-kepala desa lainnya.
Bapak-Bapak!
Yang penting jaga anak-anak,
jangan sampai keluar rumah setelah magrib, ya?
- Jono. - Hmm?
Bapak-bapak belum selesai?
Di rumahnya Pak Kades?
Sepertinya iya. Mungkin sampai subuh?
Apa Supri, Karyo, dan Sukro
dimakan buaya?
Takutnya diterkam harimau di hutan.
Ya, itu kalau benar. Kalau jadi-jadian, bagaimana?
Sudah! Sembarangan semuanya.
Paling mereka hanya ingin menjahili kita.
Tidak mungkin.
Masa sampai sejauh ini?
Ya, bagaimana?
Bolaku hilang.
Siapa yang berani ambil?
Ha?
Kumala?
Kumala?
Sini.
Mau apa?
Mau main bola?
Baiklah. Nah.
Bagaimana bisa menendang?
Iya, 'kan?
- Jon! Kenapa, Jon? - Jon!
Sut.
Apa itu yang dipegang?
Hei, siapa yang mau kamu tusuk?
Dengarkan kalau aku bicara!
Wah!
- Jono! - Kurang ajar!
Kubunuh kamu!
Parto!
Parto!
Jangan!
- Karyo! - Karyo!
- Nak! - Sukro!
Kamu di mana, Nak?
Paklik Sarno!
Ada apa?
- Itu. - Apa itu?
- Coba buka. - Cepat, Min.
- Buka, Min! - Buka!
- Astagfirullah! - Apa ini?
Sukro!
Astagfirullah!
- Sukro! - Sabar.
Istigfar.
Apa ini?
Apa ini?
Nak, tolong.
- Apa ini? - Kenapa, Bu?
- Tolong dilihat. - Ha?
Ada mayat.
Pak, tolong!
Tolong.
Pak!
Aduh, apa itu?
Apa ini…
- Ada apa ini? - Awas, minggir.
Den Bagus.
Den!
Di kebun.
- Apa? - Ada apa?
Ayo.
Minggir!
Dia di sana!
Soedjiman!
Keluar kamu, Soedjiman!
Apa lagi ini?
Hei, Sukir! Mana Soedjiman?
Mana?
- Ada apa? - Itu orangnya.
Ada apa ini?
Kamu telah membunuh anak-anak kami!
Bunuh siapa?
Sembarangan kalian!
Apa buktinya?
Soedjiman.
Kalau memang benar bukan perbuatanmu,
lalu siapa lagi?
Apakah anakmu?
Seperti ini buktinya!
- Mengaku! - Ini kutemukan di hutan.
- Di samping mayat Sukro dan Karyo! - Den Ayu?
- Ayo mengaku! - Mengaku!
Ini punya anakmu, 'kan?
Mengakulah, Soedjiman!
Dia tidak mungkin melakukan itu.
Dasar anakmu gila!
Ya! Anakmu itu tidak waras!
Hei.
Hati-hati kamu.
Jaga mulutmu.
Pulang.
Bubar sekarang.
Ayo pulang!
Biar saya selesaikan urusan ini dengan Kepala Desa.
Kalian jangan suka asal menuduh!
Pulang! Ayo pulang!
- Balik. - Bubar!
Anak itu…
Sepanjang hari ada di kamar.
Setiap malam di gudang.
Tidak mungkin bisa kabur.
Saya harus memastikan
bahwa selama Kumala dikunci di gudang ini setiap malam,
dia tidak mungkin bisa keluar.
Lastri.
Tetap tidak mungkin Kumala yang melakukan.
Bukan Kumala.
Tapi Sumala.
Siapa Suma…
Kumala pernah menyebutkan nama itu, Kangmas.
Dan aku juga pernah melihat langsung.
Wajahnya mirip sekali dengan Kumala.
Tapi dia tidak cacat.
Gerakannya aneh.
Dan dia selalu ada di belakang Kumala.
Kenapa Diajeng tidak bilang dari dulu,
baru sekarang?
Seharusnya Kangmas merawat dia.
Bukan membunuh dia!
Ini semua gara-gara kamu!
Semua jadi berantakan!
Kumala.
Bapak mau tanya.
Apa Sumala
yang membunuh anak-anak itu?
Hmm?
Bapak tidak akan marah.
Bapak janji.
Iya.
Sumala.
Aku sudah bilang jangan.
Tapi dia ingin bunuh
semua yang sudah jahat pada aku.
Sukir!
Sukir!
Ya, Den?
Pasung Kumala.
Pasung?
Iya.
Sekarang.
Baik, Den.
Kangmas.
Mau pergi ke mana, Kangmas?
Saya harus pergi.
Sudah saatnya minta bantuan ke Pak Kusno.
Tapi itu jauh sekali. Saya temani.
Tidak usah. Diajeng di sini saja.
Jaga anakmu.
Kangmas.
Saya tidak berani.
Tidak usah takut.
Ada Sukir yang jaga di sini.
Sut.
Nduk.
Kok nasib kamu mengenaskan?
Mbok.
Besok ulang tahunku.
- Yang kesepuluh. - Iya.
Mbok ingat.
Tapi Simbok belum buat hadiah untuk Kumala.
Kumala mau apa?
Aku mau Mbok pergi yang jauh sekarang juga.
Sekarang, yang jauh.
Ya, Mbok, ya? Jauh, ya?
Maksudnya apa?
Aku tidak mau Mbok kena bahaya.
Ya, Mbok, ya? Yang jauh. Sekarang.
Kalo Simbok pergi,
siapa yang mau mengurus Kumala, Nduk?
Terima kasih, Mbok.
Selama ini sudah baik pada Kumala.
Kumala sayang Simbok.
Nduk.
Simbok sayang sekali dengan Kumala.
Yang luas sabarmu, Nak.
Hati-hati, Cah Ayu.
Mbok?
Mau ke mana?
Kita harus segera pergi dari rumah ini, Nak.
Harus pergi?
Kenapa Mbok?
Nanti Simbok ceritakan.
Ayo.
Ayo.
Ini, dimakan!
Tidak enak.
Kamu ini…
Makanan enak tidak mau.
Maumu apa?
Itu?
Apa yang kamu makan?
Masa bodoh. Kudoakan perutmu sakit.
Ya. Ini enak.
Gurih.
Anak gila.
♪ Pada penguasa segalanya ♪
♪ Ada jiwa tanpa rasa ♪
♪ Membuat jiwa dan rasa ♪
♪ Jadi tidak beraturan ♪
Ada apa, Pak?
Apa yang sudah istrimu lakukan?
Dia sudah bersekutu dengan iblis
demi bisa mendapatkan keturunan.
Dia mengandung anak kembar.
Satunya cantik, anak manusia.
Satunya buruk rupa, anak iblis.
Kalian harus merawat kedua anak itu
sampai usia sepuluh tahun.
Setelah itu,
anak buruk rupa itu akan diambil iblis,
dan kalian bisa hidup bahagia.
Tapi kamu malah membunuhnya.
Iblis sangat marah.
Lalu bagaimana, Pak?
Tengah malam ini
akan sangat berbahaya.
Tepat sepuluh tahun umur Kumala,
dia akan sepenuhnya dikuasai oleh Sumala.
Siang akan jadi seperti malam.
Tidak ada bedanya.
Apa masih ada cara
yang memungkinkan
supaya anak saya bisa diselamatkan?
Sumala harus dikeluarkan dari badan Kumala.
Kalau tidak,
selamanya Kumala akan menjadi Sumala, si anak iblis itu.
Pakai kerisku ini kalau dia melawan.
Ini bisa melemahkannya.
Bawa dia ke sini. Aku akan siapkan ritual
untuk mengeluarkan Sumala dari Kumala.
Tapi kalau sudah terlambat,
kamu terpaksa harus menusuknya.
Tepat di jantungnya.
Anak iblis tidak boleh hidup di dunia ini.
Sukir.
Anak gila.
Hei, sedang apa kamu di situ?
Kok kamu bisa lepas dari pasung?
Ha?
Oh?
Kamu pura-pura menangis?
Mau bermain-main denganku?
Gila.
Jangan.
Jangan!
Ampun.
Ampun.
Hei, Blentong!
Kugorok lehermu!
Pelan-pelan, ya?
Agar lebih enak sakitnya.
Minta maaf, Nak.
Kumala.
Kumala siapa?
Nduk.
Nduk.
Ibu.
Main, yuk.
Main iris-irisan daging.
Kamu pelacur.
Pelacur! Pelacur istrinya setan!
Kamu pelacur! Pelacur, istrinya setan!
Ha?
Kumala, jangan.
Satu kaki lagi, ya, Bu?
Kenapa geleng? Sakit, Bu?
Waktu aku ditusuk juga sakit.
Ampun.
Ibu tidak merawat anak Ibu dengan baik.
Ibu mau merawatmu, Nduk.
Bapakmu yang membunuhmu, bukan Ibu!
Tapi kenapa Ibu tidak merawat Kumala dengan baik?
Semua yang Ibu lakukan,
itu untuk melindungi Kumala.
Melindungi Kumala
atau Ibu sendiri?
Ibu mengerti.
Cara Ibu salah.
Boleh Ibu bertemu Kumala?
- Ibu? - Kumala.
Ibu.
Ibu.
Bu.
Ibu minta maaf, ya, Nduk.
Ibu sudah gagal…
Jadi ibu yang baik untukmu.
Maafkan Ibu, ya, Nduk.
Aku maafkan Ibu.
Tapi aku tidak.
Lastri.
Lastri!
Lastri!
Lastri…
Lastri!
Ini salahku.
Ini salahku!
Aku minta maaf sebesar-besarnya, Istriku.
Bapak.
Tolong, Pak.
Bapak lupa denganku?
Cacat lagi, Pak?
Pak Soedjiman?
- Ada apa, Pak? - Kenapa, Pak?
Istri saya…
Mati.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Kok bisa, ya?
Astaghfirullahaladzim!
Siapa yang tega melakukan ini?
- Sukir! - Astagfirullah!
Baiklah. Bapak-Bapak!
Periksa sekitarnya.
Kalian ikut saya.
- Ayo! - Yuk!
Astaghfirullahaladzim.
Astaghfirullahaladzim.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Kuma…
Kumala.
Kumala yang melakukan ini semua?
Bukan. Bukan Kumala!
Tapi…
Kita harus cari Kumala.
Harus cari Kumala!
Cari sampai ketemu!
Berarti selama ini memang benar.
Kumala yang sudah membunuh anak-anak kita!
- Bukan! - Benar itu!
- Bukan! - Ayo kita cari dia!
- Ayo! - Ayo kita cari dia!
Bukan! Pak…
Bukan Kumala.
Bukan Kumala! Bukan!
Bukan Kumala!
- Kumala! - Kumala!
Cari Kumala sampai dapat!
Kumala!
Kumala!
Kumala.
Bapak minta maaf.
Atas semua kesalahan Bapak.
Ikut Bapak, ya?
Diobati oleh Pak Kusno.
Si cacat.
Dulu bapak dihina.
Lalu bapak sembuh, sempurna.
Tapi anak Bapak malah cacat!
Kalau Bapak dulu benci
diperlakukan kejam oleh orang tua Bapak,
seharusnya Bapak tidak kejam ke anak Bapak.
Kalau Bapak dulu rindu kasih sayang orang tua,
anak Bapak juga rindu itu.
Di dunia ini tidak ada yang benar-benar sempurna, Pak.
Iya. Menangislah, Pak.
Tidak apa-apa.
Menangis.
Sejak badan Kumala menjadi milikku,
gigiku menjadi taring…
Mataku menjadi putih,
dan jantungku
sudah tidak di sini.
Tapi di sini.
- Pak Prapto. Bagaimana? - Ayo!
Kumala tidak ketemu juga, Pak.
- Pak Soedjiman? - Tidak ketemu juga.
Aduh!
Kebun jagung. Ayo!
- Ayo! - Kebun jagung!
- Sabdo? - Sabdo!
Kenapa, Do?
- Sabdo. - Kenapa, Do?
Ada apa, Sabdo?
Lihat di sana.
- Ha? - Ha?
Astaghfirullahaladzim!
Pak Soedjiman!
Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.
- Ada apa, Pak? - Pak Kusno mati.
- Kok bisa? - Ya, tidak tahu sakit apa.
- Kenapa? - Ngeri.
- Ada apa? - Gusti Allah.
Mbah Kusno.
Tidak ada yang bisa mengalahkan Kumala setelah ia dikuasai Sumala.
Dan sejak saat itu…
…dia tidak pernah ditemukan.
Makanya, aku selalu ingatkan.
Kalau sudah magrib, semua harus sudah di rumah.
- Iya, Pak. - Jangan pernah keluar malam-malam.
Atau Sumala akan memburumu.
Terutama
anak-anak yang masih berkeliaran saat gelap.
]
Pak, kamu tadi tidak kasih sesajen bersama yang lainnya?
Aku tidak percaya!
Sutrisno mati gara-gara Abdi.
Bukan anak gadis itu.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.