Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[musik mencekam mengalun]
[musik mereda]
[musik pembuka mengalun]
[keriuhan pasar]
[anak 1] Begini caranya buat bola.
[anak 2 berbahasa Jawa] Ikat yang kuat.
- [anak 1] Bolanya sudah jadi. Ayo main. - [semuanya] Ayo!
[semua tertawa]
- [anak 1] Yuk. - [pria berbahasa Indonesia] Abdi!
Sebelum magrib, harus sudah pulang, ya?
Iya, Pak!
- Yuk! - [anak-anak bersahutan] Yuk!
- [anak-anak tertawa] - [anak 3] Ini!
[bersamaan] Gol!
Gol!
[bahasa Jawa] Sudah sore. Balik, yuk.
Nanti dulu, kamu saja yang pulang.
- [anak 4] Yuk, pulang. - [anak-anak bersahutan] Yuk.
- [anak 4] Yuk, pulang. - [anak 5] Dicari Bapak.
[anak 6] Ayo pulang.
[Sutrisno] Yah!
Alah! Kamu tendang ke mana, Tris?
[mengesah]
[musik mencurigakan mengalun]
Sepertinya di sini.
[musik mereda]
Sudahlah. Besok saja. Sudah gelap.
Ah, sudahlah.
[perempuan berbisik seram] Abdi, Sutrisno.
Sini.
[musik menegangkan mengalun]
Suara siapa itu?
[terengah-engah]
- Ha? - [gemeresak]
- [terkesiap] - [gemeresak]
[bernapas berat]
[perempuan berbisik seram] Sini.
[bisikan samar]
[bahasa Indonesia] Hei, bolaku!
Tris! Duh…
[musik makin intens]
[Abdi] Ah, waduh.
Tris!
[bahasa Jawa] Sutris, kamu di mana?
Ha?
[bernapas berat]
[bernapas berat, berteriak]
Pak! Tolong, Pak. Sutrisno, Pak!
Pak!
- Abdi, di mana? - Di sana, Pak.
- [pria 1] Ayo. - [pria 2] Ayo, yuk!
Ini darah siapa?
[pria 3 berbahasa Indonesia] Pak! Di sungai, Pak!
- [pria 4] Di sungai! Ayo! - [warga bersahutan] Ayo!
[pria 5] Di sungai! Ayo, cepat!
- [pria 6] Ayo! - [pria 7] Awas, Pak!
[memekik] Trisno! Anakku!
Trisno, anakku!
[ayah Sutrisno] Aku tidak mau tahu.
[bahasa Jawa] Bocah ini harus diadili.
Dia yang dorong anakku ke jurang.
Jangan asal menuduh!
[bahasa Indonesia] Pak, anak perempuan itu
yang memukul kepala Sutrisno pakai batu.
Anak perempuan siapa?
Semua anak-anak sudah ada di rumah.
[bahasa Jawa] Bukan saya, Pak! Sumpah!
Percaya, Pak.
[bahasa Indonesia] Dasar pembunuh!
- [percakapan samar] - [pria] Tunggu!
[bahasa Jawa] Saya percaya padamu.
Pak Sabdo?
[bahasa Indonesia] Ternyata anak itu masih ada.
[bahasa Jawa] Siapa maksudmu?
Sumala.
[bersamaan] Sumala?
Sumala, Pak.
[bahasa Indonesia] Si anak iblis.
Semua dimulai 29 tahun yang lalu.
[musik dramatis mengalun]
[musik lembut mengalun]
[pria berbahasa Belanda] Meneer Hansen menyampaikan salamnya.
Dia senang putrinya yang menjadi istrimu, Soelastri,
dirawat dan hidup mewah.
Tolong sampaikan salamku kembali padanya.
Ya. Soelastri adalah berlian berhargaku.
Aku tidak akan pernah melepaskannya.
[terkekeh]
[musik lembut berlanjut]
[bahasa Indonesia] Kamu tahu paman dan bibimu
sudah menyerahkan sebagian besar tanahnya
untuk kemajuan wilayah kita.
Pihak pabrik sudah menyiapkan semuanya.
Tinggal tanahmu yang mereka butuhkan.
Paklik,
sudah sering kita membahas soal ini.
Tapi kamu belum membuat keputusan.
Kalau kamu mau menyerahkannya sekarang,
kita masih bisa membuat perjanjian, dan kamu…
masih bisa mendapatkan keuntungan sebagian dari pabrik.
Saya sudah katakan berulang kali, Paklik.
Saya tidak akan pernah melepaskan tanah milik saya kepada siapa pun.
Tanah keluarga Hastungkara!
[musik menegangkan mengalun]
[bahasa Jawa] Ini.
[bahasa Indonesia] Dokumen yang kamu butuhkan.
Izin pabrik itu sudah kuurus.
Bacalah baik-baik.
[wanita] Wah.
Paklik dan Meneer.
Mengapa tidak mengabari dulu kalau mau mampir?
Bisa kami persiapkan tempat istirahatnya.
[berdeham] Silakan, Kang.
Aku hanya mampir sebentar.
Suamimu sudah tahu tujuanku.
Baiklah kalau begitu, Paklik.
[bahasa Jawa] Silakan diminum.
[bahasa Belanda] Silakan, Meneer.
[bahasa Indonesia] Silakan selesaikan apa yang Paklik ingin sampaikan.
Bila saja istriku seperti Soelastri.
Dalam 11 tahun pernikahan,
setidaknya aku sudah mempunyai delapan anak.
[berdecak]
Untuk menjaga tanah waris.
Jadi, antara sekarang, atau nanti tanpa waris.
Aku bisa menguasai seluruh tanah Hastungkara.
Waktu selalu menjadi musuh kita, Djiman.
[Soelastri] Paklikmu bersikeras lagi, Kangmas?
[musik mereda]
Jangan kamu pakai lagi kebaya itu.
Buang kalau perlu.
Saya tidak suka.
Tapi ini hadiah darimu, Kangmas.
[musik sendu mengalun]
Dari mana kamu pagi tadi?
Matahari sudah tinggi.
Pasar pun sudah terlalu ramai.
Tadi saya beli jamu penguat rahim.
Beberapa bulan lagi, saya akan…
Cari cara lain.
Tolong beri saya waktu lagi.
Bagaimana kalau saya yang bicara dengan paklikmu?
- Kangmas. - [bahasa Jawa] Apa? Ada apa?
[bahasa Indonesia] Kamu pikir saya tidak bisa
menghadapi pamanku yang rakus itu? Ha?
- Bukan begitu, Kangmas. - Semua perkebunan ini…
warisan kekayaan orang tuaku.
Hasil kerja kerasku.
Tidak akan pernah kuberikan pada pamanku yang rakus itu.
Mengerti, kamu?
- Kangmas. - [bahasa Jawa] Tidak apa-apa!
[bahasa Indonesia] Saya masih bisa berdiri tegak sendiri.
Kamu…
urus saja rahimmu.
Memiliki anak
juga amanah almarhum orang tuaku.
Jika sampai tahun depan
kamu belum bisa memberikan saya keturunan…
saya harus
menikah lagi.
[berdesah]
- [pemuda 1] Ayo, cepat. - [pemuda 2, bahasa Jawa] Mau ke mana?
[pemuda 1] Lah, kamu lupa? Istri aku tidak bisa hamil.
- [pemuda 2] Tidak bisa hamil? - [pemuda 1] Iya.
[pemuda 2] Lah terus?
[pemuda 1] Aku mau antar istriku ke Mbok Tukinah di desa seberang.
Mbok Tukinah siapa?
Ibu tua yang katanya bisa kasih keturunan.
Memang sudah ada hasilnya?
Kata istriku, sudah.
- Sudah? - Sudah.
- Benar? - Iya.
[musik mengeras]
Ini Pak Yanto, yang bisa bantu menyeberang ke sana.
Den Ayu.
Pak Yanto?
Bisa antarkan ke desa seberang, Pak?
[pintu diketuk]
[Yanto] Mbok?
Ada yang mau ketemu.
[musik menegangkan mengalun]
Apa kamu sudah tahu
kalau minta tolong ke saya itu beda
dengan kamu minta tolong ke dukun-dukun lain?
Ilmu saya beda.
[bahasa Indonesia] Ilmu hitam.
[musik mencekam mengalun]
Dan kamu harus menjalankan ritual.
Dan ini bukan main-main.
Dengan ritual ini,
kamu akan terikat dengan tuanku.
Tuan?
Tuan siapa?
Tuanku…
Iblis.
[batuk]
Kalau kamu mau…
kamu nanti akan bisa punya dua anak sekaligus.
Dua?
Tapi kalau tidak mau, ya, tidak apa-apa.
Mau.
Oh.
Tapi ada syaratnya.
Apa syaratnya?
Kamu akan mengandung anak kembar.
Yang satu cantik dan baik hati dari bangsa manusia.
Dan yang satunya lagi,
buruk rupa dan nakal, dari bangsa iblis.
Kalau mereka lahir,
kamu dan suamimu harus merawat mereka dengan baik-baik
sampai usia mereka sepuluh tahun.
Setelah itu,
si anak yang buruk rupa dan nakal itu akan pergi.
Diambil oleh si pemiliknya.
Ya?
Si iblis itu sendiri.
Tapi…
kalau kalian tidak merawat mereka dengan baik-baik,
maka hal buruk akan menimpa kamu sekeluarga.
Setiap tahun akan semakin buruk.
Siang dan malam tidak akan sama lagi.
[musik menegangkan mengalun]
[bergema] Wahai iblis.
[bahasa Jawa] Di sini ada manusia
yang menginginkan bantuanmu.
Satukan
dia denganmu.
Kabulkan keinginannya.
Ikatlah dia dengan dirimu.
[musik makin intens]
[jeluak]
[bisikan riuh]
Perempuan ini akan menyembah iblis.
[mengerang]
[bernapas berat]
[musik mereda]
[berbisik] Dua bulan lagi,
kamu pasti hamil.
[wanita] Betul, sudah hamil.
[musik pelan mengalun]
Dua. Anak kembar, Ndoro.
[bahasa Indonesia] Terima kasih, Diajeng.
Mbah Tukinah sakti, ya?
Diajeng baru sekali dipijat,
langsung isi.
[terkekeh]
Nanti,
mau dikasih nama siapa?
Laki-laki atau perempuan?
Perempuan.
Kumala.
Satu lagi?
Sumala.
Sumala.
Sukir?
Ya, Den?
Sampaikan ke seluruh penduduk desa.
Ndoro Ayu sudah hamil
calon penerusku.
[musik tradisional Jawa mengalun]
[wanita bernyanyi dalam bahasa Jawa]
[pria berbahasa Jawa] Bapak Ibu,
demikianlah proses siramannya.
- [degar] - [Soelastri memekik]
[terengah-engah]
- Ya, Ndoro. Tarik. - [berembus]
Lagi, Ndoro. Tarik napas.
[merejan]
Aduh…
[Soelastri mengerang]
Den Bagus.
Jangan masuk dulu, ya?
Biar Simbok dan Mbok Darni yang urus Den Ayu.
Maafkan.
Lagi, Ndoro. Tarik.
[mengerang]
[degar]
[Soelastri meringis]
Lagi, Ndoro.
Ya, Ndoro.
- Tarik. - [merejan]
Ayo, Ndoro. Lagi, Ndoro. Sedikit lagi, Ndoro.
[Darmi] Sedikit lagi. Terus.
Ayo, Ndoro. Sekali lagi, Ndoro.
- Ayo, terus! Lagi! - Iya. Terus.
[terengah-engah]
[Darmi] Napas.
[dentang jam]
- Terus! - [merejan]
Sekali lagi, Ndoro.
Tarik napas lagi, Ndoro.
[Darmi] Lagi. Sedikit lagi, Ndoro.
[menggeram]
[Darmi] Lagi, Ndoro. Terus, Ndoro.
Ya. Sedikit lagi.
- Ndoro, tarik napas. - [mengerang]
Sedikit lagi. Ya.
Ayo. Iya.
[berteriak]
[Sum] Ayo, Ndoro.
- Mbok Sum. - [Sum] Ya?
- Gunting, Mbok Sum. - [Soelastri bernapas berat]
[Soelastri terengah-engah]
Nduk?
Nduk?
Mbok Sum.
Ada apa?
[mengesah] Tidak apa-apa, Den Ayu.
[memekik]
- Mbok Sum. Tolong, Mbok Sum. - Ya.
- [merejan] - [Darmi] Ayo, Ndoro.
Ayo, Ndoro.
[Sum] Ayo.
[Darmi] Lagi, Ndoro. Terus, Ndoro. Terus.
[Sum] Ayo, Nduk, nangis.
[Darmi] Tarik, Ndoro. Ayo, terus. Ayo terus, Ndoro.
Sedikit lagi.
- Terus. - [ceplak]
[Darmi] Ayo, Ndoro. Terus.
[berteriak]
- [bayi berteriak] - [musik memuncak]
[bayi menangis]
[Sum] Bangun, ya, Nduk.
- Bangun. - Sudah lahir, ya?
[bayi menangis]
Sudah, Den Bagus.
[musik sedih mengalun]
Apa ini, Mbok?
[tergagap] Anu…
- [menghela napas] - [bayi menangis]
Anu…
[bayi menangis]
[bergetar] Apa itu?
[bayi menangis]
Mohon maaf, Ndoro.
Bayinya cacat.
[bahasa Indonesia] Cacat?
[bahasa Jawa] Iya, Ndoro.
[terisak-isak]
[bayi menangis]
Ih, Ndoro!
Kangmas?
Untuk apa kerisnya, Kangmas?
[musik menegangkan mengalun]
Kangmas.
[bayi menangis]
[bernapas berat]
Jangan…
[bayi menangis pelan]
Jangan.
[Soelastri] Kang Mas.
[para wanita berteriak]
[terengah-engah]
[bayi menangis]
Den Bagus.
Sudah menangis.
[terisak]
[bahasa Indonesia] Sukir!
- Sukir! - Iya, Den.
Sampaikan ke seluruh desa.
Anakku sudah lahir.
Calon penerusku.
Ya, Den.
[mengesah]
[musik mereda]
[Soedjiman] Ayo, belajar lagi jalannya.
[bahasa Jawa] Seperti ini. Luruskan kakinya.
[bahasa Indonesia] Lurus kakinya. Jalan ke sana. Lurus.
Ayo, Kumala.
Sudah tiga tahun,
tapi belum bisa bicara,
belum bisa jalan?
Sementara anak-anak yang lain sudah, lho.
Ternyata hidupnya Soedjiman tidak sesempurna itu.
[Sum berbahasa Jawa] Maaf, Den Bagus.
Cerutu yang mau diberikan ke para tamu yang mana?
[bahasa Indonesia] Oh, ya, Mbok.
- [mengesah] - [tamu wanita 1] Cacat?
Aku dengar waktu kecil,
Soedjiman itu kakinya cacat, jalannya pincang.
Sempat jadi aib warga.
Baru setelah dewasa, sembuh dipijat Mbok Darmi.
[tamu wanita 2] Ya, dipijat saja Kumala oleh Mbok Darmi.
[tamu pria] Sudah, tapi katanya tidak bisa.
[Kumala meniru suara mesin kendaraan]
Kumala.
Sudah dua jam mainnya. Ayo masuk, Nduk.
- Ayo. - [mendesis]
Kumala.
Nduk.
Sudah, Nduk.
[Soelastri] Kumala.
[bahasa Jawa] Jangan, bahaya!
[berteriak]
[berteriak]
- [berteriak] - [bahasa Indonesia] Sudah.
- Sudah! - [menggeram]
[menggeram]
Sudah. Jangan! Jangan, Kumala!
[Sum berbahasa Jawa] Mbak Kumala, cukup.
[Soelastri] Sudah!
Jangan, Kumala!
- Tali. - Ya, Den.
- Sukir, jangan! - [Sukir] Diam.
[Kumala menggerutu]
[Kumala berteriak] Tidak!
Kangmas. Sudah, Kangmas.
[bahasa Indonesia] Jangan!
[bahasa Jawa] Anak ini gila.
Gendeng!
[Kumala] Jangan!
- [bahasa Indonesia] Den Bagus… - Diam!
- Tunggu di situ! - Jangan, Den.
[berteriak]
Diam.
[musik menegangkan mereda]
- [bernapas berat] - [musik sendu mengalun]
[Soelastri] Kumala!
Kumala?
Tidak ada, Den Ayu.
Sudah dicari di kebun?
[bahasa Jawa] Sudah, Den.
Pekerja sudah mencari. Memang tidak ada.
[keriuhan pasar]
Dapat, tidak?
- [anak 1] Bagus! - [anak 2] Ini.
Siapa itu?
[bahasa Indonesia] Anaknya Pak Soedjiman.
[anak 3] Kumala.
Bapakku kerja di kebunnya.
Katanya, anaknya sinting.
Pegang.
Kumala?
[anak 2] Sini.
[bahasa Jawa] Ini.
[anak 2 berbahasa Indonesia] Sini.
[anak-anak tertawa mengejek]
- [anak 1] Gus! - [anak 4] Kena!
- [anak-anak tertawa] - [terisak-isak]
[menangis]
- [musik mereda] - [Kumala terisak]
Den Bagus.
[bahasa Jawa] Saya mohon, jangan.
- Sukir. - [Sukir] Ya, Den.
Ambil cambuk.
Ya, Den.
Kamu ini sudah diberi tahu.
[bahasa Indonesia] Jangan keluar rumah.
Malah nekat main jauh sampai ke pasar.
Membuat malu!
[bahasa Jawa] Ini, Den.
[bahasa Indonesia] Ampun, Den Bagus.
Jangan.
- [Sum] Ampun, Den. Jangan. - [Sukir] Sini.
[merengek] Ibu?
Kangmas.
Ibu.
Ibu!
[memekik]
[musik menegangkan mereda]
- [meringis] - [terisak] Ya Allah, Gusti.
[musik sendu mengalun]
- [bahasa Jawa] Sakit, Mbok. - Maafkan Simbok, Cah Ayu.
Sudah. Sudah, Cah Ayu.
[bahasa Indonesia] Simbok tutup, ya.
Biar tidak sedih lagi,
Cah Ayu mau main piano?
Iya? Ayo.
Sini, Simbok tuntun ke sana.
Hati-hati, ya.
- Nak. - Hmm?
Kumala.
Besok, Kumala ulang tahun yang kedelapan.
[bergumam]
Simbok buat kado.
Kado?
Iya.
[Kumala terkesiap]
[musik bahagia mengalun]
- [bahasa Jawa] Terima kasih, Mbok. - Iya.
[bahasa Indonesia] Denok suka?
[tertawa pelan]
[mengesah]
Sayangnya Simbok.
Simbok sayang Denok.
[musik mereda]
[perempuan berbisik seram] Kumala.
[musik mencekam mengalun]
Kumala.
Di sini.
[kiang-kiut]
[musik mengejutkan mengalun]
Kamu siapa?
Aku Sumala.
Kembaranmu.
Bapak Ibu tidak pernah cerita
kalau kamu punya kembaran?
Mereka jahat!
Mereka bunuh aku…
karena aku jelek!
[bernapas berat]
[bahasa Jawa] Jangan takut.
[bahasa Indonesia] Aku tidak akan jahat pada kamu.
[terkekeh]
Aku sayang kamu, Kumala.
Saudara kembar tidak mungkin saling menyakiti.
Tapi melindungi.
Kumala.
Kumala ingin teman, 'kan?
Lah, aku?
Aku ini temanmu.
Sahabatmu.
[mengesah]
[bahasa Jawa] Mulai sekarang,
siang malam akan beda.
[menghela napas]
- [musik mereda] - [alunan musik piano]
[berdengus]
Heh! Buat berisik saja!
Sudah malam ini!
[Sum] Den Bagus…
Urus anakmu.
Iya, Kangmas.
[terisak pelan]
- Mbok Sum. - Iya, Den Ayu.
Mbak Kumala?
Yang sabar, ya?
[mengesah]
[berdengus]
[bernapas berat]
Apa lagi?
- [musik mencekam mengalun] - [bekertak-kertak]
[Soedjiman berteriak]
[Soedjiman berteriak]
Ada apa, Kangmas?
Den Bagus…
[tersengal-sengal]
Tidak. Aku tidak apa-apa.
[berdengus]
Kamu ini kenapa?
Ha?
[musik menegangkan mengalun]
[Kumala mengerang]
Tidak!
- [Sukir mengesah] - [Kumala berdengus]
[Soedjiman] Kalau kamu masih berani denganku,
kamu akan kuhukum seperti ini setiap hari!
[terisak-isak]
Bu.
[Kumala menangis] Bu…
Kamu kok berani dengan ayahmu?
- Bu. - Sudah.
- Diam saja. - [Soedjiman] Lastri!
Bu… [terisak-isak]
[berembus]
[musik mereda]
[bahasa Indonesia] Simbok buat gudeg kesukaan Mbak Kumala.
[Kumala bergumam]
- Minta teh. - [bahasa Jawa] Baik, tunggu sebentar.
[musik mengerikan mengalun]
[tertawa pelan]
[decur]
Kamu tidak sopan!
[Soedjiman] Sukir!
- Tali! - [Sukir] Iya, Den!
Hei. Sini, turun.
[Sukir terkesiap]
[mengerang]
- Lepaskan! - [Kumala menggeram]
Jangan, Kumala! Sudah!
[menggeram]
[menggeram]
[Sukir] Berani kamu…
[tersengal-sengal, berdengus]
- Bocah gila! - Kumala!
[Sum] Mbak Kumala!
Kumala?
Mbak Kumala? Kamu di mana?
Mbak Kumala?
[Kumala menggeram, mengecap]
- Mbok Sum. - Iya.
[Kumala menggeram]
Mbak Kumala, lagi ngapain?
[musik mengeras]
Duh, Gusti.
[musick mereda]
[Sum berbahasa Indonesia] Nduk.
Semalam itu kok…
Kumala seperti itu kenapa?
Kok bandel sekali?
[musik lembut mengalun]
Yang bandel bukan Kumala,
tapi…
Sumala.
Sumala?
[mengesah]
[bahasa Jawa] Sumala siapa?
[terkekeh]
[bahasa Indonesia] Barusan nyebut nama siapa?
Sumala, Den Ayu.
- [Kumala mengikik] - [bernapas berat]
[tersengal-sengal]
[bahasa Jawa] Den Ayu, ada apa?
[bernapas berat]
[musik mengeras]
[mengesah]
- Sukir, Den Ayu mau ke mana? - Ha?
Tak tahu. Katanya mau ke pasar.
Tapi tidak mau diantar.
Sudah, ya.
Nak, bantu Simbok, ya?
Bentar, ya, Bu. Aku lapar sekali.
Kesempatan. [terkekeh pelan]
Simbok mau menyusul Den Ayu.
Ada yang mau dibeli di pasar.
Kamu temani Kumala, ya?
Iya.
Ya sudah, selesaikan dulu makannya.
[musik menegangkan mengalun]
Pak?
Tolong antarkan ke Mbah Tukinah.
Mbok Tukinah sudah meninggal bulan lalu.
Sudah meninggal?
[mengesah]
Sudah meninggal…
[bernapas berat]
Den Ayu.
[berbisik] Mbok Sum.
- Mohon maaf. - [terengah-engah]
- Aku salah. - Iya.
Ada masalah apa, Den Ayu?
[terisak pelan]
Aku sudah buat
perjanjian dengan iblis.
Ya Tuhan.
Ya Tuhan.
[musik mereda]
- [Kumala] Tidak mau! Tidak! - [Sukir berdengus]
[bahasa Indonesia] Tidak! Pak Sukir, lepas! Lepas!
Tidak mau, lepas!
Tidak!
- [mengerang] - [berdengus]
[berteriak] Lepas!
- [Sukir berbahasa Jawa] Cancang. - [Kumala] Tidak!
- Yang kencang! - [Kumala terengah-engah]
[Sukir mengesah]
Tidak! Lepaskan!
Diam.
[terengah-engah]
Sut.
- [Kumala] Jangan! - Sut.
[Sukir] Diam.
Nanti saya gorok lehermu.
[terisak pelan]
[tergelak]
Sut.
Den Bagus. [terisak]
Saya mohon.
Jangan kurung Mbak Kumala setiap malam di gudang.
Lalu kamu senang lihat aku mati?
Ha?
Anak ini sudah berani tusuk aku.
[bahasa Indonesia] Berani nyerang orang lain.
[Soedjiman] Setiap malam tingkahnya makin mirip binatang.
Makin lama, makin beringas.
[terisak pelan]
Tapi kasihan, Den Bagus.
Alah.
[bahasa Jawa] Tidak usah atur-atur.
[musik mereda]
Nduk?
[terengah-engah, terkesiap]
[Sum] Nduk?
Mbok?
[terisak pelan] Mbok?
Tidak boleh sedih, ya?
Simbok tidak peduli siapa pun Kumala.
Simbok tetap sayang Kumala.
[Sum terisak pelan] Ya, Nduk?
[menghela napas]
[musik sendu mengalun]
[menangis]
[musik mereda]
[tersengal-sengal]
- [anak 1] Kumala. - Ha?
[anak 1] Kumala?
[anak-anak tertawa pelan]
Main, yuk.
Sini!
Ini bola!
Ayo, bermain di sana.
Di sana.
[anak-anak terkekeh]
[terbahak]
[anak 2 berbahasa Indonesia] Tahu.
- Eh! - Kumala.
Kumala.
Tendang, Kumala. Tendang.
[anak-anak tertawa]
[anak-anak berteriak mengejek]
[anak-anak] Cacat!
Cacat!
- Cacat! - [Kumala bernapas berat]
- Jangan begitu! - Kenapa?
Kasihan.
[terisak-isak]
Tuh, dia nangis, ah.
- [terisak-isak] - Hus.
[anak 1] Jangan begitu. Pakai ini saja.
[anak-anak tertawa mengejek]
- [anak 3] Yah, cemong! - [anak-anak tertawa]
Ya Gusti, Nduk!
Hei!
Hei!
[bahasa Jawa] Kenapa kalian nakal?
- Tidak boleh! - [Kumala terisak]
Sana pergi! Hei!
- [anak 4 berdengus] - [mengerang]
[mengerang]
Nduk!
[tersedu]
[terisak-isak]
Yang sabar.
Yang sabar.
[bernapas berat]
[musik menegangkan mereda]
[batuk]
Apa itu?
[bahasa Indonesia] Sama seperti biasanya.
Setiap malam, anak itu memang cuma buat ribut.
Tapi ini lebih keras dari biasanya, Kangmas.
[musik menegangkan mengalun]
[wanita, bahasa Jawa] Salahmu, dari siang disuruh ambil air, tidak diambil-ambil.
Iya, Bu! Aku ambilkan!
[perempuan bersuara berat] Supri.
[gemeresak]
[perempuan berbisik seram] Sini, ayo main.
Alah! Siapa, sih?
Malam-malam begini ngajak main.
[gemeresak]
Rasain basah. Makanya jangan ganggu aku.
[berdengus]
[mengesah]
[perempuan bersenandung pelan]
Ha?
[perempuan bersenandung pelan]
[bersenandung pelan]
[menggeram]
[bernapas berat]
[Supri berteriak]
[musik mereda]
Sut! Karyo!
Apa lagi?
Ibuku aneh-aneh saja.
Aku mengantuk, malah disuruh-suruh.
Ya.
Tapi kasihan pamanmu.
Tidak ada yang urus antarkan makanan.
Tambah sakit.
[terkesiap]
- Sukro! - [perempuan bersuara berat] Sukro?
Karyo.
- [mengerang] - Sukro!
[Karyo terengah-engah]
[menggeram]
[pria 1] Tole!
- Tole, Supri! - [pria 2] Tole!
Supri!
- Bagaimana ini? - [pria 3] Di mana?
Mau dicari ke mana lagi?
Anak ini sudah hilang tiga hari.
Bagaimana, ya, anak ini?
Pergi kok tidak kasih tahu?
- [pria 4] Sukro! - [warga bersahutan] Sukro!
- [pria 5] Sukro! - [pria 6] Karyo!
- [pria 7] Karyo! - [pria 8] Sukro!
- [pria 9] Karyo! - [pria 10] Sukro!
[pria] Izin menyampaikan, Pak Kades.
Semua warga sudah mencari anak-anak.
Sampai ke dusun sebelah.
Baiklah.
Kalau begitu, pencariannya diperluas lagi. Ya?
Saya akan koordinasikan dengan kepala-kepala desa lainnya.
Bapak-Bapak!
Yang penting jaga anak-anak,
jangan sampai keluar rumah setelah magrib, ya?
[semua berteriak setuju]
- Jono. - [Jono] Hmm?
Bapak-bapak belum selesai?
Di rumahnya Pak Kades?
Sepertinya iya. Mungkin sampai subuh?
Apa Supri, Karyo, dan Sukro
dimakan buaya?
[tergagap]
Takutnya diterkam harimau di hutan.
Ya, itu kalau benar. Kalau jadi-jadian, bagaimana?
Sudah! Sembarangan semuanya.
Paling mereka hanya ingin menjahili kita.
Tidak mungkin.
Masa sampai sejauh ini?
Ya, bagaimana?
Bolaku hilang.
Siapa yang berani ambil?
Ha?
Kumala?
Kumala?
[bergumam]
[terkekeh]
Sini.
[berdengus]
Mau apa?
Mau main bola?
[terkekeh]
Baiklah. Nah.
- Bagaimana bisa menendang? - [anak-anak tertawa]
[bisikan seram]
[Jono] Iya, 'kan?
[anak-anak tertawa]
[mengerang]
- Jon! Kenapa, Jon? - Jon!
[Jono mengerang]
[menggerutu]
Sut.
Apa itu yang dipegang?
Hei, siapa yang mau kamu tusuk?
Dengarkan kalau aku bicara!
- [anak 1] Wah! - [musik makin intens]
- [anak 1] Jono! - [anak 2] Kurang ajar!
Kubunuh kamu!
[menggeram, mengerang]
[tersengal-sengal]
[bernapas berat]
- [merejan] - [berteriak]
[mengerang]
[Jono berseru, mengerang]
[mengerang]
Parto! [merengek]
[terkesiap]
[Jono] Parto!
[Jono merengek]
Jangan!
- [berseru] - [mengerang]
[menggeram]
[menggeram]
[mengerang]
[musik mengeras]
- [pria 1] Karyo! - [warga bersahutan] Karyo!
- [pria 2] Nak! - [pria 3] Sukro!
[pria 4] Kamu di mana, Nak?
Paklik Sarno!
Ada apa?
- Itu. - Apa itu?
- Coba buka. - Cepat, Min.
- [bahasa Indonesia] Buka, Min! - Buka!
- [pria 5] Astagfirullah! - Apa ini?
Sukro!
[pria 6] Astagfirullah!
- Sukro! - Sabar.
Istigfar.
[terisak]
[musik mengeras]
[bahasa Jawa] Apa ini?
Apa ini?
Nak, tolong.
- Apa ini? - Kenapa, Bu?
- Tolong dilihat. - Ha?
[pria 1] Ada mayat.
- [Sum] Pak, tolong! - [para pekerja riuh berbicara]
Tolong.
Pak!
[pria 2] Aduh, apa itu?
- [pria 3] Apa ini… - [para pekerja riuh berbicara]
- Ada apa ini? - Awas, minggir.
[Sum] Den Bagus.
Den!
Di kebun.
- Apa? - Ada apa?
[bahasa Indonesia] Ayo.
- [Sukir] Minggir! - [warga riuh berbicara]
[musik dramatis mengalun]
- [pria 1 berbahasa Jawa] Dia di sana! - [warga riuh memprotes]
Soedjiman!
[pria 2] Keluar kamu, Soedjiman!
Apa lagi ini?
Hei, Sukir! Mana Soedjiman?
Mana?
- Ada apa? - Itu orangnya.
Ada apa ini?
Kamu telah membunuh anak-anak kami!
Bunuh siapa?
Sembarangan kalian!
Apa buktinya?
Soedjiman.
Kalau memang benar bukan perbuatanmu,
lalu siapa lagi?
Apakah anakmu?
- Seperti ini buktinya! - [semua menggumam setuju]
- [pria 3] Mengaku! - Ini kutemukan di hutan.
- Di samping mayat Sukro dan Karyo! - Den Ayu?
- [pria 4] Ayo mengaku! - [pria 5] Mengaku!
Ini punya anakmu, 'kan?
Mengakulah, Soedjiman!
Dia tidak mungkin melakukan itu.
Dasar anakmu gila!
Ya! Anakmu itu tidak waras!
Hei.
Hati-hati kamu.
Jaga mulutmu.
[bahasa Indonesia] Pulang.
Bubar sekarang.
Ayo pulang!
Biar saya selesaikan urusan ini dengan Kepala Desa.
Kalian jangan suka asal menuduh!
Pulang! Ayo pulang!
- Balik. - Bubar!
Anak itu…
Sepanjang hari ada di kamar.
Setiap malam di gudang.
Tidak mungkin bisa kabur.
[musik menegangkan mengalun]
[Soedjiman] Saya harus memastikan
bahwa selama Kumala dikunci di gudang ini setiap malam,
dia tidak mungkin bisa keluar.
[musik mencekam mengalun]
Lastri.
[terkesiap]
Tetap tidak mungkin Kumala yang melakukan.
Bukan Kumala.
Tapi Sumala.
Siapa Suma…
[bayi menangis]
[para wanita berteriak]
Kumala pernah menyebutkan nama itu, Kangmas.
Dan aku juga pernah melihat langsung.
Wajahnya mirip sekali dengan Kumala.
Tapi dia tidak cacat.
Gerakannya aneh.
Dan dia selalu ada di belakang Kumala.
Kenapa Diajeng tidak bilang dari dulu,
baru sekarang?
Seharusnya Kangmas merawat dia.
Bukan membunuh dia!
Ini semua gara-gara kamu!
Semua jadi berantakan!
[terisak pelan]
[Soedjiman] Kumala.
Bapak mau tanya.
[bahasa Jawa] Apa Sumala
yang membunuh anak-anak itu?
Hmm?
[mengesah]
[bahasa Indonesia] Bapak tidak akan marah.
Bapak janji.
Iya.
Sumala.
Aku sudah bilang jangan.
Tapi dia ingin bunuh
semua yang sudah jahat pada aku.
[Soedjiman] Sukir!
Sukir!
Ya, Den?
Pasung Kumala.
Pasung?
Iya.
[bahasa Jawa] Sekarang.
Baik, Den.
[Soelastri] Kangmas.
Mau pergi ke mana, Kangmas?
[bahasa Indonesia] Saya harus pergi.
Sudah saatnya minta bantuan ke Pak Kusno.
Tapi itu jauh sekali. Saya temani.
Tidak usah. Diajeng di sini saja.
Jaga anakmu.
Kangmas.
Saya tidak berani.
Tidak usah takut.
Ada Sukir yang jaga di sini.
- [Sukir merejan] - [Kumala terengah-engah]
[terkekeh]
Sut.
Nduk.
[bahasa Jawa] Kok nasib kamu mengenaskan?
[keduanya terisak]
[bahasa Indonesia] Mbok.
Besok ulang tahunku.
- Yang kesepuluh. - Iya.
Mbok ingat.
Tapi Simbok belum buat hadiah untuk Kumala.
Kumala mau apa?
Aku mau Mbok pergi yang jauh sekarang juga.
Sekarang, yang jauh. [bernapas berat]
Ya, Mbok, ya? Jauh, ya?
Maksudnya apa?
Aku tidak mau Mbok kena bahaya.
Ya, Mbok, ya? Yang jauh. Sekarang.
[menangis]
Kalo Simbok pergi,
siapa yang mau mengurus Kumala, Nduk?
Terima kasih, Mbok.
Selama ini sudah baik pada Kumala.
Kumala sayang Simbok.
Nduk.
[bahasa Jawa] Simbok sayang sekali dengan Kumala.
[menangis]
- [musick sedih mengalun] - [terisak]
Yang luas sabarmu, Nak.
Hati-hati, Cah Ayu.
[tersedu-sedu]
Mbok?
Mau ke mana?
[bahasa Indonesia] Kita harus segera pergi dari rumah ini, Nak.
Harus pergi?
Kenapa Mbok?
Nanti Simbok ceritakan.
Ayo.
Ayo.
[musik mereda]
[berdengus]
[bahasa Jawa] Ini, dimakan!
Tidak enak.
Kamu ini…
Makanan enak tidak mau.
Maumu apa?
Itu?
Apa yang kamu makan?
Masa bodoh. Kudoakan perutmu sakit.
[bergumam]
Ya. Ini enak.
Gurih.
Anak gila.
[pria] ♪ Pada penguasa segalanya ♪
♪ Ada jiwa tanpa rasa ♪
♪ Membuat jiwa dan rasa ♪
♪ Jadi tidak beraturan ♪
Ada apa, Pak?
[bahasa Indonesia] Apa yang sudah istrimu lakukan?
Dia sudah bersekutu dengan iblis
demi bisa mendapatkan keturunan.
Dia mengandung anak kembar.
Satunya cantik, anak manusia.
Satunya buruk rupa, anak iblis.
Kalian harus merawat kedua anak itu
sampai usia sepuluh tahun.
Setelah itu,
anak buruk rupa itu akan diambil iblis,
dan kalian bisa hidup bahagia.
Tapi kamu malah membunuhnya.
Iblis sangat marah.
[mengesah]
[bahasa Jawa] Lalu bagaimana, Pak?
[musik menegangkan mengalun]
[menghela napas]
[berdengus]
[bahasa Indonesia] Tengah malam ini
akan sangat berbahaya.
Tepat sepuluh tahun umur Kumala,
dia akan sepenuhnya dikuasai oleh Sumala.
Siang akan jadi seperti malam.
Tidak ada bedanya.
[mengesah]
[terkesiap]
Apa masih ada cara
yang memungkinkan
supaya anak saya bisa diselamatkan?
Sumala harus dikeluarkan dari badan Kumala.
Kalau tidak,
selamanya Kumala akan menjadi Sumala, si anak iblis itu.
[mengesah]
[menghela napas]
Pakai kerisku ini kalau dia melawan.
Ini bisa melemahkannya.
Bawa dia ke sini. Aku akan siapkan ritual
untuk mengeluarkan Sumala dari Kumala.
Tapi kalau sudah terlambat,
kamu terpaksa harus menusuknya.
Tepat di jantungnya.
Anak iblis tidak boleh hidup di dunia ini.
[perempuan berbisik seram] Sukir.
[bergumam]
[bahasa Jawa] Anak gila.
[berdengus]
[menggeram]
[Kumala menangis]
Hei, sedang apa kamu di situ?
Kok kamu bisa lepas dari pasung?
- [Sukir] Ha? - [menangis]
- [tertawa] - Oh?
Kamu pura-pura menangis?
Mau bermain-main denganku?
[mengerang]
[menggeram]
[tersengal-sengal]
Gila.
Jangan.
[Sukir terengah-engah]
[Sukir] Jangan!
[mengerang]
[tercekat] Ampun.
Ampun.
Hei, Blentong!
Kugorok lehermu!
[terkesiap]
[bahasa Indonesia] Pelan-pelan, ya?
Agar lebih enak sakitnya.
[terkekeh]
[bahasa Jawa] Minta maaf, Nak.
[gelobok]
- [dentang jam] - [musik mereda]
[alunan musik piano]
[bergumam]
Kumala.
[bersuara berat] Kumala siapa?
[terkekeh]
Nduk.
Nduk.
[bernapas berat]
[terkesiap]
[terengah-engah]
[tergagap]
[memekik]
[berteriak]
- [tersengal-sengal] - [pintu digedor]
Ibu.
Main, yuk.
Main iris-irisan daging.
Kamu pelacur.
Pelacur! Pelacur istrinya setan!
Kamu pelacur! Pelacur, istrinya setan!
[terengah-engah]
[berseru]
[musik mencekam mengalun pelan]
Ha?
[menggeram]
Kumala, jangan.
[berseru]
[tersengal-sengal]
[mengerang]
[berteriak]
[bahasa Indonesia] Satu kaki lagi, ya, Bu?
Kenapa geleng? Sakit, Bu?
Waktu aku ditusuk juga sakit.
[terisak pelan]
Ampun.
Ibu tidak merawat anak Ibu dengan baik.
Ibu mau merawatmu, Nduk.
Bapakmu yang membunuhmu, bukan Ibu!
Tapi kenapa Ibu tidak merawat Kumala dengan baik?
Semua yang Ibu lakukan,
itu untuk melindungi Kumala.
Melindungi Kumala
atau Ibu sendiri?
Ibu mengerti.
[bahasa Jawa] Cara Ibu salah.
Boleh Ibu bertemu Kumala?
[dentang berat]
- Ibu? - Kumala.
Ibu.
Ibu.
Bu.
Ibu minta maaf, ya, Nduk.
[bahasa Indonesia] Ibu sudah gagal…
jadi ibu yang baik untukmu.
[menarik napas]
[berbisik] Maafkan Ibu, ya, Nduk.
[terisak]
Aku maafkan Ibu.
[keduanya terisak]
[dentang berat]
Tapi aku tidak.
[berteriak]
[terengah-engah]
[musik mereda]
Lastri.
Lastri!
[bernapas berat]
Lastri!
Lastri…
[menangis]
Lastri!
[menangis]
Ini salahku. [menangis]
Ini salahku!
[berteriak]
[bahasa Jawa] Aku minta maaf sebesar-besarnya, Istriku.
[musik mereda]
[dentang jam]
[kiang-kiut]
Bapak.
[bernapas berat]
Tolong, Pak.
Bapak lupa denganku?
[tertawa]
[menggeram]
[terengah-engah]
[tersengal-sengal]
[menggeram]
[musik mencekam mengalun]
[mengerang]
[mengerang pelan, batuk]
[musik mereda]
[Sumala] Cacat lagi, Pak?
[musik menegangkan mengalun]
[warga riuh berbicara]
Pak Soedjiman?
- Ada apa, Pak? - Kenapa, Pak?
[bahasa Indonesia] Istri saya…
[terengah-engah]
[tersedak]
Mati.
[bersamaan] Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
- [pria] Kok bisa, ya? - [warga riuh berbicara]
Astaghfirullahaladzim!
[bahasa Jawa] Siapa yang tega melakukan ini?
- Sukir! - Astagfirullah!
Baiklah. Bapak-Bapak!
Periksa sekitarnya.
Kalian ikut saya.
- [bahasa Indonesia] Ayo! - Yuk!
Astaghfirullahaladzim.
Astaghfirullahaladzim.
[musik mereda]
Sebenarnya apa yang terjadi?
Kuma…
Kumala.
Kumala yang melakukan ini semua?
Bukan. Bukan Kumala!
[tergagap] Tapi…
Kita harus cari Kumala.
Harus cari Kumala!
Cari sampai ketemu!
[terengah-engah]
[tersengal-sengal] Berarti selama ini memang benar.
Kumala yang sudah membunuh anak-anak kita!
- Bukan! - [warga] Benar itu!
- Bukan! - Ayo kita cari dia!
- [warga] Ayo! - Ayo kita cari dia!
Bukan! Pak…
Bukan Kumala.
Bukan Kumala! Bukan!
Bukan Kumala!
[berteriak]
[warga riuh berteriak]
- Kumala! - Kumala!
Cari Kumala sampai dapat!
[warga riuh berteriak] Kumala!
Kumala!
[musik seru mengalun]
[musik mereda]
[musik mencekam mengalun]
[Sumala bersenandung]
[gemeresak]
- [terengah-engah] - [gemeresak]
[Sumala bersenandung dengan suara berat]
[terkekeh]
[tergagap]
[menggeram]
[Soedjiman mengerang]
- [mengerang] - [menggeram]
[menggeram]
[musik mereda]
[musik perlahan mengeras]
[Soedjiman berseru]
[musik mereda]
[Soedjiman terisak]
Kumala.
[bahasa Jawa] Bapak minta maaf.
Atas semua kesalahan Bapak.
Ikut Bapak, ya?
Diobati oleh Pak Kusno.
[Sumala] Si cacat.
[Sumala tertawa]
[bahasa Indonesia] Dulu bapak dihina.
Lalu bapak sembuh, sempurna.
Tapi anak Bapak malah cacat!
Kalau Bapak dulu benci
diperlakukan kejam oleh orang tua Bapak,
seharusnya Bapak tidak kejam ke anak Bapak.
Kalau Bapak dulu rindu kasih sayang orang tua,
anak Bapak juga rindu itu.
[terisak-isak]
[Sumala] Di dunia ini tidak ada yang benar-benar sempurna, Pak.
[tersedu-sedu]
[Sumala] Iya. Menangislah, Pak.
Tidak apa-apa.
Menangis.
[terkesiap]
[mengerang]
[berteriak]
- [berdengus] - [terengah-engah]
[mengerang]
[Sumala berteriak]
[musik mereda]
[bernapas berat]
[mengerang]
[musik mencekam mengalun]
[menyeringai]
Sejak badan Kumala menjadi milikku,
gigiku menjadi taring…
mataku menjadi putih,
dan jantungku
sudah tidak di sini.
Tapi di sini. [menyeringai]
- [Sumala terkekeh] - [bernapas berat]
[terengah-engah]
[tercekat]
[menggeram]
[musik mereda]
- [kepala desa] Pak Prapto. Bagaimana? - [pria 1] Ayo!
Kumala tidak ketemu juga, Pak.
- Pak Soedjiman? - Tidak ketemu juga.
Aduh!
[pria 2 berteriak]
Kebun jagung. Ayo!
- [pria 3] Ayo! - [pria 4] Kebun jagung!
- [kepala desa] Sabdo? - [pria 5] Sabdo!
Kenapa, Do?
- Sabdo. - Kenapa, Do?
[bahasa Jawa] Ada apa, Sabdo?
Lihat di sana.
- Ha? - Ha?
[warga bersahutan] Astaghfirullahaladzim!
[kepala desa] Pak Soedjiman!
Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.
- Ada apa, Pak? - Pak Kusno mati.
- Kok bisa? - Ya, tidak tahu sakit apa.
- Kenapa? - [pemuda] Ngeri.
- Ada apa? - Gusti Allah.
[bahasa Indonesia] Mbah Kusno.
[musik mencekam mengeras]
[warga riuh berbicara]
[musik mereda]
[Sabdo] Tidak ada yang bisa mengalahkan Kumala setelah ia dikuasai Sumala.
Dan sejak saat itu…
- [terisak-isak] - …dia tidak pernah ditemukan.
[bahasa Jawa] Makanya, aku selalu ingatkan.
Kalau sudah magrib, semua harus sudah di rumah.
- Iya, Pak. - Jangan pernah keluar malam-malam.
[bahasa Indonesia] Atau Sumala akan memburumu.
[percakapan samar]
Terutama
anak-anak yang masih berkeliaran saat gelap.
[warga berbicara samar]
[musik seru mengalun]]
[wanita berbahasa Jawa] Pak, kamu tadi tidak kasih sesajen bersama yang lainnya?
Aku tidak percaya!
Sutrisno mati gara-gara Abdi.
Bukan anak gadis itu.
[gelobok pelan]
["Koe Lan Aku" oleh Aksaranata mengalun]
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.