Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Downloaded from YTS.MX
Official YIFY movies site: YTS.MX
- Siang, Mas. - Siang.
- Maaf ya, Mas, agak telat. - Tidak apa-apa kok, Mbak.
Namun, akses ke sini gampang, 'kan?
Gampang sekali. Ini rumahnya, ya, Mas?
Ya, benar. Mari.
Aduh…
Mas dan Mbak juga sedang mencari rumah?
- Ya. - Ya, Mas.
Pas sekali. Ini tipe paling favorit.
Sisa dua unit lagi.
Silakan.
- Permisi. - Ya.
Dilihat dulu saja.
Di atas masih ada dua kamar.
Luas bangunan 85, tanah 81.
Kamar utamanya yang mana, Mas?
Yang itu.
Nanti kalau Mbak Kaluna mau pasang King Bed,
ini masih muat kok, Mbak.
Agak padat, ya?
Panas sekali. Mataharinya sepertinya ada lima di sini.
Sut! Ada masnya.
Kal…
Kau sudah lihat kamar mandinya?
- Tidak sekali. - Oh ya?
Di sini semuanya serba strategis, Mbak.
Mau ke kamar tidur,
ke kamar mandi, atau ke ruang makan, semuanya serba selangkah.
Benar-benar selangkah.
Kal.
Tidak sreg, 'kan, kau?
Ayo kembali saja. Aku mau live IG.
Sut!
Bagaimana, Mbak? Mas?
Nanti kami kabari lagi, ya.
Kami kontak lagi.
- Terima kasih banyak, ya. - Oh, oke.
Sudah?
Sut. Ayo.
- Mari, terima kasih. Terima kasih.
- Pamit, ya. Sama-sama.
Terima kasih.
Upaya pemerintah untuk meningkatkan akses masyarakat
terhadap kepemilikan rumah melalui program Tapera
- atau tabungan Perumahan Rakyat - Bibib.
menuai banyak tentangan dari berbagai lapisan masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, pemerintah menyatakan bahwa adanya…
- Kaivan, ayo. - Ibu ambil ya.
Ya.
Sebentar.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
- Mandi, tidak! - Sebentar, aku masih main.
Kaivan!
Apa?
Sekali lagi.
- Terus satu lagi. - Mandi, tidak! Mandi!
Kaivan! Susah sekali diberi tahu, ya!
Senang kau, ya, Mama marah?
Mau Mama mati?
Mandi!
- Aduh. - Ayo! Mandi!
Mandi! Sudah jam berapa ini?
- Ini, Bibib. - Mama, apa?
Natya sepertinya harus mengobrol dengan sifat kekanak-kanakkannya
agar tidak memproyeksikan trauma kepada anaknya terus.
Kasihan Kaivan.
Nanti pas sudah gede, bisa banyak masalah
kalau komunikasi sama ibunya saja seperti itu.
Abang juga main gim saja.
Kalau habis makan,
kau tidak terpikirkan untuk bantu cuci piring, Kak?
Memangnya kau tidak bisa membantu sedikit saja, Kal?
Aku baru saja selesai makan.
Tadi saat sedang makan, Lala minta BAB.
Menjadi ibu kalau mau makan tidak bisa tenang.
Nanti kau rasakan sendiri kalau sudah punya anak.
…sanksi bagi pekerja yang melanggar ketentuan yang berlaku
terkait pemotongan Tapera.
Mas.
Sudah lihat foto yang aku kirim?
Oh…
Aku benar-benar tidak pegang ponsel seharian.
Aku tadi kirim foto-foto rumah yang di Andara itu lo.
Kau sudah ke sana?
Sudah.
Mas, lihat dulu foto yang aku kirim.
Bang, token listrik habis.
Mana yang kau kirim?
Kalau aku ada, aku juga tak memintamu!
Duit aku tidak ada!
Nah, ini.
- Ini kamar utamanya, Sayang? - Terus siapa lagi? Kaluna?
Tidak enak minta dia terus.
Ini seperti kamar Mbak.
Sesekali kau saja, Bang.
Ya, 'kan?
- Kau saja yang bicara. - Ya sudah. Nanti kita cari lagi ya, Mas.
Kal, token listrik habis.
Tolong belikan.
Kal…
- Hai, Nish. - Ruang rapat B5…
habis ini mau dipakai sama timku.
- Kosong, tidak? - Nanti aku cek.
Kau membuat apa hari ini?
Wah, ini kesukaanku.
Cepat, Bun, tangannya.
Enak sekali.
Pagi, Bu Tanish.
Pagi.
Yah, Nish.
Ini sudah dipesan sama tim keuangan sampai pukul 15.00.
Di ruang B3 saja, ya?
Tidak apa-apa, aman.
Besok-besok nugetnya bayar ya?
Aku sudah memberitahumu, sebaiknya kau membuka prapesan.
Pasti banyak yang pesan di sini.
Tidak mau.
Nanti pada susah ditagihnya.
- Ya sudah. Terima kasih, ya. - Sama-sama.
Wah, asyik.
Ada lebihan tidak, Mbak Kaluna?
Mau dijual lagi, ya?
Tidak ada. Seorang dapat satu.
Yah…
- Win… - Ya?
Tolong gantikan susu di mesin kopi.
Kalau sudah, nanti tolong bantu aku membagikan ini ya?
Ya, Mbak.
Nanti aku kasih satu. Bonus.
Mantap, Mbak Kaluna! Beres.
Kal…
Pesanan kopi dan makanan untuk rapatnya Bu Sonya sudah ditanyakan.
Sudah sampai mana?
Oh ya.
Sebentar.
Ya? Halo, Bu.
- Halo? Kal? - Ini atas nama Kaluna semua, 'kan?
Kal, kau pulang jam berapa?
Belum tahu, Bu. Ada apa?
Begini…
Kaivan dan Lala minta kamar sendiri.
Boleh tidak mereka ke kamarmu?
- Boleh kubantu, Bu? - Boleh.
Syukurlah.
- Ya. - Selagi ada Kuncoro soalnya.
Aduh, Bu…
- Nanti aku telepon lagi, ya. - Oh…
- Aku sedang repot sekali. - Ya.
Yang itu nanti kukabari ya, Pak.
Sut. Ini.
- Buat kau saja. - Apa?
Orang di rumahmu banyak.
- Terima kasih, Mi. - Kaluna.
Tiket pesawat sudah semua?
- Ya. - Maksimal besok pagi, ya.
Danan dan Tanish saja sudah pulang.
Tidak ada uang lembur!
- Pulang kau! - Ya, nanti aku pulang.
- Ini sekalian menunggu macet. - Ya sudah. Aku duluan ya.
Dah!
- Taswin! - Ya, Mbak.
Pulang, Mbak.
RUMAHKU ISTANAKU
PEMBARUAN TERAKHIR 8 MARET
NILAI TOTAL ASET RP335.575.000
MEMATIKAN
♪ Sekadar berandai ♪
♪ Menatapi diri ini ♪
♪ Berpencar pergi 'tuk mencari ♪
♪ Apa yang lama dicari ♪
♪ Pergi tanpa pamrih ♪
♪ Pergi tanpa pamit akan ♪
♪ Ke sana-kemari tanpa arah ♪
♪ Serta ratusan makian ♪
♪ Kembali pulang ♪
♪ 'Tuk menenangi ♪
♪ Banyaknya luka yang berantakan ♪
♪ Peluk hangat, sigap 'tuk sembuhkan ♪
♪ Kembali pulang ♪
♪ Bersama terang ♪
♪ Menghiasi diri, merayakan ♪
♪ Genggaman tangan yang masih ada ♪
Auntie Una!
Auntie! Bagus, 'kan, kamar baru Lala?
Enak saja! Kamar Kaivan!
- Kata Oma kamar bersama. - Tidak, kamar Kaivan!
- Kata Oma kamar bersama. - Lalu, kamar Auntie di mana?
Barang-barangmu yang tidak muat masuk sini
sebagian masih di kamar lama dan di kamar Ibu.
Ibu kok main pindah-pindahkan saja dan tidak bilang dulu?
Lo? Tadi…
di telepon kau bilang boleh.
Kapan?
Tadi siang.
Kau bilang boleh, lalu kau bilang mau telepon lagi.
Ibu pikir, mumpung tadi siang ada Kuncoro, ya sekalian saja.
Dia bisa membantu angkat-angkat.
Ya Allah, Bu.
Itu aku sedang repot sekali, tidak bicara dengan Ibu.
Lo…
Ibu kira kau menjawab Ibu.
Ini buat aku salat saja tidak muat, Bu.
Bisa di sana.
Sambil lihat langit, bintang-bintang.
Siapa tahu lebih khusyuk.
Ya, kalau cerah.
Kalau lagi hujan badai?
Sudah seperti kena azab, Bu.
Nanti ya kita panggil tukang untuk menutup atapnya. Ya?
Kalau kau sudah gajian.
Aku ini hanya menumpang, ya, Bu di sini?
Yah, nanti kalau…
kakak dan abangmu sudah bisa beli rumah,
kau bisa pindah lagi.
Ya, nanti itu kapan, Bu?
Mereka berdua bilang habis menikah tinggal di rumah ini cuma sementara.
Mau beli rumah lah, mau beli apartemen lah.
Mana?
Satu pun tidak ada yang kejadian.
Ibu sekarang lihat anaknya sudah umur berapa?
Satu delapan tahun, satu enam tahun.
Tidak ada yang tahu kalau pengembang apartemen Kamala akan bangkrut, Kal.
Sudah tujuh tahun lalu, Bu!
Bang Nendra apa alasannya?
Kal…
Selamanya ini adalah rumahmu.
Juga Kanendra dan Kamala.
Semua anak-anak Ibu dan Bapak.
Ya, tapi hanya aku yang harus sampai tidur di kamar pembantu.
Kenapa aku terus, Bu, yang harus mengalah?
Sabar…
Buat punya rumah sendiri memang tidak gampang.
Syukur kita masih bisa tinggal di rumah peninggalan engkongmu ini.
Ibu dan Bapak juga tidak bisa membeli rumah sendiri.
Ibu yakin
kakak-kakakmu sebenarnya juga tidak mau ada di posisi ini.
Coba diambil untungnya saja.
Sekarang kau punya kamar mandi sendiri,
jadi, tidak usah mengantre lagi, 'kan?
Ya Allah…
Kok begini? Aduh.
Bagaimana ini?
Aduh…
- Selamat ulang tahun, Tante! - Terima kasih.
- Ya. - Mari, Tante.
- Mari. - Ya.
Keren sekali! Panggungnya, daftar lagunya. Keren sekali, Hansa.
- Seandainya kau ada di sana. - Aku tahu.
Menurutku, kalau kau mau menontonnya, sebaiknya kau bergegas.
Kudengar konser terakhir mereka terjual habis dalam lima menit!
Memang benar. Kemarin sudah mau menonton yang di Bangkok, tapi terjual habis.
Mungkin berikutnya yang di Singapura.
- Apa menonton bersama saja? Ya? - Ayo.
Omong-omong, kau kapan main ke Sydney?
Ya, nanti. Belakangan ini memang lagi sibuk sekali.
Dari Non Kaluna, Bu.
- Taruh di belakang saja, untuk kalian. - Oh ya, siap, Bu.
Atau kita ke Bali dulu? Baru Sydney?
- Seru tidak? Mau, tidak? - Lidya! Apa kabar?
Hai, Tante, ya ampun!
- Selamat ulang tahun! - Terima kasih.
Kapan kembali dari Sydney? Baru kelihatan.
Baru saja kemarin.
Aduh, cantik sekali kau pakai ini.
- Prada? - Benar.
Sudah Tante duga!
- Pas sekali padamu, Sayang. - Na.
Ini baru dusty pink.
Kau pintar memilih baju.
- Sempurna. - Terima kasih, Tan.
Bagaimana? Mami dan Papi apa kabarnya?
Mereka baik-baik saja, Tante.
- Bi. - Non.
- Mau taruh piring kotor. - Non Kaluna.
Sini, Non.
Pakai diantar ke belakang segala. Repot-repot, Non.
Pudingnya enak, Non.
- Oh ya? - Ya.
Bibi makannya tidak pakai vla.
Dicoba, Bi. Ini…
- Terima kasih ya, Non. - Ya.
- Bagaimana, Bi? - Ya, enak, Non.
Ratni, itu tolong…
Banyak piring-piring kotor di luar.
Malah makan lagi.
Kal, mobilmu pindahkan ke belakang, ya, karena Om Herman mau datang.
Oh, ya, Tante.
Kau tidak mau ganti mobil?
Sayang, Tante, masih bagus.
Mobil itu sudah lama.
Memang tidak malu?
Katanya model.
- Ya, aku hanya… - Model ya model.
Sayang, Tante, uangnya.
Karena niatnya sedang menabung untuk beli rumah sama Mas Hansa.
- Beli rumah? - Oh, di sini.
Aku mencarimu dari tadi.
Sejak kapan kau mau beli rumah?
Kok Mama baru dengar?
Untuk apa kau mau beli rumah?
Nanti kau juga bisa tinggal di sini, banyak kamarnya. Ya 'kan?
Maksud Mama baik.
Lagi pula, di sini juga enak.
Kau tahu sendiri, dua miliar di Jakarta dapat rumah seperti apa?
Ya, sepetak, seperti kemarin.
Mas…
Aku sudah bilang dari awal kita pacaran,
aku tidak mau sampai tinggal sama mertua kalau sudah menikah.
Ini bukan soal mamamu, tapi memang dari aku…
Ya, coba kau pikir.
Kalau misalnya di sini,
tabunganmu bisa dialokasikan untuk yang lain.
Ya, kan?
"Untuk yang lain" itu untuk apa, Mas?
Mobil?
Tas bermerek?
Tiket ke Singapura?
Atau apa?
Baju dusty pink?
Ya, mungkin.
Kau terlalu pelit, Kal.
Menabung terus,
tidak mau beli ini atau itu, untuk apa?
Beli rumah?
Apakah sekarang terbeli?
Tidak, 'kan?
Tanpa aku menabung pun untuk beli rumah,
aku tidak bisa beli tas bermerek seperti temanmu…
atau beli mobil yang pantas parkir di depan rumahmu.
Kau tahu, Mas, gajiku sebulan berapa.
Ya, makanya.
Makanya apa?
Makanya orang yang pas-pasan seperti aku tidak berhak punya rumah sendiri?
Realistis, Kal.
Selama ini aku membantumu untuk menjadi lebih baik,
tapi kau memang suka menyusahkan dirimu sendiri.
- Kalau aku menyewa… - Asalamualaikum.
- …mengekos, atau mengontrak… - Alaikum salam
…kapan aku bisa punya rumah sendiri?
Auntie kena!
- Hei, siapa itu? Kaivan. - Tumben sudah pulang.
Sepertinya aku memang tidak bisa, ya Mas, menjadi apa yang kau harapkan.
Bisa, tapi kau tidak mau.
Dalam setiap masalah pasti ada pilihan kok.
Kau benar, Mas.
Aku sudah punya pilihanku sendiri.
Aku memilih kita masing-masing saja.
Lo, Kal? Hei.
Kal…
- Ayo. - Jangan, nanti dimarahi.
Tidak!
Van, tunggu!
Aku sudah bilang jangan!
Lihat, 'kan?
Kabur!
Ayo!
Ayo, La!
Diam. Ayo, sembunyi.
Ya.
Bisa tidak Kaivan bermain di sini saja?
Tidak usah sampai kamar aku, aku tidak bisa tidur.
Kaivan! Sudah diberi tahu jangan ganggu Auntie Una!
Siapa yang mengganggu? Aku hanya
bercanda.
Ya sudahlah, namanya juga bocah.
Nanti kau mengerti kalau punya anak sendiri.
Anjing!
Keluarkan, Kal!
Unek-unek dua tahun, akhirnya keluar juga hari ini, Nan.
Sudah aku bilang, tidak cocok.
Namun, gila juga mamanya Hansa.
Yang seperti ini tidak dimakan.
Anjing!
Keluarkan, Kal! Keluarkan!
- Bangsat! - Seru sekali!
Ya, sudah selesai.
Mohon tunggu sampai wahana benar-benar berhenti
dan petugas melepas sabuk pengaman sebelum turun.
Semoga semuanya sudah puas teriak, ya.
Ada cokelatnya.
Mau lanjut? Halilintar?
Terima kasih.
Setidaknya sudah selesai dari hubungan toksik.
Harus dirayakan.
Lalu, mencari rumahnya ditunda?
Tetap.
Menikah atau tidak,
pokoknya aku tetap ingin cepat punya rumah sendiri.
Paling nanti bujetnya saja aku turunkan.
Coba kau pikirkan lagi.
DP, cicilan KPR, semuanya kau tanggung sendiri.
Tidak apa-apa, Nish.
Pasti bisa.
Tidak mau menyewa apartemenku saja?
Lumayan lo, daripada menganggur.
Apartemenmu yang sarang zina itu? Tidak mau.
- Anjing, dibilang sarang zina. - Bahasa kalian!
- Aku sudah tobat! - Kau yakin sudah tobat?
Hei, sekarang kau bisa bicara begitu. Dulu kau suka sekali.
Dia yang bilang.
Lagi pula,
aku ingin punya sesuatu yang benar-benar milikku,
tidak ingin menyewa.
Nish.
- Tolong fotokan. - Boleh, dari sini?
Jangan.
Bibibnya hilang!
Ya sudah, jangan menangis dulu.
Mungkin Bibibnya lagi cari rumah baru.
Lala lupa tutup, ya?
Aku sudah tutup tadi!
Ya sudah. Besok kita cari lagi, ya?
Maunya sekarang!
Bingung, lo. Ini sudah malam.
- Senyum dikit lagi. - Oke.
- Agak menunduk. - Dua warnanya cocok, ya.
Ya, bagus. Tahan.
Aku suka bentuk bibirnya.
Oke, senyum sedikit lagi.
- Kak Kaluna! - Bagus.
Terima kasih untuk hari ini, ya, Kak.
Aku yang terima kasih sekali karena sudah diajak lagi.
Soalnya aku suka sekali sama bibirmu, Kak.
Bagaimana caranya bisa seperti itu?
Kasih tahu tipnya.
Oh…
Paling ini, aku rajin memakai pelembap bibir,
lalu setelah memakai produk bibir,
jangan dikopek atau digigit-gigit.
Aduh…
TERKADANG SEMESTA MEMBERI TANDA
PENGHASILAN PEMOTRETAN LIPSTIK
NILAI TOTAL ASET RP335.925.000
Mbak, mau bolpoin untuk di bagian keuangan.
- Berapa boks? - Satu boks saja yang hitam.
Tanda tangan dulu ya, Mbak.
Tanda tangan?
Terima kasih.
Riz, sudah periksa surel dari Pak Pras?
Tentang KPR kantor itu, ya?
Sudah, tapi aku masih mau bicara dulu dengan suamiku.
Daftar saja!
Tawaran seperti ini tidak ada di manajemen sebelumnya.
Jarang ada kantor yang memberi syarat lumayan ringan.
Dah! Aku duluan, ya!
CEK SUREL KANTOR SEKARANG, KAL!
Oke.
Hore!
Kenapa?
Kantor sifatnya membantu uang muka
agar cicilan KPR Mbak tidak berat.
Namun, sebagai gantinya,
akan ada pemotongan gaji tiap bulannya.
Mbak lengkapi saja dulu berkasnya agar cepat ditinjau oleh HRD.
Namun, apakah tidak masalah kalau aku masih mencari rumahnya?
Tidak apa-apa, Mbak.
Kalau nilainya baik, bagian keuangan akan menyetujui.
RUANG BAGIAN KEUANGAN
- Hai! - Hai!
Selamat datang! Masuklah.
Masuk.
Pakai saja sepatunya.
- Oke. - Tidak apa-apa?
Tidak apa-apa, di sini ada layanan pembersihan.
- Mi, barangmu banyak sekali. - Gaya sekali.
Ya, maklumlah. Namanya juga baru pindahan ya, Say.
Maaf ya, berantakan.
- Bagaimana? - Bagus, Mi.
Ya, kan?
- Aku masuk, ya? - Masuk saja.
Lihat-lihat saja.
Wah, pemandangannya bagus.
Tentu saja.
Kalau tidak bagus, tidak aku ambil.
Dapat pemandangan kota begini kena berapa, Mi?
Dua ratus.
Kalau dua ratus, hitungannya mahal juga ya?
- Kamarnya satu, 'kan? - Ya, hanya satu.
Mi, aku boleh ke toilet?
- Masuk, sebelah kanan. - Oke.
Duduk, Nish.
Duduk, Kal.
Sayang tidak, Mi? Lebih baik untuk DP rumah.
Dua puluh tahun berikutnya tetap menjadi milikmu.
Harga dan komitmennya itu lo, tidak sanggup aku.
Belum lagi mengajukan KPR-nya dan lain-lain. Aduh… Terima kasih.
Lebih baik di apartemen.
Fasilitasnya lengkap, ada kolam renang, sasana,
lalu sekuriti 24 jam, aman. Ya, 'kan?
Tempat untuk membuat konten? Banyak.
Bisa ke bawah, atap juga ada.
Lagi pula, kita tidak pernah tahu.
Mungkin beberapa tahun ke depan,
aku mendadak viral.
Atau tidak,
aku dilamar sama manusia tajir mampus.
Kita tidak ada yang tahu, 'kan?
Kau mau yang tajir? Itu.
Dia?
Ribet. Bawel.
Tidak sanggup aku, makanya aku putuskan.
- Apa? - Kau.
Namun, ini lucu. Apa kau ingat, Nan?
Dulu awalnya kau menyukai Tanish,
lalu jadiannya sama aku,
dan aku menyesal.
Apa jangan-jangan berakhir sama Kaluna?
- Kalau bicara kau, Mi. Amit-amit. - Aku aminkan, Kal.
Sialan kalian. Memang aku kurang apa?
Banyak! Mau aku sebutkan satu-satu?
Kenapa harus merusak barang-barang?
Biarkan saja! Biar hancur semua!
Papa juga suka menghancurkan hatiku, 'kan?
Terus! Terus banting terus!
- Mi. - Sekalian, banting terus!
Masa bodoh!
Dua ratus juta belum kedap suara ini?
Aku harus panggil sekuriti sepertinya.
Repot.
- Ayo, sedikit lagi habis. - Tidak mau!
Ayo, buka mulutnya. Buka!
Sup kacang hijau lagi.
Ayo makan.
Kal.
Kau besok pakai mobil ke BSD tidak?
Kalau tidak, Bapak mau pakai, pergi ke teman Bapak sebentar.
Pakai saja, Pak. Tidak ke mana-mana kok.
Kal.
Kemarin di Instagram aku lihat Hansa berfoto sama cewek. Itu siapa, Kal?
Partner barunya.
Partner bisnis?
Pacar baru.
Sebentar.
Kal…
Maaf ya yang tadi.
Oh… Tidak apa-apa.
Tenang saja, nanti juga ada gantinya.
Aku tidak memikirkan itu, Nat.
Kenapa?
Ya, tidak apa-apa.
Lebih baik aku memikirkan hal yang lebih berguna untukku.
Sudah?
Nyaman juga di sini.
Kal, tahu tidak.
Kemarin aku melihat tanah kavling bagus di Jagakarsa.
Pas sekali, orangnya sedang BU.
Kau tidak jadi menikah dengan Hansa,
uangnya bisa buat kau patungan.
Bagaimana?
Seru, 'kan, nanti kita tinggal sebelahan, tetanggaan.
Lagi pula, murah kok, Kal.
Hanya enam juta per meter persegi.
Nah, aku dan Mas Nendra rencananya ingin beli 100 meter.
Nah, kami kepikiran,
apa bagi dua, ya, denganmu?
Aku 60, kau 40.
Bagaimana?
Bukannya kalau orang BU begini butuh cepat, ya?
Kalian sudah ada sebanyak itu?
Ada.
Namun, belum cukup.
Makanya kami ingin pinjam dulu denganmu kalau bisa.
Lalu, kalau pinjam sekarang,
dikembalikannya kapan?
Ya nanti, Kal.
Kami niatnya pinjam, bukan minta.
Pasti kami cicil kok, pelan-pelan.
Ya, bukan begitu, Nat.
Maksudnya, 'kan…
aku juga mengumpulkan uang ini pelan-pelan, ya?
Bisa terkumpul seperti sekarang juga tidak gampang.
Jadi, aku mengerti sekali,
tidak akan gampang juga untuk kalian nanti mengembalikannya.
Ya sudah, kalau tidak bisa bantu, tidak apa-apa.
Nanti sisanya kami cari sendiri.
Maaf, ya, aku sudah mengganggu.
Kalau ada yang tidak suka,
bilang langsung saja sama Abang.
Jangan dilampiaskan ke Natya.
Memang Natya bicara apa sama Abang?
Jangan mentang-mentang usiamu dan Natya sama…
- Ya, sebentar. - …lalu kau kurang ajar kepadanya.
Bagaimanapun, dia tetap kakak iparmu.
Ayo masuk, Nat.
- Ya, Mas. - Sebentar.
- Mbak, tambah telur… - Halo, Semua.
- Ini dia makan siang aku hari ini. - …perkedel,
sama itu, ya.
Enak!
Enak, Mi?
Hambar. Sangat hambar.
Kentang mustofamu memanggil-manggilku, Kal.
Mau tukar?
Memang boleh?
Oh, sayang deh.
Terima kasih.
Ini baru makanan.
- Enak sekali. - Ya, Ma.
Baik, Ma. Terima kasih ya, Ma.
- Mertuaku sudah sebulan tidak pulang. - Makan dulu.
Makan dulu.
Kemarin itu ya,
aku tidak sengaja lihat ada iklan di Instagram,
aparthouse begitu,
di Fatmawati,
luas tanahnya kalau tidak salah 50 meter persegi,
kamarnya 3+1, harganya satu miliaran.
Mungkin kau salah lihat.
Di beri tahu.
Ini.
Aku simpan kemarin.
Eh, ternyata di Cipete.
Oh, apa namanya?
Cipete Aparthouse.
Oke juga. Telepon saja.
- Halo? - Halo, Mbak.
Aku Kaluna.
Aku mau tanya soal Cipete Aparthouse.
Mbak ini agen atau pribadi?
Pribadi.
Oh, baik.
Perkenalkan, aku Rini dari marketing Cipete Aparthouse.
Ini properti yang bagus sekali, Mbak Kaluna.
Hanya satu kilometer dari stasiun MRT.
Total unit hanya delapan rumah, jadi, sangat eksklusif.
Oh… Untuk luas tanahnya berapa ya, Mbak?
Luasnya di 50 meter persegi.
Tanahnya?
Bangunan.
Yang aku tanya luas tanahnya, Mbak.
Luasnya 12.
Dua belas kali?
Dua belas meter persegi, Mbak.
Dua belas meter persegi.
Oh, 12 meter persegi luasnya.
- Harganya berapa, Mbak? - Ya, Mbak.
Harga 1,2 M kalau uang tunai keras.
Cepat akan naik ini.
Atau, kalau ada WhatsApp-nya, mungkin aku bisa kirim…
Oh, tidak usah Mbak, tidak apa-apa. Aku tidak ada duitnya.
Dimatikan.
Itu, Mi.
Kal…
Luas 12 meter dengan warteg ini, lebih besar warteg ini.
Makanya.
Serius amat.
Nan, ah… Kaget tahu.
Belum pulang kau?
Pasti ada maunya.
Kal…
Tolong jadwal ulang tiketku ke Singapura.
Nisa memesankan tiket pagi-pagi sekali.
- Ya? Kumohon? - Tiketnya?
Sudah kukirim ke surel.
Sebentar, aku cek.
Astaga, ini rapi sekali lo, Kal.
Untuk apa kau lihat-lihat? Nanti kau kasihan kepadaku.
- Kasihan mana sama aku? Anak yatim? - Ih…
Sudah, ah.
Kau hebat, Kal.
Hebat apa?
Aku boleh minta format spreadsheet-nya?
Untuk apa? Memangnya gajimu perlu diirit sepertiku?
Tidak.
Sombong.
Ya, bukan begitu, Kal.
Namun, aku benar-benar minder lo.
Ih.
Dengan gajimu yang sebesar itu,
kau bisa menabung sampai sebanyak ini.
Sedangkan aku, setiap gajian, aku tidak tahu habisnya ke mana.
Dalam sehari, kau minum kopi sampai tiga kali.
Satu kopi berapa? Lima puluh ribu?
Enam puluh ribu?
Yang kecil-kecil itu tidak berasa, tapi bisa membuat cepat habis.
Ya, makanya aku harus mengatur lagi.
Bagi ya formatnya.
Kal… Sut…
Bagi, ya? Kal…
Bayar, ya.
- Sudah, ini. - Ih…
Ya sudah, nanti aku tambahkan oleh-oleh dari Singapura.
- Itu juga belinya pakai duit kantor. - Enak saja, sembarangan.
Mau apa? Sebut. Mau apa? Bilang.
Mau ponsel baru?
Parfum? Mau apa? Bilang sama Danan, mau apa?
Nanti tinggal remburs.
Harus sekali diposting di grup keluarga?
Kok dibawa embernya?
Kau mau pakai kamar mandinya, 'kan?
Ini, 'kan, buat aku mandi.
Tidak cukup kamarku diambil?
Ya, maaf.
Biasanya juga tidak ada yang pakai kamar mandinya.
Baru juga cuma buat mencuci celana, bukan buat mengepel.
Kok begitu warnanya?
Kuning.
Cuma perlu diganti pipanya saja.
Ayo, Kal.
Nah, di sini kita ada tempat duduk,
di sini juga ada barbekuan.
- Luas sekali ya halaman belakangnya? - Luas sekali, Mbak.
Enak, anginnya sepoi-sepoi.
Eh, itu apa ya?
- Selang? - Mana?
Ular!
Hei!
- Awas. - Tolong!
Tunggu, Ibu!
Bang, cepatlah. Ayo, Bang.
Ya, truk ayam mundur.
Mundur… Truk ayam mundur.
Aduh, Masnya, ah!
Mas, ini kita lagi macet, mandek. Tidak bisa, Masnya harus mundur.
Bagaimana mau mundur? Itu di belakang ada…
Masnya tenang dulu, kita semua mundur. Mobil mundur.
- Mundur! Mobil mundur! - Bau! Tutup!
Angkot mundur!
- Tanish! Bau, Nish! - Mundur!
- Ih! - Kita balik saja, ya.
Kalau aku beli rumah di sini, mertuaku bisa mengamuk.
Bau sekali.
Ini ruang serbagunanya.
Bisa dijadikan sebagai area…
Apa? Bisa diulang, tidak?
- Ini ruang… - Mas, tulis saja.
Tulis.
Oh.
Apa?
Oh.
Sebenarnya kami juga masih sayang sama rumahnya,
tapi anakku tidak betah.
Kal.
Apa?
- Apa? - Itu.
Pantas!
Terima kasih ya, Pak!
Bagaimana?
Akhirnya, ya.
Setelah dari kemarin ketemu rumah yang sempit-sempit,
ada juga yang gede.
Jarang lo ini kita dapat yang semurah ini.
Memang kau mau tinggal di sini?
Ya, kalau aku dikontrakkan biar cepat pensiun.
Nah, 'kan?
Orang-orang seperti Danan ini yang membuatku susah punya rumah.
Namun, aku sangsi.
Luasnya sebesar ini, harganya murah sekali.
Jangan-jangan banjir di sini?
Mau survei dulu?
Mau bertanya sama siapa?
Alhamdulillah, 20 tahun tinggal di sini tidak pernah banjir, Mas.
Daerah sini bagus, Mas.
Itu, rumahnya saja bagus.
Kalau 20 tahun, berarti Bapak kenal baik sama yang punya rumah itu?
Bukan kenal lagi, akrab.
Dulu orangnya sering menongkrong di sini juga denganku.
- Ya, 'kan, Empok? - Siapa?
Pak Rusman.
Oh.
Dia baik orangnya.
Sekarang orangnya pindah ke mana?
Sudah almarhum.
Inna lillahi.
'Kan menjadi korban mutilasi di rumahnya.
Inna lillahi.
Ya ampun, Empok, jangan dibicarakan juga.
Eh, ya, salah. Maaf… Salah, maaf.
Astagfirullah! Ya Allah! Apa itu?
Aduh…
Jadi, bagaimana, Ma?
Ceritanya kucingnya jatuh?
Kucingnya mana?
Kucingnya…
Kucingnya banyak?
Lala mau lihat!
Sudah pulang kucingnya.
- Kal… - Yah, aku mau lihat.
Terima kasih, Bu.
Lala mau ketemu sama kucingnya.
Memang suka kucing?
Sejak kapan?
Sementara seperti ini dulu ya, Kal.
Besok Bapak panggil tukang.
- Terima kasih ya, Pak. - Ya.
Bobo, ya.
Aku lihat kucing kemarin pas di sekolah.
Tidur dulu, Kal.
Kaivan tidak mau susu, 'kan? Tidak usah, ya.
Yah…
Selamat malam, Auntie.
Selamat malam, Auntie.
Jadi, tadi bagaimana, Ma?
Tadi kucingnya jatuh?
Ya, dari atas.
Kok bisa jatuh?
Yah, karena atapnya jelek.
Halo, Pak.
Oh, sudah. Sudah, Pak.
Sudah, baru saja, Pak.
Ya.
Tidak apa-apa.
Ya, biar cepat beres, Pak.
Masih aman.
Ya, Pak.
Mau ke mana, Nat?
Nikahan teman.
Tas baru?
Aku beli cuma 1.2, lo.
Lagi clearance olshopnya.
Harga aslinya empat juta.
Bukannya kalian katanya lagi menabung untuk membeli tanah?
Sudah dibeli, kok.
- Serius? - Serius.
- Oh. - Nat.
Ya.
- Ayo. - Ayo.
Duluan, ya.
Hati-hati.
- Mas, aku pakai sepatu dulu, ya. - Ya.
- Pak… - Ya?
Bang Nendra benar-benar jadi ambil tanah?
Jadi.
Kemarin sudah akad, katanya.
Uang dari mana, Pak?
Yah…
Dari kantor dia.
Oh, ya?
Hebat juga bisa dapat.
Memang… biasanya susah?
Ya, lumayan banyak persyaratannya Pak.
Makanya aku mencari rumah agar bisa KPR.
Sabar ya, Kal.
Semua ada waktunya.
Oke, bagus.
Kita ganti warna lipstik, ya.
Mematikan.
Rumah yang bisa tahan banting dengan cicilan seharga kos?
Memang ada? Tentu ada!
Ini dia perumahan Sva Casa Sawangan,
rumah estetik dengan konsep minimalis yang membuat kalian pasti jatuh cinta.
Di sebelah kiri, kita bisa lihat dapur yang cukup luas,
Di sampingnya ada pintu, untuk sedikit tempat untuk luar ruangan.
Sudah pasti langsung betah.
Semua kamarnya terletak di lantai dua
dan dari tata letak sampai buka jendelanya besar sekali,
membuat ruangan menjadi lega.
Untuk lokasi juga tidak kalah strategis,
hanya sepuluh menit ke Tol Sawangan dan 25 menit sudah sampai Jaksel.
Oh ya…
Halo, selamat datang di Sva Casa.
- Halo. - Hai, aku Feni.
Membuka kunci.
- Ayo, mari. - Selamat datang.
Silakan masuk.
Aku buka jendelanya, ya.
- Enak, 'kan? Terang sekali rumahnya? - Ya.
Jadi, emang arsitektur rumah ini dibuat semaksimal mungkin
supaya ventilasi dan juga sirkulasi udara itu bisa baik,
masuk dalam rumah ini,
sinar matahari juga banyak masuk ke dalam rumah.
Jadi, rumah ini punya tiga kamar, Mbak Kaluna.
Aku akan tunjukkan kamar utamanya dulu, ya.
Silakan.
Nah, ini juga ada jendela besar, mungkin bisa dibuka.
Jadi, sirkulasi udaranya bisa masuk,
cahaya mataharinya juga bisa masuk, dan bisa langsung lihat ke bawah.
Kemudian, ada kamar mandi. Mbak Kaluna bisa cek.
Mungkin nanti bisa dilihat, ini adalah kamar yang kedua.
Jadi, memang setiap kamar itu ada jendela besarnya.
Karena memang ini konsepnya adalah rumah…
rumah sehat, boleh dibilang begitu.
Ya?
- Menarik. - Menarik, ya?
Ini kamar mandi yang kedua.
Kamar mandi untuk dua kamar ini.
Nah, di sini ada area kerja,
atau mungkin nanti buat teman-temannya datang
bisa menongkrong di sini.
Mbak Kaluna akan betah tinggal di sini.
Nyaman sekali, memang.
Sebentar, aku angkat telepon dulu, ya.
Halo?
Aku terima telepon dulu.
Halo? Ya.
- Suka sekali aku, Miy. - Ya. Bagus, ya?
Kalau misalnya…
belum bayar apartemen setahun ke depan, aku ambil ini rumah.
Kau bagaimana, Kal?
Sepertinya…
ini rumah yang selama ini kucari, Nish.
Suka sekali.
30 DI BAWAH TEKANAN
MIYA SANGAT ESTETIK.
TEMAN-TEMAN, AKU TIDAK BISA TIDUR…
Oke.
Oke.
Ya.
Oke, berkasnya lengkap semua.
Aku proses, ya?
Terima kasih ya, Pak.
Bersulang!
Doakan ya, Teman-Teman.
Ini benar-benar utang pertamaku seumur hidup.
Kita doakan supaya pengajuan KPR Kaluna cepat disetujui.
Amin!
Amin.
Ayo.
Sudah makan, Mi. Sudah bergetar tanganmu.
Kalian jangan seperti ini!
Paksa aku, paksa.
Ya ampun!
- Ayo. - Aduh.
- Kenapa kau… - Mbak!
Sudahlah.
'Kan…
Tidak kuat aku!
Rusak lagi, 'kan, dietku!
Memang sudah rusak.
Minta dibungkus, dua.
♪ Jika hati terasa penat ♪
- Sudah diberi tahu. - Pakai nasi.
♪ Duduk sejenak dan istirahat ♪
♪ Wajar kadang lemah, wajar kadang lelah ♪
Asalamualaikum!
Aku bawa kepiting saus padang!
♪ Karena kau kuat ♪
Ada apa ini?
Sertifikat tanah yang dibeli Bang Nendra, ganda.
Ganda bagaimana?
Ya, ganda.
Ternyata ada orang lain yang punya sertifikat tanah yang sama.
Memangnya waktu beli sertifikatnya tidak dibawa dulu ke BPN?
Tidak sempat.
Waktu itu pemiliknya mau pindah ke luar kota.
Lalu, tahu gandanya dari mana?
Karena pas Abang…
mengajukan pinjaman ke kantor,
jaminan sertifikatnya ditolak.
Pas orang kantor periksa, ganda katanya.
Tunggu…
Bukannya…
katanya Abang dapat pinjaman dari kantor?
Lalu, uangnya dari mana?
Pinjam tabungan pensiun Bapak.
Sama pinjol.
Wah, kau sudah gila.
Ya, 'kan? Itu juga yang tadi aku bilang.
Mbak…
Dulu kau waktu beli apartemen memangnya
Mbak tahu developernya akan bangkrut?
Memangnya kalau bangkrut salah aku?
Sudah!
Sama saja, Mbak.
Ini juga kita terlanjur tertipu, mana kita tahu…
Ini tidak sama!
Kalau ambil pinjol, itu bukan terlanjur, itu bodoh namanya!
Sudah, cukup!
Dua-duanya salah!
Lala mengantuk.
Dulu Bapak sudah bilang,
tidak usah beli apartemen itu.
Kau dan Kuncoro tidak mau dengar.
Bapak bilang sama kalian,
jangan memaksa beli tanah kalau uangnya belum terkumpul!
Masih mengotot.
Karena kau bilang kau sudah dapat pinjaman dari kantor,
makanya Bapak percaya buat pinjamkan uang simpanan Bapak terakhir!
Uang itu Bapak tabung untuk pernikahan Kaluna, Nendra!
Bapak sudah pernah bilang.
Jangan main-main sama yang online itu.
Aku hanya mau usaha yang terbaik, Pak.
Mana kutahu aku ditipu seperti ini.
Pak, tolong Nendra…
Ibu juga. Sudahlah, Bu!
Mereka itu sudah besar-besar!
Begini jadinya kalau kita tolong mereka terus-terusan.
Bapak ini sudah tidak ada kerjaan, Bu.
Kapan Ibu bisa mengerti?
Kal…
Kau mau bilang Abang tolol, bodoh, gila, terserah.
Namun, tolong, Kal…
Bantu Abang untuk melunasi utang pinjolnya.
Tidak ada, ya, pinjam uang adikmu!
Aku harus melunasi utang ini, Pak!
Dia sudah cukup banyak mengalah
serta membantu Bapak dan Ibu selama ini!
Kau yang harus bertanggung jawab dan jangan menyusahkan adikmu lagi!
Kal…
- Tolong, Kal. - Nendra!
Kau yang berutang, kenapa harus aku yang melunasi?
Bukan begitu, Kal.
Kumohon…
Sebesar 330 juta.
Atau kita semua kehilangan tempat tinggal.
Maksudnya?
Abang pakai surat rumah ini untuk jaminan pinjolnya.
- Makanya Abang… - Kanendra!
Kau ambil sertifikat rumah?
Kanendra! Jawab Bapak!
Ibu!
Ibu yang kasih.
Ibu yang kasih surat rumah, Pak.
Ibu pikir itu buat kantor.
Ibu yang kasih. Sudah…
Ibu yang salah.
Kal…
Tolong, Kal…
Kalau tidak,
kita semua kehilangan rumah ini, Kal.
Kehilangan apa maksudmu, Bang?
Aku juga sudah tidak punya tempat di rumah ini.
Sudah kalian gusur, 'kan,
sampai ke belakang?
Kamar pembantu.
Hidupku di sini juga sudah seperti pembantu.
Kalian ada pernah bantu?
Tidak pernah, 'kan?
Hanya aku sama Ibu yang mengurus rumah!
Terus sekarang gara-gara kebodohanmu, masih harus aku juga yang menanggung?
Kurasa kau memang sudah gila!
Apa?
Lalu, kau tega lihat rumah ini disita?
Kau tega lihat kita menjadi gelandangan?
Bisa kau ya, bawa-bawa kita sekarang?
Dari awal, yang tega menggadaikan sertifikat rumah itu adalah kau!
Tidak!
Tidak usah bawa-bawa aku!
Kal, mau ke mana?
Kaluna!
Kal! Ke mana, Kal?
Kal! Kaluna! Mau ke mana, Kal?
Kal!
Kal…
TEMAN-TEMAN…
Halo? Kal?
Kal? Kenapa?
Masuk, Kal.
Duduk, Kal…
Minum?
Terima kasih ya, Nan.
Aku pasti akan bayar kok bulanannya.
Namun, maaf sekali,
mungkin aku tidak bisa bayar seharga aslinya.
Apa-apaan kau ini? Tidak ada ah…
Aku tidak mau, Nan, menumpang gratisan.
Kau seperti sama orang lain saja, Kal.
Tidak, lah.
Aku tidak mau seperti memanfaatkanmu.
Aku juga suka memanfaatkanmu.
Jadwal ulang tiket, remburs bon.
Itu memang tugasku.
Ya sudah.
Bagaimana kalau kau…
bayar pemeliharaan bulanannya?
Oke.
Sepakat.
Ya sudah. Aku pulang ya, Kal.
Aku tinggal.
Hei, Nan…
Aku boleh minta tolong jangan kasih tahu Miya dan Tanish dulu?
Aku tidak mau mereka berpikir macam-macam saja.
Biar nanti aku yang kasih tahu langsung sama mereka.
Aman.
Ya sudah. Istirahat, ya.
Anggap rumah sendiri. Oke, Kal?
- Hati-hati ya, Nan. - Ya, Kal.
♪ Setiap hari kau tanyakan ♪
♪ Apa kabar, Adik? ♪
♪ Hm ♪
♪ Meski tak semua jawaban ♪
♪ Benar-benar baik ♪
♪ Oh ♪
♪ Mulai lelah dengan tekanan ♪
♪ Di duniaku sendiri ♪
♪ Ingin pulang ke pangkuannya ♪
♪ Tempat yang kurindu sejak lama ♪
♪ Rumah kecil itu ♪
♪ Tempat ku berteduh ♪
♪ Senyuman pria yang kurindukan ♪
Nan, Kal, lihat ke sini.
- Yang lama fotonya. - Satu, dua.
Enak sekali.
- Terima kasih. - Kal.
Aku mau pesan puding karamel, katanya di sini enak.
- Mau berbagi? - Pesan dua saja, aku mau satu.
Tumben.
Sekali-sekali tidak apa-apa, 'kan?
Oke.
Mbak!
- Punyaku pedas. - Pesan puding karamel dua.
Terima kasih.
♪ Meski tak senyaman di rumah sendiri ♪
♪ Mulai lelah dengan tekanan ♪
♪ Di duniaku… ♪
Sedang galau, tapi lagumu terpotong iklan?
Aduh, tidak sekali.
Ayo berlangganan paket premium sekarang.
Hanya dengan 49.000 rupiah per bulan,
kau bisa langsung menikmati musik kesukaanmu sepu…
♪ …tempatku berteduh ♪
♪ Senyuman pria yang kurindukan ♪
♪ Akan kubuktikan ♪
♪ Semua doa dan harapannya ♪
♪ Semua doa ♪
♪ Dan harapannya ♪
Ya, sebentar!
- Hei, ayo masuk. - Nish…
Hai.
Terima kasih sekali, ya.
Aku tidak tahu ini bagaimana hari ini kalau tidak ada kalian, asli.
Padahal aku yang menawarkan agar aku yang pergi.
Bu Ratna maunya denganmu.
Tidak apa-apa.
Oh ya, bekal dan minuman sudah kusiapkan.
Terus…
Apa lagi, ya?
Oh, aku sudah cek di grup.
Kau antar langsung saja ke depan gerbang Seaworld Ancol.
Sudah selesai dari sana, tinggal saja.
Dri, Sayang, dengarkan Bunda.
Jangan jauh-jauh dari rombongan, ya.
- Ya. - Turuti Miss Lia.
- Ya. - Lalu, jangan rewel sama Tante dan Om.
- Oke? - Oke.
Hei, Dri!
Apa?
Lupa pakai tas, ya?
- Ini. - Ya.
Minumnya.
- Sudah? Dah! - Dah.
- Dri, hati-hati, ya! - Ya!
Tahu, tidak?
Aku belum pernah ke sini.
Serius?
Oh, tidak bisa. Ayo, masuk.
♪ Aku tahu dunia sering tak adil ♪
♪ Dunia sering tak mudah ♪
♪ Dan kau hadapi sendiri ♪
♪ Tapi aku percaya bahwa kau mampu ♪
♪ Ada yang berbeda darimu ♪
♪ Kau lebih dari itu ♪
♪ Terima kasih sudah bertahan ♪
♪ Terima kasih sudah berjuang ♪
♪ Ternyata kau sekuat itu ♪
♪ Ternyata kau sehebat itu ♪
♪ Terima kasih kau tak berhenti ♪
♪ Terima kasih kau tak menyerah ♪
♪ Di pertarungan yang sengit ini ♪
♪ Kau 'kan, kau 'kan menang ♪
Bagus ya, Nan?
♪ Percaya ♪
♪ Serahkan sisanya kepada semesta ♪
♪ Semua ♪
Ya, Nish?
Oke.
Sama-sama.
Sama-sama.
Dah.
- Tanish? - Salam dari Tanish.
Kenapa?
Katanya Dri tinggal saja, nanti dia bisa jemput.
- Oke. - Ayo.
Kau lapar?
Lumayan.
Mau makan di mana?
Apa ini, Kal?
Sup kacang hijau.
Seperti kurang apa ya?
Tidak, ah.
Ini enak sekali, malah.
Dapat ide dari mana sup kacang hijau?
Habiskan kalau kau suka. Pakai nasi.
- Makan, ya. - Nanti aku bungkuskan sekalian.
Oke.
Kok tidak makan?
Kenapa, Kal?
Aku salah atau tidak, Nan,
kalau aku semarah ini dengan keluargaku?
Selama ini aku yang selalu mengalah.
Maaf ya, Nan, aku jadi curcol.
Tidak apa-apa.
Aku senang menjadi tempat curhatmu.
Ya, selama ini…
jarang saja dengar kau cerita.
Kebanyakan kau mendengarkan kami.
Lucu, ya.
Keluarga bisa hancur cuma karena utang.
Terkadang aku berpikir…
Membayangkan…
Apakah hidupku akan berbeda
seandainya dulu aku bisa lebih egois sedikit saja?
Mau angkat, Kal?
- Ya, halo? - Selamat siang.
Apa benar aku berbicara dengan Ibu Kaluna Darmawan?
Ya, aku sendiri.
Baik, Ibu. Perkenalkan, aku Andika, dari KPR BCA.
Oh…
Oke.
Ya. Terima kasih ya, Mas.
Apa?
KPR aku disetujui, Nan!
KPR aku disetujui, Nan, akhirnya.
- Selamat sore, Mbak Kaluna. Mas. - Apa kabar?
- Apa kabar, Mbak Feni? - Baik. Silakan, silakan duduk.
Sebelum kita lanjutkan prosesnya,
ini ada berkas dicek dulu, dilihat, dibaca.
Mbak Kaluna mau lihat unitnya sekali lagi sebelum ditanda tangan?
Membuka kunci.
- Selamat datang. - Nah, silakan lihat-lihat.
Nanti kalau Mbak dan Mas butuh apa-apa, aku ada di luar, ya.
Ya sudah, kalau begitu, aku tinggal.
- Terima kasih banyak Mbak Feni. - Selamat menikmati.
- Terima kasih, Mbak. - Ya.
Nan, aku sudah tidak sabar sekali.
Nanti pulang kerja, bisa langsung ke sini.
Aduh. Capai juga ya dari kantor seharian.
Eh, dapurnya aku suka sekali.
Itu, ya ampun bagus sekali. Ini akan menjadi dapurku.
Aku bisa sekalian memasak untukmu, Miya, dan Tanish.
Aku masakkan setiap hari, aku bawakan ke kantor.
- Benar, ya? - Benar, lah!
Aku senang sekali memasak kalau dapurnya seperti ini.
Kalau makanannya sudah matang, nanti aku bawa ke sana.
Masakannya sudah selesai.
Ayo, Pak. Silakan, Pak. Makan, Pak.
Ya, di sini.
Selamat makan.
Di sini makannya.
Aku bisa istirahat di kamar yang nyaman.
Tidak diganggu siapa-siapa.
Oh, ini salah satu impianku. Kau harus lihat. Sini.
Itu, Nan.
Aku bisa mandi air panas setiap hari.
Seperti di tempatmu, 'kan?
Coba bayangkan. Pulang kerja, kelelahan, lalu mandi air panas.
Ini buat nanti Dri, Tanish, Miya, kalau lagi mau menginap.
Nah…
Yang ini sebenarnya aku masih bingung buat apa.
Diapakan ya, Nan?
Apa?
Kau hebat, Kal.
Akhirnya kesampaian punya rumah sendiri.
Kal?
Kal?
Hei.
Oke?
Aman, kok.
♪ Ditekan dari segala sisi ♪
♪ Sering kali hilang arti ♪
♪ Aku hidup untuk siapa? ♪
♪ Ku sudah tidak nyaman lagi ♪
♪ Bermimpi pun tahu diri ♪
♪ Apa sebaiknya pergi? ♪
♪ Jika semua bersandar padaku ♪
Bapak pastikan sertifikat rumah kita balik.
♪ Lalu, aku bersandar ke mana? ♪
Kau tidak perlu bantu Kanendra, Kal.
Itu tugas Bapak.
- Bapak kirim balik. - Pak…
Kita tidak punya pilihan lain.
Uang Bapak juga sudah habis, 'kan?
Ini uang hasil kerja kerasmu.
Pak…
Aku ikhlas.
Kalau rumah ini tidak ada,
Bapak dan Ibu mau tinggal di mana?
Lagi pula, ini rumah peninggalan Engkong, Pak,
yang harus kita jaga.
♪ Setiap hari ku mengais ♪
♪ Harta yang tak kumiliki ♪
Ya sudah. Kalau begitu, aku pamit, Pak.
♪ Jika semua bersandar kepadaku ♪
Hati-hati.
Asalamualaikum.
♪ Lalu, aku bersandar ke mana? ♪
♪ Mengalah ♪
♪ Walau bukan aku yang salah ♪
♪ Membisu ♪
♪ Saat semua sibuk beradu ♪
GAS - SEWA RUMAH
BENSIN - TRANSPORTASI
MINUMAN DINGIN - MAKANAN
TRANSFER BAPAK - DANA DARURAT
♪ Berakhir di aku ♪
♪ Berakhir di aku ♪
NILAI TOTAL ASET
♪ Berakhir di aku ♪
♪ Berakhir di aku ♪
♪ Berakhir di aku ♪
♪ Walau tak rela pun Kubantu berdoa ini semua ♪
♪ Berakhir di aku ♪
♪ Membisu ♪
♪ Saat semua sibuk beradu ♪
Maaf.
♪ Walau tak rela pun Kubantu berdoa ini semua ♪
Kenapa, Kal?
♪ Berakhir… ♪
Kal, aku benar-benar minta maaf sekali.
Aku tidak tahu kalau kau sedang melalui masalah sebesar ini.
Aku juga mungkin terlalu sibuk sama masalahku.
Nish…
Tidak apa-apa. Aku mengerti, kok.
Kau sendiri sekarang bagaimana?
Aku…
dapat tawaran promosi dari Pak Sofyan.
Namun, pindah ke Kendal.
Aku sudah diskusi sama Darpa.
Dan pasti…
Ya, kalau kita di sana,
kita jadi bisa lebih banyak menabung.
Dan, ya, kau tahu.
Bisa jauh dari mertua.
Dan dia tidak merecoki aku lagi.
Ambil, Nish.
Aku juga mempertimbangkan sepertinya akan aku ambil.
Lagi pula, ya…
zaman sekarang itu susah dapat promosi.
Mengapa kau pindah ke Kendal, Nish?
Ya, biar gajiku Jakarta, tapi biaya hidupku kabupaten.
Gaya sekali.
Jangan mau kalah, Kal!
Nanti Tanish main ke Jakarta, kau sudah punya rumah.
Aku lapar. Ayo makan.
- Ayo. - Mau titip?
Tidak, aku sudah.
Cari makanan sehat, ya.
Aku naik sekilo. Sebal, deh.
Ya, halo?
Lagi di mana, Kal?
Lagi di kantor. Kenapa, Kak?
Oh…
- Kal…
Bapak mau…
jual rumah kita.
Lo?
Memang yang kemarin tidak cukup?
Bukan.
Bapak juga tidak tega uang tabunganmu sampai habis begitu.
Tidak adil untukmu.
Sementara…
aku juga sudah mencari ada kontrakan di dekat mesnya Mas Kuncoro.
Cukup untuk…
nanti kami sekeluarga.
Terus…
Bang Nendra bagaimana, Kak?
Mungkin ikut mertuanya dulu
sambil cari kontrakan juga.
Soalnya Natya maunya yang dekat sama sekolahnya Kaivan.
Kal…
Maafkan Kakak, ya.
Nanti kalau kau pulang,
barang-barangmu sudah kubereskan kok.
Yang di kamar pembantu juga sudah aku kembalikan semua ke kamarmu.
Aku baru sadar
ternyata barangmu sedikit sekali, ya.
Kita dari lahir di sini, ya.
Sebelum kita semua pindah, kau pulang, ya.
Biar kita di sini sama-sama lagi
untuk yang terakhir kalinya sebelum akhirnya kita pisah.
Ibu itu…
sejak kau pergi…
setiap hari memasak sup kacang hijau kesukaanmu.
Setiap hari.
Namun, tidak berani menyuruhmu pulang.
Kal…
Pulang, ya?
Dor!
Jangan menembak begitu.
Nanti aku terima.
Gila deh. Apa-apaan kau ini?
Serius.
Jadi, seperti itu caramu menggombali para perempuan?
Terus mereka pada mau?
Ternyata kau tidak.
Menyebalkan memang.
Sini.
Kukira untukku.
Kenapa, bengong terus?
Aku kok…
seperti patah hati ya, Kal?
Ya, karena tidak ada yang bersihkan apartemenmu lagi, 'kan?
Lalu, setelah ini…
rumahmu terjual,
uangmu kembali,
jadi tetap beli rumah yang kemarin?
Kata Mbak Feni, rumahnya sudah laku.
Orang biasa seperti aku itu…
mau mimpi saja harus tahu diri ternyata.
'Kan kau sendiri yang bilang, Kal.
Kalau kau ingin punya sesuatu yang…
benar-benar milikmu.
Aku pulang, ya.
Terima kasih ya, Nan, aku sudah boleh menumpang di sini.
Kapan pun, Kal.
Dah, Nan.
Dah, Kal.
Kembalikan, La! Aku mau pakai!
Kau juga punya!
Enak saja pakai punya orang!
Siapa?
- Tidak tahu! - Itu siapa?
Itu Auntie Una sudah pulang?
Tunggu. Aku mau lihat juga.
Ibu. Terima kasih ya, Bu.
Ibu baru sempat menyapu, belum sempat mengepel.
Besok ibu rapikan lagi, ya.
- Apa lagi yang belum? - Ibu… Sudah, Bu.
Cukup.
Terima kasih ya, Bu.
Ibu senang kau pulang.
Sudah, biarkan saja.
- Kamala, ini ya. - Ya.
Sudah. Sana, temani Bapak.
Sana.
Sudah.
Pak…
Hei.
Duduk.
Kok begitu?
Kaluna…
Bapak minta maaf, ya.
Bapak merasa…
sudah gagal sebagai orang tua.
Pak…
Pak, jangan bicara seperti itu.
Bapak tidak pernah bisa kasih apa-apa kepadamu.
Sebaliknya,
Bapak harus banyak minta maaf kepadamu…
Tidak.
Tidak, Pak.
Tidak, Bapak sudah kasih banyak sekali buat aku,
buat semuanya di sini.
Ya, 'kan?
Pak, tidak.
Jangan bicara begitu, Pak.
Tidak.
Maafkan Bapak, ya, Nak.
Bukan salah Bapak.
Pak…
Aku boleh minta sesuatu?
Apa, Nak?
Bapak berhenti merokok ya?
Aku ingin Bapak sehat-sehat terus.
Umurnya panjang.
Bisa menemani aku nikah.
Punya cucu lagi nanti yang banyak.
Ya, Nak.
Ya, Nak.
Bapak berhenti merokok.
Maafkan Bapak.
♪ Bagaikan jiwa yang terpisah ♪
♪ Mati enggan ♪
Oke.
Pelan-pelan, Pak.
♪ Jiwanya t'lah lama direnggut waktu ♪
♪ Katanya hatiku t'lah lama terbelah ♪
♪ Bagai cangkang kosong terpisah ♪
Waktu ulang tahun.
Engkong…
♪ Bukan maaf ♪
♪ Yang kuminta ♪
♪ Tapi peluk ♪
♪ Yang kulupa ♪
♪ Ini cerita tentang rumah yang berbeda… ♪
Dah!
- Aku duluan, ya. - Ya.
Dah…
- Hati-hati ya Mas, Mbak. - Hati-hati.
Mari.
Dah!
♪ Hanya tersentuh dalam jarak doa ♪
- Ayo, Nat. - Sudah?
Bu, Pak. Kami pamit, ya.
- Hati-hati, ya. - Asalamualaikum, Bu.
- Hati-hati, ya. - Pamit ya, Bu.
- Hati-hati. - Terima kasih ya, Pak.
Kal…
- Pak. - Ya.
- Terima kasih, ya. - Ya.
- Ayo, salam. - Dah.
- Kal. - Hati-hati, Bang.
Terima kasih, ya.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
Dah…
Oke.
- Dah. - Dah!
Dah…
♪ Di mana ada ♪
♪ Kamu dalamnya ♪
♪ Ini cerita tentang rumah yang berbeda ♪
♪ Dan berjarak jauh ♪
♪ Hanya tersentuh dalam jarak doa ♪
♪ Ada hati yang kujaga ♪
♪ Namamu jadi rahasia ♪
Satu, dua.
♪ Dalam diam 'kan kubawa ♪
♪ Dalam diam 'kan kubawa ♪
♪ Dalam diam 'kan kubawa ♪
♪ Mendarah ♪
- Ini, Pak, minumnya. - Ya.
Terima kasih.
♪ Pagi memanggil kota yang lelap ini ♪
♪ Dia bertanya, "Bagaimana harimu?" ♪
♪ Apa kabar mimpi-mimpimu? ♪
♪ Apa kau tinggal begitu saja? ♪
♪ Apa kabar angan-anganmu hari ini? ♪
♪ Jakarta ramai, hatiku sepi ♪
♪ Jangan kau tanya, "Mengapa sedih?" ♪
♪ Ku tak tahu ♪
♪ Apa arti resah ini ♪
♪ Entah apa yang kumau ♪
♪ Penuh tanya dalam diri ♪
♪ Jakarta ramai ♪
Kal…
Rencanamu beli rumah jadi?
Beli.
Tidak.
Beli.
Beli.
Bapak.
Kaluna! Sini dulu.
Aku butuh kau buat siapkan laporan pembelian yang kemarin.
Lalu, itu mobilnya Pak Garren…
Jadi mengajukan?
Semangat, ya.
- Permisi, Pak. - Masuk.
Lo? Mau mengundurkan diri, Mbak?
Siapa?
Bu Nina, nanti tolong diselesaikan ya.
- Maaf. - Ya.
- Bu. - Ya?
Nanti kalau orderannya sudah dijemput, minta tolong dicatat saja ya, Bu.
Ya.
Maaf ya, Bu, aku tinggal sebentar.
- Mau lihat rumah? - Ya.
- Mudah-mudahan jodoh ya, Bu. - Ya, amin.
- Aku ambil tas dulu. - Ya.
Jalan ya, Bu.
- Asalamualaikum. - Kal!
Ini… Untuk Danan.
- Terima kasih ya, Bu. Pamit. - Ya.
- Asalamualaikum - Alaikum salam
Sup kacang hijau dari Ibu.
Wah, harum sekali.
Sedang ramai?
Lumayan, Nan. Lagi dapat orderan tahlilan.
Ayo.
Apa ini?
Ya, cincin.
Nikah, yuk.
Suka bercanda.
Kal, serius.
Aku terima nego sampai jadi.
Ya, oke? Ya?
Ya, Kal?
Apaan?
Sungguh, aku serius. Ini serius, ayo kita nikah.
Bujet kopi 15.000 per hari, titik.
Lima belas ribu mau dapat…
Kaluna… 50.000?
Tidak bisa. Oke, naik sedikit 5.000. Jadi, 20.000 per hari.
- 45 deh. - Naik sedikit, 40.000 per hari.
- Bukan! - 40.000 benar, ya?
- 30.000 maksudnya! Bukan! - 40.000 sudah! Sepakat!
- Enak saja! Dari 20.000, naik ke 30.000! - Tadi sudah bilang 40.000!
- Bukan, maksudnya 30.000! - Tidak, kau yang bilang 40.
- Sudah, 40.000. - Bisa tidak, lebih manis dikit?
Tidak.
Ini bagus sekali, Nan. Pasti mahal, ya?
Tidak.
Berapa harganya?
271 T.
- Halo! - Hai.
- Hai! - Kapan mau main ke tempat Oma?
Ya, Bu. Lala terima rapor dulu ya, Bu.
Ya sudah, nanti Lala ulang tahun dirayakan di sini, bagaimana?
- Oma sudah kangen. - Mau!
Dirayakan di sini saja.
Halo. Pak, Bu.
Kaluna.
- Halo. - Bagaimana geng kontrakan?
- Hei… - Sebentar, ya.
Nanti kalau ulang tahunnya di sini,
bagaimana kalau Tante Una buatkan puding?
- Mau! - Mau rasa apa?
- Langsung datang ini kalau puding, mau. - Ditanyakan itu.
- Cokelat! - Kaivan mau juga?
- Mau! - Kenceng sekali mintanya.
- Buat Lala, kok kau yang jawab? - Stroberi deh.
Ya sudah, nanti Auntie Una buatkan dua-duanya ya.
- Oke? - Hore!
Bilang apa sama Auntie?
Terima kasih, Auntie.
♪ Setidaknya luka badan, jiwa Takkan lagi melepuh ♪
♪ Obatmu mungkin bukan aku Dan semoga hadirku tak perkeruh ♪
♪ Satu hanya doaku, kau semoga sembuh ♪
♪ Kau semoga sembuh ♪
♪ Aku ingat kita bahagia Aku ingat kita bertahan ♪
♪ Demi senyum manis dan masa depanmu ♪
♪ Satu hanya doaku, kau semoga sembuh ♪
♪ Oh ♪
♪ Mungkin kau tak bisa kembali Seperti dahulu ♪
♪ Setidaknya luka badan, jiwa Takkan lagi melepuh ♪
♪ Obatmu mungkin bukan aku Dan semoga hadirku tak perkeruh ♪
♪ Satu hanya doaku, kau semoga sembuh ♪
♪ Mungkin kau tak bisa kembali Seperti dahulu ♪
♪ Setidaknya luka badan, jiwa Takkan lagi melepuh ♪
♪ Obatmu mungkin bukan aku Dan semoga hadirku tak perkeruh ♪
♪ Satu hanya doaku, kau semoga sembuh ♪
♪ Mungkin kau tak bisa kembali Seperti dahulu ♪
♪ Setidaknya luka badan, jiwa Takkan lagi melepuh ♪
♪ Obatmu mungkin bukan aku Dan semoga hadirku tak perkeruh ♪
♪ Satu hanya doaku, kau semoga sembuh ♪
♪ Kau semoga sembuh ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.