Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Corsican
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
PENGENALAN DIRI
RESUME
Baiklah.
Lakukanlah.
Tak mau.
Lakukan saja.
Aku akan cari kerja, Ibu.
Aku hanya perlu cari kerja.
Dengan ini?
RESUME
Ya.
Kerja di mana?
Di suatu tempat.
Pertama, seperti sekarang...
Kau tak mau melakukan apa pun?
Mungkin.
Katamu kau tak tahu apa yang ingin kau lakukan?
Lakukanlah dulu.
Tapi Ibu, tidak di sini.
Kerja kantoran tak bisa?
Filosofi cukup populer sekarang.
Filosofi?
Bagaimana kalau PNS?
Itu stabil.
Tidak cocok untukku.
Apa yang cocok untukmu?
Mulai kini, aku akan...
melakukan eksplorasi diri.
Ibu tak peduli.
Bekerja mulai hari ini.
Ibu.
Tiga bulan saja.
Sambil mencari yang ingin kau lakukan.
Ibu tambah uang sakumu.
Cepat. Banyak yang harus diantar.
Pergi.
Ibu.
Apa itu?
Kenapa memakai motor jelek itu?
Terserah Ibu.
Ibu, itu tak bisa untuk mengantarkan.
Itu bisa untuk mengantarkan.
Cepat pergi.
Tidak...
Bagaimana ini?
BEKAL NASI SAYUR
Bagus.
Bagus? Kau suka?
Kau suka? Yong-Jun juga melihatnya.
Bagus sekali.
Setidaknya beritahu aku sebelumnya.
GEDUNG OLAHRAGA
Di mana kolam renangnya?
Aku tak bisa dengar.
Aku tak menyangka akan melakukan hal seperti ini.
Bagaimana, ya?
Kolam renang...
Di mana?
Pintu masuk.
Terima kasih.
Hati-hati.
Ga-Eul, kau pecah rekor 30 detik.
- Sungguh? - Ya. Kerja bagus.
Pecah rekor.
Aku cepat.
Aku iri.
Aku pergi dulu! Aku akan telat kerja.
Tolong periksa jumlahnya.
Coba kulihat.
Ya, terima kasih.
Halo.
Halo.
Aku...
seorang...
pengantar makanan.
Aku tahu.
Barusan...
Wanita itu juga perenang?
Siapa?
Dari sana...
yang membawa timer.
Yang bersamamu tadi.
Bukan.
Dia temanmu?
Dia kakakku.
Siapa namanya?
Kau ingin menggoda gadis?
Bukan begitu...
Tidak.
Kau benar.
Namaku? Atau nama kakakku?
Kakakmu.
Tidak, kalian berdua.
Kami berdua.
Kau mau menggoda kami?
Bukan menggoda.
Namaku Seo Ga-Eul.
Nama wajahku ini.
Nama adikku Seo Yeo-Reum.
Nama wajahnya ini.
Nomor telepon.
Minta nomor telepon kakakmu.
Minta saja sendiri.
Aku kembali.
Kerja bagus.
Sebentar.
- Ibu. - Apa?
- Itu harus diantar, 'kan? - Ya.
Biar aku antar.
Halo.
- Hati-hati. - Ya.
Halo.
Kolam renang.
Pengantar makanan.
Halo.
Mau aku bantu?
Meski aku tak jago,
tapi aku tak payah.
Jika bisa, tolong bantu.
Ini karburator mesinnya.
Jika pakai bensin lawas, itu akan menumpuk kotoran.
Harus dibersihkan dulu.
Terima kasih.
Apa butuh waktu lama?
Sekitar satu jam?
Tak bisa di sini.
Kau buru-buru?
Kau bisa pakai punyaku.
Akan kuperbaiki ini.
Tidak.
Kau pasti sibuk juga.
Tidak!
Pakai punyaku, mari bertukar saat kita bertemu lagi.
Terima kasih.
Tidak...
Kita mau bertukar skuter.
Berikan ponselmu, akan kuberi nomorku.
Maaf.
Hubungi aku.
Baik.
Selamatkan motor ini.
Apa ini? Di mana kau dapat ini?
Mesinnya kotor.
Koilnya hampir rusak.
Ini juga perlu diganti.
Bisa, 'kan?
Tentu.
Besok.
Besok.
Besok?
Pagi.
- Ini mendesak? - Ya.
Lalu...
jadikan seperti baru.
Aku pergi.
Hei.
Apa?
Ada apa?
Kau menyembunyikan sesuatu.
- Apa? - Ada apa?
Tidak ada.
Pasti ada.
Tidak ada.
Ya, pasti ada.
SKUTERNYA AKAN JADI BESOK PAGI
KAPAN DAN DI MANA KITA AKAN BERTEMU?
Dasar.
- Kau bermalas malasan. - Astaga.
Antarkan ini.
Kenapa menyuruhku?
Kau bermalas malasan.
- Jadi, Ibumu menyuruh Ayah. - Tapi...
Kenapa motornya ganti?
Astaga.
Ada tempat yang ingin kau kunjungi dengan pesawat?
Berpartisipasi di Olimpiade.
Aku ingin naik pesawat dengan adikku.
Bagus.
Terima kasih.
SKUTERNYA AKAN JADI BESOK PAGI
KAU SIBUK?
HUBUNGI AKU
YEO-REUM?!
Hei.
Kenapa kau tinggal di rumahku?
Sebab rumahku tempat kerja.
Setelah pulang, rumahku tetap tempat kerja.
Aku juga butuh istirahat.
Kau...
ingin terus kerja paruh waktu?
Untuk sekarang.
Sambil menjernihkan pikiran.
Juga membantu orang tua.
Ya.
Kau harus cari uang supaya tak diomeli orang tuamu.
Skuternya sudah jadi?
Sudah.
- Tinggal ambil. - Baik.
Hei, skuter itu...
Pemiliknya meminjamimu?
Siapa dia?
Hei.
Aku juga tak penasaran.
Serius.
Kau tampak konyol.
Apa itu?
Kakak jadi pengantar makanan?
Motor kakak rusak, itu hanya pinjam.
Punya kakak payah.
Kau lelah?
Rekor terbaik hari ini.
Tidak lelah.
Kakak, seperti apa bahasa isyarat internasional?
Sepertinya sangat sulit.
Sangat beda.
Kau akan segera mempelajarinya.
Kakak harus ikut Olimpiade denganmu.
Olimpiade itu cuma mimpi.
Aku akan bersyukur bisa ikut seleksi.
Tidak! Kau layak berpartisipasi.
Baiklah.
Serius?
Baiklah, ayo. Aku lapar.
Kau dengar kakak?
Aku dengar dan melupakannya.
Dasar pamer.
SKUTERNYA AKAN JADI BESOK PAGI
HALO?
KATANYA SKUTERMU SUDAH JADI
KAU SEDANG MAKAN?
MAAF, AKU SANGAT SIBUK KEMARIN
TAK APA-APA, SKUTERMU SUDAH JADI
SUNGGUH? TERIMA KASIH BANYAK
Siapa?
Pemilik skuter?
Wanita?
KAPAN KITA AKAN BERTUKAR?
Ternyata wanita.
Cantik?
Sebentar.
- Apa dia cantik? - Sebentar.
KAU BISA PUKUL 10.00?
MARI BERTEMU DI GANG KEMARIN!
Ada apa?
Tidak, ayo makan.
Sudah.
Sudah.
Lee Yong-Jun.
Sangat bersih.
Aku mencucinya pagi tadi.
Terima kasih.
Berapa biayanya?
Tak perlu, cuma perbaikan kecil.
Tidak boleh...
Sungguh tak perlu.
Aku...
berusia 26 tahun.
Kalau kau?
Aku 26 tahun juga.
Kita seumuran.
Lupakan biaya perbaikannya.
Mari berteman.
Kenapa?
Tak ada formal di bahasa isyarat.
Kita sudah berteman sejak awal.
Kau tak keberatan?
Namamu mirip dengan wajahmu.
Aku bukan orang aneh.
Sebenarnya, kemarin...
aku bertanya ke adikmu.
Sebab aku ingin berteman.
Maaf.
Tak apa.
Kau dapat nama itu sebab selalu senyum seperti itu.
Aku lupa tanya namamu.
Namaku Yong-Jun.
Nama wajahku adalah...
ini.
Foto.
Sebab kau suka berfoto?
Maksudnya memotret wajahku dan menyimpannya?
Kalau begitu...
untuk merayakan pertemanan kita...
mau makan.
Makan?
Atau yang lain?
Kalau kopi?
Kau sudah memperbaiki motorku.
Aku yang traktir.
Terima kasih.
Maaf, aku harus pergi.
Berikan itu, akan kubuang.
Tak perlu.
Tak apa-apa.
Terima kasih.
Apa kau sangat sibuk?
Lumayan, belajar dan kerja paruh waktu.
Belajar dan kerja paruh waktu.
Sampai jumpa.
Apa dia berpacaran?
Dengan siapa?
Bagaimana kutahu?
Tak boleh dengan Jae-Jin.
Astaga.
KAU SUDAH MAKAN?
AKU MAKAN ROTI LAPIS
MESKI SIBUK, KAU HARUS TETAP MAKAN
Mau minum kopi?
Jae-Jin datang.
Sedang apa dia?
Lihatlah, dia tiba-tiba menggila.
Ada apa?
Ini lumayan enak.
- Enak? - Ya.
Enak.
Paman, kurasa ini lebih cepat daripada cari kerja.
Benar?
Sayang, ini dia.
Biarkan dia di sini.
Berisik.
Kenapa banyak sekali?
Aku tak tahu apa yang kau suka,
jadi, aku buat semuanya.
Semuanya aku suka.
Sungguh?
Syukurlah.
Tunggu apa lagi? Makanlah.
Bagaimana?
Serius?
Ayo makan bersama.
Aku akan makan di restoran.
Akan kuhabiskan.
Silakan.
Pelan-pelan.
Berapa?
Kau tak perlu bayar.
Bagaimana bisa kau memberikan ini begitu saja?
Ini cukup?
Terima kasih, aku kenyang.
Aku yang makan, biar kubuang.
Aku pergi.
Aku tak menjualnya.
Aku kembali.
Hari ini terjual banyak.
- Kau... - Ya.
Kenapa kau memasak hari ini?
Tak apa-apa.
Kau mau terus kerja di sini?
Tidak.
Tidak, ini tak begitu buruk.
Tak boleh.
Kau berjanji hanya melakukan ini tiga bulan?
Ya.
Tapi...
ibu dan ayah kelelahan, aku...
Kami tak lelah.
Jadi, jangan mendekati dapur.
Ibu yang menyuruhku melakukan ini.
Siapa itu?
Teman.
Aku pergi dulu.
Ternyata wanita.
Wanita?
Ya, wanita.
Siapa?
Yong-Jun.
Meski Yong-Jun cantik, dia pria.
Yong-Jun memacari wanita.
Berkencan.
BIAYA LATIHAN GA-EUL 500,000 WON SEBELUM 25 JULI!
TANGGAL 21: KOMPETISI RENANG
- Keluar dari kolam. - Keluar.
- Keluar dari kolam. - Kau tak dengar?
Kau juga?
Kalian tak boleh berbagi kolam dengan kami.
Tak masuk akal.
- Kau tak bisa bicara? - Panggil pelatih.
- Kau memaki, ya? - Panggil wali kalian.
Kalian yang keluar.
Apa yang kalian lakukan?
Apa? Kau pelatihnya?
Ada apa?
Keluarkan mereka. Kami harus berlatih.
Kami sudah dapat jadwal latihan.
Kami juga dapat.
Jadi, area renang kalian ada di sana.
- Mereka disabilitas. - Kau baik saja? Ayo.
- Bagaimana bisa kami berbagi kolam? - Kau baik saja? Ayo.
- Bagaimana bisa kami berbagi kolam? - Baik.
Jika kami sakit, kau mau tanggung jawab?
Kenapa bisa sakit?
Mereka sehat dan tak punya penyakit kulit.
Aku tak peduli.
Kami akan kembali. Pastikan kalian bersih-bersih.
- Pakai pemutih. - Apa katamu?
Bersihkan dengan pemutih,
air harus didesinfeksi.
Kalian tak tahu etika dasar.
Ji-Kyung, ganti bajumu.
Keluar.
Hati-hati di jalan.
Sampai nanti.
- Nyonya. - Ada apa?
Orang tuli juga bisa membaca ekspresi dan bibir.
Apa maksudmu?
Kita bisa mendengar.
Mereka bisa melihat.
Bukannya tak bisa mendengar,
tapi melihat lebih jelas dari kita.
Lalu?
Aku lihat kau bicara tadi.
Lalu, kau mau apa?
Apa ucapanku salah atau aku memaki?
Hei, siapa kau?
Kau sedang apa?
Kenapa memotret?
Perlihatkan kepalamu.
Kau sedang apa?
Kau gila?
Nyonya.
Jika parkir di area parkir disabilitas,
dendanya 100,000 won.
Awas kau melapor.
Sialan.
LAPOR
Adikmu baik-baik saja?
Kau lihat?
Dia baik saja.
Kalau kau?
Kau baik saja?
Aku?
Ya.
Ini kadang terjadi...
tapi...
aku sangat tak terbiasa.
Silakan menikmati.
Dunia ini sangat sulit, 'kan?
Hanya tak ada suara,
tapi sudah berbeda dunia.
Tak bisa masuk dan keluar.
Itu mungkin takkan berubah.
Ada apa?
Ayo main!
Aku berdiri saja.
Tanyakan Ga-Eul kalau dia lelah.
Dia tanya apa kau lelah?
Aku senang bisa keluar main! Tidak lelah.
Katanya dia tak lelah keluar dan main.
Terima kasih.
Bukankah kakakku harus kerja?
Dia tanya apa kau tak perlu kerja?
Tak apa-apa.
Sudah kuatur, aku bisa libur.
Katanya tak masalah.
Enak!
Kenapa kita kemari?
Udaranya dingin di malam hari.
Suasana hatiku buruk hari ini.
Terima kasih mengajakku bersenang-senang.
Aku agak lelah. Aku pulang duluan.
Kakak juga segera pulang.
Apa?
Mau jalan-jalan?
OMONG-OMONG, KAU HABIS BERAPA TADI?
TAK APA-APA. AKU INGIN MENTRAKTIRMU
KARENA KITA MAIN BERSAMA, MARI BAGI BIAYANYA
SERIUS, ITU TAK PERLU
JANGAN BEGITU. KATAKAN JUMLAHNYA
KALAU BEGITU, BERI AKU 30,000 WON
ADIKKU MENYURUHKU MEMBERI 50,000 WON
BAIKLAH. TERIMA KASIH
BAIK. TERIMA KASIH UNTUK HARI INI
Kapan aku bilang 50,000 won?
Tak apa-apa.
Kenapa kakak sangat perhitungan?
Lain kali, kakak tinggal traktir saja.
Kakak malu.
Apa?
Mau bir?
Kakak memacari pria itu?
Hanya teman.
Kak Yong-Jun beda pendapat?
Kubilang, tidak.
Apa?
Aku mau tidur. Aku mengantuk.
SUARA APA YANG INGIN KAU DENGAR MUSIM PANAS INI?
SUARAMU...
ENTAHLAH. AKAN KUBERITAHU SAAT INGAT!
KAU LELAH? TIDURLAH.
AKU SANGAT SENANG HARI INI. SELAMAT MALAM
Kau telat hari ini?
Kami pindah kolam renang.
Karena wanita itu?
Banyak orang yang komplain.
Dia keterlaluan.
Benar.
Kami tak pindah sebab takut.
Kami pindah sebab kesal.
Kau makan apa?
Roti!
Kalian pindah ke mana?
Kolam renang kota tua.
Cukup jauh.
Benar!
Sampai jumpa!
Ya.
PUSAT OLAHRAGA SEOUL
- Tampak lusuh. - Benar.
Hei. Tentu akan kubantu.
Itu orang yang kubicarakan.
- Berapa rekornya? - 28 detik.
28?
Dia ikut kompetisi renang?
Kompetisi renang Seoul?
Aku yakin dia bisa sampai seleksi.
Intinya, kau boleh latihan di sini.
Terima kasih.
Kupakai hingga akhir seleksi.
Mari belajar bahasa isyarat internasional?
Kakak lapar. Mari pulang.
KOMPETISI RENANG
KOMPETISI RENANG SEOUL KE-25 TAHUN 2023
Aku saja.
Jalur 2: Kim Seung-Min, dari tim renang Gangwon.
Jalur 3: Lee Mi-Yeon, dari tim renang Brilian.
Jalur 4: Chu Aerian, dari Incheon.
Jalur 5: Jung Ho-Sun, dari Seoul.
Jalur 6: Sun Yu-Ji, dari Gyeongsangbuk-do.
Jalur 7: Seo Ga-Eul dari Federasi Harapan Renang.
Jalur 8: Ahn Da-Hee, dari Jeju.
Bersiap.
Bagus.
SEO GA-EUL: 27.87
SEO GA-EUL/FEDERASI HARAPAN RENANG: 27.87
Tinggal satu detik lagi.
Apa?
Medali emas.
Ga-Eul cetak rekor di kompetisi renang.
Selamat!
Sebentar.
Maaf.
Jika bisa mengurangi satu detik lagi,
dia bisa ikut seleksi.
Kalau lolos, dia masuk tim nasional!
Jadi, dia sungguh ikut Olimpiade?
Ga-Eul keren, 'kan?
Kau juga keren!
Mau adakan pesta perayaan?
Bagaimana, ya? Adikku butuh istirahat.
Aku harus buat makan malam.
Selamat.
Terima kasih.
Pergilah, kak.
Tak perlu. Bisa bertemu lain kali.
Maaf.
Tunggulah 30 menit!
Aku sibuk, kenapa mencariku?
Kenapa lama?
Antarkan ke sini. Cepat.
- Aku sibuk. - Sekali saja.
- Tidak bisa. - Kali ini saja.
Aku sangat sibuk. Tak bisa.
Tak bisa. Maaf.
- Kencan buta. - Harus kuantar ke sini?
Hati-hati.
Hei, pemilik rumah itu sangat galak.
Kalau bisa, taruh saja dan segera kembali.
Sekarang memang begitu.
Tapi, seberapa galak dia?
Lebih galak dari yang kau kira.
Jangan bicara apa pun.
- Selasa depan? - Pergi, makanannya dingin.
Aku pergi.
Sangat bagus.
- Aneh. - Cantik.
Ini keren.
- Jelek. - Keren.
- Tidak. - Ini cocok.
Bagaimana?
Bagus!
Ada apa? Ada sesuatu di wajahku?
Tidak.
Kita mau apa hari ini?
Kau lapar? Mau makan sesuatu?
Omong-omong...
apa aku mirip makanan?
Tidak. Kenapa?
Setiap kali kita bertemu kau menanyakan makan?
Kau selalu bilang, "Kau lapar? Mari makan."
Maaf.
Sebab aku anak pemilik restoran.
Jadi, kita mau apa?
Ayo main!
Bagus, 'kan?
Ya, bagus.
Ketika kecil aku dan adikku selalu bermain di sini.
Kau tinggal di sini?
Orang tuaku masih tinggal di sini.
Kadang aku datang membantu orang tuaku.
Saat banyak pikiran aku ke sini.
Memandangi sungai begini membantuku tenang.
KENCANMU LANCAR, 'KAN? JANGAN BALAS!
Apa impianmu?
Impianku?
Adikku ikut ke Olimpiade.
Bukan adikmu, tapi impianmu.
Ya.
Melihat adikku ikut Olimpiade.
Kau mau apa setelah itu?
Setelah itu?
Aku?
Entah, aku tak tahu.
Aku belum pernah memikirkan itu.
Apa impianmu?
Itu...
Lalu, apa impianmu?
Aku?
Sebenarnya aku juga tak tahu impianku.
Ketika SMP dan SMA, aku suka main dengan teman.
Aku lulus kuliah dengan nilai biasa saja.
Saat mau cari kerja, aku tak tahu mau apa.
Aku tetap mengirim resume.
Tapi, entah apa lolos?
Aku tak punya keahlian dan tak tahu ingin apa.
Mirip denganku.
Benar, 'kan?
Kalau begitu...
kau mau mencarinya bersamaku?
Apa?
Itu...
Kau dan aku belum menemukannya.
Mungkin kalau bersama
kita bisa menemukannya.
Semangat!
Yong-Jun!
Kau sudah mengajakku berteman.
Terima kasih.
Ada orang di dalam?
Hei...
Kau tadi berterima kasih aku jadi temanmu.
Tapi, aku...
saat...
pertama kali melihatmu...
Sebentar.
KAMI MEMBAWA GA-EUL KE RUMAH SAKIT KARENA KEBAKARAN
Maafkan aku.
Aku hanya menghirup asap.
Jangan bilang ibu dan ayah, mereka akan khawatir.
Aku baik saja.
Kau tak baik saja.
Jika kau sakit, seharusnya bilang.
Kompetisi sudah dekat. Apa-apaan ini?
Maaf.
Kakak minta maaf.
Kakak harusnya bersamamu.
Aku sungguh baik saja.
Aku boleh pulang besok.
Bagaimana jika kau tak bisa ikut seleksi?
Kau berlatih keras selama 10 tahun...
Itu tidak keras.
Kini aku sudah terbiasa di dalam air.
Jangan cemas.
Aku mencetak rekor hari ini. Aku bisa istirahat.
YONG-JUN
Ibu pulang dulu.
Hati-hati.
AKU SUDAH DIPULANGKAN
SECEPAT INI? BAIK, KAKAK KE SANA
TIDAK PERLU, KAK. PELATIH DATANG, AKU LANGSUNG LATIHAN
JIKA MENEMUKAN PONSEL INI, KIRIM KE RESTORAN SANGWON-DONG
Kau baik saja?
Mau makan enak sebelum pulang?
Kakak pulang dulu, aku ada janji.
Kakak boleh ikut?
Kenapa mau ikut?
Aku mau bicara dengan temanku.
AKU MAU LATIHAN, KAKAK TAK PERLU DATANG
Kau baik saja?
Apa yang terjadi?
Kenapa sulit dihubungi? Kau tak lihat pesanku?
Tak kulihat.
Maaf, jangan datang lagi.
Jangan hubungi aku.
Ada masalah apa?
Apa yang terjadi?
Tak ada.
Apa aku berbuat salah?
Tidak.
Lalu, kenapa?
Beritahu alasannya.
Kau tak perlu tahu!
Kau tahu betapa cemasnya aku?
Kenapa kau tiba-tiba begini?
Kenapa kau tak memikirkan aku?
Aku harus mengurusmu juga?
Mengurusi hidupku sudah sulit.
Pergilah, kumohon.
Apa...
aku membuatmu...
merasa lelah?
Dia tetap akan mengantar makanan, ya?
Aku?
Astaga.
Itu harus diantar?
- Aku saja. - Ya.
Dia baik saja.
Sudah berakhir.
Aku tak bisa ikut seleksi.
Maaf.
Ga-Eul, maafkan kakak.
Ini salah kakak.
Karena kakak, impianmu...
Kalau impian kakak?
Apa impian kakak?
Kakak hanya tahu impianku?
Impianmu itu impian kakak.
Bagaimana bisa?
Impianku itu milikku.
Kenapa kakak mengorbankan hidup demi impianku?
Apa maksudmu? Ada apa?
Kakak tak tahu?
Kakak selalu antar-jemput aku,
kerja paruh waktu untuk biaya latihanku,
dan selalu di kolam renang seharian.
Apa hidup kakak di sini?
Ini gara-gara aku.
Kau tahu bagaimana perasaanku melihatmu seperti itu?
Aku merasa terseret.
Aku...
hidupku... impianku!
Aku tak berani berhenti.
Aku tak berani menyerah.
Aku lebih sedih melihat kakak kecewa
daripada gagal ikut ke seleksi.
Aku merasa bersalah.
Kau datang.
Ada apa? Apa yang terjadi?
Pengiriman makanan itu.
Siapa pria galak di rumah gadis yang kau sukai?
Kau melihatnya?
Aku hanya taruh dan pergi.
Tapi, siapa dia?
Adik laki-lakinya.
Adik laki-laki.
Ternyata dia adik laki-lakinya.
Kau pasti kesulitan.
Sulit apanya?
Itu bukan urusanku. Semuanya berakhir.
Apa maksudmu?
Aku dicampakkan.
Tidak boleh.
Sudah berakhir.
Tak ada yang berakhir sebelum akhir.
Apa maksudmu? Sudah berakhir.
Kalau begitu, telepon dia.
Telepon dan minta maaflah padanya.
Katakan itu adalah salahmu.
Tak bisa.
Kenapa? Tinggal telepon saja.
Sekali saja.
Sekali saja.
Dia tuli.
Dia melarangku datang dan menghubunginya.
Begitu, ya.
Aku tak tahu.
Kau pasti kesulitan.
Apa adik laki-lakinya juga...
tuli?
Ya.
Ada masalah?
Tidak.
Ga-Eul latihan keras dan makan banyak.
Ibu menanyakan dirimu.
Ibu, Ayah.
Kenapa Ibu melahirkanku?
Sebab kau putriku.
Benar.
Ketika mengandungku...
Ibu tak takut aku menjadi tuli?
Kenapa takut?
Sebab hidup akan lebih sulit.
Tidak.
Apa kau kesulitan?
Tidak sama sekali.
Nak, kau dicampakkan?
Sepertinya begitu.
Apa terlihat?
Siapa yang membuatmu sedih?
Dia...
sangat menyayangi adiknya.
Bekerja setiap hari.
Hidupnya sangat sulit.
Hingga tak punya waktu untuk makan.
Dia tak pernah memikirkan impiannya.
Kenapa?
Sebab baik.
Dia selalu mengurusi orang lain alih-alih dirinya.
Mungkin itu alasannya mencampakkan aku.
Dia tak mau aku kesulitan.
Kenapa sulit?
Dia tuli.
Dia tak bisa mendengar atau bicara.
Ibu.
Ibu tak suka aku membantu?
Ya.
Kenapa?
Bukankah itu hal bagus?
Ya, tapi...
membantu orang tanpa mengurus diri membuat mereka terbebani.
Tapi, akan lebih mudah jika kubantu, benar?
Kau tahu apa sebutan itu?
Putri yang baik.
Tidak.
Apa?
Belas kasihan.
Kenapa Ibu bilang itu?
Kita keluarga, aku harus membantu.
Meski begitu...
tak ada yang bisa menggantikan hidup orang lain.
Keluarga berarti harus saling percaya dan peduli.
Ibu ingin...
kau membantu kami saat kami minta bantuan.
Maaf.
Ibu, aku...
Tak apa-apa.
Ibu ingin kau menjalani hidupmu sekarang.
Bukan sebagai kakak Ga-Eul atau putri ibu dan ayah.
Sebagai dirimu sendiri.
- Maaf. - Maaf.
Burung musim panas belum ada.
Benar.
Tak ada satu pun.
Aku sudah lama tak melihatnya.
Kenapa kakak tak memacari pria itu?
Kakak tak berniat pacaran.
Kenapa?
Karena tuli?
Karena aku?
Aku tak mau jadi beban kakak.
Kau bukan beban. Sungguh.
Kakak hanya...
suka...
melihatmu tersenyum.
Kau tersenyum seperti itu di air.
Jadi, kakak mempercayaiku?
Aku mau memulai lagi. Aku bisa sendiri.
Kakak percaya.
Maka, pacari pria itu.
Kakak mencampakkannya karena harus mengurusku.
Aku takkan menyerah berenang.
Kakak jangan menyerah juga.
Yong-Jun bilang apa?
Dia patah hati?
Putra kita kenapa?
Aku hanya...
Tak bisa mendengar.
Tak dengar?
Telingamu tak mendengar?
Apa hidung bisa tak mendengar?
Hidung.
Gadis itu tuli.
Tak bisa dengar atau bicara.
Jadi, dia mencampakkannya.
Takut Yong-Jun akan kesulitan.
Mau kutemui gadis itu?
Kau tak keberatan?
Apa?
Dia tuli.
Kenapa?
Yang penting baik.
Banyak orang yang bisa bicara
tapi tak bisa berkomunikasi.
Benar.
Ini alasanku menyukaimu.
Suka apanya?
Ini alasanku kesal.
Kenapa kesal?
Maaf, Yeo-Reum.
Maaf aku meminta maaf.
Tapi, alasanku meminta maaf...
sebab aku tak memahamimu.
Kukira aku memahamimu.
Ternyata tidak.
Jadi...
maafkan aku.
Lalu...
aku tak tahu telah membuatmu lelah.
Maafkan itu juga.
Jadi...
Kita menjadi agak terpisah.
Tidak.
Aku dicampakkan.
Tapi...
aku tak suka itu.
Sangat tak suka.
Karena kau tak mengurus diri,
jadi, aku ingin mengurusmu.
Jadi...
aku menyukai senyumanmu.
Aku ingin membuatmu tersenyum.
Ya.
Yang ingin kukatakan adalah...
Aku...
Kau...
mau kerja paruh waktu
di restoran orang tuaku?
Kenapa?
Kerja bersama itu seru.
Aku tuli...
orang tuamu tak keberatan?
Mereka akan mengerti.
Kau orang yang baik!
Orang yang rajin!
Mau?
Mau.
Masuklah.
Duduk.
Cantiknya.
Ibu dan Ayah, dia Seo Yeo-Reum.
Nama wajahnya ini.
Sebab sering senyum.
Aku lupa.
Lihat di sini.
Aku ayah Yong-Jun.
Aku ibu Yong-Jun.
Senang berjumpa.
Yong-Jun agak kekanak-kanakan,
terkadang bodoh.
Ibu.
Kurang peka dan menyebalkan,
tapi bersamanya terasa kuat.
Yong-Jun makan lahap,
dan lancar buang air.
Ayah.
Bagaimana kalau kalian berdua berkencan lagi?
Kenapa Ibu menanyakan itu?
Ini wawancara kerja paruh waktu.
Kau boleh kerja paruh waktu sambil berkencan.
Ya, baiklah.
Kubilang, ya.
Dia bisa bicara?
Dia bicara.
Bukankah kau tuli?
Tidak.
Kukira kau yang tuli.
Jadi, semua ucapanku kemarin...
Kau mendengarnya.
Jadi, kau bilang "ya" tadi...
Denganku...
atau...
pekerjaannya.
Aku...
menyukaimu.
Apa katanya?
Apa katanya?
Kau tak peka.
Begini.
Ketika kuliah, senior menyuruhku belajar.
Dia bilang bahasa isyarat adalah bahasa tubuh...
bisa berkomunikasi di mana pun.
Kalau mau liburan jauh, belajarlah bahasa isyarat.
- Jadi... - Jadi?
Aku percaya dan belajar.
Karena ucapannya?
Kalau begitu...
di antara keluargamu...
hanya kau yang bisa dengar?
Ya.
Awalnya, kukira semua orang seperti itu.
Tapi, tidak.
Hanya rumah kami yang beda.
Jangan hidup seperti orang tuli karena kami.
Meski kau berbeda, kau tak hidup di dunia yang berbeda.
Keluarga kita ada di dunia yang sama.
Paham?
Memiliki kau dan Ga-Eul...
adalah hal terbaik ibu dan ayah.
Aku juga.
Lahir sebagai putri Ibu dan Ayah...
adalah hal terbaik di hidupku.
Aku juga.
Bertemu denganmu...
adalah...
hal terbaik di hidupku.
Terjemahan oleh Dedi Firmansyah MASIH ADA SATU ADEGAN LAGI
Terjemahan subtitle oleh Dedi Firmansyah
Kau baik saja?
Pegang yang erat.
Aku menyukaimu.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.