All language subtitles for Loop.Track.2023.WEB-DL

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Hai.

Mau hiking?

Ke tempat yang baru?

Jika naik, tolong...

berhati-hatilah, banyak perangkap disana?

Harusnya tak masalah,

karena ada papan petunjuk jalan.

Juga dekat dengan jalan...

jika cuma sebentar.

Oke.

Hampir tak tersisa.

Kambing itu sudah merusak hutan.

Tentu kau tak tahu,

tapi jika kau bandingkan tanah gembala dan tidak,

kau akan heran.

Cuma sendirian?

Ya.

Aku pergi dulu.

MAIN DI BEBAS69, BEBAS GANGGUAN DAN BEBAS PINDAH SALDO. WD PASTI DI BAYAR TEMUKAN KAMI DI GOOGLE.

KETIK BEBAS69 ATAU https://cutt.ly/bbs_login

Aku setel dulu, sayang.

Oke.

- Sempurna. Ini akan berguna. - Sayang.

Oke, jadi...

- Jadi... - Langsung...

foto saat aku naik.

- Baik, tenang saja. - Oke. 3, 2, 1.

Mulai!

Kurasa tak begitu.

Ayo coba lagi, dan pastikan...

terlihat natural. Aku maunya terlihat seperti...

- aku di hutan. Oke? - Oke.

- Boleh juga. - 1, 2, 3.

Lakukan lagi.

Ya ampun...

- Austin! - Apa?

Bisanya kau anggap ini foto yang bagus padahal...

- wajahku tertutupi daun?! - Bagus.

Karena itulah fotonya bagus.

- Oke? - Bikin emosi saja.

Lihatlah!

Seksi!

- Ada satu yang bagus.... - Ya?

Sayang. Yang benar saja?

Lihat!

Oh, Tuhan.

Tuhan.

Astaga.

Terus saja.

- Apa? - Terus saja jalannya.

Gila.

Ini...

Indah.

Tunggu.

Sebentar.

Apa...?

Sayang, lihat ini!

Lihat.

Lihat bunga ini.

Warnanya.

Bagusnya.

Tak terlalu bau.

Tempat ini...

cantik sekali.

Cium baunya.

Gak terlalu bau? Tapi tidak juga, hei?

Hei, bro.

Maaf. Takut, bro?

Kukira tak ada siapa-siapa di sini.

Jalanku terlalu cepat.

Tunggu. Mau kemana?

Aku harus lanjut lagi.

Kau harus....? Maksudku, kau baru saja duduk.

Tadi aku lihat.

Setengah jam lalu.

Cukup jauh tapi aku bilang,

"Akan kukejar dan menemui orang itu."

15 menit tiba di sini.

Menemukanmu. Kau istirahat,

tapi masih, lumayan.

Agua.

Air.

Oh iya, aku Nicky.

Salam kenal.

Boleh tahu namamu bro?

Ian.

Ian?

Salam kenal juga, Ian.

Baru pertama kali ke sini?

- Ya. - Ya.

Suka hiking?

Gak juga.

Tapi ini hutan terbesar...

daerah sini. Keren sekali, Ian.

Aku lanjut dulu.

Baiklah. Aku temani.

- Tak usah. - Pasti menyenangkan.

Tak apa.

Tidak. Jangan ikut.

Jangan begitu,

aku yang mau sendiri kok.

Tidak, tak usah.

- Istirahatlah, aku mau.. - Aku sudah istirahat.

Begini saja. Kau atur temponya. Oke?

Berjalan santai sesuai maumu.

Jalanku cepat. Tapi masih bisa menikmati ketenangan di sini.

Cuma aku dan hutan belukar.

Dan kau.

Aku, Ian, dan hutan belukar.

Ayo.

Aku kayak terpental ke sana kemari, tahu maksudku?

Dari tempat ke tempat. Selalu...

berbeda dari tempat ke tempat yang berbeda.

Katanya itu inovasi, kan?

Begitulah kira- kira. Tapi bagiku...

jabatanmu seharusnya tak menentukan...

siapa dirimu.

Tahu 'kan maksudku?

Ian, tahu maksudku?

- Ya. - Ya.

Awas kakimu.

Nah begitu lebih baik.

Jangan injak akar-akar itu.

Kau bisa terjebak.

Bayangkan kalau kakimu terkilir tadi.

Kau...

- Duluanlah. - Tidak, kau saja.

- Kau duluan. - Tidak.

Duluanlah.

Orang baik.

Pokoknya, kau harus tunaikan kewajibanmu, mencari nafkah.

Kerjaanmu apa?

Administrasi, resepsionis, atau apa?

- Kau sekretaris? - Tidak.

Perhotelan? Kau sajikan minuman dan lainnya?

- Tidak. - Oke.

- Eceran? Jual pakaian? - Bukan, aku...

Menjual suatu produk.

Aku punya usaha sendiri.

- Punya usaha? - Ya.

Lain kali jawabanku pasti benar, tapi...

Tunggu. Kau punya usaha sendiri?

Ya.

- Sudah tak ada lagi? - Tidak.

Apa yang terjadi?

Aku akan pergi sendirian...

- Aku harus pergi, - Apa?

Aku harus pergi...

Apa?

- Apa, kau mau pipis? - Ya.

- Oke. - Ya.

Di sini saja. Aku takkan lihat.

Jadi kulihat semua pesannya,

tahu kejadian mengerikan itu,

dan saat itulah aku mengakhirinya.

Jujur, dia orang biasa.

Seperti, pria biasanya.

Termasuk orang-orang tua.

- Mau didepan? - Tidak.

- Benarkah? - Tidak.

- Duluan saja kalau kau mau. Tidak, aku tak mau.

Lagipula tak masalah.

Sudah sampai.

Lampunya menyala.

Ada orang lain yang mondok di situ.

Mungkin cewek cantik, jika kau tahu maksudku.

Satu untukmu, satu untukku.

Kecuali kalau mau dua...

dua untukmu, aku satu.

Aku mau lanjut ke pondok berikutnya.

Itu bisa ditempu sehari lagi.

Ya.

Kau bisa mati kedinginan, bodoh.

- Ayo. - Oke.

Astaga.

Aku peringatkan, kawan,

baunya menyegat!

Itu karena hormon.

Cepatlah.

Kuobati kakiku dulu.

Masuklah duluan. Nanti aku masuk.

Baik.

- Bagaimana? - Bagus.

Bagus.

Halo!

- Aku tak tahu. - Oh, bro.

- Kau pasti tahu. - Tidak, aku tak tahu.

Lalu mendatangiku. Aku hanya menahannya begini.

Seperti...

Itu dia.

- Perkenalkan Ian. - Oh, Ian.

Halo.

Memaksaku menantangnya secara pribadi.

Aku bilang, "Kau harus temukan dia dalam 20 menit."

Akhirnya cuma 10 menit ketemu.

Aku selalu berhasil menangkap apa saja yang aku targetkan.

Ian, perkenalkan Monica.

Austin. Mereka dari Australia.

Hai.

Austin dulunya penjaga hutan di Zimbabwe.

Hei.

- Disitulah mereka ketemuan. - Oke.

Apa kita sudah pernah bertemu?

Kayaknya tidak.

Ya, pernah.

Benarkan?

Aku tak tahu, sayang.

Tasku aku taruh di mana ya?

Pilih saja salah satu ranjang itu, sayang.

Tapi jangan terlalu dekat denganku.

Aku tak mau bangun sudah saling berpelukan.

Aku tak mau dipeluk atau yang begituan.

Semoga kau tak ngorok, Ian.

Kayaknya mereka lagi berbulan madu.

Jadi sebaiknya kau ngorok...

sementara mereka lagi main...

di ranjang sebelah.

- Sampai ketemu. - Oke.

Kalian suka main kartu?

Saatnya makan sup.

Ooh, Mama.

Apa ada lagi yang datang malam ini?

Tak ada.

Persetan dengan itu. Kayak sup akar manis.

Apa lagi, ini sudah akhir musim,

jadi gak mungkin ada.

- Maaf. - Tak usah minta maaf.

Santai saja.

- Oke. Kayaknya sudah matang. - Ayolah, Ian.

Dagingmu belum matang.

- Tak apa. - Selesaikan dulu, Ian.

Ayo. Aku akan merasa bersalah jika kau sakit.

Tak apa.

Kau bawa daging?

Aneh juga menurutku.

Kau bawa susu rami, sayang?

- Ya. - Oh, tapi...

Tak ada kulihat.

Aku akan memeriksanya.

Masak dagingmu, Ian.

Tidak, masaklah.

Tidak. Kau masak dulu.

Tidak ada susu di sini.

Mungkin aku lupa.

Austin, aku taruh di kursi agar kau bawa.

Mau dicampurkan apa muesli-nya besok pagi?

Astaga, Ian!

Ya ampun.

Lakukan sesuatu. Ambil air atau apalah!

Jangan siram air ke minyak panas.

Salah. Air berlawanan dengan api.

- Bisa makin parah. - Mungkin di Australia.

Tutupi sesuatu atau apalah.

- Astaga, Ian. - Tutupi apinya.

Agar apinya padam.

Astaga.

Ya Tuhan.

Sudah padam?

- Ya. - Oke.

- Hanya baunya itu. - Buka pintunya.

Buka jendelanya.

Gimana cara bukanya ini?

Buka.

Gimana cara bukanya...?

Kau tak apa?

Ya.

Kau mau pergi?

Tidak...

Tasmu.

Tadi aku mengeringkannya.

Lihat apa?

Tadi aku....

lihat... binatang atau...

Lihat beruang?

Tidak. Beruang tak ada disini.

Aku pernah bunuh singa di Zimbabwe.

Singa itu menyerang anjingku, jadi aku bunuh dengan batu.

Itu spesies yang dilindungi.

Dan aku di tuntut...

tapi mau bagaimana lagi?

- Singa itu menggigit anjingku. - Benarkah?

Kau disini rupanya.

Kami sudah bereskan, bro.

Ini bukan etika yang baik saat mendaki, kan?

Ian, sayang.

Kau berantakan sekali. Tidur, kan?

Ya.

Oke.

Sebaiknya bergegaslah jika mau bareng sama orang itu.

- Tidak. Aku... - 10 menit lagi bersiaplah.

- Tidak, aku... - Dengar.

Si Tn. Austin Sombong ini bilang...

kalau dia jagonya mendaki.

Aku ragu dia sejago itu.

Bagiku kau malah lebih jago dari dia.

Aku tak ikut.

Sebelum aku lupa...

Untuk luka lecetmu.

Ini tebal, jadi kakimu tidak akan lecet.

Pakailah, bro.

Makasih.

Santai saja. Kau harus rawat kakimu.

Juga, jangan lupa di kembalikan.

Karena itu harganya agak mahal.

Semangat.

Saat masih kecil, aku sering mancing bersama Ayahku,

dan mengajakku ke Afsel saat usiaku 15 tahun,

lalu kulihat seekor hiu putih besar.

- Sudah pernah lihat itu? - Aku sudah...

- pernah lihat seekor hiu. - ...lalu aku berhenti,

dan dia melamarku.

Di dalam Jeep...

dengan kawanan gajah yang lagi melihat.

Ya Tuhan, Ian.

Lihat!

Ini bunga aster liar Afrika.

Ian, bisa foto aku?

- Oke. - Baguslah. Oke.

Aku mau pasang ini dulu.

Ian, bagusnya kau ikut foto juga.

- Oh, tidak. - Ya.

- Cepat, kemaril. Ayo. - Tidak.

- Dibawah sini. - Tidak...

Ayo.

Kemarilah. Astaga. Tak apa.

Oke. Kupasangkan dulu ini.

Serasi. Baiklah.

Bersiaplah. Foto yang bagus.

Cantik.

Terus jepret saja...

biar fotonya banyak...

Oke.

...dan memilihnya. Oke siap? Ayo.

Ayo. Terus.

Terus foto.

Oke. Kita harus susul yang lain.

Kita lihat dulu, hei? Lihatlah.

Apa sebaiknya kita susul mereka?

Ian, jelek sekali.

Belum ada yang terlihat burung asli di daerahmu.

Tadi ada burung camar.

Itu bukan burung asli, kan?

Kami kira akan ada...

ratusan burung di hutan ini.

Sepi sekali di sini.

Ya.

Musanglah yang menangkap mereka....

tikus....

dan semuanya.

Memakan anak ayam dan telurnya juga.

Hei.

Pernah kami lihat ada hewan mati di pohon saat kemari.

Ya...

- hewan berbulu. - Ya.

Tapi aku sama sekali tak tahu seperti apa.

Nicky, beneran kau meminumnya?

Segarnya.

Aqua. Air.

Aku tahu artinya "aqua".

Tapi biasanya ada serangga dalam air.

Tidak akan menyakitku. Tenang saja.

Perutku kuat.

Sudah tangkap ikan belum, bro?

Tidak, aku tak makan ikan.

Jika aku mau,

sudah kubawa segenggam ikan.

Ian dan aku tadi membahas topik...

- yang sangat menarik - Oh ya?

- Membicarakan soal tipe (sosok). - Oh ya?

Tai aku sudah pernah menceritakannya.

Tapi, Ian, kau belum pernah menceritakannya.

Jadi lanjutkan saja.

Tipe wanita seperti apa yang kau sukai?

Mungkin aku bisa menebak selera Ian.

Seseorang wanita agak keras.

Yang tegas padamu.

Benarkan? Sedikit mengendalikanmu.

Tidak, misalnya, apa kau sudah nikah...

atau punya pacar atau apalah?

Tidak, belum.

Tidak?

Tapi pernah, kan?

Aku sedikit paham hal semacam ini.

Kau sudah nikah atau belum?

Sudah pernah.

Sudah menikah? Apa yang terjadi?

- Oh, Nicky... - Apa?

Tak apa.

Ayo.

Kami cerai.

Ian. Sudah pernah jelajahi tempat lain.

Pernah sekali atau dua kali.

Aku harus...

Aku mau...

kencing.

Lucu.

- Apa? - Astaga.

Oke.

Oke.

Ian, kau tak kenapa-napa?

Ya, kenapa?

Kau pucat sekali, bro.

Pasti ada masalah.

Tadi aku lihat darah.

Beneran. Kau tak apa?

Tidak, itu darah...

yang lain.

Darah apa? Yang kau lihat barusan?

Tidak.

Mungkin musang makan kiwi, kan?

Kita lanjut?

- Ya. - Ya.

Bodoh sekali. Aku memang bodoh.

Aku tendang bola rugbyku ke dalam.

Aku tahu harusnya aku tak tendang, oke?

Saat itu kami nginap di sebuah hotel...

karena, tahu-lah, Ayah sangat marah...

Oh, Bapa. Maaf.

Harusnya sebut dia Bapa.

Tapi kami nginap di hotel, kan?

Karena pertengkaran. Entahlah.

Banyak yang sudah tak kuingat. Usiaku 13 tahun saat itu?

Aku tendang bola rugbiku di ruangan,

dan mengenai...

bingkai foto, lalu bingkai foto itu jatuh...

dan menghantam meja kaca.

Terpaksa kami harus bayar uang jaminan...

ke hotel bodoh itu.

Astaga. Lalu Ibuku...

- Austin? - Ya, bro.

Austin.

- Kau lihat itu? - Apa?

Kau lihat...? Lihat sebelah sana?

Kau lihat...

bentuk hitam itu...?

Maaf, bro. Mataku agak kabur. Aku tak...

- Kau lihat apa? - Ada bentuk hitam.

Bisa lihat?

- Aku tidak... - Kayaknya mahkluk itu...

- mengikuti kita selama ini... - Lihat apa?

Ian melihat sosok gelap.

Kau bisa melihatnya?

Bisa lihat?

Seperti apa, seorang pengembara?

Tak ada yang kulihat, bro.

Aku tidak...

Aku juga tak lihat apa-apa.

Mungkin itu...

cuma pantulan cahaya.

Oke.

Menurutku...ayo...

- Tidak... - Kita jalan terus saja,

Apa kayak binatang, atau...?

Atau... seperti babi, mungkin?

- Mungkin itu babi. - Itu kambing.

- Kayak kambing? - Ya. Itu...

Atau rusa. Ada juga rusa di sini.

Bisa jadi itu kambing atau rusa.

Salah satu dari itu. Misteri sudah terpecahkan.

Kurasa...

itu bukan salah satu hewan-hewan itu, Ian.

Tidak, mungkin saja...

bisa saja itu seekor kambing atau bukan.

Maksudku, binatang itu yang bunuh kambing,

jadi bisa saja itu kambing. Ada kambing juga di sini.

Ayo teman-teman. Ayo...

Ada kambing.

Baguslah, tak ada orang lagi.

Jujur saja, kadang aku tak mau diganggu...

sama orang lain. Tahu maksudku, kan?

Berharap ada cewek di sini.

Sayang, lihat. Yang...

- kuceritakan padamu. - Bagus.

Ada orang lain di sini. Itu bawaannya.

Mungkin mereka ke sungai atau apalah.

Pasti cewek, karena warnanya ungu dan pink.

Menurutmu, bro?

Sayang. Mon!

Coba lihat.

Tidak, berikan padaku!

Kita mulai.

- Kau siap? - Ya.

Kita mulai.

Hei!

Ian.

Ayo berjogetlah, bro.

Hei. Monica...

Monica, dia menyukaiku.

Dia sudah sangat menggoda.

Austin kayaknya cuek.

Menurutmu mereka tanpa status?

Semacam hubungan tanpa status?

Ya, seperti...

-...saling tukaran pasangan. - Aku tak tahu.

Atau mungkin...

saling selingkuh.

"Selingkuh". Kau tahu.

Ayo.

Ayo dansa.

- Nicky kembali! - Hei!

- Waktumu 5 menit lagi. - Kemarilah.

5 menit.

Maaf.

Maaf. Harusnya aku bilang sesuatu.

Aku tak bermaksud menakutimu,

tapi senter ini juga cukup menakutkan.

Ada apa?

Ian.

Ya. Apa?

Ada apa?

Maksudmu?

Apa maksudmu, apa maksudku?

Kau belum tidur.

Kau terlihat gugup.

Keadaan perasaanmu begitu...

Mau obat tidur?

Aku punya.

Itu bisa membantumu.

- Ya. - Ya?

Obat ini manjur, kawan.

Kau pasti tidur.

Minumlah.

Minum satu.

Satu sudah cukup.

Entah kenapa, perutku sakit.

Sudah mendingan.

Kau juga sulit menenangkan dirimu.

Aku tahu seperti apa rasanya.

Apa masalahmu?

Tidak, tak perlu kau ceritakan.

Maaf. Baiknya aku tak tanyakan.

Kepo.

Aku cuma capek.

Jadi aku susah tidur.

Maaf.

Maaf.

Tak perlu aku...

- ...curhat padamu. - Tidak, jangan minta maaf.

Aku cuma mau tenang.

Tapi di sini sangat sepi...

jadi yang bisa kudengar hanya ingatan...

tentang kesalahan yang sudah kuperbuat.

Kesalahanku karena lemahnya diriku.

Kau yakin lemah?

Memang.

Maaf.

Tidak, santai saja.

Aku akan minum segelas air lalu tidur.

Oke.

Aku juga.

Aku juga.

Terima kasih.

Tak apa.

MAIN DI BEBAS69, BEBAS GANGGUAN DAN BEBAS PINDAH SALDO. WD PASTI DI BAYAR TEMUKAN KAMI DI GOOGLE.

KETIK BEBAS69 ATAU https://cutt.ly/bbs_login

Kau akan tidur minum obat itu.

Minumlah.

Satu sudah cukup.

Pagi, tukang tidur.

Kenapa kau bisa ada dilantai?

Nicky memberiku obat tidur.

Pasti itu yang membuatmu langsung tertidur.

Mana Nicky?

Dia dan Austin lagi menangkap ikan.

Bodoh sekali.

Ada yang mau kuperlihatkan.

Ya?

Siapa yang taruh kembali tas ini?

Maksudmu?

Ian?

Ian, sayang, jangan ambil barang orang lain.

Ian!

Ada foto Nicky di sini.

Terus?

Dia pasti sudah apakan mereka!

Sama mereka.

- Siapa? - Gadis-gadis ini!

Bagus sekali.

Tak ada ikan di sana,

buang-buang waktu saja.

Hei! Bangun juga, teman.

Siapa yang taruh kembali tas ini?

Aku, dan aku juga menyelimutimu dengan sleeping bag.

Kau bisa kedinginan. Aku bisa mengangkatmu...

ke ranjang, tapi aku tak mau repot-repot.

Takutnya kau terbangun.

Di mana mereka?

Siapanya?

Para gadis itu.

- Gadis apanya? - Gadis yang....

punya tas ini.

Kau ada di foto mereka!

- Yang benar? - Ya.

Oke, mana fotonya.

Tunjukkan fotonya.

Lobet.

Tunggu. Aku ada di foto mereka?

Ya.

Kau sedang melihat mereka.

Aku gak tahu dia ngomong apa.

- Dia sudah bunuh mereka. - Oke.

Sebentar. Oke.

Jelas, ini salah paham.

Ayolah.

Kenapa tas ini masih di sini padahal mereka tak datang-datang?

- Di mana mereka?! - Bisa saja mereka...

simpan tas itu di sini saat bepergian seharian.

Ada baiknya jika kami bisa lihat fotonya, Ian.

Bisa saja itu efek kamera atau apalah.

- Dia juga membiusku. - Apa?

Tadi malam kau membiusku.

Katanya kau butuh obat tidur. Karena susah tidur.

Tapi tidak ada obat tidur separah itu.

Ian, mungkin fisikmu terlalu sensitif...

- atau apalah. - Memang.

- Tidak... - Kenapa...?

Kau masih di... Kenapa--? Saat kau...

Apa maksudmu?!

Kau di depanku.

Tapi saat kau bertemu denganku, aku bertemu denganmu,

kau datang dari belakang.

Aku harus kembali. Aku mau kembali ke mobilku.

Sebentar. Kenapa?

Ada yang mau kuambil di mobilku.

Bentar. Jadi kau mau kembali ke mobilmu?

Makanya aku ada di belakang Ian.

Terus, kenapa kita bertemu saat itu?

Mestinya kita tak berpapasan?

Tunggu, jadi kau ada di foto itu?

Kenal sama gadis-gadis itu?

Tidak. Cuma kalian yang pertama kutemui di sini.

Kanapa kita tak bertemu...

saat mau kembali ke parkiran?

Aku tak tahu, Ian! Entah kenapa kau bersembunyi.

Menyembunyikan sesuatu.

Aku tak bunuh siapapun, oke!

- Lapar? - Astaga.

Pengen sekali minum kopi.

Aku kebelet.

Halo.

- Masih berapa jauh? - ยฑ 10 km lagi.

Tidak ada plang penunjuk juga.

Tadi kami melihat sesuatu,

tapi mungkin itu hanya tulang belulang.

Tapi kalian tidur dimana, tadi malam?

Di gua.

- Sial. - Kami tak bisa lanjut.

Terus kok bisa tahu soal tulang itu?

Itulah gunanya pacaran sama ahli paleontologi.

Kami tak kencan.

Katanya, ada tulang burung moa di sini.

Lalu dia tunjukkan lokasi gua itu.

Banyak foto di ponsel Talia.

Kau harus lihat foto itu.

Keren.

Itu kameraku?

Dengar ya,

kami cuma mau tahu...

kalian dimana tadi malam.

Maaf.

Padahal baterainya sudah dicas.

Kau kenal dia?

Katanya, aku ada di salah satu fotomu.

Dari mana kau tahu foto apa yang ada di situ?

Ian...

Ian susah tidur saat itu.

Benarkan, teman?

Kami mau tahu kau dari mana saja.

Kami cuma khawatir.

Kalian mau mengunjungi hutan Kauri?

Pastinya.

- Sangat indah disana. - Astaga.

Cantik sekali.

Terus tak ada kegiatan di Aussie, atau...?

Ya, 5 tahun aku tinggal di sana.

- Aku sudah pergi ke Crocodile Hungee. - Hei!

- Kau sudah pernah? - Tidak.

Tapi aku pernah dengar. Kami belum pernah.

Perjalanannya selama 21 hari.

Ya.

- Kau bayar? - Seperti...

Milford, tik.

Tongariro, tik. Mudah. 2 kali setahun.

Perkiraanku 20 menit mengejar dia,

5 menit aku temukan dia.

Aku selalu berhasil mengejar orang yang kuincar.

Nicky, bisa bicara?

Aku akan...

Sampai ketemu lagi.

Nicky, aku cuma mau minta maaf

soal tadi.

Aku selalu kepikiran...

Aku selalu kepikiran yang tidak-tidak.

Aku minta maaf karena sudah menuduhmu.

Aku menyesal sudah merogoh ransel mereka.

Bodohnya aku. Maafkan aku, Nicky.

Bro, aku tak masalah.

- Beneran? - Ya.

Ya, pemula.

Lagian kau susah tidur belakangan ini, dan...

aku tahu dampaknya sama seseorang.

Ya.

Emang aku pembunuh.

Juga, aku tak bisa marah karena moodku lagi bagus hari ini.

Aku merasakan vibe yang cukup dari gadis ini, Talia.

Kami sudah ke sana, tapi pergilah.

Kau akan menikmatinya sendirian.

Tidak, semuanya harus pergi.

Ini akan menyenangkan, mumpung bisa bersama-sama.

Semuanya.

Kami sudah ada rencana.

Kayak menyatukan kekuatan.

- Oke. Siap? - Ya.

Hei, kalian.

Aku cuma mau minta maaf

- soal tadi. - Oh, Ian, sudahlah.

Lucu.

Tadi aku kira dia yang bunuh mereka. Jadi...

Bodohnya.

Ya, tapi aku juga pikirnya begitu.

- Aku paranoid sekali. Hei, sayang? - Benar, kawan.

Dia kira tetangga kami punya selingkuhan...

- yang disembunyikan di loteng. - Aku masih anggap dia pembunuh,

karena dia orangnya psikopat dan aneh. kita harus pergi.

Ayo.

Ian. Berdiri.

Kalian sudah mau pergi.

Benarkah?

Sayang sekali.

Salah satu mereka berusaha melompati anak sungai,

dan terpeleset!

Kakinya terjepit, dibatu.

Tapi berat badannya menariknya.

Tulang menembus kulitnya.

Darah dimana-mana. Mengalir di sungai...

darah segar.

Temannya langsung pingsan, karena takut darah.

Jadi aku harus lompat.

Mencari pertolongan.

Jadi aku berlari sejauh 20, 30...

mungkin 50 km.

Untungnya aku kuat saat itu.

Rasanya mau ikut lomba marathon.

Oke. Kita mau ke hutan Kauri?

Sebenranya,

kami mau ke air terjun.

Apa?! Tidak.

Hutan Kauri ini.

Tujuan utama aku kemari.

Kalian boleh pergi,

dan ketemuan di pondok berikutnya.

Kita ikut ke air terjun juga.

Ke air terjun?

Tidak, aku mau ke hutan Kauri.

Katanya, pemandangannya cantik sekali.

Kalian ke hutan itu saja,

dan kita ketemuan di pondok berikutnya.

Oke, sampai ketemu lagi.

- Ayo, Nicky. - Daah, Nicky.

- Dah, teman-teman. - 'K,

kau salah pilih.

Daah, Ian!

Sebaiknya kita ke air terjun saja.

Mereka kayaknya tak mau di ganggu.

Apa? Kenapa tak mau di ganggu?

Mereka mau main?

Bisa jadi.

Tak masuk akal.

Karena pria yang bersamanya, mereka sudah tunangan.

Maksudku... Memang begitu.

Begitu juga sama gadis terakhir...

yang kutemui sebelum dia.

Tak masuk akal.

Yang katanya kau depresi,

memang kau stres.

Bentar. Arah mana ya?

Matahari ada di sana, jadi...

Ayo.

Ibuku, berumur 15 tahun sudah mengandungku,

jadi dia tak bisa meninggalkannya.

Bisa saja, tapi... entahlah.

Kita pasti salah jalan, Nicky.

Tidak, ini jalannya.

Dari sana, dan...

Lihat, aku yakin kita salah jalan.

Aku...

Tidak, jalannya sudah benar.

Lihat kita kembali ke persimpangan...

tempat air terjun itu, lalu kita melewati...

jalan air terjun itu, dan pergi ke arah sana.

Tidak, kita sudah berjalan berjam-jam.

Tidak, ini jalannya. Ini pasti jalannya...

Tersesat, kawan? Lurus saja.

Ya?

Oke.

Nicky.

Nicky, salah jalan.

Kita salah jalan, Ian.

Oke? Kau benar, Nicky salah.

Terpaksa kita tidur di tenda kecilku.

Jangan. Aku tak mau tidur di luar malam ini.

Ya? Kau lebih suka yang mana?

Terus berjalan semalaman?

- Tidak. - Tidak.

Oke. Ya? Jadi kita...

akan sampai di bawah bukit.

Oke? Setidaknya.

Hei, hati-hati!

Astaga!

Kau tak apa?

- Apa-apaan itu?! - Tak apa.

Itu jebakan.

Itu perangkap kambing.

- Kambing? - Ya.

Apa, di hutan sebesar ini?!

- Tidak. - Ah, sial!

Sial!

Tenanglah.

Tak apa.

Cuma ada aku, oke?

- Mau kencing. - Apa?

Sudah kebelet. Maaf. Tak lama kok.

Hati-hati perangkap. Hati-Hati...

Ian, cepatlah sedikit.

- Sudah mau gelap. - Aku tahu, Nicky.

Jangan sampai aku injak jebakan.

Sial.

- Apa? - Sial.

Apa?

Permisi. Mohon permisi, permisi.

Oke.

Tuhan.

Nicky?

Nicky.

Aku datang.

- Kau tak apa? - Ayo.

Untung tak kenak bagian itu.

Astaga, kita harus jalan cepat.

Nicky.

Merasa ada yang awasi?

- Apa, di awasi pemerintah? - Bukan.

Sesuatu yang ada di pepohonan.

Tidak.

Kau tidak merasa?

Merasa...?

Tidak, aku tak merasakan apa-apa, Ian.

Lagian tak ada apa-apa di sini.

Beneran tak ada apa-apa di sini.

Oke.

Tunggu.

Apa?

- Kau dengar itu? - Apa?

Air terjun!

Ian, itu air terjun!

Hei!

Ya!

Ian! Kita berhasil!

Berhasil, Ian!

Berhasil!

Sudah kubilang, kau tenang saja.

Sudah kubilang 'kan.

Sudah mulai gelap.

Apa sebaiknya...

kita lanjut?

- Ya, mungkin. - Ya.

Cantiknya.

Ya!

Ada apa?

- Ian, ada apa? - Aku tidak...

Aku tak mau...

Aku tak mau lewat situ.

Lewat sini? Tapi ini jalannya.

Tidak, Nicky...

Ayo, kita lanjutkan.

Tadi kau lewat di pepohonan itu, dan baik-baik saja.

Aku memang sangat gelisah, tapi...

Aku merasa sesuatu buruk...

akan terjadi.

Dan firasatku sekarang makin yakin.

Ian, sebelumnya kau juga begitu,

meski tak terjadi apa-apa.

- Ada senter? - Tak ada.

Kau beruntung, Tn. Sensible bantu kita.

Aku tahu kau menganggapku bodoh,

tapi ada sesuatu yang mengikuti kita dari tadi,

dan sepertinya mahkluk itu menunggu kita di pepohonan.

Mahkluk yang tempo hari?

Si kambing babi itu?

Begini saja. Kau pegang senternya.

Kau pasti bisa. Ayo jalan.

Oke.

- Oke? - Ya.

- Kita jalan cepat. Bisakan? - Ya.

Oke.

Sialan, memang menyeramkan. Aku sudah lihat yang kau maksud.

- Jangan main-main. - Maaf.

Sialan!

- Ian! - Sial.

- Ian! - Sial.

- Astaga. Lari. - Apa?

- Lari. - Tidak! Ayo.

- Ayo. Kau harus ambil. - Apa? Tapi itu...

Tapi itu jauh di sana.

Memang jauh karena kau yang jatuhkan.

Cepat ambil.

Tidak, aku tak mau.

Ian, harga senter itu $300.

Harganya $300?

Ya.

Kau harus ambil. Kita sangat butuh itu.

Sialan.

Bisa temani aku?

Apa? Tidak. Ayolah. Dekat kok.

Takkan terjadi apa-apa. Cepat ambil.

Sialan.

Kumohon, kita pergi saja.

- Ayo... - Ian.

Tidak.

Sialan!

Sial. Baiklah. Ya.

Sial. Baik.

Ya, baik.

Oh sial.

Astaga! Oh sial.

Ada yang mengejarku.

- Kau yang teriak tadi? - Mana Nicky?

- Siapa yang mengejarmu? - Ya!

Ian, kau disini rupanya.

- Apa...? - Tadi kau teriak,

dan kami mencarimu.

Ketemu senterku?

Ada apa sih?

Kau melihatnya?!

- Lihat apanya? - Ada mahkluk yang mengejarku.

Tidak.

Tapi tadi itu di sana.

- Di tempatmu tadi. - Tak ada apa-apa.

Tapi kau mendengarnya?

Yang kudengar suara jeritanmu.

- Itu kau? - Apa?

Itu...?

- Kau mengejarku?! - Apa?

Dia merampas senterku,

katanya ada sesuatu yang mengikutinya.

Dia bilang begitu....

sebelum bertemu kalian.

"Ada sesuatu yang mengejarku."

Jadi, pasti tidak ada...

yang bisa mengejarnya di semak-semak?

Tidak. Ini Selandia Baru.

Maksudku, tak ada apa-apa di sini.

Mungkin babi. Bisa jadi.

Kita harus antar dia pulang.

Setuju. Soalnya, dia belum tidur sama sekali.

Jangan kalian. Kalian lagi berbulan madu.

Jadi, biar aku saja, oke?

Tak apa 'kan?

- Maaf. - Ayo.

- Ayo. - Astaga.

Sialan. Baik.

Hei, bro.

Hei, ini...

ini soal yang kau lihat itu...

Bisa ceritakan lagi?

Aku tak mengada-ada.

Kami tak bilang kau mengada-ada.

- Tak ada yang bilang begitu. - Ya.

Sebesar orang dewasa?

Dan berbulu?

Ya?

Aku tidak tahu.

Aku cuma melihatnya dalam bentuk bayang-bayang.

Baik. Tapi, maksudku,

kau kira tadi itu Austin, kan?

Merasa dia yang mengejarmu?

Entahlah, aku...

Rasanya aku sudah tak waras.

Kau masih waras, Ian?

Aku masih waras. Cuma...

Aku tak tahu apa yang mengejarku.

Jadi seperti saat kau bilang...

kalau Nicky yang bunuh gadis-gadis itu?

Tapi tak ada hewan sebesar itu di sini.

Ngerti maksudku, kan?

Mungkin saja, entahlah,

saat kau...

- gelisah. - Ya.

Ya? Itu karena kau kurang tidur.

Memang sulit tidur di sini.

Ya, itu...

Terkadang sesuatu terasa lebih berat dari yang sebenarnya.

Benar sekali. Tahukan,

dan mungkin tak ada apa-apa di sini.

- Ya. - Ya.

Apa benar, Ian?

Ian, kita sudah ngobrol.

Dan sama sekali bukan bermaksud kami...

sudah memutuskan, Ian, tapi...

Dan sepertinya...

Sebenarnya, Nicky rasa...

Benarkan? Kau merasa...

Tahu tidak, bro?

Menurutmu kita harus bagaimana?

Kita harus bangun pagi-pagi, saat matahari terbit, oke?

Kita harus lanjutkan, bro.

Seharian. Berjalan kaki.

Kita akan tiba sorean di pondok terakhir...

- Ya. - ...tapi kita harus lanjutkan.

- Terus jalan. - Ya.

Kita akan tiba di tempat parkiran mobil.

Dan saat tiba di tempat parkir,

sinyal sudah ada.

Jadi Nicky, atau kau,

hubungi seseorang agar datang menjemputmu...

menjagamu.

Siapa saja yang bisa.

- Kau tak apa? - Ya.

Gunakan waktu sebaik mungkin,

bagaimana kalau kita istirahat dulu,

makan, minum atau apalah...

sebentar saja?

- Ya. - Ya?

- Ya. - Ya. Baiklah

Istirahat 5 menit. Sudah mau sampai juga.

Astaga.

Maafkan aku karena kau harus menjagaku, Nicky.

Aku malu sekali.

Menjagamu?

- Ya. - Tidak.

Aku cuma mau pulang.

Jadi, tak ada masalah.

- Apa aku gila? - Apa?

Tidak.

Tidak.

Kalian kira aku melihat mahkluk gaib.

Ini benar-benar gila.

Tapi kau tahu itu tak ada.

Oke?

Kurasa aku...

Sialan.

Aku memang penakut.

Sialan.

Hei, ayolah.

Penakut sekali.

Ian, jangan mulai lagi.

- Sialan. - Sebentar.

Tidak.

Maaf, bro.

Sebentar, oke?

Sialan.

Nicky?

Nicky?

DITERJEMAHKAN | COMELMUEWA

Nicky?

M, Maldives.

- Bagus. - N, Namibia.

- Ya. - Tunggu, masih ada satu.

Hei, tunggu. Masih ada, tidak?

- Ya, masih ada. - Aku...

Oke, ada apa?

Apa itu Ian?

Tunggu. Mana Nicky?

Bagaimana ini, sayang?

- Austin, bagaimana ini? - Tenang.

- Apa yang terjadi? - Mahkluk itu membunuhnya! Sudah kubilang!

Sudah kubilang!

- Tunggu. Nicky? - Dia masih hidup?

Tidak, mahkluk itu membunuhnya, dan memakannya!

- Makhluk... besar? - Ya!

Kau bilang tak ada yang begituan.

Baik.

Baiklah. Kita kesitu.

Tidak, jangan! Jangan ke sana. Tempatnya disitu.

Kita harus ke sini.

Kau pasti mengira aku sudah gila, tapi kumohon.

Ian, jika kita lewat sana, butuh waktu berhari-hari...

- untuk tiba. Oke? - Ya.

Dan jika dia terluka, kita bisa menyelamatkannya.

Mahkluk itu membunuhnya!

Kalian sudah mengira aku gila,

tapi kita harus lewat sini. Tolong.

Kujamin, kita harus lewat sana.

Ian. Ian, sayang.

bisa aku dan Austin ngobrol sebentar?

Tidak. Tuhan.

- Baik. Tetap di belakangku. - Oke.

Hei, Ian, sayang,

kami akan berjalan...

lewat sini, oke?

Kau tak boleh ikut. Oke?

Jika kau ikut,

jangan salahkan kami. Paham?

Tidak.

Tidak, kumohon.

Tidak.

Baik.

Ayo kita periksa.

Apa kita akan tiba di pondok sebelum malam?

Tentu saja.

Yakin?

Kujamin. Kita akan sampai.

Kau tak apa?

Monica!

Monica!

Monica!

Monica?

Kau apakan dia?!

Mahkluk itu nanti mendengarmu.

Kau apakan dia?!

Astaga. Tidak!

Astaga.

Ya Tuhan.

Tidak!

Aku tahu kau panik sekarang,

tapi kita harus pergi.

Monster biadab!

Bangsat!

Kau akan membunuhku!

- Sialan! - Bukan aku yang bunuh istrimu, oke?

Aku bantu.

Austin.

Sialan.

Sudah mau sampai.

Tidak, jangan.

Mahkluk apa itu barusan?

Kayaknya burung. Entahlah.

Tuhan.

Aku pendarahan.

Kau bisa tinggalkan aku.

Bertahanlah. Sudah mau sampai. Janji.

Mahkluk itu akan menemukan kita.

Besok pagi, akan akan berlari,

dan meminta bantuan helikopter untuk menjemputmu.

Sudah tak penting.

Mahkluk itu akan mendatangi kita malam ini.

Mahkluk itu lapar.

Hei.

Maafkan aku.

Karena tidak mempercayaimu.

Dan mengira kau sudah gila.

Kukira juga diriku gila, jadi...

bukan cuma kamu.

Kemarilah!

Ayo!

Ayo, bangsat! Kemarilah.

Sialan.

Sialan.

Hei.

MAIN DI BEBAS69, BEBAS GANGGUAN DAN BEBAS PINDAH SALDO. WD PASTI DI BAYAR TEMUKAN KAMI DI GOOGLE.

KETIK BEBAS69 ATAU https://cutt.ly/bbs_login

Tolong.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.