All language subtitles for Women from Rote Island 2023 1080p WEB-DL-en.id PENCURiMOViE.BOND

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Kak Koba.

Bapak Lukas.

Apa kalian tahu kapan Martha pulang?

- Belum tahu. - Tidak tahu ini, Orpa...

Koba?

Saya sudah bicara dengan Kak Orpa kemarin,

tapi dia bersikeras tunggu Martha pulang.

Sekarang Kak Orpa di mana?

Istirahat di dalam.

Panggil dia.

Bagaimana ini?

- Tak tahu kapan Martha pulang? - Kakak!

Menantu saya ini, Pak Pendeta,

terlalu keras kemauannya.

Apalagi, alasannya Abram yang minta.

- Kita tunggu informasi. - Ya, Bapak.

Duduk.

Mama Martha,

tadi kami bicara.

Seumpama Martha tidak pulang...

Pasti pulang, Bapak.

- Pasti pulang. - Pasti pulang.

Seandainya, Orpa...

Terima kasih, Kak.

Pasti pulang!

- Permisi, Bapak. - Ya.

Kemarin Bapak Pendeta sudah beri saran.

- Ya. - Keluarga lain juga.

Kita tunggu saja, kapan Martha pulang.

Tak enak dengan warga, Orpa.

Bapak, ini permintaan terakhir Abram.

Tolong mengerti.

- Martha pasti pulang! - Ya.

- Kita tunggu. - Tunggu sebentar.

Mama...

Paman Yahya bilang, kalau es batu masih kurang,

mungkin di tempat pelelangan ikan masih ada.

Paman Habel sudah pesan.

Jadi, kita tunggu sedikit lagi. Bisa, 'kan?

- Ya, kita tunggu saja. - Tolong.

KBRI kesulitan, karena terlalu mendadak.

- Sudah begitu... - Apa?

Martha pekerja ilegal.

Siapa yang bilang?

Habel.

- Itu yang saya khawatirkan, Kak. - Kalian urus.

Cepat kalian urus.

Sekarang ilegal. Bagaimana ini?

Silakan duduk.

- Tidak tahu bagaimana lagi. - Terima kasih, Bapak.

Ternyata Martha sudah tidak kerja di tempat yang lama.

Maksudmu apa?

Saya minta maaf, Kakak.

Itu perusahaan teman saya.

- Saya cuma bantu. - Dulu bilang legal, sekarang ilegal!

Besok apa lagi?

Mama...

Maaf, saya baru tahu.

Semua orang tahu,

cari kerja harus bayar.

Bayar dan bayar saja!

Saya minta penjelasannya, Habel!

Sebentar lagi Martha pulang.

Kalau kau hanya mau melukai...

Mama!

Laki-laki waras tidak akan melukai hati perempuan,

karena kita semua lahir dari kelamin yang berdarah.

Halo, Pak Cik?

Sekarang saya dengan Mama Martha ini.

Ya, semua warga sudah marah pada saya!

Aduh, Kakak. Saya minta maaf, Kak.

Tolong bicara dulu!

Tolong bicara dulu. Saya minta maaf.

Halo, Pak?

Ya, Martha tidak bisa dihubungi.

Ponselnya hilang?

Sakit apa, Pak?

Pak, keluarga kami mohon, tolong hubungi orang-orang di lapangan.

Ya, Martha harus pulang sekarang.

Aduh, ini apa lagi?

Mama, jangan seperti ini! Kita sudah sepakat, tunggu Martha pulang!

Sampai kapan, Orpa?

Sebentar lagi! Kenapa Mama begini? Bapak.

Warga bolak-balik tanya. Kita mau jawab apa?

Tidak enak dengan pengurus adat, Pendeta Albert.

Juga warga kampung...

Ini urusan keluarga kita, Mama! Bukan urusan mereka!

Tapi kita sudah merepotkan warga sekampung.

Mama, sudah!

Kecilkan sedikit volume suara kalian!

Banyak orang di luar!

Lebih dari sepekan, Lukas!

Buang waktu, biaya, tenaga.

Abram itu anak saya!

Kuburkan hari ini, paling lambat besok!

Tapi, Martha cucu Mama, 'kan?

Astaga. Kalau begini cara kalian, Yesus pun menyesal dilahirkan.

Kalian urus saja sendiri!

Orpa!

Dengarkan saya dulu.

Sampai kapan rempah-rempah, cuka, dan formalin dapat bertahan?

Ini permintaan terakhir Abram, Mama!

Tak ada penguburan, sampai Martha pulang!

- Berulang kali bicara. - Tapi sampai sekarang...

- Kenapa berubah? - ...tidak ada yang bisa dihubungi!

Saya yang mengandung,

- saya yang melahirkan! - Oh, Tuhan.

- Martha anak saya! - Kalau begini, saya bisa sakit jiwa!

Martha pasti pulang, Mama!

Kakak... Kakak!

Kakak, dengar saya dulu.

Nanti malam ada kebaktian, Kak.

Jangan seperti ini, Kakak.

Kemarin katanya Martha di Selangor. Sekarang di Sabah.

Bos barunya di Sabah sedang hubungi pegawai di lapangan, Mama.

Kau boleh punya keyakinan, tapi harus waras!

Kasihan Mama, punya menantu tidak waras!

- Kalian ini... - Kakak!

Mama!

Kalau seperti ini,

saya pulang ke Kupang saja!

- Seperti anak kecil saja. - Kakak kenapa lagi?

Abe, Koba, bawa Mama masuk. Istirahat.

Ayo, Mama. Istirahat.

Orang tua tidak dihargai!

- Datang dari jauh... - Tidak semua begitu, Mama.

- Ayo masuk. - Orang tua tidak didengar.

Mama buat masalah lagi.

Banyak orang di luar, Mama. Jangan seperti ini.

Mama, kenapa jadi begini?

Sudah, Ma.

Mama!

- Datang dari jauh untuk hormati Abram. - Mama!

- Masuk! - Menghargaimu, semua warga kampung.

Dilihat banyak orang.

Saya berbicara, tapi tak ada yang dengar.

Ya Tuhan. Tolong, Mama.

- Sepuluh! - Tambah sedikit.

Bagaimana?

Sepuluh saja.

Kalau sembilan dapat sepuluh, ambil...

Tidak dapat.

Baiklah, bisa.

Sembilan dapat sepuluh bisa.

Delapan dapat sepuluh...

- Mama, bisa lihat yang itu? - Yang ini?

Anak kurang ajar!

- Siapa itu, Ma? - Anak siapa itu?

Kenapa?

- Dia tempel kemaluannya di bokong saya! - Anak kurang ajar!

Biadab!

Anak siapa, kurang ajar begitu?

- Mungkin bapaknya juga seperti itu! - Tidak berpendidikan!

Anak kurang ajar! Terlalu sekali!

Biadab sekali!

Kakak!

Tidak tahu anak siapa.

Kenapa Mama tidak tanya Paman Chris?

- Sudahlah. - Dia kenal anak-anak di pasar itu!

- Kalian ini... - Biar Chris injak batang lehernya!

Kakak pukul saja, tidak apa-apa.

Saya beri tahu Paman Abe saja.

Kenapa?

- Paman Abe! - Sudah, Orly. Tidak apa-apa.

Ada anak kecil di pasar, dia tempel burungnya di bokong Mama.

Mungkin anak itu lahir dari lubang WC.

Untuk apa ke pasar?

Ada tetangga yang bisa diminta tolong.

Kak Abram sudah delapan hari tidur di sini. Karena kemauan Kakak, 'kan?

Sekarang Kakak berbuat hal baru.

Kakak kena pelecehan, 'kan?

Itu karena Kakak melawan adat!

Kau juga. Ada Kiyah dan Orly.

Kenapa tidak minta mereka pergi ke pasar?

Malah kau yang pergi, seperti orang yang tidak tahu adat.

Sudah, Bibi. Sudah, Oma.

Saya juga baru bangun. Semua bumbunya sudah habis.

Kau juga tidak boleh pergi!

Saya yang salah.

- Buat masalah. Seperti tidak tahu adat. - Padahal kita sudah malu dengan warga.

Semua tetangga bicarakan kita.

- Sudah. - Sering berbuat hal aneh.

Heran.

Kakak!

Mereka semua ragu,

kalau Martha bisa pulang.

Mereka bilang...

hari kedelapan, Allah Bapa sedang istirahat.

Saya menunggu.

Kami semua menunggu.

Karena saya percaya,

Tuhan Allah tidak pernah ingkar janji.

Martha pasti pulang.

Abram.

Abram.

Saya susah di sini.

Domba-domba kelaparan, karena rumputnya...

- Syalom. Selamat pagi, Kak. - Syalom. Selamat pagi.

Kak, saya dengar Martha sudah bisa dihubungi.

"Sesungguhnya tangan Tuhan tak kurang panjang untuk menolong,

dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar."

- Haleluya. Yesaya 59, Ayat Satu. - Ya.

- Dan dosa menghambat keselamatan. - Amin.

Semua warga di sini juga bantu supaya Kakak Martha bisa cepat pulang.

Baiklah, Kak.

- Terus berdoa agar semua lancar. - Ya.

Jangan marah, saya belum bisa datang membantu.

Tidak apa-apa.

- Kasihan. Saya teruskan dulu. Kak, Clara. - Ya.

Ya.

Ayo pergi, pelan-pelan.

Maju.

Dalam kasus tersebut, pria itu diberikan hukuman mati.

- Clara. Berikan itu. - Bagaimana tak dapat hukuman mati?

Yang dia bunuh anaknya. Anak kandung.

- Darah dagingnya sendiri! - Itu dosa.

- Anak tidak tahu apa-apa. - Karena cinta.

- Tapi kalau misalnya... - Ya, Oma.

...ini tidak dapat...

Kasihan.

- Mereka bilang, istrinya juga terlibat. - Siapa?

Tidak tahu.

Itu, 'kan... Mereka sudah janji.

- Ya. - Kenal dari SMA.

- Hidup padahal sudah enak. - Tolong bawa ini ke depan.

- Dari SMA. - Ya sudah.

- Dari SMA? - Siapa yang dari SMA?

- Ya, Mama? - Pelaku dan korban.

- Munah, hati-hati. - Sudah, Ma.

- Sudah, Mama. - Ya.

- Pelakunya orang Rote. - Oma?

Ya, Sayang?

- Korbannya juga dari Rote. - Permisi.

- Permisi. - Satu SMA!

- Istrinya orang mana? - Kupang.

- Permisi. - Permisi

- Kak. - Tambah kerupuk dan daging, ya?

- Hamid sudah bawa beras? - Belum.

Habel bilang dia sudah sampai.

- Tidak ada dari tadi. - Terlalu lama.

- Hamid, kau terlalu lama. - Tolong taruh di situ.

- Terima kasih, Hamid. - Terima kasih, Hamid.

Nasinya tidak cukup.

Terima kasih, Hamid.

- Nasinya kurang? - Ya.

Taruh di situ, Orly.

Kasihan sekali.

Oma, nasinya kurang.

- Kemari. Ini, ada. - Mereka bilang ada sidang.

- Hati hati. - Ya, Oma.

- Kasusnya bisa jadi lebih besar. - Aduh, hati-hati.

Mama!

Paman Habel menelepon, bilang mereka akan segera sampai.

Martha?

Ya!

Paman Habel dan Kepala Desa menjemputnya di Kupang.

Terima kasih, Tuhan.

- Terima kasih, Yesus. - Alhamdulillah.

Akhirnya, dia pulang.

Kak, Tuhan memberkati Kakak.

Tuhan Maha Besar.

Mohon maaf karena sudah berkata kasar pada Kakak.

Mama minta maaf, ya?

Ayo!

Sudah sampai.

Ya, pelan-pelan.

Ya, ini.

Beri jalan.

Ke sana.

Beri jalan.

- Buka jalan! - Mama.

- Buka jalan. - Kepala Desa...

Permisi, buka jalan!

Buka jalan.

Martha sudah pulang!

Martha!

Terima kasih, Kepala Desa. Terima kasih banyak.

- Habel. - Ya.

Ayo, sambil jalan.

Beri jalan. Beri jalan dulu.

Abram.

Martha sudah pulang.

Nona...

Bapak sudah lama menunggu.

Nona berdoa, ya?

Yesus malole

- Malole - Habel.

- Neu ita basang - Pelan-pelan.

- Au tak bisa - Pelan-pelan ini.

Balas

Yesus

- Susue - Turunkan.

Yesus malole

Malole

- Yesus Malole - Talinya.

- Ya, mulai. - Malole

- Tiga... - Tahan.

- Tahan. - Yesus malole

Ya.

- Malole - Hitung. Pelan-pelan.

- Neu ita basang - Luruskan.

- Au tak bisa - Tahan.

- Balas - Turun.

Yesus

Susue

Abram...

- Saya susah sekarang. - Yesus malole

Tinggal saya dengan anak-anak, Abram.

Neu au

Yesus malole

Malole

Neu ita basang

Au tak bisa

Balas

Yesus susue

- Yesus malole - Abram.

Malole, neu au

Pada mulanya, Tuhan Allah menciptakan manusia dari debu tanah,

dan akan kembali pada debu tanah.

Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang mengambil.

Terpujilah Yesus.

- Selamat jalan, Kakak. - Abram.

Kakak Abram, selamat jalan.

Damai di surga.

Kakak terlalu baik.

Hei, Martha!

Jangan seperti ini!

Martha, hei! Sudah! Cukup!

Kau ini, sembarangan saja.

Bangun!

Bangun!

Ini tempat umum!

Bukan pantai pribadi!

Nanti orang lihat, mereka bilang apa?

Katanya, Nona sempat jatuh?

Kapan?

Habel yang cerita.

Dia tidak bisa hubungi Nona,

karena ponsel Nona hilang.

Terus, katanya Nona sempat sakit.

Sakit apa?

Nona sakit apa?

Tuhan!

Tolong, Tuhan.

Tolong, Tuhan.

Martha?

- Mama! Dia lompat, Mama! - Siapa?

- Dia lompat! - Martha!

- Mama! Mama, dia ada di sini! - Siapa?

- Mama! - Kenapa, Martha?

- Mama! - Siapa yang ada di sini? Martha!

Mama! Dia ada di sini, Mama!

- Tidak ada siapa-siapa! - Mama!

Kenapa, Mama?

- Tidak ada siapa-siapa. - Kakak.

Kenapa, Mama?

Kakak...

- Tolong! - Kak...

- Tidak ada siapa-siapa. - Mama, dia ada di sini.

Kakak?

Mama, tolong!

- Mama, tolong. - Tak ada siapa-siapa, Sayang.

Tidak ada siapa-siapa.

- Tolong, Mama. - Kenapa?

Mama tidak tahu.

Tidak ada siapa-siapa.

Kakak.

Tidak tahu Martha kenapa.

Tidak ada siapa-siapa, Sayang. Tidak ada siapa-siapa.

Tidak ada siapa-siapa.

Ada Mama.

Tidak ada siapa-siapa di sini.

Semua orang pasti pernah punya salah, Mama.

Untung kau cepat sadar, sebelum terlambat.

Sama seperti di film-film, 'kan?

Setiap hari, orang baik, orang jahat, sama-sama lahir.

Sebenarnya waktu itu, saya bisa saja menolak.

Permisi, Mama. Saya bantu.

Tapi sekian lama saya lihat Mama saya duduk di kursi roda,

dan kalau sampai dia tahu, Mas Aji tidak mau tanggung jawab...

Jadi, Mama tidak pernah tahu?

Bahkan sampai dia meninggal, sepekan setelah pertunangan kami,

dia juga tidak pernah tahu.

Terus, dari pihak keluarga?

Bapak tahu.

Akhirnya, dia juga setuju kalau kami tidak jadi menikah.

Kenapa waktu itu tidak ceritakan ke Martha?

Saya sudah ceritakan, Mama.

Martha marah.

Wajar juga dia marah.

Tapi sebulan setelah itu, saya dengar dia sudah ke Malaysia.

Seperti yang Mama pernah bilang...

Sebagai laki-laki yang terlahir dari kelamin yang berdarah...

Martha, saya minta maaf.

Ayo!

Masuk.

Lupa dipindahkan.

Seharusnya tempatnya di sini.

Yang di depan itu tetangga baru.

Yang kita ambil di Oesiri.

Santigi.

Saya kira sudah mati.

Tergantung kita merawatnya, 'kan?

Bapak?

Bapak cuma beberapa bulan saja di sini.

Setelah itu dengan Una di Yogyakarta.

Aduh, sambalnya...

- Una sudah menikah? - Kok sedikit sekali?

Una?

Itu... Kata temannya, berpacaran saja belum pernah.

Masih di UGM?

Masih.

Ini ada ikan, enak sekali.

Pasti suka.

Maaf berantakan.

Saya lupa tutup pintu.

Anjing masuk, ayam masuk...

Kolibri!

Serius!

Orang Rote tidak pelihara burung.

Bagus, 'kan?

Agar lebih banyak di alam.

Mari, ini sudah siap. Saya juga sudah lapar.

Ayo!

Saya sengaja beli nasi cuma satu bungkus, karena saya makan sedikit saja.

Ayo, duduk dulu.

Sendok. Sebentar.

Saya ke rumah, tak ada orang.

Semua di sini dari tadi.

Ini se'i babi dari Orly.

- Terima kasih, Kak. - Ya.

Tadi dia antar.

- Mantap! - Hati-hati licin!

Dapat banyak?

- Lumayan. - Pergi dulu, ya.

- Terima kasih, Kak! - Ya.

- Kakak! - Ya?

Punya Kakak, besok saya antar!

Ya!

Syukurlah, diberi daging.

Dapat banyak?

Lumayan.

Kakak kenapa cepat pulang?

Mungkin rumahnya kosong.

Tidak ada orang. Jadi, dia langsung pulang.

Itu burung apa? Burung garuda?

Bukan, Ina. Itu kolibri.

Mas Damar, mau antar bunga ke mana lagi?

Ada orang asing dari Nembrala yang pesan tanaman.

Kenapa? Mau ikut?

Tidak, terima kasih. Lagi pula, beda arah.

Mas Damar, mereka makan apa? Makan nasi, seperti kita?

Tidak, Ina.

Burung itu makan gula air, madu, susu, ulat juga bisa.

Ibu Guru bilang, jangan makan ulat. Nanti sakit.

Ina, kalau Ina yang makan ulat, baru sakit.

Kalau burung? Sehat.

- Karena ada madu dan susu? - Tanya Mas Damar.

Mas Damar, kenapa burungnya tidak berkicau lagi?

Bukannya dari tadi berkicau terus?

Berisik.

Burung. Ayo, Burung. Burung...

- Burung. - Hati-hati, Ina.

- Bertha, saya pergi sekarang. - Ya.

Kakak, itu apa yang warna merah?

Martha.

Dan yang besar itu apa?

- Itu vitamin. - Lalu kenapa burungnya warna merah?

- Tidak sama seperti yang lain. - Burung yang unik, 'kan, Ina?

- Nanti dia tambah besar? - Pasti.

Dia kecil sekali.

Ina. Si cerewet ini, suka sekali mengganggu.

- Mari, Kak. - Ya.

Hati-hati, Ina.

- Dah, Ina. - Dah.

- Besok, ya? - Bertha, Martha.

- Kakak! - Ya?

Ini!

Abe, tolong ini.

- Syalom. Selamat pagi, Kakak. - Selamat pagi.

- Paman! - Clara, sampai betul-betul bersih.

- Pagi! - Ya, Mama.

Martha. Lingkarannya harus sama besar, ya?

- Kakak. - Ya?

- Saya pergi dulu, ya? - Ya.

Koba sendiri di bawah pohon.

Ya.

Clara.

Martha.

Aduk-aduk, ya?

Ya, Mama.

- Clara, lanjutkan. - Ya, Mama.

- Syalom! - Syalom.

- Orpa! - Paman Theo!

- Maaf, saya baru sampai dari Alor. - Ya.

- Turut berduka cita, ya. - Terima kasih, Paman Theo.

Martha! Bertha!

- Ada Paman Theo. - Halo!

- Paman Theo. - Bertha.

Sudah besar.

Ini Clara, keponakan Abe.

Sudah besar.

Martha. Ini, ada Paman Theo.

- Halo, Martha. - Martha.

Tidak ingat Paman Theo?

- Martha, ini Paman Theo! - Datuk!

Temannya Bapak.

Datuk! Mama!

- Mama! Datuk! - Bukan, ini Paman Theo.

Ini Paman Theo!

- Clara, Bertha, usir dia! - Bukan, Kak.

Orpa, anak ini kenapa?

Aduh, saya juga tidak tahu, Paman Theo. Pulang dari Malaysia, dia sudah begitu.

Aduh, Paman Theo. Saya minta maaf. Jangan marah.

Ini bahaya. Jangan biarkan begini.

- Bawa ke rumah sakit. - Ya, nanti kami bawa.

- Kalau bisa bawa ke Kupang. - Ya.

Aduh, Paman Theo. Jangan marah, ya? Saya minta maaf.

Kenapa bisa begitu, ya?

Saya minta maaf.

Saya tidak tahu kenapa dia seperti ini.

Jangan marah, Paman Theo.

Sudah, tidak apa-apa. Kalau begitu...

saya permisi pulang.

- Ya, Paman. - Jaga dia baik-baik.

Jangan marah. Maaf, ya?

Tidak apa-apa. Ini, saya ada sedikit uang.

- Ya. Terima kasih banyak, Paman Theo. - Ya?

- Bawa dia berobat. - Ya, Paman Theo.

- Clara, Paman Theo pulang. - Jangan marah.

- Saya pergi. - Ya.

- Clara, tolong lihat itu. - Ya, Mama.

Nona. Kenapa?

Itu tadi Paman Theo, Nona.

Nona kenapa?

Mama.

Berangkat, ya.

Ya. Hati-hati, ya?

Mama. Kami berangkat.

- Hati-hati, ya! Jangan mengebut! - Syalom, Orly.

Bertha.

Paman Kobis.

- Pagi, Kakak. - Pagi.

Rajin, ya?

Ya, begitulah.

Perlu saya bantu?

Tidak perlu repot-repot.

Clara! Martha di mana?

Tadi ada di depan, Ma.

Bertha!

Bertha!

Apa?

Tidak bisa turun!

Tadi Kakak naik pakai apa?

Tidak pakai apa-apa, naik saja.

Ini, ada anak burung.

Aduh, kembalikan!

Nanti induknya cari. Nanti mati.

Kasihan, dia lapar, haus.

Kembalikan saja!

Turun.

- Bertha, bagaimana cara turunnya? - Lihat itu.

- Tunggu sebentar. - Lihat.

Hei!

Kalian lihat apa?

Tidak lihat apa-apa.

Kalian lihat apa?

Tidak lihat apa-apa.

Kakak! Jongkok!

Tutup roknya!

Hei! Pergi kalian!

- Pergi! - Pergi?

Lihat mama kalian saja! Pergi!

Pergi sana!

Bertha, mau turun!

Sabar. Seperti tadi saja. Tadi Kakak naiknya bagaimana?

Tidak tahu.

Tunggu.

Hei!

Hei!

Nah, kenapa lagi?

Kalian bisa bantu, tidak?

Bantu apa?

Bantu turunkan!

Tadi kami diusir! Sekarang kau panggil!

Jongkok!

Tunggu!

- Sebentar. - Tunggu!

- Kakak, tunggu! - Turun!

- Jongkok! - Ya.

Naik.

Injak!

Ruben, naik.

Turun lagi!

Kakak!

- Kurang ajar! - Kenapa?

- Kau dari tadi saya lihat... - Sakit!

Laki-laki mata keranjang!

- Saya sudah tolong kau! - Sudah ditolong...

Kalian berdua dari tadi...

Tidak tahu terima kasih!

Hei!

Dia ambil parang!

Lari! Cepat lari!

Kakak!

Marco, Ruben, tunggu!

Hei!

Ruben! Ke mana?

Aduh, Bapak, Mama, tolong! Ada orang bawa parang!

Ada apa?

Ampun!

Masih bisa, 'kan?

Susah, Kakak.

Ini sudah parah.

Tapi masih bisa, 'kan?

Saya usahakan, ya?

Ya, usahakan.

Ezra, tolong saya! Dia bawa parang!

Hei!

Kau mau apa?

- Kau mau apa? - Martha!

Buang parang itu! Buang!

- Kakak Martha. - Buang parang itu!

Kakak!

- Kakak Martha! - Mau buang, tidak?

Aduh, maaf, Kakak!

Dia kejar Marco, bukan anak itu.

Kurang ajar!

Buat orang naik darah saja.

Mohon maaf, Mama Munah.

- Bahaya ini! - Ya! Mohon maaf, Kakak!

- Bawa pulang kakakmu. Bawa pulang! - Ya.

Ayo! Sudah, Kakak! Kakak berbuat apa?

Marco!

Saya lapor Mama nanti!

Sudah!

Jangan berbuat begini.

Anaknya Me'i kurang ajar.

Yang satu lagi siapa?

Marco, Mama.

Marco?

Ya, Marco yang biasa di saung Termanu.

Yang itu?

Ya.

Memang anak itu dari lahir, otaknya sudah mati.

Ketika di pasar, jangan jauh-jauh dari Mama, ya?

Kau harus belajar mengendalikan diri.

Martha, kau dengar atau tidak?

Mengalah, menghindari persoalan, bukan berarti pengecut.

Perbedaan kita dengan sapi-sapi ini,

manusia punya moral, punya hati nurani.

Apa pun persoalannya, kita harus belajar memaafkan.

Memang tidak gampang,

tapi kita harus belajar supaya tidak ditipu orang.

Na.

Ina.

Aduh.

Hei!

Pulang!

Ina!

Mama bilang tunggu di rumah!

Tunggu di rumah!

Pulang!

Kakak!

- Martha itu. Buat takut saja. - Kenapa dia?

Mainan ajaib.

Sayang anak.

Sayang anak, beli mainan.

Sayang istri, tambah anak.

Ayo. Mainan ajaib. Satunya sepuluh ribu.

- Orpa! - Mama, ikan berapa?

Sepuluh ribu, Bu.

- Orpa! - Kalau yang itu?

- Tiga belas ribu. - Me'i!

Astaga!

- Aduh, Me'i! - Orpa!

- Sudah lama sekali. - Ya.

Aduh, Orpa.

- Turut berduka, ya? - Terima kasih.

Saya dengar kau tinggal di Kupang.

Sudah tidak. Sudah tiga bulan di sini.

Begitu? Suamimu bagaimana?

- Kami sudah berpisah. - Aduh, pindah ke sini saja.

- Sudah pisah? - Ya.

Bagaimana bisa?

Tahu laki-laki, 'kan?

- Mulai kaya sedikit, cari perempuan lain! - Betul.

Perempuan juga. Mau cepat kaya, ambil suami orang.

Pindah saja.

Agar bisa cerita.

Tahu apa sebutan untuk suamimu?

Sebutannya kelamin kaleng-kaleng.

Permisi, Mama.

Habis itu?

Anak-anak bagaimana?

Kalau yang besar, ada di Kupang. Ikut keluarga untuk bekerja.

Kalau yang kecil, Ruben, ikut saya.

Ruben!

Aduh, Orpa, dia nakal sekali. Saya minta maaf, ya.

- Untuk perbuatannya pada Martha. - Kita di sini saja.

Padahal dulu dia satu sekolah dengan Bertha, 'kan?

Itulah. Kemarin, saya baru dengar ceritanya.

Me'i, saya juga minta maaf. Jangan marah, ya?

Orpa! Omong-omong, berikan nomor ponselmu.

- Ambil. Ponsel saya di dalam tas. - Saya ambil, ya?

- Jangan marah, ya. - Ambil saja.

Hei, bagaimana Martha sekarang?

Martha? Dia baik-baik saja.

Syukurlah.

Tadi dia bersama saya.

Hei, Meโ€™i. Nanti lanjut bercerita.

- Saya harus pergi. Dah. - Dah.

Terima kasih.

Terima kasih.

- Dua orang? Terima kasih. - Hore!

Sayang, kemari. Sepuluh ribu.

Tidak...

- Delapan ribu, Mama. - Tidak.

- Tujuh ribu. - Tak ada uang.

Mainan di rumah banyak.

- Mama, ini menirukan suara burung! - Tidak.

Burungnya berkicau. Mama tidak mau burung?

- Beli satu. - Tunggu.

Sepuluh ribu.

Tunggu Mama.

Terima kasih, Sayang. Terima kasih.

Kalau setiap hari dagangan laris begini,

uangnya pasti banyak.

Perempuan Rote bisa datang, berjejer dari depan... Antre sampai sana.

Seperti antri BBM.

Paman, punya saya di mana?

Apa?

Sudah tidak ada. Ada uang, ada barang.

Siapa cepat, dia yang dapat.

Saya bilang tunggu Mama!

Aduh, sedih.

"Saya bilang tunggu Mama."

Tetap tidak bisa. Mau menunggu seperti apa?

Tunggu sampai Laut Mati hidup kembali?

Tidak bisa. Pokoknya, saya mau pergi.

Paman, saya mau itu.

Kakak, ini titipan orang lain.

Ini sudah dipesan orang. Itu sudah dipesan orang.

Jadi, saya harus antar ini.

- Tidak ada lagi. - Saya mau itu!

Yang ini tidak berbunyi.

Ada yang pesan, tapi tidak berbunyi. Lihat ini.

- Tidak berbunyi. - Kalau yang ini?

Yang ini? Aduh, apalagi yang ini. Tidak bunyi.

Ada bunyinya!

Maksudnya, kadang ada bunyinya, kadang tidak.

- Hei! Ada apa di sini? - Pembohong sialan!

Ada apa ini? Ada apa?

Aduh!

- Datuk. - Kenapa?

- Kenapa? - Datuk.

- Kenapa? - Tolong jangan.

- Kenapa? - Jangan!

- Ada apa ini? - Jangan, Datuk!

- Jangan. - Saya tidak tahu.

- Jangan, Datuk! - Kenapa?

Aduh. Pak, maaf. Anak saya sakit. Mohon maaf, Pak.

Ada apa ini tadi?

Saya tidak tahu.

Dia memaksa beri barang ini. Dia tidak punya uang dan memukul saya.

Makanya, kalau berjualan yang benar.

Saya berjualan dengan benar, tapi dia datang dan memukul saya.

Tapi ini 10.000. Bapak mau?

Maaf.

- Bertha. - Kak Damar.

- Di mana Martha? - Ada di dalam.

Di sini? Dengan Mama?

Ya.

Sudah dari tadi.

Baiklah.

- Mama. - Damar.

Bagaimana keadaan Martha?

Secara keseluruhan baik.

Hasil cek lab baru keluar pekan depan.

Dokter menyarankan untuk membawanya ke Kupang untuk diperiksa di RS sana.

Nanti dia akan beri rujukan.

- Permisi. - Dokter.

Ma, dari hasil pemeriksaan, Martha perlu dibawa ke Kupang.

- Ya. - Nanti saya beri rujukan rumah sakit.

- Mama dan keluarga bawa ke psikiater. - Ya, Dok.

- Supaya bisa konsultasi lebih lanjut. - Ya, Dokter.

Terima kasih, Dokter.

- Sama-sama. Permisi. - Terima kasih.

- Ya. - Mari.

- Kakak. - Perlu cari waktu

untuk bawa Martha ke Kupang.

Ya, Ma. Lebih cepat, lebih baik.

Supaya dia bisa kembali normal.

Kasihan dia.

Aduh.

Sedang apa di sini?

Ini jatuh. Mungkin karena angin.

Bertha di mana?

Ada di rumah.

Saya kira cuma telur.

Tidak, kemarin ada banyak.

Mungkin dimakan binatang lain.

Boleh tolong taruh di atas?

Kasihan, dia pasti haus.

Sudah.

Ambil tangga saja agar gampang.

Ayo.

Naik.

Tinggal saja itu.

Jangan! Nanti dimakan binatang lain.

Tidak. Ayo naik.

Kita ambil tangga. Ayo.

Di mana?

Itu, di pinggir pantai situ.

Ada tangga hanyut. Ayo.

Ayo naik.

Kakak!

Kakak Martha!

Kakak di mana?

Kakak Martha!

Kakak!

Ayo.

Di mana?

Itu, di belakang situ.

Ayo.

Ayo cepat.

Jangan, Datuk!

Jangan!

Nanti ada orang...

Lepas!

Jangan...

Kakak!

Hei!

Kakak.

Tolong saya.

Kakak.

Kakak.

- Tolong saya, Kak. - Aduh!

Aduh, tidak!

Kak, tolong!

Tolong!

Apa ada orang?

Tolong!

Ada orang di dalam?

Hei!

- Tolong... - Kau kenapa?

Saya...

Kau kenapa?

Ditikam orang.

Kena tikam di mana?

Di sana...

Di mana?

Siapa yang menikammu?

Anaknya Orpa.

Anaknya Orpa yang gila?

Anak itu memang gila!

Tahan!

Pegang ini!

- Tolong... - Pakai kain ini!

Pakai kain ini!

- Yang sebelah lagi. - Ini!

Pegang kain ini kuat-kuat!

Hei, awas! Awas, itu api!

- Awas! - Tolong!

Awas!

Awas!

Tidak bisa!

Awas!

Saya... Saya tidak bisa bernapas.

Paman, tolong!

Saya tidak bisa bernapas!

Kakak!

Tolong!

Kakak!

Tolong!

Tolong ini! Tolong!

Tolong ambil barang saya di dalam!

Aduh, Paman! Mohon maaf, Paman!

Mohon maaf, Paman!

Kakak!

- Tidak punya otak! - Tenang!

- Saya panggil polisi! - Sudah, Kak.

Kalian anak setan!

- Sudah! - Biadab!

Laki-laki apa yang memukul perempuan?

- Sudah! - Biadab!

- Buat orang sial terus! - Kau tunggu saja!

Tunggu! Kita bertemu di kantor polisi!

Bela kakakmu yang gila itu!

Keluarga keberatan...

jika Martha

dibawa ke rumah sakit jiwa.

Tapi setuju...

kalau dirantai saja.

Karena kalau dirantai, tentu tidak akan menyusahkan lagi.

Dan rantai itu hanya sementara saja.

Mengenai pelaku pemerkosaan,

sekarang dia masih di rumah sakit. Tapi sudah ditangani polisi.

Bapak Manaleo,

Bapak Tetua Adat yang saya hormati,

soal rumah, saya minta keadilan.

Itu juga tidak disengaja, Bapak.

Orpa,

Kobis minta ganti rugi 45 juta.

Apa Orpa sanggup?

Saya keberatan, Bapak.

Tapi saya punya sedikit tanah.

Bangun rumah butuh waktu, Bapak.

Banyak ternak yang harus saya urus.

Saya butuh kontrak rumah secepat mungkin.

Nah, kalau begitu...

Orpa,

kira-kira kau sanggup berapa?

Beri saya waktu tiga bulan, Bapak.

Dua puluh juta.

Kami sudah bicara tadi,

dia terima 30 juta saja, tapi beri waktu satu bulan.

โ€ชYa.

Kobis.

Kalau bisa, kau hanya terima 30 juta, ya?

Bantu meringankan Orpa dulu.

Dari 25 juta... 30 juta ini,

temponya hanya sebulan.

Bisa?

Orpa.

Apa

kau bisa mengupayakan 25 juta ini

dalam sebulan?

Ya, Bapak.

Baik.

Kalau Orpa bisa menerima 25 juta ini,

maka sisa lima juta.

Nanti kita panggil semua keluarga

untuk bantu

agar bisa mencapai 30 juta, dan kita serahkan pada Kobis.

Tunggu. Saya mau bicara.

Orpa,

kenapa

saat Abram belum dikubur,

Orpa sudah keluar rumah?

Itu melanggar adat.

Bapak-bapak yang terhormat...

saya minta maaf.

Saya salah.

Saya sudah melanggar adat.

Saya minta maaf.

Baik.

Kita sudah selesaikan persoalan ini.

Maka melalui kesempatan ini,

kita mengucap syukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa,

memberkati kita semua.

Dan lewat ini, kita tunjukkan perdamaian kita.

Kobis, saya minta maaf.

- Bapak, saya minta izin, ya? - Ya, silakan.

Terima kasih.

Martha. Sabar, ya?

Paman!

Ada titipan dari Mama.

Kalau belum ada, tidak apa-apa.

Ya, semua keluarga membantu.

Lebih cepat, lebih baik, 'kan, Paman?

Taruh di meja saja.

Enak saja. Tanda tangan pelunasan dulu.

Ini.

Saya kira tanda tangan surat nikah kita.

Mengkhayal apa lagi ini?

Semir dulu rambut itu!

Pakai apa, Sayang?

Pakai semir sepatu!

Sudah, cepat! Saya ada kegiatan lain.

Yang muda banyak,

tapi belum tentu setia.

Ya. Yang tua juga banyak, tapi genit.

Belum tentu setia juga!

Ada yang tua, tapi setia.

Mau, tidak?

Jawab dulu.

Mau, tidak?

Saya pilih yang muda,

ganteng, dan kaya.

Puas?

Mimpi saja!

Sudah tua, masih saja genit.

Semir dulu rambut itu!

Tuhan memberkatimu, Bertha.

Mas! Mas Damar! Jangan lupa telepon, ya?

Jangan lupa bawa oleh-oleh.

Aduh.

- Paman Habel. Saya pikir Clara. - Di mana Mama?

Mama!

Paman Habel antar makanan.

Aduh, Habel, membuatmu repot.

Terima kasih banyak.

- Sama-sama. Ya. - Salam untuk Yani.

- Clara. - Paman.

Habel, sebentar. Saya ganti baju Martha dulu.

- Kak, bawa ini ke dalam. - Baik. Terima kasih banyak.

Ayo masuk.

Martha, jangan lupa makan.

Mama mau keluar sebentar.

Ikut!

Jangan. Mama harus bekerja untuk dapat uang tambahan.

Ikut!

Tunggu saja. Sebentar lagi, Bertha pulang.

Ada sampar

Di mana-mana

Domba betina

Di ladang kering

Berkebaya rombeng

Mati

Berkali-kali

SEMBILAN BULAN SETELAH INSIDEN ITU

Martha.

Mama minta maaf.

Mama lalai menjagamu.

Siapa laki-laki itu?

Mama minta ampun, Martha.

Mama salah.

Mama salah.

Mama minta ampun.

Ya, Kakak.

Siapa, Kakak?

Siapa?

Mama minta ampun, Martha.

- Posisi korban di mana, Mama? - Di rumah, Bapak.

Kenapa tak dihadirkan di sini?

Aduh, Bapak. Saya sudah beri tahu.

Pak, dia sedang sakit dan diisolasi.

Apa Covid-19?

Ini lebih dari Covid-19, Bapak.

- Atau kami perlu bawa ke sini sekarang? - Aduh!

Jangan, Mama.

Biar nanti kami hadirkan dokter di sana.

Dia sakit jiwa, Bapak.

- Kalau begitu, Mama tanda tangan di sini. - Ya, Bapak.

Sebentar.

- Kak. - Habel.

- Masuk. - Ya.

Aduh!

Habel.

Yani di mana?

Biasa, Kak. Urusan negara.

Bisa digigit anjing.

Sudah, itu sandal jelek. Biarkan saja di sana.

Sudah.

Tidak usah buatkan minuman. Saya hanya sebentar, tidak bisa lama.

- Baiklah. Tunggu sebentar. - Ya.

Kak, bagaimana? Sudah ada kabar dari polisi?

Itu yang mau saya tanyakan padamu.

Aduh, Kak. Saya sedang sibuk sekarang.

- Begitu? - Balik pagi.

Saya juga bantu Kepala Desa urus berbagai masalah.

Ya.

Kak.

Bagaimana kondisi Martha? Hampir sembilan bulan, 'kan?

Ha?

Kau tahu dari mana?

Habel?

Kak.

Banyak yang bercerita.

Ada info pelakunya?

Belum.

Belum ada.

Nanti malam,

baru mau saya bahas dengan teman-teman polisi saya.

Baiklah. Kalau sudah dapat informasi, tolong kabari saya, ya?

Ya, Kak.

Yani, Febi.

Halo, Kak.

Ayo, Sayang.

Buka sepatu, ya?

Febi.

- Dari tadi, Kak? - Baru pulang sekolah?

Baru.

- Siang, Bibi. - Panas.

Siang, Sayang.

- Hei, Yani. - Terlalu panas...

- Nona. Hei. - Salam ke Bapak.

Mantannya Martha. Kita juga harus ajak dia bicara.

- Mantan pacar? - Ya.

Kak, bahkan kucing pasar saja juga harus dicurigai.

Jangan marah. Boleh pinjam kamar mandi?

- Boleh. Mari ke sini, Kak. - Ya.

- Sebelah sini. Maaf berantakan. - Tidak apa-apa.

- Ganti baju dan cuci tangan, ya? - Ya, Bapak.

- Kak. Yani. - Ya.

Yang baru-baru ini menggangu Martha dan ditangkap polisi itu Ezra?

Ezra.

Astaga, orang itu. Bulan lalu, Marco juga ditangkap polisi.

- Marco? - Ya.

Apa hubungannya?

Mereka satu gerombolan, Yani. Astaga.

Ha? Kasus apa, Habel?

Marco meraba payudara seorang gadis. Sungguh bodoh.

Anak itu. Selalu buat masalah! Membuat keluarga malu!

- Kak. - Kak.

Sebenarnya walaupun masih jauh, ayah Marco dipanggil "bapak besar" juga.

- Masih satu keluarga? - Ya, masih satu keluarga.

- Astaga. - Membuat malu. Penjahat kelamin!

Febi.

- Sudah, jangan diambilkan minum. - Tolong beri air pada Bibi.

- Saya buru-buru. - Sabar sedikit, Kak. Baru sampai.

Saya juga baru sampai. Sebentar. Aduh, hari ini terlalu panas.

Kak, saya berharap pelakunya cepat sadar dan mau bertanggung jawab.

Aduh. Semoga, Yani.

Labu saja punya hati. Apa manusia tidak?

Aduh. Amin. Saya yakin

- ada mukjizat di masalah ini. - Terlalu jengkel.

- Sudah, saya harus pergi. - Sabar.

- Sudah datang. Febi sudah bawakan. - Kak, sudah datang.

- Diminum dulu. - Terima kasih, Nona Cantik.

- Sampai repot. - Saya tidak memasak apa-apa, Kak.

- Cuma air. Minum dulu. - Tidak apa-apa.

Ya sudah, saya minum sebentar. Habel,

Ingat, ya. Kalau ada informasi, tolong kabari.

- Ya. Nanti saya bantu, Kak. - Baiklah kalau begitu.

Sudah ditunggu sekian hari, tapi belum datang.

Bagaimana mau ditangkap?

Mungkin polisi punya cara lain. Kita tidak tahu.

Bagaimana caranya itu?

Mau razia semua sperma laki-laki yang lewat?

Seperti razia motor?

Aduh! Tidak habis pikir!

Ada juga laki-laki yang tega melakukan perbuatan seperti itu.

Apa pun mereknya, kucing suka makan ikan.

Makanya, punya anak perempuan itu dijaga.

Bukan saja anak perempuan. Anak laki-laki? Kucing juga suka.

- Pantas. - Betul itu.

Mama-mama di Rote berusaha keras untuk diet sampai mau mati.

Takut suaminya selingkuh.

Tangkap saja, lalu kebiri. Berikan ke kucing.

- Kecuali itu. Kucing tidak suka. - Betul.

Jadi, sudah tanya Martha? Mungkin dia mau bercerita?

Kau tidur?

Kalau dia mau bercerita, tidak akan mungkin seperti ini.

Kakak, kapan mau ke kantor polisi lagi?

Mulai hari ini,

kita harus curiga pada semua pria di Rote.

- Setuju. - Betul.

Kalau bisa, kucing pasar sekalipun dicurigai.

- Harus begitu. - Kakak.

- Clara. - Ya, Mama?

- Biskuit? - Bawa helm.

Koba.

Mau ke mana?

Kak, jangan pergi dulu.

Kita masih mengobrol di sini, tapi Kakak mau pergi.

- Mau biskuit? - Tidak, terima kasih.

- Kakak! - Mau ke mana?

Kakak mau ke mana?

Mama!

- Damar. - Saya pikir siapa.

- Kau kira siapa yang datang? - Diam-diam.

- Sudah, lanjut! Mama tidak lama. - Duduk dulu.

- Tidak usah repot. - Tidak apa-apa.

Terima kasih, Damar.

- Maaf berantakan, Mama. - Tidak apa-apa.

Mama juga tidak menelepon.

Mama sehat?

- Sehat. - Ya sudah.

Saya baru pulang dari Yogyakarta, Mama.

Alamat kami belum berubah.

Tahun kemarin saya cuti, Mama.

Sekarang sedang membereskan kuliah.

Sibuk sekali, ya?

Sekalian melihat Papa dan Una di Yogyakarta.

Martha apa kabar?

Damar, Martha hamil.

Maksudnya, Mama?

Ya. Sebentar lagi melahirkan.

Punya anak.

Terakhir, Damar datang ke rumah pada bulan apa?

Jauh sebelum Natal, Mama.

Mungkin Agustus.

Kenapa, Mama?

Damar tahu kondisi Martha, 'kan?

Jangan beri harapan lebih.

Maaf, Mama.

Kami memang dulu berpacaran, tapi sekarang hanya teman dekat.

Teman dekat yang baik.

Boleh.

Mari, Kak Damar.

Biasanya jam begini Kak Martha sedang makan.

Kakak. Kakak Martha.

Ada Mas Damar di sini.

Mari, Mas.

Martha.

Martha, apa kabar?

Damar.

Ya, Damar di sini.

Kabar Damar?

Damar baik. Damar sehat.

Martha sehat?

Kau siapa?

Kenapa ada di sini?

Keluar!

- Keluar! - Kak?

Keluar!

Keluar!

Orly, rumah kosong di sini.

Aduh.

Tak ada kabar sampai sekarang.

Tidak ada.

Ke mana?

- Nak Bertha tidak pernah begini. - Mungkin sudah tidur.

Motor ada di sini.

Aduh.

Sepertinya motornya baik-baik saja. Aman.

Dia telepon kembali! Orly!

Bertha!

- Briptu Novi, segera cek ke dalam. - Siap, Komandan!

- Bertha? Di mana, Bertha? - Bertha!

- Bertha! - Bertha!

Tidak ada?

Bertha, kau di mana? Bertha?

- Bagaimana, Briptu Novi? - Kau di mana, Nak?

Tidak di sini, Komandan!

Aduh, Ibu Polisi! Tolong bantu temukan anak saya!

- Bertha! - Bertha, kau di mana? Bertha!

Kakak, bagaimana?

Tidak ada!

- Bertha! - Briptu Andi.

Siap, Komandan!

- Bertha! - Bertha!

- Bertha! - Bertha di mana?

Adik! Aduh, Tuhan.

Mas! Tolong, Mas!

Ya?

Kalau begini, kami tidak bisa bekerja.

Jadi, antar saja dia pulang.

Ya, Bapak. Ya.

Tapi boleh minta tolong untuk cek

posisi terakhirnya pelaku lewat ponselnya Bertha?

Ya, di sekitar sini. Kami sudah melakukan pengecekan, ponselnya mati.

Tapi di sekitar sini. Ya?

Jadi, pulang saja dulu, agar kami bisa bekerja. Ya?

- Ya, Bapak. Terima kasih. - Ya.

Polisi sedang bekerja.

Dengar, Mama. Kakak, dengar.

Kakak, dengar. Orly, dengar.

Kalo kita di sini...

Mama, Bapak.

Mama, maaf. Masih banyak rumah kosong yang harus kami cari.

Jadi, sekarang Mama dan yang lain pulang saja.

Percayakan semua pada kami. Kami akan cari anak Mama sampai ditemukan.

Jadi, sekarang Mama dan yang lain pulang.

Percayakan pada kami.

- Baik, Bu. - Ya.

- Terima kasih, Bu. - Pulanglah.

- Mohon maaf, Bu. - Ya.

- Mari, Kak. - Tolong.

Istirahat dulu.

Bertha.

Kak Abe, mari.

Saya mau Bertha kembali.

Terima kasih, Bapak, Ibu.

- Maaf. - Ya.

Kemari.

Mas Damar tadi lihat, tidak?

Ada muntahan di situ.

Ya, saya sempat lihat juga.

Tapi itu bisa saja bekas orang mabuk.

Ya. Bisa juga, karena anak-anak menongkrong di situ.

- Itu dia. - Di situ juga.

Kalau dia...

Orly.

Selain kau,

kawan dekat Bertha siapa lagi?

Dengan yang lain, dia juga dekat, Paman.

Katanya, Bertha sempat teriak?

Nah, itu.

Sebelum teriak, dia sempat bilang...

"Orly!

Rumah kosong di sini!"

Lalu tidak ada suara lagi.

Masalahnya, di sekitar sini

banyak rumah kosong.

- Itu dia. - Itu.

- Rumah kosong yang mana? - Tadi juga.

- Keluar rumah itu... - Mas Damar.

- Kita harus cari Bertha sampai dapat. - Terus juga seperti...

- Ya, kalau... - Itu sudah...

Nona.

Adik bayinya perlu istirahat.

- Ayo tidur. - Bertha.

Ada suara Bertha!

Bertha.

Bertha.

Sudah telepon kawan yang lain untuk tanya?

Ponselnya benar-benar mati.

Tuhan!

Nona, tidak apa-apa!

Clara! Hei, Koba!

- Bayinya sudah keluar. - Clara!

Koba! Kak Yani, tolong bantu!

Aduh. Pelan-pelan.

Dari tadi dipanggil! Telinga kalian tersumbat, ya?

Hei! Laki-laki keluar!

Koba, tolong. Kepalanya sudah di luar.

Tahan dari belakang. Orly, tahan dari belakang.

- Ya. - Keluar.

- Pelan-pelan. - Ya.

- Pegang kaki. - Angkat dulu.

Angkat sedikit.

- Aduh. - Tunggu.

Nah, itu sedikit lagi.

- Itu. - Aduh. Awas anaknya, Koba.

Awas.

Kita bawa dia ke atas, ya?

Tunggu! Ari-ari belum keluar!

Yani! Kenapa?

Hai, keluar! Laki-laki keluar!

- Nona! - Keluar!

Tarik napas, Sayang.

- Ari-ari belum keluar. - Abe, Habel!

- Ya! - Nona dorong sedikit, ya?

- Bidan Teres! - Tarik napas!

Angkat dulu. Aduh.

- Turunkan kakinya. - Turun.

Mama. Mama cari apa?

Jaga bayinya.

Kunci!

Ini...

Di mana?

- Kakak! Cepat! - Kasihan.

Ya, sudah keluar.

Perempuan.

Sendiri!

Di mana?

Ari-ari masih menempel.

Saya tunggu Kakak saja.

Ha? Saya yang potong?

Ya.

Kalau saya yang potong, nanti salah.

Kakak, datang sekarang.

Clara! Kau cari apa?

Mama, kunci di mana?

Dari pekan lalu sudah dibilang, jangan dirantai!

Sialan!

- Syalom. - Syalom.

Mama, Bapak.

Mama, Bapak.

Saya minta maaf.

Saya minta maaf. Saya salah.

Saya minta maaf, tidak bisa mengurus anak dengan baik.

Saya gagal jadi ibu. Mama, saya minta maaf.

Sudah.

Kalian pindah ke Kupang saja.

Di dalam, Mama.

Aduh.

Cantik sekali.

Siapa namanya?

Eva, Mama.

Selain Abram...

di rumah ini hanya ada perempuan.

Ibu dari semua ibu.

Mama,

Bapak.

Baru saja sampai. Mari saya antar untuk istirahat.

- Ya. Mari. - Abe.

- Ya, - Kepala tempat tidur.

- Ya. - Nanti dulu.

Nanti dulu. Laki-laki di luar dulu, ya?

Di luar. Tahan.

Mari, Bapak.

Ayo.

Cucu Martha,

Tuhan Yesus memberkati, ya?

Halo?

Ya, kenapa?

- Selamat siang, Mama. - Ya.

- Dengan Mama Orpa? - Ya.

Ya. Mari, Mama.

- Mama. Bapak ini yang menemukan. - Ya?

- Kak Kobis, terima kasih banyak. - Ya, Kak.

Sabar, ya.

Sudah, Kakak! Biar saya yang masuk!

- Terima kasih. - Saya mau lihat anak saya!

Kakak! Biar saya saja!

Biar saya saja!

Mama, Bapak, dengan keluarga Kak Bertha?

Ya.

Saya Dokter Bagus. Tadi, saya melakukan pemeriksaan luar terhadap Kak Bertha.

Kami dapat kabar dari pihak kepolisian, memang dalam keadaan sudah tidak utuh.

- Kak, tolong dibuka. - Ya, Dok.

Ya Tuhan Yesus.

Anak Bertha.

- Mama! - Tolong angkat!

Bajingan kau! Biadab!

- Binatang satu ini! - Manusia sial!

Sialan! Biadab!

Mati!

- Injak dia, Koba! - Mati kau!

- Mati kau! - Bunuh dia!

- Bajingan! - Biadab!

- Bunuh dia! - Saya bunuh!

- Biadab! - Mampus!

- Bajingan! - Buka wajahnya, Kak!

Buka!

Astaga.

Yesus!

Lebih bahaya dari Covid!

Apa pun mereknya, kucing suka makan ikan!

- Biadab! - Hei! Lukas, keluar!

Urusan perempuan, ya?

Ini urusan laki-laki biadab!

Muka sial yang satu ini!

Mama! Apa itu?

Kita selesaikan secara adat!

- Biadab! - Koba!

Dia mati atau pingsan?

Kakak pilih mana? Dua-duanya boleh.

Biadab.

Biadab.

Lukas!

Ya?

- Tidak disangka. - Padahal punya anak perempuan. Malu.

- Ini, untuk anak cucu saya. - Biadab betul.

Binatang, betul. Bukan manusia.

Kakak!

Kakak!

Tolong, Kakak!

Aduh, Kakak!

Tolong, Kakak!

"Tolong, Kakak!"

- "Tolong, Kakak." - Aduh, Kakak!

Aduh, Kakak! Tolong!

Kakak!

- Aduh. - Bangun!

Bangun!

Manusia sial!

- Kurang ajar! - Damar, jangan!

- Damar! - Kau menyusahkan banyak orang!

Damar, jangan!

Sudah, Damar!

Sudah!

Damar, jangan!

- Kau perkosa Martha! Kau bunuh Bertha! - Jangan!

Sudah, Damar! Sudah!

- Jangan! Sudah, stop! - Demi Tuhan...

Demi Tuhan, saya siap dihukum mati.

- Sudah! - Demi...

Damar!

Masalah Bertha, saya tidak tahu!

- Damar, sudah! - Sudah, Damar!

- Penipu! - Damar!

- Sumpah! - Damar, sudah!

Kita bawa ke kantor polisi saja!

Buat malu keluarga saja!

Sumpah, saya tidak tahu!

Jalan!

- Aduh, jangan... - Jalan!

Jangan ke polisi!

Kau memang biadab, Habel!

Kak, tak usah ke kantor polisi!

Kau memang biadab! Tidak!

- Saya tanggung jawab... - Kau memang biadab!

Jangan ke kantor polisi! Tolong!

Aduh!

Martha!

Oma, jangan ke kantor polisi!

Saya tanggung jawab!

Martha, Kakak! Saya tanggung jawab!

Kami semua sudah memaafkan,

tapi urusan hukum...

Lanjutkan, Orpa!

Opa, saya minta maaf!

Oma, ampun! Jangan ke kantor polisi!

Kakak, jangan ke kantor polisi.

Besok atau lusa sama saja!

- Kau harus berurusan dengan polisi! - Aduh!

- Lusa saja! - Memang biadab!

- Kurang ajar kau! - Tidak!

- Opa! Kakak! - Tega sekali dengan keluarga saya!

- Masuk! - Aduh, jangan ke kantor polisi!

Masuk!

- Kakak! - Masuk!

Kakak, tolong. Jangan ke kantor polisi.

Kakak!

Opa, jangan ke kantor polisi.

Kenapa kau yang menangis?

Kakak...

Kakak, saya tahu ini salah.

Kak, tapi apa tidak ada syarat yang lebih ringan lagi?

Cuma ini syaratnya, Yani.

Kalau lusa, baru ke kantor polisi! Damar!

- Kakak, jangan sekarang. - Ya, Mama? Sekarang?

Damar!

Kakak, jangan sekarang. Tolong.

- Kakak! - Hei, Yani.

Apa bedanya hari ini, besok, atau lusa?

Mama...

Habel berdoa

supaya Kakak

bisa berubah pikiran.

Masih ingat Tuhan juga?

Memang sudah direncanakan. Damar!

- Kakak... - Ya, Mama.

Kakak, tolong!

Tolong kasihani kami, Kak!

- Tidak! - Kakak, tolong!

- Kita bicara dengan keluarga... - Sudah, pulang!

Saya tidak mau lihat wajahmu! Pulang!

Kakak, tolong.

Pulang saja!

Kita bicarakan dengan keluarga, Kakak.

Kemarin berteriak kebiri, sekarang malah datang sambil menangis.

Hei, Yani!

Di sini bukan LP.

Jadi, keluarga yang besuk harus bawa makanan.

Siapa yang mau beri makan suamimu?

Sudah memerkosa cucu saya, lalu minta kami beri makan dia?

Kemarin semangat berteriak kebiri, hari ini datang sambil menangis.

Kak!

Saya kira sedang mengubur sesuatu.

Tidak.

Biasa, cari tanaman.

Habel bagaimana?

Sudah, tinggal tunggu polisi jemput saja.

Tapi yang bunuh Bertha masih berkeliaran.

Apa ada info?

Orang bilang,

biasanya pembunuhan melibatkan orang dekat.

Saya setuju.

Siapa pun harus dicurigai.

Termasuk saya.

Cuma anjing yang bisa mengalahkan serigala.

Mungkin.

Karena sama-sama anjing, 'kan?

Tapi kalau saya,

lebih memilih untuk tetap jadi manusia.

Ke sini.

Sini, Paman belikan pulsa.

Waktu itu bilang ada yang lihat Bertha sebelum dibunuh?

Geser sedikit.

Siapa?

Di mana?

Tidak jelas.

Ada yang bilang, naik motor di sekitar kampung.

Waktu itu Ruben di mana?

Hei, Ruben.

Jangan takut. Ceritakan saja.

Nanti Mama berikan pulsa.

- Orpa, tunggu, ya? - Ya.

Ini, ambil.

Jangan, Mama.

Ambil saja. Tidak apa-apa.

Waktu itu Ruben di mana?

Rumah kosong.

Dengan siapa di situ?

Paman Ezra.

- Siapa? - Ezra!

Hei, Ruben. Kalian sedang apa di rumah kosong?

Kenapa dia di situ?

Kau sedang apa di rumah kosong itu?

Pakai narkoba?

Tidak.

Jangan bohongi saya, Ruben!

Kalian berapa lama di situ?

Kira-kira saja.

Berapa lama?

Lima belas menit.

- Anak ini! - Pukul satu.

Habis dari situ, kalian ke mana?

Habis dari situ,

Paman Ezra antar saya beli pulsa.

Lalu kami berpisah.

Jenazahnya di dalam tangki.

Motornya dekat rumah kosong.

Ponselnya hilang.

Saya butuh bukti dan saksi.

Kakak, jangan khawatir. Polisi pasti membantu.

Polisi bilang apa?

Cepat atau lambat, pasti tertangkap.

Baiklah, Kak. Tunggu polisi saja.

Kalau ada yang tahu kejadian pembunuhan dan tidak melaporkannya,

itu sama artinya dengan melindungi kejahatan.

Memang begitu.

Itu.

Ini.

Naikkan sedikit.

Mari.

- Tahan. - Ya.

Kakak, saya lelah.

Naik saja.

Kobis, kau lelah?

- Saya lelah. - Naik saja.

Permisi.

- Ayo. - Tolong.

Hati-hati. Pelan-pelan.

Aduh!

Sebentar.

Mama, saya minta maaf!

Saya sudah berdosa, Mama.

Mama...

Maafkan saya.

Habel.

Kakak.

Ini harga untuk tiga hari.

Sudah saya bayar, Kak.

Terima kasih, Habel,

Yani.

Terima kasih, Tius,

Kobis.

Mama Maria,

saya minta maaf.

Ini pelajaran untuk kita semua, anak cucu,

bahwa kejadian ini memang pernah terjadi,

dan tidak akan terulang lagi.

Amin.

Kakak.

Kita masih keluarga.

- Bagaimana kalau persoalan ini... - Secara pribadi sudah selesai,Tius.

Maksud saya, supaya persoalan ini tidak sampai ke polisi.

Selanjutnya, hukum yang bicara.

Kakak.

Kakak, kasihan anak kami.

- Bangun, Yani. - Kakak.

Saya prihatin!

Tapi saya tidak benci Habel, Yani.

Kami hanya tidak mau

- ada korban yang lain. - Kak, tolong.

Kakak!

Kakak!

Terima kasih untuk semua yang sudah bantu.

Terima kasih.

Kakak, saya minta maaf.

Kakak, saya minta maaf!

Terima kasih.

- Saya menyesal, Kak! - Terima kasih, Habel!

Saya malu, Kakak. Bagaimana anak dan istri saya?

Saya minta maaf, Kakak!

Kakak, saya malu.

Habel.

Damar, Abe.

Saya minta maaf, Kak!

Yani, saya minta maaf.

Mama-Mama!

Bangkit!

Mama-Mama!

Bangkit!

Mama-Mama!

Bangkit!

Dari Rote, kami bersuara!

Bangkit!

Dari Indonesia, kami teriak!

Bangkit!

Perempuan dunia!

Bangkit!

Hari ini atau tidak!

Bangkit!

Mama-Mama!

Bangkit!

Mama-Mama!

Bangkit!

Dari Rote, kami bersuara!

Bangkit!

- Dari Indonesia, kami teriak! - Bangkit!

Mama-Mama!

Bangkit!

Mama-Mama!

Bangkit!

Mama-Mama!

Bangkit!

Perempuan Rote!

Bangkit!

Mama-Mama!

Bangkit!

Mama-Mama!

Bangkit!

Mama-Mama!

Bangkit!

Mama-Mama!

Bangkit!

- Mama-Mama! - Bangkit!

- Mama-Mama! - Bangkit!

Usut tuntas semua pelecehan terhadap perempuan!

Bangkit!

Dari Rote, kami berteriak!

Bangkit!

Mama-Mama!

Bangkit!

Bangkit!

Bangkit!

Bangkit!

Bangkit!

Mas Damar.

Ini tanpa gula.

Terima kasih, Clara.

Mama di mana?

Mama biasanya melihat tangki.

- Hei, membuatku kaget. - Kakak.

- Masuk. - Ya.

- Ini... - Ini...

Tiga tahun lalu, saya dan Abram sering datang ke warung kopi ini.

Ya. Pemiliknya sudah pindah ke Kupang.

Jadi, bagaimana, Kak?

Saya yakin kau bisa ceritakan banyak hal padaku.

Tergantung, mau jadi pengecut dan bunuh diri,

atau mau jadi pemberani dan hidup penuh risiko?

Yang jelas, saat makan harus dikunyah, Kakak.

Jangankan makan, bernapas pun butuh tenaga.

Angin.

Di mana Bertha dibunuh?

Betul, di tempat itu.

Sepeda motornya aman.

Ponselnya hilang.

Barang seperti itu mudah dijual.

Tapi kenapa Bertha dibunuh?

Mungkin sakit hati? Dendam?

Persoalannya apa?

Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Sakit hati,

dendam.

Lalu seenaknya mengambil nyawa seseorang?

Tidak sebanding dengan risikonya.

Kalau seorang ibu bisa mengandung dan melahirkan seorang anak...

itu sama artinya dia sanggup melakukan apa pun demi anaknya.

Masih ada satu syarat lagi.

Info pelakunya? Atau syarat dulu?

Di mana-mana, syarat dahulu.

Jaminannya? Sanggup dikutuk tujuh turunan kalau tidak menepati?

Jangan menantang saya.

Syaratnya!

Saya mau kita bercinta, sekarang.

Kalau saya menolak?

Silakan angkat kaki dari sini.

Ke kiri, Kak.

Siapa pelakunya?

Nanti malam.

Sekarang!

- Jangan buru-buru. - Siapa? Siapa pelakunya?

Saya.

Saya tak takut pada manusia.

Dan dosa menghambat keselamatan!

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.