Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Malam, Neng Sari!
Malam, Kang Cecep.
Kang Mak.
Kang Mak!
Maju, Semua! Maju!
Awas granat!
Nasib, ya, nasib
Ketika lahir dijajah Belanda
Di kala kecil, dijajah Jepang
Saat dewasa
Aku dikirim berperang
Nyanyi apaan sih?
Nasib, ya, nasib
Sekarang aku hanya menunggu
Ajal menjemputku
Kenapa suaramu makin keras?
- Nasib, ya… - Hei! Sudah, diam!
Solah.
Dia menyanyi makin keras biar kau dengar.
Eh, gue budek, tapi enggak budek-budek banget, ya!
Kau budek, Solah!
Gue enggak budek! Gue masih bisa dengar!
Kupingmu kena bom.
- Apaan? - Nah, kan?
Kau budek, Solah!
Kayaknya lo enggak ngomong!
Udah, kau aja yang nyanyi, bisa enggak?
- Ya udah, biar gue yang nyanyi. - Iya!
- Biar kita bersemangat. - Betul!
- Ayo semua, Teman-Teman! - Ayo!
Kalau kau suka hati, tepuk tangan!
Kalau kau senang hati, tepuk tangan!
Ganti lagu.
Berisik, tahu?
Kalian pikir kita piknik di sini?
Senang dikirim berperang dari pagi sampai malam kayak gini?
Terus ngapain biar semangat?
Saya rasa sekarang bukan saatnya untuk nyanyi-nyanyi.
Sudah saatnya kita bangkit dan melawan!
Kita tunjukkan kalau kita bukan bangsa yang mudah diinjak-injak seenaknya!
Luka apa pun yang kita alami sekarang,
tidak akan menghentikan kita untuk terus berjuang
menyatukan Indonesia.
Majulah kalian!
Keluar kalian dari sini! Angkat senjata kalian!
Abang enggak ikut?
Ya, kalian kan masih muda.
Kalian maju di depan. Yang tua bisa dukung dari belakang.
Sambil doa.
Lah, gimana sih, Bang Supra!
Enggak ada tua-muda kalau di medan perang!
Kalau mau terus maju, ya sama-sama!
Kok sama-sama?
- Apa sih? - Apa sih?
Sudah, cukup!
Kalau kalian pada enggak mau maju, biar saya yang maju sendirian!
Enggak apa-apa.
Saya memang penakut, tapi perang ini sudah kelamaan, kan?
Saya itu harus pulang, ketemu istri saya, si Sari.
Dia pasti sudah melahirkan anak kami.
Kalian memang tidak kangen sama keluarga?
Kangen, kan?
Makanya kita harus maju tak gentar!
Membela yang benar!
Maju tak gentar!
Hak kita ini diserang!
Maju serentak,
mengusir penyerang!
Maju serentak,
tentu kita menang!
Keren.
Keren, Makmur.
Enggak! Keren dari mana?
Itu kayaknya lirik lagu, deh.
Lirik apaan, Kang?
Coba ulang dari awal.
Kalau kalian tidak ada yang mau maju,
biar saya yang maju sendirian. Enggak apa-apa!
Yang "Maju tak" -nya aja.
"Maju tak" -nya langsung, enggak dari awal.
- Enggak usah. - Enggak.
Mak, ulangin sekali lagi yang "Maju tak" -nya doang.
Maju tak…
Saya enggak suka dipaksa, Kang.
Udah, berhenti semua!
Bukan waktunya kita main-main lagi.
Sudah saatnya kita tunjukkan siapa kita!
Tentara sejati!
Siap, dong!
Selamat pagi, siang, malam
Kami tentara sejati
Pasukan bumi pertiwi
Berjuang demi negeri
Ini aksi kami
Ini jiwa kami
Selamanya, saudara Sehidup, semati
Indonesia!
Indonesia!
Kang Mak!
Kang Mak!
- Ayo masuk, Nak! - Kenapa, Pak?
Jangan banyak tanya. Masuk.
- Ayo, Nak! Kita masuk. - Kang Mak!
Tutup!
Anak kita udah lahir, Kang.
Kalau begini, kita bisa mati!
Ya, Tuhan,
jangan ambil nyawa saya, ya, Tuhan.
Pokoknya saya harus hidup.
Apa pun yang terjadi, saya harus ketemu sama istri dan anak saya, ya, Tuhan.
Tolong, ya, Tuhan.
Jangan ngomongin mati.
Pantang.
Kita masih hidup.
Kalau Makmur aja enggak mau mati,
kita juga enggak boleh mati!
Kalau begitu, kita enggak boleh ada yang mati!
Kita semua harus hidup!
Tentara sejati!
Serang!
Aduh.
Serang!
Serang!
Serang!
Mundur!
Mundur!
Sari…
Sari!
Tidur, Anakku Sayang
Mami Sari di sini menanti
Papi Makmur akan datang
Ibu, takut.
Bersama kita lagi
Papi Makmur akan datang
Solah!
Kita selamat!
Akang pulang, Neng! Akang pulang!
Kita selamat!
Kita selamat!
Kampung saya paling dekat,
jadi pertama kita ke kampungnya Kang Fajrul dulu.
Setelah kampung Kang Fajrul, baru ke kampung Kang Solah.
Baru ke kampungnya Kang Jaka.
Karena kampungnya Kang Jaka dekat dengan Kang Solah.
Karena kampungnya Kang Supra paling jauh, berikutnya Kang Supra.
Nah, terakhir, sa…
Kalau saya terakhir, kasihan Sari. Dia udah nunggu berbulan-bulan.
Kalau begitu, kita dua bulan di perahu. Udah, ikutin caraku.
Awas.
Nih.
Pertama, kita ke kampungnya Makmur yang paling dekat.
Nih, Makmur.
Kedua, ke kampungku.
Baru ke kampungnya Solah.
Habis itu kampung Jaka.
Nah, terakhir, karena paling jauh, kampung Bang Supra.
Ya, kalau itu kurang jauh.
Sini?
Kurang jauh!
Nah.
Kampungnya Bang Supra itu di sana! Kan jauh emang.
Kok dibuang?
Itu kampungnya Bang Supra, buat patokan.
Botol minumku.
- Hah? - Botol minumku.
- Oh, iya. - Iya.
Botol minumku.
Iya, botol minum, ya.
Satu dehidrasi, semua dehidrasi ya.
- Ayo, berangkat. - Haus banget gue.
Panas pasti di perjalanan.
- Mang! Jalan, Mang. - Mang! Jalan, Mang!
Kelihatannya sih kalau sampe rumah saya, sudah gelap.
Nanti istirahat aja dulu, ya? Makan dulu.
Si Sari itu kalau masak, aduh, enak.
Pas banget. Udah lama kita enggak makan enak.
- Dia bisa masak pecel lele, enggak? - Bisa!
Kalau ikan bakar kecombrang?
Itu mah gampang, Kang Fajrul.
Kalau pepes-pepesan, bisa enggak?
Segala pepes bisa! Pepes tahu, pepes ikan, pepes cumi.
- Pepes apa? - Pepes kambing, saya mah.
Pepes kambing mah gede! Bungkusnya pakai daun apa?
- Ya daun pisang, Mur. - Kang Fajrul, maaf.
Daun pisang paling segimana? Segini.
Lah, ini kambing.
Kambingnya kau potong-potong.
Jangan kambing utuh kau pepes.
Ya udah! Ini aja saya mah, gampang.
Telur mata sapi pakai sambal.
Kang.
Kambing aja sulit, apalagi sapi yang lebih gede.
Aduh, Kang Supra bercanda.
Nah, kita udah mulai masuk kampung saya ini.
Ini kampung kau, Mur?
Sepi sekali.
Ya, kalau ramai Kampung Rambutan namanya, Kang.
Rumahmu di mana?
Rumah saya masih jauh ke dalam.
Tapi tumben ini memang agak sepi.
Biasanya ramai anak-anak kecil di sini main.
Akhirnya sampai juga.
Ayo, Kang.
Yuk. Hati-hati turunnya.
- Ayo, Kang! - Ayo.
Makasih, Bang.
- Kang Solah, aman? - Aman!
Neng!
Akang pulang, Neng!
Neng Sari!
Akang pulang!
Neng!
Pahit, pahit.
Sari!
Akang pulang, Neng!
Sari?
Neng!
Hei!
Bang!
Perahu!
- Heh! - Apa sih?
Itu tukang perahunya kabur! Ketakutan!
Tuh!
Hei!
Hei!
Ya, ampun!
Yah, masa kita kejebak di sini?
Sari?
Oh, Sari!
Neng?
Neng?
Sari!
Kang Mak!
Akang kangen banget sama Eneng.
Eneng pikir Akang enggak akan pulang ke sini lagi, Kang.
Enggak mungkin, Neng.
Akang kan udah janji.
Akang pasti pulang.
Kang Mak!
Kenapa, Kang?
Ini luka bekas ketembak.
Tuh. Tapi enggak apa-apa.
Udah diobatin.
Ini tangannya juga?
Kalau ini mah cuma keserempet peluru.
Di belakang juga masih ada, Neng.
Ada luka bekas kena granat, dibacok, luka ketusuk.
Aduh, Akang!
Enggak apa-apa, Neng.
- Enggak apa-apa, benar? - Benar.
Demi bangsa dan negara,
semua luka itu tidak masalah.
Enak juga, ya, kalau punya istri.
Iya, ya. Gue juga kalau punya istri,
kayaknya gue pulang bakal gue cium-ciumin, gue peluk-pelukin.
Biasanya kalau yang begitu, Bang Supra.
Kalau kita kan memang sudah pengalaman. Romantis.
Baru pulang, bini kita pegang kepalanya.
Celepet!
Celepot!
Semua. Muka beradu muka.
Terus gue jilatin.
Gue remas-remas.
Terus gue jilatin dari atas kepala…
Jempol kaki kita cucup.
Serepot!
Udah, Bang!
Neng, perutnya…
Kok kempes?
Eneng keguguran?
Tidak!
Tidak!
Kang, itu anak kita!
Anakku sayang!
Wajahnya cantik seperti wajahmu, Sari.
Matanya indah, bagai mata bidadari yang turun dari kahyangan.
Anak kita laki-laki, Kang.
Pantas gagah dan macho ini mah kayak Akang.
Ini putraku.
Ini Papi, Sayang.
Papi Makmur!
Kamu bisa panggil…
Pih Mak.
Siapa nama jagoan kita, Neng?
Nama yang Akang selalu impi-impikan.
Cipluk?
Namanya Cipluk!
Kirain namanya Maxim, Onadio, Vino.
Ini? Cipluk! Yah!
Kayak bunyi-bunyian.
Nanti adiknya lebih kayak bunyi lagi.
Apa tuh?
Kalau punya adik lagi, namanya Mak Grompyang!
Kampung!
Ngaca! Namamu Solah!
Solah kan nama depan doang.
Nama belakang gue dong. Solah Vicenzio.
Hei, nama kampung itu "Supra"!
Jangan lihat depannya. Lihat belakangnya.
Nama keluarga.
Dengar. Supra Widodo Cokroaminoto Supratman Hatta.
Itu baru nama!
Bentar, Bang. Nama-nama itu kayaknya kita tahu.
- Coba ulang sekali lagi. - Iya.
Supra Widodo Cokroaminoto Gatot Subroto Hatta.
- Sekarang ada "Gatot Subroto" -nya. - Dari tadi!
Enggak ada, Bang. Tadi "Supratman"!
Nah.
Teman-teman.
Kenalin, ini istri saya yang suka saya ceritain. Sari.
Saya Supra Widodo Cokroaminoto Gatot Subroto Sudirman Hatta!
- "Supratman"-nya hilang! - Ganti "Sudirman"?
Kenapa sih? Memang nama panjangnya begitu.
Tapi ganti-ganti mulu!
Ribet amat.
Saya Jaka.
Saya yang nolongin Makmur waktu ketembak.
Saya Fajrul.
Saya yang selalu ngingetin Makmur untuk tetap setia.
Walaupun di medan perang banyak godaan.
Godaan apaan di medan perang? Kecium bom?
Hai, Sari.
Saya…
Solah Vicenzio.
Apakah kamu memiliki saudara perempuan?
Enggak, Kang. Saya anak tunggal.
Sahabat?
Siapa pun yang cantiknya kayak kamu, gitu. Ada enggak?
Enggak ada, Kang Solah.
Sari ini wanita paling cantik di kampung sini.
Makanya kalau ada perlombaan, selalu juara.
Sari itu pernah juara Pesona Wajah Kampung.
Pernah juara favorit Kembang Kampung.
Pernah juga juara Putri Pasar Idaman.
Pokoknya mah juara umum dari semua
perlombaan kecantikan di Kampung ini.
Malah yang terakhir ini yang terbaik.
Pernah juara tiga tahun berturut-turut Putri Sungai.
Luar biasa.
Pencapaian yang luar biasa!
Terima kasih, Kang Solah.
Nah, sekalian nih, saya mau ngumumin.
Kalau sekarang, saya sudah resmi menjadi Papi.
Karena anak saya sudah lahir.
Namanya luar biasa.
Cipluk.
Nama panjangnya Cipluk Makmur Sari.
Iya. Kayak toko bangunan.
Mebel.
Enggak boleh begitu.
Cipluk adalah nama yang sangat indah.
Cipluk harus selalu mengingat namanya sampai dia tua nanti.
Jangan sampai begitu dia tua, dia lupa sama nama panjangnya.
Apa?
Makmur!
Tukang perahunya tadi kabur. Ketakutan.
Kita enggak bisa pulang.
Sekalian saja nginep di sini, ya?
Katanya mau nyobain makanan Sari.
Kebetulan, di seberang sungai sana,
ada rumah Uwak saya yang sudah lama kosong.
Nah, jadi teman-teman semua bisa nginep di situ.
Oke, setuju! Kita nginep dulu di situ.
Katanya enggak mau nginep di sini.
Kan ditawarin. Masa mau ditolak?
Lagian, mau pulang naik apaan?
Perahunya udah pergi. Mau berenang?
Sari.
Saya dan teman-teman
mengucapkan terima kasih.
Dan…
Aku cinta kamu, Sari.
Apa tadi?
Aku cinta Makmur!
- Tadi Sari. - Enggak, tadi Sari.
Aku cinta kamu, Sari, istrinya Makmur.
Mau ngerebut?
Bukan! Aku cinta Sari. Aku cinta Makmur.
Aku cinta Cipluk!
Aku cinta kalian.
- Mau rebut istri teman? - Bukan.
- Siapa yang mau rebut? - Ya?
Cukup!
Bukan saatnya kita untuk berdebat.
Besok kita ke pasar, ya!
Sari mau masak enak buat kita semua!
- Siap! - Siap, Mur!
Ayo, Neng.
Eneng selalu doain Akang supaya Akang selamat.
Itu artinya doa Eneng
yang selalu bikin Akang kuat selama berjuang di medan perang.
Eneng enggak bisa bayangin,
kalau Akang mati di medan perang.
Kalau Akang sampai mati duluan,
Akang pasti akan kembali sebagai setan…
…untuk menemui Eneng sama Cipluk.
Akang! Seram.
Takut, ya, Neng?
Tapi, Kang,
kalau Eneng…
yang mati saat nunggu Akang di sini,
gimana?
Akang mah bersyukur itu enggak pernah terjadi.
Lihat sekarang.
Kita udah sama-sama lagi kayak dulu.
Tapi bedanya, sekarang kita udah bertiga.
Ada Cipluk.
Mungkin besok berempat, berlima, berduabelas,
- seratus, seribu… - Masa banyak banget, Akang?
Ya, biar rumahnya ramai, Neng.
Biar enggak sepi.
Kenapa lagi ini?
Eneng takut, Kang.
Takut apa?
Takut kalau kita berpisah lagi.
Neng.
Eneng harus percaya sama Akang.
Akang enggak akan pernah ninggalin Eneng lagi.
Dan mulai sekarang,
kita akan sama-sama terus selama-lamanya.
Akang janji.
Jadi, Eneng enggak boleh takut, ya?
Ada Akang.
Bang! Bang Supra!
- Bangun, Bang! - Apaan?
- Itu bayangan apa, Bang? Itu! - Mana?
Burung.
Burung dari mana sih?
- Perempuan, Bang! - Jrul, bangun.
Apa, Bang?
Itu bayangan burung apa perempuan?
- Anjing, Bang. - Aduh.
Anjing?
- Perempuan! - Burung!
Itu anjing! Jelas sekali itu anjing!
Tapi ada burungnya, kan?
Aduh, berisik banget sih!
Enggak pada capek apa?
Jak, lo lihat itu.
Itu bayangan burung, anjing, apa perempuan, Jak?
- Bukan burung. - Kan?
Bukan anjing.
Nah, kan?
Bukan perempuan.
Itu setan.
Setan?
Setan!
Jaka! Jak!
Jak!
Kau yang bangunin dia.
- Jak! - Jaka!
Jaka, bangun.
Jaka, bangun.
Susah amat sih!
Setan!
Ngapain lo pada?
- Ini, mau beberes. - Mau bersih-bersih.
Tinggal di rumah orang enggak enak kalau enggak dibersihin, ya, kan?
- Sapu mana? - Kenapa badan gue sakit?
- Pemandangannya tadi bagus, ya? - Iya! Kalau pagi, ya?
Dia enggak lihat.
- Ini istilahnya tuh hidden gem. - Iya, hidden gem.
Sungainya bagus, airnya tenang, dingin juga.
Telat bangun sih.
Kang Supra! Kang Solah!
Kang Jaka, Kang Fajrul! Ayo bangun!
- Iya, Mur! - Jadi enggak, ke pasar?
Siap! Ikut!
Ya udah, yuk siap-siap.
Enggak sabar pengen ketemu Sari lagi.
Ayo berangkat sekarang.
Kalau kesiangan, bahan-bahan di pasar habis.
Katanya mau coba masakan Sari!
Ayo. Sari mana?
- Sari kan jagain cipluk. Enggak ikut. - Oh, iya.
Tapi capek banget kalau ngedayung sampai pasar.
- Terus gimana? - Itu ada tukang dayung.
- Kita minta anterin aja ke pasar. - Itu Kang Cecep.
Kang Cecep!
Kang Cecep, masih ingat saya?
Minta tolong anterin ke pasar!
- Jangan nengok! - Kami kecapekan ngedayung.
Nggak biasa!
Kang Cecep!
Jangan nengok!
Gimana sih ini, Kang Cecep?
Kok kayak ketakutan gitu, dia?
Iya, Mur.
Memang kalau dari dulu sih, di sini terkenal angker.
Banyak cerita-cerita seram.
Tapi itu cuma mitos.
Ayo.
Mas Wiwid!
Mas Wiwid!
Makmur datang!
- Makmur datang! - Mas Wiwid, apa kabar?
- Kau tenar di kampung ini. - Bangga gue temenan sama lo.
Mas Wiwid, Sari lagi mau masak yang spesial buat kita,
karena baru pulang dari medan perang.
Sayur-sayuran ada?
Ada! Tatang! Ambilin, Tang!
Ayo, sini!
Terima kasih.
- Ini berapa harganya? - Gratis, Mas Makmur!
Yang penting kan Sari bahagia.
Terima kasih!
Saya juga butuh bumbu-bumbu buat makanannya.
Ada!
Kasih, Dang!
Enaknya nomor satu ini!
Kalau kopi sama gula ada?
Ada!
Kalau pepaya ada, Pak Wiwid?
Yayat! Kasihkan, Yat!
Ini nomor tiga.
Kalau semangka, ada?
Yati! Mana Yati? Yati, kasihkan.
Ini istri saya yang nomor empat.
Kalau kambing?
Ada!
Kasih.
Ini, Bang.
Kalau penari telanjang?
Sebentar.
Hentikan! Cukup!
Nanti saya sampaikan terima kasih banyak dari Sari, ya,
buat semua warga kampung.
Kita pamit dulu!
Ayo.
Kita berhenti dulu. Minum dulu, istirahat, ya.
- Ayo. - Trauma banget ngeliat yang tadi.
Kaos jaring-jaring.
Siapa suruh minta?
Eh! Mbah Yu Supi!
Biar kalian tenang.
Jalan-jalannya sampai ke akhirat.
Kita disumpahin ini mah!
Jauh-jauh.
Jangan gentayangan!
Gentayangan? Emangnya kita setan?
Cuma setan yang bisa tinggal sama setan.
Iya, tapi siapa yang setan?
Istrimu, Makmur.
Si Sari itu sudah mati!
Dia itu setan!
Kalau kamu enggak percaya,
intip lewat selangkangan. Sari itu setan!
Kenapa ketawa-ketawa sih?
Mbah Yu Supi itu orang paling lucu di kampung sini.
Kalau ngomong, suka ngelantur.
Karena mabok!
Oh, mabok.
Tapi dukun juga sih.
Neng, Akang pulang!
Banyak oleh-oleh dari warga kampung!
Jadi, Eneng bisa langsung masak.
Neng, orang-orang kampung pada baik semua.
Ini semua dikasih gratis.
Mereka ngomongin tentang Eneng enggak, Kang?
Enggak, ngomongin apa?
Paling cuma ngomong, semoga Eneng bahagia di sana, dapat oleh-oleh.
- Cipluk. - Neng, udah. Biar Akang yang urus.
Eneng masak aja yang enak buat teman-teman Akang.
Menurut kalian, omongan Mbah Yu Supi gimana?
Soal Sari? Tinggal sama setan?
Ya, kalau dipikir-pikir, bisa aja warga kampung takut sama kita
karena tinggal sama setan.
Apaan sih, lo, ngomong diputer-puter?
Menurut lo Sari itu setan?
Heh! Setan enggak ada yang secantik itu.
Setan tuh biasanya jelek.
Ngomong jelek kenapa ngeliat ke gue?
- Kagak, ngeliat sana. - Udah enggak usah ribut.
Sekarang pastiin aja Sari itu beneran setan apa bukan.
Caranya gampang.
Lihat lewat selangkangan.
Udah! Enggak usah ribut juga.
Bawa kambing ke dalam.
Kok saya, Bang. Abang aja, nih.
Eh! Ini pinggang enggak ketahan, sakit.
Jrul, nih.
Aku mau berak, Solah.
Berak mulu badan segede gitu.
Jak!
Gue enggak, deh. Capek banget.
- Tadi gue habis dayung kapal. - Kan gue juga ngedayung.
- Tapi kan gue di belakang kayak… - Cukup!
Bukan saatnya berdebat!
Sekarang pilih. Siapa yang mau mijit gue,
siapa yang mau bawa kambing?
Jaka, mijit gue.
Ngapain nyuruh milih kalau kayak begitu?
Kan lo udah milih bawa kambing. Udah megang.
Masa mijit gue? Bau kambing, gue, Solah!
Udah, pokoknya lo pastiin aja Sari itu setan apa bukan.
Cek lewat selangkangan.
Kang Solah ngapain?
Ini, mau makan kambing, eh, mau ngasih makan kambing.
Eh, mau ngasih kambing Sari makan.
Maksudnya, mau ngasih kambing buat Sari masak, buat kita makan.
Sari.
Maaf, Sari. Enggak ada maksud apa-apa.
Saya cuma…
Tolong, dong. Ambilin daun pisang.
Oh, daun pisang.
Jangankan daun pisang, daun pintu,
sampai daun telinga juga Kang Solah bisa ambilin.
Tapi buat apa daun telinga, ya?
Solah cari dulu, ya.
Kalau misalnya Sari itu setan,
anaknya juga setan, dong.
Ya enggak, lah!
Kalau emang begitu, si Makmur udah sadar duluan.
Ya, tapi ekspresi orang-orang, Mang.
Gitu aja diurusin.
Siapa yang setan?
Enggak. Di pasar orang pada ngomong.
Terus kalian percaya?
Ya enggak lah. Gimana bisa percaya?
Masa anak selucu ini dibilang anak setan?
Iya, benar. Lucu banget. Cipluk!
Bukan main, ini anak. Cakep banget, ini anak. Tuh, lihat.
- Bang Jaka! - Ciplak, Cipluk!
Ta kipluk, kiplak, kipluk.
Abang emang cocok banget main sama…
Sama siapa?
Hei!
Mak… Makmur!
Lagi pada ngapain?
Kang Supra lagi belajar gendong Cipluk?
Nih, atuh, gendong yang aslinya.
Bang…
Jaka, temenin gue.
Lucu, ya?
Uwak Supra.
- Monyet! - Lo yang monyet!
- Ngapain sih, lo? - Berak.
Berak jangan di situ, lah!
Ganggu aja.
Hei! Enggak geser gitu doang! Berak di sungai sana!
Kejauhan!
Udah tahu badan segede gitu, pake berak lagi, lo!
Nggak apa badan segede gini berak!
Daripada kau! Badan segitu enggak berak!
- Itu bukan urusan lo. - Kapan terakhir berak?
- Kemaren! - Hari ini?
- Ya, belum. - Ayo.
- Ayo apa? - Balap kita.
Nggak mau! Ngapain gue berak sama lo!
Bau tai! Udah berak lo, ya?
Belum!
Mulutmu tuh, bau tai.
Nih, bau tai. Tuh!
Padahal yakin bener si Cipluk yang gue gendong.
Saya sampai goda-godain! Saya inget banget itu mukanya cipluk!
Makanya. Tiba-tiba jadi gedebong pisang begitu.
Hei!
Dicariin, enggak tahunya malah pada di sini.
- Lo udah cek Sari, belum? - Udah.
Aman. Dia mah bukan setan.
- Yakin lo, Lah? - Yakin, Mang.
Kenapa sih?
Ganggu aja, Solah.
Namanya manusia mau buang hajat.
Tolong!
Suara Fajrul!
Kenapa dia?
Fajrul!
Jrul, di mana, lo?
Nyusahin amat ini orang.
Jrul!
Fajrul!
Kayak ada yang gerak.
Itu bukan?
Jrul!
Fajrul!
Bukan, itu pohon!
Masa pohon goyang-goyang?
- Jrul! - Angin, kali.
Fajrul!
Fajrul!
Astagfirullah.
Kenapa lo?
Alergi, nih! Salah makan pasti!
Pelit, enggak bagi-bagi!
Wah, makan kepiting ya, lo? Enak banget!
Enggak. Udang pasti. Udang, ya?
Wah, kalau udang, dibakar pakai madu tuh, Bang Supra.
Wah, itu mantap.
Kerang? Kerang!
- Kenapa sih? - Apa sih?
Enggak ngerti gue. Ulang pelan-pelan.
Medan?
Bukan!
Ketan!
Ketan Medan pakai durian!
Itu juga mantap.
Pake kopi…
Bukan gue yang ngomong! Gue yang ditendang!
Kenapa sih? Ditendang?
Jangan-jangan Tarzan.
Sari.
S-E…
Setan?
Sari setan?
Ngaco, lo! Jangan asal nuduh, lo!
Gue udah liat lewat selangkangannya, dia bukan setan, kok.
Gimana?
Gue liat dari selangkangannya. Kan lo suruh!
Coba, gimana? Contohin. Lo liatnya gimana?
- Misalnya ini Sari. - Gue Sari.
Iya.
Ya udah, gue begini doang.
Emang lo mesum!
Maksud gue lewat selangkangan lo!
Masa dari selangkangannya Sari?
Gini, nih.
Makanan udah siap. Ayo kita makan.
Kang Fajrul kenapa mukanya?
Ini pasti disengat tawon.
Aduh, kasihan. Jadi jelek banget begini, ya.
Iya.
Enggak apa. Nanti diobatin.
Ini kan istri saya udah masak.
Udah jadi makanannya. Makan dulu, yuk.
Mur, kayaknya kita langsung pulang ke rumah, deh.
Kenapa jadi buru-buru pulang?
Makanannya udah jadi. Kasihan istri saya udah masak.
- Kita… Kita mau… - Mau yoga!
- Ah! - Betul.
Kita mau yoga. Kita mau cari ketenangan batin dan juga pikiran.
- Supaya si Jaka enggak marah-marah mulu. - Iya.
- Ya udah, Mur, kita pulang duluan. - Ya udah.
Nanti saya anterin obatnya.
Sari S… S apa ini, kang?
Sari S-A-R-I.
Sari. S-A-R-I.
Oh, iya. Sari S-A-R-I. Iya betul.
Ya.
Eh, bentar, deh.
Kalau benar kata Fajrul kalau Sari itu setan,
kayaknya mending kita pergi dari kampung ini, deh.
Itu dia. Dari kemarin, perasaan gue itu udah enggak enak.
Tapi masa kita ninggalin Makmur sendirian?
Itu mah gue udah tahu kalau si Sari istrinya Makmur.
Harus ada yang ngasih tahu Makmur kalau si Sari itu setan.
Memangnya kita tega mau ninggalin si Makmur?
Makmur itu pernah nolong kita, lho.
Dan kita pernah satu pasukan bareng dia.
Kita udah kayak saudara sama si Makmur.
Saudara sih, saudara, Bang. Tapi kita ini kan tentara.
Dilatihnya lawan manusia, bukan lawan setan.
Tunggu!
Untung belum pada pergi.
- Saya mau… - Makmur,
kita mau ngasih tahu sesuatu. Jangan kaget.
Jangan marah juga ya, Mur.
Jangan dendam juga, ya.
Ini sebenarnya ada apa sih?
Sebenarnya…
Sebenernya Solah mau ngomong.
Lho?
Kok jadi gue?
Mur.
Kita kan temenan udah lama.
Gue udah kumpulin semua bukti dan gue mendapatkan fakta
yang ternyata… sebenarnya…
Bang Supra yang mau ngomong.
Susah banget ngomongnya.
Mur.
Apa, ya?
Udah, udah.
Iya. Susah, kan, ngomongnya?
Udah, udah.
Udah, makanya Abang aja!
Mur.
Maaf, ya. Sari itu…
- Cantik, Mur! - Iya, cantik!
- Cantik. - Itu mah udah dari dulu.
Makanya dari awal saya bilang,
Sari itu selalu menang lomba kecantikan antarkampung.
Saya jadi kaget. Saya kira apa.
Ada-ada aja. Ini, saya mau kasih ini.
Minyak aren.
Biar cepat sembuh luka disengat tawonnya, ya.
Ayo makan.
Masakannya udah jadi.
Katanya mau cobain masakan saya?
Tuh, udah pada dimasakin, kan?
Kasian kalau enggak dimakan.
Nanti Sari bisa dendam, lho.
Tuh, kan, bener? Mukanya udah mendingan sekarang.
Makmur.
Kayaknya Sari itu…
Tapi ngomongnya masih belum jelas.
Pelan-pelan, Kang.
Sari?
Sudah. Sari sudah…
…mati!
- Sari sudah ma… - Masak!
Oh, Sari sudah masak.
Ya, memang tadi sudah saya jelaskan Sari akan masak hari ini.
Silakan, Kang.
Ini kelihatannya…
mengandung kolesterol, ya.
Saya kebetulan jantungan.
Enggak bisa sama yang kolesterol.
Saya juga diabetes.
Jadi, enggak bisa makan makanan yang gula gini.
Saya kolesterol juga, diabetes, darah tinggi.
Kalau makan gituan, jadi gampang emosi!
Udah, enggak usah malu-malu.
Saya tahu kalian semua pada lapar.
Dicobain aja dulu. Sekali dicoba, pasti langsung ketagihan.
Enak banget!
Rugi kalau enggak coba.
Sesuap aja.
Iya.
Sesuap aja, saya udah senang.
Artinya kalian menghargai apa yang saya sediakan
untuk teman-teman baik Kang Makmur.
- Kang Supra. - Ya?
Boleh kasih testimoni.
Iya.
Enak.
Enak. Lezat.
Makasih, Kang.
Kang Jaka, ayo.
Silakan ulasannya.
Enak!
Mantap! Dahsyat!
Neng, Kang Jaka ini orangnya unik.
Kalau dia suka sama sesuatu, emosinya meledak-ledak.
Itu tandanya dia jujur.
Sekarang Kang Solah Vicenzio.
Boleh, Kang, testimoninya agak panjangan sedikit, lebih detail.
Teksturnya lembut.
Ini pas masuk di mulut, rasa asin, pedas, manisnya,
semua luber dalam lidah!
Kang Fajrul.
Ini maaf.
Walaupun Kang Fajrul masih susah ngomong, tapi sebagai penutup,
silakan kasih kesimpulannya.
- Katanya doyan banget. - Dia pengen nambah.
Kasih.
Tuh, kan?
Saking sukanya, dia sampai nangis terharu.
Sebagai ungkapan terima kasih dari kami,
masih ada camilan penutup.
Sekalian saya bikinin kopi, ya?
Sebentar, ambil dulu di belakang.
Mur!
- Enggak apa-apa! - Mur.
Makmur!
Saya pamit dulu, ya. Belum ngangkat jemuran.
Habis jemuran diangkat kan harus disetrika,
Nah, saya mau nyetrika.
Habis disetrika mesti dilipat, disusun di lemari. Saya mau nyusun.
Asalamualaikum.
Aduh.
- Buruan, Jrul! - Ampun, Sari!
Buruan mendekat!
Buruan!
Buruan!
Sari!
Kenapa kita enggak maju-maju sih?
Cepet, dong!
Kenapa jadi muter terus ini?
Ketemu lagi!
Kalian harus berhenti mengganggu kebahagiaan saya dan Kang Makmur!
Janji?
Janji!
Ha-hi.
Apa?
Ha-hi.
Gue bilang juga apa.
Camilan datang!
Lho, pada ke mana?
Ini udah Akang bawain duren.
Tadi katanya juga pada mau ngopi.
Pada pulang, Kang.
Ketakutan.
Ketakutan kenapa?
Mereka percaya omongan orang-orang kampung
kalau Eneng itu setan.
Karena Fajrul, kita ngomong harus ikutan cadel.
Aku juga enggak mau ngomong kayak gini. Kau kira enak?
Bisa ngomong.
Sembuh!
Sembuh!
Alhamdulillah.
- Bercanda. - Ayo, buruan pulang.
Eh, tapi si Makmur gimana?
Gimana apaan lagi?
Kasihan dia. Dia enggak tahu istrinya setan.
Udah, yuk. Kita pulang aja.
Siapa itu?
Jangan-jangan Sari.
Jangan dorong-dorong!
Enggak ada?
Enggak ada.
- Enggak ada! - Tutup!
Kalian semua pengkhianat!
Saya pikir kalian teman saya.
Ternyata sama kayak orang kampung yang nuduh istri saya setan.
Sari itu udah mati, Mur.
Makanya orang kampung curiga.
Kalian lebih percaya mereka dibanding saya, teman kalian?
- Ini bukan perkara percaya, Mur. Kita… - Kalian ditipu sama mereka!
Elo yang ditipu, Makmur! Elo udah dibutain sama cinta!
Anak istri lo itu setan!
Akang yang setan!
Makmur!
Kita begini justru karena peduli sama kamu, Makmur!
Makmur, kita ini saudara.
Selamanya saudara, sehidup semati.
Gitu?
Saudara.
Jadi teman aja kalian enggak bisa.
Kalian sengaja datang untuk ngancurin kebahagiaan keluarga saya, kan?
Saya enggak butuh teman kayak kalian.
Pergi kalian dari sini.
- Mur! - Makmur!
Udah, biarin aja.
Dibutain cinta dia.
Jadi, kita biarin aja dia?
Enggak.
Benar. Kita ini saudara.
Aku punya rencana lain.
Apa, Bang, rencananya?
Belum ketemu sih.
Kamu aja, Jak. Rencananya apa?
Ya udah, gini aja.
Ketemu dia?
Mereka semua kelewatan kalau masih nyangka Eneng setan.
Padahal kamu baik ke mereka.
Udah dibuatin makanan, dikasih tempat nginap.
Enggak nyangka mereka semua berubah.
Mereka pergi pun
orang-orang kampung akan tetap ngomongin kita, Kang.
Enggak usah dipikirin, Neng.
Masih ada Akang yang selalu percaya sama Eneng.
Masa bodoh orang kampung mau ngomong apa.
Yang penting kita.
Kalau perlu, sekarang kita ke pasar malam.
Kita kasih lihat ke orang-orang kampung, kalau enggak ada yang berubah.
Makmur dan Sari adalah pasangan suami istri yang masih sama seperti dulu.
Gimana?
Cipluk gimana?
Udah, aman. Nanti kita pulang sebelum dia bangun.
- Ayo. Ganti baju dulu, Neng. - Ayo.
Lihat, Neng!
- Aduh, ini mah seru semua, Neng! - Tunggu!
Kita naik yang ini dulu pertama, Neng!
Balonku…
Udah, enggak apa-apa. Nanti kita beliin lagi yang baru.
Udah, enggak usah sedih, ya?
Ini balonnya.
Makasih.
Kamu siaga sekali, Sari.
Aduh! Dasar anak bandel. Dibilangin jangan lari-larian!
Nanti kamu diculik! Diculik sama setan. Ayo!
Si Ibu. Mana ada setan di pasar malam?
Neng.
Topengnya masih mau dipake terus?
Emang kenapa?
Enggak apa-apa.
Tetep cantik.
Yuk.
Ya! Sekali lagi, Kang!
Yah! Enggak apa-apa, Kang!
Aduh, ini mah susah, Neng.
Enggak apa-apa, Kang.
Mas! Berhenti dulu!
Mau berhenti?
Aduh!
Akang mah.
Eh? Kang.
Lihat, Neng. Jatuh semua sama Akang.
Enggak apa-apa, Kang.
Kembang api!
Bagus banget, Neng!
Wah, Neng!
Akang berhasil, Neng!
Dapat boneka lucu banget. Makasih, Kang.
- Untuk Cipluk! - Iya!
Kan, rame ngantrinya.
Kalau gini mah, kita bisa enggak kebagian.
Naik yang lain dulu aja. Biar enggak kemaleman.
Kembang api, Kang!
Di mana kembang apinya, Neng?
Enggak ada.
Ini mah kita dibohongin!
Kita dibohongin! Kita dibohong…
Neng, udah sepi.
Ayo, Neng.
Ayo!
- Jadi ingat kayak dulu, ya, Neng. - Iya.
Neng.
Neng tahu, kan, Akang cinta sama Eneng?
Iya, Kang.
Eneng masih cinta enggak, sama Akang?
Akang ngapain nanya?
Akang kan tahu gimana perasaan Eneng ke Akang.
Ya, perasaannya gimana, Neng?
Eneng cinta sama Akang.
Sebesar apa cintanya?
Banget, banget, Kang.
Akang juga cinta sama Eneng.
Lebih dari itu, Neng.
Banget, banget, banget.
Kang Mak.
Kita kan…
pernah janji
untuk enggak ada rahasia di antara kita.
Iya, betul.
Sebenarnya…
ada yang Eneng mau omongin ke Akang.
Ngomongin apa? Ya ngomong atuh, Neng.
Tapi Akang janji?
Janji apa?
Janji…
kalau Eneng mati duluan,
Akang harus terus ngelanjutin hidup Akang.
Akang boleh jatuh cinta sama perempuan lain.
Akang boleh nikah sama perempuan lain.
Enggak.
Akang enggak mau janji.
Kenapa sih, Kang?
Eneng ngomong apa sih?
Eneng kan tahu Akang enggak bisa hidup tanpa Eneng.
Lagian kita udah pernah janji kita akan sehidup semati.
Ada Makmur, pasti ada Sari.
Ada Sari, pasti ada Makmur.
Eneng enggak boleh mati duluan.
Tapi, Kang!
Kembang api.
Di mana kembang apinya?
Kembang apinya di mata Eneng.
Udah, ya.
Berhenti ngomongin mati.
Kenyataannya apa? Kita masih hidup sekarang.
Masih bisa naik kincir angin sama-sama.
Lebih baik sekarang kita nikmatin saat ini.
Biar kita punya kenangan indah.
Yang enggak akan kita lupain selamanya, Neng.
Akhirnya.
Datang juga ke sini, akhirnya!
Mbah Yu Supi hebat juga, ya.
Keturunan raja-raja.
Ini… Kang Mas Pusi.
Siapa, ya?
Saudara kembar saya.
Dukun juga, dia.
Kalian ke sini mau minta, kan? Ya?
Minta bantuan sama saya?
Iya.
Ngusir setan, kan?
Iya.
Apa sih?
Dalam bungkusan itu, ada ketan hitam.
Ambil.
- Ka. - Jak.
Lo aja, Ka.
Ketan hitam.
Permisi, Mbah Yu.
Bukan yang itu! Itu ketuban kadal!
Ketuban kadal?
Ya, itu.
Nanti kalau ketemu setannya di jalan,
lempar!
Nanti mereka kesakitan.
Kalau begitu, terima kasih, Mbah Yu.
Hei!
Tunggu dulu.
Tidak ada yang gratis di dunia ini. Tidak ada.
Iya, kan? Betul tidak?
Kita enggak punya duit, Mbah Yu.
Tidak semua harus dibayar dengan uang.
Jadi…
Pakai apa, Mbah Yu?
Pakai cium.
Sama kamu.
Waduh.
Sama kamu.
Iya, kamu. Sama kamu.
Enak, Bang?
Aduh.
Udah. Kalian udah boleh pergi sekarang.
Iya.
Permisi, Mbah Yu.
Ayo.
Akang yakin mau masuk?
Akang kan takut sama setan.
Itu mah dulu, sebelum Akang berangkat perang.
Sekarang mah beda.
Masa tentara takut sama setan?
Enggak mungkin.
- Ayo, Neng. - Ayo.
Hantu!
Tenang, Neng!
Jangan panik!
Jangan panik, Neng.
Ngagetin aja!
Gelo ini panitianya! Enggak gini juga kali mainnya!
Kasihan istri saya sampai jantungan!
Gelo!
Aduh.
Eneng aman?
Aman.
Akang tahu ini pocong, pasti kalau kita deketin,
dia akan ngagetin kita!
Bantal ini mah!
Kalau gini mah Akang berani!
Ampun, Cong!
Kenapa lari?
Sampai akrobat gitu, nabrak…
segala.
Pasti takut karena teriakan Akang tadi.
Jangan takut, Neng.
Kabur ke mana?
Takut sama Akang.
- Jangan nangis! - Takut.
Ganggu aja.
Itu apa, Neng?
Dia takut, goblog.
Ini ngapain bikin bak di rumah setan?
Nakut-nakutin aja. Enggak ada apa-apanya ini mah.
Kenapa yang kecil disisain sih, Neng?
Aduh.
Ayo, bisa! Ayo, naik!
Aduh!
Ayo, bisa!
Aman.
- Neng aman? - Aman.
Ini yang terakhir.
Kawasan hutan pasti.
Kalau ini kita enggak usah takut.
Namanya juga kita hidup di hutan.
Paling juga ular.
Akang cek dulu biar Eneng enggak takut.
Ayo!
Kang?
Kang Mak?
Kang?
Kang Mak?
Kang!
Jangan bunuh saya!
Pingsanin aja, biar gampang bawanya.
Kalian lagi.
Ngapain sih, kalian ikutin saya ke sini?
Aduh!
Ini lagi, mau ngapain sih?
Aduh!
Udah!
Pokoknya jangan gangguin saya sama Sari!
Udah, pulang aja ke kampung kalian!
Ganggu aja kalian semua.
- Buruan! - Cepat!
Bang, pintunya dikunci.
Hah? Masa sih?
Yang bener, lo? Coba!
Ya elah! Gimana ini, Bang?
Kita terpaksa menggunakan strategi 21.
Lepaskan kulit serangga.
Apa enggak bahaya, Bang? Ini kan rumah setan.
Enggak ada jalan lain.
Mama…
Siapa kamu?
Saya…
Saya…
Suprawati.
Hadiningrum.
Pokoknya saya enggak mau lagi pakai strategi lepaskan kulit serangga.
Halah!
Tentara gitu aja takut!
Suaranya biasa aja.
Tentara gitu aja takut!
Hei! Fajrul mana?
Oh, iya.
Di mana dia? Udah pergi, kan, Bang?
Maaf, Lah.
Sekarang, kita harus ambil Makmur.
- Ke sana, Bang? - Ke sana!
Ayo!
Maaf.
Ampun, Sari.
Ampun, Sari.
Ampun.
Sari, Sari!
Gue Wewe Gombel!
Kenapa sih?
Udah seminggu gue di sini,
enggak ada satu pun orang yang takut sama gue.
Minta tolong saya, Mas.
Takut gitu, kek. Kaget, kek.
Takut…
- Takut. - Seram.
Pura-pura, ya, Mas?
Takut dong, Mas. Tolong!
Berlebihan, Solah.
Ya, biar selesai aja dia.
Iya, tapi berlebihan.
Saya pulang aja.
Dia lebih seram.
Hah? "Dia"?
Kembalikan suami saya atau kalian akan menyesal!
Ketan hitam! Ketan hitam!
- Di tas! - Ketan hitam!
Ketan hitam!
Udah aman!
Kalian bawa saya ke mana ini?
Sari?
Sari mana?
Sari mana?
Sari mana?
Neng!
Sari di mana, Kang?
Tenang, Mur. Kita harus bawa lo pergi.
Kalian misahin saya sama Sari?
Sari itu setan.
Aku kemarin…
Sari, Sari.
Neng?
- Sari! Tolong… - Hei!
Ya elah. Pada berisik banget. Gue pengen kencing nih!
Lo hutan segede gini, kencing di sini!
Lo hutan segede gini, malah ngobrol di sini.
Lah? Ngatur-ngatur gue, lo? Pergi, lo!
- Sini, lo! - Elo yang sini!
- Sini! - Lo sini!
Udah!
Saya mau pulang pokoknya!
- Heh! - Mur!
Mur!
Kita itu mau nolong kamu, Makmur!
Iya, Mur. Lo itu tinggal sama setan!
Sari itu bukan setan, Kang!
Ngeyel banget, ya, ini orang!
Makmur.
Aku nemu tengkorak di semak-semak.
Tahu dari mana itu tengkoraknya Sari?
Tengkoraknya pakai cincin kawin, Makmur!
Tapi ada tengkorak yang dikubur pakai jas.
Ada yang pakai baju pengantin, baju tradisional.
Udah lah, Kang.
Saya ini emang enggak pintar,
tapi jangan dibego-begoin terus.
Saya itu cinta sama Sari.
Jadi, apa pun yang terjadi,
saya enggak akan ninggalin Sari.
Kalau terus seperti ini, lebih baik kalian pergi dari hidup saya.
Katanya kalian saudara.
Mana ada saudara yang mau pisahin suami sama istrinya?
Kalian mah jahat.
Makmur!
Makmur!
Makmur!
Makmur tabiatnya tidak pernah berubah.
Masih saja keras kepala.
Kita harus cari cara.
Jaka, kau adalah orang yang paling dekat dengan dia.
Selama di barak, dia paling sering tidur bersamamu.
Solah.
Kau adalah orang yang kampungnya paling dekat dengan Makmur.
Dan kau, Supra.
Kau adalah orang yang paling lama memimpin grup ini.
Aku enggak mau tahu bagaimana caranya,
kita harus menyelamatkan Makmur.
Mengerti kau?
Bang.
Aku dari sehat, disengat tawon, sampai sehat lagi,
Makmur enggak bisa dibilangin, Bang.
Gimana ini, Bang?
Dengar, ya! Ini bukan saatnya lagi kita main-main.
Sedalam apa pun luka yang kita derita,
tidak ada yang bisa memisahkan kita semua sebagai saudara.
Ingat siapa kita!
Tentara sejati!
Tolong!
Makmur!
Makmur!
Seharusnya kan nyautnya,
"Siap, dong!"
Makmur, kenapa?
Perut saya sakit, Kang.
Pengen berak kali itu.
Makmur kenapa?
Luka tembaknya belum sembuh, Bang.
Kasih Makmur.
Mur.
- Emang bisa, Bang? - Bisa.
Obat gue itu dari kecil.
- Abang kecil-kecil udah kena tembak? - Kagak. Korengan, kudis.
Begitu dioles, lima menit langsung sembuh.
Lah.
Kalau menurut Makmur Sari itu masih hidup,
berarti tengkorak yang ditemukan Fajrul tengkorak siapa?
Kata Fajrul, tengkoraknya itu pakai cincin kawin yang sama
kayak yang dipakai Sari.
Tapi aneh juga, ya.
Setahu gue, kalau udah mati,
enggak akan bawa cincin, kalung, apalagi perhiasan.
Iya juga, ya.
Mana ada kuntilanak pakai anting?
Kalau tengkorak itu pakai cincin kawin,
seharusnya si Makmur pakai cincin yang sama kayak yang dipakai Sari.
Sekarang coba lo cek.
Coba lihat tangan kanannya, ya. Sebentar aja.
Enggak ada cincinnya.
Berarti…
Apa sih? Ngagetin aja!
Kalian ngapain sih?
Sari bukan setan.
Setannya itu Makmur.
Jangan sembarangan nuduh!
Makmur itu udah mati.
Tengkorak yang lo temuin itu punya Makmur.
Betul.
Kalau enggak percaya… Jak!
Lempar pakai ketan hitam.
Iya juga, ya.
Setan!
Enggak nyangka, si Makmur itu ternyata setan.
Berarti selama ini kita barengan sama setan.
Mana kita angkat jadi saudara lagi.
Berarti, selama perang, Makmur jadi setan, ya?
Soalnya mayat itu udah jadi tengkorak.
Ya, bisa jadi.
Kasian si Sari.
Selama ini… dia dituduh setan.
Sari.
Sari.
Yes!
Berarti Sari itu perempuan benar.
Ya, kita harus bawa dia pergi dari sini.
Dan gue akan ngelindungi dia.
Sampai ajal menjemput.
Apaan sih?
Lo serius, Sol?
Dalam kondisi kayak gini pun, lo masih mikirin gantiin posisi Makmur?
Ini soal kemanusiaan.
Kemanusiaan?
Sari itu wanita cantik.
Kasihan kalau dia ditinggal sendiri di sini.
Harus ada lelaki yang berani ambil tanggung jawab
untuk ngelindungin dia.
Dan itu adalah…
Solah Vicenzio.
Sari.
Abang datang, Sari.
Sari!
Tunggu dulu.
Kau yakin Sari bukan setan?
Soalnya yang kita makan kemarin itu cacing, serangga gitu.
Yakin.
Gue yakin Sari bukan setan.
Main lo aja kurang jauh.
Di Thailand, makanan kayak gitu biasa aja.
Cacing tuh mengandung protein.
Lagian, bapak si Sari orang Thailand.
Emang iya?
Enggak tahu sih. Iya kali.
Iya sih.
Ya udah.
Sari, kedatangan saya ke sini bersama teman-teman
ingin meminta maaf, karena…
kami telah menuduh kamu setan.
Ternyata kamu bukan setan. Kamu hanyalah
wanita menawan.
Sekarang kita harus segera pergi, Sari.
Ke mana?
Pergi ke tempat yang baru.
Menempuh hidup yang baru
bersama pasangan yang baru.
Kang Makmur di mana?
Makmur sudah menunggu di hulu.
Dan, kita berdua, ke penghulu.
Eh, maksudnya…
Kita ke hulu sungai karena Makmur udah di sana.
- Beneran? - Benar.
Sekarang kamu siap-siap dan bawa anak kita pergi.
Anak kamu, maksudnya.
Cipluk.
Kang Makmur di mana?
Ada di depan. Iya, kan, Teman-Teman?
- Iya. - Iya, di depan.
Perahunya masuk air ini!
- Waduh. - Kayaknya perahunya keberatan.
Tas! Buang tas!
Satu lagi tuh.
- Gimana? - Masih!
Ini! Yang kita pegang, buang!
Udah enggak ada lagi!
Aman.
"Aman" apaan!
Kita jalannya gimana, dayung dibuang?
Jaka!
Aduh.
Tolong, Jrul.
Enggak. Aku enggak bisa berenang.
Itu Kang Makmur!
Mau dibawa ke mana anak dan istri saya?
Kita harus bawa mereka pergi! Lo enggak bisa hidup sama mereka!
Iya, lo tuh udah mati, Makmur!
Kau setannya!
Gimana Kang Makmur setannya?
Makmur udah mati di medan perang.
Tapi dia enggak sadar. Kita semua juga enggak ada yang sadar.
Padahal mayatnya udah dikirim pulang.
Diam-diam, dikubur di belakang rumah kamu, Sari.
Tapi kamu tenang aja, Sari.
Ada aku yang melindungi kamu.
Kembalikan keluarga saya!
Enggak usah ke sini, Mur!
Mur, jangan!
Dayung pakai tangan!
Kang Makmur!
- Kang! - Ampun!
- Kang Makmur! - Mur!
Di mana?
Tolong!
- Kaki saya keram. Tolong. - Ayo.
Aduh! Tolong.
Lagian kenapa kalian lari dari saya sih tadi?
Tadi kita semua mikir lo tuh setan.
Enggak ada yang mikir begitu.
Cuma si Jaka doang, Mur, yang mikir begitu.
Enggak! Tadi kan waktu saya lempar ketan, dia teriak.
Ketannya masuk ke dalem luka saya, Kang. Sakit banget itu.
Terus cincin kawin lo mana, Mur?
- Ini cincin saya. - Ada.
Emang saya jadiin kalung sebelum perang.
Bisa berhenti enggak ngomongin setan? Fokus ke perahu.
Ini air masuk semua!
Ya udah, ayo. Dayung pakai tangan.
Jangan goyang-goyang.
Tunggu.
Apaan lagi sih?
Tadi waktu kita pikir Sari yang setan, ternyata Makmur yang setan.
Tapi sekarang Makmur bukan setan. Berarti yang setan siapa?
Yang ada kita yang jadi setan kalau ini tenggelam.
Mana ditambah si makmur.
Perahunya kan makin berat.
Udah, yang penting sekarang ke pinggir dulu.
Mau ke pinggir pakai apa? Tadi kan kayuh pakai tangan enggak jalan.
Pakai ini.
Makasih, Sari.
Kenapa lagi sih, Jak?
Nunggu apa lagi, Jaka?
Bang Supra! Minggir, Bang Supra!
Minggir ke mana?
Ke kanan, ke kiri, terserah.
Ya, minggir. Nah.
- Makmur! - Mau ngapain?
Ya udah, yang ini nurut sama gue dulu, ya.
Fajrul, lo minggir juga!
Saya enakan ke kanan.
Iya, ke sana juga boleh.
Fajrul juga minggir.
Aduh, Bang Supra kenapa bangun lagi sih?
Pinggang encok, Jaka!
Iya, tahan dulu sebentar!
Nah. Solah minggir!
Gue ke mana?
Terserah!
- Dikasih tahu minggir, minggir aja. - Minggir aja!
Susah kali dikasih tahu.
Bang Supra kiri, Makmur kanan.
Nah, aku kiri, ya.
- Iya. - Ya, aku kiri.
Enggak, bentar dulu. Ini mau ngapain sih?
Kau nurut aja. Susah kali!
Tentara sejati!
Siap, dong!
Selamat pagi, siang, malam
Kami tentara sejati
Pasukan bumi pertiwi
Berjuang demi negeri Ini aksi kami
Hu-ha! Hu-ha!
Ini jiwa kami
Hu-ha! Hu-ha!
Selamanya saudara, Sehidup semati
Sari setan!
Aduh, Sari setan!
Gue udah lihat! Gue udah…
Emang setan enggak bisa pakai cincin?
Setan!
Sari setan!
Sari?
Kang Mak.
Lompat!
Lompat!
Ayo, Mur!
Mur!
Sari!
Bentar dulu.
Kok kita cuma berempat?
Fajrul mana?
Sari!
Fajrul, loncat!
Jrul, buruan!
Loncat apa? Aku enggak bisa berenang!
Sari.
Kita ngobrol-ngobrol aja, ya?
Asalamualaikum.
Enggak dijawab gue?
Kamu pucat. Kurang darah, ya?
Banyak makan buah, ya.
Biar darahnya nambah.
Enggak mau, ya?
Kayaknya enggak mau diajak ngobrol, ya?
Tolong.
Kamu enggak minat ngomong, ya?
Cepat banget.
Katanya enggak bisa berenang.
Lo berenang kayak atlet pelatnas.
Neng!
Kita harus pergi, Mur.
Enggak bisa, Kang.
Saya udah janji sama Sari
enggak akan ninggalin dia sampai kapan pun.
Ngapain Akang mukul saya?
Bukan aku, kan? Tuh.
Oh, iya. Bukan.
Tadi Akang yang mukul saya?
Neng…
Akang enggak akan ninggalin Eneng.
Hobi banget ini orang nyakitin diri sendiri.
Sari ngamuk!
Ayo, buruan!
Jadi, kita ke mana ini?
Mau ke rumahnya Mbah Yu Supi.
Ya udah, ayo.
Ntar dulu!
Ntar dulu. Itu Mbah Yu Supi?
Dia udah mati.
Pasti dibunuh si Sari.
- Ayo tolongin. - Bentar.
Ini entar Makmur keburu bangun.
Lagian, nanti kalau kita disalahin gimana?
Terus kita ke mana?
Aku tahu kita mesti ke mana.
- Ikut aku. - Ayo.
Yang jelas…
saya tidak akan tinggal diam
untuk membalas kematian saudara kembar saya.
Saya akan membantu kalian
untuk melawan setan itu.
Caranya gimana, Kang Mas?
Saya akan mencoba memanggil arwah kembaran saya
untuk masuk ke dalam tubuh saya ini.
Nasinya, nasi rames…
Ada empat cara untuk melawan setan ini.
Yang pertama,
kita siapkan ketan hitam.
Yang kedua,
kembang setaman.
Tembang kenangan?
Kembang setaman.
Dan yang ketiga,
pedang kayu ini sudah saya berikan mantra-mantra
untuk melawan setan itu ke akhirat selamanya.
Jangan sampai pedang ini jatuh ke tangan
orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Ya, Kang Mas.
Bisa berbahaya.
Disalahgunakan.
Sini!
Dan yang keempat.
Tali ini,
sudah saya lumuri darah ayam cemani.
Ini berfungsi sebagai penjaga dan pembatas antara kalian.
Makanya tali ini saya namakan
tali silaturahmi.
Bentar dulu.
Kita bertiga udah dapat tugas nih.
Itu Bang Supra ngapain?
Nanya doang.
Yang botak jangan sampai lolos nih.
Bang Supra.
Dampingin aku aja.
Sikat, Bang.
Jangan ada satu pun yang keluar dari tali pembatas ini.
Setan itu tidak akan bisa mendekati kita kalau kita ada di dalam sini.
Emang paling jago, Kang Mas Pusi.
Yah.
Dia pergi.
Lo ngomong apa tadi?
Ngomong jago doang.
Jangan ngomong gitu!
Supi ngambek tuh!
Kan kita enggak tahu, Kang Mas.
Iya.
Mending dicoba lagi aja sebelum si Sari datang.
Iya. Soalnya kalau saya sendirian, enggak kuat.
Apalagi kita?
Paket!
Paket?
Taruh aja di depan!
Kita coba lagi.
Nasinya, nasi padang…
Mesen apa lagi sih, Kang Mas?
Enggak ada.
Jangan mundur!
Jangan mundur sedikit pun!
- Maju! - Jangan mundur.
- Mundur. - Saya lagi ambil ancang-ancang.
Jangan ditahan.
Jangan! Jangan mundur.
Mundur.
Jangan takut! Berdiri!
Siapkan senjata kalian.
Bubur ayam!
Bubur ayam!
- Enggak ada. - Itu!
- Ketan hitam! - Iya, itu.
Ini.
Kasih dong!
Masa saya?
Kena enggak?
Kita berhasil!
- Wah! - Jago juga, ya.
- Neng? - Kang Makmur!
Sari?
- Kang Makmur. - Sari!
- Makmur! - Sari!
Sari!
Kembang setaman! Lepas setaman!
- Elo, kembang setaman! - Jangan!
Sari! Berhenti! Jangan sakitin Sari!
Mak! Lo sadar!
Dia itu setan! Dia itu jahat!
Dia itu iblis! Dia itu laknat!
Dia seharusnya di neraka! Dia sudah tidak baik!
- Lo sadar! - Udah. Nyelanya banyak banget lo.
Tapi dia udah ngebunuh Mbah Yu Supi!
Dasar lo iblis! Setan!
Penghuni neraka! Penjahat kamu!
- Kawan firaun. - Kawan firaun!
- Pucat! - Pucat kamu ini!
- Siksa neraka… - Ngomong aja sendiri!
Enggak berani.
Saya tidak pernah membunuh siapa pun.
Bohong! Kami tidak percaya.
Sudah saya bilang, saya tidak membunuh siapa pun!
Sari!
Lepasin saya!
Pedang!
Ya kamu dong. Saya cuma doa-doa doang.
Pedang!
Jangan! Sari!
Tebas, buruan!
Makmur!
Makmur, tidak!
Tahan!
- Sari! - Kita mesti ngapain, Kang Mas?
Tinggal satu cara terakhir.
Dan cara ini adalah cara terlarang.
Jangan! Sari!
- Mak! Makmur! - Pergi, Sari!
Jangan ngorbanin diri sendiri!
- Jangan sakitin Sari! - Kang Mas Pusi!
Udah!
- Tenang. - Biar dia selesaikan dengan cara terbaik.
Sari, dengarkan saya baik-baik.
Kamu tahu enggak,
profesi yang paling berisiko tinggi di dunia ini tuh apa?
Dukun!
Kenapa?
Musuhnya setan.
Kayak saya nih.
Saya itu enggak mau musuhan sama setan,
jahat sama setan.
- Ngapain ribut, teriak, mengancam? - Apaan sih?
Saya mah pengennya baik-baik aja.
Ngobrol dari hati ke hati.
Damai, gitu.
Jadi, gimana nih, Sar?
Kira-kira ada kemungkinan, enggak,
kita ngobrol-ngobrol sambil ngopi-ngopi cantik, gitu?
Enggak, ya? Ya udah enggak apa-apa.
Mungkin Sari lagi sibuk.
Permisi, Sar.
Teman-teman.
Gue cabut dulu, ya.
Terus ini gimana, Kang Mas?
Ini kan masalah internal rumah tangga, beresin aja dulu.
Saya kan orang luar, enggak pantas saya ikut campur.
Ya?
Makmur!
Pergi, Sari!
Hentikan!
Paket saya ketinggalan di depan.
Permisi, Sar. Ngambil paket.
Makmur!
Sari! Selamatkan diri, Sari!
Kita jadi terikat begini.
Sekarang saatnya kalian yang merasa tersiksa.
Sari! Jangan, Sari.
Seharusnya kalian tidak mengganggu kehidupan saya dengan Kang Makmur.
Sar! Sadar!
Lo tuh beda alam!
Saya enggak peduli!
Dia enggak peduli.
Saya cuma mau hidup bersama lagi dengan orang yang saya cintai.
Itu bukan cinta! Itu toksik!
Sari.
Ingat kehidupan Makmur, Sari.
Kalau Makmur sama kamu, dijauhin sama warga kampung!
Diam!
Kalian membuat saya makin marah!
Maaf, ya, Sari.
Maafin, jangan kepancing.
Omongan teman saya memang suka begitu.
Terlambat.
Sekarang kalian harus merasakan sakit yang saya alami tadi.
Kalian akan saya habisi satu per satu
sampai tidak ada lagi yang bisa mengganggu kehidupan kami.
Jangan, Sari.
Neng…
Neng.
Neng, udah.
Udah. Jangan, Neng.
Kasihan teman-teman Akang.
Mereka semua enggak bermaksud jahat sama Eneng. Enggak.
Mereka cuma mau nolongin Akang.
Karena kita udah janji
untuk berjuang bersama-sama sebagai saudara sehidup semati.
Tapi, Kang, selama mereka masih ada,
mereka akan mengganggu kehidupan kita.
Tapi kalau Eneng nyakitin mereka, apalagi sampai membunuh mereka,
berarti benar yang mereka katakan.
Eneng yang jahat.
Neng.
Biar dunia kita sama…
biar enggak ada lagi orang yang ganggu kita berdua…
termasuk mereka…
lebih baik…
Eneng yang bunuh Akang.
Benar, Akang rela?
Rela, Neng.
Makmur!
Jangan, Sari!
Sari!
Akang tahu…
Eneng enggak mungkin nyakitin Akang sedikit pun.
Apalagi ngebunuh Akang.
Akang udah janji sama Neng
kalau kita akan sehidup semati.
Akang selalu pegang janjinya, Neng.
Akang selalu ingat.
Makanya, dari awal Akang bertahan sama Eneng.
Walaupun akan tahu…
Eneng…
Eneng udah enggak ada.
Akang udah tahu dari awal?
Mereka ngomongin tentang Eneng, enggak, Kang?
Maafin Akang, Neng.
Akang terlambat pulang.
Akang terlambat pulang.
Walaupun semua orang kampung ngejauhin Akang,
enggak ada yang mau jadi teman Akang…
Bahkan mereka mungkin mengira Akang orang gila.
Akang tetap bertahan, Neng.
Akang enggak pergi sedikit pun.
Akang enggak ninggalin Eneng.
Dan walaupun setiap hari…
Akang harus makan daun kering…
dengan lauk kelabang dan belatung,
tapi Akang senang.
Akang senang banget.
Karena bisa sama-sama terus sama Eneng.
Eneng nyusahin hidup Akang, ya?
Enggak.
Kapan sih Eneng nyusahin Akang?
Eneng teh segalanya buat Akang.
Kenapa? Pedes banget?
Pedes yang ini! Tapi enak.
Tetep enak.
Kalau Tuhan mengizinkan,
kita harus setia, sama-sama terus.
Sehidup semati, ya, Neng?
Ada Makmur, pasti ada Sari.
Ada Sari, pasti ada Makmur.
Janji?
Janji.
Akang pulang sebelum Cipluk lahir.
Akang pergi, ya, Neng.
Ya, Tuhan.
Izinkan saya melihat anak dan istri saya.
Saya belum mau mati hari ini. Saya belum mau mati.
Izinkan suami saya melihat istri dan anaknya.
Kang Mak.
Karena doa Eneng, Akang selamat di medan perang.
Makanya Akang ada di sini.
Gara-gara Eneng,
Akang udah enggak takut lagi masuk ke rumah setan.
Tapi Eneng setan.
Akang kan takut sama setan, Kang.
Takut sih.
Tapi Akang mah lebih takut kalau enggak bisa hidup sama Eneng.
Kang Makmur cinta sama kamu, Sari.
Selamanya.
Eneng juga, Kang.
Eneng juga.
Bebasin mereka, ya, Neng?
Kasihan.
Aneh enggak, Kang,
lihat tangan Eneng bisa begini?
Aneh sih.
Tapi lama-lama juga Akang biasa.
Malahan jadinya
seksi.
Kang Mak.
Neng Sari.
Kang Mak.
Sari.
Kang Makmur.
Sari.
Fajrul.
Kang Mak!
Jaka.
Supra.
Solah.
Mau sampai kapan panggil-panggilan?
Temennya kuat kok diikat sampai pagi. Kuat.
Biar bentuknya kayak bacang begini, tetep kuat kita.
Enggak apa-apa.
Di situ roman-romanan, deh.
Di sini iket-iketan.
Makasih, ya, Neng.
- Mur. - Mur.
Maaf, Mur.
Digendong siapa itu?
Digendong Om Doyok, ya?
Om Fajrul, ya.
Om Fajrul ganteng.
Tapi ternyata setan enggak seram, ya.
Ngeliat Sari, ngeliat Cipluk gitu.
Mau dong, dikenalin sama teman-temannya.
Siapa tahu ada kali.
Kalau ada sisanya, saya juga mau.
- Mau juga dia. - Beneran semua mau?
- Iya! - Mau beneran.
- Emang ada? - Ada.
Tuh.
Ayang otak…
Ayang otak…
Udah.
Cobain dulu, Bang. Siapa tahu demen.
Sikat, Bang.
Mbah Yu Supi, meninggalnya kenapa?
Tenggelam.
Emang enggak bisa berenang?
Bisa.
Tapi kan lagi mabok.
Oh, mabok.
Pantesan bau sampah mulutnya.
Ayang otak…
Tolong!
Lontong. Eh, tolong!
Pelan-pelan, ya, takut jatuh karena licin.
- Pak San? - Pak Mamat?
Pak San!
Bagaimana kabarmu?
Aku kangen!
Kamu membawa turis dari Thailand lagi?
Mereka datang dari Thailand
untuk melihat museum ini.
Masuklah!
Sekarang?
Oke. Ayo masuk, Semuanya.
- Mari ambil foto! - Halo.
Ibu dan Bapak yang saya sayangi.
Inilah rumah Kang Mak dan Sari yang sangat legendaris!
Ini adalah potret Makmur dan Sari.
Mereka adalah pasangan yang terpisahkan dunia.
Walaupun begitu, dengan perjuangan,
kisah mereka menjadi inspirasi
bagi semua yang sedang jatuh cinta.
Bagi semua yang jatuh cinta!
Semoga cinta kita bisa kokoh dan abadi.
Seperti yang dicontohkan Makmur dan Sari.
Silakan difoto.
Oke. Ayo senyum, Semuanya!
Satu, dua, tiga.
Lucu sekali! Oke.
Mari kita ulang.
Oke.
Satu, dua, tiga.
Oke.
Siap, dong!
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.