All language subtitles for Mr..Vampire.1985.1080p.BluRay.x264.AAC5.1-[YTS.MX](Copy)

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

X-TIMESTAMP-MAP=MPEGTS:135000,LOCAL:00:00:00.000

Makan malam sudah siap, semuanya!

Tamu-tamu kita akan mulai duluan.

Anggap rumah sendiri, Teman-teman.

Tidak boleh padam, atau akan ada masalah.

Bagus, itu akan membuat kalian tetap teratur.

Aku tak mungkin bisa menangkap kalian.

Makan malam sudah siap.

Makan malam sudah siap.

Mari makan malam...

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan.

Delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu...

Semuanya lengkap.

Ini sudah berakhir. Jangan takut, ini aku.

- Kau bodoh. - Lihat dirimu, kau ketakutan.

Sudahlah, ini aku.

Guru, tolong! Guru!

Guru!

- Guru. - Ada apa?

- Di dalam. - Ayo.

Guru, ini aku.

Kau berlebihan.

Kau mematahkan semuanya.

Istirahatlah, biar aku mencoba.

Biarkan aku mencoba.

Mereka bukan manusia.

Gigi palsu? Beraninya kau menggigitku.

Bantu aku.

Berani main-main dengan pelangganku?

- Itu bukan aku. - Cukup, aku akan pergi.

Tolong tinggal dua hari lagi.

Baik, sampai jumpa.

Kita jalan-jalan, Teman-teman.

Kita jalan-jalan, Teman-teman.

Kita jalan-jalan, Teman-teman.

Kenapa kau tak pulang? Ini sudah larut.

Atau bibimu akan mencarimu. Pergi!

Aku akan membantumu, Pak.

- Bagaimana bisnisnya? - Selamat pagi.

Selamat pagi.

Semua berdandan, untuk acara apa?

Guru mengajakku minum teh Inggris.

Cepat sana!

Guru, boleh aku tak ikut menemui Tn. Yam denganmu?

Mengapa?

Apa kau takut padanya?

Tidak. Aku bahkan tak mengenalnya.

Tapi aku belum pernah ikut jamuan teh Inggris.

Aku mungkin melakukan sesuatu yang memalukan.

Bagus, kau sangat perhatian.

Kau tak harus pergi kalau begitu.

Aku juga belum pernah ke jamuan teh Inggris.

Aku mungkin melakukan sesuatu yang salah juga.

Aku akan tetap membawa Man Choi bersamaku.

Aku akan membiarkan dia mencoba sesuatu lebih dahulu.

- Man Choi. - Aku di sini!

Ya, Guru?

Aku mengajakmu ke jamuan teh Inggris karena kau pintar.

Oh, bagus. Ayo pergi.

- Reservasi? - Tidak.

Tuan Yam belum memesan meja?

Tuan Yam? Silakan ikuti aku.

Silakan lewat sini.

Silakan duduk.

- Paman Kau, duduklah. - Tn. Yam.

- Halo Tn. Yam. - Tn. Yam.

Silakan duduk.

Putrimu kembali dari kota. Kenapa kau tak mengajaknya?

Putriku? Dia sedang belajar tata rias di kota.

Dia berkeliling untuk menunjukkan keahlian barunya...

Kalau ayahnya sepertimu, putrimu pasti jelek.

Itu dia putriku datang.

- Ayah. - Paman Kau ada di sini.

Paman Kau.

- Kau sudah besar sekarang. - Duduklah.

Ya, sangat besar.

- Mau pesan apa? - Aku ingin kopi.

Kopi?

Aku akan minum kopi juga.

Aku juga.

Kau mau apa, Guru?

- Aku pesan kopi juga. - Baik.

Aku tak ingin kopi, Guru.

Aku pesan yang sama denganmu, ya?

Tetap pada apa yang kau pesan.

Tentang penguburan kembali ayahku, kau sudah memilih tanggal yang tepat?

Pikirkan dua kali sebelum kau melakukannya.

Sebaiknya kita membiarkannya seperti itu.

Aku telah mempertimbangkannya dengan matang.

Seorang peramal meramalkannya 20 tahun yang lalu.

Ini akan membawa keberuntungan.

Jangan menganggapnya terlalu serius.

Haruskah aku menganggapmu serius?

Tentu saja.

Kau tak berhak untuk berbicara di sini, Nak.

Baiklah, kalau begitu. Akan melakukannya dalam tiga hari.

Apa yang harus kita persiapkan?

Uang.

Berapa banyak?

Tidak masalah.

Tn. Yam, jutawan itu datang, dia di sana.

Aku harus menyapa seorang teman. Permisi.

Sajikan kue tar untuk mereka.

Hitam dan putih, mana yang lebih dulu?

Lihat cara orang lain dulu.

Paman Kau, maafkan aku.

Minumlah kopinya selagi panas. Silakan.

Kau suka yang hitam?

Ya, aku suka warna hitam.

- Aku akan menuangkan krim untukmu. - Baiklah.

Mari.

Aku ingin membeli kosmetik, Ayah.

Pergilah, aku akan menyusul nanti.

Ayo, silakan.

- Ambil satu. - Aku ambil satu.

Silakan.

Jaga sopan santunmu.

Tn. Yam, kau mau berapa banyak gula?

- Tidak, terima kasih. - Kau menyukainya tanpa pemanis.

Terlalu manis, Guru.

Angga saja ini permen.

Aku akan pergi ke toko kelontong.

Seorang gadis dari seberang akan datang.

Perlakukan dia dengan baik, meski dia gadis PSK.

Baiklah, pergi dan belanjalah.

Aku akan menaikkan harga jika ada PSK datang membeli.

Di mana aku bisa membeli kosmetik?

Cantiknya, andai dia adalah istriku.

Sangat disayangkan.

Silakan lihat sendiri, Nona.

Bibiku bilang kau akan datang.

Siapa dia?

Yang baru saja kau ajak bicara.

Aku hanya bertanya di mana bisa membeli kosmetik.

Aku tak kenal dia.

Berhenti berpura-pura.

Rupanya kau tak kenal bibiku.

Coba yang ini, ini lumayan.

- Kapan kau mulai... - Maksudmu belajar ini?

Belajar dan melakukannya secara bersamaan.

Ibuku mulai mengajariku ketika aku berusia 12 tahun.

Ibumu yang mengajarimu?

Ya. Dia sudah lama meninggal, jadi aku pindah ke kota.

Warna yang bagus.

Ya, berapa umurmu?

18 tahun.

Berarti kau sudah melakukannya selama enam tahun.

Pernah berpikir untuk berhenti?

Tidak, jika aku hidup sampai 80 tahun...

...aku masih akan tetap melakukannya.

- Apa kau dipaksa? - Hah?

Ini hobiku. Aku tak dipaksa.

Semua gadis menyukainya.

Pernah berpikir untuk pensiun?

Tidak.

Aku harus mengajarkan semua yang telah aku pelajari...

...untuk gadis-gadis di sini.

Mereka akan sangat senang.

Kau puaskan dirimu saja! Jangan menyesatkan mereka!

Kau terlalu konservatif.

Tidak. Ini adalah masalah moral.

Aku tak mau melayanimu lagi.

Silakan kembali ke Taman Yee Hung.

Ada apa dengan Taman Yee Hung?

Jadi, kau di sini.

Kenapa kau sangat marah?

- Kau pernah ke Taman Yee Hung? - Tidak.

Bagaimana kau mengenalnya?

Dia adalah putri Tn. Yam. Dia baru kembali dari kota.

Ada apa dengan Taman Yee Hung?

Itu kedai teh.

Apa?

- Rumah Bordil... - Restoran.

Apa katamu?

Rumah bordil...

Kau kira...

Nona, aku...

Ting Ting!

Ayah, aku mau pergi.

- Ting Ting! - Tn. Yam.

Ada masalah apa?

Sudahlah...

Berdoalah dengan tulus.

Paman Kau.

Menurut peramal, ini tanah yang langka, tempat yang bagus.

Tanah ini disebut Tanah Naga Terbang.

Panjang 3,2 meter, dan hanya 1,2 meter yang terpakai.

Lebar 1,2 meter, dan hanya 1 meter yang terpakai.

Tak bisa digunakan dengan baik...

...gunakan dengan cara lurus.

Luar biasa.

Guru. Apa itu "cara lurus"?

Istilah dari luar negeri?

Diam.

Upacara sudah selesai.

- Boleh kami mulai? - Ya.

- Mari mulai. - Baiklah.

Apa itu cara lurus, Guru?

Mengubur jasad secara vertikal.

Benar, bukan?

Ya. Peramal itu pernah berkata...

...leluhur yang lurus akan membawa kekayaan.

Benarkah itu?

20 tahun terakhir ini bisnis kami semakin memburuk.

Kami tak tahu alasannya.

Sepertinya peramal itu memiliki niat buruk.

Kenapa?

Apa kau pernah berselisih dengannya sebelumnya?

Tanah ini dulu miliknya.

Menurut ayahku ini tanah yang bagus. Kemudian dia membelinya.

Secara paksa?

Pasti secara paksa.

Jika tidak, mereka tak akan menyakitimu.

Dan kau disuruh menguburkan abunya di Tanah Naga Terbang.

Apa yang harus kami lakukan?

Kau seharusnya menguburkannya dalam salju.

Kenapa ini disebut Tanah Naga Terbang jika petinya bahkan tak menyentuh air?

Tapi dia tak sejahat itu.

Setidaknya dia menyuruhmu melakukan pemakaman ulang.

Dia hanya menghancurkan separuh hidupmu, dan menghancurkan satu generasi.

Sudah terlihat!

Lepas talinya, tarik paku-pakunya.

Semuanya.

Tn. Yam melihat matahari lagi.

Semua yang berusia 36, 22...

...35 dan 48 tahun.

Dan mereka yang bershio kerbau dan ayam tak boleh melihatnya.

Rapikan pakaian kalian setelahnya. Buka!

- Ayah. - Kakek.

Maaf atas semua ini. Ini salahku.

Apa kita masih bisa gunakan tanah ini?

Ini Tanah Naga Terbang, satu demi satu.

Tidak pada lokasi yang sama.

Tanah ini tak berguna sekarang.

Lalu bagaimana?

Kusarankan kita lakukan kremasi di sini.

Kremasi?

Tapi ayahku takut api.

Aku tak setuju.

Tapi kemungkinan bisa timbul masalah lain.

Apa saja selain kremasi.

Bisakah kau pikirkan cara lain?

Baik, bawa dia ke rumah mayat kami.

Akan kucarikan tanah untuk dia besok. Biarkan dia beristirahat untuk selamanya.

Tutup petinya dan cepat pindahkan!

Pulanglah, Tn. Yam.

Kalian berdua buat susunan Dupa Kembang dan laporkan padaku.

Baik.

- Letakkan dupa di setiap makam. - Baik.

Kasihan sekali dia mati begitu muda. Ini untukmu.

Terima kasih.

Terima kasih.

Kenapa ini bisa terjadi?

Cepat beri tahu Guru.

Memiliki dua dupa pendek...

...dan satu dupa panjang bukanlah pertanda baik.

Itu terjadi begitu saja.

Seseorang mati di rumah. Ini sebuah pertanda.

Di rumah Tn. Yam?

Atau mungkin di sini?

Kalau begitu bukan urusan kita.

Tapi apa putri Tn. Yam akan baik-baik saja?

Seluruh keluarga Yam akan dalam bahaya.

Ting Ting.

Tapi kau bilang ini bukan urusan kita.

Tapi setelah menyelamatkan orang yang kau cintai...

...tak akan sulit untuk mengajaknya menikah.

- Kita bersaing secara adil. - Baiklah.

Guru, tolong cari jalan keluarnya.

Ya, Guru.

Aku tahu yang harus kulakukan.

Jika tidak, peti ini tak akan kubawa kemari.

Ada yang salah dengan peti ini.

Bukan petinya, tapi mayatnya.

Ya, aku juga merasa ada yang tidak beres.

Ya, peti ini masih bagus setelah 20 tahun.

Wah! Tubuhnya semakin berisi.

- Cepat tutup! - Baik.

Siapkan kertas, kuas, tinta, pisau, dan pedang.

Apa?

Kertas kuning, kuas merah, tinta hitam pedang kayu, dan pemotong.

Guru, untuk apa ayamnya?

Ya, ayam...

Pegang ini.

- Apa itu? - Wadah tinta.

Guru, harus kami letakkan di mana?

Di atas peti.

Baik.

Di seluruh petinya.

Ada orang baik dan orang jahat. Ada orang hidup dan orang mati.

Bukan hanya itu saja. Tapi ada pria dan wanita.

Diam kau! Selesaikan saja!

Mayat yang satu ini akan berubah menjadi mayat hidup.

Kenapa bisa sampai seperti ini?

Kenapa manusia menjadi jahat?

Karena dia tak mendapat udara yang cukup.

Mayat akan berjalan untuk mencari udara segar.

Apa artinya itu?

Seorang yang sudah mati dapat merasa tercekik.

Ketika dia mati, ada sebuah benjolan...

...yang tumbuh di tenggorokannya.

Itu kematian tanpa udara.

Seperti kataku, manusia harus bernapas.

Tapi mayat tak harus bernapas.

Atau dia akan hidup.

Bisa kau tutup mulutmu?

Beri tahu aku setelah selesai. Jangan ada yang terlewat.

Baiklah, selesai.

- Lihat itu! - Apa?

- Di mana? - Di sini!

Sial kau!

- Ayo ke sini! - Jangan lari!

Berhenti.

Guru.

Kau menipuku?

Pegang ini.

Maaf, Guru!

Kau meninggalkan aku?

Itu salahmu.

Siapa suruh kau menumpahkan tinta padaku.

Jangan pergi, ini sudah larut. Kau bisa ketemu dengan hantu.

Yang benar saja.

Lebih baik ketemu hantu daripada bertemu Guru.

Tatapannya yang tajam, tatapannya yang tajam

Bersinar terang seperti bintang

Cukup tajam untuk membuat orang ketakutan

Tatapannya yang tajam, tatapannya yang tajam

Bersinar terang seperti bintang

Cukup tajam untuk membuat orang ketakutan

Angin sejuk berhembus di jalan yang disinari bulan

Hantu wanita itu sedang mencari pasangan

Siapa yang ingin menjadi kekasih hantu ini?

Untuk bersumpah di bawah bulan sementara hati ketakutan

Tatapannya yang tajam, tatapannya yang tajam

Bersinar terang seperti bintang

Cukup tajam untuk membuat orang ketakutan

Tatapannya yang tajam, tatapannya yang tajam

Bersinar terang seperti bintang

Cukup tajam untuk membuat orang ketakutan

Bulan akan sembunyi di balik awan

Dasar pemalas.

Tak cocok untuk menjadi penjaga rumah mayat.

Mari minum teh.

Wai, apa ada kesulitan di tempatmu?

Tidak juga. Bawahanku mampu mengatasinya.

Ting Ting sudah besar sekarang.

Tentu saja.

Kau harus mencarikan dia suami.

Ya. Betul.

Jadi, aku berpikir...

Mari minum teh lagi.

Tuan, Paman Kau ada di sini.

- Suruh dia masuk. - Tn. Yam.

Bagaimana peti mati ayahku?

Sudah kami tempatkan dengan nyaman.

- Mari bicara di ruang kerjaku. - Baiklah.

Jaga sikapmu di sini.

Paman, menurutku...

Nanti saja.

Nn. Yam, maaf soal waktu itu.

Aku salah paham.

Kenapa kalian ke sini? Jangan dekati sepupuku!

Jangan coba untuk macam-macam dengannya!

- Sepupu. - Sepupu.

Sepupuku juga tak suka dengan kalian.

Benar, 'kan?

Ini salah kami.

Kami tak seharusnya berkeliaran. Mari ke taman.

Uban, tanda-tanda penuaan.

Ini milikmu?

Tentu saja bukan. Mana mungkin aku sudah beruban?

Sepupuku, kau harus mengerti apa yang kukatakan pada pamanmu.

Kita tumbuh besar bersama.

Meskipun kau bermain di rumahmu, dan aku bermain di rumahku.

Tapi kita tumbuh bersama.

Aku bahkan belum pernah menyentuh tanganmu.

Aku tak seperti kedua orang itu.

- Telan ini. - Aku?

Tentu saja, kau yang menginginkannya.

Telanlah ini dan kalian akan menjadi satu.

Lalu kau bisa lakukan apa pun yang kau inginkan kepadanya.

Sudah? Coba tampar wajahmu.

Bagaimana jika dia menampar wajahnya sendiri?

Untuk apa dia menampar wajahnya sendiri?

Tampar lebih keras.

Teruskan.

Sedang apa kau?

- Teruskan. - Sakit sekali.

Akan kubantu.

Lepaskan! Lepaskan!

Sepupu!

Aku tak sopan. Aku harus dihukum.

Ternyata ada orang yang menampar wajahnya sendiri.

Aku tak mau bermain lagi.

Kenapa berhenti? Kita akan membuatnya jera.

Jangan sampai kita kalah.

Ayo sekali lagi.

Bangun.

- Lepas pakaianmu. - Untuk apa?

Kau takut? Dia juga akan melepas pakaiannya.

- Dia akan lakukan di depan Ting Ting. - Baiklah.

Sepupu?

Jangan...

Jangan...

Ayah!

Ayah!

Kau membuat kenakalan?

Pergi dari sini!

Paman, aku mau teh.

Pembunuhan di kediaman keluarga Yam!

Ayo lihat...

Tunggu! Dilarang masuk!

Sepupu, pamanmu tewas.

Tapi masih ada aku.

Tahan! Jangan bergerak!

Cepat kembali ke rumah mayat.

Periksa apa mayat ayah Tn. Yam masih di sana.

- Baik. - Cepat.

Wai. Tn. Yam dibunuh dengan senjata apa?

Tentu dengan pistol.

Setiap tembakannya mengenai lehernya?

Pembunuhnya sangat ahli.

Dia ahli melempar anak panah.

Dia membunuh Tn. Yam dengan...

Dia membunuh Tn. Yam sekali tembak sekaligus.

Di mana anak panahnya?

Hei! Jangan menghalangi penyelidikanku.

Memang kau tahu kenapa dia bisa terbunuh?

Katakan!

Tentu. Ditusuk kuku jari.

Ditusuk kuku jari?

Jadi pembunuhnya adalah orang berkuku panjang.

Semuanya, siapa yang kukunya lebih panjang dari dia?

Kau tak bisa menuduh sembarangan.

Tidak ada yang menuduh sembarang.

Tapi kau memiliki kuku terpanjang di desa ini.

Jadi kau adalah tersangka.

- Kalian semua! - Ya!

- Tangkap dia! - Baik!

Kami sudah temukan tersangkanya.

Akan kubalaskan dendam pamanku untukmu.

Sepupu, jangan sampai salah. Kau harus yakin.

Tentu saja!

- Ayo. - Baik!

- Bawa mayat Tn. Yam ke markas. - Ya.

Aku membiarkanmu bicara dengannya setiap hari.

- Kau pasti akan bicara. Bawa dia! - Baik.

- Guru, petinya... - Hancur.

- Mayatnya... - Hilang.

- Guru... - Kutangkap!

Kau ini...

Berhenti!

Kapten, boleh aku bicara dengan mereka?

Ucapkan kata-kata terakhirmu. Jangan bilang aku kejam.

Apa kalian sudah mencarinya?

Ya, bahkan di peti lainnya, tapi tak ada.

Pasti akan terjadi sesuatu malam ini.

Aku tahu, kau akan dipenjara malam ini.

Bukan. Aku melihat dua mayat berjalan.

Dua mayat?

Tn. Yam dibunuh seorang mayat. Lalu dia sudah mulai berubah.

Ayah dan anak bersama-sama.

- Sudah selesai? - Sebentar lagi.

Chou, pergilah ke kantor polisi dan bawa beberapa orang.

Man Choi, kau jaga Ting Ting.

Bagaimana caranya?

Tahan napasmu ketika kau melihat mayat itu.

Tahan napasku?

Apa aku harus siapkan sesuatu, Guru?

Darah ayam, wadah tinta, kertas kuning, semuanya.

Cukup!

Waktu kalian habis.

Nn. Yam, bersabarlah.

Dan beras ketan.

- Jangan lupa beras ketannya. - Baik.

Akan kubalas kematian pamanku.

Kenapa kau membunuhnya?

Untuk apa membunuhnya?

Dasar keras kepala.

Kau tahu tulisan apa ini?

Jangan tergesa-gesa!

Memangnya kenapa?

Aku pernah membakar penjahat dengan kata ini sebelumnya.

Lalu kulitnya mengeriput.

Kata yang satu ini lebih jelas dan tidak terlalu rumit.

Tapi sama sakitnya dengan kata yang lain.

- Kemari. - Ya, Pak.

- Pegang ini. - Ya, Pak.

Ini dia katanya. "Penjahat".

Kalau kau tak ingin bernasib sama seperti kain ini...

...cepat mengaku sebelum besok pagi, dan jika tidak...

Jika kau tak lepaskan aku sebelum pagi, kau akan tanggung sendiri akibatnya.

Masih saja keras kepala.

- Turunkan dia. - Baik!

Paman, akan kubalas kematianmu.

Kau akan beristirahat dengan tenang.

Dia harus mengaku sebelum besok pagi.

Kenapa kau berdiri di sini?

Aku menunggumu sampai kepalamu kembali masuk.

- Kenapa? - Kau bisa malu.

Omong kosong. Bantu aku memasukkan kepalaku.

Gunakan kepalamu.

Baik, Guru.

Jangan salahkan aku untuk ini.

- Baiklah. Cepat! - Baiklah.

Apa yang kau lakukan?

Kau sudah janji tak marah.

Kau sudah berjanji untuk tidak memarahiku.

- Di mana barang-barangnya? - Di sini.

Darah ayam, tinta, kertas kuning, wadah tinta.

Beras ketan?

Ya, masih hangat.

Makanlah sekarang, sebelum dingin.

Aku ingin yang mentah, bukan yang matang.

Ini untuk melindungi dia dari serangan mayat.

Lalu bagaimana sekarang? Kita tak bisa suruh dia memakannya?

Guru, dia bangun!

Cepat, tempelkan kertas ini di kepalanya.

Guru, dia sudah pergi.

Cepat kejar dia.

Cepat!

Cepat!

Ada apa?

Cepat masuk dan lihat.

Kau takut? Itu hanya Paman.

- Rapikan tempat tidurnya. - Baik.

Paman, untung saja aku datang tepat waktu.

Jika tidak, mereka akan menyiksamu.

Kapten, tempat tidurnya sudah diperbaiki.

- Taruh dia kembali. - Baik.

Keluar dan kunci pintunya.

- Jangan ada yang membukanya. - Baik.

Paman...

- ...hati-hati. - Jangan ambil kertasnya!

Jangan sembunyi!

Di belakangmu!

Belakangku? Itu hanya Paman.

- Paman... - Dia berubah jadi vampir!

Lari!

Aku..

Menunduk!

Buka pintunya!

Cepat buka...

Tak akan kubuka, apa pun yang terjadi.

Aku kapten kalian. Bukalah!

Cepat bukakan!

Cepat buka!

Cepat, cepat...

Apa yang kau lakukan?

Tolong.

Tolong aku!

Lemparkan kunci selnya!

Tangkap!

Tempel kertasnya.

Tolong!

Tahan napasmu.

Tolong!

Akan kubantu kau, Guru.

Tapi jangan lepas celanaku lagi.

Tenang. Aku masih punya banyak cara.

Tolong!

- Tolong! - Bagus. Cepat buka.

Tolong! Paman Kau!

Tolong.

Wadah tinta!

Buka pintunya!

Pagi sudah tiba. Dia tak akan datang.

Tidurlah sekarang.

Tidak, lalu siapa yang akan melindungimu?

Kenapa kau membawa tongkat bambu ini?

Ini adalah alat buatanku.

Tapi tak ada gunanya sekarang.

Cantiknya.

Jangan takut. Akan kulindungi kau.

Tahan napasmu.

Aku tak kuat lagi!

Ambil tali dan ikat kakekmu. Cepat!

Aku bahkan bisa bernyanyi sekarang.

Lari.

Guru...

Wadah tinta.

Man, tolong.

Man Choi.

- Lompat ke bawah! - Ya!

Kejar dia! Kejar dia!

Kenapa kalian tak mengejarnya?

Dasar penakut!

Dia beruntung, aku bisa saja menembaknya.

- Ada yang terluka? - Tidak.

Man terluka, Guru. Apa dia akan berubah jadi vampir?

Mungkin saja.

Minggir, biar kutembak dia!

Aku bilang mungkin, kita masih bisa selamatkan dia.

- Bagaimana caranya? - Apa yang harus kita lakukan?

Gunakan beras ketan.

Itu bisa membersihkan penjara dan melindungi dia dari vampir.

Beras ketan?

Beras ketan...

Ting Ting, sebaiknya kau tinggal di tempatku.

Bagus!

Man Choi.

Kau baik-baik saja, kan?

Jangan cemas. Aku tak apa-apa.

Aku tak cemas.

Bukankah kau takut aku akan jadi vampir?

Tentu saja.

- Apa dadamu sakit? - Tidak.

Ini kaku sekali.

Mana mungkin ini tak sakit?

Guru, jangan takuti aku.

Menakutimu?

Lihat, kau tak merasakan apa-apa.

Kenapa bisa begitu?

Racunnya akan menyebar dalam waktu dua hari.

Kau tak akan merasakan apa-apa.

Bahkan jika tubuhmu dicincang.

- Lalu aku harus bagaimana? - Bergerak.

Bergerak?

Tangan, lengan, semuanya. Jangan berhenti.

Kalau aku berhenti?

Darahmu akan tersumbat.

Lalu?

Darahmu akan mengeras.

Setelah itu?

Keras itu kaku, kaku itu keras.

Lalu akan menjadi kaku, setelah itu?

Kaku seperti vampir.

Aku tak bisa berbuat apa-apa.

- Apa yang harus kulakukan? - Kau masih tanya?

Bangun dan bergerak!

Cepat.

Ambil beras ketan dan sebarkan di tempat tidur.

Ya.

Ting Ting, tolong masakkan sup beras ketan.

Jangan sampai ada asap yang masuk ke nasinya...

- ...atau akan percuma saja. - Baik.

Guru, berasnya tinggal sedikit.

Tolong belikan lagi.

Lepas sepatumu dan melompat di atas tempat tidur.

Melompat di atas tempat tidur?

Jika racunnya sampai ke kakimu, maka terlambat sudah.

Baik.

Untuk apa beras ini, Guru?

Untuk memindahkan racunnya.

Kakiku sakit.

- Singkirkan saja kalau tidak suka. - Aku suka.

Cepat belikan beras ketan lagi.

Bagaimana dengan beras biasa?

Tentu, kalau kau mau dia mati.

Baiklah.

Sial kau!

Turun!

Turun kau!

- Cepat, lompat! - Baiklah.

Hei, Bodoh, kau menumpahkannya kalau begitu.

Kau ini ceroboh sekali!

Cepat pungut yang jatuh.

Bagaimana caranya? Coba tunjukkan padaku.

Kalau begitu, sapu saja semuanya.

Kenapa anakku bodoh sekali. Padahal aku sangat cerdas.

- Maksudmu, kau menyalahkan aku? - Tidak.

Dia bekerja tanpa kenal lelah.

Aneh.

Orang-orang dari desa sebelah banyak yang membelinya.

Mereka ketakutan dengan vampir.

Seseorang bilang beras ketan adalah obatnya.

Beras ketan itu untuk mengisi perut. Mana mungkin bisa menghentikan vampir?

Siapa peduli? Selama bisnis kita lancar.

Tapi kita bisa kehabisan persediaan.

Bodoh, campurkan saja dengan beras biasa.

Benar juga, tak akan ada yang tahu.

Ada yang datang.

Pak.

Kau ingin membeli beras?

Tentu saja. Aku perlu beras ketan.

Kami juga menjual yang lainnya, kantong beras, ember beras...

...pengukur beras, timbangan beras. Semua yang bisa menampung beras.

Lalu ada beras untuk mi, beras merah, beras hitam.

Semua yang bisa dimakan.

Dan juga ada minyak beras, beras gabah.

Kami bahkan punya untuk makanan babi.

Kami menjual semua yang berhubungan dengan beras.

Kami punya semuanya.

Termasuk kotoran dari beras?

Ya, harga beras di toko lain lebih mahal.

Berasku lebih murah.

Karena kami makan jenis beras yang berbeda.

Tapi kurang lebih semua sama.

Itu bagus untuk pupuk. Berapa banyak yang kau mau?

Cukup, tak perlu.

Aku hanya ingin beras ketan.

Tentu, ambilkan karung.

Biar aku saja.

Aku minta beras ketan murni, Pak.

Tentu.

A Shiu, isi dengan beras ketan murni. Isi sebanyak 20 kg.

Berikan dia 10 kg beras ketan saja.

- Tuan... - Campurkan!

Tunggu sebentar. Cepat!

Aku lapar, apa ada yang bisa dimakan?

Lapar? Bagaimana dengan kue beras?

Ini lezat, cobalah.

Dan biskuit beras, kau pernah mencobanya?

Bagaimana?

Lumayan.

- Berapa semuanya? - Lima dolar.

Terima kasih.

Ini berasnya.

Berat sekali.

Kami tak pernah membohongi pelanggan.

Kenapa besar sekali?

Apa berasnya kau campur?

Ya, kau bilang 10 kg.

Lalu beras ketannya?

Kau bilang 20 kg.

Itu berarti 30 kg.

Tidak, Ayah.

Aku memberikan dia 18 kg beras ketan.

18 kg beras ketan dan 10 kg beras lainnya.

Kau salah, Ayah. Semuanya jadi 28 kg.

Kau bodoh!

Pukul 1 malam!

Kau mengagetkanku, Nona.

Kau tak apa-apa?

Paman, bisa tolong aku?

Ada apa? Ada yang harus kukerjakan.

Sederhana saja...

...tolong goda aku.

Apa? Menggodamu?

Ya, cepat. Goda aku.

Kau wanita aneh.

Kau ingin menipuku. Maaf.

Tidak akan...

Tolong! Tolong!

- Apa itu? - Tolong!

Kau!

Nona!

Dasar lelaki tua tak tahu malu.

Di depan umum seperti ini...

- Tapi dia... - Jangan bicara lagi!

Kau tak apa, Nona?

Aku takut.

Jangan takut. Akan kuantar kau pulang.

Aku tinggal di sini.

Tunggu, aku harus mengambil sesuatu.

Apa ada orang di rumah? Ada gadis yang terluka.

Orang tuaku sedang di kota.

Hanya ada kita berdua di rumah ini.

- Kalau begitu ini takdir. - Apa katamu?

Tidak.

Hati-hati.

Duduklah.

Bagaimana aku harus berterima kasih padamu?

Pikirkan saja sendiri.

Antara pria dan wanita, ada satu cara untuk memberikan imbalan.

Apa itu?

Anggap saja aku mengambil jalan lain.

Jadi, aku tak akan datang untuk menyelamatkanmu.

Kejadian ini adalah takdir.

Jika aku bukan orang yang baik hati, aku pasti tak akan menyelamatkanmu.

Tindakan seperti itu membutuhkan nyali.

Dan andai aku bukan seorang pria yang jantan...

...aku pasti tak akan mengantarmu pulang.

Tindakan seperti itu adalah cinta.

Ada cinta, takdir, dan keberanian.

Jadi, apa yang akan kau lakukan untukku?

Cinta secara fisik?

Begitulah umumnya.

Tunggu di sini.

Mudah sekali.

Hanya ada dua kemungkinan.

Aku bermimpi atau dia adalah hantu.

Nona.

Aku hanya bercanda.

Aku bukan pria yang seperti itu.

Aku harus pergi.

Semoga kita bisa berjumpa lagi.

Hanya keajaiban yang bisa membuatku tinggal.

Ini aneh sekali.

Cuacanya mendadak berubah.

Hujannya deras sekali. Kau bisa basah kuyup.

Kalau kau harus pergi, minumlah teh lebih dulu.

Baiklah, tak ada salahnya.

- Silakan. - Terima kasih.

Hujannya sudah berhenti. Aku harus pergi.

Man Choi, bangun!

Paman Kau tak boleh tahu kau sedang tertidur.

Apa aku tak salah lihat?

Aku akan berubah menjadi vampir.

Dia akan menembakku jika dia tahu.

Aku harus bekerja keras untuk bisa terus hidup.

Bahkan sebagai seorang vampir.

Kenapa bisa begini?

Kau datang pagi sekali.

Tidak. Kepala Desa hanya khawatir pada Man Choi.

Mereka khawatir dia akan berubah menjadi vampir.

Mereka mengirimku ke sini untuk memeriksanya.

Silakan buat dirimu nyaman.

- Man Choi. - Tunggu sebentar.

Lihat baik-baik sekarang.

Ke mana saja kau tadi malam?

Hanya pergi ke desa seberang.

Apa yang kau lakukan?

Aku pergi ke desa seberang.

Lalu ada badai besar.

Aku masuk ke sebuah rumah. Supaya berasnya tidak basah.

Aku sedang berpatroli kemarin. Tidak ada hujan turun.

Dia benar. Semalam tak hujan.

Aku sudah lapar sekali, kenapa kau terlambat?

Jangan berhenti! Teruskan!

Apa kau bersama seseorang dalam rumah itu?

Ada apa? Apa Man bisa disembuhkan?

Tidak, apa ada lagi yang lain?

Aku ingin membantumu menangkap vampir itu.

Dia terkena tinta itu. Dia tak bisa bergerak.

Pergilah sekarang jika kau mau menangkapnya.

Di mana?

Di tempat tergelap.

Ayo pergi sekarang.

Tidak bisa, aku ingin mengawasi mereka.

Untuk apa?

Benar juga, kita pergi sekarang?

Dia sangat ganas di malam hari.

Hei, kau takut?

- Takut? Ayo pergi! - Baik.

- Ayo. - Baik.

Kapten, vampir itu tak akan keluar dalam cuaca seperti ini.

Kau salah, mereka suka cuaca seperti ini.

- Cepat menyebar dan cari! - Baik.

Ada gua di sini, Pak!

Kalian berdua masuk.

Kami? Bagaimana jika ada vampir?

Kami di belakangmu, cepat!

Tolong!

Pegang ini.

Apa yang dia temui, Guru?

Hantu wanita.

Apa itu berbahaya?

Ya, tapi tidak separah Man.

Pasti itu hantu yang bernafsu.

Ini sudah gelap, berapa lama aku tertidur?

Kau tidur selama satu hari.

Gawat. Bibi pasti marah padaku karena tidak bekerja.

Kau masih ingat bibimu?

Guru, apa ada lagi yang harus kulakukan?

Jangan beri aku masalah lagi.

Kau baik-baik saja?

Aku tak apa.

Aku pergi dulu, Guru.

Baiklah. Pergi.

Ting Ting, awasi Man.

Aku mau pergi sebentar.

Xiaoyu?

Jangan mendekat.

Ada sesuatu padamu.

Tulisan dari guruku.

Untuk melindungiku dari hantu.

Cepat hapus.

Jangan, bodoh!

Xiaoyu?

Biar kulihat kau.

Biar kuusap lukamu.

Tolong aku, Chou.

- Beraninya kau menyerang dia! - Chou!

Akan kulepaskan ikatanmu!

Apa kau gila? Jangan dilepas!

Kau ingin menyuapku? Tidak bisa.

Bodoh!

Bagaimana mungkin?

Apa aku bermimpi?

Tidak, kau dipengaruhi hantu.

Sudah kuduga, untung aku bisa selamat.

Beruntung? Jika aku tak menolongmu, kau pasti sudah mati.

Guru, aku beruntung karena aku bisa merasakan cinta yang tulus.

Andai saja aku tahu dia hantu, pasti ini tak akan terjadi.

Dasar bodoh! Kau hampir mati!

Lihat kalian berdua, yang satu terkena racun...

...dan yang satu lagi dipengaruhi hantu.

Aku beruntung sekali.

Aku memiliki kalian berdua.

Aku sudah 80 persen sembuh.

Aku 80 persen terkena pengaruh hantu.

Omonganmu itu gila.

Kalian berdua sudah 80 persen mati.

Lalu kami harus apa?

Baiklah.

Kita singkirkan dia begitu dia datang nanti.

Silakan minum tehnya.

Terima kasih.

Sembunyilah dalam kamar. Jangan keluar, apa pun yang terjadi.

Baik.

Hei. Apa kau tertidur?

Memangnya kenapa? Bukan aku yang diincar hantu itu.

Jadi, kau tak mau membantuku?

Tenang saja. Aku di sini, bukan? Kau mau apa lagi?

Kau kedinginan?

Tidak.

Chou...

Chou...

Tolong lepaskan aku.

Chou!

Chou, tolong aku!

Apa yang kau lakukan?

Jangan...

Man Choi!

Tolong, Guru!

Aku sedang menolongmu.

Keluarkan aku atau aku akan mati!

Jangan teriak!

Tenang, bersabarlah! Aku sedang sibuk!

Jangan takut, aku datang.

Guru.

Hati-hati, di belakangmu!

Chou.

Chou...

Chou...

Jangan tatap matanya.

Pergi!

Berhenti!

Xiaoyu!

Guru, Jangan!

Dia pernah menyelamatkanku sekali.

Dia akan terkutuk selamanya.

Kalian berdua berasal dari dunia berbeda.

Kau hanya akan merusaknya.

Biarkan dia pergi, Guru.

Tapi apa dia akan membiarkanmu pergi?

Hati-hati.

Masih ada satu lagi.

Beras ketannya tidak berhasil!

Astaga!

Pantas saja. Beras ketannya tercampur dengan beras lain.

Buka mulutmu sedikit lagi.

Sedikit lagi.

Bersabarlah.

Bagaimana keadaanmu?

Aku baik-baik saja. Sudah mulai sembuh.

Sungguh?

Kau hampir sembuh. Kau bisa merasakan sakit.

Paman Kau!

Vampirnya muncul lagi!

- Guru, itu... - Diam.

Kalian tutup pintu dan semua jendelanya. Jaga Ting Ting.

- Baik. - Cepat.

Ini perbuatan vampir itu.

Apa yang harus kita lakukan?

Bawa dia ke tempatmu.

Tidak bisa. Aku takut sejak kejadian terakhir kali.

Jika kau setuju, kita harus membakarnya dengan ranting pohon leci.

- Cepat, bakar dia. - Baik!

- Sudah siap. - Bakar sekarang.

Cepat. Nyalakan apinya!

Buka pintunya!

Siapa yang mengunci pintunya?

Pintunya sudah cukup kuat.

- Apa kau takut? - Tentu saja.

Dasar pengecut. Kita terlindungi dari berbagai sisi.

Jangankan vampir itu, lalat saja tak bisa masuk.

Guru kembali, buka pintunya.

Cepat berikan!

Apa kau gila?

Bagaimana jika vampirnya masuk?

Cepat buka! Buka!

Guru sudah kembali, cepat buka pintunya.

- Guru... - Diam.

Peralatanku.

Masuk dan kunci pintunya.

Ayo cepat.

Apa sudah aman?

Sudah tertutup rapat, 'kan?

Pantas saja di sini panas sekali.

Tenang saja, ada cahaya dari luar.

- Itu lebih baik. - Cahaya luar?

Bahaya!

- Cepat. Kuangkat kau. - Baiklah.

Tadinya ini tertutup. Kenapa sekarang terbuka?

Jangan bilang kalau...

Coba lihat lebih dekat.

Man Choi!

Man Choi!

Cepat buka!

Cepat buka! Buka pintunya!

Dia ingin makan daging, makanlah ayam ini.

Paman Kau! Tolong!

Guru!

Guru, dia bisa melihat.

Serang matanya.

Lari...

Lari!

Ada apa? Tidak apa-apa.

Vampir?

Maju!

Kemari...

Cepat keluarkan racun mayat itu.

Cepat, hisap!

Hisap!

Biar aku saja.

Tidak, para pelangganku!

Semuanya hancur!

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.