All language subtitles for The.Judge.from.Hell.S01E01.KOREAN.DSNP.WEB-DL.AAC2.0.H.264-XEBEC.id

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

The Judge from Hell

KARAKTER, TEMPAT, ORGANISASI, DAN KEJADIAN DALAM DRAMA INI ADALAH FIKTIF.

AKTOR ANAK DAN HEWAN DIREKAM DALAM SITUASI AMAN

Aku adalah iblis.

Aku datang dari Neraka.

Seperti yang kalian lihat, kini aku hidup dengan tubuh bernama Kang Bitna.

Aku tak memilih tubuh ini, tapi aku cukup puas saat melihat cermin.

Terutama saat lihat wajahku.

Lantas apa Kang Bitna sudah mati?

Belum lama ini.

SIAPA PUN YANG MASUK KE SINI, LUPAKAN SEGALA HARAPAN

Gehenna.

Sayangnya, Kang Bitna sudah mati.

Seharusnya dia masuk ke Neraka Palsu,

tapi telantar ke Neraka Pembunuh akibat sistem klasifikasi pendosa.

Siapa itu?

VALAK ASISTEN HAKIM, NERAKA PEMBUNUH

Bukankah pria ini terakhir?

JUSTITIA HAKIM

Wah... Ini aneh.

Pria ini memang yang terakhir.

Tandai saja dia dan kirim ke Gehenna.

Apa salahku?

Manusia tak bertobat dan tak diampuni yang melakukan dosa.

Para pembunuh akan ditandai di kening dan menerima hukuman berat.

Meski Kang Bitna yang sudah mati mungkin tak berpikir begitu.

Apa saat ini kalian sedang mengadiliku?

Aku juga seorang hakim.

Hakim?

Kenapa hakim datang ke sini?

Itu...

Aku tak tahu. Seseorang memegang pisau di taman dan...

Aku hanya berurusan dengan pembunuh.

Hanya pembunuh yang bisa masuk ke sini.

Aku tak pernah membunuh.

Justitia, bagaimana jika kita memeriksanya lebih dulu?

Dia tak ada dalam daftar.

Dia sudah ke sini, jadi, terserah aku.

Bawa dia kemari.

Dia selalu semaunya sendiri.

Katakanlah kau membunuh satu orang.

Dengan satu pembunuhan, berarti 20.000 tahun di Gehenna.

Tapi karena kau kasar padaku, kau dapat tambahan 50.000 tahun.

Aku tak pernah membunuh siapa pun. Ini tidak adil!

Valak, sedang apa kau? Cepat tandai dia.

Tidak bisa. Dia tak ada dalam daftar.

Jika menandainya, kita tak bisa mengembalikannya lagi.

Bagaimana jika Bael murka?

Berikan! Biar aku saja.

Aku bukan pembunuh. Bukan.

Seorang hakim harus mendengarkan tersangka tak bersalah juga.

Kenapa kau tak mendengarkanku?

Baiklah.

Ayo.

Pengadilan selesai.

Seorang pendosa yang harus dihukum di Neraka Palsu

hampir ditandai sebagai pembunuh dan dikirim ke Gehenna.

Apa kau mengakui kesalahanmu, Justitia?

Sama sekali tidak.

Itu bukan salahku.

Itu salah makhluk bodoh yang melewatkannya.

BAEL DIREKTUR NERAKA

Jika kau mendengarkannya,

dia akan ke tempat yang tepat.

Bael.

Hakim hanya menjatuhkan hukuman.

Aku tidak wajib mendengarkan omong kosongnya

yang mengaku tak bersalah.

Justitia, pergilah ke dunia manusia,

lalu hukum sepuluh pembunuh yang tak menyesal

dan tak bisa diampuni.

Ambil nyawa mereka dan kirim ke Neraka.

Waktumu setahun.

Sepuluh pembunuh?

- Valak. - Ya?

Kau juga ikutlah.

Ya? Aku? Kenapa?

Semua tugas itu

harus kau lakukan dengan tubuh manusia

yang hampir terkena bahaya akibat kesalahanmu.

Kau harus menjalani kehidupannya hingga misimu terpenuhi.

Jika tak berhasil memenuhinya,

maka kau akan mati.

Kau akan mati.

Tidak.

Tidak. Aku tidak mau!

PAIMON HAKIM DISTRIK 7, NERAKA PENGKHIANAT

Akan kuturuti jika kau memang ingin mati.

Aku akan pergi, Bael.

Kumohon. Jangan bunuh aku.

KANG BITNA

Aku datang kemari

karena penurunan jabatan.

Terakhir, aku ingin bertanya.

Kira-kira, apa semua yang kukatakan tadi benar?

Atau hanya kebohongan untuk mempermainkan kalian?

THE JUDGE FROM HELL

EPISODE 1

Ketika dirawat setelah penusukan,

minuman soda yang kau berikan untukku sangatlah enak.

Aku setuju mengikuti pelatihan residen karena itu.

Aku tahu. Terima kasih banyak.

- Jadi, lanjutkan saja perawatanmu. - Baiklah.

Aku bukan iblis. Apa kau puas?

Tidak harus di rumah sakit ini.

Lanjutkan perawatanmu di mana pun.

EVALUASI PSIKOLOGI PTSD, GANGGUAN DELUSIONAL

Terima kasih atas bantuanmu.

Hiduplah dengan baik.

Atau kau akan masuk Neraka.

PENGADILAN

Hadirin harap berdiri.

Hadirin dipersilakan duduk kembali.

Aku sibuk. Cepatlah.

Terdakwa, sebutkan nama dan asalmu.

Tim Investigasi Kejahatan Kekerasan 2,

Letnan Han Daon.

Terakhir kau diadili untuk kasus penyerangan, 'kan?

Ya, itu benar.

Kali ini tanpa pengacara lagi?

Apa alasannya?

Saya yakin saya tidak salah.

Jadi, saya rasa saya tak butuh bantuan hukum.

Seorang terdakwa menunjuk pengacara bukan karena mereka melakukan kesalahan.

Kau yakin bisa menang dalam pengadilan hari ini?

Tidak, tetapi...

Saya percaya jika keadilan memang ada, maka hukum akan melindungi saya.

Benarkah?

Bisakah kau jelaskan kondisi penangkapannya?

Saat itu,

saya menangkap tersangka yang kabur setelah menyerang warga.

Berhenti!

Hei! Kubilang berhenti!

Kau tak bisa kabur lagi.

Jatuhkan saja. Ya?

Enyahlah selagi aku bicara baik-baik.

Apa kau tahu siapa ibuku?

Aku tak tahu, tapi aku iri ibumu masih hidup.

Sampai di sini saja main-mainnya.

Bahuku! Tulangku bisa patah!

Kau berhak untuk tetap diam

dan menunjuk pengacara.

Jadi, hubungi ibumu.

Lalu bagaimana dia?

Kami menjalani sidang, tapi dia hanya mendapat denda kecil.

Setelah itu, dia menuntutmu?

Ya. Dia menuduh saya melukai tangannya

saat menendang pisau yang dia bawa.

Itu fakta, bukan pendapat.

Silakan lihat diagnosis yang disampaikan.

Maksudmu, prognosis pemulihan dua minggu yang diserahkan bagai permen?

Kenapa hasil pemeriksaan medis lengkap tak disertakan?

Aku ingin tahu separah apa lukanya.

Tangan kanan korban luka parah hingga tak bisa makan dengan benar.

Seharusnya dia mati kelaparan saja. Kenapa menuntut?

Yang Mulia, Anda sudah keterlaluan.

Kaulah yang keterlaluan.

Polisi tidak mungkin diam saja.

Korban mengancam dengan pisau. Lalu dia harus bagaimana?

Meminta pisaunya baik-baik?

Atau haruskah dia tertusuk dan gugur sebagai pahlawan?

Penangkapan dapat dilakukan dengan mudah tanpa kekuatan berlebihan.

Jika itu termasuk kekuatan berlebihan, maka ini dakwaan yang berlebihan.

Kenapa kau membawa kasus kecil ke pengadilan?

Padahal aku sibuk. Menyebalkan.

Yang Mulia, ini pengadilan. Tolong tunjukkan sikap yang pantas.

Memangnya ini gereja atau apa? Sikap yang pantas?

Ibunya Presiden Direktur PTL Group.

Lalu ayah mertua jaksa ini satu sekolah dengan ibu korban.

JAKSA PENUNTUT

Jadi, apakah aku yang bersikap tidak pantas di pengadilan?

Atau sebenarnya kau, Pak Jaksa?

Aku hampir terlambat.

Terdakwa, cepat berikan pernyataan akhirmu.

Setiap malam sebelum tidur, saya menyesali hari itu.

Jika tahu akan diadili, seharusnya saya bertindak secara berbeda.

Seharusnya saya tendang tangannya sambil mengincar pisau.

Lalu saat memborgolnya,

seharusnya saya putar lengannya lebih keras. Itulah penyesalan saya.

Kau tak menyesali perbuatanmu?

Tak ada yang perlu saya sesali karena saya tidak salah.

Aku akan memutuskan.

Semuanya, inilah sang Dewi Keadilan.

Bu Guru, kenapa matanya ditutup?

Matanya ditutup karena...

Mau tanya pada hakim?

- Ya! - Ya!

Permisi, Bu Hakim. Boleh kami menyita waktumu sebentar?

- Aku bukan hakim. - Bohong!

Kau memakai jubah hakim!

Pembohong! Hakim itu pembohong!

Benar. Aku bukan hakim.

Lalu siapa kau?

Detektif Kim, aku sudah dibebaskan.

- Tak bersalah. - Jangan takut.

Sebenarnya,

aku adalah iblis. Iblis yang mengerikan!

- Akan kujelaskan saat kembali. - Aku benar-benar iblis.

Jangan bohong. Tidak ada iblis secantik itu.

- Apa? - Benar!

Iblis memiliki tanduk.

Mereka terlihat menakutkan, sementara kau cantik.

Astaga, sungguh.

Apa aku secantik itu?

- Ya! Kau sangat cantik! - Ya! Kau sangat cantik!

Astaga! Anak-anak memang tak bisa dibohongi.

Apa pertanyaannya?

Kenapa matanya ditutupi?

Itu pertanyaan bagus.

Dia sedang bermain petak umpet dengan penjahat.

Kenapa dia butuh pisau untuk bermain petak umpet?

Agar dia bisa menebas...

Untuk memarahi penjahat.

- Untuk memarahi penjahat. - Untuk memarahi penjahat.

Namun, kini tak sepanjang itu. Dia memakai pisau kecil seperti ini.

Bu Hakim, tanganmu...

Lantas, apa itu? Kenapa dia memegangnya?

Itu timbangan.

Timbangan itu digunakan untuk mengukur dosa seseorang.

Bu Hakim! Siapa namanya?

Justitia. Dia dikenal sebagai Dewi Keadilan.

Meski sebenarnya bukan.

Omong-omong, apa itu keadilan?

Sederhana saja.

Orang baik hidup bahagia dan orang jahat akan dihukum.

Itulah keadilan.

Lalu kenapa orang jahat hidup lebih baik?

Karena tak ada keadilan di dunia.

Kalian mau mengikuti ucapanku?

- Ya! - Ya!

- Keadilan! - Keadilan!

- Sudah mati! - Sudah mati!

- Keadilan! - Keadilan!

- Kami tidak butuh. - Kami tidak butuh.

Sekali lagi. Keadilan.

Keadilan!

- Sudah mati! - Sudah mati!

- Keadilan! - Keadilan!

- Kami tidak butuh. - Kami tidak butuh.

Bagus!

Astaga. Aku terlambat.

Dah!

Tunggu! Hakim Kang!

Kebetulan kita bertemu. Namamu...

Siapa, ya? Kurasa mirip pelembut.

Han Daon. Ada yang ingin kutanyakan.

Divisi Pidana Ke-18 lantai 5.

Naiklah. Kau akan dapat izin masuk sementara.

Apa? Kenapa kau memberiku...

Di sana akan ada pria berpipi tembam.

- Berikan padanya. - Tunggu...

Tunggu. Hakim Kang.

Kenapa? Kau tak paham lokasinya?

Tidak. Aku ingin tahu alasanmu membebaskanku.

Kenapa menanyakannya? Kau mau kuberi hukuman mati?

Aku terharu karena kau bersimpati dengan rasa frustrasiku.

Siapa bilang aku bersimpati?

Ya?

Aku tak tertarik dengan kisah orang tak bersalah. Apalagi bersimpati.

Apa kau tahu kenapa aku senang menjadi hakim pengadilan pidana?

Karena aku bisa bertemu banyak penjahat.

Orang-orang yang layak dijebloskan ke Neraka.

Jadi, kau tak perlu berterima kasih.

Aku hanya muak dengan kriminal kurang ajar

yang tak menyesali perbuatannya.

Pokoknya,

kau memberi keputusan berdasarkan hukum.

Jika butuh bantuan, silakan hubungi aku.

Akan kupastikan aku membalas budi.

Aku terlalu sempurna untuk membutuhkan bantuan seseorang.

Namun, kita tak pernah tahu.

"Kantor Polisi Nobong, Tim Investigasi Kejahatan Kekerasan 2, Han Daon."

Akan kuingat itu.

STAF KOO MANDO

Apa sesulit itu membunuh seorang kriminal?

Sulit untuk membunuh? Membunuh apa?

Tidak. Bukan apa-apa.

- Aku hanya lelah... - Ya, ini Divisi Pidana Ke-18.

Pengadilan hakim kami sudah selesai?

Kenapa bertanya jika tak mendengarkan?

Benarkah? Tapi kenapa dia belum datang?

Ya?

Halo.

Bisa kubantu?

Pria berpipi tembam.

Benar.

Bu Hakim memintaku mengantarkan ini.

Kenapa dia menyerahkan barang ini pada orang asing?

- Pokoknya, terima kasih. - Mana Hakim Kang?

Entahlah. Dia pergi terburu-buru.

Astaga. Kapan dia akan dewasa?

Astaga.

Astaga, silau.

Tuhan memang sangat kejam.

Apa kau tahu?

Tuhan mendengarkan segala doa manusia,

tapi tak mengabulkan semuanya.

Siapa kau?

Senang bertemu. Aku Hakim Kang Bitna yang akan mengambil alih kasusmu.

Bagaimana kau tahu aku di sini?

Apa kau menyuruh orang mengawasiku?

Tidak. Aku hanya tertarik.

Aku tertarik pada kebenaran kasusmu sebagai seorang hakim.

Aku sudah ceritakan semua ke polisi dan membuat surat pernyataan.

Menurutku, surat pernyataan itu aneh.

Dia memukul dan mengancam untuk membunuhmu.

Bagaimana bisa kau memaafkannya?

Kau berbohong

soal memaafkannya, 'kan?

Aku tidak bohong.

Aku ingin dia segera dibebaskan dari tahanan.

Jangan begitu. Jujur saja padaku.

Dengan begitu, aku bisa membuat keputusan yang tepat.

Aku tak mau bicara.

Tidak, tunggu!

Yang benar saja.

Bu Cha Minjeong?

Bu Cha!

Bu Cha. Mari bicara sebentar.

Jangan ikuti aku.

Besok adalah sidang pertama.

Jika kau terus begini, aku harus menerima surat pernyataanmu.

Lakukan saja.

Memang itu tujuanku. Kenapa kau begini?

Aku seorang hakim.

Hakim harus mempertimbangkan semua kebenaran terkecil untuk memutuskan.

Katakan saja. Akan kudengarkan semuanya.

Tidak. Kau mungkin seorang hakim, tapi kau tak berhak melakukan ini.

Kau tidak apa-apa?

Tolong.

Dia terus mengikutiku.

Bu, kau tak boleh seperti ini.

Ini kesalahpahaman.

Aku seorang hakim.

Bisa tunjukkan kartu profesimu?

Tentu saja...

Aku tak membawanya.

Ambil saja kartu pengenal pribadiku.

Bu Cha.

Bu.

Silakan ikut kami.

EVALUASI PSIKOLOGI PTSD, GANGGUAN DELUSIONAL

KANTOR POLISI NOBONG SEOUL

Selamat, Han Daon!

Hentikan! Kau membuatku geli!

Dasar kau.

Putraku baru saja kembali dari gerbang Neraka.

Apa tak boleh seorang ibu memeluk putranya?

Sakit sekali.

Tentu sakit jika dipukul.

Berhati-hatilah lain kali.

Berjuanglah dalam menangkap kriminal, tapi jangan korbankan hidupmu.

Kau juga.

Jangan cemaskan aku!

Jadi,

siapa penyelamat yang membebaskanmu?

- Itu... - Detektif Kim!

Cha Minjeong melapor polisi.

Katanya ada yang ikuti dia.

Moon Jeongjun sudah dipenjara. Jadi, siapa dia?

- Mereka menuju kemari. - Sepertinya mental dia sedikit terganggu.

Kubilang aku akan pergi. Aku sedang jalan!

Hakim Kang?

Hei.

Kantor Polisi Nobong, Tim Investigasi Kejahatan Kekerasan 2, Han Daon?

Kang Bitna, usia 35 tahun, hakim. Benar?

Kukira hubungan kita sudah dekat.

Ternyata tak sedekat itu, ya?

Bukan seperti dugaan kalian.

Kenapa kau mengikuti Cha Minjeong?

Ada yang ingin kutanyakan.

Soal apa?

Soal fakta yang dia sembunyikan dan perasaan dia sebenarnya.

Kenapa kau ingin tahu apa yang dia sembunyikan?

Kukira kau detektif penanggung jawab untuk kasusnya.

Akulah hakim untuk sidang kasusnya.

Jadi, kau meragukan surat pernyataannya?

Demi sidang yang adil, aku perlu fakta, bukan kebohongan.

Karena menyingkap fakta

dan menghukum penjahat dengan sepadan

adalah tugas seorang hakim.

Aku belum tunjukkan ini ke siapa pun.

Tak perlu berekspresi begitu.

Itu salah diagnosis.

Namun, itu dari rumah sakit yang cukup terkenal di negara ini.

Jadi, menurut Terdakwa... Bukan.

Bagaimana menurutmu, Detektif?

Aku melihatmu mengaku sebagai iblis di depan sekumpulan anak-anak.

Jadi, kau pikir aku perlu dirawat karena hasil diagnosisku?

Aku tak tahu apakah iblis sungguh ada,

tapi aku yakin Tuhan tidak pernah ada.

Jika Tuhan memang ada, dunia tidak akan menjadi seperti ini.

Kurasa kau salah besar.

Bukan Tuhan atau Iblis yang membuat dunia begitu kacau,

melainkan manusia.

Para manusia yang kau tangkap dan kuadili.

Kurasa kau benar.

Kau belum menjawabku.

Jadi, apa kau juga berpikir bahwa aku butuh perawatan khusus?

Aku tak peduli entah kau iblis atau bukan,

tapi menurutku, kau sangat pantas menjadi hakim.

Percayalah penilaianmu.

Karena itu jawabannya.

Kumohon bantuanmu

untuk sidang besok.

Jaksa?

Terdakwa Moon Jeongjun telah menyerang pacarnya sebanyak tiga kali

sejak Oktober 2023 hingga Desember 2023.

Ketika korban meminta agar mereka berhenti bertemu,

dia mengurung dan mengancamnya.

Terdakwa, apa Anda mengakui tuntutan itu?

Dia mengakui penyerangan.

Namun, tidak ada ancaman apa pun.

Hal ini dapat dipastikan melalui surat pernyataan korban.

Korban berbohong karena takut terdakwa balas dendam.

Yang Mulia, ini spekulasi sepihak dari penuntut.

Diterima. Mohon coret dari catatan.

Kami menyerahkan bukti foto-foto korban yang diambil setelah penyerangan.

Mari kita periksa.

Apa alasan Anda memukulnya?

Kami bertengkar dan tanpa sadar saya...

Saya langsung meminta maaf.

Tapi dia terus meminta putus karena itu.

Jadi, tanpa sadar tangan saya...

Kenapa Anda terus berkata "tanpa sadar"?

Anda mengatakan Anda tak punya kendali?

Maafkan saya.

Terdakwa.

Apa Anda mengaku telah menyerang korban sebanyak tiga kali dan mengancamnya?

Saya memang memukulnya.

Namun, saya tak pernah mengancamnya.

Apa mengatakan "Ayo mati bersama" saat dia meminta putus

bukan ancaman?

Saya memang lebih baik mati daripada putus dengan Minjeong.

Karena saya sangat mencintainya.

Itu bukan ancaman, melainkan permohonan agar dia tidak pergi.

Berhentilah menangis, Terdakwa.

Hentikan!

Yang Mulia, terdakwa tumbuh dalam keluarga sulit sehingga tak tahu

cara mencintai yang sehat.

Namun, rasa cintanya pada korban nyata.

Bagaimana menurut terdakwa?

Anda ingin dia mati karena Anda, 'kan?

Tidak.

Jika Minjeong kesulitan hingga ingin mati,

saya tak akan pernah mendekatinya lagi.

Kau akan menyerah semudah itu?

Ya?

Tidak. Bukan apa-apa.

Lanjutkan saja.

Berdasarkan Pasal 264 KUHP,

jaksa penuntut mengajukan hukuman satu tahun penjara.

Terdakwa, silakan beri pernyataan akhir.

Saya tahu kami tak bisa bertemu lagi,

tapi saya ingin berkata bahwa saya sangat mencintai Minjeong.

Sampai jumpa di hari vonis.

Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja.

Ada yang ingin kukatakan.

Tidak perlu. Kami tak ingin dengar.

Aku sungguh minta maaf.

Kabar Minjeong baik, bukan?

"Saya tahu kami tak bisa bertemu lagi,

"tapi saya ingin berkata bahwa saya sangat mencintai Minjeong."

Rasanya aku ingin muntah.

HAKIM KANG BITNA

Jadi, kau akan bagaimana?

Setahun karena mengaku itu cinta setelah dia memukulinya.

Satu tahun karena menangis. Jadi, totalnya dua tahun.

Apakah mungkin? Jaksa penuntut mengajukan setahun.

- Itu terserah aku. - Ya, kau benar.

Kurasa hakim memang bisa semaunya sendiri.

Daur ulang.

Baiklah, akan kudaur ulang.

Lagi pula, kasus kali ini kacau.

Bukan begitu.

Aku jelas curiga dia hanya akting,

tapi aku tak tahu apa rencananya.

Kalau begini, tak mungkin selesai setahun!

Apa kau tahu bahwa membunuh manusia lewat pengadilan bukan satu-satunya cara?

Kau pikir aku tidak memikirkan cara lain?

- Ini sudah usaha terbaikku. - Begini.

Pertama, temukan pendosa di antara manusia untuk dikirim ke Gehenna dan diadili.

Kedua, beri hukuman rendah untuk kejahatan yang dilakukan

dan bebaskan dari penjara.

Ketiga, bunuh mereka.

Rencana ini terlalu rumit dan jahat.

Keluarlah. Aku sibuk.

Bagaimana kalau begini?

Pembunuh berantai.

Jika kau mengirim penjahat yang membunuh lima orang ke Neraka,

maka itu akan dihitung lima.

Jadi, kau akan berhasil jika kau membunuh pembunuh berantai yang membantai 10 orang.

Apakah ada pembunuh berantai dengan 10 korban yang belum tertangkap?

Mungkin tak ada. Sebab banyak sekali kamera pengawas.

Ya, ini Kang Bitna.

- Ini Han Daon. - Lalu?

Ada hal mendesak yang harus kuberi tahu soal Moon Jeongjun.

Aku melihat sendiri Moon Jeongjun meledek orang tua Bu Cha.

Jika dibebaskan, dia akan melakukan tindakan kriminal lain.

Apa kau sungguh berpikir begitu?

Jika Moon Jeongjun dibebaskan, dia akan mencari korban dan...

Kita tak tahu apa yang akan terjadi.

- Kemungkinan... - Dia bisa membunuh korban.

Terdakwa itu.

Aku ingin kau memberi Moon hukuman maksimal yang diizinkan hukum.

Kau tahu kau sudah bertindak kelewat batas, 'kan?

Ya.

Meski begitu, apa alasanmu tetap menemuiku?

Kau pernah berkata

tugas hakim adalah mengungkap kebenaran dan menghukum orang jahat dengan tepat.

Aku hanya ingin memberitahumu bahwa ada hal lain

yang belum terungkap di pengadilan.

Pertemukan aku dengan orang tua Cha Minjeong.

Aku sendiri tanpamu.

Aku ingin dengar langsung sebagai hakim.

Kisah nyata korban dan keluarganya.

Permisi. Tolong tambah soda lagi.

Baik.

- Kalian tahu pertemuan ini rahasia, 'kan? - Ya.

Coba ceritakan soal Moon Jeongjun.

Kudengar dia meledek kalian setelah sidang.

Dia meminta maaf kepada kami

dan menanyakan kabar Minjeong.

Itu mengerikan.

Tatapannya bahkan berbeda dengan saat berada di depanmu.

Bagaimana surat pernyataan yang diajukan oleh Bu Cha?

Itu karena dia takut.

Lagi pula, tak ada bedanya.

Dia tak akan dikurung lama dan segera bebas.

Jadi, kenapa Ibu melaporkannya?

Seharusnya jangan.

Itu panggilan terakhirnya.

Kini dia tak mau menjawab telepon kami.

Meskipun dapat hukuman maksimal,

dia tidak akan dikurung lama.

Lantas apa yang akan terjadi pada Minjeong?

Dia akan dihantui oleh pria itu selamanya.

Apa kau yakin Moon Jeongjun akan menemui Bu Cha?

Ya, pasti begitu.

Bu Hakim, tolong selamatkan putri kami.

Hanya kau yang bisa melakukannya.

Permisi.

Cepat, sekarang!

Maaf sudah membuatmu sedih...

Tidak apa-apa.

Aku tak ingin menangis,

tapi hatiku terluka hingga tak bisa menahannya.

Aku tak boleh begini.

Berhentilah, air mata!

Bu Hakim. Terima kasih banyak.

Kau sudah mendengarkan cerita kami

dan menangis bersama kami.

Aku lebih berterima kasih.

Beraninya dia mempermainkan hati nurani hakim.

Akan kupastikan dia mendapat hukuman sepadan.

Terima kasih, Bu Hakim. Terima kasih.

Kalau begitu, bisakah kalian menceritakan

semua yang terjadi antara Moon Jeongjun dan Bu Cha

tanpa terkecuali?

Kopi & Teh Manis

Hei, Eunseop. Apa kau tahu ada hierarki dalam hal kopi panas?

Tidak, aku belum pernah dengar.

Ya, ini Han Daon.

Kalian bersamanya selama lima jam?

Hakim Kang menangis?

Dia menangis karena sakit hati?

- Hakim Kang. - Halo, Pak Kepala.

Jika kau meminta maaf sekarang, aku akan memaafkanmu.

- Soal apa? - Kau mempermalukan jaksa saat sidang.

Oh, soal itu?

Mereka ingin mempermasalahkan ini dan aku tak bisa mencegahnya.

Kalau begitu, kenapa mereka bertindak memalukan?

Kudengar kau berkata tak ada keadilan

di depan sekumpulan anak TK.

Apa itu sikap seorang hakim?

Tapi memang benar tak ada keadilan.

Hakim Kang. Jika hakim memakai riasan tebal begini,

apa yang orang lain pikirkan?

Mungkin menganggapku cantik.

Bagaimana? Aku cantik, 'kan?

Ya.

Penampilan, cara bicara, dan sikap ini

sama sekali tak seperti dirimu.

Aku tak akan bertanya seperti apa diriku. Itu membosankan.

Aku tak penasaran.

- Apa? - Aku harus pergi karena sibuk. Permisi.

Jika bukan karena Anggota Dewan Jeong...

Bagaimana bisa seseorang berubah sedrastis itu?

Itu kecelakaan traumatis.

Pembunuhan berantai tak terpecahkan...

PEMBUNUHAN BERANTAI DI INGGRIS...

Kau akan pulang, 'kan?

Pesankan sup tahu pedas. Aku lembur.

KANTOR HAKIM

Apa ini? Senyumannya membuatku cemas.

KEKERASAN BERAT...

Apa ada hal baik yang terjadi?

Akhirnya aku menemukan satu orang.

Namanya Moon Jeongjun.

Bukankah kau merelakannya?

Namun, itu terlalu kejam bagi manusia.

Apa urusannya? Kita bukan manusia.

Lagi pula, bukan saatnya memikirkan makhluk lain.

Kau tak ingat perbuatan laba-laba itu padaku?

Jika tak berhasil memenuhinya,

maka kau akan mati.

Kau ingin mati?

Pesankan telur gulung juga. Tambah keju.

Baik.

Hadirin dipersilakan duduk.

Kasus nomor 2024GoDan175.

Saya akan mengumumkan vonis terdakwa.

Moon Jeongjun menjalin hubungan dengan korban

dan dia terus melakukan kekerasan terhadap korban.

Korban ingin mengakhiri hubungan itu,

tapi terdakwa justru menyerang korban dengan cara yang lebih brutal.

Terdakwa memperlakukan korban seperti miliknya

alih-alih manusia independen. Ini merupakan tindak pidana serius.

Oleh karena itu, terdakwa harus mendapat hukuman berat.

Namun, permohonan keringanan yang diajukan oleh korban

dan terdakwa yang berjanji untuk memperbaiki kesalahannya

juga harus dipertimbangkan.

Selain itu, terdakwa sangat menyesali perbuatannya

dan ini pelanggaran pertama terdakwa.

Merampas kesempatan terdakwa yang masih muda

untuk hidup sebagai anggota masyarakat aktif

merupakan tindakan yang kejam.

Dengan demikian, putusan pengadilan adalah sebagai berikut.

Terdakwa, Moon Jeongjun, dengan ini diperintahkan...

untuk membayar denda sebesar tiga juta won.

- Apa? - Itu konyol.

Apa? Denda? Tidak masuk akal.

Apa? Itu...

Terima kasih, Yang Mulia. Terima kasih.

Terima kasih!

Sayang.

Ini tidak masuk akal.

Bagaimana dengan Minjeong? Astaga.

Hakim Kang. Hakim Kang Bitna!

Aku tahu kau ingin berkata apa, jadi, tak usah.

Aku hanya memutuskan menurut hukum.

Keputusan menurut hukum?

Hukum untuk siapa yang kau maksud?

Korban sudah memaafkan pelaku.

Apa lagi yang harus dilakukan oleh hukum?

Kau tahu dia takut terdakwa akan membalas dendam.

Bukankah seharusnya hakim mempertimbangkan perasaan korban?

Hakim bukanlah konselor psikologis atau pembaca pikiran.

Tidakkah kau bersimpati dengan kesedihan mereka?

Jadi, kau bohong ingin memberinya hukuman setimpal?

Kau menggemaskan.

Seperti anjing kecil yang menggonggong pada hukum yang ditakuti.

- Apa? - Aku tak bersimpati pada mereka.

Aku juga tidak merasa kasihan terhadap korban.

Mungkin aku meneteskan air mata karena menguap.

Tapi aku tidak bohong saat berkata dia akan mendapatkan hukuman setimpal.

Dan denda itu pantas dia terima?

Berpikirlah sesukamu.

Lain kali saja kuajak kau jalan-jalan.

Karena sementara ini aku akan sibuk.

PUSAT PENAHANAN SEOUL

Kenapa kau kemari, Detektif?

Sedang apa? Cepat makanlah.

Apa maksudmu?

Aku mengurungmu di sini.

Namun, kau bebas hanya dengan denda. Rasanya...

itu sangat buruk.

Jangan dekati Cha Minjeong ke depannya.

Hiduplah tanpa membuat keributan.

Kau sedang mengancamku?

Bukan, kuberi kau peringatan.

Peringatan bahwa hukum tak akan mengampunimu dua kali.

Hei.

Jika aku murka,

tak ada yang bisa jamin apa yang akan kulakukan.

Jaga sikapmu.

- Baik. - Bagus.

Jangan lupa bersihkan ini.

Minjeong, ini Ibu. Buka pintunya.

Pergilah.

Minjeong, kau tak boleh tetap di sini.

Ikutlah bersama Ibu dan Ayah. Ya?

Jangan menghubungi atau datang menemuiku.

Pergilah! Pergi!

Minjeong, Ibu mohon jangan begini.

Minjeong, kami akan turuti maumu.

Namun, hubungi kami kapan pun jika kau ingin pulang. Mengerti?

Ayah akan langsung jemput.

Kami mampir ke toko roti favoritmu dan membeli beberapa roti.

Pastikan kau memakannya.

Namun, jangan makan terlalu cepat karena kau akan sakit perut.

Minumlah susunya juga.

Bu Cha, jangan terlalu khawatir.

Kutinggalkan jam tangan pintar di pintu.

Jika kau menekan tombol SOS, kami akan langsung datang.

PENGADILAN

SEKALIPUN SURGA RUNTUH, MASIH AKAN ADA KEADILAN DI BUMI

TEMPAT SAMA BISA MENJADI SURGA ATAU NERAKA

Ya, baiklah.

Astaga, sudah makan siang.

Aku akan memeriksa kondisi Cha Minjeong.

Namun, apa tugas detektif adalah menjaga rumah korban

siang dan malam?

Aku bukan menjaga rumah korban, tapi melindungi mereka.

Ucapan Eunseop benar.

Kita sudah berusaha maksimal.

Kita minta perlindungan dan meningkatkan patroli di area itu.

Moon Jeongjun juga tenang dua pekan ini.

Karena itu aku makin khawatir.

Dengar, apa kau tidak akan mengerjakan kasus lain?

Dia bukan manusia. Kita tak tahu apa yang akan dia lakukan.

Kau benar,

tapi mau sampai kapan kau begini?

Astaga, kepalaku pusing.

- Daon. - Ya?

Mulai hari ini, periksa kondisi Bu Cha sekali saja di malam hari.

Tapi...

Jika ini bisa dicegah oleh satu petugas,

akan kuminta kau berjaga selamanya.

Namun, kau tahu kenyataannya.

Selagi kau di sana, kasus lain akan terjadi di tempat lain.

Dan akan ada korban lain juga.

Aku paham perasaanmu.

Karena aku pun merasa begitu.

Ayah, ini aku.

Minjeong. Ada apa?

Bisakah Ayah menjemputku?

Ini membuatku gila.

Sialan.

Kenapa dia tak ada kabar?

Aku?

Bukan kau. Moon Jeongjun.

Begitu.

Mungkin dia menyesal.

Atau jika kau melakukan itu,

kau akan tahu apa yang sedang dia lakukan.

Itu?

MOON JEONGJUN

Kau mau pulang?

Tidak, aku akan bekerja.

Aku harus pulang.

Untuk mendaur ulang.

Apa itu Ayah?

Siapa kau?

Aku polisi. Apa kau baik-baik saja?

Ya.

Namun, ada urusan apa?

Detektif Han memintaku membawakan sesuatu.

Letakkan saja di depan pintu.

Baik.

Aku merindukanmu, Minjeong.

Hei.

Kau mau ke mana?

Kenapa kau tak membukakan pintu?

Berikan padaku. Apa Detektif Han memberimu ini?

Apa hubungan kalian?

Sudah kubilang jangan temui pria lain, 'kan?

Kemarilah.

- Hentikan. - Kenapa kau tak membukakan pintu?

Kenapa?

- Hentikan. - Apa kabarmu baik?

Kutanya bagaimana kabarmu selama ini.

Kau tak merindukanku?

Jawab. Apa kau tak merindukanku?

Tolong hentikan.

MOON JEONGJUN

Kau bilang akan melepaskanku

jika aku menulis surat pernyataan.

Benar, tapi aku sangat merindukanmu.

Lepaskan aku.

Kumohon biarkan aku pergi.

Baiklah. Akan kulepaskan.

Sebagai gantinya...

bolehkah kubunuh orang tuamu?

Jika kau melapor polisi sekali lagi atau kembali ke rumah orang tuamu...

Akan kupukuli ayahmu juga.

Rencana MINGGUAN

Cantik sekali.

CINTA MATI MILIKKU SELAMANYA!

Aku akan kembali. Tetaplah menjadi cantik.

Dia mati.

Sepertinya kau sedang senang.

Apa kau dari suatu tempat?

Bukankah kau hakim itu?

Aku hanya keluar sebentar.

Omong-omong, kenapa kau di sini?

Bagaimana kalau kita bicara di tempat tenang?

Mau membicarakan apa denganku?

Kemarilah. Ini tak akan lama.

THE JUDGE FROM HELL

Gehenna.

Surga itu tempat seperti apa?

Aku belum pernah ke sana.

Lalu apa Neraka mengerikan seperti yang dibayangkan?

Sungguh menakjubkan dan begitu indah.

Sama sepertiku.

Semua manusia ingin berjalan melewati ladang bunga.

Namun, jangan tertipu oleh kecantikannya.

Sebenarnya itu sangat berbahaya.

Sama sepertiku.

Begitu menyentuh bunga itu,

kau akan melihat Neraka di pikiranmu.

Namun, tak perlu takut.

Neraka setelah mati memang mengerikan,

tapi tak separah yang harus dihadapi selama hidup.

Karena tempat tinggal kalian saat inilah

Neraka sesungguhnya yang penuh dengan manusia bagai iblis.

Kau menyebut dirimu iblis.

Aku memang iblis.

Ya, kau memang iblis.

Aku penasaran kenapa iblis datang dari Neraka?

Karena mendambakan dunia manusia? Atau ingin menjadi manusia?

Mana mungkin?

Tak ada yang lebih kubenci daripada manusia.

Pengadilan

Hei, tunggu.

Kau Kang Bitna.

Manusia yang kabur.

GREMORY SIPIR DISTRIK 3, NERAKA PALSU

Kenapa Kang Bitna mati?

Aku juga tak tahu. Kudengar dia ditusuk.

Dosa apa yang dia perbuat?

Haruskah kuberi tahu itu juga?

Ada banyak orang yang kehilangan nyawa dari kasus seperti ini. Apa itu salahku?

Apa yang terjadi pada Minjeong?

Bagaimana setelah melihat hasil keputusanmu?

Namun, Han Daon masalahnya. Aku merasa dia terus menggangguku.

Aku pernah membunuh sebelumnya. Bahkan membunuh tiga orang.

Kau akan menerima akibat dari perbuatanmu.

Kaulah yang akan menyesalinya, Jalang!

Kau tak akan pernah bebas dariku.

Sudah kubilang, 'kan? Ini pengadilanmu yang sesungguhnya.

Diterjemahkan oleh Meidinna Fitrie Lestari

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.