Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Cepat!
Kenapa kita lebih memilih menonton ini daripada film?
Jika mereka kehilangan fokus sesaat saja...
Maka kau harus membersihkan puing-puingnya dengan sekop.
- Kau berharap melihat kecelakaan? - Tentu saja.
- Kau gila, Hunt. - Ayo!
Lihat, Nick datang dengan membawa makanan kita.
- Hei, kawan. - Hei.
Akhirnya.
Dari mana saja kau?
Astaga.
- Saatnya diet, Nicky. - Terima kasih.
Bagus.
- Ini. Mau minum? - Itu Jack Daniel?
- Ini Jim Beam, temannya. - Nanti saja.
Bolehkah kekasihku pinjam teropongmu?
Sebenarnya ini bukan teropong. Tapi...
Minum saja sesukamu.
Cepat!
Craig Perry menutup jalan Mark Helfrich...
Yang coba mengejarnya di jalur lurus.
Hei. Terima kasih sudah mengajakku cuti belajar.
Aku memang butuh hiburan.
Permisi. Maaf.
Nyaris sekali!
Bagus. Apa yang kulewatkan?
- Kau bisa melihat arenanya? - Maaf, tidak terlalu.
- Kau mau aku geser? - Kau keberatan?
- Dengan senang hati. - Terima kasih.
Kukira kesopanan sudah tak ada.
Itu tidak benar. Aku punya pacar yang sopan.
Cari kamar saja.
- Hei. Pakai ini! - Jangan pakai tampon, Bu.
Pakai saja!
Nick.
- Ini geli. - Astaga!
Jangan.
Ibunya menyumpal tampon di telinga anak-anaknya.
Merusak pemandangan saja.
- Aku tidak bisa melihat. - Yang di depan duduk, berengsek!
Mendekati setengah poin.
Penjaganya datang.
Tuan.
Tolong turunkan kakimu. Terima kasih.
- Berapa usia bangunan ini? - Entahlah.
Cepat.
Ganti ban!
Oli motor
- Apa duduk di sini aman? - Tentu, di sana ada pagar.
Santai saja.
Para Pembalap Tercinta dalam Kenangan.
Hidup penuh penderitaan lalu mati.
Ada pertanyaan?
Kau merasakannya?
- Baru saja. Di sini. - Kau baik-baik saja?
Aku merasa ada sesuatu yang aneh menyentuhku.
Ayo, cepat.
Cepat.
- Periksa semua. - Bagus.
Jalan!
Tunggu! Obengnya! Sial.
Sial.
Cepat pergi!
Sial!
- Astaga. - Minggir!
Cepat.
Cepat.
- Tunggu, anak-anak! - Ayo, Bu! Ibu!
- Ada pintu keluar di sini! - Ayo, cepat!
- Hunt! - Janet!
- Minggir! - Ada pintu keluar di sini! Cepat!
- Ke sini! Cepat! - Terus jalan.
Lori!
Sial.
Hunt!
Cepat keluar dari sini! Ayo.
Ayo!
Ada apa? Kau baik-baik saja?
Nick, apa ada masalah?
Ini Jack Daniel?
- Tidak, ini... - Jim Beam, temannya.
Kau tahu tempat penyimpanan rahasiaku, dasar penyelinap.
Ada pria bertopi koboi duduk di sini.
Permisi. Maaf.
Koboi.
Dia akan menyumbat tampon pada telinga anak-anaknya.
- Siapa? - Wanita itu. Di sana.
- Pakai ini di telinga kalian. - Jangan pakai tampon, Bu.
Bagaimana kau tahu itu?
Untuk satu wanita, penyumbat itu terlalu banyak.
Ada apa, Nick?
Yang di depan duduk, berengsek.
Yang di depan duduk, berengsek!
Penjaganya datang.
Tuan, tolong turunkan kakimu.
Terima kasih.
Cepat! Ganti bannya!
Itu mobil yang akan tabrakan. Kita harus pergi dari sini.
- Syukurlah. - Tidak. Aku sudah taruhan 500 dolar.
Kenapa tidak? Kita harus keluar, paham?
Sesuatu akan terjadi. Kita semua akan mati.
Akan ada kecelakaan besar.
- Itu tidak lucu! - Kita harus pergi sekarang!
Nick, tenanglah!
Ada apa denganmu? Lepaskan aku!
Tunggu, anak-anak!
Kuhajar kau, berengsek!
Berengsek. Sial.
- Andy. - Tunggu di sini!
Yang benar saja!
Apa kau sudah gila?
Menakutkan. Akan ada kecelakaan besar!
- Tentu saja akan ada kecelakaan. - Tunggu. Kecelakaan apa?
Maksudku, kecelakaan ini.
Kau gila! Itu alasanku datang ke pertandingan bodoh ini!
Jangan tersinggung.
- Pak, jangan. - Tapi istriku di dalam!
- Lepaskan aku! Aku harus temukan... - Tak bisa, Pak.
- Tenanglah. - Apa yang terjadi?
Apa kalian sudah gila?
- Ini pesanannya. - Terima kasih.
Dia datang.
Nick, firasatmu itu seperti mimpi atau suara di kepalamu?
Aku hanya melihatnya.
- Kita lupakan saja hal itu. - Kau bercanda?
Aku tak akan bisa melupakan kejadian itu.
- Wajah gadis itu... - Janet, aku tahu ini sulit.
- Kita juga takut. - Tapi kenapa kita selamat?
Siapa peduli? Jika kita selamat, berarti kita pantas hidup.
Bisakah kau berhenti memainkan koin keberuntungan itu?
- Kecelakaan di Arena McKinley. - Lihat.
Total korban meninggal saat ini 52 orang.
Acara peringatan akan diadakan...
Di Arena McKinley besok malam.
Kurasa sebaiknya kita pergi ke acara peringatan itu.
- Aku tak bisa kembali ke sana. - Ya.
Setidaknya kita bisa beri penghormatan pada mereka.
Siapa mereka?
Mereka yang tak punya Dr. Xavier untuk menyuruh keluar dari sana?
Mereka yang tak punya koin keberuntungan ini?
Cium koin ini, Janet.
Terserah bagian mana, tapi aku suka yang depan.
Aku tak percaya pernah mengencanimu.
Aku tak percaya kau sangat beruntung.
Dengar, kita masih hidup.
Sesuatu telah memberi kita kesempatan kedua.
Jadi, bersyukurlah dan gunakan kesempatan ini sebaik mungkin, ya?
Ayo, kita pergi.
- Kau baik-baik saja? - Ya.
Baiklah.
Hai.
Syukurlah kau datang.
Aku ingin berterima kasih. Kau pahlawan.
Berkat kau, kami masih hidup dan kedua putra kami selamat.
- Aku bukan pahlawan. Aku... - Tapi kau tahu.
Bagaimana kau tahu peristiwa itu akan terjadi?
- Entahlah. - Kami senang kalian tak apa-apa.
- Jaga diri kalian. - Terima kasih.
- Aku senang kalian selamat. - Terima kasih.
Maaf, aku petugas keamanan. Namaku George.
- Nick. - Lori.
- Hai. - Hai.
Aku takut saat ada yang berterima kasih padaku tadi.
- Aku ingin tanya bagaimana kau... - Kau membunuh istriku.
Aku ingin masuk untuk mencarinya, tapi...
- Kau... - Aku turut berduka.
Tak ada yang kekal, orang kulit hitam.
- Kau tak perlu seperti itu. - Jangan ikut campur, orang aneh.
Waktunya kau pergi, Pak.
Waktu?
Waktumu akan segera tiba.
- Ada apa? - Aku baru saja bermimpi buruk.
- Tak apa, itu hanya mimpi. - Mimpi itu terlihat nyata.
Tenanglah dan tidurlah lagi.
Aku di sini.
Bu, ini sudah larut. Kenapa belum tidur?
Baiklah.
Tidak, semua baik-baik saja.
Pencandu Alkohol Tak Dikenal.
Baiklah.
Waktumu habis.
Tidak!
Bokongku. Tolong!
Tolong! Bangunlah! Kumohon tolong aku! Aku terbakar.
Astaga.
Bokongku terbakar.
- Ada apa? - Lori. Nyalakan Saluran 7 sekarang.
Kau ingat pria rasis dari arena balap itu? Dia mati.
Apa?
Ya, sebentar.
Dari kecelakaan yang ganjil.
Meski penyelidikan masih berlangsung...
Pihak medis menyebutkan Daniels tewas di tempat.
Nick, kemarilah.
Carter Daniels tinggal di Fort Wayne.
Penyebab kematian Daniels masih belum jelas.
Diketahui bahwa korban terseret truk derek di sepanjang jalan.
Mau dengar sesuatu yang aneh?
Aku pernah lihat pintu itu sebelumnya.
Saksikan berita terkini lainnya nanti.
Aku tutup teleponnya. Kuhubungi lagi nanti.
Sampai nanti.
Ada apa?
Kau masih ingat mimpiku semalam?
Kurasa itu bukan mimpi.
Itu seperti penglihatan.
Aku melihat api, pengait, dan pintu merah itu.
Dan kini pria rasis itu mati.
Mimpi itu seperti petunjuk bagaimana pria itu akan tewas.
Aku baru saja melihat petunjuk lain.
Kau melihat bagaimana orang lain akan mati?
- Siapa? - Entahlah. Ini tak masuk akal.
Sejak peristiwa itu, aku merasa ada sesuatu dalam diriku.
Apa yang terjadi padaku?
Lihat! Kemarilah.
Pasti kau tak bisa mengenai rambu itu dengan batu.
Ayo.
Bensin.
Ya!
- Hentikan itu. - Lemparan bagus.
Apa kalian bodoh? Pergi dari sini!
Baik, kemarilah.
Mainlah video game dan kembali satu jam lagi.
- Baiklah. - Hore.
- Sama-sama! - Terima kasih, Bu!
Cheyene, maaf aku terlambat.
Aku ada janji dengan Richard pukul 5.
Kau tak terima pesan kami?
- Hari ini Richard cuti. - Tidak. Apa?
Ada yang tewas di perumahannya. Terseret dan terbakar di jalanan.
- Itu mengerikan, bukan? - Salah dia sendiri.
Jadi, apa ada yang bisa mengurus rambutku?
10 menit lagi pukul 6 dan kami tutup pukul 6.
Aku paham. Tapi anak-anakku sedang main game.
Dan malam ini ada pertemuan dengan temanku awal bulan.
Aku sangat menantikan ini. Kumohon.
Lihatlah rambutku.
- Kau menang. - Terima kasih banyak!
Maaf, tapi ini terlalu ketat.
- Maaf. - Tidak apa-apa.
Dee Dee, terima kasih sudah mau lembur.
Sudah berapa lama kau memotong rambut?
Cukup lama.
Kursi sialan.
Aku sudah sering minta agar kursi ini diperbaiki.
- Dee Dee. - Ya.
Bisa ambilkan minuman untukku?
- Tak masalah. - Terima kasih.
- Bagaimana? - Hampir selesai.
- Aku suka warna madunya. - Sungguh?
Maafkan aku.
- Itu tak akan terjadi lagi. - Tak apa-apa.
Bu.
Astaga. Kalian baik-baik saja?
- Terima kasih, Dee Dee. - Sama-sama.
Selamat bersenang-senang.
- Hentikan. - Hentikan tingkah kalian!
Maafkan aku. Aku akan terus mengawasi mereka sampai kuliah.
- Sekolah militer? - Mungkin.
Ayo, anak-anak.
Cepat masuk mobil! Ibu akan mengawasi kalian.
Astaga!
Ini wanita dengan 2 anaknya dari arena balap itu.
Kita baru saja kehilangan ibu yang seksi sekali.
- Ini masalah serius. - Benar.
Bukankah agak aneh jika 2 orang yang diselamatkan Nick kini tewas?
Yang aneh adalah menyumbat telinga anakmu dengan tampon.
- Cepat atau lambat dia akan mati. - Karena itu kami memanggil kalian.
Malam sebelum itu terjadi, Nick bermimpi aneh.
Aku senang membatalkan main golf untuk ini.
Itu bukan mimpi, tapi seperti suara dan gambar acak.
Sungguh tidak masuk akal.
Lalu aku tahu apa yang membunuh mereka.
Dan aku melihat bagaimana orang berikutnya tewas.
Apa maksudmu dengan "orang berikutnya"?
Jangan tertawa.
Semalam kami menelusuri internet soal firasat dan pertanda.
Hanya untuk info saja.
Ada banyak artikel soal orang yang punya firasat akan bencana.
Mereka berhasil menghindari bencana itu.
Lalu mereka mati.
Manusia memang akan mati. Lantas?
Semuanya tewas sesuai urutan kematian mereka saat kecelakaan.
Kita selamat. Jadi kini kita semua akan mati?
- Siapa yang berikutnya tewas? - Aku tidak ingat.
Tapi mungkin kita bisa menghindarinya.
Ada yang bilang rangkaiannya bisa diubah.
Jika kau cegah kematian orang lain, maka rangkaian itu akan berakhir.
Tapi jika rangkaian itu tidak rusak seluruhnya...
Berarti urutannya hanya dilompati.
- Dan giliranmu akan tiba. - Itu ucapan gila yang menyeramkan.
- Diam, ini tidak lucu! - Dia terlalu banyak menonton TV.
Hal ini membuatku sangat takut.
Janet, tak apa, kita hanya cari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Kalian pikirkan saja tanpa aku. Kalian bisa hubungi aku nanti.
Aku harus pergi. Semoga kau senang membahas ini!
Kembalilah, Janet. Jangan pergi.
Tidak, Lori!
Ada apa dengannya? Dia bertingkah seperti orang gila.
Kau selalu menyebalkan. Dia baru saja melihat orang mati di depannya.
- Kita semua melihatnya. - Dan kita semua ketakutan.
Apa simpati bisa membuatmu mati?
Entahlah. Aku tak pernah mencobanya.
- Kau mau ke mana? - Jika soal rangkaian ini benar...
Maka aku akan menikmati sisa hidupku.
Aku akan melakukan keahlianku, yaitu bercinta.
Jika aku mati, setidaknya aku sudah mencoba.
Lanjutkan usaha kalian.
Dan jika bertemu Janet, akan kupastikan dia baik-baik saja.
Terima kasih.
- Semuanya lancar. - Mereka pikir kita gila. Bagus.
Mungkin kita memang gila.
Mungkin semua kejadian ini hanya kebetulan saja.
Kau pikir begitu?
Kuharap begitu.
Dia di sini.
Nick. Apa yang kau lihat?
- Kurasa kita bisa menghentikannya. - Bagaimana caranya?
Kita harus kembali ke arena balap itu.
Astaga. Lihat tempat ini. Semua orang di sini...
- Aku tak mau ada di sini. - Aku tahu.
Tapi hanya ini yang bisa membantuku mengingat urutannya.
Di sini. Ini tempat duduk kita.
Kita lihat apa cara ini berhasil.
Pacar si mekanik yang pertama mati.
Lalu pria rasis itu dan istrinya.
Wanita itu dengan anak-anaknya, dia berikutnya.
Ayo kita pergi. Seharusnya kita tidak ke sini.
Aku tak ingat siapa yang berikutnya mati.
- Sudahlah. - Aku tak tahu harus bagaimana.
Mungkin ini bukan ide yang bagus.
Tidak. Aku harus coba mengingatnya.
Sebaiknya kau punya alasan bagus untuk masuk tanpa izin.
Aku hanya perlu mengingat urutannya.
Itu terdengar gila. Tapi mungkin ini bisa membantumu.
Dari sini terlihat semua rekaman video kamera kami.
Di sana.
Di sanalah pria berjaket mekanik itu tewas.
- Berarti dia yang berikutnya. - Kurasa begitu.
Reruntuhan itu yang membunuh Hunt dan Janet.
Dan saat itulah kau tewas.
Lalu Lori.
Yang terakhir, aku.
Jika kita menolong mekanik itu, mungkin rangkaiannya bisa dirusak.
Kita semua bisa selamat.
Tapi kita tak tahu namanya atau apa pun soal dia.
Tapi kita tahu tempat dia bekerja.
Grandstate Customs.
- Taruh di belakang. - Tunggu sebentar.
Bensin.
Hei!
Siapa yang berbuat bodoh seperti itu?
- Apa yang kalian lakukan di sini? - Kami mencarimu.
Maaf, tapi jujur kau dalam bahaya. Kurasa kau akan mati.
Tiga orang yang pergi dari stadium sebelum kecelakaan terjadi...
Kini mereka semua mati.
Maaf, tapi kami rasa kau yang berikutnya.
Kalian serius?
Andy, kau tak boleh terima tamu di sini. Bawa mereka keluar.
- Tamu dilarang masuk. - Ayo.
Dengar, aku sedang mencoba untuk bangkit.
Melihat Nadia tewas seperti itu di hadapanku...
Aku mengerti perasaanmu.
Aku kehilangan istri dan putriku saat kecelakaan mobil.
Saat itu aku mengemudi sambil mabuk.
Setiap hari aku bertanya, kenapa bukan aku saja yang mati?
Sudah lama aku hidup menanggung rasa sakit dan amarah.
Rasa itu merusak kenangan tentang mereka.
Kini aku menjalani hidup untuk menghormati kenangan mereka.
Aku tak mau memberi kabar buruk, tapi perasaanku tak enak.
Tiap hari aku dikelilingi peralatan berbahaya.
Jika aku harus mati, itu akan terjadi saat ini juga.
Awas!
- Sial. - Kau baik-baik saja, Andy?
Ya.
Kurasa sekarang bukan giliranku untuk mati.
Jaga diri kalian.
Kau tak apa?
Jika kau bisa mencegah kematian yang berikutnya...
Aku lihat petunjuknya, tapi tak bisa satukan semua.
- Berpikirlah. Siapa selanjutnya? - Entah.
Kita harus ingatkan temanmu.
- Caranya? - Siapa yang lebih dahulu mati?
Mereka tertimpa reruntuhan. Entah.
Nick, berpikir, konsentrasi.
Pasti ada yang mati lebih dahulu, walau beda sedetik saja.
Lebih dahulu Hunt atau Janet?
Kalian cari Janet dan aku cari Hunt, ya?
Bagus. Lebih cepat.
Lebih cepat. Terus begitu. Jangan pelan. Terus cepat.
Berhenti bergerak.
- Astaga. - Terus bergerak.
Bagus. Bangun. Jangan menyerah. Aku belum selesai.
Astaga.
Jangan.
Kau bercanda?
Aku sudah klimaks 4 menit lalu.
- Pernah coba gaya donkey punch? - Berengsek.
Nona, bisa beri aku sedekah?
Dua panggilan tak terjawab.
Tentu saja.
- Terima kasih. - Semoga harimu menyenangkan.
Kita lihat dapat berapa, Brownie.
Satu sen? Omong kosong!
Sial.
Bagus!
Ayo, menutuplah, benda sial!
Ayo, angkat teleponnya. Kau ada di mana?
Air
Ini Hunt. Kau tahu harus bagaimana.
Hunt, dengarkan aku. Menjauhlah dari air.
Kau punya tiga pesan tertanda darurat.
Lucu, ya?
- Berikan senapan itu padaku. - Tidak.
Berikan senjata itu.
Tidak mau.
Berikan.
Kenapa dengan ponselku?
Pengurasan Kolam Menyala.
Sial.
Sempurna.
Hei, Lori. Aku di pencucian mobil. Kuhubungi 5 menit lagi.
Janet, tunggu! Sial.
Kau tahu tempat pencucian mobil di sekitar sini?
- Ya, di 18th Street. - Kita harus ke sana.
Bagus. Aku mengalahkanmu, mesin.
Harap netralkan kendaraan. Turunkan antena.
Lepas rem kaki.
Dilarang menyentuh kemudi.
Lori? Ada hal penting apa? Apa? Air?
Air? Lori? Tunggu. Lori.
Sial!
Tak ada jaringan.
Sial!
Ayo!
Ayolah!
Tidak.
Menutuplah!
Tolong!
Astaga.
Tolong aku!
Tolong! Kumohon!
Ayo terbuka! Tolong!
Angkat teleponnya, Janet!
Tolong!
Tolong. Ayo terbukalah!
Kita hampir sampai.
- Sial. - Awas!
Tidak.
Tidak.
Tidak.
Tidak.
- Itu dia! - Cepat!
Putar balik, George. Dia ada di dalam.
Tidak!
Maju terus!
Lori! Keluarkan aku dari sini!
- Sial. Aku datang! Bertahanlah! - Ayo, cepat.
Tolong!
Aku datang.
Ayo.
Hunt!
Sekarang kita harus bagaimana?
Apa yang akan terjadi pada kita?
Menyelamatkan Janet bisa merusak rangkaian kematian itu...
Kita semua pulang dengan selamat.
Atau hanya melompati Janet untuk sementara, lalu...
- Lalu aku yang berikutnya. - George, jangan menyerah.
- Tidak apa-apa. - Apa maksudmu?
- Mungkin jika kita... - Aku pasrah akan hal itu.
Keluargaku sudah menungguku.
Aku sudah siap mati.
Setelah ini selesai, kita pastikan keamanan barang di kamar.
Aku tak mengerti kenapa George bisa tenang mengenai hal ini.
- Mungkin dia trauma. - Bukan begitu.
Sudah jelas. Dia menerimanya.
Menurutku dia menyerah.
Jika dia mati, berikutnya aku.
Saat itu terjadi, sebaiknya kau jaga jarak dariku.
Apa maksudmu? Ayolah.
Aku tak ingin terjadi sesuatu padamu.
Jika kita bersama, kematian akan lebih mudah menghampiri kita.
Aku tak peduli. Kita hadapi ini bersama.
Melalui...
- Tindakan... - Lihat.
Mungkin tak ada yang perlu mati. Kita harus beri tahu George.
Halo?
George.
Kami rasa rangkaiannya sudah rusak karena kita menolong Janet.
George.
- George. - George.
Ya, Tuhan.
Astaga, George.
Astaga.
Apa kau gila? Setelah semua yang kita lalui?
Apa yang kau lakukan? Kenapa bunuh diri?
Aku hanya ingin berikan apa yang diinginkan Tuhan.
Aku sudah coba bunuh diri seharian.
Aku minum sebotol obat penenang, tapi justru muntah.
Aku ke garasi, kusangkutkan selang air pada knalpot...
Dan kumasukkan ke mobil, tapi mesin mobilnya mati.
Lalu...
Tunggu.
Berarti menyelamatkan Janet sudah mengakhiri rangkaian itu.
Kurasa kita pantas merayakannya.
- Untuk rangkaian yang terputus. - Jus apel?
Terima kasih.
- Terima kasih, Tuhan. - Mari bersulang.
- Untuk kehidupan. - Untuk kehidupan.
Kita sudah diberi kesempatan kedua. Jadi, apa rencana kalian?
Aku punya rencana untuk kami.
Jalan-jalan ke Paris. Atau ke pantai Saint Tropez.
Aku bersyukur atas perjalanan hidup yang masih panjang.
Benar.
Kini semua sudah usai. Aku tak akan menyia-nyiakan hidup.
Mungkin saatnya berhenti bicara, dan mulai melakukannya.
- Kita hidup hanya sekali, 'kan? - Aku setuju.
Biar aku ambil kuenya.
- Kita berhasil. - Benar.
- Hai. - Hai, sayang.
- Sudah dapat cek perjalanannya? - Sudah.
- Apa ada yang perlu dibeli di mal? - Tidak, kurasa sudah cukup.
Kau yakin tak mau ikut ke bioskop? Filmnya 3-D.
Love Lays Dying? Tidak. Itu film untuk wanita.
Semua barang akan siap saat kau pulang.
Amsterdam, kami datang.
Aku tak percaya kita akan jalan-jalan.
Janet sangat cemburu.
Baru saja dibicarakan. Janet sudah datang. Aku pergi dahulu.
- Sampaikan salamku. - Tentu.
- Aku mencintaimu. - Aku juga. Aku akan segera pulang.
- Sampai nanti. - Sampai nanti.
- Hai. - Hai.
Korban selamat tak dikenal dari tragedi Arena McKinley...
Kini sudah teridentifikasi dan keluarganya sudah diberi tahu.
Jonathan Groves telah diselamatkan dari runtuhan.
George, temui aku di RS secepatnya. Urutannya salah.
Kau ingat pria koboi yang duduk di depanku?
Dia tidak mati. Dia korban berikutnya.
Temui aku 5 menit lagi di RS. Aku dalam perjalanan ke sana.
- Kau merasa sehat, Tn. Suby? - Apa pedulimu?
Kau tahu berapa banyak orang sepertimu yang kubunuh di Korea?
- Aku orang Tionghoa. - Sama saja.
Aku membutuhkanmu di ruang 3 Terapi Fisik sekarang.
- Baik. - Sekarang juga.
- Baiklah. - Terima kasih.
Aku akan segera kembali untuk membantumu masuk ke bak.
Tolong!
Dia lupa mematikan airnya.
Tolong.
Tolong.
Tolong!
George.
- Di mana Lori? - Aku coba telepon dan SMS.
- Tapi dia tak mengangkatnya. - Mungkin itu tak masalah. Ayo.
Kenapa bisa ada orang lain? Dia tak keluar arena dengan kita.
Jika aku minta dia bergeser seperti di dalam firasatku, dia akan mati.
Tapi dia justru selamat. Karena itu kau tak bisa bunuh diri.
Kau berikutnya setelah dia. Begitu urutannya.
Jadi jika dia mati, aku jadi korban selanjutnya.
- Bagus sekali. - Permisi.
Ya.
- Kacamata itu keren sekali. - Bagus. Aku suka ini.
Apa itu?
Hei.
Genius sekali. Seseorang bisa terbunuh.
- Perasaanku tidak enak. - Jangan menyerah.
Waspada saja tanda bahayanya. Kita harus coba.
Ayo kita cari Lori dan Janet.
Bukan itu. Ini seperti deja vu.
Istriku bilang, deja vu adalah cara Tuhan untuk...
- Jaga dirimu. - Terima kasih.
Halo.
Bagaimana menurutmu?
Modelnya bagus dan fungsional. Aku suka.
Terlihat "Aku semakin tua, tapi masih suka bersenang-senang".
Aku tidak membelinya untukmu, tapi untuk Nick.
Dia suka melihatku pakai sneakers.
Saatnya makan siang! Kembali bekerja satu jam lagi.
- Apa toko yoghurt itu masih buka? - Kurasa masih.
- Tunggu. Tali sepatuku tersangkut. - Apa?
Tali sepatuku tersangkut.
- Bantu aku menariknya. - Aku akan tarik kakimu.
Tetap tidak mau lepas, Janet.
- Jangan panik. - Tarik kakiku lebih keras.
- Seberapa keras kau tarik? - Kau harus tarik.
- Tidak mau lepas. - Tarik.
Pergelangan kakiku terpelintir.
- Rasanya seperti sudah saatnya. - Kau baik-baik saja?
Ya.
Dua tiket Love Lays Dying. Selamat menonton.
- Terima kasih. - Terima kasih.
- Hai, nona-nona. - Hai.
Studio 13, pintu kedua sebelah kiri.
Terima kasih.
Dia di sini.
Kau mau ke mana?
Susul dia! Cepat! Tancap gas!
- Kau gila? - Sebentar lagi kita sampai.
Hati-hati.
Sabarlah, kita akan segera tiba.
Keren sekali.
Sampai Maut Memisahkan Kita.
Yang di depan duduk, berengsek!
Pak, turunkan kakimu.
Pasang ini di telingamu. Suaranya semakin keras.
Apa maksudmu?
Dengar, jangan marah, tapi...
Kau ingat saat Nick melihat pertanda sebelum tragedi itu terjadi?
Kurasa sekarang aku melihat pertanda itu.
Lori, semua sudah berakhir. Tak akan terjadi apa pun.
Bisa kita tonton saja filmnya?
Yang benar saja.
- Semuanya keluar lewat sini. - Tidak bisa.
Itu akan meledak. Cepat.
Lori. Lori.
Lori!
- Diamlah! - Selamat tinggal, bodoh!
Dixieland.
- Ada yang tidak beres. - Ya, orang di sampingku berisik.
Aku serius. Ada yang tidak beres.
Akan terjadi sesuatu, seperti di arena balap itu.
- Lori, kau di sini? - Nick!
Ini belum berakhir.
- Apa? - George mati.
Mudah terbakar
- Janet, kita harus pergi sekarang. - Tidak.
Aku tak bisa begini terus. Kalian sudah gila!
- Janet, kita harus pergi! - Tidak.
Di sinilah seharusnya aku berada, bukan di arena bodoh itu!
- Ayo. - Aku ditakdirkan melihat film ini!
Selamat tinggal, bodoh!
Janet!
Ayo, Lori!
Cari pintu keluar! Tetap tenang! Semua akan baik-baik saja!
- Aku memegangmu! - Tarik aku!
Nick.
Tolong! Tarik aku! Tolong!
- Pegang tanganku! - Jangan lepaskan aku!
- Lori, aku sudah memegangmu! - Nick!
Tidak!
Ya, Tuhan. Tidak, Lori!
Istriku bilang, deja vu adalah cara Tuhan untuk...
Awas!
Lori.
Hati-hati.
Yang di depan duduk, berengsek!
Astaga.
- Awas. - Hei.
Hei. Ayolah.
Ada yang tidak beres, Janet.
Ayolah!
Sial!
Sial!
Bagaimana jika kita salah mengira urutannya?
Maka kita tak akan di sini. Tapi kini aku sedang menonton film...
Sementara sahabatku mulai gila di sampingku.
Sial.
Tempat ini akan segera meledak. Cepat!
Ayolah!
Selamat tinggal, bodoh!
Mudah Terbakar
Kurasa, dengan cara inilah aku akan diingat.
Terima kasih.
Dua Minggu Kemudian
Permisi. Apa perancah ini seharusnya begini?
Bukankah seharusnya dikencangkan lagi?
Kau benar. Kami akan memperbaikinya.
Bertindak hati-hati sangat berguna. Percayalah.
Ya.
- Teh mint ukuran kecil. - Terima kasih.
- Latte ukuran kecil untuk Janet. - Terima kasih.
Dan untukku...
Minuman apa itu?
Ini chococinno besar...
Dengan krim kocok, sirup cokelat, karamel, dan gula.
Kelihatan menjijikkan.
Ya. Aku akan koma diabetes hanya dengan melihatnya.
Tapi ini terlihat lezat.
Tapi rasanya memang menjijikkan.
Kau pria yang mencegah kebakaran di mal itu, 'kan?
Kau sudah menyelamatkan banyak nyawa.
Aku kebetulan berada di tempat dan waktu yang tepat.
Terkadang memang hal itu yang diperlukan.
- Pria tadi sangat aneh. - Jangan mengkritik penggemarku.
- Aku suka tasmu. - Terima kasih. Aku baru membelinya.
- Di mana? - Toko di sebelah Brevig's baru buka.
- Brevig? - Ya. Ada di pusat perbelanjaan.
Ada beberapa toko pangan, lokakarya...
Dia di sini.
Bagaimana menurutmu, sayang?
Kadet angkasa, kau mau kembali ke bumi?
Bagaimana jika kita tidak mengubah apa pun?
Apa maksudmu?
Bagaimana jika keberadaan kita di sini saat ini...
Adalah rencana kematian sejak awal?
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.