Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hawaiian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Pashto
Persian
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
SEBELUMNYA Kita ledakkan seluruh akses jembatan.
Kita kurung mereka semua di sini.
Agar wabah ini tidak menyebar.
Apa pun yang dikatakan Dyah Ayu tentang kain merah,
itu semua bohong.
Omong kosong.
Kita keluar dari kota ini dengan penuh kemenangan.
Pilihannya cuma dua.
Kita kembali ke terowongan sambil mencari cara lain.
Atau kita melewati mayit-mayit itu.
Anjing.
Sedikit lagi.
Berhasil, kan?
Bagus.
Bagus ide kamu, Sang.
Tenang saja, Pak.
Eh...
Aduh, anjing!
Kita lawan sajalah, Di, aku lelah.
Ya mati kita, La!
Heh, ayo, La, La!
Enggak, kamu lari saja.
Cari Mbak Maya, Di, biar aku tahan mayit-mayit di sini.
Kalau mau mati, kita mati bersama.
Aku enggak akan meninggalkan kamu, La.
Anjing...anjing...
- Pegang, Pak. - Ambil itu.
Hei...hei!
Whoa...whoa...
- Hei, hei! - Itu mereka.
Adi, Ela, ayo naik! Cepat!
Ayo, ayo.
Ayo...ayo, jalan!
Ibu, saya sudah berada di lokasi.
Kami siap melaksanakan sesuai dengan rencana Ibu.
Pastikan semua aman tanpa gangguan.
Segera laksanakan,
kita sudah tidak punya banyak waktu lagi.
- Siap, Ndan! - Siap, Ndan!
Pasti ada jalan lain, kan, Pak?
Hah?
Ada, tapi lewat jalan utama.
Tapi kita enggak tahu di situ ada ribuan mayit,
atau puluhan polisi jaga di sana.
Enggak mungkin.
Kalian dengar, enggak?
- Mayit? - Bukan.
Bukan mayit, May.
Polisi ini.
Adi!
Om Risang!
Mbak Maya.
Om!
hei, hei...
Kalian kok bisa sampai di sini?
Mereka yang bantu kita, Mbak.
Heh, Seno!
Pak Zaenal.
- Kamu baik, No? - Baik, Pak.
Mbak Maya...Mbak Maya!
Rakyatku tercinta,
sekarang waktunya telah tiba.
Memang berat,
karena kita akan meninggalkan tempat tinggal kita.
Tapi ini untuk kebahagiaan kita.
Iya!
Ini demi masa depan anak cucu kita.
Iya!
Bersama...kita akan selamat.
Iya!
Kita pasti selamat!
Kita akan selamat!
Yosep.
Seluruh bus sudah siap?
Sudah, Bu.
Bagus.
Kalau begitu keluarkan mereka lewat pintu depan,
kalau di depan sudah kacau, kita keluar lewat pintu belakang.
Jadi hujan, ya, Di?
Iya, Mbak, saat hujan mayit-mayit berhenti bergerak.
Adi lihat sendiri sama Ela.
Tanya saja Ela, iya 'kan?
Selain durian, sepertinya mereka juga lemah karena hujan.
Apa hubungannya hujan sama durian?
Sepertinya...
...hujan itu melemahkan penciuman mereka.
Mereka mencari mangsa dengan cara cium bau, kan?
Kalau mereka mencium bau manusia,
mereka akan langsung mengejar kita.
Tapi kalau mereka mencium bau busuk, mereka enggak akan mengejar kita.
Anjing.
Sekarang kita punya pilihan buat enggak perlu melumurkan...
...sampah dan bangkai itu lagi.
Oke.
Kita tunggu hujan, ya.
Enggak bisa lama-lama kita, Mbak.
Bu Dyah Ayu mau meninggalkan kota,
...dia korbankan warga dengan menjadikan mereka semua sebagai umpan.
Bangsat!
Coba saja kita bisa panggil hujan, ya.
Mungkin pawang bisa.
Pawang hujam maksud kamu?
Oh...
Temannya Eyang.
Kata Eyangnya Ela, dia semacam mewarisi kemampuan dari ibunya.
Tunggu dlu, nih, tunggu dulu.
Ini maksudnya Rara?
- Benar. - Benar.
- Enggak, enggak... - Lho?
Dengarkan ya, dengarkan.
Itu Rara, memang punya ibu yang legendaris pawang hujan.
Tapi kalau Rara sendiri itu sudah seperti penipu.
Kebanyakan gaya.
Itu kemarin ada acara olahraga, gagal total dia.
Terus sekarang pilihan Bapak apa?
Pilihannya enggak banyak, kenapa sih, enggak dicoba dulu?
Ini lebih aneh lagi, maksud kamu bagaimana?
Kita coba minta mbak Rara buat menurunkan hujan.
Sepakat.
- Ya, sepakat. - Iya, ikut.
Ide konyol.
Pilihannya enggak banyak, Pak.
Kecuali Bapak bisa mengatasi semua mayit yang Bapak buat.
Terserahlah.
Ayo...ayo...jalan...
Ayo jalan kita!
Ayo kita jalan...
Ayo cepat!
- Ayo cepat! - Terus jalan...cepat!
Ibu.
Kenapa?
Ibu yakin ini yang terbaik?
Kita sudah bahas, Yosep.
Kita sudah sepakat. Buat apa kamu masih tanya?
Saya tidak ingin kita nanti menyesali semua ini.
Kita sudah nyebur.
Kita sudah basah.
Sekarang yang harus kita lakukan...
...adalah berenang ke tepian.
Ya?
Ayo!
Saudara-saudara,
begitu hujan turun,
kita terobos mayit-mayit itu hingga kita sampai di jembatan.
Di!
Kamu yakin, kan,
mereka enggak akan menyerang waktu hujan turun?
Seratus persen.
Oke.
Beri aku waktu 30 menit,
- aku akan... - Aku saja yang berangkat.
Aku ikut. Aku ikut.
Ayo, Di.
Di!
- Hei. - Adi!
Maya, hei!
Hei, May.
- Apa sih, Mbak? - Kamu sudah enggak boleh pergi lagi.
Enggak usah egois, ya.
Tadi mbak Maya menawarkan diri, kan, buat pergi ke rumah Mbak Rara?
Kalau Mbak Maya boleh, kenapa sih, Adi enggak?
Kalau sampai...
Karena Mbak Maya belum menggap Adi dewasa, iya 'kan?
Hei.
Hei, Maya.
May.
Adi itu, sudah enggak terhitung berapa banyak mayit yang pernah dia hadapi.
Dan tandanya itu berkali-kali juga dia membuktikan...
...kalau dia sudah cukup dewasa buat jaga dirinya sendiri.
Mas...
Aku enggak bisa membiarkan kamu pergi ke sana,
aku butuh kamu di sini.
Semua orang butuh kamu di sini.
Oke.
Ada Ela yang nanti akan menjaga Adi.
Mbak Maya di sini tenang saja.
Ya, ya?
Sudah.
Sudah.
30 menit.
30 menit sejak kamu berangkat dan hujan belum turun,
segera ke jembatan.
Kita akan memikirkan juga caranya ke sana.
- 30 menit. - 30 menit.
Hati-hati.
Tenang, Kak,
berangkat ganteng, balik juga tetap ganteng, ya?
- Ayo, Di! - Jangan mati kamu!
Aman, nih?
Ayo.
La...
Apa?
Setelah semua ini sudah selesai,
kamu...
Hm?
Kamu, eh...
Kamu, mau enggak...eh...
- Kamu... - Apa, apa?
Teruskan, teruskan.
Iya, setelah semua ini sudah selesai,
kita sudah menyeberangi jembatan, sudah lolos dari para mayit,
eh, kamu...
Kamu mau enggak jadi...
Aduh, Di, kepanjangan...
Seperti pria introvert mau nembak teman wanitamu.
Lama sekali.
Sudah, ngobrol panjangnya nanti saja kalau misalnya kita...
...sudah berhasil melewati jembatan sambil minum cokelat panas.
Oke?
Ya.
Oke?
Oke.
Oke.
May.
Rumah Rara dekat 'kan dari sini?
Sepuluh menit dari ujung terowongan.
Oke.
Dua puluh menit.
Kalau sampai hujan tidak turun dalam 20 menit, kita berangkat.
Tadi 'kan janjinya 30 menit, Pak.
Dalam perang, situasi bisa berubah,
kita harus bisa beradaptasi dengan situasi.
- Tapi itu Adi baru saja pergi, Pak. - Pak, adik saya...
Kita tidak bisa menunggu setengah jam untuk menunggu ide konyol dia ini.
Kamu jangan memberi harapan kosong ke mereka.
Itu rumahnya?
Iya.
Aduh, ini sih benar-benar dukun ya, rumahnya.
Mbak Rara.
Assalamualaikum, halo.
Mbak Rara, buka pintunya atau aku dobrak pintunya sekarang!
- Jangan dobrak! - Mbak Rara!
Jangan didobrak.
Ada perlu apa?
Kita minta Mbak turunkan hujan, bisa 'kan?
Mbak...Mbak Rara!
Eyangku kenal, lho sama ibunya Mbak.
Katanya pawang hujan sangat legendaris.
Mbak Rara!
Mbak Rara ini benar-benar pawang hujan, kan, Mbak?
- Stt... - Heh...
Yang dibilang eyangmu itu memang benar.
Ibuku memang pawang hujan legendaris.
Tapi itu 'kan ibuku, bukan aku!
Ya tapi, 'kan mbak Rara mewarisi ilmunya, kan?
Kalian itu lihat berita atau enggak, sih?
Main medsos, enggak?
Aku itu dituduh penipu, pawang hujan palsu,
cuma akting dan masih banyak tuduhan lainnya.
Terus untuk apa sih, kalian di situasi seperti ini minta hujan?
Memangnya ada order?
Aduh, maaf sekali, Mbak Rara.
Aku sangat mengerti perasaan Mbak,
tapi sekarang kita enggak punya banyak waktu, Mbak.
Begini, ini saat yang tepat untuk Mbak Rara membuktikan ke semua orang,
bahwa omongan warga net itu salah.
Memang kalian sangat serius?
Para warga Rimbalaya yang saya cintai,
yang saya kasihi,
waktunya telah tiba,
kita harus segera meninggalkan kota ini.
Dengan warna merah, kita akan menunjukkan keberanian kita.
Bahwa kita tidak akan pernah menyerah pada teror yang ada di kota ini.
Masih lama sekali, ya, Mbak?
Mbak, ayolah, Mbak, katanya "ayo".
Sabar.
Atas izin Tuhan Yang Maha Kuasa,
Kita pasti akan lalui ini bersama.
Mari kita kibarkan bendera merah,
kita turun ke jalan, kita terobos para mayit,
kita seberangi jembatan Gondolaya.
Demi masa depan kita.
(Membaca mantra)
Harus diluar begitu, ya, Mbak?
Enggak bisa di dalam, biar lebih aman?
Enggak bisa.
Langit itu harus melihat saya, kalian lho yang memaksa,
jangan protes!
Sudah, sudah, Mbak, kita buat asyik saja, ya.
Sttt.
(Membaca mantra)
La...
Sebenarnya, ya, aku enggak terlalu percaya sama pawang hujan seperti ini.
Sama.
Berhenti, berhenti, hei!
Berhenti!
Terus jalan!
Maaf, Bu?
Saya bilang "terus jalan!"
Tambah kecepatan!
Pak,
ledakkan seluruh jembatan,
kecuali jembatan yang akan kita lalui.
Dimengerti, Bu.
Lapor, Ndan.
Ada pasukan tentara dari kota sebelah mendekat.
Lima kilometer jaraknya dari sini.
Kemungkinan mereka itu datang dari Pusat.
Ledakkan jembatan sebelum pasukan itu sampai ke sini.
(Membaca mantra)
Waktu habis, kita harus segera pergi dari sini.
Bapak Ibu sekalian, kita harus segera berangkat,
sebelum hari gelap, dan sebelum Dyah Ayu menemukan kita,
kita sudah harus melewati jembatan.
Saya tidak akan memaksa kalian,
tapi kalau ada yang terpaksa, silakan menetap di sini.
Jadi, siapa yang ikut saya?
Saya, Pak.
- Saya juga ikut, Pak. - Saya, Pak.
- Saya juga ikut. - Saya ikut.
Bagus.
Sekarang persiapkan semua senjata kalian.
Buah durian, bangkai hewan, atau apa pun yang kalian punya.
Ayo.
Kita lewati ratusan mayit yang ada di depan sana.
Kalau kalian mau menunggu Adi dan Ela, saya tidak akan melarang.
Saya ikut kalian.
Mereka lebih tangguh dari yang kita kira.
Mereka pasti selamat.
Urus mereka!
Hah?
Di belakangmu!
(Membaca mantra)
Ayo, hancurkan!
- Di mana mayitnya? - Hancurkan!
Mana mayit?
Itu mayitnya!
Itu mayitnya.
Ayo serang!
(Membaca mantra)
Semua siap?
(Membaca mantra)
Hujan!
Hujan!
Mereka berhasil.
- Mereka berhasil! - Hei, tahan!
Jangan bergerak dulu.
(Membaca mantra)
Hei...
Katanya kalian enggak punya waktu banyak,
hujannya sebentar lagi akan berhenti,
kalian harus cepat.
Mbak Rara, ayo ikut kita!
Aku menyusul nanti saja, kalian pakai motorku.
Terima kasih, ya, Mbak Rara.
Mbak Rara,
kamu akan masuk ke IG aku, kamu keren, Mbak.
Hati-hati.
Berhenti...berhenti!
Hei...berhenti.
Tabrak mereka!
Hei...hei...
Anjing kamu!
Cukup! Cukup!
Kita harus menolong mereka!
Hentikan bus-nya!
Terus jalan!
Turunkan senjata kalian!
Kami tidak bisa lagi mengikuti aturan main kalian.
Bagaimana pun juga mereka adalah warga kita, Bu!
Lagipula tidak ada yang mengejar mereka!
Kalau kita menolong mereka,
lalu salah satu di antara mereka ada yang terinfeksi,
lalu menulari kita semua di sini, Anda mau tanggung jawab?
Jawab!
Mereka cuma ingin selamat, Bu.
Kita semua di sini juga ingin selamat.
Turunkan senjata kalian!
Sekarang!
Anda benar-benar setan, tak layak jadi pemimpin.
Anda harus...
Itu akibatnya kalau kalian melawan pemimpin!
Sekarang kalian pilih, keluar dari kota ini dengan selamat,
atau mati sebagai penjahat.
Rombongan Bu Dyah sebentar lagi akan datang.
Kalian harus siap!
Tapi ingat,
jangan sampai meninggalkan saksi.
Mereka harus tahu, hanya kita saja yang selamat.
Siap!
Di atas jembatannya.
Ayo!
Stt...tunggu!
Seno!
Sial.
Untuk apa mereka di sini?
Ada dua kemungkinan.
Mereka menunggu kita datang,
atau akan menghancurkan seluruh akses keluar kota.
Anjing!
Anjing!
Meledakkan jembatan?
Pak, jumlah kita lebih banyak daripada mereka.
Tapi mereka membawa senjata api, kita harus bagaimana?
Kita bisa nekat menyerang mereka,
tapi ya pasti ada korban.
Enggak.
Enggak boleh ada yang mati di antara kita, Pak.
Pak.
Bapak harus janji,
jangan ada pembunuhan lagi.
Pak?
Oke.
Kita rampas detonator bom itu,
kita lumpuhkan mereka semua,
tanpa membunuh.
Caranya?
Komandan.
Itu jalan menuju ke mari.
Coba cek kesana, tetap waspada.
Siap, laksanakan.
Mas...
Mereka pasti akan gelisah, karena rekannya enggak kembali.
Joko, monitor.
Komandan akan langsung meminta anak buahnya untuk memeriksa.
Susul Joko!
Joko...
Sementara Komandan tetap menjaga jembatan,
sambil memegang detonator bom itu.
Mereka akan lebih waspada, lebih siap menghadapi serangan.
Tapi, begitu mereka melihat rekannya yang pingsan,
prioritas mereka adalah menyelamatkan rekan mereka.
Hei...hei...
Turunkan, turunkan!
Turunkan, turunkan!
Masih boleh juga, Pak Zaenal.
Pengalaman itu penting, Mas Risang.
Selanjutnya apa, Pak?
Yah, diblok lagi.
Halah, repot, itu tinggal lewat trotoar, ayo!
- Jangan jalan lagi, aku lelah. - Sudah, ayolah, Di.
Malas sekali, sih.
Ela.
Heh.
Muncul lagi dia, La.
Biar aku buat dia jadi mayit sungguhan.
La!
La!
Ela!
Jaga aku.
Jaga apa maksudmu?
La...La!
Ayo, Di!
Monitor, Lang!
Sutoro!
- Pak, jangan. - Apa?
Bapak sudah janji, Pak.
Jangan tembak, Bapak sudah janji, Pak.
May!
Berhenti, Semuanya!
Atau kita semua akan meledak di sini.
Pak!
Pak!
Saya tahu Bapak hanya mengikuti perintah.
Tapi kita enggak perlu bermusuhan seperti ini, Pak.
Kita bisa melewati jembatan ini bersama-sama, Pak.
Tolong, Pak.
Pak!
Tiga anak buah Bapak masih hidup, mereka hanya pingsan.
Bapak bisa cek.
Enggak ada gunanya menasehati dia.
Asal kalian tahu,
semua kekacauan ini terjadi karena kalian.
Hei!
Dia ini sudah menjadi anjingnya Dyah Ayu.
Enggak akan memihak kita.
Tapi Anda memang punya andil atas semua kekacauan ini.
Mas...
Letkol Sutoro,
kami ini semua di sini, kita, enggak ada yang benar-benar bersih.
Tapi kami semua di sini mau keluar dari kota ini dalam keadaan hidup.
Dan tidak tergigit oleh mayit.
Lihatlah mereka, Pak.
Jadi tolong,
buang granatnya!
Eh!
Mundur! Mundur!
Mundur, mundur, mundur!
Mundur!
Turunkan senjata kalian!
Mundur! Mundur!
Turunkan senjata kalian!
- Turunkan! - Mundur!
- Turunkan! - Mundur!
- Cepat kalian turunkan senjata! - Turunkan senjata!
- Turunkan! - Turunkan senjata!
- Kami bertahan! - Turunkan!
- Turunkan! - Turunkan senjata!
Bajingan kamu, Dyah Ayu, sudah membohongi kami!
Pembunuh!
Hei...hei!
Pak Jatmiko! Pak Jatmiko!
Turunkan senjata kalian!
Atau kami tembak kalian semua.
Sen...Seno!
Turun...turun...
Semua, turun!
Kenapa Ibu tega melakukan ini?
Mengorbankan kami semua?
Demi jabatan?
Kekuasaan?
Sebegitu penting itu semua, Bu?
Monster!
Monster?
Tanyakan pada Zaenal.
Dia yang membuat saya jadi monster seperti sekarang ini.
Tanya.
Tanya!
Demi ambisi dan kekuasaan, dia mengorbankan seluruh warga di kota ini.
Termasuk kakak saya, Amrin.
Bukankah begitu, Zaenal?
Dia relah mati untuk kamu,
tapi kamu malah membunuhnya perlahan.
Bangsat!
Heh... Dyah!
Amrin itu bukan satu-satunya yang menderita.
Saya sudah berusaha keras untuk menyelamatkan dia.
Saya juga bisa menyelamatkan seluruh warga di kota ini.
Tapi saya sadar,
sudah terlambat.
Pengorbanan juga diperlukan.
Jangan bicara pengorbanan atas nama kami!
May, May!
Maya!
Kami rakyat Rimbalaya sudah menderita...
-...gara-gara pemimpin seperti kalian! - Mundur!
Bangsat!
Maya!
Mundur!
Mundur!
Tarik pelatuknya!
Ayo tarik!
Atau aku ledakkan kepalamu!
Sebaiknya kita cukupkan sampai di sini saja.
Hanya ada satu golongan yang bisa keluar dari tempat ini.
Dan itu kami.
Minggir...minggir!
Di belakang ada mayit!
Ada mayit!
- Mundur. - Mundur, Bu, mundur!
Mundur! Mundur!
Mbak May, mundur, Mbak!
- Lari...lari! - Cepat!
- Yosep, kamu kejar Sutoro. - Ya...ya...Ibu...
Kamu ambil detonatornya, itu masih ada di tengah bomnya.
- Cepat sana! - Baik, Bu.
Ayo mundur.
Pak Zaenal...Pak Zaenal!
Cepat, ayo!
Kita butuh Bapak di sini, dan cuma Bapak sama Seno...
-...yang bisa pegang senjata! - Itu Dyah Ayu!
Demi keselamatan semua warga. Biar saya yang kejar, Pak.
Kejar, kejar!
- Sabar, Mbak. - Ayo, Di.
Mereka terlalu banyak.
Maya! Maya!
Maya!
Kamu kejar Risang, bantu dia!
Jangan sampai Dyah Ayu meledakkan jembatan.
Bawa!
Bawa!
May!
Cepat!
Ayo, Mbak! Bantu di sana!
Jangan sampai perjuangan kita sia-sia, Mbak.
Iya.
- Tolong, Mbak. - Hati-hati.
Mundur! Mundur! Peluru habis!
Isi peluru! Isi peluru!
Ke sini! Rasakan!
Hei!
Kita tunggu orang-orang melintasi jembatan ini.
Hei!
May!
May!
May, hei!
Kalau caramu menembak seperti itu, kita semua yang akan mati, May.
Awas!
Sial!
Yosep, kita harus lari ke ujung jembatan ini!
Lalu kita ledakkan jembatan ini.
Oh, begitu, ya, menembak yang benar?
Iya.
Seno, mundur!
May, sepertinya peluru mereka habis, ayo kita kejar, May!
Adi!
Ayo May!
- Ayo Cepat! - Hei.
Kamu jemput Adi dan lainnya, mereka juga...
Mereka juga pantas hidup.
Dengarkan aku, kamu harus selamat,
kita harus ketemu lagi setelah semua ini selesai.
Semuanya, ikut aku, kejar mereka! Ayo!
Ayo, cepat!
Hei...hei...
Di, Adi, ayo, Di, kita harus pergi dari sini!
Ayo, Di, Ela!
Pak Zaenal!
Pak Zaenal! Pak Zaenal!
Ayo, ayo!
Bapak pegi saja,
Bapak masih punya urusan yang lebih penting, Pak.
Biar ini jadi urusan saya, Pak.
Seno!
Syukurlah, Pak, akhirnya Bapak datang.
Ini pasti ada yang salah.
Nurhadi telah mengirim pesan kepada saya tentang Anda.
Tangkap mereka!
Enggak, Pak.
Kamu enggak apa-apa, semua bukti-bukti dinas pekerja,
mayit,
kamu serahkan semua ke mereka?
Itu syarat supaya kita semua selamat, dirawat di sini,
dan enggak dituduh sama hal yang macam-macam.
Ya, mau bagaimana lagi, May.
Maaf, ya.
Sudahlah, May, lagipula aku juga...
...sudah pada titik di mana aku...
...sudah enggak peduli lagi sama bukti-bukti yang aku pegang.
Dan fokus aku cuma bagaimana caranya kita keluar dari ini semua.
Dan aku juga enggak kehilangan kamu.
Ya, sama Adi juga, sama yang lain juga.
Ya sudahlah, yang penting sekarang kita sudah selamat.
terus kita masih bersama...
Ya, sama Adi, sama Ela.
Dan kita tinggal pikirkan, ke depan kita mau melakukan apa?
Menurut kamu nanti...
- ...kita habis keluar dari kamp ini... - Berita selanjutnya dari pusat...
- di mana mantan Bupati Rimbalaya... - Mas...
...menerima penghargaan dari Pemerintah Pusat.
Zaenal Effendi dianggap berhasil melakukan aksi berani...
...saat membawa sejumlah warga Rimbalaya keluar dari...
...kota mereka yang diserang wabah mayit.
Zaenal Efendi sendiri, harus kehilangan putra satu-satunya...
...saat melaksanakan operasi ini.
- Oke, jadi seperti ini ya... - Atas aksi kepahlawanannya...
- ...rasanya kalau sejarah... - ...untuk menerima penghargaan.
-...cuma ditulis sang pemenang. - Diharapkan ini bisa menjadi contoh...
...untuk para pemimpin di daerah-daerah lain.
Bupati kamu, tuh!
- Kita 'kan juga pemenang. - Iya, pemenang yang enggak dikenal.
Oke, kalau mereka enggak mau menceritakan tentang kisah kita,
aku akan tulis sendiri.
Aku akan membuat cerita tentang perjuangan seorang buruh perempuan...
...yang memperjuangkan ketidakadilan di Rimbalaya.
Waw...
- Kaget, enggak? Enggak, ya? - Enggak, sih.
- Kamu, pacaran terus. - Iya.
- Ya, bagaimana? - Sudah jadian beneran?
- Ya, katanya ada PJ, begitu. - Apa itu?
- PJ adalah... - Pajak jorok.
- Jadian! - Eh...eh...
Mau membantu anak logisik.
Ayo bantu mereka, jangan cuma menumpang.
Tapi Adi dari awal otaknya sudah jorok, sih.
Pusing aku sih, aku, Mas.
Kita sudah dewasa, kan, enggak perlu seperti mereka.
Ayo!
Ini varian baru yang entah bagaimana bisa ada.
Hati-hati.
Kita belum tahu ini apa?
Pasti ada alasannya orang dulu menyebut bunga ini...
...Cawan Hantu.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.