Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
- [sapi melenguh] - [musik dramatis]
[pria menarasi bahasa Indonesia] Tak ada yang mengingat namaku.
[bahasa Jawa] Makan ini!
[jeritan teredam]
- [tawa mengejek] - [mengaduh]
[narator bahasa Indonesia] Orang-orang memanggilku...
- dengan sebutan... - Anak haram.
[tertawa]
- [bahasa Jawa] Sapi siapa itu? - Jangan ikut campur!
[mengaduh]
Ampun. Aku punya anak-istri.
[warga bersorak bahasa Indonesia] Bule nyasar.
[narator] Itu juga sebutanku.
- [pria bahasa Jawa] Kau pencurinya? - Pak, ini pencurinya.
- Pak, ini pencurinya. - Bukan aku.
[teriakan menggema di ingatan]
[musik dramatis]
Itu.
[bahasa Indonesia] Dia orang yang mencuri sapinya, Bos.
Tohari.
[narator] Itu bukan namaku.
Di desaku ini, mungkin sudah tak ada yang ingat siapa namaku.
Mungkin terakhir ada yang memanggil dengan namaku adalah saat aku kecil.
Dulu bapakmu pernah mencoba-coba menjadi jagoan.
Sekarang, anaknya juga mau menjadi jagoan.
Mau menjadi jagoan?
Cuma ada satu cara untuk memberikan pelajaran kepadanya,
supaya tidak lebih jagoan dari...
[pria bertopi tertawa geli]
- Tapi bukan aku yang... - [bahasa Jawa] Diam!
[bahasa Indonesia] Ayo. Maju.
Kalau kamu mau belajar menjadi jagoan...
belajar dulu.
Mau menjadi jagoan, badan harus kekar, harus kuat.
[mengaduh]
[mengaduh]
[batuk, mengaduh]
Ayo.
[menggeram]
[tersenggal-senggal]
Ayo.
[menggeram]
Ayo. Maju.
[tersenggal-senggal]
[berteriak agresif]
[mengaduh]
[bahasa Jawa] Tunggu. Ada apa?
"Ada apa", apa? Pencuri sudah tertangkap.
Ha? Lalu, itu?
Itu? Itu temanku.
Astaga. Tenang, Ron. Aku sudah bilang bukan kamu pencurinya.
[musik konyol]
[tertawa] [bahasa Indonesia] Bukan kamu, Nak?
Kok kamu tidak bilang-bilang?
- [bahasa Jawa] Aku... - [bahasa Jawa] Sudah. Diam.
[bahasa Indonesia] Tapi, aku tidak akan minta maaf sama kamu.
Ini antara laki-laki dengan laki-laki. Anggap saja olah raga.
[tertawa]
Mbah Kadir, ada apa?
Maaf, aku disuruh mencari Jamroni, karena bapaknya sekarat.
Oh.
Bapakmu sekarat, Nak. Pulang.
[musik sedih]
Seroang laki-laki harus menghadapi kenyataan hidup.
[pria] Dunia ini keras.
Butuh keberanian, dan untuk berani, kamu harus mampu menghadapi masa lalu.
Menjadi ksatria.
[musik dramatis, lembut]
- [bahasa Jawa] Sudah? - [bahasa Jawa] Sudah.
[musik dramatis sedih berlanjut]
[bahasa Indonesia] Ron, Bapak minta maaf...
selama ini bapak dan almarhumah ibumu
tidak merawatmu dengan pantas.
Mungkin kami kurang ikhlas dalam memeliharamu...
Kamu...
bukan anak kandung kami.
Ha?
Bapak juga minta maaf...
tidak menyerahkan surat-surat ini ke kamu, Ron.
Cari dia, Ron.
"Sari"?
Cari jati dirimu.
- [bahasa Jawa] Pelan-pelan, Jo. - Ron.
Bapak.
[bahasa Indonesia] Kamu bisa syahadat, Ron?
[keduanya] Asyhadu alla ilaha illallah.
Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah.
[pria] Inna Lillahi wainnailahirajiun.
[menangis]
[musik kontemplatif]
[Sari] Hai, Ron. Ini aku, Sari.
Sekarang aku menetap di Jakarta.
[pria berbicara di kejauhan]
[bacaan doa]
[musik sedih]
[bahasa Jawa] Terima kasih, Pak.
[bahasa Indonesia] Aku pamit.
[pria] Lima ratus ribu.
Jakarta.
- [bahasa Jawa] Ini buat pungutannya. - [bahasa Jawa] Ya? Antarkan, ya.
[mengeluh jengkel]
[bahasa Indonesia] Ayo.
[bahasa Jawa] Ayo. Jadi tidak?
[Jamroni kecil bahasa Indonesia] Pak, ini bukan salah Roni.
- Heh, ayo! - Ya.
[bahasa Jawa] Ayo, naiklah. Mundur, ya.
[sapi melenguh]
[wanita bahasa Indonesia] Berhenti, Mas.
[musik romantis]
[Sari] Aku sedih, Ron.
Aku tidak bisa lagi latihan menari dilihat kamu.
[pelatih tari bahasa Jawa] ...dua, tiga, empat, lima...
Tangannya.
[Sari bahasa Indonesia] Aku juga sedih...
tidak bisa melanjutkan sekolah di SMP kamu.
[Roni kecil bahasa Jawa] Nanti bagaimana?
Kamu mau masuk SMP mana? Sudah kau pikirkan?
Sama seperti lainnya, Mas.
[Roni kecil] Tapi, bapak dan ibumu tak senang kita jalan bersama.
[Sari kecil] Yang penting kusenang.
Sari, ayo, mau ke mana?
[bahasa Indonesia] Heh, jangan ganggu dia. Sana!
Sini, Sari, kubawakan.
Tenang, kamu pulang aku antar ya, biar tidak ada yang mengganggu.
[bahasa Jawa] Memangnya Mas bisa berkelahi?
[bahasa Indonesia] Ya, nanti Mas belajar untuk menjaga dirimu.
Anakmu membuat ulah terus-menerus maksudnya apa?
Aku itu menghormati kamu, tapi kalau misalnya, lihat,
anak saya seperti ini bagaimana?
[Sari kecil menjerit] Lepaskan!
Lepaskan!
[menjerit] Lepaskan!
- [bahasa Jawa] Itu anaknya! - Bikin malu! Masuk.
- [bahasa Indonesia] Bapak! Pak! - Masuk.
Bikin malu. Bikin susah terus.
Pak, ini bukan salah Jamroni, Pak!
Dia itu bukan anak yang baik.
Bahaya. Tidak usah dibela-bela terus.
Mas Jamroni! Mas Jamroni!
Mas Jamroni!
Sari.
[Sari] Kenapa ya...
suratku tidak pernah kamu balas?
Ini surat terakhirku ya, Ron.
Aku kirim foto ini supaya kamu ingat masa kecil kita.
Semoga kita bahagia di tempat kita masing-masing ya, Ron.
[suara klakson]
Bos, ini uangnya.
- Terima kasih. - Ya.
[musik rock bersemangat]
Ya.
- [bahasa Jawa] Terima kasih. - [sapi melenguh]
[bahasa Indonesia] Hei, Ron. Sebentar. Kok terburu-buru?
Ini aku ada uang sedikit buat kamu.
Apa ini?
Sudah. Terima, pakai saja. Buat mengejar cinta kamu itu lho.
Siapa itu, Bang? Sepertinya orang baru, masuk kemari.
Lho. Ya sudah, aku mengurus sapi dulu.
Tunggu dulu!
- [bahasa Jawa] Terima kasih. - Hati-hati.
[bahasa Indonesia] Hei.
- Berapa ini, Bu? - Dua ribu.
Hei, siapa kamu?
- Aku Jamro... - Aku tidak tanya.
- Lha tadi... - Kenapa memalak si supir?
Ini wilayahku.
Tidak ada ceritanya orang luar, berani memalak supir di sini!
Di mana uangnya?
Ini, Bang.
- Sini duitnya. - Berani melawan kamu?
[menggeram]
[teriakan]
[berteriak]
[mengaduh]
Hajar. Ayo, mau ke mana?
- [tulang bergemeretak] - [menjerit]
[preman-preman berteriak marah]
[mengaduh]
- [tulang bergemeretak] - [menjerit]
[preman berteriak marah]
Aduh.
Hei.
Ya, Sayang. Dah.
[teriakan marah]
[pembeli warung berteriak]
[piring-piring pecah]
[mengerang]
- [piring pecah] - Hei. Awas.
Maaf, Bu.
Cepat maju.
[berteriak]
Ayo, maju, maju!
[musik dramatis]
- Awas. - Aduh.
Kejar! Hajar!
[gamelan pengiring tarian]
[preman berteriak]
[musik gamelan]
[preman berteriak]
Stop!
Tunggu! Tunggu!
[tiga orang menjerit]
[gamelan berlanjut]
[batuk]
Awas. Hati-hati.
[musik gamelan berlanjut]
[penari dan pengunjung berteriak]
[menggeram]
[menggeram]
[menggeram]
[mengaduh]
[menjerit]
Diam!
[wanita menjerit]
- [benturan keras] - [penonton menjerit]
[mengerang]
[mengaduh]
Berengsek!
Mau ke...
Ke sini kau. Jangan lari kau!
[preman-preman berteriak]
Hei!
- Hei. - Hei. Apa kamu?
[rem berdecit]
[teriakan marah]
- [sirene berbunyi] - Minggir!
[menjerit]
[bahasa Inggris] Minggir.
- [bahasa Indonesia] Ini namanya apa? - Zebra cross.
Awas!
Jadi kalau ada kendaraan yang mau melewati zebra cross pasti berhenti.
Ayo, Sayang, sambil jalan.
Tidak kelihatan!
[musik dramatis]
[rem berdecit]
Bu, ada mobil!
Tidak apa-apa. Berpikir positif. Mobilnya pasti berhen...
[menjerit]
Stop! Stop! Stop!
[rem berdecit]
[wanita di jalan] Aduh, aduh.
- Maaf, Bu. - Lain kali...
- Maaf, Bu. - Lain kali, SIM-nya, ya!
Jangan menembak. Kalau mau menembak, tembak aku saja.
Maaf, Bu.
[musik tegang]
[wanita] Lepaskan!
- Berengsek. - Lepaskan aku. Lepaskan!
- Aku tidak mau pulang. Mengerti? - Ada apa ini?
Jangan ikut campur!
Jangan beraninya sama wanita!
[menggeram]
- Hajar dia. - Mampus kamu.
[menggeram]
- [hantaman] - Aduh!
[wanita menjerit marah]
- Lepaskan aku! - Diam.
[berteriak dan menggeram]
[menggeram]
- [berteriak] - [benturan keras]
[menggeram]
[berteriak mengaduh]
[berteriak]
- Hajar. - Mati kamu!
[menggeram]
- [mengaduh] - Bodoh kalian.
- [wanita berteriak] - [menjerit]
Lari!
[musik dramatis]
[mesin menyala]
[musik tegang]
- Pas, Pak. - Pas apanya?
Maksudku kekuatan Bapak, tapi kalau arahnya memang melenceng.
Mencari alasan kamu.
- Mbak Hanna. - Ya?
Ada tamu buat Bapak.
Tamu siapa?
Pak Emka dari Tuban, Pak.
- Suruh masuk. - Baik, Pak.
Mari, Pak.
Cocok saya olah raga ini.
- Pak Emka. - Pak Hastomo.
- Apa kabar, Pak? - Baik, Pak Hastomo.
Aku jauh-jauh dari Tuban ingin mengucapkan terima kasih.
Pembebasan tanah saya di Tuban sudah menemukan keadilan.
Aku bawa oleh-oleh juga, Pak. Dari ladang sendiri.
- Ya, ya. - Semoga Pak Hastomo suka.
- Waduh. - Cuma ini yang bisa dibawa.
Terus ada ini juga, dari ternak kita.
- Ya. - Oh, ya. Waduh, terima kasih sekali.
- Aku yang berterima kasih, Pak Hastomo. - Terima kasih.
Jon.
- Maaf, ya, Pak. Merepotkan. - Tidak. Tidak masalah.
- Mungkin Pak Emka mau istirahat. - Ya.
Sama Joned. Silakan. Tolong dibawakan ya.
- Terima kasih, Pak. - Terima kasih sekali. Ya.
[telepon berdering]
Halo?
Pak, maaf, ada telepon.
Bagaimana? Anak saya bagaimana?
- Memang sudah ketemu, Pak, tapi... - Tapi?
Kami dihalang-halangi.
Dihalang-halangi sama siapa?
Pacarnya kali.
- Pacarnya, Pak. - Pacar?
Terima kasih ya.
Sudah membantu tadi.
Ya.
[musik rock ceria]
Tunggu.
Lapar tidak?
Retta Afriani.
Jamroni.
Muhammad Jamroni.
Mbak, kok kita makan di sini.
- [bahasa Inggris] Tidak ingin diganggu. - Bilang apa, Mbak?
[bahasa Indonesia] Maaf, aku baru sampai di Jakarta.
Aku lama berkuliah di luar negeri.
Memangnya, kamu dikejar siapa, Mbak?
Tidak doyan?
Sini.
Jadi, kamu kenapa ke Jakarta?
Mencari kerja, 'kan? Aku punya pekerjaan untukmu.
[musik konyol]
Kalau yang sebesar kalian saja kalah sama orang itu,
aku harus mencari orang sebesar apa untuk bisa mengalahkan orang itu?
Ha?
Ha?
Maaf, Pak.
Ada telepon dari Pak Amsar. Mau diterima?
Alasannya?
Masa aku sendiri yang mencari alasan? Kamu karang sendiri. Apa saja.
Baik, Pak.
Memangnya orangnya sebesar apa?
Badannya kecil, tapi ilmunya tinggi.
Dengan gampang dia mengalahkanku dan teman-teman.
Kalah tapi bangga.
Jawaban kamu pintar, tapi muka kamu tidak enak.
Apa lagi?
Maaf, Pak.
Pak Amsar mau bicara sama Bapak, padahal aku sudah kasih tahu alasannya.
Kamu memberi alasan apa?
Bapak salat.
[menahan tawa]
Memangnya kalau saya salat kenapa?
Nanti kalian berjamaah bersamaku.
Asalamualaikum.
Bagaimana, Sar? Baik-baik semua?
[Amsar di telepon] Alhamdulillah.
Lagi di mana?
Biasa, lagi di panti asuhan.
Sudah lama tidak bertemu anak-anak asuhku. Rasanya kangen sekali.
Masyaallah.
Oh, ya, soal acara temu calon pengantin.
Terakhir dari acara kita bertemu itu, katanya dua bulan lagi, 'kan?
Berarti akhir minggu ini dong?
Bulan depan, Sar.
Akhir pekan ini saja.
Bulan depan.
Adikku balik dari Oxford lebih cepat.
Bukannya adikmu ada di Amerika?
Ya, 'kan nama kotanya Oxford.
Nah, nama negaranya Amerika.
Oxford itu di Inggris, Sar.
Perasaan dengarnya Amerika.
Stanford kali maksudnya.
Standford 'kan tempat nama gedung yang rencananya untuk pernikahan nanti.
Itu Stanford yang di Cibubur, Sar.
Ya, sudah, apa saja. Terserah kamu.
Pokoknya, yang penting, tolong diatur
acara sama calon pengantin akhir pekan ini. Tolong harus jadi, oke?
Insyaallah, Sar.
Waalaikumsalam.
Hanna.
Ya, Pak.
Kamu cari... Kamu cari anakku.
Baik.
Kamu jangan memakai hak tinggi kalau ketemu aku.
Baik, Pak.
Ayo salat berjamaah!
[riuh kendaraan di kejauhan]
Kerja yang benar...
biar pintar.
Ha?
Lihatlah pekerjaanku. Rapi semua.
Ya salam. Ini ditutup!
Roti itu kalau sudah beres ya ditaruh di sini.
Punya otak tidak kamu?
Bisa bekerja tidak?
Hei. Acuh sekali kamu ya?
- Lihat mukaku! - [telepon berdering]
- Hei, dengarkan aku! Hei! - Halo.
[pria] Sedang bosan?
- Ada kerjaan untukmu. - Sial, aku tak digubris.
Sudah teleponnya? Hah?
Siapa? Tagihan motor?
Kamu tak dengar?
[musik rock tegang]
Ya, halo.
Ini kartuku kenapa?
Tidak bisa dipakai?
Kenapa?
Diblokir?
[meresah]
- Kenapa, Mbak? - Aku tidak bisa menarik uangku.
Itu ada ATM lagi.
[musik konyol]
[riuh jalan raya di kejauhan]
Jadi, tugasku merampok?
Bukan, ini usaha nyokap-ku.
"Nyokap"?
Ibu.
Oh, Ibu.
[Retta] Ibu tak akan marah kalau uangnya kita pinjam, 'kan?
Ambil brankas di lantai dua.
- [Roni] "Brankas"? - [Retta] Tempat penyimpanan uang.
Hati-hati. Yang menjaga biasanya ada lima orang.
[musik mengendap-endap]
Hei! [mengerang]
[musik mengendap-endap berlanjut]
- Hei! - [teriak]
[suara rekaman] Roti!
[suara musik iklan roti]
Roti!
[suara musik iklan roti]
- Rot... - [mematikan rekaman]
[telepon berdering]
[pria di telepon] Lokasi sasaran sudah diketahui.
Tunggu perintah selanjutnya.
[musik tegang]
Syukurlah. Aku tidak perlu menjual tasku.
Tidak perlu utang sama teman-teman.
Kenapa?
Belum pernah melihat uang segini?
Ini.
Buatku?
Hitung.
Ah. [berdeham]
[berdeham]
Empar ratus, lima ratus, enam ratus, sembilan ratus, satu juta.
Tujuh ratus, delapan ratus, sembilan ratus...
Lumayan. Bisa cari tempat menginap besok.
Kamu akan tetap bekerja menjagaku, 'kan?
Ini uangmu. Lima juta.
Sini.
- [pintu brankas ditutup] - Aku ganti baju dulu di mobil.
Ini kutitipkan.
Ya.
[bahasa Jawa] Hati-hati.
Ya.
[musik sendu]
[suara klakson kereta api]
[bahasa Indonesia] Mana pacarmu?
Apa? Uangku?
Aku tidak bercanda. Aku bertanya, di mana temanmu?
Kembalikan uangku.
Di mana pacarmu?
[menjerit]
Roni!
[menggeram]
[mengerang] Kamu itu siapa?
Hei.
Hei, Maling. Kembalikan duitku.
[musik dramatis]
[musik dramatis tempo tinggi]
[menggeram]
- [suara gemeretak] - [menjerit]
[mengerang]
[batuk]
[tersengal-sengal]
[mengerang]
[menggeram]
[menggeram]
[tersenggal-senggal]
[menggeram]
[mengerang]
- [kaca pecah] - [menggeram]
- [menggeram] - [mengaduh]
[musik tempo tinggi]
- [tukang pukul berteriak] - [mengerang]
[musik tempo tinggi berlanjut]
Hei. Ron!
[memukul dinding]
Aku bukan maling.
Ya, maaf.
Kamu itu siapa sebenarnya?
Sepertinya semua orang mengejarmu.
Kemarin, tiga orang mencarimu.
Hari ini, satu orang tapi dengan kemampuan tiga orang mencarimu.
Orang tadi mencarimu.
Aku?
Kenapa orang itu mencariku?
Aku tidak kenal siapa pun di sini.
Aku baru sampai Jakarta kemarin.
Dia mengira, kamu pacarku.
Pacar?
[anak-anak mengaji] Audzubillahissamii ilaliimi, minasy syaithaanirrajim.
Bismillahirohmanhirohim.
Wal ashri...
[anak lain terus mengaji]
[anak lain terus mengaji]
[musik tegang]
Hei.
Saya sudah hafal, Pak.
[bahasa Jawa] Hafal apa? Kamu malah membaca yang aneh-aneh.
- Kang Tohari. - [bahasa Indonesia] Ada apa, Pak Ustaz?
[bahasa Jawa] Anakmu kurang ajar.
Disuruh mengaji, malam membaca seperti ini.
- Maunya apa? - [bahasa Indonesia] Menyebalkan!
- [bahasa Jawa] Ayo. Memalukan. - Aku sudah hafal!
Anak tak tahu diri. Masuk!
[bahasa Indonesia] Buku apa ini?
Itu buku...
Buku apa? Disuru mengaji malah membaca buku tidak jelas!
- Pak! - Sudah! Tidur sama kambing!
Sari, pulang.
- Asalamualaikum. - Waalaikumsalam.
[musik kontemplatif]
[melantunkan ayat Al-Quran] Wal-ashri
innal-insana lafi khusrin
illallazina amanu waamilussalihati
watawasau bilhaqqi
watawasaubissabri.
[Retta] Ron.
Ini ada kontrakan.
- Sepertinya bagus. - Ha?
Sepertinya bagus. Ayo.
[mengerang lelah]
- Ke mana kita? - Itu.
Ada apa ya, Mas?
Kok KTP-nya berbeda?
Memangnya harus sama?
Tidak harus sama, cuma tidak harus berbeda.
Surat nikah ada, 'kan?
Aku dan dia 'kan bukan suami istri.
Lho, sudah mau serumah.
Tapi, nanti dinikahi, 'kan?
Sudah. Orang ini merepotkan.
Eh, Mbak. Jangan.
Boleh, boleh.
Tapi nanti, urusan akhirat aku tidak menanggung, ya?
Ya, ya.
Ini. Bisa dihitung.
Mbak, ini 'kan buat yang punya rumah.
Buat saya mana?
Ini.
Yah...
Kalau bisa, tiga kali lipat begitu, Mbak.
Mana uangnya?
Satu, dua, tiga.
[bahasa Jawa] Apa? Astaga.
[tersenggal-senggal]
- [bahasa Indonesia] Hai, Bar. - Eh, Bang.
Sudah laku juga ini rumah.
Alhamdulillah, Bang. Sudah ada yang mengontrak.
Syukur dah. Jangan lupa lapor RT.
Ya, nanti malam.
Calonku seperti apa, aku sendiri belum pernah melihat.
Kenal juga belum.
Katanya, sekarang dia sedang kuliah di Amerika.
Kalau di dusun, perjodohan seperti itu sudah biasa.
Sebenarnya yang kubenci bukan perjodohannya.
Tapi, alasan kenapa harus ada perjodohan.
Memangnya, ayah Mbak Reta kerja apa?
Macam-macam. Kamu kok memanggilku "Mbak" lagi?
[tertawa] Ya, sudah. Aku panggil "Ibu", ya?
Enak saja. Memang tampangku ibu-ibu?
Jadi, kamu kenapa ke Jakarta?
Jangan-jangan kamu kabur dari desa karena mau dijodohkan juga?
[rekaman musik iklan roti]
[rekaman suara pria] Roti! Roti!
[rekaman musik iklan roti]
Ada apa?
Suara itu yang mengejar kita tadi.
Aku tidak takut.
Ada pelindung.
Kamu.
[alunan gitar romantis]
Ternyata kamu pintar memasak ya. Enak sekali.
[musik sendu]
[bahasa Jawa] Mas Ron, ini makan dulu.
[kambing mengembik]
- [bahasa Jawa] Terima kasih. - [bahasa Indonesia] Ya.
Kamu sedang belajar bela diri?
Ya, Sari, untuk menjaga kamu.
Kalau begitu, kamu belajar bela diri, aku belajar memasak ya?
[musik menegangkan]
[Sari menjerit] Jamroni!
[tukang pukul] Kapan terakhir kali kamu kehilangan orang yang kau cintai?
[jeritan tanpa suara] Sari!
Kamu kenapa tidur di luar?
Di sofa itu bisa. Jangan di luar. Seperti apa saja.
Kenapa?
Kok Mbak berani sekali
mengajak orang yang baru kenal tinggal satu rumah?
Mbak tidak takut?
Ya, kenapa tidak takut ya?
Aku kira semua wanita Jakarta memang pemberani.
[tertawa]
Lebih baik tidak usah dibahas ya.
[musik sedih]
Kalau melihat fotonya membuat sedih, ya jangan dilihat.
Aku baru bisa berhenti sedih, kalau melihat aslinya selamat.
Tidak ada yang bilang kalau Retta dalam keadaan celaka.
Bahkan ada yang melihat kalau Reta itu dalam keadaan selamat.
Itu, 'kan? Jadi, benar yang kubilang?
Dia lebih memilih keluar dari rumah ini, karena di luar sana dia merasa aman.
Sedangkan kalau di rumah ini, dia merasakan celaka.
Lama-lama, aku setuju dengan Reta yang menolak menikah dengan Toni.
Tino.
Tino, Toni, Tono. Tidak ada bedanya?
Kita sama-sama belum pernah melihat orangnya seperti apa.
[meresah]
Sabar, Ma.
Sabar.
Dulu 'kan pernikahan kita juga dijodohkan.
Lama-lama kita saling cinta.
Papa cinta sama Mama, Mama cinta sama Papa.
Siapa bilang kita saling cinta?
Papa cinta aku, tapi aku tidak.
[alunan biola sendu]
[riuh jalan raya]
[musik tegang]
[menarik napas lega]
Asalamualaikum.
Waalaikumsalam.
[suara obrolan]
Sendirian?
Ketemu saudara sendiri harus membawa pengawal?
[tertawa]
Sama. Aku juga sendirian.
Makan bersama sahabat, membawa pengawal? Untuk apa?
Tidak lucu.
- Mau pesan apa, Pak? - Aku tidak mau makan.
Aku minta kopi hitam. Kental.
Airnya jangan terlalu penuh, dan jangan terlalu medium.
- [bahasa Inggris] Setengah seperempat. - Tiga per empat.
- [bahasa Indonesia] Ya, betul sekali. - Baik, Pak.
Terima kasih, Mbak.
[menghela napas]
[bahasa campur Inggris-Indonesia] Aku langsung saja ya.
[bahasa Indonesia] Aku mau cerita. Ada aki...
di Banten, umurnya 80 tahun.
- Masih hidup? - Masih, kalau mati kenapa aku ceritakan?
Itu aki terbuat dari apa?
Aki.
Akiku.
Kakek.
Baiklah.
[mendengus]
Coba tolong diatur...
besok...
biar ketemu...
Retta.
Biar senang.
Selagi masih ada umur.
Umur 'kan kita tidak ada yang tahu.
Ya, tidak?
Besok?
Besok.
[tertawa]
Retta sedang tidak di Jakarta.
[musik tegang]
[Amsar menghela napas]
Ke mana dia?
Luar kota apa luar negeri?
Luar kota saja.
Ya ditelepon dong, suruh pulang.
Naik pesawat, paling satu atau dua jam kalau di Indonesia.
Kalau di kota besar tidak ada masalah.
Tapi masalahnya, dia bukan di kota.
Tapi, Dusun...
Diwek di Jawa Timur.
Tempat kelahiran pelawak Asmuni. Tidak ada sinyal.
Kata siapa?
[tertawa sinis]
Hastomo, Hastomo.
Kamu tahu tidak?
Yang membangun pemancar di Diwek itu siapa?
Waalaikumsalam.
Alhamdulilah, sehat.
Lagi di mana?
Di luar.
- Diwek? - Hah?
Diwek?
Ya.
Bagaimana cuaca di sana?
Cuaca?
Cerah.
Bagus.
Bos bicara apa?
Tidak.
Cuma ingin tahu beritanya saja. Baik.
[musik tegang]
Kalau tidak percaya, telepon sendiri.
Retta bukan di luar kota, tapi Retta...
kabur dan aku tak tahu dia ada di mana.
Waduh.
Ini tidak benar.
Aku ingin tahu.
Ini yang kabur, Retta, memang karena maunya,
atau memang kamu yang menyuruhnya...
lari?
Disuruh bagaimana maksudnya?
Kamu yang menyuruh supaya tidak menikah sama adikku.
Jangan asal sembarangan bicara.
[musik mengancam]
[Amsar menghela napas]
Katanya sendirian?
Kamu juga bilangnya sendirian.
Ya sudahlah. Yang sudah, sudah.
Terima kasih, Mbak.
Begini saja.
Nanti Retta biar kucari. Pasti ketemu.
Soalnya polisi kalau mencari buronan juga minta tolongnya sama aku.
Kamu ingat tidak, siapa yang berjanji mau menikahkan anakmu sama adikku?
Siapa?
[musik tegang]
- Asalamualaikum. - Waalaikumsalam.
[menghela napas]
[musik aksi]
Aku memberi tugas ke kalian semua untuk mencari orang.
Wanita.
Namanya Retta.
Anaknya Hastomo.
Aku punya fotonya, kukirim sekarang.
[nada pesan berbunyi]
Itu masuk ke siapa?
[seluruh preman] Tidak ada, Bos.
- Aku, Bos. - Tidak masuk, Bos.
Ya, sudah. Sebarkan.
Kalian juga sebarkan semua, ya?
Kirim ke semua anggota kita dari Sabang sampai Merauke.
Biar tahu semua.
- [seluruh preman] Siap, Bos. - Sudah kukirim, ya.
[nada pesan berdering bersama-sama]
Jangan cantik-cantik saja. Cari sampai ketemu.
[seluruh preman] Siap, Bos.
Dengar, ya. Aku tidak mau Retta lecet sedikit pun.
Kalau sampai lecet, kamu berurusan sama aku.
Mengerti?
[semua preman] Ya, Bos!
[suara mengaji di pelantang masjid]
[bahasa Inggris] BM.
[bahasa Indonesia] Bang Madun.
"Broadcast Message".
Dari mana, Bang?
Tidak lihat aku dari dalam?
Maksudku, pesan itu dari mana?
Ya dari temanku, Akbar. Masa dari emakmu?
Oh. Mana?
Ini.
Lho? Ini 'kan...
Ayo.
Jam segini baru makan?
Laparnya baru sekarang.
Kamu beli apa? Spagetinya tidak dimakan?
Lebih enak Warteg.
- Asalamualaikum. - Waalaikumsalam.
Mereka 'kan yang kamu kirim lewat pesan itu?
Ya, benar. Ini orangnya.
Kamu lagi.
Hajar.
[Retta] Ron!
[tercekat]
[semua berteriak dan menggeram]
Ah!
[semua berteriak dan menggeram]
[musik dramatis]
[musik tegang]
[mengerang pelan]
[musik tegang]
[mengerang]
[mengerang]
Hei!
[berteriak keras]
[mengerang]
[teriakan terbungkam]
Retta.
Hei.
Kamu tidak apa-apa, 'kan?
[menghela napas]
Hei!
[musik aksi]
[musik tegang]
Kenapa bisa sampai lolos? Ha?
'Kan kamu tahu, mencarinya susah.
- Ampun, Bos. - Bukan, bukan.
Seharusnya kamu bilang,
"Aku orang paling dungu di dunia."
Ayo coba. Katakan.
Aku orang paling dungu di dunia!
- Kalian mendengar? - [semua preman] Tidak, Bos.
- Kamu yang di belakang mendengar? - Tidak, Bos.
Tidak ada yang mendengar.
Mungkin kurang keras.
[berteriak] Aku orang paling dungu di dunia.
Tidak usah keras-keras bilangnya. Kamu pikir aku tuli?
Lihat tanganku. Lihat, ya. Kamu lihat. Ini.
Orang yang akan menebus
kesalahanmu adalah...
Ini.
Ini dia orangnya.
Ke sini tanganku.
Sekarang, kamu bilang, "Aku akan menebus kesalahanku."
- [berteriak] Aku akan menebus kesa... - Yang keras!
"Aku akan menebus kesalahanku!"
Aku akan menebus kesalahanku!
Kamu dengar aku tidak? Aku bilang yang keras.
Kamu bilang yang keras! Ya?
Bilang, "Aku akan menebus kesalahanku!"
Ayo, bilang!
Hei, ayo, bilang!
Bilang!
"Aku akan menebus kesalahanku!"
Bos!
"Aku akan menebus kesalahanku!"
Ayo, bilang!
Bawa ke sini.
[preman] Ya, Bos.
Ya. Ampun, Bos. Lepaskan.
Lepaskan!
Kamu mau apa?
[mengerang]
- Hei. Ayolah. - Bawa ke sini!
Bos, ampun, Bos!
Bos, jangan, Bos!
Maaf. Maafkan aku, Bos.
- Apa? - Maafkan aku, Bos.
- Ampun, ampun, Bos. - Apa?
Bukan "ampun". Tadi aku bilang apa?
Aku akan menebus kesalahanku!
Salah!
Bos. Bos!
Berengsek.
Aku masih takut sama darah!
Bos, jangan, Bos. Bos!
Aku masih takut sama darah.
Hei, kau sedang apa? Apa?
[pria memohon dan berteriak]
[daging dan tulang digergaji]
[teriakan kesakitan]
[musik tegang]
[rekaman musik iklan roti]
[suara rekaman pria] Roti! Roti!
[rekaman musik iklan roti]
[musik tegang]
[Retta menjerit]
[Retta mengerang]
[musik dramatis]
[erangan tercekik]
[terengah-engah]
[musik dramatis]
[musik aksi]
[keduanya mengerang dan menggeram]
[musik aksi]
[keduanya mengerang dan menggeram]
Ron!
[benturan keras]
[telepon berdering]
[mengerang lirih]
[hantaman keras]
[telepon terus berbunyi]
Siapa pun yang kamu telepon...
dia sudah tidak bisa menjawab.
[terengah-engah]
[musik tegang]
[pria di telepon] Orang kita gagal, Bos.
[musik dramatis]
Cari orang yang lebih hebat lagi.
[musik sendu]
Maaf ya?
Aku membawamu ke masalah-masalahku.
Mungkin lebih baik kamu pulang. Semua masalah 'kan bisa dibicarakan.
[musik sedih]
Aku juga ingin...
Ingin punya cinta yang sepertimu.
Aku?
Punya cinta?
Aku tidak sengaja lihat surat-surat cinta dari pacarmu itu.
"Sari"?
Kamu ke Jakarta mencarinya, 'kan?
Dia teman kecilku.
Ya, siapa tahu, dia sudah menikah.
Aku itu mencarinya karena...
- [mengerang] - Hati-hati.
Aku mencarinya...
karena mungkin hanya dia yang tahu aku itu sebenarnya siapa.
Karena sebelum bapakku meninggal,...
dia cerita, kalau aku memang bukan anak kandungnya.
Makanya, aku ke Jakarta.
Retta.
Lebih baik kamu pulang, ya?
[suara langkah mendekat]
[musik tegang]
Kenapa kamu ke sini?
Aku mencari Bang Jangkung.
[musik dramatis]
Dia tidak suka ketemu masa lalunya.
Sebentar. Ini mahal.
Sebentar.
Ini juga mahal.
[teriak]
[keduanya berteriak dan menggeram]
[menjerit]
[mengerang marah]
Ada apa ini?
[alunan piano tegang]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[musik tango]
Kenapa?
Ada apa kalian ini?
Aku punya pekerjaan, Bang.
Bayarannya besar.
Kang Jangkung tak butuh pekerjaan dari kamu.
Bisa buat beli sepatu.
Nah. Bisa buat beli sepatu, Yang.
Bilang dari tadi.
[obrolan pelan]
Aku akan minta tolong ayahku untuk mencarikan Sari.
- Ayahku jago mencari orang. - Ya, aku tahu.
- Nanti aku ditemani ya? - Ke mana?
Pulang.
[tertawa lirih]
[bahasa Jawa] Ya, sudah. Tugas terakhir ya?
[tertawa]
[alunan gitar romantis]
Psst.
[bahasa Indonesia] Kalian berdua mirip. Seperti jodoh.
[musik romantis berlanjut]
[percakapan di kejauhan]
[telepon berdering]
Halo.
Pa, Retta mau pulang.
[berbisik] Mama kamu sakit memikirkanmu.
Ya, Pa.
[musik rock ceria]
Kenapa?
[bahasa Inggris] Semoga sukses, ya?
[mengerang]
[bahasa Jawa] Aku diapakan, Mbak?
[wanita bahasa Indonesia] Dibersihkan dulu, Mas, kukunya, biar tidak bau.
[menghela napas]
Ayo.
Pah, perkenalkan, ini pacarku.
Roni.
Ini papaku.
Jamroni.
Muhammad Jamroni.
Pa, aku mengajak Bang Roni ketemu Mama dulu ya?
Ya.
[alunan piano lembut]
Retta.
Retta.
Retta.
Maafkan Retta ya, Ma.
Tidak. Papa kamu yang harus minta maaf sama kamu.
Sini.
Ini...
Itu Bang Roni. Sini.
Calon suami.
Pilihanku.
Bu.
Tapi kamu pintar.
Pintar apa?
- Pintar cari calon suami. - [tertawa]
Ya, ya.
Bukan begitu, Pak.
Aku... Tidak... Pak Presiden, aku 'kan sudah melakukan yang...
'Kan aku ke sini mengantarkan kamu pulang, sekarang, menjadi pacar?
[berbisik] "Calon suami"?
Mau menikah?
[berbisik] Kamu tahu papaku seperti apa.
Aku tidak mau dijodohkan.
Waalaikumsalam.
[musik canggung]
Jadi, orang tua kamu tinggal di mana?
Jauh, Pa.
Jauh?
Em...
Merauke.
Merauke?
- Ya, Pa. - Merauke?
Em...
Sebenarnya, Bang Roni belum pernah tinggal sama orang tuanya di Merauke.
Dia juga jarang telepon, soalnya di sana tidak dapat sinyal.
[tertawa]
Tidak dapat sinyal ya?
Terus, kalau kamu mau melakukan kunjungan ke orang tuamu...
Kamu tinggal di Sabang, ya?
Jadi, dari Sabang sampai Merauke.
Begitu? Berjajar pulau-pulau dan menjadi satu.
[tertawa]
[menghela napas]
- Retta. - Ya, Pa?
Papa mau bicara dulu sama Jamroni.
Jamroni.
[menghela napas]
[mengerang]
[suara tertahan] Di mana orang tua kamu tinggal?
Jawab.
Sebenarnya,
aku dari kecil tinggal bersama orang tua angkatku
di lereng Gunung Merapi.
[suara tertahan] Jangan mengarang cerita.
Kamu jawab yang benar atau kupotong hidungmu.
Aku tidak tahu.
Tidak tahu memang jawaban paling masuk akal,
daripada kamu sok tahu.
Kalian akan bertunangan dulu.
Tidak di gedung atau dengan ribuan undangan.
Mungkin hanya di rumah ini, dengan saudara-saudara dekat.
Aku tidak pernah percaya kepada orang lain.
Karena aku tahu percaya kepada orang lain adalah sebuah kelemahan.
Tapi begitu melihat kamu, naluriku bicara lain.
Kalau kamu nanti menikah dengan anakku, jaga dia baik-baik.
Jangan kamu sakiti hatinya atau fisiknya sedikit pun.
Kamu bisa mengerti perkataanku?
Mengerti, Pak.
Maafkan aku.
Skak!
[orang-orang mengejek]
- Bos. - [teriakan berkurang]
[musik tegang]
Aku datang, kamu berhenti bermain?
- Kamu mabuk ya? - Tidak, Bos. Benar.
Coba kutes.
[mengerang]
Kenapa?
Kok kamu diam saja, tidak membalas?
Hm?
[mengerang]
Ha?
[mengerang]
- [benturan keras] - [mengerang]
[mengerang]
[mengerang]
- [hantaman keras] - [mengerang]
- [terengah-engah] - Bangun.
Kamu tahu kesalahan kamu?
Bermain catur, Bos.
Memang, sejak kapan main catur salah? Ha?
- Kok kamu diam saja kutanya? - [mengaduh]
Kalau dari dulu tidak boleh main catur, kenapa tidak dilarang sama polisi?
Maksudku, main catur bukan pada waktunya, Bos.
Aku tidak bertanya, kok kamu menjawab?
Memang, ada peraturannya?
Kalau main catur harus jam segini, harus jam segini? Memang ada?
Tidak ada, Bos.
Aku tidak menanyaimu.
Kamu takut ya sama aku?
Ya, Bos.
Kenapa kamu takut padahal tidak salah apa-apa?
Kok kamu takut?
Hanya kebetulan saja, pas aku datang, hatiku tidak enak dan aku melihat mukamu.
Jadi, aku memukulimu.
Kukasih tahu kalian semua.
Kamu tahu kenapa semua tongkatku berwarna merah?
Semua, kenapa warnanya merah?
Ini harga diri, kalau kalian tidak tahu.
Ya? Dan aku paling tidak suka kalau harga diriku diinjak-injak.
Termasuk harga diri kalian semua.
Kita ini seperti keluarga.
Besok kita akan merebut kembali
harga diri kita yang sudah direbut oleh Hastomo.
- Siap? - Siap!
Sepertinya Amsar sudah tahu tentang pertunangan anak kita.
Terus kenapa kalau Amsar sudah tahu?
Kenapa kita harus takut kalau dia sudah mulai mengancam?
Amsar itu 'kan...
Pokoknya, Pa, Retta harus menikah dengan pilihannya sendiri.
Aku tidak rela kalau anak kita kamu korbankan demi kepentingan bisnis.
[menghela napas]
Ma, aku utang budi sama Amsar.
Aku berjanji sama dia untuk menikahkan Retta dengan Tino.
Dan kamu sudah sepakat untuk itu.
[tertawa sinis]
Pa, Undang-undang Dasar saja bisa diamandemenkan.
Apa lagi ini.
Kesepakatan yang tidak ada berkas hitam di atas putihnya.
Ini masalah komitmen laki-laki, Ma.
Ini masalah masa depan anak kita, Pa.
Ma, apa arti seorang laki-laki kalau ucapannya tidak bisa dipegang?
Papa, dengar.
Kalau sampai aku meninggal sebelum Retta menikah dengan pilihannya sendiri,
arwah aku akan terus menghantui kamu.
Tidak perlu bicara Mama mati.
Kalau pun ada yang mati, itu Papa.
Papa yang lebih dulu.
Papa tidak bisa hidup tanpa Mama.
Ron, jam segini belum tidur?
Kenapa? Kamarnya tidak enak?
Aku mau bertanya.
Maaf kalau aku salah.
Kalau aku salah, silakan.
Kamu bisa menertawakan aku.
Kamu benar-benar sayang dan ingin menikah denganku atau tidak?
Ya, kalau kamu sendiri?
Kok malah bertanya?
Ya, bagaimana ya?
Jujur saja,
begitu ketemu kamu, aku tiba-tiba merasa dekat.
Merasa gampang akrab sama kamu.
Terus, aku bisa yakin banget, kamu itu orang baik.
[tertawa]
[alunan piano romantis]
Sudah begitu, aku juga merasa sayang sama kamu.
Kalau kamu bagaimana?
[alunan piano romantis berlanjut]
Kalau berdiri, harus dikancing.
Kalau duduk, baru boleh dibuka.
[musik romantis]
Kamu ganteng.
Retta, kita lagi pura-pura.
Ini bukan sungguhan.
[musik sedih]
Jadi...
kamu pura-pura?
Hei.
Kamu tahu 'kan kenapa aku ke Jakarta?
[menghela napas]
[alunan piano kontemplatif]
- Ma. - Retta, ayo sini.
Ini bagus sekali. Percayalah. Pakai coba.
Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.
Apa? Sudah nanti terlambat acaranya. Ayo pakai.
Ini bagus. Percaya sama Mama.
Ayo dipakai.
Mas, di dalam kayaknya ada masalah sama air.
Bisa minta tolong dilihat tidak ya?
[musik tegang]
[suara pukulan dan erangan]
Tolong diperketat penjagaan karena hari ini hari pertunangan anak Bos.
Baik.
Mas, mau ke mana ya?
Tidak, aku mencari toilet.
- Ada tidak ya di dekat-dekat sini? - Di sana.
Di sini toilet banyak, jadi silakan mau pilih yang mana.
Terima kasih, Mbak.
Ayo.
[musik tegang dan dramatis]
[preman-preman berteriak]
Kamu masuk dan cari anak itu.
Ayahnya biar urusanku.
[musik dramatis berlanjut]
[berteriak] Hastomo!
Keluar kamu, Hastomo!
[musik tegang]
Ron?
[musik tegang berlanjut]
[menghela napas]
[keduanya mengerang dan menggeram]
[suara pecah keras]
[musik dramatis]
Aku mau menagih janji.
[menghela napas]
Kalau aku tak bisa menepati janji?
Selalu ada risiko untuk yang ingkar.
Oke.
Tapi darahku dan darahmu saja. Yang lain tidak usah.
Bagaimana perjalanan ke sini? Macet?
Tidak terlalu.
Macet Jakarta sudah keterlaluan.
Aku mulai berpikir untuk pindah ke daerah yang lebih pedalaman atau...
- Desa terpencil. - Oh, ya?
Ya.
Aku ingin membuka peternakan.
Perkebunan.
Petani melon.
Dari dulu aku ingin sekali menjadi petani melon.
Wonosobo.
Sudah pernah ke sana?
Tingginya pas buat buka peternakan sapi.
Mungkin setelah urusan kita ini selesai.
Ya.
Sial.
[musik dramatis dan tegang]
[preman menyerang]
Ssst!
Tidak apa-apa?
[musik dramatis]
Retta.
[berteriak]
[berteriak menyerang]
Ssst. Kamu Jamroni, ya?
[musik klasik dramatis]
- [mengerang] - [menggeram]
[tersengal-sengal]
Siapa kamu?
Aku Jangkung.
Yang mau membunuhmu.
[musik dramatis]
[bersorak sorai]
Kamu tidak apa-apa?
Tidak usah terlalu kencang-kencang.
Orang yang sudah berumur kayak kita, enzimnya sudah berkurang.
Berbahaya.
Aku olah raga.
- Yang penting mengeluarkan keringat. - Ayo.
Bisa copot gigimu nanti. Kamu mau ompong?
[teriakan marah]
[semua berteriak dan menggeram]
[menggeram]
[keduanya menggeram dan mengerang]
[pria-pria bersorak]
Kamu tidak berkeringat ya?
Kembali yang kubilang soal masalah enzim...
Bahaya sendi-sendimu kalau...
Sudah kubilang. Terserah kamu.
[menggeram dan mengerang]
[preman-preman berteriak marah]
Mundur semua. Mundur.
Siapa yang menyuruh maju?
[mengerang dan menggeram]
[mengerang dan menggeram]
[musik laga]
[alunan musik rock]
[semua menggeram dan mengerang]
Hei.
[musik dramatis]
[rentetan tembakan]
Anakku!
Anakku!
Ibu!
Bu, bayinya biar kubawa Bu, untuk ditidurkan.
[musik dramatis]
Permisi.
Ya, Suster.
Terima kasih, ya.
- Bu, bayinya mana? - Tadi baru saja digendong suster.
- Suster? Suster yang mana? - Suster yang tadi ke sini.
Bayiku di mana, Suster? Dibawa ke mana?
Suster, bayiku mana?
Ini belum selesai.
Aku tak terima seperti ini.
Kita lihat nanti, apa yang akan terjadi.
Jaga dirimu dan keluargamu baik-baik.
[musik dramatis]
Ron...
Eh, Mas. Belum biasa.
Panggil Ron saja, seperti biasa.
Ini, ada surat.
Sini.
[Sari] Walau kamu tak pernah membalas surat-suratku, Ron.
Aku kini bahagia
mengetahui kamu sudah menemukan jatidiri kamu.
Kamu sudah menjadi pelindung bagi keluargamu.
Kok tidak ada alamatnya?
[Sari, terharu] Memang...
kalau ada alamatnya kamu bakal membalas surat-suratku?
[alunan piano romantis]
Sekarang...
kamu jagoan, ya?
Aku punya perusahaan jasa boga.
[tertawa terharu]
[alunan gitar romantis]
Ron.
Dipanggil Papa.
Sebentar ya.
[musik dramatis]
Ayah kamu hebat, bisa menemukan aku.
Kamu anak laki-lakiku. Kamu penerusku.
Dan ini semua adalah milikmu.
Kami percaya kepadamu.
Selamat, Bos.
Pengabdianku, Bos.
[musik dramatis]
Ayah kamu kerja apa?
Dia pemberi keadilan.
[semua menjerit dan menggeram]
[musik dramatis berlanjut]
Siapa yang berkuasa di Jakarta?
Jamroni.
[suara tembakant]
- [teriak] - [suara tembakan]
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.