All language subtitles for 15.August.2019.NF.WEB-DL

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

PERSEMBAHAN NETFLIX

Halo.

Kemarilah.

Halo.

Bodoh, semua orang akan dengar kali ini.

- Apa peralatan makan tak pernah jatuh? - Tapi...

- Berapa sisanya? - Cukup untuk satu set manisan.

Dia akan minta manisan.

Kakak, aku butuh dua kilogram jilbi.

Dua kilogram? Tidak. Kami bahkan tak punya 200 gram untuk dijual.

Kami punya pesanan.

Periksa apa kau punya.

Serius. Aku tak bohong pada Hari Kemerdekaan!

Kenapa tak beli chaklis saja? Keduanya spiral, 'kan?

Tapi aku ingin makanan manis.

Ada tamu hari ini.

Untuk Jui?

Kau pasti akan mendapatkannya.

Tidak sebelum kau menunjukkan foto peminangnya.

Jangan mulai bahas itu lagi.

- Dia terlihat tampan, ya? - Pria sebelumnya juga lumayan.

Karena sedang membicarakannya, aku ingin tanya.

Ibu Sonu bilang Jui dan Raju, si pelukis, masih sering bertemu diam-diam.

- Tidak! Itu tak benar. - Aku juga tak percaya.

Aku tahu Jui itu gadis baik.

Benderanya!

Terlambat beberapa detik, dan kemerdekaan akan digoreng.

Cukup. Hentikan dan mulai mengemas.

Ayolah, cepat.

Berapa kali harus Ayah bilang soal kekurangan air?

Di negara kita, batasnya 20 menit.

Untuk ke toilet, gosok gigi, bercukur, dan mandi. Ayo cepat.

Omong kosong. Dia belum butuh bercukur.

Jika kau terus memanjakannya, dia takkan punya jenggot!

Apa maksudmu?

- Ada apa di luar? - Lihat dia.

Sepertinya Gavaskar menyiapkan pidato.

- Berandalan, pengkhianat. - Ayolah.

Kuyakin ini pria yang menggantung tali di luar pintu kita

dan terjebak... Aduh!

Jangan mengoceh. Kau punya bukti?

Bagaimanapun dia, dia takkan lakukan trik murahan hanya untuk pidato.

Mungkin kau harus menceraikanku dan menikahi si Gavaskar tua itu.

Kenapa bercerai sekarang?

Pakai ini. Pengibaran bendera sebentar lagi.

Aku tak akan datang. Aku tak bisa lihat pria itu mengibarkan bendera.

Jangan lampiaskan kemarahanmu kepada negara kita.

Cepat bersiap.

Halo, Semua.

Hari ini 15 Agustus.

Itu berarti hari ini adalah Hari Kemerdekaan India.

Untuk meraih kemerdekaan...

Untuk meraih kemerdekaan ini...

Apa yang kau lakukan?

- Untuk meraih kemerdekaan... - Kenapa berusaha menghafalnya?

Perdana Menteri pun membaca catatan.

Apa yang membuatmu malu?

Mahatma, Patel.

Aku akan menghafal jika aku perdana menterinya.

Pertama, mulai berbicara tegas dalam pertemuan masyarakat.

Aku tak pernah diizinkan bicara. Sebab itu aku buat pidato.

Tak boleh ada yang terlewatkan.

Tunggu dan lihat saja hari ini.

Aku mencintaimu, Raju.

Kau tahu ini?

Kau tak tahu, ya?

Aku pertama menaksirmu

di Hari Kemerdekaan.

Aku menatapmu tanpa henti.

Bendera di langit dan Raju di darat.

Sonu! Ada apa?

Kenapa Ibu tak dengar air?

- Air mengalir. - Cepat selesaikan, Bodoh.

Kau masih tersambung?

Bukan aku. Teleponnya jatuh.

Kabarku baik.

Bangun pukul 04.30 pagi dan berdoa di beranda.

Lalu kulihat orang tua mengajak kedua anaknya pergi piknik.

Ya, itu jelas piknik.

Tak ada yang pakai topi mewah ke pernikahan.

Tak apa-apa mereka pergi, tapi seharusnya tinggalkan kakek di rumah.

Tapi tidak.

Mereka harus menanggung akibatnya di kehidupan ini.

Ya.

Ya, dia di sini. Aku akan temui dia sekarang.

Ya.

Kakek.

Kau dengar?

Tampaknya kau banyak berdosa di kehidupan lampau.

Apa kau membantu Inggris dalam perang kemerdekaan?

Aku bercanda, Kakek.

Selamat ulang tahun.

Aku bahkan tak bisa meminta pesta darimu.

Dengar. Ingin pertunjukan?

Sekarang setrika benderanya, ikat simpulnya. Tunjukkan pada semuanya.

Bacakan pidatonya.

Tampil seolah kau berjuang untuk kemerdekaan dengan susah payah.

Kau suka pamer. Semua orang tahu siapa kau sebenarnya.

Tak berguna!

Anak-anak juga akan meledekmu. Bekerjalah.

Tak ada yang akan memberimu pekerjaan bahkan sebagai penjaga kebersihan.

Ninad, Pappu, Sohum.

Jika kulihat kelereng lagi di sini, aku akan menumbuknya.

Kakak, biar aku ambil kelereng ini.

Ini kelereng keberuntunganku. Aku bisa mengenai apa pun.

Kumohon.

Baik. Ambil. Tapi jangan rusak rangoli-nya.

Rangoli.

Siapa yang akan berterima kasih? Ayahmu?

Nanti sore saja.

Raju!

Bagaimana Rangoli-ku?

- Bagus. - Terima kasih.

Raju!

Selamat Hari Kemerdekaan.

Selamat Hari Kemerdekaan.

Selamat Hari Kemerdekaan untuk semua!

Vini, tutup pintunya.

Ambil ini. Bendera yang sudah disetrika.

Akan terbang tinggi?

Atau akan terikat kuat di tiang?

- Lelucon bagus! - Coba kulihat.

Jangan sentuh dengan tangan kotor. Tak ada yang bisa dilihat.

- Tali dan bunganya? - Talinya di sini.

Bagus! Kuajari cara ikat tali ke bendera.

Jangan tahun ini.

Tahun depan saja.

Anakku.

Tahun depan, masyarakat ini mungkin tak ada.

Mungkin ada menara besar.

Begitu apartemen dibangun di sini,

semua kegembiraan akan hilang.

Semua orang menutup pintu.

Tetangga tak dikenal. Tak tahu jika seseorang mati

sampai mereka bisa mencium bau mayat.

Semuanya akan individual. Tak ada perkumpulan sosial.

Tak apa-apa.

Kamar mandi umum tak bagus saat kita berkencan!

Bagus.

Ucapkan selamat ke Kakek Morรฉ sebelum lupa.

Begitu sibuk, kita mungkin lupa.

Ayo.

- Ayo. - Sonu.

Kau gambar apa?

- Rangoli. - Apa ini Rangoli? Bagus!

Kenapa ada kursi di sini?

Kita berdiri untuk lagu kebangsaan.

Tn. Gavaskar akan berpidato sejam.

Siapkan kasur juga!

Lelucon bagus!

Selamat ulang tahun

Selamat ulang tahun

Selamat ulang tahun, Kakek Morรฉ!

Selamat ulang tahun

Selamat ulang tahun dan Hari Kemerdekaan!

Astaga. Selipkan dari sana.

Setiap kali saat aku menarik tali bendera,

aku berdoa Kakek merdeka tahun ini.

Jiwa akan bebas.

Tapi kita tak berdaya di hadapan kehendak Tuhan.

Siapa yang mengajarimu mengikat tali?

Aku dapat ide bagus.

Lari ke kantor, periksa apa kita punya motor.

Motor?

Gunakan motor untuk menaikkan bendera.

Tinggal tekan tombolnya, dan bendera naik dengan cepat.

- Periksalah. - Aku akan kembali.

Hidup India!

Ayolah! Keluar sekarang!

Kau bisa jatuh.

Apa-apaan ini?

Kenapa ia di dalam dengan Lalya?

Apa saja bisa.

Ini Hari Kemerdekaan.

Ayo kembali bekerja.

Paman, apa ini benar?

Tunggu, bukan seperti ini.

- Aku punya sembilan. - Aku sebelas.

- Ayo letakkan. - Baik. Tunggu.

Bicara saja. Tak ada penempatan.

Sekarang kau hanya harus melihat.

Lihat, dia sangat tampan.

Jui.

- Halo, siapa ini? - Halo.

- Ini aku, Inamdar. - Halo.

Inamdar.

Ya. Ini aku.

Kau berangkat sekarang? Bagus.

Ini hari libur, jadi, takkan ada kemacetan.

Cepat datang. Kami menunggu.

- Kapan mereka tiba? - Dalam sejam.

Mereka mau menetapkan semuanya hari ini.

Lebih berhati-hatilah kali ini. Jangan ulangi yang sebelumnya.

Seharusnya berhasil kali ini.

Akan berhasil.

Sudah mengambil perhiasan dari lemari?

Kuambil sekarang.

Jui, pakai sari merah spesial Ibu.

Merah warna keberuntungan bagimu.

Aku takkan memakai sari.

- Juga pakai perhiasan. - Diam.

Jui, Ayah tak mau ada drama seperti sebelumnya.

Siapa yang ingin menjadi suamimu? Perdana Menteri?

Kadang aku merasa dia masih berhubungan dengan pelukis itu.

Suruh dia menjadi seniman jalanan.

Orang akan memberi uang recehan.

Jui, semua akan baik-baik saja seiring waktu berlalu.

Bahkan awalnya Ibu tak menyukai ayahmu.

Apa kau menyadarinya?

Pakai baju rapi hari ini.

Atau akan memalukan.

Ayo! Biar Ibu memakaikanmu sari.

Tak mau pakai sari.

Baik. Maukah kau setidaknya memakai gaun bagus?

Pakai yang tradisional. Paham?

Bisa kau berbelanja sebelum hujan?

Aku saja.

Jangan lupa membawa kantong.

Penjaga toko tak memberi kantong plastik.

Harus bagaimana saat hujan?

Seperti dulu saat tak ada kantong plastik.

Apa kita punya motor?

Motor itu, kau tahu, kita tekan tombol dan...

Rohit, tinggal di rumah. Keluarga Inamdar akan datang.

Sudah cukup kerja sosialmu.

Kita punya motor?

- Tutup pintunya. - Baik.

Tak kena apa pun.

Tunggu, ini kusut.

Paman.

Sudah selesai?

Kami juga tak punya.

Aku pernah lihat di kantor. Periksa lagi.

Tunggu. Jangan ditarik.

Ada simpul.

Sohum, cepat pulang.

Aku datang.

- Ashish, cepat. - Aku datang.

- Halo, Tn. Rajadhyaksha. - Halo.

Tak ada arti penting pada 15 Agustus.

Kita mendapat kemerdekaan hanya nama.

Selamat Hari Kemerdekaan!

- Ayah. - Ya, beri tahu Ayah.

Ibu menyuruh Ayah pulang.

Sonu!

- Di mana kunyitnya? - Ada padaku.

Sekarang tambahkan cabai bubuk, garam, dan sayuran ke dekorasimu.

Kita makan di sana. Bodoh!

Aku kehabisan warna kuning, jadi...

Tak ada motor di kantor.

Sekarang bagaimana?

Jangan khawatir, kutunjukkan cara mengibarkan bendera dengan tali.

Ayo.

Hai.

Apa kau harus terus mencoret-coret?

Bisa apa di waktu luang?

Aku tak mengerti ini.

Pergi ke kantor, sore ini selesai.

Berapa kali kubilang, jangan pakai sepatu sobek.

Ini sobek dalam perjalanan.

Aku mau kau memakai sepatu baru besok.

Akan kubeli.

- Ayo pergi sekarang. - Kita bertemu untuk membeli sepatu?

- Setidaknya ambil uangku. - Tidak, aku akan punya uang.

Benarkah? Dari mana?

Ada satu pekerjaan.

- Kau pilih bekerja? - Ya.

Kenapa?

Hal yang sama. Bertengkar dengan Ayah.

Dia juga tak salah. Uang...

Aku bekerja, tenanglah.

Bersabarlah.

Terus melukis. Semua akan baik saja.

Begitu aku naik jabatan, kita kabur dan menikah.

Kita tak harus mematuhi siapa pun. Kita akan merdeka.

Semuanya akan baik-baik saja.

Aku tahu.

Aku ingin melihatmu terkenal.

Kau akan terkenal?

Hidup sudah indah apa adanya.

Tak perlu jadi apa pun.

Kenapa menggali tanah

untuk melihat benih tumbuh?

Bagus!

Siapa penulisnya?

Kau yakin ini bendera?

Tentu saja.

Ninad, pulang dan mandilah

atau Ayah akan menyirammu.

Ayah, kita kekurangan air, benar?

Bodoh, kau memakai pakaian baru tanpa mandi.

Cepat pulang.

Sok pintar.

Tak melakukan apa pun tepat waktu. Seperti ibunya.

Kenapa tertawa? Main.

Aku akan kembali, mengunjungi kuil.

Jui.

Bawakan permen karet.

Vini.

Aku segera kembali. Warnai hijau bagian ini.

- Warnai di dalam garis. - Baik.

Ambil sekarang.

Biar kuambil. Itu kelereng keberuntunganku.

Tidak! Pergi.

Bodoh!

Sore ini, aku akan ke rumah Bibiku untuk bermain gim.

Kau bisa memainkannya?

Lebih jago darimu. Jangan mengajariku.

Itu sebabnya kau curang. Dasar curang...

Siapa yang kau bilang curang?

- Beli bendera. - Tak mau.

Bukan untukmu, berikan ke gadis itu.

- Berapa? - Hanya lima rupe.

Ini uangnya.

Ke mana gadis itu pergi?

Dia ke sana.

Selamat Kemerdekaan.

Mereka datang untuk menyelesaikannya.

Aku harus apa?

Tak bisa mengelak lagi.

Kali ini, bahkan horoskopnya cocok.

Yang lain juga cocok.

Peminang sudah suka aku.

Dia tinggal di AS.

Anak tunggal, punya banyak uang.

Dia juga tampan.

Lihat.

Aku tahu. Kenapa memberitahuku lagi?

- Karena sebelumnya tak penting bagimu. - Apa aku tahu kau akan dipecat?

Kau hanya andalkan pekerjaanku?

Apa yang kau lakukan?

Aku berusaha.

Berusaha.

Aku terjebak antara kau dan orang tuaku.

Kalian baik-baik saja.

Seharusnya tak kucoba jadi seniman.

Negara ini tak tercipta untuk seniman.

Kritik saja negara saat tak bisa lakukan apa pun.

Kau, patriot hebat, kau berdandan untuk si Amerika itu.

Dia bukan orang Amerika. Dia hanya tinggal di sana.

Mudah sekali.

Mengubah patriotisme sesukanya.

Benarkah? Bukankah kau patriot? Seniman besar?

Bukankah kau bilang, "Dunia ini keluargaku"?

Kau bilang kau warga global.

Ya. Kau putuskan siapa dirimu.

Jangan bicara omong kosong. Pulanglah.

Mau kabur saja?

Aku ke sini untuk tanyakan. Kau memulai ini.

Kita selalu temukan hal positif dari pertengkaran kita.

Lihat yang kubawa.

- Apa ini? - Cincin.

- Dari mana? - Toko Perhiasan Churmure.

Bukan begitu. Kenapa kau memilikinya?

Ulurkan tanganmu.

- Kau gila? - Ulurkan saja.

Bagaimana bisa lakukan ini saat kau harus menabung?

Mau atau tidak?

Diam!

Anggap ini pertunangan.

- Bukankah kau Raju? - Ya.

Siapa gadis itu?

Siapa? Aku tak tahu.

Yang barusan pergi.

Bukan gadis. Itu pria.

Astaga!

Operasi katarak ini membuatku buta.

Aku tak bebas melihat mauku,

katanya ini Hari Kemerdekaan.

Pemerintah harus lakukan sesuatu untuk pasien katarak.

Imajinasiku liar. Tak ada yang lain.

- Apa gadis itu saudarimu? - Apa yang kau katakan?

Bukan yang ini, yang sebelumnya.

Kisah cinta serius.

- Ya. - Jadi, apa masalahnya?

Jangan berani menemuinya lagi.

Jangan meremehkan Deshmukh.

Kau ingatkan dia.

Jangan kemari jika keadaan lepas kendali.

Kau dengar?

Dengar?

Jika ingin melakukan hal seperti itu lagi,

tolong pergi dari rumah Ayah segera.

Kau tak bisa cari uang, tapi tahu cara pacaran.

Jui, aku ayahnya.

Aku mengenal baik dia.

Kau gadis baik. Jangan jatuh cinta padanya.

Dia akan terus melukis.

Dia akan bangkrut dan membuatmu mengemis juga.

Hanya orang kaya yang bisa menjadi seniman.

Dia bermimpi mengadakan pameran seni

di Galeri Seni Jehangir. Seperti Picasso dan M.F. Husain.

Aku akan pameran di sana kelak.

- Kalian akan melihatnya. - Diam atau kutampar.

Deshmukh, yang terjadi hari ini,

aku minta maaf. Aku akan mengurusnya.

Tapi kendalikan putrimu. Ajari dia,

sebab itu bukan urusanku.

Baik, aku akan mengurusnya.

Jui, berjanjilah satu hal.

Kau takkan menemuinya lagi.

Ambil teleponnya dan hapus nomornya.

Ayolah, Ibu. Dia bisa dapat nomornya dari siapa pun.

Hormat kepada Guru dan berjanji

- kau takkan temui dia lagi. - Ya.

Kau takkan katakan sesuatu?

- Tidak. - Kau...

Kau baik-baik saja?

- Apa yang terjadi? Kau baik saja? - Tenang, dia pura-pura.

Ibu akan menamparmu.

Astaga. Ayahmu sekarat di sini dan...

Baik. Aku berjanji.

Bukan seperti itu. Sentuh kaki foto Dewa.

Aku tak cukup tinggi untuk menyentuhnya.

Ayah, ini keterlaluan.

Diam! Jika kau mulai berpacaran,

Ayah gantung kau terbalik.

Aku akan berpacaran.

Apa?

Kau bilang apa?

- Kemari. - Deshmukh, kami pergi.

Raju, kemarilah.

Mau minum?

Kisah cinta itu palsu.

Hei, tunggu.

Diam. Aku akan menamparmu.

Berikan.

Kenapa dia mengambil botolku?

Lihat apa? Ceritakan kisah cinta.

Pergi. Kenapa aku harus ceritakan?

Itu sebabnya aku tak pacaran.

Wanita ini yang terbaik.

Mereka datang dan pergi saat kuinginkan.

Kebebasan penuh!

Astaga!

Bagus sekali. Gambar yang bagus.

Ke mana mereka berlari dengan benderanya?

Tidak akan ke mana-mana. Itu gambar.

Selama lukisan tinggal, mereka tinggal.

Terjebak di sini.

Dasar nakal, berhenti bercanda.

Ikut aku ke kuil.

Kau akan diberkati.

Jangan khawatir. Aku cukup diberkati.

- Kau ikut denganku. - Tidak, Nenek, banyak pekerjaan.

Kami harus menaikkan bendera.

- Baik. - Ayo lari, Teman-teman.

Rangoli.

Ayo ambil ini...

dan letakkan di bawah pohon.

Raju, kerja bagus!

Katakan satu hal, apa kita lari membawa bendera

atau menendang musuh?

Mereka tak melarikan diri. Hanya seperti itu.

Ke mana mereka akan berlari?

Mereka harus berhenti di perbatasan.

Tapi aku pernah mengunjungi perbatasan India-Pakistan.

Sejujurnya, partisinya masih menyakitkan.

- Masih? Kau di sana saat itu? - Tentu saja.

Berapa usiamu, Paman?

Maksudku kehidupan lalu.

Kau ada saat era Mahabharata?

Kenapa tidak? Kita semua di sana.

Tapi tak ingat siapa kita.

- Mungkin raja. - Untung tak ingat.

Aku tak begitu suka.

Kenapa kau tak gambar?

Kau tahu bicara dengan siapa?

- Kau! - Sonu, biarkan saja.

Ayo. Omkar, tunjukkan simpul bendera terakhir.

Paman, kau tak bilang siapa yang mengajarimu.

Aku hampir masuk militer India, tapi aku terlalu kurus.

Aku akan menjadi tentara terhormat sekarang.

- Kau sangat menyukainya? - Tidak.

Kenapa tidak?

Maksudku, aku suka.

Tapi ada yang jatuh ke lubang saat aku melihatnya.

Uang lima rupe.

Akan kuminta mereka. Ninad...

Aku akan memberikanmu lima, tidak sepuluh rupe.

Apa aku pengemis?

Maaf.

Dengar, Sonu. Aku ingin koin yang sama.

Koin keberuntungan?

- Ya. - Siapa yang berikan?

M.F. Husain.

Kalau begitu, kita harus ambil.

- Ninad. - Nanti malam saja.

Lima rupe milikku masuk ke lubang, ambilkan.

- Aku ambil kelerengku juga. - Ya, boleh. Kemarilah.

Hati-hati rangoli-nya. Mengerti?

Lakukan.

Kau temukan?

Ya, tapi sepertinya bukan koin.

- Bulat dengan lubang. - Keluarkan.

Tapi bukan koin.

Lakukan saja. Keluarkan.

Cepat.

- Tunggu, aku mencari kelelereng. - Cincinnya...

Ambil benda seperti cincin itu, lalu kelerengmu.

Apa? Itu kelereng keberuntunganku.

Ambil barangku dulu, lalu kelerengmu. Ya?

Tapi Sonu tak izinkan.

Dia akan izinkan. Sonu, boleh?

- Ya. - Beri tahu dia.

Ya, tentu.

Cepat lakukan.

Ini tak mudah.

Rangoli-ku. Hei, keluarkan tanganmu.

- Apa? - Tersangkut.

Berhenti. Aku akan bantu.

Tidak, Raju.

- Kenapa kau tertawa? - Geli.

Diam.

Benar-benar tersangkut!

Berhenti! Kalian tunggu.

Tanganku sungguh tersangkut.

Tunggu. Jangan khawatir. Kita akan keluarkan.

Jangan hilangkan benda bulat itu.

Ibu Ninad!

Tangan Ninad tersangkut di lubang.

Ayo kumpulkan semuanya. Benderanya siap. Angkat sekarang.

Pelan-pelan, Ninad.

Pelan-pelan. Putar.

Semuanya, minggir.

Tunggu. Tangannya tersangkut.

Jangan khawatir.

Begitu benderanya di sini, tangannya akan bebas.

Aku tak bercanda. Ini benar-benar tersangkut.

Astaga. Berdirikan di sini.

Tunjukkan. Biar kuperiksa.

- Pelan-pelan. Coba kulihat. - Rangoli-ku.

Ninad, apa yang terjadi?

Bagaimana bisa tersangkut?

Tangan lebih penting daripada rangoli.

Minggir.

Sudah kubilang jangan bermain dengan mereka.

Kau lihat, tangan mereka aman. Hanya tanganmu yang tersangkut.

Jangan salahkan mereka.

Saat Pappu kehilangan kelereng, aku berikan yang baru.

Tak perlu masukkan ke lubang.

Bodoh, Ayah suruh kau di rumah dan belajar.

Kau tetap main.

Main apa? Kelereng?

Aku terus memberitahunya

olahraga bukan untuk kita.

Jika mau, main kriket atau Kabaddi.

Tapi dia main apa? Kelereng?

Aku minta pemukul kriket, kenapa Ayah tak belikan?

Diam, bodoh!

Kau akan masukkan ke lubang juga.

Dasar bodoh!

Tuan Joshi, dengar.

Tak baik bagi ayah untuk meninggalkan putranya sendirian begini.

Dia bisa menjadi gangster.

Ya, aku mengerti.

Tangannya takkan di sana selamanya.

Itu akan keluar.

Tapi dia perlu didisiplinkan.

Dia raja drama. Tak makan satu pun sayuran.

Hanya keripik, seperti orang Amerika.

Kita perlu keluarkan tangannya, bagaimana dia akan makan sayuran?

Ninad, berjanji terlebih dulu

kau akan patuhi Ayah dan Ibu.

Tanganmu akan keluar.

Jangan khawatir, Gokhale di sini.

Hapus air matanya.

Sekarang, saksikan sulap dari pesulap Gokhale.

Minggir, cepatlah.

Tenang, ada aku. Jangan menangis.

Jangan lihat tangannya dan pikirkan lubangnya.

Kau hanya perlu melihat lukisan.

Kerja bagus. Kau tahu puisi?

Bukan puisi, tapi lagu.

Baik, nyanyikan lagu Dehachi Tijori.

- Aku tak tahu. - Tak tahu?

Apa? Pappu kami bisa menyanyikan lagu lama. Pappu, nyanyi.

Bagus sekali.

- Tanganmu tersangkut? Diam! - Ayah.

- Lagu apa yang kau tahu? - Kau bisa bernyanyi...

Boleh menyanyikan lagu patriotisme?

Ya, semuanya tepuk tangan.

Tak berhasil?

Bagaimana jika patah?

- Ninad, apa tanganmu sakit? - Kakak, apa katamu?

Bagaimana bisa patah? Patah butuh cedera serius.

Setelah menarik tangan, hal terburuk adalah terkilir.

Tuan Gokhale.

Kemarilah.

Turunkan aku.

- Aku? Kalian bantu dia. - Kami?

- Ayo. - Cepat kemari.

Pegang dia baik-baik.

Pegang ini, jangan pergi.

Kau tambah gemuk, Tn. Patil.

Ada apa itu?

Tangan Ninad tersangkut di lubang.

Aku coba keluarkan, tapi sudutnya salah.

Aku akan coba lagi.

Tidak lagi. Jangan sentuh tangan putraku.

Ada apa? Kenapa menangis?

Sekarang berdarah.

Kakak, tenanglah.

Kami akan ambilkan obat dan kunyit.

- Ya, tolong. - Rohit, pergi.

Gunakan warna kuning dari rangoli. Itu kunyit.

Putri bodohku gunakan sekaleng kunyit untuk dekorasi.

Tidak. Ini tak bagus sekarang.

- Ambilkan obat. - Rohit, pergi.

Kenapa butuh antiseptik?

Kita butuh kunyit.

Ibu, apa kita punya Dettol?

Ayolah, kita butuh sepuluh menit untuk memakai sari dan merias wajah.

Apa gunanya semua ini? Aku tak mau ke AS.

Di mana botolnya?

Apa pedulinya?

Mereka bilang kini dunia makin dekat setiap hari.

Baik AS atau India.

- Beri tahu aku di mana botolnya. - Bisa kau katakan sesuatu?

Aku harus katakan apa?

Sebelumnya, dia menolak karena pria itu orang desa.

Kini dia menolak karena pria itu orang asing.

Di mana kau ingin tinggal? Bulan?

Kenapa memaksa jika dia tak ingin menikah?

Kau, tutup mulutmu.

Tinggal di rumah. Tamu segera tiba.

Jangan bilang dia punya adik.

- Lonceng pernikahan takkan berbunyi. - Berandalan!

Tenanglah!

Kau kerja sosial dengan korbankan rumahmu.

Dia membawakan antiseptik.

Ini dia.

- Mana yang sakit? - Di sini.

Jangan menangis.

- Seharusnya pakai kunyit. - Pasti sakit sekali.

Jangan menangis.

Kenapa menangis keras? Ada yang menarik tanganmu dari dalam?

- Diam! - Mereka bilang tikus menggali lubang...

Masih tersangkut?

Tangannya akan keluar.

Semuanya bernyanyi. Kupikir berhasil.

Tn. Joshi, sudah kubilang, kau tak bisa ramalkan apa pun. Lihat sekarang.

- Rangoli-ku. - Diam.

- Kurasa aku tahu apa masalahnya. - Apa?

Jatuhkan benda yang kau pegang, keluarkan tanganmu.

Jatuhkan?

- Tidak. - Kenapa?

Ayah akan belikan pemukul kriket. Jatuhkan.

Jatuhkan kelereng.

Tak bisa.

Kenapa tak bisa?

Karena aku bukan memegang kelereng.

Apa?

- Kenapa kau masukkan tanganmu? - Raju memintaku.

Koinku jatuh ke lubang, tanganku tak bisa masuk.

Aku lihat dia ambil kelereng,

jadi, aku minta dia mengeluarkan koinku.

Jadi, semua ini karena dia.

Itu sebabnya dia diam.

Kau bahkan tak membantu kami.

Ninad, jatuhkan koin itu dan keluarkan tanganmu.

- Tidak, Kakak, jangan... - Apa?

Tangan anakku tersangkut.

- Kau khawatirkan koin lima rupe? - Lempari dia 500 rupe.

Lima ratus?

Koin lima rupe itu bernilai 50 juta.

Koin lima rupe bernilai 50 juta?

Pantas dia sering tak lulus.

Raju, apa yang kau lakukan?

Sayang, jatuhkan koin itu.

- Lepaskan. Tak apa. Jatuhkan. - Kau jatuhkan koinnya?

Tak bisa. Tersangkut.

Bagaimana bisa?

- Ini koin dengan lubang. - Koin dengan lubang?

Halo.

Begini, Sayang...

Dengarkan. Apa pun yang kau pegang di tanganmu, koin,

koin dengan lubang, jatuhkan di sana.

Jika kita bergantung pada benda materi,

kita tak bisa hidup damai.

- Wow. - Aku akan katakan itu dalam pidato.

Dari mana kau dapat koin dengan lubang?

Jangan marah, Kakak.

Jika tangan bisa masuk, seharusnya keluar.

Tak bisa tersangkut selamanya. Benar, Paman?

Tulis...

Tuan Joshi.

Tuan Joshi.

Masukkan yang licin ke lubang,

seperti air sabun.

Benar! Vini, pulang dan ambil sabun.

Bawa sabun dari Swiss yang bibimu kirim.

Sabun sangat bagus. Katanya awet sepuluh tahun.

Apa yang kita harus lakukan?

Ayo gunakan busa.

- Oleskan perlahan. - Ya.

Merasa lembut dan lebih baik?

Ini akan baik saja.

Sudah merata?

- Ayo tarik pelan-pelan. - Aku takut.

Jangan. Aku yang coba.

Tunggu.

Kita sudah coba sendiri-sendiri, kini seluruh masyarakat membantu.

Kau lihat apa? Bersiaplah.

Baik.

Kita merdeka saat masyarakat bersatu.

Kita berjuang dengan berani saat bersama.

Ini hanya tangan kecil.

- Kita akan keluarkan tangannya. - Tidak.

Jangan coba sekarang. Dia sangat kesakitan tadi.

Kakak, jangan khawatir.

Ada sains jelas di baliknya.

Sudut tangan masuk, seharusnya keluar

saat dimasukkan ke sudut sama.

Tapi tak ada yang tahu sudut itu.

Jadi, ayo coba sudut berbeda. Ayo tarik dari sudut berbeda.

Jadi, saat sudut yang tepat cocok,

tangan akan cepat keluar.

Satu akan menyelesaikan pekerjaan.

Ayah.

Ibu menyuruhmu pulang.

Kuyakin dia tak tahu apa pun soal sains.

Aku tak setuju dengan rencana ini.

Kenapa?

Kami punya sabun dari Swiss

dan teori genius soal sudut.

Tangan pasti keluar. Percayalah. Ambil ini.

Ambil air.

Cepatlah.

Ayo buat air yang licin.

Begitu kita menuang air ke lubang,

tangannya akan mengendur.

- Halo? - Aku memakai sari.

- Halo? - Ya.

Dengar.

Pertama, aku akan buatkan teh terburuk untuk dia.

Lalu saat menuangkannya, aku akan tumpahkan di tengah.

Dia akan rasakan terbakar di bagian itu.

Jangan.

Pria malang itu mungkin tak bisa menikah jika kau tepat sasaran.

Aku tak tahu, tapi dia pasti keluar dari hidupku.

Setelah selesai menumpahkan,

aku akan ucapkan kata-kata buruk.

Mereka akan langsung kabur.

Aku bilang apa?

Gunakan kata umpatan.

Itu normal. Katakan yang kau takkan katakan.

Masa bodoh ibumu.

Ya, ini bagus.

Jika katakan begini, tak berdampak.

Tunjukkan cara melakukannya.

Masa bodoh ibumu!

Masa bodoh ibumu!

Benar.

- Baik. Dah. - Dah.

- Ada apa ini? - Tangannya tersangkut.

Baiklah. Coba lihat.

Hati-hati dan sebarkan merata.

Paman, sabunnya habis.

Apa? Aku diberi tahu itu akan awet untuk sepuluh tahun.

Ayo lakukan.

Pegang tangannya satu per satu.

Tunggu.

Setelah pegang tangannya,

kalian harus cepat tarik.

Tapi sekali saja.

Kalau tidak, dia akan kesakitan.

Dia akan merasa lebih baik di lubang.

Baik. Ayo mulai.

Aku tak bisa menunduk jauh.

Tuan Gavaskar, lakukan semampumu.

Pegang apa pun yang kau temukan.

Aku bisa pegang lengan.

Lengan? Baik. Pegang sebisamu.

Aku tak bisa menunduk atau melihat.

Nenek, berikan saja restumu.

Baik.

Semuanya siap?

Ya. Lagu apa yang kau akan nyanyikan?

Tn. Joshi, jangan ulangi kesalahan.

Kali ini, ayo nyanyikan lagu yang menginspirasi.

Kita nyanyi, dia dengarkan.

Lagunya adalah We Will Be Successful One Day.

Bagus sekali.

Bukan begitu? Baik, siap?

- Tunggu. - Apa lagi?

Berikan peluit.

Bagus.

Tuan Gokhale, ayo cepat.

Peluit pertama, kita mulai bernyanyi.

- Peluit selanjutnya, kita tarik. Paham? - Ya.

Cukup. Jika ada yang coba tarik tangannya, takkan kuampuni.

Tunggu, begini saja.

Ambil palu dan pahat

dan keluarkan seluruh pipanya.

Bukankah kita butuh waktu keluarkan tangan dari pipa?

Apa kau bodoh?

Dia akan bisa berkeliaran dengan pipa di tangan. Bagaimana?

Dia keluar!

Bagaimana? Ini giliranku.

Gavaskar, lihat yang dia tunjukkan.

Jangan tunjukkan aku, kau lihat.

Apa yang kau tunjukkan?

Aku sekretarisnya, tunjukkan padaku.

- Kenapa masukkan tangannya? - Bu, aku haus.

Ya, Sayang. Tolong ambilkan air.

Tolong ambilkan air.

Ambilkan air.

Paman, kau punya air minum?

- Kita punya air di rumah? - Tak ada air di rumah.

Aku tahu kekurangan air itu masalah besar.

- Itu sebabnya, hari ini dalam pidatoku... - Tuan Gavaskar, diam.

- Ambilkan. - Apa?

Lakukan hati-hati. Puing beterbangan.

Tolong hati-hati.

Air hanya menyala dua jam tempo hari.

- Rangoli-ku. - Bisakah kau diam?

Ada apa?

- Masuk ke mataku. - Lakukan hati-hati.

Berikan dia kacamata.

Kita tak ingin dia cedera bagian demi bagian.

Astaga. Aku lupa kacamata hitamku di kuil.

Dia selalu melupakannya.

Pakai ini.

Pakai agar tak masuk ke matamu.

Lakukan pelan-pelan.

Lakukan yang benar.

Kurasa tak berhasil.

Palu dan pahat ini terlalu lama.

- Coba lebih keras. - Terus lakukan.

Matanya mungkin luka.

Ada apa?

Kepalaku sakit. Pandanganku ganda.

Ganda?

Orang bodoh mana berikan kacamata ini? Kacamata ini ada ukurannya.

Lepaskan.

- Pappu. - Ya, Ayah?

Ambil kacamata hitam kita.

Kemarilah.

- Mana yang kau ambil? - Punya bibi dari Swiss.

- Sempurna. Kuberi tahu betapa bagusnya. - Pemimpin datang.

Pemimpin?

- Pak. - Sekarang tangannya akan cepat keluar.

Halo, Pak.

Tangannya sudah tenggelam dalam korupsi.

Berpikirlah positif.

Halo, Pak.

Lihat ini.

Ini masalahnya?

Berapa lama untuk dapatkan mesin?

Sekitar 15-20 menit.

Kau punya mesin untuk keluarkan tangannya?

Bukan, ekskavator jalan. Itu akan selesaikan masalah.

- Kirimkan. - Baik, Pak.

Mau makan manisan India tiga warna?

Dibuat khusus untuk Hari Kemerdekaan.

Maaf, aku harus hadiri tiga upacara pengibaran bendera.

Jangan khawatir.

Ingatlah untuk menjaga tanganmu agar aman.

Saat memilih, di mana menandai tintanya?

Di kuku tanganmu. Benar? Jadi, tangan itu penting.

- Dia anakmu? Menggemaskan. - Terima kasih.

- Aku pergi. - Sampai jumpa.

Pak.

Tolong usahakan kirimkan mesin secepatnya.

Terima kasih, Pak.

Mereka segera kirimkan mesin.

Kurasa takkan datang.

Janji palsu.

Kenapa harus mengandalkan politikus?

Benar, penguasa Inggris lebih baik dari ini.

Lupakan demokrasi!

Kita butuh raja seperti Shivaji Maharaj.

- Atau mungkin Hitler? - Jangan bicara omong kosong.

Biarkan inspirasi mengalir. Mulai lagunya.

Hidup India!

Lihat, Gokhale, juaramu datang.

Kekacauan apa yang kalian lakukan?

Astaga, si pemabuk datang.

Dia masih mabuk.

Pengarku sudah hilang, tangannya masih tersangkut?

Lakukan satu hal, panggil dokter.

- Dokter? - Kenapa?

Suntik tangannya agar mati rasa.

Lalu takkan terlalu sakit.

Dia minum, itu salah, tapi dia benar.

Untuk kali ini, si pemabuk ini masuk akal.

Saat aku jalani bypass, mereka membuat tubuhku mati rasa dan banyak menggali.

Masih tak sakit.

Bagaimana jika terjadi sesuatu saat menarik tangan?

Dia mungkin tak tahu saat itu, tapi mungkin sakit nantinya.

- Jangan menangis. Tenanglah. - Dasar pengecut.

Kalian butuh pilihan aman?

Ya, beri tahu kami.

Hari ini Hari Kemerdekaan.

Itu berarti hari kering.

Aku punya botol cadangan.

Kenapa tak menyuruhnya minum?

- Astaga, dia bicara apa? - Aku juga mau.

Lalu tangannya akan turun

jauh ke dalam bumi,

tempat dia bisa temukan...

Dasar bedebah!

- Memberi anakku minuman keras? - Kenapa kau melempar botolku?

Aku akan lempar semua botol!

Apa-apaan ini?

Joshi, tunggu.

- Jangan berkelahi. - Tunggu. Dia pemabuk.

Dia mabuk.

Jangan berkelahi.

Kau memberi putraku minuman keras?

Dia punya dua tangan, potong satu.

Hentikan, Kakak. Hentikan.

Kau berani pegang tanganku?

Mungkin aku harus potong tanganmu.

Mari lihat bagaimana kau melukis.

Dasar pengangguran tak berharga!

Kau tak bisa cari uang.

Takkan kumaafkan.

Tidak, berhenti. Tolong.

Apa ini Gandhi Chawl?

Deshmukh?

Di sana.

Terima kasih. Bajumu bagus.

Ninad. Hai, Ninad.

Mereka datang untuk Jui?

Ya, sepertinya begitu.

Mobilnya tampak mewah. Pasti merek asing.

Silakan masuk.

Kau tiba tepat waktu.

Halo, apa kabar?

Buka saja sepatumu di dalam. Tak apa-apa.

Jui.

Gawat. Hujan turun.

Astaga, ambilkan payung. Cepat.

Tidak, ayo masuk.

Bawa masuk benderanya.

Bawa dia masuk.

Ayo.

Bawa masuk benderanya.

Semuanya masuk.

Ayo cepat.

Ambil benderanya.

Pergi ke sisi satunya.

Hujan selalu turun di saat terburuk.

Biarkan hujan agar tak ada kekurangan air.

Jangan khawatir. Kita coba lagi setelah hujan berhenti.

Punya pemantik?

Dengar. Melukis saja takkan membantu.

Mau lakukan hari ini?

Jika kabur di Hari Kemerdekaan,

kalian punya cerita untuk anak-anak.

Akan kulakukan hari ini.

Benarkah?

Jangan menolak membantu.

Seperti sebelumnya, jika kau kembali...

jangan bicara padaku lagi.

Aku yakin hari ini.

Sumpah!

Baiklah.

Coba kulihat.

Apa yang terjadi?

Apa? Katakan.

Kau takut pada peminangnya, ya?

Aku tahu.

Kau takut kehilangan dia.

- Hentikan. - Kenapa?

Bukankah dia tampan?

Kau juga tak buruk.

Tapi dia tampan.

Biarkan. Ternyata, dia memang cintamu.

Halo?

Baik. Aku datang. Dah.

Ayo pergi.

Ayah Ninad sudah tenang,

Gokhale punya trik baru.

Omkar.

Cincin yang kubeli ada di lubang.

Itu sebabnya kau...

Lupakan. Aku buatkan yang lain. Ayo pergi.

Tapi itu emas murni.

Dengan tiga berlian kecil.

Tabungan hidupmu hilang...

ke dalam lubang!

Kita lakukan sesuatu.

Ayo!

Jangan beri tahu siapa pun. Paham?

Ide bagus sekali.

Semuanya menutup mata dan berdoa.

Satu, dua, tiga!

Apa-apaan...

- Sedang apa? - Jangan khawatir.

Ini peraturan sains gaya gravitasi.

Ini akan berhasil. Kita akan sukses. Jangan cemas.

Saat apel jatuh menimpa kepala Newton

dan dia menemukan gravitasi, dia seusia Ninad.

Satu, dua, tiga!

Lepaskan dia sekarang. Dengarkan aku.

Dia menjadi semerah apel.

Adik, itu yoga terbalik.

Semua darah mengalir ke matanya. Dia sudah mengeluh

sesuatu masuk ke matanya.

Itu akan membersihkannya dan tangannya akan keluar.

Jangan sentuh tangannya lagi.

- Jangan. - Tapi...

Jika kau ingin bereksperimen,

masukkan tangan kedua anakmu dan terus tarik.

Untuk melakukan percobaan itu,

tangannya harus ditarik keluar dulu. Benar?

Apa ini satu-satunya lubang di alam semesta?

Pasti ada banyak. Cari saja.

Masukkan tangan mereka dan tarik.

Dia takkan lakukan itu dengan anaknya.

Aku bisa bantu apa?

Ada apa, Sayang? Apa sakit sekali?

Lubangnya terisi air.

Tangannya mungkin membusuk.

Bodoh!

Kau mencuci piring seumur hidup.

Mayat pun tak membusuk dalam waktu singkat.

Ini tangan manusia hidup.

Pergi, cuci piringku.

Kenapa kau menangis?

Jika menangis, keluarkan tangan akan lebih sakit.

Ya, Sayang.

Kenapa kau menangis?

Ini selalu terjadi setelah hujan.

Kau menangis setelah hujan?

Bukan!

Ada apa, Sayang?

Apa?

Dia ingin pipis.

Itu sebabnya Ayah selalu bilang.

Jangan minum berlebihan.

Berhenti tertawa!

Itu kebiasaannya.

Saat ajak naik kereta, dia mau pipis.

Setiap film mulai, dia mau pipis.

Jangan memarahinya. Dia akan mengompol.

Biarkan. Dia sudah besar,

tapi masih sering mengompol.

Joshi, apa ini?

Pappu, Vini.

Ambil yang mana?

- Buatan Swiss... - Tidak, kali ini bawakan buatan India.

Aku punya ide cemerlang.

Cukup. Aku tak mau idemu.

Tuan Gokhale.

Kau bilang apa ke anak-anak?

Aku ingin beri tahu, tapi kau takkan mengerti.

Kenapa kalian tertawa?

- Pria ini memegang semua orang. - Aku memegang?

Tetangga kami, selalu ada yang terjadi di sini.

Kenakalan.

Jangan dipedulikan.

Jangan khawatir.

Itu guru kami.

Dia sangat kuat.

Ambilkan teh.

Tanyakan apa suka camilan.

Ibu yang buat. Tanyakan saja.

Apa Ibu yang akan menikahi dia?

Lakukan.

Jui, jangan konyol.

Biar kuambil.

Tak apa-apa. Tak masalah.

Ini minumanmu.

- Masa bodoh ibumu! - Masa bodoh ibumu!

Jui!

Maafkan aku.

Maafkan aku.

Ibu akan ambil serbet.

Diam!

Katakan siapa yang berisik?

Siapa yang berisik?

Siapa...

Maafkan aku.

Saat mengumpat, bahasa ibu selalu nyaman.

Bahasa kasar apa lagi yang kau tahu?

Tidak. Dia jarang mengumpat. Orang bodoh di sini terus mengumpat.

Jadi, itu masuk ke telinganya,

dan kadang terucap.

Tapi maksudku adalah kenapa tak mengumpat secara sengaja?

Larang kata-kata kasar

atau berikan kebebasan untuk gunakan itu sesuai pilihannya.

Bagaimana?

Tepat sekali.

Tunggu, apa ini topiknya sekarang?

Aku tahu.

Kau harus dengarkan puisinya.

Kau akan dapat buktinya.

Itu salah ucap oleh dia.

Dia menulis puisi indah.

Meski kami tinggal di chawl ini,

didikannya selalu bagus.

Jui.

Bisa bacakan puisi bagus?

Kau tahu, aku pun menulis puisi.

Tunggu.

- Sekarang gilirannya. - Ya, tentu.

Ayo, Jui.

Kau sedang menyusunnya?

Ya.

Beri tahu begitu selesai.

Ya, tapi apa kau akan mengerti?

Dia baru ketumpahan teh

Dia baru ketumpahan teh

Hebat dia tetap berpikir

Dia baru ketumpahan teh Hebat dia tetap berpikir

Lanjutkan jika harus

Tapi ingat, keselamatan yang utama!

Puisi indah!

Luar biasa.

Untuk apa tepuk tangan? Itu bukan puisi.

Aku bisa lakukan seharian.

Tapi kami suka.

- Kami suka menghargai. Benar, Ayah? - Tentu.

- Ada apa di sana? - Berdoa.

- Sekarang? - Mungkin untuk India.

- Ayah. - Ayah.

Ayo. Itu bagus.

Jadi, ini selangnya.

Ini, ambil selang ini.

Satu ujung masukkan di sini dan satunya ke toilet.

Baik. Tarik, Semuanya.

Ide ini sangat keren.

Ide ini tak sekeren kedengarannya.

Ini sebuah teknik.

Selang harus lurus dan keras.

Level di toilet agak tinggi.

Jika tak ada cukup daya,

kita mungkin harus memasang motor untuk masalah kecil ini.

Jadi...

- Siap? - Kau harus pipis ke sini.

Ayo.

Kau akan memaksakannya.

- Mau? - Tapi suruh semua orang pergi.

Jangan khawatir, Sayang.

Aku masukkan selang ini ke celanamu.

Ada apa?

Ayo lakukan. Ayo.

Itu selangku!

Halo, aku akan bersihkan nanti.

Aku akan bersihkan dengan baik. Dengar.

Seperti inilah. Bila menyangkut air di negara kita,

tak ada yang siap saling membantu.

Aku tahu. Ada pertikaian antara dua negara bagian karena masalah jalur pipa.

Jangan khawatir.

Kebutuhan adalah ibu dari ciptaan. Selalu ingat itu.

Hanya ada satu cara.

Botol.

- Botol? - Botol?

Ninad sayang.

Botol mana yang kau inginkan?

Ninad, dengarkan Ibu.

Jangan menangis, Sayang.

Kau suka jus jeruk.

Kita ambil botol jus jeruk?

Jus jeruk.

Ya. Jus jeruk.

Ini, ambil botolnya.

Ayo lakukan sekarang. Cepat.

Tidak. Suruh semua orang pergi.

Kenapa kau sangat malu?

Ayahmu pun buang air di depanku.

Apa? Kapan?

- Kapan? - Pertanyaan apa ini?

Aku pernah menggendong ayahmu saat dia kecil.

Ninad, jangan menumpahi rangolimilikku.

Aku harus buat ulang sekarang.

Lakukan di rumahmu.

- Aku ingin buat di sini. - Suruh semua pergi.

Kuharap kau tak ingin buang air besar sekarang.

Semua itu karenamu. Anakku harus buang air di muka umum.

Jangan. Nitin, jangan lupa, lagi pula kita tinggal di Gandhi Chawl.

Gavaskar, simpan semua untuk pidato.

Gavaskar, kau senior di chawl.

Suruh Raju pergi, aku tak tahan lagi.

Suruh dia pergi.

Kenapa kau berdiri di sini? Pergi.

Ayah Raju...

Tenanglah.

Aku punya ide hebat.

Nenek, berikan payungmu.

- Payung? Kenapa? Tak hujan. - Dengarkan idenya.

Sedang apa kau?

Dengar, kita akan berdiri di sebelah sana.

Ayo, Semua.

Payung akan ada di antara kita dan Ninad.

Baik. Ayo ke belakang Patil.

Semuanya mundur.

Cepat.

Sudah mulai?

Belum. Sebentar.

Baiklah. Ayo. Satu, dua, tiga.

Benar begitu!

Aku akan kembali.

Tuan Joshi, jadikan ini suvenir.

Ini peristiwa langka.

Peganglah. Ayo. Ambillah.

Kerja bagus.

- Tepuk tangan. - Terima kasih.

Nenek.

Apa yang terjadi?

- Shreehari, kau kembali? - Ya.

Bagus, kau datang seperti dewa.

- Selesai dengan Pooja? - Ya.

Periksa tangan anak itu.

Baik. Pegang ini.

- Kau wanita bijak. - Tunjukkan tanganmu.

Bagus kau memanggilnya. Kita tunjukkan tangan kita.

Ya. Kenapa tidak?

Ini dari tahun lalu.

Januari, musim dingin.

Astaga, di mana lubang besar ini?

Mereka sengaja membuatnya. Afrika Selatan.

Mereka gali berlian berkilo-kilo.

Jadi, anak yang tangannya tersangkut, apa sudah keluar?

Biarkan saja. Chawl ini adalah lubang besar

dan kami terjebak bertahun-tahun.

Kami pun terjebak di India.

Tapi Amit berjanji tunjukkan dunia.

Dia menepati janjinya.

Dia tak pergi denganmu?

Antara uang atau waktu santai.

Sulit seimbangkan kerja dan rumah.

Tunjukkan foto rumahmu.

Amit, tunjukkan.

Ya, akan kutunjukkan.

Tak apa-apa.

Ini dia.

Ini rumahku.

Tanah yang kalian lihat

di latar belakangnya, Amit membelinya tahun lalu.

Berapa luas rumahnya?

Pertanyaan konyol.

Kamar mandinya sebesar rumah kita.

Ayolah!

Mau aku tunjukkan?

Amit juga suka lukisan.

Dia tak suka setitik debu di lukisan.

Jadi, ini galeri kami.

Kau melukis?

Tidak.

Aku tak melukis.

Atau menulis puisi sepertimu.

Atau bernyanyi. Aku tak artistik dan aku menyesalinya.

Tak perlu menyesalinya.

Kau meraih banyak di usia muda.

Apalah arti seni? Hanya nama lain dari kemiskinan.

Kurasa tak begitu.

Tunggu.

Lihat lukisan ini?

Butuh gaji enam bulan untuk membelinya.

Karya seniman India. Rajesh Vast.

Dia tak dikenal empat tahun lalu.

Kini, dia menjadi pujaan internasional!

Ini permainan takdir.

Permainan takdir itu sama di mana-mana, di sini atau di sana.

Benar.

Mau kuberi tahu sesuatu?

Aku merasa kita terus menggali lubang seperti tikus.

Yang punya lubang besar, kaya.

Kita tercekik dan mati di lubang sama kelak.

Aku percaya seniman jalani kehidupan sejati.

Paling bebas.

Raju.

Kau pergi hari ini, 'kan?

Kemasi barang-barangmu.

Apa barangku banyak?

Aku harus bawa lukisan ini atau akan dibakar Ayah.

Apa yang kau cari?

Coba keluarkan tangannya dalam 15 menit.

- Akan keluar saat itu? - Mungkin.

Kau bilang apa?

Aku tak bisa jamin lepas seluruhnya,

karena aku perlu lihat tangan Raju.

Aku akan bawa tangan Raju.

Masih 15 menit, benar?

Aku akan ke kuil sampai saat itu.

- Lagi? - Aku akan mendoakan tangannya keluar.

Sentuh kaki guru.

Tak usah.

Semoga tangannya takkan tersangkut di masa depan.

Kedua tangan akan tersangkut saat usianya 25 tahun.

- Astaga. - Keluarkan yang ini dulu.

Jui Deshmukh.

Bukan "Sui." J, U, I. Jui Deshmukh.

Tinggal di chawl yang sama.

Apa maksudmu?

Raju akan menikahinya. Apa aku benar?

Ya.

Benar? Kapan kau akan bicara dengannya?

Haruskah?

Bicaralah lalu beri tahu aku.

Kalau tidak, aku akan rencanakan semua...

Sedang apa di sini?

Astaga. Aku akan pergi.

Keluar dan bilang Raju sedang mandi.

- Kalian akan mandi sekarang? - Mau?

Tak bisa katakan apa pun sampai lihat tangan Raju.

Minum teh. Ini hari bebas karena Hari Kemerdekaan.

Benarkah? Terima kasih.

Raju sedang mandi

Ini, Gavaskar, minum teh.

Terima kasih.

Sedang apa Sonu di sana?

Dia melihat lukisannya. Dia penggemar Raju.

Ninad, cepat makan.

Ninad, kurangi makan, ya?

Tuan Joshi.

Kenapa kau membatasinya?

Makan apa pun yang kau mau.

Aku punya ide luar biasa untuk membangun toilet di sini.

Jangan melihatku. Kutunjukkan saat diperlukan.

Tuan Ganu, kau tak punya kue?

Ibu, lihat.

Cepat makan, nanti jarimu tersangkut.

Tertawa.

Kerja bagus!

Lupakan milikku, tapi simpan ini sebagai suvenir.

Aku tahu ini murah, tapi ada bendera India.

Akan bagus untukmu.

Jarimu besar.

Pegang kuas di jari-jari ini dan buat lukisan bagus.

Simpanlah. Jangan sampai hilang.

Berapa hubungan lagi kau akan lakukan di chawl?

Ayah sudah cukup malu.

Kau buat tangan anak malang itu tersangkut,

kau di sini, berpegangan tangan dengan gadis lain.

Paman, jangan meragukan dia.

Dia tak merayu.

Dia mencintai.

- Itu juga... - Aku akan menamparmu. Pergi.

Pergi!

Raju.

Jika sikapmu terus begini, Ayah akan mengusirmu dari rumah.

Tak perlu. Aku pergi.

Benarkah? Pergi sekarang.

Suatu hari, Ayah akan menyadari kesalahan Ayah dan menyuruhku pulang.

Aku akan datang.

Raju datang.

Ya, Raju datang.

Raju, tunjukkan tanganmu.

Bagus. Keluarkan tangannya setelah lima menit.

Tangannya akan keluar.

Kenapa bertepuk tangan? Apa sudah keluar?

Kita punya dua hal.

Pertama, ramalan Shreehari, berarti takdir.

Berarti Tuhan bersama kita.

Kedua adalah upayaku. Tangannya pasti segera bebas.

Katakan yang kau akan coba.

Aku takkan mengizinkanmu menarik tangannya dengan gegabah.

Jangan khawatir.

Tangannya takkan disentuh.

Atau anggota tubuh lainnya. Bukan saja itu,

tak ada yang akan berdiri di dekatnya.

Karena aku menyadari sesuatu.

Kurasa manusia tak bisa lakukan ini lagi.

Maaf.

Bukan pekerjaan manusia?

Apa lagi rencana pria gila ini?

- Sudah beri tahu Jui? - Apa?

Jui tahu, 'kan?

Kau akan kabur sendiri?

Amit, apa ini saatnya untuk bermain?

Semua orang diam. Aku harus apa?

Sekarang apa? Tak ada lagi yang dibicarakan?

Kami sangat menyukai Jui.

Tak ada alasan kami menolak Amit.

Ya. Tentu saja.

Kurasa Amit dan Jui harus mengobrol.

- Kurasa tak perlu. - Aku ingin bicara.

Tentu.

Mau keluar?

Aku akan kembali.

Tentu.

Hei, pergi!

Pergi! Keluar.

Simon, mundur.

Pergi, Simon.

Mundur, keluar.

Gokhale, apa yang kau lakukan?

Biarkan ia menggonggong dua menit lagi.

- Tangannya akan terbebas. - Kau tak sabar.

Semuanya diam!

Perlu aku coba?

Jangan, Amit, mereka mungkin menghinamu.

Chawl kami kotor seperti India. Tak ada yang ingin pembangunan.

Ayo, Tn. Inamdar. Silakan duduk. Amit, kau juga.

- Keluarkan manisannya. - Ya.

Petinggi perusahaan, curang, pembohong.

Di mana ekskavator jalannya?

Mereka selalu memohon suara kita.

Aku akan cari mesin itu.

Aku akan kembali.

Tak apa-apa, Ayah.

Aku sudah terbiasa.

Diam!

- Kenapa kau membentaknya? - Maaf.

Kau dengar? Kita diam saja, tapi dia tetap berteriak.

Seberapa pun kerasnya kita berusaha,

dia akan hina kita.

Raju, jangan merasa bersalah.

Aku ingin menamparnya saat dia menyerang Raju.

Tinggalkan semuanya.

Hari Kemerdekaan dan upacara bendera lebih penting.

Hanya karena kau akan berpidato, itu penting.

- Tahun lalu, kau berpiknik. - Apa rencananya?

Kita lakukan besok?

Ini Hari Kemerdekaan kita, bukan pestamu.

Kita lakukan hari ini secepatnya.

Semua bendera harus berkibar. Bendera kita menunggu.

Kita harus kibarkan bendera sekarang.

Tapi di mana kita mengibarkannya?

Apa katamu? Di sebelah. Tak ada yang lebih besar dari negara.

Tapi jika lakukan itu, kita butuh dudukan.

Kita tak bisa gali lubang.

Ada dudukan bendera.

Kau punya? Ambillah.

- Pappu, kau juga. - Aku pergi.

Mau ke mana?

Aku perlu gambar rangoli di dekat dudukan bendera.

Tapi apakah terlihat bagus mengibarkan bendera

saat tangan anak itu tersangkut?

Ya, benar.

Bendera dan matahari harus turun bersama, apa pun yang terjadi.

Biarkan tangan, kaki, kepala tersangkut.

Kenapa pemadam kebakaran belum tiba?

Pemadam kebakaran?

Bagaimana bisa lupakan ini?

Pemadam kebakaran. Beri tahu aku nomornya.

Nomornya 101, Ayah.

- Telepon pemadam. - Rohit, kau telepon pemadam.

Kenapa?

Tampaknya Jui siap menikah.

Kurasa tidak.

Bacakan puisi bagus.

Jangan sekarang.

Baiklah.

Aku menghibur hatiku

Yang dimiliki hanya api

Aku menghibur hatiku

Yang dimiliki hanya api

Karena aku tak pernah tahu

Itu masih terbakar diam-diam

Aku menyebur ke air mataku dan naik

Hanya ada kesedihan untuk dibersihkan

Permainan apa yang kumainkan Dengan diriku?

Saat aku berlari bahagia Kau yang menarikku kembali

Pohon masih perawan

Harus tetap tak tersentuh

Aroma memenuhi udara saat aku bernapas

Angin bertiup lembut, ringan

Luar biasa!

Sudah bicara dengan Jui? Pria itu siap dengan mobil.

Atau dia akan kabur dengan mobil pria tampan itu.

Maafkan aku.

Tapi aku tak bisa berikan dudukan benderaku.

- Kenapa? - Sebentar.

Sebentar.

Jauhkan tanganmu.

Buldoser.

Buldoser.

Hei, buldoser!

Halo, buldoser!

Ini India saat ini, tapi dulunya Pakistan,

Bangladesh, Bhutan, Sri Lanka.

Mereka semua dulu bagian dari India.

Tapi pada 14 Agustus, itu dibagi-bagi.

Tanggal 14 Agustus adalah pembagian lain.

Kita rayakan itu sebagai Hari India Seluruhnya.

Hari sedih.

Aku setuju, tapi, Tn. Rajadhyaksha, kini seluruh dunia terbagi.

Kita warga global. Dunia ini rumah kita.

Masa? Benarkah?

Tapi jika seseorang menanyakan tempat tinggalmu, apa jawabanmu?

Aku tinggal di dunia?

Tidak, 'kan?

- Baik. Sekarang dengarkan. - Ada lagi?

Berikan tanganmu.

- Jawab teleponnya. - Tak usah.

Ayo.

Bisa kau masuk? Aku akan jawab telepon.

Baik. Teh atau kopi?

- Kopi. - Kopi.

- Aku segera masuk. - Baik.

Jui, bersiaplah. Omkar sudah atur semuanya.

Kita pergi setelah bendera berkibar.

Halo? Jui?

-Kau mendengarkan? - Halo.

Aku telepon balik, ya?

Pergi ke mana?

Ke mana kita pergi?

Kita lihat nanti.

Apa maksudmu?

Kita pikirkan.

Kita akan, mungkin, tak tahu, bisa saja...

Aku muak dengan ini.

Apa yang terjadi?

Itu yang kukatakan. Aku muak dengan semua ini.

Aku hanya menunggu bertahun-tahun.

Entahlah, akankah suatu hari?

Aku hanya mendengarkan. Kapan hari itu datang?

Terima kasih.

Tak ada yang terjadi mendadak.

Tak ada yang terjadi tiba-tiba.

Banyak waktu berlalu.

Apa yang kau sudah lakukan?

Kau hanya meremehkanku.

Aku bodoh, bertengkar dengan keluargaku demi kau.

Kau tak punya apa-apa.

Hanya lukisan setengah selesai dan dirimu.

Tidak juga aku. Sebenarnya, kau bahkan tak punya lukisan.

Tak ada yang mau. Hanya tergeletak di sudut.

Jangan hina karyaku.

Siapa yang suruh aku lakukan sesukaku?

Siapa yang cegah aku bekerja untuk ini?

Aku mengatakannya. Aku menerimanya.

Itu kesalahanku. Aku terima.

Aku minta maaf. Tapi kau tak lakukan apa pun.

Aku tak terlahir untuk buktikan kepadamu.

Kau yang memutuskan. Aku tak pernah memaksamu.

Baik. Itu kesalahanku juga. Aku terima.

Kini aku merasa orang tuaku benar.

Aku menolak banyak pria baik dan jatuh cinta padamu.

Kenapa tak katakan dengan jelas bahwa kau suka pria kaya itu?

Kenapa diam sekarang?

Siapa kau berani tanyakan itu?

Wajah pintar dan mobil mewah tak membuat bahagia. Lihat saja.

Benarkah?

Jika ada yang lebih tampan dan kaya, cemburu takkan membantu.

Kenapa kesal jika kubicarakan dia?

Raju, dengarkan aku.

- Kau menghinaku di depannya? - Aku tak ada di depannya.

Aku menyuruhmu menikahinya karena aku takkan menikahimu, paham?

Baik. Terima kasih banyak. Dah.

Aku siap menikahimu.

Omkar, berikan kunci motornya.

Aku sudah hias mobil.

Kau mau apa?

Mau mewarnai dengan darah orang Amerika.

Apa?

- Dia pikir siapa dia? - Raju, tunggu dulu.

- Periksa apa ada kemungkinan menikah. - Lagi?

Bukan tentang aku. Untuk Sonu.

Aku perlu melihat tangannya.

Aku berikan sekarang.

- Kembali di Hari Republik. - Aku hajar kalian.

- Pappu, berikan. - Aku bisa.

Berikan kepadaku.

Aku akan beri tahu Pemerintah India untuk ganti hari ini.

Eva.

Pacarku.

Tadinya.

Meninggal empat tahun lalu.

Kanker.

- Aku ikut berduka. - Tak apa-apa.

Kutaruh bunga di makamnya setiap tahun.

Aku akan lakukan seumur hidupku.

Apa manusia dibebaskan setelah mati?

Omong-omong...

Giliranmu.

Tunjukkan fotonya.

Siapa?

Ayolah, Nona.

Di luar, panggilan telepon itu.

Kami tak berhubungan lagi.

Kenapa kita membicarakan semua ini?

Aku siap menikahimu.

- Jika kau siap. - Tadinya aku siap.

Kau ingin bicara, kita ke sini.

Jadi, tunjukkan fotonya.

Ayolah. Kau bisa tunjukkan.

Dia masih hidup.

Maksudku, aku bertemu dia.

Dia menunjukkan rumahmu.

Siapa namanya?

Raju.

Raju.

Bagus.

Jika aku ada di tengah jalan dan panggil Raju,

sepuluh orang datang.

Bukankah itu nama yang amat umum di India?

Baiklah. Apa pekerjaan Raju?

Pelukis.

Tunggu. Itu sebabnya di rumah kau bertanya... Astaga!

Boleh tanya?

Ya, tentu.

Setelah kita menikah,

maukah kau membeli satu lukisannya?

Jadi...

saat kau mengunjungi makam pacarmu...

hanya di hari itu...

aku akan memandangi lukisan itu.

Kenapa hanya satu? Aku beli banyak.

Mungkin semua.

Aku akan gambar rangoli kecil.

Bawa ke sini.

Sedang apa? Bawa ke sebelah sini.

Putar seperti ini.

Omkar, kau ke sebelah sini. Putar.

Tunggu, aku akan ke sebelah sini.

Di belakang. Hati-hati.

Temui dr. V.T. Pol untuk lutut. Dia merawat lututku.

Angkat dari sana.

Naikkan.

Naikkan. Benar begitu.

Tahan.

Ini bagus.

Aku juga ingin berdiri.

Jangan berdiri seperti ini.

Punggungmu akan sakit.

Kita kibarkan bendera di rumah nanti, ya?

Tunggu, jangan gelisah.

Berhenti! Tahan.

Takkan kubiarkan kibarkan bendera

sampai anakku diselamatkan.

Tuan Joshi.

Masyarakat protes dan mogok makan

agar India merdeka...

Kau protes agar kita tak mengibarkan bendera?

Kami juga kasihan pada putramu.

Kau menghina Hari Kemerdekaan,

bendera, dan negara.

Kau menghina semuanya.

Dia sudah mulai berpidato?

Aku merasa menghina negara adalah kejahatan besar.

Tolong jangan lakukan.

Nitin, aku setuju ini kesalahan putraku, tapi untuk itu...

Aku setuju denganmu.

Siapa yang akan memberiku kesempatan untuk protes di usia ini? Akan kulakukan.

Ambilkan aku kursi.

Nenek, kau pikir protes hanya untuk isi waktu?

Dia berusaha menyerang semua,

kini dia pegang tiang bendera.

Kenapa jika dia tetangga?

Kita harus telepon polisi sekarang.

Lakukan saja. Aku takkan tinggalkan tiang ini bahkan jika mati.

Ada apa ini?

- Katakan sesuatu. - Tuan Joshi, dengarkan.

Hei, tunggu.

Raju, kau buat kekacauan ini, sekarang kau berkeliaran di luar?

Kau harus keluarkan tangannya.

Apa yang kau lakukan?

Maaf, tapi aku bisa apa?

Kita harus kibarkan bendera.

Mungkin saat hormat pada bendera,

tangannya keluar.

Mungkin.

Joshi, apa...

Raju, kenapa tak bilang dari tadi?

Kau benar sekali.

Kebebasan adalah yang terkuat!

Ya. Ninad.

Ninad, kau hanya harus katakan, "Hidup India" dengan kuat.

Hanya India yang akan menyelamatkanmu. Kau mau?

Ya. Ayo mulai pengibaran benderanya. Tuan Gokhale.

Ya. Ayo mulai.

Baik. Ayo masuk dalam satu baris.

Satu baris.

Kalian tak tahu membentuk barisan?

Aku tak bisa lihat dari belakang. Aku sekretaris.

Ada senior dan semuanya.

Rohit, kemarilah.

Berdiri dalam barisan.

Aku punya tempatnya.

Kenapa kau berdiri di sini?

Sudah siap?

Baik. Cepatlah bersiap.

Halo, Semuanya.

Hari ini tanggal 15 Agustus. Hari ini adalah...

Hari Kemerdekaan India.

Dalam perjuangan...

Perjuangan untuk kebebasan...

Sebenarnya, sudah sangat sore dalam perayaan

sehingga aku hampir katakan semua poinku dalam percakapan.

Kenapa dibahas lagi?

- Ayo kibarkan. - Terima kasih.

Tunggu, bukan seperti itu.

Jika kau tarik tali ini, bendera turun.

Tarik ini.

Bagus!

Tarik ini turun.

Saatnya lagu kebangsaan.

Hidup India!

Tanganku keluar.

Lihat? Tangannya keluar.

Tangannya keluar.

Dia tak apa-apa. Tangannya keluar.

Setelah kita menikah, maukah kau membeli

satu lukisannya?

Kenapa hanya satu? Aku beli banyak. Mungkin semuanya.

Aku takkan menemuinya lagi.

Aku janji.

Aku tak takut itu.

Karena kita akan di AS dan dia di sini.

Kalian tak bisa saling bertemu.

Kuberi tahu, jika kau ikut denganku,

setelah lihat gaya hidup di sana, kau sadar

kau tak pernah bayangkan hidup ini bahkan dalam puisi.

Kau akan sangat menikmatinya.

Aku berikan segalanya.

Kau tak harus lakukan apa pun.

Kau hanya perlu tampil cantik dan tulis puisi bagus.

Anak-anak kita akan cantik juga.

Hidup kita indah.

Kita akan gembira dan menikmati hidup sampai tua.

Lalu suatu hari di pelukanmu,

aku mati bahagia.

Ya, lalu suatu hari, kau juga akan mati.

Di momen terakhir itu, saat menutup mata,

seluruh hidupmu akan teringat.

Banyak bayangan, warna, dan kenangan.

Lalu dari itu, akan muncul satu wajah.

Wajah Raju.

Dia akan melihatmu tertawa dan kau akan mulai menangis.

Karena dia terus melukis seumur hidupnya...

dan kita mengubahnya.

Kau merasa harusnya bisa tulis puisi, melihat warna, tapi...

Itu takkan terjadi.

Kau akan mati gelisah.

Terima kasih.

Jangan hentikan itu.

Hari ini adalah acara bagus.

Pergilah dan peluk dia erat di depan semua.

Bebaslah untuk seumur hidup.

Terjemahan subtitel oleh Kirpi Dyah Ayu Mrantasi

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.