Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Zaenal menguasai seluruh sendi kehidupan di Rimbalaya…
Kita hanya hewan ternak.
Yang sewaktu-waktu bisa ia potong.
Kita perlu menurunkan Zaenal.
Kita harus segera lepas dari cengkeraman penguasa kotor itu.
Mbak Maya harus mewujudkan cita-cita Acha…
…dan semua orang di pabrik.
Bisa, Bang, tapi jangan mayit juga, Bang!
Wah.
Maaf, ya, Pak.
Saya pinjam rumahnya sebentar enggak apa-apa, ya, Pak.
Soalnya rumah sebelah banyak sekali durennya, Pak. Bau.
Permisi, ya, Pak, ya.
Permisi.
Ya!
Ya! Ya! Ya! Ya!
Sedap ini.
Akhirnya terima kasih, ya, Pak.
Terima kasih banyak.
Suapan pertama…
Eh.
Jangan ke sana…masuk sini…
Hei…
Bang, tolong, Bang!
Hei!
- Anjay… - Anjay…
Aku Ella.
Kalian siapa?
♪ Saat aku coba memohon… ♪
♪ Eh ternyata malah salah… ♪
♪ Hingga aku cuma… ♪
♪ …bisa terdiam saja. ♪
♪ Bodohnya aku… ♪
♪ …terlalu menggebu… ♪
Lanjutkanlah.
Enggah, ah. Itu.
Ini?
Tapi suaramu semakin mirip lho, sama Bapak, Kak Maya jadi kangen.
Adi enggak ingat suara Bapak.
Tapi Adi ingat, sih.
Suara nyanyinya.
Bapak sering, bukan?
Menyanyi lagu ini sama Ibu?
Ya, ini 'kan lagu kenangannya mereka berdua.
Katanya pas mengajak kencan Ibu, Bapak itu menyanyikan lagu ini.
Terus dilempar ember sama Mbah Ti.
Iya udah…
Tapi kok lagunya begitu sekali, ya?
Ya, katanya sih…
…ini menggambarkan perasaan Bapak waktu itu.
Bapak maunya merantau, bukan.
Ya, biar Ibu di sini, menunggu Mbah Ti, bukan.
Tapi Bapak enggak jadi merantau, bukan?
Ya, enggaklah.
Keburu Ibu hamil Mbak Maya.
Ibu juga mana mau ditinggal.
Kalau Adi yang merantau,
bagaimana?
Mbak Maya akan baik-baik saja, bukan?
May.
Maya.
May.
Ya, Mbak?
Aku sudah coba menghubungi beberapa teman di LSM.
Teman-teman lain…
…juga sudah menghubungi beberapa pihak yang bisa diajak.
Dan Ipung sekarang…
…lagi membujuk buruh-buruh lainnya.
Terima kasih, ya.
Soal Adi…
Yang sabar, ya.
Anjing berat…
Mau aku kembalikan?
Oh, enggak, enggak.
Enggak.
Enggak apa-apa. Itu hadiah dari pengikut sih.
Enggak apa-apa.
Tapi tadi benar-benar kosong enggak mobilku pas kalian menemukannya?
Enggak ada, sih.
Cuma…
…jaket, ponsel,
…sama tas kamu.
Itu ponsel juga sudah agak retak.
Oh.
Kamu kenapa?
Baper dia dari tadi kamu bicaranya pakai aku-kamu.
Berisik kamu, Om.
Aku bukan Om kamu, ya!
Oh, kalau ini… monopod? Tadi aku taruh persis samping tasku sih.
Monopodnya sudah…
Monopodnya tadi juga dipakai buat menyerang mayit sama si Adi.
Cuma sampai sekarang masih di kepalanya si mayit itu.
Bang!
Apa sih?
Enggak apa-apa.
Hadiah dari pengikut juga sih.
Kamu artis, ya?
Eh.
Boleh bergantian enggak bertanyanya?
Enggak, enggak, itu dia dapat hadiahnya dari pengikut terus, Bang.
Artis kamu, ya?
Hei.
Gantian, ya?
Ya, Bang.
Punya pengisi daya enggak?
Ada.
Di mobil.
Tadi tasku ditaruh di mobil, kalian enggak ambil tasku.
Lagipula ponselku bukan Android sih.
Android!
Eh, kamu yang sopan, ya!
Hampir mati tadi kamu berdua dimakan sama apa, apa tadi namanya?
Mayit.
- Hah? - Mayit.
Bedanya sama mayat apa?
Sudah, sudah, sudah, sudah.
Pokoknya sekarang…
…kita harus cari cara buat keluar dari sini.
Aku harus mengabari orang tentang kejadian yang ada di sini.
Kok enggak ada sinyal sih dari tadi?
Iya, memang enggak ada sinyal sih, setahuku.
Agak pelosok soalnya.
Sayang sekali.
Kemarin itu aku mau merekam mayit-mayit pakai ponselku…
…tapi ponselku hilang.
Atau besok aku cari tempat yang ada sinyal kali, ya.
- Eh. - Terus aku siaran langsung dari sana.
Eh, eh!
Menyebarkan berita itu jatahku.
Jatahmu…
- …jadi Selebriti Instagram saja, ya? - Apa sih?
Ya, itu jatahku!
- Kira-kira mayit… - Suka-suka aku!
…sudah ada yang sampai kota belum, ya?
Kepikiran kakakmu, ya?
Kalau tiba-tiba kakakmu berubah jadi mayit bagaimana?
Oh, maaf, maaf.
Maaf, maaf.
Hei, di sana saja.
Ayo masuk… masuk!
Ayo masuk, masuk aja kalian.
Ayo masuk semua, masuk.
Masuk, masuk!
Sudah dibilang…
…lakukan dengan senyap.
Maaf, Ndan.
Ini semua karena…
Anjing kamu!
Mau mati?
Dengarkan!
Semuanya, dengarkan!
Hari ini hari yang penting untuk Pak Zaenal.
Untuk Rimbalaya!
Kita enggak bisa membiarkan kejadian di sini…
…tersebar di luar.
Kita bagi tugas.
Kamu.
Bawa beberapa orang…
…untuk ikut dengan saya.
Kita harus mengamankan acaranya Pak Zaenal.
Kita kekurangan orang.
Sisanya…
…ikut Gundul!
Cari mayit-mayit yang berkeliaran!
Harusnya mereka masih di desa-desa sekitar sini.
- Jalan! - Jalan!
Siap!
Hei.
Kalian bawa semua yang kalian butuhkan.
Tidak perlu bawa senjata.
Kamu, kamu dan kamu, ikut aku.
Dul, sisanya kamu yang atur!
Siap, Mas.
Ayo cepat, bergegaslah!
Halo.
Bagaimana, bagaimana?
Ya…
Oh, bagus, bagus, bagus.
Oke, oke.
Besok saya kabari.
Ya.
Terima kasih, terima kasih.
Ya.
Pa.
Kenapa tegang begitu sih?
Tenang saja.
Bagaimana?
Sedang membicarakan apa sih, Pa?
Seperti rahasia-rahasia begitu.
Kamu sudah selesaikan masalah buruh di tempatmu, bukan?
Sudah, Pa.
Berarti enggak ada yang harus dikhawatirkan.
Iya, bukan?
Iya, Pa.
Apa…
…ada yang kamu enggak yakin?
Oh, sudah pada menunggu itu.
Ayo.
Selamat datang…
Ini Pak Zaenal.
- Bu… - Mbak Rita.
- Pak… - Selamat pagi.
Wah senang sekali ini.
Ini…
Bang Kemal sama Kak Rita baru pertama kali, ya, ke Rimbalaya?
Kalau saya baru pertama kali.
Oh.
Rita pernah ke sini.
Oh begitu?
Iya, walaupun cuma kunjungan sebentar saja.
Tapi kalau untuk tinggal, baru kali ini.
Ya, ya, ya, ya.
Oh ya, ini…
…putra saya.
Dandy.
- Dandy. - Rita.
- Dandy. - Wah…
Dandy.
Gagah juga.
- Seperti bapaknya. - Wah.
Bisa saja, Bang Kemal.
- Kalau begitu, mari kita sarapan dulu, ya. - Oke.
Kita sudah siapkan makanan khas Rimbalaya.
Silakan, silakan, silakan.
- Mantap ini. - Silakan.
Ayo, Bang.
Silakan.
- Datang langsung makan. - Oh, iyalah.
Anggap saja rumah sendiri, ayo.
Ini yang sudah kita siapkan semuanya.
Silakan, Pak.
Ini tempoyak, ya?
- Iya, Pak. - Oh, benar.
Lokal semua, Bang.
Harum.
Di sini itu kami sudah terbiasa…
…memanfaatkan semua kebaikan yang kita punya.
Jadi saya mau…
…Bang Kemal, Kak Rita…
…ikut menikmati hasil kerja keras kita.
Iya, iya, iya.
Ya, bukan, Dan?
Iya.
Pabrik kami itu… yang pegang…
…Dandy.
- Wah… - Oh…
Ya, memang sudah saatnya.
Anak muda yang memimpin.
Benar.
Nanti kita tinggal menikmati hasilnya, bukan.
Iya, benar.
- Ayo, dimakan, lho. - Ayo.
Ini, ini, ini, ini.
Silakan, silakan.
Silakan! Bang Kemal, Bang Kemal, duluan.
- Terima kasih. - Ini mas.
- Seberapa ini? - Halo.
Wah, enggak usah tanya…
Oke, baik.
Terima kasih informasinya.
Nanti kami akan transfer sisanya.
Para tamu sudah datang.
Ini akan jadi hari yang panjang.
Kita kepung Kawan Lama, dari perempatan.
Sampai sini ini.
Kita tunjukkan perlawanan kita ke Zaenal.
Mumpung.
Mumpung ada tamu dari pusat.
- Hei, hei! - Hei!
- Semangat, hei! - Semangat, semangat, semangat!
- Semangat! - Hei!
Semangat, ayo!
- Yang penting… - Teman-teman.
Tambahan peserta buat kita.
Selamat datang.
Anjun, silakan.
Terima kasih, ya, Mas. Sudah mau gabung di gerakan kita.
Maaf, ya, May.
Selama ini kita kurang terlibat.
Tapi Ipung sudah ceritakan semuanya.
Ini sudah kelewatan.
Enggak bisa dibiarkan ini.
Gerakan kami enggak lengkap tanpa kalian.
- Ayo, gabung, gabung. - Semangat, semangat, semangat!
- Ayo… ayo… - Semangat… semangat!
Teman-teman.
Teman-teman, ayo!
Kumpul semua, Teman-teman.
Gabung, Teman-teman!
Ayo, gabung sini gabung.
Perlawanan kita semakin dekat, Teman-teman.
Ayo kumpul semuanya, kumpul, kumpul.
Bagaimana, bagaimana, tadi sampai mana?
Ada telepon.
- Angkat dulu. - Angkat dulu, ya.
Mbak Yun, lanjut, ya.
Oke.
Oke, Teman-teman, yang baru datang.
- Bagaimana, bagaimana? - Nah.
Jadi…
…kita akan kepung Kawan Lama, ya.
Maya dan kelompoknya datang dari sini.
Ipung dan teman-teman dari sini.
- Dua yang lainnya dari sebelah sini. - Halo.
- Ya? - Aman.
Sebentar lagi bisa bergerak.
Jangan kasih Zaenal dan antek-anteknya jalan keluar.
Oke, Teman-teman?
Kita enggak boleh melewatkan kesempatan ini!
- Benar, benar, benar, benar. - Benar, ayo!
Saya mau memastikan…
…adik saya bisa dijemput sebelum kami beraksi, bukan?
Saya mengerti, Mbak Maya…
Adik Mbak Maya aman!
Sekarang…
…kita fokus dulu pada aksi ini.
Setelah aksi selesai, nanti saya antarkan adik Mbak Maya.
Mbak Maya enggak perlu khawatir.
Enggak perlu khawatir bagaimana, Bu?
Adi itu adik saya satu-satunya.
May…
Toiletnya mana, ya, May?
Panji.
Toiletnya di luar.
Maaf, Pung.
- Aku enggak ke sana. - Aku beritahu ini, ayo.
Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu.
Apa sih?
Kamu enggak apa-apa, bukan, May?
Enggak apa-apa.
Kamu tadi telepon sama Bu Diah Ayu, bukan?
Bukannya aku sengaja menguping…
…aku enggak sengaja saja mendengar…
…dia berbincang sama Bu Diah.
Sepenangkapanku…
…Bu Diah itu harus mengantarkan adiknya, baru si Maya ini…
…mau turun aksi.
Apa?
Ini sepertinya ada masalah lain ini.
Mas.
Aku enggak berbicara begitu loh, Mas.
Aku cuma mengulangi apa yang kamu bicarakan dengan Bu Diah di telepon tadi.
- Kamu, kamu sungguh-sungguh? - Sungguh.
Bereskan, Pung.
May.
Benar, May?
Yang dibicarakan Panji itu benar?
Hei!
Ke sini!
Pak Zaenal sedang bersama tamu-tamunya.
Kita enggak tahu…
…akan ada gangguan apa enggak.
Tapi kita harus siap.
Memang…
…gangguan macam bagaimana, Ndan?
Semua yang berisik…
…itu artinya gangguan.
Paham?
Siap, siap.
Hei.
Kalau terpaksa harus pakai kekerasan…
…pastikan jangan kalian yang memulai.
Boleh provokasi.
Tapi jangan pernah mulai menyerang duluan.
Ya?
Kalau…
…kita diserang, Ndan?
Balas.
Balas… sikat, Ndan! Sikat!
Tapi ingat.
Jangan melakukan kesalahan lagi.
Jangan ada pistol…
…dan sajam.
Siap…
Lihat apa kalian?
Hei, bubar, bubar, bubar!
Mayit, mayit, mayit, mayit, mayit, mayit!
Mayit! Mayit!
Enggak seperti apa yang kamu kira, La. Aku enggak sengaja.
Aku enggak mau melakukan apapun kepada kamu.
Ya, bukan, Bang?
Kita harus segera keluar dari sini.
Aku setuju.
Buat apa, Bang?
Apa itu?
Sialan!
Buat kamu.
Keren juga kamu.
Mau yang mana?
Ada yang buat gak membunuh orang enggak, Bang?
Siap?
- Siap, Bang. - Siap, Om.
Memang habis ini kita mau ke mana, Bang?
Oke.
Bagaimana kalau kita cari kakakmu dulu?
Kita bisa ke rumahmu, ke pabrik atau ke pusat rehab.
Siapa tahu dia mencarimu di sana.
Terdengar bagus.
Tapi enggak apa-apa?
Ya, enggak apa-apa lah, Di, yang penting kamu ketemu dulu sama kakakmu.
Ya.
Oke.
Oke.
Kalau kamu mau ke mana?
Ternyata tempoyak ini enak juga, ya, Pak.
Benar.
- Itu setiap orang… - Istimewa itu.
…setelah makan itu…
…pasti menambah terus.
- Bisa kembali ke sini lagi ini. - Wah!
Itu yang diharapkan.
Iya, bukan? Kembali semua ke sini.
- Iya, bukan? - Enak, ya?
Karena sebenarnya juga…
…saya itu maunya, ya…
Bang Kemal sama Kak Rita itu…
…bisa santai-santai dulu.
Sambil merasakan kuliner khas sini.
Tapi…
…Bang Sandi bilang katanya waktunya enggak cukup…
…kalau hanya dipakai santai-santai.
Begitulah.
- Ya. - Ini pusat saja sudah menghubungiku terus.
Ya, ya, ya.
Menanyakan ini itulah.
Mau konfirmasi apa lah.
- Ya, ya, ya. - Tahu, bukan?
Saya mengerti, saya mengerti.
Kalau begitu, saya langsung saja, ya.
- Ya. - Nah…
Intinya itu…
…saya enggak keberatan dengan syarat dari pusat.
Hanya…
…hari ini saya beri sebagian dulu.
Ya, sisanya segera lah.
Tapi saya juga ada penawaran lain.
Bang Kemal sama Kak Rita…
…tahu bukan tentang pusat rehab Cempaka?
Iya.
Nah.
Kalau Bang Kemal sama Kak Rita…
…mau memanfaatkan itu, saya terbuka.
Biar bersih.
Aman?
Aman.
Ibu Diah…
…mau berjanji untuk mengantarkan Adi.
Tapi enggak ada sedikitpun niatku…
…untuk menjadikan aksi ini sebagai alat tukar keselamatan Adi.
Enggak ada.
Sejak Ibu sama Bapak enggak ada, ya, aku cuma sama Adi, aku cuma punya Adi.
Aku di sini…
Aku kerja, aku bertahan, ya, buat Adi.
Tapi tadi katanya…
…kamu minta Adi mau diantar dulu, baru kamu mau aksi.
Berarti aksi ini bukan prioritas kamu.
Hei.
Kenapa kamu lemas begitu?
Oh…
Enggak apa-apa.
Lelah.
Kalau bicara lelah, semua juga lelah.
Enggak ada yang tidur, enggak ada yang istirahat dari semalam.
Minum kopi saja.
Enggak selesai selesai kalau seperti ini terus.
Keburu Zaenal sama orang-orang partai itu selesai acaranya.
Kita enggak jadi menuntut hak.
Enggak jadi aksi kita!
Lalu, begini saja.
May.
Kamu jadi ikut aksi hari ini enggak?
Ya.
Jelaslah, Mas!
Perasaanku…
Perasaanku juga sama seperti kalian.
Aku juga enggak mau Zaenal sama keluarganya terus-terusan berkuasa di Rimbalaya.
- Aku enggak mau! - Nah, itu!
Ya sudah!
Berarti kita enggak ada masalah, Teman-teman!
- Hei! - Enggak ada masalah bagaimana?
- Itu tadi Maya… - Sudah!
Tujuan kita di sini…
…untuk minta pertanggung jawaban Zaenal, Dandy dan anak buahnya.
Kalau Maya…
…melakukan ini semua buat adiknya,
Enggak masalah, bukan?
Sekarang aku tanya.
Memang kalian semua enggak punya persoalan pribadi?
Sama Zaenal dan Dandy?
Pasti ada, bukan?
Pasti ada yang ikut aksi ini karena pernah disusahkan oleh mereka!
Teman-teman.
Kita ingat sama tujuan kita.
Kita jangan sampai terpecah belah.
Kita harus menuntut hak kita.
Kita sudah sejauh ini, Teman-teman!
- Ya. - Jangan sampai kita ditindas terus!
- Ya! - Benar!
Kita harus melawan!
- Ya. - Setuju!
Aku ikut aksi ini…
…karena aku enggak terima gajiku suka dipotong-potong sama Pak Ri.
Benar!
Benar!
Lawanlah!
Kalian boleh enggak setuju sama alasanku buat ada di aksi ini.
Tapi kita senasib.
Kita senasib.
Kita punya musuh yang sama.
- Ya! - Kita punya musuh yang sama!
- Ya! - Ya, benar!
Kita harus bersatu!
Bersatu!
- Ya, ya… - Bersatu, Teman-teman.
Jangan sampai terpecah belah.
Kita tetap lawan!
Sudah, kita akan beraksi secepatnya…
Pokoknya semua sudah kita atur lah.
- Ya. - Jadi aman, nyaman.
Ini, Pak.
Ini dia.
Silakan diterima oleh-olehnya.
Diperiksa.
- Penuhi hak buruh! - Penuhi hak buruh!
Turunkan Zaenal!
Turunkan!
Penuhi hak-hak buruh!
- Ya… - Turunkan Zaenal.
Turun!
Penuhi hak buruh!
Turunkan!
- Tangkap Dandy! - Turunkan Zaenal!
Ya…
- Tangkap Dandy! - Tangkap Dandy!
Tangkap Dandy si pembunuh buruh!
Tangkap!
Mas, mereka sudah pada datang.
Dari arah utara dan barat juga sudah pada datang, Bos.
Ini ada apa, ya?
Tenang, tenang.
- Penuhi hak-hak buruh! - Tangkap Dandy!
Tangkap Dandy!
- Turunkan Zaenal! - Turun!
Bapak-bapak, Ibu-ibu…
…tenang saja, duduk di sini.
Ya?
Biar kami yang atur.
Tangkap Dandy si pembunuh buruh!
Tangkap!
Tangkap Dandy!
Tangkap!
Mereka sudah datang.
Ya, enggak apa-apa, enggak apa-apa.
- Situasi yang biasa. - Tolong diperiksa.
Ini enggak biasa, saya periksa saja, ya.
Tenang saja, tenang.
Eh!
Turun!
Turunkan Zaenal!
Turunkan!
Turunkan Zaenal!
Turun!
Turunkan Zaenal!
Penuhi hak buruh!
Tangkap Dandy!
Turunkan!
Turunkan Zaenal!
Penuhi hak kami!
Penuhi hak kami!
Turunkan Zaenal!
- Tangkap pembunuh buruh! - Tangkap pembunuh buruh!
Hari bersejarah sebentar lagi akan dimulai.
Kamu itu bilang…
…kamu sudah bereskan semua masalah Maya sama buruh-buruh kamu itu, bukan?
Dia ada di luar sekarang!
Apanya yang selesai, memalukan kamu!
Eh.
Enggak usah kamu menghubungi anak buah kamu itu, ya.
Kerja mereka semua enggak selesai karena kamu enggak bisa…
…memimpin mereka dengan benar!
Masa Maya yang cuma buruh rendahan bisa memimpin orang sebanyak itu?
Coba pikirkan!
Hei.
Beruntung kamu anakku.
Kalau enggak…
…sudah lama kamu tamat.
Tunjukkan…
…kalau kamu itu bisa menggantikan Papamu.
Oke, Anak-anak.
Kita akan mengambil mobil pick-up itu.
Aku yang akan di depan,
kalian awasi mayit-mayitnya.
Pokoknya kalau melihat mayit,
langsung sikat saja.
Bang Risang lebih tua, Bang.
Harusnya Bang Risang melindungiku dan Ella.
Memangnya kamu bisa menyetir?
Bisa.
Pokoknya, kalau melihat mayit, langsung sikat saja.
Mereka bukan orang lagi.
Ya sudah.
Ya sudah, siap, Om.
Bagus, tapi aku bukan Om-mu.
Oke, Om.
Ayo.
Kamu takut?
Memang kamu enggak?
Bang?
Sial.
Kerja bagus, Kawan-kawan.
Sekarang kita kedatangan banyak penggemar.
Ayo, ayo!
Bang Risang, bagaimana ini, Bang?
- Maju! - Siapa maju?
Ella, Ella, Ella!
Ayo!
Adi!
Ella!
Ayo, Di!
Sial, kuncinya di mana?
Di!
Jalan! Jalan!
Jalan, jalan, jalan!
Kuncinya enggak ada! Kuncinya enggak ada!
Apa?
Cepat lari!
Adi… adi, kita ke sana, Di!
Ini, Di!
Di!
Ini, Di!
Jaga! Jaga!
Di, ke mana, Di?
Di, Di, Adi!
Hei, Di!
Mayit bajingan!
Ya!
Ayo!
Ella, Adi! Ayo!
Hei!
Ayo!
Ayo!
Bau duren!
Mantap ini! Pesta duren kita!
Buang, buang, buang, buang saja, ya!
- Hei, jangan, jangan! - Janganlah, jangan.
- Ah, buang saja. - Ini kenikmatan surga ini.
Apanya yang kenikmatan surga? Buang saja, ya?
- Janganlah! - Bau sekali ini!
Wah, kok bisa ada orang yang enggak suka durian?
Tangkap pembunuh buruh!
Tangkap pembunuh buruh!
Tangkap pembunuh buruh!
Tangkap pembunuh buruh!
Tangkap pembunuh buruh!
Tangkap pembunuh buruh!
Tangkap pembunuh buruh!
Tangkap pembunuh buruh!
- Interupsi. - Tangkap pembunuh buruh!
- Interupsi, saudara-saudaraku! - Interupsi, Teman-teman!
Jangan gentar.
Jangan gentar.
Kita sudah siap sama hal ini.
Rimbalaya!
- Rimbalaya! - Hei, hei!
- Hei, hei! - Lawan!
Kalian punya izin belum?
Sudah punya izin belum?
Kawan kita dibunuh.
Kami tidak akan tinggal diam!
Hei! Kalian tidak punya izin buat demo, pulang!
Hei!
Demo enggak demo, kalian itu tetap miskin!
Jangan terpancing!
Jangan terpancing!
Jangan terpancing! Ipung!
- Sini maju sini. - Jangan terpancing!
Mereka ini sama seperti kita.
Sama-sama ditindas Zaenal dan keluarganya.
Bedanya, kita berani melawan.
Kalau mereka…
- …pengecut! - Pengecut!
Hei, mundur! Kalian mencari mati apa?
Bagaimana ini, Mas?
Masa kita cuma diam saja?
Ya, mau bagaimana lagi, instruksinya begitu!
Sudah, sikat saja.
Hei, Anjing! Bajingan!
Pembunuh!
Hei, Anjing!
Hei!
Hei!
Hei!
Bajingan!
Zaenal!
Aku cuma disuruh, Pung!
- Aku juga sama seperti kamu. - Tai kucing!
Tai kucing!
Zaenal!
Bagaimana?
Jalan keluar satu-satunya pintu belakang, Pak.
Ya. Ayo.
Bapak-bapak, Ibu-ibu…
…kita akan keluar dari sini.
Saya minta tenang.
Kami enggak mungkin tenang.
Tenang, Pak. Ini sudah biasa.
Mayit!
Mayit!
- Itu apa? - Mayit!
Mayit!
Ada yang mati, May!
Ada yang mati!
May!
Ada yang mati, May!
Mundur!
Mundur!
Mbak…
Tolong! Tolong!
Mbak Ningsih!
May!
Sial.
Sepertinya itu orang-orang dari mess, Bang.
Mereka sudah bukan orang lagi.
Siap-siap, ya.
Anak-anak, aku mau tabrak mereka.
Banyak sekali di belakang!
Bang, bagaimana, Bang?
- Bang… Bang… - Cepat Om!
- Bang! - Cepat Om!
Bang!
Di, Di!
Serang pakai itu, Di!
Jangan, jangan!
Sayang! Sayang!
Sakit, sakit!
Ya sudah, ya sudah, pakai ini, pakai ini!
Di!
Di depan, Di!
Ini busuk, La!
Ya, lempar, Di!
- Tinggal satu! - Ya, lempar! Apa sih?
Kok diam saja, ya?
Itu seperti enggak gerak?
Siap-siap, Anak-anak!
Maya!
Mbak Ningsih!
Cepat, cepat, cepat.
- Cepat! - Ayo, ayo!
Cepat, cepat!
Kita menang, Joseph!
Kita menang!
Kirimkan video itu ke Nurhadi sekarang.
Ayo, Mbak!
Lari, bahaya, May!
Bahaya!
Lari!
Lari!
Mayit ngamuk!
May!
Ayo, May!
Lari, May!
Eh, Pak!
Pak, kenapa, Pak?
Bang, berhenti, Bang!
Kanan saja.
Pak!
Pak!
Pak, Pak, Pak!
Kenapa, Pak?
Rumah makan Kawan Lama kacau sekali.
Ada orang gigit orang!
Di!
Mereka sudah sampai duluan, Di!
- Ayo! - Ayo jalan, Bang.
Aduh!
Pak Nurhadi?
Iya, Pak.
Iya, Bapak sudah lihat sendiri, bukan?
Video yang dikirimkan Joseph.
Orang-orang di sini semua sudah gila, Pak.
Iya!
Pak Zaenal juga sudah gila!
Dia membunuh…
…petinggi partainya sendiri, Pak!
Masuk dulu.
Masuk, masuk!
Ayo.
Ayo, Pak.
Ayo, Pak.
Ayo, masuk dulu.
- Ayo, ayo! - Sandi, Pak…
Ayo, ayo, ayo, masuk dulu. Masuk dulu.
Tangkap Zaenal,
dan kabarkan berita ini ke pusat!
Ada apa ini?
Kenapa Sandi ditembak?
Ada apa sebenarnya ini?
Bang Kemal.
Panjang ini ceritanya.
Bang Kemal tenang saja.
Saya bisa atasi ini.
Tenang?
Teman kami kamu bunuh!
Dan di luar sana ada orang yang seperti mayat hidup…
…lagi mengejar-ngejar kita.
Dan Pak Zaenal bisa-bisanya menyuruh kami tenang!
Mbak Rita.
Ini mungkin seperti enggak masuk akal.
Tapi mereka itu orang-orang sakit yang hanya perlu dikarantina saja.
Enggak.
Ini sudah terlalu berbahaya.
Pak Zaenal tidak bisa mengatasi ini.
Dan kita tidak mau terjebak di sini.
Bang.
Bang, Bang Kemal mau telepon siapa?
Bang.
Pusat.
Bang, jangan.
Jangan, Bang.
Bang, tolong.
Jangan, Bang!
Memaksa kamu!
Bang, jangan, Bang!
Gila kamu!
Zaenal.
Lupakan…
Lupakan kamu bisa sampai ke pusat.
Perlu kamu ketahui…
…kami tidak akan membawamu ke sana.
Kami hanya butuh setoranmu.
Dan tidak bermaksud membawamu ke pusat.
Kamu tahu itu!
Pak Kemal!
Jangan pernah sekali-sekali merendahkan Papa saya!
Zaenal Effendi adalah orang terhormat!
Jadi kalian harus menghormati dia!
Gila.
Kalian semua gila!
Pa.
Maaf, Pa.
Pak.
Ya?
Kepolisian ditugaskan untuk menangkap kita.
Perintah Diah Ayu.
Kantor bupati sudah…
…sudah diambil alih, Pak.
Kita tutup kota.
Kita jadikan media lokal sebagai satu-satunya informasi di sini.
Mayat-mayat hidup ini semakin banyak.
Siapapun yang tergigit…
…maka ia akan tertular.
Dan menjadi seperti mereka.
Kamu harus siap.
Iya, Pa.
Saya sudah perintahkan anggota saya…
…untuk memburu Zaenal.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.