Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Penerjemah : Fachreza Aprileo Vickry
India...
Sebuah peradaban... kaya akan budaya dengan semangat juang untuk hidup.
Negeri yang makmur...
Selalu menyambut pelancong dengan tangan terbuka.
Tapi, pengunjung itu bermaksud menyembunyikan kekejamannya.
Ketika kekerasan dan penderitaan timbul di kegelapan malam...
Ibu pertiwi memberikan kelahiran...
Manikarnika!
Mengherankan!
Sangat langka untuk melihat berbagain kejadian dari takdir.
Jiwanya sudah terberkahi.
Kita harus memanggilnya apa?
Seperti api abadi yang berada di pegunungan suci Manikarnika...
Namanya akan membekas di setiap Orang India.
Tak ada lagi penyesuaian. Manikarnika... Permata dari Tuhan.
Akankah putriku terus hidup?
Itu... Aku tidak tahu.
Tapi, namanya akan segera ditulis dalam sejarah.
Seperti Dewa Rama.
Dia akan tetap tabah.
Jagoan... lari!
Aku tidak melihat apapun. Keringatmu perlahan-lahan mengalir.
Untuk memberitahumu yang sebenarnya, kakiku rasanya menggigil juga.
Manu!
Manu!
Ambilkan aku obat.
Ini, Manu.
Oh! Kau hanya menenangkannya.
Kenapa kau tak membunuhnya?
Aku tidak bermaksud membunuhnya, aku hanya ingin menyelamatkan desa.
Lepaskan dia di tengah hutan.
Jadi dia bahagia saat dirumah ketika orang desa merasa aman ditangan mereka.
Terimakasih!
Kau menyelamatkan nyawa kami.
Dan anak-anak kami juga aman.
Tuan, Tolong kemari.
Berhenti.
Salam.
Siapa gadis pemberani ini?
Manikarnika.
Menteri Bithoor yang membesarkannya.
Dia Putri dari Moropant.
Dia bukan dari marga pejuang tapi punya kualitas bagus untuk menjadi pejuang.
Dia belum menikah, 'kan?
Belum, Tuan.
โช Dewa Siwa berkalungkan Ular โช
โช Membersihkan dengan air seperti air yang mengalir โช
โช Menari dengan ganas, Tandava mengikuti irama Tabu. โช
โช Berkahi kami, Oh Dewa! โช
Ratu, ini kabar penting.
Katakan.
Dimana pangeran?
Apa yang bisa aku katakan?
Kau tahu dunianya... seni... literatur dan musik.
Ratu, itu benar, tapi...
itu semua hanya alasan.
Kita menerima beberapa surat dari Inggris.
Mereka memata-matai Jhansi seperti elang.
Tuan Dixit, jika Jhansi tidak memberi harta...
maka mereka akan merebut kekuasaan seperti Berar dan Awadh.
Jangan khawatir.
Aku punya gadis yang bisa mengatasi masalah kita.
Benarkah?
Tapi Tuan Dixit, apakah benar gadis ini berasal dari derajat keluarga Navalkar?
Aku tidak tahu tentang keluarganya.
Tapi yang kutahu dia asli dari Jhansi.
Lagipula, kita belum pensiun tepat waktu.
Sangat memalukan untuk bertanya pada Inggris akan hal itu.
Dan ketua, kita harus membawanya pada peringatan mereka...
Personel Inggris itu mengusik rakyat kita.
Oke.
Juga, Kompeni secara resmi menerima Putra adopsiku, Tuan Nana
Tapi personel lokal tidak berunding dengan urusan pemerintahan.
Dimana Tuan Nana?
Dia perlu menandatangani surat ini juga.
Ya.
Tatya sedang mengajari tekhnik pedang pada Tuan Nana dan Tuan Rao.
Jangan menggerakkan pedangmu seperti gadis.
Jika aku bertarung seperti ini, musuh akan membunuhmu.
Siap!
Siap!
Tuan Dixit, Sebuah kehormatan bertemu dengamu.
Tapi, apa yang membawamu kemari?
Pak Menteri, Aku datang untuk menanyaimu tentang sesuatu yang berharga.
Tuan Dixit, Kompeni sudah menguasai Pune.
Istanaku, Hartaku, Bahkan gelarku sudah dirampas.
Malahan, mereka memberiku desa kecil dari Bithoor.
Apa yang mungkin Jhansi butuhkan dari kami?
Manikarnika.
Kau pernah bertemu Manu?
Pak, penyatuan kau dan aku... ini demi Tanah air kita.
Inggris melirikkan matanya terhadap Jhansi juga.
Selanjutnya!
Saudaraku, Aku akan menunjukkan padamu cara bertarung.
Aku Ayah Manu hanya dari melahirkannya, Tuan Dixit.
Kau yang telah membesarkannya.
Keputusanmu milikku.
Manu...
Aku mohon pengampunanmu.
Setelah mengetahui kedatanganmu, kami akan mendandaninya sebaik mungkin.
Moropant, ini cara terbaik untuk memperkenalkan Manu.
Tuan Dixit, ini gadisku.
Satu dari sejuta.
Kenapa... kau menuju ke kontes dengan kalian bertiga?
Pak, kau mau mencoba keberuntunganmu?
Manu!
Ayah, kau juga...
Tatya, Nana, Rao...
siapapun yang mengambilkan pedangnya, mendapatkan gajahku.
Ini, Sayangku.
Gajahku milikmu.
Ini bukan demi gajah, Tuan.
Aku berjuang untuk restumu.
Tuan Dixit, tak ada yang seperti Manu-ku.
Aku terima lamaranmu.
Tapi, biarkan aku menanyakan pada Manu dulu.
Jhansi menunggu Manikarnika-nya.
Kau tidak mendapatkan buku Pokonya aku mau sekarang.
Kau lupa?
Hari saat kau dapat Harshcharitra akan terkenang.
Biasanya buku yang datang padaku.
Saat ini, aku harus menemui mereka.
Apa masalahnya?
Ada lamaran untukmu.
Dari Jhansi?
Apa aku menyusahkanmu untuk barang yang kau kirim?
Kasihmu telah membuat dia melupakan penderitaanya, Tuan.
Apa masalahnya?
Tuan, kau membawaku seperti pejuang.
Tak pernah mengrurangiku akan segalanya.
Tapi itu bukan berarti aku tahu jalanmu.
Aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi seorang Ratu.
Manu...
Anakku, itu tidak penting.
Ingat akan satu hal...
beri Tanah Air-mu cinta yang tak biasa.
Kau selalu mengatakan itu padaku.
Bukankah Jhansi indah?
Pertama kau seorang Ratu, apa kau akan melupakan kami?
Kashi, pernah aku melupakanmu?
Tuan telah mengirmku padamu.
Kau seperti bayanganku.
Salam, Manikarnika-ji.
Ini Sundar dan aku Mundar.
Perintah Ratu. Kita dalam pelayananmu.
Jadi kau tidak merindukan Bithoor sama sekali.
Ini Baadal.
Dia penunggang kuda bandel.
Tak ada yang tahu, kenapa Raja menerimanya.
Tak ada seorangpun yang mampu mengendarainya.
Salam.
Semoga berumur panjang, Nak.
Pindahkan mereka... Ini hari pernikahanmu.
Seluruh Jhansi akan memandangim.
Jangan memakai rantai ini hari ini.
Kita bisa hidup di India, berkat orang sepertimu .
Kalau tidak, para nasionalis akan akan membuang kita jauh-jauh.
Kau akan dihadiahkan dengan baik.
Semuanya berkumpul!
Kita akan membagi rata barang rampasan.
Barang rampasan?
Disebarkan?
Aku hanya ingin kau memberiku hakmu.
Gangadhar beri mereka , uang seperti wanita itu.
Dalam dendam menjadikanmu orang luar, kau memikirkan kebaikanku.
Dalam tangan orang lain, rakyatku sendiri tidak mengurusku.
Buat aku bahagia Aku menjanjikanmu tahta-ku.
Pangeran, Lihat apa yang terjadi.
Ini penunggang kuda yang bandel itu...
Siapa yang menunggangnginya?
Dia menantu baru Jhansi,
Manikarnika.
Sepertinya dia akan membuat pria keluar dari Gangadhar.
Kau pasti membutuhkan kita.
Manikarnika-ji, apa yang kau lakukan?
Mengeringkan Henna-ku.
Dia akan belajar cara di istana.
Emmm, dengan gelar barunya, angin akan berubah arah.
Tidak, Ibu.
Ayo sambut perubahnynna.
Biarkan yang baru, segar menghembus hingga ke istana.
Tetap saja... kita tak bisa melihat pasangan kerajaan.
-Bagaimana kita bisa kalau kau banyak bergerak? -Diam!
Siapa kamu? Bagaimana kau bisa kesini?
Maaf...
Bagaimana bisa dia memberitahu kita?
Dia tidak mau berkata sesuatu sekarang. Maaf...
Apa aku berjalan dengan lambat?
Apa?
Kau mencintai untuk terbang... keringkan Henna-mu dengan angin.
Kau melihatku?
Iya.
Aku menikahi wanita biasa.
Haruskah kita berjalan lebih cepat?
Pendeta, apa yang hilang dari yang kau ikat.
Kita ingin ikatan itu semua dari seluruh kehidupanku.
Dewa... Manu tidak punya simpanan siapapun.
Gadis kecil kita belum berubah.
Tapi Jhansi akan berubah.
Raja, dengan memegang tradis Jhansi,
Aku memintamu untuk memberikan nama baru untuk istrimu.
Di setiap noda perayaan...
Di setiap kegembiraan Jhansi di telapak tangan Dewi Laksmi.
Jhansi terus diberkahi...
Laksmi.
Laksmi.
Mulai sekarang Raja Gangadhar, Suami Rao...
akan diketahui sebagai... Laksmibai.
Ratu dari Jhansi... Ratu Laksmibai.
Semoga berumur panjang!
Silahkan duduk.
Aku?
Ini tempatmu.
Bukankah separuh ini milikmu?
Apa yang aku punya juga punyamu.
Tetap saja... Tahta ini hanya milikmu.
Iri akan punya segalanya, Aku tidak punya apa-apa.
Kapten Gordon dari Kompeni telah datang untuk mendoakan pernikahan kita.
Aku tahu.
Apa yang harus kita lakukan?
Apa yang benar demi Jhansi... untuk sekarang.
Bunga untuk dijual.
Bu, boleh aku beli ini?
Tidak... tunggu.
Nak, Ambillah satu?
Tidak, Tuan.
Saudaraku, Ambillah satu.
Ayo... Makanlah, Nak.
Perhatian! Kapten Gordon telah tiba.
Tundukkan kepala.
Tundukkan kepalamu.
Tuan, dia Inggris.
Tuan, cepat! Tundukkan kepala.
Aku berusaha, Nak.
Tapi, Lututku...
Ibu...
Hush, Nak.
-Mereka datang! -Nak...
Tundukkan kepala.
Kami mematahkan lutut siapa saja yang tidak menundukkan kepala!
Kapten Gordon sudah sampat di Istana dengan pasukannya.
Angkat kepala.
Perhatian!
Selamat datang, Kapten Gordon.
Ini istriku, Laksmi.
Tuan, Ratu naif.
Dia tidak tahu kalau semua harus menunduk sebelum Kapten.
Kita tidak pernah melihat seberapa naif dia.
Suaminya mengenakan rantai dalam rasa takut.
Ketakutan ini akan selalu menguasai Jhansi...
dan memaksa mereka menunduk sebelum aku.
Katakan padanya...
untuk menundukkan kepalanya.
Tak ada yang menundukkan kepala karena takut meskipun mengangkatnya hanya sia-sia.
Aku akan menemuimu secara pribadi, berbicara dengan kehormatan diri.
Laksmibai, Aku tidak pernah melupakan mata yang berani menantangku.
Aku berjanji padamu... kepala ini akan tunduk.
Pasukan... bergerak!
Karamchand, Apa yang kau lakukan disini?
Laksmibai, Aku mau pergi dengan padiku untuk membayar pajak...
saat perampok Sangram Singh merampok aku.
Aku Kepala Polisi disini.
Aku berusaha menangkap basah dia dan Sangram Singh melakukan ini padaku...
Dimana dia?
Dia seharusnya tak pergi jauh.
Sangram Singh...
Siapa kau?
Kau akan dipenjara karena kejahatanmu.
Laxmibai-ji, dia bukan perampok.
Kau salah paham.
Desa kami digunakan untuk memenuhi kebutuhan.
Tapi Kompeni menghancurkan kami dengan menyusahkan kami akan pajak yang tinggi.
Kalau kami menolak untuk bayar...
Mereka merampas tanah kami dan membakar rumah kita.
Sejak saat itu, Sangram menyediakan segalanya untuk kami.
Ratu, kumohon jangan bunuh Sangram.
Jadi kau Ratu Laksmibai...
yang dikenal karena semangatnya.
Tapi, apa gunanya?
Jika kau cukup berani, kami tidak akan mengeluarkan pedang kami.
Hari dimana kau memutuskan untuk melawan Inggris...
Aku akan menerimau sebagai Ratu.
Laksmi...
Ya, Ibu.
Kau mencoba melakukan apa?
Maksudmu?
Kau akan menjelajahi Jhansi, terselubung maupun tidak.
Sangat penting untuk megetahui bagian dari Jhansi.
Mereka rakyat kami.
Dan aku tidak akan pergi kesana Bagaimanapun aku melihat...
keinginan untuk mencari kemerdakaan itu membara di hati rakyat kita.
Jangan mengajariku.
Aku sudah melihat hal itu terjadi sejak lama.
Memimpin dapur kerajaan.
Disana kau semestinya.
Apa masalahnya?
Biarkan aku pergi.
Kau menyia-nyiakan waktumu untuk menjadi patung.
Itu mengapa sebagian memiliki keluarga dan kita tak punya anak.
Karena kau tetap satu!
Burung akan menggagalkan panen.
Jadi patung akan beristirahat.
Kau mau menjadi satu?
Baik.
Jangan marah.
Dan tentang anak-anak, kau bilang Nandu adalah anakmu.
Pergilah, dia butuh kau.
Temani dia dan biarkan dia nyaman.
Banyak sekali yang harus aku lakukan.
Apa itu? Kenapa kau mengeluh?
Mengeluh sesuatu yang tidak bagus.
Aku bilang padanya untuk melepaskan anak sapinya.
Nandu!
Kita aka punya pesta besar hari ini.
Kemana kau membawanya?
Dia milikku.
Menjauhlah!
Kemana kau membawanya?
Dia milikku.
Biarkan dia pergi.
Tinggalkan aku. Tinggalkan aku, Aku bilang.
Aku tidak akan membiarkanmu membawanya.
Lepaskan dia.
Lepaskan dia.
Jhalkari... Tuan, tolong ampuni dia.
Aku bisa mengambil apa saja yang kumau.
Nandu... Pooran... Nandu-ku!
-Dia telah mengambil Nandu-ku. -Jhalkari, dengar...
Dia sudah mengambil Nandu-ku.
Apa yang kau harapkan? Mereka bahkan tidak menghargai manusia.
Pooran... Nandu-ku!
Ayo ambil steaknya dari anak sapi yang kita ambil semalam.
Kita punya tawaran penuh...
Tentu.
Ambil makanannya.
Berhenti!
Siapa dia?
Kau tak boleh masuk tapa izin.
Kau tidak melihatnya di papan?
-Dasar orang India. -Kau bisa baca bahasa Inggris?
Aku bisa baca Inggris. Itu cuman bahasa.
Cuman kata.
Kata tanpa budaya tak berarti apa-apa.
Tanah yang kau pijaki...
belajar untuk menghargai itu bagaimana orang dan mereka rasakan.
Bahasa Inggris bisa menjadi kemampuan kita, bukan menjadi bahasa kita.
Bahasa pertama berhubungan dengan Ibu... dan mungkin menjadi satu-satunya.
Dia Ratu.
Mulai sekarang, sapi dan kambing bersaing secara pribadi untuk Raja.
Mereka meminjami masyarakat untuk mengembangkan.
Oleh karena itu, Kompeni tidak bisa menyentuh mereka.
Yang Mulia.
Jhalkari, lihat siapa yang datang?
Siapa dia?
Kita tak bisa melihat wajahnya... Dia mendapatkan Nandu.
Nandu!
Ratu?
Nandu!
Yang Mulia... Nandu!
Siapa yang... ?
Aku... kamu... dimana aku bisa duduk?
Apa yang 'kan kulakukan? Aku tak mengerti apa yang harus dilakukan.
Saudari Jhalkari, maukah kau memberiku susu dari sapimu?
Ambillah cepat.
Tunggu sebentar.
Sang Ratu dalam bagian kita?
Letakkan itu.
Tunggu sebentar.
Taruh itu.
Inikah caramu menerima tamu?
Jhalkari, jika kau tidak menawarinya padaku, Aku tidak akan menerimanya.
Tentu...
Laksmi...
Maharaja-ji, kau harus turun dari tahtamu segera.
Ratu sedang bersama anak-anak.
Laksmi!
Ada kabar baik untuk Jhansi.
Ratu sedang bersama anak-anak!
Ada sinar harapan untuk Jhansi.
Selamat!
-Selamat, Raja. -Tuan, selamat.
Terimakasih.
Selamat, Raja.
Oh, Aku mengerti.
Sangat senang saat melihatmu memainkan permainan kami.
Kita harus mengajari permainan kita pada semua orang.
Permainan?
Lupakan.
Aku telah menghilangkan permainan warisan Jhansi.
Aku mendengar Ratu bersama anak-anak.
Dia tidak menyerah memberikan warisan.
Kenapa?
Apa jaminanmu kalau dia laki-laki?
Perjalanan dari rahim menuju ke dunia ini sangatlah susah.
Ada banyak penyakit untuk sekarang.
Kecelakaan, juga.
Bergembiralah.
Coba kita lihat silsilahmu...
Damodar Rao, Raghunath Rao, Shiva Rao dan...
Hari-bhau, Ramchand Rao.
Gangadhar Rao...
Dan sekarang...
Sadashiv Rao!
Semoga berumur panjang, Maharaja Sadashiv Rao!
Jika garisan takdir tak ada, mereka perlu menuliskannya dengan pisau.
Umumkan perayaan dengan hormat kelahiran ahli warisku.
Kedua Pasukan Inggris dan Jhansi akan mengambil bagian.
Tapi Rajaku, Besok hari Minggu,.
Menurut peraturan Kompeni, kita tak bertugas di hari Minggu.
Kenapa mereka harus cuti?
Buat menjadi wajib untuk untuk pasukan Inggris agar menghadiri acaranya.
Aku mohon ampunanmu, Maharaja.
Peraturan Kompeni tak bisa dilanggar.
Tidak akan pernah.
Minggu adalah hari libur.
20 Juni, 1756 - Inggris mendatangi perang dengan Siraj-ud-daula...
Di hari Minggu.
2 Januari, 1757, Inggris menguasau Kolkata... Hari apa itu, Mayor?
Saat itu, juga hari Minggu.
Yang Mulia, hal itu untuk pertempuran mendadak.
Tapi perayaan...
Baiklah.
Kapan ulang tahun Ratu Victoria?
24 Mei.
24 Mei, 1840...
perayaan ultah Ratumu...
tidak hanya menyangkut tentara tapi marinir, juga.
Dan Mayor, Hari itu juga Hari Minggu.
Kapten Gordon, pesannya sudah jelas.
Suruh pasukanmu untuk ikut dalam perayaan.
Baik, Yang Mulia.
Pasukan, Bergerak maju.
Maharaja Dheeraj Rajeshwara Narendra Shiromani,
Tuan Gangadhar Rao Navalkar...
dan ahli waris Jhansi, Pangeran Damodar Rao Navalkar..
dan ahli waris Jhansi, Pangeran Damodar Rao Navalkar...
Kompeni, hadir.
Tembak.
Wajah Gaus-baba saat saat membidik Meriam terhenti...
Maharaja...
Damodar!
Maharaja...
Ratu...
Damodar!
-Manu... tidak! -Maharaja...
Mundar! Damodar!
Dia melihat gelagat yang sama yang membawa Pangeran.
Maharaja tidak merespon beberapa obat.
Semua baik-baik saja, Dixit-ji?
Maharaja...
Jangan cemas.
Aku akan mengambil kepergianmu.
Apa yang terjadi?
Aku harus membuat keputusan demi Jhansi saat aku tak punya waktu lagi.
Tolong jangan katakan hal itu.
Mereka menunggu seperti elang.
Laksmi, kita harus mengadopsi seorang anak dan beri Jhansi ahli warisnya segera.
Atau mereka akan merebut Jhansi dengan licik.
Menurut Yang Mulia Raja Gangadhar Rao akan...
melakukan kebaikan demi Kerajaan Jhansi...
dia mengadopsi seorang putra dari Sadashiv Rao, sebagai ahli waris...
Kerajaan Jhansi. Dia akan diberi gelar saat usianya cukup...
Damodar!
Damodar!
Nicholas, tunggu.
Aku mohon ampunanmu, Maharaja.
Putraku Anand Rao sangat nakal.
Dia mencari ibunya dan tanpa sengaja berada di tangan Ratu.
Aku mohon ampunanmu, Maharaja.
Ini bukan kesalahan, Vasudev Rao.
Anak merupakan penjelmaan dari Dewa.
Dan berkat Dewa... anak telah memilih Ibunya.
Buat pengumuman.
Kita secara resmi mengadopsi Putra Vasudev Rao, Anand Rao.
Dengan ini aku mengumumkan pada Maharaja Gangadhar Rao akan,
dia secara resmi mengadopsi putra Vasudev Rao,
Anand Rao membuantnya pewaris Jhansi yang resmi.
Damodar!
Anand Rao sekarang dikenal sebagai Damodar Rao.
Sampai usianya cukup untuk mengambil tahta...
Ratu akan mengurus segala urusan.
Ratu Laxmibai.
Ini tipuan!
Rencana yang licik!
Aku dan keluargaku adalah pewaris tahta yang sah.
Tak ada yang mampu merebut tahta dariku.
Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Pengkhianatan!
Hanya yang berani yang pantas mengambil tahta... bukan yang tamak.
Tundukkan kepalamu, Sadashiv.
Tundukkan.
Hormati pedang ini dan tundukkan kepalamu, Sadashiv.
Ayo.
Sekarang, tundukkan kepalamu di hadapan Ratu-mu.
Aku tak akan menundukan kepalaku di hadapan perempuan.
Pergi kau dari Jhansi... segera.
Kau tidak seharusnya disini, Sadashiv.
Matahari terbit dari timur dan terbenam di barat.
Itu bukan berarti matahari tunduk akan Kompeni.
Tapi, matahari tidak terbit di Jhansi sejak 50 tahun lalu.
Serang!
Maharaja...
Kau butuh istirahat.
Jangan kau kasihani aku!
Lupakan kalau aku Raja Jhansi.
Pikirkan aku sebagai musuh dia.
Tunjukkan padaku apa yang kau punya.
Apakah Manikarnika kehilangan semangatnya menenangkan istana?
Hentikan, Maharaja!
Manu, serang...
Maharaja, kesehatanmu akan memburuk...
Seberapa buruk?
Lawan balik, Laksmi.
Maharaja...
Tidak usah khawatir, Manu.
Aku baik.
Manu...
kau harus pikrikan tentang rantaiku.
Tapi, kau malah memilih diam.
Ketika aku melihat orang Inggris Jahat berkeliaran di Jhansi-ku...
aku tidak berdaya untuk melakukan apapun...
Aku merasa pria yang tak berguna.
Aku pakai belenggu ini sebagai pengingat.
Tapi hari ini...
kau mematahkannya.
Manu, bebaskan Jhansi dari belenggunya, juga.
Aku mau kau jadi diri sendiri...
Manikarnika dengan semangat yang membara demi negaranya.
Maukah kau, Manu?
Aku mau kau menjadi diri sendiri...
Manikarnika dengan semangat yang membara demi negaranya.
Maukah kau, Manu?
Manu, bebaskan Jhansi dari belenggunya, juga.
Itu disayangkan!
Tapi, kau sekarang seorang janda.
Pertama, rambutmu akan dipotong.
Dalam beberapa haru, kau akan pergi menuju Kashi untuk menabur abu Raja.
Panggilkan tukang cukur.
Tidak perlu.
Manu...
Kau sedang apa, Laksmi?
Ini tradisi.
Mulai sekarang, kau akan memimpin kehidupan seorang janda.
Saat ini, apa tugasku, Ibunda Ratu?
Bukan itu intinya.
Maafkan aku.
Kau tak akan mengerti.
Ini saatnya aku memenuhi janji pernikahanku.
Ini sebuah bencana.
Tolong ingat, Ibunda Ratu...
Kau berbicara pada Ratu Jhansi.
Laksmi mungkin seorang janda tapi Jhansi-ku tetap punya pelindung.
Kashi, panggil untuk rapat penting.
Sungguh sopan! Aku seharusnya meninggalkan tugas perjalanan terakhir ke Kashi.
Aku setuju.
Tolong buat rencana untuk perjalanan Ibunda Ratu.
Umumkan... kedatangan Ratu Jhansi dengan Pangeran Damodar Rao.
Ratu, Apa yang kau lakukan?
Aku, Laksmibai... istri dari Maharaja Gangadhar Rao, pengantin Navalkar,
ikrar... Sampe darahku dalam nadiku...
sampai detakan terkahir jantungku, sampai jiwaku meninggalkan ragaku,
Aku akan mengabdi sepenuhnya pada Jhansi.
Aku tak 'kan biarkan Jhansi kehilangan rasa hormat dirinya.
Aku tidak akan biarkan dia tunduk pada apapun.
Kemenangan untuk Laksmibai!
Kemenangan untuk Laksmibai!
-Untuk Jhansi! -Kemenangan!
Kemenangan, kemenangan, Ratu Laksmibai!
Kemenangan!
Kemenangan, kemenangan, Ratu Laksmibai!
Kemenangan!
Dixit-ji, tolong panggilkan Gopal-ji.
Aku akan memberi tahu Jenderal Gubernur Dalhousie akan keputusan Raja Divanghat.
Untuk anggota parlemen...
kita bisa memastikan kalau Inggris akan memahami keadaan kita.
Dan Maharaja Divangat akan menguatkan Kehormatan Maharaja Gangadhar Rao.
Aku tahu kita berkata Wanita India bersama dengan Kashi saat mereka menjadi Janda.
Tapi, yang satu ini telah menduduki tahta itu!
Itu juga, satu dari dari terkaya di negeri ini.
Kami telah menempatkan dia di tempatnya atau hal itu akan memberanikan rakyat.
Kau pikir aku akan membiarkan hal itu terjadi?
Ratu, Gaus-baba ingin sangat ingin menemuimu.
Ada apa, Gaus-baba?
Kompeni telah membalas.
Kau mengharapakan keadilan dari ketidakadilan.
Dan aku pikir kau orang yang berani....
memahami bahasa pedang.
Kau sudah tahu akan pergerakan musuh.
Malahan, kau berbicara seperti suamimu.
Kau menulis surat perdamaian untuk Jendral Gubernur Dalhousie?
Salah satu dari orang Inggris yang merupakan musuh terbesar India.
Berapa pasukan yang kita miliki, Gaus-baba?
Dengan pasukan kuda... totalnya 2,526.
Dan Inggris?
Semuanya... 40,000.
-Berapa meriam yang kita miliki?
-Dan mereka? -Lebih dari 80.
Bahkan kota tetangga kita Orcha dan Datia telah bergabung dengan pasukan mereka.
Aku merasakan kemarahanmu.
Ketika bertarung dengan ketidakadilan, beralasan untuk tidak terjadi penyimpangan.
Mereka bertarung untuk memerintah kita.
Kita bertarung demi kehormatan kita sendiri.
Aku rela menjadi syuhada, Gaus-baba.
Tapi, Aku ingin melihat matahari terbit di India yang sudah merdeka.
Aku selalu menyangka kau bertarung demi masa sekarang.
Aku baru sadar kalau kau bertarung demi masa depan.
Salahku.
Katakan padaku... apa selanjutnya.
Tunggu untuk momen yang pas.
Maka Kansa merubah Bakasur menjadi burung.
Tapi, Dewa Krishna memegang paruhnya kuat-kuat dan...
Manu!
Pasukan Kompeni datang ke arah kita.
Setiap kekuatan bersamannya dengan Yang Mulia, Ratu...
Tuan Dalhousie,
Komandan Tertinggi dari Kompeni Inggris India Timur
dengan ini mengumumkan bahwa...
Cukup!
Menggunakan hukum untuk memalak-ku, Gordon?
Terakhir kali kau menantangku,
Aku berjanji pada diriku kalau aku akan membuangmu dari tempatmu.
Harinya sudah tiba.
Kau akan menundukkan kepalamu dan pergi dari sini.
Tanpa tahta.
Tanpa perhiasan.
Tanpa istana.
Tanpa apa-apa.
Tuan Gordon, Ini India.
Siapa saja yang berani turun tahta dari semua aset, adalah pemenangnya.
Tahta ini tidak menjadikanku Ratu.
Ini cinta dan kepercayaan dari rakyat-rakyar Jhansi.
Kau menginginkan Jhansi... begitupula aku.
Bedanya adalah kau ingin memerintah...
sebaliknya aku ingin melayani rakyatku.
Bagiku, menundukkan kepalaku...
Saat itu aku tidak menundukkan kepala, begitu juga hari ini.
Laksmibai!
Kesombonganmu akan menghancurkanmu
saat kau harus tidur di batu menghindari ular.
Kepalamu akan tunduk!
Kemenangan untuk Laksmibai!
Perhatian... Ratu datang.
Perhatian... Ratu!
Perhatian... Ratu!
Telah datang sang Ratu!
Telah datang sang Ratu!
Ratu, revolusi kalau Mangal Pandey berawal di Barrackpore telah sampai Jhansi.
Dan revolusioner telah membunuh Kapten Gordon.
Tapi ratu... disana juga ada anak-anak...
Sangram...
pertempuranmu bukan melawan anak-anak dan wanita yang tak bersalah.
Bagaimana dengan tindihan 1 dekade lalu yang Inggrin kirim ke kita?
Apa mereka tidak berpikir lebih dulu untuk menyiksa wanita dan anak-anak kita?
Kau dipihak kita, atau melawan kita.
Ratu, kenapa kau menjadi bermurah hati?
Orang-orang ini membuangmu dari tempatmu.
Kenapa masih bersimpati?
Ada perbedaan antara pemberontakan dan pembunuhan.
Darah tidak bersalah tetap untuk tanah suci Jhansi selamanya.
Tindakan seperti ini yang membuat musuh berpikir kalau kita lemah.
Dan itu kenapa Jhansi menjadi yatim.
Tapi tidak untuk Jhansi-ku, Sangram Singh.
Ada waktu untuk segalanya.
dan waktunya telah tiba untuk memimpin pemberontakan ini.
Mundar, bersiap untuk kembali ke istana.
Bendera Jhansi akan segera berkibar lagi.
-Untuk Ratu Laksmibai... -Kemenangan!
Jhansi sekarang tanggung jawabmu.
Kita akan menuju Delhi untuk membantu Sultan Bahadur Shah Zafar.
Kita terima kepergianmu.
Baksheesh Ali, beri wanita dan anak ini tempat yang aman.
Aku harap kau memenangkan kemrdekaan ini.
Tuan, pasukan berhasil merampas senjata di Barrackpore.
Dan bagaimana dengan Meerut?
Setelah Meerut, pemberontakan telah meluas ke Lucknow juga.
Tuan, ada satu lagi kabar buruk.
Banyak wanita dan anak-anak dari Inggris terjebak antara Delhi dan Meerut.
Kenapa kau melakukan ini?
Ratu tak pernah menginginkan ini.
Kau akan tercatat dalam sejarah sebagai pengkhianat.
Bilang ke siapa?
Orang yang mati tak bisa bicara.
Aku akan menulis sejarah.
Pemberontakan pasukan, Gordon dan keluarganya terbunuh.
Pembunuhan massal akan orang Inggris... yang tak bersalah dan dia kembali ke tahta.
Seberapa berani dia?
Ini sudah diluar batas hak Kompeni.
Sekarang, Pemerintah Inggris harus ikut campur.
Dan mereka harus mengirim yang terbaik.
Jenderal Mayor Sir Hugh Rose.
Kita berkumpul disini hari ini, untuk menguburkan saudara kita yang berjuang.
Dengan nama Bapa, Putra dan Roh Kudus.
Semoga jiwa mereka beristirahat dengan tenang.
Teruntuk Bapa, tolong bawa saudaramu ke kerajaanmu.
Dalam Tangan-Mu, jadi mereka bisa mendapatkan cahaya surga.
Selamat datang di India.
Keberanianmu di Syrian dan Crimean...
tak ada apa-apanya dibandikan dengan inspirasi.
Dan cara yang baik untuk memulai.
Teman baik kita Sadashiv sudah menceritakan seluruh kejadian
dari pembunuhan yang dilakukan Ratu Laksmibai.
Bisa kita melakukan sesuatu untuk itu?
Pertumpahan darah disebabkan oleh Sadashiv sendiri.
Coba pikir, lebih baik begitu daripada menyalahkan Ratu.
Sebaliknya dia akan bebas setelah pemberontakan.
Ayo gunakan mayat ini untuk menyemangati pasukan kita.
Itu kenapa kau disini Sir Hugh Rose...
dan itu kenapa pemerintah mengirim-mu kemari.
Kirim dia pesan untuk segera mengevakuasi pertahanan...
atau berhadapan secara langsung.
Tuan!
Tanpa ampun Inggris sudah membakar Kanpur dan Bitthoor.
Dimana Nana-sahib?
Aku tidak tahu.
Beberapa orang bilang kalau dia pergi ke Nepal.
Sementara yang lainnya bilang dia meninggal.
Tapi pasti dia tak ada di Kanpur.
Tatya dan Rao?
Belum ada kabar...
Hanya tinggal Jhansi.
Yang Mulia, Mayor Nicholas ingin bertemu denganmu.
Kirim dia.
Aku punya pesan untuk Ratu.
Kompeni sudah berhasil menahan para pejuang.
Kompeni percaya bahwa Ratu Laksmibai seorang...
oportunis dan memerintah Jhansi dengan tak bermoral.
Kompeni memeringatkan Laxmibai untuk keluar dari Istana.
Terakhir kali kita sangat menghormati.
Kali ini kita akan merusak istana itu.
Kebudayaan kita memberi yang terbaik untuk kedamaian.
Revolusi datang setelahnya.
Tapi, Inggris telah membuat kita sadar...
beberapa orang tidak mengerti akan kebaikan.
Jhansi siap dalam berbagai keadaan.
Kau mau berperang?
Tanpa uang.
Tanpa sumber daya.
Aku tak mau mengkhianati Jhansi!
Jika perang adalah solusinya...
maka harus dilakukan.
Queen, this is the strength of our army.
Hanya 6.000 pasukan.
Bahkan tidak cukup untuk menahan pertahanan benteng.
Dan wanita Jhansi?
Yang Mulia, akankah para wanita ikut?
Besar mulut tak apa, tapi apa kita bisa percaya perempuan dapat bertempur?
Dewa memberkahi kaum wanita dengan kekuatan terkuat di bumi...
anugerah melahirkan.
Apa ada sesuatu yang lebih baik?
Kenapa membedakan putri dan putra untuk mengabdi pada Negeri?
Saat anak perempuan melangkah, kemenangan terasa manis.
Kita akan bertempur sampai titik darah penghabisan dan untuk kemenangan!
-Kita akan merangkul kematian... -Sampai mati!
-Sampai kita menang. -Kemenangan milik kita!
-Jhansi milik kita. -Kita adalah Jhansi!
Kemenangan milik kita!
Sejak perempuan dan petani ikut dalam peperangan...
jumlah kita bertambah.
Tapi kita kekurangan sejata.
Umumkan upacara agungnya.
Biarkan rakyat memberiku seluruh benda besinya.
Aku akan tunjukkan rasa hormatku terhadap mereka.
Ayo mulai persiapannya dengan perayaannya.
Itu akan menghilangkan rasa takut dan keraguan.
Berhenti!
Ambil ini.
Besinya bisa digunakan untuk membuat 2 pedang.
Dia seorang janda.
Begitu juga aku.
Kemari.
Siapa yang pertama menaruh tanda merah padamu?
Ibuku.
Tak ada seorangpun yang bisa mengambil apa yang diberikan Ibumu.
Siapa namamu?
Laksmi.
Yang Mulia, kita bertarung dengan Hartawan di Delhi.
Tapi, mereka sudah tak memerintah disana.
Kau satu-satunya yang tersisa di bagian ini yang bertempur dengan Inggris.
Tolong biarkan kami ikut pasukanmu.
Tak ada yang lebih baik dibandingkan memperkuat semangat pasukan Jhansi.
Kami menyambutmu untuk masuk pasukan Jhansi.
60,000... itu berarti 20.000 tiap pasukan.
Mereka bisa menyerang kita dari 3 arah.
Dan bersama, kita hanya 20,000.
Itu berarti setiap dari kita harus membunuh tiga dari mereka.
Dengar!
Tiap dari kalian harus berani membunuh tiga dari pihak musuh.
Kemenangan milik kita!
โช Surga berkata "Kemenangan milik kita!" โช
Siap?
Ya!
Ya, Tuan.
Gerakkan pasukan pada posisi.
Bersiap untuk menyerang.
Pemberani, Persiapkan meriamnya!
Siap!
Tembak!
Luncurkan serangan.
Tembak!
Isi kembali meriamnya.
Tembak meriamnya!
Bidik meriamnya agak rendah.
Tarik mereka untuk maju.
Rendahkan meriam!
Meriam siap... Tembak!
Kemenangan milik kita!
Tuan, ini sangat susah untuk menerobos pertahanannya.
Mereka sangat banyak.
Keluar dari sini!
Tuan, temboknya terlalu tebal.
Meriam kita tidak mempan.
Bawa meriamnya dan letakkan tepat di depan kuil.
Tapi... Ya, Pak!
Posisikan meriam.
Persiapkan meriam!
Luncurkan kudanya.
Siap, bro?
Nyalakan sumbunya.
Tembakkan meriamnya.
Ini akan berhasil.
Sahib, Aku tidak bisa...
Sahib, kita tak bisa menembak kuil.
Pooran Singh... bagaimana keadaannya?
Inggris meletakkan meriamnya di belakang kuil.
Mereka tahu kita tidak akan menembak kuil, Gaus-baba.
Siap dengan meriam. Nyalakan... Tembak!
Tenbak! Lagi.
Tembakkan dari belakang kuil.
Jika kita membalas menyerang, maka kuil akan hancur.
Kita harus mematikan meriamnya segera.
Atau dinding benteng akan dijangkau dalam beberapa jam ke depan.
Kita tak punya pilihan lain.
Ada satu cara...
Ini tanah kami! Kemenangan milik kita!
Tidak dapat dipercaya!
Apa yang dilakukan wanita ini?
Bilang pada mereka untuk tetap menembak.
Di posisi... Tembak!
Kau disana... Tembak!
Gul Mohammed, awas!
Maju!
Pindahkan meriamnya.
Balikkan meriamnya. Bidik... Tembak!
Maju!
Tembak!
Kemenangan milik kita!
Awas, Yang Mulia.
Hati-hati, Ratu.
Tembak!
Mundur.
Yang Mulia!
Ayo.
Serang!
Semuanya, ikuti aku.
Semoga kemenangan milik kita!
Dixit-ji, Ratu memotong tali kuda dengan cepat,
seolah-olah itu hanya kain.
Jenderal Inggris mengerutkan wajahnya!
Allah, besok adalah hari yang penting.
Tolong jangan buat Ratu lemah karena lukaku.
Kita kalah, Kau kalah, Sadashiv.
Pikirkan akan hakmu.
Itu yang kita perjuangkan.
Aku akan tunjukkan penerobosan mereka tak akan mengira kau tahu.
Aku tahu Jhansi seperti telapak tanganku.
Tuan, air segar untukmu.
Aku akan membalaskan dendam penghinaan dengan darahnya.
Tuan, Aku punya pesan untukmu
Bawa ke Meriam Master.
Siapkan meriam utama.
Nyalakan sumbunya. Tembak!
Tembak!
Bidik lebih rendah. Tembak!
Ratu, siapa yang bisa memberitahu kelemahan dinding musuh kita?
Jika salah satu dari kita berkhianat, siapa yang akan menyelamatkanmu, Oh Ibu Pertiwi?
Pasukan, maju.
Tutup mereka.
Bunuh kesetiaan Ratu.
Menuju gerbang.
Gaus-baba, kau tak mengenali Pir Ali.
Kau tak hanya mengkhianati Jhansi tapi juga komunitasmu.
Pengkhianat!
Hanya ada satu tempat untuk pengkhianat sepertimu... Neraka!
Gaus-baba...
Gaus-baba...
Gaus-baba...
Maafkan aku, Yang Mulia.
Aku tidak mampu ikut denganmu untuk merayakan kemenangan.
Dixit-ji...
Tolong kubur aku di Tanah Suci Jhansi.
Semoga kemenangan berada di kalian!
Maju.
Dimana Ratu? Bunuh dia.
Bunuh wanita itu.
Ibunda Ratu!
Manu...
Ibu...
Manu, musuh seharusnya tidak membawa pangeran berapapun biayanya.
Dia harapan terakhir Jhansi.
Kau perlu amunisi?
Tidak, ini seharusnya cukup.
Jhalkari, Dewa sudah menjawab doa kita selama beberapa tahun.
Kau dengan anak-anak.
Aku tak mengira kau melakukan hal yang benar.
Kita masih bisa pergi.
Kita mungkin tidak akan melihat India merdeka tapi kita akan tetap hidup.
Negara kita dalam belenggu.
Tak ada Ibu yang ingin putranya hidup sebagai budak.
Dan anak-ku yang belum lahir... kita beruntung dalam kesempatan ini untuk mati syahid.
Dia di sebelah sini.
Bawa ratu!
Oh, Oh...
Kita bertemu lagi.
Ratu dari Jhansi.
Ini bukan Ratu!
Tuan?
Ini tanah kita.
Keluar dari sini!
Dimana Ratu?
Dalam kesedihanmu.
Dalam penderitaanmu!
Diam!
Kemenangan milik kita!
Ratu Laksmibai...
Ratu Laksmibai...
Bangsa Inggris mengubah Jhansi menjadi sebuah kuburan.
Benteng kita terbakar sejak enam hari lalu, Manu.
Tak menyisakan apa-apa.
Semua hancur.
Bukan hanya satu, Saudara Tatya.
Semuanya rusak.
Untuk siapa kita bertempur?
Katakan padaku, Manu.
Nana hilang.
Dan kalian membawa Raja Delhi sebagai sandra.
Dan kau merencanakan penyerangan?
Saat aku datang ke Bithoor setelah kehilangan ibuku dalam usia 4 tahun,
tanpa pikir panjang Aku menyuapi ketua dengan pertanyaan.
Tentang Kompeni dan dan Negeri kita menjadi budak mereka.
Kita akan berjuang supaya anak-anak tidak menanyakan pertanyaan itu.
Kita akan berjuang supaya generasi mendatang berduka cita dengan keberadaannya
tapi merayakan kebebasan mereka.
Kita akan berjuang dan bangkit kembali peraturan impian Shiva-ji!
Rakyat kita, Negeri Kita, Kebanggaan kota... selamanya dan selalu.
Untuk mempersatukan India!
Kemenangan Milik kita!
Kemenangan Milik kita!
Kemana dia pergi?
Dimana dia sembunyi? Surga atau neraka?
Aku ingin dia hidup-hidup.
Aku ingin menunjukkan kepalanya pada Jhansi.
Ambilkan aku minum.
Kita menang perang tapi semuanya hancur.
Apa yang akan aku perintah sekarang?
Kau harus menjaga janjimu.
janji?
Kita belum sepenuhnya menang.
Kau berjanji mengirimkan wanita itu untukku.
Kau melewatkan kesempatannya.
Aku selalu dibantu ole Kompeni.
Aku setia padamu.
Ini saatnya kau membalas.
Kompeni punya banyak kerajaan.
Beri aku satu.
Setia? Lihat siapa yang bicara.
Kau tak bisa dipercaya oleh rakyatmu, negerimu sendiri...
Kesetiaan apa yang kita harapkan?
Kau tak bisa melakukan ini padaku.
Kau tak berguna bagi kami.
Kunci dia.
Aku akan menemukannya dan membunuhnya dimanapun dia bersembunyi.
Kita tidak mau berperang gerilya dengan musuh.
Kita hidup dan mati dengan hormat.
Kita mulai membangun kekaisaran Maratha dengan Gwalior.
Gwalior?
Siapa yang akan membantu kita disana?
Raja Scindia adalah sekutu dengan Inggris seperti yang lainnya.
Tak ada komitmen untuk kebebasan disini, Manu.
Itu mengapa, Gwalior.
Apa yang bagus dari menang akan musuh...
jika rakyat kita tak peduli?
Kita harus menyalakan api kebebasan di setiap hati Orang India.
Kita secepatnya akan merdeka.
Tapi pertama, kita harus membangkitkan rakyat kita.
Tuan, Jendral Gubernur sangat senang denganmu dan asistenmu...
dan ingin menghadiahkanmu dengan dengan foto kejadian di London.
Menakjubkan.
Maharaja, Ratu dari Jhansi, Laksmibai,
Tatya dan Rao sedang ke Gwalior tanpa pasukan.
Aku rasa dia tidak mempelajari sesuatu akan Jhansi yang kalah.
Maharaja...
jika kita mengambil sandranya dan membawa dia ke Kompeni...
itu akan menjadi kehormatan bagi Gwalior.
Wanita itu gila.
Setidaknya dia melarikan diri dari Jhansi dan sekarang di jalur yang tepat.
Dia aka membuat hadiah yang bagus untuk jendral gubernur.
Benar.
Maharaja, pasukan kita sangat empati terutama pada para pejuang.
Kemenangan! Berjuang demi Ibu Pertiwi-mu!
Kemenangan! Berjuang demi Ibu Pertiwi-mu!
Dalam beberapa menit kepala wanita gila ini akan berada di kakiku.
Bunuh aku.
Apa yang terjadi?
Aku suara hatimu.
Kau bisa menghentikanku?
Aku tak punya senjata.
Tapi aku punya keyakinan... peradaban ini ada
karena kita tak menjual jiwa kita.
Kemenangan milik kita!
Tidak, Hari Singh.
Dia Ratu Laksmibai... reinkarnasi dari Dewi.
Merdeka atau mati... Kemenangan milik kita!
Kemenangan milik kita!
Kemenangan milik kita!
Apa yang terjadi, Dinkar Rao?
Kenapa kita belum mendengar kabar baik yang baru?
Kemenangan milik kita!
Bodoh!
Aku akan menggantungmu dalam masalah ini.
Maafkan aku, Maharaja.
Scindia... kau pengkhianat, kau pecundang.
Laksmibai, mereka menggosipkan tentang aku.
Siapa yang mengatakan kalau kau membetuk sekutu dengan Bangsa Inggris?
Kau bisa mengambil Istanaku.
Aku aka pergi ke London sampai kerusuhan ini berakhir.
Ibu Pertiwi berhubungan dengan Ibu.
Dia, yang memperdagagkan ibunya, telah mati didalam.
Dan aku tidak terganggu akan kematian.
Keluar dari sini.
Dengan ketiadaan Nana-sahib, wakilnya,
Rao-sahib mengumumkan Ketua dari kekaisaran Maratha.
Ayahku Maharaja Divangat akan sangat senang.
Beritahu seluruh kerajaan kalau Gwalior sudah di-reklaim kembali oleh kekaisaran Maratha.
Mulai sekarang Negeri ini akan bebas. keadilan akan berlaku.
Kapten Clark, Kapten Stewart, Remington, Whitfield... sekarang!
Coba lihat keberanian wanita itu!
Dia telah merebut benteng Gwalior...
dan sekarang dia berkuasa di kekaisaran Maratha.
Jika kita tak menghentikannya, kita tidak akan bisa.
Tuan, pemerintah mengirim kita persediaan makanan untuk mengalahkan mereka.
Ditambah, dia tak mendapat bantuan dari Negeri tetangga.
Apalagi, Raja Kedepalan Royal Irish Cavalry telah dikirim.
Mereka yang terbaik!
Mereka sudah menghancurkan pasukan Prancis dan sekarang,
saatnya untuk Laksmibai.
Ini hanya masalah enam bulan. Itu saja.
Dia tak akan pernah punya jalan keluar.
Kita akan menghancurkannya.
Hapus namanya dari sejarah Negeri ini.
Kita akan menyerang Inggris hingga kalah.
Mereka tak mengharapkan kita bergerak pertama kali.
We've invited the neighboring empires to join the freedom struggle...
tapi tak ada seorangpun yang maju, Manu.
Ini lebih kuat dari Benteng Jhansi.
Aku akan membawa mereka selama 3 bulan untuk menembus dinding ini.
Kau seharusnya tidak bergerak maju dan melawan mereka.
Dan apa yang akan kita peroleh dari itu?
Mati secara pengecut?
Sejak kapan kau berpikir kepedulian dirimu sendiri?
Itu bukan hidupku yang perlu aku cemasi.
Inggris mau membuat contoh akan dirimu.
Mereka ingin menunjukkan potongan kepalamu di Jhansi...
tangan di Kalpi dan kalian semua di Gwalior...
jadi tak ada seorang patriot yang akan berdiri melawan mereka.
Perebutan kekuasaan menuntut pengorbanan.
Akan jadi sebuah kehormata jika aku mengabdikan hidupku pada tanah yang suci ini.
Dan tentang menjadi contoh...
Malahan, Aku akan menjadi api kemerdekaan yang akan membakar hati orang India.
Ibu...
ibu!
-Berhenti! -Ibu.
Damodar.
Damodar.
Pasukan, Maju.
Kompeni, tahan. Berdiri.
Pasukan 2: 12,000.
Pasukan 3: 3,000.
Penundaan yang enteng, Tuan.
Mereka akan ada disini selama 72 jam.
72 jam?
Kau menyebutnya penundaan yang enteng?
Aku bertanya tentang 100,000 pria...
Melewati.
Siapkan meriam.
Siapkan meriam!
Kesabaran kita memberi momentum kuat daripada yang kau tawari
Ribuan pasukan Arjuna Bertempur seperti keturunan Krishna
Demi cinta Ibu Pertiwi kita...
Kemerdekaan!
Kemerdekaan!
Kemerdekaan!
Kemenangan milik kita!
Kemerdekaan!
Kirim pasukan.
Maju!
Kemerdekaan!
Maju!
Serang!
Kemenangan milik kita!
Tembakkan meriamnya.
Asingkan wanita itu.
Ambil bubuk mesiu.
Aku ingin perempuan itu hidup-hidup.
Kemenangan milik kita!
1860; hanya dalam 2 tahun setelah Ratu Laksmibai meninggal,
Kashibai menyerah demi kepentingan Damodar.
Damodar hidup sampai 58 tahun. Dia meninggal karena sakit berkepanjangan dan kemiskinan.
Di tahun 1870, Ratu Inggris menentukan kematian Sadashiv Rao.
Ghulam Ghaus Khan dikuburkan di sebelah Benteng Jhansi.
Sisa kuilnya masih dikunjungi oleh wisatawan, hingga sekarang.
Jendral Hugh Rose menulis di "Sir Hugh Rose and the Central Indian Campaign 1858"
"Rani Laksmibai punya pemberontakan paling besar terhadap pemimpin,
Terbaik dan pemberani, di antara semua pemberontal".
Penerjemah : Fachreza Aprileo Vickry
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.