Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Traditional)
Corsican
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Pukul berapa, Sayang?
Sudah, tidurlah lagi saja.
Ya, tapi aku minta dibangunkan.
Kau harus istirahat, untuk kalian berdua.
Aku cinta kamu.
Aku juga cinta kamu.
Tunggu Ayah pulang, ya?
Aku akan membawanya pulang.
Dengarkan, Semuanya.
Target kita Tama Riyadi.
Saya yakin semua yang di sini sudah tahu siapa dia.
Semua penjahat di kota ini menganggapnya legenda dunia hitam.
Dari bandar narkoba, pembunuh, perampok,
sampai preman kecil sekali pun.
Selama sepuluh tahun terakhir ini, markasnya menjadi zona bebas polisi.
Saya tak peduli siapa di belakannya atau seberapa besar pengaruhnya.
Karena sekarang dia berani menyewakan kamar-kamar di apartemennya,
sebagai tempat persembunyian bagi semua penjahat yang kita buru.
Tugas kita sederhana.
Kita masuk, tangkap, dan seret dia keluar!
Siap!
Tama tidak sendirian.
Input intelijen yang saya dapatkan, ada lab narkotika yang cukup besar,
dan sejumlah massa yang rela melakukan apa saja untuk hidup di tempat itu.
Dia punya dua orang kepercayaan.
Satu bernama Mad Dog.
Anjing gila yang dipungutnya di jalan
yang rela melakukan apa pun dan rela mati demi dia.
Satu lagi bernama Andi.
Otak dari semua bisnis Tama,
dan satu-satunya orang yang bisa memegang ekor Mad Dog.
Saya minta, waspadai dua orang ini.
Jika kalian lengah, kalian yang akan dibantai.
Hei, tunggu sebentar, ya?
Sabar.
Sampai di mana kita tadi?
Fokuslah setiap detik.
Amankan lantai dari lantai.
Semua berkonsentrasi di sektor tembak masing-masing.
Kenapa kita?
Kenapa hari ini?
Kenapa tidak?
Lihat, itu pertanyaan yang sah.
Sama sahnya dengan jawabanku.
Sudah selesai?
Bisa saya lanjutkan?
Ya?
Perlu kalian ketahui,
ini bukan pertama kalinya tempat ini diserang.
Berulang kali, rival Tama mencoba merebut tempat itu,
tetapi selalu gagal.
Perhatian.
Yang kita hadapi ini orang-orang yang sudah terlatih,
yang sudah siap perang.
Tiga puluh detik.
Cek perlengkapan.
Saya tak mau ada bangku kosong saat kita pulang nanti.
Ayo, kita bersihkan sampah kota ini.
- Pagi, Pak. - Pagi.
Siapa mereka?
Mereka anggota baru.
Tanggung jawab saya. Saya jamin tak akan mengganggu.
Tapi kau tidak lupa apa tugas kita.
Letnan, untuk mengamankan daerah seluas itu,
seharusnya Anda tahu kita butuh lebih banyak pasukan.
Luas juga kesalahannya.
Mereka ini pemula.
Ini bukan tempat latihan.
Baik, saya tempatkan mereka di belakang.
Di belakang, paling belakang!
Bagi grup menjadi dua.
Saya masuk dari pintu utama.
Cari jalan alternatif, kita bertemu di depan.
Mengerti?
- Letnan Wahyu, Anda ikut saya. - Ya.
Maju!
Anda berkomitmen untuk terus berlatih
dan menampilkan atraksi yang terbaik.
Karena itu Andi dan juga Anton diam...
Lumpuhkan.
B-3 aman.
Ayo, kita naik sekarang.
Diam!
Apa-apaan ini?
Saya harus naik ke atas.
Kau ke laut pun, aku tak peduli.
Istriku sendirian di atas.
Dia butuh obat ini. Saya harus ke atas.
Kamu tuli?
Sekali lagi Anda melangkah, itu langkah terakhir Anda.
Apa-apaan ini?
Sudahlah.
Bowo, cukup!
Mau menjadi jagoan?
Silakan.
Jangan dekat-dekat.
Kamar Bapak nomor berapa?
Nomor 726.
Tenang.
Nanti saya antar ke kamar.
Tapi Bapak tetap harus tenang, sampai area ini aman.
Bagaimana dengan istri saya di atas?
Saya mengerti, tapi Bapak tetap harus tenang.
- Omong kosong. - Dengar.
Pilihan hanya ada dua. Bersama saya...
Atau bersamanya.
Baik, Semuanya.
Kita masuk sekarang.
Kau awasi dan tempel dia terus.
Jangan bergerak!
Diam!
Aman!
Ikat dia!
Berengsek!
Jangan bergerak!
Jangan tolol, Dik.
Diam di tempatmu.
Ya, bagus.
Sekarang...
Tunggu!
Polisi!
- Apakah itu perlu? - Itu perlu!
Sersan!
Masih ada satu lagi!
Anjing!
Hei!
Polisi!
Kita kedatangan tamu.
Mereka sudah tiba.
Matikan semua komunikasi.
Kunci semua akses.
Aku ingin mengajak tetangga untuk bermain.
Ada tamu. Kau tahu harus bagaimana.
Aku ambil yang kiri.
- Kau ambil yang kanan. - Baik.
Sekarang.
Tahan! Biarkan dia berteriak.
Keadaan di luar aman.
Sialan!
Jangan!
Jangan!
Ini berita bola semalam. Seru juga ternyata pertandingan semalam.
Saya penggemar sepak bola sejati.
Jadi, semua tontonan sepak...
Tolong! Mereka ingin membunuhku!
Berhenti! Jangan bergerak!
- Tolong, mereka akan membunuhku! - Berhenti!
Lantai lima aman.
Apa kata saya? Fokus!
- Kita buat satu barisan di luar. - Baik.
- Baik. Letnan, Anda ikut saya! - Ayo.
Rama, biarkan dia.
Kembalilah ke barisan.
Kijang 1...
Jaka di sini. Masuk.
Semua yang mendengar ini, Sersan Jaka di sini. Masuk.
Mereka sudah mati.
Selamat pagi, Teman-Teman.
Mungkin Anda sudah mendengar bahwa kita didatangi tamu tak diundang.
Bukan saya yang mengundang, dan tentunya, mereka tak diterima di sini.
Demi kepentingan kita semua,
Anda bisa memberikan bantuan Anda dalam mengusir "kutu-kutu" ini.
Maka Anda akan mendapatkan imbalan
tinggal di sini tanpa biaya.
Anda bisa menemui tamu tak diundang ini di lantai enam.
Selamat bekerja.
Jangan lupa bersenang-senang.
Letnan, kita butuh bala bantuan sekarang.
- Kita masih bisa menangani ini sendiri. - Dengan segala hormat, Letnan,
bajingan ini akan bakar kita hidup-hidup jika kita begini.
Kita butuh bantuan sekarang.
- Tidak mungkin. - Apa yang tidak mungkin?
Penyerbuan ini bukan...
Siapa yang tahu bahwa kita di sini?
Apa yang sudah Anda perbuat, Letnan?
Kita sendirian.
Sersan!
Tetap di sini.
Maju.
Tunggu!
Semuanya, mundur!
Naik!
- Apa lagi yang kau perbuat? - Kemarilah.
Lihat itu.
Kau gila, ya?
Bicara apa kau?
Ini urusanku.
Aku yang mengurus.
Pakai otakmu.
Bagaimana jika bala bantuan datang?
Kau tak boleh menembak polisi. Polisi itu dibayar saja, selesai.
Kau pikir mereka kemari untuk minta duit?
Tidak akan ada bala bantuan,
tak ada bukti apa-apa.
Ini tak berbeda dari usaha pengambilalihan yang sudah pernah terjadi.
Pokoknya tak ada cerita.
Kita libas mereka semua.
Yakin?
Aku sudah tahu siapa dalangnya.
Bangsat tua ini.
Berani sekali dia masuk ke kerajaanku.
- Mundur! Kau mundur. Ayo, buka pintu! - Ya, Pak!
- Aman! - Aman!
Jaga pintu!
Jangan!
Anjing!
Tinggalkan tempat ini sekarang.
Alee, kapak!
Sersan!
Ayo!
Jaka!
Tunggu!
Di dalam situ!
Mereka telah datang!
Bowo, kapak!
Keluar dari sini!
Alee!
Alee, Dagu!
- Begitu kubuka, putarlah. - Ya!
Satu, dua, tiga!
Apa ini?
Sekilas info dengan siapa kita berhadapan.
Seberapa parah?
Kulokalisir, cuma dua kamar.
Lumayan.
Serta sekitar 30 orang penyewa mati berantakan.
Cek kamar di mana mereka tinggal.
Ambil barangnya.
Terbayar.
Turun.
Bawa pasukan.
Bereskan semua.
Siap.
Kau naik tangga, aku naik lift.
Kita tunggu di lantai tujuh.
Tomy, Angga, ikut dia.
Tak usah.
Ikut dia!
Ikut.
Baiklah.
Baik, ayo.
- Ke mana? - Kau tadi di sini, bukan?
- Tidak. - Tenang, kita tak bisa keluar begini.
- Jangan tinggalkan aku di situ. - Dia bukan bagian dari mereka.
Jika bangsat itu berani belagu, aku akan gentayangan di dekatmu.
Terserah.
Ayo.
Atas. Dua lantai.
Tolong buka pintunya!
Tolong buka pintunya!
Di sini ada yang terluka. Sebentar kami juga mati.
Jangan, Pak.
Jangan dibuka.
Mereka sudah dekat.
Tolong, Tuan, lihat mata saya.
Tolong buka pintunya.
Tolong.
Jangan tinggalkan kami. Buka pintunya.
- Mulai dari situ. - Baik.
Sini.
Terus.
Tunggu.
Hei... Apa ini?
Tutup mulut, Bangsat.
Kau mau mati sekarang?
Periksa semua lemari.
Kamar mandi.
Jangan sampai ada yang tersisa.
Hei.
Apa yang kau sembunyikan?
Tak ada.
Kau tak berbohong padaku, bukan?
Saya tak punya waktu untuk pembohong.
Mereka ini membuatku muak saja.
Hei.
Kalau saya muak, saya menggila.
Demi Allah, saya tak menipu.
Kita lihat saja.
Apa ini?
- Jangan. - Berengsek, kalian.
Berengsek!
Hanya ini yang aku punya, hei!
- Hei! - Bajingan kalian semua! Bajingan!
Hei!
Kau tak bisa diam, kenapa?
Tak ada apa-apa di sini.
Kau malah menghancurkan semuanya.
Jangan coba-coba menipu saya, ya!
Mau tipu apa?
Hei! Kau mau istrimu kucincang?
Kau mau dia kucincang?
Maka duduklah!
Ayo, jalan.
Cepat cari pisau, atau apa saja yang ada.
- Ya. - Cepat, Pak!
Baiklah.
Lumayan parah, tapi tenanglah.
Bisa dikerjakan. Jangan khawatir.
Hanya ada ini.
Cepat cari yang benar, Bangsat!
Hanya ada ini.
Atau sendok? Atau sumpit?
Cepat kerjakan.
Kenapa?
Apa-apaan ini?
Kau harus katakan semuanya tentang tempat ini, Pak.
Apa saja yang bisa saya pakai untuk lari dari sini?
Kalau ada, lain ceritanya.
Tama mengontrol tempat ini dengan sangat ketat.
Kalau pun ada tempat yang tak tertangkap kamera,
kau tetap akan terjebak di sini.
Tak ada jalan untukmu.
Tak ada jalan keluar.
Satu-satunya jalan keluar adalah jalan masuk kalian tadi ke sini.
Dengan cara menerobos.
Kau harus berhati-hati.
Kau di sini bukan dalam rangka misi kemanusiaan.
Jangan buta.
Saya pernah lihat bosmu tadi.
Dia tahu tempat ini seperti saya dan penghuni lain.
Tidak semua polisi bisa dibeli, Pak.
Kalau saya tak percaya, saya tak akan membuka pintu.
Dia memang sangat keras kepala,
tapi dia orang baik.
Jaga dia.
Saya akan kembali secepatnya.
Ampun...
Ampun!
Hei, kau terlalu sadis.
Hei, dia!
Atas!
Di sini!
Kakinya!
Dari mana orang itu?
Tenang!
Sedang apa kau di sini?
Tetaplah di sini.
Mereka sudah mati.
Kita belum tahu pasti.
Berpikirlah, Jaka, yang satu pincang, satunya lagi anak ingusan.
Mana mungkin mereka selamat?
Saya tak mau mengorbankan diri saya hanya untuk menyelamatkan nyawa mereka.
Dengarkan, Bangsat.
Apa pun yang berhubungan dengan hidup mati anak buahku,
kau jangan ikut campur.
Kau bicara tentang pengorbanan?
Itu yang sedang mereka lakukan sekarang.
Nyawamu di tanganku.
Perintah siapa penyerbuan ini?
Apa?
Yang jelas bukan kau.
Tak ada yang mau mengotori tangan sendiri untuk pekerjaan kotornya sendiri.
Ingat, Jaka.
Apa pangkatmu?
Pangkat?
Persetan dengan pangkat.
Setelah kita keluar dari sini,
pekerjaanmu berikutnya
adalah mengepel kencing di penjara seumur hidupmu.
Kita di sini bukan untuk misi kemanusiaan, Pak.
Kita di sini untuk kepentingan pribadi seseorang.
Sekarang, siapa dalang di balik semua ini?
Belum saatnya.
Ini bukan tempatnya.
Terserah.
Kita kembali ke atas.
Cari semua anggota yang selamat.
Baru setelahnya, kita pergi dari sini.
Ada yang keberatan?
Kupikir juga tidak.
Semua siap?
Jalan.
Jaga dia.
Sekarang!
Sebenarnya kurang kalau begini.
Tak ada geregetnya.
Tinggal menarik pelatuk.
Macam pesan antar saja.
Lalu ini...
Ini baru asyik.
Ini baru ada geregetnya.
Ini permainan yang kusukai.
Seharusnya kau tak berada di sini.
Sama.
Kau juga.
Siapa mereka?
Bukan siapa-siapa.
- Apa mereka tak punya data bahwa kita... - Mereka tak punya bukti.
Hanya ada nama depan di fail kita.
Tak ada yang tahu tentang kita.
Aku hampir tersedak saat melihat fotomu ditempel di papan.
Enam tahun tak ada berita, kau muncul begini saja.
Kau harus keluar dari sini.
Sekarang.
Tak bisa.
Tidak tanpa temanku.
Apa?
Kau dengar aku.
Tapi kau mengerti situasinya, bukan?
Aku mengerti.
Bukan aku yang tinggal di sini.
Aku baik-baik saja.
Kau tak usah repot ke sini.
- Kau tinggal telepon aku saja. - Hei.
Seharian aku hanya mendengar teman-temanku ingin melubangi kepalamu.
Aku bisa membantumu keluar dari sini.
- Tanpa diborgol teman-temanku. - Hei.
Bicara apa kau tadi?
Kau akan menyelamatkanku?
Yang aku tahu, orang-orang di sini
hampir selesai mengumpulkan seragam teman-temanmu.
Lakukan permintaanku.
Lalu ke mana?
Pulang?
Aku kegagalan terbesar bagi Tiara.
Aku yakin dia akan sangat bangga begitu tahu aku menjadi apa sekarang.
Bapak hanya ingin kau pulang.
Kami ingin kau pulang.
Kau tak mengerti.
Aku yang kau lihat sekarang ini bukan aku yang dahulu lagi.
Hanya karena yang kulakukan salah menurutmu, tak berarti aku tak jago.
Aku punya tempat di sini.
Aku dihormati di sini.
Tidak, Rama.
Aku tak akan kembali menjadi diriku yang dahulu.
Sebentar lagi kau menjadi paman.
Apa?
Ya. Laki-laki.
Dua bulan lagi.
Kau mengatakan ini bukan karena kau ingin aku kembali ke rumah?
Aku mengatakan ini karena kau abangku.
Lalu, kau berpikir atau tidak?
Kau memilih tinggal di sini, mengumpankan nyawamu.
Sebentar lagi kau menjadi bapak.
Aku berpikir, dan sudah kupikirkan sejak mendapat tugas ini.
Itu membuatku takut.
Gila kau, ya?
Tolol.
Kau harus pergi, aku tak punya waktu.
Baiklah. Berganti bajulah dahulu sebelum kau pergi.
Ini tak apa-apa. Ukurannya tepat untukku.
Aku jalan dahulu.
Setelah keadaan aman, baru kita pergi.
Tunggu! Tahan pintunya!
Ke mana orang-orangmu?
Masih mencari.
Orang-orangmu?
Sama.
- Akan dibawa ke mana? - Kepada Bos.
Bukan itu orangnya.
- Ini orangnya. - Sungguh, bukan itu orangnya.
Lagi pula, dia sudah mati.
Pokoknya tetap kubawa.
Apa yang kau dapatkan?
Rama.
Masuk.
Di mana Bowo?
Dia aman.
- Kita tak punya sersan. - Mereka ada di luar.
Mati.
Bangsat itu menyeretnya sepanjang lantai seperti binatang.
Kenapa itu?
Kenapa bisa terjadi?
Kami disergap, mereka masuk.
Dia lari.
Sersan menyuruhku menjaganya.
Sekarang kita punya pilihan, untuk memikirkan bagaimana cara selamat.
Kita harus bergerak cepat.
Kau adalah alasan untuk setiap tetes darah yang keluar di tempat ini.
Sekarang kau tak ada pilihan.
Ikut kami di setiap langkah.
Apa pun caranya.
Sampai mimpi buruk ini selesai.
Lalu?
Kita ke atas, serang.
Kita cari target, dan kita gunakan dia untuk mengeluarkan kita dari sini.
Mencari dia tak gampang.
Lantai 15.
Di situlah pusat strategi mereka.
Agak sulit untuk masuk ke sana.
Kalau pun kita bisa masuk ke sana,
apa yang akan kau lakukan? Apa?
Kita paksa dia.
Bagaimana?
Orang seperti dia akan langsung bertekuk lutut.
- Menggunakan apa? - Pisau.
Kaki kursi, tangan kosong. Apa pun.
Lakukan saja yang membuatnya menuruti kita.
Kita masih punya waktu untuk keluar.
Siapa itu?
Bukankah sudah kukatakan? Bukan itu orangnya.
Ya, dia memakai seragam.
Yang penting aku membawakan hasil. Kau?
Bukankah begitu, Andi.
Apa maksudmu?
Biasanya kau datang membawa sesuatu.
Kau satu-satunya yang tak ingin membuang waktuku.
Memang tak ada.
Coba kulihat tanganmu.
Kemari.
- Apa? - Kemari.
Kosong.
Pasti kau menyimpan sesuatu. Mana?
Aku salah.
Kau membuang-buang waktu.
Aku melihat banyak mayat di bawah.
Benarkah? Lalu?
Menurut perkiraanku, tersisa dua polisi lagi di bawah.
Menurutku tiga. Menurutmu?
Ya, kurang lebih.
Terlalu banyak lantai untuk diperiksa.
Kurang lebih.
Dengar, Bangsat!
Kuakui nyalimu besar.
Salut aku melihatmu.
Tapi kau jangan sembarangan menganggap enteng perasaan paranoidku.
Ini.
Lihat itu.
Saat aku melihat itu, layar ini kuawasi.
Hanya monitor ini yang bisa kupegang, sepertinya, Anjing.
Hanya ini yang bisa membuatku tahu semuanya.
Tadi, aku ingin bertanya.
Untuk apa?
Nekat berbuat seperti itu.
Biasanya bukan karena benturan suara hati.
Pasti ada sesuatu yang lebih.
Tapi kupikir percuma, kau pasti mati juga di sini.
Kenapa aku harus bertanya ke mana kau tadi.
Tapi aku ingin tahu.
Siapa anjing yang mengobrak-abrik aku dan kerajaanku?
Lalu, aku ingin tahu reaksinya
kalau kau kugorok di depannya.
Atau dia yang kugorok di depanmu.
Anjing!
Hei!
Ayo!
Hei!
Jangan bergerak!
Letakkan senjatamu.
Kenapa menjadi begini sekarang?
Maju.
Cepat!
Salah saya apa, Pak Polisi?
Diam!
Angkat tanganmu!
Dagu, ikat dia.
Sekarang, bawa saya keluar.
Luar biasa.
Sersan!
Apa-apaan ini? Dagu?
Dia kurang tanggap.
Bangsat! Anjing!
Kenapa?
Sudahlah. Sebentar lagi, semua akan beres.
Sebentar lagi, semuanya akan datang.
- Kau tak bisa keluar dari sini. - Diam!
Kau pikir gampang masuk ke sini tanpa ketahuan?
Kau pikir kami bodoh?
Aku sengaja menunggumu datang. Semua juga menunggu.
Agar bisa menangkapmu.
Sayangnya, tidak berhasil.
Belum tentu.
Delapan belas anak buahmu sudah menjadi bangkai sekarang.
Juga mobilmu.
Lebih baik kau menyerah.
Pasukanmu hanya sedikit.
Pasukanku lebih banyak, Bos.
Aku hanya butuh sebutir peluru untuk menembak batok kepalamu, tahu?
Kau tak tahu bahwa kau tidak mati.
Mati setelah Reza meneleponku.
Kenapa? Kau kaget mendengar namanya?
Ya?
Reza dan teman-temannya yang berdasi itu tak pernah berkata "tidak" kepadaku.
Aku tahu apa yang harus kubayar dan berapa.
Sementara kau?
Bisa kudiskon.
Ini juga bukan persoalan menghabisiku,
tapi kau dikirim agar mampus, mati.
Anjing!
Bangsat! Babi, kau!
Dengarkan aku!
Kau tak akan dihiraukan.
Tak akan!
Kau hanya bisa melihat ke atas.
Kau pikir begitu ini semua selesai, kau akan mendapat Satya Lencana?
Menjadi pahlawan?
Tidak, Kampret!
Kau akan dikejar peluru menyasar.
Kau tak akan bisa tidur.
Napasmu disekap bantal.
Kariermu habis!
Tinggal tunggu waktunya!
Anjing.
Diam.
Teman-Teman,
silakan kembali ke kamar masing-masing.
Semua sudah selesai.
Dia tahu suatu saat nanti akan ada orang yang menjatuhkannya.
Ini kuncinya.
Ini akan menunjukkan siapa saja yang masuk dalam daftar hitam.
Tak semua orang yang kau kenal itu busuk.
Berikan kepada Bunawar.
Dia orang baik.
Hei!
Buka pintu!
Teruslah berjalan.
Ikuti aku.
Aku yakin bisa menyelamatkanmu di dunia ini.
Mengeluarkanmu.
Tapi bisakah kau menyelamatkanku di luar sana?
Polisi akan ke sini.
Mereka akan menghancurkan tempat ini.
Kita sudah menghilang begitu mereka tiba.
Lalu, kenapa tetap tinggal?
Sama alasannya dengan kenapa kau memakai seragam itu.
Karena cocok.
-- Origin Sub by: tedi -- -- Resync by AsianHawk --
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.