All language subtitles for Will.You.Marry.2021.NF.WEB-DL

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Hei! Toffee, Sweet!

Bisa dengar aku?

Makanan siap!

Sweetie, Sayang…

Ini ulang tahunku.

Jangan buat aku marah.

Tentu, Ibu! Aku tahu itu.

Ini hari ulang tahunmu!

Sial!

Toffee!

Apa kau dengar aku?

Sweet, awas kau!

Mungkin pakai penyuara kuping!

Bisa kau suruh ke sini?

Baik, Ibu!

Kau membunuh musuh!

Kakak! Toffee!

Kak!

- Kau sangat dramatis. - Sial!

Ada apa denganmu?

Lain kali, ketuk sebelum masuk!

Sudah!

Ayo, makanan siap. Ini ulang tahun Ibu.

Itu hari ini?

Kau lupa, ya?

Akan kuadukan.

Aku tak lupa!

Hei! Ketiakmu!

Aku tahu ulang tahunnya tanggal 10 November!

Aku hanya lupa itu hari ini!

Ya, lalu mana kadomu?

Aku kadonya? Aku tak cukup?

Jijik!

Kau sombong. Cepat! Pakai baju!

Reese akan tiba sebentar lagi dengan Melissa.

Wanita hamil tak boleh dibiarkan menunggu!

Pergilah. Segera kususul.

Aku masih main.

Toffee, tolonglah! Ayo.

Pakai baju.

Ibu tak mau ada foto keluarga jika kau telanjang!

Jijik! Ayo, cepatlah!

Aku segera menyusul, janji!

Cepat!

Ini tak akan lama.

Itu tampak lezat.

Selamat ulang tahun, Ibu.

Lihat, aku tak lupa.

Bungkus yang cantik.

Kurang selotip.

Tentu…

Kau…

Kemarilah. Ayo ke Ibu.

- Hentikan! - Manisnya.

Ibu, cukup. Ludahmu kena rambutku!

- Galak sekali! - Cukup.

Kubuka sekarang.

Baik, ayo. Ayo ambil fotonya!

Aku harus kembali masuk. Mana Reese?

- Aduh! - Jangan berfoto tanpa baju.

Sudah kubilang.

Apa?

Tubuhku bagus!

Tubuh begini pantas dipamerkan.

Benar.

Di depan kaum gay.

Ibu, seharusnya kau beri nama Lemon!

Mulutnya masam!

Jangan ganggu dia!

Dia terlalu terobsesi gim ponsel, sampai lupa ulang tahunmu hari ini!

Apa? Benarkah, Christopher?

Akan kukurangi kredit ponselmu.

Ini salahmu! Kau akan menyesal!

Kak!

Kau menyebalkan!

Mulai sekarang namamu Lemon!

- Pengacau segalanya! - Kak!

Hei! Hentikan, nanti kalian saling melukai!

Toffee! Ketiakmu berkeringat!

Pantas kau dapatkan!

Kepalaku!

Selamat ulang tahun!

Astaga…

- Sakit. - Berantakan sekali.

Sweet nakal!

Bukan salahku kau tak bisa digoda!

Hanya karena kau manja!

Karena kau yang termuda, kau pikir dunia berfokus kepadamu!

Hentikan!

Ibu, aku saja.

Ibu, kita pesan makanan saja.

Sweet, minta maaf!

Aku? Itu salahmu!

Kau minta maaf.

Cukup!

Diam!

Ibu hanya mau…

pesta ulang tahun yang menyenangkan

dan kita semua berkumpul.

Perayaan sederhana.

Ya?

Berfoto. Memori.

Agar bisa menunjukkan ke nenek kalian

bahwa kita bersama.

Agar bisa kuunggah ke Facebook.

Akan kupasang di layar ponsel dan diingatkan bahwa kita bahagia!

Itu terlalu sulit?

Kau kena masalah! Kau membuat ibu menangis.

Dasar berengsek.

Kau kena masalah…

Halo, Honey! Ada masalah?

Maaf, aku membangunkanmu?

Tidak. Tak apa-apa. Aku sedang sarapan dengan Shauna.

Shauna…

Bisa kau sapa?

Honey? Ini masih ulang tahunmu?

Selamat ulang tahun!

Ya, ini masih ulang tahunku.

Terima kasih kau ingat.

Honey, ini aku lagi.

Kau menangis?

Kenapa kau menangis?

Tidak…

Hanya…

usia, bertambah tua,

jadi sedikit emosional.

Kurasa keluargaku lupa ulang tahunku

dan hanya berpura-pura ingat.

Namun, tak apa.

Honey, aku punya kado untukmu.

Kado?

Sebuah kejutan!

Kejutan?

Kejutan yang akan segera tiba.

Sudah minta maaf?

Ibu sedang menelepon.

Andai ayah masih bersama kita,

ibu akan senang punya foto keluarga yang lengkap.

Hei, tanaman ini mati.

Untuk apa disiram?

Kemauan ibu.

Tak bisa menghidupkan yang sudah mati.

Jika sudah selesai, lanjutkan hidupmu.

Baik, ayo kita berfoto. Ini!

- Kau kenapa? - Yang kedua!

Ayo. Di mana ibu?

Kau belum mandi, ya?

- Kenapa? - Jijik.

Apa itu?

Astaga, Kak! Ada spageti di telingamu!

- Awas. - Setidaknya bersihkan dirimu.

Jijik!

Kau seperti babi.

Antarannya tiba.

- Bersihkan dirimu. - Mandilah, Kak.

Ibu, aku saja.

- Apa itu? - Bunga. Ada yang mengirim.

Siapa yang kirim?

Reese Maliwat?

Tolong cek pesananmu.

Tentu, Pak. Terima kasih.

Terima kasih.

Itu dari siapa?

Siapkan mejanya.

Ibu?

Kenapa dia dapat bunga?

Kenapa dapat bunga, Ibu?

Ibu!

Baik, siap.

Senyum, Ibu. Pengatur waktunya 10 detik.

Ibu masih marah?

Kenapa harus marah?

Ini mimpi yang terwujud.

Kita semua berkumpul

dan aku akan ke Denmark.

Aku sudah dapat tiket dari Fritz.

- Fritz? - Fritz siapa?

Pacarku!

Apa?

Siapa Fritz ini?

Bunga itu dari dia?

Ya.

Dia pun mengirimkan tiket ke Denmark.

Sungguh dermawan.

Kalian bertemu di mana?

Daring.

HeartsAbroad.

HeartsAbroad!

Itu resmi, Ibu? Kalau penipuan?

Dia bisa menjadikanmu budak seks!

Bagaimana jika dibunuh?

Untuk asuransi!

Budak seks?

Ibu terlalu tua untuk itu!

Beraninya kau!

Bibimu membuatkan profil untuk Ibu.

Mereka tak mau Ibu gila karena kesepian.

Kapan itu?

Fritz dan Ibu sudah mengobrol selama hampir dua tahun.

Setahun setelah ayah meninggal.

Sudah setahun.

Jadi, Ibu akan ke Denmark untuk menemui pria ini?

Begitu cara wanita bersikap?

Hei! Apa kau ayahku?

Memangnya kenapa? Ibu mau mengunjungi Denmark.

Kau tak boleh pergi, Ibu.

Biar dia yang menghampirimu.

Agar kami bisa mengenalnya.

- Kau punya fotonya? - Ya, ada.

Bisa lebih buram dari ini?

Maaf, Ibu tak bisa berswafoto.

Biar kulihat.

Ini kau, Ibu?

Pakai bikini?

Ibu, kau imut pakai itu!

Benar, bukan?

- Ini kapan dan di mana? - Dia pernah kemari?

Ya, Desember. Di Bora.

Saat Ibu pergi seminggu?

Ibu, katamu kau pergi seminar tentang asuransi!

Jadi, Ibu ke Boracay dengan pria itu.

Memangnya tak boleh?

- Ibu melakukannya? - Sini, kupukul.

- Sakit! - Aku tak percaya.

Kubenturkan kepala kalian.

Apa masalahnya?

Kenapa kalian mendadak mencemaskan Ibu?

Katakan, Reese.

Jika tak Ibu paksa, mungkin kau tak akan kemari.

Kau sudah jarang kemari.

Lalu yang ini…

Anak favoritku.

Anak spesialku.

Si penggila komputer!

Dikira Ibu tak tahu? Pornografi!

Lalu kau…

Sweet!

Ibu selalu salah di matamu.

Ibu bukan ayahmu.

Astaga, kalian tak adil terhadap ibu.

Kau membuatku tenang.

Baik, Ibu. Pergilah ke Denmark.

Tak apa-apa. Silakan.

Namun, ajak Sweet.

Kau mau aku ikut?

Jika Sweet tak mau, aku yang akan ikut.

Jika kau tak hamil, Ibu pasti akan memilihmu.

Baiklah!

Akan kutanyakan kepadanya jika ini bisa.

Namun, pertanyaannya…

Sweet, tak ada yang memaksamu.

Apa kau keberatan?

Kapan kita berangkat?

Maka, sudah diputuskan.

Ya… Ibu lupa kadomu.

Hanya lipstik, Ibu.

Untuk apa dibungkus jika kau akan beri tahu?

Lupakan. Kejutannya sudah cukup untuk satu hari.

Kita bicara nanti.

Bagaimana penampilanku?

- Bagus? - Luar biasa, Ibu!

Seperti baru minum darah babi.

Itu cadas, Ibu.

Bagus! Seperti baru makan tinta cumi.

- Ini punyamu? - Kau bisa.

Terima kasih.

Ibu mungkin punya cucu saat pulang!

Berapa lama kau pergi, Ibu?

Sayang, sudahlah.

Melissa, tanamanku…

Tolong dirawat.

Walau sering kusirami, mereka tak mau hidup lagi.

Kau tak mau mencoba?

Baik, anggap itu kadoku. Pasti segar saat kau kembali.

Ibu!

Bagaimana aku makan, Ibu?

"Ibu, bagaimana aku makan?" Kau tak pernah berubah.

Khawatir soal itu juga?

Akan kubawakan makanan.

Hei, Sweet. Hati-hati, ya?

Pasti, Kak.

Jangan lakukan…

Lakukan yang terbaik!

Apa otakmu sakit?

Aduh!

- Kau bau! - Hei, jangan mulai…

- Sudah! - Cium! Bawa baunya bersamamu!

Kau bau sekali!

Kataku cukup!

Mereka akan terlambat!

Ini suvenir dariku!

Dingin sekali!

Tunggu.

Sayang, tunggu. Bilang aku harus ke toilet.

Saat lihat Fritz, suruh menunggu.

Tunggu. Bagaimana aku tahu?

Aku tak pernah bertemu.

Dia pakai syal merah di lehernya.

- Ya? - Merah?

Ibu segera kembali!

Astaga…

Maaf?

Kata ibuku kita harus menunggunya.

Maaf, aku mengenalmu?

Aku Sweet.

Boleh jujur kepadamu?

Bisa jangan menikahi ibuku?

Jangan menikahi ibumu?

Ya, aku sudah kehilangan ayah

dan tak sanggup kehilangan ibu juga.

Jadi, kumohon kepadamu.

Tolong jangan ambil dia dariku.

Tolong jangan sakiti…

Hei!

Kau bicara dengan siapa?

Paman Fritz.

Itu bukan Fritz.

Bukan.

Astaga, maaf sekali.

- Maaf. - Maaf aku…

Tak bisa kutinggal sebentar saja. Kau tak bisa diam…

Kau memalukan!

- Sayang? - Fritz!

- Akhirnya kau datang! - Ya!

- Senang melihatmu. - Aku merindukanmu!

Kukira hari ini tak akan datang.

Ini putriku, Sweet.

- Ingat dia? - Tentu saja.

Senang akhirnya bertemu di sini.

Terima kasih sudah mengundang kami, Tito Fritz.

Tito?

Paman Fritz.

Panggil saja Fritz.

Senang kau ada di sini.

Kita ke mobil?

Ya? Dingin sekali!

Dia tampan, bukan?

Ibu, sepertinya kita pergi jauh dari kota.

Mana rumah-rumahnya?

Ini provinsi.

Nikmati saja pemandangannya!

Fritz, di sini indah sekali.

Kita sudah sampai?

Sekitar sejam lagi.

Sejam?

Terlalu jauh.

Aku suka pepohonannya!

Setua apa mereka?

Sungguh ajaib.

Indah.

Entah mereka setua apa.

Namun, mereka sudah ada sepanjang ingatanku.

Seram.

Balete Drive, itu rumahmu?

Fritz!

Ini rumahmu?

Besar sekali!

Sweetie, lihat rumah itu!

Ayala Alabang pun tak punya! Bagus sekali.

Terlalu bagus.

Sepertinya penuh rahasia.

- Ibu! - Apa?

Hantu wanita putih, Ibu!

- Mana? - Dia menghilang!

Kau membuatku kesal. Kita baru sampai.

Sumpah tadi ada!

Perasaanku tak enak terhadap tempat ini.

- Kita masuk? - Ya.

- Ibu… - Jaga sikapmu.

Pergi dahulu.

- Hantu wanita putih! - Sial!

- Itu dia! - Shauna!

Kau tampak cantik dengan pakaian putihmu.

- Ya? Berlebihan? - Tentu tidak!

Kemarilah!

Aku merindukanmu!

Senang sekali bertemu.

Fritz, cepat nikahilah dia.

Nanti kita jadi saudari!

Aku tahu!

Honey, aku senang kau kembali!

Ya, kau manis sekali.

- Sweet! - Ya, Sweet!

Sweet? Ya!

Hai!

Ini cara menyalami orang tua di Filipina.

Orang tua?

Tidak… Maksudnya itu cara menghormati yang dituakan.

Jangan tak sopan. Kau sengaja.

Jangan sebut wanita tua.

Dia lelah.

Biar kuantar ke kamar dan membereskan koper.

Lalu kuajak kau tur rumah.

- Shauna akan masak makan malam. - Ya.

- Ayo! - Sampai jumpa, ya?

Ini dia.

Kakak! Melissa! Bisa dengar aku?

Kami di sini.

Mana Ibu?

Ibu.

Ibu di sini.

Kamarnya tampak bagus!

Aku seharusnya ikut.

Fritz bagaimana? Seperti apa dia?

Tampan, tentunya! Benar?

Sungguh, Ibu?

Aku sangat bersemangat!

Ya, dia agak mirip Richard Gere.

Berarti aku… Julia Roberts!

Aku senang kau berbagi kamar dengan Sweet.

Hei, Ricardo Maliwat, kau mau bilang apa?

Maksudnya hanya kau tak akan…

Sebaiknya jaga mulutmu.

Para putraku, otak kalian jorok!

Fritz datang.

Itu Fritz! Aku mau lihat!

Sweet! Rekam, cepat! Tunjukkan!

- Lihat! - Mana?

Hei! Beri tahu dia

jika perilakunya tak benar, kuhajar!

Jaga sikapmu. Kau memalukan.

Katanya dia mau ajak kami tur rumah. Mau ikut?

Ya! Pasti.

Kenapa gelap sekali?

Sudah kuduga ini penipuan!

Dia tak mampu bayar tagihan!

Toffee. Jangan berasumsi.

Di sana musim dingin! Jadi gelap.

Bajingan! Akan kuhajar dia!

Ibu!

Sweet, kau pergi sekarang!

Sweet, kau merekam ini?

Kami suka privasi di sini.

Namun, saudaraku ingin bertemu.

Apa kabar?

Aku sering dengar soal kalian.

Apa kabar?

Sekarang kami lihat sifatmu yang sebenarnya!

Jika kau mempermainkan ibu kami,

rumahmu akan kubakar!

Apa? Yang kudengar hanya "sifat sebenarnya".

Tidak, Toffee hanya melucu.

Hei!

Bukan urusanmu. Itu bahkan bukan ciuman sungguhan!

Itu Reese, anak sulungku,

dan itu istrinya Melissa.

Halo! Wajahmu seperti aktor!

Benar, bukan?

Bintang film!

Dia yang bintang film!

Terima kasih aku boleh mencurinya!

Walau hanya sebentar.

Ibu terlibat terlalu dalam.

Kurasa tak begitu.

Dia tampak tulus.

Aku senang untuk mereka!

Seperti menonton komedi romantis.

Sebaiknya beri ibumu kesempatan.

Ini pertama kalinya dia sebahagia itu.

Baiklah.

Sweet, kami mengandalkanmu.

Apa aku punya pilihan?

Hei! Tunjukkan rumahnya!

Mereka mau lihat rumahnya.

Kita bisa beri tur virtual.

- Baik! - Ayo.

Itu ruang keluarga?

Lihat. Ruangan ini luas.

Area keluarganya lebih besar dari rumahmu.

Lihat, bukunya banyak sekali!

Di sini.

Ada lagi di sini juga.

- Kak? - Tidak.

- Kau tak bergerak. - Halo.

Ibu, sinyalmu lemah…

- Kak? - Sinyalnya putus…

Hei! Kak?

Kakak, halo?

Kalian tak bergerak.

Putus.

Maaf soal itu.

WiFi di sini tak stabil.

Kau sudah baca semua buku ini?

Kata ibumu kau pun suka membaca

dan mau jadi pengacara seperti ayahmu, Dindo?

Kau siapa bicara soal ayahku?

Sweet.

Kau tak kenal dia dan tak berhak menyebut namanya.

- Mau ke mana? - Kamar mandi.

Apa ini?

Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu.

Kau tak seharusnya di sini.

Aku mencari WC.

WC?

Ya, toilet.

- Toilet! - Toilet!

Turun tangga.

Baiklah.

- Terima kasih. - Ya.

- Ini roti lapis terbuka? - Ya.

Makanlah, Sweet.

Ibu, kita harus pergi sekarang.

- Ibu. - Hei.

Jangan tersinggung oleh ucapan Fritz.

- Coba nikmati saja. - Bukan itu…

Aku lihat sesuatu saat cari toilet

tetapi buka pintu yang salah.

Aku mau bersulang

untuk tamu kita,

Honey dan Sweet,

yang datang jauh-jauh dari Filipina.

Keluarga adalah keluarga,

baik keluarga sejak awal

atau yang didapat setelahnya.

Jadi, nikmati masa kalian di sini

dan kasih dari keluarga kami.

Bersulang!

Kau baik sekali!

Skål!

Ibu…

Dengarkan aku.

Jangan berisik. Nikmati saja makanannya.

Kau belum mencoba apa pun.

Kenapa tak makan?

Aku tahu kau rindu sinigang dan adobo,

tetapi tenang, aku sudah mencoba resep Filipina itu

dan akan kumasakkan untukmu.

Tak apa. Aku bisa makan apa saja.

Coba ini.

Itu seperti kukis.

Apa ini?

Kami sebut itu blod polse.

- Nadi darah? - Ya, seperti sosis darah.

Darah?

Maaf, sepertinya aku akan muntah.

Maaf. Permisi.

Honey, makan saja hidanganmu.

Sweet akan baik-baik saja.

Maaf.

Dia hanya lelah dari perjalanan.

Dia hanya butuh istirahat.

- Anggur lagi? - Ya.

Bersulang.

Skål!

Sial! Tak ada sinyal.

Dia mulai lagi.

Tunggu…

Sweet!

- Sweet! - Ibu!

Ibu, itu kau?

Siapa lagi? Ada orang Filipina lagi di sekitar sini?

Hei!

Tunggu. Jangan berisik!

Kau lucu sekali.

Cepat masuk, Ibu!

Ada orang Filipina lain?

Merasa lebih baik?

Pasti lebih baik, tadi pusing, 'kan?

- Kubawakan balsam. - Ibu, dengar…

Balsam apa?

Ini pelembap bibir!

- Ibu, dengar. - Ya.

Aku salah buka pintu.

Dengar!

Ada apa? Kau butuh?

Balsam?

- Sudah lebih baik? - Aku salah buka pintu…

Tidak. Ibu jadi bingung.

- Ibu, dengarlah! - Lalu apa?

Hei. Kau mabuk?

Tidak. Ibu mendengarkan.

Aku bilang apa?

- Ibu! - Kau ke kamar mandi.

Aku cari kamar mandi tetapi salah buka pintu,

lalu saat kubuka, penuh… Lemarinya penuh senapan, Ibu!

Untuk apa senapan sebanyak itu?

Lalu aku ke sini sebelum Ibu,

tetapi saat jalan ke belakang rumah, ada setumpuk selimut

yang penuh darah!

Kenapa? Apa artinya?

Mereka membunuh seseorang?

Ibu, harus bagaimana? Kita bisa jadi korban berikutnya!

Hei!

Ibu…

Ibu?

Ini pukul berapa?

Pukul 07.00. Sebaiknya bangun karena

Fritz mengajak kita ke kota pagi ini.

Ibu, cepatlah. Kita harus pergi sekarang.

Berkemaslah. Aku tak mau mati di sini.

Mereka akan membunuh kita.

Ibu, cepatlah! Kemasi pakaian, kita pulang.

Ada apa?

Mau kopi?

Aku tak mau mati di sini, Ibu.

Ayo pergi.

Ibu, sumpah. Tadinya di sini.

Ada setumpuk selimut penuh darah. Sumpah!

Mungkin mereka singkirkan.

Kau mengintip ke mana lagi?

Dan kenapa keluar tengah malam?

Karena kudengar tangisan, Ibu.

Lalu aku lihat Shauna, seperti sedang membersihkan sesuatu.

Kau pasti bermimpi.

Tidak, Ibu!

Sudah kuberi tahu soal Shauna, bukan?

Dia di sana saat kubuka ruangan berisi senapan!

Seharusnya kufoto tetapi langsung dia tutup.

Darah, senapan…

Kau sedang teler, Sweet?

Ibu, itu tak lucu.

Bisa saja mereka ternyata pembunuh!

Toffee benar.

Mereka akan membunuhmu untuk uang asuransi!

Toffee benar?

Kapan itu pernah terjadi?

Baiklah, ikut aku.

Kita ke ruangan penuh senapan, walau mungkin dikunci.

- Bagaimana bisa lihat jika dikunci? - Ayolah.

Aku janji, semalam ada banyak senapan!

Semua disimpan di sini.

Ya, tetapi ini semua mantel, ya?

Mantel…

Aku bisa lihat, Ibu, tetapi ada senapan di sini semalam.

Mungkin Shauna melakukan sesuatu.

Pasti dia ganti saat kutemukan tempat sembunyinya.

Bangun. Ayo.

Mungkin ada kompartemen.

Tenangkan dirimu!

Tenanglah.

Biar Ibu luruskan ini…

Semalam, saat kau pergi dari kami…

itu tak sopan, jangan lupa. Ibu sangat malu.

Kau menemukan pintu ini

yang berisi banyak senapan,

tetapi tak sempat kau foto.

Karena…

Menurutmu Shauna mencurigakan.

Benar?

Lalu ada yang menangis, kau dengar mereka, dari gedung lain.

Ya.

Saat kau masuk, kau tersandung

dan mendarat di tumpukan selimut yang penuh darah.

Ya?

Ya, Bu.

Baik, jika ada yang menceritakan kisah itu,

apa kau akan percaya?

- Tidak, Bu… - Namun, kau mau Ibu memercayaimu.

Ya?

Jika kau jadi Ibu dan Ibu jadi kau, kau akan berpikir bagaimana?

Bahwa semua hanya khayalan.

Betul!

Fritz mengundang kita ke Nyhavn bersamanya.

Bisa kita lupakan kisah pembunuhan?

Bisa beri dia kesempatan? Dia bukan orang udik, Sweetie.

Ibu hanya mau menikmati liburan ini.

Bisa?

Ya, Bu.

Gedung biru di sana adalah gedung tertua di Nyhavn.

Tak banyak berubah sejak Hans Christian Andersen

sering mengunjunginya 200 tahun lalu.

Sweet, itu tempat Hans menongkrong 200 tahun lalu!

Ya, Ibu. Aku dengar dia.

Memanggilnya "Hans", sungguh?

Merasa akrab?

Tahu Hans Christian Andersen?

Tentu… tidak.

Mungkin kau tak kenal dia, tetapi bisa tahu karyanya.

Seperti Sepatu Merah, Gadis Korek Api,

Putri dan Kacang Polong.

Tidak?

- Little Mermaid? - Aku tahu yang itu.

Aku suka itu.

Aku suka musikalnya.

Bagian dari duniamu!

Bagus!

Apa itu?

Little Mermaid.

Tentu saja.

Namun, kau tahu, putriku,

dia tahu semua tentang Hans

dan sudah baca semua bukunya.

Semuanya.

Tahu Hans Christian Andersen pernah tinggal di No. 18?

- Sungguh? - Ya.

Ayo.

Sweet! Aku bersemangat! Ada obral, ayo!

Ayo berbelanja!

Kakak, jawab teleponnya.

Kenapa tak kau angkat?

Telepon sekarang. Darurat!

Sweet, kemarilah.

Ibu belanja banyak.

Bahkan beli pakaian yang sama.

- Kembaran? - Ayo.

Di mana Fritz?

- Terima kasih. - Terima kasih.

Cobalah, Ibu.

- Lezat? - Lumayan.

SELAMAT NATAL ANGGUR & KEIK APEL

Ada rasa…

seperti kacang.

Lezat.

Katanya jika dua sejoli meninggalkan gembok di jembatan ini

dan membuang kuncinya,

mereka akan kembali dan cinta mereka terkunci selamanya.

Jadi, ayo kunci hati kita dengan kunci ini.

Bisa cubit aku?

Kenapa?

Karena rasanya aku bermimpi.

Jadi, aku bagaimana sekarang?

Kutelan? Bercanda!

Baik, akan kulakukan ini.

Baiklah! Swafoto grup!

Senyumlah!

Bilang "pengganggu"!

Senyumlah, Ibu!

- Pengganggu! - Senyumlah, Ibu!

Fritz…

boleh tanya sesuatu?

Soal semalam.

Aku tahu kau marah.

Namun, aku tak tahu kau belum siap membahas ayahmu.

Kau pasti membenciku.

Tidak, aku tak membencimu.

Aku hanya tak mau ibuku tersakiti.

Menyakiti ibumu?

Aku tak akan menyakiti ibumu.

Itu hal yang paling kuhindari.

Pria sepertimu…

lebih suka wanita yang mudah dikendalikan.

Aku tak mau itu terjadi kepada ibuku.

Itu caramu melihat ibumu?

Lemah?

Bukan itu maksudku.

Apa maksudmu?

Kau harus hati-hati dengan ucapanmu.

Kau tak kenal aku dan tak tahu aku bisa apa.

Kita bisa lakukan dengan cara sulit atau kau bisa pura-pura senang.

Apa pilihanmu?

- Ibu, Sweet mana? - Kau mencari Sweet.

Di sana, bicara dengan Fritz.

Itu, bisa lihat?

Kenapa kau telepon?

Aku iri sekali!

Andai aku bisa di sana juga!

Apa yang begitu mendesak?

- Apa yang mendesak? - Tidak, Ibu.

Kami bersenang-senang.

Baiklah, jaga diri saja.

Jangan lupa beli yang kuminta!

Lupakan segalanya kecuali itu!

Apa itu?

Ukuran sepatuku. Sangat pas.

Kenapa tak kau beri ke dia?

Kau bodoh!

Astaga! Anak-anak ini!

Ada yang salah dengan yang ini.

Lihat, Sweet.

Yang ini untukmu, ini untuk Ibu.

Kembaran!

Itu apa, Ibu?

Untuk kita berdua?

Apa masalahnya?

Aku tak mau.

Lupakan. Aku tak mau pakai itu, Ibu.

Terserah.

Siap sedia!

Lihat!

Ya ampun!

- Ya ampun, Ibu. - Ya?

Ibu pakai apa?

Ibu seperti merasa tak aman dengan gadis-gadis di sini.

Itu tak benar. Fritz akan suka ini.

Lihat Ibu. Lalu Ibu menari seperti di TikTok.

Cukup, Ibu. Hentikan!

Aku tak tahan.

- Hei, Ibu! - Ibu bisa.

Tentu, terserah. Malulah sedikit.

Diam di sana. Masih ada lagi.

Astaga.

Ya, itu dia!

Yang ini?

Ibu tampak cantik.

Benar?

Seperti Toffee sering bilang, "Bagus!"

Andai aku bisa jadi bagian duniamu!

Ibu amat cantik!

Aku tak pernah lihat kau sesenang ini, Ibu.

Jika Ibu sungguh suka Fritz,

baiklah. Aku tak keberatan.

Kemarilah. Ibu sangat menyukaimu.

Ibu, aku tak bisa napas!

Makan malam!

Ayo.

Aku tak punya pilihan.

Itu terdengar seperti Fritz. Cek lagi.

- Tak ada lipstik di gigi? - Tidak, Ibu cantik.

Tentu saja. Kita dibuat dari cetakan yang sama.

Namun, turunkan ini sedikit.

Ibu seperti bungkus kado.

Lakukan ini untukku.

Jangan bunuh dia.

Aku rela melakukan apa saja.

Kumohon.

Akan sangat cepat.

Ini Emma.

Aku istrinya.

Apa?

Mantan istri.

Tidak sampai perceraiannya usai.

Teknisnya, aku masih istrimu.

Kau pasti Sweet.

Aku sering dengar tentang kau.

Ya? Kami belum pernah dengar tentangmu.

Sungguh?

Honey, bagaimana belanjamu?

Ibu beli gaun ini untuk Fritz.

Kau tak kedinginan pakai itu?

Itu gaun yang cantik.

Cocok dengannya.

Bisa pakai mantel.

Aku tahu.

Wanita ini mengesalkanku.

Emma, jangan menyebalkan.

Haruskah kuberi dia alasan untuk merengut?

Apa kataku? Benar, dia akan kena pilek.

Jangan. Selalu lebih baik untuk… senyum.

Emma tak bermaksud buruk, Fritz. Lupakan.

Sepertinya Emma masih mencintainya.

Fritz, kita sungguh perlu bicara.

Jangan di sini.

Maka, usir mereka!

Menurutmu mereka membahas kita?

Pasti. Karena kita juga membahas mereka.

Honey? Emma dan aku harus pergi.

Urusan bisnis.

Aku paham.

Bisnis.

Kenapa Ibu tak tahu Fritz punya istri sejak awal?

Ibu sudah tahu.

Dia bilang dia punya mantan istri

dan sudah melupakannya.

Namun, Emma jelas belum.

Menurutmu mereka akan rujuk?

Emma kemari untuk apa?

Kau baik-baik saja, Ibu?

Kau bisa bereskan?

Ibu mau pergi.

Ini harus dilakukan.

Kumohon jangan.

Kau tahu seharusnya tak boleh keluar malam!

Para pembunuh.

Hei. Ada apa?

Ada apa denganmu?

Ibu, Fritz membunuh Emma.

Ada apa lagi sekarang, Sweet?

Ibu, aku lihat! Ikutlah, akan kutunjukkan.

Mungkin bisa menyelamatkan Emma.

Sweetie, ada yang mengganggumu?

Bisa kita bicarakan? Aku tak paham.

- Kau kenapa? - Ikut, Ibu! Nanti lihat!

Ini soal apa?

Keluarlah.

Untuk apa kita di sini?

Jangan berisik.

Kita mencari apa?

Emma?

Katamu dia mati. Kenapa kau panggil?

- Mungkin masih hidup. - Dingin sekali.

Shauna, di mana Emma?

Kita tak akan melihatnya lagi.

Apa maksudmu?

Emma sudah tak ada.

Kau apakan dia? Dia sudah mati? Kau membunuhnya?

Sweet! Cukup.

Maaf. Kurasa dia hanya lelah.

Kami harus pergi.

Ayo. Kelakuanmu sudah cukup.

Kau seperti orang gila.

Sweetie, tolong.

Apa-apaan itu?

Kenapa kau terus melakukan ini?

Nanti Shauna kira kita orang gila!

Ibu, dengar aku. Di sini tak aman. Memalukan.

Kau tak dengar kata Shauna?

Emma sudah tak ada dan kau masih tak percaya.

Jika kau mau pulang…

Ini kesalahan ayahmu.

Semua harus sesuai keinginanmu atau kau akan mengarang cerita!

Jika marah kepadaku, jangan bawa-bawa ayah!

Ya, aku mau pulang!

Itu yang selalu kupikirkan.

Salah Ibu kita jadi kacau sejak awal.

Kau bahkan tak kenal Fritz!

Tiba-tiba mengundangmu, semua Ibu tinggalkan demi dia!

Sudah cukup.

Baik, Ibu salah.

Cukup. Ibu lelah dengan ini.

Kenapa kau menangis padahal aku yang akan mati?

Menurutmu itu lucu?

Dokternya tak bercanda.

Sisa waktu kami tiga tahun bersamamu karena kanker pankreas.

Aku bagaimana saat kau tak ada?

Apa dunia akan berhenti berputar saat aku mati?

Jangan lakukan itu sekarang.

Jangan sok pintar.

Baiklah, ayo serius.

Ini yang akan kita lakukan.

Jika kemoterapinya gagal…

jangan dipaksa. Sudahi saja, ya?

Tidak. Kita akan coba segalanya.

Honey…

Jika sudah saatnya pergi,

untuk apa menunda yang pasti terjadi?

Jangan menyulitkan diri sendiri.

Kau hanya menyulitkan diri sendiri.

Fritz, kurasa sudah saatnya kami pulang.

Pulang?

Kenapa?

Ada masalah?

Sweet. Kau lihat bagaimana sikapnya.

Jadi, sebaiknya kami pulang.

Setidaknya semalam lagi.

Ini amat penting bagiku.

Aku berencana ke kota untuk berbelanja.

Kau mau ikut?

Baiklah.

Satu malam lagi.

Sudah beres?

Kita bicarakan malam ini.

Baiklah.

Ibu?

- Rupanya di sana. - Agak dingin.

Pukul berapa pulang?

Kurasa satu jam lagi?

- Ya. - Ya.

Bisa beri tahu Sweet kami di mana?

Tentu saja.

Tunggu, sepertinya kunciku tertinggal di dalam.

Honey, tunggu sebentar.

Baiklah.

Sepertinya kutaruh di meja dapur.

- Baik, tak apa. - Ya.

Akan kutunggu.

- Sebentar saja. - Baik.

Aneh. Tadi kutaruh di sini.

Tak ketemu. Biarkan saja.

Ya, ayo.

- Hati-hati. - Sampai jumpa!

Sampai jumpa!

Ibu, jawab teleponmu!

Honey?

Kumohon, Ibu.

Kenapa ditolak?

Ibu!

Ibu!

- Tunggu. Ya. - Ada lagi?

112.

Tolong kirim polisi ke rumah Fritz Karlsen.

Bisa tolong cepat? Ibuku akan dibunuh!

Di mana alamatmu?

Rumah Lerchenborg?

Tolong cepatlah! Kumohon!

Kau di dalam?

Ikutlah dengan ibumu.

Sweet, aku minta Shauna membawamu ke sini.

Agar bisa ambil bagian.

- Ibu! - Sweet, apa yang terjadi?

Tidak, jangan bunuh ibuku!

Jangan bergerak.

MAUKAH KAU MENIKAHIKU

Apa…

Kukira kau akan membunuh ibuku.

Membunuh ibumu?

Apa yang kau pikirkan?

Kau membunuh Emma.

Kudengar suara letusan senapan.

Kami membunuh kuda itu.

Sudah saatnya.

Emma, dia tak tahan.

Jadi, dia memohon.

Itu hal paling manusiawi untuknya.

Bagaimana dengan senapan di lemari?

Lalu darah. Aku lihat darah di selimut. Ada di mana-mana.

Ini pertanian. Senapan untuk berburu.

Serta untuk menjaga properti.

Senapannya kupindahkan ke tempat yang tak mudah diakses.

Aku hanya mengira…

Cukup jelas bahwa ini hanya kesalahpahaman besar.

Satu-satunya kejahatan

adalah lamaran yang direncanakan dengan sempurna

rusak oleh imajinasi yang terlalu liar.

MAUKAH KAU MENIKAHIKU?

Kau membuat Ibu tampak bodoh, Sweet.

Kau bukannya tanpa kesalahan, Ibu.

Mungkin aku tak berpikir jernih karena sangat cemas.

Jadi, jangan marahi aku karena aku hanya memikirkan kebaikanmu.

Kebaikanku?

Jadi, semua kau lakukan untukku.

Jadi, sekarang salahku?

Kau yang melakukan ini.

Kau yang bertingkah berlebihan.

Namun, Ibu yang salah. Begitu?

Kau mau ini terjadi.

Karena begitu terbiasa dapat kemauanmu!

Kau mau pulang? Ya?

Kita akan pergi sekarang.

Selesaikan saja.

- Ibu! - Ayo pulang.

Ibu…

Begitu kita memasuki tempat ini,

kau mulai mencari kesalahan.

Semuanya salah. Ibu salah. Semua buruk.

Bagimu Ibu selalu salah.

Aku bukan ayahmu!

Ingat itu. Kau menyalahkanku atas kematiannya juga?

Kau tak tahu apa-apa.

Ibu memikirkannya setiap hari.

Setiap hari.

Ibu rindu ayahmu.

Terutama sekarang karena tak tahu harus bagaimana denganmu!

Mungkin jika dia masih hidup,

dia akan tahu harus bagaimana.

Ayah sudah memutuskan.

Ibumu dan Ayah sudah bicara.

Ayah mau menghentikan kemoterapi.

Sudah selesai.

Apa maksud Ayah, selesai? Kenapa?

Namun, Paman, kankermu akan memburuk.

Memang tak akan membaik.

Aku merasa makin lemah.

Kemoterapi bisa membunuhku sebelum kankernya.

Ayah lelah. Tubuh Ayah tak tahan.

Ayah mau berhenti.

Ayah, tunggu. Sekarang kami harus bagaimana?

Ayah, tolong jangan menyerah semudah itu.

Sudah kita coba, bukan? Ayah sudah berusaha maksimal.

Namun, tak bekerja.

Dengarkan Ayah.

Sekarang Ayah hanya mau

kalian mengingat Ayah seperti sekarang.

Tak mau suatu hari bangun

dan tak mengenali diriku karena melampaui batas kemampuan tubuhku.

Itu kacau, Ayah.

Hei… Ayah tak berencana menangis hari ini.

Hentikan, berhenti menangis…

Hentikanlah.

Berhenti menangis.

Ibu, kenapa tak dorong ayah untuk meneruskan kemoterapi?

Sayang, dia tak mau melakukannya lagi.

Kenapa Ibu biarkan dia?

Seharusnya lebih Ibu paksa! Apa pun!

Kenapa menurut Ibu ayahku boleh mati?

Sweet!

Kau marah kepada ayah dan ibumu.

Itu salah ibu.

Lihat Ayah? Ayah mau bicara denganmu.

Aku tak mau.

Ada yang harus kuberi tahu, Sweet.

Kataku aku tak mau.

Obati diri Ayah dahulu.

Sweet!

Ya, Pak.

Aku bercanda.

Ayah tak marah.

Jangan bercanda begitu…

Ayah, kau yakin kau sakit?

Kau tak tampak sakit.

Suara Ayah masih lantang

dan badan Ayah gemuk.

Hati-hati, Nona.

Ayah di sini, sekarat,

tetapi kau menghinaku.

Ayah…

Tidak, Ayah paham.

Ayah paham kenapa kau marah.

Namun, Sayang…

Marahlah kepada Ayah,

bukan ibumu.

Terutama setelah Ayah mati.

Jangan jadi anak manja!

Aku? Manja?

Yang benar saja.

Kau anak manja, percayalah.

Ayah serius.

Kau kira dunia fokus kepadamu.

Itu salah Ayah.

Ayah selalu membiarkanmu.

Namun, Sayang…

saat Ayah tak ada lagi,

jaga ibumu.

Karena dunia ibumu berfokus kepada kita.

Siapa yang akan mengurusnya?

Sweet, Ayah mau kau berjanji kepadaku.

Apa?

Kau akan merawat ibumu dengan baik.

Ibu keras kepala. Aku yang butuh tempat bersandar.

Mengerti maksudku?

Kau melakukannya lagi.

Kau kira hanya kesedihanmu yang penting.

Kau pikir hanya kau yang sedih.

Jangan begitu, Sayang.

Egoislah dengan orang lain sesukamu, tetapi jangan dengan ibumu.

Siapa yang akan mengurusnya?

Beri dia kesempatan bahagia.

Akan kupikirkan.

Aku hanya bercanda.

Pikirkan lebih cepat.

Berapa pun banyaknya obat Ayah, waktu Ayah hampir habis.

Ayah, aku janji.

Terima kasih, Sayang.

Ayah menyayangimu.

Aku menyayangimu, Ayah.

Sayangku sebesar ini, Sayang.

Karena waktu Ayah habis, arloji Ayah untukmu. Paham?

Arloji Ayah… Waktu.

Bahkan kemoterapi pun tak mengobati kekonyolanmu, Ayah.

Ayah tak mau lihat kau menangis.

Sweet!

Aku punya sesuatu untukmu.

Silakan pinjam buku ini dan kuantar kau ke rumahnya di Nyhavn.

Fritz, maaf sekali soal semalam.

Kukira ibuku dalam bahaya

dan aku hanya berusaha menjaganya

seperti janjiku kepada ayah.

Yang paling kusukai dari Honey adalah senyumnya.

Senyumnya paling lebar saat membicarakanmu,

Reese, Toffee, dan Dindo.

Dia sangat bangga kepadamu.

Dan masih mencintai ayahmu.

Masih.

Kau sangat mencintai ibuku, ya?

Ya, benar.

Namun, tak bisa menggantikan ayahmu di hidupnya, atau hidupmu…

dan aku tak mau.

Aku mau membuatnya bahagia

dan menjaga senyum itu dengan caraku.

Karena itu aku melamar.

Lalu kukacaukan semuanya.

Lamarannya, mungkin, tetapi tak semuanya.

Untuk menukar buku itu, aku butuh bantuan.

Ayo, Ibu. Cepatlah.

Ayo! Ini suvenir sempurna untuk kakak-kakakku.

- Apa ini? Tunggu! - Cepatlah!

Ibu rewel sekali.

Hei, awas!

Fritz.

Aku sudah menunggu momen ini sejak kau tiba di Denmark.

Namun, sebelumnya pun, aku tahu.

Aku tahu keadaannya tak sesuai rencana,

tetapi itu sudah berlalu.

Hari ini, aku janji akan membuatmu lebih bahagia…

kau membuatku bahagia selamanya.

Aku mencintaimu.

Honey, maukah kau menikahiku?

Senyum itu membangunkanku tiap hari.

Aku tak bisa, Fritz. Maaf.

Kami harus pulang.

Ibu…

Ibu.

Kata Shauna Ibu pasti di sini.

Jangan pulang dahulu, Ibu.

Bisa berhenti bertengkar?

Sweetie, selalu ingat ini.

Ibu tak akan pernah marah kepadamu.

Mungkin kesal,

atau sedih atas ucapanmu.

Mungkin kau kuomeli, tentu, tetapi…

Tak akan merasakan amarah terhadapmu.

Lalu, apa yang terjadi?

Ibu tak mencintai Fritz?

Ibu sudah pernah melalui ini.

Ibu kembali di tempat sama.

Apa maksud Ibu?

Ibu begitu mencintai ayahmu.

Ibu serahkan segalanya.

Ibu membangun hidup demi kalian.

Namun, suatu hari,

seperti kakakmu Reese, kau, dan Toffee…

kalian akan punya keluarga dan meninggalkan Ibu,

sama seperti ayahmu meninggalkan Ibu.

Itu memberatkan hati Ibu.

Ibu tak mau mengalami sakit yang sama.

Bagaimana jika salah untuk kemari?

Bagaimana jika Ibu menuruti perasaan Ibu untuk Fritz?

Lalu dia meninggalkan Ibu juga?

Sweet, Ibu tak mau ditinggal sendiri lagi.

Ibu tak bisa tahan.

Jadi, sebelum kondisinya makin rumit…

lebih baik diakhiri saja.

Itu mungkin lebih mudah dihadapi.

Namun, apa kau tahu, sejujurnya…

Ibu senang kau di sini bersamaku.

Ibu jadi berpikir…

kenapa Ibu di sini, di Denmark?

Kau benar.

Sudah cukup ayahmu dan Ibu sangat bahagia.

Seharusnya itu cukup bagi Ibu.

Kau, kakak-kakakmu, dan Melissa…

dan calon cucu Ibu!

Seharusnya dunia Ibu berfokus kepada kalian.

Itu kebahagiaan yang cukup bagi Ibu.

Jadi… ayo pulang.

Kenapa kau di sini?

Kata Sweet dia akan menunjukkan sesuatu.

Dia juga bilang itu kepadaku.

Ibu, aku butuh bantuanmu.

Bisa kutinggal kalian berdua?

Tidak, Fritz, aku butuh bantuanmu juga.

Aku mau memenuhi janjiku kepada ayahku.

Saat pertama tiba di Denmark, aku langsung ingin pulang.

Kukira dengan begitu, aku menjaga ibuku.

Aku mau memastikan aku menyelamatkan dia darimu.

Bahkan saat melihat betapa bahagianya dia,

aku mau mengajaknya pulang…

karena aku egois.

Aku tak mau kau meninggalkanku juga, Ibu.

Aku tak mau dia meninggalkanku.

Kukira kau mengambilnya dariku.

Namun, sekarang aku mengerti,

dan bisa lihat betapa bahagia dan saling mencintainya kalian.

Ibuku, dia hanya mencintai satu pria sebelum dirimu, Fritz…

dan sekarang aku tahu kau tak berniat menggantikannya.

Aku hanya minta izinkan aku dan kakakku masih menjadi bagian hidup kalian bersama,

karena kami ingin lihat betapa kau membuatnya bahagia.

Ibu, sekarang aku paham.

Saat yang dicintai pergi, mereka tak sungguh pergi…

mereka tetap ada di sini.

Mereka di situ selamanya.

Jadi, jangan takut.

Ibu pasti akan sukses berhubungan jarak jauh.

Kemarilah.

Kau mengerti itu?

Kurasa itu tak butuh diterjemahkan.

Tunggu, ada lagi.

Ada lagi?

Shauna!

Terima kasih.

Seharusnya kulakukan ini begitu kami sampai di Denmark.

Ini peluangku untuk memperbaiki.

Untukmu, Ibu, ini peluangmu untuk membuat semua orang bahagia.

Juga…

Fritz…

dan Ibu,

maukah kalian menikah?

- Ya. - Ya.

Ibu, pelan-pelan.

Hei! Itu keterlaluan!

Itu ibuku!

Aku suka penampilan ini.

Kurasa tak ada di Denmark yang bisa seperti ini.

- Ya. - Benar, bukan?

Aku tak tahu kenapa Sweet setuju memakai ini.

Aku mau menunjukkan ke semua bahwa aku bangga kau ibuku

dan mau menjadi seperti Ibu saat besar nanti.

Kau imut sekali.

- Aduh, Ibu. - Mau kupeluk sangat erat!

Namanya sungguh sesuai, Sweet!

- Ibu menyayangimu. - Sama, Ibu.

Yakin tak mau memperpanjang liburan?

Tidak, sebaiknya aku pulang.

Namun, akan kembali mungkin saat musim panas?

Tentu!

Aku punya sesuatu untuk kakak-kakakmu.

Apa?

Sosis darah.

Toffee. Buat dia saja semua.

Lalu, jangan lupakan ini.

Janji akan kukembalikan begitu aku kemari,

agar bisa pinjam buku lagi.

Terima kasih atas segalanya, Tito Fritz.

Sama-sama.

Jadi, ini dia, Ibu.

Sebaiknya kau… Karena lihat Ibu…

Pergilah sekarang.

Ayo.

Jaga ibuku.

Pasti.

MENGENANG IBU RUBY

Masih ada lagi? Tunggu.

Itu…

Aku harus takut atau bersemangat… Fifty Shades of Grey!

Apa? Tunggu!

Berapa pun banyaknya obat yang kumakan…

Si berengsek ini.

Tampilan ini sedang tren dan penari TikTok menari begini.

Ibu, tolong hentikan!

Tak bisa!

- Ibu, hentikan… - Aduh.

- Ibu. - Apa?

Hentikan.

Aku mau menunjukkan asetku.

Kau pasti bisa. Ibu mau pergi.

Aku lupa ini.

Gaunmu tampak lumayan, Ibu.

- Aku suka itu memantul. - Bagaimana caranya?

- Namun, tak terlalu. - Ya, sulit.

- Lupakanlah. - Tutupi sedikit!

Biarkan saja!

Minta maaf, itu salahmu!

- Kau mengacaukan! - Kalian minta maaf.

Cukup! Minta maaf sekarang!

Hei!

Dasar sinting. Keparat kau.

Ini ulang tahunku.

Ini hari spesialku.

Kenapa bertingkah berengsek?

- Cut! - Baiklah.

Terjemahan subtitle oleh Amanda T Supriadi

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.