Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Aku memilih mencintai-Mu dalam diam, ya Allah.
Sebab, dalam kesepian, tak ada makhluk lain yang memiliki-Mu.
Namun, kesunyianku sedang terusik oleh umat-Mu yang penakut.
Yang selalu bertopeng kesolehan agar terlihat bertakwa.
Masalah umat ini, 'kan, masalah bangsa.
Nah, sistem demokrasi kita ini sudah gagal.
Ekonomi penuh riba.
Parlemen yang koruptif.
Dan partai-partainya banyak yang rakus.
Ini sangat mendzolimi umat.
- Kalian tahu kenapa? - Ukhti, boleh geser sebentar?
Karena sistem ini keluar dari syariat Islam.
- Artinya demokrasi ini sistem korup! - Ukhti.
Astagfirullah.
- Ini rumusan yang ana buat - Jika sistem ini…
tentang alternatif dakwah yang langsung dirasain
- sama masyarakat bawah. - …sengsara.
- Terima kasih. - Terima kasih kembali.
Maaf, Pak?
Silahkan.
Lantas, bagaimana solusinya?
Ada yang mau jawab?
Silahkan, Kiran.
Solusinya hanya satu.
Kita kembali ke Qur'an dan Sunah.
Wa idz qala rabbuka lil-mala'ikati inni ja'ilun fil-ardli khalifah.
"Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat.
'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.'"
Benar, Kiran.
Itu.
Ini sesuai dengan hadis Rasulullah.
"Sesungguhnya telah kutinggalkan kalian dua perkara yang tidak akan tersesat
jika kalian berpegang teguh pada keduanya."
Yaitu?
- Al-Qur'an dan Sunah. - Al-Qur'an dan Sunah.
Pak Sandi, Anda sangat vokal lewat pengacara kondang
dan tindak pidana kekerasan seksual
yang diusulkan oleh Komnas Perempuan sejak tahun 2019.
Ya!
Partai kami menolak
Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual
dikarenakan dalam RUU tersebut tidak menyebutkan secara eksklusif
hukum bagi pelaku zina dan praktek LGBT.
Sementara 'kan, di KUHP pasal 248
sudah jelas deh hukumannya bagi para pelaku zina
dan para pelaku termasuk hukumannya.
Jadi, menurut kami sih,
- seharusnya RUU tersebut - Hai.
- Mengikuti KUHP yang sudah ada. - Hai.
Kiran.
Biar gak tumpang tindih gitu, Mbak.
Pak Sandi.
Jangan di sini.
Aku udah pesan kamar yang pas, ya?
Kenapa?
Wajar, 'kan, anggota dewan ada pertemuan di sini?
Kita ke atas saja.
Kartunya gak beres.
Ini juga.
Gimana sih, Mas? Kok harganya naik terus?
Ya, gak tau. Saya 'kan cuma berjualan.
Hai! ada permen, ada permen!
Dibagi yang rata. Jangan rebutan, ya!
Eh, Mbak Kiran. Mau ke mana, Mbak?
Lima bungkus, Bu?
- Ada apa, Mbak? - Itu Kiran yang anak pesantren itu?
Lha, iya.
Kok sekarang beda ya?
Karena dia tinggal di rumah Ami itu.
Ami?
Ami yang tinggal di atas itu?
Kami itu 'kan sudah sering mengingatkan.
Dan ini tuh sudah kesekian kalinya, lho.
Sudah empat kali saya lihat mbaknya membawa laki-laki masuk ke dalam.
Jangan sampai salon ini jadi kedok untuk berbuat zina, Mbak.
Hah itu, ini siapa, tuh?
Kenapa ini ada LGBT di sini?
Heh, Mas, kamu itu laki-laki, 'kan?
Laki-laki itu letak safnya paling depan, Mas.
- Astagfirullahaladziim. - Pak.
Laki-laki kok pakai rok!
- Pak. - Mbak!
Ini yang terakhir kalinya ya! Saya peringatkan!
Kalau terjadi apa-apa,
jangan salahkan saya.
- Ayo. - Ayo.
Dasar keras kepala.
Mbak, pindah aja ke apartemenku.
Daripada terus-terusan diganggu.
Iya, Mbak. Ayolah, kita pindah dari sini.
Heh, jangan ngomong kayak begitu.
Gak semua orang bisa kaya kamu, Kiran.
Kenapa nggak? Aku justru belajar dari Mbak Ami.
Aku gak rela kalau Mbak Ami di sini
jadi bahan omongan orang-orang sok alim itu.
Gak apa-apa, udah biasa.
Dari aku masih ABG juga udah diomongin jelek, kok.
Apa coba?
Lonte.
Pecun.
Eh.
Kita makan di luar aja, yuk. Lagi kepingin tongseng.
Habis nongseng kita lanjut, ya.
Lanjut ke mana?
Biasa. Kayak gak tau aja.
Nih, aku udah siapin nih, mumpung baru dapat transferan.
Bukannya kamu mesti ketemu itu, tuh?
- Tomo? - Gak jadi.
Malam ini dia lagi pakai topeng suami yang baik.
Oh, jadi, gak lagi pakai topeng dosen, ya?
Oke, semuanya yuk kita seneng-seneng!
Pokoknya kita seneng. Seneng-seneng pokoknya hari ini.
- Pak. - Sayang.
Kamu ke mana aja semalam?
Ya, Pak Tomo juga ke mana semalam?
Aku itu nungguin kamu, lho.
Terima kasih, Pak.
Jangan panggil "Pak".
"Pak" itu cuma buat mahasiswa di kampus.
Kamu itu mahasiswa spesial.
Bilang aja sih kalau ada maunya.
Kamu selalu tau aku maunya.
Aku ada maunya.
Tapi kali ini,
mau aku yang beda dari yang lain.
Apaan?
Ini 'kan biasa, Pak.
Jangan menilai anggur ini dari labelnya, Sayang.
Kita rasain sama-sama, ya?
Apa, ya? Kok beda, sih?
Setelah ini,
banyak orang-orang seperti Sandi yang ingin dilayani seperti kamu.
- Hei! - Astagfirullahaladziim.
Hati-hati sama perempuan! Dia bukan muhrim!
- Hei! - Apaan sih ini?
- Apa ini? - Mereka mau merebut tempat kita, Pak.
Bohong, Pak.
Tempat ini biasa kami pakai buat kajian.
Kajian gimana? Kajian ya di masjidlah, masa di sini?
Gak nyambung lu ama jamaah lainnya? Beda aliran?
- Hei! - Sudah, sudah! Diam!
Sudah, sudah.
Jaga bicara kamu.
Kamu koordinator kegiatan ini, kan?
Kenapa mesti memaksa memilih tempat ini?
Tempat ini biasa kami gunakan untuk kajian setiap Kamis, Pak.
Anggota kami tahunya di sini.
Ya sudah, Pak, kami cari tempat lain saja.
Udah gak usah, Pak. Kita aja yang pergi.
Tempat nyempil kayak begini emang favoritnya orang-orang radikal, ya.
- Ngomong apa? - Sudah, sudah.
Sudah, sudah!
Hei!
Dengar, ya.
Mulai hari ini,
gak ada lagi yang pakai tempat ini untuk kegiatan apa pun.
Ayo, bubar.
- Bubar. - Udah, udahlah kita aja, Pak.
Bau di sini.
Onta semua.
Cabut.
Kamu.
Tugas dan makalah kamu selalu bagus.
Tapi kamu juga selalu telat ngumpulinnya.
Jangan gitu, dong.
Kamu bisa gak ikut ujian tengah semester, lho.
Jangan, Pak.
Insyaallah, siang ini sudah ada di meja Bapak.
Ingat ya, ini tempat belajar.
Bukan tempat umum.
Jangan lupa tugasmu.
- Asalamualaikum… - Asalamualaikum, Nak.
Bu?
Kok Ibu pakai panggilan video juga?
HP-nya siapa?
Bapakmu maksa jalan ke masjid,
untuk pinjam HP-nya Pak Heru
yang ada panggilan videonya itu lho, Nak.
Asalamualaikum, Mbak Kiran.
Ingat 'kan?
- Pak Heru, imam masjid kampung? - Masuk ya.
Padahal kamu tahu 'kan, Nak,
bapakmu itu 'kan gak boleh jalan jauh-jauh.
- Sini, Bu. - Pak!
Bapak kangen kamu, Nak!
Bapak ini sedang sakit,
kenapa maksa jalan ke masjid?
Nanti makin sakit lho, Pak.
Lho, obatnya Bapak kan kamu, Nak.
Pak…
Oh ya, Nak.
Bapak kirim uang buat kamu, ya.
Tidak usah, Pak!
Kiran masih ada uang.
Buat berobat Bapak saja.
Obat apaan?
Bapak itu lebih ikhlas kalau uangnya buat kamu.
Buat dakwah-dakwah kamu
- biar lebih barokah. - Nak.
Tapi Nak, tolong bapakmu tuh dibilangin.
Senangnya capek-capek, padahal udah sakit-sakitan…
Bu?
Bismillahirrahmanirrahim.
Aku rida Allah SWT sebagai Tuhanku, dan Islam sebagai agamaku,
dan Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasulku.
Barang siapa yang mengaku dirinya seorang muslim,
maka wajib atasnya untuk berjihad.
Jihad di sini bukan berarti berperang.
Jihad bisa kalian lakukan dengan harta kalian,
dengan jiwa kalian, dengan waktu kalian
untuk Allah SWT.
Musuh kita sekarang sudah nyata.
Nampak di depan mata kita sekarang ini.
Mereka mau memecah belah, mereka mau merampas,
merampok, bahkan memperkosa hak-hak kita.
Ini jahenya, Pak.
Itulah mereka, orang-orang kafir, orang-orang Yahudi.
- Allahu akbar. - Bismillah.
Allahu akbar.
Ini obat terakhir lho, Pak.
Besok kita harus nebus resep lagi.
Tapi
uang pensiun Bapak bulan ini sudah Ibu kirimkan ke Kiran semua.
Bagaimana ya, Pak?
Sudah, jangan dipikirkan.
Sekolah Kiran itu lebih penting, Bu.
Pak.
Bukannya Bapak seharusnya dapat uang tunjangan khotib dari masjid ya
meskipun Bapak sedang sakit?
Hus.
Mestinya kita ke masjid itu ngasih tenaga, ngasih uang.
Jangan sampai meminta!
Bagaimana sih?
Nu?
Nes?
Mbak Ami.
- Ya? - Mbak.
Maaf, Mbak.
Yang soal waktu itu.
Apa boleh uang kosnya saya rapel nanti?
Karena…
Astagfirullahaladziim!
Eh!
Begini, Kiran.
Kami sangat memahami kegelisahan kamu.
Para santri juga sudah cerita ke kami.
Seharusnya kamu cerita sejak awal
daripada kamu tinggal di tempat maksiat.
Iya, 'kan?
Maaf.
Ana…
Ana gak mau jadi beban.
Masyaallah.
Ana cari tempat yang murah karena…
Bapak di kampung sedang sakit.
Sebenarnya kamu bisa aja numpang dulu di kontrakan
yang masih satu grup dengan kita.
Itu gak apa-apa, Kiran. Gak usah sungkan.
Ya?
Satu lagi.
Selain tempat tinggal,
kami juga menawarkan jalan keluar yang…
Ini insyaallah lebih barokah.
Ada kabar gembira.
Ustad Abu Darda,
pimpinan sekaligus panutan rekan kita…
Beliau ingin
taaruf ke Kiran.
Masyaallah. Alhamdulillah.
Tempat ini…
Ini adalah pesantren beliau.
Kamu baru pernah ke sini, kan?
Masyaallah, Kiran.
Sekalinya kamu ke sini,
kamu langsung dapat rejeki yang tidak terduga.
Tapi semuanya keluarga udah setuju, kan?
Ya, kalau kita sih, sesuaikan aja enaknya gimana.
Tapi yang penting apa coba? Jangan lupa undangannya.
Iyalah, pasti aku akan undang.
Masyaallah,
senangnya ya yang udah dilamar.
Semoga banyak berkah, ya.
Terima kasih, ya. Habis ini kamu.
Amin.
Eh, terus S2 kamu gimana jadinya? Lanjut ga?
Belum tahu, sih. Ya mudah-mudahan bolehlah.
Ya pasti bolehlah. Masa gak?
Aduh.
- Maafkan saya, Pak. - Udah.
Udah.
Udah, biarkan saya saja.
Kamu kenapa?
Kok, mukamu pucat?
Kamu sakit?
Udah makan?
Belum, Pak.
Kalau makan yang pelan-pelan,
nanti kamu tersedak.
Sudah lama saya pengen makan mie bakso ini, Pak.
Tapi selalu saya tahan.
Kenapa?
Sayang uangnya.
Kamu ini mahasiswa saya yang pintar.
Kalau cuma mau makan mie bakso, es cincau, kamu kan bisa nelpon saya.
Kita ketemu di sini, diskusi.
Ini saya beneran, lho.
Saya juga tertarik, lho, dengan konsep dakwah kamu
melalui pendekatan ekonomi mikro.
Kamu lagi konsen di situ, kan?
Iya, Pak.
Kok Pak Tomo bisa tau?
Ya, tau.
Makanya saya antusias untuk bantu kamu.
Tapi ya gitu,
seringnya saya bantu mahasiswi-mahasiswi cemerlang,
tapi ujung-ujungnya kok gitu.
Kejebak perkawinan usia muda.
Eh, Mas, tolong.
Kamu gak gitu, kan?
Ana sebenarnya masih ragu, Ustad.
Kalau ukhti masih ragu,
kita bisa nikah siri dulu.
Jangan khawatir.
Untuk kebutuhan ukhti sehari-hari, ana akan cukupi.
Juga kebutuhan keluarga ukhti.
Waalaikumsalam.
Oh, udah di sana?
Iya dong, aku jadi nitip.
Cuma jangan kayak yang punya Bu Ani, ya.
Bu Ani.
Yang istrinya orang DPRD itu.
Iya.
Halo, Asalamualaikum. Siapa ini?
Halo.
Iya, besok aku transfer.
Oh, Pak Bambang?
Nomor baru, Pak?
Cuma mau kabarin kalau ada di jalan.
Jangan lupa kirim lokasinya.
Oh ya, siap.
Saya meluncur ke sana ya, ngantar anak istri dulu.
Iya.
Ini wedang jahe dari Ummi Khasanah.
Istri pertama dari Ustad Abu Darda.
Ustad Darda sudah punya istri?
Kamu yang ketiga.
Ana adik dari Ustad Darda,
mewakili keluarga,
kami sudah mengontak orang tua Kiran di Salatiga.
Mengontak bagaimana ya?
Kiran, jangan bicara dulu sebelum dia bertanya.
Yang penting bagaimana proyek ini bisa selesai
sampai sebelum tahun anggaran.
Tenang, Pak Bambang.
Proyek ini pasti gol.
Pak Bambang sekeluarga bisa pergi ke Eropa.
Ya.
Diam-diam aja yang satu ini.
Bawelnya nanti ajalah, Pak, kalau udah sama Bapak.
Oke, ana ulangi.
Pihak keluarga Ustad Darda,
sudah mengontak keluarga Kiran di Salatiga.
Hanya saja terkendala kesehatan karena biaya…
Sebentar.
Ini maksudnya bukan nikah siri dulu, ya?
Maaf, ana tidak paham.
Dua jam yang lalu lewat telepon Ustad Darda menawarkan opsi itu.
- Yang penting saya ternafkahi… - Tidak!
Bohong!
Ana tidak pernah menelpon kamu walaupun sekali.
Ustad Darda nelpon ana.
Kiran!
- Ustad Darda memang nelpon ana! - Kiran!
- Kiran! - Kiran!
Kita terlalu banyak bicara.
Sudah, sudah.
Jadi…
bagaimana?
Jangan di sini, Pak.
Kenapa?
Karena ada orang-orang ini, ya?
Tenang.
Mereka tidak akan berani apa-apa.
Ayolah.
- Kiran! - Lonte!
- Sabar! - Tomo!
Kamu pergi sekarang!
Ana punya buktinya.
Kiran!
Ustad Darda nelpon ana.
- Kiran! - Aku ada buktinya.
- Ana… - Anta fitnah!
Ana gak bohong, ana ada buktinya.
Kiran.
- Ana ada buktinya! - Kalian semua harus tau.
- Ana gak bohong! - Al-Fitnatu Assyaddu minal qotl'.
- Ustad yang fitnah! - Bahwa fitnah itu
- Saya tidak berbohong! - Adalah lebih kejam daripada pembunuhan.
Kamu itu, ya!
Pak Bambang itu kolegaku, lho!
Dia teman dekat aku.
Kamu tuh kelewatan, Kiran. Gila kamu, ya.
Soal kelewatan…
Lu udah pernah, ingat gak? Nih!
Gak usah ngalihin topik. Kita bicara soal Pak Bambang!
Kamu itu…
- Ngalihin, ya? - Ampun deh.
Ingat kesepakatan kita, ya.
Gua cuma mau pejabat yang sok alim. Sok alim!
Bukan pejabat sange kayak tadi!
Heh, bukan begini caranya, Kiran!
Kamu semua melayani tamu yang aku kasih ke kamu!
- Kedua! - Apa?
Gua jadi lonte gak buat nyari duit,
- apalagi nyari proyeknya situ! - Terus?
Gak usah munafiklah kamu.
Gak usah munafik!
Kamu nikmati semua apartemen ini, kan?
Punya fasilitas VVIP?
- Punya mobil mewah? Punya jam mewah? - Munafik?
- Punya semuanya? - Iya! Elu! Elu yang munafik!
Elu yang butuh apartemen ini supaya bisa tidur sama gue
biar gak ketahuan sama istri lu yang gak enak itu, iya.
Kiran!
Kita selesai di sini.
Kiran, jangan pergi dulu.
- Tunggu sebentar. - Udah, udah.
- Tunggu! - Udah!
Tolong, jangan pergi.
Aku kasih semua yang kamu mau.
Pejabat munafik yang sering pamer agama.
Anggota DPRD dari partai agamis. Iya? Ketua partai yang sok suci.
Aku kasih semuanya, Sayang.
Aku kasih, Sayang.
Tapi jangan pergi.
Kenapa ente tega memfitnah ustad kami?
Mau ente apa sebenarnya?
Ana tidak fitnah. Ustad Darda…
Diam!
Kurang apa kita sama kamu?
Ente tidak tahu apa-apa tentang Ustad kami.
Ente jangan macam-macam. Sekali lagi ente macam-macam…
Hei, ngapain?
Mau diambil juga tempat ini?
Kiran biar nyusul, kita ketemu dulu, ya.
Ayo, ya, keluar dulu.
Mbak.
Lho, ini Kiran yang ngekos di sini itu, kan?
Aduh, rumpi deh.
- Udah ya, lagi perawatan. - Iya, dia emang ngekos di sini.
Bukan.
Asalamualaikum.
Sebentar. Diam.
Ada surat buat kamu, Kiran.
Dari mana aja lu?
Nih ceweknya di sini.
Mbak Ami kok tumben lewat belakang?
Ini punya Mbak Ami juga?
Ya.
Heh.
Kalian jangan macam-macam ya, ini anaknya Mbak Ami, ya.
Kalian harus jagain, ngerti?
Ngerti, Mbak.
- Iya, Mbak. - Anak baik-baik nih.
Nah, nanti kamu di atas, kasur kamu.
Jangan takut.
Pokoknya, kamu kunci aja pintu kamarnya.
Besok Mbak Ami bawain makanan, ya.
Jangan ke mana-mana, pokoknya aman di sini.
Aksan!
Ya, Mbak?
Bawain ke atas.
Siap.
- Awas lu. Lihat-lihat. - Ya, Mbak.
Ayo.
Udah. Sana.
Mari, Mbak.
Pokoknya di sini aman ya.
Aku tinggal, ya?
Jangan takut.
Terima kasih ya, Mbak.
Besok aku datang lagi, ya.
- Istirahat. Iya. - Terima kasih ya, Mbak.
Siapa?
Mbak Ami?
Kiran. Tunggu!
Kiran!
- Pergi! - Kiran, tunggu!
Pergi!
Kiran.
Kamu pasti disuruh mereka, kan?
- Emangnya ana mau ngapain? - Ya mana ana tahu?
Pergi!
Kiran, dengerin ana dulu.
- Jangan bilang kamu gak tahu. - Justru ana tahu.
Ana sangat tahu, tapi ana gak sama seperti mereka.
Bohong.
Demi Allah, Kiran!
Kita harus ngobrol.
Kalau kamu mau macam-macam, ingat ya.
Kita di tempat umum.
Ana aja dulu gabung gara-gara selebaran yang kamu bagikan, Ran.
Kakak nyerita-nyeritain ya?
Nama kamu jadi contoh buruk di sesi kajian-kajian junior.
Bahwa sikap kamu yang kritis dan berani
mulai dianggap sebagai sikap yang gak islami
sama…
Proposal yang untuk pemberdayaan umat lewat ekonomi mikro,
itu katanya kamu yang bikin?
Iya.
Yah…
Proposal kamu
disetujui sampai ke tingkat wilayah,
tapi atas nama Abu Darda.
Masyaallah.
Kiran.
Walaupun manusia banyak yang berbuat jahat atas nama agama,
tapi agama gak pernah, lho, ngajarin yang namanya kejahatan.
Oh ya?
Tapi ya, Rul…
Dengan lihat sikap Abu Darda,
ana jadi tertantang untuk buktiin kalau mereka salah.
Caranya?
Ya…
Ana mau ngupas kulit agama sampai ke akarnya, Rul.
Kenapa bisa manusia menggunakan agama buat kejahatan.
Maaf, Kiran.
Harusnya mahasiswa seperti kita ini bukannya fokus sama skripsi kita nanti
- terus fokus dengan dunia kerja? - Justru Rul…
Justru di usia seperti kita ini
harusnya berani mempertanyakan semua yang kita percaya
sampai kita nemuin jawabanya.
Biar kita gak gampang ditipu sama ustad-ustad macam Abu Darda.
Ana temenin kamu.
Kiran.
Kamu ke kampus lagi begini.
Kalau ketemu anak-anak kajian gimana?
Gak takut.
Emangnya kamu mau diam aja kalau ana diapa-apain?
Iya kan, Mbak?
- Lihat deh si Kiran, ngapain dia di sini? - Kiran.
Iya.
Ana tuh masih penasaran
sama berbagai macam tafsir fikih dan mazhab.
Siapa? Imam Hanafi?
- Syafi'i, Hambali, Maliki, Jafari. - Maliki.
Yang mana yang harus kita ikuti?
Mereka itu, 'kan, melahirkan berbagai macam pemikiran, 'kan?
Maksudnya gimana?
Ya ini deh.
Hukum sentuhan laki-laki dan perempuan selepas wudhu.
- Batal gak? - Batal.
Menurut siapa?
- Syafi'i? Hambali? Iya batal. - Syafi'i?
Jafari sama Hambali gak batal.
Maliki batal kalau menyentuh secara sengaja.
Terus yang mana yang harus kita ikuti?
Nih, Ran. Jangankan itu Ran, nih.
Jangan berisik!
Kalau sudah gini kan umat jadi banyak dibingungin
sama pendapat ulama yang berbeda-beda.
Gini ya, Ran.
Semua tafsir dari imam itu
tujuannya untuk bantu umat supaya gak bingung.
Kalau umat sampai bingung, berarti
mereka memahami pendapat ulama gak pakai akal.
Asal ikut orang-orang aja.
Ya, berarti beragama itu harus tetap pakai akal, 'kan?
Iya. Tapi tetap harus diimbangi dengan hati yang bersih.
Kami sedang mencari Kiran.
Di sini gak ada yang namanya Kiran, Mas.
- Alah, bohong. Ini tempat maksiat, kan? - Bohong.
Gak usah fitnah ya? Sekarang kalian pergi.
Kita cuma mau mengecek kali namanya Kiran.
Gak ada Kiran.
Masuk dulu.
Kasih izin dulu. Kalau gak ada Kiran, baru kita pergi.
- Siapa? - Ini ana, Ran, cepat buka.
- Kamu harus pergi dari sini, Ran. - Rul. Di sini tidak aman.
Ya, ana tahu, makanya kita harus pergi dari sini.
Ayo.
Itu Kiran, Bang!
- Ayo! - Masuk!
- Hei, cek! - Kiran gak ada!
Kiran!
- Kamu sebelah sana. - Siap.
Kiran!
Aku salah apa sih, Rul, sama Allah?
Astagfirullah.
Ran.
Ini bukan soal Allah.
Ini soal manusia-manusia yang takut aibnya terbongkar.
Emang ana ini siapa, Rul?
Ran.
Orang-orang seperti Abu Darda itu, seperti mereka,
sangat butuh kepercayaan umat.
Mereka pasti takut kamu nyebarin keburukan mereka.
Kalau omongan Abu Darda diadu sama omongan ana,
siapa yang lebih dipercaya?
- Padahal dia tahu ayahnya sedang sakit. - Iya.
Kenapa dia melakukan hal seperti itu?
Kira-kira tanggapan Pak RT gimana, Pak?
Itu Pak RT sudah di dalam.
- Istighfar, Pak. - Astagfirullahaladziim.
Asalamualaikum, Bapak.
Ini Ibu.
- Istighfar, Nak. - Bu…
Istighfar.
- Ibu paham bagaimana kamu… - Bukan, Bu.
Izin Kiran ngejelasin dulu.
Kami berharap dengan kamu masuk pondok,
kamu bisa jadi lebih baik.
Tapi apa?
Apa, Nak?
Nggak, Kiran gak salah, Bu.
Sudah jelas semuanya.
Sudah jelas semuanya, Kiran.
Kalau Ibu lebih percaya mereka, terus Kiran sama siapa, Bu?
Udah, cukup. Cukup kamu menyakiti perasaan Ibu dan bapakmu.
Kiran. Astagfirullahaladziim.
Ya Allah…
Kiran…
Kiran!
- Ya Allah, Engkau jahat sekali, ya Allah! - Kiran! Astagfirullahaladziim.
- Aku salah apa, ya Allah? - Istighfar, Kiran!
- Engkau jahat sekali, ya Allah! - Kiran!
- Istighfar, Kiran! - Ana mau mati aja, Rul!
- Kiran! - Ana mau mati aja!
Istighfar, Kiran! Kiran!
Istighfar.
Kiran, istighfar.
Pak.
Bu…
Kiran tidak salah, Ibu.
Dia tidak salah.
Dia cuma tidak tahu.
Kiran tidak salah, Ibu.
Jangan dimarahin.
Mbak.
Duduk dulu aja, Ran.
Mau pesan kamar.
Mau yang single apa double?
Yang paling murah aja.
Double? Gak nyesel lu?
Iya. Gak, gak apa-apa, itu aja.
Mau berapa hari?
Dua hari aja, dua hari, Mbak.
Udah gini aja deh. Gua kasih lima hari.
Entar gue diskon.
Oh iya, ya udah yang…
Yang lima hari aja, yang diskon itu.
Ya udah, 500.000.
Nih.
Silahkan, sebelah sini.
Silahkan, silahkan masuk.
Silahkan.
- Mas, ini handuknya sebelah sini. - Iya.
Toiletnya sebelah sini.
Nanti kalau butuh apa-apa, bisa hubungi saya, ya.
- Saya tinggal dulu, selamat istirahat. - Iya, Mas.
- Ini kuncinya. - Oh ya.
Silahkan, permisi ya.
- Silahkan, permisi. - Terima kasih.
Kiran.
Ana tunggu di luar ya.
Maaf, Mbak.
Mas. Ngapain dari tadi mondar-mandir?
Kok gak masuk?
Oh, gak, dia bukan ini…
Ya udah, kalau gak mau sama dia,
gua aja yang temenin.
Gak usah…
Permisi, Mbak.
Yah elah.
Ribet banget.
Kamu di dalam ajalah
daripada di luar diganggu.
Iya.
Astagfirullahaladziim.
Sekarang ana udah gak punya siapa-siapa, Rul.
Kamu masih punya ana, Ran.
Kamu bakal ikutan dihujat gara-gara ana.
Ana gak takut.
Ana tau kamu gak salah.
Terima kasih ya, Rul.
Buat semua kebaikannya.
Ana anggap ini hutang.
Sudah, Ran.
Kamu gak usah mikirin itu, Ran.
Pokoknya tenangin aja diri kamu dulu, ya.
Kamu gak usah pikirin itu.
Kamu juga jangan tinggalin ana, ya.
Iya, Ran. Iya.
Kamu…
Kamu gak usah khawatir.
Ana tau kamu takut.
Kamu gak usah khawatir.
Kamu punya ana, Ran,
dan ana akan jadi siapa-siapanya kamu.
Rul?
Mbak.
Penghuni kos yang itu ke mana ya?
Udah pindah minggu lalu.
Pindah ke mana?
Pokoknya ingat tugas kita.
Sowan ke semua jurusan,
kalau perlu, tanyakan ke anak-anak butuhnya apa.
Di sana ada beberapa anak kajian dan juga jamaah.
- Minta bantuan mereka, Insyaallah. - Ya.
- Bismillah, ya? - Iya.
Da'arul!
Kenapa kamu hilang begitu aja?
Hah?
Jangan di sini, Ran.
Kiran.
- Sini. - Jangan di sini.
Kiran!
- Ini? - Kiran.
Ini yang bikin kamu ngilang?
Rul!
- Rul! - Kiran!
Kamu nyalonin diri sambil minta dukungan anak-anak kajian? Iya?
Ana…
Ana simpati sama pencarian kamu,
juga prihatin sama keadaan kamu.
Tapi jujur, Ran…
Ana takut.
- Takut? - Iya, takut.
Takut kamu bikin ana berdosa lagi.
- Kita ngelakuin sama-sama, Rul. - Ana tau!
Ana tau, tapi ana menyesal, Ran.
Ana menyesal.
Belum lagi uang yang buat bayar losmen itu, Ran,
ana ambil dari uang infak gerakan,
dan itu semua gara-gara kamu!
Kamu nyalahin ana?
Kamu yang mengajak ana mempertanyakan semua…
Semua yang kita percaya, Ran, sampai…
Sampai apa?
Hah?
Kamu sendiri yang bilang mau jadi siapa-siapanya ana
di tengah semua orang musuhin ana termasuk orang tua ana!
Maaf, Ran.
Ana gak bisa lanjut lagi.
Permisi.
Munafik!
Anak-anak kajian juga bakal tau kelakuan kamu!
Kalau omongan ana sama kamu diadu,
siapa yang lebih dipercaya?
Asalamualaikum.
Apakah Engkau sedang menghukumku?
Atau Engkau sedang menguji kesabaranku?
Setiap pengabdianku pada-Mu,
Engkau balas dengan kekecewaan.
Baiklah, ya Allah.
Aku ikuti permainan-Mu.
Hei, Kiran!
Kiran!
Ngapain kamu di situ?
Duh.
Mbak Ami kok gak ngomong kalau ke sini? Biasanya ngomong kalau mau ke apartemenku.
Ya mau mampir aja, kenapa memangnya?
Tuh, aku bawain bubur.
Apaan sih, ke bawah dibilang kamu lagi ke atas.
Ngapain coba?
Mbak.
Pakai ini aja, Mbak.
Ini apaan?
Ini kamera, kan?
Nggak, bukan.
Nggak, aku udah biasa lihat kayak begitu di drakor, Kiran.
Iya, iya, ini aku buang ya Mbak, udah?
Udah ya. Tuh aku buang.
Mbak Ami gak usah khawatir, oke?
Iya, tapi terus…
Itu kamera buat apa?
Apa rencana kamu?
Gak ada. Buat keamananku aja, ya.
Keamanan apa?
Ya, biar aman aja.
Aku gak kepengen kamu kenapa-napa ya.
Mbak, ayolah, aku gak kenapa-napa.
Aku cuma khawatir sama kamu akhir-akhir ini, Kiran.
Perubahan kamu.
Mbak jangan pernah menyesal aku jadi begini, Mbak.
Pilihan aku, kok.
Aku gak ngerasa apa-apa, kok.
Aku bilang aku cuma khawatir.
Apalagi klien-klien kamu itu tuh
bukan orang biasa.
Gak nyangka gua, orang kayak lu gila,
nyampe juga di tempat kafir kayak gini, ya.
Lu pada percaya gak sih,
kalau sakit hati tuh gak selalu soal cinta?
Percaya.
Buktinya patah hati sama Presiden yang dia pilih.
Kaga, dia patah hati sama si onta, siapa tuh namanya? Siapa?
Gua serius.
Siapa namanya tuh, siapa namanya? Lupa gua.
- Gua serius. - Da'arul.
Gua lagi patah hati sama Tuhan.
Gimana? Sama Tuhan, ya?
Gimana, coba ceritain.
Berat. Berat.
Dia yang salah, ya?
Salah awalnya dulu gua pernah mengabdi kepada-Nya.
Gua mengabdi.
Lama-lama gua yang jadi Tuhan.
Sini, sini, sini. Gak lucu, udahlah. Lu gak lucu, udah, udah.
Kebanyakan lu.
Sayang, Bego!
Lu gila, jangan jambak-jambaklah!
Kacangnya dimakan itu.
Pelit lu!
Kalian gak percaya, kalau manusia bisa seperti Tuhan?
Kayak gimana? Coba dong, ah, pusing banget.
Dengar, ya.
Lu bisa berproses menjadi Tuhan,
asalkan lu mau dan mencari.
"Imitatio dei eritis sicut deus."
Kamu bisa seperti Tuhan.
"Scientes bonum et malum."
Kamu bisa tau baik dan buruk lewat situ.
Itu jilbab apa kerudung suster?
Gua serius, Monyet, serius gua.
Kalau lu gak percaya, ini beneran ya?
Nih lu semua yang ada di sini, gua tantang.
Kata lu pecinta alam ya, mana?
Saya bukan, saya bukan.
Saya seniman, Bos.
Lu kan, monyet.
Iya apa, apa sih? Mau ngapain, coba?
Buat buktiin kalau kuasa manusia gak kalah sama kuasa Tuhan!
Aduh, udahlah.
Nih, bawa perlengkapan lu.
- Ikut gua. - Buset.
Ayo katanya lu laki-laki, ayo!
Kok jadi bawa-bawa…
- Apaan sih? - Katanya lu laki-laki.
- Ya apa? Kita mau ngapain? - Buat buktiin
kalau kuasa manusia gak kalah sama kuasa Tuhan!
Ya, mau ke mana?
Gunung!
- Ayo! - Wah, sakit.
Iya kacau banget ni anak.
- Iya bentar. - Ayo.
- Apaan sih? - Oi!
- Bawa. - Bawa ke mana?
OH YA? JANGAN KACAUKAN INI
Dalam kunjungan kerjanya di pesantren,
- Silakan. - Alim Suganda langsung disambut
para santri dan administratornya.
Katanya merupakan kunjungan rutin di akhir pekannya.
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Dalam kunjungan tersebut,
Pak Alim juga membagikan sembako dan alat tulis
dan beberapa kebutuhan pesantren.
Jadi, gak perlu kenalan lagi, kan.
Udah tau siapa saya.
Pak Alim.
Jangan panggil "Pak".
Panggil "Mas" aja.
Biar mereka aja yang panggil saya "Pak".
Mas Alim.
Mau rokok?
Saya mau yang lain.
Sekarang kita santai dulu.
Saya sangat beruntung bisa ada di sini sama Mas Alim.
Pemimpin yang alim,
sayang keluarga dan sayang sama rakyatnya.
Ternyata benar kata Tomo.
Kamu itu spesial.
Tomo ngomong apa?
Tomo bilang
kamu itu burung…
merak.
Eh, Bu.
Hei.
Pelan-pelan.
Apa?
Lu ketinggian?
Katanya sering naik gunung.
Ayo balik. Udah mulai gelap.
Lo di sini aja.
Hei!
Hei, turun!
Kamu jangan menghakimi saya ya?
Kamu bilang saya sayang keluarga?
Saya tau apa yang di kepala kamu.
Saya sayang keluarga saya.
Saya sayang rakyat saya!
Rakyat saya!
Kamu tau itu!
Tiada Tuhan selain Allah.
- Ya Allah, - Tiada Tuhan selain Allah.
- Ini tubuh dan jiwa yang dulu untuk-Mu. - Tiada Tuhan selain Allah.
Sekarang, mau aku ambil kembali!
Lihat!
Dengar!
Hei, turun!
- Hei, di sini! - Kiran, gak lucu, Ran!
- Hei, di sini! - Udah!
Hei, di sini!
Buktikan.
Seperti apa yang kata Tomo bilang.
Udah cukup, Kiran.
Lu jadi saksi gua! Lihat ya!
Apa sih?
Gua mau menantang Tuhan setelah selama ini gua mengabdi ke Dia.
Sadar, Kiran.
- Lihat! - Kiran!
Ini tubuhku.
Tidak!
- Bohong! - Ana ada buktinya!
Ana tidak pernah menelpon kamu walaupun sekali.
Kalian semua harus tau.
Al-Fitnatu Assyaddu minal qotl'.
Bahwa fitnah itu adalah lebih kejam dari pembunuhan.
Jiwaku akan aku basuh dengan dosa!
Aku lumuri dengan dosa-dosa
dari umat-umat-Mu yang najis itu, ya Allah.
Yang munafik itu!
Ana tau kamu takut.
Kamu gak usah khawatir.
Kamu punya ana, Ran, dan ana akan jadi siapa-siapanya kamu.
- Kita ngelakuin sama-sama, Rul. - Ana tau!
Dengar!
Hei!
Mau ke mana?
Cepat amat.
Maaf, itu punya saya.
Ya, saya tau.
Buat saya, ya? Saya suka.
Sori ya, buat yang ini.
Sebenarnya, saya gak seperti itu.
Tapi saya suka yang tidak biasa.
Buru-buru amat.
Marah, ya?
Saya bayar double deh.
Maaf, Pak, saya udah ada janji.
Janji ama siapa?
Calon nomor dua?
Iya, Bapak tau aja.
Bajingan.
Sok peduli rakyat.
Munafik lu.
Aku tau dia pasti hubungi kamu.
Sayang!
Pak Tomo.
Masih aja panggil aku "Pak". Jangan gitu dong.
Gimana tadi pilihanku?
Keren, kan?
Iya, keren.
Mas Alim tadi cerita kamu cepat-cepat pulang. Kenapa?
Kamu udah janji apa?
Kamu punya skedul apa?
Gak ada. 'Kan emang udah selesai waktunya.
Ya, tapi gak gitu dong.
Ya biar gak gampangan, 'kan.
Sayang, dengar ya.
Alim itu kandidat yang diunggulkan di periode ini.
Didukung oleh dua partai yang besar dan kalau dia menang,
kita punya apartemen yang sangat besar
dari apartemen seperti ini, iya 'kan?
Iya, ya.
Melihat kedekatanku dengan Alim,
aku kok rasanya…
Kita akan punya masa depan yang lebih cerah.
Punya apartemen besar, lebih mewah dari ini.
Sementara karirku di akademis sudah…
Gak ada lagi proyek penelitian,
gak ada lagi riset yang bisa nambah pemasukanku.
Dan rumah tanggaku juga membosankan.
Sayang.
Lagi ngerjain apa?
Gimana? Start dari awal-awal ya.
Gini, gini, gini…
Dengar aku, aku cinta kamu.
Aku gak mau kamu ada apa-apa, oke?
Aku akan melindungimu dengan hidupku.
Ya?
Hei, topeng kamu sebagai suami gimana?
Topeng aku sebagai suami gampang.
Aku tau kapan harus berhenti.
Aku tau istriku seperti apa,
dan aku tau kapan bisa bebas.
Iya, 'kan?
Hai, kamu dengarin aku ngomong gak sih?
Denger, denger, denger.
Sori, sori. Gimana? Gimana?
Aku ngomong apa kamu denger?
Iya. Kita rayain aja sekarang, ya?
Ya nanti buat start dari awal.
Oke?
Bentar.
Halo?
Ya.
Ya.
Apa?
Kenapa?
Kiran, kamu tuh ngapain?
Kiran!
Kamu gila, ya?
Jangan pernah libatin aku dalam masalah ini.
Kamu tau apa akibatnya, 'kan? Perempuan lonte!
Perasaan baru tadi ngomong cinta.
Iya, itu tadi, bukan sekarang!
Mau ke mana?
Mau ke mana?
Kiran!
Kiran!
Kiran!
Kiran!
Kiran!
- Masuk! - Kiran!
Kiran!
Anjing! Kiran!
Sakit, gak?
Mana?
Mana barang yang bikin kamu
kena masalah kayak gini?
Aku pikir…
Korek api yang kemarin?
Panjang ceritanya, Mbak.
Ya terus ini mau kamu apain?
Apa rencana kamu, Kiran?
Aku harus nuntasin ini semua, Mbak.
Buat apa?
Dulu aku puas cuma dengan membuka topeng orang-orang munafik itu.
Sekarang aku muak melihat mereka terus-menerus lolos, Mbak.
Berbuat seenaknya, termasuk nyatroni rumah Mbak Ami.
Apa hubungannya, Kiran?
Mbak Ami gak usah mikirin aku lagi.
Maafin aku, Mbak.
Ini memang jalan yang aku pilih.
Aku gak mau nyeret-nyeret orang, apalagi orangnya itu Mbak Ami.
Mbak Ami udah terlalu banyak bantuin aku.
Sudah terlalu banyak aku nyusahin Mbak Ami.
Aku mau pergi, Mbak.
Butuh satu atau dua baju ganti.
Satu atau dua potong baju ganti, Mbak.
Sisanya bisa aku cari di jalan.
Mbak?
Lho, Mbak?
Ganti.
Sebenarnya,
aku belum siap untuk meninggalkan kehidupan yang
pura-pura normal di sini.
Tapi aku gak mau kehilangan kamu.
Ganti.
Mbak Ami…
Hei!
Sini, sini.
Mana USB?
USB! Cepetan!
Ngapain, Mbak?
Udah. Tenang aja.
Mbak…
Gimana?
Lihat?
Atas?
Atau bawah?
Hei, lihat.
Atas?
Atau bawah?
Ngomong.
Ngomong.
Bisa ngomong, kan?
Bangsat!
Bawah!
Nah, gitu dong.
Kan enak.
Hei.
Kata sandinya apaan?
Kata sandinya apaan?
Kata sandi.
Apaan kata sandinya?
Titit.
Anjing.
Tadi lu bilang apa?
Apa ngomongnya?
Kenapa lu?
Sialan!
Sikat.
Pasti sering latihan ya sama istri lu?
Anjing, ngentot melulu ya?
Hei, kata sandinya apa, Lonte?
Anjing lu.
Kerjain.
Kata sandinya apa?
Gua gak tau!
Apa?
Ayo ngomong, apa kata sandinya?
Cuma segini aja bisa-Mu, ya Allah?
Aku tidak akan mati.
Akan aku buktikan kuasa kenekatan bisa mengalahkan kematian.
Halo, Bos.
Gimana nih, Bos?
Udah hampir tiga hari, gak ada jawaban nih.
Saya udah gak ada urusan lagi sama dia.
Lha, terus gimana kelanjutannya?
Silahkan lanjutin aja, terserah kamu.
Oh ya udah deh, kalau gitu maunya.
Siap, Bos.
Ceng, beli makan, ya.
Entar ah.
Udah sekarang beli sana.
Masih capek.
Sekarang ah!
Anjing lu!
Son?
Sonny?
Jadinya matinya kenapa, Bu?
- Paling overdosis. - Astagfirullahaladziim.
Overdosis?
Mereka baru menemukan mayatnya.
Sebenarnya meninggalnya karena apa?
Paling overdosis dia itu, Mbak.
Astagfirullahaladziim. Beneran overdosis?
Mbak!
Mbak!
Mbak Ami…
Allahu akbar…
Mbak Ami…
Wanita malang.
Halo?
Halo, Dik Kiran?
Aku mau memberi tahu, Dik Kiran.
Bapakmu wafat.
Kamu yang kuat ya, Dik.
Bapak apa jarang minum obat, Pak?
Iya betul, Bapakmu memang jarang berobat, sangat susah kalau disuruh berobat.
Karena katanya uangnya lebih baik dikasihkan ke Dik Kiran
untuk membiayai kuliah Dik Kiran
dan dakwah-dakwah Dik Kiran.
Dan ibumu juga bilang
Kiran gak usah dikasih tau, gak usah dikabari.
Saya heran, kok aneh, ya.
Kau tidak pernah menjawab.
Jawaban-Mu hanyalah merenggut satu per satu yang berharga dariku.
Mbak Ami, maafin aku.
Aku minta maaf karena melakukan ini padamu.
Air mata tak lagi punya guna.
Semoga berbahagia di sana.
Di alam yang tidak kutau bentuknya seperti apa.
Selamat jalan, Bapak.
Maafkan Kiran, Pak!
Selamat jalan, Mbak Ami.
Ledakan terjadi di sekitar pos polisi.
Dan menurut informasi yang beredar,
ledakan ini bersumber dari seseorang yang meledakkan diri.
Namun, belum diketahui siapa pelaku peledakan bom bunuh diri itu.
Insyaallah.
Kota kita akan maju jika dipimpin oleh orang yang tau agama.
Bicara dijaga.
Perilakunya bagus.
Pasti maju.
Ya belum pasti.
Bu, beli teh hangat satu.
- Iya, Pak. - Orang itu kalau tahu agama
bisa mempraktekkan di kehidupan sehari-hari.
Kalau kerjanya tidak bagus?
Padahal yang dibutuhkan itu pemimpin yang bisa membangun.
Bukan hanya infrastrukturnya, tapi juga masyarakatnya.
Seperti siapa?
- Pramono Alim. - Pramono Alim.
Pemimpin yang cocok untuk memimpin kota ini adalah Alim.
Ya, benar.
Ini teh hangatnya, Pak.
Itu teman-temanmu, Kiran?
Kopimu, Mas.
Bukanlah, Bu. Itu kan anak-anak kuliah, masih pada muda-muda.
Saya kan udah…
Aku pikir mereka teman-teman kamu.
Bu Marni, sebentar Bu.
Ada apa?
Gimana, ada apa?
Bu, ingat, 'kan, waktu saya pertama kali datang?
Saya bilang sama Ibu, saya gak tentu nginapnya sampai kapan.
Terus?
Sekarang saya harus pergi lagi.
Kok keburu-buru?
Ada apa?
Kamu tuh mau ke mana?
Saya harus pamit, Bu.
Maafin saya, Bu.
Terima kasih ya, Bu.
Tunggu sebentar.
Kiran.
Program kamu bagus, kamu pintar.
Tapi kenapa kamu menolak ana nikahi?
Kiran…
Kiran, ingat Mbak Ami, ya.
Jangan mudah marah.
Jangan mudah kecewa karena gak dapat apa yang kamu mau.
Kiran!
Ana mau kamu, Kiran.
Kiran, kamu masih punya ana, Kiran.
Ana akan jadi siapa-siapanya kamu.
Kiran…
Kiran…
Kiran!
Kiran!
Kiran!
Kiran!
Heh, anjing, sini lu!
- Lu nyari ini, kan? - Gak.
- Lu ngedeket, gua buang. - Gak!
Hei, denger, denger, Lonte.
Gak ada lagi yang nyari-nyari itu. Semua udah selesai.
Semua udah habis, termasuk gua.
Gak ada lagi yang nyari itu.
Sini!
Hei!
Mau ke mana, hah?
Hei, Lonte, di bawah gak ada surga, gak ada neraka.
Lu ingat klien lu yang terakhir? Alim?
Dia mengekspos bisnis gua duluan
sebelum dia yang keekspos.
Yang lain?
Lu kangen sama klien-klien yang lain, Lonte?
Sandi sudah dipecat dari DPRD, Bambang juga.
Seluruh kota sedang geger sekarang, Lonte!
Tapi Alim lu itu pintar.
Dua partai besar yang mendukung dia
bayar mahal untuk nyewa peretas.
Gua sedih, Kiran.
Kampus sudah jelas-jelas gak mau lagi berhubungan dengan gua.
Gak ada lagi proyek kemahasiswaan, gak ada lagi proyek penelitian.
Kenapa Mbak Ami harus mati?
Gua juga abis!
Lu menganggap ini gila?
Semua di kota ini udah gila!
Dari lini terbawah sampai lini terakhir, Lonte!
Apa yang lucu? Silakan lu ketawa.
Ini udah tinggal siapa percaya omongan siapa.
Kenapa?
Ini buat perhitungan gua dengan lu.
Semua udah hancur!
Lu hancur, gua hancur!
Tapi ini semua gara-gara lu!
Segini aja lu?
Segini aja lu?
Kalau semua sudah seperti ini?
Apa?
Kau tinggalkan aku di sini
sementara hamba-hamba-Mu yang munafik itu Kau biarkan selamat.
Kau dengar aku?
Kau dengar aku, ya Allah?
Kiran.
Kenapa jadi begini, Nak?
Bapak…
Anak Bapak kalau nangisnya sudah begini,
berarti sakitnya sudah beneran.
Apa sebenarnya yang kamu cari, Nak?
Sepanjang hidupku,
Kiran cuma cari ridho Allah, Pak.
Tapi Kiran justru dapat kecewa.
Kiran marah.
Marah karena kecewa itu wajar, Nak.
Tapi apakah perlu sampai menyakiti diri sendiri?
Kiran kecewa sama orang-orang soleh itu.
Mereka semua munafik.
Nak.
Ketika manusia berdoa kepada Allah SWT meminta rejeki,
Allah justru akan memberinya kesulitan.
Supaya manusia mau berusaha.
Begitu juga kalau kita meminta ridho Allah.
Allah pasti akan memberi rasa kecewa.
Supaya kita makin sabar.
Allah tau, Nak, apa yang kita butuhkan,
bukan apa yang kita inginkan.
Jangan gampang marah
karena kita gagal memperoleh apa yang kita mau.
Itu hanya akan membuat kamu lemah.
Padahal Kiran yang Bapak kenal gak seperti itu.
Kiran itu kuat.
Kiran udah salah, Pak.
Maafin Kiran udah bikin kecewa Bapak dan Ibu.
Sudah.
Jangan disesali.
Tugas kamu masih banyak.
Yang sabar. Menerima.
Selama orang-orang munafik itu masih berkeliaran,
Kiran gak sanggup menerima, Pak.
Aku mau ikut Bapak aja, ya?
Hus.
Sudah.
Tidak semua orang Islam yang kamu temui itu munafik.
Jangan penuhi hatimu dengan kemarahan.
Lepaskan semua.
Lepaskan.
Sudah ya, Nak, anak cantik.
Bapak tunggu kamu di serambi siratalmustakim.
Bapak?
Pak?
Jangan tinggalin Kiran lagi, Pak.
Bapak!
Kiran mau ikut Bapak.
Aku gak mau seperti itu, ya Allah.
Aku gak mau takut pada-Mu.
Aku mau mencintai-Mu dengan bahagia.
Dengan bebas.
Dengan rindu setiap saat tanpa ditakut-takuti neraka.
Atau diiming-imingi surga.
Tiga, dua, satu!
Kiran, aman kok.
Ini semua petugas mentor-mentor gua.
Udah biasa nangani bencana.
Lu gak lihat ada korban lain di bawah?
Gak ada, lu doang.
Jangan tidur!
Kiran, jangan tidur.
Iya.
Saudara, hari ini masyarakat Desa Rejo Jati dikejutkan
dengan adanya pasukan Densus 88
yang berhasil meringkus Jama'ah Dardariyah.
- Allahu akbar! - Jama'ah Dardariyah sendiri
merupakan jamaah yang diduga menjadi dalang
- di balik bom bunuh diri - Allah akan membalas kalian semua!
Yang menyerang Polda Kertaraja tiga minggu lalu.
Hingga berita ini diturunkan,
para petinggi Jama'ah Dardariyah telah diringkus oleh pasukan Densus 88
untuk kemudian dibawa ke aparat kepolisian untuk mendapat penyelidikan lebih lanjut.
Allahu akbar!
Allah akan membalas semuanya! Allahu akbar!
Dan menurut warga serta masyarakat yang ada di desa Rejo Jati
mengaku terkejut dengan adanya penangkapan tersebut.
Mas Alim, saya punya pertanyaan.
Bagaimana sikap Mas Alim melihat kejadian bom bunuh diri
yang baru-baru ini dilakukan oleh Jama'ah Dardariyah?
Di sini saya akan menegaskan
bahwa terorisme itu tidak memiliki agama.
Dan apabila ada orang yang mengatasnamakan agama,
orang tersebut melakukan fitnah.
Meskipun misalnya pemimpin jamaah tersebut,
Abu Darda, itu mengklaim
bahwa apa yang dilakukannya itu atas nama agama?
Amar makruf nahi mungkar, katanya.
Itu juga fitnah?
Ya, itu fitnah.
Menurut saya, semua manusia harus melakukan
amar makruf nahi mungkar dalam kehidupannya,
seberat apa pun tantangannya.
Kenapa?
Ibu sudah tau kok apa yang ingin kamu sampaikan.
Berita soal Ustad Abu Darda itu semua fitnah, Nak.
Tidak ada yang benar.
Maafkan aku, Ibu.
Dan Ibu lebih percaya kepada Pak Alim.
Sudahlah.
Cukup, ya.
- Asalamualaikum. - Waalaikumsalaam.
Katanya mau ngaji, malah bengong kamu.
Kamu terlambat.
Bu, teh tawar satu, ya?
Lihat, Pak Alim.
- Mas Alim. - Mantap!
Dia itu kemarin menang tipis.
Contoh pemimpin yang baik itu seperti ini.
Benar.
Pak, jadi, ini beberapa pertanyaan yang akan ditanyakan.
Kalau ada pertanyaan yang tidak perlu dijawab,
tidak usah dijawab.
Mbak Nana, tiga menit lagi menuju acara dilanjutkan.
Bersiap, Semuanya!
Buatin kopi, biar aku ambil alih.
Lima, empat…
Selamat malam, selamat datang di Tanya Nana.
Bersama saya saat ini adalah walikota Kertaraja terpilih.
Saya ingin mengajak pemirsa untuk menyaksikan video singkat
sosok Alim Suganda dalam kesehariannya.
Subhanallah.
Subhanallah.
Subhanallah.
Subhanallah.
Subhanallah.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.