Afrikaans
Akan
Albanian
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
DI DEPAN SMA BINA LANJUTAN
Aku tahu ini mendadak, tapi kuharap kau akan memikirkannya.
Apa semua manusia setara?
Masyarakat modern selama ini telah menyerukan kesetaraan.
Seorang bijak pernah berkata,
"Tuhan tidak menciptakan seseorang lebih mulia atau rendah dari yang lain."
Kemudian ada ungkapan,
"Manusia memang terlahir setara,
tapi perbedaannya muncul kemudian
karena tingkat ketekunan yang berbeda."
Apa pun kata orang, manusia adalah makhluk yang berpikir.
Istilah "kesetaraan" hanyalah kebohongan dan kepalsuan,
tapi juga membuat orang lelah.
Hei, bisa berikan kursimu?
Itu kursi prioritas.
Harus diberikan kepada orang tua.
Hei, nona cantik.
Aku tahu ini kursi prioritas.
Tapi hukum tak menyatakan kita harus merelakan kursinya.
Maksudmu, aku harus bangun karena masih muda?
Tidak masuk akal.
Berdiri di bus tetap melelahkan semuda apa pun aku.
Kenapa aku harus melakukan hal yang tidak berguna?
Tapi itu perbuatan baik bagi masyarakat.
Lagi pula, nenek ini kesulitan berdiri.
Aku tidak tertarik untuk melakukan perbuatan baik.
Omong-omong,
bagaimana dengan kursi selain kursiku?
Kurasa tidak penting itu kursi prioritas atau bukan.
Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.
Terima kasih.
Semuanya.
Ada yang mau memberikan kursi?
Hei, Nenek boleh duduk di sini.
Terima kasih banyak.
TURUN
Jadi, aku akan bersekolah di sini?
SMA Bina Lanjutan Metropolitan Tokyo
didirikan oleh pemerintah Jepang.
Didedikasikan untuk mendidik anak muda untuk menjadi pemimpin masa depan.
Tingkat penerimaan kerja dan kemajuan setelah lulus diharapkan 100 persen.
Silabus dibuat seluruhnya oleh negara
untuk memberi murid-muridnya masa depan paling cerah.
Hei.
Kau melihat ke arahku dari bus tadi.
Ada apa?
Maaf.
Sama sepertiku, kau tidak berniat memberikan kursimu.
Kau tidak ingin ketahuan, bukan?
Jangan bersikap seolah kita sama.
Aku tidak memberikan kursiku karena keyakinanku sendiri.
Berarti dia lebih buruk dariku.
Lupakan saja.
Ketua OSIS sekarang akan berpidato.
Aku ketua OSIS, Manabu Horikita.
Atas nama semua murid, aku ingin menyambut murid baru
yang bergabung dengan kita tahun ini.
Sekolah kita menekankan studi dan olahraga.
Selain itu, sekolah ini terkenal akan tingginya
tingkat kemajuan dan penerimaan kerja.
Aku yakin kalian semua tahu
bahwa ini semua berkat kerja keras
murid-murid terdahulu dan saat ini.
Inilah kebanggaan sekolah kita.
- Kuharap para murid baru akan terus... - Apa kami sekelas?
Sekolah ini mementingkan kualitas.
Begitukah?
Buku apa yang kau suka?
Buku apa? Mari kita lihat...
- Aku suka buku tentang percintaan. - Sudah kuduga.
Percintaan remaja lumayan juga.
Aku suka cerita detektif.
Cerita detektif?
- Terkejut? - Sangat.
Banyak yang terkejut.
Dia duduk di sampingku.
Kebetulan yang buruk.
Menurutku juga begitu.
Teman-teman, bisa minta perhatiannya?
Mari kita perkenalan diri.
Semoga kita semua bisa segera berteman.
Lagi pula, gurunya belum datang.
- Bagaimana? - Aku setuju.
Saran yang bagus.
Kau benar.
Kita bahkan tidak mengetahui nama satu sama lain.
Terima kasih, Teman-teman.
Kalau begitu, akan kumulai.
Aku Yosuke Hirata.
Panggil saja aku Yosuke.
Aku tertarik dengan segala jenis olahraga.
Aku berencana masuk klub sepak bola.
Salam kenal, Semuanya.
Pria seperti dia pasti akan menjadi tokoh utama di kelas.
Baiklah, berikutnya aku.
Namaku Kikyou Kushida.
Tujuanku adalah berteman dengan kalian semua.
Aku ingin membuat banyak kenangan indah.
Teman-teman, sertakan aku dalam acara apa pun.
- Senang berada di sini. - Tentu saja!
Dia mungkin populer di kalangan pria dan wanita.
Dia tampak seperti orang yang suka bergaul.
Omong-omong, ini bukan saatnya berkomentar.
Pengenalan diri ini akan menentukan posisiku di kelas.
- Saat masih SD, - Haruskah kubuat diriku mudah disukai?
aku ikut lomba pingpong nasional.
Aku mungkin akan ditertawakan jika melakukannya dengan bersemangat.
Tidak, mungkin aku akan dianggap aneh.
Hebat! Saat kau masih SMP?
Aku tidak punya hobi atau kehebatan yang bisa dibicarakan.
Aku seperti burung, bebas dari hal-hal duniawi.
Selanjutnya, bagaimana denganmu?
Apa?
Aku?
Baiklah.
Kurasa aku akan tampak tertarik dan memperkenalkan diri.
Ini demi kebaikan masa SMA-ku.
Aku Kiyotaka Ayanokouji.
Salam kenal.
Aku tidak punya apa pun untuk dibanggakan,
tapi aku akan berusaha untuk akrab dengan semua orang.
Gagal.
Salam kenal, Kiyotaka.
Kuharap kita bisa akrab.
Aku diejek.
Siapa selanjutnya?
Perkenalan diri bodoh apa ini?
Memangnya kita masih anak-anak?
Yang mau bisa memperkenalkan diri.
Semuanya.
Duduklah.
Ibu guru yang bertanggung jawab atas Kelas 1D, Sae Chabashira.
Di sini tidak diberlakukan pergantian kelas.
Jadi, selama tiga tahun ke depan,
ibu akan menjadi wali kelas kalian sampai kalian lulus.
Ibu akan membagikan buku panduan sekolah.
Oper ke belakang.
Sekolah kita memiliki peraturan dan tata tertib sendiri.
GARIS BESAR SEKOLAH
Pertama, akomodasi sekolah.
Kami mengendalikan hak kalian untuk meninggalkan sekolah
atau berhubungan dengan dunia luar.
Tapi jangan terlalu khawatir.
Sekolah ini menyediakan semua fasilitas dan layanan yang ada.
Kalian bisa membeli semua yang kalian butuhkan.
Ada juga layanan hiburan.
Untuk pembelian, kalian bisa menggunakan poin yang ada di kartu siswa kalian.
Kalian bisa membeli kebutuhan kalian dengan poin itu.
Poinnya akan terisi ulang pada tanggal satu setiap bulan.
Satu poin sama dengan satu yen.
Untuk bulan ini, 100.000 yen baru saja disetorkan.
Seratus ribu?
Serius?
Kalian terkejut dengan jumlahnya yang besar?
Penilaian murid di sekolah ini berdasarkan faedah.
Artinya, karena kalian telah diterima di sekolah ini,
jumlah itu mencerminkan nilai diri kalian di sini.
Terima kasih sudah mampir.
Benar-benar berfungsi seperti uang.
Satu kelas berisi 25 murid.
Ada empat kelas di tiap angkatan.
Berarti totalnya ada 300 murid.
Setiap murid mendapat 100.000 poin per bulan.
Totalnya 360 juta yen per tahun.
Meski sekolah ini dikelola oleh pemerintah...
Lagi-lagi kebetulan yang menyebalkan.
Berhentilah bersikap dingin kepadaku.
Karena duduk bersebelahan, kita harus akur.
Siapa namamu?
Tak masalah jika kau memberitahuku, bukan?
Kalau begitu, tak masalah jika aku tak memberitahumu.
Tidak mengetahui nama orang yang duduk di sampingku
agak memalukan, bukan?
Aku Suzune Horikita.
Horikita?
Nama belakangmu sama dengan ketua OSIS?
Kau hanya membeli barang murah.
Kau punya uang.
- Kenapa tidak... - Tidak perlu.
- Tapi... - Kubilang tidak perlu.
Baiklah.
Sepertinya kau kurang pandai bersosialisasi.
Kau bahkan tidak lancar bicara.
Itu benar.
Kau juga sama.
Kau benar.
Tapi aku tidak pernah berencana beramah-tamah dengan orang lain.
GRATIS TIGA BARANG SETIAP BULAN
Gratis?
Ini untuk mereka yang kehabisan uang?
Meskipun kita mendapatkan 100.000 yen per bulan?
- Sekolah ini terlalu baik. - Kalian menganggapku apa?
Kau dari Kelas 1D, bukan?
Lantas kenapa?
Kau tidak sopan.
Kami seniormu.
- Masa bodoh! - Hei.
- Dia dari kelas kita. - Masa bodoh jika kau seniorku.
Lebih baik aku tidak menodai diri dengan terlibat dengannya.
Ayo lawan aku!
Kami akan membiarkanmu hari ini.
Lagi pula, kalian orang-orang gagal menyedihkan.
Akan sangat menyedihkan jika kami mengganggumu.
Kalian kabur?
Menggonggonglah.
Kalian akan segera tahu apa itu neraka.
Neraka?
Apa-apaan!
Tidak lama setelah itu, subkelompok mulai muncul di kelas.
Kikyou, ayo makan siang.
Maaf, aku ada urusan.
Harganya hanya 80.000 yen.
Itu bukan apa-apa karena kita dapat 100.000 yen setiap bulan.
Aku juga membeli konsol gim.
Aku tertarik pada beberapa aksesori.
Kalau begitu, ayo belanja usai sekolah.
Aku ingin membeli pakaian.
Lagi-lagi, aku tidak punya teman.
Menyedihkan sekali.
Kau juga penyendiri.
Ya, karena aku suka sendirian.
Mungkin aku akan makan di kantin.
Permisi.
Kau Kiyotaka, bukan?
Ya, dan kau...
Kikyou?
Terima kasih sudah mengingat namaku.
Baiklah.
Boleh aku bicara denganmu sebentar?
Kau dekat dengan Suzune?
Tidak, kami tidak sedekat itu.
Tapi Suzune hanya bicara denganmu.
Aku ingin berteman dengan semua orang di sekolah.
Jadi, aku mencoba mendapatkan nomor kontak Suzune,
tapi dia tidak mau memberitahuku.
Katanya dia tidak mau berteman dengan siapa pun.
Memang begitulah dia.
Tapi aku sangat ingin berteman dengan Suzune.
Bisakah kau membantuku?
Meski kau meminta bantuanku...
Tidak bisa?
Pemimpin rezim Yamato disebut "Raja".
Melalui namanya, dia mengendalikan tiran lainnya.
Ini dikenal sebagai shiseiseido.
"Shi" melambangkan hubungan darah.
Nama keluarganya mengacu pada posisi atau status.
Artinya, peran atau posisimu ditentukan oleh ikatan keluarga.
Sekian untuk hari ini.
Pastikan kalian mengulas catatan kalian.
Sekolah ini sungguh memanjakan murid-muridnya.
Murid bisa tidur atau bermain di kelas
tanpa ditegur.
Apa tempat ini sungguh dikelola negara demi kemajuan pendidikan tinggi?
Kurasa mereka memercayai murid-murid mereka.
Mungkin.
Hei, jika kau mau pulang, bisa temani aku ke suatu tempat?
Apa maumu?
Haruskah ada alasan untuk memintamu?
Jika kau memberitahuku tujuannya, aku mungkin akan ikut.
Di mal ada kafe, bukan?
Biasanya tempat itu penuh wanita.
Bagaimana jika kau menemaniku ke sana?
Kenapa harus aku?
Karena aku terlalu takut untuk ke sana sendirian.
Rasanya seolah pria dilarang masuk.
Mungkin tak ada orang lain yang bisa kau ajak, bukan?
Ini memalukan, tapi benar.
Ramai sekali.
Ini juga kali pertamamu kemari?
Benar juga. Kau penyendiri.
Kau ingin berkelahi?
Kekanak-kanakan sekali.
Ada meja kosong di sana.
Menurutmu orang akan menyangka kita sepasang kekasih?
Kurasa tidak.
Membayangkannya saja
- membuatku sakit perut. - Ayo.
Suzune.
Kebetulan sekali.
Ada Kiyotaka juga.
Kalian berdua sering kemari?
Kami hanya kebetulan datang hari ini.
- Begitu. Aku datang sendirian, jadi... - Aku mau pergi.
Apa? Tapi kita baru saja duduk.
Karena Kikyou ada di sini, aku tidak dibutuhkan lagi.
Tidak, tunggu.
Kikyou dan aku hanya teman sekelas.
Bukankah kita juga?
Pokoknya,
ini membuatku kesal.
Apa maumu?
Ayolah. Ini hanya kebetulan.
Kikyou.
Ini saatnya kau berkata, "Apa maksudmu?"
Dua orang yang sebelumnya duduk di sini,
serta dua orang di meja sebelah, semua berasal dari Kelas 1D.
"Kebetulan"?
Kau sangat jeli.
Aku sama sekali tidak menyadarinya.
Kita datang ke sini seusai sekolah.
Artinya, mereka baru beberapa menit di sini.
Mereka pergi terlalu cepat.
Begini...
Maaf. Kami sudah merencanakannya.
Sudah kuduga.
Suzune, jadilah temanku!
Jangan ganggu aku.
Aku tidak akan membuat masalah untuk kelas kita.
Tapi kau akan sendirian. Itu menyedihkan.
Aku tidak pernah merasa kesepian sendirian.
Buang-buang waktu saja.
Setiap kata yang kau ucapkan membuatku jengkel.
Hei. Kau sungguh tidak keberatan?
Tidak berteman dengan siapa pun?
Kau akan menjadi penyendiri selama tiga tahun.
Sudah sembilan tahun aku seperti ini. Ini bukan masalah besar.
Akan lebih lama jika TK dihitung.
Maaf, ini semua salahku
karena menyuruhmu melakukan sesuatu yang membuatnya kesal.
Tidak, jangan khawatir.
Apakah berteman dengannya sungguh mustahil?
Aku bahkan tidak bisa mendekati teman sekelasku sendiri.
Tujuanku masih jauh.
Suzune hanya berbeda dari yang lain.
Rambutmu sangat halus.
- Benarkah? - Itu Ichinose.
Honami Ichinose dari Kelas 1B.
Kami bertemu kemarin.
Kau berteman dengan anak kelas lain?
Sebagian besar murid di Kelas B ramah.
Bukankah sekolah ini luar biasa?
Ada toko di dalam sekolah dan kita dapat 100.000 yen per bulan.
Tapi itu jumlah yang sangat besar.
Aku jadi agak curiga.
Kau juga berpikir begitu?
Karena sistem poinnya, mudah untuk menghabiskannya.
Itu mengacaukan konsepku tentang uang.
GRATIS TIGA BARANG SETIAP BULAN
Aku harus terus mengingatkan diriku untuk berhemat,
meski kita memang harus membeli kebutuhan sehari-hari
seperti sabun dan detergen.
Juga pakaian dalam.
Benar, Suzune juga sama.
Kau bahkan tahu kebiasaan belanjanya.
Kalian berdua memang dekat.
Kami hanya kebetulan berpapasan.
Dia terlalu dekat.
Begitu.
Baiklah, aku akan memercayai ucapanmu.
Tapi memang itu kenyataannya.
Seratus ribu yen per bulan...
Kebanyakan murid tidak berpikir dua kali.
Mereka hanya ingin menikmati kehidupan sekolah.
Mereka menghabiskan 100.000 yen itu seolah-olah itu uang receh.
Di kelas, guru mengadopsi sikap laissez-faire.
Mengobrol, tertidur,
terlambat, atau membolos, itu sudah biasa.
Jadi, kami berbuat semau kami, tenggelam ke dalam lubang.
Lalu tanggal 1 Mei tiba.
Apa yang terjadi?
Kau juga?
Apa?
SMA BINA LANJUTAN METROPOLITAN TOKYO
Duduklah.
Kelas pagi akan dimulai.
Bu, poinku belum disetorkan.
Bukankah seharusnya diisi ulang pada tanggal satu setiap bulan?
Tidak, uang bulan ini sudah disetorkan.
Tapi...
Poinnya sudah disetorkan.
Ibu yakin begitu.
Mereka tak mungkin meninggalkan Kelas 1D.
Tapi aku memang belum menerimanya.
- Ya. - Apa yang terjadi?
Kalian sangat bodoh.
Terlambat, tidak hadir.
Totalnya 98 kali.
Total kalian mengobrol dan memakai ponsel di kelas
adalah 391 kali.
Ini baru sebulan. Ibu harus menyampaikannya kepada kalian.
Di sekolah ini,
kinerja dan prestasi kelas tercermin dalam poin bulanan tersebut.
Hasil penilaiannya adalah
kalian telah kehilangan klaim terhadap 100.000 poin itu.
Kalian tak mendapatkan apa-apa bulan ini.
Apa itu artinya kami harus hidup tanpa uang sepeser pun?
Tidak mungkin.
Aku tidak diberi tahu soal ini.
Kalian hanya murid SMA.
Kalian sungguh berpikir kalian punya 100.000 yen
untuk dihabiskan sesuka hati setiap bulan?
Berdasarkan akal sehat, itu mustahil.
Kenapa kalian mengabaikannya padahal ragu?
Bukankah sudah ibu bilang pada hari pertama sekolah
bahwa kalian akan dinilai berdasarkan faedah kalian?
Pada dasarnya, ini berarti kalian semua
sampah yang tidak berguna.
Terjemahan subtitle oleh Annisya Handayani
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.