Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
The Judge from Hell
KARAKTER, TEMPAT, ORGANISASI, DAN KEJADIAN DALAM DRAMA INI ADALAH FIKTIF.
AKTOR ANAK DAN HEWAN DIREKAM DALAM SITUASI AMAN.
- Daon, cepatlah! Ayo pergi bersama! - Cepat, Daon!
Daon!
Han Daon!
TAHUN 1999, YEONJU-DONG
- Daon! - Daon, cepat kemari! Ayo kita bermain.
Daon.
Kepada Ibu dan Ayah yang kucintai.
Terima kasih telah menjadi orang tuaku.
Bagus.
Ibu.
Daon, lari!
Cepat!
Ke Neraka.
Benar.
Ke Neraka.
Pria itu
bukanlah pendosa.
Karena kau menghukum orang tak bersalah,
dia akan hidup kembali.
Dan kau
akan dihukum karena keputusanmu yang salah.
Justitia
harus membunuh sepuluh orang lebih banyak daripada sebelumnya.
Bunuhlah 20 orang pendosa dalam setahun
dan kirim mereka ke Neraka.
Tapi, Bael, itu terlalu banyak...
Jika kau menentang hukumannya...
kau akan kubunuh.
Apa ini?
Apa-apaan itu?
EPISODE 3
KANTOR POLISI NOBONG SEOUL
Tiuplah. Cepat.
- Serius? - Tiup saja.
Lebih keras.
Lebih keras lagi.
Lebih keras.
Dasar. Kau masih mabuk!
Sungguh. Wanita ini menusuk dan membunuhku.
Namun, jika dia menusuk dan membunuhmu,
bagaimana bisa kau masih hidup?
Ini. Kalian pasti bisa melihat bekas...
Itu bersih.
Tidak ada apa-apa.
Sekarang memang tak ada, tapi...
Tidak. Dia melakukan ini setelah menusukku,
lalu pisaunya lenyap.
Jika dilihat di sini,
denyut jantungku tidak ada selama sepuluh menit setelah aku ditusuk.
Hei.
Benarkan jam tanganmu atau berhentilah minum!
Hakim Kang.
Kau tidak salah.
Kenapa diam saja saat diborgol?
Yah...
Karena tampaknya Daon suka hal seperti ini.
Itu tidak benar.
Kalian tahu aku bukan orang seperti itu.
Meski begitu, untunglah dia tak mengikatku saat kami jalan-jalan.
Seleramu yang seperti itu?
Tidak. Kubilang itu tidak benar!
Itu hal yang wajar.
Tak masalah jika kau suka borgol atau tali ikat.
Tapi begitu kau paksakan pada orang lain,
kau akan menjadi mesum. Dasar mesum!
Yah...
Sepertinya Detektif Han terlalu mabuk.
Bisakah kau melupakan masalah ini
dan membiarkannya kali ini saja?
Tentu.
- Cepat lepas borgolnya. - Baik.
Tidak, aku...
- Maafkan kami. - Jangan biarkan dia pergi begitu saja.
Wanita ini telah menusukku.
- Sudahlah. - Terima kasih telah membebaskan Daon
dari tuntutan penyerangan langsung.
Itu bukan apa-apa.
Kuharap pengarmu lekas hilang, Detektif Han.
Sepuluh pun sudah banyak, tapi kini 20 orang dalam setahun?
Sebenarnya kenapa kau tak memastikan sebelum menikamnya?
Ini semua salahmu.
Jika kau tak menyuruhku mencari pendosa di kantor polisi,
aku tak akan hampiri dia sambil membawa daging babi.
Kenapa tiba-tiba kau menyalahkanku?
Berhentilah merengek dan pikirkan saja rencana selanjutnya.
Aku yakin aku akan mati sebelum mencapai usia 100 tahun.
Ini soda pesanannya. Apa ada yang perlu dibantu lagi?
Bisakah kau menumbuknya, lalu menggorengnya?
Oh, apakah itu untuk dibawa pulang?
Apa?
Aku hanya bercanda. Selamat makan.
Restoran ini aneh. Kita makan di tempat lain saja lain kali.
Yah, mungkin tak ada lain kali bagimu. Kurasa tidak ada.
Kalau kau terus begini, aku akan...
Bukankah kita saling kenal?
Bagaimana bisa orang yang sudah dibunuh dan dikirim ke Neraka masih hidup?
Siapa kau?
Aku? Aku harus menyajikan irisan daging babi gara-gara kau.
Aku Gremory.
Kau Kang Bitna.
Manusia yang kabur.
Sial, aku celaka.
Apa yang harus kulakukan?
Kau ingat?
Jika kau tak ingin dia tahu siapa dirimu,
ikut aku diam-diam.
Justitia.
Bicara apa kau?
Justi...
JUSTITIA
Justitia.
Apa?
Justitia?
Jangan memanggilku begitu di sini. Itu memalukan.
Tak kusangka aku bisa bertemu Justitia pahlawanku di sini.
Wah, ini suatu kehormatan.
Aku akan memberi hormat.
Hei, jangan melakukannya dua kali.
- Aku belum mati. - Benar juga.
Bisakah kau bergeser?
Aku juga diancam oleh Bael.
Jika tak berhasil memenuhinya,
maka kau akan mati.
"Kau akan mati." Astaga.
Dia selalu bersikap dramatis.
Dasar laba-laba sialan.
Meski begitu, memangnya boleh kita mengumpati atasan kita?
Andai saja aku tak melewatkan pendosa itu,
- Justitia pahlawanku... - Jangan panggil aku begitu.
Kau pasti tidak akan menderita begini.
Semua ini salahku.
Jangan berlebihan.
Baiklah.
Pokoknya, kini kau tak perlu khawatir.
Aku, Gremory... Maksudku, Lee Arong,
akan usahakan yang terbaik untuk pastikan misimu terpenuhi dan kau bisa kembali.
Bukankah kau juga harus membunuh dua orang di Uijeongbu?
Kau bahkan tak punya asisten sepertiku.
Itu mudah sekali.
Lagi pula, jika asistennya seperti ini, mungkin tak akan banyak membantu.
Bolehkah aku pulang lebih dulu?
Rasanya aku mual.
Mau kutusuk jarimu?
Tidak apa-apa. Aku sudah sembuh.
Pergilah.
Tunggu sebentar. Hei.
Bukankah usiamu baru 60 tahun?
Beraninya kau menunjukkan punggung pada seniormu.
Turunkan kepalamu.
Tangan di balik punggung.
- Lakukan yang benar. - Bangunlah.
Biarkan saja dia. Anak zaman sekarang tahu apa?
Hei, pergilah.
Omong-omong,
kau akan bagaimana dengan detektif itu?
Tentu aku tak akan temui dia lagi.
Meski begitu, bukankah sebaiknya kita memastikan dia menutup mulut?
Kita bereskan hingga bersih.
Bereskan hingga bersih?
Ya.
The Judge from Hell
SELAMAT DAN SUKSES ATAS PROYEK PEMBANGUNAN KEMBALI
Astaga. Hei!
Kenapa hari ini kau pulang sendirian?
Aku harus masuk...
Hei, kau terlihat pandai. Apa kau suka membaca buku?
ALKITAB
Nyonya, apa mungkin...
Tuhan akan menerima orang sepertiku?
Tentu saja.
Tuhan tidak membeda-bedakan umat dari penampilan.
Dia menyayangi semua orang. Mau ke gereja bersamaku?
Jika aku pergi ke gereja,
aku pasti akan masuk Surga dan bukan Neraka, 'kan?
Tentu saja.
Astaga!
Sepertinya Tuhan bicara padaku! Astaga!
Gerejanya tidak jauh. Mungkin hanya sekitar dua atau tiga menit.
Kurasa hanya dua menit berjalan kaki.
TAEOK
DISTRIK HWANGCHEON-DONG VILA HWANGCHEON
Kang Bitna.
PETISI
Ya?
Pak, Anggota Dewan Jeong datang.
- Kau sudah datang? - Hei.
Ayah mampir dengan alasan membawakanmu camilan.
Karena Ayah rindu putra Ayah.
Maafkan aku.
Tidak masalah.
Orang tua memang selalu mencintai anaknya secara sepihak.
Vila Hwangcheon masih belum beres?
Meski sudah dijanjikan kompensasi tinggi,
pemilik vila itu tetap bergeming.
Kenapa kau tidak coba membujuk para penyewa?
Sebenarnya kami sudah menghubungi semua penyewa kecuali satu orang,
tapi itu sia-sia.
Siapa satu orang itu?
Hakim Kang Bitna.
Hakim Kang tinggal di Vila Hwangcheon?
Setelah kecelakaan itu, tampaknya dia memiliki banyak utang.
PENGEMBANGAN INDUSTRI TAEOK
Bagaimana jika kau segera menemuinya?
Ayah paham.
Kalian pasti masih canggung jika bertemu berdua saja.
Jadi, Hakim Kang tinggal di sana?
VILA HWANGCHEON
KANTOR POLISI NOBONG SEOUL
Hasil analisis luka pada dahi Moon Jeongjun sudah keluar.
Sepertinya dia dicap dengan besi yang dipanaskan hingga 200 derajat.
Besi itu pasti dipesan secara khusus.
- Coba hubungi vendor terkait. - Baik.
Omong-omong, apa kalian sungguh lebih percaya wanita itu dibanding Daon?
Bukan begitu.
Bagaimana bisa kami percaya pada kata-kata pemabuk mesum?
Aku pun tak percaya Daon mati, lalu kembali hidup lagi.
Namun, aku yakin ada sesuatu yang aneh
dengan wanita bernama Kang Bitna itu.
Rasanya...
seperti dia bukan orang yang normal.
Lalu kenapa kau meminta maaf dan membiarkannya pergi?
Jika tak melakukan itu,
kurasa dia akan lebih menyulitkan Daon.
- Daon izin sakit. - Apa?
Dia tidak sakit, tetapi ada yang ingin dia pastikan.
Ingin memastikan apa?
Hasil tes kesehatanmu sangat baik.
Apa kau salah mengira karena sedang mabuk atau tertidur?
Tidak, momen itu sangat jelas dalam ingatanku.
Aku yakin aku mati hari itu.
Maksudmu, kau mati, lalu hidup kembali?
- Ya. - Baiklah. Aku mengerti.
GANGGUAN DELUSIONAL
Astaga, ini sungguh gila.
Lihatlah.
Sudah kubilang dokter itu sering salah mendiagnosis.
Jika harus kutebak,
diagnosismu dimulai dari huruf "D".
Hakim Kang.
Apa identitasmu sebenarnya?
Ini mungkin membingungkan, tapi dengar baik-baik.
Aku datang dari Neraka.
Aku merasuki tubuh Hakim Kang Bitna yang sudah mati tiga bulan lalu.
Aku adalah iblis.
Kau ingin aku memercayai itu?
Memang benar pagi ini kau sempat mati.
Aku menusukmu dengan ini.
Tak ada kamera pengawas
maupun saksi.
Kartu memori kamera dasborku juga sudah kulepas.
Dan kau tak bisa merekamku diam-diam.
Lalu kenapa kau membunuhku?
Bagaimana dan kenapa aku masih hidup?
Lalu apa-apaan pisau dan matamu tadi?
Tidak. Apa yang terjadi dengan kamera pengawas itu?
Tenanglah. Tanyakan satu per satu.
Katakan. Apa kau berencana membunuhku saat datang menemuiku semalam?
Itu bukan rencana, melainkan kecelakaan.
Bisa dibilang aku sedang di bawah pengaruh alkohol.
Hentikan omong kosongmu!
Kau memang menggemaskan, Detektif Han.
Ingat ucapanku baik-baik mulai kini.
Hiduplah dengan tenang seolah tak terjadi apa pun.
Jika kudengar kau berkata bahwa Kang Bitna membunuhmu,
kau akan benar-benar kubunuh.
Lagi pula, tak akan ada yang memercayaimu.
Jadi, jangan buang-buang tenaga.
Senang berurusan denganmu,
Detektif Han Daon.
Sialan!
HAKIM KANG BITNA
IBLIS
Lagi pula, tak akan ada yang memercayaimu.
Jadi, jangan buang-buang tenaga.
Nak, ucapanmu berbeda dari sebelumnya.
Aku tidak terlalu ingat waktu itu.
Tapi sekarang sudah lebih ingat.
Jadi, seberapa banyak yang kau ingat?
Bagaimana mungkin kita percaya pada anak yang ceritanya selalu berubah?
Akhiri saja dan suruh dia pulang.
Aku harus mulai lagi dari awal.
Sial.
Ketika berada di bawah tekanan tinggi, seseorang bisa saja
mengalami gangguan delusional sementara.
Di sini bau.
Mungkin bau alkohol dari Ayah. Mau buka atap mobilnya?
Sebentar lagi baunya pasti akan hilang.
- Jiho, kau tidak apa-apa? - Keluar.
- Jiho! - Cepat! Kau dan Jiho keluar lebih dulu.
Cepatlah. Kau dan Jiho dulu.
Ayah!
- Ayah keluar setelah kalian. - Aku mau bersama Ayah.
Ikut ibumu. Cepat.
- Ayah. - Tidak apa-apa. Cepat pergi!
- Aku mau bersama Ayah. - Cepat! Keluar!
Cepat bangun!
Ikut kami, Ayah!
Ayah...
Cepat. Naik ke atas!
- Naiklah, Jiho! Cepat! - Jiho, berdiri! Pegang tangan Ibu.
Jiho, cepat!
- Ayah. - Bagus.
- Hyeonsu! - Dad!
Cepat keluar!
Hyeonsu!
Bawalah Jiho. Cepat!
- Cepat! - Ayah!
- Ayah. - Cepat pergi!
Ayah.
- Ayah. - Pergi!
Jiho.
Jiho.
Jiho, kau tidak apa-apa?
Jiho... Kau tidak apa-apa?
Jiho. Tetaplah di sini dan jangan ke mana-mana. Mengerti?
Tunggu di sini.
- Ayah! - Hyeonsu.
Hyeonsu!
- Hyeonsu! - Ayah!
Permisi! Tolong!
Tolong selamatkan suamiku!
Tolong selamatkan suamiku!
Kumohon tolong suamiku!
Tolong selamatkan suamiku!
Tolong...
selamatkan suamiku.
Kau membunuh Hyeonsu-ku! Dasar pembunuh!
Kembalikan putraku, wanita jalang!
Buat putraku hidup kembali!
- Tenanglah. - Dasar jalang!
- Ayo pergi. - Ikutlah bersama Nenek.
Jangan Jiho. Akan kuberikan semua uangku.
Namun, jangan bawa Jiho. Dia putraku.
Kenapa? Belum cukup membunuh putraku,
sekarang kau ingin bunuh cucuku juga?
Serahkan dia padaku!
Lepaskan aku!
Lepaskan!
Dasar pembunuh!
Kenapa tak kemari? Cepat pakai sepatumu!
- Tolong tenang dahulu. - Tenanglah.
Pada 19 Februari 2024, terdakwa membawa korban, Yoo Jiho,
keluar dari rumah Bae Jayeong, wali dari korban,
dan belum membawanya kembali hingga saat ini.
Apakah Anda sadar
bahwa itu termasuk penculikan anak di bawah umur berdasarkan Pasal 287 KUHP?
Pak Jaksa, apa kau punya cucu?
Pasti belum.
Itu sebabnya kau menyebutku bertindak kriminal dan segala omong kosong itu.
Yang Mulia, ini persidangan pertama terdakwa,
jadi, dia cukup bersemangat. Bolehkah kami...
Aku bukan bersemangat.
Aku hanya mengatakan hal yang perlu.
Hei, Bu Pengacara.
Seharusnya kau membelaku.
Kenapa malah berusaha membungkam?
Kalau begitu, kembalikan semua uangku!
Terdakwa, jika terus membuat keributan, Anda akan dikeluarkan dari sini.
Begitu rupanya.
Hakim, jaksa, pengacara, dan guru
semuanya bersatu ingin melawanku?
Dengar, Bu Hakim.
Coba kutanya padamu.
Cucuku hidup
bersama ibu tiri jahat setelah ayahnya, yaitu putraku, meninggal.
Jadi, aku ingin membesarkannya!
Apa aku harus dituntut karena itu?
Kau hakim yang pintar, jadi, pasti bisa menjawabku.
Secara hukum, Anda bisa dituntut.
Hukum macam apa
yang bisa memperlakukanku seperti kriminal?
Karena itu, kami mencoba untuk memutuskan apakah Anda bersalah atau tidak...
Kau masih tidak paham?
Sebenarnya kau hakim atau penipu?
Atau apa kursimu terlalu tinggi hingga tak bisa melihat posisiku?
Kalau begitu, turunlah dan lihat baik-baik.
Terdakwa, Anda ingin dihukum karena menghina persidangan?
Hukum saja!
Aku kehilangan putraku. Tak ada lagi yang kutakuti!
Kalian anak-anak muda memang tak tahu apa-apa.
Beraninya kau mengancamku!
Apa semua hakim seperti itu?
Kita akhiri pembelaan dari terdakwa.
Bawa dia keluar.
Apa? Apa-apaan ini?
Lepaskan aku. Apa yang kalian lakukan?
Aku bisa jalan sendiri. Singkirkan tangan kalian.
Lepaskan.
Lepaskan aku!
Kau sudah membunuh suamimu.
Beraninya kau datang ke sini!
Mati kau, jalang!
Kau juga pergi dan mati saja!
- Astaga, tenanglah. - Dasar jalang...
Kau mengambil uang asuransi setelah putraku mati.
Lalu pria yang bersamamu sebelumnya
juga mati tiba-tiba, dan kau mendapatkan apartemennya.
Kau akan mendidih di Neraka!
Kau membunuh Hyeonsu-ku, dasar pembunuh!
Lepaskan aku! Lepaskan!
- Dasar pembunuh! - Kumohon.
Lepaskan!
Ini hebat.
Mantan suaminya juga mati!
Apa?
Sepertinya demi uang asuransi.
Benarkah?
BAE JAYEONG
Aku ragu orang seperti dia membunuh suaminya demi uang asuransi.
Kau pikir ada tulisan "Iblis" di dahiku?
Lihat aku. Aku tampak sangat baik hati.
Kita tidak bisa pilih-pilih sekarang.
Kita harus menggali semua kemungkinan.
DETEKTIF HAN
Kurasa aku harus bertemu Bae Jayeong sendiri.
Aku pergi dulu.
Hakim Kang!
Ini Detektif Han Daon dari Kantor Polisi Nobong.
Bisakah kau mendengarku?
Ini Han Daon!
Ayo kita bicara!
Hakim Kang Bitna!
Yang benar saja.
Kita harus bicara!
- Makan di sini saja, kenapa di luar? - Menu hari ini ikan rebus.
Astaga. Ayo kalau begitu.
Apa?
Apa Hakim Kang juga tak suka ikan rebus?
Kurasa bukan karena itu.
Mau makan siang apa? Kau suka apa?
Kusuruh kau tutup mulut, tapi kau malah memakai megafon.
Kau mengabaikan panggilanku.
Kenapa kau berani sekali?
Kau punya banyak nyawa?
Hanya satu, tapi sudah diisi ulang.
Sadarlah. Sudah kubilang aku ini iblis.
- Kau sudah lupa apa yang kau lihat? - Tidak.
Tolong beri aku kesempatan
untuk mencari tahu siapa dirimu dan alasanmu melakukan itu padaku.
Mari bertemu sepekan saja.
Jangan bicara omong kosong dan enyah saja dari sini.
Karena kesabaranku tak bisa diisi ulang.
Ada orang asing di jalan yang memberi kalian permen.
Dia terlihat seperti orang baik.
Bolehkah kalian ikut dengannya?
- Tidak. - Tidak.
Benar. Kalian tak boleh ikut pergi dengan orang asing.
- Baik. - Baik.
Bu Guru!
Ada orang asing yang terus melihat ke sini.
KAPAN KELASMU SELESAI?
Apa alasanmu tidak menuntutnya setelah dipukul seperti itu?
Kau juga melihatnya.
Semakin diprovokasi, mertuaku akan semakin menakutkan.
Orang seperti itu membawa anakmu. Kenapa kau membiarkannya?
Aku ingin beri dia waktu berpamitan.
Aku akan bawa putraku kembali begitu sidang selesai.
Kurasa kau sangat sabar karena bisa mengajar murid kelas satu.
Tolong tendang bolanya ke sini!
Gol!
Omong-omong, kenapa kau menemuiku?
Aku baru ingat. Di persidangan, mertuamu menyebut
bahwa kau membunuh suamimu demi uang asuransi.
Jiho merupakan muridku tahun lalu.
Begitu tahu bahwa ibunya meninggal karena sakit saat dia berusia dua tahun,
aku mulai lebih memperhatikannya
dan mulai sering bicara dengan ayahnya...
Rupanya kau jatuh cinta.
Benar.
Pernikahan itu lebih membahagiakan
daripada yang kubayangkan.
Setidaknya sampai kecelakaan itu terjadi.
Kalian kecelakaan enam bulan setelah menikah, 'kan?
Entah apa dosaku sampai harus mengalami hal seperti ini lagi.
Aku sudah tak ingin hidup.
Kenapa kau bersikeras ingin membesarkan anak itu?
Mertuaku pergi
meninggalkan suamiku saat dia berusia lima tahun.
Dia menelantarkan anaknya?
Lalu dia muncul 30 tahun kemudian
dan sering meminta uang pada suamiku.
Lalu kini dia menuntut agar memiliki asuransi kematian atas nama Jiho.
Dia mengambil Jiho demi uang asuransi. Aku tak bisa membiarkannya.
Meski bukan aku yang melahirkannya,
Jiho adalah putraku.
Tolong kembalikan Jiho padaku, Hakim Kang.
Kau sudah selesai bicara dengan Bae Jayeong?
Kau penguntit?
Jika aku penguntit, apa kau pembunuh?
Kubiarkan kau datang ke persidangan dan menggunakan megafon.
Kupikir kau mungkin tak punya rasa takut karena baru kembali dari kematian.
Tapi kini aku tak tahan lagi. Mati saja kau.
Kau tak bisa membunuhku.
Saat kita bertemu di depan rumah Moon Jeongjun,
kau memegang pergelangan tanganku seperti ini.
Namun, genggamanmu lebih kuat saat itu.
Barusan aku hanya mengalah padamu.
Tidak. Kau pasti punya alasan tidak bisa membunuhku.
Tidak. Kau salah.
Aku benar. Kau terkejut.
Mau kutunjukkan apa yang bisa membuatmu terkejut?
Itu kakak yang tadi.
Kau selamat karena anak-anak itu.
Masuklah. Akan kuantar kau pulang.
Jangan mengajakku bicara. Aku lelah.
Namun, dia masih sanggup menjawab.
- Kubilang aku lelah. - Itu sebabnya kau kuantar pulang.
Sebagai detektif, akan kupastikan kau pulang dengan selamat.
Aku mencoba menyelidiki Bae Jayeong.
Rupanya kau bangga bisa menyalahgunakan kekuasaan.
Suami pertamanya tiba-tiba buta dan tewas karena terjatuh di gunung.
Bu Bae mewarisi apartemennya dan dapat uang asuransi 500 juta won.
Nominal asuransi kematian Yoo Hyeonsu belum lama ini adalah tiga miliar won.
Bu Bae dan putranya, Yoo Jiho,
masing-masing akan menerima 1,8 miliar dan 1,2 miliar won.
Apa alasanmu memberitahuku soal itu?
Aku harus buktikan diriku berguna agar kau mau meluangkan waktu.
Kau tidak sibuk?
Seseorang menusukku hingga mati, jadi, aku izin sakit.
TOLAK PEMBANGUNAN ULANG HWANGCHEON-DONG! DARI SEMUA PENGHUNI VILA HWANGCHEON
VILA HWANGCHEON
Kau akan menemui Jang Sunhui, 'kan?
Tidak. Untuk apa?
Saat kasus Moon Jeongjun,
kau juga menemui orang tua dari pihak korban dan terdakwa.
Meskipun kau baru menemui orang tua Moon setelah persidangan.
Pada kasus kali ini,
kurasa kau penasaran apakah terdakwa menyebut Bae Jayeong
membunuh suaminya demi uang asuransi
hanya karena dia membenci Bae Jayeong atau karena bukti itu
tidak ada dalam penyelidikan.
Tidak. Aku sama sekali tak penasaran.
Kurasa kita berdua ingin tahu kebenarannya.
Kau ingin tahu kebenaran dari kasus ini,
dan aku ingin tahu kebenaran
tentang siapa dirimu dan kenapa kau membunuhku.
Sudah hampir 100 kali kau membahas itu.
Astaga.
Astaga, sungguh...
Aduh, bahuku.
Omong-omong, apa kita akan dapat jawaban jika bicara dengan nenek itu besok?
Menurutku, nenek itu cukup aneh.
Dalam Alkitab, ada ayat seperti ini.
Matius 7:7,
"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu.
"Carilah, maka kau akan mendapat.
"Ketuklah, maka pintu akan dibukakan untukmu."
Masih terlalu awal untuk menyerah.
Jika mengetuk pintu nenek itu, kita pasti akan dapat sesuatu.
Tapi apa kau juga wajib belajar Alkitab?
Mungkin begitu.
Aku berjuang keras saat itu.
Alkitab begitu panas dan menyilaukan.
Aku harus mengenakan sarung tangan pemadam dan kacamata las untuk membacanya.
Kacamata las?
Rupanya ada cara itu.
Omong-omong, kenapa matamu merah?
Kau melihat sesuatu yang aneh?
Tidak.
Ini radang mata parah.
Pasti membaik setelah beberapa hari.
Aku baru ingat. Besok aku ikut denganmu, jadi, tak bisa istirahat.
Tidak usah. Lagi pula, kau tak membantu.
Sungguh? Tapi...
bagaimana jika Detektif Han mengikutimu lagi?
Besok dia tak akan bisa mengikutiku.
Hakim Kang.
Kenapa kau lama sekali?
- Mau pergi sekarang? - Sejak kapan kau menunggu?
Sejak semalam.
Apa kau tahu The Screwtape Letters?
Ternyata dia adalah iblis. Iblis!
Masuklah.
Aku serius menanyakan ini. Apa kau sudah gila?
Sekalipun kau tak mau masuk mobilku, aku akan mengikutimu.
Jadi, anggap saja aku sopirmu dan ayo kita pergi bersama.
- Baiklah. Ayo kita pergi. - Bagus.
Tapi sebelum itu...
aku akan bereskan ini.
Itu...
Alat perekam rahasia? Sungguh tidak keren.
Kenapa kau sembrono sekali?
Camilan, bensin, dan biaya tol.
Kau akan bayar semuanya, 'kan?
Ini aneh sekali.
KUE KACANG KENARI
Kau melepas salib itu.
Aku ingat kau tak bisa melihatnya.
Jangan berpura-pura peduli.
Kau tidak takut padaku?
Tidak. Sama sekali tidak.
Kau memang sulit diajak bicara.
Kau pasti sering dimarahi orang tuamu dulu.
Bagaimana denganmu?
Aku tak pernah dimarahi.
Karena iblis tak punya orang tua.
Apa? Kau tak percaya?
Keyakinan tidak hanya ada di gereja.
Kau juga butuh keyakinan saat bertemu iblis.
Namun, tak ada bukti bahwa kau iblis.
Percaya jika ada bukti bukanlah keyakinan, tetapi konfirmasi.
Justru aku mengikutimu begini karena ingin melakukan konfirmasi.
Coba lihat aku.
Astaga!
Hei...
Apa kau dapat konfirmasi?
Apa kini kau sudah percaya?
Aku memang dapat konfirmasi,
tapi aku enggan percaya.
Namun, mau tak mau kau percaya bahwa aku iblis, 'kan?
Aku tak ingin, tapi mustahil tak percaya.
Apa kau puas?
"Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."
KEDAI PELABUHAN SUNHUI
Omong-omong, kau sudah kabari dia?
Dia mungkin terkejut kita datang tiba-tiba.
Kita harus datang tiba-tiba untuk tahu kebenarannya.
Bagaimana bisa kau jadi detektif tanpa tahu hal itu?
Apa?
Duduklah.
Apa kau ingat aku?
Aku Detektif Han Daon dari Kantor Polisi Nobong.
Kalian kemari untuk menangkapku atas tuntutan menghina persidangan?
Tentu tidak. Dia sopirku.
Di mana anak itu?
Di panti asuhan karena mereka bilang aku tak bisa mengasuhnya.
Setelah putramu kau telantarkan, kini cucumu juga.
Aku harus memastikan sendiri apa benar kau menelantarkannya atau tidak.
Kenapa jika dia tak di rumahku?
Kalau begitu, pukul saja aku. Kulihat kau pandai memukul orang.
Semuanya, pergilah dari sini!
Aku tutup hari ini!
Kenapa? Kami masih belum selesai.
- Aku masih makan. - Apa-apaan ini?
Kau tak berniat jalan lebih cepat, ya?
Lurus saja, pintu biru paling depan.
Sopir Han?
Lurus saja, pintu biru paling depan.
Yang benar saja.
Sekalipun kau iblis, tak bisakah kau menghormati orang tua?
Aku 500 tahun lebih tua darinya.
Berhenti mengomel dan buka saja kuncinya.
Kepada Ibu dan Ayah yang kucintai.
Terima kasih telah menjadi orang tuaku.
Bagus.
Minggirlah kalau tak mau masuk.
Masuklah.
Dia sungguh tak ada di sini?
Dia tidak ada?
Lihat? Dia tak di sini.
Hentikan dan keluarlah. Mau kupukul dengan apa kau?
Kau membiarkannya di sana sepanjang hari?
Ini kekerasan terhadap anak.
Untuk apa aku melakukan kekerasan pada cucuku?
Aku hanya menyuruhnya sembunyi sebentar.
Pantas saja kau menutup kedaimu.
Kau memberinya peringatan.
Kau takut kami membawanya?
Untuk apa lagi seorang hakim datang bersama detektif?
Aku kemari bukan karena anak itu.
Lantas kenapa kemari?
Untuk makan sashimi?
Kau berkata di persidangan
bahwa Bu Bae membunuh mantan suaminya dan putramu
demi uang asuransi.
Katakan saja jika ada bukti yang belum kau serahkan pada polisi.
Akan kupastikan kau diperlakukan adil.
Tentu saja ada.
Di mana buktinya?
MENDIANG YOO HYEONSU
Pada hari pemakaman putraku...
dia bercumbu dengan pria lain,
padahal masih memakai pakaian duka.
Dasar jalang!
Lalu tiga hari kemudian...
Kenapa tak nyalakan lampu?
Gelap sekali di sini.
Dia memesankan anak ini makanan, memberinya uang 5.000 won,
dan tak pulang selama dua hari.
Kenapa kau tak bilang pada nenek?
Apa-apaan ini? Rumahmu sudah seperti pembuangan sampah.
Masukkan semuanya ke sini.
Ambil yang ingin kau bawa.
Akan nenek kemasi bajumu.
Dasar jalang gila.
Dia membeli baju bagus untuk dirinya,
tapi tak belikan anaknya baju yang layak.
Bagaimana bisa kutinggalkan cucuku pada jalang seperti itu?
Kita tak pernah tahu ke depannya.
Aku yakin
dia membunuh putraku.
Itu buktinya?
Tidak ada bukti yang lebih jelas dari ini.
Tak ada lagi yang bisa kutemukan. Ayo pergi.
Bisakah kau ceritakan lebih jelas tentang kompensasi kematian putramu?
Hei.
Berikan kunci mobilnya. Aku pergi sendiri.
Naik taksi saja.
Kau sudah gila? Berapa ongkos taksi dari sini?
Ada apa? Kepalamu sakit lagi?
Pergilah jalan-jalan sebentar.
Jiho, kau juga ikutlah. Dia akan membelikan camilan.
Sialan.
Yang benar saja.
Apa rasanya enak?
Ya.
Semua yang gratis memang enak.
Omong-omong, kenapa nenekmu begitu pemarah?
Nenekku baik.
Ya, benar.
Penilaianmu itu tentu saja tak objektif.
Omong-omong,
apa orang baik sungguh akan masuk Surga setelah mati?
Entahlah.
Bibi belum pernah menjadi baik atau mati, jadi, tidak tahu.
Kenapa kau menanyakan itu?
Aku penasaran di mana ayahku sekarang.
Di mana lagi? Tentu saja di makam.
Semua manusia pasti akan mati.
Bahkan Bibi bisa mati kapan saja saat hidup di dalam tubuh manusia ini.
Bibi akan menderita jika terluka
dan jika mati, jiwa Bibi tak akan ada lagi di tubuh ini.
Kau pasti tidak paham maksud Bibi, 'kan?
Omong-omong...
Tadi Bibi bertanya apakah ada bukti
bahwa ibu tiriku membunuh ayahku.
Jika ada buktinya, apa yang akan terjadi pada ibu tiriku?
Tentu dia akan dihukum.
Namun, buktinya tidak ada.
Bibi, apa Bibi mau lihat gambaranku?
Tidak.
Jelek sekali.
Itu wajar karena kau masih kecil.
Teruslah menggambar.
Hei, Nak. Apakah ini
kau dan ibu tirimu?
Jadi, dia menyuruhmu merahasiakannya, ya?
Apa kau juga mau mencoba ini dengan Bibi?
ORANG ASING DILARANG MASUK
Aku tak peduli tentang kompensasi kematian putraku.
Aku takut pada iblis itu.
Dia serakah terhadap uang dan bisa saja melukai cucuku.
Jadi, aku hanya meminta
uang itu ditinggalkan atas nama Jiho.
Kupikir jika aku mengambil cucuku,
dan mencegahnya menggunakan uang itu,
cucuku akan aman. Itulah alasanku melakukannya.
Jiho! Para tamu kita harus pergi.
Akan kubawakan beberapa telur dan kentang rebus.
Makanlah di perjalanan.
Tidak perlu.
Jiho, apa yang kau lakukan?
Kau berbuat apa pada Bibi?
Aku yang menyuruhnya.
Apa?
Hei, Nak.
Bisakah kau ceritakan apa yang terjadi pada hari ini?
PEREKAT BERBAHAN AIR
Di sini bau.
Mungkin bau alkohol dari Ayah. Mau buka atap mobilnya?
Sebentar lagi baunya pasti akan hilang.
Hei! Bangunlah!
Cepat bangun!
Naiklah, Jiho!
Aku mau bersama Ayah.
Ayah akan segera menyusul. Tidak apa-apa, naiklah.
Tidak apa-apa. Cepat pergi!
- Ayah. - Tidak apa-apa.
Tinggalkan ayahmu dan cepat naik.
Ayah.
Sialan. Airnya masuk ke telingaku.
Ayah!
Ayah!
Ayah!
Ayahku masih belum keluar.
Tolong selamatkan dia!
Mulai sekarang, kau harus menuruti kata Ibu.
Jika tak mau menuruti Ibu,
dia akan kubunuh.
Ayah!
Diamlah!
Tolong selamatkan ayahku!
Jiho, kau juga ingin mati?
Apa ibu tirimu bilang
dia akan membunuhmu jika tak menurutinya?
Nenekku.
Ayah.
Kemarilah.
Aku rindu ayahku.
Paman.
Kau akan laporkan kekerasan anak dulu, 'kan?
Lalu lakukan investigasi ulang untuk kematian Yoo Hyeonsu.
Tentu aku akan lakukan segala yang kubisa,
tapi semua akan percuma.
Jika satu-satunya bukti kasus adalah pernyataan anak kecil,
dan anak itu mengubah pernyataannya setiap kali diinterogasi,
siapa yang akan percaya?
Aku percaya.
Bagiku, kau sangat mengganggu dan menyebalkan,
tapi seandainya kau muncul di hadapanku sebagai anak kecil,
aku akan percaya semua yang kau katakan.
Kenapa? Karena kau anak kecil.
Anak kecil memang susah diatur, tapi mereka tidak licik.
Jadi, aku percaya semua yang anak-anak katakan.
Sekalipun itu kau.
Kenapa menatapku seperti itu?
Seharusnya kau malu.
Kau seorang detektif. Tak boleh mengabaikan anak kecil.
Kasus nomor 2024GoDan174.
Saya akan bacakan putusannya.
Terdakwa, Jang Sunhui, telah melakukan kejahatan
penculikan anak di bawah umur berdasarkan Pasal 287 KUHP.
Namun, korban menghubungi terdakwa terlebih dahulu
dan meminta untuk mengunjungi terdakwa,
lalu mengungkapkan keinginannya untuk tinggal bersama terdakwa.
Mempertimbangkan hal ini, pengadilan memutuskan sebagai berikut.
JAKSA PENUNTUT
Hukuman
terhadap terdakwa Jang Sunhui
akan ditangguhkan.
Apa yang akan terjadi padaku?
- Aku akan dipenjara? - Tidak.
Jika Anda tidak melanggar hukum selama dua tahun ke depan,
Anda tidak akan dihukum atas tuntutan ini. Begitulah maksudnya.
Itu putusan teringan yang diberikan oleh hakim.
Benarkah?
Terima kasih!
Terima kasih!
Namun, hak asuh dan perwalian korban
tetap berada di tangan pengawas perlindungan.
Anda harus berdiskusi dengan Bu Bae Jayeong
untuk menentukan siapa yang akan membesarkan korban.
Tapi itu...
Pergi! Pergi kau!
Ini konyol sekali!
Kembalilah. Aku tak akan serahkan Jiho padanya. Tidak akan!
Aku pergi saja sekarang. Aku tak ingin membuatnya takut.
Ya, pergi saja kau, Pembunuh!
Aku tak ingin melihat wajahmu lagi.
Dasar jalang munafik!
GINSENG MERAH
Kenapa kau tak mendengarkan Ibu dan berbohong?
Maafkan aku.
Berbohong membuatmu jadi anak nakal.
Anak nakal tentu harus dihukum.
Permainan bantal sudah membosankan, ya?
Haruskah kita bermain yang lain?
Ibu akan melihat seberapa lama kau bisa menahan napas dalam air.
Jangan naikkan kepalamu sebelum Ibu menyuruh berhenti.
Ini seru, bukan?
YOO JIHO
Jika kau tak menuruti kata Ibu, Ibu akan membunuhmu.
Bu Bae?
Bu Bae, apa kau di dalam?
Bu Bae! Ini Detektif Han Daon.
Jiho, apa kau di dalam?
Dia mati.
Kenapa kau begini?
Di mana Jiho?
Dia aman di rumahku.
Berbohong membuatmu jadi orang dewasa yang nakal.
Dan orang dewasa yang nakal
tentu harus dihukum.
The Judge from Hell
Di mana Jiho?
Jika kau tak mendengarkan Ibu, Ibu akan bunuh nenekmu.
Jiho! Yoo Jiho!
Apa kau mengakui dosa-dosamu?
- Dosa? Dosa apa? - Tersenyumlah. Aku mengajakmu bermain.
Aku akan pergi lebih dulu. Cepat ikuti aku.
Tolong! Kumohon tolong aku!
- Gehenna. - Tandanya sama seperti yang di dahi Moon.
Ada satu kesamaan lagi di antara kedua kasus itu.
Ada detektif yang ingin menemuiku?
Aku tak akan mengusikmu lagi.
Kenapa? Silakan penasaran lagi tentang aku dan ganggu saja aku.
Jika seandainya iblis jatuh cinta, apa yang akan terjadi?
Kematian.
Kau akan menghadapi hukuman yang lebih buruk dari kematian.
Kau senang Bae Jayeong mati, 'kan?
Sungguh bukan kau yang membunuhnya?
Selamat tinggal.
Diterjemahkan oleh Meidinna Fitrie Lestari
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.