Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
PERJALANAN DARAT INGATLAH, KAU BERMIMPI
BERDASARKAN NOVEL RESPATI KARYA RAGIEL JP
Respati…
Anakku yang baik.
Bangun, Nak.
Ibu titip rumah.
Bu.
Ayo.
Ibu?
Ibu?
Bapak?
Ibu?
Pak?
Respati…
Astaga!
Buka!
Siapa kau?
Pergi!
Tolong Ibu, Nak.
Nak, tolong Ibu.
Tolong Ibu, Nak.
Bu…
- Tolong, Nak… - Ibu.
Nak, tolong Ibu.
Ibu?
Respati.
Tolong, Nak…
Bapak?
- Ibu? - Tolong, Nak.
- Respati! Tolong Ibu, Nak. - Ibu!
- Tolong… - Ibu.
Bapak! Ibu!
Bapak, Ibu!
Bapak, Ibu!
Kenapa?
Kenapa kau tidak mati bersama mereka?
Telah ditemukan seorang ibu tewas di kamarnya dengan luka cekikan di leher.
Sang anak mendapati ibunya tidak sadarkan diri
ketika dia ingin pamit berangkat sekolah.
Ini adalah kasus kedua setelah belum lama ditemukan
seorang warga lainnya yang tewas dengan kondisi serupa.
Saat ini polisi setempat masih mendalami
kasus yang menggemparkan ini.
Nak, tolong Ibu.
Tolong Ibu, Nak.
Tolong, Nak.
Itu bukannya Kanya?
Aku sudah bilang, Yu.
Instingku itu tidak pernah salah.
Bagas belum merelakannya.
Kau ini mengeyel.
Percuma lelaki semacam ini kau pertahankan.
Cari yang baru.
Misalnya…
- Apa? - Mulutmu!
Ini
- Terima kasih, ya. - Sama-sama.
Bagaimana insomniamu?
- Kau sudah lihat ini? - Belum.
Mereka semua ditemukan seperti ini,
padahal malamnya tidak ada apa-apa.
Gosip-gosipnya,
mereka habis mimpi bertemu orang yang sudah mati.
Kau tahu mitos yang mana, 'kan?
- Selamat pagi, Anak-Anak! - Selamat pagi, Pak.
Baik, mohon perhatiannya sebentar.
Hari ini kita kedatangan murid baru dari Jakarta.
Silakan masuk, Wulan.
Silakan perkenalkan dirimu kepada teman-teman.
Nama gue…
Namaku Wulan. Salam kenal.
Halo, Wulan.
Kau bisa duduk di belakang.
- Terima kasih, Pak. - Ya.
Baik, kita lanjutkan pelajaran dan materi yang kemarin, ya, mengenai…
Kok dia memperhatikanmu terus, Re?
Kau pernah bertemu dia di mana, begitu?
Anak-Anak, kalian harus tahu apa itu eksponen dan logaritma.
Untuk eksponen itu sendiri, yang sudah kalian pelajari kemarin,
kalian harus paham mengenai sifat-sifat, fungsinya, dan…
Ayo lari!
Aku sudah cari tahu latar belakang perempuan aneh itu.
Dia dikeluarkan dari sekolah lamanya karena sering sekali kesurupan.
Mengganggu murid-murid lain.
Orang aneh.
Lihat itu!
Sepertinya dia memang tak ingin punya teman.
Dari tadi sendirian.
Lari! Lari terus!
Aku duluan, ya.
- Ada apa, Eyang? - Di mana kau?
Ini Eyang sudah mau sampai rumah sakit.
Aku baru pulang sekolah.
Ya sudah, cepat ke sini biar pulangnya tidak kemalaman.
Kita sudah buat janji dengan dr. Lesmana.
Kau tidak mau insomniamu cepat sembuh?
Apa yang kau rasakan selama beberapa minggu belakangan ini, Re?
Kok diam saja? Jawab, Nak!
Eyangmu bilang
kalau kau masih sering terbangun setiap malam, ya?
Bukan sering lagi, Dok.
Ya, ini obat yang kuberikan kepadamu
memang bisa mengurangi keluhannya.
Tapi kau tahu
akar permasalahannya bukan itu.
Jadi…
apakah kau siap untuk…
membicarakan itu sekarang?
Tidak usah, Dok.
Aku mau dosis obatnya ditambah saja.
Kau seharusnya mendengar apa yang dikatakan dr. Lesmana.
Dia yang lebih mengerti.
Terserah saja jika kau tidak mau bicara dengan Eyang,
tapi kau harus bicarakan apa yang kau rasakan itu.
Apa yang mau dibicarakan?
Bapak dan Ibu?
Eyang mau aku membicarakan soal meninggalnya mereka atau bagaimana?
Ada apa ini?
Ada Bapak dan Mas juga ternyata.
- Dul. - Ya, Pak?
Perkenalkan, ini cucuku.
Mas Dul ini asalnya dari kampung Eyang juga.
Mulai hari ini dia akan bantu-bantu di rumah.
Perlu ada yang bantu-bantu Eyang di rumah.
- Hei, tunggu. - Apa lagi?
Ini minyak pijat.
Pakai ini kalau obat dari dr. Lesmana tidak manjur.
Anaknya ramah ya, Pak?
Sangat menyenangkan.
Menyenangkan kepalamu!
Aduh…
Tenang.
Tarik napas pelan-pelan.
Lomba karya tulis itu untuk mengangkat atau membantu nilai kalian.
Sekali lagi, Ibu harap kalian harus belajar giat untuk ini.
- Sudah lama kau seperti ini? - Kau…
bisa lihat apa yang aku lihat?
Ada yang tidak biasa darimu.
Tapi aku belum tahu apa.
Tidak biasa?
Maksudnya apa, ya?
Apa pun yang kau lihat itu, kau harus belajar mengabaikannya.
Mas?
Mas?
Mas?
Dina…
Bangun, Nak.
Dina…
Apa ini?
Di mana aku?
Siapa kau?
Kenapa kau ada di sini?
Di mana aku sekarang?
Seharusnya kau tidak di sini.
Tolong jelaskan kepadaku.
Anakku sayang
Cepatlah tidur
Wangi kembang
Akan membuatmu tertidur
Sudah malam
- Cepatlah tidur - Dina?
- Dina… - Gelapnya kasur
Kau harus pergi!
- Dina… - Aku tidak mengerti apa yang terjadi.
Sekarang!
- Dina… - Akan mengganggu
Dina!
Din…
Seorang pria ditemukan istrinya
tewas dalam kondisi mengenaskan di rumahnya tadi malam.
Istri korban mengaku
dia baru pulang bekerja ketika dia menemukan suaminya di kamar
tak bernyawa.
Korban ini berinisial BA.
Ini merupakan kasus ketiga dengan metode pembunuhan yang serupa.
Kami dari pihak kepolisian masih…
Ada apa, Eyang?
…apakah ada kemungkinan
pembunuhan ini dilakukan oleh orang yang sama.
Tirta.
Seragamnya!
Adi, seragamnya!
Ini siapa?
Aku kemarin ketemu orang ini di bus.
Aku tidak sengaja bisa melihat isi kepalanya.
Anaknya meninggal.
Lalu, tadi malam aku…
Aku memimpikan dia. Dia seperti dicekik seseorang.
Lalu?
Lalu, hari ini dia mati.
Begini…
Ini intinya aku harus bagaimana, ya?
Aku yakin ini bukan kebetulan.
Aku butuh bantuanmu untuk cari tahu apa artinya ini.
Sekarang, Ta.
- Tunggu, Re… - Sudah.
- Ini artinya kita bolos? - Nanti kembali lagi!
Istirahat kedua kita kembali.
Ayo.
Lo? Itu rumahnya.
Ya sudah, tugasku sudah selesai.
- Hei, kau mau ke mana? - Kembali ke sekolah.
- Ikut. - Tidak.
Permisi.
- Permisi. - Silakan, Mas.
Aku ditinggal!
Suamiku mati!
Suamiku dibunuh setan!
Suamiku dibunuh setan!
Suamiku dibunuh setan!
Kenapa dia bisa bicara begitu ya, Mas?
Suaminya itu ditemukan di kamar
posisi tidur seperti habis ketindihan begitu, Mas.
Lalu, di lehernya itu ada bekas semacam cakaran.
Ya, tapi itu fakta lo, Mas.
Paling tidak ada benarnya, dia tidak terlihat terlalu gila.
Jangan dipegang!
Re…
Sebenarnya tadi kau mengejar siapa?
Hei!
Ini aneh.
Selain keluarganya Bayu,
ada satu orang lagi yang muncul di mimpiku.
Dan tadi aku melihat orang itu.
Seorang nenek.
Mungkin hanya kebetulan.
Alam mimpi itu bisa menjadi tempat yang berbahaya kalau tidak hati-hati.
Hentikan.
- Ini… - Alam mimpi.
Sebuah dimensi, tempat jiwa manusia beristirahat ketika tidur.
Aku kira kau memang mengerti hal-hal gaib.
Ternyata cuma tahu dari Google, ya?
Aku melihat ini di mimpiku.
Sial!
Tidak banyak orang yang tahu tentang alam mimpi.
Mereka yang tahu pun tidak sepenuhnya tahu cara kerjanya.
Yang kutahu,
tidak sembarang orang bisa masuk ke alam mimpi
dengan kesadaran penuh sepertimu.
Bagaimana caranya
aku bisa ke sana dengan kesadaran penuh?
Kenapa aku, ya?
Beberapa orang lahir dengan kemampuan khusus.
Ada yang menganggap ini bakat
dan ada yang menganggap ini kutukan.
Artinya yang kau lihat itu bukan mimpi.
Itu sesuatu yang benar-benar terjadi di alam mimpi.
- Maksudmu? - Kau tidak mimpi Bayu dibunuh.
Kau saksi Bayu dibunuh di alam mimpi.
Kenapa kau bolos sekolah?
Tadi siang gurumu menelepon.
Katanya kau cuma masuk setengah hari.
Nak…
Eyang tidak mau melihatmu begini terus.
Aku tidak apa-apa kok, Eyang.
Tidak apa-apa bagaimana?
Kau jelas punya masalah, Nak.
Kau tidak pernah berubah sejak kejadian itu.
Tambah parah malah.
Bagaimana kalau terjadi hal buruk kepadamu?
Mungkin saja memang jalannya seperti itu.
Respati!
Permisi, Mas Respati.
Ya, Mas?
Mas, pekerjaanku untuk hari ini sudah selesai.
Tadi mau pamit sama Eyang, tapi tidak ada jawaban, Mas.
Mungkin sudah tidur.
- Baik. - Ya, Mas.
Permisi, Mas Respati.
Maaf kalau aku lancang.
Memangnya…
sering seperti itu ya, Mas?
Debat sama Eyang.
Permisi, Mas.
Permisi, Mas.
Tapi memang tinggal dengan keluarga, ya, tidak selalu mudah, Mas.
Pasti ada renggangnya.
Aku juga seperti itu soalnya.
Permisi, Mas.
Mas Abdul juga tinggal dengan kakek-kakek menyebalkan juga?
Mas Respati…
Mas…
Kalau menurut aku, ya…
Biarpun kesal…
tapi ada baiknya kita itu menghargai setiap momen bersama keluarga.
Soalnya…
kita tidak tahu bisa bersama mereka sampai kapan.
Ya, 'kan?
Aduh, Mas Respati…
Maaf ya, Mas. Aduh.
Ya sudah.
- Aku pamit ya, Mas. - Ya, Mas.
Permisi, Mas Respati.
Itu bagaimana?
Ampuh?
Ya, lebih mending daripada tidak dipakai sama sekali.
Ya, 'kan?
Ya, Mas.
- Ya sudah. Kalau begitu, aku pamit, Mas. - Ya, Mas.
Mas, minyak itu ampuh.
Diambil dari Bunga Nyai Malam namanya.
Konon katanya bunga itu bisa menyembuhkan segala macam penyakit.
Ya sudah. Kalau begitu, aku pamit ya, Mas.
- Permisi, Mas. - Ya, Mas.
Mas Respati…
Semoga mimpi indah.
Anakku sayang
Cepatlah tidur
Kang…
- Atmo! - Wangi kembang
Mbah!
Akan membuatmu tertidur
Mbah!
Cepatlah tidur
Kang…
Wangi kembang
Akan membuatmu tertidur
Kau…
Hanya kau yang bisa mengalahkan dia.
Nyai Malam, itu kuncinya.
Bunga Nyai Malam?
Kau harus pergi dari sini!
BERITA TERKINI LANGSUNG
Aku punya temuan baru.
Semua orang yang meninggal,
termasuk nenek-nenek yang kau lihat di ponselmu ini,
semua berasal dari desa yang sama.
Namanya Desa Bajingjowo.
Kau serius?
Jujur aku tidak tahu ini benar atau salah.
- Tapi… - Aku yakin ini benar.
Ini semua bukan kebetulan, Ta.
Apa perlu kita kontak orang yang menulis ini?
Yang perlu kita kontak itu justru dia.
Kau yakin ini pasti berhasil?
Memangnya kalau gagal itu seperti bagaimana?
Ya, kalau misalnya kau tidak bisa kembali lagi?
Atau malah menyerangku dan Respati?
Aku memang sudah lama tidak melakukan ini.
Tapi selama aku pakai kalung ini,
tidak ada kekuatan jahat yang bisa macam-macam.
Kalau itu juga tidak berhasil, lalu bagaimana?
Ya, mau tidak mau, kau harus paksa aku bangun.
Tutupi wajahku dengan kain,
lalu tampar, pukul,
atau tusuk pakai benda tajam kalau perlu.
Tapi jangan dalam-dalam.
Ini serius atau tidak?
Sudah.
Hei, kenapa kau ini?
Tenang, Ta.
Aku yakin ini aman kok.
Atau kau ingin tunggu di luar?
Wulan!
Aku bukan Wulan.
Nenek…
Maaf, Nek…
Tapi…
apa Nenek yang bertemu aku tadi malam?
Nenek berasal dari Bajingjowo?
Jika kau dan Giman ingin selamat,
kau harus mencari Mustika.
Hanya dia yang tahu cara membunuh Sukma.
Mustika?
Sukma?
Tapi…
bagaimana cara aku mencari Mustika, Nek?
Rumah tepi sungai, sisi barat.
Bau Nyai Malam.
Respati! Wulan!
- Hei, ada apa ini? - Respati, Eyang!
Hei, Respati.
Bau manusia Bajingjowo!
Siapa kau?
Di mana Wulan?
Tak perlu buru-buru, sebentar lagi giliranmu!
Tak perlu mencari…
Sebentar lagi, kau akan kudatangi!
Wulan!
Tirta, tolong, Ta!
Wulan… Wulan!
Ada apa ini, Nak?
- Wulan… - Ada apa ini?
- Aduh… - Taruh di kasur!
Ayo.
Jadi…
kau bisa berkomunikasi dengan arwah?
Korban-korban itu…
Kau melihat mereka di…
Alam mimpi.
Aku cuma bantu-bantu saja, Eyang.
Sungguh.
Ini waktunya Eyang menjelaskan tentang Bajingjowo kepada kami.
Semua korban yang ada di TV…
Eyang tahu?
Semua korban itu orang Bajingjowo.
Arwah itu membicarakan Bajingjowo.
Aku juga punya darah Bajingjowo, Eyang.
Selama…
20 tahun Eyang tinggal di sana,
Eyang banyak mendengar mitos-mitos tentang kampung itu.
Salah satu yang paling Eyang ingat,
orang-orang di sana sangat percaya
bahwa mereka adalah keturunan Nyai Gadung Melati,
sosok penjaga Gunung Merapi.
Dan mereka juga sangat percaya
bahwa kekuatan Nyai Gadung Melati itu tidak akan pernah menghilang.
Dan diturunkan kepada beberapa keturunan.
Siapa pun yang memiliki darah Bajingjowo,
dia mungkin membawa kekuatan Nyai Gadung Melati itu bersamanya.
Termasuk kita?
Yah…
Bisa jadi.
Tapi kau jangan mengkhawatirkan apa pun.
Semuanya akan baik-baik saja.
Wulan…
Kau tahu kau tidak perlu repot-repot bantu aku sampai seperti ini, Lan.
Lalu, kenapa kau mesti bantu aku…
Aku ingin tahu lebih banyak tentang alam mimpi.
Kalau kau bisa sepenuhnya mengerti tentang cara kerja alam mimpi,
apa pun bisa kau lakukan.
Mungkin kau tidak perlu mimpi buruk lagi setiap malam.
Memangnya mimpi burukmu apa?
Hidup tanpa ibuku.
Lan, aku minta maaf.
Hei, sudah ketemu?
Ya Allah…
Jadilah orang sabar.
Memangnya rumah di pinggir kali cuma tiga?
Dapat.
Ini persis seperti ciri-ciri yang arwah itu bilang.
Di sebelah barat sungai.
Dia menjual segala macam bunga,
termasuk Bunga Nyai Malam.
Mau kita coba? Sehabis pulang sekolah?
Re…
Re, kau tidak apa-apa? Hei!
Kau tidak apa-apa? Hei!
Apa besok saja kita cek Bu Mustika itu?
Tidak usah dipaksa.
Sudah, aku tidak apa-apa. Ayo.
Re, tidak usah dipaksakan.
Kalau hari ini ada yang mati lagi bagaimana?
Kau tidak kasihan sama keluarga yang ditinggal?
Ayo, Ta.
Kau yakin ini titiknya?
Ya, titiknya di sini.
Aman?
Perasaanku tidak enak.
Tapi ya justru itu.
Mengerti, 'kan?
Permisi.
Permisi.
Respati…
Bangun, Nak.
Ibu…
Bapak…
Ibu…
Bapak…
Ibu…
Bapak…
Nak, Bapak merindukanmu.
Aku kangen Bapak dan Ibu.
Ya sudah, ayo kita pergi bersama-sama.
Ayo.
Bangun!
Respati, bangun!
Lawan! Lawan, Respati!
Kaulah yang selama ini kucari.
Siapa kau?
Tenang, Nak.
Tenang, tarik napas.
Tenang, ya. Duduk.
Tenang…
Tidak apa-apa.
Ini Mbah yang menolongmu ketika kau pingsan.
Duduk yang manis.
Tenang dulu, ya.
Duduk dengan baik, ayo.
Respati…
Aku Mustika.
Akhirnya kita bertemu.
Wanita yang ada di alam mimpi itu
namanya Sukma.
Dia itu siapa, Mbah?
Sukma adalah seorang dukun sakti dari Bajingjowo.
Permisi, Mbak.
Semua orang sangat menghormatinya.
Yang kami tahu,
dia hidup dengan seorang anak kecil
yang sering membantu
selayaknya anak kandungnya.
Sukma selalu merasa
bahwa dia adalah titisan Nyai Gadung Melati.
Sayangnya,
semua pencarian ilmu yang dia lakukan untuk alam mimpi
harus mengorbankan nyawa
orang-orang yang menjadi pasiennya.
Sejak saat itu,
Sukma dijauhi.
Banyak sekali korbannya.
Ayo!
Ayo!
- Bawa dia ke sana. - Ayo.
- Ayo, belenggu saja dia! - Seret dia!
Tarik dia!
Tendang dia!
Cepat masukkan.
Ya Tuhan…
Yang kencang.
Ibu…
Ibu…
- Ibu… - Sudah, semuanya keluar.
Tinggalkan saja.
Keluar!
- Ayo pergi. - Ibu…
Empat minggu setelah itu,
tiba-tiba Sukma ditemukan mati.
Tidak ada yang tahu penyebabnya.
Orang-orang tidak ada yang berani menguburkan jasadnya.
Dan beberapa hari setelahnya,
jasadnya menghilang.
Aku percaya
jika Sukma masih ingin hidup hingga sekarang
dengan mengambil kekuatan dari manusia lain
yang memiliki darah keturunan Nyai Gadung Melati.
Dan aku juga percaya
bahwa anak itu menjadi penyebab dari semua masalah ini.
Aku melakukan ini
untuk memasuki alam mimpi.
Aku meminta kekuatan.
Sepertinya Sukma telah menemukan apa yang dia cari.
Aku telah menunggu seseorang sepertimu.
Bertahun-tahun.
Keturunan Nyai Gadung Melati
yang lahir di tanggal 1 Suro.
Seseorang yang memiliki kekuatan untuk…
mengalahkan Sukma.
Bagaimana caranya?
Kau…
harus memenggal
kepala Sukma di alam mimpi.
Tunggu, jangan.
- Itu terlalu berbahaya untukmu. - Eyang.
Bagaimana jika terjadi apa-apa denganmu?
Eyang tidak mau kehilangan keluarga lagi.
Respati…
Kau mengerti bahasa Jawa?
Bapakku orang Jogja,
jadi, aku mengerti percakapan kalian semalam.
Dulu…
sejak aku kecil, aku sering dengar suara-suara di kepalaku.
Ibu bilang itu anugerah sejak aku lahir.
- Suara-suara? - Ya.
Mereka bukan dari alam ini.
Setan, jin, arwah…
Terserah kau panggil mereka apa.
Tapi waktu itu aku masih kecil
dan tidak mengerti apa maksudnya.
Pernah mereka memperingatkan aku
soal bahaya yang akan terjadi.
Karena aku tidak mau menjadi gila,
aku memutuskan untuk tidak mendengarkan mereka.
Sampai…
terjadilah apa yang mereka bilang.
Ibuku dijambret saat jalan pulang…
Sejak ibuku meninggal,
aku tidak pernah bisa tidur tenang, Re.
Aku tahu rasanya kok, Lan.
Aku tahu sekali.
Aku tidak tahu apa yang terjadi terhadap orang tuamu, Re.
Tapi kau punya kesempatan untuk menolong, bahkan menyelamatkan orang lain.
Jangan sampai kau menyesal tidak menggunakan kesempatan itu.
Wulan…
Maukah kau menemaniku?
Untuk mengalahkan Sukma di alam mimpi
tidaklah mudah.
Bahkan dengan kekuatanmu yang sekarang ini belumlah cukup.
Apa ada cara lain untuk melakukannya, Mbah?
Kau harus membakar mayatnya Sukma.
Tapi masalahnya dengan itu,
tidak ada yang tahu mayatnya di mana, Mbah.
Apa ada yang bisa aku lakukan, Mbah?
Ada ritual yang bisa dilakukan
untuk membuka kemampuanmu sepenuhnya.
Tapi kita perlu orang yang bersedia kau masukkan mimpinya.
Aku bisa, Mbah.
Sebentar lagi,
kau akan masuk ke alam mimpi.
Apa pun yang terjadi,
ikuti nalurimu.
Anakku sayang
Cepatlah tidur
Wangi kembang
Akan membuatmu tertidur
Sudah malam
Cepatlah tidur
Gelapnya kasur
Akan mengganggu
Dengan menyelaraskan hati dan pikiranmu,
alam mimpi akan mengizinkanmu
untuk mewujudkan apa pun yang kau inginkan.
Bila kau berhasil,
kau siap menghadapi Sukma, Respati.
Wulan…
Inikah yang kau lihat setiap kau tidur?
Ayo.
Kita temui ibumu.
Bagaimana caranya?
Kata Mbah Mustika,
ikuti naluriku saja.
Re…
Ini tempat ibuku ditemukan.
Kau tahu di mana ibumu?
Itu Ibu, Re.
Apa pun yang terjadi, ikuti nalurimu.
- Mau ke mana kalian? Sini kalian! - Hei!
- Hei! - Mau ke mana kalian? Kalian maling!
Maling!
Ada maling! Pergi kalian! Maling!
- Ibu! - Maling!
Ibu!
- Ibu. - Wulan.
Ibu…
Wulan!
Ibu…
Ibu…
Awas! Minggir!
Minggir!
Minggir!
Awas, minggir!
Re!
Ada apa?
Re.
Kau sudah lihat berita ini?
Astaga.
Ini bukan perbuatan Sukma.
Korban-korban dia bukan seperti ini.
Lalu, siapa?
Kau ingat tidak
Mbah Mustika pernah bilang sama kita
ada anak kecil yang selalu membantu Sukma?
Kalau dia tahu soal Bu Mustika…
Berarti dia juga tahu soal kita, Re.
Anakku sayang
Cepatlah tidur
- Apa ini? - Wangi kembang
Akan membuatmu tertidur
- Sudah malam - Wulan!
Ta!
Lan!
Wulan!
- Hei! - Wulan!
Wulan!
Tolong! Tolong Wulan!
Sial!
Ya Allah!
Pak, tolong!
Kau mau kepalaku, Nak?
Bagaimana bisa dia merasuki Wulan?
Keluar! Keluar dari tubuh Wulan!
Dengan satu syarat!
Kau harus pergi bersamaku!
Serang aku jika kau berani!
Berani sekali kau!
Aduh!
- Ayo bantu! - Tolong!
Lan. Sudah, Lan!
- Apa ini? - Apa lagi? Bajingan.
Lan!
Lan, sadarlah!
Ambil kursi!
Sudah, Lan!
Bajingan!
Pik, ikat tangannya!
Cepat, Pik!
Sadarlah, Lan!
Tolong!
Wulan!
Wulan!
Wulan!
Ada apa ini?
Wulan…
Wulan…
Ta…
Ta, panggil ambulans.
Wulan, aku minta maaf, ya. Aku terpaksa harus…
Sudah, tidak apa-apa.
Yang kau lakukan sudah benar.
Yang penting sekarang aku masih di sini dan mengobrol bersamamu, 'kan?
Anakku sayang
Cepatlah tidur
Wangi kembang
Aku selalu dengar lagu itu di mimpiku.
"Sudah malam, cepatlah tidur."
"Gelapnya kasur akan mengganggu."
Seperti lagu pengantar tidur.
Ada yang harus aku cek di kamarmu.
Kau serius tidak apa-apa, ya?
- Mas Respati, pekerjaanku sudah selesai. - Ya, Mas.
Aku izin pamit ya, Mas.
Kau tahu ini apa?
Buhul.
Biasanya dukun-dukun pakai ini untuk mengirim santet.
Siapa pun yang menaruh ini di sini,
pasti dia pakai ini untuk bawa Sukma ke mimpimu.
Tapi bagaimana caranya
dia bisa masuk ke sini dan menaruh ini?
- Mas Abdul. - Mas Abdul.
Eyang?
Eyang!
Eyang? Eyang.
- Eyang. - Eyang, bangun.
Re, kepalanya.
Aduh…
- Tolong, Ta. - Eyang.
Eyang, bangun. Ini Respati.
Eyang, bangun.
Eyang, ini Respati.
Eyang! Ini Respati, Eyang!
Eyang, bangun!
Re!
Kau masih ada sisa Bunga Nyai Malam?
Mbah Mustika punya banyak,
tapi kita tidak punya banyak waktu.
Eyang!
Eyang!
Lepaskan dia!
Ayo, lepaskan dia!
Jika kau ingin orang ini selamat,
ikut aku.
- Tidak perlu takut. - Jangan, Nak.
Kemarilah, Anak Baik.
Kemarilah.
Kemarilah.
Apa pun yang terjadi,
ikuti nalurimu.
Eyang, ayo!
Ayo, Eyang.
Ayo, Eyang! Ayo.
Tusuk diri Eyang!
Tusuk diri Eyang!
- Re! - Respati!
- Respati! - Re!
- Re! - Re!
Respati!
Eyang…
Bangun, Eyang!
Bangun, Eyang!
Eyang, bangun, Respati tidak punya siapa-siapa lagi.
Kesadaran eyangmu menurun drastis.
Tapi, tenang, aku akan terus pantau perkembangannya.
Silakan.
Aku selalu khawatir
hal seperti ini
akan terjadi lagi.
Maksudmu?
Orang tuaku…
Orang tuaku meninggal karena aku.
Mobil Bapak mogok di tengah jalan.
Mereka…
Mereka dirampok dan dibunuh.
Dan memang mobil Bapak sedang bermasalah.
Tapi aku tidak mau ikut.
Karena aku…
malas.
Sekarang…
aku tidak pernah bisa berhenti berpikir
andai waktu itu aku bisa ikut,
mungkin ada hal yang bisa aku lakukan untuk bisa mencegah kejadian itu.
Dan kalau Eyang kenapa-kenapa,
hal itu terjadi gara-gara aku.
Ini semua belum selesai.
Eyang masih sama kita.
Itu tandanya Eyang masih berjuang melawan Sukma di alam mimpi.
Kita tidak bisa berhenti di sini.
Eyangmu membutuhkanmu.
Tapi kalau aku tidak bisa masuk ke mimpi Eyang,
bagaimana caranya aku menolong Eyang?
Apakah ini bisa membantu?
Mas Abdul pakai ini untuk bawa Sukma masuk ke dalam mimpi target-target mereka.
Kalau aku tidak bisa masuk ke mimpi Eyang,
mungkin aku bisa bawa masuk Sukma ke mimpiku.
Aku bisa hadapi Sukma.
Tapi aku perlu bantuanmu, Ta.
Eyang pernah kasih aku alamat Mas Abdul.
Kau cek ke sana.
Aku yakin mayat Sukma ada di sana.
Aku ikut.
Tunggu!
Kalau kau sampai kenapa-kenapa,
aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri, Lan.
Re…
Aku tidak akan kenapa-kenapa.
Percayalah kepadaku.
Ada Tirta juga.
Tirta membutuhkanku.
Lalu, eyangmu membutuhkan kita.
Ya?
Waktu kita tidak banyak.
- Sudah dapat titik petanya? - Sudah.
Pak.
Bagaimana kalau kita pesan taksi saja?
Tidak perlu. Aman.
Kalau mobilnya kenapa-kenapa bagaimana?
Tenang saja, percaya saja kepadaku.
- Benar, ya? - Ya.
Sudah selesai.
Bu, Pak.
Aku ikut, ya.
- Ayo. - Tumben.
- Ayo. - Ya sudah, ayo berangkat.
- Ayo. - Ya.
Ta…
Depan kiri!
Sini, kiri.
Titiknya di sini.
Tirta, hati-hati!
Ta…
Bajingan!
Ta!
Lan…
kita harus bakar mayat ini.
Tirta!
Tunggu sebentar. Tunggu sebentar di sini.
Sial!
Ta!
Kalian semua harus tahu!
Aku tidak punya masalah dengan para korban itu,
terutama Giman.
Aku melakukan ini semua
demi orang yang kucintai.
Perempuan yang sudah seperti ibuku sendiri.
Aku mencari berbagai cara agar bisa hidup bersamanya.
Bersama Ibu.
Sebentar lagi,
mimpiku akan terwujud!
Mbah Mustika kenapa Mas bunuh juga?
Wanita tua itu akan merusak rencanaku!
Sekarang…
siapa yang mau kupotong lebih dulu?
Pelan-pelan saja, Nak.
Belok kanan di sebelah sana.
Putar balik, Nak. Cepat.
Tidak, Pak. Terus saja.
Seharusnya kita lewat sana.
Seharusnya kita lewat sana!
Ta!
Ini bukan urusanmu, Nak!
Ta!
Anak baik…
Sekarang kau yang mati…
atau aku yang mati!
Bajingan!
Maafkan aku, Anak Baik.
Maaf!
Respati…
- Ti… - Eyang!
Respati…
Ta! Tirta!
- Korek… - Tirta!
Ini untuk Eyang!
Eyang!
- Eyang. - Ya?
Sarapan.
Wah, apa itu? Burjo?
- Ya. - Wah…
Ini mengejutkan sekali, Nak.
- Bejat kau! - Rasakan!
Menurut hasil observasi yang ada,
tampaknya insomniamu membaik, Re.
Alhamdulillah.
Bagaimana rasanya tidur, mimpi indah?
Wah…
- Menyenangkan. - Menyenangkan, 'kan?
Ya, pasti menyenangkan. Kalau tidur itu…
Anakku sayang
Cepatlah tidur
Wangi kembang
Akan membuatmu tertidur
Sudah malam
Cepatlah tidur
Ke mana pun kau pergi…
aku akan mencarimu.
Bagaimanapun caranya.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.