All language subtitles for Malam Pencabut Nyawa 2024 1080p NF WEB-DL DDP5.1.H.264

af Afrikaans Download
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified) Download
zh-TW Chinese (Traditional) Download
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German Download
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese Download
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian Download
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese Download
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

PERJALANAN DARAT INGATLAH, KAU BERMIMPI

BERDASARKAN NOVEL RESPATI KARYA RAGIEL JP

Respati…

Anakku yang baik.

Bangun, Nak.

Ibu titip rumah.

Bu.

Ayo.

Ibu?

Ibu?

Bapak?

Ibu?

Pak?

Respati…

Astaga!

Buka!

Siapa kau?

Pergi!

Tolong Ibu, Nak.

Nak, tolong Ibu.

Tolong Ibu, Nak.

Bu…

- Tolong, Nak… - Ibu.

Nak, tolong Ibu.

Ibu?

Respati.

Tolong, Nak…

Bapak?

- Ibu? - Tolong, Nak.

- Respati! Tolong Ibu, Nak. - Ibu!

- Tolong… - Ibu.

Bapak! Ibu!

Bapak, Ibu!

Bapak, Ibu!

Kenapa?

Kenapa kau tidak mati bersama mereka?

Telah ditemukan seorang ibu tewas di kamarnya dengan luka cekikan di leher.

Sang anak mendapati ibunya tidak sadarkan diri

ketika dia ingin pamit berangkat sekolah.

Ini adalah kasus kedua setelah belum lama ditemukan

seorang warga lainnya yang tewas dengan kondisi serupa.

Saat ini polisi setempat masih mendalami

kasus yang menggemparkan ini.

Nak, tolong Ibu.

Tolong Ibu, Nak.

Tolong, Nak.

Itu bukannya Kanya?

Aku sudah bilang, Yu.

Instingku itu tidak pernah salah.

Bagas belum merelakannya.

Kau ini mengeyel.

Percuma lelaki semacam ini kau pertahankan.

Cari yang baru.

Misalnya…

- Apa? - Mulutmu!

Ini

- Terima kasih, ya. - Sama-sama.

Bagaimana insomniamu?

- Kau sudah lihat ini? - Belum.

Mereka semua ditemukan seperti ini,

padahal malamnya tidak ada apa-apa.

Gosip-gosipnya,

mereka habis mimpi bertemu orang yang sudah mati.

Kau tahu mitos yang mana, 'kan?

- Selamat pagi, Anak-Anak! - Selamat pagi, Pak.

Baik, mohon perhatiannya sebentar.

Hari ini kita kedatangan murid baru dari Jakarta.

Silakan masuk, Wulan.

Silakan perkenalkan dirimu kepada teman-teman.

Nama gue…

Namaku Wulan. Salam kenal.

Halo, Wulan.

Kau bisa duduk di belakang.

- Terima kasih, Pak. - Ya.

Baik, kita lanjutkan pelajaran dan materi yang kemarin, ya, mengenai…

Kok dia memperhatikanmu terus, Re?

Kau pernah bertemu dia di mana, begitu?

Anak-Anak, kalian harus tahu apa itu eksponen dan logaritma.

Untuk eksponen itu sendiri, yang sudah kalian pelajari kemarin,

kalian harus paham mengenai sifat-sifat, fungsinya, dan…

Ayo lari!

Aku sudah cari tahu latar belakang perempuan aneh itu.

Dia dikeluarkan dari sekolah lamanya karena sering sekali kesurupan.

Mengganggu murid-murid lain.

Orang aneh.

Lihat itu!

Sepertinya dia memang tak ingin punya teman.

Dari tadi sendirian.

Lari! Lari terus!

Aku duluan, ya.

- Ada apa, Eyang? - Di mana kau?

Ini Eyang sudah mau sampai rumah sakit.

Aku baru pulang sekolah.

Ya sudah, cepat ke sini biar pulangnya tidak kemalaman.

Kita sudah buat janji dengan dr. Lesmana.

Kau tidak mau insomniamu cepat sembuh?

Apa yang kau rasakan selama beberapa minggu belakangan ini, Re?

Kok diam saja? Jawab, Nak!

Eyangmu bilang

kalau kau masih sering terbangun setiap malam, ya?

Bukan sering lagi, Dok.

Ya, ini obat yang kuberikan kepadamu

memang bisa mengurangi keluhannya.

Tapi kau tahu

akar permasalahannya bukan itu.

Jadi…

apakah kau siap untuk…

membicarakan itu sekarang?

Tidak usah, Dok.

Aku mau dosis obatnya ditambah saja.

Kau seharusnya mendengar apa yang dikatakan dr. Lesmana.

Dia yang lebih mengerti.

Terserah saja jika kau tidak mau bicara dengan Eyang,

tapi kau harus bicarakan apa yang kau rasakan itu.

Apa yang mau dibicarakan?

Bapak dan Ibu?

Eyang mau aku membicarakan soal meninggalnya mereka atau bagaimana?

Ada apa ini?

Ada Bapak dan Mas juga ternyata.

- Dul. - Ya, Pak?

Perkenalkan, ini cucuku.

Mas Dul ini asalnya dari kampung Eyang juga.

Mulai hari ini dia akan bantu-bantu di rumah.

Perlu ada yang bantu-bantu Eyang di rumah.

- Hei, tunggu. - Apa lagi?

Ini minyak pijat.

Pakai ini kalau obat dari dr. Lesmana tidak manjur.

Anaknya ramah ya, Pak?

Sangat menyenangkan.

Menyenangkan kepalamu!

Aduh…

Tenang.

Tarik napas pelan-pelan.

Lomba karya tulis itu untuk mengangkat atau membantu nilai kalian.

Sekali lagi, Ibu harap kalian harus belajar giat untuk ini.

- Sudah lama kau seperti ini? - Kau…

bisa lihat apa yang aku lihat?

Ada yang tidak biasa darimu.

Tapi aku belum tahu apa.

Tidak biasa?

Maksudnya apa, ya?

Apa pun yang kau lihat itu, kau harus belajar mengabaikannya.

Mas?

Mas?

Mas?

Dina…

Bangun, Nak.

Dina…

Apa ini?

Di mana aku?

Siapa kau?

Kenapa kau ada di sini?

Di mana aku sekarang?

Seharusnya kau tidak di sini.

Tolong jelaskan kepadaku.

Anakku sayang

Cepatlah tidur

Wangi kembang

Akan membuatmu tertidur

Sudah malam

- Cepatlah tidur - Dina?

- Dina… - Gelapnya kasur

Kau harus pergi!

- Dina… - Aku tidak mengerti apa yang terjadi.

Sekarang!

- Dina… - Akan mengganggu

Dina!

Din…

Seorang pria ditemukan istrinya

tewas dalam kondisi mengenaskan di rumahnya tadi malam.

Istri korban mengaku

dia baru pulang bekerja ketika dia menemukan suaminya di kamar

tak bernyawa.

Korban ini berinisial BA.

Ini merupakan kasus ketiga dengan metode pembunuhan yang serupa.

Kami dari pihak kepolisian masih…

Ada apa, Eyang?

…apakah ada kemungkinan

pembunuhan ini dilakukan oleh orang yang sama.

Tirta.

Seragamnya!

Adi, seragamnya!

Ini siapa?

Aku kemarin ketemu orang ini di bus.

Aku tidak sengaja bisa melihat isi kepalanya.

Anaknya meninggal.

Lalu, tadi malam aku…

Aku memimpikan dia. Dia seperti dicekik seseorang.

Lalu?

Lalu, hari ini dia mati.

Begini…

Ini intinya aku harus bagaimana, ya?

Aku yakin ini bukan kebetulan.

Aku butuh bantuanmu untuk cari tahu apa artinya ini.

Sekarang, Ta.

- Tunggu, Re… - Sudah.

- Ini artinya kita bolos? - Nanti kembali lagi!

Istirahat kedua kita kembali.

Ayo.

Lo? Itu rumahnya.

Ya sudah, tugasku sudah selesai.

- Hei, kau mau ke mana? - Kembali ke sekolah.

- Ikut. - Tidak.

Permisi.

- Permisi. - Silakan, Mas.

Aku ditinggal!

Suamiku mati!

Suamiku dibunuh setan!

Suamiku dibunuh setan!

Suamiku dibunuh setan!

Kenapa dia bisa bicara begitu ya, Mas?

Suaminya itu ditemukan di kamar

posisi tidur seperti habis ketindihan begitu, Mas.

Lalu, di lehernya itu ada bekas semacam cakaran.

Ya, tapi itu fakta lo, Mas.

Paling tidak ada benarnya, dia tidak terlihat terlalu gila.

Jangan dipegang!

Re…

Sebenarnya tadi kau mengejar siapa?

Hei!

Ini aneh.

Selain keluarganya Bayu,

ada satu orang lagi yang muncul di mimpiku.

Dan tadi aku melihat orang itu.

Seorang nenek.

Mungkin hanya kebetulan.

Alam mimpi itu bisa menjadi tempat yang berbahaya kalau tidak hati-hati.

Hentikan.

- Ini… - Alam mimpi.

Sebuah dimensi, tempat jiwa manusia beristirahat ketika tidur.

Aku kira kau memang mengerti hal-hal gaib.

Ternyata cuma tahu dari Google, ya?

Aku melihat ini di mimpiku.

Sial!

Tidak banyak orang yang tahu tentang alam mimpi.

Mereka yang tahu pun tidak sepenuhnya tahu cara kerjanya.

Yang kutahu,

tidak sembarang orang bisa masuk ke alam mimpi

dengan kesadaran penuh sepertimu.

Bagaimana caranya

aku bisa ke sana dengan kesadaran penuh?

Kenapa aku, ya?

Beberapa orang lahir dengan kemampuan khusus.

Ada yang menganggap ini bakat

dan ada yang menganggap ini kutukan.

Artinya yang kau lihat itu bukan mimpi.

Itu sesuatu yang benar-benar terjadi di alam mimpi.

- Maksudmu? - Kau tidak mimpi Bayu dibunuh.

Kau saksi Bayu dibunuh di alam mimpi.

Kenapa kau bolos sekolah?

Tadi siang gurumu menelepon.

Katanya kau cuma masuk setengah hari.

Nak…

Eyang tidak mau melihatmu begini terus.

Aku tidak apa-apa kok, Eyang.

Tidak apa-apa bagaimana?

Kau jelas punya masalah, Nak.

Kau tidak pernah berubah sejak kejadian itu.

Tambah parah malah.

Bagaimana kalau terjadi hal buruk kepadamu?

Mungkin saja memang jalannya seperti itu.

Respati!

Permisi, Mas Respati.

Ya, Mas?

Mas, pekerjaanku untuk hari ini sudah selesai.

Tadi mau pamit sama Eyang, tapi tidak ada jawaban, Mas.

Mungkin sudah tidur.

- Baik. - Ya, Mas.

Permisi, Mas Respati.

Maaf kalau aku lancang.

Memangnya…

sering seperti itu ya, Mas?

Debat sama Eyang.

Permisi, Mas.

Permisi, Mas.

Tapi memang tinggal dengan keluarga, ya, tidak selalu mudah, Mas.

Pasti ada renggangnya.

Aku juga seperti itu soalnya.

Permisi, Mas.

Mas Abdul juga tinggal dengan kakek-kakek menyebalkan juga?

Mas Respati…

Mas…

Kalau menurut aku, ya…

Biarpun kesal…

tapi ada baiknya kita itu menghargai setiap momen bersama keluarga.

Soalnya…

kita tidak tahu bisa bersama mereka sampai kapan.

Ya, 'kan?

Aduh, Mas Respati…

Maaf ya, Mas. Aduh.

Ya sudah.

- Aku pamit ya, Mas. - Ya, Mas.

Permisi, Mas Respati.

Itu bagaimana?

Ampuh?

Ya, lebih mending daripada tidak dipakai sama sekali.

Ya, 'kan?

Ya, Mas.

- Ya sudah. Kalau begitu, aku pamit, Mas. - Ya, Mas.

Mas, minyak itu ampuh.

Diambil dari Bunga Nyai Malam namanya.

Konon katanya bunga itu bisa menyembuhkan segala macam penyakit.

Ya sudah. Kalau begitu, aku pamit ya, Mas.

- Permisi, Mas. - Ya, Mas.

Mas Respati…

Semoga mimpi indah.

Anakku sayang

Cepatlah tidur

Kang…

- Atmo! - Wangi kembang

Mbah!

Akan membuatmu tertidur

Mbah!

Cepatlah tidur

Kang…

Wangi kembang

Akan membuatmu tertidur

Kau…

Hanya kau yang bisa mengalahkan dia.

Nyai Malam, itu kuncinya.

Bunga Nyai Malam?

Kau harus pergi dari sini!

BERITA TERKINI LANGSUNG

Aku punya temuan baru.

Semua orang yang meninggal,

termasuk nenek-nenek yang kau lihat di ponselmu ini,

semua berasal dari desa yang sama.

Namanya Desa Bajingjowo.

Kau serius?

Jujur aku tidak tahu ini benar atau salah.

- Tapi… - Aku yakin ini benar.

Ini semua bukan kebetulan, Ta.

Apa perlu kita kontak orang yang menulis ini?

Yang perlu kita kontak itu justru dia.

Kau yakin ini pasti berhasil?

Memangnya kalau gagal itu seperti bagaimana?

Ya, kalau misalnya kau tidak bisa kembali lagi?

Atau malah menyerangku dan Respati?

Aku memang sudah lama tidak melakukan ini.

Tapi selama aku pakai kalung ini,

tidak ada kekuatan jahat yang bisa macam-macam.

Kalau itu juga tidak berhasil, lalu bagaimana?

Ya, mau tidak mau, kau harus paksa aku bangun.

Tutupi wajahku dengan kain,

lalu tampar, pukul,

atau tusuk pakai benda tajam kalau perlu.

Tapi jangan dalam-dalam.

Ini serius atau tidak?

Sudah.

Hei, kenapa kau ini?

Tenang, Ta.

Aku yakin ini aman kok.

Atau kau ingin tunggu di luar?

Wulan!

Aku bukan Wulan.

Nenek…

Maaf, Nek…

Tapi…

apa Nenek yang bertemu aku tadi malam?

Nenek berasal dari Bajingjowo?

Jika kau dan Giman ingin selamat,

kau harus mencari Mustika.

Hanya dia yang tahu cara membunuh Sukma.

Mustika?

Sukma?

Tapi…

bagaimana cara aku mencari Mustika, Nek?

Rumah tepi sungai, sisi barat.

Bau Nyai Malam.

Respati! Wulan!

- Hei, ada apa ini? - Respati, Eyang!

Hei, Respati.

Bau manusia Bajingjowo!

Siapa kau?

Di mana Wulan?

Tak perlu buru-buru, sebentar lagi giliranmu!

Tak perlu mencari…

Sebentar lagi, kau akan kudatangi!

Wulan!

Tirta, tolong, Ta!

Wulan… Wulan!

Ada apa ini, Nak?

- Wulan… - Ada apa ini?

- Aduh… - Taruh di kasur!

Ayo.

Jadi…

kau bisa berkomunikasi dengan arwah?

Korban-korban itu…

Kau melihat mereka di…

Alam mimpi.

Aku cuma bantu-bantu saja, Eyang.

Sungguh.

Ini waktunya Eyang menjelaskan tentang Bajingjowo kepada kami.

Semua korban yang ada di TV…

Eyang tahu?

Semua korban itu orang Bajingjowo.

Arwah itu membicarakan Bajingjowo.

Aku juga punya darah Bajingjowo, Eyang.

Selama…

20 tahun Eyang tinggal di sana,

Eyang banyak mendengar mitos-mitos tentang kampung itu.

Salah satu yang paling Eyang ingat,

orang-orang di sana sangat percaya

bahwa mereka adalah keturunan Nyai Gadung Melati,

sosok penjaga Gunung Merapi.

Dan mereka juga sangat percaya

bahwa kekuatan Nyai Gadung Melati itu tidak akan pernah menghilang.

Dan diturunkan kepada beberapa keturunan.

Siapa pun yang memiliki darah Bajingjowo,

dia mungkin membawa kekuatan Nyai Gadung Melati itu bersamanya.

Termasuk kita?

Yah…

Bisa jadi.

Tapi kau jangan mengkhawatirkan apa pun.

Semuanya akan baik-baik saja.

Wulan…

Kau tahu kau tidak perlu repot-repot bantu aku sampai seperti ini, Lan.

Lalu, kenapa kau mesti bantu aku…

Aku ingin tahu lebih banyak tentang alam mimpi.

Kalau kau bisa sepenuhnya mengerti tentang cara kerja alam mimpi,

apa pun bisa kau lakukan.

Mungkin kau tidak perlu mimpi buruk lagi setiap malam.

Memangnya mimpi burukmu apa?

Hidup tanpa ibuku.

Lan, aku minta maaf.

Hei, sudah ketemu?

Ya Allah…

Jadilah orang sabar.

Memangnya rumah di pinggir kali cuma tiga?

Dapat.

Ini persis seperti ciri-ciri yang arwah itu bilang.

Di sebelah barat sungai.

Dia menjual segala macam bunga,

termasuk Bunga Nyai Malam.

Mau kita coba? Sehabis pulang sekolah?

Re…

Re, kau tidak apa-apa? Hei!

Kau tidak apa-apa? Hei!

Apa besok saja kita cek Bu Mustika itu?

Tidak usah dipaksa.

Sudah, aku tidak apa-apa. Ayo.

Re, tidak usah dipaksakan.

Kalau hari ini ada yang mati lagi bagaimana?

Kau tidak kasihan sama keluarga yang ditinggal?

Ayo, Ta.

Kau yakin ini titiknya?

Ya, titiknya di sini.

Aman?

Perasaanku tidak enak.

Tapi ya justru itu.

Mengerti, 'kan?

Permisi.

Permisi.

Respati…

Bangun, Nak.

Ibu…

Bapak…

Ibu…

Bapak…

Ibu…

Bapak…

Nak, Bapak merindukanmu.

Aku kangen Bapak dan Ibu.

Ya sudah, ayo kita pergi bersama-sama.

Ayo.

Bangun!

Respati, bangun!

Lawan! Lawan, Respati!

Kaulah yang selama ini kucari.

Siapa kau?

Tenang, Nak.

Tenang, tarik napas.

Tenang, ya. Duduk.

Tenang…

Tidak apa-apa.

Ini Mbah yang menolongmu ketika kau pingsan.

Duduk yang manis.

Tenang dulu, ya.

Duduk dengan baik, ayo.

Respati…

Aku Mustika.

Akhirnya kita bertemu.

Wanita yang ada di alam mimpi itu

namanya Sukma.

Dia itu siapa, Mbah?

Sukma adalah seorang dukun sakti dari Bajingjowo.

Permisi, Mbak.

Semua orang sangat menghormatinya.

Yang kami tahu,

dia hidup dengan seorang anak kecil

yang sering membantu

selayaknya anak kandungnya.

Sukma selalu merasa

bahwa dia adalah titisan Nyai Gadung Melati.

Sayangnya,

semua pencarian ilmu yang dia lakukan untuk alam mimpi

harus mengorbankan nyawa

orang-orang yang menjadi pasiennya.

Sejak saat itu,

Sukma dijauhi.

Banyak sekali korbannya.

Ayo!

Ayo!

- Bawa dia ke sana. - Ayo.

- Ayo, belenggu saja dia! - Seret dia!

Tarik dia!

Tendang dia!

Cepat masukkan.

Ya Tuhan…

Yang kencang.

Ibu…

Ibu…

- Ibu… - Sudah, semuanya keluar.

Tinggalkan saja.

Keluar!

- Ayo pergi. - Ibu…

Empat minggu setelah itu,

tiba-tiba Sukma ditemukan mati.

Tidak ada yang tahu penyebabnya.

Orang-orang tidak ada yang berani menguburkan jasadnya.

Dan beberapa hari setelahnya,

jasadnya menghilang.

Aku percaya

jika Sukma masih ingin hidup hingga sekarang

dengan mengambil kekuatan dari manusia lain

yang memiliki darah keturunan Nyai Gadung Melati.

Dan aku juga percaya

bahwa anak itu menjadi penyebab dari semua masalah ini.

Aku melakukan ini

untuk memasuki alam mimpi.

Aku meminta kekuatan.

Sepertinya Sukma telah menemukan apa yang dia cari.

Aku telah menunggu seseorang sepertimu.

Bertahun-tahun.

Keturunan Nyai Gadung Melati

yang lahir di tanggal 1 Suro.

Seseorang yang memiliki kekuatan untuk…

mengalahkan Sukma.

Bagaimana caranya?

Kau…

harus memenggal

kepala Sukma di alam mimpi.

Tunggu, jangan.

- Itu terlalu berbahaya untukmu. - Eyang.

Bagaimana jika terjadi apa-apa denganmu?

Eyang tidak mau kehilangan keluarga lagi.

Respati…

Kau mengerti bahasa Jawa?

Bapakku orang Jogja,

jadi, aku mengerti percakapan kalian semalam.

Dulu…

sejak aku kecil, aku sering dengar suara-suara di kepalaku.

Ibu bilang itu anugerah sejak aku lahir.

- Suara-suara? - Ya.

Mereka bukan dari alam ini.

Setan, jin, arwah…

Terserah kau panggil mereka apa.

Tapi waktu itu aku masih kecil

dan tidak mengerti apa maksudnya.

Pernah mereka memperingatkan aku

soal bahaya yang akan terjadi.

Karena aku tidak mau menjadi gila,

aku memutuskan untuk tidak mendengarkan mereka.

Sampai…

terjadilah apa yang mereka bilang.

Ibuku dijambret saat jalan pulang…

Sejak ibuku meninggal,

aku tidak pernah bisa tidur tenang, Re.

Aku tahu rasanya kok, Lan.

Aku tahu sekali.

Aku tidak tahu apa yang terjadi terhadap orang tuamu, Re.

Tapi kau punya kesempatan untuk menolong, bahkan menyelamatkan orang lain.

Jangan sampai kau menyesal tidak menggunakan kesempatan itu.

Wulan…

Maukah kau menemaniku?

Untuk mengalahkan Sukma di alam mimpi

tidaklah mudah.

Bahkan dengan kekuatanmu yang sekarang ini belumlah cukup.

Apa ada cara lain untuk melakukannya, Mbah?

Kau harus membakar mayatnya Sukma.

Tapi masalahnya dengan itu,

tidak ada yang tahu mayatnya di mana, Mbah.

Apa ada yang bisa aku lakukan, Mbah?

Ada ritual yang bisa dilakukan

untuk membuka kemampuanmu sepenuhnya.

Tapi kita perlu orang yang bersedia kau masukkan mimpinya.

Aku bisa, Mbah.

Sebentar lagi,

kau akan masuk ke alam mimpi.

Apa pun yang terjadi,

ikuti nalurimu.

Anakku sayang

Cepatlah tidur

Wangi kembang

Akan membuatmu tertidur

Sudah malam

Cepatlah tidur

Gelapnya kasur

Akan mengganggu

Dengan menyelaraskan hati dan pikiranmu,

alam mimpi akan mengizinkanmu

untuk mewujudkan apa pun yang kau inginkan.

Bila kau berhasil,

kau siap menghadapi Sukma, Respati.

Wulan…

Inikah yang kau lihat setiap kau tidur?

Ayo.

Kita temui ibumu.

Bagaimana caranya?

Kata Mbah Mustika,

ikuti naluriku saja.

Re…

Ini tempat ibuku ditemukan.

Kau tahu di mana ibumu?

Itu Ibu, Re.

Apa pun yang terjadi, ikuti nalurimu.

- Mau ke mana kalian? Sini kalian! - Hei!

- Hei! - Mau ke mana kalian? Kalian maling!

Maling!

Ada maling! Pergi kalian! Maling!

- Ibu! - Maling!

Ibu!

- Ibu. - Wulan.

Ibu…

Wulan!

Ibu…

Ibu…

Awas! Minggir!

Minggir!

Minggir!

Awas, minggir!

Re!

Ada apa?

Re.

Kau sudah lihat berita ini?

Astaga.

Ini bukan perbuatan Sukma.

Korban-korban dia bukan seperti ini.

Lalu, siapa?

Kau ingat tidak

Mbah Mustika pernah bilang sama kita

ada anak kecil yang selalu membantu Sukma?

Kalau dia tahu soal Bu Mustika…

Berarti dia juga tahu soal kita, Re.

Anakku sayang

Cepatlah tidur

- Apa ini? - Wangi kembang

Akan membuatmu tertidur

- Sudah malam - Wulan!

Ta!

Lan!

Wulan!

- Hei! - Wulan!

Wulan!

Tolong! Tolong Wulan!

Sial!

Ya Allah!

Pak, tolong!

Kau mau kepalaku, Nak?

Bagaimana bisa dia merasuki Wulan?

Keluar! Keluar dari tubuh Wulan!

Dengan satu syarat!

Kau harus pergi bersamaku!

Serang aku jika kau berani!

Berani sekali kau!

Aduh!

- Ayo bantu! - Tolong!

Lan. Sudah, Lan!

- Apa ini? - Apa lagi? Bajingan.

Lan!

Lan, sadarlah!

Ambil kursi!

Sudah, Lan!

Bajingan!

Pik, ikat tangannya!

Cepat, Pik!

Sadarlah, Lan!

Tolong!

Wulan!

Wulan!

Wulan!

Ada apa ini?

Wulan…

Wulan…

Ta…

Ta, panggil ambulans.

Wulan, aku minta maaf, ya. Aku terpaksa harus…

Sudah, tidak apa-apa.

Yang kau lakukan sudah benar.

Yang penting sekarang aku masih di sini dan mengobrol bersamamu, 'kan?

Anakku sayang

Cepatlah tidur

Wangi kembang

Aku selalu dengar lagu itu di mimpiku.

"Sudah malam, cepatlah tidur."

"Gelapnya kasur akan mengganggu."

Seperti lagu pengantar tidur.

Ada yang harus aku cek di kamarmu.

Kau serius tidak apa-apa, ya?

- Mas Respati, pekerjaanku sudah selesai. - Ya, Mas.

Aku izin pamit ya, Mas.

Kau tahu ini apa?

Buhul.

Biasanya dukun-dukun pakai ini untuk mengirim santet.

Siapa pun yang menaruh ini di sini,

pasti dia pakai ini untuk bawa Sukma ke mimpimu.

Tapi bagaimana caranya

dia bisa masuk ke sini dan menaruh ini?

- Mas Abdul. - Mas Abdul.

Eyang?

Eyang!

Eyang? Eyang.

- Eyang. - Eyang, bangun.

Re, kepalanya.

Aduh…

- Tolong, Ta. - Eyang.

Eyang, bangun. Ini Respati.

Eyang, bangun.

Eyang, ini Respati.

Eyang! Ini Respati, Eyang!

Eyang, bangun!

Re!

Kau masih ada sisa Bunga Nyai Malam?

Mbah Mustika punya banyak,

tapi kita tidak punya banyak waktu.

Eyang!

Eyang!

Lepaskan dia!

Ayo, lepaskan dia!

Jika kau ingin orang ini selamat,

ikut aku.

- Tidak perlu takut. - Jangan, Nak.

Kemarilah, Anak Baik.

Kemarilah.

Kemarilah.

Apa pun yang terjadi,

ikuti nalurimu.

Eyang, ayo!

Ayo, Eyang.

Ayo, Eyang! Ayo.

Tusuk diri Eyang!

Tusuk diri Eyang!

- Re! - Respati!

- Respati! - Re!

- Re! - Re!

Respati!

Eyang…

Bangun, Eyang!

Bangun, Eyang!

Eyang, bangun, Respati tidak punya siapa-siapa lagi.

Kesadaran eyangmu menurun drastis.

Tapi, tenang, aku akan terus pantau perkembangannya.

Silakan.

Aku selalu khawatir

hal seperti ini

akan terjadi lagi.

Maksudmu?

Orang tuaku…

Orang tuaku meninggal karena aku.

Mobil Bapak mogok di tengah jalan.

Mereka…

Mereka dirampok dan dibunuh.

Dan memang mobil Bapak sedang bermasalah.

Tapi aku tidak mau ikut.

Karena aku…

malas.

Sekarang…

aku tidak pernah bisa berhenti berpikir

andai waktu itu aku bisa ikut,

mungkin ada hal yang bisa aku lakukan untuk bisa mencegah kejadian itu.

Dan kalau Eyang kenapa-kenapa,

hal itu terjadi gara-gara aku.

Ini semua belum selesai.

Eyang masih sama kita.

Itu tandanya Eyang masih berjuang melawan Sukma di alam mimpi.

Kita tidak bisa berhenti di sini.

Eyangmu membutuhkanmu.

Tapi kalau aku tidak bisa masuk ke mimpi Eyang,

bagaimana caranya aku menolong Eyang?

Apakah ini bisa membantu?

Mas Abdul pakai ini untuk bawa Sukma masuk ke dalam mimpi target-target mereka.

Kalau aku tidak bisa masuk ke mimpi Eyang,

mungkin aku bisa bawa masuk Sukma ke mimpiku.

Aku bisa hadapi Sukma.

Tapi aku perlu bantuanmu, Ta.

Eyang pernah kasih aku alamat Mas Abdul.

Kau cek ke sana.

Aku yakin mayat Sukma ada di sana.

Aku ikut.

Tunggu!

Kalau kau sampai kenapa-kenapa,

aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri, Lan.

Re…

Aku tidak akan kenapa-kenapa.

Percayalah kepadaku.

Ada Tirta juga.

Tirta membutuhkanku.

Lalu, eyangmu membutuhkan kita.

Ya?

Waktu kita tidak banyak.

- Sudah dapat titik petanya? - Sudah.

Pak.

Bagaimana kalau kita pesan taksi saja?

Tidak perlu. Aman.

Kalau mobilnya kenapa-kenapa bagaimana?

Tenang saja, percaya saja kepadaku.

- Benar, ya? - Ya.

Sudah selesai.

Bu, Pak.

Aku ikut, ya.

- Ayo. - Tumben.

- Ayo. - Ya sudah, ayo berangkat.

- Ayo. - Ya.

Ta…

Depan kiri!

Sini, kiri.

Titiknya di sini.

Tirta, hati-hati!

Ta…

Bajingan!

Ta!

Lan…

kita harus bakar mayat ini.

Tirta!

Tunggu sebentar. Tunggu sebentar di sini.

Sial!

Ta!

Kalian semua harus tahu!

Aku tidak punya masalah dengan para korban itu,

terutama Giman.

Aku melakukan ini semua

demi orang yang kucintai.

Perempuan yang sudah seperti ibuku sendiri.

Aku mencari berbagai cara agar bisa hidup bersamanya.

Bersama Ibu.

Sebentar lagi,

mimpiku akan terwujud!

Mbah Mustika kenapa Mas bunuh juga?

Wanita tua itu akan merusak rencanaku!

Sekarang…

siapa yang mau kupotong lebih dulu?

Pelan-pelan saja, Nak.

Belok kanan di sebelah sana.

Putar balik, Nak. Cepat.

Tidak, Pak. Terus saja.

Seharusnya kita lewat sana.

Seharusnya kita lewat sana!

Ta!

Ini bukan urusanmu, Nak!

Ta!

Anak baik…

Sekarang kau yang mati…

atau aku yang mati!

Bajingan!

Maafkan aku, Anak Baik.

Maaf!

Respati…

- Ti… - Eyang!

Respati…

Ta! Tirta!

- Korek… - Tirta!

Ini untuk Eyang!

Eyang!

- Eyang. - Ya?

Sarapan.

Wah, apa itu? Burjo?

- Ya. - Wah…

Ini mengejutkan sekali, Nak.

- Bejat kau! - Rasakan!

Menurut hasil observasi yang ada,

tampaknya insomniamu membaik, Re.

Alhamdulillah.

Bagaimana rasanya tidur, mimpi indah?

Wah…

- Menyenangkan. - Menyenangkan, 'kan?

Ya, pasti menyenangkan. Kalau tidur itu…

Anakku sayang

Cepatlah tidur

Wangi kembang

Akan membuatmu tertidur

Sudah malam

Cepatlah tidur

Ke mana pun kau pergi…

aku akan mencarimu.

Bagaimanapun caranya.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.