Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Kepada penguasa hutan,
penguasa tempat ini.
Aku persembahkan untuk Dawuh yang akan dipilih.
Kepada penguasa hutan,
penguasa tempat ini.
Aku persembahkan untuk Dawuh yang akan dipilih.
Kepada penguasa hutan,
penguasa tempat ini.
Aku persembahkan untuk Dawuh yang akan dipilih.
Jauhkan desa ini dari malapetaka yang akan datang.
Inggri!
Bawa benda ini keluar dari desa ini.
Cepat!
Inggri!
Lari, Nak!
Ayo!
Lari.
Jangan sampai kamu melihat ke belakang.
- Tapi, Mbah... - Tidak apa-apa.
Tidak apa-apa, Nak.
Ayo, cepat.
Ayo.
Nak.
Jangan dibawa ya, Nak.
Jangan ikut campur.
Kembalikan.
Kembalikan, Nak.
Kembalikan!
Jangan, Nak!
Kamu tak apa-apa, Mil?
Tidak apa-apa, Mas.
Bisa tidur, Mil?
- Bisa, Mas. - Sama.
Ayo, Mil.
Ayo sarapan.
Apa benar ini tempatnya?
Iya, sepertinya.
Waduh.
Mil, kue lapis.
Katanya kalau makan ini
akan dijauhkan dari nasib buruk.
Terima kasih, Mas. Belum lapar.
Saya simpan dulu, ya.
Temanmu mana?
Sebentar.
Jito!
Tunggu, Arya?
Temanku!
Kamu lengket.
Gayamu itu.
- Sebentar. - Apa kabar?
Kalau aku tak sehat, tak mungkin aku di sini.
Ini temanku, Yuda.
- Jito. - Yuda.
Ada apa datang ke tempat ini?
Aku mau minta tolong.
Jangan ke sana, Nak.
Jangan.
Jangan.
Jangan ke sana, Nak.
Kenapa kamu ada di sini?
Mil?
Ada apa, Yud?
Tidak tahu.
Ayo.
Ini lo, Mas, desa yang aku cari.
Yang ada gapuranya.
Mas Jito tahu?
Masalah gapura
di sini itu semua ada gapuranya.
Gapuranya seperti ini, Mas.
Masa kamu tidak tahu? Lihat lagi!
Bagaimana sih?
Katanya tahu.
Benar tidak ada, Mas?
Maaf, Mas Jito.
Kita perlu pergi ke sana.
Ada yang harus kita lakukan untuk ibunya Mila...
...bulekku, yang sedang sakit.
Coba diingat-ingat.
Ini penting.
To?
Ini gambar penari, 'kan?
Sepertinya, Mas.
Desa yang ada penarinya.
Ada!
Ada satu desa yang aku tahu, Mbak.
Nah, desa itu sering disebut Desa Penari,
karena banyak penari yang berasal dari sana.
Apa itu desanya, ya?
Sudah saya bilang, teman saya ini pasti bisa bantu.
Mas Jito bisa tidak antar kami ke sana?
Waduh.
Jauh, Mbak.
Desanya itu di tengah-tengah hutan.
Bagaimana, ya?
Tunggu.
Apa ini?
- Tidak usahlah... - Oh, tidak mau?
Kalau maksa ya tidak apa-apa.
Enam ribu.
Ini setengah, 'kan?
Iya, setengah.
Kalau sudah kembali, aku tambah.
Terus bagaimana, To?
Kalian yakin mau ke sana, 'kan?
- Iya. - Tunggu sebentar.
Aku mau ambil baju dulu.
Waduh!
Jangan! Kena aku.
Aman, Mil?
Ini terus saja, 'kan?
Iya, terus saja.
Ya sudah.
- Terima kasih, ya? - Ya.
- Terima kasih, Pak. - Ya.
Ayo, Mil.
Biar cepat selesai, bisa langsung pulang.
- Terima kasih, Pak. - Ya.
Kenapa, sih?
Ini benar jalannya?
Iya. Desa Penari jalannya lewat sini.
Kok tidak ngomong di sini ada sesajen.
Ya, maaf.
Aku tidak tahu sama sekali.
Di depan ada sesajen lagi?
Tidak tahu.
Masih jauh?
Maaf, Mas. Aku kurang tahu.
Aku baru pertama kali ke sini.
Baru kali ini aku ke sini.
Tidak ada jalan lain, Mas?
Kan, tadi aku sudah bilang, Mas.
Desanya itu di tengah-tengah hutan.
Iya, 'kan?
Iya, 'kan?
Mil?
Dengar?
Dengar?
Dengar apa?
Tidak.
Ayo.
Sama seperti di gambar.
Hei.
Ayo.
Ayo.
Ayo, gerakan diluweskan.
Ayo.
Pintar.
Mil.
Cepat ditanyakan.
Ya, sabar dulu.
Maaf, Mbak.
Mau tanya.
Kalau mau ketemu sesepuh di sini rumahnya di mana ya?
Ujung sana, Mas.
Tapi sesepuh kami, Mbah Putri, baru saja meninggal.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Ada apa?
Maaf, Mbak.
Kalau ada yang mau kami tanyakan, kira-kira ke siapa ya, Mbak?
Mbah buyut, tapi lagi pergi.
Kira-kira kapan Mbak, Mbah Buyutnya pulang?
Wah, tidak tahu, Mas.
Apa kita pulang saja dulu?
Nanti ke sini lagi kalau Mbah Buyut pulang.
Kalau mau pulang sekarang, Mas.
Takutnya kalau malam tak ada truk yang lewat.
Bagaimana, Mil?
Tunggu di sini saja ya, Mas.
Maaf, Mbak.
Kalau diizinkan...
boleh tidak yah
kami menginap di desa ini
sampai Mbah Buyutnya pulang?
Kami bisa di mana saja kok, Mbak.
Di gardu.
Mau?
- Terima kasih, Mbak. - Saya antar.
Maaf, Mbak namanya siapa?
Sundari.
Kamu yakin?
Namanya Sundari.
Cuma ada ini yah tempatnya.
Terima kasih, Mbak.
Terima kasih, Mbak.
Terima kasih, Mbak.
Kalau malam, pasti dingin.
Pakai ini, Mil. Dingin.
Terima kasih.
Kayaknya kamu tidak bisa tidur di sini.
Tidak apa-apa, Mas.
Tidak apa-apa.
Kue lapis yang tadi, kamu mau, Mil?
Untuk Mas Arya saja.
Permisi.
Permisi, Mbak.
Maaf ya, Mbak.
Ada apa, Mas?
Aku Yuda.
Kami yang mau menginap di gardu.
Maaf, Mbak, kalau diizinkan
boleh tidak yah
adik sepupuku, Mila
menginap di rumah, Mbak?
Menginap yah, Mas?
Kasihan, Mbak, kalau harus tidur di gardu bersama kami.
Ini...
- Aku... - Maaf, Mas. Tidak usah.
- Tidak apa-apa. - Tidak usah.
Ya sudah, tak apa-apa, Mas.
Nanti biar...
Adik Mas tidur di rumah saya.
Terima kasih banyak, ya, Mbak...
Saya Ratih, Mas.
Mbak Ratih.
Saya panggilkan Mila.
- Sebentar ya, Mbak. - Ya.
Terima kasih, Mbak.
Ini rumahku, Mbak.
Di sini kamar ibuku.
Nanti kalau Mbak...
- Mila. - Mbak Mila butuh apa-apa
dapurnya di sini, Mbak.
- Ini dapurnya di sini. - Baik, Mbak. Terima kasih.
Iya.
Dan...
Maaf ya, Mbak.
Tapi kalau bisa jangan terlalu berisik.
Soalnya ibu saya lagi...
Lagi sakit.
Ya, Mbak.
Sebentar yah, Mbak.
Kain bersih buat istirahat.
Kalau mau langsung silakan, Mbak.
Aku tidur di sini saja.
Jangan, Mbak. Di kamarku saja.
Tak apa-apa, Mbak. Silakan.
Maaf ya, Mbak, merepotkan.
Tidak. Silakan.
- Terima kasih, Mbak. - Ya.
Kamu datang ke sini untuk mencariku, bukan?
Anak cantik, sudah lama kutunggu.
Mbak.
Maaf, Mbak.
Kalau boleh tahu...
ibu sakit apa, Mbak?
Ibu...
Bu.
Bu.
Maaf, Bu.
Minum dulu, Ibu.
Minum lagi, Bu.
Bu. Minum, Bu.
Di sini, Bu.
Maaf, Bu.
Maaf ya, Mbak.
Jadi harus melihat kondisi ibu.
Kondisi ibuku sama seperti ibumu, Mbak.
Ibuku juga sakit.
Sama, Mbak?
Persis.
Tidak apa-apa ya, Mil. Bude bawa orang pintar.
Semoga beliau bisa melihat
apa yang sedang terjadi sama ibu kamu.
Toh dari kemarin...
dokter tidak bisa menjelaskan kondisi ibu kamu.
Nak.
Ibumu membawa sesuatu
yang seharusnya tidak dia bawa.
Sesuatu apa, Mbah.
Apa ini, Mbah?
Benda itu berasal dari sebuah desa yang jauh.
Di ujung paling timur Pulau Jawa.
Kembalikan benda itu ke sana.
Dengan begitu
ibumu mungkin akan sembuh.
Ibuku...
sudah seminggu lebih Mbak, begitu keadaannya.
Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba
tidak bisa bangun.
Diajak bicara juga tidak bisa.
Tujuan aku ke desa ini...
aku mau mengembalikan barang ini ke pemiliknya, Mbak.
Katanya setelah itu ibu bisa sembuh.
Ini...
gapura ya, Mbak?
Ada di desa ini, Mbak?
Tapak Tilas namanya, Mbak.
Tidak ada yang boleh ke sana.
Kenapa, Mbak?
Soal itu biar Mbah Buyut saja yang jelaskan.
Ya.
Permisi, Mbak.
- Mbak. - Mil.
Bisa tidur?
- Sebentar, ya, Mbak. - Silakan, Mas.
Kayaknya ini benar desanya, Mas.
Tadi aku kasih lihat ke Mbak Ratih gambar-gambar itu.
Mbak Ratih?
Kamu tunjukkan ke dia?
Tadi Mbak Ratih juga bilang...
kayaknya dia pernah lihat gapura itu, Mas.
Tapi, kita tidak boleh ke sana.
Harus tunggu Mbah Buyut.
Ya sudah.
Kita tunggu saja Mbah Buyut datang.
Ya?
Semalam aku...
Aku lihat...
Lihat apa, Mil?
Kamu merasa ada yang aneh di sini?
Mas Yud.
Jadi mandi tidak?
Mandi dulu, ya.
Ayo.
Maaf, Mbak.
Kalau mau mandi di mana, ya?
Nanti biar saya antar.
Tapi sebentar, aku pamit dulu.
Iya.
Ambil kain dulu, Mil.
Aduh!
Ini teman-teman aku, Mbak.
Aku Jito.
Ratih, Mas.
Arya, Mbak.
Banyak nyamuk ya, Mas?
Ini bukan cuma nyamuk. Ada tawon, laron.
Rasakan kau.
Makanya bawa jaketnya.
Silakan, mandinya di bawah sana.
Iya, Mbak.
Tangganya, lewat situ turunnya.
Hati-hati, Mas.
- Terima kasih ya, Mbak. - Ya.
Kalau kita masih jauh.
Ayo.
Turun.
- Aku tidak dengar. - Akan aku tendang kamu.
Kalau orang desa ini mandinya di sini ya, Mbak.
- Oh iya, Mbak. - Halo.
Mari, Mbak.
Iya.
Tapi, yang perempuan.
Jauh ya, Mbak?
Sudah biasa.
Permisi, Mbak.
Permisi.
Mari, Mbak.
Ini tempat mandinya?
Oh iya, Mbak. Ini tempat mandinya.
Tempat mandi Sinden Kembar.
Katanya ada satu lagi yang seperti ini.
Tapi, tidak tahu di mana.
Dulu tempat mandi ini khusus buat penari sebelum mereka pentas.
Tapi, ya katanya sih, Mbak...
Tidak apa-apa mandi di sini?
Tidak apa-apa. Tapi, basuh dulu.
Silakan, Mbak.
Ya.
Mbak Mila yang sebelah sana yah?
- Terima kasih. - Ya.
Mbak Ratih?
Mbak.
Sini, Mbak.
Airnya segar.
Tidak usah malu.
Lagu itu tentang apa, Mbak?
Lagu itu...
menceritakan tentang manusia.
Manusia...
yang sering kali berkhianat pada janjinya.
Kamu...
bukan manusia seperti itu, 'kan, Nak?
Kembalikan Kawaturih-ku.
Kembalikan.
Mbak!
Ada apa, Mbak?
Ada apa, Mbak?
Ular.
- Ada apa? - Pulang, Mbak.
Jadi bagaimana ini, Yud?
Tidak tahu.
Sekarang kita ke rumah Mbah Buyut dulu.
Siapa tahu sudah pulang.
Jadi, tidak perlu menginap lagi.
Ini benar jalannya, To?
Iya, ini...
Kuburan!
- Astagfirullah. - Tunggu.
Aduh.
Aku salah.
Ayo, balik.
Kamu tidak lewat sini tadi.
Kok ditutup kain hitam?
Kuburan kayak begini...
mati tak wajar.
Jaga ucapanmu!
Kamu selalu membantah.
- Ini kuburan. - Siapa bilang ini di gardu?
Ini betul rumahnya Mbah Buyut?
Iya.
Kata orang-orang rumahnya di sini.
Permisi.
Mbah Buyut.
Permisi, Mbah.
Mbah Buyut.
Tidak ada orang.
- Apa ini? - Rampok!
Ayo!
Mas-Mas ini mencari siapa?
Hei!
Kami ini mau tanya.
Ini benar rumahnya mbah Buyut?
Ada urusan apa dengan Mbah Buyut?
Tunggu dulu!
Buyut sudah pulang?
Belum!
Kamu siapanya Mbah Buyut?
Bertanya terus.
Aku Prabu.
Ada urusan apa dengan Buyut?
Dik, Mbah Buyut di mana?
Mbah Buyut...
Tidak tahu.
Kapan pulangnya?
Tidak tahu.
Akan kupukul kau!
Sekarang bagaimana?
Sudahlah.
Kita tunggu saja.
Ya sudah.
Mas.
Aku mau cerita, Mas.
Tentang Mbah Buyut.
Katanya, Mas...
Mbah Buyut bisa berubah jadi anjing hitam.
Mas.
Kalau ada bahaya...
matanya merah menyala.
Larinya kencang.
Ini benaran, Mas.
Bocah gila!
Tidak mungkinlah!
Masa manusia jadi anjing?
- Ini benaran! Mas! - Mengarang kamu.
Aduh.
Tadi waktu...
aku mandi
aku lihat ular, Mas.
Banyak.
Tapi, tiba-tiba hilang.
Ular?
Kamu lihat ular?
Tadi, Mbak, kami ketemu bocah gila.
Cerita yang aneh-aneh.
Temanmu ini malah percaya.
Serem katanya.
Ada kuburan ditutup kain hitam.
Ada orang bisa jadi anjing.
Tempat ini di tengah hutan.
Menurutmu tak aneh desa ini?
Jadi bagaimana, Mil?
Apa kita pulang dulu saja?
Mbak Mila tidak jadi kembalikan benda itu, ya?
Apa tidak sebaiknya menunggu Mbah Buyut pulang dulu?
Maaf, Mbak.
Aku tidak sengaja menjatuhkan.
Tidak apa-apa.
Dengar?
Apa mungkin...
ada yang lagi pentas tari ya, Mbak?
Di mana, Mbak?
Di...
desa sebelah?
Desa sebelah?
Di sana ada...
tempat latihan menari, Mbak?
Apa...
Mbak Mila mau...
mau ke sana?
Mbak Ratih.
Mbak Ratih.
Permisi.
Mbak Ratih.
Mila?
Mbak Ratih.
Mila?
Mila?
Tidak ada di sini.
Mas Jito.
Tidak ada di sini.
Sial.
Astagfirullahal'adzim.
Tutup pintunya.
Mas Yud, ini sudah lama, lho, Mas.
Yang lain ke mana, kok belum pulang.
Tidak ada.
Ke mana, ya?
Mila!
Mil!
Permisi, Bu.
Ada orang di dalam?
Tidak ada, Mas.
Mila.
Terima kasih.
Kosong.
Nyai.
Ini Mbak Mila.
Akhirnya kamu datang, Nak.
Tubuhmu ini...
wangi.
Mana...
Kawaturih-ku?
Kalau...
saya mengembalikan ini...
ibu saya sembuh?
Kakek itu baik, ya.
Sudah menuntunmu ke tempat ini.
Benda itu asalnya dari desa...
Benda itu asalnya dari desa yang jauh.
Yang ada di ujung...
Yang ada di ujung timur...
Pulau Jawa.
Kembalikan benda itu ke sana.
Dengan begitu...
ibumu mungkin akan sembuh.
Di sini saja ya, Nak.
Tugasmu sudah selesai, Nak.
Maaf, Nyai...
Ibuku bagaimana?
Pulanglah.
Temuilah ibumu.
Mila!
Mas Yud.
Kita sudah mencari seharian, Mas.
Ayo pulang ke desa ya, Mas.
Siapa tahu mereka sudah pulang.
Duh, aku lapar.
Tidak.
Perasaanku tak enak.
Ke mana lagi, ya?
Warung?
Ayo tanya.
Kok ada warung?
Permisi, Pak.
Saya lagi...
cari adik saya.
Perempuan
tingginya segini.
Lihat, Pak?
- Rambutnya panjang. - Ayo kembali.
Tadi dia pergi bersama teman perempuannya, Pak.
Ayo kembali.
Kembali.
Terima kasih.
Nak.
Kamu bukan orang sini?
Semoga adikmu bisa ditemukan.
Bawa ini.
Terima kasih.
Tahu saja saya lagi lapar.
Tak baik menolak pemberian orang.
Ayo, cepat.
Mau hujan.
Mbak Ratih!
Mbak Ratih!
Mbak Ratih!
Mbak. Tunggu, Mbak!
Mbak. Siapa itu tadi, Mbak?
Dia itu...
namanya Badarawuhi, Mbak.
Dia janji kalau aku bantu
ibuku akan selamat.
Ratih...
Ratih...
Tolong Ibu!
Tolong Ibu!
Tolong Ibu!
Ibu...
Tolong Ibu!
Ibu!
Kasihan, ya...
ibumu.
Anda siapa?
Badarawuhi.
Saat ini...
ibumu sedang tersiksa, Nak.
Kamu bisa menolong ibumu.
Asalkan kamu...
mau membantuku.
Mbak!
Mbak Mila!
Mbak.
Ada apa, Mbak?
- Mbak... - Pulang.
Itu saja, Mbak.
Aku cuma menuruti dia.
Tapi kamu tahu dia bukan manusia!
Mbak Ratih...
Mbak Ratih!
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Ratih menuruti apa yang dia mau!
Ibu...
Ibu...
Ibu, Ratih mesti apa?
Mila!
Mila!
Mila!
Kamu dari mana saja?
Aku mau pulang, Mas!
- Mil... - Aku mau ketemu ibu!
Mil, petir! Bahaya!
- Ayo kembali! - Lari!
Bahaya!
- Ke mana? - Pulang, Mas.
Hei, Mil.
Pulang kondisi kayak gini?
- Aku mau lihat ibu! - Bahaya.
- Aku mau lihat keadaan ibu! - Mila, tapi ini bahaya!
Benar kata Mas Yuda, Mbak.
Badai seperti ini mana mungkin ada kendaraan.
Tapi, tak ada waktu, Mas.
Aku harus pastikan aku sudah benar.
Maksudmu apa sih, Mil?
Memang kamu habis melakukan apa?
Aku sudah kembalikan benda itu, Mas.
Tapi, kok rasanya salah, ya?
Berarti...
yang kalian pergi seharian itu...
buat kembalikan benda itu ya?
Seharian?
Aku pergi cuma sebentar, Mas.
Seharian kami mencari kamu, Mil.
Sampai ke wilayah hutan.
Kenapa tak ajak aku sih, Mil?
Itu bahaya, Mil.
Aku khawatir sama ibu, Mas.
Ya aku tahu, tapi itu bahaya, Mil.
Aku takut.
Aku takut ibu kenapa-napa, Mas.
Bau apa ini?
Bau apa ini?
Apa itu?
Apa itu?
Kamu itu aneh.
Ada warung di pinggir sungai.
Orang-orang berkuku hitam...
Masa kamu terima makanannya, To!
Terus tadi yang aku makan apa?
Ya, itu. Monyet!
Bagaimana sih.
Mil?
Mila?
Mila, anakku yang cantik.
Bangun.
Ibu?
Kenapa?
Mimpi buruk, ya?
Tidak, Bu. Tidak apa-apa.
Makan dulu.
Ada Lontong Balap kesukaanmu.
Nanti saja, Bu.
Mila masih capek.
Sekarang sajalah.
Nanti. Ibu di sini saja. Jangan ke mana-mana.
Temani Mila istirahat, ya, Bu.
Anakku yang cantik.
Mil.
Mila.
Anakku yang cantik.
Mil?
Mila...
Pulang, Nak.
Tidak usah menolong Ibu.
Kamu tak tahu apa yang kau hadapi.
Ini sangat berbahaya, Nak.
Jangan mau terima bujukan apa pun dari Badarawuhi.
Jangan!
Pulang, Nak.
- Pulang. - Ibu?
Ibu tidak bisa lama-lama.
Dia sudah melihat Ibu.
Mil?
Ibu.
Mbak.
- Mbak. Jangan, Mbak! - Ibu!
- Mbak. - Ibu!
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Anak cantik.
Ibu kalian sekarang berada di Angkara Murka.
Orang-orang desa ini
tahu apa yang harus mereka lakukan.
Lakukan ritual itu, Nak.
Lakukan ritual itu...
sebelum mereka semua...
celaka.
Ibu.
Bu.
- Ratih! - Ibu!
Ibu!
Jangan, Mbak!
Mbak, jangan!
Ibu...
Ibu, kenapa?
Ibu...
- Mbak! - Mbak Ratih!
Mbak Ratih!
Ibu! Sudah, Bu!
Sudah, Bu!
Ibu...
Ibu...
Ibu!
Mbah Buyut! Ibuku, Mbah!
Tolong, Mbah!
Kenapa kamu kembalikan Kawaturih itu, Nak?
Maaf, Mbah.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Sebelum meninggal...
ayahmu berpesan untuk mencari ibumu.
Aku datang
ke tempat ibumu.
Tapi, terlambat.
Badarawuhi lebih dahulu menemui dia.
Maaf, Mbah.
Eyang?
Ibumu Inggri.
Anak satu-satunya dari Mbah Putri.
Maksudnya...
Mbah Putri sesepuh di desa ini?
Eyangmu meninggal
karena terlalu berat menanggung tradisi desa ini.
Dia ingin melindungi ibumu
dan seluruh masyarakat desa ini.
Melindungi dari apa, Mbah?
Jiyanti itu berdarah panas, Mbah.
Saya tidak mau kalau sampai dia terpilih menjadi dawuhnya.
Kalau ada yang harus mati
biar saya saja, Mbah.
Dan jangan sampai kembaran saya tahu.
Ini ada apa, Bu?
Kenapa teman-temanku ada di sini?
Besok
teman-temanmu akan menari untuk desa.
Mbah yakin akan ambil kesempatan ini?
Bagaimana kalau Badarawuhi tahu
Santika bukan dawuh yang seharusnya?
Anak kembar itu memiliki ari-ari yang sama.
Kalau bukan sekarang, tak akan ada kesempatan lagi.
Kamu mau...
kalau desa ini terus-terusan menjadi budak setan itu?
Tugasmu...
membawa Inggri
lari dari desa ini.
Tapi, Mbah...
Mbah...
tidak akan bertemu Inggri lagi.
Selamanya.
Di malam ritual itu
nasib dua anak kembar itu ditukar.
Jiyanti
yang seharusnya menjadi Dawuh
Digantikan oleh Santika.
Ini harus kami lakukan
untuk mengecoh Badarawuhi
dan membawa Kawaturih itu pergi dari desa ini.
Bawa benda ini keluar dari desa.
Cepat!
Inggri!
Seluruh rangkaian rahasia ini
tidak ada yang tahu
kecuali kami berdua.
Pengorbanan yang Santika lakukan
memang memberi luka yang sangat menyakitkan
apalagi untuk Jiyanti.
Namun, berkat hal itu...
desa ini bisa lepas dari cengkeraman Badarawuhi.
Itu bukan tanggung jawabmu.
Kembalikan.
Jangan dibawa.
Kembalikan!
25 tahun Badarawuhi tidak dapat memilih Dawuh.
Dan selama itu Mbah Putri menahan sakit akibat keputusannya.
Kawaturih ini tidak boleh kembali ke sini.
Aku salah, Mas, datang ke sini.
Maaf, Mbah...
Semua ini salahku.
Sekarang ibuku bagaimana, Mbah?
Selama saya di dalam
jangan ada yang masuk.
Ya.
Kalau sudah ada ayam cemani
ini tidak sembarangan.
Jangan, Nak.
Di timur, jangan mudah membukakan pintu.
Kamu tak akan pernah tahu apa yang ada di baliknya.
Astagfirullahal'adzim.
Bagaimana ini ternaknya mati semua.
Sapinya mati!
Bagaimana ini?
Kebunku rusak semuanya!
Kenapa ini?
Jito!
Astagfirullahal'adzim.
Ayo. Pulang.
Pulang sekarang!
Kalau di rumah Mbah-ku, itu dipakai untuk menolak bala.
Mukamu itu sial.
Jangan sok tahu.
Aku serius.
Mas, ini.
Mohon maaf.
Tidak usah ikut campur.
Mil.
Mila.
Belum siap-siap sih.
Mil.
Ayo pulang.
Mau apa lagi, Mil?
Aku mau memastikan ritual itu, Mas.
Tidak usah, Mil.
Lebih baik kita pulang sekarang.
Lihat kondisi ibumu di rumah.
Ayo.
Siapa tahu ritual itu bisa bantu ibu.
Aku tidak mau perjalanan kita jadi sia-sia.
Silakan.
Bagaimana, Nak?
Manis, Mbah.
Ini yang terakhir.
Tidak ada lagi yang tersisa.
Kamu mau coba kopinya?
Mil.
Diminum, Nak.
Bagaimana?
Manis, Mbah.
Ini pahit, Mil.
Jangan ngomong aneh-aneh.
Ayo.
Kamu sudah dipilih
menjadi calon Dawuh untuk desa ini.
Maksudnya apa, Mbah?
Dia hanya memilih tujuh calon Dawuh.
Kopi manis ini pertanda
bahwa kamu harus melakukan ritual.
Besok memakai ini ya, Mbak.
Mbak, kenapa saat ritual kami tidak bisa ikut masuk?
Maaf, Mas. Tapi, memang katanya...
begitu caranya.
Memang tidak ada orang di desa ini yang boleh ikut.
Paling cuma yang sepuh-sepuh.
Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu di sana?
Dan kita tak tahu apa-apa?
Tugasku di sini buat jaga kamu, Mil.
Kita bakal tetap di sini...
sampai Mbak Mila pulang.
Iya, Mil, tapi janji yah...
Pulang.
Kalian berdua ini ngomong apa sih?
Sekarang siapa yang bisa jamin Mila selamat dari sana?
Tidak bisa, Mil.
Tidak bisa.
Kamu tidak bisa ikut sesuatu
yang kamu sendiri tak tahu apa akibatnya.
Ibumu pasti juga melarang, Mil!
Ya terus apa, Mas?
Cuma itu cara satu-satunya.
Kita akan melakukan ritual,
hal yang sudah lama tidak pernah dilakukan.
Untuk menolong desa ini.
Satu penari
akan menuntaskan tugas sebagai Dawuh yang dipilih
untuk menjaga desa ini
selama tahun-tahun ke depan.
Tutup pintu dan jendelamu.
Bunyikan bambu yang dibalur arang
untuk mengusir tamu yang tak diundang
yang lahir dari gelap.
Bunyikan...
agar desa ini terlindungi.
Desa yang dikelilingi para lelembut.
Apa pun yang terjadi...
jangan sampai keluar rumah.
Karena nanti malam, lelembut akan keluar
dan memakan apa pun.
Mil.
Sudah, Mil. Jangan.
Mila.
Ketuk terus-menerus bambu-bambu itu
sampai semua ini selesai.
Jangan berhenti.
Jangan pernah berhenti.
Daun itu rasanya memang sakit, Nak.
Tapi, dengan inilah kalian bisa pulang.
Setelah ini, kamu akan menari sepanjang hari.
Tapi, saya...
tidak bisa menari, Bu.
Bisa.
Silakan bersimpuh.
Jangan pernah berhenti bermain
sampai penari terakhir tumbang.
Hiruplah selendangmu.
Kepada penguasa hutan
penguasa tempat ini.
Aku persembahkan untuk Dawuh yang akan dipilih.
Jauhkan desa ini dari malapetaka yang akan datang.
Satu per satu
sukma untuk menutup angkara.
Nak.
Apa yang kamu lihat di sana?
Sudah hampir malam.
Mila belum juga pulang.
Perasaanku tidak enak.
Jangan!
Ingat pesannya Mbah Buyut.
Jito.
Mbah, kenapa belum dipilih? Ini sudah terlalu lama.
Baru pertama kali aku melihat yang seperti ini.
Nak.
Di sini
kamu disukai.
Dipuja-puja.
Layaknya kembang
yang paling wangi.
Tidak mau di sini saja, Nak?
Bagaimana ibu?
Kenapa, Nak?
Takut?
Di sini saja ya, Nak.
Temani saya.
Mau, ya?
Temani saya, Nak.
Tidak...
Tidak...
Tidak...
Tidak!
Apa yang kamu lihat, Nak?
Bada...
Badarawuhi.
Kenapa dia menari lagi, Mbah?
Tutup mereka dengan kain putih.
Kita harus berani mencoba untuk menghentikan ini.
Mereka belum sadar juga, Mbah.
Mereka belum kembali.
Dawuh...
Dawuh...
Dawuh...
Dawuh...
Kita tidak boleh di sini.
Segera bawa mereka ke desa.
Dawuh...
Ayo.
Letakkan di sini.
Kenapa ini, Mbah?
Hati-hati.
Ayo cepat pulang kamu. Cepat.
- Iya, Mbah. - Iya.
Cepat pulang.
- Mbah ini kenapa, Mbah? - Jaga keluargamu.
Mil?
- Mila? - Tunggu, Mas.
Ini kenapa Mila?
- Mbah. Ini kenapa, Mbah? - Ambil garam.
Lemparkan ke semua sisi di ruangan ini.
Mil! Sebentar, Mbah ini kenapa?
- Bangun, Mil. - Mbah?
Mil, bangun. Mil.
Ya Allah. Mbak Ratih.
Mbak Ratih...
Mila...
- Yud! - Mbah. Itu kenapa, Mbah?
Badarawuhi belum memilih antara Mila dan Ratih.
Tapi, yang jelas
saat ini
mereka berdua
ada di Angkara Murka.
Bagaimana ini, Mbah?
Mila, bangun!
Mbah. Tolong adikku, Mbah.
Mbak Ratih?
Mbak Ratih?
Ibu?
Di sini saja, Mbak.
Ayo main bareng-bareng.
Main, yuk, Mbak!
Mbak, main, yuk!
Mbak, main, yuk!
Mbak, main, yuk!
Mbak, main, yuk!
Mbak, main, yuk!
Mil, bangun! Mil!
Yuda!
Kamu tidak apa-apa?
- Tutup pintu! - Kenapa, Yud?
Tutup!
Mbak Ratih!
Di sini saja ya, Nak.
Menemani...
...dia.
Mbak Ratih...
Mbak Ratih!
Kamu...
tidak mau...
seperti dia?
Ratih...
bersama ibunya.
Jiyanti.
Ada yang mau ketemu kamu.
- Mila! - Ibu!
Mila!
Mila!
Ibu!
Mila!
Ibu...
Ibu!
Mil...
Ibu!
Mila!
Ibu!
Ibu!
Mil... Mila!
Ibu!
Ibu?
Mila.
Anakku yang paling cantik.
Ibu?
Mila pulang ya.
Ayo kita pergi dari sini, Bu.
Kita pergi dari sini, Bu.
Tidak bisa.
Ibu pulang sama Mila ya, Bu.
Tidak bisa, Mil.
Mila pulang.
Tidak bisa, Bu.
Mila tidak bisa pulang
kalau tidak ada ibu.
Bisa.
Bisa.
Ibu tidak ingin kamu jadi bagian dari semua ini.
Mila pulang.
Kamu kuat.
Kamu harus hidup baik-baik.
Mila ingat...
jangan pernah...
Jangan pernah mengiyakan apa yang dia mau.
Ingat, Mil.
Ibu...
Ibu...
Ibu...
Bu!
Ibu!
Ibu.
Kamu tidak mau
menemani ibumu di sini?
Seperti
anak cantik itu?
Ibu!
Ibu!
Ibu...
Kamu tega lihat ibumu?
Kasihan, ya.
Mil...
Mila.
Mil.
Mbah. Ini kenapa, Mbah?
Mbah. Ini badannya Mila makin dingin, Mbah.
Tolong, Mbah.
Mila.
Kalian tunggu di sini.
- Mil! - Mila!
Apa itu?
Ibu!
Jangan!
Ibu!
Mil?
Mila.
Mil...
Ibu...
Mil!
Nak...
Kamu itu
satu-satunya Dawuh
yang bisa kembali
dari Angkara Murka.
Saya bisa kembali...
karena ibu.
Kami pamit, Mbah.
Ibu!
Ibu!
Setelah ini kita bagaimana?
Aku juga tidak tahu.
Tapi, yang pasti
tidak boleh ada korban lagi.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.