All language subtitles for para betina 2024-hi_idcp

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian Download
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

["Damba" mengalun]

Aku Asih.

Ini kekasihku, Karto.

[Asih] Aku mengikutinya ke Potrosaran

memohon restu ibunya, untuk menjadi istrinya.

Tapi, ternyata takdir berkata lain.

Ibunya tidak menerimaku.

Karto meninggalkan aku sendirian di sini.

Tapi, ia berjanji akan kembali.

Hari demi hari.

Karto tidak pernah kembali.

Saya terima nikahnya dan kawinnya Pertiwi binti Ngadimin

dengan mas kawin sebanyak satu gram emas, tunai.

- [penghulu] Bagaimana saksi? Sah? - [saksi] Sah!

Tidak sah! Mas Karto!

Teganya kau meninggalkan aku, Mas Karto!

Mas!

Batalkan pernikahan ini, Mas!

[Asih] Aku tahu kau terpaksa karena ibumu, 'kan, Mas?

Cinta ternyata bisa membunuh.

Karto menikah dengan perempuan pilihan ibunya.

Ia membuangku seperti sampah.

Bajingan.

[Iblis] Untuk apa kau mati, Anak Manusia?

Ada jalan lain yang bisa kau lalui.

Jika kau mau,

ikutlah denganku.

[Iblis] Tubuhmu

adalah hartamu yang paling berharga, Asih.

Kau sempurna, Asih.

Semua laki-laki menginginkan dirimu.

[Asih] Aku membuka pintuku

untuk dunia hitamnya yang terkutuk.

Dendam membutakan mataku.

[Asih tertawa kecil]

[Asih] Ibu Karto meninggal tiba-tiba.

Dan meninggalkan banyak utang.

Karto terusir dari rumahnya.

Ia kini tak punya apa-apa.

Dalam gelap, aku temukan kebahagiaan dan harta.

Perempuan yang disia-siakan

sekarang adalah perempuan yang paling didambakan para lelaki.

Maafkan aku, Asih.

Maaf, aku sudah menyia-nyiakanmu.

[Asih] Aku tak bisa membohongi hatiku.

Aku tetap mencintainya.

Dan aku ingin memberinya kesempatan kedua.

Kau suka gelang pemberianku?

Suka sekali.

Untuk modal usaha warung gulai.

[Asih] Bermodalkan uang dariku,

usaha warung gulai Mas Karto selalu ramai pengunjung.

Mas,

kalau anak kita laki-laki,

dia pasti gagah seperti kau, Mas.

Tapi sikap Mas Karto menjadi berubah ketika aku hamil.

Entah ke mana perginya perhatian dia selama ini.

Sudah! Istirahat sajalah.

Tidak apa-apa, Mas.

[Karto] Gelang dari siapa yang kau pakai?

- [tangisan anak kecil] - Tak usah kau cemburu.

Kau 'kan tahu ini pekerjaanku.

[Asih] Sikapnya semakin dingin ketika anak lelaki kami lahir.

Kau lihat, Karto?

Aku hidup dari sini.

Dan kau hidup dari aku.

Ini semua karena

tubuhku dan wajahku

adalah harta yang paling berharga.

Kalian semua akan mati membusuk gara-gara sifilis!

[Asih] Kenapa lihat?

Merasa paling cantik dan muda.

[para gadis] Jelek sekali!

[berteriak kesal]

[induk semang] Hei!

Antre, Tuan.

Kalau jatah malam ini sudah habis,

Tuan bisa kembali besok malam.

[tamu] Tidak punya mata kau?

Aduh!

Boresh!

[tamu] Biar tahu rasa kau!

[tamu] Kenapa?

Boresh!

Tuan, maafkan anak saya, Tuan!

Jangan pukuli anak saya!

Tuan, pukuli saya, Tuan! Pukuli saya!

Jangan sentuh aku!

[tamu] Beraninya menyentuhku!

Ibu!

[tamu] Keparat kau!

Bajingan!

Keparat!

- [Asih berteriak] - [tamu mengerang]

[Asih terengah-engah]

Huh! Bajingan!

Kurang ajar!

[pria terkekeh]

Tolong.

Tolong saya.

Balik sana ke kamarmu.

Jangan sampai baumu itu bikin tamu batal ke sini.

[Asih menangis]

Boresh.

- [Asih terisak] Boresh. - [pria tertawa]

[Asih] Sudah lama aku telah lupa denganmu, Teman Lamaku.

Aku persembahkan

selembar nyawa bangsatku ini

untukmu, Bedebah Iblis.

Kehidupanku sudah selesai.

Hidup sia-sia

dalam keduniawian.

Terjerat dalam mimpi-mimpiku.

[musik mendebarkan mengalun]

[Iblis] Aku berterima kasih kepadamu

karena engkau telah menyerahkan nyawamu kepadaku.

Karena apa yang kau minta

memang memerlukan kau untuk mati terlebih dahulu.

Kau akan menjadi aku.

Dan aku akan menjadi kau.

Apa kau siap dengan pengorbananmu selanjutnya?

Apa nyawaku tidak berarti?

[Iblis] Nyawamu hanya awalan

karena apa yang akan aku minta selanjutnya

adalah persembahan darah dari seseorang yang paling kau cintai.

Dia sudah menghilang.

Aku tidak tahu di mana dia sekarang.

[Iblis] Karto adalah masa lalumu.

Dia bukan orang yang paling kau cintai, Asih.

Karena manusia yang paling kau cintai adalah manusia bejat!

Dia mencontoh perbuatanmu, Asih!

[Iblis] Dia bunuh perempuan itu. Dia perkosa tubuhnya,

seperti hewan yang melampiaskan hawa nafsunya.

Hawa dosa besar itu yang kau perlukan untuk memenuhi nafsumu.

Apa kau siap

dengan yang akan aku minta kepadamu?

Aku minta anakmu!

[mantra dalam bahasa Jawa]

Tenang, Anakku.

[mantra dalam bahasa Jawa]

Tunjukkan siapa pembunuh adikku Ningrum.

Aku akan membalaskan dendamnya malam ini.

[Asih terus tertawa]

[ketukan di pintu]

Ada apa?

Aku di sini diutus oleh teman kecilmu

untuk menyelesaikan masalahmu.

Ada hadiah yang mungkin tak akan kau tolak.

Aku diminta untuk memberikannya kepadamu.

[mantra dalam bahasa Jawa]

Minum.

Tunggu.

Jika kau meminum darah itu,

tidak ada lagi kata kembali

karena Iblis sudah menyatu denganmu.

[Asih tertawa]

Sebaiknya kau ubah gerak-gerikmu,

juga kebiasaanmu mengumpat.

Jadilah Asih yang baru.

Baik.

Akan aku ikuti saranmu.

Jangan kau lupakan janji kita.

Kau harus bercerita kepadaku

apa yang sebenarnya terjadi pada almarhumah adikku, Ningrum.

[Asih] Boresh, anakku terlahir cacat.

Apa pun yang ia lihat, ia pikir adalah hal yang lazim.

Ia jatuh cinta pada adikmu, Ningrum.

[Ningrum menjerit]

Dokter Freedman yang ingin menyingkirkan Ningrum

memperalat Boresh yang tak paham mengendalikan nafsunya.

Aku sudah pernah bicara padamu.

Gugurkan anak di kandunganmu!

[Ningrum menangis]

[Boresh mengerang]

[musik tegang mengalun]

Kau setuju denganku

bahwa dr. Freedman adalah biang keladinya?

Katakan jika kau telah menyesal membunuh adikku Ningrum.

Dan kau pantas mati untuk itu.

Kau iblis, Sari.

Kau pengecut.

[dr. Freedman menjerit kesakitan]

[daging teriris]

[darah menetes]

[musik mengerikan mengalun]

Ada yang bisa saya bantu, Den Ayu?

Saya induk semang di sini.

Apakah kamar ini disewakan?

Kami harus bereskan dulu.

Karena penyewa sebelumnya itu adalah pelacur tua yang kudisan.

[tembang Jawa mengalun]

[induk semang] Perkenalkan, pendatang baru dari Bilik Asmara.

Namanya Serumi.

Berhubung ini adalah malam pertama Serumi di sini,

maka hanya nilai tertinggi saja yang bisa menemani Serumi.

Tulis saja di kertas.

Berapa nilai yang pantas buat ditemani oleh Serumi.

Dan tentunya bubuhkan nama Tuan-tuan.

- [tembang Jawa terus mengalun] - [induk semang tertawa kecil]

Yang akan menemani Serumi malam ini adalah

Pak Mimin.

[induk semang tertawa kecil]

Serumi.

[Iblis] Selamat atas kesempatan keduamu, Asih.

Jika kau ingin terus seperti ini, Asih,

kau harus terus melakukan pengorbanan.

Kau akan haus.

Dan haus akan darah.

[Murni] Permisi.

[ketukan di pintu]

Sudah bangunkah?

[ketukan di pintu]

Saya Murni, yang tinggal di kamar seberang.

Permisi.

[Iblis] Kau akan kembali ke wujud asalmu jika kau menahan rasa laparmu, Asih.

[Murni] Aku dengar kau tak hanya cantik

tapi memuaskan di ranjang.

Datanglah malam ini.

Kau hanya perlu memperhatikan saja.

Aku akan mengajarkanmu

untuk memuaskan tuan-tuan yang budiman.

Karena wajah cantik saja tidak cukup.

Kau harus membuat mereka kecanduan.

Selalu datang.

Dan datang lagi.

Kita harus memakai topeng

untuk menyembunyikan jati diri kita.

Aku telah menyiapkan buat malam ini.

[Asih tertawa kecil]

Aku akan mengikatmu di sini.

Nanti di tengah permainan,

aku akan memberi tahu tamu kita,

bahwa ada sesuatu di balik sekat ini.

[Asih tertawa kecil]

Tapi kenapa tangan dan kakiku diikat?

[Murni menjerit]

[Murni menjerit tertahan]

Sssttt.

Bukankah kau ingin menjadi seperti aku?

Inilah aku.

Membuatmu seolah-olah kau yang membutuhkan aku.

Padahal aku yang membutuhkan kau, Murni!

Aku butuh darahmu, Murni.

Untuk kecantikanku.

Untuk kemolekan badanku.

[Asih tertawa mengerikan]

Pak Mimin.

Serumi.

Kau milikku, Serumi.

Hanya aku yang boleh menyentuh tubuhmu.

Bisa kita bicarakan ini nanti?

[Serumi menyeringai]

Sebentar.

Pak Mimin di sini dulu, ya.

Sebentar saja.

Serumi!

[Serumi menjerit]

[Pak Mimin menjerit kesakitan]

- [Serumi mengerang] - [Pak Mimin menjerit]

- Murni? - Tolong!

- Murni! - Tolong!

[pria] Serumi! Keluar kau!

Atau kami akan membakarmu hidup-hidup!

Asih.

[menghela napas]

[mengembuskan napas]

Asih.

Keluarlah.

Karena itu satu-satunya jalan agar kau bisa selamat.

Asih.

Percayalah padaku.

Karena aku akan selalu melindungimu.

[Iblis mendesah]

[pria] Serumi!

Aku tidak main-main!

Keluar kau!

Kamar ini sudah dikepung!

[Asih terkekeh]

[Murni] Kalian harus menangkapnya. Ia bukan manusia, ia iblis!

- Kalian tahu? Serumi adalah Asih! - Apa?

Asih si tua kudisan itu!

- [Murni] Ia pasti menganut ilmu sesat! - [menyeringai]

[terbatuk-batuk]

[Asih merintih]

[Asih terengah-engah]

Keluarga Pak Mimin memutuskan

untuk mencambukmu sampai kau mati.

[Asih menjerit]

[sabetan cambuk]

Bajingan!

[Asih merintih]

Akan kubunuh kalian semua!

[sabetan cambuk]

[Asih menjerit]

[sabetan cambuk]

- [sabetan cambuk] - [Asih merintih]

Pakai api neraka dalam hatimu, Asih.

[Asih menangis]

Biarkan Iblis menjadi kekuatanmu.

- [sabetan cambuk] - Aku akan menunggumu di sini.

Api di dalam hatimu.

Api di dalam hatimu.

Api di dalam hatimu!

[Iblis mengerang]

[algojo mengerang]

[algojo merintih]

[terengah-engah]

[dentuman]

Murni.

Murni!

Murni, ayo kita pergi dari sini, Murni!

[Murni menyeringai]

Murni.

[Murni menyeringai]

[darah dan daging bersemburat]

Kau racuni aku dengan virusmu.

Sebab aku dengar mimpi-mimpi gemerlapmu.

Kau tarik aku jadi budak iblis.

[Murni mendesis]

[Asih] Pelacur tengik!

Siapa kau berani-beraninya menghakimiku?

Kau sendiri yang datang kepadaku.

Menawariku untuk jadi teman, karena kau butuh pengetahuanku!

[Pak Mimin menggeram]

Tanpa aku kau bukan siapa-siapa!

[keduanya menyeringai]

[Murni menggeram]

[Murni mengerang]

Murni!

[Asih terkekeh]

[Iblis] Asih.

[Iblis] Asih.

Sebentar lagi panen raya akan tiba.

Seluruh penduduk akan pulang kampung dari penjuru kota.

Kau pimpin mereka.

Sebarkan virusmu.

Agar tradisi panen raya itu hilang.

Agar kita bisa merusak iman mereka.

Karena tradisi itu

seperti tanah haram

di seberang lautan.

Jika tradisi itu hilang

maka iman akan menjadi sendiri-sendiri.

Aku diutus ke sini untuk mencari mayat adikku, Ningrum.

Apa kau tahu di mana aku harus mencarinya?

[Asih tertawa]

[Asih] Aku mau menjemput kekasih hatiku, Karto.

Kau melihatnya?

Kau rupanya.

Kau biang dari semua kekacauan hidupku!

[Asih tertawa]

[Asih tertawa kecil]

Tenang.

Kesampingkan dulu sakit hati kalian.

Karena kita punya masalah yang lebih besar.

Di luar sana,

musuh sudah mengintai.

Dan musuh kalian tidak main-main.

Karena dia datang

untuk penghakiman!

[Iblis] Asih.

Kau sudah mengenal Sari.

Tapi apa kau mengenal Sumi?

[Asih tertawa]

[Asih] Anak lonte.

Mencuri kekasih hati orang.

[Sumi] Perempuan sundal!

[Sumi menyeringai]

Masih berani kau datang ke sini?

Tidak punya malu kau!

[Iblis] Sari,

apa kau sudah mengenal Sumi?

Kau menyuruhku ke sini untuk mencari Ningrum.

Apa kau yang mencuri mayatnya?

[Sari] Berani-beraninya kau Sumi!

[pria] Asalamualaikum.

Musuh kita telah datang.

[Iblis] Apakah kalian akan terus menyerang satu sama lain?

Asalamualaikum.

Ada apa?

Permisi, Mbak. Saya pengembara.

Kebetulan saya lewat di desa ini.

Boleh saya menumpang beristirahat malam ini?

Saya perhatikan, hanya rumah ini yang masih menyala.

Masuk.

Permisi.

Aku ambilkan minum.

Terima kasih.

- Dari mana asalmu? - Saya dari kota, Mbak.

[Sari] Desa ini desa mati.

Tidak ada orang yang kebetulan lewat sini.

Jika ada orang yang ke sini, hanya ada dua kemungkinan.

Tersesat.

Atau memang ingin berkunjung ke sini.

Saya tersesat.

Kami semua tersesat!

[Asih terbahak-bahak]

[Sari] Lebih baik cepat angkat kakimu dari desa ini

jika kau betul-betul tersesat.

Mungkin saya tersesat,

tapi tidak ada salahnya kan, jika saya ingin menetap sejenak di sini?

Tidak ada apa-apa di sini.

Yang ada di sini

hanyalah seorang penjual gulai,

pelacur tua,

dan perempuan yang ingin menuntut balas.

Apa yang ingin kau lakukan di sini?

Saya ingin menyebarkan kebajikan.

Dan menumpas kemungkaran.

Kemungkaran seperti apa?

Apa pun yang tidak sejalan dengan syariat agama.

[Asih tertawa]

[Asih] Jika itu tujuanmu di sini, [tertawa]

Kau salah tujuan.

Di sini tidak ada yang namanya syariat agama.

[Asih tertawa]

[Sari] Tidak ada yang punya agama di sini.

Kami hanya yakin jika hidup kami ingin lebih baik,

kami harus lakukan apa pun untuk bertahan hidup.

Termasuk bersekutu dengan Iblis.

Silakan diminum.

Sepertinya Nona Rumah ini tidak cakap dalam sopan santun menerima tamu.

Maafkan.

Kenapa?

Kau takut kami racuni, ya?

[berbahasa Arab] Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saya yakin

lambat laun kebajikan akan bisa berjalan di desa ini.

Bajingan!

Bocah ingusan! Banyak cakap!

[Asih mengerang]

- [Sumi mengerang] - [pengembara merintih]

[Asih tertawa]

Sari!

Kenapa kau diam saja?

Menjemput maut.

Kau pikir kami jongosmu?

Aku tidak ingin mengotori tangan bersihku ini untuk melawan tikus got macam dia.

Alasan kau, Sari! Bilang saja kau takut terkena sabetan golok si Tikus Got ini.

Diam kau, Sumi!

[pengembara menjerit]

Jangan jemawa kau, Sumi.

Tikus got itu lemah karena telah meminum minuman yang telah kumantrai.

Tugas dari Iblis telah selesai.

Sekarang mari kita tuntaskan dendam kita, Sumi.

[Sari dan Sumi mengerang]

[Asih] Mas Karto!

- Mas Karto! Kau di mana? - Mau ke mana kau, Lonte?

[Sumi dan Sari mengerang]

[Sumi] Asih!

[musik tegang mengalun]

Asih!

[Sumi] Kau pantas untuk mati!

[Sumi dan Sari mengerang]

[mendengus]

[mendesah]

[Asih tertawa senang]

Mas Karto!

[merintih]

Mas Karto!

[merintih]

[menangis dan tertawa]

[menggeram]

[Asih tertawa]

[Sumi] Asih!

[Asih tertawa]

[Asih] Kita pergi dari sini!

[Sumi mengerang]

Asih!

[mengerang]

Surasih.

[berbahasa Jawa] Ibunya berengsek!

[Asih tertawa]

[menghela napas]

Bajingan.

[berbisik] Bismillah.

[musik biola sendu mengalun]

[Sari] Aku tidak terima.

Siapa pun yang telah memakan daging Ningrum akan menerima akibatnya.

Kau juga, Sumi.

[mantra dalam bahasa Jawa]

Tidak tahu, Bapak.

Tiba-tiba saja suamiku muntah darah.

[mantra dalam bahasa Jawa]

Pak!

[mantra dalam bahasa Jawa]

[musik menegangkan mengalun]

[musik berhenti]

Ini pasti perbuatan kejimu, Sari!

Mereka memang pantas mendapatkannya, Pak.

Bapak tahu?

Mereka semua yang terkena teluhku adalah mereka yang memakan daging Ningrum adikku.

Orang-orang yang kau teluh

belum saatnya mati.

Karena ada pemuda yang menolong mereka.

[suara tertawa]

[Iblis] Sumi.

Kau terkejut?

Pasti perbuatan Sari.

Harusnya kau muntah darah, Sumi.

Harusnya seluruh penduduk di desa ini muntah darah.

Karena sudah memakan mayat Ningrum.

Mayat yang kau jadikan gulai.

Tapi tenang.

Kau akan kulindungi.

Bukankah aku sudah berjanji untuk itu, Sumi?

Aku tidak akan membiarkan tiga pengikutku saling membunuh.

Musuh sudah ada di depan mata, Sumi.

Seandainya kalian tidak bertengkar tadi malam,

pasti pemuda itu sudah mati.

Ya sudah!

Aku mau pergi dari desa terkutuk ini.

Kau akan membiarkan Asih,

perempuan sundal

yang sudah menghancurkan kebahagiaan keluargamu?

Apa kau rela, jika perempuan sundal itu memiliki jasad bapakmu?

Dia akan menghidupkan bapakmu, Sumi.

Diam kau, Iblis.

Kasihan bapakmu.

Saat mati pun

jasadnya tak tenang.

[berteriak] Diam!

[bernapas cepat]

Aku akan membantumu, Asih.

Sama seperti aku mengembalikan wajah cantikmu dan kemudaan tubuhmu.

Bajingan.

Jangan basa-basi kau, Sari.

Kau pasti mau minta sesuatu, 'kan?

Aku minta kau bantu aku untuk membunuh Sumi.

Pasti aku akan membunuh anak kirik asu itu.

Karena ibunyalah

yang telah membuat hidupku menjadi sengsara seperti ini.

Dan kau

bisa mengambil wajah cantik Sumi untuk mengganti kulit wajahmu itu.

[dalam bahasa Jawa] Anak babi, babi, anjing.

Sari.

Kau benar-benar sundal berhati keji.

Kau pasti lahir dari neraka.

Aku lahir dari keputusasaan.

Allahu akbar

Allahu akbar

Pengembara itu telah mengeluarkan taringnya.

Bajingan! Mau apa kau, Sari?

Ada yang mengganggu ritualku.

…rasulullah.

Hayya 'alal falah.

Hayya 'alal falah.

[Sari] Cepat bunuh pengembara itu jika ingin ritual ini berhasil.

Tanpa kau suruh, aku akan membunuhnya, Sari.

- Nur! - [Nur menjerit]

[berbahasa Arab] Astagfirullah hal'adzim.

Di luar, Mad.

Apa yang kau takuti, Nur?

Kita kan menghadap yang Maha Pencipta.

Ayo!

Silakan.

Allahu akbar.

Asyhadu ala ilaha ilallah.

Ashadu anna muhammadarrasulullah.

Hayya alla sholah hayya alal falah.

Qod qomatish sholah.

Allahu akbar.

Laa ilaha ilallah.

Allahu akbar.

[Sumi] Mau pergi ke mana kau Asih?

[Asih tertawa]

[Asih] Bukan urusanmu, Lonte.

Kembalikan mayat bapakku.

Saat masih hidup, kau bunuh Karto.

Setelah mati, kenapa kau peduli dengan mayatnya?

Kini biarkan mayatnya tenang di kuburan.

Jaga kelakuanmu, Sumi.

Karena sebentar lagi aku akan jadi ibumu.

[Asih tertawa]

[berteriak] Mimpi kau, Asih!

[guntur menggelegar]

[angin menderu]

[Sumi mengerang]

[Asih tertawa]

[Asih] Sumi!

[Asih terus tertawa]

[Sumi] Maju kau, perempuan sundal.

[Asih terkekeh]

[keduanya mengerang]

[Asih terkekeh]

[Asih] Aku baru mulai, Sumi.

[Sumi menjerit]

[Asih tertawa keras]

- [Asih merintih] - [Sumi mengerang]

[Asih mengerang]

[Asih] Lihat saja. Akan kuhabisi kalian berdua. [tertawa]

Lain kali.

Lihat saja. [tertawa]

[Asih] Bajingan.

Harusnya kuhabisi itu anak kirik asu sekaligus Saiful pengembara itu.

[Asih] Bagaimana, Sari?

Kau bisa menghidupkan kekasihku, Karto?

[pria] Apa kabar, Asih?

Mas Karto!

Mas Karto.

Mas Karto! [terisak]

[Sari] Ingat janjimu, Asih.

Ambillah.

Bajingan.

Ini gelang darimu, Mas Karto.

[petani] Pak, Mas Ahmad.

Padinya busuk semua, padahal kemarin baik-baik saja.

Gagal panen raya, kita mau makan apa?

[berbahasa Arab] Astaghfirullah haladzim!

[ketukan di pintu]

[Ayah Sari] Sari!

[ketukan di pintu]

[Ayah Sari] Sari!

Sari!

Keterlaluan kau, Sari!

Bapak masih bisa paham, kau santet orang-orang yang telah menyakiti hatimu!

Tapi apa salahnya penduduk desa ini hingga kau tega rusak panen mereka?

Mereka bekerja keras setiap hari

menunggu saat panen tiba.

Apa kau tak punya hati?

Seluruh penduduk di desa ini berutang kepadaku.

Mereka semua tidak ada yang peduli saat aku dan Ningrum kelaparan saat kecil.

Lalu apa salahnya mereka merasakan apa yang aku rasakan dulu?

Mereka tidak akan mati hanya karena gagal panen.

Terbuat dari apa hatimu? Keji!

Aku terlahir dari ibu yang lemah dan bapak yang tidak punya perasaan.

Tapi sepertinya aku lebih mirip dengan Bapak dibandingkan Ibu.

Mau apa lagi kau ke sini?

Boleh aku masuk?

Sepuluh tahun lalu

di rumah ini ada kakak beradik.

Ahmad dan Sumi.

[Karto] Perempuan sundal!

Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan pelacur itu.

Sudah kujelaskan berkali-kali!

[Pertiwi] Aku tidak sudi hidup bersamamu, Mas.

- [Karto mengerang] - [Ahmad] Ibu sudah mati, Mbak.

Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat Bapak membunuhnya.

[Karto menggeram]

- [pisau dicabut] - [Pertiwi berdebum]

- Keluar dari sini! - Aku Ahmad, Mbak.

Ahmad sudah mati.

Ahmad belum mati, Mbak.

[Ahmad berbisik] Mbak Sumi, Bapak.

[Ahmad] Dia hanya lari dari rumah ini karena ketakutan.

[musik misterius mengalun]

Ini, makanlah.

Apa hanya Ahmad yang ketakutan?

Sumi pun ketakutan dan penasaran sepanjang hidupnya.

Menduga-duga di mana adiknya dan ibunya.

Bertahun-tahun aku mencarinya, Mad.

[Sumi] Tapi dia tidak pernah pergi ke mana-mana.

Bapak menguburnya di bawah ranjang.

Mbak Sumi.

Bantu aku melawan Asih dan Sari.

Aku tidak tertarik.

Aku akan pergi dari desa ini.

Aku minta bantuanmu.

Bantu aku ambil mayat Bapak dari Asih.

Setelah itu Asih menjadi urusanmu.

Saya terima nikahnya Asih Cempaka binti Surahman

dengan mas kawin gelang perak, tunai.

Sah.

Sah!

Mas Karto.

Aku akan meminta restu ke ibumu.

[Asih tertawa kecil]

[musik mendebarkan mengalun]

Ibu.

Aku sangat bahagia.

Akhirnya Ibu merestuiku menikah dengan Mas Karto.

- [pintu berdebam] - [Sumi] Asih!

Kembalikan jasad bapakku! [terengah-engah]

Kau bersekutu dengan musuh kita, Sumi.

Dia Ahmad.

Adikku.

Mas Karto sayang.

Acara pernikahan kita

dihadiri dengan dua anakmu.

[Asih tertawa]

Cium tanganku.

Bukti bakti

istri bapakmu.

Sumi.

Kau harus belajar bersabar seperti adikmu.

Ahmad.

Apa kau tahu

kau memiliki saudara selain Sumi?

Namanya Boresh.

Dia selisih dua bulan darimu.

Dia duduk di sana.

Bersama nenek kalian, Yatiyem.

Ayo. Ibu antarkan kalian.

[Asih tertawa]

Jangan mimpi jadi ibuku, kau sundal.

[Asih] Berhenti!

[Asih dan Sumi mengerang]

[Asih dan Ahmad mengerang]

[Asih] Mas Karto!

Mas Karto.

Sumi.

Anak-anakmu memang bajingan!

Sepertinya mereka tidak pernah diajarkan sopan santun

oleh ibunya dulu, Mas.

Jangan kau menjelek-jelekkan nama ibuku!

Apa kau merasa sebagai anak yang berbakti, Sumi?

Lalu bagaimana rasanya membunuh bapakmu sendiri?

Mbak Sumi, apa benar?

[Asih] Ahmad.

Kau pikir Sumi itu suci?

Dia itu bajingan tengik.

[Asih] Sama seperti aku!

Sumi lebih keji dari yang kau bayangkan.

Kau harus mati.

Sumi.

[Sumi dan Sari mengerang]

[Ahmad menjerit]

[Sumi mengerang]

[Asih] Berhenti!

[Asih mendengus]

Bangsat! Mau apa kau, Sari?

Asih, kau sudah janji kepadaku.

Aku hidupkan Karto

dan kau bantu aku untuk membunuh Sumi!

- Hari ini adalah hari pernikahanku. - Sumi!

Tidak ada yang mati hari ini.

[Sumi merintih]

[Sumi menangis]

Apa benar?

Apa benar apa yang dikatakan perempuan itu, Mbak?

[Sumi terisak]

Kau melihat bagaimana Bapak membunuh Ibu, 'kan, Ahmad?

Aku membunuh ibumu!

Dan mayatnya kukubur di kolong tempat tidur!

[Sumi terengah-engah]

[menjerit tertahan]

Apa kau tidak ingin membunuhnya, Ahmad?

[Karto merintih kesakitan]

[Sumi berteriak]

[Karto berteriak]

Jika kau tahu ia berselingkuh dari Ibu, ia membunuh Ibu.

Ia membuat hidup kita semua sengsara, Ahmad!

Hidup kita semua sengsara karena dia, Ahmad!

Aku ingin menyelamatkanmu, Mbak!

Ahmad.

Aku sudah tidak bisa kau selamatkan, Ahmad.

Ayo, Ahmad, pulanglah.

Ahmad, ayo bunuh aku, Ahmad.

- Ayo, Ahmad! - Mbak Sumi!

Selama kau ingin bertobat, Mbak,

akan selalu ada kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar, Mbak.

Mbak.

Aku tahu itu. Aku masih…

Ahmad.

Aku tidak ada urusan dengan tugasmu.

Kau dengar aku?

Aku tidak ada urusan dengan tugasmu.

Aku akan pergi dari desa ini.

Aku antar kau ke ujung desa, Mbak.

[Sumi] Kalau kau mau di sini, aku tidak akan menghalangimu.

Besok pagi aku akan pergi meninggalkan desa ini.

Mbak Sumi, jangan masuk, Mbak!

Mbak, kita harus segera pergi dari sini.

Aku merasakan ada yang tidak beres.

[musik mencekam]

Ahmad.

Kenapa kau meninggalkan Ibu?

Aku tidak meninggalkan Ibu.

Tapi kau lari dari Ibu.

Ahmad.

[Sumi] Sari.

Sari, sihir apa ini, Sari?

Ke sini, Nak.

Temani Ibu.

Ibu takut.

[Karto] Sumi.

Tolong Bapak, Sumi.

Lidah Bapak.

Sumi?

Kita pergi dari sini, ya?

[Karto] Lidah Bapak.

Tidak, Ber. Kau sudah mati, Ber.

Sari!

Lidah Bapak.

Sari, hentikan, Sari!

Sari, hentikan!

Ber, kau sudah mati, Ber!

Sumi!

[Sumi] Sari, hentikan, Sari!

Sari!

Sari, hentikan!

[Sumi menjerit]

Sari!

[Sumi] Sari, hentikan!

[Sumi menjerit]

[berbahasa Arab] Bismillahi rahmanirrahim.

[Ahmad berbahasa Arab] Allahu laa ilahaa illaa

huwal hayyul qayyum.

[Sumi menjerit]

[Ahmad] Illaa bi maasyaa

Wasi'a kursiyyuhus-samaawaati wal-ard

[Sari menggeram]

[menjerit]

[Sumi terengah-engah]

Mbak Sumi!

Mbak Sumi!

Ahmad.

Bagaimana kita bisa keluar dari sini, Mad?

[Sumi merintih]

Benar-benar keji kamu, Sari!

Siapa lagi yang akan kamu santet?

Harus ada yang menghentikan kamu!

[Sumi terengah-engah]

Darwin.

Kau telah menghentikan niatku untuk membunuh orang yang membunuh Ningrum!

Aku tidak mau ada yang celaka lagi, Sari!

Cukup!

[Darwin menjerit]

[pisau menebas]

[Darwin merintih]

Sari.

[Darwin merintih]

Dasar, kau bajingan!

- [Sari menjerit] - [Darwin berteriak]

[Darwin mengerang]

[Sari mengerang]

[Sari mengerang]

[musik cepat mengalun]

[musik berhenti]

Mbak Sumi, bantu aku, Mbak.

Setelah semua masalah di desa ini selesai,

kita bisa pergi dari sini, Mbak.

[Iblis] Sumi.

Kau baru kutinggal sebentar

kau sudah goyah, Sumi.

Sumi.

Dia memang adikmu, Sumi.

Tapi ke mana saja dia, saat kau membutuhkannya?

Ke mana saja dia?

Saat kau dalam kondisi sulit, Sumi?

Sumi.

Dia memanfaatkanmu, Sumi.

Dia ingin kau membantunya membunuh Asih dan Sari.

Dan kau tidak akan pernah tahu apa yang dia inginkan, Sumi.

Kau ingat dosamu.

Kau yang membunuh bapakmu, Sumi.

Kau mengambil mayat Ningrum.

Dan kau membiarkan seluruh warga di desa ini memakannya.

Kau pikir dia akan memaafkan segala dosamu?

Mbak Sumi?

- Mbak? Mbak Sumi? - [Sumi tersengal-sengal]

[Sumi mengerang]

[keduanya mengerang]

Mbak Sumi!

[Sumi mengerang]

[Ahmad berbahasa Arab] Qul audzu birobbinnaas malikinnaas

Ilaahinnas min syaril waswasil khonnas

Alladzi yuwaswisufi suduurinnas. Minal jinnati wannas.

Mbak Sumi.

Ahmad.

Aku menyesal, Mad.

Ahmad, aku sudah tersesat.

Tidak ada kata terlambat untuk tobat, Mbak.

Ahmad.

[Sumi terengah-engah]

Aku mau membantumu, Mad.

Aku mau membantumu.

[Sumi terengah-engah]

[Sumi terengah-engah]

[Sumi] Siapa itu?

Keluar kau.

Atau kau mau merasakan pisau sabitku?

[berteriak] Keluar kau!

Keluar!

Asih!

Asih!

Aku menawarkan perdamaian kepadamu, Asih.

[Sumi] Tidak seharusnya aku bersekutu dengan Ahmad.

Untuk itu,

aku persembahkan Ahmad untukmu.

[Sumi] Aku tidak main-main, Asih.

Kau bisa melihat kesungguhanku, Asih.

[Iblis] Ini jebakan, Asih.

Jangan kau percaya.

Apakah kau akan terpancing semudah itu?

[Ahmad menjerit]

Sadar kau, Mbak! Sebelum terlambat!

[Iblis] Tunggu, Asih.

Tunggu sampai kegelapan datang.

Saat itu

darah Ahmad sudah kering.

[Asih tertawa kecil]

[Asih tertawa]

[Ahmad merintih]

Aku akan membunuhnya, Asih, dalam hitungan kelima.

Satu.

Dua.

[Sumi] Tiga.

[Sumi] Empat.

[Asih tertawa]

Aku ingin menawarkan perdamaian, Asih.

Karena Sari menginginkan nyawaku.

Berkali-kali ia berusaha membunuhku, Asih.

Terus terang, Asih, aku kewalahan menghadapi sihirnya, Asih.

[Sumi terengah-engah]

Pinjamkan aku pasukan mayat tidurmu.

Ya?

Aku membutuhkannya, Asih.

Teganya kau lakukan ini kepada adik kandungmu sendiri.

[Asih tertawa kecil]

Aku membunuh bapakku, Asih.

Kau membunuh Boresh.

Kita sama, Asih.

Kita berdua betina-betina pengikut iblis yang telah sesat.

Satu dosa lagi tak akan berpengaruh banyak lagi.

[Asih] Berikan kepadaku.

[Ahmad mengerang]

[Iblis] Kenapa kau tidak mau percaya denganku?

Aku tidak akan meninggalkanmu, Asih.

[musik mendebarkan mengalun]

Bangkit, Sumi!

[Asih tertawa keras]

[Sumi mengerang]

[Sumi dan Ahmad mengerang]

[Sumi mengerang]

- [Asih mengerang] - [Sumi menjerit]

Sumi?

[menggeram]

[menjerit]

[Asih tertawa kecil]

[Sumi dan Ahmad mengerang]

[Sumi mengerang]

Mbak Sumi! Sadarlah, Mbak!

[Asih mengerang, menjerit]

[Ahmad mengerang]

Nur!

Kalau kau masih ingin hidup, jangan sampai tergigit, Nur!

Pasukan mayat hidupku sudah lama tertidur.

Saatnya mereka makan!

[Asih tertawa]

[alunan ayat kursi]

[terengah-engah]

Iblis.

Jangan… tinggalkan… aku.

Tubuhmu sudah tidak kuat, Asih.

Aku tidak akan meninggalkanmu.

Aku hanya butuh tubuh baru untuk melawan mereka.

Pisau!

[pria] Ahmad.

- [Ahmad menjerit] - [Karto merintih]

Lari, Asih, lari!

[Asih terengah-engah]

[Sumi menangis]

Sari.

Kau dan aku akan menyatu.

[Ahmad berbahasa Arab] Salaamun qoulam mir Robbi rohiim.

Wam taazul yauma ayyuhal mujrimuun.

[suara Iblis] Aku tidak mau mendengarkanmu!

Suruh orang tua laknat itu untuk melawanku.

Jangan biarkan ia bersembunyi di belakangmu, Ahmad.

[Sari tertawa]

[Iblis mendesah]

Tobatlah kau.

Sebelum ajal menjemputmu.

[Sari menggeram]

[Kiai Taqim berdoa dalam bahasa Arab]

Apa kalian pikir, ini akan menghentikanku?

Aku tercipta dari api neraka.

Kalian tercipta dari tanah yang kotor!

Nur.

Bukankah selama ini

kau sudah pergi meninggalkan surau, Nur?

Bahkan kau sudah meninggalkan salat.

Marbot yang tersesat.

Bukannya selama ini, kau diam-diam menyamar sebagai pendatang,

lalu menyewa pelacur yang ada di sini.

Pengecut sepertimu tidak layak mati sebagai mukmin, Nur.

Kau layak masuk neraka, Nur.

Neraka.

Tidak!

Aku sudah bertobat.

Berikan nyawamu, Nur. Kepadanya.

Aku butuh bukti cintamu, Nur.

Jangan kau dengarkan, Nur!

Iblis telah menghasutmu!

[berbahasa Arab] Allahu akbar!

[Ahmad] Tobat, Nur!

Astaghfirullah!

Kamu hanya tidak mau menurut bersujud kepada manusia.

Seperti aku mengenalnya,

maka kuminta kau keluar dari tubuh manusia ini.

Keluar!

[Ahmad berbahasa Arab] Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun.

[Ahmad] Mbak Sumi.

Mbak Sumi.

Ini guruku, Mbak.

Kiai Taqim.

Astaghfirullah haladzim.

Ahmad.

Kau berhasil mengalahkan mereka, Mad?

Mereka berhasil kabur, Mbak.

Sekarang kita sembuhkan Sumi dulu.

Banyak yang harus kita bicarakan.

["Damba" mengalun]

♪ Kelana ♪

♪ Engkaulah sang Mahajana ♪

♪ Di hati teduh pelita ♪

♪ Surya yang bersinar ♪

♪ Samudra ♪

♪ Yang ada di wajah cantik ♪

♪ Menyelami birunya hati ♪

♪ Di kala berjumpa denganmu ♪

♪ Aduhai sayang ♪

♪ Kau selalu berlalu ♪

♪ Biarkan hati ini ♪

♪ Kenal padamu ♪

♪ Hai seorang yang jadi idaman ♪

♪ Hati ♪

♪ Ingin rasanya ♪

♪ Dekat ♪

♪ Mendamba ♪

♪ Dikau yang merona-rona ♪

♪ Di hati gundah gulana ♪

♪ Asmara di jiwa ♪

♪ Lautan ♪

♪ Berombak tiada terkira ♪

♪ Bagai bulan didamba bintang ♪

♪ Tatkala berjumpa denganmu ♪

♪ Aduhai sayang ♪

♪ Kau selalu berlalu ♪

♪ Biarkan hati ini ♪

♪ Kenal padamu ♪

♪ Hai seorang ♪

♪ Yang jadi idaman hati ♪

♪ Ingin rasanya dekat ♪

♪ Mendamba ♪

♪ Dikau yang merona-rona ♪

♪ Di hati gundah gulana ♪

♪ Asmara di jiwa ♪

♪ Lautan ♪

♪ Berombak tiada terkira ♪

♪ Bagai bulan didamba bintang ♪

♪ Tatkala berjumpa denganmu ♪

♪ Aduhai sayang ♪

♪ Kau selalu berlalu ♪

♪ Biarkan hati ini ♪

♪ Kenal ♪

♪ Padamu hai seorang ♪

♪ Yang jadi idaman ♪

♪ Hati ♪

♪ Ingin rasanya dekat ♪

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.